Anda di halaman 1dari 16

BAB IV TUGAS KHUSUS

4.1

Teknologi yang Digunakan

4.1.1

Sejarah Perangkat IT Sebelum adanya teknologi Assymmetric Digital Subscriber Line (ADSL),

PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk (PT. Telkom) awalnya menggunakan sistem yang disebut dial-up. Sistem ini menggunakan sambungan kabel telepon sebagai jaringan penghubung dengan Internet Service Provider (ISP). Namun dalam penggunaannya, dial-up memiliki beberapa kekurangan. Seperti rendahnya

kecepatan dalam mengakses internet, terlebih di jam-jam tertentu yang merupakan waktu sibuk. Selain itu, koneksi internet tidak dapat dilakukan ketika sedang menggunakan telepon. Penggunaan sambungan telepon juga memungkinkan tingginya tingkat gangguan bila sedang menggunakan internet. Kekurangan lainnya adalah sistem penghitungan dial-up yang masih berdasarkan waktu dan masih dirasakan sangat mahal. Saat ini operator di Indonesia masih menggunakan teknologi ADSL, yang merupakan teknologi modem yang mentransformasikan saluran telepon biasa menjadi saluran digital berkecepatan tinggi untuk melakukan komunikasi suara dan data super cepat. ADSL sendiri merupakan salah satu dari beberapa jenis Digital Subscriber Line (DSL), disamping Symetric Digital Subscriber

Line (SDSL), Very high bit-rate Digital Subscriber Line (VDSL), dan High-bitrate Digital Subscriber Line (HDSL). DSL merupakan teknologi akses internet menggunakan kabel tembaga, sering disebut juga sebagai teknologi suntikan atau injection technology yang membantu kabel telepon biasa dalam menghantarkan data dalam jumlah besar. DSL sendiri dapat tersedia berkat adanya sebuah perangkat yang disebut Digital Subscriber Line Access Multiplexter (DSLAM). [2] Dibawah ini merupakan salah satu alat untuk teknologi ADSL.

14

15

Gambar 4.1. Modem ADSL

Perkenalan masyarakat Indonesia sendiri akan ADSL mulai berkembang saat PT. Telkom, yang merupakan perusahaan pengatur jaringan telepon nasional memperkenalkan program Telkom Speedy, yaitu jaringan khusus dari PT. Telkom untuk penggunaan internet. Perkembangan kebutuhan layanan data akan jaringan akses yang berkemampuan broadband yang memiliki kapasitas besar dan berkecepatan tinggi. Teknologi Gigabit-capable Passive Optical Network (GPON) datang dengan menawarkan solusi atas kebutuhan tersebut.

4.1.2

Jaringan Lokal Akses Fiber Saat ini jaringan ke rumah-rumah didominasi oleh fixed wireline yang

menggunakan tembaga. Penggunaan tembaga ini sendiri dianggap memiliki kekurangan karena tidak dapat memberikan bandwidth yang tinggi apabila dibandingkan dengan fiber optik. Karena kekurangan tersebut, teknologi mulai beralih ke penggunaan fiber optik agar diperoleh bandwidth yang lebih tinggi. Dalam sepuluh tahun terakhir, fiber optik telah menunjukkan kualitas tinggi untuk berbagai macam aplikasi sebab dapat mentransmisi bit rate yang tinggi, tidak sensitif pada gangguan elektromagnetik, reabilitas lebih baik dari kabel koaksial. Jaringan lokal akses sendiri memerlukan persyaratan berikut :

16

a.

Di wilayah kota, terdapat lekukan dan saluran yang biasanya penuh oleh kabel lain sehingga pemasangan infrastruktur baru selalu dibuat dalam jumlah kecil sehingga radius belokan fiber dan kabel harus kecil.

b.

Kabel terpasang dalam bermacam-macam kondisi yaitu diluar, bawah tanah, di udara dan didalam ruangan. Konsekuensinya banyak kondisi termal, mekanikal dan tekanan lain yang harus diterima.

c.

Jalur biasanya perlu banyak sambungan sehingga diinginkan pemasangan yang memerlukan teknisi yang terlatih dan persiapan yang tidak mudah.

d.

