Anda di halaman 1dari 51

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Anatomi Sistem Muskuloskeletal terdiri dari tulang, sendi, otot dan struktur pendukung lainnya yaitu ligamen,tendon,fasia dan bursae. (Suratun,2006). Pertumbuhan dan perkembangan sistem ini terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja. Pada anak-anak yang memasuki fase tumbuh dan berkembang, maka pertumbuhan tulang mereka berkembang dengan pesat. Seperti yang diungkapkan oleh Whaley dan Wong (2000) bahwa pertumbuhan diartikan sebagai suatu peningkatan jumlah dan ukuran, sedangkan perkembangan menitikberatkan pada perubahan yang terjadi secara bertahap dari tingkat yang paling rendah ke tingkat yang paling tinggi dan kompleks melalui proses maturasi dan pembelajaran.Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi organ (Soetjiningsih,1995). Gangguan sistem muskuloskeletal pada anak-anak memiliki variasi yang luas karena menyerang tulang yang sedang tumbuh.Tulang dan sendi anakanak pada umumnya lebih lentur dibandingkan tulang orang dewasa, karena kelenturan ini anak-anak jarang mengalami terkilir dan otot terkoyak seperti yang sering dialami orang dewasa ketika mereka meregangkan, membungkuk, berlari dan memutar tubuh. Tetapi karena kelenturan ini anak-anak sering mengalami pelepasan sendi terutama pada siku dibandingkan orang dewasa. Berkaitan dengan perilaku anak yang aktif dan bergerak secara impulsif maka tak jarang anak mengalami patah tulang ( fraktur) dan cedera jaringan lunak lainnya.Terjadinya fraktur pada anak-anak dapatmengkhawatirkan apabila terjadi kerusakan pada lempeng pertumbuhan yaitu pada tulang tempat terjadi pertumbuhan yang berdampak pada pemendekan tulang dan pertumbuhan tulang yang tidak teratur. Fraktur pada anak-anak bisa disebabkan oleh banyak hal yaitu kondisi patologis, dorongan tidak langsung maupun dorongan langsung pada tulang.Pada umumnya penyembuhan fraktur pada anak-anak memerlukan

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

waktu lebih cepat daripada orang dewasa, perbedaan ini paling terlihat pada bayi dan anak kecil. Penyembuhan fraktur pada anak juga melibatkan perubahan pada tulang baik pada panjangdan bentuknya (Williams&Cole,2002). Berdasarkan Sistem klasifikasi Salter- Harris fraktur epifisial pada anak dapat digolongkan menjadi tipe I yang cenderung tidak mempengaruhi hasil pertumbuhan sampai tipe V yang mengakibatkan berhentinya pertumbuhan pada tulang yang cidera(Kneale,J.at.all,2010).Biasanya masalah ini tidak disadari sampai beberapa bulan setelah cidera ketika ketidaksesuaian panjang tungkai terlihat. Jenis fraktur pada anak usiakurang dari 3 tahun yang sering terjadi adalah fraktur green-stick disebabkan pada usia tersebut korteks tulang ini lebih lunak dan lebih lentur daripada anak yang usia lebih tua. Jenis fraktur lain adalah fraktur epifisis atas dan suprakondilar, frakturhumerus , fraktur radius-ulna,fraktur femur,fraktur iga dan fraktur tengkorak. Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada gangguan Sistem Muskuloskeletal pada anak khususnya Fraktur maka makalah ini disusun dengan harapan meningkatkan pemahaman tentang konsep Gangguan Muskuloskeletal pada anak dan Aplikasi Asuhan Keperawatan terhadap pasien Anak dengan Fraktur. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimanakah Konsep Dasar Sistem Muskuloskeletal (Fraktur) dan Asuhan Keperawatan fraktur pada anak. 1.3 Tujuan Penulisan 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui dan memahami tentang Konsep Dasar Sistem Muskuloskeletal (Fraktur)dan Asuhan Keperawatan Fraktur Pada Anak 1.3.2. Tujuan Khusus Mengetahui dan mengerti tentang : a. Konsep Dasar Sistem Muskuloskeletal b. Konsep Dasar Fraktur c. Konsep Dasar Fraktur Pada klien Anak d. Asuhan Keperawatan

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

BAB II TINJAUAN TEORI 2.1. Konsep Dasar Sistem Muskuloskeletal Sistem muskuloskletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengurus pergerakan.Komponen utama dari system muskuloskletal adalah jaringan ikat yang terdiri dari tulang,sendi,otot rangka,tendon,ligament,fasia, bursae dan jaringan-jaringan khusus yang menghubungkan struktur-struktur ini(Suratun,2006 & Price, 2005).Pertumbuhan dan perkembangan sistem ini terjadi selama masa kanak-kanak dan remaja (Suratun, 2006). 2.1.1. Pertumbuhan dan Perkembangan Jaringan Tulang Pertumbuhan dan perkembangan anatomis tulang memperlihatkan tiga gambaran penting(Sacharin,1996) : a. Jaringan tulang sejak awal embrionik berkembang dari sel mesenkimal atau dari model kartilaginosa melalui osifikasi enkondral yang sangat aktif selama kehidupan prenatal dan menetap selama masa dewasa. b. Jaringan tulang mengalami remodelisasi seumur hidup, terjadi suatu keseimbanganantara osteogenesi ( yang bersifat terus menerus) osteolisis serta resopsi osteoklastik ( dekstruksi tulang ). Remodelisasi ini juga terdapat selama masa perkembangan dan mempermudah perubahan panjang dan bentuk serta struktur untuk beradaptasi dengan jaringan tulang dengan kebutuhan mekanisnya terhadap efek kerusakan. c. Jaringan tulang mengalami mineralisasi yang kuat. Sepanjang berbagai stadium perkembangan, kandungan mineral memainkan peranan penting dalam pengaturan keseimbangan antara fosfat dan kalsium ektraseluler.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

2.1.2. Anatomi dan Fisiologi Tulang a. Anatomi Ada 206 tulang dalam tubuh manusia, tulang dapat diklasifikasikan dalam lima kelompok berdasarkan bentuknya.

Gambar 2.1 Anatomi Muskuluskeletal b. Fisiologi Sistem muskuloskeletal meliputi tulang, sendi, otot dan jaringan konektif yang berhubungan (kartilago, tendon dan ligamen),(Smeltzer et all,2010).

1).

Struktur tulang Tulang sangat bermacam-macam baik dalam bentuk ataupun ukuran, tapi mereka masih punya struktur yang sama. Lapisan yang paling luar disebut Periosteum dimana terdapat pembuluh darah dan saraf. Lapisan dibawah periosteum mengikat tulang dengan benang kolagen disebut benang sharpey, yang masuk ke tulang disebut korteks. Karena itu korteks sifatnya keras dan tebal sehingga disebut tulang kompak. Korteks tersusun solid dan sangat kuat yang disusun dalam unit struktural yang disebut Sistem Haversian. Tiap sistem terdiri atas kanal utama yang disebut Kanal Haversian. Lapisan melingkar dari matriks tulang disebut Lamellae, ruangan sempit antaralamellae disebut Lakunae (didalamnya terdapat osteosit) dan Kanalikuli. Tiap sistem kelihatan seperti lingkaran yang menyatu.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

Kanal Haversian terdapat sepanjang tulang panjang dan di dalamnya terdapat pembuluh darah dan saraf yang masuk ke tulang melalui Kanal Volkman. Pembuluh darah inilah yang mengangkut nutrisi untuk tulang dan membuang sisa metabolisme keluar tulang. Lapisan tengah tulang merupakan akhir dari sistem Haversian, yang didalamnya terdapat Trabekulae (batang) dari tulang. Trabekulae ini terlihat seperti spon tapi kuat sehingga disebut Tulang Spon yang didalam nya terdapat bone marrow yang membentuk sel-sel darah merah. Bone Marrow ini terdiri atas dua macam yaitu bone marrow merah yang memproduksi sel darah merah melalui proses hematopoiesis dan bone marrow kuning yang terdiri atas sel-sel lemak dimana jika dalam proses fraktur bisa menyebabkan Fat Embolism Syndrom (FES),(Price,2005). Tulang terdiri dari tiga sel yaitu osteoblast, osteosit, dan osteoklast. Osteoblast merupakan sel pembentuk tulang yang berada di bawah tulang baru. Osteosit adalah osteoblast yang ada pada matriks. Sedangkan osteoklast adalah sel penghancur tulang dengan menyerap kembali sel tulang yang rusak maupun yang tua. Sel tulang ini diikat oleh elemen-elemen ekstra seluler yang disebut matriks. sebagai Matriks media ini dibentuk difusi oleh benang kolagen, dan protein, sampah karbohidrat, mineral, dan substansi dasar (gelatin) yang berfungsi dalam nutrisi, oksigen, metabolisme antara tulang daengan pembuluh darah. Selain itu, didalamnya terkandung garam kalsium organik (kalsium dan fosfat) yang menyebabkan tulang keras.sedangkan (Abraham et all,2006). aliran darah dalam tulang antara 200-400 ml/ menit melalui proses vaskularisasi tulang

2).

