Anda di halaman 1dari 14

TRANSPORTASI DAN PERKEMBANGAN WILAYAH

I.

Pendahuluan Transportasi merupakan sarana yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan

pembangunan terutama dalam mendukung kegiatan perekonomian masyarakat dan perkembangan wilayah baik itu daerah perdesaan maupun daerah yang lainnya. Sistem transportasi yang ada dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan mobilitas penduduk dan sumberdaya lainnya yang dapat mendukung terjadinya pertumbuhan ekonomi didaerah ini menyebabkan pengurangan konsentrasi tenaga kerja yang mempunyai keahlian dan ketrampilan pada wilayah tertentu, selain transportasi juga untuk membuka peluang kegiatan perdagangan antar wilayah dan mengurangi perbedaaan antar wilayah sehingga mendorong terjadinya pembangunan antar wilayah. Dengan adanya transportasi harapannya dapat menghilangkan isolasi dan memberi stimulan ke arah perkembangan di semua bidang kehidupan, baik perdagangan, industri maupun sektor lainnya merata disemua daerah. Transportasi sangat penting peranannya bagi daerah baik itu perdesaan atau daerah semi urban atau urban di negara-negara yang sedang berkembang, karena menyediakan akses bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan barang dan jasa sehari-hari, serta meningkatkan kehidupan sosial ekonomi. Akses terhadap informasi, pasar, dan jasa masyarakat dan lokasi tertentu, serta peluang-peluang baru kesemuanya merupakan kebutuhan yang penting dalam proses pembangunan. Dengan dibangunnya sarana transportasi, kegiatan ekonomi masyarakat, pemberdayaan masyarakat, khususnya dalam pembangunan pada kawasan yang mempunyai potensi ekonomi tinggi akan lebih mudah dikembangkan. Kegiatan ekonomi masyarakat ini akan berkembang apabila mempunyai prasarana dan sarana transportasi yang baik untuk aksesibilitas. Aksesibilitas ini dapat memacu proses interasi antar wilayah sampai ke daerah yang paling terpencil sehingga tercipta pemerataan pembangunan. Kajian transportasi dan perkembangan wilayah memiliki dimensi persoalan dengan rentang yang luas dan kompleks. Oleh karena itu untuk dapat memahami pola kerja

transportasi dan aksesibilitas, dituntut untuk memiliki pandangan yang luas tidak hanya pada satu bidang kajian ilmu saja. II.
Transportasi Merupakan Tolok Ukur Interaksi antar Wilayah

Suatu wilayah tertentu bergantung pada wilayah lain. Demikian juga wilayah lain memiliki ketergantungan pada wilayah tertentu. Diantara wilayah-wilayah tersebut, terdapat wilayah-wilayah tertentu yang memiliki kelebihan dibanding yang lain sehingga wilayah tersebut memiliki beberapa fasilitas yang mampu melayani kebutuhan penduduk dalam radius yang lebih luas, sehingga penduduk pada radius tertentu akan mendatangi wilayah tersebut untuk memperoleh kebutuhan yang diperlukan. Morlok (1988) mengemukakan bahwa akibat adanya perbedaan tingkat pemilikan sumberdaya dan keterbatasan kemampuan wilayah dalam mendukung kebutuhan penduduk suatu wilayah menyebabkan terjadinya pertukaran barang, orang dan jasa antar wilayah. Pertukaran ini diawali dengan proses penawaran dan permintaan. Sebagai alat bantu proses penawaran dan permintaan yang perlu dihantarkan menuju wilayah lain diperlukan sarana transportasi. Sarana transportasi yang memungkinkan untuk membantu mobilitas berupa angkutan umum. Dalam menyelenggarakan kehidupannya, manusia mempergunakan ruang tempat tinggal yang disebut permukiman yang terbentuk dari unsur-unsur working, opportunities, circulation, housing, recreation, and other living facilities (Hadi Sabari Yunus, 1987). Unsur circulation adalah jaringan transportasi dan komunikasi yang ada dalam permukiman. Sistem transportasi dan komunikasi meliputi sistem internal dan eksternal. Jenis yang pertama membahas sistem jaringan yang ada dalam kesatuan permukiman itu sendiri. Jenis yang kedua membahas keadaan kualitas dan kuantitas jaringan yang menghubungkan permukiman satu dengan permukiman lainnya di dalam satu kesatuan permukiman. Perpindahan manusia dan barang dari satu tempat ke tempat lain selalu melalui jalur-jalur tertentu. Tempat asal dan tempat tujuan dihubungkan satu sama lain dengan suatu jaringan (network) dalam ruang. Jaringan tersebut dapat berupa jaringan jalan, yang merupakan bagian dari sistem transportasi. Transportasi merupakan hal yang penting dalam

