Anda di halaman 1dari 13

HAK atas KEKAYAAN dan INTELEKTUAL HAK PATEN

Disusun oleh : Fatra Lysandra Niken Trihapsari Aziz Indro Suharto Bayu Prastowo Qori Uci S Reninta Praptadewi E0008034 E0008062 E0008121 E0008125 E0008210 E0008218

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2010

HAK PATEN A. Sejarah Paten


Kata paten berasal dari bahasa Latin 'litterae patentes', yang berarti surat terbuka. Seperti surat-surat itu digunakan oleh raja abad pertengahan untuk menganugerahkan hak-hak dan privilese. Dengan segel kerajaan, surat-surat bukti menjabat sebagai hak-hak itu, bagi semua untuk melihat. Sementara sistem pertama untuk mematenkan penemuan tidak dapat dimasukkan ke satu negara, secara umum diakui bahwa sistem informal pertama dikembangkan di Renaisans Italia. Sistem ini diperkenalkan ke seluruh Eropa oleh Venesia berabe kaca-blower untuk melindungi keterampilan mereka terhadap orang-orang pekerja lokal. Tercatat pertama penemuan paten diberikan kepada Yohanes dari Utynam. Pada 1449, ia dianugerahi 20 tahun monopoli untuk proses pembuatan gelas yang sebelumnya tidak dikenal di Inggris (kemudian, ia diberikan untuk jendela kaca dari Eton College Chapel, Inggris). Sebagai imbalan atas monopoli, Yohanes dari Utynam diperlukan untuk mengajarkan proses asli Inggris. Fungsi yang sama menyampaikan informasi sekarang dipenuhi oleh publikasi dari spesifikasi paten. Di koloni Amerika Utara mengadopsi sistem serupa monopoli terbatas. Setelah revolusi tahun 1788 Pasal I, bagian 8 dari Konstitusi diratifikasi: Kongres akan memiliki kekuatan. . . untuk mempromosikan kemajuan ilmu pengetahuan dan seni berguna dengan mengamankan untuk terbatas kali untuk penulis dan penemu hak eksklusif untuk masing-masing menulis dan penemuan-penemuan. Baru-baru ini, selama tahun 1980-an, kita telah melihat perkembangan supranasional berwenang mengeluarkan paten - Kantor Paten Eropa dan Kantor Kekayaan Intelektual Dunia (WIPO). Badan-badan ini memungkinkan aplikasi paten yang diajukan secara bersamaan di sejumlah negara. Pada tahun 1995, hukum paten AS telah diubah mengikuti perjanjian GATT USPTO untuk mengharmonisasikan praktek dengan sistem paten di negara lain.

B. Pengertian Paten

Paten adalah hak eksklusif yang diberikan oleh Negara kepada Inventor atas hasil Invensinya di bidang teknologi, yang untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri Invensinya tersebut atau memberikan persetujuannya kepada pihak lain untuk melaksanakannya (menurut Ps 1 ayat (1) Undang-Undang No 14 Tahun 2001), dan disini yang dimaksud dengan inventor adalah seorang yang secara sendiri atau beberapa orang yang secara bersama-sama melaksanakan ide yang dituangkan ke dalam kegiatan yang menghasilkan Invensi (Ps 1 ayat (3) UU No 14 Th 2001), sedangkan invensi adalah ide Inventor yang dituangkan ke dalam suatu kegiatan pemecahan masalah yang spesifik di bidang teknologi dapat berupa produk atau proses, atau penyempurnaan dan pengembangan produk atau proses (Ps 1 ayat (2) UU No 14 Th 2001).

Pengaturan tentang hak Paten


Saat ini terdapat beberapa perjanjian internasional yang mengatur tentang hukum paten. Antara lain, WTO Perjanjian TRIPs yang diikuti hampir semua negara. Pemberian hak paten bersifat teritorial, yaitu, mengikat hanya dalam lokasi tertentu. Dengan demikian, untuk mendapatkan perlindungan paten di beberapa negara atau wilayah, seseorang harus mengajukan aplikasi paten di masing-masing negara atau wilayah tersebut. Untuk wilayah Eropa, seseorang dapat mengajukan satu aplikasi paten ke Kantor Paten Eropa, yang jika sukses, sang pengaju aplikasi akan mendapatkan multiple paten (hingga 36 paten, masing-masing untuk setiap negara di Eropa), bukannya satu paten yang berlaku di seluruh wilayah Eropa. Di Indonesia pengaturan tentang Paten terdapat dalam UU No.14 Tahun 2001.