Tulang panjang Adalah tulang yang panjang berbentuk silinder dimana ujungnya bundar dan sering menahan beban berat (Ignatavicius, 1995).Tulang panjang terdiriatas epifisis, tulang rawan, diafisis, periosteum, dan medula tulang. Epifisis (ujung tulang) merupakan tempat menempelnya tendon dan mempengaruhi kestabilan sendi.Tulang rawan menutupi seluruh sisi dari ujung tulang dan mempermudah

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

pergerakan, karena tulang rawan sisinya halus dan licin.Diafisis adalah bagian utama dari tulang panjang yang memberikan struktural tulang.Metafisis merupakan bagian yang melebar dari tulang panjang antara epifisis dan diafisis. Metafisis ini merupakan daerah pertumbuhan tulang selama masa pertumbuhan. Periosteum

merupakan penutup tulang sedang rongga medula (marrow) adalah pusat dari diafisis (Abraham et all,2006). Tulang panjang (humerus, radius) mengandung epifisis, kartilago artikular, diafisis, periosteum dan rongga medular. Epifisis terletak di pangkal tulang panjang. Pada bagian ini otot berhubungan dengan tulang dan membuat sendi menjadi stabil. Kartilage artikular membungkus pangkal tulang panjang dan membuat permukaan tulang panjang menjadi halus. Diafisis :bagian tulang panjang yang utama memberikan struktural pada tubuh. Metafisis :bagian tulang yang mengembang di antara epifisis dan diafisis. Periosteum jaringan konektif fibrosa yang membungkus tulang.Medular terletak di tengahtengah diafisis. Terdiri dari batang tebal panjang yang disebut diafisis dan dua ujung yang disebut epifisis. Di sebelah proksimal dari epifisis terdapat metafisis. Di antara epifisis dan metafisis terdapat daerah tulang rawan yang tumbuh, yang disebut lempeng epifisis atau lempeng pertumbuhan. Tulang panjang tumbuh karena akumulasi tulang rawan di lempeng epifisis. Tulang rawan digantikan oleh selsel tulang yang dihasilkan oleh osteoblas, dan tulang memanjang. Batang dibentuk oleh jaringan tulang yang padat. Epifisis dibentuk dari spongi bone (cancellous atau trabecular). Pada akhir tahuntahun remaja tulang rawan habis, lempeng epifisis berfusi, dan tulang berhenti tumbuh. Hormon pertumbuhan, estrogen, dan testosteron merangsang pertumbuhan tulang panjang. Estrogen, bersama dengan testosteron, merangsang fusi lempeng epifisis. Batang suatu tulang panjang memiliki rongga yang disebut kanalis medularis. Kanalis medularis berisi sumsum tulang (Smeltzer et all, 2010). Ada 3 kelompok pembuluh darah yang menyuplai tulang panjang yaitu :

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

(a). Sejumlah arteri kecil menembus tulang kompakta untuk


menyuplai kanal dan sistem harvers

(b). Sejumlah arteri besar menembus tulang kompakta untuk


menyuplai tulang spongiosa dan sumsum merah.

(c). Satu atau dua arteri besar menyuplai kanal medula.


Menurut Suratun (2006) membagi dalam tiga bagian yaitu :

(a).

Caput Sepertiga dari ujung atas humerus terdiri atas sebuah kepala, yang membuat sendi dengan rongga glenoid dari skapla dan merupakan bagian dari banguan sendi bahu. Dibawahnya terdapat bagian yang lebih ramping disebut leher anatomik. Disebelah luar ujung atas dibawah leher anatomik terdapat sebuah benjolan, yaitu Tuberositas Mayor dan disebelah depan terdapat sebuah benjolan lebih kecil yaitu Tuberositas Minor. Diantara tuberositas terdapat celah bisipital (sulkus intertuberkularis) yang membuat tendon dari otot bisep. Dibawah tuberositas terdapat leher chirurgis yang mudah terjadi fraktur.

(b).

Korpus Sebelah atas berbentuk silinder tapi semakin kebawah semakin pipih. Disebelah lateral batang, tepat diatas pertengahan disebut tuberositas deltoideus (karena menerima insersi otot deltoid). Sebuah celah benjolan oblik melintasi sebelah belakang, batang, dari sebelah medial ke sebelah lateral dan memberi jalan kepada saraf radialis atau saraf muskulo-spiralis sehingga disebut celah spiralis atau radialis.

(c).

Ujung bawah Berbentuk lebar dan agak pipih dimana permukaan bawah sendi dibentuk bersama tulang lengan bawah. Trokhlea yang terlatidak di sisi sebelah dalam berbentuk gelendong-benang tempat persendian dengan ulna dan disebelah luar terdapat kapitulum yang bersendi dengan radius. Pada kedua sisi persendian ujung bawah humerus terdapat epikondil yaitu epikondil lateral dan medial.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

3).

Tulang pendek Seperti karpal, tarsal. Tulang pipih melindungi organ tubuh dan sebagai tempat melekatnya otot. Tulang sesamoid, bentuknya kecil, melingkar, berhubungan dengan sendi dan melindungi tendon, seperti patela.

4). (a). (b).

Pembagian tulang Tulang axial (tulang pada kepala dan badan) seperti tengkorak, vertebrae, rusuk dan sternum. Tulang appendicular (tulang tangan dan kaki) seperti extremitas atas (scapula, klavikula, humerus, ulna, radius, telapak tangan), extremitas bawah (pelvis, femur, patela, tibia, fibula, telapak kaki)

5).

Histologi tulang Ada dua tipe tulang yaitu kompaktum dengan sistem yang lebih kuat, tebal, padat dan tulang ankellous dengan lebih kopong dan renggang. Di antara lapisan tersebut terdapat ruang kecil yang dinamakan lacuna. Cairan yang mengisi osteocyte. Osteocyte adalah sel pembentuk tulang. Osteoblast (sel pembentuk) dan osteoclast (reabsorbsi tulang). Suplai darah pada tulang didapat dari arteriole sepanjang kanal haversin. Tulang juga dipersyarafi oleh syarafsyaraf.

6).

Sistem artikular Artikulasi/persendian : hubungan antara dua tulang atau lebih.Namun tidak semua persendian dapat melakukan pergerakan :

(a). Synarthrosis
Sendi yang tidak dapat melakukan pergerakan sama sekali

(b). Amphiarthrosis
Sendi dengan pergerakan sedikit/terbatas, seperti tl. Simphisis pubis

(c). Diarthrosis (sendi sinovial)


Sendi dapat bergerak bebas. Sendi ini mengandung :

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

(a). Rongga artikular (ruang dengan membran sinovial, memproduksi


cairan sinovial untuk melicinkan sendi)

(b). Ligamen (c). Kartilago


Sendi ini dapat melakukan gerakan :

(a). Protraksi (gerakan bagian tubuh ke arah depan/maju seperti


pergerakan mandibula)

(b). Fleksi/ekstensi. 7).


Kartilago Kartilage adalah jaringan konektif yang tebal yang dapat menahan tekanan. Kartilage umum terdapat pada tulang embrio. Umumnya kartilage ini berubah secara bertahap menjadi tulang dengan proses ossifikasi tetapi beberapa kartilage tidak berubah setelah dewasa..

8).

Ligamen dan tendon Ligamen dan tendon tersusun dari jaringan konektif fibrosa yang tebal, mengandung serabut kolagen dalam jumlah yang sangat besar. Tendon menghubungkan otot ke tulang. Tendon merupakan perpanjangan dari pembungkus otot yang berhubungan langsung dengan periosteum. Ligamen menghubungkan tulang dan sendi dan memberikan kestabilan pada saat pergerakan.

9).

Fungsi

tulang

adalah

sebagai

berikut(Sacharin,1996

&

Price,2005) :

(a). Mendukung jaringan tubuh dan memberi bentuk tubuh. (b). Melindungi organ tubuh (misalnya otak,jantung,paru-paru) dan
jaringan lunak

(c). Tulang bertindak sebagai tuas untuk pergerakan. (d). Membentuk sel-sel darah merah didalam sumsum tulang
belakang (hematopoesis).

(e). Menyimpan garam mineral, misalnya kalsium dan fosfor.


2.1.3. Sendi Suatu sendi atau artikulasio dibentuk jika dua atau lebih dari skelet bertemu satu sama lain (Sacharin,1996). Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang.Tulang ini dipadukan dengan berbagai cara misalnya

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

10

dengan kapsul sendi, pita fibrosa, ligamen, tendon, fasia dan otot (Price,2005). Pergerakan tidak mungkin terjadi jika kelenturan dalam rangka tulang tidak ada. Berapa pun besarnya gerakan yang mungkin dilakukan hubungan antara dua tulang atau lebih dinamakan sendi (Smeltzer,et all 2010). Berdasarkan fungsinya sendi dibagi menjadi (Smeltzer et all, 2010) sebagai berikut :

a. Sendi Sinoartrosis adalah sendi yang tak dapat digerakkan, contohnya :


Tulang tengkorak.

b. Sendi

Amfiartrosis

adalah

sendi

yang

memungkinkan

gerakan

terbatas.contohnya:Tulang antarvertebra dan simpisis pubis.

c. Sendi Diartrosis adalah sendi yang mampu digerakkan secara


bebas.Contohnya : Panggul,lutut,siku. Berdasarkan strukturnya sendi dibedakan atas (Suratun, 2006);

a. Fibrosa.
Sendi ini tidak memiliku tulang rawan, dan tulang yang satu dengan yang lainnya dihubungkan oleh jaringan penyambung fibrosa.

b. Kartilago.
Yaitu sendi yang ujung-ujung tulangnya terbungkus oleh tulang rawan hialin, disokong oleh ligamen dan hanya bisa bergerak sedikit.

c. Sendi Sinovial.
Yaitu sendi yang dapat digerakkan, serta memiliki rongga sendi dan permukaan sendi yang dilapisi tulang rawan hialin. Gerakan sendi dipengaruhi oleh: a. Letak bagian lunak sendi yang disebut aposigi (sendi siku yang tidak dapat bertemu). b. Ketegangan ligamentum(sendi lutut) c. Ketegangan otot (sendi paha) d. Bentuk permukaan tulang pembentukan sendi. 2.1.4. Sistem Muskular (Otot) Terdapat otot 40-50 % dari berat badan manusia.Pergerakan terjadi karena adanya kontraksi.Otot skelet adalah otot lurik karena mereka terbentuk dari serabur-serabut yang terdiri dari beberapa myofibril yang

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

11

tertutup dalam jaringan retikulum endoplasmik. Serabut-serabut otot dibungkus dalam kelompok-kelompok kemudian kelompok tersebut bersama-sama membentuk otot (Reeves,2001) Karena otot bersifat elastis maka dalam bekerja, otot-otot ini berpasangan namun memiliki aksi yang saling berlawanan. Ketika satu otot berkontraksi (pengerak yang utama) maka yang lain akan mengendor ( antagonis). Kekuatan setiap gerakan atau kontraksi tergantung pada panjang asli dari serabut-serabut, jumlah serabut yang diaktifkan oleh sistem syaraf dan keadaan metabolik otot. Beberapa otot (sinergis) melakukan kontraksi pada waktu yang sama sebagai penggerak utama untuk membantu menstabilkan tubuh (Reeves,2001).

a. Tipe-tipe otot (Suratun, 2006) adalah sebagai berikut : 1). Otot jantung
Ditemukan hanya pada organ jantung dan kontraksinya diluar keinginan atau diluar kontrol.

