Anda di halaman 1dari 10

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Rumah sakit adalah bagian integral organisasi sosial dan medik, yang bertugas memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat sekitar dan lingkungannya. Sebagai Institusi publik rumah sakit memberikan pelayanan yang ekstra efektif dan efisien.(www.scribd.com) Rumah sakit sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan perorangan, maupun bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Penyelengaraan pelayanan kesehatan dirumah sakit mempunyai karakteriktik dan organisasi yang sangat kompleks. Berbagai jenis tenaga kesehatan dengan perangkat keilmuan yang beragam, berinteraksi satu sama lain. Ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran yang berperan sangat pesat yang diikuti tenaga kesehatan dalam rangka pemberian pelayanan yang bermutu standard, membuat semakin kompleksnya permasalahan di rumah sakit. Pada hakikatnya rumah sakit berfungsi sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan. Fungsi dimaksud memiliki makna tanggung jawab Pemerintah dalam meningkatkan Alasan orang taraf kesejahteraan sakit agar masyarakat. mengalami

(www.docstoc.com).

kerumah

penyembuhan penyakit dan pemulihan penyakit serta menyelenggarakan kegiatan yang berfungsi sebagai tempat pendidikan kesehatan penelitian.

Rumah Sakit mempunyai peranan yang sangat besar sekali dalam peningkatan derajat kesehatan, hal ini telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terutama dalam memperoleh pelayanan secara cepat, namun

disisi lain yang tidak terpisahkan adalah bahwa Rumah Sakit selain tempat atau sarana pelayanan umum dibidang kesehatan, juga sebagai tempat berkumpulnya orang sakit dan orang sehat yang bisa menimbulkan terjadinya pencemaran lingkungan, penularan penyakit, dan gangguan kesehatan bagi masyarakat disekitar Rumah Sakit (Permenkes

986/Menkes/Per/XI/1992).

Adapun aspek kesehatan lingkungan (sanitasi dasar) yang perlu diupayakan di rumah sakit adalah Pengendalian Air Bersih (PAB), Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu (PVBP), Pengelolaan Sampah dan Limbah Cair, Penyehatan Makanan dan Minuman (PMM) atau Hygiene dan Sanitasi Makanan (HSM) dan Pengawasan Pencemaran Lingkungan Fisik rumah sakit.

Salah satu upaya tidak hanya sebatas promotif, penyembuhan (curative) dan pemulihaan (rehabilitatif) saja, tetapi juga perlu mengupayakan upaya pencegahan (preventif). Hal ini karena rumah sakit adalah tempat dimana terdapat orang- orang sakit atau dirawat, maka sangat perlu mengupayakan aspek kesehatan aspek kesehatan lingkungan sebagai upaya pencegahan penularan penyakit dari orang sakit ke orang sehat, orang sakit ke orang sakit lainnya maupun terjadinya penyakit tanpa penularan namun berasal dari lingkungan rumah sakit yang kurang sehat itu sendiri (infeksi nosokomial).

Dikutip dari http://id.wikipedia.org/wiki/Infeksi_nosokomial Infeksi nosokomial atau infeksi yang diperoleh dari rumah sakit adalah infeksi yang tidak dideritapasien saat masuk ke rumah sakit melainkan setelah 72 jam berada di tempat tersebut. Infeksi ini terjadi bila toksin atau agen penginfeksi menyebabkan infeksi lokal atau sistemik.

Dalam Buku Komponen Sanitasi Rumah Sakit Untuk Institusi Pendidikan Tenaga Sanitasi, Infeksi nosokomial adalah penyakit yang terjadi akibat infeksi silang (cross infection) maupun swa infeksi (self infection). Infeksi nosokomial terjadi karena beberapa faktor, yaitu agen penyakit, sumber, lingkungan, penularan dan hospes. Udara merupakan salah satu faktor lingkungan. Keadaan udara sangat mempengaruhi, seperti kelembaban udara, suhu dan pergerakan udara. (Suharto dan Utji, 1994:57). Infeksi nosokomial disebarkan melalui udara perlu dipantau terus- menerus. Oleh karena itu perlu adanya upaya pencegahan terjadinya penularan infeksi nosokomial kepada orang sehat baik petugas maupun pengunjung. Salah satu upaya pengendalian yang dapat dilakukan untuk memperkecil infeksi nosokomial adalah dengan memelihara kualitas lingkungan meliputi faktor fisik ruangan (suhu, kelembaban, pencahayaan) dan konstruksi bangunan (ventilasi, langit- langit, dinding, lantai, pintu). Semua upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas udara dalam ruangan yang berada dalam rumah sakit. (Depkes RI, 1996:6)

Ruangan yang berada di rumah sakit umum biasanya merupakan fasilitas yang mudah ditemui di suatu negara, dengan kapasitas rawat inap sangat besar untuk perawatan intensif ataupun jangka panjang. Rumah sakit jenis ini juga dilengkapi dengan fasilitas ruang operasi/ bedah, bedah plastik, ruang bersalin, laboratorium, radiologi, patologi, hemodialisa, ruang

perawatan bayi, dan sebagainya. Tetapi kelengkapan fasilitas ini bisa saja bervariasi sesuai kemampuan penyelenggaranya.

