Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PERCOBAAN I DAERAH TUMBUH

NAMA NIM KELOMPOK

: MEYANTI TODING BUAK : H41110011 : I (SATU)

HARI/TGL PERC: SELASA/ 6 MARET 2012 ASISTEN : JAMILA

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

I. 1 Latar Belakang Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dimulai sejak perkecambahan biji. Kecambah kemudian berkembang menjadi tumbuhan kecil yang sempurna. Setelah tumbuh hingga mencapai ukuran dan usia tertentu, tumbuhan akan berkembang membentuk bunga dan buah atau biji sebagai di alat daerah

perkembangbiakannya.

Pertumbuhan

pada

tumbuhan

terjadi

meristematis (titik tumbuh), yaitu bagian yang mengandung jaringan meristem. Jaringan ini terletak di ujung batang, ujung akar, dan kambium (Dwiastuti, 2011). Secara umum pertumbuhan dan pekembangan pada tumbuhan diawali untuk stadium zigot yang merupakan hasil pembuahan sel kelamin betina dengan jantan. Pembelahan zigot menghasilkan jaringan meristem yang akan terus membelah dan mengalami diferensiasi. Diferensiasi adalah perubahan yang terjadi dari keadaan sejumlah sel, membentuk organ-organ yang mempunyai struktur dan fungsi yang berbeda. Terdapat 2 macam pertumbuhan, yaitu: Pertumbuhan Primer adalah terjadi sebagai hasil pembelahan sel-sel jaringan meristem primer. Berlangsung pada embrio, bagian ujung-ujung dari tumbuhan seperti akar dan batang. Embrio memiliki tiga bagian penting yaitu : tunas embrionik yaitu calon batang dan daun, akar embrionik yaitu calon akarkotiledon yaitu cadangan makanan (Salisbury dan Ross,1995). Berdasarkan teori di atas , maka dilakukanlah percobaan ini.

I. 2 Tujuan Percobaan Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengamati daerah tumbuh pada akar dan batang dari kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris. I. 3 Waktu dan Tempat Percobaan Percobaan mengenai Daerah Tumbuh ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 6 Maret 2012, pukul 14.30-17.00 WITA, di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan di Laboratorium Botani, selama 5 hari.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman merupakan proses yang penting dalam kehidupan dan pekembang biakan suatu species. Pertumbuhan dan perkembangan berlangsung secara terus-menerus sepanjang daur hidup, tergantung pada tersedianya merisitem,hasil asimilasi,hormone dan substansi pertumbuhan lainnya, serta lingkungan yang mendukung. Secara empiris, pertumbuhan tanaman dapat dikatakan sebagai suatu fungsi dari genotype X lingkungan (internal dan eksternal). Pertumbuhan itu lebih mudah digambarkan dari pada di defenisikan. Pertumbuhan berarti pembelahan sel dan pembesaran sel. Kedua proses ini memerlukan sintesis protein dan merupakan proses yang tidak dapat berbalik. Proses differensiasi seringkali dianggap pertumbuhan.

Pertumbuhan tanaman memerlukan proses differensiasi (Heddy, 1987). Proses pemanjangan tunas terjadi melalui pertumbuhan ruas yang sedikit lebih tua di bawah ujung tunas tersebut. Pertumbuhan ini disebabkan pembelahan sel dan pemanjangan sel dalam ruas tersebut. Pembelahan sel dan pertumbuhan yang terus menerus sehingga mendorong ke arah pemanjangan batang dan tunas (Campbell, dkk., 2005). Aktivitas jaringan meristem yang terletak di ujung batang/akar menghasilkan pola pertumbuhan yang berbeda bila dibandingkan dengan jaringan meristem di kambium. Tumbuhan bertambah panjang dan besar karena adanya penambahan jumlah sel sebagai hasil pembelahan mitosis pada titik tumbuh,

