Anda di halaman 1dari 58

LEARNING ISSUES

1. Apa pengertian, tujuan, dan manfaat dari pengkajian status gizi ? 2. Apa saja poin penting dari pengkajian status gizi ? 3. Bagaimana langkah-langkah umum pengkajian status gizi ? 4. Metode apa saja yang digunakan dalam pengkajian status gizi ? 5. Software apa saja yang dapat digunakan untuk membantu ahli gizi dalam melakukan pengkajian status gizi ?

PEMBAHASAN LEARNING ISSUES 1. Apa pengertian, tujuan, dan manfaat dari pengkajian status gizi ? a. Pengertian Nutritional assessment atau pengkajian status gizi adalah suatu cara/prosedur untuk mengumpulkan, menganalisis dan mengetahui status gizi pasien. menginterpretasikan data pasien yang digunakan untuk Selain itu, pengkajian status gizi merupakan

pendekatan komprehensif

untuk mendefinisikan status

gizi yang

menggunakan riwayat

medis, gizi, dan obat-obatan, pemeriksaan fisik seperti pengukuran antropometri dan data laboratorium. Sumber : JPEN (Journal of Parenteral and Enteral Nutrition) Guidelines for the Use Parenteral and Enteral Nutrition in Adult and Pediatric Patients oleh ASPEN.

b. Tujuan Menentukan rencana asuhan gizi yang sesuai dengan kondisi pasien secara tepat. Mengumpulkan informasi yang cukup guna untuk membuat keputusan secara professional terhadap status gizi pasien. Mengidentifikasi individu/kelompok yang beresiko malnutrisi, yang sudah terkena malnutrisi, mengembangkan program-program perawatan kesehatan yang memenuhi kebutuhan masyarakat, ditentukan oleh penilaian, mengukur efektivitas program intervensi gizi. Mengumpulkan dan mengintrepretasikan data dari klien untuk mengidentifikasi masalah yang berhubungan dengan gizi. Untuk mengevaluasi status gizi, mengidentifikasi gangguan gizi, dan menentukan apakah asuhan gizi diperlukan atau tdk pada pasien.

Sumber : Nutritioal Assessment of patients in Hospital oleh M.Sc.Nursing (Manchester), B.Sc.Nursing, P.G.Dip.Nutrition and Dietetics; International Dietetics and Nutrition terminology reference manual; ASPEN 2005.

c. Manfaat Meningkatkan status gizi pasien, mengurangi masa waktu rawat rumah sakit, meringankan biaya, menghindari komplikasi antara diet dg penyakit pasien. Membantu praktisi gizi untuk : - Mengidentifikasi kelompok/orang yang beresiko masalah gizi - Menilai hubungan antara gizi dan kesehatan - Menentukan jenis intervensi untuk memperbaiki status gizi - Memonitor efek dari intervensi gizi Sumber : Handbook Ntritional Assessment (SEAMEO TROPMED RCCN) University of Indonesia; PAGT 2009.

2. Apa saja poin poin penting dan factor-faktor yang mempengaruhi pengkajian status gizi ? a. Poin poin Penting Kecukupan asupan gizi sebelumnya dan saat ini Resep diet enteral atau cairan parenteral saat ini Perilaku makan dan pengembangan pola makan makan Sumber keuangan untuk makan Makanan intoleransi atau alergi Evaluasi pertumbuhan menggunakan pengukuran antropometrik saat ini dan riwayat pertumbuhan berdasarkan dengan grafik pertumbuhan Obat yang dapat mempengaruhi status nutrisi Riwayat medis termasuk kondisi yang mengubah proses menelan, pencernaan, penyerapan, atau penggunaan nutrisi Implikasi gizi dari tes laboratorium Pemeriksaan fisik termasuk manifestasi Agama, budaya dan etnis Sudut pandang keluarga tentang gizi dan makanan dari kekurangan dan kelebihan gizi, dan

perkembangan pengkajian dan tingkat aktivitas

Sumber : Journal of Parenteral and Enteral Nutrition (JPEN) Guidelines for the Use of Parenteral and Enteral Nutrition in Adult and Pediatric Patients oleh ASPEN.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sosial budaya pasien Riwayat penyakit pasien atau keluarga Riwayat asupan makanan Riwayat pengobatan Pernah operasi atau tidak Riwayat kebiasaan pasien, seperti : perokok,peminum,dll Sumber : PAGT 2009.

3. Bagaimana langkah-langkah umum pengkajian status gizi ? Menggali informasi yang memadai untuk mengidentifikasi masalah gizi. Membedakan data yang penting dan tidak penting. Data yang dikumpulkan terdiri dari 5 kategori (Antropometri, Biokimia, Clinic, Dietary dan Riwayat Personal meliputi : riwayat gizi, riwayat sosial (terpapar rokok atau tidak), rekap medis. Pengumpulan data gizi dilakukan dengan cara observasi langsung (data primer) atau dari dokumen medic (data sekunder). Setelah data terkumpul dilakukan analisis dan interpretasi dengan cara menbandingkannya dengan standar / cut-off point. Sumber : PAGT 2009; ADA.

4. Metode apa saja yang digunakan dalam pengkajian status gizi ? a. Antropometri 1) Parameter Pengukuran Berat Badan a) Dacin Dacin merupakan alat yang dapat memenuhi persyaratan untuk digunakan dalam penimbangan berat badan pada anak balita. Dengan menggunakan dacin, kita dapat memperoleh beberapa keuntungan. Antara lain : Sudah dikenal secara umum.

Mudah di dapat dan asli buatan Indonesia. Ketelitian dan ketepatannya cukup baik. Dacin digunakan sebaiknya minimum 20 kg dan maksimum 25 kg. Dalam penggunaan dacin berkapasitas 50 kg pun juga bisa namun angka ketelitiannya 0,25 kg. Jenis timbangan yang lainnya adalah detecto yang sering terlihat di puskesmas. Selain itu ada juga timbangan kamar mandi (bathroom scale) yang mana tidak dapat digunakan untuk menimbang anak balita karena menggunakan per, sehingga hasilnya dapat berubah-ubah sesuai dengan kepekaan per-nya. Alat lain yang diperlukan adalah kantong celana timbang atau kain sarung, kotak atau keranjang yang tidak membahayakan anak terjatuh pada waktu ditimbang. Diperlukan pula tali atau sejenisnya yang cukup kuat untuk menggantungkan dacin.

Prosedur : Sebelum menimbang, periksalah dacin dengan seksama kondisi dacin baik atau tidak. Dacin yang dalam keadaan baik dapat dilihat dengan melihat bandul geser berada pada posisi skala 0,0 kg, jarum penunjuk berada pada posisi seimbang. Setelah alat timbang lainnya (celana atau sarung timbang) dipasang pada dacin, lakukan peneraan yaitu dengan cara menambah beban pada ujung tangkai dacin, misalnya plastik berisi pasir. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menimbang bayi adalah: Pakaian dibuat seminim mungkin, sepatu, baju/pakaian yang cukup tebal harus ditanggalkan. Kantong celana timbang tidak dapat digunakan. Bayi ditidurkan dalam kain sarung. Seimbangkan dacin yang sudah dibebani sarung timbang dengan cara memasukkan pasir ke dalam kantong plastik. Geserlah anak timbang sampai tercapai keadaan setimbang, kedua ujung jarum terdapat pada satu titik.

Lihatlah angka pada skala batang dacin yang menunjukkan berat badan bayi. Catat berat badan dengan teliti sampai satu angka desimal. Misalnya 7,5 kg. Bila memungkinkan, ulangi penimbangan sekali lagi, bila hasil pengukuran 1 dan 2 berbeda >0,5 kg, lakukan pengukuran yang ke-3, jika perbedaannya <0,5 kg maka dihitung rata-rata dari kedua penimbangan kemudian catat.

Dalam penimbangan berat badan pada anak balita langkah-langkahnya sama seperti langkah umum yang tertera di atas dan dapat menggunakan celana timbang, kain sarung, atau keranjang. Kesulitan-kesulitan dalam menimbang berat badan anak ialah anak terlalu aktif, sehingga sulit melihat skala. Dan selain itu, anak biasanya menangis.

b) Timbangan Injak Digital Timbangan berat badan digital sangat sederhana penggunaannya, namun diperlukan pelatihan petugas agar mengerti dan dapat menggunakannya secara sempurna. Pedoman penggunaan timbangan berat badan ini harus dipelajari dengan baik dan benar agar menghasilkan sebuah hasil pengukuran yang optimal. Berikut ini adalah langkah-langkah dalam menggunakan timbangan digital : Persiapan. Ambil timbangan dari kotak karton dan keluarkan dari bungkus plastiknya. Pasang baterai pada bagian bawah alat timbang (jangan lupa memperhatikan posisi baterai). Pasang 4 (empat) kaki timbangan pada bagian bawah alat timbang (kaki timbangan harus dipasang dan tidak boleh hilang). Letakkan alat timbangan pada lantai yang permukaannya datar. Subjek yang akan ditimbang diminta membuka alas kaki dan jaket serta mengeluarkan isi kantong yang berat seperti kunci, dan lainnya.

Alat ini juga mempunyai keuntungan dan keterbatasan. Yaitu antara lain : Keuntungan penggunaan timbangan berat badan digital : - Dapat mengukur berat badan dengan mudah, cepat dan akurat, sebab ketelitian timbangan 50 gram. - Mengurangi risiko penularan infeksi kulit dan cedera pada balita. - Mengurangi rasa takut pada anak-anak yang tidak senang dengan timbangan gantung. Keterbatasan penggunaan timbangan berat badan digital : - Kurang dapat digunakan pada tempat dengan pencahayaan kurang. - Penyimpanan harus dengan benar dengan menggunakan karton fiksasi untuk menjaga agar tidak terguncang. Oleh sebab itu harus disimpan dan diperlakukan dengan hati-hati. - Memerlukan tempat dengan permukaan lantai harus datar dan rata.

c) Timbangan Injak Timbangan injak pegas Prinsip pada timbangan injak pegas sama dengan timbangan injak digital, hanya saja tingkat keakurasiannya lebih tinggi pada timbangan digital.

