Lukas 16:19-31
Judul: Mengasihi dengan Harta Kita
Ada orang yang mengatakan, uang bukan segalanya, tetapi segalanya butuh uang. Memang benar,
untuk menjalani hidup ini kita membutuhkan uang. Akan tetapi, kalau hanya berfokus mengejar uang,
kita akan kehilangan segalanya dan menuju kebinasaan.
Orang kaya dalam perumpamaan ini adalah anak Abraham (24). Dengan status ini, ia merasa yakin kelak
akan masuk surga. Namun, setelah kematian, ia malah berada di neraka. Pasalnya, ia tidak mengasihi
Allah dan sesama.
Sebaliknya, Lazarus adalah orang miskin. Selama hidup, ia menderita. Ia hanya bisa memohon
pertolongan kepada Allah agar menikmati surga bersama Abraham.
Yesus menujukan perumpamaan ini kepada orang-orang Farisi. Yesus melihat mereka sebagai pencinta
uang yang tidak peduli kepada sesama. Namun, mereka selalu merasa benar dan merasa layak masuk
surga karena klaim sebagai anak Abraham. Oleh sebab itu, Yesus menegur mereka. Yesus mengatakan
sekalipun berstatus keturunan Abraham, jika masih mencintai uang dan tidak memiliki kasih, mereka
akan berakhir seperti orang kaya tersebut.
Alkitab tidak pernah mengajarkan bahwa menjadi kaya itu dosa. Masalahnya adalah apakah kekayaan
itu menguasai diri kita? Apakah kekayaan itu kita gunakan untuk memedulikan sesama dan mengasihi
Tuhan? Alkitab selalu mengingatkan agar kita tidak terjebak dan tergoda oleh materi sehingga berakhir
binasa. Sebab, jika tidak memprioritaskan Allah dan sesama untuk dikasihi, sesungguhnya kita sedang
menuju kebinasaan.
Belajar dari perumpamaan ini, mari kita tidak menikmati kekayaan bagi diri kita saja. Sebaliknya, harta
adalah sarana menyatakan kasih kepada Allah dan sesama selama kesempatan masih ada. Jika diberi
kekayaan, biarlah hati kita tidak terpaut padanya. Kita senantiasa harus terpaut kepada Allah dan
mengasihi sesama.