C. Paten Law Treaty dan hubungannya dengan undang-undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten
Patent Law Treaty (PLT) adalah traktat World Intellectual Property Organization (WIPO). WIPO didirikan di Jenewa, Swiiss, pada tahun 1970 dan merupakan salah satu dari 14 perwakilan khusus dalam system PBB. Sampai tanggal 31 Desember 2002 sudah mempunyai 179 negara anggota. WIPO

mengedepankan perlindungan Hak atas Kekayaan Intelektual, mempermudah adopsi traktat-traktat di bidang Hak atas Kekayaan Intelektual, dan menganggap penting suatu pengelolaan Hak atas Kekayaan Intelektual di seluruh dunia. Traktat dan peraturan-peraturannya akan mempermudah dan mengharmonisasi praktik-praktik administratif diantara kantor-kantor Hak atas Kekayaan Intelektual di kawasan nasional dan regional. Lebih spesifik lagi, hasil utama dari traktat paten ini meliputi : a. Penyerdehanaan persyaratan untuk memperoleh tanggal penerimaan permohonan paten; b. Harmonisasi persyaratan yang mungkin diminta oleh kantor-kantor nasional, sehubungan dengan bentuk dan isi pendaftaran; c. Kemungkinan bagi pemilik dan pemohon untuk melaksanakan tata cara administratif tertentu tanpa perwakilan; d. Penyederhanaan tata cara untuk pengalihan kepemilikan; e. Kemungkinan perpanjangan waktu prioritas menurut kondisi tertentu; f. Tersedianya mekanisme yang lebih baik untuk menghindari hilangnya hak atas paten.

D. Obyek Paten
1. Suatu invensi baru di bidang teknologi 2. Dapat diterapkan dalam industry 3. Berupa proses atau hasil produksi atau penyempurnaan dan pengembangan proses atau hasil produksi

E. Subyek Paten
Secara umum, ada tiga kategori besar mengenai subjek yang dapat dipatenkan: 1. Proses mencakup algoritma, metode bisnis, sebagian besar perangkat lunak (software), teknik medis, teknik olahraga dan semacamnya.

2. Mesin mencakup alat dan aparatus. 3. Barang yang diproduksi mencakup perangkat mekanik, perangkat elektronik dan komposisi materi seperti kimia, obat-obatan, DNA, RNA, dan sebagainya. Dalam Undang-Undang Paten disebutkan bahwa tidak semua penemuan dapat diberikan paten, karena dalam pasal 7 UU No.14 tahun 2001 ditegaskan bahwa paten tidak diberikan untuk penemuan tentang: 1. Proses atau produk yang pengumuman dan penggunan atau pelaksanaannya bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku,morlitas agama, ketertiban umum, dan kesusilaan 2. Metoda pemerisaan, perawatan pengobatan, dan atau pembedahan yang diterapkan terhadap manusia dan atau hewan 3. Teori metode di bidang ilmu pengetahuan, dan matematika 4. Semua mahluk hidup dan jasad renik 5. Proses biologis yang isensial untuk memproduksi tanaman atau hewan, kecuali proses non-biologis atau proses mikro biologis. Paten sebagaimana dimaksud diatas diberikan untuk jangka waktu untuk 20 (duapuluh ) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu tersebut tidak diperpanjang. Sedangkan untuk paten sederhana diberikan jangka waktu 10(sepuluh) tahun terhitung sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu tersebut juga tidak dapat diperpanjang.

F. Paten Sederhana
Dalam undang-undang hak Paten, obyek paten sederhana tidak mencakup proses, penggunaan, komposisi, dan produk yang merupakan product by process. Obyek paten sederhana hanya dibatasi pada hal-hal yang bersifat kasat mata (tangible), bukan yang tidak kasat mata (intangible). Di beberapa Negara, seperti Jepang, Amerika Serikat, Filipina, dan Thailand, pengertian paten sederhana disebut