suatu sistem, karena tanpa transportasi perhubungan antara satu tempat dengan tempat lain tidak terwujud secara baik (Bintarto, 1982). Hurst (1974) mengemukakan bahwa interaksi antar wilayah tercermin pada keadaan fasilitas transportasi serta aliran orang, barang, maupun jasa. Transportasi merupakan tolok ukur dalam interaksi keruangan antar wilayah dan sangat penting peranannya dalam menunjang proses perkembangan suatu wilayah. Wilayah dengan kondisi geografis yang beragam memerlukan keterpaduan antar jenis transportasi dalam melayani kebutuhan masyarakat. Pada dasarnya, sistem transportasi dikembangkan untuk menghubungkan dua lokasi guna lahan yang mungkin berbeda. Transportasi digunakan untuk memindahkan orang atau barang dari satu tempat ke tempat lain sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih meningkat. Dengan transportasi yang baik, akan memudahkan terjadinya interaksi antara penduduk lokal dengan dunia luar. Keterisolasian merupakan masalah pertama yang harus ditangani. Transportasi berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan produsen dengan konsumen dan meniadakan jarak diantara keduanya. Jarak tersebut dapat dinyatakan sebagai jarak waktu maupun jarak geografis. Jarak waktu timbul karena barang yang dihasilkan hari ini mungkin belum dipergunakan sampai besok. Jarak atau kesenjangan ini dijembatani melalui proses penggudangan dengan teknik tertentu untuk mencegah kerusakan barang yang bersangkutan. Transportasi erat sekali dengan penggudangan atau penyimpanan karena keduanya meningkatkan manfaat barang. Angkutan menyebabkan barang dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain sehingga bisa dipergunakan di tempat barang itu tidak didapatkan. Dengan demikian menciptakan manfaat tempat. Penyimpanan atau penggudangan juga memungkinakan barang disimpan sampai dengan waktu dibutuhkan dan ini berarti memberi manfaat waktu (Schumer, 1974). Pembangunan suatu jalur transportasi maka akan mendorong tumbuhnya fasilitas-fasilitas lain yang tentunya bernilai ekonomis. Perbedaan sumberdaya yang ada di suatu daerah dengan daerah lain mendorong masyarakat untuk melakukan mobilitas sehingga dapat memenuhi kebutuhannya. Dalam proses mobilitas inilah transportasi memiliki peranan yang penting untuk memudahkan dan memperlancar proses mobilitas tersebut. Proses mobilitas ini tidak hanya sebatas oleh

manusia saja, tetapi juga barang dan jasa. Dengan demikian nantinya interaksi antar daerah akan lebih mudah dan dapat mengurangi tingkat kesenjangan antar daerah. Ullman mengungkapkan ada tiga syarat untuk terjadinya interaksi keruangan, yaitu :
(1) Complementarity atau ketergantungan karena adanya perbedaan demand dan

