Anda di halaman 1dari 8

Laporan Pribadi Eksposure Pendidikan Agama Katolik

Nama : William Alexander Manalu NPM : 2011620021 Kelas : Tanggal : 4 Mei 2012

Pengantar Agama Katolik mengajarkan nilai-nilai kehidupan berdasarkan kitab suci Katolik yaitu deuterokanonika dan wahyu dari Allah di dalamnya.Untuk itu perlu adanya pendidikan agama Katolik dimana nilai-nilai kehidupan dalam agama Katolik bisa disalurkan dan diajarkan kepada mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengambil mata kuliah ini.Dalam teorinya, mahasiswa bisa membaca diktat kuliah katolik untuk memperdalam pemahaman mereka tentang ajaran agama Katolik.Namun untuk prakteknya, kita tidak hanya memakai teori di dalam buku untuk diterapkan ke masyarakat sekitar kita.Tetapi dari kegiatan-kegiatan luar yang dapat merambah wilayah emosi,afeksi dan aksi sehingga ada kesadaran sosial akan realita sosial yang ada di sekeliling kita. Untuk itu diperlukan adanya kegiatan eksposure untuk membuat mahasiswa dapat menginternalisasi apa yang terjadi pada kehidupan di luar sana yang mungkin selama ini tidak terbayangkan di benak mereka sehingga dari sini kita dapat

mewujudkan iman kita dalam kehidupan sehari-hari dari eksposure ini ,dalam keterlibatan pada masalah sosial kemanusiaan,agar iman bisa lebih hidup dan menjadi sumber inspirasi serta eksposure dapat melatih kepekaan dan kepedulian sosial terhadap lingkungan sekitar kita.Dalam kegiatan eksposure, kita mengamati dua subjek.Subjek ini merupakan kaum marjinal yang terdapat dalam masyarakat dengan pendapatan dibawah Rp.20.000,00.-.

Bagian I Subjek yang diamati oleh kelompok saya adalah penjual gorengan dengan pendapatan antara Rp.10.000,00.- sampai Rp 15.000,00.- .Untuk subjek pertama kita mendapatkan Ibu Esi dan untuk subjek kedua kita mendapatkan Ibu Nenah.Mereka tinggal di daerah Cihampelas di bawah jembatan Pasteur dimana di daerah itu terdapat pemukiman-pemukiman bagi para kaum marjinal sebagian besar. Ada penjual bakso,batagor,bala-bala (kue sayur),pisang karamel,dan masih banyak lagi kaum marjinal disana dengan pendapatan yang tidak seberapa tetapi mencukupi kebutuhan mereka untuk hidup. Untuk Ibu Esi sendiri,dia penjual gorengan seperti bala-bala,risoles,pisang karamel dan masih banyak macam gorengan yang Ibu Esi jual.Ibu Esi tetap bekerja dan berjualan untuk dapa menafkahi keluarganya dan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Ibu Esi mempunyai dua anak dan satu suami. Suaminya pergi merantau menjadi buruh sedangkan kedua anaknya ,Asep dan Ela ,mereka tinggal dan hidup

tidak jauh dari rumah Ibu Esi tinggal.Ela tinggal di rumah Ibu Esi. Dia mengandung anaknya.Ibu Esi sedih karena anaknya yang cewek tidak mau membantu ibunya dan membantu biaya kehidupan Ibu Esi. Ibu Esi kecewa akan hal ini.Seharusnya dia sudah tidak pergi mencari uang lagi tetapi anaknyalah yang harus membantu Ibue Esi, namun apalah dikata,malang Ibu Esi harus tetap bekerja di hari tuanya. Untuk subjek kedua yang kelompok saya amati yaitu Ibu Nenah.Setelah kami selesai membantu pekerjaan Ibu Esi.Ibu Esi memperkenalkan kita kepada temannya yaitu Ibu Nenah.Ibu Nenah sendiri juga penjual gorengan sama seperti Ibu Esi. Ibu Nenah mempunyai seorang suami tetapi dia sudah meninggal dan Ibu Nenah memiliki 4 orang anak yang harus makan setiap hari. Oleh karena itu, sampai sekarang Ibu Nenah masih berjualan gorengan untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya.Gorengan yang dia jual biasa-biasa saja tetapi dari perjuangannya untuk tetap menafkahi keluarganyalah yang membuat gorengan yang dijualnya tidak biasa.