pertambahan komponen seluler dan diferensiasi sel. Pertumbuhan pada tumbuhan umumnya terjadi pada daerah meristem (titik tumbuh), diantaranya terdapat di ujung akar dan ujung batang. Untuk mengetahui pertumbuhan batang digunakan alat auksanometer. Pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan melalui beberapa tahapan. Tahapan tersebut dimulai dari perkecambahan biji. Kemudian, kecambah berkembang menjadi tumbuhan kecil yang sempurna. Selanjutnya tumbuhan tersebut akan membesar dan pada masa tertentu akan menghasilkan bunga dan biji (Chama, 2012). Proses pemanjangan akar terkonsentrasi pada sel-sel dekat ujung akar, dimana terletak tiga zona sel dengan tahapan pertumbuhan primer yang berurutan. Dari ujung akar ke arah atas terdapat zona pembelahan sel, zona pemanjangan dan zona pematangan. Zona pembelahan sel meliputi meristem apikal dan turunannya, yang disebut meristem primer (terdiri dari protoderm, prokambium dan meristem dasar). Meristem apikal yang terdapat di pusat zona pembelahan menghasilkan sel-sel meristem primer yang bersifat meristematik. Disini sel-sel memanjang sampai sepuluh kali semula, sehingga mendorong ujung akar, termasuk meristem ke depan. Meristem akan mandukung pertumbuhan secara terus-menerus dengan menambahkan sel-sel ke ujung termuda zona pemanjangan tersebut (Campbell, dkk., 2005). Umumya daerah pertumbuhan terletak pada bagian bawah mesitem apikal dari tunas akar. Pada rerumputan dan monokotil lainnya daerah pertumbuhan terletak di bagian atas tiap-tiap buku atau nodus. Pertumbuhan jiga terjadi pada bagian-bagian lainnya misalnya pada daun sel-sel akan membesar pada batas

tertentu. Pertumbuhan lateral terjadi dengan membesarnya sel-sel yang terletak pada sisi-sisi jaringan kambium. Pertumbuhan bagian pucuk dan akar disebabkan adanya pembentukan sel-sel baru oleh jaringan meristematik (embrionik) pada titk tumbuh diikuti dengan pertumbuhan dan differensiasi sel-selnya,bila mana tumbuhan mencapai ukuran dewasa maka terbentuk bunga (Fahn, 1992). Batang yang sedang tumbuh, daerah pembelahan sel batang lebih jauh letaknya dari ujung daripada daerah pembelahan akar, terletak beberapa sentimeter dibawah ujung. Sel-sel inisial membentuk sel-sel pada ujung akar yang bersifat meristematis (Salisbury dan Ross, 1992). Pertumbuhan pada tumbuhan dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu (Chama, 2012): 1. Pertumbuhan Primer Pertumbuhan primer adalah pertumbuhan yang terjadi akibat aktivitas jaringan meristem primer atau disebut juga meristem apikal. Titik tumbuh primer terbentuk sejak tumbuhan masih berupa embrio. Jaringan meristem ini terdapat di ujung batang dan ujung akar. Akibat pertumbuhan ini, akar dan batang tumbuhan bertambah panjang. Pada titik tumbuh, pertumbuhan terjadi secara bertahap. Oleh karena itu daerah pertumbuhan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu daerah pembelahan, daerah perpanjangan, dan daerah diferensiasi. a. Daerah pembelahan