supply antar daerah


(2) Intervening opportunity atau tingkat peluang atau daya tarik untuk dipilih

menjadi daerah tujuan perjalanan


(3) Transferability atau tingkat peluang untuk diangkut atau dipindahkan dari

suatu tempat ke tempat lain yang dipengaruhi oleh jarak yang dicerminkan dengan ukuran waktu dan atau biaya Kebutuhan akan pergerakan bersifat merupakan kebutuhan turunan. Pergerakan terjadi karena adanya proses pemenuhan kebutuhan. Pergerakan tidak akan terjadi seandainya semua kebutuhan tersebut menyatu dengan permukiman. Namun pada kenyataannya semua kebutuhan manusia tidak tersedia di satu tempat. Atau dengan kata lain lokasi kegiatan tersebar secara heterogen di dalam ruang. Dengan demikian perlu adanya pergerakan dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan. Dalam melakukan pergerakan untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penduduk mempunyai dua pilihan yaitu bergerak dengan moda transportasi dan tanpa moda transpotasi (berjalan kaki). Pergerakan tanpa moda tranportasi biasanya berjarak pendek, sedangkan pergerakan dengan moda transportasi berjarak sedang atau jauh. Transportasi merupakan penghubung utama antara dua daerah yang sedang berinteraksi dalam pembangunan. Tanpa adanya jaringan transportasi tidak mungkin pembangunan dapat diperkenalkan ke luar daerah. Jalan merupakan akses transportasi dari suatu wilayah menuju ke wilayah. Aktivitas penduduk yang meningkat perlu dijadikan perhatian dalam merumuskan kebijakan di bidang transportasi karena manusia senantiasa memerlukan transportasi. Hal ini merupakan sesuatu hal yang merupakan ketergantungan sumberdaya antar tempat. Hal ini menyebabkan proses interaksi antar wilayah yang tercermin pada fasilitas transportasi. Transportasi merupakan tolok ukur interaksi antar wilayah.

III.

Aksesibilitas Salah satu hal yang penting tentang transportasi dengan perkembangan wilayah

adalah aksesibilitas. Yang dimaksud aksesibilitas adalah kemampuan atau keadaan suatu wilayah, region, ruang untuk dapat diakses oleh pihak luar baik secara langsung atau tidak langsung. Pembangunan perdesaanpun menjadi kian lambat dan terhambat hanya karena minimnya sarana transportasi yang ada (Hensi Margaretta, 2000). Dengan adanya transportasi dapat membuka jalan komunikasi antar daerah sehingga terjadi aliran barang, jasa, manusia, dan ide-ide sebagai modal bagi suatu daerah untuk maju dan berkembang.
Transportasi dapat menjadi fasilitator bagi suatu daerah untuk maju dan berkembang karena transportasi meningkatkan aksesibilitas suatu daerah. Transportasi sering dikaitkan dengan aksesibilitas suatu wilayah. Dalam pembangunan perdesaan keberadaan prasarana dan sarana transportasi tidak dapat diabaikan dalam suatu rangkaian program pembangunan. Terjadinya proses produksi yang efisien, selalu didukung oleh sistem transportasi yang baik, investasi dan teknologi yang memadai sehingga tercipta pasar dan nilai.

Aksesibilitas yang baik juga akan mendorong minat swasta dan masyarakat untuk menanamkan modalnya dalam rangka pengembangan wilayah. Dengan demikian akan memajukan kegiatan perekonomian masyarakat, dan dapat mengentaskan atau setidaknya dapat mengurangi kesenjangan pembangunan antar wilayah yang memiliki potensi sama atau berbeda . Agar perencanaan aksesibilitas berjalan dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal maka dapat dipakai pedoman antara lain : (a) Perencanaan tersebut diintegrasikan dengan mempertimbangkan semua aspek kebutuhan rumah tangga, baik kebutuhan hidup sehari-hari, ekonomi, maupun kebutuhan sosial. (b) Perencanaan tersebut berdasarkan pada sistem pengumpulan data yang cermat (c) Menggunakan rumah tangga sebagai fokus dalam proses perencanaan (d) Mengembangkan seperangkat set informasi yang komprehensif pada semua aspek infrastruktur perdesaan (e) Mengidentifikasi intervensi-intervensi antara perbaikan sistem transportasi lokal (jalan dan pelayanan transportasi lokal) dan untuk lokasi pelayanan yang paling cocok 5

(f) Perencanaan tersebut mudah diaplikasikan


(g) Perencanaan tersebut murni menggunakan perencanaan pendekatan sistem

bottom-up

IV.