2). Otot polos/visceral


Terdapat pada saluran pencernaan, saluran perkemihan, dan pembuluh darah. Otot ini disarafi oleh saraf otonom dan kontraksinya tidak dibawah kontrol keinginan.

3). Otot lurik atau rangka


Diliputi oleh kapsul jaringan ikat. Otot rangka merupakan otot yang memiliki variasi ukuran,dan bentuk dari panjang, tipis,sampai lebar dan datar. ( Suratun, 2006 )

b. Karakteristik Jaringan Otot 1). Eksitabilitas adalah kesanggupan sel untuk menerima dan merespon
stimulus.

2). Kontraktibilitas adalah kesanggupan sel untuk merespons stimulus


dengan memendek secara paksa.

3). Ekstensibilitas adalah kesanggupan sel untuk merespons stimulus


dengan memperpanjang dan memperpendek serat otot saat relaksasi ketika berkontraksi dan memanjang jika rileks.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

12

4). Elastisitas adalah kesanggupan sel untuk menghasilkan waktu


istirahat yang lama setelah memendek dan memanjang.

c. Fungsi Otot
Fungsi otot skelet adalah mengontrol pergerakan, mempertahankan postur tubuh dan menghasilkan panas.Agar otot dapat melakukan fungsi untuk menghasilkan gerakan, otot harus melekat pada kedua ekstremitasnya. Jika otot berkontraksi, salah satu perlekatannya secara relatif tetap stasioner sementara yang lain mendekatinya. Salah satu tulang dimana otot melekat biasanya dalam keadaan lebih stasioner dari otot yang lain. Perlekatan otot biasa disebut origo. Ekstremitas otot lainnnya, terutama anggota gerak, biasanya melekat dengan tulang yang bergerak pada sejumah jenis sendi ketika otot berkontraksi, perlekatan ini disebut insersi(Sacharin,1996).

d. Kontraksi otot
Otot berkontraksi jika ada rangsangan. Menurut Suratun (2006) beberapa tipe kontraksi otot yaitu:

1). Tonik 2). Isotonik 3). Isometrik


lebih pendek

: kontraksi sebagian otot secara terus-menerus : kontraksi yang tidah mengubah otot, hanya : ketegangan otot meningkat namun otot menjadi : reaksi sentakan (refleks) pada suatu stimulus : kontraksli lebih dari twich yang berlangsung cepat. : kontraksi twich yang sangat kuat secara terus : kontraksi asincronus pada otot setiap individu : kontraksi tetanik yang tidak terkoordinasi secara

mengubah panjang

4). Twich 5). Tetanik 6). Treppe 7). Fibillation 8). Konvulsi

menerus dan konstan.

normal pada sekelompok otot tertentu. 2.1.5. Pertumbuhan Pasca Natal Dari Otot Skelet Otot skelet tumbuh sejajar dengan daerah yang ditempatinya. Kontraksi aktif dan pemanjangan pasif merupakan rangsangan pertumbuhan pasca natal yang kuat. Jika panjang yang dilalui otot saat memendek selama gerakan

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

13

ditingkatkan atau dikurangi secara buatan, maka pertumbuhan panjang meningkat atau menurun. Imobilisasi dari otot pada posisi yang memendek menimbulkan penurunan pertumbuhan panjang.Peningkatan kerja yang harus dilakukan otot merangsang pertumbuhan dalam ukuran. (Sacharin,1996). 2.1.6. Struktur Lain Dalam Sistem Muskuluskeletal Struktur lain dalam system musculoskeletal (Suratun, 2006) adalah sebagai berikut : a. Ligamen Ligamen adalah sekumpulan jaringan fibrosa yang tebal yang merupakan akhir dari suatu otot dan berfungsi mengikat suatu tulang b. Tendon Perpanjangan dari pembungkus fibrosa yang membungkus setiap otot dan berkaitan dengan periosteum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon. c. Fasia Lapisan jaringan pengikat yang melapisi otot. d. Bursae Suatu kantong kecil dari jaringan penyambung yang digunakan diatas bagian yang bergerak.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

14

2.2. Konsep Dasar Fraktur 2.2.1. Pengertian Fraktur adalah terputusnya/patahnya kontinuitas tulang yang terjadi ketika tulang tidak mampu lagi menahan tekanan yang diberikan kepadanya (Smeltzer et all,2010 & Wong, 2003 dan Sjamsuhidajat, 2010). Sedangkan menurut Charlene (2001) fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.Fraktur terjadi jika tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsinya (Smeltzer et all, 2010). Kebanyakan fraktur akibat dari suatu trauma.Trauma yang menyebabkan fraktur dapat berupa trauma langsung yaitu benturan pada lengan bawah yang menyebabkan patah tulang radius dan ulna atau tidak langsung yaitu jatuh tertumpu pada tangan yang menyebabkan tulang clavicula atau radius distal patah serta fraktur sekunder akibat proses penyakit 2.2.2. Etiologi a. Trauma seperti osteoporosis yang menyebabkan fraktu rpatologis (Sjamsuhidajat, 2010, Engram,1998).

1). 2).

Trauma

langsung

berati

benturan

pada

tulang

dan

mengakibatkan fraktur ditempat itu (Reeves,2001) Trauma tidak langsung bilamana titik tumpu benturan dengan terjadinya fraktur berjauhan (Reeves,2001)

3).Trauma akibat tarikan otot


Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi.Kekuatan dapat berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi dari ketiganya, dan penarikan (Reeves,2001). b. Patah tulang karena letih. Patah karena otot tidak dapat mengabsorbsi energy seperti berjalan terlalu lama (Komisi keperawatan St.Carolus, 2000). c. Kondisi patologi

1).

Umum

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

15

(a). Osteoporosis dapat bersifat idiopatik atau sekunder akibat


keganasan atau obat-obat kortikosteroid.

(b). Metabolik,Rickets,defisiensi vitamin D,gangguan ginjal. (c). Gangguan endokrin. (d). Osteoporosis menopausal. (e). Kongenital 2).
Lokal yaitu tulang-tulang memang rapuh seperti osteogenesis imperfekta.

(a). Tumor-tumor yang simplex seperti giant cell tumor atau


chondroma yang ganas seperti sarcoma.

(b). Infeksi tulang (osteitis). (c). Metastase tumor pada tulang(tumor primer biasanya pada
thyroid,ginjal dan bronchus).

(d). Desakan langsung dari aneurisma atau dari tumor.


2.2.3.Klasifikasi Klasifikasi klinis fraktur dari Wong (2003) : a. Fraktur yang lengkap (complete fractur) yaitu fragmen-fragmen fraktur benar-benar terpisah b. Fraktur inkomplet yaitu fragmen-fragmen fraktur tetap berlekatan c. Fraktur Comminuted yaitu fragmen-fragmen kecil dari tulang terpecah dari batang tulang yang fraktur dan berada di sekitar jaringan (sangat jarang pada anak) d. Fraktur tekan (stress fracture) yaitu kerusakan tulang karena kelemahan yang terjadi sesudah berulang-ulang ada tekanan berlebihan yang tidak lazim e. Impacted fractur yaitu fragmen-fragmen tulang terdorong masuk kearah dalam tulang satu sama lain, sehingga tidak dapat terjadi gerakan diantara fragmen-fragmen itu. Klasifikasi fraktur berdasarkan hubungan antar ujung tulang yang mengalami fraktur dengan jaringan-jaringan sekitarnya menurut Wong (2003): a. Fraktur sederhana atau tertutup yaitu fraktur yang tidak menimbulkan kerusakan pada kulit.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

16

b. Fraktur terbuka atau compound yaitu fraktur dengan luka terbuka di mana tulang menonjol keluar melalui luka tersebut. c. Fraktur komplikata yaitu fragmen-fragmen tulang yang patah menyebabkan kerusakan pada organ atau jaringan lain.Fraktur seperti ini dapat berbentuk fraktur tertutup atau fraktur terbuka. Contohnya: Fraktur pelvis tertutup menyebabkan rupture vesica urinaria Fraktur costa menyebabkan luka pada paru-paru Fraktur corpus humeri menyebabkan paralisis nervus radialis d. Fraktur patologis yaitu karena adanya penyakit local pada tulang maka kekerasan yang ringan saja pada bagian tersebut sudah dapat menyebabkan fraktur. Berdasarkan Komplit atau ketidakkomplitan fraktur: a. Fraktur Komplit, garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui seluruhpenampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto. b. Fraktur tidak komplit, garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang, seperti: 1). Hair line fraktur (patah retidak rambut ) 2). Buckle fractureatau torus fraktur bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya. Fraktur ini umumnya terjadi pada distal radius anak-anak. 3). Greenstick fraktur(fraktur tangkai dahan muda). Mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang anak. (Resoprodjo,1995) Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanisme trauma:

a. b. c.

Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung. Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan merupakan akibat trauma angulasi juga. Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi. KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

17

d. e.

Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain. Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.misalnya fraktur patella. (Grece,2006)

Berdasarkan jumlah garis patah: a. Fraktur komunitif jika garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan berhubungan. Bila dua garis patah disebut pula fraktur bifokal. c. Fraktur Multiple jika garis patah lebih dari satu tetapi pada tulang yang berlainan tempatnya, misalnya; fraktur femur, fraktur cruris, dan fraktur tulang belakang (Sjamsuhidajat,2010) Berdasarkan pergeseran fragmen tulang a. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser), garis patah komplit tetapi kedua fragmen tidak bergeser. Periosteumnya masih utuh b. Fraktur Displaced (bergeser), terjadi pergeseran fragmen-fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen terbagi atas: 1). Dislokasi ad longitudinal cum contractioum (pergeseran searah sumbu dan overlapping) 2). Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut) 3). Dislokasi adlatus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauhi), (Sjamsuhidajat,2010) Berdasarkan posisi frakur, sebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian : a. b. c. 1/3 proksimal 1/3 medial 1/3 distal Bila terdapat luka melalui kulit dan subkutis tetapi fascia masih utuh disebut fraktur yang potensial terbuka. Bilamana fraktur dan luka berada pada regio yang berlainan atau berjauhan tidak disebut fraktur terbuka. Misalnya : fraktur 1/3 distal proksimal yang tidak berhubungan sama sekali dengan hematoma fraktur tersebut (Resoprodjo,1995). b. Fraktur Segmental jika garis patah lebih dari satu tetapi tidak

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

18

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

18

2.2.4. Manifestasi Klinis a. Deformitas : perubahan bentuk. b. Hilang/keterbatasan fungsi mobilisasi. c. Krepitasi : tulang bergeser. d. Nyeri tekan e. Paralisis : kelumpuhan / hilangnya kemampuan untuk bergerak. f. Pucat. g. Nyeri h. Bengkak dan edema. i. Perubahan suhu tubuh. j. Perubahan warna kulit. k. Perdarahan. l. Syok akibat cedera berat, kehilangan darah dan nyeri hebat. m.Terbukti fraktur lewat foto rontgen. (Komisi Keperawatan St.Carolus,2000) 2.3. Konsep Dasar Fraktur pada Anak 2.3.1. Fraktur pada anak Fraktur pada anak telah diperkirakan menyebabkan 10-15% dari semua cedera masa anak. Sistem skeleton anak mempunyai perbedaan anatomik, biomekanik, dan fisiologis dari sistem skeleton dewasa. Ini mengakibatkan pola fraktur yang berbeda, termasuk fraktur epifisis, masalah masalah diagnosis, dan teknik penatalaksanaan. Perbedaan anatomi pada sistem skeleton pediatri meliputi adanya kartilago preosseosa, fisis, dan periosteum yang lebih tebal, lebih kuat, lebih osteogenik yang membentuk kalus lebih cepat dalam jumlah yang lebih besar. Secara biomekanik, sistem skeleton pediatri yang mengabsorbsi lebih banyak energi sebelum terjadi perubahan bentuk dan fraktur dibandingkan tulang orang dewasa. Hal ini berkaitan dengan lebih rendahnya kandungan mineral dan lebih besarnya porositas (banyaknya pori) pada tulang muda. Ketika terjadi maturasi porositas berkurang dan korteks tulang menjadi lebih tebal dan lebih kuat (Robert,2000)

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

19

Fraktur yang paling sering terjadi pada anak: a. Bends yaitu tulang anak yang fleksibel dapat dibengkokkan 45 derajat atau lebih sebelum terjadi patah.Tetapi bila tulang tersebut melengkung maka tulang tersebut akan lurus kembali dengan perlahan tetapi tidak sempurna,menimbulkan beberapa deformitas tetapi tanpa angulasi yang terjadi ketika tulang patah.Bends lebih umum terjadi pada ulna dan fibula yang sering dikaitkan dengan fraktur radius dan tibia. b. Fraktur Buckle yaitu kompresi tulang keropos yang menimbulkan fraktur buckle atau torus.Fraktur ini tampak seperti proyeksi yang menonjol di tempat fraktur.Fraktur torus terjadi pada bagian tulang yang paling keropos didekat metafisis(bagian batang tulang berada didekat epifisis ) dan lebih umum terjadi pada anak kecil c. Fraktur Greenstick yaitu terjadi bila tulang terangulasi melebihi batas pembengkokkannya.Sisi yang terkompresi melengkung dan sisi yang menegang mengalami kerusakan, yang serupa dengan yang terlihat pada green stick yang patah. d. Fraktur komplet yaitu membagi fragmen-fragmen tulang.Fraktur ini sering kali dilekatkan oleh engsel periosteal yang dapat membantu atau menghalangi reduksi (Wong,2003) 2.3.2. Etiologi Penyebab fraktur pada anak dapat bermacam-macam , termasuk ; a. Dorongan langsung pada tulang b. Kondisi patologis yang mendasarinya, seperti rakitis yang mengarah pada fraktur spontan c. Kontraksi otot yang kuat dan tiba-tiba d. Dorongan tidak langsung dari jarak jauh e. Penyebab lainnya adalah penganiayaan anak, neuroblastoma metastastik, sarkoma Ewing, sarkoma osteogenik, defisiensi tembaga, osteomielities, cedera karena penggunaan berlebih, dan immobilisasi yang mengakibatkan osteoporosis (Betz, 2009)

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

20

2.3.3. Pola Fraktur Pediatri Pola ini sebagian akibat dari sifat-sifat anatomi, biomekanik, dan fisiologi sistem skeleton anak. a. Komplit Fraktur komplit adalah tipe yang paling lazim dan terjadi bila kedua sisi tulang terfraktur.Diklasifikasikan sebagai fraktur spiral, melintang, miring, atau pecah-pecah(remuk) tergantung pada arah garis fraktur. b. Fraktur melengkung atau Torus. Penyebabnya adalah kompresi tulang dan khas terjadi pada daerah metafisis pada anak kecil, terutama pada radius distal. c. Greenstick. Bila tulang dibengkokkan diluar batas kekuatan deformitas plastik, dapat terjadi fraktur greenstick. d. Fraktur deformasi palstik, atau tekukan. Deformitas pelengkungan atau penekukan traumatis disebabkan oleh deformitas plastik tulang. Tulang ditekuk diluar batas deformasi plastiknya, tetapi energi tidak cukup untuk menghasilkan fraktur. Fraktur ini paling lazim ditemukan pada ulna dan kadang-kadang fibula. (Nelson, 2000) e. Fraktur epifisis. Selter Haris mengklasifikasikan kerusakan epifisis kedalam 5 klompok 1). Type I - Fraktur melintasi lempeng pertumbuhsn tanpa mengenai metafisis atau epifisis - Terjadi dengan cedera traumatik ringan - Paling sering terjadi fibula distal 2). Type II - Fraktur meluas melalui lempeng pertumbuhan, mengenai metafisis - Terjadi akibat trauma hebat seperti kecelakaan mobil, jatuh dari skateboard. - Paling sering terjadi pada radius distal dan humerus proksimal 3). Tipe III - Fraktur meluas melalui lempeng pertumbuhan, mengenai epifisis dan sendi KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

21

- Terjadi selama trauma cukup berat - Paling sering terjadi pada tibia distal 4). Tipe IV - Fraktur mengenai metafisis, meluas melalui lempeng pertumbuhan kedalam epifisis - Terjadi karena jatuh, kecelakaan skateboard dan sepeda - Paling sering terjadi pada humerus - Dapat menimbulkan kerusakan berat 5). Tipe V ( jarang) - Lempeng pertumbuhan hancur - Fraktur kompresi, karen jatuh atau benturan proyektil ( Betz,2009)

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

22

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

23

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

24

2.3.5 a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k.

Manifestasi Klinis

Nyeri atau tenderness Immobilisasi Menurunnya pergerakan Adanya krepitasi Echymosis dan eritema Spasme otot Deformitas Bengkak atau adanya memear Gangguan sensasi Hilangnya fungsi Menolak untuk berjalan atau bergerak (Supartini, 2002)

2.3.6 Pemeriksaan Penunjang a. Sinar X Untuk menampakkan perubahan struktural atau fungsional pada tulang dan b. sendi digunakan untuk menilai masalah atau penyakit muskuloskletal (Supartini, 2002) Arthrography Berguna untuk melihat ligamen (ikatan sendi) dan kartilago (tulang rawan), yang tidak bisa tervisualisasi dengan menggunakan sinar X (Supartini,2002) c. Scan Tulang Memberikan tampilan gambar sistem tulang dan membantu pengidentifikasian pada titik langsung dimana terjadi peningkatan metabolisme dan mendeteksi adanya penyakit keganasan, trauma, masalah degeneratif dan osteomyelitis (Reeves,2001) d. Scan Computed Tomography (CT) Memberikan gambar irisan melintang dari jaringan lunak dan tulang yang mengalami ketidaknormanlan (Reeves,2001) e. Magnetic Resonansi Imaging (MRI)

