Anda di halaman 1dari 26

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Titrasi merupakan suatu metode analisis yang digunakan pada zat (yang di analisi s) yang konsentrasinya belum diketahui dibiarkan bereaksi dengan zat lain yang tela h diketahui konsentrasinya. Pada pengerjaannya dibutuhkan ketelitian dari praktika n karena reaksi harus berlangsung secara tepat dan cepat. Pada metode ini, secara garis besar di klasifikasikan dalam empat kategori yaitu : titrasi asam-basa (meliputi reaksi asam dan basa), titrasi redoks (meliputi hamp ir semua reaksi oksidasi-reduksi), titrasi pengendapan dan titrasi kompleksometri. Namun pada praktikum kalii ini hanya melakukan percobaan titrasi asam-basa. Selain prosesny a yang relatif mudah bahan yang digunakan juga tidak terlalu rumit. Asam-basa sendiri memiliki ciri-ciri yang bertolak belakang, seperti pada asam y ang memiliki rasa asam dan merubah lakmus biru menjadi lakmus merah. Sedangkan pada basa memiliki rasa pahit dan merubah lakmus merah menjdai lakmus biru. Namun sebagai seorang analisis diharuskan agar dapat melakukan titrasi asam-basa sehingga tida k bergantung pada perubahan kertas lakmus saja, karena tidak sedikit larutan harus diuji secar kuantitatif. Titrasi asam-basa atau yang sering disebut titrasi asidi-alkalimetri merupakan p enetpan kadar suatu zat (asam atau basa) berdasarkan atas reaksi asam-basa. Teori asam-b asa dapat memberikan titk akhir yang cukup tajam dan untuk itu digunakan pengamatan dengan indikator bila pH pada titik ekivalen antara 4-10. Titrasi asam basa sangat berguna dalam dunia kefarmasian terutama untuk reaksire aksi dalam pembuatan obat. Oleh karena itu, asidi-alkalimetri sangat perlu untuk dipelajari. Metode analisis dengan volumetri ataupun titrimetri menggunakan prin sip asambasa adalah asidi-alkalimetri. Proses ini digunakan dalam perhitungan untuk menentuka n kadar suatu zat berdasarkan perhitungan volume larutan standar yang telah diketa hui kadarnya dengan tepat. Dengan melakukan percobaan titrasi ini khususnya titrasi asam-basa maka praktika n dapat menentukan asam atuapun basa tanpa emngandalkan kertas lkamus serta dengan melakukan percobaan ini praktikan dapat bekerja secara cepat dan teliti karena p ada percobaan titrasi reaksi harus berlangsung secara cepat dan tepat sehingga titra

n dapat berlangsung lengkap. Sehingga disini dapat melatih ketrampilan praktikan. 1.2 Tujuan Untuk mengetahui reaksi apa yang digunakan dalam percobaan Untuk menentukan kadar asam asetat dalam cuka Mengetahui prinsip asidi alkalimetri pada percobaan

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam-basa Untuk memahami reaski-reaksi kimia yang sederhana maupun yang rumit maka perlu mengerti konsep asam-basa. Pada hakekatnya reaksi-reaksi kimia dapat dirangkum s ebagai reaksi asam-basa. Dapat diketahui bahwa terdapat tiga konsep asam-basa yang dike tahui. Diluar konsep asam basa itu sendiri, asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentu kan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Beberapa asam dan hasil disosiasinya adalah sebagai berikut : HCl H+ + ClAsam klorida ion clorida HNO3 H+ + NO3 Asam nitrat ion nitrat CH3COOH H+ + CH3COO Asam asetat ion asetat Sebenarnya, ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Setiap proton berga bung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O H3O+ Derajat disosiasi berbeda-beda antara satu asam dengan asam lainnya. Asam kuat berdisosiasi hampir semua pada pengenceran yang sedang, karena itu ia merupakan elektrolit kuat. Asam-asam kuat adalah asam klorida, asam nitrat,asam perklorat dan sebagainya. Asam lemah hanya berdisosiasai hanya sedikit pada konsentrasi sedang atau bahkan pada konsentrasi rendah, karena itu asam lemah adalah elektrolit lemah (G .Svehla : 1985). Basa, secara sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dal am air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebgai satu-satunya ion negatif. Hidroksida-hisroksida logam yang larut, seperti natrium hidroksida atau kalium h idroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer, karena itu basa-basa ini disebut basa kuat. Dilain pihak larutan air amonia, merupakan suatu basa lemah. Bila dil arutkan dalam air amonia membentuk amonium hidroksida, yang berdisosiasi menjadi ion

