Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bahan mentah sering dijumpai dalam ukuran yang terlalu besar untuk dapat
digunakan, oleh sebab itu bahan tersebut harus dikecilkan ukurannya. Proses
pengecilan ukuran adalah proses atau cara dimana partikel yang berukuran besar
dipecah atau dipotong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Pekerjaan pengecilan
ukuran dapat dibagi menjadi 2 kategori, tergantung apakah bahan tersebut berbentuk
cair atau padat. Jika bahan berbentuk padat, pekerjaan pengecilan ukuran disebut
grinding dan cutting ; dan jika bahan berbentuk cair, pekerjaan pengecilan ukurannya
disebut emulsifikasi atau atomisasi. Keberhasilan pengecilan ukuran sangat
tergantung pada reaksi terhadap Shearing force.
Pada praktikum kali ini dipelajari tentang penentuan modulus kehalusan dan
index keragaman dalam bahan pertanian khususnya yang berbentuk bubuk atau
butiran. Proses yang dilakukan yaitu pengayakan. Proses ini dilakukan untuk
menentukan ukuran rata-rata setiap partikel dan kelembutan butiran-butiran partikel.
Bila ukuran dan kehalusan suatu partikel dapat diketahui, maka dapat kita ketahui
pula karakteristik suatu bahan.

B. Tujuan
1. Menentukan modulus kehalusan (finenes modulus) dan index keragaman bahan
hasil pengecilan ukuran
2. Mengenal berbagai cara penyajian data analisa hasil pengecilan ukuran





BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pemisahan mekanik merupkan suatu usaha untuk memisahkan komponen
dalam suatu bahan dengan menggunakan gaya fisik. Proses pemisahan mekanik ini
terdiri dari penyaringan, sedimentasi dan sentrifugasi. Penggunaan gaya terhadap
fluida akan memisahkan komponen penyusunnya, karena reaksi setiap komponen
yang berbeda terhadap gaya tersebut (Anonim
1
, 2009).
Pengecilan ukuran sebagai istilah yang umum meliputi juga pemotongan
pemecahan dan penggilingan. Pengecilan ukuran dilakukan secara mekanis tanpa
terjadi perubahan sifat-sifat kimianya. Pemecahan bahan menjadi bagian-bagian yang
lebih kecil atau sebaliknya, pembentukan satuan-satuan yang lebih besar dari bahan
yang terpecah halus adalah operasi yang penting dalam industri pangan (Suyitno,
1989).
Pengecilan ukuran menurut Muljohardjo (1987) dapat dibedakan menjadi dua
macam, yaitu proses untuk bahan padat yang meliputi cutting, crushing, grinding,
milling, dan proses untuk bahan cair meliputi emulsifikasi atau atomosasi. Sementara
Suyitno (1989) berpendapat bahwa pengecilan ukuran dibedakan menjadi :
1. Pengecilan ukuran yang ekstrim (penggilingan)
2. Pengecilan ukuran yang relatif masih berukuran besar atau sering menjadi
bentuk-bentuk khusus (pemotongan)
Semuanya tergantung reaksi dari gaya shearing dalam bahan dan cairan (Earle,
1983).
Tujuan dari pengecilan ukuran tidak sekedar untuk memperkecil bahan
mentah yang berukuran besar menjadi produk yang lebih kecil, tetapi lebih dari
sekedar itu, tujuan pengecilan ukuran antara lain sebagai berikut (Muljohardjo, 1987)
:
1. Memperoleh produk dengan bentuk yang seragam sesuai dengan spesifikasi
yang telah ditentukan.
2. Mempermudah dalam pengolahan selanjutnya.
3. Mempertinggi reaktivitas bahan sehingga proses pengolahan dapat berjalan
dengan baik.
4. Memungkinkan pemisahan bahan-bahan yang tidak diinginkan.
5. Memberikan bentuk dan ukuran yang bersifat estetis sehingga memberikan
kenampakan yang lebih menarik.
Selain itu pengecilan ukuran juga mempunyai tujuan untuk memperoleh
produk yang homogen atau secara semu homogen dalam kenampakan dan rasa.
Tujuan pengecilan ukuran sebagai bagian operasi adalah untuk mendapatkan
permukaan yang lebih luas (Suyitno, 1989).
Suyitno (1989) berpendapat bahwa penggolongan ukuran partikel ada 3
macam :
1. Dimension range : ukuran kecil atau unit yang dapat dengan jelas dan
teliti diukur dengan mata, dengan ukuran partikel terkecilnya 3,125
mm.
2. Sieve range : partikel berukuran antara 0,07 s/d 3,125 mm, bentuknya
kadang masih terlihat jelas oleh mata namun tidak dapat diukur
dengan teliti.
3. Kelompok partikel yang berukuran kurang dari 0,07 mm dan dapat
dilihat jelas ukurannya dengan menggunakan mikroskop.
Tingkat kehalusan hasil dari pengecilan ukuran dapat dinyatakan dengan dua
cara, yaitu (Muljohardjo, 1987) :
1. Modulus kehalusan (Finenes Modulus)
Yang dimaksud dengan modulus kehalusan adalah tingkat kehalusan yang
dinyatakan sebagai jumlah dari fraksi-fraksi yang tertinggal dalam ayakan dan
dibagi dengan 100. Selanjutnya bila diketahui besarnya modulus kehalusan, maka
dapat dihitung besarnya ukuran diameter rata-rata dari hasil tersebut.
Hubungan dapat dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :
D = 0,0041 x (2)
FM

Dimana : D = diameter rata-rata (inci)
FM = modulus kehalusan
2. Indeks keseragaman
Indeks keseragaman digunakan untuk menyatakan distribusi kasar,
sedang, dan halus dari partikel-partikel hasil pengecilan ukuran tersebut.























BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Ayakan standar Tyler
b. Vibrator (penggetar)
c. Timbangan digital
d. Wadah plastik
e. Sendok
f. Stopwatch
g. Kertas koran
h. Kuas

2. Bahan
a. Bekatul
b. Jagung giling

B. Cara Kerja
Dari setiap contoh bahan di timbang 2 x 100 gr. Ayakan dipasang secara
beurutan menutur ukuran mesh yang ditetapkan dan dipasang pada vibrator. Sampel
diletakkan diatas ayakan teratas, ditutup dan mur penekan tutup dikencangkan.
Kemudian arus dihubungkan dengan ditekan switch pada step-up transformator ke
posisi on dengan pengatur waktu 10 menit bersamaan dengan stopwatch dinyalakan.
Setelah 10 menit vibrator dimatikan dan ayakan tyler dilepas dari susunannya. Setiap
ayakan diperiksa apakah masih ada sampel yang tertinggal. Sampel yang tertinggal
dalam setiap ayakan tuang dan ditimbang kemudian dicatat. Langkah-langkah
tersebut diulangi untuk dua kali ulangan dan sampel yang berbeda. Hasil pengayakan
tersebut dihitung dengan langkah seperti tertera pada cara analisa.

Skema alat Ayakan Tyler


























C. Cara Analisa Data
1. Menentukan hasil pengayakan
Mesh No Ukuran lubang % bahan tertinggal %tertinggal kumulatif
3/7 4.5 x1 x1
4 4.75 x2 x1+x2
8 2.36 x3 x1+x2+x3
14 1.4 x4 x1+x2+x3+x4
30 0.6 x5 x1+x2+x3+x4+x5
50 0.3 x6 x1+x2+x3+x4+x5+x6
100 0.15 x7 x1+x2+x3+x4+x5+x6+x7
pan x8
Total 100 Jumlah total

2. Menentukan Fraksi % Bahan Tertinggal
% 100
Wi
x
Wtotal
Xi =
3. Menentukan % bahan lewat
% bahan lewat = 100 - % bahan tertinggal komulatif
4. Menentukan Finenes Modulus
100
kumulatif tertinggal % total Jumlah
= F M
5. Ukuran rata-rata
D = 0,0041(2)
FM

6. Geometric mean diameter (D
gw
)
D
gw
=
( )
n
n n
W W W W
d W d W d W
Wi
di Wi
+ + + +
+ + +
=
(


...
log ... log log
log
log
log
3
2 1
2 2 1 1 1 1

7. Geometric Standard Deviation (Sgw)
(
(


=

Wi
D di Wi
S
gw
gw
2 / 1
1
log log
log
{ } { } { }
{ }
(
(

|
|
.
|

\
|
+ + +
+ + +
=

i i
i ix x x
W W W
Dgw d W Dgw d W Dgw d W
...
log log ... log log log log
log
2 1
2 / 1 2 / 1
2 2
2 / 1
1 1 1
Dimana:
d
i
= diameter lubang ayakan ke-i
D
gw
= geometric mean diameter
d
i+1
= diameter ayakan diatas i
d
gi
= geometric mean diameter ayakan ke i, d
gi
= (d
i
+ d
i+1
)
1/2
W = berat bahan tertinggal pada masing-masing ayakan
8. Ralat
Ralat = D
gw
S
gw



9. Membuat grafik: log ukuran lubang (mm) vs % bahan yang tertinggal
kumulatif dan ukuran lubang (mm) vs % bahan yang lewat.

% bahan
yang tertinggal % bahan yang
komulatif lewat
log ukuran lubang(mm) ukuran lubang (mm)












BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Menyatakan hasil pengecilan ukuran dapat dilakukan dengan dua cara :
a. Modulus kehalusan (Finenes Modulus)
b. Indeks keseragaman
2. Semakin besar ukuran ayakan maka semakin tinggi pula jumlah bahan yang
lewat.
3. Semakin besar nilai Modulus Kehalusan (Finenes Modulus) maka semakin besar
pula nilai ukuran rata-rata butiran. Sehingga nilai Finenes Modulus berbanding
lurus dengan nilai ukuran rata-rata butiran..
4. Besar nilai finenes modulus, diameter rata-rata, gometric mean diameter,
geometric standard deviation untuk kedua bahan adalah:
Bahan FM D Dgw Sgw Ralat + Ralat -
Biji jagung 3.9795
1.64273
0.04742 0.78857 0,83599 -0,74115
Bekatul 1.7835 0.35851 0.01565 0.77243 0,78808 -0,75678

B. Saran
Praktikum sudah berjalan dengan baik.












DAFTAR PUSTAKA
Anonim
2
.2009.Filtrasi.(Online: diakses tanggal 9 Novenber 2011).URL:
http://id.wikipedia.org/wiki/Filtrasi

Earle, R. L. 1969. Unit Operation in Prosessing. Pergamon Press Ltd. Oxford.
England.

Muljohardjo, M. 1987. Dasar-Dasar Pengolahan Hasil Pertanian. PAU Pangan dan
Gizi. UGM. Jogjakarta.

Suyitno, dkk. 1989. Petunjuk Laboratorium Rekayasa Pangan. PAU Pangan dan
Gizi. UGM. Jogjakarta.

Winarno, F. G. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Gramedia. Jakarta.