Anda di halaman 1dari 149

U)I FITUKIMIA EKSTRAK TANAMAN ANTINC-ANTINC

(Acalypha Indica Linn) DENGAN VARIASI PELARUT DAN UJI


TOKSISITAS MENGGUNAKAN BRINE SHRIMP (Artemia salina Leach)



SKRIPSI

Oleh :

IKA SRIWAHYUNI
NIM. 06530022







JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2010




UJI FITOKIMIA EKSTRAK TANAMAN ANTING-ANTING
(Acalypha indica Linn) DENGAN VARIASI PELARUT DAN UJI
TOKSISITAS MENGGUNAKAN BRINE SHRIMP (Artemia salina Leach)


SKRIPSI



Diajukan Kepada:

Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan dalam
Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)


Oleh :
IKA SRIWAHYUNI
NIM. 06530022

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2010
SURAT PERNYATAAN
ORISINALITAS PENELITIAN


Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Ika Sriwahyuni
NIM : 06530022
Fakultas / Jurusan : Sains dan Teknologi/Kimia
Judul Penelitian : Uji Fitokimia Ekstrak Tanaman Anting-Anting (Acalypha
indica Linn) dengan Variasi Pelarut dan Uji Toksisitas
Menggunakan Brine Shrimp (Artemia salina Leach)
Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa hasil penelitian saya ini
tidak terdapat unsur-unsur penjiplakan karya penelitian atau karya ilmiah yang
pernah dilakukan atau dibuat oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip
dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Apabila ternyata hasil penelitian ini terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan,
maka saya bersedia untuk mempertanggungjawabkan, serta diproses sesuai
peraturan yang berlaku.

Malang, 28 Juli 2010
Yang Membuat Pernyataa
Ika Sriwahyuni
NIM. 06530022

UJI FITOKIMIA EKSTRAK TANAMAN ANTING-ANTING
(Acalypha indica Linn) DENGAN VARIASI PELARUT DAN UJI
TOKSISITAS MENGGUNAKAN BRINE SHRIMP (Artemia salina Leach)

SKRIPSI

Oleh:

IKA SRIWAHYUNI
NIM.06530022
Telah disetujui oleh:
Pembimbing I




Elok Kamilah Hayati, M.Si
NIP. 19790620 200604 2 002
Pembimbing Agama




Ach. Nashihuddin, M.A
NIP. 19730705 200003 1 002


Tanggal, 24 Juli 2010
Mengetahui
Ketua Jurusan Kimia

Diana Candra Dewi, M.Si
NIP. 19770720 200312 2 001

UJI FITOKIMIA EKSTRAK TANAMAN ANTING-ANTING
(Acalypha Indica Linn) DENGAN VARIASI PELARUT DAN UJI
TOKSISITAS MENGGUNAKAN BRINE SHRIMP (Artemia salina Leach)
SKRIPSI

Oleh:

IKA SRIWAHYUNI
NIM. 06530022

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi
dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu
Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)

Tanggal 28 Juli 2010

Susunan Dewan Penguji : Tanda Tangan

1. Penguji Utama : Diana Candra Dewi, M.Si.
NIP. 197 70720 200312 2 001
( ................................... )


2. Ketua Penguji : Eny Yulianti, M. Si
NIP. 197 60611 200501 2 006

( ................................... )
3. Sekr. Penguji : Elok Kamilah Hayati, M. Si
NIP. 197 90620 200604 2 002

( ................................... )
4. Anggota Penguji : Ach. Nashihuddin, M.A
NIP. 19730705 200003 1 002
( ................................... )


Mengetahui dan Mengesahkan
Ketua Jurusan Kimia




Diana Candra Dewi, M.Si.
NIP. 197 70720 200312 2 001






l , _|| _ !..,. !, _. _ _ , _
"uoo opokob meteko tlJok mempetbotlkoo boml, betopokob
booyokoyo koml tombobkoo Jl boml lto betboqol mocom
tombob-tomboboo yooq bolk"(O5.Asy-5yooto.7)


Allob tlJok meoclptokoo sooto peoyoklt toopo meoclptokoo
polo obot ootokoyo- 8otooq slopo meoqettl bol lol, lo
meoqetoboloyo Joo botooq slopo tlJok meoqettl bol lol, lo
tlJok meoqetoboloyo kecooll kemotloo ." (nk. lboo Mojob)














KATA PENGANTAR


Alhamdulillah Maha Besar Allah Swt. segala puji syukur ke hadirat Allah
Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis atas
terselesaikannya skripsi yang berjudul: Uji Fitokimia Ekstrak Tanaman
Anting-Anting (Acalypha indica L.) dengan Variasi Pelarut dan Uji
Toksisitas Menggunakan Brine Srimp (Artemia salina Leach). Skripsi ini
merupakan salah satu syarat menyelesaikan program S1 (Strata-1) di Jurusan
Kimia Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana
Malik Ibrahim Malang.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, terutama kepada:
1. Ibu Elok Kamilah Hayati, M. Si, selaku Pembimbing I.
2. Ibu Rachmawati Ningsih, M. Si, selaku Konsultan.
3. Bapak Ach. Nashihuddin, M. A, selaku Pembimbing Agama.
4. Ibu Diana Candra Dewi, M. Si, selaku Penguji Utama.
5. Ibu Eny Yulianti, M. Si, selaku Ketua Penguji.
Atas bimbingan, pengarahan, dan nasehat serta segala bantuannya kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan skripsi ini tidak luput dari bantuan semua pihak, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu, penulis dengan penuh
kesungguhan dan kerendahan hati, menghaturkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. H. Imam Suprayogo, selaku Rektor Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
2. Bapak Prof. Sutiman Bambang Sumitro, SU. DSc selaku Dekan Fakultas
Sains dan Teknologi, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
3. Ibu Diana Candra Dewi, M.Si selaku Ketua Jurusan Kimia, UIN Maliki
Malang yang telah memberikan arahan dan nasehat kepada penulis.
4. Para Dosen Pengajar di Jurusan Kimia yang telah memberikan bimbingan
dan membagi ilmunya kepada penulis selama berada di UIN Maliki
Malang.
5. Seluruh staf Laboratorium (mas To, Mas Abi, mbak Rika, mbak Nia n Mbak
Susi) dan Administrasi (mbak Ana) Jurusan Kimia atas seluruh bantuan dan
sumbangan pemikiran selama penyelesaian skripsi ini.
6. Kedua orang tuaku dan seluruh keluarga besar yang dengan penuh kasih
sayang dan keikhlasan telah memberikan segala kebutuhan kepada penulis,
memberi dorongan dan motivasi baik secara materiil maupun spirituil.
7. Teman-teman angkatan 2006 (Li2s, Iva, Rijal, Reny, Loppy, Ruslan, Saiyid,
Ana, Retina, Zahro, Iin, Rahman, Lina, Ganda, Micin, Iqbal, Ni2k, Lutfi,
Vina, Dewie, Risman, Sod n Hesy). yang telah berbagi kebersamaannya
selama ini dalam senang maupun susah sehingga tetap terjaga persaudaraan
kita.
8. Kakak-kakak dan adik-adik keluarga besar kimia tetap semangat dan terus
semangat, tidak ada kesulitan yang tak dapat diatasi. Semoga ilmu kita dapat
bermanfaat untuk masyarakat.
9. Saudara-saudaraku di UKM KSR-PMI Unit UIN Maliki Malang yang telah
memberikan banyak pengalaman dan membagi kebersamaan sehingga
terasa persaudaraan kita selamanya. Semoga tetap menjadi volunteer
dimanapun berada. Khairunnas angfauhumlinnas
10. Semua rekan-rekan dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu
persatu atas segala bantuannya kepada penulis.
Penulis menyadari adanya kekurangan dan keterbatasan dalam skripsi ini.
Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun dari semua pihak demi penyempurnaan skripsi
ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita
semua.
Malang, 15 Juli 2010

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ............................................................................................... i
SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS ........................................................... ii
LEMBAR PERSETUJUAN .................................................................................. iii
LEMBAR PENGESAHAN ................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ............................................................................................ v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL .................................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR .............................................................................................. x
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xii
ABSTRAK ........................................................................................................... xiii

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................. 7
1.3 Tujuan Penelitian .............................................................................................. 8
1.4 Batasan Masalah .............................................................................................. 8
1.5 Manfaat Penelitian ............................................................................................ 8 .

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 10
2.1 Pemanfaatan Tanaman dalam Perspektif Agama Islam .................................. 10
2.2 Tanaman Anting-anting (Acalypha Indica Linn ) dalam Perspektif
Ilmu Pengetahuan ............................................................................................ 13
2.3 Ekstraksi Senyawa Aktif ................................................................................. 15
2.4 Uji Fitokimia Senyawa Aktif Tanaman Anting-Anting ................................. 19
2.4.1 Flavonoid ................................................................................................. 19
2.4.2 Tanin ......................................................................................................... 20
2.4.3 Alkaloid .................................................................................................... 21
2.4.4 Triterpenoid ............................................................................................... 22
2.4.5 Steroid ....................................................................................................... 23
2.4.6 Saponin ..................................................................................................... 25
2.5 Identifikasi Senyawa Aktif dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ............ 25
2.6 Uji Toksisitas Terhadap Larva Udang Artemia salina L. ............................... 27
2.6.1 Larva Udang Artemia salina L.................................................................. 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ............................................................. 35
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ........................................................................ 35
3.2 Alat dan Bahan Penelitian .............................................................................. 35
3.2.1 Alat .............................................................................................................. 35
3.2.2 Bahan ........................................................................................................... 35
3.3 Tahapan-Tahapan Penelitian .......................................................................... 36
3.4 Pelaksanaan Penelitian .................................................................................. 36
3.5.1 Analisa kadar air ....................................................................................... 36
3.5.2 Preparasi Sampel ....................................................................................... 37
3.5.3 Ekstraksi Senyawa aktif ............................................................................ 37
3.4.3.1 Ekstraksi Senyawa aktif dengan Metode Maserasi ................................... 37
3.5.4 Uji Fitokimia dengan Uji Reagen ............................................................. 38
3.5.4.1 Uji Alkaloid .............................................................................................. 39
3.5.4.2 Uji Flavonoid ............................................................................................ 39
3.5.4.3 Uji Tanin ................................................................................................... 39
3.5.4.3.1 Uji dengan FeCl
3
................................................................................... 39
3.5.4.3.2 Uji dengan Larutan Gelatin .................................................................... 40
3.5.4.4 Uji Saponin ............................................................................................... 40
3.5.4.5 Uji Triterpenoid dan Steroid ..................................................................... 40
3.5.5 Uji Fitokimia dengan KLT ........................................................................... 40
3.5.6 Uji Toksisitas dengan Larva Udang Artemia salina Leach ........................ 42
3.5.6.1 Penetasan Telur ......................................................................................... 42
3.5.6.2 Uji Toksisitas ............................................................................................ 42
3.5 Analisis Data .................................................................................................. 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................. 44
4.1 Analisa Kadar Air ......................................................................................... 44
4.2 Preparasi Sampel ........................................................................................... 47
4.3 Ekstraksi Komponen Aktif ............................................................................ 48
4.4 Uji Fitokimia dengan Reagen ........................................................................ 52
4.5 Uji Fitokimia dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) ................................ 61
4.6 Uji Toksisitas Menggunakan Brine Srimp ..................................................... 78
4.7 Pemanfaatan Hasil Penelitian Tanaman Obat dalam Perspektif Agama
Islam ............................................................................................................... 87

BAB V PENUTUP ............................................................................................... 93
5.1 Kesimpulan ................................................................................................... 93
5.2 Saran .............................................................................................................. 94

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 95

LAMPIRAN ........................................................................................................ 102









DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Kadar Air yang Terkandung dalam Tanaman Anting-anting
(Acalypha indica Linn.) ................................................................... 46

Tabel 4.2 Hasil Maserasi Serbuk Tanaman Anting-anting .............................. 51

Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Uji Fitokimia ...................................................... 59

Tabel 4.4 Hasil KLT Senyawa Tanin pada Ekstrak Etil Asetat dengan Eluen
Butanol : Asam Asetat : Air (14:1:5) ............................................. 63

Tabel 4.5 Hasil KLT Senyawa Tanin pada Ekstrak Etil Asetat dengan Eluen
Asam Asetat Glasial :Air : HCl pekat (30:10:3) .............................. 63

Tabel 4.6 Hasil KLT Senyawa Alkaloid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Kloroform : Metanol (9:1) ..................................................... 65

Tabel 4.7 Hasil KLT Senyawa Alkaloid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Kloroform : Metanol (9,5:0,5) .............................................. 66

Tabel 4.8 Hasil KLT Senyawa Triterpenoid pada Ekstrak Diklorometana
dengan Eluen Benzene : Kloroform (3:7) ........................................ 68

Tabel 4.9 Hasil KLT Senyawa Triterpenoid pada Ekstrak Diklorometana
dengan Eluen n- Heksana : Etil Asetat (1:1) .................................. 69

Tabel 4.10 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
n-heksana : Etil Asetat (7:3) ............................................................ 71

Tabel 4.11 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Petroleum Eter dengan
n-Heksana : Etil Asetat (7:3) ........................................................... 72

Tabel 4.12 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Sikloheksana : Etil Asetat (1:1) ....................................................... 74

1abel 4.13 Pasll kL1 Senyawa SLerold pada LksLrak eLroleum LLer dengan
Slkloheksana : LLll AseLaL (1:1) ................................................................... 73





DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Tanaman Anting-anting (Acalypha indica Linn.) ...................... 14

Gambar 2.2 Struktur Inti Senyawa Flavonoid ................................................. 19

Gambar 2.3 Contoh Struktur Senyawa Golongan Tanin ................................. 20

Gambar 2.4 Contoh Struktur Senyawa Golongan Alkaloid ............................ 21

Gambar 2.5 Contoh Struktur Senyawa Triterpenoid ....................................... 23

Gambar 2.6 Struktur Inti Senyawa Steroid ..................................................... 24

Gambar 2.7 Struktur Inti Senyawa Saponin .................................................... 25

Gambar 2.8 Tahap Penetasan Artemia salina L .............................................. 29

Gambar 2.9 Morfologi Naupilus A. salina ...................................................... 30

Gambar 2.10 Larva Udang Artemia Salina Leach ............................................ 32

Gambar 4.1 Reaksi Dugaan Flavonoid dengan Serbuk Mg dan HCl Pekat ... 53

Gambar 4.2 Reaksi Dugaan Antara Senyawaan Tanin dengan FeCl
3
............. 54

Gambar 4.3 Reaksi Dugaan Antara Tanin dan Gelatin ................................... 55

Gambar 4.4 Reaksi Dugaan Antara Alkaloid dengan Pereaksi Dragendorff .. 57

Gambar 4.5 Reaksi Dugaan Antara Alkaloid dengan Pereaksi Mayer ........... 57

Gambar 4.6 Hasil KLT Senyawa Tanin pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Butanol : Asam Asetat : Air (14:1:5) setelah Disemprot
FeCl
3
............................................................................................ 62

Gambar 4.7 Hasil KLT Senyawa Tanin pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Asam Asetat Glasial: air: HCl pekat (30:10:3) setelah
Disemprot FeCl
3
.......................................................................... 63

Gambar 4.8 Hasil KLT Senyawa Alkaloid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Kloroform, Metanol (9:1) setelah Disemprot Reagen
Dragendroft ................................................................................. 65



Gambar 4.9 Hasil KLT Senyawa Alkaloid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Kloroform : Metanol (9,5:0,5) setelah Disemprot Reagen
Dragendroft ................................................................................. 66

Gambar 4.10 Hasil KLT Senyawa Triterpenoid pada Ekstrak Diklorometana
dengan Eluen Benzene : kloroform (3:7) setelah Disemprot
Reagen Lieberman-Burchard ...................................................... 68

Gambar 4.11 Hasil KLT Senyawa Triterpenoid pada Ekstrak Diklorometana
dengan Eluen Heksana : Etil Asetat (1:1) setelah Disemprot
Lieberman-Burchard ................................................................... 69

Gambar 4.12 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen n-Heksana : Etil Asetat (7:3) setelah Disemprot Reagen
Lieberman-Burchard ................................................................... 71

Gambar 4.13 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Petroleum Eter dengan
Eluen n-Heksana dan Etil Asetat (7:3) setelah Disemprot Reagen
Lieberman-Burchard ................................................................... 72

Gambar 4.14 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Etil Asetat dengan
Eluen Sikloheksana : Etil Asetat (1:1) ........................................ 74

Gambar 4.15 Hasil KLT Senyawa Steroid pada Ekstrak Petroleum Eter dengan
Eluen Sikloheksana : Etil Asetat (1:1) setelah Disemprot Reagen
Lieberman-Burchard ................................................................... 75

Gambar 4.16 Tahap Penetasan Artemia salina L. ............................................. 80

Gambar 4.17 Morfologi Nauplius A.salina ....................................................... 81

Gambar 4.18 Kurva Mortalitas Larva Udang Artemia salina Leach pada
Ekstrak Etil Asetat ....................................................................... 83

Gambar 4.19 Kurva Mortalitas Larva Udang Artemia salina Leach pada
Ekstrak Diklorometana ................................................................ 83

Gambar 4.20 Kurva Mortalitas Larva Udang Artemia salina Leach pada
Ekstrak Petroleum Eter ................................................................ 84




DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Diagram Alir Penelitian.............................................................................. 102

Lampiran 2. Skema Kerja ............................................................................................... 103

Lampiran 3. Pembuatan Reagen dan Larutan ................................................................. 109

Lampiran 4. Data Pengukuran Kadar Air Sampel Tanaman Anting-anting ................... 115

Lampiran 5. Perhitungan Rendemen............................................................................... 121

Lampiran 6. Dokumentasi ............................................................................................... 123

Lampiran 7. Data Kematian Larva dan Perhitungan LC
50
Uji Toksisitas Masing-
masing Ekstrak......................................................................................... 127













ABSTRAK


Sriwahyuni, I. 2010. Uji Fitokimia Ekstrak Tanaman Anting-Anting
(Acalypha indica Linn.) dengan Variasi Pelarut dan Uji Toksisitas
Menggunakan Brine Shrimp (Artemia salina Leach) Pembimbing I:
Elok Kamilah Hayati, M. Si; Pembimbing Agama: Ach. Nashihuddin,
M.A; Konsultan: Rachmawati Ningsih, M.Si.

Kata Kunci: Anting-anting (Acalypha indica Linn.), uji fitokimia, uji toksisitas
Artemia salina Leach

Telah dilakukan penelitian tentang uji fitokimia dan uji toksisitas ekstrak
tanaman Anting-anting (Acalypha indica Linn.) terhadap larva udang Artemia
salina Leach. Al Quran surat an Nahl ayat 11 menjelaskan Allah menumbuhkan
berbagai jenis tanaman sebagai tanda kekuasaan Allah sebagai bahan untuk
berfikir sehingga dapat dimanfaatkan, salah satunya untuk pengobatan. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa aktif yang terdapat pada
tanaman anting-anting dan untuk mengetahui tingkat toksisitas masing-masing
ekstrak tanaman anting-anting terhadap larva udang Artemia salina Leach.
Penelitian ini meliputi ekstraksi tanaman anting-anting menggunakan
metode ekstraksi maserasi selama 24 jam dengan variasi pelarut yaitu etil asetat,
diklorometana, dan petroleum eter. Pengadukkan dibantu dengan shaker selama 3
jam. Ekstrak pekat diuji fitokimia didukung Kromatografi Lapis Tipis serta
pengujian toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Leach. Data kematian
Artemia salina Leach dianalisis dengan analisis probit untuk mengetahui nilai
LC
50
pada masing-masing ekstrak.
Hasil penelitian menunjukkan adanya senyawa aktif tanin, alkaloid dan
steroid pada ekstrak etil asetat, triterpenoid pada ekstrak diklorometana, dan
steroid pada ekstrak petroleum eter. Ketiga ekstrak mempunyai potensi aktif,
ditunjukkan dari tingkat toksisitas ekstrak petroleum eter, ekstrak diklorometana,
dan etil asetat berturut-turut yaitu dengan nilai LC
50
11, 8547 ppm, 17,6495 ppm
dan 21,6005 ppm. Hal ini menunjukkan adanya manfaat tanaman yang telah
disebutkan dalam al Quran, sehingga dapat digunakan sebagai acuan bahwa
tanaman anting-anting berpotensi sebagai tanaman obat.



ABSTRACT

Sriwahyuni, I. 2010. Phytochemical Test Extract of Anting-Anting (Acalypha
indica Linn.) with Variation Solvents and Toxicity Test Using Brine
Shrimp (Artemia salina Leach). Supervisor: Elok Kamilah Hayati,
M.Si, supervisor of religion: Ach. Nashihuddin M.A, Rachmawati
Ningsih M.Si.

Key Words: Anting-anting (Acalypha indica Linn.), phytochemical test, toxicity
test, Artemia salina Leach

The research had been done about Phytochemical test and Brine Shrimp
lethality test using Artemia salina Leach of anting-anting (Acalypha indica Linn.)
plant extracts. Al Quran surah an-Nahl verse 11 shows that Allah growed plants as
symbol of His power and as materials thinking to human about benefit it, such as
to medicine. The aim of this research is to find out toxicity level of each anting-
anting extract using Artemia salina Leach and the compound in extracts which
has a bioactivity potency using Artemia salina Leach.
The research consist of extraction of Anting-anting plant was done with
extraction maseration method until 24 hours and shakered until 3 hours. Variation
of solvents are ethyl acetate, dichloromethane and petroleum ether. Each solvent
extract were examined with Brine Shrimp lethality test and its compound with
reagent and separated by Thin Layer Chromatography. The mortality of Artemia
salina analyzed by probity analyst.
The phytochemical compounds in each solvent extract are tannin, alkaloid
and steroid in ethyl acetate extract, triterpenoid in dichloromethane extract and
steroid in petroleum ether extract. The result of toxicity using Artemia salina in
anting-anting extracts of petroleum ether, dichloromethane and ethyl acetate
solvent, showed respectively are LC
50
11, 8547 ppm, 17,6495 ppm dan 21,6005.
Each extract has a bioactivity potency using Artemia salina Leach. That statement
show the advantage of plant called in al Quran, to basic of anting-anting plant has
a potency as medicinal plant.





BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Akhir-akhir ini banyak penyakit yang berkembang di Indonesia, ada
penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun hewan. Tentunya hal ini
meresahkan masyarakat, apalagi dengan keadaan perekonomian yang kurang baik
seperti saat ini. Mahalnya harga obat sintetik dan efek samping yang ditimbulkan
dari obat tersebut menjadi permasalahan yang utama di kalangan masyarakat, oleh
karena itu perlu adanya pemecahan dari permasalahan yang terjadi, salah satunya
adalah dengan memanfatkan obat-obatan dari tanaman (herbal).
Indonesia memiliki banyak tanaman yang berpotensi sebagai tanaman
obat, hal ini tidak bisa dilepas dari sumber daya alam Indonesia. Indonesia yang
secara geografis terletak di garis khatulistiwa memiliki beberapa keunggulan,
diantaranya terdapatnya matahari di sepanjang tahun dan tersedianya air. Dua hal
inilah yang menyebabkan proses fotosintesis dapat berlangsung pada tanaman.
Allah menciptakan semua yang ada di dunia ini tidaklah sia-sia. Makhluk hidup
(hewan, tumbuhan dan lain-lain) semuanya dapat dimanfaatkan oleh manusia jika
manusia itu berfikir. Allah menjaga semua yang telah Ia ciptakan agar tetap hidup.
Allah membuktikannya dengan diturunkan oleh-Nya hujan sebagai sumber
kehidupan, dan agar manusia dapat mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan
kepadanya. Allah telah menjelaskannya dalam surat an Nahl 11:
,.`, > l , _l _.,l _,>.l ..s _. _ ,.:l | _ l : , , 1l
_` .,
Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma,
anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-
benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Ayat ini menyebutkan beberapa tanaman yang ditumbuhkan Allah dari
yang paling cepat layu, yang paling panjang usianya dan paling banyak
manfaatnya seperti zaitun, kurma dan anggur (Shihab, 2002: 195). Kaum yang
memikirkan akan tanda-tanda kekuasaan-Nya tentu akan dapat mengambil
pelajaran dan manfaat terhadap segala ciptaan-Nya. Sebagaimana memanfaatkan
tanaman Anting-anting sebagai tanaman obat.
Berdasarkan firman Allah tersebut, jelas bahwa Allah menciptakan bumi
yang di dalamnya banyak terdapat tumbuhan yang baik, yang dapat dimanfaatkan
oleh makhluk hidup, diantaranya adalah tanaman anting-anting. Tanaman anting-
anting ini dapat dimanfaatkan sebagai tanaman obat, seperti halnya sabda Nabi
Muhammad saw dalam HR. Ibnu Majah berikut (Farooqi, 2005: 173):
" Allah tidak menciptakan suatu penyakit tanpa menciptakan pula obat untuknya-
Barang siapa mengerti hal ini, ia mengetahuinya dan barang siapa tidak mengerti
hal ini, ia tidak mengetahuinya kecuali kematian ." (HR. Ibnu Majah)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Allah Maha Adil yang menciptakan
suatu penyakit beserta obatnya, hal itu akan diketahui manusia dengan adanya
ilmu. Ilmu pengetahuanlah yang akan menuntun manusia untuk menemukan obat-
obatan dari suatu penyakit. Jika manusia tidak mengembangkan ilmu pengetahuan
maka tidak akan pernah tahu bahwa Allah telah menciptakan berbagai macam
tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat. Ada berbagai obat yang telah
tersedia di alam dan seringkali disebut tanaman (herbal).
Tanaman anting-anting (Acalypha indica L.) dikenal sebagai salah satu
tanaman obat yang dapat tumbuh di pinggir jalan, lapangan rumput, lereng
gunung, kebun. Masyarakat sering menggunakan tanaman anting-anting sebagai
tanaman untuk menyembuhkan penyakit disentri basiler dan disentri amuba, diare,
malnutrisi, mimisan, muntah darah, buang air besar berdarah, buang air berdarah,
malaria (Arisandi dkk., 2008). Masyarakat tradisional telah lama menggunakan/
memanfaatkan tanaman anting-anting untuk pengobatan penyakit disentri, diare,
perdarahan pada rahim, mimisan, melena (berak darah), hematuria (kencing
darah), radang kulit, dan enzema (Wei-Feng et al, 1994).
Obat-obatan modern dengan bahan kimia sintetik memiliki dampak yang
kurang baik dalam mengobati penyakit dibandingkan dengan obat-obatan herbal
yang berasal dari bahan alam, karena memiliki efek samping yang berbahaya bagi
tubuh. Hal ini mendorong dilakukan penelitian ilmiah di bidang pengobatan
herbal yang berasal dari bahan alam. Salah satunya adalah tanaman anting-anting.
Selain itu ada sebagian masyarakat yang masih mengenal tanaman anting-anting
sebagai tanaman liar yang mengganggu. Oleh karena itu perlu adanya penelitian
yang lebih banyak tentang potensi sebagai obat yang berasal dari tanaman anting-
anting.
Penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan tanaman anting-anting
antara lain penelitian Halimah (2010) menunjukkan tingkat toksisitas ekstrak n-
heksana lebih besar daripada ekstrak etanol dan ekstrak kloroform yaitu dengan
nilai LC
50
57,0933 ppm, 73,4575 ppm dan 149,374 ppm. Serta kandungan
senyawa yang menunjukkan adanya potensi bioaktivitas dalam ekstrak
berdasarkan uji fitokimia dan uji reagen didukung dengan KLT

yaitu adanya
senyawa golongan flavonoid dalam ekstrak etanol, steroid dalam ekstrak
kloroform, dan triterpenoid dalam ekstrak etanol dan n-heksana. Hasil penelitian
uji in vivo ekstrak terhadap aktivitas parasit malaria Plasmodium berghei dalam
mencit yang telah dilakukan oleh Hayati (2009) menunjukkan bahwa untuk
ekstrak n-heksana menunjukkan potensi aktif sebagai antimalaria dengan
menurunkan jumlah parasit plasmodium. Bertambahnya konsentrasi ekstrak
semakin besar menurunkan parasit plasmodium, ekstrak terkecil yaitu 0,015
mg/mL tidak menunjukkan hasil yang positif dalam menekan jumlah parasit
plasmodium. Untuk ekstrak etanol, tidak menunjukkan hasil yang signifikan
dalam menekan pertumbuhan parasit plasmodium.
Kussuryani (2010) mengisolasi dan menguji sifat antibakteri senyawa
kimia akar tanaman anting-anting menggunakan pelarut petroleum eter dan
metanol menunjukkan bahwa pada tanaman anting- anting dapat bersifat sebagai
antibakteri. Hasil peneltiannya menunjukkan ekstrak memiliki konsentrasi daya
hambat sebesar 6,25 mg/mL. Govindarajan (2008) melakukan uji anti bakteri
tanaman anting- anting menggunakan pelarut heksana, kloroform, etil asetat dan
metanol menunjukkan bahwa ekstrak etil asetat berpotensi sebagai anti bakteri
hasil penelitiannya menunjukkan semua ekstrak memiliki konsentrasi daya
hambat minimum pada bakteri gram positif antara 0,156-2,5 mg/mL. Pissuthanan
(2004) melakukan uji toksisitas tanaman Azedirachta indica menggunakan pelarut
metanol dan dipartisi menggunakan air dan diklorometana menunjukkan nilai Lc
50

pada ekstrak kasar sebesar 158,18 ppm. Berdasarkan penelitian yang
menggunakan pelarut etil asetat, diklorometana dan petroleum eter tersebut maka
diduga pada tanaman anting-anting memiliki sifat toksik karena tanaman anting-
anting berpotensi sebagai antibakteri dan penelitian lain pada tanaman yang
sejenis tanaman anting-anting dengan menggunakan pelarut diklorometana
memiliki sifat toksik. Sehingga perlu dilakukan penelitian menggunakan pelarut
etil asetat, diklorometana dan petroleum eter.
Halimah (2010) menggunakan variasi pelarut untuk mengekstrak senyawa
aktif pada tanaman anting-anting yang menunjukkan adanya perbedaan golongan
senyawa aktif dan potensi bioaktivitas yang terdapat pada masing-masing ekstrak.
Cara ekstraksi dengan maserasi menggunakan pelarut yang memiliki perbedaan
kepolaran dapat mengekstrak golongan senyawa aktif pada masing-masing pelarut
sesuai dengan kepolarannya. Adanya variasi pelarut dapat digunakan untuk
mengetahui tingkat toksisitas pada masing-masing ekstrak yang sesuai dengan
kelarutannya sehingga dapat digunakan sebagai rujukan untuk mengetahui potensi
bioaktivitas suatu senyawa. Penelitian ini merupakan skrining awal sehingga perlu
dilakukan dengan menggunakan variasi pelarut yang berbeda dari peneliti
sebelumnya untuk mengetahui kandungan golongan senyawa aktif dan potensi
bioaktivitasnya pada masing-masing ekstrak, karena dimungkinkan pada pelarut
yang berbeda senyawa aktif dan potensi bioaktivitas yang terkandung di
dalamnya berbeda pula.
Salah satu organisme yang sesuai untuk mengetahui bioaktivitas senyawa
melalui uji toksisitas adalah brine shrimp (udang laut) dari jenis Artemia salina.
Keistimewaan Artemia sebagai plankton adalah memiliki toleransi (kemampuan
beradaptasi dan mempertahankan diri) pada kisaran kadar garam yang sangat luas.
Artemia mampu mentolerir pada kadar garam yang tinggi dimana tidak ada
satupun organisme lain yang mampu bertahan hidup. Artemia salina Leach dapat
dimanfaatkan sebagai hewan uji dalam penentuan ketoksikan suatu sari atau
senyawa yang diwujudkan sebagai racun, metode ini dikenal dengan BST (Brine
Shrimp Test). Penelitian dengan Artemia salina Leach sebelumnya telah
digunakan dalam berbagai uji hayati (Meyer et al, 1982).
Uji toksisitas dengan menggunakan larva udang Artemia salina Leach atau
Brine Shrimp Test (BST) dapat digunakan sebagai uji pendahuluan pada
penelitian yang mengarah pada uji sitotoksik. Kaitan antara uji toksisitas akut ini
dengan uji sitotoksik adalah jika harga LC
50
< 1000 g/mL. Parameter yang
ditunjukkan untuk menunjukkan adanya aktivitas biologi pada suatu senyawa
pada Artemia salina Leach adalah kematiannya (Meyer et al, 1982).
Toksisitas tanaman sangat dipengaruhi oleh kandungan senyawa kimia
yang terdapat di dalamnya, sedangkan untuk mendapatkan senyawa kimia yang
bersifat aktif tersebut dipengaruhi oleh metode pemisahan meliputi cara ekstraksi
dan pelarut yang digunakan. Perbedaan kandungan senyawa kimia yang ada
menunjukkan perbedaan aktivitas farmakologis dari tanaman yang bersangkutan.
Metode yang digunakan untuk melakukan uji bioaktivitas juga memegang
peranan penting dalam memberikan hasil yang ingin diketahui dari aktivitas
tanaman tersebut selain dipengaruhi oleh jenis senyawa kimia (Lisdawati, 2002).
Penelitian ini menggunakan sampel kering dari seluruh tanaman anting-
anting. Pemisahan senyawa aktif dilakukan dengan metode ekstraksi maserasi
menggunakan pelarut etil asetat, diklorometana, dan petroleum eter yang memiliki
perbedaan kepolaran. Kemudian dilakukan pengujian fitokimia dengan uji reagen
dan kromatografi lapis tipis (KLT) pada masing-masing ekstrak tersebut untuk
mengetahui potensi toksisitas ekstrak dilakukan dengan uji toksisitas terhadap
larva udang Artemia salina (metode Brine Shrimp Lethality Total). Hasil
penelitian ini diharapkan dapat mengetahui golongan senyawa aktif dan tingkat
toksisitas pada tanaman anting-anting untuk dapat dilakukan pengujian
bioaktivitas lebih lanjut.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian
ini adalah:
a. Golongan senyawa apakah yang terdapat dalam masing-masing ekstrak
tanaman anting-anting (Acalypha indica L.) dalam tiap fraksi berikut: etil
asetat, diklorometana dan petroleum eter?
b. Bagaimana tingkat toksisitas masing-masing ekstrak tanaman anting-anting
(Acalypha indica L.) dalam tiap fraksi etil asetat, diklorometana dan
petroleum eter terhadap tingkat mortalitas larva udang Artemia salina Leach?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
a. Untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat dalam ekstrak tanaman
anting-anting (Acalypha indica L.) dalam tiap fraksi etil asetat, diklorometana
dan petroleum eter.
b. Untuk mengetahui tingkat toksisitas masing-masing ekstrak tanaman anting-
anting (Acalypha indica L.) dalam tiap fraksi etil asetat, diklorometana dan
petroleum eter terhadap tingkat mortalitas larva udang Artemia salina Leach.

1.4 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Sampel yang digunakan adalah tanaman anting-anting (Acalypha indica L.)
yang diperoleh dari daerah sekitar kampus UIN Maulana Malik Ibrahim
Malang, Jawa Timur.
b. Hewan uji untuk uji toksisitas adalah Larva udang (Artemia salina Leach)
yang diperoleh dari Balai Budidaya Air Payau Situbondo.

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada
masyarakat mengenai pemanfaatan tanaman anting-anting bagi kesehatan dan
memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat mengenai efek toksik ekstrak
tanaman anting-anting (Acalypha indica L.) terhadap larva udang (Artemia salina
Leach) serta golongan senyawa yang terkandung di dalamnya yang memiliki
potensi bioaktivitas, sehingga dapat digunakan sebagai perbandingan dari
penelitian sebelumnya dan rujukan pada penelitian tahap selanjutnya untuk
mendapatkan pelarut dan ekstrak gabungan.























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pemanfaatan Tanaman dalam Perspektif Agama Islam
Alquran banyak menyebutkan tentang tumbuh-tumbuhan untuk
dimanfaatkan oleh manusia. Sebagaimana Firman Allah dalam QS. Thaha : 53
_ _-> `> l _ . . ,l. >l !, ,. _. _. ,!..l ,!. !.>>! ., l> _.
,!,. _. : __

Yang telah menjadikan bagimu bumi sebagai hamparan dan yang Telah
menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan menurunkan dari langit air
hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-
tumbuhan yang bermacam-macam (QS. Thaha : 53).

Menurut Shihab (2002: 318) dalam tafsir Al-Mishbah bahwa aneka
tumbuhan dengan bermacam-macam jenis bentuk dan rasanya itu merupakan hal-
hal yang sungguh menakjubkan lagi membuktikan betapa agung penciptanya.
setiap macam tumbuhan diciptakan Allah untuk kemaslahatan umat manusia,
diantaranya sebagai salah satu sumber pangan bagi manusia dan dapat dipetik
hasilnya untuk memenuhi kebutuhan manusia. Manfaat tumbuhan ini salah
satunya digunakan sebagai tanaman obat.
Pengobatan dari Nabi Muhammad saw memang berbeda dengan ilmu
medis para dokter pada umumnya. Rasulullah saw pernah menyebutkan bahwa
tumbuhan herbal baik untuk digunakan sebagai obat. Tumbuhan herbal
merupakan tumbuhan obat yang memang sangat berguna untuk membuang lemak
dan racun-racun dalam tubuh manusia. Produk tumbuhan herbal banyak
digunakan oleh kedokteran untuk mengurangi lemak berlebih penyebab obesitas
dan menyembuhkan berbagai penyakit (Barazing, 2007).
Beberapa tumbuhan herba yang sering digunakan oleh Rasulullah saw
untuk menyembuhkan beberapa penyakit antara lain jintan hitam, kurma, delima,
bawang putih dan berbagai jenis makanan lainnya.
a) Kurma (tamr, ruthb, ajwah, bahl, dan nakhl)
Buah Kurma yang manis dan lezat diketahui banyak mengandung nutrisi
diet. Kurma mengandung 60 % pengganti gula, berikut sejumlah kecil sukrosa di
samping protein, pektin, tannin, sellulosa dan lemak dalam proporsi yang
berbeda-beda. Vitamin-vitamin yang terkandung di dalamnya yaitu A, B, dan C.
Kandungan mineralnya antara lain zat besi, sodium, kalsium, sulfur, khlorin, dan
fosfor. Karena nilai nutrisi yang lengkap ini, kurma adalah yang sangat sehat dan
amat bermanfaat. Nabi Muhammad saw bersabda (Farooqi, 2005: 72):
Barang siapa mengkonsumsi tujuh butir kurma ajwah pada pagi hari, tidak ada
sihir ataupun racun yang akan membahayakan pada hari itu,(HR Bukhari).

b) Jinten Hitam (Al-habbat as Sauda, syuniz dan habb al barkah)
Nabi Muhammad saw bersabda (Farooqi, 2005: 2):
jinten hitam adalah obat dari segala penyakit kecuali sam dan sam adalah
kematian, (HR Bukhari, Muslim, Ibnu Majah dan Ahmad).

Jinten hitam digunakan sebagai bumbu dalam makanan. Sebagai obat
peluruh kentut, peluruh kencing, penghilang zat-zat gangguan menstruasi dan
kelainan ASI, secara eksternal ia juga dapat digunakan untuk merawat kulit. Biji-
bijian ini mengandung minyak essens yang bermanfaat untuk mengobati batuk
dan asma. Biji-bijian ini mempunyai aktivitas antibakteri (Farooqi, 2005: 3).
c) Delima (Rumman)
Delima adalah tanaman asli Asia Barat Daya dan dibudidayakan di
beberapa daerah. Jus buah delima adalah sangat menyegarkan dan mendinginkan
karena mengandung gula, vitamin C, dan zat besi. Delima memperkuat jantung
dan menambah selera makan. Kulit buahnya bermanfaat mengobati diare dan
disentri. Kulit buahnya mengandung tannin, sehngga ia efektif untuk dipakai
sebagai bahan penyamak kulit binatang. Kulit pohonnya mengandung alkaloid
pelletierine. Kulit akarnya bersifat astringent dan anthelmintic, sangat efektif
untuk mengobati cacing pita. Bunganya sangat bermanfaat untuk obat bronchitis.
yang manis amat baik untuk lambung, mengobati sakit tenggorokan, batuk, dada
dan paru-paru. Nabi Muhammad saw bersabda (Farooqi, 2005: 82). buah delima
dan kulitnya memperkuat pencernaan pada perut.(HR Abu Nuaim dan Al-
Jauzi).

d) Lidah buaya (allawa, sabir dan musabbar)
Nabi Muhammad saw bersabda kepada orang yang mengeluhkan kondisi
matanya ketika melaksanakan ibadah haji, Tutupi dengan lidah buaya, (HR As
Suyuthi)
Lidah buaya adalah tanaman berair yang lezat rasanya, ditemukan di
daerah tropis dan Afrika Selatan, Malgazy, dan Arab. Beberapa spesiesnya telah
dikenal di beberapa Negara sebagai obat. Sebagai obat, lidah buaya berfungsi
untuk obat pencahar, obat kuat, peningkat gairah seks, pembunuh cacing parasit,
alexiteric, sakit mata, tumor pembengkakan limpa, keluhan liver, muntah-muntah,
luka bakar, dan lain-lain. Campuran glukosa yang disebut alloin terdapat dalam
lidah buaya (Farooqi, 2005: 20).
Rasulullah telah mengajarkan kita mengenai beberapa obat dari tanaman
lainnya untuk mengobati penyakit, sehingga kita bisa meneladani apa yang telah
Rasulullah ajarkan pada kita yaitu dengan memanfaatkan tanaman obat untuk
mengobati suatu penyakit.
2.2 Tanaman Anting-Anting (Acalypha indica L.) dalam Perspektif Ilmu
Pengetahuan
Tanaman anting-anting (Acalypha indica L.) merupakan gulma yang sangat
umum ditemukan tumbuh liar di pinggir jalan, lapangan berumput maupun di
lereng gunung (Muslimah, 2008). Berikut ini akan dijelaskan morfologi tanaman
anting-anting dari akar, batang, daun dan bunga. Batang: tegak, tinggi 30-50cm,
bercabang, berambut halus. Daun: tunggal, tangkai panjang, letak tersebar, bentuk
bulat telur sampai lanset, tipis, ujung dan pangkal runcing, tepi bergerigi, panjang
2,5-8 cm, lebar 1,5-3,5 cm, berwarna hijau. Bunga: majemuk, berkelamin satu,
keluar dari ketiak daun, kecil-kecil, dalam rangkaian berbentuk bulir/malai. Buah:
kotak, bulat, hitam. Biji: berbentuk bulat panjang, berwarna coklat. Akar:
tunggang, berwarna putih kotor (Dalimartha, 2003 dalam Muslimah, 2008).

Gambar 2.1 Anting-anting (Acalypha indica Linn.)


Klasifikasi tanaman anting-anting adalah sebagai berikut (Kartesz, 2000):
Kerajaan : Plantae
Subkerajaan : Tracheobionta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsyda
Sub Kelas : Rosidae
Bangsa : Euphorbiales
Suku : Euphorbiaceae
Marga : Acalipha
Jenis : Acalypha indica Linn