Daerah pembelahan terletak di bagian paling ujung. Di daerah ini sel-sel baru terus menerus dihasilkan melalui proses pembelahan sel. Daerah inilah yang disebut daerah meristematis. b. Daerah pemanjangan Daerah pemanjangan terletak di belakang daerah pembelahan. Di daerah ini sel-sel hasil pembelahan akan tumbuh sehingga ukuran sel bertambah besar. Akibatnya di daerah inilah yang mengalami pemanjangan. c. Daerah diferensiasi Daerah diferensiasi terletak di belakang daerah pemanjangan. Sel-sel yang telah tumbuh mengalami perubahan bentuk dan fungsi. Sebagian sel mengalami diferensiasi menjadi epidermis, korteks, xilem, dan floem. Sebagian lagi membentuk parenkim, kolenkim, dan sklerenkim 2. Pertumbuhan Sekunder Pertumbuhan sekunder disebabkan oleh aktivitas jaringan meristem sekunder. Contoh jaringan meristem sekunder adalah jaringan kambium pada batang tumbuhan dikotil dan Gymnospermae. Sel-sel jaringan kambium senantiasa membelah. Pembelahan ke arah dalam membentuk xilem atau kayu sedangkan pembelahan ke luar membentuk floem ataukulit kayu. Akibat aktivitas jaringan meristem pada kambium, diameter batang dan akar bertambah besar. Tumbuhan monokotil tidak mempunyai kambium sehingga tidak mengalami pertumbuhan sekunder. Terdapat beberapa unsur yang diperlukan oleh tumbuhan dalam jumlah besar, yaitu karbon (C), Oksigen (O), Hidrogen (H), dan Nitrogen (N). Di samping itu juga diperlukan unsur P (fosfor). Kelima unsur ini merupakan

penyusun utama tubuh tumbuhan. Dinding sel tumbuhan disusun oleh unsur C, H, dan O. Protein yang merupakan penyusun utama sitoplasma (cairan sel) disusun oleh unsur C, H, O, dan N. Karbohidrat dan lemak juga merupakan penyusun sitoplasma pada beberapa sel tumbuhan, tersusun dari unsur C, H, dan O.

BAB III METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah toples plastik, pulpen, lempeng kaca, dan penggaris III. 2 Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris, air, karet gelang, dan tissu. III. 3 Cara Kerja Cara kerja dari percobaan ini adalah sebagai berikut:

1. Menyiapkan kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris. 2. Mencabut 6 batang kecambah tersebut dengan hati-hati agar kecambah yang
diambil memiliki akar yang lurus dan panjangnya lebih dari 2 cm. Dari 6 kecambah, 3 buah kecambah digunakan untuk pengamatan akar dan 3 lainnya digunakan untuk pengamatan batang.

3. Memberikan tanda pada ujung akar kecambah, dengan menggunakan tinta


pulpen sebanyak 10 garis dengan interval 2 mm untuk 2 kecambah dan 1 kecambah lagi sebagai kontrol yang diberi tanda hanya 1 garis dengan interval 2 cm.

4. Memberi tanda pada ujung batang kecambah, dengan menggunakan tinta


pulpen sebanyak 10 garis dengan interval 2 mm untuk 2 kecambah dan 1

kecambah lagi sebagai kontrol yang diberi tanda hanya 1 garis dengan interval 2 cm. 5. Meletakkan kecambah dengan kedudukan tegak pada lempeng kaca yang telah dibalut tissu dengan menggunakan karet gelang.

6. Memasukkan lempeng-lempeng kaca yang telah ditempeli kecambah ke


dalam toples yang berisi sedikit air, kemudian meletakkan toples tersebut di tempat gelap.

7. Mengukur jarak masing-masing interval pada setiap kecambah

yang

bertindak sebagai perlakuan setelah 24 jam dan membandingkannya dengan jarak interval kecambah yang bertindak sebagai kontrol. 8. Mencatat perubahan yang terjadi setiap hari selama 5 hari dan memasukkannya ke dalam tabel pengamatan.

DAFTAR PUSTAKA

Campbell, N. A, J. B. Reece and L. E. Mitchell. 2005. Biologi. Erlangga, Jakarta. Chama, Julaili Irni 2012, Pertumbuhan dan Perkembangan Tumbuhan, http://julailiirnizchama.blogspot.com/, diakses pada tanggal 7 Maret 2012, pukul13:25 WITA. Dwiastuti, Atun 2011, Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman, http://atundwiastuti.blogspot.com/, diakses pada tanggal 7 Maret 2012, pukul13:44 WITA. Fahn, A.1992. Anatomi Tumbuhan Edisi ke 3. Universitas Gadjah Mada university: Yogyakarta Heddy, Suasono., 1987. Biologi Pertanian. Rajawali Press, Jakarta. Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid III. ITB. Bandung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. 1 Hasil IV.1.1 Tabel Hasil Pengukuran Akar