Biaya jalur koneksi global harus menjadi lebih rendah. [5]

Serat optik merupakan saluran transmisi atau sejenis kabel yang terbuat dari kaca atau plastik yang sangat halus dan lebih kecil dari sehelai rambut yang berdiameter lebih kurang 120 mikrometer. Dapat digunakan untuk

mentransmisikan sinyal cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Sumber cahaya yang digunakan biasanya adalah laser atau LED. [1] Bentuk fisik fiber optik dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.2. Fiber Optik [1]

Perkembangan teknologi serat optik saat ini telah dapat menghasilkan pelemahan (attenuation) kurang lebih 20 dB/km. Dengan bandwidth yang besar

17

sehingga kemampuan dalam mentransmisikan data menjadi lebih banyak dan lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan kabel konvensional. Sehingga serat optik sangat cocok digunakan terutama dalam aplikasi sistem telekomunikasi. Arsitektur jaringan lokal akses fiber optik sendiri secara umum memiliki dua buah perangkat opto elektronik, berupa satu perangkat di sisi sentral dan satu perangkat di sisi pelanggan. Lokasi perangkat yang berada di sisi pelanggan disebut dengan Titik Konversi Optik (TKO), yang berarti batas terakhir kabel optik ke arah pelanggan sebagai lokasi konversi sinyal optik ke sinyal elektronik. Pada dasarnya jaringan lokal akses fiber hanya berupa suatu akses jaringan saja. Fiber To The X (FTTX) merupakan istilah umum yang sering digunakan untuk beberapa arsitektur jaringan fiber optik dalam dunia telekomunikasi. Berdasarkan modus aplikasinya, beberapa arsitektur jaringan lokal akses fiber tersebut dibagi menjadi Fiber To The Building (FTTB), Fiber To The Zone (FTTZ), Fiber To The Curb (FTTC), Fiber To The Home (FTTH). [1]

1.

Fiber To The Building (FTTB) Posisi TKO terletak didalam gedung dan biasanya terletak pada ruang

telekomunikasi di lantai dasar. FTTB merupakan suatu alternatif modus aplikasi yang disediakan untuk gedung-gedung yang menginginkan koneksi ke jaringan akses menggunakan serat optik. Pada umumnya FTTB dilaksanakan pada suatu bangunan besar dan tinggi dengan jumlah satuan sambungan telepon (SST) yang cukup banyak. Banyaknya TKO pada gedung tersebut dapat bervariasi tergantung dengan jumlah pelanggan, dan kebutuhan pelanggan yang bqerada pada gedung tersebut. Setiap terminal pelanggan didalam bangunan tersebut akan terhubung dengan TKO didalam gedung dengan menggunakan kabel tembaga indoor. [6]

Gambar 4.3. Arsitektur Modus Jaringan Lokal Akses FTTB

18

2.

Fiber To The Zone (FTTZ) Posisi TKO terletak di suatu tempat diluar bangunan, baik di dalam

cabinet maupun manhole. Jika dianalogikan dengan konfigurasi jaringan tembaga, maka keberadaan TKO hanya beberapa kilometer, pelanggan dihubungkan dengan kabel tembaga sekunder dan disambung lagi dengan kabel tembaga sampai ke pelanggan. Pada umumnya, jarak sambungan tembaga pelanggan ke TKO sebesar 3 sampai dengan 5 kilometer. [6] Arsitektur jaringan FTTZ dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.4. Arsitektur Modus Jaringan Lokal Akses FTTZ

3.

Fiber To The Curb (FTTC) Posisi TKO terletak di suatu tempat diluar bangunan, baik didalam

cabinet, diatas tiang maupun manhole. Konsep dari FTTC adalah membawa serat optik sampai ke suatu area perumahan. TKO diletakkan pada suatu titik di area tersebut dan setiap terminal pelanggan pada area tersebut terhubung menggunakan kabel tembaga. [6] Arsitekturnya seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 4.5. Arsitektur Modus Jaringan Lokal Akses FTTC

19

4.