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

25

Menyediakan gambar-gambar sensitif yang dapat membedakan antara jaringan solid, lemak, darah dan tulang. MRI ini digunakan khususnya dalam mendiagnosa lesi spinal yang mengalami demyelinasi, tumor penyakit diskus, dan osteomyelitis (Supartini,2002) f. Arthroscop Menvisualisasikan sendi secara langsung dan digunakan khususnya untuk mengevaluasi dan memperbaiki penyakit dilutut (Smeltzer et all,2010) g. Electromyographi Alat ini digunakan khususnya untuk mendiagnosa distropfi otot dan penyakit motor neuron (Smeltzer et all,2010 h. Analisis Cairan Synovial Untuk i. Byopsi. Sebagian dari tulang atau jaringan diambil untuk pemeriksaan histologis. Biopsi dapat membantu antara lesi yang jinak dan yang ganas (Reeves,2001) j. Darah Lengkap Kemungkinan mengalami peningkatan (hemokonsentrasi) atau menurun (singnifikan dengan perdarahan fraktur atau organ yang terlibat dengan multiple trauma),bila terjadi infeksi pada pemeriksaan laju endap darah (Reeves,2001). k. Pemeriksaan Kimia Darah Memberikan data mengenai berbagai macam kondisi muskuloskeletal misalnya:osteomalasia,penyakit Paget,tumor tulang metastasis dan Rikets (Reeves,2001) l. Pemeriksaan Pembekuan Darah Mendeteksi kecenderungan perdarahan karena tulang merupakan jaringan yang sangat vaskuler (Reeves,2001) m. Kadar Kalsium Urine Meningkat 2010) pada kondisi destruksi tulang misalnya disfungsi parathyroid,tumor tulang metastasis,myeloma multiple (Smeltzer et all, dianalisa terhadap penyakit-penyakit sendi yaitu sepsis, perdarahan, inflamasi dan noninflamasi (Smeltzer et all,2010)

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

26

2.3.7

Penatalaksanaan 1). Fraktur terbuka adalah suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera. Tindakan sudah harus dimulai dari fase prarumah sakit : o Kaji tanda-tanda fraktur o Tentukan mekanisme cideranya. o Melakukan imobilisasi daerah fraktur dengan pembidaian. o Menghentikan perdarahan dengan perban tekan o Menghentikan perdarahan besar dengan klem 2). Tiba di UGD harus segera diperiksa menyeluruh dan tindakan yang dilakukan: o Kaji adanya kerusakan sirkulasi yang tanda-tandanya antara lain sianosis, penurunan nadi perifer, nyeri hebat, pucat, kehangatan, kesemutan atau mati rasa. o Tindakan Debridement jika fraktur terbuka dan memungkinkan bagi anak. o Pertahankan anak puasa sampai sesudah pengobatan jika mungkin anak akan di bius o Persiapkan dan beri penjelasan pada anak dan keluarga tentang tindakan atau penatalaksanaan yang akan dilakukan.

a. Fraktur Terbuka

b. Manajemen keseluruhan fraktur dan pengobatan yang dilakukan 1). Rekognisi/Pengenalan Yaitu merupakan pengenalan mengenai diagnosis pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian di rumah sakit.Deskripsi tentang kejadian ini berperan menentukan kemungkinan tulang yang patah yang dialami dan kebutuhan pemeriksaan spesifik untuk fraktur. Tindakan yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan bidai (Komisi Keperawatan St. Carolus,2000) 2). Reduksi/Reposisi

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

27

Pemulihan keselarasan anatomi tulang yang fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.Metode yang dapat dilakukan dalam mereduksi atau reposisi antara lain: o Reduksi tertutup Dilakukan dengan mengembalikan fragmen tulang ke posisinya (ujung-ujung saling berhubungan) dengan manipulasi dan traksi manual. Alat immobilisasi akan menjaga reduksi dan menstabilkan ekstrimitas untuk penyembuhan tulang (Smeltzer et all,2010). o Traksi Dapat digunakan untuk mendapatkan efek reduksi dan imobilisasi. Beratnya traksi disesuaikan dengan spasme otot (Smeltzer et all, 2010).Pada anak-anak dipakai traksi kulit ( traksi Hamilton Russel/traksi Bryant).Traksi kulit terbatas untuk 4 minggu dan beban <5kg, untuk anak-anak waktu dan beban tersebut mencukupi untuk dipakai traksi definitif, bilamana tidak maka diteruskan dengan immobilisasi gips (Robert,2000). Macam-macam traksi kulit yang digunakan pada anak: - Traksi kulit menggunakan kerangka Gallows untuk anak-anak usia di bawah 3 tahun. - Traksi kulit dengan splints Thomas untuk anak-anak berusia 3 tahun atau lebih - Untuk anak-anak yang lebih tua, traksi kulit mungkin tidak memadai bila dipertimbangkan adanya penumpukan bagian fraktur terjadi. Traksi skeletal mungkin diperlukan yang diinsersikan ke dalam tibia bagian atas dan berjarak sedikit dari lempeng epifise distal. o Reduksi terbuka dan fiksasi interna Terjadi pada fraktur tertentu dan dilakukan dengan pendekatan pembedahan untuk mereduksi fragmen tulang. Alat fiksasi interna fragmen tulang yang atau tulang digunakan batangan dalam dalam logam posisinya bentuk untuk sampai pin,paku,kawat,sekrup,plat mempertahankan penyembuhan

terjadi.Misalnya:Tindakan

ORIF/Open

Reduction and Internal Fixation (Smeltzer et all,2010). KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

28

3). Imobilisasi atau Retensi reduksi Setelah fraktur direduksi,fragmen tulang harus diimobilisasi atau dipertahankan dalam posisi dan kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan.Metodenya adalah pembalutan,gips,bidai,traksi kontinu,pin atau fiksator eksterna (Smeltzer et all,2010). 4). Pemulihan fungsi (Restorasi) atau rehabilitasi Sesudah periode imobilisasi pada bagian manapun selalu akan terjadi kelemahan otot dan kekakuan sendi. Hal tersebut dapat diatasi dengan aktifitas secara progresif dan dimudahkan dengan fisioterapi atau dengan melakukan kerja sesuai dengan fungsi sendi tersebut.Bila konsolidasi sudah terjadi barulah klien diizinkan untuk menahan beban atau 5). 6). menggunakan anggota badan tersebut secara bebas (Sacharin,1995) Mengurangi nyeri dengan pemberian analgesik Waspada terhadap terjadinya komplikasi Kemungkinan yang terjadi adalah iskemia karena cedera pembuluh darah dan reduksi suplai darah ke jaringan, dan kesemutan yang sehubungan 2.3.8 dengan cidera syaraf dan tekanan akibat gibs (Sacharin,1995) Proses Penyembuhan Fraktur o Hematom terbentuk dari darah yang mengalir berasal dari pembuluh darah yang robek. o Hematom dibungkus jaringan lunak sekitar (periosteum dan otot) o Terjadi sekitar 24-48 jam. b. Stadium proliferasi sel o Sel-sel berproliferasi dari lapisan dalam periosteum, sekitar lokasi fraktur. o Sel-sel ini menjadi precursor osteoblas o Sel-sel ini aktif tumbuh ke arah fragmen tulang. o Proliferasi juga terjadi di jaringan sumsum tulang o Terjadi setelah hari ke-2 kecelakaan terjadi. c. Stadium pembentukan kallus a. Stadium pembentukan hematom

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

29

o Osteoblast membentuk tulang lunak (kallus). o Kallus memberikan rigiditas pada fraktur. o Jika terlihat massa kallus pada X-ray berarti fraktur telah menyatu. o Terjadi setelah 6-10 hari setelah kecelakaan terjadi. d. Stadium konsilidasi o Kallus mengeras dan terjadi proses konsolidasi. Fraktur teraba telah menyatu. o Secara bertahap menjadi tulang mature. o Terjadi pada minggu ke 3-10 setelah kecelakaan. e. Stadium remodeling o Lapisan bulbous mengelilingi tulang khususnya pada lokasi ex-fraktur. o Tulang yang berlebihan dibuang oleh osteoklas. o Pada anak-anak remodeling dapat sempurna, dewasa masih ada tanda penebalan tulang.

(Reeves, 2001)
2.3.9 Komplikasi a. Syok dan perdarahan Syok terjadi karena kehilangan banyak darah terutama pada kasus berat, volume darah dan tekanan vena sentral sangat menurun. Sehingga dapat menyebabkan syok hipovolemi dan akan terjadi kegagalan sirkulasi perifer jika tekanan vena sentral tidak meningkat dan biasanya menurun (Reeves,2001) b. Emboli lemak Merupakan keadaan pulmonary akut dan dapat mengakibatkan kondisi fatal. Hal ini terjadi ketika gelembung-gelembung lemak terlepas dari sumsum tulang dan mengelilingi jaringan yang rusak. Gejala dari sindrom emboli mencangkup dysnea, perubahan dalam status mental ( gaduh-gelisah, marah, binggung ), tachypnea, tachycardia (Corwin,2000). c. Thrombosis vena Terutama pada minggu-minggu pertama sesudah trauma, thrombosis sering terjadi pada vena yang dalam di betis. Tandanya berupa rasa 1. Komplikasi awal

