Anda di halaman 1dari 9

Beberapa Teori Belajar Matematika Teori Bruner Jerome Bruner (dalam Hudojo, 1988: 56), berpendapat bahwa belajar

matematika ialah belajar tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika itu. Pemahaman terhadap konsep dan struktur sesuatu materi menjadikan materi itu dipahami secara lebih komprehensip. Di dalam belajar Bruner hampir selalu memulai dengan memusatkan manipulasi material. Ini berarti peserta didik dalam belajar, haruslah terlihat aktif mentalnya yang dapat diperlihatkan keaktifan fisiknya. Bruner (dalam Hudojo, 1988: 56) melukiskan anak-anak berkembang melalui tiga tahap perkembangan mental. (1) Enaktif, pada tahap ini anak dalam belajar menggunakan atau memanipulasi obyek-obyek secara langsung. (2) Ikonik, menyatakan bahwa kegiatan anak-anak mulai menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyekobyek, anak sudah dapat memanipulasi dengan menggunakan gambaran dari obyek. (3) Simbolik, anak memanipulasi simbol-simbol secara langsung dan tidak lagi ada kaitannya dengan obyek-obyek. Berdasar teori Bruner, PMR cocok dalam kegiatan pembelajaran karena pada awal pembelajaran dimungkinkan siswa akan memanipulasi objek-objek yang ada kaitannya dengan permasalahan kontekstual yang diberikan guru. Kemudian pada proses matematisasi vertikal siswa akan memanipulasi simbol-simbol. 2) Teori Belajar Bermakna Ausubel Menurut Ausubel, Novak dan Hanesian (dalam Suparno, 1997: 53), ada dua jenis belajar yaitu belajar bermakna (meaningful learning) dan belajar menghafal (rote learning). Belajar bermakna adalah suatu proses belajar dimana informasi baru dihubungkan dengan sruktur pengertian yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Belajar bermakna terjadi bila pelajar mencoba menghubungkan fenomena baru ke dalam sruktur pengetahuan mereka. Ini terjadi melalui belajar konsep, dan perubahan konsep yang telah ada, yang akan mengakibatkan pertumbuhan dan perubahan struktur konsep yang telah dipunyai siswa. Jika konsep yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada dalam sruktur kognitif siswa, informasi baru harus dipelajari melalui belajar menghafal. Dalam belajar menghafal informasi baru tidak diasosiasikan dengan konsep yang telah ada dalam struktur kognitif. Ausubel (dalam Suparno, 1997: 53) menyatakan bahwa dalam proses belajar bermakna seseorang dapat mengembangkan skema yang telah ia punyai, sehingga dalam proses belajar ini siswa mengkonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Skema adalah abstraksi mental seseorang yang digunakan untuk mengerti sesuatu hal, menemukan jalan keluar ataupun memecahkan persoalan. Teori belajar bermakna Ausubel sejalan dengan prinsip ketiga dari PMR, yaitu siswa menggunakan cara mereka sendiri dalam memecahkan masalah dan mampu menghubungkan pengetahuan yang telah dimiliki dengan permasalahan yang dihadapi. Jika pengetahuan yang telah dimiliki siswa belum dapat digunakan dalam memecahkan masalah, maka guru perlu membimbing siswa secara terbatas. 3) Teori Piaget Menurut Piaget (dalam Suparno, 1997: 34) menyatakan bahwa dalam pikiran seseorang ada struktur pengetahuan awal (skema). Melalui kontak dengan pengalaman baru, skema dapat dikembangkan dan diubah, yaitu dengan proses asimilasi dan akomodasi. Bila pengalaman baru itu masih sesuai dengan skema yang dipunyai seseorang, maka skema itu hanya dikembangkan melalui proses asimilasi, yaitu suatu proses kognitif yang menempatkan dan mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam skema yang telah ada. Bila pengalaman baru itu sungguh berbeda dengan dengan skema yang ada, sehingga skema yang lama tidak cocok lagi untuk menghadapi pengalaman yang baru, skema yang lama diubah sampai ada keseimbangan lagi. Proses ini disebut proses akomodasi. Dari uraian tersebut terlihat bahwa Piaget menyoroti bagaimana seorang anak pelan-pelan membentuk skema, mengembangkan skema dan mengubah skema. Ia lebih menekankan bagaimana individu mengkonstruksi pengetahuan dan berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapi. Teori belajar Piaget sejalan dengan PMR karena dalam PMR mengutamakan peran siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran untuk menemukan atau mengkonstruksi konsep atau cara penyelesaian. 4) Teori Vygotsky 1)