utility model, petty patent, atau simple patent, yang khusus ditujukan untuk benda atau alat. Permohonan paten sederhana diumumkan paling lambat 3 bulan sejak tanggal penerimaan, hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada masyarakat luas guna mengetahui adanya permohonan atas suatu invensi serta menyampaikan pendapatnya mengenai hal tersebut. Selain itu dengan pengumuman tersebut, dokumen permohonan yang telah diumumkan tersebut segera dapat digunakan sebagai dokumen pembanding, jika diperlukan dalam pemeriksaan substantive tanpa harus melanggar kerahasiaan invensi. Disamping itu, konsep perlindungan bagi paten sederhana yang diubah menjadi sejak tanggal penerimaan, bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada pemegang paten sederhana mengajukan gugatan ganti rugi akibat pelanggaran terhitung sejak tanggal penerimaan. Gugatan ganti rugi baru dapat diajukan setelah paten sederhana diberikan. Perbedan Antara Paten dengan Paten Sederhana Keterangan No. 1. Jumlah Klaim 1 invensi atau lebih 1 invensi yang satu 2. Masa perlindungan invensi 20 th merupakan kesatuan (sejak tgl 10 th (sejak tgl PATEN PATEN SEDERHANA

penerimaan 3. 4. 5. Pengumuman permohonan Jangka

penerimaan

permohonan paten) permohonan paten) 18 bln setelah 3 bulan setelah tanggal tanggal penerimaan penerimaan waktu 6 bulan terhitung 3 bulan terhitung sejak

mengajukan keberatan sejak diumumkan di umumkan Yang diperiksa dalam Kebaruan (Novelty), Kebaruan (Novelty), pemeriksaan subtantif langkah dapat inventif, dapat diterapkan dalam diterapkan industri

6.

Lama

dalam industri pemeriksaan 36 bln terhitung 24 bln terhitung sejak

subtantif

sejak tgl penerimaan tgl permohonan pemeriksaan subtantif Produk atau proses permohonan

penerimaan

pemeriksaan subtantif Produk atau alat

7.

Obyek paten

G. Sistem Pendaftaran Paten


Ada 2 macam sistem pendaftaran paten, yaitu :
a. Sistem First to File adalah suatu sistem yang memberikan hak paten bagi

mereka yang mendaftar pertama atas invensi baru sesuai dengan persyaratan. System ini dianut oleh Indonesia.
b. Sistem First to Invent adalah suatu system yang memberikan hak paten bagi

mereka yang menemukan inovasi pertama kali sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan

H. Pengajuan Permohonan Paten


Ada beberapa hal yang sebaiknya dilakukan oleh seorang Inventor sebelum mengajukan permohonan Paten, diantaranya : a. Melakukan penelusuran. Tahapan ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi tentang teknologi terdahulu dalam bidang invensi yang sama (state of the art) yang memungkinkan adanya kaitannya dengan invensi yang akan diajukan. Melalui informasi teknologi terdahulu tersebut maka inventor dapat melihat perbedaan antara invensi yang akan diajukan permohonan Patennya dengan teknologi terdahulu.

b. Melakukan Analisis. Tahapan ini dimaksudkan untuk menganalisis apakah ada ciri khusus dari invensi yang akan diajukan permohonan Patennya dibandingkan dengan Invensi terdahulu.

c. Mengambil Keputusan. Jika invensi yang dihasilkan tersebut mempunyai ciri teknis dibandingkan dengan teknologi terdahulu, maka invensi tersebut sebaiknya diajukkan permohonan Patennya. Sebaliknya jika tidak ditemukan ciri khusus, maka invensi tersebut sebaiknya tidak perlu diajukan untuk menghindari kerugian dari biaya pengajuan permohonan Paten.

I. Syarat Pemberian Paten


Syarat Pemberian Paten harus memenuhi ketentruan sebagai berikut : 1. Penemuan itu harus baru. Dalam hal ini penemuan dalam arti pendapatan, yaitu: a. Harus ada pendapatan b. Pendapatan itu harus berwujud hasil benda atau cara kerja. c. Hasil pendapatan harus secara praktis dapat digunakan. d. Di bidang perindustrian. e. Hasil pendapatan, cara kerja, atau perbaikannya harus baru. 2. Penemuan itu harus merupakan pemecahan masalah tertentu di bidang teknologi. 3. Penemuan itu harus dapat dilaksanakan di bidang industry.