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

30

nyeri di betis bila kaki di dorsoflexi-kan, nyeri tekan betis dan pembengkakan tungkai (Reeves,2000) d. Kerusakan pembuluh darah vena Arteri yang membawa darah teroksigenasi ke tungkai mungkin terganggu oleh fraktur. Arteri mungkin terputus sama sekali sehingga tidak ada darah yang mengalir melalui tungkai sehingga tungkai jadi pucat, amat nyeri, nadi melemah dan paralise (Corwin,2000) e. Compartemen syndrome Terjadi saat peningkatan tekanan jaringan dalam ruang tertutup di otot, yang sering berhubungan dengan akumulasi cairan sehingga menyebabkan hambatan aliran darah yang berat dan berikutnya menyebabkan kerusakan otot. Gejala-gejalanya mencangkup rasa sakit karena terdapat ketidakseimbangan pada luka, rasa sakit karena tekanan yang berlebihan pada kompartemen, rasa sakit dengan perenggangan pasif dari otot yang terlibat, parestesia, pallor, paralysis, pulselessness dan poikilotermia. Komplikasi ini terjadi pada fraktur tulang kering/tibia dan hasta (radius dan ulna) ( Corwin,2000,Reeves,2001) f. Osteomyelitis Adalah infeksi dari jaringan tulang yang mencangkup sumsum atau korteks tulang. Pathogen dapat masuk melalui fraktur terbuka, luka tembus atau selama operasi (Corwin,2000) g. Ganggren gas Berasal dari infeksi yang disebabkan oleh bacterium saprophystik gram negatif anaerob yaitu Clostridium welchii. Clostridium biasanya tumbuh pada luka dalam yang mengalami penurunan suplai oksigen karena trauma otot (Corwin,2000) 2. Komplikasi Pada Penyembuhan Fraktur a. Malunion Fraktur sembuh dengan deformitas (angulasi,perpendekan atau rotasi) b. Delayed Union : Fraktur yang sembuhnya terlambat dengan adanya satu atau lebih hal berikut yaitu fraktur dengan fragmen kecil yang banyak, sepsis,

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

31

reposisi yang tidak baik, pengaruh pembedahan, immobilisasi yang tidak mencukupi atau traksi yang salah (Resoprodjo,1995) c. Non-union Fraktur yang tidak menyambung yang juga disebut pseudarthrosisi. Disebut nonunion bila tidak menyambung dalam 20 minggu. Pada fraktur dengan kehilangan fragmen sehingga ujung-ujung tulang berjauhan, maka dari awal sudah potensial menjadi nonunion dan boleh diberlakukan sebagai nonunion (gap nonunion) (Resoprodjo. S, 1995). 2.4. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Pada Anak dengan Fraktur Adapun data-data yang diproleh dalam melakukan pengkajian pada anak dengan patah tulang/fraktur adalah 2.4.1 Pengkajian a. Biodata klien dan penanggung jawab Meliputi nama, jenis kelamin,agama, suku/bangsa,alamat, tanggal dan jam masuk, diagnosa medik dan nomor registerasi. Sedangkan identitas penanggung jawab yang perlu dikaji adalah nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat dan hubungan dengan klien. b. Keluhan utama Keluhan utama yang sering terjadi pada anak dengan fraktur adalah nyeri. Nyeri tersebut bisa akut atau kronik tergantung lamanya serangan. Untuk memperoleh pengkajian yang lengkap tentang nyeri maka dikaji: a) Provoking incident: apakah yang menjadi faktor penyebab nyeri, rasa nyeri yang berkurang saat istirahat,yang menyebabkan nyeri bertambah. b) Ouality of pain: seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut atau menusuk. c) Region: dimana lokasi nyerinya? d) Radiasi: apakah rasa sakit menjalar atau menyebar? e) Severity (Scala) of pain: seberapa rasa nyeri yang dirasakan klien, bisa berdasarkan skala nyeri/gradasi dan klien menerangkan seberapa jauh rasa sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya. f) Time: berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk pada malam atau siang hari? KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

32

c. Riwayat Penyakit Dahulu Pada anak dapat terjadi fraktur karena sebelumnya ada riwayat penyakit infeksi mengenai tulang yang disebut dengan fraktur patologi atau karena malignasi. d. Riwayat Penyakit Sekarang Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan penyebab dari fraktur, dan keluhan-keluhan yang dirasakan pada anak. Dapat berupa kronologi terjadinya fraktur sehingga dapt diketahui bagian tubuh yang terkena. e. Riwayat Penyakit Keluarga Terjadi fraktur tidak dipengaruhi oleh penyakit keluarga akan tetapi pada fraktur patologis dapat disebabkan karena adanya riwayat penyakit infeksi atau misalnya pada TBC tulang yang disebabkan karena kuman TBC atau karena kekurangan vitamin D (rakhitis). Sedangkan riwayat penyakit menurun, misalnya Diabetes Mellitus akan mempengaruhi proses penyembuhan. f. Riwayat bio-psiko-sosial-spiritual Pada keluhan ini penulis menggunakan dasar yang dikemukakan oleh Virgina Handerson, yaitu sebagai berikut : a) Kebutuhan oksigen Pada anak dengan patah tulang jarang mengalami gangguan sesak napas yang diakibatkan oleh gangguan peredaran darah dan adanya emboli dalam darah. b) Kebutuhan nutrisi Pada anak dengan patah tulang jarang mengalami penurunan nafsu makan secara berlebihan, begitu juga dalam hal minuman tidak mengalami keluhan. c) Eliminasi Anak patah tulang biasanya mengalami gangguan dalam buang air besar (konstipasi) karena pengaruh immobilisasi lama dan adanya pemasangan gips atau traksi. d) Gerak dan keseimbangan tubuh Klien dengan patah tulang biasanya mengalami gangguan aktivitas karena immobilisasi atau adanya nyeri yang hebat, sehingga dalam

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

33

bergerak klien mengalami keterbatasan. Pengukuran kemampuan perawatan diri klien sebagai berikut: - Makan / minum - Toileting - Berpakaian - Mobilitas di tempat tidur - Berpindah - Ambulasi / ROM Skor pengukuran: 0 : Mandiri, 1 : dengan alat bantu, 2 : di bantu orang lain, 3 : dibantu orang lain dan alat, 4 : tergantung total. e) Kebutuhan istirahat Anak dengan patah tulang kadang-kadang memgalami susah tidur karena adanya rasa nyeri dsan respon emosional tetapi hal ini terjadi bila nyeri yang hebat. f) Kebutuhan berpakaian Pada dengan patah tulang memerlukan bantuan dalam dalam kebutuhan berpakaian. g) Mempertahankan suhu tubuh Pertahanan suhu tubuh dengan patah tulang biasanya dalam batas normal, akan tetapi bila terjadi infeksi akibat patah tulang, maka akan mengalami peningkatan suhu tubuh. h) Kebutuhan personal hygiene Dalam pemenuhan kebutuhan personal hygiene anak dibantu oleh keluarga dan perawat karena keterbatasan aktivitas. i) Kebutuhan berkomunikasi Anak dengan patah tulang masih dapat berkomunikasi dengan orang sekitarnya seperti biasa. j) Kebutuhan rasa aman dan nyaman Biasanya mengalami gangguan karena rasa nyeri yang hebat dan akibat pergeseran ftagmen tulang pada daerah fraktur. k) l) Kebutuhan bekerja Klien masih anak-anak dan tidak bekerja Kebutuhan spiritual

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

34

Data spiritual klien dan keluarga perlu dikaji untuk mengetahui dampak dari penyakit yang dialami klien, meliputi agama dan ibadahnya. m) Kebutuhan bermain dan rekreasi Karena keterbatasan aktivitas anak dengan patah tulang tidak mampu beraktivitas atau bermain bersama teman-teman secara maksimal dan selama perawatan klien tidak dapat berekreasi. n) Kebutuhan belajar Kebutuhan belajar anak dengan patah tulang tidak mengalami gangguan. g. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan fisik tanda vital yang perlu dikaji antara lain: 1) Keadaan umum Anak kadang rewel jika mengalami nyeri atau karena hospitalisasi. 2) Kesadaran Compos mentis 3) Vital sign -Suhu -Nadi Anak usia 2-10 tahun: 70-110x/menit Remaja 10-21 tahun:60-90x/menit -Respirasi Usia 2 tahun: 25 x/menit, Usia 4-12 tahun: 19-23x/menit Usia 14-18 tahun: 16-18x/menit 4) Atropometri Mulai dari BB, panjang badan/tinggi badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas,lingkar abdomen untuk menentukan status gizinya. 5)Pemeriksaan Head to toe: - Kepala Bentuk mesocepal, tidak ada kelainan - Leher Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid atau amandel - Kulit KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK : 36,5 s/d 37,3 oC

35

Turgor kulit baik, kelembapan kulit normal, tidak ada icterus pucat (-) dan tidak ada sianosis - Rambut Wama, tidak berketombe, tidak rontok, tertata dengan rapi dan bersih. - Mata Bentuk simetris, kelopak mata tidak ditemukan cidera, pupil isokor, konjungtive tidak anemis, tidak ada icterus. - Hidung Bentuk simetris, bersih dan polip tidak ada - Mulut dan gigi Bibir berwarna agak pucat atau merah, kering tapi tidak pecah-pecah dan jumlah gigi lengkap serta tidak ada caries. - Telinga Bentuk simetris tidak ditemukan kelainan, serumen tidak ada, pendengaran baik. - Pemeriksaan Paru-paru a) Inpeksi Bentuk thorak: normal,pigeon chest,funnel chest, barrel chest, kyposis dan scoliosis Pernafasan pasien apakah ada retraksi intercostals,retraksi suprasternal, pernafasan cuping hidung Ada tidaknya cyanosis,batuk kering atau produktif. b) c) Palpasi Getaran dinding dada sama antara kiri dan kanan. Auskultasi Suara nafas apakah bronkhial,bronko vesikuler atau vesikuler. Dengarkan apakah ada/tidak suara nafas tambahan seperti rales, ronchi, wheezing, pleural friction rub. d) Perkusi Membandingkan permukaan thorak kanan dan kiri apakah resonan,dullness,tympani atau hiper resonan. - Pemeriksaan jantung a) Inspeksi dan palpasi: KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