Timbangan gantung pegas Prinsip penggunaan timbangan gantung pegas sama dengan dacin, setelah timbangan seimbang petugas tinggal membaca skala yang tertera pada timbangan pegas dan mencatatnya.

d) Beam Balance Beam balance merupakan timbangan berat badan untuk anak-anak dan orang dewasa yang dapat berdiri tanpa alat bantu. Prinsip penggunaan beam balance ini sama dengan timbangan injak digital. Perbedaan beam balance dengan timbangan injak digital ialah pada beam balance dilengkapi alat ukur tinggi badan.

Beam balance

e) Pada responden yang berkursi roda

Ada dua macam cara menimbang yaitu dengan cara menimbang beserta kursi rodanya dan menimbangnya dengan pegangan untuk sandaran berdiri responden. Timbangan yang digunakan adalah timbangan khusus untuk kursi roda yang biasa disebut wheelchair scale. Cara menimbang responden bersama kursi roda tahap-tahapnya adalah : Mengaktifkan timbangannya dan memastikan bahwa timbangan menunjukkan angka nol. Mempersiapkan kursi roda yang sudah diketahui beratnya dengan menggunakan alat yang sama.

Meminta responden pindah ke kursi roda yang telah dipersiapkan sebelumnya. Memindah responden beserta kursi roda ke alat timbangan tepat di tengah timbangan.

Gambar Responden Diletakkan di tengah timbangan

Mengunci roda pada kursi roda agar tidak bergeser. Meminta responden agar tetap tenang. Mencatat angka yang keluar dan pastikan angka itu dalam keadaan statis. Menghitung berat badan responden dengan rumus :

Berat Badan Responden = Berat Orang dan Kursi Roda Berat Kursi Roda

f) Responden yang tidak bisa duduk maupun berdiri Cara menimbang responden yang tidak dapat duduk ataupun berdiri adalah dengan menggunakan timbangan khusus yaitu pod scale, flush-mounted floor scale ,dan sling scale. Pod Scale adalah timbangan berat badan yang menggunakan sebuah alas yang berkakikan sepatu roda yang sudah diganjal dan digunakan sebagai penyangga tempat tidur. Alat ini mampu menahan beban hingga 600 kg. Pada umumnya alat ini masih jarang digunakan di rumah sakit di Indonesia karena selain mahal pencarian spare part dan tidak terlalu diperhatikan oleh pemerintah. Pada alat ini tempat tidur tidak akan bergeser sekalipun sehingga nilai yang keluar adalah nilai statis.

Gambar 2.1 Display pada Pod Scale

Gambar 2.2 Pod scale

Flush-mounted floor scale adalah timbangan yang dapat digunakan untuk responden yang menggunakan kursi roda yaitu dengan cara berdiri karena ada

pegangannya ataupun duduk di kursi roda maupun terbaring di tempat tidur yang memiliki roda. Prinsip penggunaanya pun sama yaitu dengan menimbang responden langsung apabila mampu berdiri dengan pegangan, dan menimbang responden beserta kursi roda ataupun tempat tidur dengan kaki roda yang telah diketahui beratnya dengan alat yang sama. Karena alat ini digunakan untuk kursi roda dan tempat tidur yang memilik roda maka hanya mapu menahan beban hingga 375 kg sehingga harus menggunakan tempat tidur yang tidak terlalu berat.

Flush-mounted floor scale

Sling scale adalah timbangan dengan cara menimbang responden di sebuah kain. Jadi responden harus dipindah ke sling scale dengan manual. Cara ini tergolong sulit karena responden harus dipindah dengan manual dan membutuhkan tenaga lain dan tidak dapat dilakukan penimbangan pada pasien yang mengalami luka pada bagian punggung karena akan menambah rasa sakit jika tidak dipindah secara baik dan benar.

Gambar Sling Scale Pengukuran Tinggi Badan a) Orang Dewasa dan Anak yang Sudah Bisa Berdiri Pengukuran tinggi badan (cm) dimaksudkan untuk mendapatkan data tinggi badan semua kelompok umur, agar dapat diketahui status gizi penduduk. Alat : Pengukur tinggi badan : MICROTOISE dengan kapasitas ukur 2 meter dan ketelitian 0,1 cm. Sasaran : Responden dewasa atau anak yang sudah bisa berdiri Persiapan (Cara Memasang Microtoise) : Gantungkan bandul benang untuk membantu memasang microtoise di dinding agar tegak lurus. Letakan alat pengukur di lantai yang DATAR tidak jauh dari bandul tersebut dan menempel pada dinding. Dinding jangan ada lekukan atau tonjolan (rata). Tarik papan penggeser tegak lurus keatas, sejajar dengan benang berbandul yang tergantung dan tarik sampai angka pada jendela baca menunjukkan angka 0 (NOL). Kemudian dipaku atau direkat dengan lakban pada bagian atas microtoise.

Untuk menghindari terjadi perubahan posisi pita, beri lagi perekat pada posisi sekitar 10 cm dari bagian atas microtoise. Prosedur Minta responden melepaskan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup kepala). Pastikan alat geser berada diposisi atas. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat microtoise di pasang. Pandangan lurus ke depan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding. Baca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih besar (ke bawah ) Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar. Pencatatan dilakukan dengan ketelitian sampai satu angka dibelakang koma (0,1 cm). Contoh 157,3 cm; 160,0 cm; 163,9 cm. Isikan ke dalam kuesioner. Keterangan : Keterbatasan microtoise adalah memerlukan tempat dengan permukaan lantai dan dinding yang rata, serta tegak lurus tanpa tonjolan atau lengkungan di dinding. Bila tidak ditemukan dinding yang rata dan tegak lurus setinggi 2 meter, cari tiang rumah atau papan yang dapat digunakan untuk menempelkan microtoise.

b) Pengukuran Panjang Badan untuk Anak yang Belum Bisa Berdiri Pengukuran panjang badan dimaksudkan untuk mendapatkan data panjang badan anak yang belum bisa berdiri agar dapat diketahui status gizi anak. Letakan pengukur panjang badan pada meja atau tempat yang rata .Bila tidak ada meja, alat dapat diletakkan di atas tempat yang datar (misalnya, lantai). Letakkan alat ukur dengan posisi panel kepala di sebelah kiri dan panel penggeser di sebelah kanan pengukur. Panel kepala adalah bagian yang tidak bisa digeser.

Tarik geser bagian panel yang dapat digeser sampai diperkirakan cukup panjang untuk menaruh bayi/anak. Baringkan bayi/ anak dengan posisi terlentang, diantara kedua siku, dan kepala bayi/anak menempel pada bagian panel yang tidak dapat digeser. Rapatkan kedua kaki dan tekan lutut bayi/ anak sampai lurus dan menempel pada meja/tempat menaruh alat ukur. Tekan telapak kaki bayi/anak sampai membentuk siku, kemudian geser bagian panel yang dapat digeser sampai persis menempel pada telapak kaki bayi/ anak. Bacalah panjang badan bayi/anak pada skala kearah angka yang lebih besar. Misalkan: 67,5 cm. Isikan ke Kuesioner . Setelah pengukuran selesai, kemudian bayi/anak diangkat. Keterangan: Alat pengukur panjang badan bayi aluminium ini mempunyai kelemahan pada panel penggeser maupun panel untuk menempel di kepala, sebab tidak statis (mudah digerak-gerakan ke kiri dan ke kanan). Oleh sebab itu pengukur HARUS BERHATI-HATI dalam mengukur, PEMBACAAN dilakukan ketika posisi kedua papan tersebut tegak lurus. Caranya adalah minta bantuan petugas pengunmpul data lain atau ibu anak/bayi untuk memegang papan bagian kepala, dan pengukur memegang papan bagian kepala. Batas pengukuran maksimal adalah 100 cm. Apabila ditemukan panjang anak lebih. Dari 100 cm, dapat digunakan meteran kain dengan menempelkan meteran pada papan. Bila panjang badan anak kurang dari batas minimal alat ukur, dapat digunakan penggaris atau alat tambahan sampai ke batas minimal, kemudian diukur selisihnya untuk mendapatkan hasil panjang badan anak yang sebenarnya. Sebaiknya pengukuran dilakukan dengan meminta bantuan petugas pengumpul data lainnya, atau ibu anak untuk memegang kepala anak agar tepat menempel pada siku alat dan tetap menghadap keatas. Sementara petugas pengukur meluruskan kaki dan telapak kaki bayi/anak, sekaligus membaca hasil ukur. Khusus untuk balita, isi sesuai cara pengukuran tinggi atau panjang badan: 1. Berdiri ; 2. Telentang (cukup jelas) balita. Kelemahan Alat Papan penggeser pada bagian kaki LENTUR, sehingga tidak tegak lurus (tidak valid)

Posisi anak benar, namun papan tempat menempel kepala dan papan penggeser kaki tidak tegak lurus (LENTUR) sehingga hasil ukur tidak akurat. (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan DEPKES RI. 2007. Pedoman Pengukuran dan Pemeriksaan. Jakarta: Riset Kesehatan Dasar 2007)

Lingkar Dada a) Prosedur Letakkan pita lida ditempat yang rata, menghadap kebawah. Setelah bayi dibersihkan dari darah dan lendir, baringkan bayi ditengah tengah pita. Upayakan bayi dalam keadaan tenang. Yakinkan bahwa garis mendatar disepanjang tengah pita jatuh dikedua putting susu bayi. Lingkarkan ujung pita dan selipkan kedalam celah yang ada, sampai pita melingkari tubuh bayi dengan lembut dan rata disepanjang garis puting susu. Baca dan catat ukuran LIDA pada pita (pada tanda panah) sampai milimeter terdekat (misalnya 27,5 cm). Jangan Menarik Pita Terlalu Kencang Dan Jangan Sampai Melintir. b) Batas Ambang BBLR Warna Merah : < 27,0 cm Warna Kuning : 27,0 29,4 cm Bayi Berat Lahir Normal Warna Hijau : 29,5 cm Untuk mendeteksi KEP pada balita, digunakan rasio Lingkar dada dan lingkar kepala. Bernilai <1 pada balita KEP. c) Kelebihan Bisa digunakan untuk mendeteksi BBLR dan KEP. Penggunaannya mudah, simple sehingga masyarakat bisa menggunakannya juga. Digunakan mulai dari Rumah sakit provinsi sampai tingkat desa. d) Kekurangan Hanya bisa dipakai untuk anak berusia 0-3 tahun. Keadaan bayi yang rewel akan mempengaruhi hasil yang valid.