Bagian II Untuk Ibu Esi,Ibu Esi memiliki permasalahan hubungan antar keluarga yang menurut saya kurang harmonis,terutama dengan anaknya yang perempuan .Anak lakilaki Ibu Esi,Asep,sudah bekerja dan tinggal di kos-kosan tidak jauh dari tempat Ibu Esi tinggal. Di sini anaknya,Ela,yang sudah berumahtangga seharusnya dapat mengasihi dan membantu Ibunya,Ibu Esi,dengan segenap hati.Karena dia pasti dari kecil sudah dirawat dengan baik serta penuh kasih sayang. Jika Ela sadar bahwa

tanggung jawabnya sebagai seorang ibu dari anak yang dia kandung dan juga tanggung jawabnya sebagai seorang anak,maka Ibu Esi tidak harus berjualan dan bersusah payah lagi di masa tuanya. Sedangkan untuk Ibu Nenah.Dia memiliki permasalahan dalam menafkahi kehidupannya dan juga anak-anaknya.Ibu Nenah semenjak kehilangan suaminya dia harus berjualan gorengan di rumahnya. Pada saat subuh datang,dia sudah harus menyiapkan segala bahan yang harus dibuat untuk membuat gorengan-gorengan yang akan dia jual kepada masyarakat sekitarnya.

Bagian III Permasalahan yang didapati oleh Ibu Esi adalah anak yang tinggal di dalam rumahnya dan tidak mau membantu dia walaupun anaknya Ela sudah tinggal di rumah Ibu Esi.Solusi yang dapat dilakukan untuk Ibu Esi oleh saya sendiri yaitu Ibu Esi seharusnya bisa dapat berkomunikasi lebih dengan anaknya ,Ela dan juga untuk Asep.Komunikasi yang baik dalam keluarga akan membawa keluarga tersebut ke dalam keterbukaan satu sama lain dan bisa mengerti satu sama lain sehingga tercipta keharmonisan di dalam keluarga tersebut.Yang sudah dilakukan Ibu Esi sudah benar yaitu dia tetap berjualan dan menafkahi keluarganya dengan hasil penjualannya itu ,ini harus dilakukan terus dan Asep juga sudah bekerja sehingga bisa meringankan beban keluarganya serta suaminya yang merantau dapat memberikan uang tambahan kepada Ibu Esi setelah suaminya pulang.

Untuk Ibu Nenah sendiri masalahnya yaitu dia sudah kehilangan suaminya dan dia sekarang harus bekerja keras untuk menafkahi anak-anaknya sekolah,makan,dan untuk keperluan lainnya.Solusi yang bisa tawarkan oleh saya sandiri adalah Ibu Nenah harus tetap berdoa dan tetap bekerja keras terus sehingga dari penghasilannya dia bisa menyekolahkan anak-anaknya dan semoga sampai jejang universitas.Dan dalam usahanya Ibu Nenah haru berpikir lebih kreatif untuk membuat jualannya lebih enak,gurih,dan disukai orang banyak,sehingga pendapatan yang didapatnya bisa lebih banyak lagi.