Kecamab ah keI

Hari/Tanggal

Pertambahan ukuran kecambah interval ke- (cm) 1 2 0,2 3 0,2 4 0,2 5 0,2 6 0,2 7 0,9 8 0,2 9 0,2 10 0,2 -

Rabu/7 Maret Kamis/8 Maret Jumat/9 Maret

0,4 -

0,2 -

0,2 -

0,2 -

0,2 -

0,2 -

0,2 -

0,2 -

0,2 -

0,4 -

0,4 -

II

Rabu/7 Maret Kamis/8 Maret Jumat/9 Maret

2 -

III

Rabu/7 Maret Kamis/8 Maret Jumat/9 Maret

IV.1.2 Tabel Hasil Pengukuran Batang

Kecamab ah keI

Hari/Tanggal 1 Rabu/7 Maret

Pertambahan ukuran kecambah interval ke- (cm) 2 3 0,5 0,9 3 0,5 0,5 1,5 4 8 0,5 0,8 5 1,2 0,6 1 6 1 0,5 1,4 7 1,4 0,6 0,7 8 1 0,5 0,6 9 0,5 3 10 4 4 -

0,5

Kamis/8 Maret Jumat/9 Maret II Rabu/7 Maret 0,5

Kamis/8 Maret 1 Jumat/9 Maret III Rabu/7 Maret 3,5

Kamis/8 Maret Jumat/9 Maret -

IV.2 Pembahasan Pada percobaan mengenai daerah tumbuh ini, kita mengamati daerah tumbuh pada kecambah tanaman kacang hijau Phaseolus radiatus. Pada kecambah kacang hijau diamati daerah tumbuh pada akar dan batangnya, Pada pengamatn ini digunakan 6 kecambah, 3 kecambah akan diamati daerah tumbuh pada bagian akar, dan 3 kecambah yang tersisa diamati daerah tumbuh pada bagian batangnya, dari masing-masing 3 kecamabah, 1 kecambah digunakan sebagai kontrol sedangkan kecambah yang lain akan diamati daerah tumbuh pada

bagian akar dan batang. Pengamatan dilakukan dengan memberikan garis dengan interval 0,2 cm sebanyak 10 garis pada ujung akar dan ujung batang kecambah dan diamati setiap hari selama 3 hari. Berdasarkan data yang diperoleh selama pengamatan, data pengamatan daerah tumbuh pada ujung akar menunjukkan bahwa kecambah I pada hari pertama telah mengalami pertamabahn ukuran pada interval garis pertama, pada garis kedua hingga garis keenam tidak mengalami pertambahan ukuran, pada interval garis ketujuh terjadi pertamabahn ukuran sebesar 0,7 cm, dan pada interval garis kedelapan hingga garis kesepuluh tidak mengalami pertambahan ukuran atau dengan kata lain interval garis tetap 0,2 cm. Pada kecambah II, hari pertama hingga hari kedelapan tidak terjadi pertambahna ukuran, interval garis tetap 0,2 cm, barulah pada hari kesembilan dan kesepuluh mengalami pertambahan ukuran menjadi 0,4 cm, sedangkan pada kecambah III yang dijadikan kontrol, terjadi pertambahan ukuran menjadi 2 cm. Pada hari kedua dan hari ketiga, pada kecambah I, kecambah II, dan kecamabah III, tidak dapat dilakukan pengukuran karena kecambah habis dimakan tikus. Pada pengamatan daerah tumbuh batang diperoleh data bahwa pada kecambah I hari pertama pengamatan telah terjadi pertambahan ukuran yang cukup pesat pada batang kecambah, hal ini dapat dilihat pada interval garis pertama panjang batang kecambah menjdi 0,5 cm, garis kedua menjadi 3 cm, garis ketiga menjadi 0,5 cm, garis keempat menjadi 8 cm, garis kelima menjadi 1,2 cm, garis keenam menjadi 1 cm, garis ketujuh menjadi 1,4 cm, garis