Sumber : Susilowati,S.KM.2008.Pengukuran Status Gizi dengan Antropometri Gizi; Pedoman Pengukuran Lingkar Dada pada Bayi Lahir Rendah (Sebagai Indikator Deteksi Dini Bayi Berat Lahir Rendah.

Umur a) Prosedur Untuk melengkapi data umur dapat dilakukan dengan cara-cara berikut: Meminta surat kelahiran, kartu keluarga atau catatan lain yang dibuat oleh orang tuanya. Jika tidak ada, bila memungkinkan catatan pamong desa. Jika diketahui kalender lokal seperti bulan Arab atau bulan lokal (Sunda, Jawa dll), cocokan dengan kalender nasional. Jika tetap tidak ingat, dapat berdasarkan daya ingat ortu, atau berdasar kejadian penting (lebaran, tahun baru, puasa, pemilihan kades, pemilu, banjir, gunung meletus dll). Membandingkan anak yang belum diketahui umurnya dengan anak kerabat/ tetangga yang diketahui pasti tanggal lahirnya. Jika hanya bulan dan tahunnya yang diketahui, tanggal tidak diketahui, maka ditentukan tanggal 15 bulan ybs. Batasan umur yang digunakan (Puslitbang Gizi Bogor, 1980): Tahun umur penuh (completed year) Contoh : 6 tahun 2 bulan, dihitung 6 tahun 5 tahun 11 bulan, dihitung 5 tahun. Bulan usia penuh (completed month): untuk anak umur 0-2 tahun digunakan Contoh : 3 bulan 7 hari, dihitung 3 bulan 2 bulan 26 hari, dihitung 2 bulan. Sumber : Susilowati,S.KM.2008.Pengukuran Status Gizi dengan Antropometri Gizi.

Lingkar Lengan Atas a) Prosedur Tentukan posisi pangkal bahu. Tentukan posisi ujung siku dengan cara siku dilipat dengan telapak tangan ke arah perut.

Tentukan titik tengah antara pangkal bahu dan ujung siku dengan menggunakan pita LiLA atau meteran (Lihat Gambar), dan beri tanda dengan pulpen/spidol (sebelumnya dengan sopan minta izin kepada responden). Bila menggunakan pita LiLA perhatikan titik nolnya. Lingkarkan pita LiLA sesuai tanda pulpen di sekeliling lengan responden sesuai tanda (di pertengahan antara pangkal bahu dan siku). Masukkan ujung pita di lubang yang ada pada pita LiLA. Pita ditarik dengan perlahan, jangan terlalu ketat atau longgar. Baca angka yang ditunjukkan oleh tanda panah pada pita LiLA (kearah angka yang lebih besar). b) Ambang batas (Cut of Points): LILA WUS dengan risiko KEK di Indonesia < 23.5 cm Pada bayi 0-30 hari : 9.5 cm Balita dengan KEP <12.5 cm Kelebihan Alternatif bila tidak memungkinkan dilakukan pengukuran BB dan TB (dalam keadaan darurat dan skrining). Nilai cut offf untuk balita 12,5-13cm dapat menggnatikan interpretasi BB/Tb rendah atau wasting. c) Kelemahan: Baku LLA yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Kesalahan pengukuran relatif lebih besar dibandingkan pada TB. Sensitif untuk suatu golongan tertentu (prasekolah), tetapi kurang sensitif untuk golongan dewasa. Sumber : Susilowati,S.KM.2008.Pengukuran Status Gizi dengan Antropometri Gizi; Saptawati Bardosono. Penilaian Status Gizi Balita (Antropometri).

Lingkar Otot Lengan Atas a) Prosedur

Pengukuran lingkar otot lengan atas yang didasarkan atas tebal trisep dan LILA, akan menghasilkan index masa otot ( simpanan protein tubuh). Pengukurannya dilakukan dalam sentimeter dengan cara: LOLA(cm) = LILA(cm) (0,314 x tebal kulit tricep(mm)) b) Cut Off Nilai normal bagi penduduk Indonesia yang berusia dewasa belum ada sampai saat ini, namun bagi orang kaukasian (kulit putih) normalnya : 90% standar = 22,8 cm untuk laki-laki dan 20,9 cm untuk wanita. c) Kelebihan Bisa mengestimasi simpanan protein dalam tubuh. Perhitunagannya simple. Tidak perlu prosedur lagi. d) Kelemahan Tergantung pada data LILA dan Tricep. Tidak berguna banyak pada pasien sakit kritis karena ukuran berat badan cenderung untuk berubah. Sumber : Made Wiryana. 2007. Nutrisi Pada Penderita sakit Kritis; dr.Andry

Hartono.SpGK. 2004. Terapi Gizi dan Diet rumah Sakit edisi2

Lingkar Kepala a) Prosedur Tentukan usia anak Ukur kepala bayi / anak dengan melingkarkan pita meteran dmulai ke kepala anak dimulai dari bagian yang paling menonjol. Masukkan pengukuran lingkar kepala berdasarkan usia ke dalam grafik. Lakukan pola penilain pertumbuhan kepala kemudian masukkan hasilnya ke dalam tabel hasil praktikum.

b) Cut off Jika <-2, mengalami keterlambatan pertumbuhan. Jika >+2, mengalami proses pertumbuhan melebihi normal. c) Kelebihan Dapat digunakan untuk membantu mendeteksi KEP anak. Dapat digunakan untuk membantu medeteksi Mikrosefali pada bayi. Biasa digunakan untuk menegatahui pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Digunakan sebagai alat deteksi dini gangguan Neurologis pada anak. Penggunaannya mudah, murah diterapkan pada anak. d) Kelemahan Hanya dapat digunakan pada bayi dan anak. Juga tergantung data kecepatan pertumbuhan lingkar dada dan berat badan karena digunakan untuk mengetahui pertumbuhan lingkar kepala dalam batas normal. Menggunakan grafik grafik yang sulit dimengrti oleh masyarakat umu. Sumber : Darto Saharso,dkk. Pemeriksaan Neurologis pada Bayi dan Anak Divisi Neuropediatri Ilmu Kesehatan Anak FK Unair; Atien Nur Chamidah. Deteksi Dini Gangguan

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak; Behrman Klierman Arvin.1996.Nelson Ilmu Kesehatan Anak; Patricia Gonce Morton. 2005. Panduan Pemeriksaan Kesehatan dengan Bantuan SOAPIE Edisi 2.

Pengukuran Massa Lemak Bebas Fat-free mass adalah campuran antara air, protein, dan mineral dengan otot sebagai tempat utama penyimpanan protein. Pengukuran terhadap protein otot dapat menghasilkan suatu indeks dari simpanan protein di dalam tubuh. Mid-upper-arm muscle circumference dan mid-upper-arm muscle area, keduanya berhubungan dengan pengukuran massa total otot yang nantinya akan digunakan untuk memprediksi perubahan-perubahan dalam massa total otot tubuh dan menegakkan status gizi protein. a) Skinfold Thickness Measurements (Fat-Mass) Prinsip Pengukuran Ketebalan Skinfold Skinfold (lipatan kulit) adalah ketebalan dari 2 lapisan kulit dan jaringan lemak subkutan di beberapa lokasi spesifik di tubuh manusia. Pengukuran skinfold bertujuan untuk mengetahui ukuran atau tebal dari timbunan lemak subkutan yang nantinya akan dipakai untuk memperkirakan persentase lemak tubuh. Perkiraan tersebut didasarkan atas 2 asumsi. Pertama, ketebalan jaringan lemak subkutan merefleksikan proporsi konstan dari total lemak tubuh. Kedua, lokasi skinfold yang dipilih untuk pengukuran, baik itu single location maupun combination location harus mewakili rata-rata ketebalan dari keseluruhan jaringan lemak subkutan. Hasil perkiraan terbaik adalah dengan mengukur skinfold di beberapa lokasi . Parameter ketebalan lemak di bawah kulit telah terbukti merupakan indikator lemak tubuh paling akurat karena lebih dari 85 % lemak tubuh tersimpan dalam jaringan tersebut. Faktor kesalahannya kecil hanya sekitar 2-3 %. Masalah yang kerap timbul adalah bahan acuan yang tersedia. Baku yang ada sekarang sangat spesifik untuk usia dan jenis kelamin tertentu. Karena itu hanya cocok untuk dijadikan acuan untuk masyarakat asal nilai baku tersebut didapat. Jika hasil pengukuran ketebalan kulit kelompok masyarakat lain diacu ke nilai baku tersebut, kesalahan yang terjadi akan lebih besar lagi (sekitar 5-10%)

