Anda di halaman 1dari 5

Lipase Review Lipase atau asilgliserol hidrolase (E.C 3.1.1.

3) atau biasa disebut true lipase merupakan enzim yang dapat larut dalam air dan bekerja mengkatalisis hidrolisis ikatan ester dalam substrat lipid yang tidak larut air seperti trigliserida berantai panjang. Dengan demikian, lipase tergolong dalam enzim subclass esterase. Enzim ini juga mampu mengkatalisasi pembentukan ikatan ester (esterifikasi) dan pertukaran ikatan ester (transeterifikasi) pada media bukan air. Lipase diproduksi pada karbon berlipid, seperti minyak, asam lemak, dan gliserol. Lipase dari bakteri kebanyakan diproduksi secara ekstraselular. Enzim ini memiliki potensi untuk digunakan memproduksi asam lemak, yang merupakan prekursor berbagai industri kimia. Enzim lipase termostabil ini dapat bertahan pada suhu 45-70C. Faktor utama dalam ekspresi lipase adalah sumber karbon. Lipase biasanya didapatkan jika digunakan lipid sebagai sumber karbonnya, seperti minyak, asam lemak, gliserol, tween, dengan keberadaan sumber nitrogen organik (Gupta, 2004). Lipase banyak terdapat pada tanaman, hewan , dan mikroorganisme namun lipase yang berasal dari bakteri atau jamurlah yang digunakan dalam proses industri atau pada aplikasi bioteknologi. Berbeda dengan esterase, lipase hanya akan bekerja pada antar muka minyak-air, dan tidak menghidrolisis substrat yang larut dalam fluida. Kebanyakan lipase dapat bekerja pada kisaran pH dan temperatur yang bervariasi, walaupun lipase dari bakteri yang bersifat basa lebih umum. Lipase adalah serina hidrolase dan mempunyai stabilitas yang tinggi dalam larutan organik. Produksi asam lemak secara industri menggunakan katalis kimia menghasilkan efek samping bagi lingkungan. Selain itu enzim lipase telah banyak dikenal memiliki cakupan aplikasi yang amat luas dalam bidang bioteknologi, seperti biomedikal, pestisida, pengolahan limbah, industri makanan, biosensor, detergen, untuk industri kulit dan industri oleokimia (memproduksi asam lemak dan turunannya) (Macrae,A.R.,1983). Enzim lipase termostabil dari bakteri termofilik merupakan enzim yang sangat potensial untuk mengatasi kendala teknis industri, namun masih ditemukannya kendala lain, dalam hal perolehan hasil (yield) enzim lipase termostabil dari mkroorganisme termofilik yang sangat rendah. Untuk mengatasi kendala itu beberapa pendekatan ditempuh sebagai berikut pertama pencarian sumber baru enzim lipase termostabil dari mikroorganisme termofilik yang tumbuh dari habitat yang unik. Kedua, suhu fermentasi yang sesuai untuk menghasilkan lipase termostabil. Dan ketiga, rekayasa genetika untuk menghasilkan enzim lipase termostabil dengan ekspresi tinggi. Pendekatan dengan mencari sumber-sumber enzim baru dari mikroorganisme termofilik yang diisolasi dari lingkungan unik merupakan langkah yang paling memungkinkan dilakukan, karena Indonesia memiliki banyak sumber air panas yang potensial dan unik. Terdapat dua syarat agar suatu enzim lipolitik dikatakan sebagi true lipase. Pertama, lipase harus dapat diaktivasi dengan adanya lapisan antar muka, sehingga

aktivitasnya meningkat tajam pada saat substrat trigliserida membentuk emulsi. Fenomena ini disebut interfacial activation. Syarat kedua, lipase harus mengandung suatu lid yaitu suatu loop pada permukaan protein yang menutupi sisi aktif enzim dan bergerak saat kontak dengan antarmuka. Mekanisme kerja lipase dapat digambarkan sebagai berikut: dalam air, akses menuju sisi aktif, serin (berwarna biru) dihalangi oleh lid berbentuk heliks (hijau). Ketika diberikan substraat, maka terbentuk daerah antarmuka antara air dan substrat. Pada saat lipase terikat pada daerah antarmuka, heliks (berwarna jingga) akan bergerak sehingga substrat (kuning) dapat masuk dan terikat pada active site (biru) dari enzim, namun menurut Verger (1987) hal tersebut kurang tepat digunakan karena ditemukannya beberapa enzim lid tetapi tidak menunjukkan adanya aktivitas antarmuka. Lipase secara sederhana di definisikan sebagai suatu karboksilesterase yang menghidrolisis dan mensistesis asilgliserol berantai panjang.