Tanaman anting-anting di beberapa daerah dikenal dengan sebutan berikut
di Sumatera: ceka mas (Melayu), lelatang (Jakarta), rumput kokosongan (Sunda),
rumput bolong-bolong (Jawa) (Muslimah, 2008). Kucing galak dan rumput lis-lis
(Malaysia) dan tam ye tuapa dan tam ye meao (Siam) ( Ridley, 1924 dalam
Azmahani, dkk, 2002). Nama asing tanaman ini adalah Tie xian (Cina),
copperleaf herb (Inggris).
Kandungan kimia tanaman anting-anting adalah acalypine, glikosida,
inositol metileneter, triacetomamine dan minyak atsiri (Azmahani, dkk, 2002).
Kartika (2004) menyebutkan bahwa daun tanaman anting-anting (Acalypha indica
L.) mengandung saponin, tannin, flavonoid, acalyphine, dan minyak atsiri. Wei-
Feng et al (1994) menyebutkan adanya senyawa alkaloid, amida, glukosida dan
sterol.
2.3 Ekstraksi Senyawa Aktif
Ekstraksi merupakan proses pemisahan senyawa campuran dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstraksi digunakan untuk mengisolasi produk
alam dari jaringan asli kering tumbuh-tumbuhan. Produk alam volatil diisolasi
dengan cara distilasi uap, sedangkan produk non volatil diisolasi dengan cara
perendaman atau maserasi dalam satu pelarut (Vogel, 1989 dalam Kusnaeni
2008). Secara umum ekstraksi senyawa metabolit sekunder menggunakan metode
maserasi dengan pelarut polar atau metanol. Pada prinsipnya metode maserasi
adalah terdapat waktu kontak yang cukup antara pelarut dengan bahan yang
diekstrak, namun jarang sekali mencapai pemisahan yang sempurna karena
senyawa yang sama bisa terdapat dalam beberapa fraksi. Hasil maserasi maksimal
biasanya dilakukan dengan maserasi menggunakan sederetan pelarut atau metode
Charauxs- Paris yaitu metode ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang
berbeda kepolaran, dimana ekstrak pekat pelarut polar diekstraksi kembali dengan
pelarut semipolar dan pelarut non polar (Kusnaeni, 2008).
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana, dilakukan dengan
cara merendam bahan simplisia dalam cairan penyari. Cairan penyari akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat
aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan
zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang terpekat didesak
keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi
antara larutan di luar sel dan di dalam sel (Octavia, 2009).
Persyaratan untuk mengekstraksi bahan kandungan tumbuhan adalah
tingkat kehalusan yang cocok dari material awal, dengan meningkatnya tingkat
kehalusan, maka luas permukaan yang terkena cairan ekstraksi akan semakin
besar. Serbuk dengan penghalusan yang tinggi kemungkinan sel-sel yang rusak
juga semakin besar, sehingga memudahkan pengambilan bahan kandungan
langsung oleh bahan pelarut (Octavia, 2009).
Penguapan pada rotary evaporator vakum dilakukan pada tekanan rendah
atau dengan kenaikan temperatur dan kecepatan terbesar pada tiik didih larutan.
Cairan organik yang memiliki titik didih rendah, tekanan permukaan akan rendah.
Labu evaporator dipanaskan pada temperatur tertentu di atas waterbath dan
diputar selama evaporasi, sehingga terjadi pencampuran yang sempurna,
mencegah bumping, dan juga akan memilki permukaan yang relatif lebih kuat.
Pelarut menguap dari campuran kemudian terkondensasi oleh erlenmeyer dan
jatuh pada labu penampung (Vogel, 1978).
Kepolaran suatu pelarut menunjukkan tingkat kelarutan pelarut air ataupun
pelarut organik terhadap suatu bahan. Kepolaran ini timbul dari perbedaan dua
kutub (pole) kelarutan. Kecenderungan suatu bahan yang lebih larut dalam air
disebut memiliki sifat yang polar dan sebaliknya yang cenderung lebih larut
dalam pelarut organik disebut nonpolar. Secara fisika, tingkat polaritas ini dapat
ditunjukkan dengan lebih pasti melalui pengukuran konstanta dielektrikum (D)
suatu pelarut. Semakin besar konstanta dielektrikum suatu pelarut disebut semakin
polar (Sudarmadji dkk., 2003). Larutan pengekstraksi yang digunakan disesuaikan
dengan kepolaran senyawa- senyawa yang diinginkan.
Etil asetat adalah suatu zat cair tak berwarna dengan bau buah yang
semerbak, bertitik didih 77 C dan densitas 0,9 g/mL (Arsyad, 2001). Konstanta
dielektrikum etil asetat adalah 6,02 (Burdick dan Jackson, 2010). Etil asetat
dengan rumus molekul CH
3
COOC
2
H
5
merupakan senyawa yang tidak berwarna,
berbau semerbak, larut dalam kloroform, alkohol, dan larut dalam air (Sax, 1987).
Etil asetat didapat dengan cara destilasi lambat campuran etil alkohol, asam asetat
dan asam sulfat, merupakan cairan tidak berwarna, seperti aseton dan mudah
terbakar. Etil asetat dapat bercampur dengan minyak atsiri dan digunakan secara
luas dalam industri sebagai pelarut (Wilson and Gisvold, 1982 dalam Farihah,
2008).
Diklorometana atau metilen klorida memilki rumus molekul CH
2
Cl
2
.
Merupakan senyawa yang tidak berwarna, larutan yang mudah menguap, larut
dalam alkohol dan eter, memiliki titik didih 40,1 C, titik lebur -97 C (Sax,
1987). Diklorometana memiliki konstanta dielektrikum 8,93 (Burdick dan
Jackson, 2010).
Petroleum eter adalah pelarut non polar yang merupakan campuran dari
hidrokarbon cair yang mudah menguap. Petroleum eter akan melarutkan senyawa-
senyawa yang bersifat kurang polar pada selubung sel dan dinding sel seperti
lemak-lemak, terpenoid, klorofil dan steroid (Octavia, 2009). Petroleum eter
merupakan campuran hidrokarbon (bukan eter sebenarnya) yang atsiri dan mudah
terbakar, tidak berwarna, terutama terdiri dari pentana dan heksana. Petroleum
eter memiliki titik didih dalam rentang 20-75 C, titik lebur -73 C (Anonim,
2009). Petroleum eter memiliki konstanta dielektrikum 2,0-2,2 (Anonim, 2009)
Bahan simplisia yang secara umum terpotong-potong atau berupa serbuk
kasar disatukan dengan bahan pengekstraksi. Selanjutnya rendaman tersebut
disimpan terlindung dari cahaya langsung (mencegah reaksi yang dikatalis cahaya
atau perubahan warna) dan dikocok kembali. Waktu maserasi pada umumnya 5
hari. Setelah waktu tersebut, artinya keseimbangan antara bahan yang diekstraksi
pada bagian dalam sel dengan yang masuk kedalam cairan telah tercapai. Dengan
pengocokan diharapkan keseimbangan konsentrasi bahan ekstraksi lebih cepat
dalam cairan. Keadaan diam selama maserasi menyebabkan turunnya perpindahan
bahan aktif. Keuntungan maserasi adalah cara kerja dan peralatan yang digunakan
relatif sederhana (Octavia, 2009).
Wulandari, dkk. (2006) melakukan penelitian skrining fitokimia ekstrak
biji kecubung wulung (D.metel) dengan menggunakan etil asetat, hasil penelitian
menunjukkan fraksi etil asetat ekstrak kasar biji D. metel mengandung sterol-
triterpen, alkaloid, kumarin, dan tannin-fenolik dengan LC
50
sebesar 986,7 ppm.
Purwatiningsih (2003) melakukan penelitian terhadap tanaman Fagraea racemosa
jacc ex wall menggunakan ekstraksi bertahap dengan pelarut petroleum eter,
kloroform, dan metanol. Hasil uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa
alkaloid, flavonoid, saponin, sterol-terpenoid dan tanin. Soemiarti (2009)
melakukan isolasi akar tanaman garcinia menggunakan pelarut diklorometana,
hasil uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa triterpenoid

2.4 Uji Fitokimia Senyawa Aktif Tanaman Anting-Anting
Uji fitokimia merupakan pengujian kandungan senyawa-senyawa di dalam
tumbuhan. Tumbuhan umumnya mengandung senyawa aktif dalam bentuk
metabolit sekunder seperti flavonoid, tanin, alkaloid, triterpenoid, steroid,
saponin, dan lain-lain. Senyawa metabolit sekunder merupakan senyawa kimia
yang umumnya mempunyai kemampuan bioaktivitas dan berfungsi sebagai
pelindung tumbuhan tersebut dari gangguan hama penyakit untuk tumbuhan itu
sendiri atau lingkungannya (Lenny, 2006).

2.4.1 Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang tersebar luas di alam.
Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C
6
-C
3
-C
6
yang
artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C
6
(cincin benzen tersubstitusi)
disambungkan oleh rantai alifatik tiga-karbon. Pengelompokan flavonoid
dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil
yang tersebar menurut pola yang berlainan pada rantai C
3
, sesuai struktur
kimianya yang termasuk flavonoid yaitu flavonol, flavon, flavanon, katekin,
antosianidin dan kalkon (Robinson, 1995).




Gambar 2.2 Struktur Inti Senyawa Flavonoid (Robinson, 1995)


Flavonoid termasuk dalam golongan senyawa fenol yang memiliki banyak
gugus OH dengan adanya perbedaan keelektronegatifan yang tinggi, sehingga
sifatnya polar. Golongan senyawa ini mudah terekstrak dalam pelarut etanol yang
memiliki sifat polar karena adanya gugus hidroksil, sehingga dapat terbentuk
ikatan hidrogen. Purwaningsih (2003) mengisolasi senyawa flavonoid dari biji
kacang tunggak dengan pelarut metanol menghasilkan ekstrak berwarna kuning.
Praptiwi, dkk. (2007) dalam penelitiannya tentang antimalaria ekstrak ki pahit
menunjukkan adanya senyawa flavonoid dari fraksi diklorometana.
2.4.2 Tanin
Tanin merupakan golongan senyawa fenol yang terdapat pada daun, buah
yang belum matang, merupakan golongan senyawa aktif tumbuhan yang termasuk
golongan flavonoid, mempunyai rasa sepat dan mempunyai kemampuan
menyamak kulit. Secara kimia tanin dibagi menjadi dua golongan, yaitu tanin
terkondensasi atau tanin katekin dan tanin terhidrolisis atau tanin galat (Robinson,
1995).



Gambar 2.3 Contoh Struktur Senyawa Tanin (Robinson,1995)
Deny (2007) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa tanin dapat
diekstrak dari bagian-bagian tumbuhan tertentu dengan menggunakan pelarut.
Pelarut yang umum adalah aseton, etanol, maupun metanol dan secara komersial
tanin dapat diekstraksi dengan menggunakan pelarut air tetapi yang paling efektif
untuk mengekstrak tanin dari kulit kayu dapat digunakan larutan air dengan etanol
atau aseton dengan perbandingan 1:1.
2.4.3 Alkaloid
Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak
ditemukan di alam. Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuh-
tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloid
mengandung paling sedikit satu atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan
dalam sebagian besar atom nitrogen ini merupakan bagian dari cincin heterosiklik
(Lenny, 2006). Penggolongan alkaloid dilakukan berdasarkan sistem cincinnya,
misalnya piridina, piperidina, indol, isokuinolina, dan tropana. Senyawa ini
biasanya terdapat dalam tumbuhan sebagai garam berbagai senyawa organik dan
sering ditangani di laboratorium sebagai garam dengan asam hidroklorida dan
asam sulfat (Robinson, 1995).
O OH
OH
OH
OH



Gambar 2.4 Contoh Struktur Senyawa Alkaloid (Robinson, 1995)

Pelarut atau pereaksi alkaloid biasanya menggunakan kloroform, aseton,
amoniak dan metilena klorida. Pereaksi Mayer (kalium tetraiodomerkurat) paling
banyak untuk mendeteksi alkaloid karena pereaksi ini mengendapkan hampir
semua alkaloid. Pereaksi lain yang sering digunakan seperti pereaksi Wagner
(iodium dalam kalium iodida), asam silikotungstat 5 %, asam tanat 5 %, pereaksi
Dragendorff (kalium tetraiodobismutat), dan iodoplatinat. Kromatografi lapis tipis
merupakan salah satu cara cepat untuk pemisahan alkaloid dengan silika gel
sebagai penjerapnya. Pereaksi yang paling umum digunakan untuk menyemprot
kromatogram adalah pereaksi Dragendorff (Robinson, 1995).
Alkaloid umumnya mencakup senyawa-senyawa bersifat basa yang
mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Alkaloid adalah suatu golongan
senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan
tingkat tinggi. Pada penelitian Sumaryanto (2009) alkaloid diekstraksi
menggunakan pelarut polar (etanol) dan dapat digunakan sebagai antibakteri.

N
H
2.4.4 Triterpenoid
Triterpenoid merupakan komponen tumbuhan yang mempunyai bau dan
dapat diisolasi dari bahan nabati dengan penyulingan sebagai minyak atsiri.
Triterpenoid terdiri dari kerangka dengan 3 siklik 6 yang bergabung dengan siklik
5 atau berupa 4 siklik 6 yang mempunyai gugus pada siklik tertentu (Lenny,
2006). Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari 6
satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C
30
asiklik
yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang kebanyakan berupa alkohol,
aldehida, atau asam karboksilat (Harborne, 1987). Senyawa ini paling umum
ditemukan pada tumbuhan berbiji dan sebagai glikosida. Triterpenoid alkohol
monohidroksi dalam tumbuhan tidak bersamaan dengan pigmen, sedangkan
triterpenadiol berada bersama-sama dengan karotenoid dan triterpenoid asam
dengan flavonoid (Robinson, 1995).



Gambar 2.5 Contoh Struktur Senyawa Triterpenoid (Robinson, 1995)

Soemiarti (2009) melakukan isolasi akar tanaman garcinia menggunakan pelarut
diklorometana, hasil uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa triterpenoid.
Bawa (2009) mengisolasi senyawa triterpenoid dari daging buah pare
menggunakan pelarut metanol.
2.4.5 Steroid
Steroid merupakan golongan lipid yang diturunkan dari senyawa jenuh
yang dinamakan siklopentanoperhidrofenantrena, yang memiliki inti dengan 3
cincin sikloheksana terpadu dan 1 cincin siklopentana yang tergabung pada ujung
cincin sikloheksana tersebut (Poedjiadi, 1994). Steroid tersusun dari isopren-
isopren dari rantai panjang hidrokarbon yang menyebabkan sifatnya non-polar
Beberapa senyawaan steroid mengandung gugus OH yang sering disebut dengan
sterol, sehingga sifatnya yang cenderung lebih polar. Beberapa turunan steroid
yang penting ialah steroid alkohol atau sterol. Steroid lain antara lain asam-asam
empedu, hormon seks (androgen dan estrogen) dan hormon kortikosteroid.
Senyawa steroid terdapat dalam setiap makhluk hidup. Steroid yang ditemukan
dalam jaringan tumbuhan disebut fitosterol, sedangkan yang ditemukan dalam
jaringan hewan disebut kolesterol. Beberapa senyawa ini jika terdapat dalam
tumbuhan akan dapat berperan menjadi pelindung. Senyawa ini tidak hanya
bekerja menolak beberapa serangga tetapi juga menarik beberapa serangga lain
(Robinson, 1995).




Gambar 2.6 Struktur Inti Senyawa Steroid (Poedjiadi, 1994)

Arfianti (2008) dalam penelitiannya mengekstrak senyawa steroid dari
buah mahkota dewa dengan pelarut etanol. Purwatiningsih (2003) melakukan
penelitian terhadap tanaman Fagraea racemosa jacc ex wall menggunakan
ekstraksi bertahap dengan pelarut petroleum eter, kloroform, dan metanol. Hasil
uji fitokimia menunjukkan adanya senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, sterol-
terpenoid dan tanin.
2.4.6 Saponin
Saponin berasal dari bahasa latin sapo yang berarti sabun, karena sifatnya
menyerupai sabun. Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat,
menimbulkan busa jika dikocok dengan air dan pada konsentrasi yang rendah
sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Saponin dalam larutan yang
sangat encer dapat sebagai racun ikan, selain itu saponin juga berpotensi sebagai
antimikroba, dapat digunakan sebagai bahan baku sintesis hormon steroid. Dua
jenis saponin yang dikenal yaitu glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida
struktur steroid. Aglikonnya disebut sapogenin, diperoleh dengan hidrolisis dalam
asam atau menggunakan enzim (Robinson, 1995).
CH
3
CH
3
R

Gambar 2.7 Struktur Inti Senyawa Saponin (Robinson, 1995)



Lutfillah (2008) dalam penelitiannya menunjukkan adanya senyawa
saponin dari ekstrak tanaman angsret dengan pelarut etanol.

2.5 Identifikasi Senyawa Aktif dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan
tertentu. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fase
diam dan fase gerak. Pemisahan-pemisahan ini bergantung pada gerakan relatif
dari dua fase ini (Sastrohamidjojo, 2007). Prinsip dari pemisahan adalah adanya
perbedaan sifat fisik dan kimia dari senyawa yaitu kecenderungan dari molekul
untuk melarut dalam cairan (kelarutan), kecenderungan molekul untuk menguap
(keatsirian), kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan (adsorpsi,
penjerapan).
Salah satu cara pemisahan adalah Kromatografi Lapis Tipis. Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu kromatografi yang berdasarkan proses
adsorpsi. Lapisan yang dipisahkn terdiri atas fase diam dan fase gerak (Vogel
1989, dalam Kusnaeni, 2008). Fase diam yang dapat digunakan adalah silika atau
alumina yang dilapiskan pada lempeng kaca atau aluminium. Jika fase diam
O
berupa silika gel maka bersifat asam, jika fase diam alumina maka bersifat basa.
Fase gerak atau larutan pengembang biasanya digunakan pelarut organik atau bisa
juga campuran pelarut organik-anorganik (Gritter, 1991)
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah dari lapisan tipis
menggunakan harga Rf. Harga Rf didefinisikan sebagai berikut (Sastrohamidjojo,
2007):
Harga Rf =
asal titik dari pelarut oleh digerakkan yang Jarak
asal titik dari senyawa oleh digerakkan yang Jarak
.....(2.1)
Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan
dengan harga-harga standart. Harga-harga Rf yang diperoleh hanya berlaku untuk
campuran tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan (Sastrohamidjojo,
2007).
Setiawati (2001) melakukan penelitian dengan pemisahan menggunakan
KLT untuk senyawa triterpen dengan eluen benzen dan kloroform (3:7)
menghasilkan 6 noda dengan Rf 0,1-0,56, untuk senyawa alkaloid dengan eluen
kloroform dan metanol (9,5: 0,5) menghasilkan 8 noda dengan Rf 0,217-0,849.
Purwaningsih (2003) menyatakan bahwa eluen untuk pemisahan flavonoid adalah
BAA atau campuran butanol-asam asetat-air (4:1:5), kemudian diperiksa di bawah
sinar UV akan berwarna biru dengan diuapi uap amoniak akan berwarna biru
kehijauan dengan noda sebanyak 8 dengan Rf antara 0,14-0,94. Kristianingsih
(2005) melakukan penelitian untuk senyawa saponin menggunakan KLT dengan
eluen kloroform, metanol dan air (20:60:10) menghasilkan 3 noda dengan Rf
antara 0,55-0,73.
2.6 Uji Toksisitas Terhadap Larva Udang Artemia salina L.
Uji toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Leach atau Brine Shrimp
Test (BST) dapat digunakan sebagai uji pendahuluan pada penelitian yang
mengarah pada uji sitotoksik. Korelasi antara uji toksisitas akut ini dengan uji
sitotoksik adalah jika mortalitas terhadap Artemia salina Leach yang ditimbulkan
memiliki harga LC
50
< 1000 g/mL. Parameter yang ditunjukkan untuk
menunjukkan adanya aktivitas biologi pada suatu senyawa pada Artemia salina
Leach adalah kematiannya (Meyer et al, 1982 dalam Farihah, 2008).
Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi. Oleh karena itu
daya bunuh in vitro dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan
untuk menguji ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan untuk
memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian. Salah satu organisme
yang sangat sesuai untuk hewan uji tersebut adalah brine shrimp (Lenny, 2006).
Beberapa kelebihan dari uji bioaktivitas dengan brine shrimp test (BST)
menggunakan larva udang Artemia salina adalah cepat waktu ujinya, sederhana
(tanpa teknik aseptik), murah (tidak perlu serum hewan), jumlah organisme
banyak, memenuhi kebutuhan validasi statistik dengan sedikit sampel (Meyer et
al, 1982).
Penetasan telur dilakukan dengan memasukkan telur Artemia salina Leach
ke dalam air laut sambil diaerasi untuk mengontakkan dengan udara selama 48
jam. Proses penetasan Artemia salina Leach ada beberapa tahapan yaitu tahap
hidrasi, pecahnya cangkang dan tahap payung atau tahap pengeluaran. Tahap
hidrasi terjadi penyerapan air sehingga telur yang diawetkan dalam bentuk kering
tersebut akan menjadi bulat dan aktif bermetabolisme. Tahap selanjutnya yaitu
tahap pecahnya cangkang yang disusul dengan tahap pecahnya payung yang
terjadi beberapa saat sebelum naupli (larva) keluar dari cangkang sebagaimana
pada gambar 2.8 (Isnanstyo dan Kurniastuty, 1995 dalam Farihah, 2008).



Gambar 2.8 Tahap Penetasan Artemia salina L. (Isnanstyo dan Kurniastuty, 1995
dalam Farihah, 2008)



Artemia yang baru menetas disebut dengan nauplius. Nauplius berwarna
orange, berbentuk bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron, lebar sekitar
170 mikron, dan berat 0,002 mg. Ukuran ukuran tersebut sangat tergantung
berdasarkan strainnya. Nauplius mempunyai sepasang antenulla dan sepasang
antena. Antenulla berukuran lebih kecil dan pendek dibandingkan dengan
antenna. Selain itu, diantara antenulla terdapat bintik mata yang disebut dengan
occellus. Sepasang mandibula rudimenter terdapat dibelakang antenna. Sedangkan
labrum (semacam mulut) terdapat di bagian ventral. Morfologi nauplius di sajikan
pada Gambar 2.9.


Gambar 2.9 Morfologi Nauplius A.salina (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995
dalam Farihah, 2008)

Pada prosedur uji toksisitas, digunakan air laut sebagai media uji. Air laut
yang digunakan adalah air laut buatan dengan cara melarutkan garam tidak
beriodium ke dalam air. Konsentrasi yang digunakan adalah 3,8 % yaitu dengan
melarutkan 38 g garam tiap 1 L air. Prosedur uji toksisitas dengan metode brine
shrimp ini adalah sebanyak 10 ekor larva udang laut dimasukkan ke dalam tabung
uji yang berisi ekstrak dan sekitar 4 mL air laut. Ekstrak yang digunakan sebanyak
5000, 500, dan 50 g dan diulang masing-masing sebanyak 3 kali, sehingga akan
terdapat 9 tabung uji. Ekstrak yang sukar larut dalam air laut, terlebih dahulu
ditambahkan DMSO dengan batas penggunaan 50 ml per 5 mL air laut.
Tambahkan air laut hingga volume menjadi 5 ml, sehingga konsentrasi ekstrak
yang digunakan adalah 1000, 100, dan 10 g/mL. Larutan kontrol terdiri atas 5 ml
air laut yang berisi 10 ekor larva udang laut. Setelah 24 jam, jumlah larva udang
yang mati untuk tiap-tiap konsentrasi dihitung dan dicatat. Bila dalam larutan
kontrol ada larva udang yang mati maka jumlah udang sampel adalah jumlah
udang pada tiap-tiap konsentrasi dikurangi jumlah larva udang laut yang mati
pada larutan control (Mc Laughlin,et al., 1988 dalam Sumaryanto, 2009).
Dimetilsulfoksida (DMSO) merupakan cairan tak berwarna yang memiliki
rumus (CH
3
)
2
SO. Merupakan pelarut yang dapat melarutkan senyawa polar
maupun non polar. DMSO sering digunakan sebagai pelarut untuk reaksi kimia
yang melibatkan garam. DMSO memilki titik lebur 18,5 C, titik didih 189 C,
konstanta dielektrikum 46,68 (Anonim, 2010). DMSO merupakan cairan yang
tidak toksik sering digunakan dalam sintesis farmasi, pembuatan elektronik, dan
pemberian obat di dalam tubuh. Penggunaanya didukung oleh lebih dari 45 tahun
pengalaman industri dan akademik (Anonim, 2007)

2.6.1 Larva Udang Artemia salina L.
Salah satu organisme yang sangat sesuai untuk mengetahui bioaktivitas
senyawa melalui uji toksisitas adalah brine shrimp (udang laut) dari jenis Artemia
salina. Brine shrimp merupakan spesies perairan sejenis udang primitif. Pertama
ditemukan di Lymington, England pada tahun 1755. Artemia bisa ditemukan di
pedalaman danau air asin di seluruh dunia, tetapi tidak ditemukan di samudra.
Artemia yang dikenal dengan baik dan dikembangkan yaitu dari spesies Artemia
salina (Anonim, 2009).
Telur Artemia salina atau cyste berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan
kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi
oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi
embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan
mempermudah pengapungan. Cangkang telur Artemia salina dibagi dalam dua
bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik (bagian dalam). Lapisan
ketiga dinamakan selaput kutikuler luar yang terdapat di antara kedua lapisan
tersebut (Anonim, 2008).



Gambar 2.10 Larva Udang Artemia salina Leach (Anonim, 2009)


Brine shrimp memiliki klasifikasi sebagai berikut (Bougis, 1979 dalam
Farihah, 2008).
Kerajaan : Animalia
Divisi : Arthropoda
Subdivisi : Crustacea
Kelas : Branchiopoda
Bangsa : Anostraca
Suku : Artemiidae
Marga : Artemia L.
Jenis : Artemia salina Leach
Telur Artemia dapat mengadsorbsi air, jika tersinari oleh sinar matahari
atau pada suhu sekitar 26-28 C maka akan menetas setelah 24-48 jam tergantung
pada kondisi lingkungan. Artemia salina yang baru menetas disebut dengan naupli
(larva) yang memiliki ukuran 0,25 mm (0,01 inci) (Anonim, 2007).
Artemia diperdagangkan dalam bentuk telur istirahat yang disebut kista.
Kista ini dilihat dengan mata telanjang berbentuk bulat-bulatan kecil berwarna
kelabu kecoklatan dengan diameter sekitar 300 mikron (Farihah, 2008)
Artemia salina mengalami pubertas selama 8-14 hari dan akan hidup
selama 4-5 minggu tergantung pada konsentrasi garam, terlalu banyak garam
maka harapan hidup akan berkurang. Hewan ini dapat tumbuh dan berkembang
pada air garam. Larutan air garam dapat dibuat dengan melarutkan 30g garam ke
dalam 1L air. Banyak orang menggunakan garam biasa untuk membuat medianya
tanpa adanya penambahan iodium dan zat kimia lainnya karena dapat
memperburuk pertumbuhannya. Air laut merupakan media pertumbuhannya yang
lebih baik. Pembiakan Artemia salina dapat dilakukan melalui perkawinan antara
Artemia salina jantan dan betina, tetapi Artemia salina juga dapat
berkembangbiak tanpa perkawinan. Artemia salina betina dapat mempunyai
keturunan sekitar 300 setiap 4 hari. Makanan Artemia salina berupa bubuk alga
ataupun ragi (Anonim, 2007).
Dalam pemeliharaan Artemia salina makanan yang diberikan adalah:
katul, padi, tepung beras, tepung terigu, tepung kedelai dan ragi Artemia hanya
dapat menelan makanan yang berukuran kecil yaitu kurang dari 50 mikron.
Apabila makanan lebih besar dari ukuran itu, makanan tidak akan tertelan karena
Artemia mengambil makanan dengan jalan menelannya bulat bulat. Makanan
yang akan ditelan itu dikumpulkan dulu ke depan mulut dengan menggerak
gerakkan kakinya. Gerakan kaki dilakukan terus-menerus hingga makanan akan
terus bergerak masuk ke dalam mulutnya. Selain untuk mengambil makanan,
kakinya berfungsi sebagai alat untuk bergerak dan bernafas (Mudjiman, 2006
dalam Farihah, 2008).




















BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.6 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan Mei 2010 di
Laboratorium Kimia Organik dan Laboratorium Bioteknologi Universitas Islam
Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.
3.7 Alat dan Bahan Penelitian
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah oven, blender, kaca arloji, cawan
penguap, timbangan analitik, gelas ukur 100 mL, erlenmeyer 300 mL, pengaduk
kaca, aluminium foil, penyaring Buchner, kertas saring, rotary evaporator, beaker
glass 100 mL, desikator, pipet tetes, pipet ukur, tabung reaksi, penjepit, corong
kaca, bunsen spiritus, lampu UV, labu ukur, pipet mikro.
3.2.2 Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah tanaman anting-anting
(Acalypha Indica), petroleum eter, diklorometana, etil asetat, asam sulfat, logam
Mg, FeCl
3
, gelatin, asam klorida, metanol, reagen Mayer, reagen Dragendroft,
reagen Lieberman-Burchard, amonia, kloroform, asam asetat glasial, n-heksana,
sikloheksana, benzena, plat KLT, butanol, asam asetat, kertas saring, larva udang
(Artemia salina Leach), ragi roti, DMSO dan air laut.


3.8 Tahapan-Tahapan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
1. Uji kadar air.
2. Preparasi sampel.
3. Ekstraksi senyawa aktif dengan maserasi.
4. Uji fitokimia senyawa yang aktif dengan uji reagen
5. Pemisahan ekstrak aktif dengan Kromatografi Lapis Tipis
6. Uji toksisitas dengan larva udang Artemia salina Leach.


3.9 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Analisa kadar air
Analisa kadar air dilakukan dengan metode thermografi yaitu dengan pemanasan.
Analisa ini dilakukan dalam tiga bagian yaitu batang-akar dan daun-bunga dan
seluruh tanaman yang dilakukan sebanyak 5 kali pengulangan. Cawan yang
digunakan dipanaskan dahulu dalam oven pada suhu 100-105 C sekitar 15 menit
untuk menghilangkan kadar airnya, kemudian cawan disimpan dalam desikator
sekitar 10 menit. Cawan tersebut selanjutnya ditimbang dan dilakukan perlakuan
yang sama sampai diperoleh berat cawan yang konstan. Sampel dipotong kecil-
kecil, Sampel ditimbang sebanyak 5 g dan dimasukkan ke dalam cawan yang
telah diketahui beratnya, selanjutnya dikeringkan di dalam oven pada suhu 100-
105 C selama sekitar 1 jam. Sampel kering didinginkan dalam desikator dan
ditimbang. Sampel tersebut dipanaskan kembali dalam oven 20 menit pada suhu
yang sama, didinginkan dalam desikator dan ditimbang kembali. Perlakuan ini
diulangi sampai tercapai berat konstan. Kadar air dalam tanaman dihitung
menggunakan rumus berikut:
Kadar air = % 100
) (
) (

a b
c b
................................................................. (3.1)
Keterangan: a = berat konstan cawan kosong
b = berat cawan + sampel sebelum dikeringkan
c = berat konstan cawan + sampel setelah dikeringkan
Faktor koreksi =
air kadar % 100
100

............................................................... (3.2)

% Kadar air terkoreksi = Kadar air- Faktor koreksi

3.4.2 Preparasi Sampel
Daun dan batang anting-anting yang telah dicuci, dikeringkan di udara terbuka,
dipotong kecil-kecil, kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 30
o
-37
o
C.
Setelah kering anting-anting diblender sampai berbentuk serbuk.
3.4.3 Ekstraksi Senyawa aktif
3.4.3.1 Ekstraksi Senyawa aktif dengan Metode Maserasi
Ekstraksi komponen aktif dilakukan dengan cara ekstraksi maserasi/ perendaman
dengan pelarut yang memiliki tingkat kepolaran yang berbeda yaitu etil asetat,
diklorometan, dan petroleum eter. Serbuk tanaman anting-anting ditimbang
sebanyak 60 g dan perlakuan dibagi menjadi dua masing-masing 30 g untuk
proses ekstraksi. Lalu diekstraksi secara maserasi masing-masing menggunakan
150 mL pelarut etil asetat selama 24 jam dengan pengocokan selama 3 jam
menggunakan Shaker, kemudian ampas yang diperoleh direndam dengan 150 mL
pelarut yang sama sampai diperoleh filtrat yang berwarna pucat. Selanjutnya
disaring dan ampasnya dikeringkan pada suhu ruang hingga terbebas dari pelarut
etil asetat.
Ampas yang telah kering dimaserasi kembali menggunakan 150 mL pelarut
diklorometana selama 24 jam dengan 3 jam pengocokan menggunakan shaker,
kemudian ampas yang diperoleh direndam dengan 150 mL pelarut yang sama
sampai diperoleh filtrat yang berwarna pucat. Ampas yang diperoleh kembali
dikeringkan pada suhu ruang sampai terbebas dari diklorometana. Selanjutnya
ampas yang telah kering dimaserasi kembali dengan 150 mL pelarut petroleum
eter selama 24 jam dengan 3 jam pengocokan menggunakan shaker, kemudian
ampas yang diperoleh direndam dengan 150 mL pelarut yang sama sampai
diperoleh filtrat yang berwarna pucat. Ketiga ekstrak yang diperoleh masing-
masing dipekatkan dengan rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak pekat etil
asetat, diklorometana, dan petroleum eter. Ketiga ekstrak pekat yang diperoleh
selanjutnya diuji fitokimia dengan uji reagen dilajutkan dengan pemisahan dengan
KLT berdasarkan kandungan golongan senyawa yang positif dari hasil uji reagen,
lalu diuji toksisitasnya dengan mengunakan larva udang Artemia salina L.
terhadap ekstrak yang memiliki LC
50
< 1000 g/mL.
3.4.4 Uji Fitokimia dengan Uji Reagen
Uji fitokimia kandungan senyawa aktif dengan uji reagen dari ekstrak pekat etil
asetat, diklorometana dan petroleum eter dari tanaman anting-anting dilarutkan
dengan sedikit masing-masing pelarutnya. Kemudian dilakukan terhadap uji
alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid dan steroid.
3.4.4.1 Uji Alkaloid
Ekstrak tanaman anting-anting dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambah 0,5 mL
HCl 2% dan larutan dibagi dalam dua tabung. Tabung I ditambahkan 2-3 tetes
reagen Dragendorff, tabung II ditambahkan 2-3 tetes reagen Mayer. Jika tabung I
terbentuk endapan jingga dan pada tabung II terbentuk endapan kekuning-
kuningan, menunjukkan adanya alkaloid.
3.4.4.2 Uji Flavonoid
Ekstrak tanaman anting-anting dimasukkan dalam tabung reaksi kemudian
dilarutkan dalam 1-2 mL metanol panas 50%. Setelah itu ditambah logam Mg dan
4-5 tetes HCl pekat. Larutan berwarna merah atau jingga yang terbentuk,
menunjukkan adanya flavonoid.
3.4.4.3 Uji Tanin
3.4.4.3.1 Uji dengan FeCl
3

Ekstrak tanaman anting-anting ditambahkan dengan 2-3 tetes larutan FeCl
3
1%.
Jika larutan menghasilkan warna hijau kehitaman atau biru tinta, maka bahan
tersebut mengandung tanin.

3.4.4.3.2 Uji dengan Larutan Gelatin
Ekstrak tanaman anting-anting dimasukkan dalam tabung reaksi ditambah dengan
larutan gelatin. Jika terbentuk endapan putih, menunjukkan adanya tanin.
3.4.4.4 Uji Saponin
Ekstrak tanaman anting-anting dimasukkan dalam tabung reaksi ditambah 10 mL
air sambil dikocok selama 1 menit, apabila menimbulkan busa ditambahkan 2
tetes HCl 1 N, bila busa yang terbentuk bisa tetap stabil maka ekstrak positif
mengandung saponin.
3.4.4.5 Uji Triterpenoid dan Steroid
Ekstrak tanaman anting-anting dimasukkan dalam tabung reaksi, dilarutkan dalam
0,5 mL kloroform lalu dipanaskan dan didinginkan. Diambil 1 mL dan
dimasukkan dalam tabung reaksi lalu diteteskan pereaksi Lieberman-burchard.
Jika hasil yang diperoleh berupa cincin kecoklatan atau violet pada perbatasan dua
pelarut menunjukkan adanya triterpenoid, sedangkan jika terbentuk warna hijau
kebiruan menunjukkan adanya steroid.
3.4.5 Uji Fitokimia dengan Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Uji fitokimia dengan KLT dilakukan terhadap golongan senyawa yang positif dari
hasil uji fitokimia dengan uji reagen. Identifikasi dengan KLT digunakan plat
silika gel F
254
. Masing-masing plat dengan ukuran 1x10 cm
2
. Ekstrak tanaman
anting-anting ditotolkan pada jarak 1 cm dari tepi bawah plat dengan pipa
kapiler kemudian dikeringkan dan dielusi dengan masing-masing fase gerak
golongan senyawanya. Setelah gerakan fase gerak sampai pada garis batas, elusi
dihentikan. Noda-noda pada permukaan plat diperiksa di bawah sinar UV pada
panjang gelombang 254 nm dan 366 nm, kemudian diamati pada masing-masing
hasil nodanya. Pengembang dan reagen penguji masing-masing golongan
senyawa adalah sebagai berikut:
1) Golongan senyawa alkaloid: digunakan pengembang campuran fase gerak
kloroform-metanol (9,5:0,5) dan (9:1) (Sumaryanto, 2009) dan pereaksi
Dragendorff untuk mendeteksi yang menunjukkan bercak coklat jingga
(Lutfillah, 2008).
2) Golongan senyawa flavonoid: digunakan pengembang kloroform: metanol
(8:2) (Aripin, 2007) dan butanol-asam asetat-air (4:1:5) dan diuapi uap
amoniak dalam akan menghasilkan warna biru kehijauan (Kusnaeni, 2008).
3) Golongan senyawa tanin: digunakan pengembang butanol-asam asetat-air
(14:1:5), dan asam asetat glasial-air-HCl pekat (30:10:3), kemudian dengan
penyemprot FeCl
3
1% menghasilkan warna lembayung (Harborne,1987).
4) Golongan senyawa saponin: digunakan pengembang campuran kloroform-
metanol-air (20:60:10) dan (14:6:1) ketika ditambah H
2
SO
4
0,1 M akan
menimbulkan warna ungu-ungu gelap (Kristianingsih, 2003).
5) Golongan senyawa triterpenoid: digunakan pengembang benzene- kloroform
(3:7) (Setiawati, 2001) dan n-heksana-etil asetat (2:8) serta dengan pereaksi
Lieberman-burchard menghasilkan warna merah ungu (violet)
6) Senyawa steroid: digunakan pengembang sikloheksana: etil asetat (1:1) dan n-
heksana-etil asetat (7:3) dengan pereaksi Lieberman-Burchard menunjukkan
warna hijau kebiruan.
3.4.6 Uji Toksisitas dengan Larva Udang Artemia salina Leach
3.4.6.1 Penetasan Telur
Telur Artemia salina Leach dimasukkan dalam air laut yang telah diaerasi dan
diberi penerangan dengan cahaya lampu. Telur akan menetas dalam waktu 24-48
jam dan disiapkan untuk digunakan sebagai target uji toksisitas.
3.4.6.2 Uji Toksisitas
Perlakuan uji toksisitas dilakukan sebanyak 3 kali ulangan pada masing-masing
ekstrak sampel. Botol disiapkan untuk pengujian, masing-masing ekstrak
membutuhkan 7 botol dan 3 botol sebagai kontrol. Ekstrak kental etil asetat,
diklorometana, dan petroleum eter, ditimbang sebanyak 10 mg dan dilarutkan
dengan menggunakan pelarutnya masing-masing sebanyak 1 mL untuk membuat
larutan stok 10.000 ppm. Dari larutan stok tersebut kemudian dipipet sesuai
dengan konsentrasinya, sehingga konsentrasinya masing-masing larutan menjadi
5, 25, 50, 100, 150, 200, dan 250 ppm. dimasukkan ke dalam botol dan pelarutnya
diuapkan selama 24 jam. Selanjutnya dimasukkan 100 L dimetil sulfoksida
(DMSO), 2 ml air laut, 10 ekor larva udang, dan setetes larutan ragi roti.
Kemudian ditambahkan air laut sampai volumenya menjadi 10 mL.
Kontrol dibuat dengan dimasukkan 2 mL air laut, 100 L dimetil sulfoksida, 10
ekor larva udang dan setetes larutan ragi roti ke dalam botol, kemudian
ditambahkan air laut sampai volumenya menjadi 10 mL. Pengamatan dilakukan
selama 24 jam terhadap kematian larva udang. Analisis data dilakukan untuk
mencari LC
50
dengan analisis probit.
3.10 Analisis Data
Data yang diperoleh dibuat dalam bentuk tabel dan grafik, kemudian
dideskripsikan hasilnya. tingkat mortalitas larva udang Artemia salina Leach
dapat diketahui dengan melakukan uji LC
50
dengan analisa probit dengan tingkat
kepercayaan 95% menggunakan program MINITAB 14.

































BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dijelaskan tentang hasil-hasil penelitian dan pembahasan
meliputi analisa kadar air, preparasi sampel, ekstraksi senyawa aktif dengan
maserasi, uji fitokimia senyawa yang aktif dengan uji reagen, pemisahan ekstrak
aktif dengan kromatografi lapis tipis dan uji toksisitas dengan larva udang
Artemia salina Leach.


4.1 Analisa Kadar Air.
Kadar air yang terdapat dalam tanaman umumnya berbeda-beda sesuai
dengan kondisi lingkungannya. Begitupula tanaman anting-anting, memiliki
susunan dalam dan bentuk luar yang berbeda dengan tumbuh-tumbuhan lain.
Tumbuh-tumbuhan dapat menyesuaikan diri dalam kondisi air yang melimpah
dengan susunan batang, daun dan akarnya memiliki organ ventilasi sangat banyak
karena digunakan untuk mendapatkan oksigen untuk pernapasan yang jumlahnya
sangat sedikit dalam air. Lain halnya dengan tumbuhan yang hidup di tanah dan
iklim kering. Tumbuhan jenis ini paling banyak mengalami penyesuaian dalam
rangka mempertahankan diri dari kekeringan, angin, dan panas yang tinggi.
Terdapat daun yang membatasi penguapan air dan mengurangi panas sinar
matahari. Daun-daun tersebut fungsinya digantikan oleh batang yang pada kondisi
tertentu dapat membesar disebabkan oleh air yang dikandungnya (Pasya, 2004).
Begitupula pada tanaman anting-anting yang menyesuaikan diri dengan kondisi
lingkungannya, kadar air yang terkandung di dalamnya berbeda pula.
Penelitian ini menggunakan sampel tanaman anting-anting di sekitar
kampus Universitas Islam Negeri Maliki Malang yang tanahnya berupa tanah
kering. Analisis kadar air yang dilakukan dengan menggunakan metode
thermografi. Analisa ini dilakukan dalam tiga bagian yaitu batang-akar dan daun-
bunga dan seluruh tanaman yang dilakukan sebanyak 5 kali pengulangan untuk
memperoleh keakuratan data. Sampel yang digunakan dipanaskan dalam oven
pada suhu 100-105 C selama 1 jam untuk menghilangkan kadar airnya kemudian
sampel disimpan dalam desikator sekitar 10 menit. Sampel tersebut selanjutnya
ditimbang dan dilakukan perlakuan yang sama sampai diperoleh berat konstan.
Hal tersebut sesuai dengan Winarno (2002) yang menyatakan bahwa penetapan
kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantung pada
sifat dan bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan cara
mengeringkan bahan dalam oven pada suhu 105-110
o
C selama 3 jam atau sampai
didapat berat yang konstan. Tercapainya berat yang konstan menunjukkan air
yang terdapat dalam tanaman telah teruapkan secara maksimal.
Sampel yang digunakan sebelumnya diiris menjadi bagian-bagian yang
lebih kecil hal ini bertujuan untuk memperbanyak luas permukaan sehingga
sampel menjadi lebih cepat kering. Pengukuran kadar air dibagi menjadi 3 bagian
yaitu bunga dan daun, batang dan akar, serta keseluruhan tanaman dengan 5 kali
pengulangan untuk mendapatkan keakuratan data. Data perhitungan kadar air
sampel tanaman anting-anting ditunjukkan pada lampiran 4. Pengukuran kadar air
ini dilakukan terhadap 2 bagian karena kandungan air dalam bagian tanaman ini
berbeda, sebagaimana pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Kadar air yang terkandung dalam tanaman Anting-anting (Acalypha
indica Linn.)

Sampel Kadar air (%)
Daun dan bunga 70,10
Batang dan akar 61,42
Seluruh tanaman 60,01

Kandungan air pada masing-masing bagian tanaman berbeda, pada bagian
daun dan bunga lebih tinggi yang disebabkan karena pada stomata di bagian daun
merupakan pusat terjadinya proses fotosintesis yang kaya akan kandungan air,
sedangkan bagian akar dan batang digunakan sebagai transport nutrisi untuk
seluruh bagian tumbuhan. Air akan bereaksi dengan karbondioksida yang
menghasilkan energi dan oksigen yang dikeluarkan saat respirasi sebagaimana
reaksi berikut (Kimball, 1983):


Kandungan air yang cukup tinggi yaitu lebih tinggi dari 10 % dari ketiga
sampel tanaman ini menunjukkan perlu adanya pengeringan kandungan airnya
untuk proses penyimpanan agar kerusakan akibat degradasi oleh mikroorganisme
maupun penguraian oleh enzim dapat diminimalkan. Bila kadar air yang
terkandung dalam suatu bahan/sampel organik kurang dari 10 % maka kestabilan
optimum bahan akan dapat tercapai dan pertumbuhan mikroba dapat dikurangi
(Puspita, 2009). Sampel yang telah dihilangkan kadar airnya cenderung mudah
menyerap air sehingga perlu dilakukan penyimpanan dalam tempat yang kedap
6 CO
2
+ 6 H
2
O C
6
H
12
O
6
+ 6 O
2
udara. Sampel segar awalnya berwarna hijau, setelah kering warnanya berubah
menjadi hijau kecoklatan. Hal ini terjadi akibat adanya pemanasan yang dapat
merusak klorofil pada tanaman.


4.2 Preparasi Sampel
Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah seluruh bagian tanaman
anting-anting yang segar dan kering. Tahap pertama sampel diambil, kemudian
dicuci untuk menghilangkan kotoran yang berupa tanah atau debu yang dapat
mengganggu dalam proses ekstraksi kemudian dikeringanginkan agar sisa air
hasil pencucian dapat kering. Seluruh bagian tanaman selanjutnya dipotong kecil-
kecil untuk memperbanyak luas permukaan sehingga mempercepat proses
pengeringan dan mempermudah penggilingan. Selanjutnya dikeringkan dengan
oven pada suhu 30-37 C sampai kering. Pengeringan dilakukan pada suhu
tersebut agar kandungan senyawa kimia yang terdapat pada tanaman tidak
mengalami kerusakan.
Pengeringan dimaksudkan untuk mengurangi kadar air, menghentikan
reaksi enzimatis, dan mencegah tumbuhnya jamur sehingga dapat disimpan lebih
lama (pengawetan) dan tidak mudah rusak sehingga komposisi kimianya tidak
mengalami perubahan. Sampel yang telah kering berwarna hijau kecoklatan ini
dihaluskan menggunakan blender sehingga diperoleh serbuk sampel yang
berwarna hijau kecoklatan. Pembuatan serbuk dapat mempermudah proses
ekstraksi. Semakin kecil bentuknya semakin besar luas permukaannya maka
interaksi zat cairan ekstraksi akan semakin besar, sehingga proses ekstraksi akan
semakin efektif. Serbuk dengan penghalusan yang tinggi kemungkinan sel-sel
yang rusak juga semakin besar, sehingga memudahkan pengambilan bahan
kandungan langsung oleh bahan pelarut (Octavia, 2009).