kedelapan menjadi 1 cm, garis kesembilan menjadi 0,5 cm, dan garis kesepuluh menjadi 4 cm. Pada kecambah II juga mengalami pertambahan ukuran yang cukup pesat pada interval garis pertama sampai interval garis keempat panjang garis menjadi 0,5 cm, pada garis kelima terjadi pertambahan garis menjadi 0,6 m, garis keenam menjadi 0,5 cm, garis ketujuh 0,5 cm, garis kedelapan 0,5 cm, garis kesembilan 3 cm, dan garis kesepuluh 4 cm. Pada kecambah III juga terjadi pertambahan ukuran menjadi 3,5 cm. Pada hari kedua dan hari ketiga, pada kecambah pertama tidak dapat dilakukan pengukuran karena kecambah habis dimakan tikus. Pada kecambah kedua masih dapat dilakukan pengukuran walaupun tidak mencapai interval garis ke sepuluh. Pada interval garis pertama pertambahan panjang menjadi 1 cm, garis kedua menjadi 0,9 cm, garis ketiga menjadi 1,5 cm, garis keempat menjadi 0,8 cm, garis kelima menjadi 1 cm, garis keenam menjadi 1,4 cm, garis ketujuh menjadi 0,7 cm, dan garis kedelapan menjadi 0,6 cm. Jadi, pada batang kecambah mengalami pertambahan panjang. Pada kecambah III sebagai kontrol, juga tidak dapat diukur pertambahan panjangnya karena kecambah habis dimakan tikus. Pertambahan ukuran yang terjadi pada ujung akar dan batang kecambah kacang hijau Phaseolus rdiatus membuktikan bahwa ujung akar dan ujung batang merupakan daerah tumbuh pada kecambah hal ini disebabkan karena adanya aktivitas jaringan meristem apikal yaitu jaringan meristem yang terdapat pada ujung akar dan ujung batang kecambah.

BAB V PENUTUP

V.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan daerah tumbuh pada ujung akar dan ujung batang kecamabah kacang hjau Phaseolus radiatus, dapat disimpulkan bahwa ujung akar dan ujung batang merupakan daerah tumbuh pada kecambah kacang hijau Phaseolus radiatus, hal ini disebabkan karena adanya aktivitas jaringan meristem apikal yaitu jaringan meristem yang terdapat pada ujung akar dan ujung batang tumbuhan. V.2 Saran Saran yang dapat saya berikan pada percobaan ini yaitu, sebelum menempatkan kecambah yang akan diamati, agar memperhatikan kondisi tempat yang akan ditempati agar kecambah tidak dimakan tikus.

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN II

PERCOBAAN II KURVA SIGMOID PERTUMBUHAN

NAMA NIM KELOMPOK

: MEYANTI TODING BUAK : H41110011 : I (SATU)

HARI/TGL PERC: SELASA/ 6 MARET 2012 ASISTEN : JAMILA

LABORATORIUM BOTANI JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Salah satu ciri kehidupan tumbuhan adalah bahwa tumbuhan tersebut mengalami proses tumbuh. Tumbuh adalah kenaikan volume yang tidak dapat balik. Besarnya pertumbuhan persatuan waktu disebut laju pertumbuhan. Laju tumbuh suatu tanaman atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh dengan pada ordinat dan waktu pada absisa, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk S atau kurva sigmoid. Kurva sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya ataupun sel-selnya (Dwiastuti, 2011). Besarnya pertumbuhan per satuan waktu disebut laju tumbuh. Laju tumbuh suatu tumbuhan atau bagiannya berubah menurut waktu. Oleh karena itu, bila laju tumbuh digambarkan dengan suatu grafik, dengan laju tumbuh pada ordinat dan waktu absisi, maka grafik itu merupakan suatu kurva berbentuk S atau sigmoid pertumbuhan ini berlaku bagi tumbuhan lengkap, bagian-bagiannya atau sel-selnya (Latunra, 2012). .Pertumbuhan tanaman dapat diukur dengan alat yang disebut