amonium dan ion hidroksida (G.Svehla :1985). Karena itu, basa kuat merupakan elektrolit kuat, sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Tetapi tidak ada pembagina yang tajam antara golongan-golongan ini, dan sama halnya dengan asam, adalah mungkin untuk menyatakna kekeuatan basa secara kuantitatif pembawaan sifat basa suatu basa ialah OH-, ini berarti setiap basa p asti mengadung gugus OH, tetapi tidak berarti bahwa setiap senyawa senyawa yang menga dung OH adalah basa. Misalnya, alkoholrumusnya C2H5OH bukan basa, karena lakohol tida k dapat melepasakan OH. Asam asetat rumusnya CH3COOH bukan basa, tetapi asam karen a asam asetat tidak dapat melepaskan OH melainkan H (G.Svehla :1985). Seperti yang dibahas diatas bahwa terdapat tiga konsep asam-basa yang diketahui, yaitu: 1. Konsep asam-basa menurut Arrhenius Konsep asam basa ini dapat dikatakan masih bersifat alami.dalam tahun 1887 Suant e

Arrhenius mempostulatkan bahwa bila molekul elektrolit dilakukan dalam air, akan terbentuk ion-ion negatif dan positif. Menjelang akhir abad sembian belas defini si asam dan basa dinyatakan dalam teori pengionan Arrhenius. Asam Arrhenius ialah zat ya ng melarut kedalam air untuk memberikan ion H+ (Keenan :1984). Senyawa bersifat asa m bila: mempunyai rasa masam, dapat mengubah indikator lakmus kertas biru mejadi merah, bila ditanbah logam dapat melepaskan gelembung-gelembung gas hidrogen, hingga disimpulkan senyawa bersifat asam mengandung ion hidrogen (Hardjono : 2008). Senyawa bersifat basa bila : mempunyai rasa pahit, dapat mengubah indikator kert as lakmus merah menjadi biru, dan senyawa mengandung gugus hidroksi, OH-(Hardjono : 2008). Menurut Arrhenius basa merupakan zat yang melarut kedalam air untuk memberikan ion OH-(Keenan :1984). Kelemahan-kelemahan konsep asam-basa arrhenius antara lain : a. Tidak dapat menerangkan sifat-sifat CO2 dan NH3 b. Tidak mesti senyawa yang mengandung ion hidrogen bersifat asam, terlihat pada senyawa hidrokarbon c. Tidak mesti senyawa yang mengandung gugus hidroksi, bersifat basa. Senyawa fenol dan keluarga fenol mengandung OH, namun justru bersifat asam. d. Tidak mesti senyawa yang pahit harus basa yang mengandung OH. Senyaw alkaloid bersifat basa namun sifat basa ditentukan oleh adanya gugus amina. 2. Konsep asam-basa menurut Bronsted-Lowry Pada tahun 1923 J.N. Brosnted di Denmark dan T.M. Lowry di Inggris secara terpis ah menyarankan cara lain dalam memberikan asam dan basa. Menurut sistem ini asam Bronsted-Lowry adalah donor proton (yang dimaksud proton adalah H+) dan basa Bronsted-Lowry adalah penerima proton (Keenan :1984). Bila dikaitkan dengan konsep Arrhenius terdapat kolerasi yaitu senawa dapat melepaskan proton bila senyawa mengandung hidrogen. Konsep asam-basa BronstedLowry dapat di mnegerti bila kita memahami sifat-sifat larutan yang berkaitan de ngan pengertian larutan elektrolit kuat (Hardjono : 2008). Kelemahan konsep ini yaitu konsep asam-basa ini tidak menjelaskan sifat-sifta senyawa seperti : BF3, AlCl3, dan NH3. Senyawa BF3 maupun AlCl3 banayk dijumpai pada reaksi-reaksi organik dan dikenal bersifat asam. Jelas senyawa tersebut tidak me ngandung hidrogen sehingga tidak mungkin dapat melepaskan proton (Hardjono : 2008). 3. Konsep Asam-Basa Lewis Teori yang sangat umum mengenai perilaku asam dan basa dinyatakan oleh G.N. Lewis. Menurut konsep ini, suatu asam Lewis didefinisikan spesi apa saja yang be