4.3 Ekstraksi komponen aktif
Ekstraksi merupakan proses pemisahan senyawa campuran dengan
menggunakan pelarut yang sesuai. Ekstraksi digunakan untuk mengisolasi produk
alam dari jaringan asli kering tumbuh-tumbuhan. Pada proses ini dilakukan 2 kali
ulangan, untuk memperoleh keakuratan data. Serbuk sampel ditimbang sebanyak
30 g dengan 2 kali ulangan, kemudian diekstraksi dengan variasi pelarut
berdasarkan kepolarannya agar senyawa yang terkandung dalam tanaman ini
dapat terekstrak ke dalam pelarut berdasarkan tingkat kepolarannya tersebut.
Ekstraksi yang digunakan yaitu dengan ekstraksi maserasi karena pengerjaannya
cukup sederhana. Pada prinsipnya metode maserasi adalah terdapat waktu kontak
yang cukup antara pelarut dengan bahan yang diekstrak. Hasil maserasi maksimal
biasanya dilakukan dengan maserasi menggunakan sederetan pelarut secara
berganti-ganti atau metode Charauxs- Paris yaitu metode ekstraksi dengan
menggunakan pelarut yang berbeda kepolaran, dimana ekstrak pekat pelarut polar
diekstraksi kembali dengan pelarut semipolar dan pelarut non polar (Kusnaeni,
2008).
Prinsip utama dalam maserasi sampel ini adalah mengekstrak senyawa
aktif yang dapat larut dalam pelarut berdasarkan tingkat kepolaran masing-masing
pelarutnya atau dikenal dengan istilah like dissolve like. Senyawa polar akan
terekstrak dalam pelarut etil asetat, senyawa semipolar akan terekstrak dalam
pelarut diklorometana dan senyawa non-polar akan terekstrak dalam pelarut
petroleum eter.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk sampel selama 24 jam
ke dalam pelarutnya. Proses pengadukannya dibantu dengan shaker selama 3 jam
dengan kecepatan 120 rpm untuk mempercepat proses ekstraksinya karena
kecepatan pengadukannya dapat dilakukan secara konstan. Pelarut akan
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung
senyawa aktif. Senyawa aktif akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi
antara larutan senyawa aktif di dalam dan di luar sel, maka cairan hipertonis akan
masuk ke cairan yang hipotonis sehingga terjadi keseimbangan. Pengadukan
diperlukan untuk meratakan konsentrasi larutan di luar serbuk sampel sehingga
tetap terjaga adanya derajat perbedaan konsentrasi yang sekecil-kecilnya antara
larutan di dalam dan di luar sel (Baraja, 2008).
Perendaman sampel dilakukan dalam waktu 24 jam dengan pelarut etil
asetat sebanyak 150 mL, pengadukannya dibantu dengan shaker selama 3 jam
untuk mempercepat kelarutan senyawa ke dalam pelarutnya. Tahap selanjutnya
dilakukan penggantian pelarut yang sama yaitu 150 mL pada setiap harinya
sampai diperoleh filtrat yang warnanya pucat sampai 4 kali proses ekstraksi.
Perubahan filtrat yang diperoleh dari warna hijau tua pekat hingga berwarna hijau
pucat sebagaimana pada Tabel 4.2. Ampas hasil penyaringan akhir masing-
masing pelarut selanjutnya dikeringanginkan untuk menguapkan pelarut
sebelumnya agar tidak mengganggu dalam proses ekstraksi dengan pelarut yang
berbeda tingkat kepolarannya.
Ampas hasil penyaringan dimaserasi kembali dengan 150 mL pelarut
diklorometana sampai diperoleh filtrat yang warnanya pucat seperti pada proses
maserasi dengan pelarut etil asetat pada proses ini dilakukan dengan 3 kali proses
ekstraksi, begitu pula dilakukan cara yang sama untuk maserasi dengan pelarut
petroleum eter sampai diperoleh filtrat yang warnanya pucat dengan 2 kali proses
ekstraksi. Filtrat yang diperoleh hasil maserasi dengan diklorometana yaitu
berwarna hijau kecoklatan pekat hingga hijau kecoklatan pucat, sedangkan hasil
maserasi dengan petroleum eter filtratnya berwarna kuning pekat hingga kuning
pucat sebagaimana pada Tabel 4.2. Ekstraksi dihentikan sampai filtrat berwarna
pucat, diharapkan senyawa-senyawa yang memiliki kepolaran yang sesuai dengan
masing-masing pelarut ini dapat terekstrak secara maksimal pada masing-masing
pelarutnya.
Filtrat hasil dari maserasi masing-masing pelarut yang telah diperoleh
selanjutnya diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator vaccum untuk
mendapatkan ekstrak pekat yang akan digunakan untuk pengujian selanjutnya.
Penguapan pada rotary evaporator vakum dilakukan pada tekanan rendah atau
dengan kenaikan temperatur dan kecepatan terbesar pada titik didih larutan. Labu
evaporator dipanaskan pada temperatur tertentu di atas waterbath dan diputar
selama evaporasi, sehingga terjadi pencampuran yang sempurna, mencegah
bumping, dan juga akan memiliki permukaan yang relatif lebih kuat. Adanya
tekanan yang diberikan oleh pompa vakum pada rangkaian rotary evaporator
vaccum maka pelarut menguap dari campuran kemudian terkondensasi oleh
erlenmeyer dan jatuh pada labu penampung (Vogel, 1978). Suhu penguapan
masing-masing pelarut pada ekstrak diatur berdasarkan suhu titik didihnya.
pelarut dapat menguap lebih dahulu di bawah titik didihnya karena adanya vakum.
Untuk ekstrak etil asetat pada suhu 70-75
o
C, ekstrak diklorometana pada suhu
penguapan pelarut dengan rotary evaporator vaccum dihentikan sampai diperoleh
ekstrak yang cukup pekat yang ditandai dengan berhentinya penetesan pelarut
pada labu penampung. Selanjutnya pelarut yang masih ada dalam ekstrak
diuapkan dalam desikator vakum. Hasil ekstraksi ditunjukkan pada Tabel 4.2
dengan perhitungan berat ekstrak pekat pada Lampiran 5.


Tabel 4.2 Hasil maserasi serbuk tanaman Anting-anting
Pelarut
Volume
(mL)
Perubahan
warna filtrat
Warna ekstrak
pekat
Berat
ekstrak
pekat (g)
Etil asetat 1200
Hijau tua pekat
menjadi hijau
pucat
hijau tua 4,47
Diklorometana 900
Hijau kecoklatan
pekat menjadi
hijau kecoklatan
pucat
hijau tua
kecoklatan
4,00
Petroleum eter 600
kuning pekat
menjadi kuning
pucat
kuning kehijauan 1,90



Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui bahwa berat ekstrak pekat etil
asetat menunjukkan nilai yang paling besar hal ini menunjukkan bahwa
kandungan senyawa-senyawa polar dalam tanaman anting-anting lebih besar
daripada senyawa-senyawa semipolar dan non-polar. Hasil ekstrak pekat yang
diperoleh pada masing-masing pelarut digunakan untuk uji selanjutnya yaitu uji
fitokimia dengan menggunakan reagen dan Kromatografi Lapis Tipis serta uji
toksisitas menggunakan brine shrimp.


4.4 Uji Fitokimia dengan Reagen
Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa aktif pada
tanaman. Pada penelitian ini pengujiannya dilakukan dengan cara mengambil
sedikit sampel dari masing-masing ekstrak etil asetat, diklorometana dan
petroleum eter pada tabung reaksi, lalu ditambahkan reagen sesuai dengan
senyawa yang akan diidentifikasi. Uji fitokimia dilakukan terhadap golongan
senyawa flavonoid, tanin, alkaloid, triterpenoid/ steroid dan saponin.

4.4.1 Flavonoid
Uji flavonoid dilakukan dengan mengambil sedikit sampel, dilarutkan
dengan metanol 50% panas kemudian ditambah logam Mg dan HCl pekat
Penambahan HCl pekat dalam uji flavonoid digunakan untuk menghidrolisis
flavonoid menjadi aglikonnya, yaitu dengan menghidrolisis O-glikosil. Glikosil
akan tergantikan oleh H
+
dari asam karena sifatnya yang elektrofilik. Glikosida
berupa gula yang biasa dijumpai yaitu glukosa, galaktosa dan ramnosa. Reduksi
dengan Mg dan HCl pekat ini menghasilkan senyawa kompleks yang berwarna
merah atau jingga pada flavonol, flavanon, flavanonol dan xanton (Robinson,
1985). Pada pengujian untuk masing-masing ekstrak tidak mengandung senyawa
flavonoid.
O
O
OH
O
+ H
2
O
OH
O
O
OH
HO
OH
+ serbuk Mg
O
ROH
2
C
OH
HO
HO
O
ROH
2
C
OH
HO
HO
OH
OH
Senyawaan Flavonoid
HCl
OH
O
O
OH
O
OH
O
Mg

Gambar 4.1 Reaksi Dugaan Flavonoid dengan Serbuk Mg dan HCl pekat
(Hidayat, 2004)



4.4.2 Tanin
Uji fitokimia senyawa tanin dalam penelitian ini yaitu dengan
menambahkan ekstrak dengan larutan FeCl
3
hasil positifnya akan terbentuk warna
hijau kehitaman dan yang kedua adalah dengan menggunakan gelatin jika
terbentuk endapan putih pada ekstrak maka senyawa tersebut mengandung tanin.
Uji fitokimia dengan menggunakan FeCl
3
digunakan untuk menentukan apakah
suatu bahan atau sampel mengandung gugus fenol. Dugaan adanya gugus fenol
ditunjukkan dengan warna hijau kehitaman atau biru tinta, sehingga apabila uji
fitokimia dengan FeCl
3
memberikan hasil positif dimungkinkan dalam suatu
sampel terdapat suatu senyawa fenol dan dimungkinkan salah satunya adalah
tanin karena tanin merupakan senyawa polifenol. Terbentuknya warna hijau
kehitaman atau biru tinta pada ekstrak setelah ditambahkan dengan FeCl
3
karena
tanin akan membentuk senyawa komplek dengan FeCl
3
.

3+
FeCl
3
+ 3
Senyawaan Tanin
O OH
OH
OH
OH
+ 3 Cl
-

Hijau kehitaman
Gambar 4.2 Reaksi dugaan antara senyawaan tanin dengan FeCl
3
(Halimah, 2010)



Kecenderungan Fe

dalam pembentukan senyawa kompleks dapat mengikat
6 pasang elektron bebas. Ion Fe
3+
dalam pembentukan senyawa kompleks akan
terhibridisasi membentuk hibridisasi d
2
sp
3
, sehingga akan terisi oleh 6 pasang
elektron bebas atom O pada tanin. Kestabilan dapat tercapai jika tolakan antara
ligan pada 3 tanin minimal. Hal ini terjadi jika 3 tanin tersebut posisinya
dijauhkan (Effendy, 2007).
Berdasarkan uji fitokimia pada masing-masing ekstrak, pada ekstrak etil
asetat mengandung senyawa tanin yaitu terbentuknya warna hijau kehitaman
dengan penambahan FeCl
3
.
Uji fitokimia dengan menggunakan larutan gelatin adalah untuk
memperkuat dugaan adanya senyawa tanin dalam ekstrak suatu tanaman.
Harborne (1987) menyebutkan bahwa semua tanin menimbulkan endapan sedikit
atau banyak jika ditambahkan dengan gelatin. Gelatin merupakan protein alami
yang memberikan sifat penstabil dan pengental bagi media yang berbasiskan air,
mengandung asam amino yaitu dengan kandungan glisin (27%), prolin (16%) dan
hidroxiprolin (14%). Tanin merupakan himpunan polihidroksi fenol yang dapat
dibedakan dari fenol-fenol lain karena kemampuannya untuk mengendapkan
protein, sehingga apabila tanin direasikan dengan gelatin maka yang terbentuk
adalah endapan putih, karena gelatin merupakan salah satu jenis protein yang
mampu diendapkan oleh tanin.

Endapan putih
Gambar 4.3 Reaksi dugaan antara tanin dan gelatin (Lemmens dan Soetjipto, 1991
dalam Halimah, 2010).

O
OH
OH
OH
OH
HO
+
NH
H
C
CH
3
C
O
H
N
H
C
H
N
C
O
H
N
H
C
CH
2
CH
2
NH
C NH
2
NH2
C
O
H
N CH
H
C
C
O
O
H
N
H
C
CH
2
CH
2
C O
O
C
O
N
C
O
H
N CH
H
C
O
N
CH
O
NH
H
C
CH
3
C
O
H
N
H
C
H
N
C
O
H
N
H
C
CH
2
CH
2
NH
C NH
2
NH
2
C
O
H
N CH
H
C
C
O
O
H
N
H
C
CH
2
CH
2
C O
O
C
O
N
C
O
H
N CH
H
C
O
N
CH
O
O
OH
OH
OH
OH
HO
O
OH
OH
OH
OH
HO
O
OH
OH
OH
OH
HO
O
OH
OH
OH
OH
HO
Senyawaan tanin
Gelatin
Ikatan hidrogen pada tanin dan gelatin
Gelatin mengandung protein sehingga terbentuk senyawa komplek tanin-
protein, dikarenakan adanya ikatan hidrogen antara tanin dan protein pada gelatin
sehingga dapat terbentuk endapan putih. Ikatan hidrogen ini terbentuk dari atom H
yang berikatan dengan 2 atom yang memiliki keelektronegatifan yang tinggi
seperti atom N, O dan F. Ikatan hidrogen yang terbentuk disebabkan oleh atom H
yang terikat dengan 2 atom O ataupun yang terikat dengan atom O dan N dari
struktur tanin dan gelatin. Pada penelitian, ekstrak etil asetat terdapat sedikit
endapan putih, pada ekstrak diklorometana dan petroleum eter tidak terdapat
endapan.


4.4.3 Alkaloid
Uji adanya senyawa alkaloid dengan cara memasukkan sedikit ekstrak
sampel pada tabung reaksi, kemudian ditambahkan HCl. Tujuan penambahan HCl
adalah karena alkaloid bersifat basa sehingga biasanya diekstrak dengan pelarut
yang bersifat asam. Bukti kualitatif untuk menunjukkan adanya alkaloid dapat
diperoleh dengan menggunakan reagen Dragendorf dan Mayer. Reaksi dugaan
yang terjadi pada uji alkaloid adalah sebagaimana pada reaksi berikut:

Bi(NO
3
)
3
.5H
2
O + 3KI BiI
3
+ 3KNO
3
+ 5H
2
O
BiI
3
+ KI [BiI
4
]
-
+ K
+



Kompleks logam dengan alkaloid
(endapan jingga)
Gambar 4.4 Reaksi dugaan antara alkaloid dengan pereaksi Dragendorff
(Sumaryanto, 2009)




HgCl
2
+ 2 KI HgI
2
+ 2 KCl
HgI
2
+ 2 KI [Pgl
4
]
2-
+ 2K
+


Kompleks logam dengan alkaloid
(endapan putih kekuningan)
Gambar 4.5 Reaksi dugaan antara alkaloid dengan pereaksi Mayer (Sumaryanto,
2009)



Pada penelitian menunjukkan ekstrak etil asetat positif mengandung
senyawa alkaloid karena terbentuk endapan jingga ketika ditambahkan reagen
dragendorf. Endapan terbentuk karena adanya pembentukan kompleks antara ion
logam dari pereaksi yang digunakan dengan senyawa alkaloid.

N
H
+
BiI
4
-
N
N
+ 3HI+ KI
+K
+
N
Bi 3
N
H
+
HgI
4
2-
+2K
+
2
N
N
Hg + 2HI+ 2KI
4.4.4 Triterpenoid / Steroid
Uji fitokimia senyawa triterpenoid bertujuan untuk mengetahui apakah
ekstrak mengandung senyawa triterpenoid. Terbentuknya cincin kecoklatan pada
perbatasan dua pelarut merupakan hasil positif dengan penambahan reagen
Lieberman Burchard. Triterpenoid memberikan reaksi terbentuknya warna cincin
kecoklatan ketika senyawa ini ditetesi reagen Lieberman Burchard melalui
dindingnya, sedangkan steroid akan menghasilkan warna hijau kebiruan
(Robinson, 1995). Perubahan warna ini disebabkan terjadinya reaksi oksidasi pada
golongan terpenoid/steroid melalui pembentukan ikatan rangkap terkonjugasi
(senyawa pentaenilik). Ekstrak etil asetat dan petroleum eter menunjukkan adanya
senyawa steroid karena terbentuk warna hijau kebiruan pada larutannya,
sedangkan ekstrak diklorometana menunjukan adanya senyawa triterpenoid
dengan adanya cincin kecoklatan pada larutan.


4.4.5 Saponin
Pengujian saponin dilakukan dengan uji busa yaitu dengan penambahan
air ke dalam ekstrak kemudian dikocok selama 1 menit. Adanya saponin
ditunjukkan oleh timbulnya busa yang bertahan selama 10 menit. Busa yang
ditimbulkan saponin dikarenakan adanya kombinasi struktur senyawa
penyusunnya yaitu rantai sapogenin non-polar dan rantai samping polar yang larut
dalam air (Kristianingsih, 2002). Widyasari (2008) menyatakan bahwa busa yang
timbul disebabkan saponin mengandung senyawa yang sebagian larut dalam air
(hidrofilik) dan senyawa yang larut dalam pelarut nonpolar (hidrofobik) sebagai
surfaktan yang dapat menurunkan tegangan permukaan. Hasil pengujian pada
ketiga ekstrak etil asetat, diklorometana dan petroleum eter tidak menunjukkan
adanya saponin dalam ketiga ekstrak anting-anting tersebut.


4.4.6 Hasil Pengamatan Uji Fitokimia
Hasil identifikasi senyawa aktif berdasarkan uji fitokimia pada masing-
masing ekstrak ditunjukkan adanya senyawa alkaloid, tannin, triterpenoid dan
steroid. Senyawa aktif pada tanaman tergantung pada kepolaran suatu pelarut.


Tabel 4.3 Hasil pengamatan uji fitokimia
Golongan
senyawa
Ekstrak etil
asetat
Ekstrak
diklorometana
Ekstrak petroleum
eter
Flavonoid -
- -
Tanin +
- -
Alkaloid +
- -
Triterpenoid -
++ -
Steroid ++
++
Saponin
- - -
Keterangan: tanda ++ : terkandung senyawa lebih banyak/warna pekat
tanda + : terkandung senyawa/warna muda
tanda - : tidak terkandung senyawa/tidak terbentuk warna


Pada ekstrak etil asetat terdapat senyawa tanin, alkaloid dan steroid. Tanin
merupakan golongan senyawa fenol yang terdapat pada daun, buah yang belum
matang, batang dan kulit kayu. Pada senyawa tanin terdapat banyak gugus OH
sehingga menyebabkan sifatnya polar maka senyawa tanin dapat larut dalam
pelarut polar seperti etil asetat sehingga tannin dapat terekstrak dalam pelarut etil
asetat.
Alkaloid umumnya mencakup senyawa-senyawa bersifat basa yang
mengandung satu atau lebih atom nitrogen. Alkaloid adalah suatu golongan
senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam. Hampir seluruh alkaloid
berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas dalam berbagai jenis tumbuhan
tingkat tinggi. Pada penelitian Sumaryanto (2009) alkaloid diekstraksi
menggunakan pelarut polar (etanol) dan dapat digunakan sebagai antibakteri.
Steroid tersusun dari isopren-isopren dari rantai panjang hidrokarbon yang
menyebabkan sifatnya non-polar (Halimah, 2010), sehingga steroid larut dalam
pelarut petroleum eter. Beberapa senyawaan steroid mengandung gugus OH
yang sering disebut dengan sterol, sehingga sifatnya cenderung lebih polar.
Sterolin atau glikosida sterol ditemukan dalam fraksi lipid yang tidak dapat
tersabunkan dan kelarutannya rendah dalam pelarut lemak. Sifat ini menyebabkan
steroid dapat terekstrak dalam pelarut etil asetat. Contoh dari steroid polar
sikloartenol dan non polar kolestanon.
Triterpenoid tersusun dari rantai panjang hidrokarbon C
30
yang
menyebabkan sifatnya non-polar sehingga mudah terekstrak dalam pelarut yang
bersifat non polar. Ada beberapa senyawaan triterpenoid berstruktur siklik yang
berupa alkohol, aldehid atau asam karboksilat (Harborne, 1987). Senyawaan yang
berstruktur alkohol yang memiliki gugus OH menyebabkan sifatnya menjadi
semi polar, sehingga dapat terekstrak dalam pelarut diklorometana.
Golongan senyawa kimia yang terdapat dalam tanaman berkaitan dengan
aktivitas biologis suatu tanaman. Penelitian sebelumnya pada tanaman Acalypha
fruticosa dan Azadirachta indica menunjukkan adanya senyawa tannin, terpenoid,
flavonoid sebagai antimalaria. Arfianti (2008) menyatakan bahwa ekstrak buah
mahkota dewa mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan steroid dapat
digunakan sebagai antioksidan. Hal ini menunjukkan kandungan senyawa aktif
yang terdapat dalam tanaman anting-anting dari ketiga ekstrak dapat memperkuat
potensi bioaktivitas senyawa dalam tanaman ini.


4.5 Uji Fitokimia dengan KLT
Pendugaan senyawa dalam ketiga ekstrak tanaman anting-anting telah teruji
dengan pengujian fitokimia menggunakan reagen. Pembuktian kandungan
senyawa-senyawa tersebut diperkuat dengan adanya identifikasi menggunakan
kromatografi lapis tipis (KLT). KLT merupakan metode pemisahan senyawa
kimia dengan menggunakan fase diam dan fase gerak. KLT yang digunakan
terbuat dari silika gel dengan ukuran 1 cm x 10 cm G60 F
254
(Merck). Penggunaan
bahan silika karena pada umumnya silika digunakan untuk memisahkan senyawa
asam-asam amino, fenol, alkaloid, asam lemak, sterol dan terpenoid. Plat KLT
silika G60 F
254
diaktifasi pada suhu 100 C selama 30 menit untuk menghilangkan
air yang terdapat pada plat (Sastrohamidjojo, 2007). KLT analitik ini digunakan
untuk mencari eluen terbaik dari beberapa eluen yang baik dalam pemisahan
senyawa tanin. Eluen yang baik adalah eluen yang bisa memisahkan senyawa
dalam jumlah yang banyak ditandai dengan munculnya noda. Noda yang
terbentuk tidak berekor dan jarak antara noda satu dengan yang lainnya jelas
(Harborne, 1987). Penggunaan beberapa eluen diharapkan mampu memisahkan
komponen senyawa aktif yang terdapat dalam ekstrak tanaman anting-anting
dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
golongan senyawanya, kemudian diamati di bawah
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan
4.5.1
tanaman anting
(
Gambar
Gambar 4.6 Hasil KLT senyawa ta
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
golongan senyawanya, kemudian diamati di bawah
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan

4.5.1 Tanin
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
tanaman anting
(14:1:5) dan asam asetat gla
Gambar 4.6 dan 4.7

Gambar 4.6 Hasil KLT senyawa ta
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
golongan senyawanya, kemudian diamati di bawah
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan
Tanin
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
tanaman anting-anting de
4:1:5) dan asam asetat gla
4.6 dan 4.7.
Gambar 4.6 Hasil KLT senyawa ta
(14:1:5) setelah disemprot dengan FeCl
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
golongan senyawanya, kemudian diamati di bawah
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
anting dengan menggunakan eluen
4:1:5) dan asam asetat glasial: air: HCl pekat (30:10:3) ditunjukkan pada



) a (

Gambar 4.6 Hasil KLT senyawa tanin pada ekstrak etil asetat dengan
setelah disemprot dengan FeCl
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
golongan senyawanya, kemudian diamati di bawah
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
ngan menggunakan eluen
ial: air: HCl pekat (30:10:3) ditunjukkan pada

(a)
nin pada ekstrak etil asetat dengan
setelah disemprot dengan FeCl
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm
dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
golongan senyawanya, kemudian diamati di bawah lampu UV. Pereaksi ini
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
ngan menggunakan eluen butanol: asam asetat: air
ial: air: HCl pekat (30:10:3) ditunjukkan pada

(b)
nin pada ekstrak etil asetat dengan
setelah disemprot dengan FeCl
3
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
366 nm
dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
lampu UV. Pereaksi ini
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
yang ada kaitannya dengan struktur senyawa yang bersangkutan.
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
butanol: asam asetat: air
ial: air: HCl pekat (30:10:3) ditunjukkan pada

(b)
nin pada ekstrak etil asetat dengan eluen BAA
2
1
dengan baik. Noda yang dihasilkan selanjutnya dideteksi dengan pereaksi sesuai
lampu UV. Pereaksi ini
digunakan untuk menambah kepekaan deteksi dan menghasilkan perubahan warna
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa tanin pada
butanol: asam asetat: air
ial: air: HCl pekat (30:10:3) ditunjukkan pada
eluen BAA
Tabel 4.4 Hasil KLT senyawa tanin pada ekstrak etil asetat dengan eluen BAA
(14:1:5)
No.
noda
Rf tiap noda Warna noda tanpa
sinar UV
Warna noda dengan
sinar UV
1 0,61 Tidak berwarna Ungu
2 0,8 Hijau kekuningan Ungu kehitaman






(a) (b)
Gambar 4.7 Hasil KLT senyawa tanin pada ekstrak etil asetat dengan eluen asam
asetat glasial: air: HCl pekat (30:10:3) setelah disemprot FeCl
3
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm



Tabel 4.5 Hasil KLT senyawa tanin pada ekstrak etil asetat dengan eluen asam
asetat glasial: air: HCl pekat (30:10:3)
No.
noda
Rf tiap noda
Warna noda tanpa
sinar UV
Warna noda dengan
sinar UV
1 0,4 Biru muda Ungu kehitaman
2 0,489 Hijau kebiruan Ungu



Harborne menyatakan bahwa senyawa tanin jika dideteksi di bawah sinar
UV pendek menunjukkan warna lembayung, pada penelitian ini noda yang
1
2
dihasilkan pada eluen butanol: asam asetat: air dan eluen asam asetat glasial, air
dan HCl pekat noda ke 1 menunjukkan warna ungu dan noda ke 2 menunjukkan
warna ungu kehitaman, sehingga kedua noda yang dihasilkan pada ekstrak etil
asetat diasumsikan mengandung senyawa tanin. Hal ini didukung oleh penelitian
Saadah (2010) yang menyatakan bahwa noda hasil KLT yang diduga senyawa
tanin berwarna ungu kehitaman.
Berdasarkan eluen yang digunakan eluen butanol: asam asetat: air (14:1:5)
dan keduanya bersifat polar namun eluen butanol: asam asetat: air (14:1:5) lebih
polar daripada eluen asam asetat glasial air: HCl pekat (30:10:3), sehingga
senyawa tanin lebih mudah terelusi pada eluen yang pertama dengan Rf yang
lebih tinggi yaitu 0,61 dan 0,8 dan noda yang terbentuk besar dan tidak
bertumpuk. Pada eluen asam asetat glasial air: HCl pekat (30:10:3) noda yang
terbentuk memanjang dan hampir bertumpuk dengan Rf 0,4 dan 0,489, sehingga
eluen butanol: asam asetat: air (14:1:5) diasumsikan lebih baik dari eluen asam
asetat glasial air: HCl pekat (30:10:3). Berdasarkan pemisahan yang terbentuk
diasumsikan pemisahan senyawanya sudah cukup baik akan tetapi adanya noda
yang besar pada eluen asam asetat glasial air: HCl pekat (30:10:3) dan memanjang
pada eluen eluen asam asetat glasial air: HCl pekat (30:10:3) menunjukkan masih
ada senyawa yang belum terpisahkan secara sempurna.