J. Sistem Pemberian Paten


Ada 2 sistem dalam pemberian paten, yaitu : 1. System declatoir Menurut system declatoir, praktis semua permintaan paten yang memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan dan pula tidak bertentangan dengan ketertiban umum, kesusilaan dan undang-undang Negara, diberikan hak paten. Dalam system ini tidak diselidiki barunya pendapatan, kalau ternyata kemudian tidak baru, maka akan memberikan dasar pembatalan hak paten itu melalui pengadilan. Negara-negara yang menganut system ini adalah Belgia dan perancis sebelum perang dunia II. 2. System konstitutif

Dalam system ini diselidiki dulu barunya suatu pendapatan dan kalau ternyata benar kemudian diberikan hak paten. Negara-negara yang menganut system ini mula-mula adalah Amerika Serikat dan Inggris. K. Hak Yang Dimiliki Oleh Pemegang Paten Pemegang paten memiliki hak eklusif untuk melaksanakan Paten yang dimilikinya dan melarang orang lain yang tanpa persetujuannya : a. Dalam hal Paten Produk : membuat, menjual, mengimpor, menyewa, menyerahkan, memakai, menyediakan untuk di jual atau disewakan atau diserahkan produk yang di beri paten. b. Dalam hal Paten Proses : Menggunakan proses produksi yang diberi Paten untuk membuat barang dan tindakan lainnya sebagaimana yang dimaksud dalam huruf a. - Pemegang Paten berhak memberikan lisensi kepada orang lain berdasarkan surat perjanjian lisensi. - Pemegang Paten berhak menggugat ganti rugi melalui pengadilan negeri setempat, kepada siapapun, yang dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 diatas. - Pemegang Paten berhak menuntut orang yang dengan sengaja dan tanpa hak melanggar hak pemegang paten dengan melakukan salah satu tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam butir 1 diatas.

L. Perlindungan Hukum bagi Paten


Hak Paten yang menurut sejarahnya muncul di Inggris pada abad ke-16, di zaman ratu Elizabeth I. Dalam perjalanan menuju ke abad 21 mendatang, dari aspek Hak atas Kekayaan Intelektual (HAKI), akan memegang peranan yang sangat penting dalam perdagangan Internasional. Dalam pasar global mendatang, yang dicirikan dengan semakin pentingnya peranan daya saing dan keunggulan produk, temuan (invention) menjadi aset yang sangat berharga, melebihi nilai aset-aset ekonomi yang selama ini telah ada (SDM, SDA, Modal dan physical capital lainnya). Jadi, perekonomian dunia di mileniumnya akan dating, akan lebih bergantung pada intellectual capital, yang mencakup pengetahuan, karya penemuan,

ekspresi kreatifitas, akumulasi pendidikan, akumulasi pelatihan, akumulasi ketrampilan yang terinternalisasikan dalam ilmu, enginnering, dan lahan kerja praktek dan professional. Modal Intelektual capital akan menjadi lebih penting dan strategis fungsinya bila dibandingkan dengan physical capital yang sebelumnya menjadi sumber utama proses produk barang-barang konsumsi untuk kesejahteraan umat manusia.

M.Klaim Paten
Klaim merupakan bagian terpenting dari suatu permohonan paten. Bagian inilah yang menentukan luas tidaknya lingkup perlindungan suatu paten. Bagian ini pulalah yang terutama diperiksa oleh periksa paten untuk menentukan kebaruan (novelty), langkah inventif (inventife step) dan industrial applicability suatu invensi. Oleh karena itu, pemahaman mengenai klaim dan cara penulisannya sangat penting bagi inventor dan pemohon paten untuk memperoleh lingkup perlindungan paten yang maksimal, hal ini juga penting bagi pemeriksa paten dalam menentukan apakah bentuk atau jenis suatu klaim allowable atau tidak, sehingga mempercepat pemberian keputusan pemeriksaan paten. Meskipun sangat penting, jenis-jenis klaim tidak diatur secara jelas dalam UndangUndang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten dan Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1991 tentang Tata Cara Permintaan Paten (selanjutnya disingkat menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 34). Sebetulnya Peraturan Pemerintah Nomor 34 menyebutkan tentang klaim mandiri (independent claim) dan klaim turunan (dependent claim), tetapi definisi dan cara penulisan kedua klaim ini tidak dijelaskan secara rinci. Variasi dari klaim produk dan klaim penggunaan (use claim) yang umum dikenal dalam system paten dinegara lain dan banyak dijumpai pada permohonan paten yang diajukan pemohon dari Negara lain, sama sekali tidak diatur dalam kedua peraturan dibidang paten diatas. Khususnya claim product by processed dan claim medical use, sering menjadi pertanyaan dan sumber keraguraguan pemeriksa paten, karena belum ada ketentuan yang pasti mengenai jenisjenis klaim ini, sementara banyak dijumpai dalam kegiatan pemeriksaan sehari-hari. Secara umum klaim dibagi atas dua kategori utama, yaitu

a. Klaim menyangkut physical entity Klaim ini sering disebut klaim produk, misalnya substansi atau komposisi, object, article, peralatan, mesin atau system peralatan. b. Klaim menyangkut activity. Klaim ini sering disebut klaim proses, misalnya metode dan penggunaan.