Vygotsky (dalam Slavin, 1994: 49), menekankan pada hakekat sosiokultural pembelajaran, yaitu siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya. Lebih lanjut Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi umumnya muncul dalam percakapan atau kerjasama antar individu (interaksi dengan orang dewasa dan teman sebaya) sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut. Vygotsky mendefinisikan zone of proximal development (ZPD) sebagai jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu (Nur, 1996). Vygotsky yakin bahwa pembelajaran terjadi apabila anak belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauannya atau masih dalam zone of proximal development mereka. Fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar individu sebelum fungsi mental Teori lain dari Vygotsky adalah scaffolding yaitu pemberian sejumlah besar bantuan kepada seseorang peserta didik selama tahap awal pembelajaran dan kemudian pesrta didik tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan atau dorongan yang memungkinkan peserta didik tumbuh sendiri. Teori Vygotsky ini sejalan dengan karakteristik keempat PMR, yaitu adanya interaksi antara siswa yang satu dengan yang lain, juga antar siswa dengan pembimbing (guru). Selain itu dalam PMR bantuan yang diberikan guru hanya sebatas pada pertanyaan siswa di awal pemecahan masalah kontekstual yang diberikan guru, sampai siswa memahami maksud soal yang diberikan.

Teori Belajar Gagne


Friday, January 14th, 2011 | Newz

Gagne menggunakan matematika sebagai sarana untuk menyajikan dan mengaplikasi teori-teorinya tentang belajar. Menurut Gagne (dalam Ismail, 1998). Objek belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung. Objek langsung adalah transfer belajar, kemampuan menyelidiki, kemampuan memecahkan masalah, disiplin pribadi dan apresiasi pada struktur matematika. Sedangkan objek langsung belajar matematika adalah fakta, keterampilan, konsep dan prinsip.
1. Fakta (fact) adalah perjanjian-perjanjian dalam matematika seperti simbol- simbol matematika, kaitan simbol 3 dengan kata tiga merupakan contoh fakta. Contoh lainnya fakta : + adalah simbol dari operasi penjumlahan dan sinus adalah nama suatu fungsi khusus dalam trigonometri. 2. Keterampilan (skills) adalah kemampuan memberikan jawaban yang benar dan cepat. Misalnya pembagian cara singkat, penjumlahan pecahan dan perkalian pecahan. 3. Konsep (concept) adalah ide abstrak yang memungkinkan kita mengelompokkan objek ke dalam contoh dan bukan contoh. Himpunan, segitiga, kubus, dan jari-jari adalah merupakan konsep dalam matematika. 4. Prinsip (principle) merupakan objek yang paling kompleks. Prinsip adalah sederetan konsep beserta dengan hubungan diantara konsep-konsep tersebut.

Pembelajaran Matematika berdasar teori belajar Van Hiele


TEORI BELAJAR VAN HIELE A. Pendahuluan Dua tokoh pendidikan matematika dari Belanda, yaitu Pierre Van Hiele dan isterinya, Dian Van Hiele-Geldof, pada tahun-tahun 1957 sampai 1959 mengajukan suatu teori mengenai proses perkembangan yang dilalui siswa dalam mempelajari geometri. Dalam teori yang mereka kemukakan, mereka berpendapat bahwa dalam mempelajari geometri para siswa mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui tahap-tahap tertentu. B. Tingkat kognitif menurut Van Hiele Tahapan berpikir atau tingkat kognitif yang dilalui siswa dalam pembelajaran geometri, menurut Van Hiele adalah sebagai berikut: Level 0. Tingkat Visualisasi