rtindak sebagai penerima pasangan-elektron dalam reaksi kimia, dan suatu basa Lewis iala h donor pasangan elektron. Definisi Lewis taat azas dengan pandangan Bronsted-Lowry, kar ena proton dapat dipandang sebagi suatu donor pasangan-elektron (Keenan :1984). Ciri-ciri basa Lewis : senyawa netral yang memilki pasangan elekton bebas, senya wa bermuatan negatif, dan senyawa yang mengandung ikatan rangkap dua. Hingga ciri b asa Lewis adalah senyawa yang kaya elektrkon (Hardjono : 2008). Suatu keuntungan kon sep Lewis adalah bahwa konsep ini mengenali zat-zat tertentu sebagai asam yang tak mengandung hidrogen tetapi mempunyai fungsi seperti asam berhidrogen biasa (Keen an : 1984). 2.2 Titrasi Istilah analisis titrimetri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakuk an

dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan tepa t, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat yang a kan ditetapkan ( J.Basset :1994). Konsentrasi larutan yang tidak diketahui kemudian dihitung. Syaratnya adalah reaksi harus berlangsung secara cepat, reaksi berlangsung secar a kuantitatif, dan tidak ada reaksi efek samping. Selain itu jika reagen penitrasi yang diberikan berlebih, maka harus dapat diketahui dengan suatu indikator ( S.M. Kho pkar : 1990). Larutan dengan kekuatan (konsentrasi) yang diketahui tepat itu, disebut larutan standar. Suatu larutan standar adalah larutan yang mengandung regensia dengan bobot yang diketahui dalam suatu volume tertentu larutan. Selama bertahun-tahun, konsetrasi dinyatakan dalam molaritas dan normalitas. Mlarutan standar biasanya ditambhakan dari dalam sebuah burret ( J.Basset :1994). Volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sam yang diperlukan untuk bereaksi sempurna oleh zat yang dianlisis disebut sebagai titik ekuivalen ( S.M. Khopkar : 1990). Setelah reaksi antara zat dan larutna standar praktis lengkap, indikator harus memberikan perubahan visual yang jelas (entah terjadi perubahan warna atau pembe ntukan kekeruhan) dalam cairan yang sedang dititrasi. Titik saat terjadi perubahan ters ebut disebut titik akhir titrasi. Pada titrasi yang ideal, titik akhir yang terlihat akan ter jadi bersamaan dengan titik akhir stoikiometri/teoritis. Namun dalam praktek, biasanya akan ter jadi perbedaan yang sangat sedikit ( J.Basset :1994). Perbedaan antara titk akhir dan titik ekuivalen disebut kesalahan titik akhir. Kesalahn titik akhir adalah kesalahan a cak yang berbeda untuk setiap sistem. Kesalahan ini bersifat aditif dan determinan dan ni lainya dapat dihitung ( S.M. Khopkar : 1990). Indikator dan kondisi-kondisi eksperimen harus dipilih sedemikian, sehingga perbedaan antara titik akhir dan titik ekivalen adalah seke cil mungkin ( J.Basset :1994). Regensia dengan konsentrasi yang diketahui itu disebut titran dan zat yang sedng dititrasi disebut titrat (analit) ( J.Basset :1994). Betikut syarat-syarta yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : 1. Konsentrasi titran harus diketahui 2. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. 3.

Titik stokiometri atau ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perub ahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunkan. 4. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui sete pat mungkin (Hardjono : 2008). Metode titrasi lainnya dapat dipakai untuk ketelitian yang tinggi dan memiliki beberapa keuntungan, di mana ia dapat ditetapkan melebihi metode gravimetri. Met odemetode ini memerlukan peralatan yang lebih sederhana dan umumnya cepat di kerjakan. Pemisahan yang menjemukan dan sukar sering dapat dihindari (Vogel : 1985). Reaksi yang digunakan dalam analisis titrimetri dapat dibagi dalam dua golongan utama : 1. Reaksi dalam mana tak terjadi perbahan keadaan oksidasi, reaksi ini bergantung p ada bersenyawanya ion-ion. 2. Reaksi oksidasi-reduksi, ini melibatkan suatu perubahan keadaan oksidasi (pemindahan elektron). Namun, demi kemudahan mkedua tipe reakis ini dibagi dalam empat golongan utama : 1. Reaksi penetralan : ini melibatkan titrasi basa bebas, atau basa yang terbentuk karena

hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah, dengan suatu asam standar, dan ti trasi asa, bebas atau asam yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah dengan suatu basa standar. Reaksi-reaski ini melibatkan bersenyawanya ion hidrog en dan ion hidroksida untuk membentuk air. 2. Reaksi pembentukan kompleks : reaksi ini bergantung pada bersenyawanya ion-ion (yang bukan ion hidrogen atau ion hidroksida) untuk membentuk suatu ion atau senyawa yang dapat larut dan sedikit terdisosiasi. 3. Reaksi pengendapan : reaksi bergantung pada bersenyawanya ion-ion untuk membentuk sebuah endapan sederhana (Vogel : 1985). 4. Reaksi oksidasi-reduksi : dalam golongan ini tremasuk semua reaksi yang melibatk an reaksi oksidasi-reduksi. Sebagian besar titrasi terliput oleh dua kaktegori ini (S.M. Khopkar : 1990). 2.3 Titrasi Asam-Basa Tujuan titrasi misalnya dari suatu larutan basa dengan larutan suatu asam, adlah untuk menetapkan jumlah asam yang secra kimiawai adalah tepat ekivalen dengan jumlah b asa yang ada. Keadaan pada mana ini dicapai hasilnya adalah larutan air dari garam y ang bersangkutan. Jika baik asamnya maupun basanya merupakan elektrolit kuta, laruta n yang dihasilkan akan netral dan mempunyai pH 7, tetapi jika asam atau basanya merupak an elektorlit lemah maka garam itu akan terhidolisis sampai derajat tertentu dan la rutan pada titik ekivalen itu akan entah sedikit basa atau sedikit asam. pH tepat dari laru tan pada titik ekivalen dapat mudah dihitung dari tetapan ionisasi dari asam lemah atau basa le mah itu dan konsentrasi larutan. Untuk setiap titrasi yang sesungguhnya, titik akhir yan g benar akan ditandai oleh suatu nilai tertentu dari konsentrasi ion-hidrogen larutan itu, di mana nilai tersebut bergantung pada sifat asam dan basa dan konsentrasi larutan (Vogel : 19 85). Pada titrasi ini dapat dibagi menjadi beberapa spesifikasi, antara lain : 1. Titrasi asam kuat dengan basa kuat. Reaksi untuk titrasi asam kuat-basa kuat ada lah: H+ (L) + OH(L) H2O Untuk menghitung [H+] pada titik tertentu dalam titrasi, kita harus menentukan j umlah H+ yang tetap tinggal pada titik tersebut dibagi dengan volume total larutan. Ke adaan

berdasarkan kenyataan bahwa pad awal titrasi relatif terdapat sejumlah besar H+ dalam larutan dan penambahan sejumlah ion OH- meghasilkan perubahan pH yang kecil. Nam un demikian, dekat titik ekivalen [H+] relatif kecil dan penamabhan sejumlah kecil OHmenghasilkan perubahan pH yang besar. Kurva pH yang berasal dari titrasi asam kuat dengan basa kuat, mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Sebelum titik ekivalen [H+] dapat dihitung dengan membagi jumlah milimol H+ yang tertinggal dengan volume total larutan dalam mililiter. b. Pada titik ekivalen, pH = 7,0 c. Setelah titik ekivalen[OH-] dapat dihitung dengan membagi jumlah milimol kelebih an OH-dengan volume total larutan. Kemudian H+ diperoleh dari Kw (Hardjono : 2008). 2. Titrasi asam lemah dengan basa kuat. Pada asam kuat dan basa kuat mereka terdisosiasi sempurna maka perhitungan untuk memperoleh pH dan kurva pH untuk suatu titrasi dikerjakan secara langsung. Sekarang bila asam yang dititrasi asam lemah, maka ada satu perbedaan utama, yaitu untuk menghitung [H+] setelah jumlah terten tu basa kuat ditambahkan, maka harus ingat dengan asam lemah yang terurai dalam keseimbangan. Perhitungan kurva pH untuk titrasi ini meliputi prosedur dua langk ah, yaitu: persoalan stokiometri dan persoalan keseimbangan (Hardjono : 2008).