4.5.2
tan
(9,5:0,5)
Gambar 4.
keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen



4.5.2 Alkaloid
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa
tanaman anting
(9,5:0,5) ditunjukkan pada Gambar
Gambar 4.8
keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform
No.
noda
Rf tiap noda
1
2
3
4



Alkaloid
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa
aman anting-anting dengan menggunakan
ditunjukkan pada Gambar
8 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform, metanol (9:1)
keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform : metanol (9:1)
Rf tiap noda
0,56
0,64
0,71
0,8
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa
anting dengan menggunakan
ditunjukkan pada Gambar 4.


(a)
Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform, metanol (9:1)
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
metanol (9:1)
Rf tiap noda
Warna noda tanpa
0,56 Tidak berwarna
0,64 Tidak berwana
0,71
0,8
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa
anting dengan menggunakan
4.8 dan 4.9.

(a)
Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform, metanol (9:1) setelah disemprot reagen Dragendroft
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm
Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
metanol (9:1)
Warna noda tanpa
sinar UV
Tidak berwarna
Tidak berwana
Hijau
Oranye
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa
anting dengan menggunakan kloroform: metanol


(b)
Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen Dragendroft
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
366 nm
Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda tanpa
sinar UV
Warna noda dengan sinar
Tidak berwarna
Tidak berwana Merah muda keunguan
Hijau
Oranye
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa alkaloid
kloroform: metanol


Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen Dragendroft
Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda dengan sinar
Ungu kecoklatan
Merah muda keunguan
Jingga kecoklatan
Hijau kecoklatan
4
3
2
1
alkaloid pada
(9:1) dan
Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen Dragendroft
Tabel 4.6 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda dengan sinar
UV
Ungu kecoklatan
Merah muda keunguan
Jingga kecoklatan
Hijau kecoklatan

Gambar 4.
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen

methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
berwarna kunin
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna

Gambar 4.9
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform
No.
noda
1
2
3
4
5


Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
berwarna kunin
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna
9 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
kloroform : metanol (9,5:0,5)
No.
noda
Rf tiap noda
1 0,27
2 0,32
3
0,58
4 0,78
5 0,87
Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
berwarna kuning, biru keunguan dan orany
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna



Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
: metanol (9,5:0,5)
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
metanol (9,5:0,5)
Rf tiap noda
Warna noda tanpa
0,27 Tidak berwarna
0,32 Tidak berwana
0,58 Hijau kebiruan
0,78
0,87 Hijau kecoklatan
Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
g, biru keunguan dan orany
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna

(a)
Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
metanol (9,5:0,5) setelah disemprot
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm
Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
metanol (9,5:0,5)
Warna noda tanpa
sinar UV
Tidak berwarna
Tidak berwana
Hijau kebiruan
Kuning
Hijau kecoklatan
Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
g, biru keunguan dan oranye. Minarti (2010) menyatakan bahwa
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna

Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
366 nm
Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda tanpa
sinar UV
Warna noda dengan sinar
Tidak berwarna
Tidak berwana Merahmuda keunguan
Hijau kebiruan
Ungu kecoklatan tengah
Kuning
Hijau kecoklatan Jingga
Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
e. Minarti (2010) menyatakan bahwa
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna

(b)
Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen Dragendroft
Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda dengan sinar
Ungu kecoklatan
Merahmuda keunguan
Ungu kecoklatan tengah
hijau tua
Jingga kecoklatan
Jingga kecoklatan tua
Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
e. Minarti (2010) menyatakan bahwa
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna
3
4
3
2
1


Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
reagen Dragendroft
Tabel 4.7 Hasil KLT senyawa alkaloid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda dengan sinar
UV
Ungu kecoklatan
Merahmuda keunguan
Ungu kecoklatan tengah
hijau tua
Jingga kecoklatan
kecoklatan tua
Penelitian lain tentang senyawa alkaloid menggunakan KLT dengan eluen
methanol: kloroform antara lain penelitian Runadi (2007) noda yang dihasilkan
e. Minarti (2010) menyatakan bahwa
noda berwarna jingga setelah disemprot dengan reagen Dragendorf dan berwarna
kuning oranye setelah dideteksi di bawah lampu UV 366 nm (Widodo,2007).
Pada eluen pertama terdapat 4 noda dengan Rf antara 0,56-0,8. Noda ke 3
menunjukkan warna jingga kehitaman dan pada eluen yang kedua terdapat 5 noda
dengan Rf antara 0,27-0,87. Noda ke 4 dan 5 menunjukkan warna jingga
kecoklatan dan jingga kecoklatan tua sehingga diasumsikan pada ekstrak etil
asetat terdapat senyawa alkaloid. Eluen kloroform: metanol (9:1) lebih polar
daripada eluen kloroform: metanol (9,5:0,5) dan senyawa alkaloid lebih mudah
terelusi pada eluen kloroform: metanol (9,5:0,5), hal itu ditunjukkan dengan
terbentuknya noda yang lebih banyak dan noda yang terpisah dengan baik dengan
Rf yang lebih tinggi daripada eluen yang pertama. Hal ini sesuai dengan
penelitian Lutfillah (2008) bahwa eluen kloroform: metanol (9,5:0,5) paling baik
untuk memisahkan senyawa alkaloid pada tanaman angsret. Senyawa alkaloid
yang terdapat pada ekstrak etil asetat tanaman Anting-anting merupakan senyawa
yang bersifat semi polar.


4.5.3 Triterpenoid
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa triterpenoid pada
tanaman Anting-anting dengan menggunakan eluen heksana dan etil asetat (1:1)
dan eluen benzene kloroform (3:7) ditunjukkan pada Gambar 4.10 dan 4.11.











-
'









(a) (b)
Gambar 4.10 Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
eluen benzene : kloroform (3:7) setelah disemprot reagen
Lieberman-Burchard
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm



Tabel 4.8 Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
eluen benzene : kloroform (3:7)
No.
noda
Rf tiap noda
Warna noda tanpa sinar
UV
Warna noda dengan
sinar UV
1 0,16 Hijau kecoklatan Ungu tua
2 0,5 Tidak berwana Ungu muda
3 0,6 Tidak berwarna Merah Muda
4 0,7 Hijau tua Ungu
5 0,76 Tidak berwarna Merah keunguan





2
1
Gambar 4.11
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV

Tabel 4.9



reagen Lieberman
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
2010). Pada eluen benzene dan kloroform (3:7)
Gambar 4.11
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV

Tabel 4.9 Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
eluen
No.
noda

1
2
3
4
5
6
7



Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
reagen Lieberman
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
2010). Pada eluen benzene dan kloroform (3:7)
Gambar 4.11 Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
eluen heksana
Burchard
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
eluen n- heksana : etil asetat (1:1
Rf tiap noda
0,12
0,2
0,3
0,35
0,7
0,74
0,79
Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
reagen Lieberman-Burchard ditunjukkan dengan terbentuknya noda berwarna
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
2010). Pada eluen benzene dan kloroform (3:7)


(a)
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
eluen heksana : etil asetat (1:1)
Burchard
dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
heksana : etil asetat (1:1
Rf tiap noda Warna noda tanpa sinar
0,12
0,2 Kuning muda kehijauan
0,3 Kuning muda kehijauan
0,35
0,7 Kuning muda kehijauan
0,74 Kuning muda kehijauan
0,79 Kuning muda
Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
Burchard ditunjukkan dengan terbentuknya noda berwarna
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
2010). Pada eluen benzene dan kloroform (3:7)

Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
etil asetat (1:1)
dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
heksana : etil asetat (1:1)
Warna noda tanpa sinar
Tidak berwarna
Kuning muda kehijauan
Kuning muda kehijauan
Tidak berwarna
Kuning muda kehijauan
Kuning muda kehijauan
Kuning muda kehijauan
Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
Burchard ditunjukkan dengan terbentuknya noda berwarna
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
2010). Pada eluen benzene dan kloroform (3:7)

(b)
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
etil asetat (1:1) setelah disemprot Lieberman
dideteksi dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
Warna noda tanpa sinar
UV
Warna noda dengan
Tidak berwarna
Kuning muda kehijauan
Kuning muda kehijauan
Tidak berwarna
Kuning muda kehijauan Merah muda keunguan
Kuning muda kehijauan Merah muda keunguan
kehijauan Merah tua keunguan
Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
Burchard ditunjukkan dengan terbentuknya noda berwarna
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
2010). Pada eluen benzene dan kloroform (3:7) menghasilan Rf antara 0,16
7
6
3
4
3
2
1






Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
setelah disemprot Lieberman
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
Warna noda dengan
sinar UV
Ungu tua
Ungu tua
Ungu tua
Merah muda keunguan
Merah muda keunguan
Merah tua keunguan
Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
Burchard ditunjukkan dengan terbentuknya noda berwarna
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
menghasilan Rf antara 0,16
7
6
3
4
3
2
1
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
setelah disemprot Lieberman-
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
Warna noda dengan
sinar UV
Ungu tua
Ungu tua
Ungu tua
Ungu
Merah muda keunguan
Merah muda keunguan
Merah tua keunguan
Golongan senyawa triterpenoid hasil KLT setelah disemprot dengan
Burchard ditunjukkan dengan terbentuknya noda berwarna
coklat, hijau tua sampai ungu tua (Bawa, 2009), merah ungu dan ungu (Rita
menghasilan Rf antara 0,16-0,76
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
Hasil KLT senyawa triterpenoid pada ekstrak diklorometana dengan
dengan 5 noda. Noda ke 1 berwarna ungu tua, noda ke 2 berwarna ungu muda,
noda ke 4 ungu dan noda ke 5 berwarna merah keunguan, sedangkan pada eluen
heksana dan etil asetat (1:1) menghasilkan Rf antara 0,12-0,79 dengan 7 noda.
Noda ke 1, 2, dan 3 menunjukkan warna ungu tua, noda ke 4 menunjukkan warna
ungu, noda ke 5 dan 6 menunjukkan warna merah muda keunguan dan noda ke 7
menunjukkan warna merah tua keunguan. Berdasarkan warna noda yang
dihasilkan tersebut diasumsikan pada ekstrak diklorometana terdapat senyawa
triterpenoid.
Berdasarkan tabel dan gambar di atas pada eluen benzene : kloroform
(3:7) dihasilkan Rf antara 0,16 - 0,76 dengan 5 noda yang terpisah dengan baik.
Pada eluen heksana dan etil asetat (1:1) dihasilkan Rf antara 0,12- 0,79 dengan 7
noda yang terpisah dengan baik pada noda 1-4 dan bertumpuk pada noda ke 5-7.
Kedua eluen yang digunakan bersifat semi polar namun eluen yang pertama
bersifat lebih polar daripada eluen yang kedua. Senyawa triterpenoid pada
tanaman Anting-anting lebih mudah terpisahkan dengan eluen yang kedua. Hal ini
ditunjukkan dengan terbentuknya noda yang lebih banyak, sehingga diasumsikan
senyawa triterpenoid pada tanaman Anting-anting merupakan senyawa yang
bersifat semi polar.

4.5.4 Steroid

Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa steroid pada
tanaman anting-anting dengan menggunakan eluen heksana : etil asetat (7:3)
ditunjukkan pada Gambar 4.12 dan 4.13.

Gambar 4.1

Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan



Tabel 4.10



Gambar 4.12

Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan



Tabel 4.10 Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n
etil asetat (7:3)
No.
noda

1
2
3
4
5
6
7
8
9



2 Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
heksana :
Burchard
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n
etil asetat (7:3)
Rf tiap noda
0,06
0,11
0,38
0,47
0,56
0,68
0,77
0,8
0,83

) a (
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
etil asetat (7:3)

(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n
etil asetat (7:3)
Rf tiap noda Warna noda tanpa
0,06 Hijau kebiruan
0,11 Hijau
0,38
0,47
0,56
0,68 Kuning kehijauan
0,77 Kuning kehijauan
0,8 Hijau kebiruan
0,83

Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
etil asetat (7:3) setelah disemprot reagen Lieberman
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
dengan lampu UV 366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n
Warna noda tanpa
sinar UV
Hijau kebiruan
Hijau kebiruan
Kuning
Kuning
Kuning
Kuning kehijauan
Kuning kehijauan
Hijau kebiruan
Oranye

) b (
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
setelah disemprot reagen Lieberman
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n
Warna noda tanpa
sinar UV
Warna noda dengan
Hijau kebiruan
kebiruan
Kuning
Kuning
Kuning
Kuning kehijauan Ungu tengah biru
Kuning kehijauan
Hijau kebiruan
Oranye Hijau kebiruan muda


Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
setelah disemprot reagen Lieberman
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n
Warna noda dengan
sinar UV
Hijau kebiruan
Hijau kebiruan
Merah muda
Hijau
Merah muda
Ungu tengah biru
kehijauan
Oranye
Hijau kebiruan
Hijau kebiruan muda
9
8
7
6
3
4
3
2
1
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen n-
setelah disemprot reagen Lieberman-
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan n-heksana :
Warna noda dengan
sinar UV
Hijau kebiruan
Hijau kebiruan
Merah muda
Hijau
Merah muda
Ungu tengah biru
kehijauan
Oranye
Hijau kebiruan
Hijau kebiruan muda

Gambar 4.13

Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.11

senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman
noda berwarna hijau.
UV 366 nm

Gambar 4.13

Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.11
heksana
No.
noda
1
2
3
4
5

Penelitian sebelumnya
senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman
noda berwarna hijau.
UV 366 nm
Gambar 4.13 Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
eluen n-heksana dan etil asetat (7:3)
Lieberman
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak
heksana : etil asetat (7:3)
Rf tiap
noda
0,52
0,71
0,78
0,83
0,88
Penelitian sebelumnya
senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman
noda berwarna hijau. Biru ungu sampai coklat
UV 366 nm (Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat menunjukkan Rf antara


) a (
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
heksana dan etil asetat (7:3)
Lieberman-Burchard
dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak
etil asetat (7:3)
Rf tiap
noda
Warna noda tanpa sinar
0,52
0,71 Tidak berwarna
0,78
0,83 Biru kehijauan
0,88
Penelitian sebelumnya (Handayani dkk, 2008)
senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman
Biru ungu sampai coklat
(Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat menunjukkan Rf antara

Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
heksana dan etil asetat (7:3)

dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak
etil asetat (7:3)
Warna noda tanpa sinar
UV
Kuning
Tidak berwarna
Kuning
Biru kehijauan
Oranye
(Handayani dkk, 2008)
senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman-Burchard menunjukkan terbentuknya
Biru ungu sampai coklat
(Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat menunjukkan Rf antara

) b (
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
heksana dan etil asetat (7:3) setelah disemprot reagen
dideteksi dengan lampu UV
366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan n
Warna noda tanpa sinar
UV
Warna noda dengan
Kuning
Tidak berwarna
Kuning
Biru kehijauan
Oranye Oranye kecoklatan
(Handayani dkk, 2008)
Burchard menunjukkan terbentuknya
setelah dideteksi di bawah lampu
(Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat menunjukkan Rf antara


Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
setelah disemprot reagen
petroleum eter dengan n
Warna noda dengan
sinar UV
Merah muda


Biru kehijauan
Oranye kecoklatan
(Handayani dkk, 2008) hasil KLT golongan
Burchard menunjukkan terbentuknya
setelah dideteksi di bawah lampu
(Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat menunjukkan Rf antara
3
4
3
2
1
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
setelah disemprot reagen
petroleum eter dengan n-
Warna noda dengan
sinar UV
Merah muda
Ungu
Ungu
Biru kehijauan
Oranye kecoklatan
hasil KLT golongan
Burchard menunjukkan terbentuknya
setelah dideteksi di bawah lampu
(Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat menunjukkan Rf antara
0,06-0,82 dengan 9 noda. Noda ke 1, 2 dan 8 menunjukkan warna hijau kebiruan,
noda ke 4 menunjukkan warna hijau, noda ke 6 menunjukkan warna ungu yang
tengahnya berwarna biru kehijauan, noda ke 9 menunjukkan warna hijau kebiruan
muda. Pada ekstrak petroleum eter menunjukkan Rf antara 0,52- 0,88 dengan 5
noda. Noda ke 4 biru kehijauan, noda ke 5 menunjukkan warna oranye
kecoklatan, sehingga diasumsikan pada ekstrak etil asetat dan petroleum eter
terdapat senyawa steroid.
Golongan senyawa steroid pada ekstrak etil asetat lebih banyak daripada
ekstrak petroleum eter. Hal ini ditunjukkan dengan terdapatnya 6 noda etil asetat
dan 2 noda yang diasumsikan golongan senyawa steroid pada ekstrak petroleum
eter. Banyaknya senyawa yang terpisah pada ekstrak etil asetat menunjukkan
bahwa senyawa steroid yang terdapat pada tanaman Anting-anting lebih banyak
terekstrak pada senyawa yang bersifat polar. Semua noda yang dihasilkan terpisah
dengan baik menggunakan eluen heksana:etil asetat (7:3).
Hasil identifikasi menggunakan KLT golongan senyawa steroid pada
tanaman anting-anting dengan menggunakan eluen sikloheksana : etil asetat (1:1)
ditunjukkan pada gambar 4.14 dan 4.15.


Gambar 4.14
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan



Tabel 4.12


Gambar 4.14
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan



Tabel 4.12
sikloheksana
No.
noda
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12



Gambar 4.14 Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
sikloheksana
burchard
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
sikloheksana
Rf tiap
noda
0,06
0,11
0,13
0,3
0,36
0,39
0,44
0,67
0,76
0,78
0,81
0,86

) a (
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
sikloheksana : etil asetat (1:1)
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
sikloheksana : etil asetat (1:1)
Warna noda tanpa
Hijau kebiruan
Hijau
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Tidak
Hijau kebiruan

Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
etil asetat (1:1) setelah disemprot reagen lieberman
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
lampu UV 366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
etil asetat (1:1)
Warna noda tanpa
sinar UV
Hijau kebiruan
Hijau kebiruan
Tidak berwarna
Kuning
Kuning
Tidak berwarna
Tidak berwarna
Hijau
Kuning
Tidak berwarna
Hijau kebiruan
Oranye

) b (
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen lieberman
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
Warna noda tanpa Warna noda dengan sinar

Ungu tengah hijau
Hijau kebiruan muda


Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen lieberman
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan
Warna noda dengan sinar
Hijau kebiruan
Ungu kehitaman
Hijau kebiruan
Merah muda
Ungu
Hijau kebiruan
Merah muda
Ungu tengah hijau
kebiruan
Ungu
Hijau kebiruan muda
Hijau kebiruan
Oranye
12
11
10
9
8
7
6
3
4
3
2
1
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
setelah disemprot reagen lieberman-
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak etil asetat dengan eluen
Warna noda dengan sinar
UV
Hijau kebiruan
Ungu kehitaman
Hijau kebiruan
Merah muda
Ungu
Hijau kebiruan
Merah muda
Ungu tengah hijau
kebiruan
Ungu
Hijau kebiruan muda
Hijau kebiruan
Oranye
Gambar 4.15

Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.13

golongan senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman
Gambar 4.15

Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV



Tabel 4.13 Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
No.
noda
1
2
3
4
5
6
7

Penelitian sebelumnya
golongan senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman
Gambar 4.15 Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
eluen sikloheksana :
lieberman-
Keterangan:
(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
sikloheksana
Rf tiap
noda
0,06
0,12
0,47
0,67
0,76
0,79
0,84
Penelitian sebelumnya
golongan senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman


(a)
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
sikloheksana :
-burchard

(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
sikloheksana : etil asetat (1:1)
Warna noda tanpa sinar
Tidak berwarna
Hijau kebiruan muda
Penelitian sebelumnya (Handayani dkk, 2008)
golongan senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman

Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
sikloheksana : etil asetat (1:1)

(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
(b) hasil pengamatan dengan lampu UV 366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
etil asetat (1:1)
Warna noda tanpa sinar
UV
Kuning
Kuning
Kuning
Tidak berwarna
Hijau
Hijau kebiruan muda
Oranye
(Handayani dkk, 2008)
golongan senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman

(b)
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
etil asetat (1:1) setelah disemprot reagen

(a) hasil elusi sebelum dideteksi dengan lampu UV
366 nm
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
Warna noda tanpa sinar
UV
Warna noda dengan sinar
Kuning
Kuning
Kuning Oranye kecoklatan
Tidak berwarna
Hijau
Hijau kebiruan muda
Oranye Oranye kecoklatan
(Handayani dkk, 2008) menunjukkan hasil KLT
golongan senyawa steroid dengan pereaksi Lieberman-Burchard menunjukkan


Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
setelah disemprot reagen

Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
Warna noda dengan sinar

Ungu muda
Oranye kecoklatan
Ungu muda
Merah muda
Hijau kebiruan
Oranye kecoklatan
menunjukkan hasil KLT
Burchard menunjukkan
6
7
1
2
3
3
4
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan
setelah disemprot reagen
Hasil KLT senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter dengan eluen
Warna noda dengan sinar
UV
Ungu
Ungu muda
Oranye kecoklatan
Ungu muda
Merah muda
Hijau kebiruan
Oranye kecoklatan
menunjukkan hasil KLT
Burchard menunjukkan
terbentuknya bercak noda berwarna hijau. Biru ungu sampai coklat setelah
dideteksi di bawah lampu UV 366 nm (Syamsudin,2007). Pada ekstrak etil asetat
menunjukkan Rf antara 0,06-0,86 dengan 12 noda. Noda ke 1, 3, 6, 10 dan 11
menunjukkan warna hijau kebiruan, noda ke 2 menunjukkan warna hijau
kehitaman, noda ke 8 menunjukkan warna ungu yang tengahnya berwarna hijau
kebiruan.
Pada ekstrak petroleum eter menunjukkan Rf antara 0,06-0,84 dengan 7
noda. Noda ke 6 berwarna hijau kebiruan, noda ke 3 dan 7 berwarna oranye
kecoklatan. Sehingga diasumsikan pada ekstrak etil asetat dan ekstrak petroleum
eter terdapat golongan senyawa steroid. yang terpisah dengan baik. Pada ekstrak
petroleum eter menunjukkan Rf antara 0,06-0,84 dengan 7 noda. Golongan
senyawa steroid pada ekstrak etil asetat lebih banyak daripada ekstrak petroleum
eter. Hal ini ditunjukkan dengan terdapatnya 9 noda pada ekstrak etil asetat dan 3
noda yang diasumsikan golongan senyawa steroid pada ekstrak petroleum eter.
Banyaknya senyawa yang terpisah pada ekstrak etil asetat menunjukkan bahwa
senyawa steroid yang terdapat pada tanaman Anting-anting lebih banyak
terekstrak pada senyawa bersifat polar. Semua noda yang dihasilkan terpisah
dengan baik menggunakan eluen sikloheksana:etil asetat (1:1).
Kedua eluen yang digunakan bersifat semi polar, namun eluen yang
sikloheksana:etil asetat (1:1) lebih polar daripada eluen yang heksana etil asetat
(7:3). Eluen sikloheksana:etil asetat (1:1) lebih baik daripada eluen heksana etil
asetat (7:3) karena baik pada ekstrak etil asetat maupun petroleum eter, eluen
sikloheksana:etil asetat (1:1) menunjukkan noda yang terpisah lebih banyak
daripada eluen heksana etil asetat (7:3). Hal ini menunjukkan golongan senyawa
steroid lebih mudah dipisahkan dengan eluen yang bersifat semi polar.
Pada penelitian Halimah (2010), pada ekstrak polar (etanol) menunjukkan
adanya senyawa flavonoid dan triterpenoid. Senyawa flavonoid dipisahkan
dengan KLT menggunakan eluen butanol:asam asetat:air (4:1:5) menunjukkan 4
noda yang terpisah dengan Rf antara 0,26-0,82. Sedangkan senyawa triterpenoid
dipisahkan dengan eluen n heksana:etil asetat (2:8) menunjukkan 7 noda yang
terbentuk dengan Rf antara 0,16-0,87.
Pada penelitian ini pada ekstrak polar (etil asetat) menunjukkan adanya
golongan senyawa alkaloid, tanin, dan steroid. Senyawa alkaloid dipisahkan
dengan eluen kloroform:metanol (9:1) dan (9,5:0,5). Pada eluen pertama terdapat
4 noda dengan Rf antara 0,56-0,8. Pada eluen yang kedua terdapat 5 noda dengan
Rf antara 0,27-0,87. Pada senyawa tanin dipisahkan dengan eluen butanol:asam
asetat:air (14:1:5) dan eluen asam asetat glacial:air:HCl pekat (30:10:3) yang
sama-sama terbentuk 2 noda, pada eluen pertama Rf antara 0,61-0,8 dan eluen
yang kedua Rf antara 0,4-0-489. Pada senyawa steroid dipisahkan menggunakan
eluen heksana:etil asetat (7:3) menunjukkan Rf antara 0,06-0,82 dengan 9 noda.
Eluen sikloheksana:etil asetat (1:1) menunjukkan Rf antara 0,06-0,86 dengan 12
noda.
Pada ekstrak semi polar (kloroform) Halimah (2010) menunjukkan adanya
senyawa steroid yang dipisahkan dengan KLT menggunakan eluen n heksana etil
asetat menghasilkan 6 noda dengan Rf antara 0,22-0,45. Pada penelitian ini
ekstrak semi polar (diklorometana) menunjukkan senyawa triterpenoid yang
dipisahkan dengan eluen benzene dan kloroform (3:7) menghasilkan Rf antara
0,16-0,76 dengan 5 noda dan eluen pada eluen heksana dan etil asetat (1:1)
menghasilkan Rf antara 0,12-0,79 dengan 7 noda.
Pada ekstrak non polar (n-Heksana) Halimah (2010) menunjukkan adanya
golongan senyawa triterpenoid yang dipisahkan dengan KLT menggunakan eluen
n-heksana:etil asetat (2:8) yang menunjukkan Rf antara 0,14-0,82 dengan 3 noda.
Pada penelitian ini ekstrak non polar menunjukkan adanya senyawa steroid yang
dipisahkan dengan eluen heksana:etil asetat (7:3) menunjukkan Rf antara 0,52-
0,88 dengan 5 noda dan eluen sikloheksana:etil asetat (1:1) menunjukkan Rf
antara 0,06-0,84 dengan 7 noda.
Berdasarkan perbandingan tersebut maka pada penelitian ini tiap-tiap
ekstrak baik polar, semi polar maupun non polar menunjukkan lebih banyak
senyawa yang dihasilkan daripada penelitian sebelumnya. Hal ini ditunjukkan
dengan banyaknya noda yang terpisah pada tiap-tiap ekstrak. Perbedaan tersebut
karena pelarut yang digunakan untuk tiap-tiap fraksi berbeda sehingga senyawa
yang dihasilkan juga berbeda.


4.6 Uji Toksisitas menggunakan larva udang
Uji toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Leach atau Brine
Shrimp Test (BST) dapat digunakan sebagai uji pendahuluan pada penelitian yang
mengarah pada uji sitotoksik. Korelasi antara uji toksisitas akut ini dengan uji
sitotoksik adalah jika mortalitas terhadap Artemia salina Leach yang ditimbulkan
memiliki harga LC
50
< 1000 g/mL. Parameter yang ditunjukkan untuk
menunjukkan adanya aktivitas biologi pada suatu senyawa pada Artemia salina
Leach adalah kematiannya (Meyer et al, 1982 dalam Farihah, 2008).
Senyawa bioaktif hampir selalu toksik pada dosis tinggi. Oleh karena itu
daya bunuh in vitro dari senyawa terhadap organisme hewan dapat digunakan
untuk menguji ekstrak tumbuhan yang mempunyai bioaktivitas dan untuk
memonitor fraksi bioaktif selama fraksinasi dan pemurnian. Salah satu organisme
yang sangat sesuai untuk hewan uji tersebut adalah brine shrimp (Lenny, 2006).
Beberapa kelebihan dari uji bioaktivitas dengan brine shrimp test (BST)
menggunakan larva udang Artemia salina adalah cepat waktu ujinya, sederhana
(tanpa teknik aseptik), murah (tidak perlu serum hewan), jumlah organisme
banyak, memenuhi kebutuhan validasi statistik dengan sedikit sampel (Meyer et
al, 1982)


4.6.1 Penetasan telur
Telur Artemia salina atau cyste berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan
kering dan bulat penuh dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi
oleh cangkang yang tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi
embrio terhadap pengaruh kekeringan, benturan keras, sinar ultraviolet dan
mempermudah pengapungan. Cangkang telur Artemia salina dibagi dalam dua
bagian yaitu korion (bagian luar) dan kutikula embrionik (bagian dalam). Lapisan
ketiga dinamakan selaput kutikuler luar yang terdapat di antara kedua lapisan
tersebut (Anonim, 2008).
Penetasan telur dilakukan dengan memasukkan telur Artemia salina Leach
ke dalam air laut sambil diaerasi untuk mengontakkan dengan udara selama 48
jam. Proses penetasan Artemia salina Leach ada beberapa tahapan yaitu tahap
hidrasi, pecahnya cangkang dan tahap payung atau tahap pengeluaran. Tahap
hidrasi terjadi penyerapan air sehingga telur yang diawetkan dalam bentuk kering
tersebut akan menjadi bulat dan aktif bermetabolisme. Tahap selanjutnya yaitu
tahap pecahnya cangkang yang disusul dengan tahap pecahnya payung yang
terjadi beberapa saat sebelum naupli (larva) keluar dari cangkang sebagaimana
pada Gambar 4.16.


Gambar 4.16 Tahap penetasan Artemia salina L. (Isnanstyo dan Kurniastuty, 1995
dalam Farihah, 2008)

Artemia yang baru menetas disebut dengan nauplius. Nauplius berwarna
orange, berbentuk bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron, lebar sekitar
170 mikron, dan berat 0,002 mg. Ukuran ukuran tersebut sangat tergantung
berdasarkan strainnya. Nauplius mempunyai sepasang antenulla dan sepasang
antena. Antenulla berukuran lebih kecil dan pendek dibandingkan dengan
antenna. Selain itu, diantara antenulla terdapat bintik mata yang disebut dengan
occellus. Sepasang mandibula rudimenter terdapat dibelakang antenna. Sedangkan
labrum (semacam mulut) terdapat di bagian ventral. Morfologi nauplius di sajikan
pada Gambar 4.17.

Gambar 4.17 Morfologi nauplius Artemia salina L. (Isnansetyo dan Kurniastuty,
1995 dalam Farihah,2008)

Masing masing larutan ekstrak etil asetat, diklorometana dan petroleum
eter dibuat dengan konsentrasi 5 ppm, 25 ppm, 50 ppm, 100 ppm, 150 ppm, 200
ppm, dan 250 ppm serta sebagai pengontrolnya yaitu 0 ppm yaitu pelarutnya
tanpa penambahan ekstrak. Sepuluh larva udang Artemia salina Leach digunakan
sebagai hewan uji toksisitas dalam setiap konsentrasi masing-masing ekstrak.
Perlakuan uji toksisitas ini dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan untuk
mendapatkan keakuratan data.
Larutan uji dibuat dari larutan stok 10000 ppm dengan mengambil 5 L,
25 L, 50 L, 100 L, 150 L, 200 L, dan 250 L masing-masing ekstrak ke
dalam botol vial. Selanjutnya pelarut masing-masing ekstrak diuapkan sampai
kering dalam desikator agar kematian larva tidak dipengaruhi oleh pelarutnya.
Setelah pelarutnya mengering, ditambahkan dengan 100 L DMSO (dimetil
sulfoksida) dan sedikit air laut kemudian dilarutkan sampai ekstraknya larut
seluruhnya. Pelarutan ekstrak dengan air laut sering menimbulkan masalah karena
adanya perbedaan tingkat kepolaran, ekstrak tidak mampu larut dengan air laut
sehingga digunakan DMSO untuk melarutkannya. DMSO digunakan sebagai
surfaktan karena ekstrak tidak dapat larut dalam air laut. Surfaktan merupakan
senyawa yang memiliki ujung hidrofilik dan hidrofobik sehingga dapat
melarutkan ekstrak dengan air laut.
Ekstrak yang telah larut dengan air laut selanjutnya dipindahkan dalam
labu ukur 10 mL. Larva Artemia salina Leach selanjutnya dimasukkan sebanyak
10 ekor ke dalam labu ukur yang berisi ekstrak yang telah larut dengan air laut.
Kemudian ditambah 1 tetes larutan ragi roti dan ditambahkan air laut sampai
tanda batas. Ragi roti merupakan makanan untuk artemia, dibuat dalam bentuk
larutan karena artemia hanya dapat menelan makanan yang berukuran kecil yaitu
kurang dari 50 mikron dan artemia akan menelan makanannya secara langsung.
Kontrol dibuat dengan cara yang sama yaitu dengan membuat larutan yang sama
kecuali penambahan ekstrak. Hasil uji toksisitas ketiga ekstrak dan hasil analisa
dengan program Minitab 14 dengan tingkat kepercayaan 95% dapat dilihat pada
Lampiran 7.
Meyer (1982) dalam Farihah (2008) melaporkan bahwa suatu ekstrak
menunjukkan aktivitas ketoksikan dalam BST jika ekstrak dapat menyebabkan
kematian 50% hewan uji pada konsentrasi kurang dari 1000 ppm. Pernyataan di
atas menunjukkan ketiga ekstrak tanaman anting-anting bersifat toksik terhadap
Artemia karena memiliki nilai LC
50
< 1000 ppm.
konsentrasi etil asetat {ppm)
P
e
r
c
e
n
t
800 600 +00 200 0 -200 -+00 -600 -800
99
95
90
80
70
60
50
+0
30
20
10
5
1
Table of Statistics
Nean 21,6005
StDev 187,165
Nedian 21,6005
!QR 252,+82
Probability Plot for mortalitas
Probit Data - NL Estimates
Normal - 95 C!

Gambar 4.18 Kurva mortalitas larva udang Artemia salina Leach pada ekstrak etil
asetat



konsentrasi diklorometana {ppm)
P
e
r
c
e
n
t
+00 300 200 100 0 -100 -200 -300 -+00
99
95
90
80
70
60
50
+0
30
20
10
5
1
Table of Statistics
Nean 17,6+95
StDev 105,319
Nedian 17,6+95
!QR 1+2,073
Probability Plot for mortalitas
Probit Data - NL Estimates
Normal - 95 C!

Gambar 4.19 Kurva mortalitas larva udang Artemia salina Leach pada ekstrak
diklorometana

konsentrasi PE {ppm)
P
e
r
c
e
n
t
200 100 0 -100 -200
99
95
90
80
70
60
50
+0
30
20
10
5
1
Table of Statistics
Nean 11,85+7
StDev +7,3+78
Nedian 11,85+7
!QR 63,8712
Probability Plot for mortalitas
Probit Data - NL Estimates
Normal - 95 C!

Gambar 4.20 Kurva mortalitas larva udang Artemia salina Leach pada ekstrak
petroleum eter



Berdasarkan kurva mortalitas larva udang Artemia salina Leach ketiga
ekstrak etil asetat, diklorometana, dan petroleum eter, masing-masing diperoleh
nilai LC
50
sebesar 21,006 ppm 17,6495 ppm dan 11,8547 ppm yang dapat dilihat
dari nilai median pada masing-masing kurva di atas. Hasil LC
50
ketiga ekstrak
tersebut menunjukkan bahwa tingkat toksisitas senyawa dalam ekstrak petroleum
eter lebih besar daripada ekstrak diklorometana dan ekstrak etil asetat. Kandungan
senyawa yang berpotensi dalam ketiga ektrak tanaman ini dapat diketahui
berdasarkan hasil uji fitokimia.
Pada gambar di atas terlihat bahwa semakin besar nilai konsentrasi
masing-masing ekstrak maka mortalitas terhadap Artemia juga semakin besar.
Daerah di sebelah kanan kurva menunjukkan persentase kematian Artemia
sedangkan daerah di sebelah kiri kurva menunjukkan persentase Artemia yang
masih dapat bertahan hidup pada konsentrasi masing-masing ekstrak pelarut.
Kurva sebelah kanan menunjukkan kurva dari nilai lower, kurva tengah
menunjukkan kurva percetile dan sebelah kiri menunjukkan kurva upper dari data
pada lampiran. Persentase kemungkinan kematian Artemia yang ditimbulkan
berada pada kisaran konsentrasi di antara kurva lower dan upper. Adanya
penambahan konsentrasi pada masing-masing ekstrak menyebabkan kematian
Artemia, mengalami disorientasi gerak (gerakannya tidak teratur). Hal ini
membuktikan Artemia mati disebabkan oleh sifat toksik dari masing-masing
ekstrak anting-anting.
Meyer (1982) dalam Farihah (2008) melaporkan bahwa suatu ekstrak
menunjukkan aktivitas ketoksikan dalam BSLT jika ekstrak dapat menyebabkan
kematian 50% hewan uji pada konsentrasi kurang dari 1000 ppm. Pernyataan di
atas menunjukkan ketiga ekstrak tanaman anting-anting bersifat toksik terhadap
Artemia karena memiliki nilai LC
50
< 1000 ppm.
Hasil LC
50
ketiga ekstrak tersebut menunjukkan bahwa tingkat toksisitas
senyawa dalam ekstrak petroleum eter lebih besar daripada ekstrak diklorometana
dan ekstrak etil asetat. Hal tersebut berkaitan dengan kandungan senyawa aktif
yang terdapat dalam ketiga ektrak tanaman berdasarkan hasil uji fitokimia. Hasil
fitokimia menunjukkan pada ekstrak etil asetat, terdapat senyawa tannin, alkaloid
dan steroid, pada ekstrak diklorometana terdapat senyawa triterpenoid dan pada
ekstrak petroleum eter terdapat senyawa steroid.
Pada penelitian sebelumnya, Halimah (2010) menunjukkan tingkat
toksisitas ekstrak n-heksana, ekstrak etanol, ekstrak kloroform yaitu dengan nilai
LC
50
57,0933 ppm, 73,4575 ppm dan 149,374 ppm. Senyawa aktif yang terdapat
pada tiap-tiap fraksi antara lain fraksi polar (etanol) menunjukkan adanya
senyawa flavonoid dan triterpenoid, fraksi semi polar (kloroform) menunjukkan
adanya senyawa steroid, dan fraksi non polar (n-heksana) menunjukkan adanya
senyawa triterpenoid.
Pada penelitian ini nilai LC
50
ekstrak etil asetat, diklorometana dan
petroleum eter sebesar 21,006 ppm 17,6495 ppm dan 11,8547 ppm. Senyawa aktif
yang terdapat pada fraksi polar (etil asetat) adalah senyawa tanin, alkaloid dan
steroid, pada fraksi semi polar (diklorometana) adalah senyawa triterpenoid dan
pada fraksi non polar (petroleum eter) adalah senyawa steroid. Perbandingan
tersebut menunjukkan bahwa pada penelitian ini memiliki tingkat toksisitas yang
lebih tinggi daripada penelitian sebelumnya baik ditinjau dari tingkat
kepolarannnya maupun senyawa aktif yang dihasilkan pada tiap-tiap fraksi. Hal
ini disebabkan karena pelarut yang digunakan pada tiap-tiap kepolaran berbeda
akan menghasilkan jumlah senyawa dan daya aktivitas yang berbeda pula.
Golongan senyawa kimia yang terdapat dalam tanaman berkaitan dengan
aktivitas biologis suatu tanaman. Penelitian sebelumnya pada tanaman Acalipha
fruticosa dan Azadirachta indica menunjukkan adanya senyawa tanin, terpenoid,
flavonoid sebagai antimalaria. Arfianti (2007) menyatakan bahwa ekstrak buah
mahkota dewa mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan steroid dapat
digunakan sebagai antioksidan. Hal ini menunjukkan kandungan senyawa aktif
yang terdapat dalam tanaman anting-anting dari ketiga ekstrak dapat memperkuat
potensi bioaktivitas senyawa dalam tanaman ini yang selama ini telah dikenal
sebagai tanaman obat.

4.7 Pemanfaatan Hasil Penelitian Tanaman Obat dalam Perspektif Islam
Allah menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang indah, hijau dan banyak
memberi manfaat serta kenikmatan kepada manusia. Banyak ayat Al-Qur'an yang
mengajak manusia untuk berfikir dan menyelidiki tumbuh-tumbuhan agar
mendapat manfaat yang lebih banyak. Allah berfirman dalam surat an-Nahl ayat
11:
,.`, >l , _l _.,l _,>.l ..s _. _ , .:l | _ l: ,
,1l _`.,

Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun,
korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu benar-benar ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang
memikirkan (QS. An-Nahl: 11).

Ayat ini menyebutkan beberapa tanaman yang ditumbuhkan Allah dari
yang paling cepat layu, yang paling panjang usianya dan paling banyak
manfaatnya seperti zaitun, kurma dan anggur (Shihab, 2002: 195). Kaum yang
memikirkan akan tanda-tanda kekuasaan-Nya tentu akan dapat mengambil
pelajaran dan manfaat terhadap segala ciptaan-Nya. Sebagaimana memanfaatkan
tanaman Anting-anting sebagai tanaman obat.
Rasulullah telah memberikan petunjuk tentang cara mengobati diri beliau
sendiri, keluarganya dan para sahabat yaitu menggunakan jenis obat yang tidak
ada campuran kimia. Pengobatan Nabi menggunakan tiga jenis obat yaitu obat
alamiah, obat ilahiyah dan kombinasi obat alamiah dan ilahiyah. Pengobatannya
berdasarkan wahyu Allah tentang apa yang bermanfaat dan yang tidak berbahaya,
misalnya melakukan pengobatan dengan tumbuh-tumbuhan. Pemanfaatan
tanaman sebagai obat merupakan salah satu sarana untuk mengambil pelajaran
dan memikirkan tentang kekuasaan Allah dan meneladani cara pengobatan Nabi.
Tanaman anting-anting merupakan salah satu tanaman yang dapat
dimanfaatkan sebagai obat. Hal ini telah dibuktikan dengan hasil penelitian uji
fitokimia dan uji toksisitas ekstrak tanaman anting-anting (Acalypha indica L.)
terhadap larva udang Artemia salina Leach ini. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa ekstrak tanaman anting-anting mempunyai potensi bioaktivitas sebagai
tanaman obat dengan ditunjukkan oleh nilai LC
50
< 1000 ppm pada masing-masing
ekstrak etil asetat, diklorometana, dan petroleum eter. Potensi bioaktivitas yang
dimiliki tanaman anting-anting ini dapat digunakan sebagai acuan bahwa tanaman
ini berpotensi di bidang farmakologi sebagai tanaman obat, sebagaimana
Rasulullah telah menggunakan tanaman-tanaman herbal sebagai tanaman obat.
Penjelasan tersebut didukung oleh firman Allah dalam surat Asy-syuara ayat 7:
l , _|| _ !.. ,. !, _. _ _ , _
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bumi, berapakah banyaknya Kami
tumbuhkan di bumi itu berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang baik"(QS.Asy-
Syuara:7)

Kata ila pada awal ayat ini merupakan kata yang mengandung makna
batas akhir. Ia berfungsi memperluas arah pandangan hingga batas akhir, dengan
demikian ayat ini mengundang manusia untuk mengarahkan pandangannya
hingga batas kemampuannya, dengan aneka tanah dan tumbuhannya dan aneka
keajaiban yang terhampar pada tumbuh-tumbuhan.
Kata zauj berarti pasangan. Pasangan yang dimaksud ayat ini adalah
pasngan tumbuh-tumbuhan, karena tumbuhan muncul di celah-celah tanah yang
terhampar di bumi, dengan demikian ayat ini mengisyaratkan bahwa tumbun-
tumbuhan memiliki pasangan (benang sari dan putik) guna pertumbuhan dan
perkembangannya. Kata karim antara lain digunakan untuk menggambarkan
segala sesuatu yang baik bagi setiap objek yang disifatinya. Tumbuhan yang baik,
adalah yang subur dan bermanfaat (Shihab, 2002: 12). Berdasarkan firman Allah
tersebut, jelas bahwa Allah menciptakan bumi yang di dalamnya banyak terdapat
tumbuhan yang baik, yang dapat dimanfaatkan oleh makhluk hidup, diantara
tumbuhan tersebut salah satunya adalah tanaman anting-anting.
Pemanfaatan tanaman anting-anting sebagai obat merupakan suatu upaya
untuk mengikuti sunah Nabi. Kita dianjurkan untuk mengamalkan pengobatan,
sesuai sabda Rasulullah SAW: Dari Usamah bin Syarik berkata, "Bahwa saya
pernah berada di sisi Rasulullah, lalu datang sekelompok Arab badui. Mereka
berkata, "Wahai Rasulullah, apakah kami bisa berobat?"Nabi menjawab, Wahai
para hamba Allah carilah obat karena sesungguhnya Allah tidak menciptakan
suatu penyakit tanpa menciptakan obatnya, selain satu penyakit saja."Mereka
bartanya: Penyakit apakah itu? jawab Beliau: Penyakit usia tua." (HR.
Ahmad) (Muhammad, 2007: 14).
Rasulullah telah bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak menurunkan satu
penyakit, kecuali Dia menurunkan obat penyembuhnya; obat penyakit diketahui
bagi yang mengetahuinya dan tidak diketahui bagi orang jahil." (Muhammad,
2007: 14). Hadits-hadits tersebut berlaku umum untuk semua jenis penyakit. Nabi
Muhammad saw memposisikan kedudukan antara obat dan penyakit yang saling
berlawanan. Jadi setiap penyakit memiliki lawan yaitu obat. Sehingga berdasarkan
hadits tersebut maka untuk mendapatkan obat dari suatu penyakit maka kita harus
berusaha dan berpikir dari apa yang telah diwahyukan Allah sebagai petunjuk
bagi kehidupan.
Kekuasaan Allah dalam tumbuh-tumbuhan terlihat pada modifikasi
tumbuh-tumbuhan sesuai dengan berbagai kondisi lingkungan. Semua tumbuhan
memiliki susunan dan bentuk luar yang berbeda dengan tumbuhan lain. Setiap
tanaman yang ditumbuhkan oleh Allah tentunya memiliki kegunaan yang
berbeda-beda. Tanaman padi dapat digunakan sebagai sumber makanan pokok
dan begitu juga tanaman yang bisa dimanfaatkan sebagai tanaman obat, seperti
penggunaan tanaman anting-anting (Acalypha indica L.).
Ayat-ayat al-Qur'an diperuntukkan bagi manusia secara total baik lafazh,
makna, petunjuk dan informasinya. Allah menyuruh kita untuk terus-menerus
mempelajarinya, menelaah keterangan dan tujuan dalam firman-Nya, sehingga
kita bisa mendapatkan kejelasan ilmu pengetahuan darinya dan kita mendapat
petunjuk untuk menentukan langkah-langkah penelitian dan tujuannya.
Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Hijr ayat 19:
_ !. .: .. !.,1l !, _. !..,. !, _. _ ,`_: `. _
Dan kami Telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-
gunung dan kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran (QS. Al-
hijr :19).