Alat Pengukur Skinfold Thickness Jenis-Jenis dan Standar Umum Calipers Hasil pengukuran ketebalan lipatan kulit yang paling baik adalah dengan menggunakan skinfold thickness Calipers. Pada dasarnya ada 3 jenis calipers yang dapat digunakan yaitu: Harpenden, Lange, dan Holtain. Lange diproduksi di Amerika serikat, sementara Harpenden dan Holtain Calipers diproduksi di Inggris. Calipers berbahan dasar plastik yang murah seperti Mc Gaw Calipers juga ada. Seluruh calipers didesain untuk menahan tekanan konstan minimal 10 g/mm2 dari keseluruhan luas lipatan yang diukur dan mempunyai suatu area permukaan kontak standard atau pinch area dari 20 mm2 hingga 40 mm2. Alat-alat ini harus dikalibrasi ulang dengan interval teratur menggunakan calibration block. Khusus untuk McGaw calipers tidak dapat digunakan untuk mengukur lipatan kulit individu yang mengalami obesitas karena skala pengukurannya mempunyai maksimum indikasi 40 mm. Macam dan Kualitas Calipers di Pasaran Harpenden Skinfold Caliper Harpenden adalah skinfold caliper yang paling akurat. Hampir semua data dan persamaan ketebalan lipatan kulit yang berkaitan dengan body fat didasarkan pada studi yang dilakukan dengan Harpenden. Kaliper ini digunakan sebagai kriteria instrumen oleh International Society for the Advancement of Kinanthropometry (ISAK). Kaliber ini akan diukur dengan akurat sampai ke ketebalan lipatan kulit sekitar 50 mm. Resolusi adalah 0,2 mm unit, meskipun mungkin secara akurat membaca dari skala ke pusat 0,1 mm. Lafayette Skinfold Caliper Lafayette Skinfold Caliper adalah salah satu yang paling akurat dan tahan lama jangka lengkung tersedia saat ini. Dirancang dengan dari Dr Andrew

Jackson dan sering kali digunakan oleh Jackson Pollock. Range mesurements 0100 mm.

Lange Caliper

Lange caliper mempunyai tingkat penjualan tertinggi meskipun harganya mahal. Telah dibuat sejak tahun 1962 dan secara luas digunakan di sekolahsekolah, akademi dan pusat kebugaran.

Accu-Measure Body Fat Calipers

Accu measure body fat calipers biasa digunakan di rumah-rumah sebagai

kontrol lemak. Mereka sangat mudah digunakan dan sebuah studi baru-baru ini telah menunjukkan hasil yang sangat positif untuk akurasi. Direkomendasikan dalam Body-for-LIFE dan disahkan oleh World Natural Bodybuilding Federation. Harga di pasaran tidak terlalu mahal, level akurasi tidak terlalu tinggi, tidak dapat dipakai untuk mengukur skinfold individu yang mengalami obesitas karena skala pengukurannya memiliki indikasi maksimum 40 mm. Slim Guide Skinfold Caliper Jauh lebih rendah dibandingkan dengan harga di atas kaliber lemak tubuh namun akan menghasilkan hasil yang hampir sama akurat. Ini adalah satusatunya caliper dengan harga yang

cukup murah dan cukup akurat untuk digunakan dalam pengukuran. Banyak digunakan caliper profesional di dunia.

Digital Caliper

Kaliper digital dilengkapi dengan komputer untuk mencatat hasil pengukuran dan dapat melakukan beberapa perhitungan. Level akurasinya sama dengan accu measure body fat calipers.

Body Caliper Fat Gun

Level akurasinya lebih baik dari accu measure body fat calipers. Unit yang menghasilkan intensitas tekanan yang relatif konsisten dengan tuas yang elastis (dilengkapi suspensi).

Prosedur Pemakaian Calipers dalam Pengukuran Skinfold Mengukur lemak tubuh dengan skinfold calipers adalah suatu tantangan. Penting sekali menstandarisasikan pemilihan lokasi skinfold, sebab sedikit perbedaan lokasi dapat meyebabkan perbedaan yang signifikan terhadap hasil pengukuran. Objek yang terlalu kurus dan gemuk juga memberikan masalah tersendiri terhadap pengukuran. Secara umum,semakin tebal lipatan kulit semakin sulit untuk mendapatkan hasil pengukuran yang tepat. Tahapan prosedurnya adalah sebagai berikut: - Menggunakan calipers untuk semua pengukuran. - Membolehkan partisipan untuk merasakan rahang caliper atau pinch di atas

tangannya. (area diantara ibu jari dan jari indeks adalah tempat yang paling bagus untuk ini). - Arahkan rahang caliper ke dalam dan keluar tangan and lepaskan tekanannya. - Tandai 5 lokasi tubuh dimana pengukuran akan dilakukan.(thigh, abdomen, triceps, subscapula, dan suprailiac). - Pengukuran harus dilakukan di bagian tubuh sebelah kanan. - Tandai tiap-tiap lokasi dengan pulpen atau pensil marking. - Pegang lipatan kuat-kuat dengan ibu jari dan jari indeks tangan kiri kemudian angkat (cubit) lipatan. Lipatan mempunyai sisi paralel. Semakin banyak lemak di bawah kulit,semakin tebal atau lebar lipatannya. - Menarik lipatan tubuh biasanya lebih mudah pada orang kurus dibandingkan orang gemuk. Tindakan ini kemungkinan dapat menimbulkan efek tidak nyaman kepada partisipan.menjelaskan apa yang kita lakukan pada partisipan akan membuat perasaan mereka lebih santai - Pegang caliper di tangan kanan,tegak lurus dengan skinfold. Letakkan rahang caliper di atas skinfold 1/3 hingga inchi (1cm) dari jari-jari yang memegang skinfold dan mata segaris dengan dial caliper. Ini sangat penting untuk mencegah tekanan dari jari-jari yang menggerakkan rahang caliper. - Hati-hati untuk tidak menempatkan caliper terlalu jauh ke dalam skinfold. Rahang caliper harus benar-benar diletakkan di atas lipatan ganda dari ketebalan kulit. - Tekan tuas caliper dan baca dial/skala setelah kira-kira 4 detik. Menunggu lebih dari 4 detik akan menyebabkan pembacaan skala yang tidak akurat. - Catat hasil pengukuran hingga yang terdekat 5 millimeter. - Ulangi pengukuran di tahap yang sama untuk membaca dial sekali lagi. Pastikan sekurang-kurangnya 15 detik telah terlampaui sebelum pengulangan pengukuran di lokasi yang sama sehingga skinfold diberi kesempatan untuk mendatar ke bentuk normal diantara pembacaan - Jika pengukuran yang diulang berbeda, pengukuran tambahan perlu dilakukan sampai hasil pembacaan nilainya konsisten. - Jika partisipan kegemukan, mungkin akan kesulitan untuk menarik skinfold. Dalam situasi ini, tetap mencoba untuk mengukur dan bila tidak berhasil, catat sebagai unreliablepada form data.

- Jika skinfold di atas limit ukur dari caliper (lebih dari 67 mm misalnya), catat sebagai exceeds caliper. - Jika partisipan hamil, tidak perlu ada pengukuran. - Praktekkan secara teratur prosedurnya hingga mahir.

Tipe Pengukuran Skinfold Tempat pengukuran atau bagian tubuh yang diukur, biasanya meliputi tujuh lokasi pada tubuh, antara lain : Triceps - Bagian belakang lengan atas Pectoral - Pertengahan dada, tepat di depan ketiak Subscapula - Di bawah ujung tulang belikat Midaxilla - Garis tengah sisi batang tubuh Abdomen - Perut Suprailiac - Tepat di atas puncak iliaka tulang pinggul Quadriceps - Tengah dari paha atas Ketebalan skinfold diukur di beberapa lokasi tubuh.(Biasanya 3 hingga 7 lokasi test), antara lain : Triceps

diukur di atas otot bagian tengah. Jarak antara ujung olekranon dan tonjolan akromion. Kedua titik ini dapat ditentukan dengan lengan terefleksi 90o. Stelah titik ini diberi tanda, lengan kemudian dibiarkan tergantung bebas dan terjuntai disamping badan, untuk

kemudian dilakukan pengukuran.

Subscapula

Di ukur tepat diatas sudut bawah (inferior) scapula kanan, penjepitan dapat dilakukan vertical, atau 45o terhadap garis-garis kulit.

Suprailiac

diukur di bagian atas kristal iliaka kanan pada titik (1 cm di atas dan 2 cm di bagian medial SIAS) yang sejajar dengan linea aksilaris media (lengan sedikit abduksi). Penjepitan boleh mengikuti garis-garis kulit, atau 45o Abdomen diukur di tempat kira-kira 5 cm di sebelah kanan pusat (dibagian ini pengukuran paling banyak dilakukan), dan kulit tersebut dijepit secara horizontal. Lokasi lain ialah 3 cm kearah lateral dan 1 cm kearah inferior titik

pertengahan pusat. Front Thigh Pada bagian depan paha (subjek berdiri, sendi lutut terefleksi sedikit, dan berat badan bertumpu pada kaki yang tidak diukur) di pertengahan antara titik tengah lipat paha dan batas proksimal tulang patella. Lipatan kulit dijepit secara vertical.

Chest (maleonly)

Dari 7 tipe pengukuran skinfold di atas yang akan dibahas lebih lanjut dalam makalah ini adalah, Subscap diukur tepat di tepi bawah muskulus pektoralis mayor kanan setinggi putting susu, dengan penjepitan vertikal.

Rear thigh (female only) Pada bagian tengah belakang paha (subjek berdiri, sendi lutut terefleksi sedikit, dan berat badan bertumpu pada kaki yang tidak diukur) di pertengahan antara titik tengah lipat paha dan batas proksimal tulang patella. Lipatan kulit dijepit secara vertical.