Tingkat ini disebut juga tingkat pengenalan. Pada tingkat ini, siswa memandang sesuatu bangun geometri sebagai suatu keseluruhan (wholistic). Pada tingkat ini siswa belum memperhatikan komponen-komponen dari masing-masing bangun. Dengan demikian, meskipun pada tingkat ini siswa sudah mengenal nama sesuatu bangun, siswa belum mengamati ciri-ciri dari bangun itu. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa tahu suatu bangun bernama persegipanjang, tetapi ia belum menyadari ciri-ciri bangun persegipanjang tersebut. Level 1. Tingkat Analisis Tingkat ini dikenal sebagai tingkat deskriptif. Pada tingkat ini siswa sudah mengenal bangun-bangun geometri berdasarkan ciri-ciri dari masing-masing bangun. Dengan kata lain, pada tingkat ini siswa sudah terbiasa menganalisis bagian-bagian yang ada pada suatu bangun dan mengamati sifat-sifat yang dimiliki oleh unsur-unsur tersebut Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun merupakan persegipanjang karena bangun itu mempunyai empat sisi, sisi-sisi yang berhadapan sejajar, dan semua sudutnya siku-siku Level 2. Tingkat Abstraksi Tingkat ini disebut juga tingkat pengurutan atau tingkat relasional. Pada tingkat ini, siswa sudah bisa memahami hubungan antar ciri yang satu dengan ciri yang lain pada sesuatu bangun. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa sudah bisa mengatakan bahwa jika pada suatu segiempat sisi-sisi yang berhadapan sejajar, maka sisi-sisi yang berhadapan itu sama panjang. Di samping itu pada tingkat ini siswa sudahmemahami pelunya definisi untuk tiaptiap bangun. Pada tahap ini, siswa juga sudah bisa memahami hubungan antara bangun yang satu dengan bangun yang lain. Misalnya pada tingkat ini siswa sudah bisa memahami bahwa setiap persegi adalah juga persegipanjang, karena persegi juga memiliki ciri-ciri persegipanjang. Berikut ini merupakan contoh pekerjaan siswa pada level 2. Level 3. Tingkat Deduksi Formal Pada tingkat ini siswa sudah memahami perenan pengertian-pengertian pangkal, definisi-definisi, aksiomaaksioma, dan terorema-teorema dalam geometri. Pada tingkat ini siswa sudah mulai mampu menyusun buktibukti secara formal. Ini berarti bahwa pada tingkat ini siswa sudah memahami proses berpikir yang bersifat deduktif-aksiomatis dan mampu menggunakan proses berpikir tersebut. Level 4. Tingkat Rigor Tingkat ini disebut juga tingkat metamatematis. Pada tingkat ini, siswa mampu melakukan penalaran secara formal tentang sistem-sistem matematika (termasuk sistem-sistem geometri), tanpa membutuhkan modelmodel yang konkret sebagai acuan. Pada tingkat ini, siswa memahami bahwa dimungkinkan adanya lebih dari satu geometri. Sebagai contoh, pada tingkat ini siswa menyadari bahwa jika salah satu aksioma pada suatu sistem geometri diubah, maka seluruh geometri tersebut juga akan berubah. Sehingga, pada tahap ini siswa sudah memahami adanya geometri-geometri yang lain di samping geometri Euclides. Menurut Van Hiele, semua anak mempelajari geometri dengan melalui tahap-tahap tersebut, dengan urutan yang sama, dan tidak dimungkinkan adanya tingkat yang diloncati. Akan tetapi, kapan seseorang siswa mulai memasuki suatu tingkat yang baru tidak selalu sama antara siswa yang satu dengan siswa yang lain. Selain itu, menurut Van Hiele, proses perkembangan dari tahap yang satu ke tahap berikutnya terutama tidak ditentukan oleh umur atau kematangan biologis, tetapi lebih bergantung pada pengajaran dari guru dan proses belajar yang dilalui siswa. C. Implementasi teori Van Hiele dalam Pembelajaran Untuk meningkatkan suatu tahap berpikir ke tahap berpikir yang lebih tinggi Van Hiele mengajukan pembelajaran yang melibatkan 5 fase (langkah), yaitu ; informasi (information), orientasi langsung (directed orientation), penjelasan (explication), orientasi bebas (free orientation), dan integrasi (integration). Fase 1 : Informasi (information) Pada awal fase ini, guru dan siswa menggunakan tanya jawab dan kegiatan tentang obyek-obyek yang dipelajari pada tahap berpikir yang bersangkutan. Guru mengajukan pertanyaan kepada siswa sambil melakukan observasi. Tujuan kegiatan ini adalah : a. Guru mempelajari pengetahuan awal yang dipunyai siswa mengenai topik yang di bahas.

b. Guru mempelajari petunjuk yang muncul dalam rangka menentukan pembelajaran selanjutnya yang akan diambil. Fase 2 : Orientasi langsung (directed orientation) Siswa menggali topik yang dipelajari melalui alat-alat yang dengan cermat disiapkan guru. Aktifitas ini akan berangsur-angsur menampakkan kepada siswa struktur yang memberi ciri-ciri untuk tahap berpikir ini. Jadi, alat ataupun bahan dirancang menjadi tugas pendek sehingga dapat mendatangkan repon khusus.