auksanometer. Daerah pertumbuhan pada akar berdasar aktifitasnya terbagi menjadi 3 daerah yaitu daerah pembelahan yaitu pada sel-sel di daerah ini aktif membelah (meristematik), daerah pemanjangan yaitu berada di belakang daerah pembelahan dan daerah diferensiasi yaitu bagian paling belakang dari daerah

pertumbuhan. Sel-sel mengalami diferensiasi membentuk akar yang sebenarnya serta daun muda dan tunas lateral yang akan menjadi cabang (Burhan, dkk., 1997). Berdasarkan teori di atas , maka dilakukanlah percobaan ini. I.2. Tujuan Percobaan Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengamati laju tumbuh daun sejak embrio dalam biji hingga daun mencapai ukuran tetap pada tanaman kacang merah Phaseolus vulgaris. I.3. Waktu dan Tempat Percobaan Percobaan mengenai Kurva Sigmoid Pertumbuhan ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 6 Maret 2012, pukul 14.30-15.00 WITA, di Laboratorium Botani, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Pengamatan dilakukan di Canopy pada hari ke 3,5,7,10, dan 14.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Proses pertumbuhan merupakan hal yang lazim bagi setiap tumbuhan. Dalam proses pertumbuhan terjadi pertambahan volume yang signifikan. Seiring berjalannya waktu pertumbuhan suatu tanaman terus bertumbuh. Proses tumbuh sendiri dapat dilihat pada selang waktu tertentu. Dimana setiap pertumbuhan tanaman akan menunjukkan suatu perubahan dan dapat dinyatakan dalam bentuk kurva/diagram pertumbuhan (Latunra, 2012). Teorinya, semua ciri pertumbuhan bisa diukur, tapi ada dua macam pengukuran yang lazim digunakan untuk mengukur pertambahan volume atau massa. Yang paling umum, pertumbuhan berarti pertambahan ukuran. Karena organisme multisel tumbuh dari zigot, pertambahan itu bukan hanya dalam volume, tapi juga dalam bobot, jumlah sel, banyaknya protoplasma, dan tingkat kerumitan. Pada banyak kajian, pertumbuhan perlu diukur. Pertambahan volume (ukuran) sering ditentukan denagn cara mengukur perbesaran ke satu atau dua arah, seperti panjang (misalnya, tinggi batang) atau luas (misalnya, diameter batang), atau luas (misalnya, luas daun). Pengukuran volume, misalnya dengan cara pemindahan air, bersifat tidak merusak, sehingga tumbuhan yang sama dapat diukur berulang-ulang pada waktu yang berbeda (Salisbury dan Ross, 1995). Pola pertumbuhan sepanjang suatu generasi secara khas dicirikan oleh suatu fungsi pertumbuhan yang disebut kurva sigmoid. Jangka waktunya mungkin bervariasi kurang dari beberapa hari sampai bertahun-tahun , tergantung pada

