Anda di halaman 1dari 3

Mata Kuliah : Tindak Pidana di Bidang Ekonomi

Nama : Lisnawati
NIM : B1A005163
Tandatangan :

A. Fakta Hukum
- Sebuah perusahaan PT. X pada tahun 2001 membuka rekening koran pada suatu bank
pemerintah.
- Pada saat membuka rekening koran telah menandatangani standar kontrak mengenai
ketentuan pembukaan (hak dan kewajiban selaku pemegang rekening koran).
- Untuk aktifitas dana yang ada di rekening koran, pihak bank mengeluarkan buku cek
dan bilyet giro.
- Aktifitas rekening koran berjalan lancar dengan saldo terakhir pada tahun 2005
mencapai Rp 5.000.000.000,-.
- Setiap bulan, diawal bulan PT. X selalu meminta print out pada aktifitas di rekening
tersebut, di penghujung tahun 2005, kebiasaan PT. X meminta pada awal bulan
dirubah menjadi akhir bulan, yaitu tanggal 25.
- Pada tanggal 25 desember 2005 direktur PT. X terkejut melihat print out dari bank,
ada uang senilai Rp 750.000.000,- yang keluar dari rekening tersebut, yang mana
direkturnya tidak pernah mengeluarkan ataupun memerintahkan untuk pengeluaran
uang tersebut.
- Kemudian PT. X langsung mendatangi pihak bank. Oleh pegawai bank ditunjukkan
bahwa keluarnya uang tersebut dilihat dari seri cek yang diminta PT. X kepada bank.
Tetapi oleh PT. X dikatakan tidak pernah meminta seri cek tersebut.
- Kemudian diteliti oleh bank, dan diketahui bahwa:
- PT. X memang meminta seri cek dengan tanda tangan oleh direktur dan stempel
dari PT. X yang mana seri cek tersebut tidak sama dengan tanda tangan dan
stempel yang asli.
- Pencairan dana Rp.750.00.000,- dilakukan pada hari jumat jam sibuk, sehingga
pegawai bank (kasir) tidak mengkonfirmasi validasi tandatangan dan stempel
kepada PT. X.

B. Isu Hukum
Bagaimana tanggung jawab hukum terhadap pegawai bank yang memproses pencairan
cek senilai Rp 750.000.000,- tersebut?

C. Bahan Hukum
1. Kontrak,
2. Pasal 49 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan,
3. Peraturan Bank Indonesia Nomor : 2/24/PBI/2000 tentang Hubungan Rekening Giro,
4. Kebiasaan atau Norma Transaksi dalam Perbankan,
Dalam melakukan setiap transaksi keuangan, pihak bank selalu melakukan konfirmasi
ulang mengenai validitas tandatangan maupun stempel kepada nasabah bank.
5. Buku Pedoman Kerja Perbankan,
6. Pasal 181 dan pasal 205 ayat (1) Kitab Undang-Undang Hukum Dagang,
7. Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Pasal 253 ayat (1) KUHP:
Diancam dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun:
“Barangsiapa meniru atau memalsu materai yang dikeluarkan oleh Pemerintah
Indonesia, atau jika diperlukan tandatangan untuk sahnya materai itu, barangsiapa
meniru atau memalsu tandatangan, dengan maksud untuk memakai atau menyuruh
orang lain untuk memakai materai itu sebagai materai yang asli dan tidak palsu atau
yang sah”.
Unsur delik:
- Subyektif: dengan maksud untuk memakai atau menyuruh orang lain untuk
memakai materai itu sebagai materai yang asli dan tidak palsu atau yang sah .
- Obyektif:
- Meniru atau memalsu materai yang dikeluarkan oleh Pemerintah Indonesia,
atau
- Jika diperlukan tandatangan untuk sahnya materai itu:
- Meniru atau memalsu tandatangan
Pasal 363 KUHP:
(1) Barangsiapa membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat
menimbulkan suatu hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau yang
diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal dengan maksud untuk
memakai atau menyuruh orang lain memakai surat tersebut seolah-olah isinya
benar dan tidak palsu, diancam jika pemakaian tersebut dapat menimbulkan
kerugian, karena pemalsuan surat, dengan pidana penjara paling lama enam
tahun.
(2) Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa dengan sengaja memakai surat
palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati, jika pemakaian surat itu dapat
menimbulkan kerugian.
Unsur delik:
(1) - Subyektif: dengan maksud memakai atau menyuruh orang lain memakai surat
tersebut seolah-olah isinya benar dan tidak palsu
- Obyektif:
- membuat surat palsu atau memalsukan surat yang dapat menimbulkan suatu
hak, perikatan atau pembebasan hutang, atau
- diperuntukkan sebagai bukti daripada sesuatu hal.
(2) - Subyektif: dengan sengaja.
- Obyektif:
- memakai surat palsu atau yang dipalsukan seolah-olah sejati
- jika pemakaian surat itu dapat menimbulkan kerugian.

Pasal 378 KHUP:


“Barangsiapa dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
secara melawan hukum, dengan memakai nama palsu atau martabat palsu, dengan
tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan, menggerakkan orang lain untuk
menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau supaya memberi hutang maupun
menghapuskan piutang, diancam karena penipuan dengan pidana penjara paling lama
empat tahun”.
Unsur delik:
- Subyektif:
- Dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain
- secara melawan hukum
- Obyektif:
- memakai nama palsu atau martabat palsu,
- dengan tipu muslihat ataupun rangkaian kebohongan,
- menggerakkan orang lain untuk menyerahkan barang sesuatu kepadanya, atau
supaya memberi hutang maupun menghapuskan piutang.

D. Posisi Hukum
- Posisi hukum PT. X adalah sebagai penerima jasa rekening koran dan bilyet giro dari
pihak bank Pemerintah.
- PT. X telah dirugikan dengan adanya indikasi pemalsuan tandatangan dan stempel
perusahaan, yang digunakan untuk mencairkan dana Rp.750.00.000,- dari rekening
PT. X.
- Pegawai bank (kasir) tidak hti-hati karena tidak mengkonfirmasi validasi
tandatangan dan stempel kepada PT. X.
Untuk lebih jelasnya, posisi hukum dapat dijelaskan melalui skema berikut:

Bank Jasa Rekening Koran & Bilyet Giro


Pemerintah PT. X

Transaksi
Teller Oknum PT. X

E. Tabel Analisa Hukum


No Fakta Hukum Bahan Hukum Analisa Hukum
1 Seri cek dengan tanda tangan Pasal 253 ayat - Memenuhi unsur pasal 253
oleh direktur dan stempel dari (1), pasal 263, ayat (1) KUHP: Meniru
PT. X yang mana seri cek dan pasal 378 atau memalsu tandatangan.
tersebut tidak sama dengan KUHP. - Memenuhi unsur pasal 263
tanda tangan dan stempel yang KUHP.
asli. - Memenuhi unsur pasal 378
KUHP.
2 Pencairan dana dilakukan pada Pasal 49 ayat (2)
hari jumat jam sibuk, sehingga huruf b UU No.
pegawai bank (kasir) tidak 10 tahun 1998
mengkonfirmasi validasi tentang
tandatangan dan stempel Perbankan
kepada PT. X.