Ruangan yang termasuk ruangan terpenting adalah ruang operasi. Karena pada saat operasi, pasien mengalami pembedahan, oleh karena itu segala sesuatu yang berada di ruang operasi haruslah steril termasuk kualitas udara ruang. Hal tersebut semata- mata untuk mencegah terjadi sumber infeksi. (Depkes RI, 1995:101)

Dikutip dari http://repository.usu.ac.id Suatu penelitian yang yang dilakukan oleh WHO menunjukkan bahwa sekitar 8,7% dari 55 rumah sakit dari 14 negara yang berasal dari Eropa, Timur Tengah, Asia Tenggara dan Pasifik tetap menunjukkan adanya infeksi nosokomial dengan Asia Tenggara sebanyak 10,0% (Ducel, G, 2002).

Dari data tentang infeksi nosokomial (www.spiritia.com) sebetulnya rumah sakit memang sumber penyakit. Di negara maju pun, infeksi yang didapat dalam rumah sakit terjadi dengan angka yang cukup tinggi. Misalnya, di AS, ada 20.000 kematian setiap tahun akibat infeksi nosokomial. Di seluruh dunia, 10 persen pasien rawat inap di rumah sakit mengalami infeksi yang baru selama dirawat 1,4 juta infeksi setiap tahun. Di Indonesia, penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di DKI Jakarta pada 2004 menunjukkan bahwa 9,8 persen pasien rawat inap mendapat infeksi yang baru selama dirawat. Hal ini menunjukkan bahwa kasus infeksi nosokomial dari tahun ke tahun meningkat. Semakin besar tipe dan fasilitas media rumah sakit, semakin ramai lalu lalang orang/ personel di gedung rumah sakit maka semakin besar infeksi nosokomial apabila sanitasi rumah sakit tidak terjaga dengan baik.

Berdasarkan hasil observasi awal pada saat penulis praktek kerja lapangan pada Ruang Operasi di PT. Rumah Sakit Pelni memiliki 6 ruang operasi, melihat bahwa dari hasil data sekunder pada Juni 2011 hasil pemeriksaan bakteriologis udara yang telah dilakukan oleh Balai Besar Laboratorium Kesehatan Jakarta maka terdapat 246 CFU/m3 menyatakan Positif terdapat Staphylococcus sp dan Jamur dan penulis melakukan observasi kedua pada bahwa hasil pemeriksaan yang telah dilakukan PT. Rumah Sakit Pelni data terbaru pada bulan April 2012 ditemukan <50 Staphylococcus epidermis. Sedangkan menurut Kepmenkes RI No. 1204/Menkes/SK/IX/2004 tentang persyaratan Kesehatan Lingkungan rumah sakit menyatakan standar

mikroorganisme yang berada di ruang operasi adalah 10 CFU/m 3 dan ruang operasi termasuk Zona dengan Risiko Sangat Tinggi.

Sehubungan dengan hal tersebut penulis merasa tertarik untuk mengadakan penelitian terhadap faktor faktor yang mempengaruhi kualitas bakteriologis udara pada ruangan operasi di Rumah Sakit Pelni Jakarta Barat pada tahun 2012.

1.2 Permasalahan

Berdasarkan latar belakang diatas, maka permasalahan yang diangkat oleh penulis adalah Faktor- faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas bakteriologis udara pada ruang operasi di Rumah Sakit Pelni Jakarta Barat Tahun 2012.

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Mendapat

gambaran

umum

mengenai

faktor-

faktor

yang

dapat

mempengaruhi kualitas bakteriologis udara pada ruang operasi di Rumah Sakit Pelni, Jakarta Barat tahun 2012.

1.3.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus dalam kegiatan penelitian ini yang ingin dicapai penulis antara lain untuk mengetahui : 1. Kualitas bakteriologis udara pada ruang operasi di RS. Pelni, Jakarta Barat. 2. Aspek teknis meliputi faktor fisik (suhu, kelembaban, pencahayaan), konstruksi bangunan (lantai, dinding, ventilasi, langit- langit, dan pintu), pemeliharaan ruang bangunan dan pengendalian. 3. Aspek administasi meliputi kebijakan rumah sakit mengenai

pengawasan terhadap kualitas bakteriologis udara di RS. Pelni khususnya pada ruang operasi. 4. Aspek sosial meliputi pendidikan, masa kerja, tingkat pengetahuan, sikapp, tindakan petugas kebersihan ruang operasi, penanggung jawab ruangan serta petugas yang bertanggung jawab terhadap sterilisasi dan kebersihan ruang operasi.