Peran Transportasi dalam Pengembangan Wilayah Menurut Hurst (1974) kajian geografi transportasi umumnya berfokus pada

jaringan transportasi, lokasi, struktur, arus, dan signifikansi serta pengaruh jaringan terhadap ruang ekonomi yang berkaitan dengan pengembangan wilayah dengan prinsip ketergantungan antara jaringan dengan ruang ekonomi sebagaimana perubahan aksesibilitas. Dalam hal ini semakin baik suatu jaringan transportasi maka aksesibilitasnya juga semakin baik sehingga kegiatan ekonomi juga semakin berkembang. Contoh dari betapa pentingnya peran transportasi bagi pengembangan wilayah perkotaan adalah fenomena yang terjadi pada daerah ibu kota jakarta, daerah ibu kota mengalami kemajuan yang sangat pesat akhir-akhir ini. Kemajuan yang sangat pesat ini memberikan beban yang sangat berat pada daya dukung lingkungannya. Perkembangan ini didukung pula oleh adanya akses jalan tol Jakarta-Cikampek sehingga memudahkan mobilisasi penduduk antar kedua wilayah. Keadaan ini memicu fenomena berkembangnya kota baru/pemukiman berskala besar di Kabupaten Bekasi, seiring dengan berkembangnya kawasan industri. Kota-kota Baru tersebut dibangun untuk memenuhi kebutuhan akan perumahan beserta berbagai sarana pendukungnya, serta aktivitas kawasan industri sebagai basis ekonomi kota baru. Akibat dari pembanguan dari tol jakarta cikampek ini muncul beberapa kota-kota baru seperti contohnya adalah kota Lippo Cikarang yang semula bernama Lippo City, merupakan salah satu kota baru yang berkembang di Kabupaten Bekasi. Kota ini direncanakan sebagai kota baru yang berbasis ekonomi pada sektor industri seluas 5.000 Ha dengan alokasi kawasan industri seluas 1.500 Ha dan kawasan non-industri seluas 3.500 Ha yang dapat menampung sekitar 1.000.000 jiwa pada tahun 2025. Perkembangan kota baru yang mengorbankan konversi guna lahan dan proses urbanisasi di dalamnya, tentunya tak terlepas dari permasalahan dalam berbagai aspek yang menyertainya. Perkembangan kota baru harus didukung oleh kemampuan sumber daya baik manusia maupun alam yang sangat terorganisir serta sarana dan prasarana yang memadai 6

agar tidak mengakibatkan permasalahan di kemudian hari. Dalam hal ini, maka pembangunan kota baru harus diupayakan sebagai suatu pembangunan yang berkelanjutan baik dalam aspek ekonomi, sosial maupun lingkungan. Kajian perkembangan fenomena kota baru dengan studi kasus Kota Baru Lippo Cikarang dilakukan dengan pendekatan pada aspek tingkat perayanan fasilitas sosial, prasarana transportasi. Kedua aspek tersebut diharapkan dapat mengidentifikasi keberlanjutan pembangunan Kota Baru Lippo Cikarang dalam sisi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Keberlanjutan Kota Baru tentunya tidak hanya terkait dengan perkembangan internal kota baru tersebut, namun juga berkaitan dengan kondisi eksternal meliputi perkembangan di wilayah regional sekitarnya. Perkembangan fasilitas sosial di Lippo Cikarang telah dapat berfungsi dengan baik terutama bagi penduduk Lippo Cikarang, namun kurang memperhatikan sasaran pelayanannya yaitu penduduk yang ada dalam wilayah pelayanannya yang tidak hanya meliputi penduduk Lippo Cikarang namun juga penduduk sekitar Lippo Cikarang. Jika hal ini dibiarkan, perkembangan fasilitas sosial pada masa mendatang tidak berkelanjutan, dapat menimbulkan permasalahan antara lain kesenjangan sosial, kriminalitas. Perkembangan Kota Baru Lippo Cikarang membangkitkan arus perjalanan yang tidak tertampung oleh prasarana jalan yang ada, tingkat pelayanan prasarana jalan akan semakin menurun, timbul berbagai permasalahan misalnya kemacetan dan selanjutnya mengakibatkan menurunnya efektivitas dan efisiensi kegiatan terutama di wilayah Cikarang Pertumbuhan dan perkembangan Kota Jakarta bedangsung sangat pesat, terlihat dan pertambahan jumlah penduduknya yang pada tahun 1975 sebesar 5 6 juta jiwa menjadi 8,2 juta jiwa pada tahun 1990. Hal ini mengakibatkan tekanan yang besar terhadap Kota Jakarta terutama dalam penyediaan sarana dan prasarana bagi penduduk sehingga laju peningkatan penyediaan sarana dan prasarana tersebut tidak dapat mengimbangi laju pertumbuhan penduduk dan perkembangan kegiatannya. Kondisi ini menurunkan efisiensi kegiatan perkotaan. Untuk mengantisipasi gejala di atas dikeluarkan Kebijakan Pengembangan Wilayah Jabotabek yang mengarahkan pusat-pusat pertumbuhan baru di Botabek pada poros Timur-Barat untuk menjadi alternatif pusat permukiman baru. Salah satu altematif permukiman barn yang dimaksud adalah permukiman berskala besar atau