Menurut referensi lain, ada 3 pengukuran lain selain 3 pengukuran diatas, antara lain : 1. Iliac Crest

Pengukuran di lakukan pada bagian di atas iliac crest (tulang pinggul bagian atas), di tubuh bagian samping. Lipatan kulit ditarik ke arah luar. Tangan kanan dijauhkan dari tubuh atau area tempat pengukuran.

2. Medial Calf
posisi subjek duduk atau menempatkan kaki di atas
kotak (sendi lutut 90) dalam keadaan relaks. Lipatan kulivertikal diambil pada aspek medial betis pada level dimana terdapat lingkar terbesar dari betis (dilihat dari posisi medial dan anterior).

3. Mid-Axilla:
merupakan lipatan kulit vertikal pada ilio-axilla line setinggi xiphoidale. Posisi subjek abduksi 90 dengan tangan relaks di kepalanya

Teknik Pengangkatan Skinfold Skinfold ditunjukkan dengan cara mengangkat (mencubit) lipatan kulit dan lapisan lemak subkutan dari otot dan tulang yang menopang dan kemudian mengukur ketebalannya dengan caliper yang telah didesain sesuai tujuan ini.
a.

Pengukuran harus dilakukan di bagian tubuh sebelah atau sisi kanan

b. c.

Identifikasi lokasi skinfold yang akan diukur. Cubit lipatan kulit dengan ancang-ancang jarak ibu

jari dan jari telunjuk sekitar 3 inci, segaris tegak dengan sumbu panjang kulit.
d.

Pegang kuat lipatan kulit yang telah diangkat dengan ibu jari dan telunjuk/jari tengah tangan kiri. Lipatan diangkat 1 cm di atas lokasi untuk diukur. b) Subscapular Skinfold Measurement Lokasi ini diperuntukkan untuk mengukur ketebalan

e.

Tempatkan rahang caliper tegak lurus pada lipatan, kira-kira 1 cm dibawah ibu jari dan jari telunjuk yang memegang lipatan (skinfold).

f.

Lakukan pengukuran ketika kulit kering dan bebas lotion

jaringan lemak subkutan dan kulit pada bagian belakang

g.

Jangan mengukur seketika setelah aktvitas berat sebab pengeluaran cairan tubuh ke kulit cenderung menambah ukuran (ketebalan) dari skinfold.

dada. Cara untuk menemukan subscapular anatomy pengukuran berikut: secara dan detail

melakukan sebagai

adalah

Menginstruksikan klien untuk melepas semua pakaian bagian atas (wanita dapat tetap

memakai Bra ketika menjalankan prosedur ini). Bagian subscapular terletak dibawah titik terendah dari scapula.
Berdiri di belakang klien dan mencari lokasi yang benar dari scapula klien. Cari batas scapula yang paling dekat dengan tulang punggung lalu turun ke bawah dan

keluar dari batas scapula dan kemudian membentuk sudut sekitar 450. Tandai segera titik tersebut dengan bolpoint maker.
Pengukuran subscapular dapat dilakukan dengan segara dibawah sudut 45 dengan
o

tanda tinta di pusat dari skinfold


Skinfold/lipatan dapat di angkat di bawah bagian garis landai scapula. Lipatan kira-kira

0,5 inci dapat diukur.


Gunakan tangan kanan untuk memegang calipers secara horizontal dan Tempatkan

rahang calipers tepat akan menjepit kedua sisi dari titik yang telah ditandai dengan marker. Perlahan-lahan lepaskan pegangan calipers.
Catat hasil pengukuran dalam satuan millimeter. Ulangi metode pengukuran sekali lagi

mulai dari awal untuk memperoleh hasil yang akurat.

Setelah hasil pengukuran di baca dan dicatat, longgarkan pegangan calipers.

c) Suprailiac Skinfold Measurement Pengukuran dilakukan di bawah kristal iliaka pada titik yang sejajar dengan midaxilary line. Lipatan diambil secara melintang ke arah bawah menuju mid-axilary line dan paralel menuju cleavage line (garis perpotongan) dari kulit. Pengukuran ini merupakan suatu indikator yang berguna untuk mengetahui distribusi jaringan lemak subkutan yang penting dalam antisipasi resiko penyakit. Cara untuk menemukan subscapular skinfold secara detail anatomi dan melakukan pengukuran adalah sebagai berikut:
Menginstruksikan klien untuk melepas pakaian yang menutupi area pinggang. Tidak

perlu melepas pakaian bagian bawah. Pastikan klien berdiri tegak, dengan kaki dan lengan rileks
Mencari lokasi dari tulang pinggang klien yang segaris dengan ketiak Posisi suprailiac di atas tulang pinggang dan segaris dengan ketiak. Tandai dengan

marker.
Tidak seperti skinfold lainnya, 0,5 inci bagian dari suprailiac skinfold sebaiknya diangkat

(dicubit) secara vertikal dan tidak secara horizontal.


Tempatkan jari tengah dan ibu jari di garis horizontal, dikedua sisi tanda, tarik kulit

bersamaan dan angkat secara vertikal.


Gunakan tangan kanan untuk memegang calipers secara horizontal dan tempatkan

rahang calipers tepat akan menjepit kedua sisi dari titik yang telah ditandai dengan marker. Perlahan-lahan lepaskan pegangan calipers.

Catat hasil pengukuran dalam satuan millimeter. Ulangi metode pengukuran sekali lagi

dimulai dari awal, untuk memperoleh hasil yang akurat.


Setelah hasil pengukuran dibaca dan dicatat, longgarkan pegangan calipers.

2) Indeks Indeks antropometri merupakan pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri merupakan rasio dari suatu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur. Beberapa indeks antropometri:

a) Indeks BB/ U (Berat Badan Menurut Umur) Indeks BB/U menggambarkan status gizi akut dan kronis Kelebihan Lebih mudah dan cepat dimengerti oleh masyarakat Baik untuk mengukur status gizi akut dan kronis Indikator status gizi kurang saat sekarang Sensitif terhadap perubahan kecil Growth monitoring Pengukuran yang berulang dapat mendeteksi growth failure karena infeksi atau KEP Dapat mendeteksi kegemukan (overweight) Kekurangan Kadang umur secara akurat sulit didapat Dapat menimbulkan interpretasi keliru bila terdapat edema maupun asites

Memerlukan data umur yang akurat terutama untuk usia balita Sering terjadi kesalahan dalam pengukruan, seperti pengaruh pakaian atau gerakan anak saat ditimbang Secara operasional: hambatan sosial budaya >> tidak mau menimbang anak karena seperti barang dagangan Cut-off points (NCHS (National Centre for Health Statistics, USA) BB/U +2 SD > -2 sampai (+2) SD < -2 sampai -3 SD < -3 SD : : : : : gizi lebih gizi baik gizi kurang gizi buruk

b) Indeks TB/ U (Tinggi Badan Menurut Umur) Indeks TB/U dapat memberikan status gizi masa lampau dan status sosial ekonomi Kelebihan Baik untuk menilai status gizi masa lampau Alat dapat dibuat sendiri, murah dan mudah dibawa Indikator kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa Kekurangan TB tidak cepat naik, bahkan tidak mungkin turun Diperlukan 2 orang untuk melakukan pengukuran, karena biasanya anak relatif sulit berdiri tegak Ketepatan umur sulit didapat

Cut-off points (NCHS (National Centre for Health Statistics, USA) TB/U : : : normal stunted

-2 sampai (+2) SD < -2 SD

c) Indeks BB/TB (Berat Badan Menurut Tinggi Badan)

BB memiliki hubungan linear dengan TB. Dalam keadaan normal perkembangan BB searah dengan pertumbuhan TB dengan kecepatan tertentu. Indeks BB/TB merupakan indikator yang baik untuk menilai status gizi saat ini (sekarang). Kelebihan Tidak memerlukan data umur Dapat membedakan proporsi badan (gemuk, normal, kurus) Dapat menjadi indikator status gizi saat ini (current nutrition status) Baik untuk mengukur status gizi akut Kekurangan Karena faktor umur tidak dipertimbangkan, maka tidak dapat memberikan gambaran apakah anak pendek atau cukup TB atau kelebihan TB menurut umur Operasional: sulit melakukan pengukuran TB pada balita Pengukuran relatif lebih lama Memerlukan 2 orang untuk melakukannya Sering terjadi kesalahan dalam pembacaan hasil pengukuran, terutama bila dilakukan oleh kelompok nonprofesional Cut-off points (NCHS (National Centre for Health Statistics, USA) BB/TB 2 SD >-2 sampai (+2) SD < -2 sampai -3 SD < -3 SD : : : : : gemuk normal wasted severe wasted

d) Indeks LLA/ U (Lingkar Lengan Atas Menurut Umur) LLA berkorelasi dengan indeks BB/U maupun BB/TB. Seperti BB, LLA merupakan parameter yang labil karena dapat berubah-ubah cepat, karenanya baik untuk menilai status gizi masa kini. Perkembangan LLA (Jellife`1996) Pada tahun pertama kehidupan : 5.4 cm, Pada umur 2-5 tahun : <1.5 cm. Kurang sensitif untuk tahun berikutnya. Kelebihan Indikator yang baik untuk menilai KEP berat Alat ukur murah, sederhana, sangat ringan, dapat dibuat sendiri, kader posyandu dapat melakukannya

Dapat digunakan oleh orang yang tidak membaca tulis, dengan memberi kode warna untuk menentukan tingkat keadaan gizi Kekurangan Hanya dapat mengidentifikasi anak dengan KEP berat Sulit menemukan ambang batas Sulit untuk melihat pertumbuhan anak 2-5 tahun

e) IMT (Indeks Massa Tubuh) IMT digunakan berdasarkan rekomendasi FAO/WHO/UNO tahun 1985: batasan BB normal orang dewasa ditentukan berdasarkan Body Mass Index (BMI/IMT). IMT merupakan alat yang sederhana untuk memantau status gizi orang dewasa (usia 18 tahun ke atas), khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan BB. IMT tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil dan olahragawan. Juga tidak dapat diterapkan pada keadaan khsusus (penyakit) seperti edema, asites dan hepatomegali. Rumus : IMT = BB (kg) / TB (m) Cut-off points IMT < 18,5 18,5 24,9 25,0 29,9 > 30 : : : : : underweight normal overweight obese

f) Rasio Lingkar Pinggang-Pinggul (Waist-to-hip Ratio) Waist-to-hip ratio digunakan untuk menilai distribusi lemak tubuh dan membantu untuk mengidentifikasi dua jenis distribusi lemak tubuh: tubuh bagian atas (android atau tipe laki-laki) dan tubuh bagian bawah (tipe gynoid atau wanita). Prosedur pengukuran Waist Circumference :
Subjek harus membuka atau menyikapkan pakaian bagian atas Raba tulang rusuk terakhir untuk menetapkan titik pengukuran. Tetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah dan tandai dengan marker point

Tetapkan titikujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai dengan marker

point.
Tentukan titiktengah di antara tulang rusuk terakhir dengan titikujung lengkung tulang

paha dan tandai titik tengahnya.