36

Kaji adanya pembesaran jantung, irama denyut apical dan frekuensi jantung b) Auskultasi Dengarkan BJ I tunggal pada : ICS IV linea sternalis sinistra. ICS V linea mid clavicula line sinistra Dengarkan BJ II tunggal pada : ICS II linea sternalis dextra ICS II linea sternalis sinistra Kaji adanya kelainan bunyi jantung (murmur,gallop rythm) - Pemeriksaan Abdomen a) Inpeksi : bentuk abdomen,ada/tidak massa atau benjolan, ada/tidak bayangan pembuluh vena di kulit. b) Auskultasi : frekuensi bising usus dalam 1 menit,ada/tidak kembung c) Palpasi : ada/tidak distensi abdomen, ada/tidak benjolan/massa, tenderness, turgor kulit, hepar/lien teraba/tidak, ada/tidak asites d) Perkusi : bunyi tympani atau dullness jika ada cairan. - Genetalia atas bentuk simetris, tidak ada kelainan dan genetalia bersih - Anus Ada/tidaknya hemorid, fissure ani, fistule, perineum ada/tidak luka atau tonjolan. - Pemeriksaan system muskuloskletal Harus diperhatiakan keadaan proximal serta bagian distal terutama mengenai status neurovaskuler (untuk status neurovaskuler yang perlu diperhatikan yaitu pain, pallor/pucat, parestesia, pulselessness / tidak berdenyut, paralysis, poikilotermia). Pemeriksaan pada ekstrimitas atas dan bawah sebagai berikut: Look (Inpeksi) a) b) Tanda-tanda cedera Pembengkakan umum

c) Nyeri atau nyeri tekan

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

37

d) Penurunan penggunaan fungsional dari bagian yang sakit (pada anak kecil yang menolak untuk berjalan atau menggerakkan ekstremitas atas sangat dicurigai terjadi fraktur) e) f) g) h) i) j) Adanya memar Kaku otot yang parah Krepitasi (sensasi memarut sisi fraktur ) Gerakan yang tidak normal Kaji lokasi fraktur serta observasi adanya deformitas, instruksikan anak untuk menjukkan area yang nyeri Kaji sirkulasi dan sensasi pada distal pada sisi fraktur Palpasi Pada waktu palpasi, terlebih dahiulu posisi penderita diperbaiki mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Pada pemeriksaan ini yang perlu dicatat adalah: a) Perubahan suhu sekitar trauma (hangat) dan kelembapan kulit. Periksa area distal tempat cidera apakah terasa dingin yang disebabkan oleh nadi menurun, capillary refill timenya. b) Apakah ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema terutama sekitar persendian. c) Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, spasme otot, catat letak kelainan (1/3 proksimal, tengah atau distal) Kekuatan otot a) Nilai 0 Otot sama sekali tidak mampu bergerak, tampak berkontraksiipun tidak. Bila lengan atau tungkai dilepaskan akan jatuh 100% pasif b) Nilai 1 Tampak berkontraksi atau ada sedikit gerakan dan ada tahanan sewaktu jatuh. c) Nilai 2 Mampu menahan tegak/manahan gravitasi tapi dengan sentuhan akan jatuh. d) Nilai 3 Mampu menahan tegak, walaupun sedikit didorong, tapi tidak mampu melawan tekanan/dorongan dari pemeriksa.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

38

e) Nilai 4 Seluruh gerakan otot dapat dilakukan melawan gaya berat dan juga melawan tahanan ringan dan sedang. f) Nilai 5 Seluruh gerakan dapat dilakukan otot tersebut dengan tahanan maksimal dari pemeriksa tanpa kelelahan. Status neurovaskulernya Pain (saat istirahat atau digerakkan), pallor, parestesia, pulselessness, paralysis, poikilotermia. - Persyarafan Ada/tidaknya reflek patologis, gangguan emosi, kerusakan proses pikir, letargi, iritabilitas, hemiplegi atau hemiparese. 6) DDST (Denver Developmental Screening Test) Digunakan untuk deteksi dini penyimpangan perkembangan anak, yang terbagi dalam 4 sektor, diantaranya: personal social (perilaku social), fine motor adaptive (gerakan motorik halus), language (bahasa), gross motor (gerak motorik kasar). 2.4.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa Keperawatan yang muncul pada klien dengan fraktur antara lain: a. Nyeri akut Faktor berhubungan dengan agen cidera yaitu diskontinuitas jaringan. Batasan karakteristik: keluhan nyeri, perilaku distraksi, fokus menyempit atau pada diri sendiri, mengekspresikan perilaku ( misalnya gelisah, merengek, menangis, waspada ), perilaku berhati-hati dalam melindungi ekstremitas yang patah. b. Kerusakan mobilitas fisik Faktor yang berhubungan dengan deformitas dan terapi restriktif ( gips, traksi, imobilisasi tungkai). Batasan karakteristik: mengeluh tidak mampu bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik, menolak untuk bergerak, keterbatasan rentang gerak, penurunan kekuatan, kontrol otot/pembatasan gerak. c. Kerusakan integritas kulit Faktor yang berhubungan dengan fraktur/luka terbuka.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

39

Batasan karakteristik: gangguan permukaan kulit, invasi struktur tubuh, destruksi lapisan jaringan kulit. d. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer Faktor yang berhubungan dengan suplai oksigen ke jaringan tidak adekuat, Batasan karakteristik: pengisian kapiler>3 detik, kelambatan penyembuhan luka perifer, penurunan nadi, parestesia, warna kulit pucat, edema. e. Kekurangan volume cairan Faktor yang berhubungan dengan kehilangan darah masif. Batasan karakteristik : penurunan nadi, turgor kulit, haluaran urine, membrane mukosa kering, kulit kering, peningkatan suhu tubuh, haus, kelemahan. f. Gangguan pertukaran gas Faktor yang berhubungan dengan emboli lemak ,gangguan difusi O2 pada menbran alveolar. Batasan karakteristik: pernafasan abnormal (kecepatan, irama, kedalaman) kesulitan bernafas, bernafas dengan bibir, pernafasan cuping hidung, sianosis, gelisah. g. Resiko infeksi Faktor yang berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat, (integritas kulit tidak utuh, jaringan mengalami trauma). Faktor resiko: adanya luka terbuka, luka tidak di balut, oedema, kerusakan jaringan h. Ansietas Faktor yang berhubungan dengan perubahan status kesehatan anaknya. Batasan karakteristik: Perilaku : mengekspresikan kekhawatiran karena perubahan dalam peristiwa hidup,gelisah, insomnia, rasa nyeri yang menigkatkan ketidakberdayaan. Afektif : gelisah, ketakutan,berfokus pada diri sendiri. Fisiologis : wajah tegang, peningkatan keringat i. Gangguan citra tubuh Faktor yang berhubungan dengan cidera/keterlambatan penyambungan tulang. 2.4.3 Rencana Asuhan Keperawatan KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

40

a. jaringan.

Nyeri akut Faktor berhubungan dengan agen cidera biologis yaitu diskontinuitas Batasan karakteristik: Keluhan nyeri Perilaku distraksi Fokus menyempit atau pada diri sendiri Mengekspresikan perilaku( misalnya gelisah,merengek, menangis, waspada) Perilaku berhati-hati dalam melindungi ekstremitas yang patah. Never Someti mes NOC : Pain Control

No. 1 2 3 4 5 6 7

INDIKATOR Mengenali onset nyeri Menjelaskan faktor penyebab Memonitor setiap gejala Mengukur skala nyeri Menggunakan metode non analgesik untuk mengurangi nyeri Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan Melaporkan setiap adanya perubahan dan gejala nyeri pada tenaga profesional Melaporkan gejala yang tidak terkontrol pada petugas kesehatan Menggunakan sumbersumber yang tersedia. Mengenali gejala dari nyeri dan melaporkan adanya kontrol terhadap nyeri.

Rarely

Often

Consist enly

9 10.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

41

NOC : Pain Level NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 INDIKATOR Melaporkan adanya nyeri Lamanya episode nyeri Menunjukkan area yang terkena Meringis dan menangis Ekspresi wajah menunjukkan nyeri Kurangnya istirahat Agitasi Irritabilitas Wincing Diaphoresis Mondar-mandir Fokus menyempit Ketegangan otot Kehilangan nafsu makan Mual Food intolerance Pernafasan cepat Frekuensi nadi apical Frekuensi nadi radialis Perubahan tekanan darah Berkeringat NIC : Pain Management Definisi: Pengurangan nyeri atau penurunan nyeri pada level kenyamanan y yang diterima oleh pasien No 1. 2. 3. 4. 5. Aktivitas Lakukan pengakajian nyeri secara komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas dan faktor pre-disposisi. Observasi isyarat nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada saat komunikasi secara efektif Berikan pasien perawatan analgesik Gunakan teknik komunikasi terapeutik Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau Severe Substan tial Moderate Mild None

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

42

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16.