pembangunan kotabaru. Dibangunnya Jalan Tol Jakarta-Merak telah memacu maraknya pembangunan kotabaru di Tangerang. Sampai saat ini telah dibangun sembilan kotabaru di Tangerang dengan tujuh di antaranya belokasi di sekitar poros jalan tol Secara khusus tujuan pengembangan kotabaru adalah untuk membantu mengurangi penumpukan kegiatan sosial ekonomi dan kepadatan penduduk yang tinggi di kota-kota besar seperti Jakarta. Pertumbuhan kotabaru di Tangerang di satu sisi mungkin mampu membenkan kontdbusi dalam menurunkan laju pertumbuhan penduduk di Jakarta Di lain pedu dicermati apakah pembangunan kotabaru di Tangerang yang pesat ini bisa berlanjut ditinjau dari konsep pembangunan yang berkelanjutan. Konsep pembangunan yang berkelanjutan adalah pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasisekarang tanpa membahayakan generasimendatang dalam memenuhikebutuhannya. Pada kenyalaannya sekarang kotabaru yang dibangun oleh swasta lebih ditujukan kepada pemenuhan kebutuhan tempat tingkaL bagi sekelompok masyarakat yang memiliki daya beli tinggi Kondisi ini menimbuLkan dampak negatif terhadap sistem sosial budaya yaitu terjadinya kesenjangan soslal antara penghuni dengan penduduk sek/tamya. Pembangunan kotabaru yang demikian akan memeningkan ketersediaan sarana dan prasarana di dalam kotabaru itu sendiri sebagai daya tarik pemasarannya tanpa mempertimbangkan keterbatasan sarana dan prasarana di wilayah sekitamya. Salah satu akibatnya terlihat dari peningkatan kemacetan pada ruas-ruas jalan disekitarkotabaru maupun jalan tol Dari segi keuangan pemerintah daerah, penerimaan dari pembangunan kotabaru semacam ini dikhawatrkan tidak akan mampu menutupi pengeluaran dari eksternalitas negatifyang ditimbulkannya. Akibatnya pemerintah daerah akan mengalamikesulitan dalam pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana umum. Tujuan dari studi ini adalah menilaikeberlanjutan pembangunan kotabaru di Tangerang dengan kasus Kota Modem, Gading Serpong dan Alam Sutera, berdasarkan dampakdampak yang ditimbulkannya dalam aspek transportasi, pemanfaatan fasilitas dan pembiayaan daerah. Mengacu pada tujuan diatas maka sasaran yang ingin dicapai dalam studi ini adalah mengukurdampak yang ditimbu/kan perkembangan masing-masing kotabaru pada sistem transportasi di wilayah pengaruhnya, menghitung ketergantungan penghuni kotabaru terhadap fasilitas sosial di wilayah sekitamya dan menghitung pengaruh perkembangan