Fase 3 : Penjelasan (explication) Berdasarkan pengalaman sebelumnya, siswa menyatakan pandangan yang muncul mengenai struktur yang diobservasi. Di samping itu untuk membantu siswa menggunakan bahasa yang tepat dan akurat, guru memberi bantuan seminimal mungkin. Hal tersebut berlangsung sampai sistem hubungan pada tahap berpikir ini mulai tampak nyata. Fase 4 : Orientasi bebas (free orientation) Siswa mengahadapi tugas-tugas yang lebih komplek berupa tugas yang memerlukan banyak langkah, tugas-tugas yang dilengkapi dengan banyak cara, dan tugas-tugas open ended. Mereka memperoleh pengalaman dalam menemukan cara mereka sendiri, maupun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Melalui orientasi diantara para siswa dalam bidang investigasi, banyak hubungan antara obyek-obyek yang dipelajari menjadi jelas. Fase 5 : Integrasi (Integration) Siswa meninjau kembali dan meringkas apa yang telah dipelajari. Guru dapat membantu dalam membuat sintesis ini dengan melengkapi survey secara global terhadap apa-apa yang telah dipelajari siswa. Hal ini penting tetapi, kesimpulan ini tidak menunjukkan sesuatu yang baru.

Teori belajar Dienes


Tuesday, January 18th, 2011 | Newz

Menurut Dienes (dalam Hudojo, 1988: 59-61), berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna hanya jika pertama-tama disajikan kepada peserta didik dalam bentukbentuk konkrit. Dari sini dapatlah kita mengerti bahwa bentuk permainan yang dilaksanakan di dalam laboratorium matematika. Konsep-konsep matematika dipelajari menurut tahap-tahap bertingkat seperti halnya dengan tahap periode perkembangan intelektualnya Piaget.
1. Permainan bebas (Free play), permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktivitas yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan yang memungkinkan peserta didik mengadakan eksperimen dan memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur konsep yang dipelajari itu. Tahap ini merupakan tahap yang penting sebab pengalaman pertama, peserta didik berhadapan dengan konsep baru melalui interaksi dengan lingkungannya yang mengandung representasi konkrit dari konsep itu. 2. Permainan yang menggunakan aturan (Games), tahap ini merupakan tahap belajar konsep setelah di dalam periode tertentu permainan bebas terlaksana. Di dalam tahap ini peserta didik mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat di dalam konsep itu. Peserta didik memperhatikan aturan-aturan tertentu yang terdapat dalam konsep (peristiwa-peristiwa). Aturan-aturan itu adakalanya berlaku untuk suatu konsep, namun tidak berlaku untuk konsep lain. Setelah peserta didik itu mendapatkan aturan yang ditentukan dalam konsep (peristiwa) itu, peserta didik itu siap untuk memainkan permainan itu. 3. Permainan mencari kesamaan sifat (Searching for comunalities), tahap ini berlangsung setelah memainkan permainan yang disertai aturan yang telah disebutkan tadi. Dalam melaksanakan permainan tahap ke dua tadi (permainan yang menggunakan aturan), mungkin peserta didik belum menemukan struktur yang menunjukkan sifat-sifat kesamaan yang terdapat di dalam permainan-permainan yang dimainkan itu. 4. Permainan dengan representasi (Representation), dalam tahap ini peserta didik mencari kesamaan sifat dari situsi yang serupa. Setelah peserta didik itu mendapatkan kesamaan sifat dan situasi, peserta didik itu memerlukan gambaran konsep tersebut.

5. Permainan dengan simbulisasi (Symbolization), permainan dengan menggunakan simbul ini merupakan tahap belajar konsep di mana peserta didik perlu merumuskan representasi dari setiap konsep dengan menggunakan simbul matematika atau dengan perumusan verbal yang sesuai. 6. Formalisasi (Formalization), permainan ini merupakan tahap belajar konsep terakhir. Setelah peserta didik mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan, peserta didik harus mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru.