organisme tetapi pola kumpulan sigmoid tetap merupakan cirri semua organisme, organ, jaringan, bahkan penyusun sel. Apabila massa tumbuhan, volume, luas daun, tinggi atau penimbunan bahan kimia digambarkan dalam kurva berbernuk S atau kurva sigmoid. Misalnya pertumbuhan kecambah, yang pertumbuhannya lambat dinamakan fase eksponensial, fase ini relative pendek dalam tajuk budidaya . Selanjutnya fase eksponensial yaitu massa yang berlangsung cukup lama dan pertumbuhan konstan. Fase yang terahhir adalah fase senescence yaitu fase pematangan tumbuhan atau fase penuaan (Gardner, dkk.,1999). Kurva sigmoid adalah pola pertumbuhan sepanjang suatu generasi secara khas dicirikan oleh suatu fungsi pertumbuhan. Bentuk kurva sigmoid untuk semua tanaman kurang lebih tetap, tetapi penyimpangan dapat terjadi sebagai akibat variasi-variasi di dalam lingkungan. Ukuran akhir, rupa dan bentuk tumbuhan ditentukan oleh kombinasi pengaruh faktor keturunan dan lingkungan. Selain itu, umur daun juga dapat berpengaruh pada pertumbuhan tanaman karena terkait pada tinggi rendahnya laju fotosintesis. Kemampuan daun untuk berfotosintesis meningkat pada awal perkembangan daun, tetapi kemudian mulai turun, terkadang sebelum daun tersebut berkembang penuh ( fully developed). Daun yang mulai mengalami senencene akan berwarna kuning dan hilang

kemampuannya untuk berfotosintesis karena perombakan klorofil dan hilangnya fungsi kloroplas (Lakitan,1995). Tumbuhan akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan selama masih dalam fase hidup. Perkembangan tumbuhan sangat beragam, seperti halnya perkembangan pada daun yang memiliki ragam bentuk. Pengembangan kearah

luar terus terjadi melalui pembelahan, baik periklinal maupun antiklinal, pada ujung primordial (aspek/ujung distal). Lalu ketika daun kirakira berukuran 1mm, aktifitas meristematik mulai terjadi diseluruh bagian memanjangnya. Pada daun tumbuhan dikotil, sebagianbesar pembelahan sel sudah lama berhenti sebelum daun berkembang penuh, sering kali ketika daun mencapai kurang dari separuh ukuran akhirnya. Pada fase logaritmik, ukuran (V) bertambah secara eksponensial sesuai dengan waktu (t), yang berarti laju pertumbuhan awalnya berjalan lambat, tapi kemudian terus meningkat, pada fase linier, pertambahan ukuran berlangsung secara konstan, biasanya pada laju maksimum selama beberapa waktu. Laju pertumbuhan yang konstan ditunjukan oleh kemiringan yang konstan pada bagian atas tinggi kurva tanaman dan oleh bagian mendatar kurva laju tumbuh di bagian bawah, dan pada fase penuaan dicirikan oleh laju pertumbuhan yang tetap atau bahkan menurun saat pertumbuhan sudah mencapai kematangan konstan (Dwidjoseputro, 1986). Pengukuran daun tanaman mulai dari waktu embrio dengan menggunakan kurva sigmoid juga memiliki hubungan erat dengan perkecambahan biji tersebut yang otomatis juga dipengaruhi oleh waktu dormansi karena periode dormansi juga merupakan persyaratan bagi perkecambahan banyak biji. Ada bukti bahwa pencegah kimia terdapat di dalam biji ketika terbentuk. Pencegah ini lambat laun dipecah pada suhu rendah sampai tidak lagi memadai untuk menghalangi perkecambahan ketika kondisi lainnya menjadi baik. Waktu dormansi berakhir umumnya didasarkan atas suatu ukuran yang bersifat kuantitatif. Untuk tunas dan biji dormansi dinyatakan berhasil dipecahkan jika 50 % atau lebih dari populasi

biji tersebut telah berkecambah atau 50% dari tunas yang diuji telah menunjukkan pertumbuhan. Bagi banyak tumbuhan angiospermae di gurun pasir mempunyai pencegah yang telah terkikis oleh air di dalam tanah. Dalam proses ini lebih banyak air diperlukan daripada yang harus ada untuk perkecambahan itu sendiri. (Kimball, 1992). Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan tumbuh yaitu (Dwiastuti, 2011): Faktor Eksternal (Faktor dari luar) 1. Air dan Mineral Air dan mineral berpengaruh pada pertumbuhan tajuk 2 akar. Diferensiasi salah satu unsur hara atau lebih akan menghambat atau menyebabkan pertumbuhan tak normal. 2. Faktor Kelembaban/Kelembapan Udara Kadar air dalam udara dapat mempengaruhi pertumbuhan serta