Pertanyaan dan Jawaban dari hasil diskusi : 1. Dani Yuli A (E0008311) Pertanyaan : Arti dari kata penumuan dalam arti pendapatan dalam syarat pemberian Paten? Jawab : bahwa penemuan dan pendapatan itu berbeda. Di dalam Pemberian hak Paten barang yang dipatenkan harus benar-benar baru, belum ada sebelumnya.

Sedangkan apabila dikatakan sebagai penemuan itu kurang tepat sebab penemuan itu sesuatu itu sudah ada sebelumnya sedangkan pendapatan itu benar-benar baru atau belum ada wujudnya. 2. Imron Nurul Kolbi (E0008126) Pertanyan : Pasal apa yang mengatur apabila ada yang melanggar suatu hak Paten ? Jawab : terdapat di dalam UU hak Paten sendiri yaitu UU no 14 tahun 2001 yaitu di dalam pasal 130, pasal 131, pasal 132, pasal 133, pasal 134, pasal 135 3. Whini Nalurita (E0008084) Pertanyaan : bagaimana caranya mendapatkan Hak Paten di negara lain ? Jawab : jika terjadi seperti itu kita sebaga invensi langsung saja mendaftarkan hak paten kita di kantor paten negara tersebut. 4. Agus Kurniawan (E0008273) Pertanyaan : bagaimana tindak lanjut jika suatu Paten di Indonesia di klaim negara lain ? Jawab : 5. Angger Budiadji (E0008282) Pertanyaan : Bagaimana menurut anda jika suatu karya seni milik Indonesia Di Patenkan oleh negara lain ? Jawab : jika negara lain ingin mematenkan suatu karya seni yang bukan miliknya biasanya kantor paten akan menelusuri terlebih dahulu apakah itu benar-benar suatu invensi miliknya atau bukan. Dalam contom tari Pandet milik Indonesia yang di klaim negara lain, tentu masyarakat umum tau bahwa tari Pandet itu milik Indonesia karena banyak sekali wisatawan asing datang di Bali menyaksikan tari Pandet tersebut jadi kantor Paten pun tidak mengabulkan permohonannya tersebut. Namun jika ini benar-benar terjadi sebaiknya seseorang atau negra yang merasa mamiliki karya seni hasil ciptaannya harus secepat mungkin mendaftarkan karya tersebut di kantor hak Paten karena Indonesia menganut system first to file yang dikatakan bahwa siapa orang yang mendaftarkan dahulu itu yang berhak. 6. Bambang Prayitno (E0008124)

Pertanyaaan : apa konsekuensi yang di dapatkan dalam system first to file itu sendiri? Jawab : disini jelas sekali bisa dilihat dari pengertian first to file sendiri bahwa Sistem First to File adalah suatu sistem yang memberikan hak paten bagi mereka yang mendaftar pertama atas invensi baru sesuai dengan persyaratan, sehingga apabila terjadi sengketa A orang yang sebenarnya menemukan invensi tersebut namun invensi tersebut di daftarkan oleh B terlebih dahulu, jadi disini A merasa dirugikan, namun A tidak dapat berbuat apa-apa setelah itu, A kalah dahulu. 7. Heri Susanto (E0008357) Pertanyaan : tentang system pendaftaran first to file UU apa yang mengatur dan pasal berapa, lalu bagaimana pendapat anda tentang perkembangan hak paten di Indonesia dengan menggunakan system tersebut saat ini ? Jawab : UU yang mengatur system first to file ini sangat jelas yaitu di dalam UU hak paten yaitu UU no 14 tahun 2001 pasal yang mengaturnya sendiri sebaiknya kita belajar sendiri mencari pengetahuan yang lebih dengan membaca UU hak paten tersebut agar lebih jelas nantinya. Mengenai perkembangan tentang system ini kita bisa melihat sendiri bagaimana perkembangan saat ini, mungkin pemerintah dan masyarakat harus lebih hati-hati jika menemukan suatu invensi, harus lebih cepat mendaftarkan hak nya tersebut agar tidak di patenkan orang lain yang sebenarnya tidak memiliki hak tersebut.