Fiber To The Home (FTTH) Pada dasarnya modus FTTH memiliki prinsip yang sama dengan

arsitektur modus FTTB. Perbedaannya hanya pada letak TKO, yaitu didalam rumah pelanggan yang didalamnya terdapat satu atau lebih satuan sambungan telepon. Arsitektur modus ini tidak jauh berbeda dengan arsitektur FTTB. Arsitektur jaringan ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Gambar 4.6. Arsitektur Modus Jaringan Lokal Akses FTTH

Fiber To The Home (FTTH) merupakan suatu format penghantaran isyarat optik dari pusat penyedia layanan (provider) ke kawasan pengguna dengan menggunakan serat optik sebagai medium penghantaran. Perkembangan teknologi ini tidak terlepas dari kemajuan perkembangan teknologi serat optik yang dapat menggantikan penggunaan kabel konvensional. Dan juga didorong oleh keinginan untuk mendapatkan layanan multimedia, dimana layanan akan berupa akses internet yang cepat, suara (jaringan telepon) dan video (TV Kabel) dalam satu infrastruktur pada unit pelanggan. Fiber To The Home (FTTH) merupakan sepenuhnya jaringan optik dari provider ke pemakai. Multiplex dari sinyal optik dibawa ke splitter dalam sebuah grup yang hampir mendekati pemakai. Terdapat splitter optik dengan ratio yang berbeda-beda.

20

Secara umum, teknologi FTTH terdiri dari tiga jenis topologi jaringan, yaitu jaringan point to point, jaringan serat optik pasif (active optical network), dan jaringan serat optik pasif (passive optical network). 1. Jaringan Point to Point Jaringan ini merupakan rancangan jaringan FTTH yang paling ringkas, dimana isyarat dihantar terus dari Central Office (CO) kepada setiap pelanggan dengan satu serat optik dan laser yang terpisah. Serat optik bentuk tunggal digunakan untuk isyarat bolak-balik dengan satu kabel serat optik sampai pertukaran setempat (local exchange) dan kemudian dipisah untuk masing-masing end user. 2. Jaringan Serat Optik Aktif (Active Optical Network) Jaringan ini merupakan rangkaian point to multi point, penggunaan teknologi ini terbatas karena biayanya sangat tinggi. Peralatan-peralatan aktif yang digunakan dalam jaringan ini salah satunya termasuk optical switch yang memerlukan tenaga listrik. 3. Jaringan Serat Optik Pasif (Passive Optical Network) Jaringan ini juga merupakan rangkaian point to multi point yang hampir sama dengan AON. Perbedaannya terletak pada titik komponen aktif yang digantikan oleh passive optical splitter. Optical splitter bersifat pasif sehingga tidak melakukan manipulasi sinyal, kabel optik dapat dipecah menjadi beberapa kabel optik lagi dengan kualitas informasi yang sangat baik. Dengan teknologi fiber optik beberapa layanan seperti telepon, data dan video bisa melalui satu saluran. [1]

Gambar 4.7. Passive Optical Splitter [1]

21

4.1.3

Teknologi Akses PON Passive Optical Network (PON) merupakan salah satu alternatif yang bisa

menggantikan teknologi tembaga. Jaringan PON dapat terintegrasi dengan jaringan tembaga (cooper). Dengan teknologi serat optik, beberapa layanan seperti suara, data, internet, dan video dapat disalurkan hanya melalui media satu core kabel serat optik. Layanan ini menggunakan PON yang menggunakan sistem multiplexer sehingga beberapa layanan dapat hanya dengan satu saluran, kemudian multiplexer saluran transmisi dihubungkan ke saluran pelanggan. [7] Teknologi PON pada dasarnya adalah teknologi untuk hubungan point to multipoint, dan topologi ini sesuai untuk melayani kelompok pelanggan yang letaknya terpisah, dengan hanya menambah perangkat Optical Network Unit (ONU) di lokasi pelanggan.

4.1.3.1 Tipe Jaringan PON Beberapa tipe jaringan PON diantaranya : 1. Asynchronous Transfer Mode Passive Optical Network (APON) APON atau ATM PON merupakan teknologi yang paling menjanjikan yang dapat memenuhi kebutuhan pelanggan akan layanan broadband dalam skala besar. ATM PON adalah yang terbaik dalam mendukung berbagai macam arsitektur jaringan seperti FTTH, FTTB, FTTC. Dalam rangka mendukung kebutuhan layanan multimedia yang beragam, mencakup data dan citra, dan memiliki kecepatan serta kualitas yang bervariasi secara fleksibel dan efisien, maka introduksi teknologi ATM dalam sistem jaringan akses fiber merupakan pilihan yang efektif. Dengan menambahkan pada standar yang telah ada, APON telah berganti nama menjadi Broadband Passive Optical Network (BPON)

2. Ethernet Passive Optical Network (EPON) EPON merupakan standar IEEE 802.3ah yang merupakan bagian dari proyek Ethernet in the Last Mile (EFM) yang diselesaikan pada tahun 2004. Standar ini digunakan untuk data paket Ethernet.