perkembangan tumbuhan. Tempat yang lembab menguntungkan bagi tumbuhan di mana tumbuhan dapat mendapatkan air lebih mudah serta berkurangnya penguapan yang akan berdampak pada pembentukan sel yang lebih cepat. 3. Suhu Suhu diantaranya mempengaruhi kerja enzim. Suhu ideal yang diperlukan untuk pertumbuhan yang paling baik adalah suhu optimum, yang berbeda untuk tiap jenis tumbuhan. Tinggi rendah suhu menjadi salah satu faktor yang menentukan tumbuh kembang, reproduksi dan juga kelangsungan hidup dari

tanaman. Suhu yang baik bagi tumbuhan adalah antara 22C sampai dengan 37C. Temperatur yang lebih atau kurang dari batas normal tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan yang lambat atau berhenti. 4. Cahaya Matahari Sinar matahari sangat dibutuhkan oleh tanaman untuk dapat melakukan fotosintesis (khususnya tumbuhan hijau). Jika suatu tanaman kekurangan cahaya matahari, maka tanaman itu bisa tampak pucat dan warna tanaman itu kekuning-kuningan (etiolasi). Pada kecambah, justru sinar mentari dapat menghambat proses pertumbuhan. Faktor Internal (Faktor dari Luar) 1. Hormon Hormon pada tumbuhan juga memegang peranan penting dalam proses perkembangan dan pertumbuhan seperti hormon auksin untuk membantu perpanjangan sel, hormon giberelin untuk pemanjangan dan pembelahan sel, hormon sitokinin untuk menggiatkan pembelahan sel dan hormon etilen untuk mempercepat buah menjadi matang. 2. Gen Faktor gen juga ikut mempengaruhi kecepatan tumbuh tanaman karena gen merupakan faktor pembawa sifat keturunan.

BAB III METODE PERCOBAAN

III. 1 Alat Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah penggaris, dan nampan. III. 2 Bahan Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kecambah kacang merah Phaseolus vulgaris, air, tanah, dan polybag. III. 3 Cara Kerja Cara kerja dari percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Merendam biji kacang merah Phaseolus vulgaris selama 2 jam di dalam nampan yang berisi air. 2. 3. Memilih 28 biji kacang merah Phaseolus vulgaris yang baik. Mengupas 3 biji kacang merah Phaseolus vulgaris dan membuka kotiledonnya, kemudian mengukur panjang embrionya dengan penggaris kemudian menghitung nilai rata-rata panjang embrionya. 4. Menanam 25 biji dalam polybag, setiap polybag berisi 5 biji kacang merah Phaseolus vulgaris, kemudian menyiram setiap polybag dengan air secukupnya selama 2 minggu. 5. 6. Mengukur panjang daun pertama pada umur 3,5,7,10,dan 14 hari. Mengukur daun pada umur 3 dan 5 hari yang dilakukan dengan menggali tanah apabila daun belum muncul di permukaan tanah. 7. Menentukan rata-rata panjang daun dari tiap-tiap seri pengukuran.

8.

Membuat grafik dengan panjang rata-rata daun dan waktu pengukuran sebagai absisa.

DAFTAR PUSTAKA

Burhan, Walyati dkk. 1997. Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. Universitas Andalas. Padang. Dwiastuti, Atun. 2011. Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman, http://atundwiastuti.blogspot.com/, diakses pada tanggal 7 Maret 2012, pukul13:53 WITA. Dwidjoseputro, D., 1986. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Gardner, F. P., R. B. Pearce dan R. L. Mitchell. 1999. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press, Jakarta. Kimball, J.W. 1992. Biologi Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Lakitan, Benyamin. 1995. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta. Latunra, A. Ilham, 2012, Penuntun Praktikum Fisiologi Tumbuhan, Universitas Hasanuddin, Makassar. Salisbury, F. B., dan C. W. Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid III. ITB. Bandung.