Subjek berdiri tegak dan bernafas dengan normal Lakukan pengukuran lingkar perut dari titik tengah kemudian secara horizontal

melingkari pinggang dan pe rut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran.
Apabila responden mempunyai perut yang gendut ke bawah, pengukuran mengambil

bagian yang paling buncit lalu berakhir pada titik tengah tersebut lagi.
Pita lingkar tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang mendekati angka 0.1

kemudian catat hasil pengukuran. Proses pengukuran Hip Circumference :


Subjek diharapkan memakai pakaian yang setipis mungkin. Berdiri tegak kemudian melingkarkan pita ukur melingkar pinggul Prinsip pengukurannya sama dengan mengukur pinggang Subjek bernafas normal Lihat angka yang bertemu dengan angka nol pada pita ukur Catat hasil pengukuran

Rumus : WHR = waist or abdominal circumference (cm) / hip circumference (cm) Cut-off untuk merefleksikan peningkatan risiko penyakit WHR> 1 untuk laki-laki WHR> 0,85 untuk wanita

b. Riwayat Gizi 1) Metode-Metode Pengukuran Konsumsi Secara Kuantitatif a) Metode Food Recall 24 Jam Prinsip Metode Recall 24 Jam Dilakukan dengan mencatat jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi pada periode 24 jam yang lalu. Dalam metode ini, responden, ibu, pengasuh (bila anak masih kecil) disuruh menceritakan semua yang dimakan dan diminum selama 24 jam yang lalu (kemarin). Biasanya dimulai sejak ia bangun pagi kemarin sampai dia istirahat

tidur malam harinya, atau dapat juga dimulai dari waktu saat dilakukan wawancara mundur ke belakang sampai 24 jam penuh. Misalnya, petugas datang pada pukul 07.00 ke rumah responden, maka konsumsi yang ditanyakan adalah mulai pukul 07.00 (saat ini) dan mundur ke belakang sampai pukul 07.00, pagi hari sebelumnya. Wawancara dilakukan oleh petugas yang sudah terlatih dengan menggunakan kuesioner terstruktur. Apabila pengukuran hanya dilakukan 1 kali (1 x 24 jam), maka data yang diperoleh kurang representatif untuk menggambarkan kebiasaan makanan individu. Oleh karena itu, recall 24 jam sebaiknya dilakukan berulang-ulang dan harinya tidak berturut-turut. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa minimal 2 kali recall 24 jam tanpa berturutturut, dapat mengahasilkan gambaran asupan zat gizi lebih optimal dan memberikan variasi yang lebih besar tentang intake harian individu (Sanjur, 1997). Metode Pelaksanaan Recall 24 Jam Responden mencatat semua makanan dan minuman yang dikonsumsi responden dalam ukuran rumah tangga (URT) selama kurun waktu 24 jam yang lalu, memberi penjelasan waktu kegiatannya seperti waktu baru bangun, setelah beribadah, pulang dari sekolah/bekerja, sesudah tidur siang dan sebagainya. Selain dari makanan utama, makanan kecil atau jajan juga dicatat. Termasuk makanan yang dimakan di luar rumah seperti di restoran, di kantor, di rumah teman atau saudara. Untuk masyarakat perkotaan konsumsi tablet yang mengandung vitamin dan mineral juga dicatat serta adanya pemberian tablet besi atau kapsul vitamin A. Mendeskripsikan dengan detail setiap bahan makanan yang dikonsumsi. Petugas mengecek hasil recall dengan responden, kemudian melakukan konversi dari URT ke dalam ukuran berat (gram). Dalam menaksir/memperkirakan ke dalam ukuran berat (gram) pewawancara menggunakan berbagai alat bantu seperti contoh ukuran rumah tangga (piring, gelas, sendok, dan lain-lain) atau model dari makanan (food model). Makanan yang dikonsumsi dapat dihitung dengan alat bantu ini atau dengan menimbang langsung contoh makanan yang akan dimakan berikut informasi tentang komposisi makanan jadi. Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan menggunakan Daftar Komposisi Bahan Makanan (DKBM).

Membandingkan dengan Daftar Kecukupan Zat Gizi yang Dianjurkan (DKGA) atau Angka Kecukupan Gizi (AKG) untuk Indonesia. Agar wawancara berlangsung sistematis, perlu disiapkan kuesioner sebelumnya sehingga wawancara terarah menurut urut-urutan waktu dan pengelompokan bahan makanan. Urutan waktu makan sehari dapat disusun berupa makan pagi, siang, malam, dan snack serta makanan jajanan. Pengelompokan bahan makanan dapat berupa makanan pokok, sumber protein nabati, sumber protein hewani, sayuran, buah-buahan, dan lain-lain. Kelebihan Metode Recall 24 Jam Mudah melaksanakannya dan sederhana sehingga tidak terlalu membebani responden Biaya relatif murah, karena tidak memerlukan peralatan khusus dan tempat yang luas untuk wawancara. Cepat, sehingga dapat mencakup banyak responden. Dapat digunakan untuk responden yang buta huruf. Dapat memberikan gambaran nyata yang benar-benar dikonsumsi individu sehingga dapat dihitung intake zat gizi sehari. Kekurangan Metode Recall 24 Jam Tidak dapat menggambarkan asupan makanan sehari-hari, bila hanya dilakukan recall satu hari. Ketepatannya sangat tergantung pada daya ingat responden. Oleh karena itu, responden harus mempunyai daya ingat yang baik, sehingga metode ini tidak cocok dilakukan pada anak usia di bawah 7 tahun, orang tua berusia di atas 70 tahun dan orang yang hilang ingatan atau orang yang pelupa. The flat slope syndrome, yaitu kecenderungan bagi responden yang kurus untuk melaporkan konsumsinya lebih banyak (over estimate) dan bagi responden yang gemuk cenderung melaporkan lebih sedikit (under estimate). Membutuhkan tenaga atau petugas yang terlatioh dan terampil dalam menggunakan alat-alat bantu URT dan ketepatan alat bantu yang dipakai menurut kebiasaan masyarakat. Pewawancara harus dilatih untuk dapat secara tepat menanyakan apa-apa yang dimakan oleh responden, dan mengenal cara-cara pengolahan makanan serta pola pangan daerah yang akan diteliti secara umum. Responden harus diberi motivasi dan penjelasan tentang tujuan dari penelitian.

Untuk mendapat gambaran konsumsi makanan sehari-hari recall jangan dilakukan pada saat panen, hari pasar, hari akhir pekan, pada saat melakukan upacara-upacara keagamaan, selamatan, dan lain-lain. Karena keberhasilan metode recall 24 jam ini sangat ditentukan oleh daya ingat responden dan kesungguhan serta kesabaran dari pewawancara, maka untuk dapat meningkatkan mutu data recall 24 jam dilakukan selama beberapa kali pada hari yang berbeda (tidak berturut-turut), tergantung dari variasi menu keluarga dari hari ke hari.

b) Perkiraan Makanan (Estimated Food Records) Metode ini disebut juga food records atau diary records, yang digunakan untuk mencatat jumlah yang dikonsumsi. Pada metode ini reponden diminta untuk mencatat semua yang ia makan dan minum setiap kali sebelum makan dalam Ukuran Rumah Tangga (URT) atau menimbang dalam ukuran berat (gram) dalam periode tertentu (2-4 hari berturut-turut), termasuk cara persiapan dan pengolahan makanan tersebut. Metode Pelaksanaan Food Record Responden mencatat makanan yang dikonsumsi dalam URT atau gram (nama masakan, cara persiapan, dan pemasakan bahan makanan). Petugas memperkirakan/estimasi URT ke dalam ukuran berat (gram) untuk bahan makanan yang dikonsumsi tadi.