Evaluasi dengan pasien dan tim kesehatan tentang efektivitas pemeriksaan kontrol nyeri masa lampau Menggali faktor-faktor yang mengurangi atau memperparah nyeri Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dukungan Mengontrol faktor lingkungan yang mungkin mempengaruhi respon nyeri menuju ketidaknyamanan seperti : temperature, ruangan, pencahayaan, kebisingan. Kurangi faktor presipitasi Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologis, non farmakologis) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi Ajarkan tentang teknik non farmakologi Berikan analgesik untuk mengurangi nyeri Evaluasi keefektifan kontrol nyeri Tingkatkan istirahat

17. Kolaborasikan dengan dokter jika keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil b. Kerusakan mobilitas fisik Faktor yang berhubungan dengan deformitas dan terapi restriktif ( gips, traksi imobilisasi tungkai) Batasan karakteristik: NO 1 2 3 4 5 6 7 Mengeluh tidak mampu bergerak sesuai tujuan dalam lingkungan fisik, Menolak untuk bergerak Keterbatasan rentang gerak Penurunan kekuatan. Kontrol otot/pembatasan gerak. Mobility Severely Substantially Moderately Mildly None

NOC :

INDIKATOR Keseimbangan tubuh Koordinasi Gait Pergerakan otot Pergerakan sendi Body positioning performance Kemampuan berpindah tempat

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

43

8 9 10 11 12

Berlari Melompat Crawling Berjalan Ambulasi dengan kursi roda NOC : Immobility Consequences: Physiological

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

INDIKATOR Nyeri tekan Konstipasi Susah buang air besar Hipoaktive bowel Ileus paralitik Batu perkemihan Retensi urin Demam Infeksi saluran kemih Fraktur tulang Kontraktur sendi Hipotensi ortostatik Trombosis vena Kongesti paru Pneumonia Status nutrisi Kekuatan otot Muscle tone Batuk efektif Kapasitas vital

Severe

Substantial

Moderate

Mild

None

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

44

NIC : Exercise Therapy :Ambulation Definisi : membantu pasien memulai aktivitas fisik untuk memperkuat fungsi tubuh selama perawatan dan melindungi dari sakit atau cidera. No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Aktifitas Pakaikan pakaian pasien dengan longgar Longgarkan gips untuk mengurangi tekanan Lapisi pinggiran gips yang kasar untuk mencegah terjadinya luka Monitor vital sign sebelum dan sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan Konsutasikan fisioterapi tentang rencana ambulasi sesuai dengan kebutuhan Bantu klien menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah terjadinya cidera Ajarkan pasien tentang teknik ambulasi Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi Latih pasien dalam memenuhi kebutuhan ADL secara mandiri sesuai kebutuhan Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan pemenuhan kebutuhan ADL Ajarkan bagaimana merubah posisi dan bantuan jika diperlukan

NIC: Exercise Joint Mobility Definisi : gunakan aktif atau pasif tubuh untuk mengatur atau memulihkan pergerakan sendi No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aktifitas Tentukan batasan gerakan Kolaborasi dengan fisioterapis dalam mengembangkan dan menentukan program latihan Tentukan level gerakan pasien Jelaskan pada keluarga atau pasien tujuan dan rencana latihan Monitor lokasi ketidak nyamanan atau nyeri selama gerakan atau aktivitas Lindungi pasien dari trauma selama latihan Bantu pasien untuk mengoptimalkan posisi tubuh untuk gerakan aktif atau pasif Dorong ROM aktif Instruksikan pada pasien atau keluarga tentang ROM aktif dan pasif

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

45

10. 11.

Bantu pasien untuk mengembangkan rencana latihan ROM aktif Dorong klien untuk menunjukan gerakan tubuh sebelum latihan c. Kerusakan integritas kulit Faktor yang berhubungan dengan fraktur/luka terbuka Batasan karakteristik: Gangguan permukaan kulit, invasi struktur tubuh, destruksi lapisan jaringan kulit. NOC : Tissue Integrity: Skin and Mucous Membranes Severely Mildly

No. 1

INDIKATOR Temperature jaringan dalam rentang yang diharapkan Elastisitas kulit dalam rentang yang diharapkan Hidrasi dalam rentang yang diharapkan Pigmentasi dalam rentang yang diharapkan Warna dalam rentang yang diharapkan Tekstur dalam rentang yang diharapkan dan Bebas dari lesi, kulit utuh

Subtantiall y

Moderately

Not

2 3 4 5 6

NOC : Wound Healing : Primary Intention No. 1 2 3 4 INDIKATOR Keadaan kulit dan tepi luka Adanya formasi scar Cairan purulen dan cairan serous Eritema dan memar disekitar kulit None Limited Moderate Substantia l Intensive

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

46

Oedem periwound

NOC : Wound Healing : Secondary Intention No. INDIKATOR 1 Granulasi dan formasi scar 2 Penurunan ukuran luka 3 Cairan purulent, cairan serous, sanguineous dari selang 4 Eritema dikulit sekitarnya 5 Inflamasi luka 6 Odema periwound 7 Adanya blister kulit 8 Maserasi kulit 9 Nekrosis 10 Mengelupas 11 Berlubang 12 Sinus tract formation 13. Luka berbau busuk None Limited Moderate Substantaly Intensive

NIC : Pengawasan kulit No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Aktifitas Inspeksi kondisi luka operasi Observasi ektrimitas untuk warna, panas, keringat, nadi, tekstur, odema, dan luka Inspeksi kulit untuk kemerahan, panas, dan drainase Monitor kulit pada area kemerahan Monitor penyebab tekanan Monitor adanya infeksi Catat peubahan kulit Monitor kulit di area kemerahan

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

47

NIC : Wound Care Definisi : Mencegah komplikasi pada kulit dan penyembuhan luka No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15 Aktifitas Melakukan perawatan luka dengan NS 0,9% Monitor karakteristik luka termasuk drainase, warna, ukuran, dan bau luka Lakukan inisi di daerah luka jika diperlukan Berikan salep pada luka jika diperlukan Lakukan perawatan luka sesuai dengan tipe luka Pertahankan teknik steril dalam perawatan luka Lakukan perubahan cara perawatan luka jika di temukan banyak eksudat dan drainase Inspeksi kondisi luka setelah dilakukan rawat luka Mencatat dan membandingkan smua perubahan pada luka Hindari penekanan pada luka Lakukan reposisi setiap 2 jam sekali Berikan diet yang tepat instruksikan pada keluarga atau pasien untuk melaporkan jika ada tanda-tanda infeksi Jelaskan pada keluarga dan pasien tentang prosedur perawatan luka Dokumentasi tempat, ukuran, dan keadaan luka d. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer. Faktor yang berhubungan dengan suplai oksigen ke jaringan tidak adekuat, Batasan karakteristik: Pengisian kapiler > 3 detik Kelambatan penyembuhan luka perifer Penurunan nadi Parestesia Warna kulit pucat Edema NOC : Tissue Perfusion : Peripheral Definisi : aliran darah ke pembulu darah kecil di ekstermitas adekuat untuk mempertahankan fungsi jaringan

No

INDIKATOR

Severe

Substantial

Moderate

Mild

No

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

48

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Capilary refil jari tangan Capilary refil jari kaki Suhu kulit ekstremitas Kekuatan nadi carotis (kanan, kiri) Kekuatan nadi brakial (kanan,kiri) Kekuatan nadi radial (kanan,kiri) Kekuatan nadi femoral (kanan,kiri) Tekanan darah sistolik Tekanan darah diastolic Mean blood pressure

NIC : Circulation Care Definisi : Meningkatkan sirkulasi No. . 1. 2. 3 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Aktifitas Kaji secara komperhensif perifer (nadi perifer, odema, carpilary refill time, warna kulit dan temperature) Evaluasi odema dan nadi perifer Inspeksi kulit adanya luka Monitor tingkat nyeri Elevasikan ekstermitas 20o atau lebih tinggi dari jantung untuk meningkatkan aliran balik vena Inspeksi kerusakan jaringan Monitor adanay ketidaknyamaan atau nyeri saat aktifitas malam hari atau istirahat setelah aktifitas Letakkan ektermitas pada posisi anatomis Lakukan perubahan posisi minimal setiap 2 jam Lindungi ekstermitas dari cidera dorong latihan ROM aktif atau pasif khususnya ekstermitas bawah selama badrest Monitor laboratorium darah lengkap Monitor status cairan termasuk intake dan output Pertahankan hidrasi yang adekuat untuk mempertahankan viskositas darah Lakuan perawatan luka sesuai dengan ukuran dan tipe luka

11. 12. 13. 14.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

49

NOC : Vital Signs No 1 2 3 4 5 6 7 INDIKATOR Suhu tubuh Kecepatan denyut jantung Irama denyut jantung Kecepatan denyut radialis Irama dan kecepatan respirasi Tekanan darah (sistol, diastole) Pulse plessure Kedalaman inspirasi NIC : Vital Signs Monitoring Definisi : menganalisan kardiovaskuler, respirasi, dan suhu tubuh No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Aktifitas Untuk mencegah komplikasi Monitor tekanan darah nadi, suhu dan RR Monitor frekuensi dan irama jantung Monitor bunyi jantung Monitor irama dan kecepatan pernafasan Monitor tanda gejala hipotermi dan hipertermi Monitor warna kulit, suhu dan kelembabannya Monitor adanya sianosis Identifikasi penyebab perubahan vital signs Server Suptansial Moderet Mild No

2.5.4 Implementasi Keperawatan Implementasi adalah pengelolaan dan perwujutan dari rencana keperawatan yang meliputi tindakan-tindakan yang direncanakan oleh perawat yang diberikan pada klien. Pelaksaan tindakan keperawatan pada klien dengan fraktur ditunjukkan untuk mengurangi terjadinya komplikasi, meminimalkan terjadinya kecacatan, menberikan pendidikan kesehatan, membantu dalam perawatan pasien dan menghindari terjadinya gangguan body image. 2.5.5 Evaluasi Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan: 1. Nyeri berkurang 1) Ketidaknyamanan terkontrol dengan obat oral biasa KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK

50

2) Dapat bergerak dengan ketidaknyamanan minimal 3) Posisi diubah secara periodik untuk menigkatkan kenyamanan 2. Memperlihatkan peningkatan mobilitas fisik 1) Dapat berpindah secara mandiri atau dengan bantuan minimal. 2) Berpartisipasi dalam aktivitas kehidupan sehari-hari 3) Menggunakan alat bantu dengan nyaman 3. Memperlihatkan kerusakan integritas kulit yang minimal. 1) Luka tidak meluas 2) Tidak ada penekanan di area sekitar luka. 3) Terjadi granulasi, kemerahan dan luka bersih. 4. Memlihara perfusi jaringan adekuat. 1) Pembengkakan terkontrol. 2) Pengisian kapiler normal. 3) Warna kulit tidak pucat, terasa hangat dan tidak terjadi kesemutan 4) Memperlihatkan fungsi motoris.

KONSEP SISTEM MUSKULOSKELETAL PADA ANAK