1.4 Manfaat

1.4.1 Bagi RS. Pelni Jakarta Barat Hasil penelitian ini harap dimanfaatkan sebagai informasi, bahan evaluasi dan masukan untuk pihak rumah sakit sehingga dapat meningkatkan kualitas kegiatan sanitasi yang dilakukan khususnya pada kegiatan pemeriksaan atau pemantauan kualitas bakteriologis udara pada ruang operasi di RS. Pelni Jakarta Barat.

1.4.2 Bagi Penulis Sebagai aplikasi teori yang telah didapat selama perkuliahan dan media untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan penagalaman di bidang ilmu kesehatan lingkungan khususnya penanganan kualitas bakteriologis udara.

1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan Menambah referensi kepustakaan bagi pihak institusi, sebagai tambahan informasi dan pengetahuan bagi kesehatan masyarakat pada umumnya kesehatan lingkungan pada khususny 1.5 Ruang Lingkup Penelitian Agar pembahasan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, maka penelitian ini hanya dilakukan dibruang operasi RS. Pelni Jakarta Barat. Dengan obyek penelitian adalah kualitas bakteriologis udara dalam ruang operasi faktor- faktor yang dapat mempengaruhi, meliputi : 1. Berdasarkan hasil data sekunder pemeriksaan bakteriologis udara pada bulan April 2011 dan April 2012. 2. Aspek teknis meliputti aspek faktor fisik (suhu, kelembaban dan pencahayaan), konstruksi bangunan (lantai, dinding, ventilasi, langitlangit, dan pintu), pemeliharaan ruang bangun dan pengendalian (desinfeksi dan sterilisasi). 3. Aspek administratif meliputi kebijakan rumah sakit mengenai

pengawasan terhadap kualitas bakteriologis udara khususnya pada ruang operasi di RS. Pelni. 4. Aspek sosial meliputi pendidikan, masa kerja, tingkat pengetahuan, sikap dan tindakan petugas kebersihan ruang operasi serta wawancara kepada penanggung jawab ruang operasi.

1.6 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan dalam pemahaman dan memberikan gambaran mengenai penulisan karya tulis ilmiah maka penulis menyusun sistematika

penulisan, secara garis besar penulis membaginya dalam delapan bab yang disusun dalam sistematika, sebagai berikut : BAB 1 PENDAHULUAN Dalam bab ini menguraikan tentang latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, sistematika penulisan. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Dalam bab ini menguraikan atau mengetengahkan teori-teori dan dasar pemikiran yang berkaitan atau ada hubungannya dengan penulisan karya tulis ini, yang berisikan pengertian rumah sakit, pengertian sanitasi rumah sakit, aspek- aspek kesehatan ligkungan di rumah sskit, pengertian infeksi nosokomial dan faktor- faktor yang mempengaruhi kualitas bakteriologis udara di ruang operasi. BAB 3 GAMBARAN UMUM Dalam bab ini menguraikan tentang gambaran umum tempat penelitian yang berisikan sejarah RS. Pelni, visi dan misi, motto,

falsafah , sruktur organisasi, , sumber daya manusia, sarana dan prasarana, gambaran umum sanitasi kesehatan lingkungan

(pengelolaan sampah, pengelolaan air limbah, pengendalian vektor penyehatan makanan dan minuman, penyediaan air bersih), dan gambaran umum ruang operasi dan kegiatan proses membersihkan runag ok, sterilisasi {freluensi, metosa, orangnya, uji). Pegawasan NI, kerja RS. Pelni Jakarta Barat. BAB 4 KERANGKA KONSEP Dalam bab ini menguraikan tentang kerangka teori, kerangka konsep penelitian, karekteristik sampel, dan definisi operasional.

Bab 5 METODE PENELITIAN Dalam bab ini menguraikan tentang jenis penelitian, lokasi penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data, pengolahan dan analisis data. BAB 6 HASIL PENELITIAN Dalam bab ini menguraikan secara singkat tentang hasil penelitian yang meliputi kualitas bakteriologis udara, aspek teknis, aspek

administrasi dan aspek sosial. BAB 7 PEMBAHASAN Dalam bab ini menguraikan tentang hasil penelitian yang dibahas oleh penulis meliputi faktorfaktor yang mempengaruhi kualitas

bakteriologis udara di RS. Pelni Jakarta Barat dengan meliputi aspek teknis, apek administrasi dan aspek sosial. BAB 8 PENUTUP Dalam bab ini menguraikan secara singkat tentang kesimpulan berdasarkan atas hasil dan pembahasan dari bab-bab sebelumnya, kemudian penulis memberikan alternatif saran yang diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan guna pemecahan masalah yang ada.

10