Menganalisis bahan makanan ke dalam zat gizi dengan DKBM. Membandingkan dengan AKG Metode ini dapat memberikan informasi konsumsi yang mendekati sebenarnya (true intake) tentang jumlah energi dan zat gizi yang dikonsumsi oleh individu. Kelebihan Metode Estimated Food Records Metode ini relatif murah dan cepat. Dapat menjangkau sampel dalam jumlah besar. Dapat diketahui konsumsi zat gizi sehari. Hasilnya relatif lebih akurat. Kekurangan Metode Estimated Food Records Metode ini terlalu membebani responden, sehingga sering menyebabkan responden merubah kebiasaan makanannya. Tidak cocok untuk responden yang buta huruf. Sangat tergantung pada kejujuran dan kemampuan responden dalam mencatat dan memperkirakan jumlah konsumsi.

c) Penimbangan Makanan (Food Weighing) Pada metode penimbangan makanan, responden atau petugas menimbang data mencatat seluruh makanan yang dikonsumsi responden selama 1 hari. Penimbangan makanan ini biasanya berlangsung beberapa hari tergantung dari tujuan, dana penelitian, dan tenaga yang tersedia. Metode Pelaksanaan Penimbangan Makanan Petugas/responden menimbang dan mencatat bahan makanan/makanan yang dikonsumsi dalam gran. Jumlah bahan makanan yang dikonsumsi sehari, kemudian dianalisis dengan menggunakan DKBM atau DKGJ (Daftar Komposisi Gizi Jajanan). Membandingkan hasilnya dengan Kecukupan Gizi yang Dianjurkan (AKG). Perlu diperhatikan disini adalah bila terdapat sisa makanan setelah makan maka perlu juga ditimbang sisa tersebut untuk mengetahui jumlah seseungguhnya makanan yang dikonsumsi. Kelebihan Metode Penimbangan Makanan Data yang diperoleh lebih akurat/teliti.

Kekurangan Metode Penimbangan Makanan Memerlukan waktu dan cukup mahal karena perlu peralatan. Bila penimbangan dilakukan dalam periode yang cukup lama, maka responden dapat merubah kebiasaan makan mereka. Tenaga pengumpul data harus terlatih dan terampil. Memerlukan kerjasama yang baik dengan responden.

d) Metode Food Account Metode pencatatan dilakukan dengan cara keluarga mencatat setiap hari semua makanan yang dibeli, diterima dari orang lain ataupun dari hasil produksi sendiri. Jumlah makanan dicatat dalam URT, termasuk harga eceran bahan makanan tersebut. Cara ini tidak memperhitungkan makanan cadangan yang ada di rumah tangga dan tidak juga memperhatikan makanan atau minuman yang dikonsumsi di luar dan rusak, terbuang/ tersisa atau diberikan pada binatang piaraan. Lamanya pencatatan pada umumnya selama 7 hari (Gibson, 1990). Pencatatan dilakukan pada formulir yang telah disiapkan.

Metode Pelaksanaan Food Account Keluarga mencatat seluruh makanan yang masuk ke rumah yang berasal dari berbagai sumber tiap hari sesuai URT atau ukuran volume atau berat Menjumlahkan masing-masing bahan makanan tersebut dan mengkonversi dalam ukuran berat tiap hari Menghitung rata-rata perkiraan penggunaan bahan makanan setiap hari

Kelebihan Metode Pencatatan (Food Account) Cepat dan relatif murah Dapat diketahui tingkat ketersediaan bahan makanan keluarga pada periode tertentu Dapat diketahui daya beli keluarga terhadap bahan makanan Dapat menjangkau responden lebih banyak Kekurangan Metode Pencatatan (Food Account) Kurang teliti, sehingga tidak dapat menggambarkan tingkat konsumsi rumah tangga. Sangat tergantung pada kejujuran responden untuk melaporkan/mencatat makanan dalam keluarga.

e) Metode Inventaris (Inventory Methods) Metode inventaris ini juga sering disebut log book method. Prinsipnya dengan cara menghitung/mengukur semua persediaan makanan di rumah tangga (berat dan jenisnya) mulai dari awal sampai akhir survey. Semua makanan yang diterima, dibeli, dan diproduksi sendiri dicatat dan dihitung/ditimbang setiap hari selama periode pengumpulan data (biasanya sekitar satu minggu). Semua makanan yang terbuang, tersisa dan busuk selama penyimpanan dan diberikan pada orang lain atau binatang peliharaan juga diperhitungkan.pencatatn dapat dilakukan oleh responden yang sudah mampu/telah dilatih dan tidak buta huruf (Gibson, 1990). Metode Pelaksanaan Metode Inventaris Catat dan timbang/ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada hari pertama survei. Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang diperoleh (dibeli, dari kebun, pemberian orang lain, dan makan di luar rumah) keluarga selama survei Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang diberikan kepada orang lain, rusak, terbuang, dan sebagainya selama survey. Catat dan ukur semua jenis bahan makanan yang ada di rumah pada hari terakhir survei Hitung berat bersih dari tiap-tiap bahan makanan yang digunakan keluarga selama hari survei Catat pula jumlah anggota keluarga dan umur masing-masing yang ikut makan

Hitung rata-rata perkiraan konsumsi keluarga atau konsumsi perkapita dengan membagi konsumsi keluarga dengan jumlah anggota keluarga Kelebihan Metode Inventaris Hasil yang diperoleh lebih akurat karena memperhitungkan adanya sisa makanan yang rusak atau terbuang selama survei dilakukan Kekurangan Metode Inventaris Petugas harus terlatih dalam menggunakan alat ukur dan formulir pencatatan. Tidak cocok untuk responden yang buta huruf, bila pencatatn dilakukan oleh responden. Memerlukan peralatan sehingga biaya relatif lebih mahal. Memerlukan waktu yang relatif lama.

f) Metode Pencatatan (Household Food Records) Pengukuran dengan metode ini dilakukan sedikitnya dalam periode satu minggu oleh responden sendiri. Dilaksanakan dengan menimbang atau mengukur dengan URT seluruh makanan yang ada di rumah, termasuk cara pengolahannya. Biasanya tidak memperhitungkan sisa makanan yang terbuang dan dimakan oleh binatang peliharaan. Metode ini dianjurkan untuk tempat/daerah yang tidak memiliki variasi penggunaan bahan makanan dalam keluarga dan masyarakatnya bisa baca-tulis.

2) Metode-Metode Pengukuran Konsumsi Secara Kualitatif a) Metode Frekuensi Makan (Food Frequency) Adalah suatu metode yang bertujuan untuk memperoleh data tentang frekuensi konsumsi sejumlah bahan makanan atau makanan jadi selama periode tertentu, seperti hari, minggu, bulan atau tahun. Selain itu dengan metode frekuensi makanan dapat memperoleh gambaran pola konsumsi bahan makanan secara kualitatif, tapi karena periode pengamatannya lebih lama dan dapat membedakan individu berdasarkan ranking tingkat konsumsi zat gizi, maka cara ini paling sering digunakan dalam penelitian epidemiologi gizi. Pada umumnya, FFQ digunakan untuk meranking orang berdasrkan besaran asupan zat gizi, tetapi tidak dirancang untuk memperkirakan asupan secara absolut. Meski demikian, cara ini lebih akurat dalam menentukan rata-rata asupan zat gizi jika menu

makanan dari hari ke hari sangat bervariasi. Akhirnya, dengan cara ini orang dapat memperoleh data asupan zat gizi dalam jumlah besar yang mencakup 50-150 jenis makanan. Untuk memperoleh asupan zat gizi secara relatif atau mutlak, kebanyakan FFQ sering dilengkapi dengan ukuran khas setiap porsi dan jenis makanan. Karena itu, FFQ tidak jarang ditulis sebagai riwayat pangan semikuantitatif (semiquantitative food history). Asupan zat gizi secara keseluruhan diperoleh dengan jalan menjumlahkan kandungan zat gizi masing-masing pangan. Sebagian FFQ justru memasukkan pertanyaan tentang bagaimana makanan biasanya diolah, penggunaan makanan suplemen, penggunaan vitamin dan mineral tambahan, serta makanan bermerek lain. Prinsip dan kegunaan : Memberikan penilaian tentang kebiasaan asupan pangan dari responden dan juga frekuensi dari makanan tertentu ataupun kelompok makanan. Mengklasifikasi lazimnya pola makan resopenden. Memeriksa kemungkinan korelasi dari asupan makanan dalam jangka waktu lama di masa lampau dengan penyakit kronis/kesehatan secara umum. Menilai program pendidikan nutrisi. Menilai pemenuhan asupan makanan individu ataupun grup. Mengenali orang yang (mungkin) membutuhkan tahapan penilaian asupan makanan lebih lanjut. Membentuk tren di dalam hal pembelian makanan. Qualitatif FFQ, menghasilkan data : Daftar makanan. Frekuensi penggunaan bahan makanan maupun makanan jadi dari berbagai respon kategori : harian, mingguan, bulanan, tahunan. Semi-quantitatif FFQ, selain menghasilkan data di atas juga menghasilkan: Estimasi dari ukuran porsi (small, medium, large) Langkah-langkah metode frekuensi pangan : Responden diminta untuk mengisi (melengkapi) kuesioner yang berisi daftar makanan mengenai frekuensi penggunaannya dan ukuran porsinya (pada semi-kuantitatif FFQ). Lakukan konversi tentang frekuensi penggunaan jenis-jenis bahan makanan terutama bahan makanan yang merupakan sumber-sumber zat gizi tertentu ke hitungan harian