22

3. Gigabit Ethernet Passive Optical Network (GEPON) Pada awalnya, teknologi ini biasa disebut EPON, namun karena efek layanannya, lebih dikenal sebagai Gigabit-EPON. GEPON merupakan jaringan fiber optik point to multipoint yang cocok untuk diaplikasikan pada FTTH dan FTTB, dimana sebuah fiber optik digunakan untuk melayani beberapa pelanggan. GEPON dirancang untuk keperluan telekomunikasi. Kelebihan dari GEPON antara lain mudah diintegrasikan, fleksibel, mudah diatur, dapat menggantikan teknologi DSL yang sebelumnya telah ada karena GEPON dapat menyediakan bandwidth yang tinggi dan juga melayani beberapa kebutuhan dalam waktu yang sama. GEPON menyediakan konektivitas untuk semua tipe komunikasi IP atau paket Ethernet karena memakai sebuah jaringan layer dua yang menggunakan IP untuk membawa data, suara dan video. GEPON juga menyediakan komunikasi yang aman sehingga kebocoran informasi dapat diminimalisasi.

4. Gigabit-capable Passive Optical Network (GPON) GPON merupakan konsep evolusi BPON. Dengan kemampuan

downstream mencapai 2,5 Gbps dan upstream 1,2 Gbps GPON diharapkan mampu mengakomodasi layanan yang semakin meledak di masa depan. Beberapa layanan yang sekarang sedang berkembang adalah IPTV, video conference, interactive game, video on demand yang jelas akan memakan bandwidth yang besar. [8] Jika digambarkan dalam bentuk tabel, maka perbedaan keempat protokol ini dapat digambarkan pada tabel berikut.

Tabel 2 Perbedaan Protokol PON


Protokol Standar Penghantaran Biaya Upstream Downstream APON / BPON ITU-T G.983 ATM Rendah 155 Mbps 622 Mbps EPON / GEPON IEEE 802.3ah Ethernet Paling Rendah 1,25 Gbps 1,25 Gbps GPON ITU-T G.984 ATM, TDM, Ethernet Sedang 1,25 Gbps 2,5 Gbps

23

4.1.3.2 Arsitektur Jaringan PON Arsitektur jaringan PON memiliki tiga identitas penting yaitu Optical Line Terminal (OLT), Optical Distribution Network (ODN) dan Optical Network Unit/Terminal (ONU/ ONT).

1. Optical Line Terminal (OLT) OLT merupakan terminal saluran serat optik yang menyediakan interface antara sistem PON dengan penyedia layanan (service provider) data, video, dan jaringan telepon. Biasa ditempatkan pada pusat penyedia layanan provider (CO) untuk menghantarkan isyarat layanan kepada setiap pengguna dalam jaringan rangkaian sistem. Bagian ini akan membuat link ke sistem operasi penyedia layanan melalui Elemen Managemen System (EMS). [1]

Gambar 4.8. Optical Line Terminal [1]

Perangkat interface pada OLT meliputi : a. Digital Cross-connect (DCS), yang melayani nonswitched dan nonlocally switched TDM trafik ke jaringan telepon.

24

b. Voice gateways, yang melayani locally switched TDM/ voice trafik ke PSTN. c. IP routers atau ATM edge switch, yang melayani trafik data. d. Video Network Device, yang akan melayani trafik video. [7]

2. Optical Distribution Network (ODN) ODN menyediakan peralatan transmisi optik antara OLT dan ONU. Perangkat interior pada ODN terdiri dari : a. Kabel Fiber Optik b. Splices, merupakan peralatan yang digunakan untuk menyambungkan satu kabel serat optik dengan yang lainnya secara permanen. Ada dua prinsip sambungan yaitu sambungan fusi yang menggunakan pancaran listrik untuk mematri dua kabel serat optik secara bersama-sama, dan sambungan mekanik yang menggunakan elemen biasa. c. Konektor optik, merupakan salah satu perlengkapan kabel serat optik yang berfungsi sebagai penghubung serat. Dalam operasinya konektor mengelilingi serat kecil sehingga cahayanya terbawa secara bersamasama tepat pada inti dan segaris dengan sumber cahaya (serat lain). d. Splitter, merupakan komponen pasif yang dapat memisahkan daya optik dari satu input serat ke dua atau beberapa output serat. Splitter pada PON sifatnya idle dan cara kerjanya membagi daya optik sama rata. [7]