kotabaru terhadap kondisi keuangan pemerintah daerah. Sampai tahun 1995 pembangunan kotabaru di Tangerang tidak mempenihatkan dampak yang berarti, baik terhadap sistem transportasi maupun terhadap tingkat pelayanan fasilitas Pembangunan tersebut bahkan telah memberi tambahan penerimaan bagi keuangan pemenntah daerah. Namun seiring dengan perkembangannya temyata di masa mendatang dampak yang ditimbulkan akan semakin besar sehingga dapat merugikan berbagai pihak, bukan saja pemerintah daerah dan masyarakat sekitar, tetapi juga penduduk kota baru itu sendiri. Terjaminnya pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana umum perkotaan yang mendukung aktivitas penduduknya dapat memberikan indikasi terjaminnya keberlanjutan pembangunan suatu kota. Dengan demikian jika dampak yang timbul akibat perkembangan kotabaru di Tangerang tidak disertai dengan langkah langkah antisipasi sejak awal maka proses pembangunan yang berkelanjutan akan sulit diwujudkan. Jalan tol dan fasilitasnya merupakan prasarana (infrastructure) transportasi darat yang merupakan jalan bebas hambatan (uninterrupted) bagi lalulintas kendaraan dan dikenakan bayaran (charge) langsung bagi pengguna sesuai dengan tarif yang ditentukan. Pengembangan jalan tol bermanfaat sebagai pemicu pengembangan wilayah sekitar karena pengaruh accessibility yang semakin tinggi dan penghematan biaya perjalanan (general cost) bagi pelaku pergerakan. Ada tiga pihak terkait yang berkepentingan dalam pengembangan jalan tol, antara lain: 1. pihak pengguna, 2. pihak pengusaha/investor dan 3. pihak pemerintah sebagai regulator yang membawa kepentingan masyarakat umum untuk tujuan pengembangan wilayah. Pihak Pemerintah (dalam hal ini Pemkot/Pemkab dan Pemprov) berkepentingan dalam hal pengaruh pengadaan jalan tol terhadap pengembangan lingkungan, seperti: percepatan pengembangan wilayah pengaruh, penyerapan tenaga kerja, pemasukan terhadap pendapatan daerah, pengurangan tingkat kemacetan lalulintas di jalan-jalan alternatif utama yang ada dan dapat merupakan perangsang bagi investor lain, khususnya di sektor usaha pengembangan lainnya (jika investor tersebut sudah merasakan keamanan dan menguntungkan dalam menginvestasi modalnya), seperti; sektor jasa, sektor perdagangan, sektor industri dan sebagainya.

V.

Dampak dari Perkembangan Wilayah yang Didasarkan pada Jalur Trasnportasi Dampak dari perkembangan wilayah ini bermacam-macam mulai dari masalah

sosial sampai pada sektor ekologi kelingkungan. Masalah-maslah ini terjadi setelah sarana transportasi misalnya jalan merambah masuk kedaerah yang sebelumnya belum terjangkau. Masalah ekologi yang ditimbulkan antara lain masalah banjir yang terjadi di jakarta setiap tahun bahkan dalam jangka lima tahunan akan terjadi banjir yang lebih dari biasanya disebut sebagai banjir lima tahunan. Hal ini mengakibatkan penggandengan daerah hulu untuk mengatasi masalah ini. Daerah itu adalah Cianjur, pemerintah memasukkan Cianjur dalam JABODETABEK saehingga menjadi JABODETABEKJUR untuk menangani masalah tersebut. Masalah lain yang timbul karena perkembangan wilayah yang disebabkan oleh jalur transprtasi ini adalah ketidak efisienan trasnportasi atau dalam menggunakan kendaraan. Hal ini disebabkan karena daerah yang berkembang tersebut tidak dapat mengimbangi laju jumlam akendaraan dengan sarana transportasi.

PETA TUMBUH KEMBANG JAKARTA AKIBAT JALUR TRANSPORTASI

10

11

REFERENSI Transportasi Dan Aksesibilitas Perdesaan, Hj Sri Rumgiarsih


www.kompas.com www.detik.com www.wikipedia.com www.pu.go.id www.dephub.go.id

12

TUGAS MATA KULIAH

GEOGRAFI TRANSPORTASI
(GEM 2106) Dosen pengampu: Hj. Sri Rum Giarsih, S.Si, M.Si. TRANSPORTASI DAN PERKEMBANGAN WILAYAH

Disusun oleh : Ashry Fendi Dian Rianti Mayasari Dian Andri P.S Intani Widyaningrum Muhammad Aryanto Prasetyawan Nur Indah Rahmawati S. Rajib Khafif Arruzzi Ranti kartika Sari Ramali GE/05783 GE/05765 GE/05764 GE/05777 GE/05791 GE/05773 GE/05741 GE/05769

FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2007

13

14