Teori belajar Dienes


Tuesday, January 18th, 2011 | Newz

Menurut Dienes (dalam Hudojo, 1988: 59-61), berpendapat bahwa setiap konsep atau prinsip matematika dapat dimengerti secara sempurna hanya jika pertama-tama disajikan kepada peserta didik dalam bentukbentuk konkrit. Dari sini dapatlah kita mengerti bahwa bentuk permainan yang dilaksanakan di dalam laboratorium matematika. Konsep-konsep matematika dipelajari menurut tahap-tahap bertingkat seperti halnya dengan tahap periode perkembangan intelektualnya Piaget.
1. Permainan bebas (Free play), permainan bebas adalah tahap belajar konsep yang terdiri dari aktivitas yang tidak terstruktur dan tidak diarahkan yang memungkinkan peserta didik mengadakan eksperimen dan memanipulasi benda-benda konkrit dan abstrak dari unsur-unsur konsep yang dipelajari itu. Tahap ini merupakan tahap yang penting sebab pengalaman pertama, peserta didik berhadapan dengan konsep baru melalui interaksi dengan lingkungannya yang mengandung representasi konkrit dari konsep itu. 2. Permainan yang menggunakan aturan (Games), tahap ini merupakan tahap belajar konsep setelah di dalam periode tertentu permainan bebas terlaksana. Di dalam tahap ini peserta didik mulai meneliti pola-pola dan keteraturan yang terdapat di dalam konsep itu. Peserta didik memperhatikan aturan-aturan tertentu yang terdapat dalam konsep (peristiwa-peristiwa). Aturan-aturan itu adakalanya berlaku untuk suatu konsep, namun tidak berlaku untuk konsep lain. Setelah peserta didik itu mendapatkan aturan yang ditentukan dalam konsep (peristiwa) itu, peserta didik itu siap untuk memainkan permainan itu. 3. Permainan mencari kesamaan sifat (Searching for comunalities), tahap ini berlangsung setelah memainkan permainan yang disertai aturan yang telah disebutkan tadi. Dalam melaksanakan permainan tahap ke dua tadi (permainan yang menggunakan aturan), mungkin peserta didik belum menemukan struktur yang menunjukkan sifat-sifat kesamaan yang terdapat di dalam permainan-permainan yang dimainkan itu. 4. Permainan dengan representasi (Representation), dalam tahap ini peserta didik mencari kesamaan sifat dari situsi yang serupa. Setelah peserta didik itu mendapatkan kesamaan sifat dan situasi, peserta didik itu memerlukan gambaran konsep tersebut. 5. Permainan dengan simbulisasi (Symbolization), permainan dengan menggunakan simbul ini merupakan tahap belajar konsep di mana peserta didik perlu merumuskan representasi dari setiap konsep dengan menggunakan simbul matematika atau dengan perumusan verbal yang sesuai. 6. Formalisasi (Formalization), permainan ini merupakan tahap belajar konsep terakhir. Setelah peserta didik mempelajari suatu konsep dan struktur matematika yang saling berhubungan, peserta didik harus mengurut sifat-sifat itu untuk dapat merumuskan sifat-sifat baru.

Pendekatan Matematika Realistik Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan pembelajaran dalam pendidikan matematika yang pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda sejak tahun 70-an oleh Institute Freudenthal. Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan yang bertujuan memotivasi siswa untuk memahami konsep matematika dengan mengaitkan konsep tersebut dengan permasalahan dalam kehidupan seharihari. Oleh karena itu, permasalahan yang digunakan dalam pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik harus mempunyai keterkaitan dengan situasi nyata yang mudah dipahami dan dibayangkan oleh siswa.