3. Titrasi basa lemah dengan asam kuat. Pada titrasi ama lemah-basa kuat yang perlu diperhatikan adalah tentang komponen utama dalam larutan dan kemudian memutuskan apakah reaksi terjadi menuju sempurna (Hardjono : 2008). Ada dua cara yang lazim untuk menentukan titik ekivalen pada tihtrasi asam-basa : 1. Menggunakan alat pH meter, sering juga secara instrumen 2. Menggunakan indikator asam-basa, dinamakan juga secara kimia, yang menunjukkan titik akhir titrasi dengan terjadinya perubahan warna. Kebanyakan indikator asam-basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah. Mereka memberikan satu warna bila proton terikat pada bila proton lepas (Hardjono : 2008). Ada tersedia sejumlah u indikator asam-basa yang memilki warna-warna berbeda bergantung gen dari larutan. Ciri-ciri khas utama dari indikator ini i tyang dominan asam menjadi warna yang dominan basa tidaklah tapi berjalan didalam suatu selang pH yang dinmakan selang (Vogel:1985). Perubahan warna disebabkan resonansi isomer elektron, berbagai indikator mempuny ai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda. Indikator asam-basa secara garis besar dapat diklasifikasikan dala m tiga golongan : a) Indikator ftalein dan indikator sulfoftalein b) Indikator azo c) Indikator trifenil metana (S.M. Khopkar : 1990) Untuk beberapa tujuan dikehandaki suatu perubahan warna yang tajam pada suatu jangkauan pH yag sempit dan terpilih. Kasus-kasus seperti ini dapat dicapai deng an menggunakan campuran indikator yang sesuai. Ini umumnya dipilih sedemikian hingg a nilai pk `ln mereka berada dekat satu sama lain, dan warna-warna yang bertindiha n adalah komplementer pada suatu nilai pH pertengahan. Perubahan warna dari suatu indikat or tunggal dapat juga diperbaiki dengan menambahkan zat warna yang peka pH untuk menghasilkan komplemen dari salah satu warna indikator universal (Vogel:1985). Selain itu dikenal juga yang disebut indikator universal. Indikator ini memang t idak digunakan untuk titrasi melainkan untuk mengukur range pH dengan warna pH 3,0 (merah), pH 5 (orange), pH 6 (kuning), pH 8,5 (hijau), pH 9 (biru), pH 10 (viole t) (S.M. Khopkar : 1990). Indikator universal ini sebenarnya merupakan campuran indikator indikator tertentu dengan sesuai, kertas pH indikator ini berlapiskan campuran indikator molekul dan warna berbeda zat indikator penetral ata pada konsentrasi ion hidro adalah bahwa perubahan dar mendadak dan sekaligus, te peruabahan warna indikator

berupa metil orange, bromotimol blue, alizarin yellow G dan fennolftalein (Vogel :1985). Indikator asam-basa tidak dapat digunakan pada larutan yang warnanya pekat atau yang larutan yang keruh. Untuk larutan tersebut biasanya digunakan indikator yan g menunjukkan pendar-fluor. Indikator ini menunjukkan pendar-fluor biru pada sinar ultraviolet. Kelebihan indikator ini adalah pengamatan titik akhir titrasi sanga t meudah meskipun warna titrannya sendiri cukup kuat, bahkan seorang yang buta warna dapa t mengamati proses pendar-fluor ini (S.M. Khpkar : 1990). Untuk masing-masing larutan baik titran maupun titrat, perkalian antara volume (dalam liter) dengan normalitas akan menghasilkan banyaknya ekuivalen dari spesi yang bereaksi : VA NA = ekuiv A dan VB NB = ekuivB Dengan A dan B masing-masing menyatakan asam dan basa. Pada penetralan, banyakny a ekuivalen asam (ekiuvA) sama dengan ekuiv basa (ekuivB), dan daptlah ditulis :

ekuivA = ekuivB VA NA = VB NB Karena faktor volume muncul pada kedua ruas persamaan, maka satuan volume apa sa ja dapat digunakan dalam persamaan ini, asal kedua volume itu dinyatakan dengan sat uan yang sama, misalnya keduanya dalam liter (L) atau keduanya dalam mililiter (ml), yakni : LA NA = LB NB Atau mlA NB = mlB NB (Keenan:1984). BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat Bulp Labu ukur 250 ml Erlenmeyer 250 ml

Buret Pipet volume 10 ml Pipet tetes Statif Gelas ukur Beaker glass 3.1.2 Bahan NaOH 0,1 N H2C2O4 CH3COOH Indiakator pp Aquades Tisu 3.2 Prosedur Kerja 1. Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 Diambil 10 ml NaOH Ditambahkan 10 ml aquades Ditambhkan 2 tetes indikator pp Dititrasi dengan H2C2O4 hingga warna merah lembayung hilang Dihitung konsentrasi NaOH 2. Penentuan kadar CH3COOH dalam larutan cuka Diambil 10 ml larutan cuka Diencerkan hingga 100 ml Diambil 10 ml dari larutan yang diencerkan Ditambahkan 2 tetes indikator pp Dititrasi dengan NaOH hingga warnanya berubah menjadi merah lembayung Dihitung kadar asam cuka BAB 4 HASIL DAN PEMBAHSAN 4.1 Tabel Penagamatan No. Prosedur Hasil pengamatan

A. Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 1 Diambil 10 ml NaOH Lautan tidak berwarna 2. Ditambahkan 10 ml aquades Larutan tidak berwarna 3. Ditambahkan 2 tetes indikator pp Larutan merah lembayung 4. Dititrasi dengan H2C2O4 Larutan menjadi tidak berwarna V = 0,36 ml 5. Dihitung konsentrasi NaOH NNaOH = 0,36 B. Penentuan kadar CH3COOH dalam larutan cuka 1. Diambil 10 ml larutan cuka Larutan tidak berwarna 2. Diencerkan hingga 100 ml Larutan tidak berwarna 3. Diambil 10 ml dari larutan yang diencerkan Larutan tidak berwarna 4. Ditambahkan 2 tetes indikator pp Larutan tidak berwarna 5. Dititrasi dengan NaOH Larutan menjadi merah lembayung V = 14,25 ml 6. Dihitung kadar asam cuka 4.2 Reaksi 4.2.1 CH3COOH + NaOH NaCH3COO + H2O 4.2.1 Indikator pp + NaOH ONA OH OH O C C C C C + 2 NaOH C O C C O ONA O Indikator pp + 2 HO 2

4.2.3 H2C2O4 + 2 NaOH Na 2C2O4 + 2 H2O 4.2.4 Indikator pp + H2C2O4 OH OH C +HCO 224 O C O 4.3 Perhitungan 1. Standarisasi NaOH dengan H2C2O4 V NaOH kel 1. = 3,9 ml kel 2. = 3,5 ml

kel kel kel kel

3. 4. 5. 6.

= = = =

4,0 4,2 3,6 4,0

ml ml ml ml

Kel 1. VNaOH . NNaOH = VH2C2O4 . NH2C2O4 10 .x = 3,9 . 0,1 x = 3,9. 0,1 10 x = 0,039 Kel 2. VNaOH . NNaOH = VH2C2O4 . NH2C2O4 10 .x = 3,5 . 0,1 x = 3,5. 0,1 10 x = 0,035 Kel 3. VNaOH . NNaOH = VH2C2O4 . NH2C2O4 10 .x = 4,0 . 0,1 x = 4,0. 0,1 10 x = 0,040 Kel 4. VNaOH . NNaOH = VH2C2O4 . NH2C2O4 10 .x = 4,2 . 0,1 x = 4,2 . 0,1 10 x = 0,042 Kel 5. VNaOH . NNaOH = VH2C2O4 . NH2C2O4 10 .x = 3,6 . 0,1 x = 3,6. 0,1 10 x = 0,036 Kel 6. VNaOH . NNaOH = VH2C2O4 . NH2C2O4 10 .x = 4,0 . 0,1 x = 4,0. 0,1 10 x = 0,040 NNaOH = 0,039 + 0,035 + 0,040 + 0,042 + 0,036 + 0,040 6 = 0,232 6 = 0,038

2. Perhitungan kadar CH3COOH daalm larutan cuka mgrek NaOH = mgrek CH3COOH NNaOH . VNaOH = NCH3COOH . VCH3COOH 0,038 . 14,25 = x .10 x = 0,038 . 14,25 10 x = 0,054 N MCH3COOH = NCH3COOH ekv = 0,054 1 = 0,054 mol = MCH3COOH VCH3COOH fp = 0,054 10 10 = 54 mmol gr = Mr mol = 60 54 = 3,240 mg/100 ml = 3,24 g/100 ml 4.4 Pembahasan Titrasi yang sering juga disebut analisis volumetri adalah analisis kimia secara kuantitatif yang dilakukan dengan menetapkan volume suatu latutan yang konsentra sinya diketahui denagn tepat ( yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif) deng an larutan dari zat yang akan ditetapkan konsnetrasinya. Dalam titrasi banyak sekali macamn ya antara lain : titrasi asidi-alakalimetri, titrasi permanganometri, titrasi yodometri-yo dimetri, titrasi kompleksometri, titrasi argentometri, titrasi asidimetri, dan titrasi alakalimet ri. Namun pada praktikum kali ini titrasi yang dilakukan adalah titrasi asidi-alkalimetri. Titrasi asidi-alakalimetri adalah penetapan kadar suatu zat (asam/basa) berdasar kan atas reaksi asam-basa. Sedangkan asidimetri itu sendiri adalah bila pada suatu t itrasi asambasa titran yang digunakan berupa larutan asam dan alakalimetri adalah bila pada suat u titrasi asam-basa titran yang dgunakan berupa larutan basa. Pada praktikum titrasi ini banyak istilah-istilah yang bermunculan, yaitu : titr at, titrat merupakan zat yang belum diketahui konsentraisnya (zat yang akan diuji), titran, titran merupakan zat yang sudah diketahui konsentrasinya (zat penguji). TAT (titik akhi r titrasi) merupakan saat dimana berakhirnya suatu titrasi atau saat dimanalarutan analit m