Gambar 4.9. Splitter

25

3. Optical Distant Termination (ODT) ODT adalah sebuah distributor aktif untuk pemakaian outdoor di jaringan distribusi optikal yang dipasang dengan sebuah ONU yang dilengkapi dan dikonfigurasikan sedemikian rupa sehingga dapat menyuplai ONU berikutnya untuk langsung dihubungkan ke pelanggan.

4. Optical Network Unit (ONU) ONU atau unit jaringan serat optik adalah peralatan yang digunakan diakhir jaringan untuk memberikan layanan-layanan yang disediakan kepada pelanggan. ONU menyediakan interface antara jaringan optik dengan pelanggan untuk layanan data, suara dan video dengan PON. Fungsi utama ONU adalah menerima trafik dalam format optik dan mengkonversinya ke bentuk yang diinginkan oleh pelanggan. Bentuk ONU dapat dilihat pada gambar dibawah ini. [1]

Gambar 4.10. Optical Network Unit

4.2

Teknologi GPON pada Layanan Multimedia Konsep FTTH, FTTC, FTTB sudah menjadi wacana yang umum sehingga

menggunakan fiber adalah suatu keharusan. Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan sebelum menerapkan teknologi GPON agar menjadi tepat guna dan menghemat biaya.

26

4.2.1

Kelebihan dan Kekurangan Teknologi GPON

4.2.1.1 Kelebihan Teknologi GPON Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan agar operator dapat lebih jeli untuk menilai apakah teknologi GPON dapat memberikan nilai tambah. Kelebihan dari teknologi ini diantaranya : a. Kapasitas lebih besar dari GEPON, downstream GPON sendiri mampu mencapai 2,5 Gbps sampai ke pelanggan tanpa ada kehilangan bandwidth sedangkan upstream adalah 1,25 Gbps (asimetrik). b. GPON mendukung jarak akses yang sangat membantu untuk

mengembangkan wilayah cakupan dan mengurangi Network Nodes. c. GPON mendukung high-bandwidth transmission, yang membantu memecahkan masalah bandwidth bottleneck dari access lewat twisted pairs dan mencapai konsumsi bandwidth services, seperti High-Definition TV (HDTV) dan Live Programs. d. Frame GPON adalah GPON Encapsulation Method (GEM). e. Split GPON sudah mampu 64 split. [9]

4.2.1.2 Kekurangan Teknologi GPON Terlepas dari kelebihan teknologi GPON, kekurangan yang dapat menjadi tambahan pertimbangan operator provider dari teknologi ini adalah : a. Capital expense, biaya untuk mengimplementasikan teknologi ini harus diperhatikan karena lamanya waktu untuk menggelar service ke pelanggan dalam pengadaan infrastruktur yang menimbulkan biaya pengadaan perangkat dan jasa instalasi, biaya perawatan, biaya listrik, dan lain-lain yang membutuhkan dana yang lebih besar. b. Dibutuhkan kerja sama dengan pihak-pihak lainnya ketika menjalankan teknologi ini, salah satunya ketika melakukan sambungan fusi dimana teknik ini memerlukan orang yang ahli dan berpengalaman karena penjajaran kabel serat optik membutuhkan komputer terkontrol untuk mencapai kerugian yang sedikit.

27

4.2.2

Cara Kerja GPON GPON adalah standar ITU-T yang merupakan evolusi dari standar BPON.

Standar ini mendukung bit rate yang lebih tinggi, perbaikan dalam keamanan dan pilihan protokol layer dua (ATM, GEM, atau Ethernet). Pilihan protokol ini memungkinkan GPON untuk mentransmisikan data dalam bentuk ATM maupun paket Ethernet. Dengan berbasis teknologi Generic Framing Procedure (GFP), GPON memiliki efisiensi bandwidth yang lebih baik dari BPON (70 %) yaitu 93 %.