PENUTUP Pada saat saya mengikuti segala aktivitas yang mereka lakukan. Saya membantu berjualan dan membeli barang-barang yang Ibu Esi dan Ibu Nenah beli setiap hari serta membantu mereka dalam proses pembuatan gorengan yang mereka buat sehari-hari.Untuk Ibu Esi saya mengikuti kegiatan-kegiatannya .Pertama ,saya pergi ke pasar bersama rekan-rekan satu kelompok ,Cinthya dan Alvian,untuk membeli bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat gorengan-gorengan untuk dijual Ibu Esi .Setelah belanja, di rumahnya kami membuat gorengan bala-bala dengan memotong wortelnya dan mencampur bahan-bahan dengan menggunakan tangan dan pisau.Setelah selesai membuat gorengan ,kami langsung berjualan di bawah jembatan Pasteur dan di sana saya mendapat pencerahan dari berjualan ini bahwa apapun yang kita lakukan,kita harus melakukannya dengan senang hati dan tanpa beban.Kita harus

bersyukur dalam hal apapun juga.Saya sedih dan dalam hati saya berbicara kepada diri sendiri,saya masih beruntung saya masih bisa kuliah,makan dengan enak ,tidur nyenyak,dan ada keluarga mendukung saya terus dari belakang.Masih banyak orang orang diluar sana yang tidak seberuntung saya dan mereka membutuhkan pertolongan oleh orang-orang yang tergerak hatinya untuk membantu mereka. Untuk Ibu Nenah,saya mengikuti kegiatannya dengan rekan-rekan kelompok lain.Saya dan teman-teman harus bangun jam setengah 3 subuh hanya untuk mengikuti kegiatan Ibu Nenah membuat gorengan-gorengan dari bahan-bahan yang sudah Ibu Nenah beli sebelumnya.Saya harus capek-capek tidak tidur dan saya harus membantu Ibu Nenah.Saya jujur tidak kuat dan itu dukanya tetapi senangnya saya tahu bahwa mencari uang itu susahnya minta ampun.Mungkin bagi kita yang ada orang tuanya ,gampang tinggal kita minta saja maka kita akan diberi.Tetapi beda untuk orang-orang diluar sana yang demi dapat Rp.10.000,00 harus banting tulang dan bersusah payah dengan segala usaha yang mereka lakukan,contohnya Ibu Nenah.Kita belum merasakan susahnya dapat uang dan itu yang saya dapat dari seorang Ibu Nenah.Luar biasa hebat dia. Untuk kedua subjek yang kelompok saya amati,disini saya melihat bahwa Ibu Esi dan Ibu Nenah mempunyai nilai juang akan hidup yang tinggi, walaupun usianya sudah lanjut tetapi dia masih terus berjualan gorengan, seperti risoles,pisang manis,bala-bala dan masih banyak lagi jenis gorengan yang dijual Ibu Esi dan Ibu Nenah.Saya kagum akan perjuangan Ibu Esi dan Ibu Nenah yang tidak pernah menyerah akan keadaan kehidupan dan mereka masih tetap bersyukur meski keadaan mereka tidak memungkinkan untuk mereka bersyukur. Mereka sudah tua seharusnya

hidupnya pada usia lanjut dihabiskan untuk keluarganya. Tetapi hari tua mereka ,mereka habiskan untuk menafkahi keluarganya,sungguh perjuangan yang dahsyat dan mereka menjadi teladan bagi saya dan mungkin untuk rekan-rekan kelompok yang lain.Pengalaman yang tidak akan saya lupakan bersama Ibu Esi dan Ibu Nenah. Nilai daya juang Ibu Esi dan Ibu Nenah yang gigihlah yang membuat aku terpacu untuk lebih bersyukur akan kehidupan ini yang sudah diberikan oleh Tuhan.Sekalipun kondisi kita tidak menyenangkan tapi dari seorang Ibu Esi dan Ibu Nenah. Mereka mengajari saya untuk selalu berjuang dalam hidup ini.Mereka berjuang untuk menafkahi keluarga .Saya berjuang untuk bisa lulus kuliah dengan nilai yang memuaskan untuk orang tua dan Tuhan. Saya terpacu terus untuk berjuang dalam kuliah saya.Cara saya berjuang yaitu dengan terus belajar giat ,tekun,sabar dan selalu berdoa kepada Tuhan .Itu pemberian terbaik oleh saya kepada orang-orang terdekat saya. Lampiran:

Foto diatas diambil pada saat saya dan Cinthya membantu Ibu Nenah belanja.

Foto ini diambil pada saat saya membantu Ibu Nenah menyiapkan jualannya.