engalami perubahan warna akibat indikator. Indikator adalah Titik ekivalen merupakan saat dimana jumlah peraksi ekivalen telah tepat bereaksidengan analit atau volume pada jumlah reagen yang ditambahkan tepat sama yang diperlukan untuk berekasi sempurna oleh zat yang dianalisis. Untuk mengetahui ba hwa titik ekivalen telah tercapai digunakan zat kimia bernama indikator, sehingga terjadi perubahan warna larutan, keadaan inilah yang disebut TAT. Sehingga titik ekivalen dan titi k akhir titrasi tidaklah sama. Pada prakteknya titik akhir titrasi tercapai setelah titi k ekivalen. Perbedaan anatara titik ekivalen dan titik akhir titrasi disebut sebagai kesalah an titik akhir.

Pada analis titrimetri adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi, yaotu: Reaksi h arus berlangsung secara tepat, reaksi berlangsung kuantitatif dan tidak ada reaksi sa mping. Kemudian diharapakan reaksi berlangsung secara cepat, sehingga titran dapat berl angsung lengkap. Selama itureagen penitrasi yang diberikan berlebih dan harus dapat dike tahui dengan suatu indikator. Point pokok dari analis volumetri adalah menentukan konsentrasi suatu zat berdasarkan zat lain yang konsentrasinya sudah diketahui dengan pasti ( larutan baku/ lakrutan sekunder). Proses tersebut disebut dengan standarisasi larutan. Larutan baku yang konsnetrsinya telah diketahui dengan tepat dengan keakuratannya sampai 4 angka dibelakang koma di bagi menjadi dua : larutan baku pimer, yaitu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan cara pengukuran langsung (ditimbang). Suatu zat dapat menjadi larutan standar primer, jika memenuhi persyaratn-persyar atn berikut: mudah diperoleh, dimurnikan, dan dikeringkan (jika mungkin pada suhu 11 0-1200 C) dan disimpan pada keadaan murni. Tidak bersifat higroskopis dan tidak berubah berat selama penimbangan di udara. Zat tersebut dapat diuji kadar pengotornya denagn u ji kuantitatif, sedapat mungkin mempunyai msa relatif dan atau masa ekivalen yang b esar, sehingga kesalahan karena penimbangan dapat diabaikan. Zat tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih. Reaksi yang berlangsung dengan perekasi tersebut, ha rus bersifat stokiometrik dan langsung. Kesalahan titrasi harus dapat diabaikan ( ti dak berpengaruh ), atau dapat ditetapkan secra tepat dan mudah. Larutan baku sekunder yaitu larutan yang konsentrasinya diperoleh denagn cara distandarisasi dengan alrutan baku primer. Larutan standar sekunder memiliki sif at ciri khas sebagai berikut ' Dipengaruhi oleh suasana lingkungan, konsentrasi berubah seiri ng waktu,biasanya kuat reaktan, biasanya murah dan mudah digunakan. Analis mendapat keuntungan dari perubahan pH yang besar yang terjadi dalam titra si untuk menenmtukan kapan titik ekivalen dicapai. Ada banyak asam dan basa organik lemah yang bentuk tak-terurainya dan bentuk ioniknya memiliki warna yang berbeda. Mole kul tersebut bisa digunakan untuk menentukan kapan penambahan titran telah mencukupi dan dinamakan indikator visual.dalam praktikum kali ini indikator yang digunakanberu pa indikator fenolftalein. Indikator ini merupakan asam diprotikdan tidak berwarna, indikator ini terurai terlebih dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan kemudian denaga n hilangnya pro-ion kedua, menjadi ion dengan sistem trekonjugat menghasilkan warn