Gambar 4.11. Cara Kerja GPON [1]

Pada OLT terdapat Dynamic Bandwidth Allocation (DBA) yang berfungsi untuk mengalokasikan bandwidth ke masing-masing ONU. Pada GPON, bandwidth sebesar 2,5 Gbps dibagikan ke semua ONU. Suatu metode pengalokasian bandwidth telah menetapkan bandwidth ke masing-masing ONU dengan nilai tetap tanpa mempertimbangkan trafik upstream. Metode ini menyebabkan pembuangan bandwidth yang cukup banyak apabila bandwidth

28

tetap dialokasikan walaupun tidak ada trafik yang melaluinya. Dengan menggunakan DBA, bandwidth dialokasikan sesuai dengan jumlah trafik upstream yang melaluinya sehingga lebih efisien. Transmisi downstream menggunakan sinyal Time Division Multiple Access (TDMA) dari OLT mengirimkan data multicast yang memuat semua informasi pelanggan dalam slot yang ditentukan dan disebarkan ke semua ONU. Arsitektur jaringan ini membentuk point to multipoint. ONU menerima data sesuai dengan alamatnya. Data lain yang tidak sesuai akan ditolak oleh ONU. Transmisi upstream bekerja ketika setiap ONU membagi bandwidth menggunakan TDMA, dari ONU ke OLT dilakukan secara multiple access dalam mode multipoint to point setelah sebelumnya saling berkomunikasi dahulu dengan mode point-to-point. Untuk mengendalikan jaringan optik point to multipoint, GPON menggunakan Multi Point Control Protocol (MPCP) yang bertugas untuk mengoptimalkan kinerja bandwidth, melayani permintaan bandwidth, proses auto discovery dan proses ranging. Pada pusat penghantaran service provider yang berada di kantor utama atau disebut juga dengan central office (CO), disini terdapat peralatan yang disebut dengan OLT. Keluaran dari OLT ditransmisikan melalui jaringan distribusi serat optik yang disebut ODN yang menyediakan alat transmisi optik mulai dari OLT yang dihubungkan dengan ONU yang ditempatkan dirumahrumah pelanggan. Saat data ditransmisikan dengan cahaya, akan ada pelemahan sinyal sehingga jika tidak ada standar minimum penerimaan sensitifitas dari sisi penerima maka paket loss tidak bisa dihindari. Tiap ONU hanya mengakses pada slot yang telah ditentukan untuk transmisi karena semua informasi downstream disebarkan ke semua ONU, seperti pengamanan sinyal. Pada arah sinyal optik upstream dari setiap ONU ditransmisikan secara sinkron dengan metoda TDMA untuk menghindari tabrakan, karena jarak antara OLT dan semua ONU berbeda-beda. Sedangkan panjang gelombang yang digunakan untuk downstream dan upstream pada daerah 1490 nm dan 1310 nm sesuai dengan rekomendasi ITU-T G 957.

29

Transmisi gelombang optik pada jaringan PON menggunakan sinyal dengan panjang gelombang berbeda tetapi sinyal dilewatkan pada jalur yang sama untuk membawa sinyal komunikasi. Sinyal optik pertama dengan panjang gelombang 1490 nm digunakan untuk transmisi sinyal arah downstream, sinyal optik kedua dengan panjang gelombang 1310 nm sebagai sinyal transmisi upstream yang digunakan untuk mengirim data dan suara. Sinyal optik ketiga digunakan sebagai sinyal transmisi analog untuk layanan video yang dikonversi dahulu ke format optik dengan panjang gelombang 1550 nm oleh optik pemancar video (optical video transmitter). Isyarat optik dengan panjang gelombang 1550 nm dan 1490 nm ini digabungkan dan ditransmisikan ke pelanggan secara bersamaan. Tiga panjang gelombang ini membawa informasi yang berbeda secara simultan dan dalam berbagai arah pada satu kabel serat optik yang sama. Pada ujung jaringan, sinyal ini akan mengalami penggabungan dan pemisahan. Penggabungan dan pemisahan ini dilakukan dengan menggunakan metode Wavelength Division Multiplexing Access (WDMA). Transmisi dua arah dapat dilakukan tanpa memerlukan serat tambahan dan tidak meningkatkan bit rate pada saluran, dengan menggunakan sinyal pada panjang gelombang yang berbeda.