(satu kali per hari sama dengan satu). Contoh : jus tomat dikonsumsi empat kali tiap bulan (30 hari), sama dengan 4/30 per hari = 0,13 per hari. Untuk buah dan sayur musiman, pergunakan kategori tahunan (365 hari). Lakukan pengalian frekuensi per hari dengan ukuran porsi lazimnya (gram) untuk memberikan hasil berat konsumsi (gram) per harinya. Mengkalkulasikan asupan zat gizi dari semi-quantitatif FFQ dengan menggunakan tabel atau komputer. Kelebihan : Metode yang sederhana, cepat dan juga tidak membutuhkan banyak biaya. Mudah dalam penggunaannya. Low respondent burden. Terkadang dapat dilakukan sendiri oleh responden, ataupun dilakukan melalui telepon. Mudah didistribusikan dan proses datanya mudah. Tidak membutuhkan latihan khusus. Cocok diterapkan pada penelitian kelompok besar yang asupan pangan setiap harinya sangat variatif. Dapat menilai asupan makanan yang biasa dimakan secara spesifik maupun dalam kelompok makanan dan juga zat gizinya. Dapat membantu untuk menjelaskan hubungan antara penyakit dan kebiasaan makan. Kelemahan : Tidak dapat untuk menghitung intake zat gizi sehari. Hasilnya bergantung pada lengkap tidaknya daftar makanan yang dicantumkan dalam kuesioner. Makanan musiman (hanya ada pada waktu tertentu) sulit untuk diukur. Tidak bisa digunakan untuk semua macam zat gizi, hanya cocok untuk beberapa zat gizi. Pengisian kuesioner hanya mengandalkan ingatan responden, sehingga bisa menimbulkan ketidakakuratan data yang berpangkal pada : (1) kekeliruan dalam menentukan frekuensi, (2) kesalahan dalam penentuan ukuran porsi yang lazim dimakan ( pada semi-quantitative FFQ). Daftar frekuensi pangan yang terlalu panjangmenyebabkan perkiraan berlebih dan juga sebaliknya, (3) responden sering malas mengisi formulir dengan lengkap, terutama jika proses pengisian dipercayakan

sepenuhnya pada responden, tanpa penyeliaan. (4) tanpa bantuan komputer, proses analisis menjadi sulit dan melelahkan. Sulit mengembangkan kuesioner pengumpulan data. Cukup menjemukan bagi pewawancara. Responden harus jujur dan mempunyai motivasi tinggi. Perlu membuat percobaan pendahuluan untuk menentukan jenis bahan makanan yang akan masuk dalam daftar kuesioner.

b) Metode Dietary History (Riwayat Makan) Merupakan salah satu metode kualitatif yang akan memberikan hasil pengamatan lebih lengkap dibandingkan dengan metode frekuensi pangan. Keterangan (informasi) yang dapat dijaring melalui metode ini adalah (1) keadaan ekonomi, (2) kegiatan fisik, (3) latar belakang etnis dan budaya, (4) pola makan dan kehidupan rumah tangga, (5) nafsu makan, (6) kesehatan gigi dan mulut, (7) alergi makanan, serta makanan yang tidak disenangi, (8) keadaan saluran pencernaan, (9) penyakit menahun, (10) obat yang digunakan, (11) perubahan berat badan, serta (12) masalah pangan dan gizi. Metode ini sesungguhnya menerapkan tiga komponen anamnesis asupan pangan, yaitu ingatan pangan 24 jam (24-h food recall), kuesioner frekuensi pangan, dan catatan pangan (food record). Dengan ingatan pangan 24 jam (termasuk wawancara) akan diperoleh data tentang apa saja yang dimakan responden selama 24 jam terakhir. Informasi ini selanjutnya dibandingkan (cross check) dengan kuesioner frekuensi pangan, yaitu responden diberikan daftar (check list) dari sejumlah bahan makanan. Akhirnya, dilakukan pencatatan konsumsi makanan selama tiga hari dengan menggunakan ukuran rumah tangga sebagai cek ulang terakhir. Namun, sekarang ini ketiga komponen diatas jarang digunakan sepenuhnya, karena komponen yang ketiga mulai sering tidak dipakai/dihilangkan dalam proses. Prinsip dan kegunaan : Digunakan untuk mengestimasi kebiasaan makan dan pola makan individual selama jangka waktu tertentu pada masa lampau (biasanya selama satu bulan). Ketika jangka waktu yang digunakan lebih pendek (1 bulan), reprodusibilitas dan validitas metode akan jadi lebih baik daripada menggunakan jangka waktu yang lebih lama.

Mulanya didesain untuk ahli gizi terlatih untuk dipakai dalam teknik interview. Langkah-langkah metode riwayat pangan : Petugas menanyakan kepada responden tentang pola kebiasaan makannya. Variasi makan pada hari-hari khusus seperti hari libur, dalam keadaan sakit dan sebagainya juga dicatat. Termasuk didalamnya jenis makanan, frekuensi penggunaan, ukuran porsi dalam URT serta cara memasaknya (direbus, digoreng, dipanggang, dsb.). Pola kebiasaan makan selama satu minggu dapat dikalkulasi rata-ratanya (untuk tiap jenis makanan) dengan rumus Rata-rata asupan = [(5 x hari kerja) + sabtu + minggu] Lakukan pengecekan terhadap data 7 yang diperoleh dengan cara mengajukan pertanyaan untuk kebenaran data tersebut. Kelebihan : Biaya relatif murah. Bersifat open-ended. Responden tidak harus melek huruf. Tidak menyebabkan perubahan kebiasaan makan . Dapat memberikan gambaran konsumsi pada periode yang panjang secara kualitatif dan kuantitatif. Dapat digunakan di klinik gizi untuk membantu mengatasi masalah kesehatan yang berhubungan dengan diet pasien. Tidak membatasi variabilitas respon dari responden. Kelemahan : Sangat sensitif dan membutuhkan pengumpul data yang sangat terlatih, serta membutuhkan waktu interview hingga 2 jam untuk tiap respondennya (Slattery et al.,2000). Tidak cocok dipakai untuk survei-survei besar. Biasanya hanya difokuskan pada makanan khusus, sedangkan variasi makanan seharihari tidak diketahui. Cenderung untuk memiliki nilai estimasi intake zat gizi yang lebih besar ketika dibandingkan dengan hasil penilaian dari weighed record.

5. Software apa saja yang dapat digunakan untuk membantu ahli gizi dalam melakukan pengkajian status gizi ? a. Epi-info 2000 Epi-info 2000 adalah manajemen data epidemologi dan program analisis tertulis yang didukung oleh Center for Desease Control and Prevention. Epi-info versi sebelumnya berdasarkan DOS computer. Versi baru ini merupakan program Windows yang ditulis di Microsoft VisualBasic dan pengembangannya masih berjalan. Epi-info menggunakan 2 program kunci untuk entri data. Dua program kunci tersebut adalah MakeView.exe dan Enter.exe. Jadi EPi-info 2000 merupakan software yang berbasis dua langkah. Langkah pertama, menggunakan program MakeViev untuk mendefinisikan variable dan membangun layar data entri. Kemudin menggunakan program Enter untuk memasukkan data. Modul kuesioner MakeView dari Epi-info memungkinkan pengguna untuk membuat

dan entri data dalam bentuk yang disebut Views Epi-info. Dengan MakeView,

pertanyaan dan bidang entri data pada satu atau banyak halaman View dan menyesuaikan entri data proses dengan pola melewatkan kondisional, validasi data, dan perhitungan kustom diprogram oleh pengguna dengan menggunakan Kode Periksa MakeView itu. Enter Modul Epi-info secara otomatis membuat database dari kuesioner dalam MakeView. Pengguna memasukkan data, memodifikasi data yang ada, atau cari catatan. Dengan Enter, Views ditampilkan dan pengguna melakukan entri data sementara Kode Periksa memvalidasi data atau melakukan apapun perhitungan otomatis yang ditentukan dalam MakeView. Modul Analisis digunakan untuk membaca dan menganalisa data yang dimasukkan dengan modul Enter atau data diimpor dari 24 format data yang berbeda. Statistik epidemiologi, tabel, grafik, dan peta yang diproduksi dengan perintah sederhana seperti READ, FREQ, DAFTAR, TABEL, GRAPH, dan MAP. Karena setiap perintah dijalankan, itu disimpan ke program editor di tempat yang dapat disesuaikan dan disimpan, dibagi, dan digunakan di masa depan sebagai data yang direvisi. Laporan Modul Epi adalah alat yang bersahabat bagi pengguna untuk membuat laporan kustom profesional yang mencakup hasil dari output Analisis. Laporan epi dapat menggabungkan keluaran Analisis dengan data dari Enter serta sumber-sumber lain seperti Access atau SQL Server. Laporan bisa disimpan sebagai file HTML untuk distribusi mudah atau penerbitan web.

Modul Epi Map menampilkan peta geografis dengan data dari Epi Info. Epi Map dibangun sekitar perangkat lunak System Research Institute (ESRI) MapObjects Lingkungan. Epi Map menampilkan shapefiles yang berisi batas-batas geografis berlapis dengan hasil data dari modul analisis.

Gambar : Tampilan Epi-info

b. ENA (Emergency Nutrition Assessment) Gambaran Umum : 1) Untuk membuat suatu pengkajian gizi dan perhitungan tingkat mortalitas (kematian) yang sifatnya mudah dan reliable (terpecaya). 2) Program ini telah dites dan z-score yang digunakan telah identik ddengan program WHO Antro, EPI info. 3) Perangkat lunak memiliki sheet yang berbeda (perencanaan, pelatihanm entri data, hasil, pilihan). Langkah-langkah : 1) Data antropometrik dimasukkan dalam table data di bagian bawah layar, sebagian diperiksa untuk validitas dan dibuat semudah mungkin (misalnya memasuki tanggal lahir sebagai bukan 1999/01/01 10199).

2) Setelah memasuki nilai, kemudian menekan tombol enter untuk meloncat ke kolom berikutnya. 3) Ketika akhir baris tercapai atau dengan tombol New kalimat data baru ditambahkan dan tergantung pada pengaturan di bawah options yang surveydate, cluster, tim, ID, dan no rumah tangga diisi secara otomatis. 4) Hasil (z-score berat badan/usia, tinggi badan / usia dan berat badan/tinggi) secara langsung ditampilkan dalam panel di sudut kiri atas dan secara otomatis diintegrasikan ke dalam table data. 5) Jika hasilnya di luar jangkauan min/max mereka ditandai dengan warna ungu (jangkauan dapat diubah bawah tampilan variable). Selain variable standar variable tambahan dapat ditambahkan.

Contoh :

c. WHO Anthro Software Version 3.2.2

1) Anthropometric calculator (AC) a) Data-entry window

b) Graphs

2) Individual Assessment (IA)

a) Main WIndow

b) New Child

c) Motor Milestones Assessment

3) Nutritional Survey