Anda di halaman 1dari 2

Cinta Rabi'ah Al Adawiyah Suatu hari Imam Al Ghazali memberikan pelajaran di sebuah majelis ilmu.

Beliau menjelaskan, "Cinta adalah inti keber-agamaan. Ia adalah awal dan juga akhir dari perjalanan kita. Kalaupun ada maqam yang harus dilewati seorang sufi sebelum cinta, maqam itu hanyalah pengantar ke arah cinta; dan bila ada maqam-maqam sesudah cinta, maqam itu hanyalah akibat dari cinta saja." "Suatu hari Nabi shollallohu 'alaihi wassalam ditanya, 'Ya Rosululloh, apakah iman itu?' Rosul bersabda, 'Hendaklah Alloh dan Rosul-Nya engkau cintai daripada selain keduanya.'" lanjut Al Ghazali. Kemudian seorang muridnya bertanya, "Bukankah mencintai Rosululloh berarti mencintai selain Alloh? Lantas bagaimana dengan sikap Rabi'ah Al Adawiyah yang tidak mempunyai suami lagi setelah mencintai Alloh?" Menurut Al Ghazali, cinta kepada Alloh itu ibarat wadah yang berisi air. Kalau kita mau mengisinya dengan madu atau sirup, hal itu tidak bisa dilakukan sebelum air itu dikeluarkan. Atau, kalau air itu masih ada juga, hanya sebagian saja dari madu yang dapat diisikan ke wadah itu. "Kecintaan kepada Alloh subhanahu wa ta'ala. hanya bisa dicapai dengan menghilangkan kecintaan kepada selain-Nya. Itu pula yang terjadi pada Rabi'ah. Setelah mencintai Alloh, ia tidak mencintai siapapun. Imam Hasan Al Bashri pernah datang melamar Rabi'ah, tapi ternyata ditolak dengan sangat halus. Seakan ia mengatakan, 'Dalam hatiku sudah ada cinta kepada Alloh; tak tersisa lagi untuk mencintai manusia.'" terang Al Ghazali. "Ketika itu Rabi'ah menolak dengan mengajukan suatu tes. Ia bertanya kepada Hasan Al Bashri, 'Menurut Anda, berapa persenkah nafsu perempuan dibandingkan nafsu lelaki?' Hasan menjawab, 'Sembilan puluh persen nafsu perempuan dan sepuluh persen nafsu lelaki.' Rabi'ah melanjutkan, 'Berapa perbandingan akal perempuan dan akal lelaki?' Hasan menjawab, 'Sepuluh persen akal perempuan dan sembilan puluh persen akal lelaki.'" "Rabi'ah pun berkata, 'Mengapa saya yang memiliki akal sepuluh persen dapat mengendalikan sembilan puluh persen nafsuku sementara sembilan puluh persen akalmu tidak bisa mengendalikan sepuluh persen nafsumu?'" "Pernah ada orang yang bertanya pada Rabi'ah, 'Mengapa kau tolak Hasan?' Beliau menjawab, 'Karena di dalam hatiku hanya ada kecintaan

kepada Tuhan, tidak ada tempat untuk mencintai sesama manusia.' Orang itu bertanya lagi, 'Apakah kau juga tidak mencintai Rosululloh selaku manusia?' Rabi'ah menjawab, 'Kecintaanku pada Alloh tidak menyisakan tempat untuk mencintai manusia.'" "Hal inilah yang kemudian disalah-tafsirkan oleh orang-orang dengan menganggap bahwa Rabi'ah tidak mencintai Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam. Mereka berusaha menjatuhkan orang-orang saleh dengan permainan kata-kata. Padahal, kecintaan kepada Rosululloh pada dasarnya adalah 'ainu hubulillah, kecintaan pada Alloh yang sebenarnya." "Kecintaan kepada Alloh diwujudkan dengan kecintaan kepada Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam. Karena itu, sebetulnya tidak boleh ada pertanyaan begini, 'Kalau kau mencintai Alloh, apakah kau juga mencintai Rosululloh?' Karena, sebenarnya di dalam cinta kepada Alloh itu, mengandung cinta kepada Rosululloh. Perkataan Rabi'ah itu dapat pula ditafsirkan bahwa Rosululloh shollallohu 'alaihi wassalam bukanlah manusia biasa. Dan alasan ia menolak menikah, bahwa ia menolak menikah dengan manusia biasa." demikian penjelasan Imam Al Ghazali panjang lebar. Sumber : "Meraih Cinta Ilahi" (Jalaluddin Rahmat)