a merah lembayung. Indikator pp tidak treionisasi pada basa namun terionisasi pada asam sehingga akan membentuk warna merah lembayung. Prinsip dari titrasi asam-basa adalah pembentukan elektrolit lemah seperti asam lemah, dan basa lemah. Pada asidimetri penetapan kadar secara kuantitatif dari senyawa basa dengan baku asam, sedangkan pada alkalimetri penetapan kadar secara kuantitatif dari senyawa asam dengan baku basa. Sebelum titrasi, titran harus distandarisasi terl ebih dahulu. Standarisasi ini dilakukan untuk mengetahui kenormalan titran tersebut. Pada standarisasi NaOH dengan H2C2O4 larutan menjadi merah lembayung saat ditambahkan indikator pp karena jika indikator pp direaksikan dengan basa mak wa rna yang terbentuk adalah merah lembayung. Perubahan warna ini disebabkan oleh reson ansi isomer elektron. Selain itu pada praktikum kali ini CH3COOH diencerkan sebanyak 10 kali, itu dikarenakan kosentrasi pada CH3COOH terlalu besar/pekat sehingga jika tidak diencerkan maka akan membutuhkan NaOH dalam jumlah yang besar. Namun jika sudah diencerkan maka NaOH yang dibutuhkan tidak terlalu banyak.

Setiap melakukan percobaan pasti ada kesalahan-kesalahan yang terjadi, sama haln ya dengan analisis titrimetri ini, kesalahan-kesalahan yang umum dijumpai adalah ke salahan karena : kesalahan pembakuan larutan titer, pemipetan, pembacaan buret, indikato r ikut bereaksi, penetapan titik akhir titrasi, pemilihan indikator yang tidak tepat.da ri kemungkinan kesalahan tersebut yang paling perlu mendapat perhatian adalah pada pemilihan indikator dan penetapan perubahan warna pada titik akhir titrasi. Kesa lahan karena ikut bereaksinya indikator dapat dikoreksi dengan melakukan titrasi blang ko. Oleh karena itu hanya beberapa tetes indikator myang digunakan, maka kesalahan ini da pat diabaikan dan tidak perlu ,dikoreksi. Tetapi untuk zat uji dalam jumlah kecil da n titran yang encer kesalahan ini cukup berarti. Berbagai macam zat asam dan basa, baik anorganik maupun organil, dapat diketahui dengan titrasi asam-basa. Terdapat juga banyak contoh dimana analit dapat diubah secara kimia menjadi suatu asam atau basa dan kemudian deitentukan dengan titrasi. Cont ohnya : penentuan nitrogen oleh titrasi amonia dengan asam kuat merupakan penerapan yang penting dari titrasi asam-basa. Sejumlah gugus fungsi organik dapat ditentukan d engan titrasi asam-basa. Asam karboksilat (R-COOH), asam sulfat (R-SO3H). Asam-asam tersebut dapat dititrasi dengan basa standar. Belerang dapat ditentukan dalam za t organik denagn menambahkan sampel dalam aliran oksigen, mengubah belerang menjadi SO2 da n SO3. Gas yang terbentuk oleh reaksi dilewatkan melalui larutan encer H2O2 untuk mengoksidasi SO2 menjadi SO3. Asam sulfat dititrasi dengan basa standar. BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Reaksi yang terjadi merupakan reaksi netralisasi yaitu reaksi antara asam dengan basa untuk mencapai titik ekivalen Kadar asam asetat dalam cuka sebesar 3,24 9/100 ml Prinsip dari titrasi asam-basa adalh pembentukan elektrolit lemah, seperti air, asam

lemah, dan basa lemah. Pada asidimetri penetapan kadar secara kuantitatif dari senyawa basa baku dengan asm, sendangkan pada alkalimetri penetapan kadar secara kuantitatif dari senyawa asam dengan baku asam. Sebelum dititrasi, titran harus distandarisasi terlebih dahulu 5.2 Saran Disarankan menggunakan indikator yang lain selain indikator pp, misalnya indikat or mmetyl orange, bromtimol biru, metik merah dan lain-lain dengan meggunakan bahan bahan lainnya. DAFTAR PUSTAKA Keenan, dkk. 1984 . Kimia Unsur Universitas Jilid 1. Jakarta : Erlangga Khopkar. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : UI-Press Sastrohamidjojo,hardjono. 2008. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM-Press

Svehla,G. 1985. Vogel : Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Erlangga