Sesuatu yang dibayangkan tersebut digunakan sebagai starting point (titik tolak atau titik awal) dalam pemahaman konsep-konsep matematika. Soejadi (2002: 49) mengemukakan bahwa: Pendekatan Matematika Realistik pada dasarnya adalah peman-faatan realitas dan lingkungan yang dipahami siswa untuk memper-lancar proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik daripada masa lalu. Zulkardi (2003: 14) mengatakan Pendekatan Matematika Realistik adalah pendekatan dalam pendi-dikan matematika yang berdasarkan ide bahwa matematika adalah aktivitas manusia dan matematika harus dihubungkan secara nyata dalam konteks kehidupan sehari-hari siswa sebagai suatu sumber pengembangan sekaligus sebagai aplikasi melalui proses matema-tisasi baik horizontal maupun vertikal.. Ciri Pembelajaran Matematika Realistik Ciri pembelajaran matematika realistik yaitu: (1) Materi pembelajaran berdasarkan / bertolak dari masalah kontekstual dalam hidup sehari-hari (2) Siswa menemukan konsep sendiri dari menyelesaikan masalah kontekstual dengan bantuan guru dan diskusi kelas. (3) Siswa bebas memilih cara menyelesaikan soal sesuai dengan perkembangan kognitifnya (enaktif, ekonik, simbolik) (4) Adanya interaksi dan negoisasi antar siswa dan guru tentang cara penyelesaian masalah / soal. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan matematika realistik memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dengan pendekatan-pendekatan yang lain. Treffers (dalam Zulkardi, www.pmri.or.id) mengemukakan lima karakteristik utama yang dijumpai pada pendekatan matematika realistik, yaitu: (1) Menggunakan masalah kontekstual (The use of contexts) (2) Menggunakan model sendiri (The use of models) (3) Menggunakan kontribusi siswa (Student contribution) (4) Interaktivitas (Interactivity) (5) Terintegrasi dengan topik pembelajaran yang lainnya (Interactivity) Sedangkan Marpaung (dalam nurjaya.files.wordpress.com/). menjelaskan karakteristik pendekatan matematika realistik, yaitu: (1) Murid aktif, guru aktif (Matematika sebagai aktivitas manusia). (2) Pembelajaran sedapat mungkin dimulai dengan menyajikan masalah kontekstual/realistik (3) Guru memberikan kesempatan pada siswa menyelesaikan masalah dengan cara sendiri. (4) Guru menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan. (5) Siswa dapat menyelesaikan masalah dalam kelompok (kecil atau besar). (6) Pembelajaran tidak selalu di dalam kelas (bisa diluar kelas, duduk di lantai, pergi ke luar sekolah untuk mengamati atau mengumpulkan data). (7) Guru mendorong terjadinya interaksi dan negosiasi. (8) Siswa bebas memilih modus representasi yang sesuai dengan struktur kognitifnya sewaktu menyelesaikan suatu masalah (Menggunakan model). (9) Guru bertindak sebagai fasilitator (Tutwuri Handayani). (10) Kalau siswa membuat kesalahan dalam menyelesaikan masalah jangan dimarahi tetapi dibantu melalui pertanyaan-pertanyaan (Motivasi).

Berikut ini informasi seputar pendekatan matematika realistik (pmr) semoga bermanfaat untuk anda. Mari kita simak pendekatan matematika realistik (pmr) dibawah ini.

Pengertian Matematika Realistik Matematika Realistik (MR) adalah matematika yang disajikan sebagai suatu proses kegiatan manusia, bukan sebagai produk jadi. Bahan pelajaran yang disajikan melalui bahan cerita yang sesuai dengan lingkungan siswa (kontekstual) (Zigma Edisi, 14, 12 Oktober 2007)

Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa Realistic Mathematics Education (PMR) merupakan teori belajar mengajar dalam pendidikan matematika. Teori PMR pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan di Belanda pada tahun 1970 oleh Institut Freudenthal. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada sesuatu yang dapat dibayangkan oleh siswa (Slettenhaar, 2000). Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan informal, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi (http/darsusianto-blogspot. Com 2007/08/matematika realistik/html). Adapun konsep pendidikan matematika realistik tentang siswa antara lain sebagai berikut: 1. Siswa memiliki seperangkat konsep alternatif tentang ide-ide matematika yang mempengaruhi belajar selanjutnya; 2. Siswa memperoleh pengetahuan baru dengan membentuk pengetahuan itu untuk dirinya sendiri; 3. Pembentukan pengetahuan merupakan proses perubahan yang meliputi penambahan, kreasi, modifikasi, penghalusan, penyusunan kembali, dan penolakan; 4. Pengetahuan baru yang dibangun oleh siswa untuk dirinya sendiri berasal dari seperangkat ragam pengalaman; 5. Setiap siswa tanpa memandang ras, budaya dan jenis kelamin mampu memahami dan mengerjakan matematik (Zigma Edisi 10, 27 Juni 2007) 6. Pengajaran matematika dengan pendekatan Pendidikan Matematika Realistik meliputi aspek-aspek berikut :

Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang riil bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna; Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan (De Lange, 1995)

Berdasarkan uraian aspek-aspek di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan matematika realistik berlangsung secara interaktif, siswa mengajukan beberapa pertanyaan kepada guru, dan memberikan alasan terhadap pertanyaan atau jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran. Prinsip-prinsip Dasar Matematika Realistik Pendekatan Matematika Realistik (PMR) mempuinyai tiga prinsip kunci, yaitu :

Guided Reinvention (menemukan kembali)/progressive Mathematizing (matematesasi progresif), yakni peserta didik diberikan kesempatan untuk mengalami proses yang sama sebagaimana konsepkonsep matematika ditemukan. Pembelajaran dimulai dengan suatu masalah kontekstual atau realistik yang selanjutnya melalui aktifitas siswa dikharapkan menemukan kembali sifat, defenisi, teorema atau prosedur-prosedur. Didaktical Phenomenology (fenomena didaktik). Situasi-situasi yang diberikan dalam suatu topik matematika atas dua pertimbangan, yaitu melihat kemungkinan aplikasi dalam pengajaran dan sebagai titik tolak dalam proses matematika. Self-developed Models (pengembangan model sendiri); kegiatan ini berperan sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Model dibuat siswa sendiri dalam memecahkan masalah. Model pada awalnya adalah suatu model dari situasi yang dikenal (akrab) dengan siswa. Dengan suatu proses generalisasi dan formalisasi, model tersebut akhinrya menjadi suatu model sesuai penalaran matematika (Anonim, tt)

Karakteristik Matematika Realistik Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) memiliki 5 karakteristik, yaitu :

Menggunakan konteks, Konteks yang dimaksud dalam penelitian ini adalah lingkuingan keseharian yang nyata (yang dikenal) siswa. Menggunakan model, Istilah model berkaitan dengan model situasi dan model matematik yang dikembangkan oleh siswa sendiri (self developed models). Artinya siswa membuat model sendiri dalam menyelesaikan masalah. Generalisasi dan formalisasi model tersebut akan berubah menjadi model-of masalah tersebut. Melalui penalaran matematik model-of akan bergeser menjadi model-for masalah yang sejenis (http/darsusianto-blogspot. Com 2007/08/matematika realistik/html). Menggunakan kontribusi murid, Kontribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dan konstruksi peserta didik sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informai mereka ke arah yang lebih formal atau baku. Menggunakan Interaktif, Interaksi antar siswa dengan guru merupakan hal yang mendasar dalam PMR. Secara eksplisit bentuk-bentuk interaksi yang berupa penjelasan, pembenaran, setuju, tidak, pertanyaan atau refleksi digunakan untuk mencapai bentuk formal dari bentuk-bentuk informal siswa. Terintegrasi dengan topik pembelajaran lainnya, Topik-topik yang peneliti berikan dikaitkan dan diintegrasikan sehingga memunculkan pemahaman suatu konsep atau operasi secara terpadu, agar hal tersebut dapat memberikan kemungkinan efisien dalam mengajarkan beberapa topik pelajaran.

Untuk lebih jelas dapat dilihat pada gambar di bawah ini !

Gambar 1 : Prinsip dan karakteristik pendidikan matematika realistik (Anonim, tt)

Dari gambar di atas, dapat dilihat bagaimana prinsip-prinsip dan karakteristik dari pada matematika realistik dalam proses belajar di kelas.

Langkah-Langkah dalam Pembelajaran Matematika Realistik Adapun langkah-langkah dalam pembelajaran Matematika Realistik adalah sebagai berikut : 1. Memotivasi siswa (memfokuskan perhatian siswa) 2. Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran 3. Memulai pelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang riil bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalam pelajaran secara bermakna 4. Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pelajaran tersebut; 5. Siswa mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan 6. Pengajaran berlangsung secara interaktif, siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), setuju terhadap jawaban temannya, menyatakan ketidaksetujuan, mencari alternatif penyelesaian yang lain; dan melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pelajaran.

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa Pendekatan Matematika Realistik (PMR) dapat memudahkan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yang terkait dengan pacahan bahkan matematika realistik menyajikan materi dengan riil.