Sumber Lipase Lipase di alam diproduksi oleh berbagai macam organisme seperti pada tumbuhan, binatang dan mikroorganisme. Lipase yang sering dimanfaatkan untuk aplikasi bioteknologi kebanyakan berasal dari bakteri. Meskipun banyak bakteri sumber lipase namun hanya sedikit yang secara komersial dimanfaatkan sebagai wildtype atau sebagai strain rekombinan. Mikroorganisme yang sering digunakan diantaranya adalah Achromobacter, Alcaligenes, Arthrobacter, Bacillus, Burkholderia, Chromobacterium dan Pseudomonas. Diantara bakteri tersebut, lipase dari bakteri Pseudomonas banyak digunakan untuk aplikasi bioteknologi (Jaeger dkk 1994.; Pandey et al. 1999; Beisson dkk. 2000). Beberapa produk dari lipase bakteri telah sukses diluncurkan ke pasar dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah produk tersebut dariPseudomonas spp, seperti Lumafast dan Lipomax dengan mereka utama aplikasi sebagai enzim deterjen, sementara Chiro CLEC-PC, Chirazyme L-1 dan Amano P, P-30 dan PS memiliki potensi besar dalam sintesis organik.

Penggolongan lipase

Bakteri yang dapat menghasilkan kelas-kelas lipolitik yang berbeda, termasuk diantaranya adalah karboksilesterase (E.C.3.1.1.1), true lipase (3.1.1.3) dan fosfolipase. Karboksilesterase menghidrolisis molekul-molekul yang mengandung ester-ester kecil yang cenderung larut dalam air. Famili VI merupakan enzim dengan berat molekul 23-26kDa yang merupakan jenis esterase yang paling kecil, termasuk di dalam kelompok ini adalah enzim yang dihasilkan oleh Pseudomonas fluorescens. Enzim-enzim famili VII memiliki urutan asam amino yang homolog dengan esterase asetilkolin dari eukariot. Esterase dari Bacillus subtilis dan Streptomyces coelicolor berada dalam kelompok ini. Kelompok terakhir, famili VIII merupakan enzim dengan panjang residu sekitar 380 kDa dan memilik kesamaan dengan beberapa kelas C laktamase. Enzim yang termasuk kelompok ini misalnya seperti yang dihasilkan oleh Arthrobacter globiformis dan Streptomyces chrysomallus. Perkembangan di bidang Lipase Dalam beberapa dekade terakhir, biokatalisis telah berhasil dimanfaatkan untuk sintesis obat dan bahan kimia, farmasi dan industri makanan. Kemajuan terbaru dalam teknologi DNA rekombinan,genomik dan proteomik telah memicu pengembangan katalis baru dan proses biokatalisis. Secara khusus, evolusi diarahkan sebagai alat ampuh untuk rekayasa biokatalis (Zhao et al. 2002), untuk mengembangkan enzim dengan properti jaringan, bahkan tanpa mengetahui struktur enzim dan mekanisme katalitiknya. Pendekatan evolusi ini telah dilakukan oleh beberapa peneliti. Penelitian di bidang evolusi lipase telah digunakan untuk menciptakan katalis enantioselektivitas untuk sintesis organik. Penelitian ini menggunakan pendekatan evolusi dalam kombinasi dengan kombinasi metode skrining untuk menghasilkan lipase dengan enantioselektivitas ditingkatkan. Bakteri lipase dari P. aeruginosa yang berevolusi menuju model substrat asam 2-methyldecanoic-ester. Pendekatan Metagenome Pendekatan metagenome untuk keanekaragaman mikroba murupakan sumber daya untuk proses dan produk bioteknologi. Biosfer ini didominasi oleh mikroorganisme, namun mikroba yang paling di alam belum diteliti. Hal ini terutama disebabkan oleh fakta bahwa, secara historis, satu-satunya cara untuk terpercaya menandai mikroorganisme adalah dengan isolasi kultur murni. Namun, sebagian besar mikroba yang ada di lingkungan tunggal tidak dikultur dalam laboratorium dan diperkirakan bahwa rata-rata, kurang dari 1% yang pernah diidentifikasi (Lorenz et al. 2002). Sebuah Pendekatan alternatif adalah dengan menggunakan keragaman genetik dari mikroorganisme dalam lingkungan tertentu secara keseluruhan (yang apa yang disebut "metagenome") untuk menemukan baru atau yang ditingkatkan gen dan produk gen untuk keperluan bioteknologi (Henne dkk. 2000). Urutan metagenomic besar Fragmen DNA telah mengungkapkan banyak kebetulan terbuka membaca frame, enzim pengkodean banyak dari mereka seperti kitinase, lipase, esterase, protease, amilase,

DNase, xilanase, dll (Lorenz et al, 2002.). Henne dkk. (2000) disaring DNA perpustakaan lingkungan dibuat dari tiga berbeda sampel tanah untuk gen berunding lipolitik aktivitas di klon E. coli dan mengidentifikasi empat klon menyimpan lipase dan esterase kegiatan. Bell et al. (2002) dijelaskan metode PCR yang cocok untuk isolasi enzim lipase gen DNA langsung dari lingkungan, menggunakan primer dirancang berdasarkan urutan konsensus lipase.