Allah telah menciptakan bumi dan menjaga keseimbangannya dengan
gunung-gunung yang kokoh ditempatnya. Juga mengirimkan air hujan ke tanah.
Maka, terbukalah kehidupan tanah dengan tanaman yang seimbang secara teliti
dan tepat. Ilmu pengetahuan modern menetapkan bahwa setiap tumbuh-tumbuhan
telah terukur unsur-unsurnya dalam kadar tertentu. Suatu unsur selalu berbeda
antara satu tanaman dengan tanaman lainnya dengan cara penyerapan nutrisi dari
akar yang terhujam ditanah kemudian dibawa ke batang, dahan, daun dan bunga.
Alquran mengemukakan beberapa ayat seputar penciptaan dan simbol-
simbol kebesaran Allah Swt di muka bumi. Mengawali dengan bumi Alquran
mengatakan : Dan kami telah menghamparkan bumi . Istilah bahasa Arab,
madd, asalnya berarti perluasan dan penyebaran. Yang paling memungkinkan
adalah bahwa ia merujuk pada bagian-bagian bumi yang muncul dari dalam air.
dan menjadikan padanya gunung-gunung yang kokoh, kata rawasi yang berarti
tetap, tak bergerak , atau menunjang, yang menunjukkan bahwa bukan hanya
bersifat tetap, gunung-gunung juga berfungsi sebagai pilar penyangga kerak bumi
agar tetap kokoh sekaligus menunjang kelestarian hidup manusia. Kemudian
menunjukkan faktor yang paling penting dalam kehidupan manusia serta semua
makhluk hidup lain, seperti tanaman-tanaman, ayat suci diatas mengatakan : dan
kami tumbuhkan di dalamnya segala sesuatu menurutukuran.
Alangkah indah dan jelasnya penafsiran terhadap kata Arab, mauzun yang
berasal dari kata wazn (bobot). Kata ini merujuk pada kuantitas segala sesuatu.
Dikatakan dalam Mufrodat karya Imam Raghib, Bobot adalah pengetahuan
mengenai kuantitas sesuatu. Kata dalam ayat ini menunjukkan pada
pemeliharaan secara eksak atas perhitungan dan ukuran-ukuran yang
menakjubkan, yang terdapat pada semua bagian tumbuh-tumbuhan, seperti
batang, cabang, daun, lapisan-lapisan, biji serta buah, yang masing-masingnya
mempunyai partikel tertentu (Imani, 2005: 333-334).
Penjelasan tentang segala sesuatu akan baik jika sesuai dengan kadarnya
didukung dengan hadits nabi Muhammad saw (Farooqi, 2005: 173) Setiap
penyakit ada obatnya. Ketika obat yang diberikan tepat, penyakit itu
tersembuhkan dengan izin Allah yang Maha Kuasa(HR.Muslim).




















BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1. Golongan senyawa yang terdapat dalam ekstrak tanaman anting-anting
(Acalypha indica L.) berdasarkan uji fitokimia dengan reagen menunjukkan
adanya golongan senyawa tanin, alkaloid, dan steroid (dalam ekstrak etil
asetat), triterpenoid (dalam ekstrak diklorometana) dan steroid (dalam ekstrak
petroleum eter) dan pemisahan menggunakan KLT pada ekstrak etil asetat
dengan eluen butanol: asam asetat: air (14:1:5) terdapat 2 senyawa tanin,
eluen asam asetat glasial: air: HCl pekat (30:10:3) terdapat 2 senyawa tanin,
eluen kloroform: metanol (9:1) terdapat 1 senyawa alkaloid, eluen kloroform:
metanol (9,5:0,5) terdapat 2 senyawa alkaloid, eluen n-heksana:etil asetat
(7:3) terdapat 6 senyawa steroid, eluen sikloheksana: etil asetat (1:1) terdapat
7 senyawa steroid, pada ekstrak diklorometana eluen benzene: kloroform
(3:7) terdapat 4 senyawa triterpenoid, eluen n-heksana: etil asetat (1:1)
trrdapat 7 senyawa triterpenoid, pada ekstrak petroleum eter eluen n-heksana:
etil asetat (7:3) terdapat 2 senyawa steroid, dan eluen sikloheksana: etil asetat
(1:1) terdapat 3 senyawa steroid.
2. Masing-masing ekstrak tanaman anting-anting (Acalypha indica L.) memiliki
tingkat toksisitas terhadap larva udang Artemia salina Leach, ditunjukkan
dengan nilai LC
50
< 1000 ppm. Tingkat toksisitas ekstrak petroleum eter lebih
besar daripada ekstrak diklorometana dan etil asetat yaitu dengan nilai LC
50

sebesar 11,8547 ppm untuk ekstrak petroleum eter,17,6495 ppm untuk
ekstrak diklorometana dan 21,006 ppm untuk ekstrak etil asetat.


5.2 Saran
1. Hasil uji pendahuluan dengan metode BSLT (Brine Shrimp Lethality Test)
menunjukkan dalam ketiga variasi ekstrak pelarut tanaman anting-anting
memiliki potensi bioaktivitas, sehingga perlu dilakukan pengujian
bioaktivitas lebih lanjut terhadap tanaman ini.
2. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengisolasi dan identifikasi
masing-masing senyawa yang terdapat dalam tanaman anting-anting.















DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Artemia salina-Brine Shrimp-Sea Monkeys, Urzeitkrebse-Sea
Monkey. Artemia Reference Center/Ghent University-Faculty of
Bioscience Engineering US Geological Survey.
http://www.aquaculture.ugent.be/coursmat/artbiol/arc.htm. Diakses
tanggal 28 November 2009.

Anonim. 2009. Dielectric Constant. http:// www. clippercontrols. com/info/
dielectric_constants. html. Diakses Tanggal 28 November 2009.

Anonim. 2007. Dimethyl Sulfoxide Health and Safety Information.
http://www.gaylordchemical.com/products/dmso.htm. Diakses Tanggal
08 Januari 2010.

Anonim. 2010. Dimethyl Sulfoxide. http:// en. wikipedia. org/wiki/ Dimethyl_
sulfoxide. Diakses Tanggal 08 Januari 2010.

Anonim. 2009. Petroleum Ether. http:// www. jtbaker. com/msds/ englishhtml/
P1696.htm. Diakses Tanggal 28 November 2009.

Arfianti, N. 2008. Aktivitas Insulinotropik Ekstrak Etanol Buah Mahkota Dewa
Secara In Vitro. Bogor: Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan
Alam Institut Pertanian Bogor
Aripin, S. 2007. Identifikasi Senyawa Flavonoid dari Bunga Angsret (Spathoda
campanulata Beauv) dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antioksidan. Skripsi
Tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia FMIPA Universitas
Brawijaya.

Arisandi, Y. dkk. 2008. Khasiat Tanaman Obat. Jakarta: Pustaka Buku Murah.

Azmahani, dkk. 2002. In Vitro Anti Bakterial and Anti Fungal Properties of
Acalypha Indica (Kucing Galak). Proceedings of The Regional
Symposium on Environment and Natural Resources. Department of
Biomedical Sciences, Faculty Medicine and Health Sciences, University
Putra Malaysia, 43400 UPM Serdang, Selangor Darul Ehsan. Malaysia.

Baraja, M. 2008. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus elastica Nois ex Blume
terhadap Artemia salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis.
Skripsi Diterbitkan. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah Surakarta

Barazing, H. 2007, Pengobatan Aman Cara Nabi: Herba Sebagai Pengobatan
Modern Alternatif, Tinjauan Medis Dan Syariat Islam. http:// hohanb.
webs.com/. Diakses tanggal 09 Juli 2010.

Bawa, I, G, A, G. 2009. Isolasi dan Identifikasi Golongan Senyawa Toksik dari
Daging Buah Pare (momordica charantia l.). Jurnal Kimia. Bukit
Jimbaran: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana.

Burdick and Jackson, 2010. Dielectric Constants. http:// macro. lsu. edu /howto/
solvents. Dielectric Constant.htm. Diakses Tanggal 08 Januari 2010.

Deny. 2007. Pemanfaatan Tannin Sebagai Perekat. Jurnal Penelitian. Fakultas
Teknologi Pertanian Bogor.

Farihah. 2006. Uji Toksisitas Ekstrak Daun Ficus benjamina L terhadap Artemia
salina Leach dan Profil Kromatografi Lapis Tipis. Skripsi Diterbitkan.
Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Farooqi, M. I. H. 2005. Terapi Herbal Cara Islam; Manfaat Tumbuhan Menurut
Al-Qur'an dan Sunah Nabi. Diterjemahkan oleh Ahmad Y. Samantho,
Jakarta: Penerbit Hikmah (PT Mizan Publika).

Febriany, S. 2004. Pengaruh Beberapa Ekstrak Tunggal Bangle dan Gabungannya
yang Berpotensi Meningkatkan Aktivitas Enzim Lipase Secara In Vitro.
Tesis tidak diterbitkan. Bogor: Jurusan Kimia IPB.

Govindarajan, M., Jabanesan, A., Reetha, D., Amsath, R., Pushpanathan, T., dan
Samidurai, K. 2008. Antibacterial Activity of Acalypha indica L.
European Review for Medical and Pharmacological Sciences.

Gritter, R.J. 1991. Pengantar Kromatografi. edisi kedua. Diterjemahkan oleh
Kokasih Padmawinata. Bandung: Penerbit ITB.

Guether, E. 1987. Minyak Atsiri. Jilid I. Diterjemahkan oleh Ketaren S. Jakarta:
Universitas Jakarta.

Halimah, N. 2010. Uji Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Tanaman Anting-
Anting (Acalypha indica Linn) Terhadap Larva Udang (Artemia salina
Leach). Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Handayani D., N. Sayuti dan Dachriyanus. 2008. Isolasi dan Karakterisasi
Senyawa Antibakteri Epidioksi Sterol dari Spon Laut Petrosia nigrans,
Asal Sumatera Barat. Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi-
II 2008. Lampung: Universitas Lampung.
Harborne J.B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan. Diterjemahkan oleh Kosasih Padmawinata dan Iwang
Soediro. Bandung: Penerbit ITB.

Hayati, E.K. 2009. Senyawa Potensi Antimalaria Tanaman Anting-Anting
(Acalypha indica Linn): Ekstraksi Pemisahan dan Bioaktivitasnya Secara
in Vivo. Jurnal Penelitian. Malang: Universitas Islam Negeri Maulana
Malik Ibrahim.

Hidayat, M. B. C. 2004. Identifikasi Senyawa Flavonoid Hasil Isolasi dari
Propolis Lebah Madu Apis mellifera dan Uji Aktivitasnya sebagai
Antijamur Candida albinans. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan
Kimia FMIPA Universitas Brawijaya.

Indrayani, L. dkk. 2006. Skrinning Fitokimia dan Uji Toksisitas Ekstrak Daun
Pecut Kuda (Stachytarpheta jamaicensis L. Vahl) Terhadap Larva Udang
Artemia salina Leach. Jurnal. Fakultas Sains dan Matematika. Salatiga:
Universitas Kristen Satya Wacana.

Imani, A.K.Q. 2005. Tafsir Nurul Quran Sebuah Tafsir Sederhana Menuju
Cahaya Al-Qur'an, vol. 8. Penerjemah Salman Nano, Jakarta : Penerbit
Al-Huda,

Kartesz, J. 2000. Acalypha indica. The PLANTS Database, database (version
5.1.1), National Plant Data Center, NRCS, USDA. Baton Rouge, LA
70874-4490 USA. http://plants.usda.gov. Diakses tanggal 08 Januari
2010

Kimball, J. W. 1983. Biologi Umum Jilid 1. Jakarta: Erlangga.

Kristianingsih. 2005. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Triterpenoid dari Akar
Tanaman Kedondong Laut (Polyscias fruticosa). Skripsi Tidak
Diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia FMIPA Universitas Brawijaya.
Kusnaeni, V. 2008. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Fraksi n-Heksana dari
ekstrak kulit batang Angsret (Spathoda campanulata Beauv). Skripsi
Tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas
Brawijaya.

Kussuryani, Y. 2010. Isolasi dan Penentuan Struktur Molekul Senyawa Kimia
dalam Akar tanaman Acalypha indica Serta Uji Aktivitas Biologinya.
Abstrak Tesis Jurusan Kimia. Jakarta: Universitas Indonesia.

Lemmens, R. H. M. J. and Soetjipto, W. 1991. Dye and Tannin- Production
Plants. Netherlands: Pudos Wagengen.

Lenny, S. 2006. Uji Bioaktifitas Kandungan Kimia Utama Puding Merah dengan
Metode Brine Shirmp. Jurnal. Medan: USU.

Lisdawati, V. 2002. Berdasar Uji Penapsisan Farmakologi pada Buah Mahkota
Dewa. Jurnal. Fakultas Kedokteran. Yogyakarta: Universitas Gajah
Mada.

Lutfillah, M. 2008. Karakterisasi Senyawa Alkaloid Hasil Isolasi dari Kulit
Batang Angsret (Spathoda campanulata Beauv) Serta Uji Aktivitasnya
Sebagai Antibakteri Secara In Vitro. Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang:
Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas Brawijaya.

Mbwanbo, Z.H., Moshi, M.J., Kapingu, M.C. dan Nondo, R.S.O. 2007.
Antimicrobial Activity and Brine Srimph Toxicity of Extracts of
Terminalia Brownii Roots and Stem. Tanzania: Institute of Traditional
Medicine, Muhimbili University College of Health Sciences.

Meyer, B. N., N. R. Fergini, J. E. Putnam, L. B. Jacobsen, D. E. Nicholas dan J. L.
Mc Laughin. 1982. Brine Shrimp; a Convient General Bioassay for
Active Plant Constituents. Plant Medica.

Minarti, dkk. 2010. Penapisan Kimia Senyawa Alkaloid dalam Ekstrak Daun
Johar (Cassia Siamea Lamk.). Prosiding Seminar Tantangan Penelitian
Kimia.

Muhammad, M. H. M. 2007. Mujizat Kedokteran Nabi. Jakarta: Qultum Media.

Muslimah, S. 2008. Uji Sitotoksik Fraksi Protein daun dan bunga kucing-
kucingan (Acalypha Indica L.) Terhadap sel Myeloma. Skripsi
Diterbitkan. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhamadiyah
Surakarta.

Mustikaningtyas, D., Fachriyah, E., dan Mulyani, N.S. 2006. Isolasi, Identifikasi,
dan Uji Aktifitas Antibakteri Ekstrak Etil Asetat Rimpang Lengkuas
Merah (Alpinia galanga). http: // www. adln. lib. unair.ac.id
/go.php2006. Diakses tanggal 09 Maret 2010.

Octavia, D,R. 2009. Uji Aktivitas Penangkap Radikal Ekstrak Petroleum Eter, Etil
Asetat dan Etanol Daun Binahong (Anredera Corfolia (Tenore) Steen)
dengan metode DPPH (2,2-difenil-1- pikrihidrasil.). Skripsi Diterbitkan.
Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhamadiyah

Pasya, A. F. 2004. Dimensi Sains al-Qur'an Menggali Ilmu Pengetahuan dari al-
Qur'an. Solo: Tiga Serangkai.

Pissuthanan, S., et al. 2004. Brine Shrimp lethality Activity of Thai Medicinal
Plants in the family Meliaceae. Naresuan University Journal;12(2): 13-
18.

Poedjiadi, A. dan F. M. T. Supriyanti. 1994. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta: UI
Press.

Praptiwi, Harapini, M., dan Chairul. 2007. Uji Aktivitas Antimalaria Secara In-
Vivo Ekstrak Ki Pahit (Picrasma javanica) Pada Mencit Yang Diinfeksi
Plasmodium berghei. Jurnal. Bogor: Bidang Botani, Puslit Biologi,
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 16911
Purwaningsih, Y. 2003. Isolasi dan Identivikasi senyawa flavonoid dari Biji
Kacang Tunggak (Vigna unguiculata L. Walp). Skripsi Tidak
Diterbitkan Malang: Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Universitas
Brawijaya.

Purwatiningsih, S. 2003. Studi Aktivitas dan Kandungan Kimia Tanaman fagraea
Racemosa Jack ex wall. Abstrak Penelitian. Surabaya: Universitas
Airlangga.

Puspita, M, D, A. 2009. Pengoptimuman Fase Gerak KLT Menggunakan Desain
Campuran untuk Pemisahan Komponen Ekstrak Meniran (Phylantus
ninuri). Skripsi Diterbitkan. Bogor: Departemen Kimia Fakultas MIPA.
IPB.

Rita, W, S. 2010. Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antibakteri Senyawa
Golongan Triterpenoid pada Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoaria
(Berg.) Roscoe. Jurnal Kimia FMIPA. Bukit Jimbaran: Universitas
Udayana.

Robinson, T. 1995. Kandungan Senyawa Organik Tumbuhan Tinggi.
Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Kosasih Padmawinata. Bandung: ITB.

Runadi, D. 2007. Isolasi dan Identifikasi Alkaloid dari Herba komfrey
(symphytum officinale l.). Karya Ilmiah. Jatinangor : Universitas
Padjadjaran Fakultas Farmasi.

Saadah, L. 2010. Isolasi dan Identifikasi Senyawa Tanin dari Daun Belimbing
Wuluh (Averrhoa bilimbi L.). Skripsi. Malang: Jurusan Kimia
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.

Syamsudin., Tjokrosonto, S., Wahyuono, S dan Mustofa. 2007. Aktivitas
Antiplasmodium dari dua Fraksi Ekstrak n- Heksana Kulit Batang Asam
Kandis (Garcinia parvifolia Miq). Majalah Farmasi. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.

Sastrohamidjojo, H. 2007. Kromatografi. Yogyakarta: UGM Press.
Sax, N.I.and Lewis, R.J. 1987. Hawleys Condensed Chemical Dictionary. New
York: Van Nostrand Reinhold Company.

Setiawati, E. 2001. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa- Seyawa terpeniod dalam
minyak Atsiri Rimpang Temu Putih (Curcuma Zedonica (Berg.) Roscoe.
Skripsi Tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia. Fakultas MIPA.
Universitas Brawijaya.

Shihab, Q. 2002. Tafsir Al-Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur'an
Vol.7,8 dan 10. Jakarta: Penerbit Lentera Hati.

Soemiati, A., Kosela, S., Hanafi, M., dan Harrison, L.J. 2010. Senyawa
Triterpenoid dan Asam 3-hidroksi-isonikotinat dari Ekstrak
Diklorometana Akar Garcinia picrorrhiza MIQ. Jurnal Jakarta: Jurusan
Farmasi Universitas Indonesia.

Sudarmadji, S., B. Haryono dan Suhardi. 2007. Prosedur Analisa Bahan Makanan
dan Pertanian. Yogyakarta: Liberty.

Sumaryanto, A. 2009. Isolasi Karakterisasi Senyawa Alkaloid Dari Kulit Batang
Tanaman Angsret (Spathoda campanulata Beauv) Serta Uji Aktivitas
Biologisnya Dengan Metode Uji Brine Shrimp. Skripsi Tidak
Diterbitkan. Jurusan Kimia. Fakultas MIPA. Malang: Universitas
Brawijaya.

Vogel. 1978. Text Book Of Practical Organic Chemistry, 4
th
Edition. London:
Longman Group Limited.

Wagner, H and Bladt, S. 2001. Plant Drugs Analysis A Thin Layer
Chromatography Atlas second edition. New York: Springer Verlag
Berlin Heidenberg

Wei-Feng, D., L. Zhong-Wen and S. Han-Dong. 1994. A New Compound from
Acalypha australis, Laboratory of Phytochemistry. Kunming Institute of
Botany. Kunming 650204: Chiese Academy of Sciences.

Widodo, N. 2007. Isolasi dan Karakterisasi Senyawa Alkaloid yang Terkandung
dalam Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus). Skripsi diterbitkan
Universitas Negeri Semarang: Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam.

Winarno, F. G. 2002. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.

Widyasari, A, R. 2008. Karakterisasi dan Uji Antibakteri Senyawa Kimia Fraksi
n-Heksana dari Kulit Batang Pohon Angsret (Spathoda campanulata
Beauv). Skripsi tidak Diterbitkan. Malang: Jurusan Kimia Fakultas MIPA
Universitas Brawijaya.

Wulandari, D.N., Soetjipto, H., Hastuti, S.P. 2006. Skrining Fitokimia dan Efek
Larvasida Ekstrak Biji Kecubung Wulung (Datura Metel L.) Terhadap
Larva Instar III dan IV. Abstrak Skripsi. Salatiga: Jurusan Kimia.
Fakultas Sains dan Matematika.Universitas Kristen Satya Kencana













Lampiran 2. Skema Kerja

L. 2. 1 Preparasi Sampel







L. 2. 2 Analisis Kadar Air





















Sampel
- dlambll seluruh baglan Lanaman
- dlcucl seluruh baglan Lanaman
- dlkerlngkan dengan oven dengan suhu 30-37
o
C
- dlhaluskan sampal LerbenLuk serbuk
Pasll
Sampel
- dlpoLong men[adl ukurannya kecll-kecll
- dlmasukkan ke dalam cawan yang Lelah dlkeLahul beraL konsLannya
- dlLlmbang seklLar 3 g
- dlkerlngkan dl dalam oven pada suhu 100-103 C selama seklLar 1 [am
- dldlnglnkan dalam deslkaLor
- dlLlmbang
- dlpanaskan kemball dalam oven 30 menlL
- dldlnglnkan dalam deslkaLor dan dlLlmbang kemball
- dlulangl perlakuan lnl sampal Lercapal beraL konsLan
- dlhlLung kadar alrnya menggunakan rumus berlkuL:
kadar alr = % 100
) (
) (

a b
c b

keLerangan: a = beraL konsLan cawan kosong
b = beraL cawan + sampel sebelum dlkerlngkan
c = beraL konsLan cawan + sampel seLelah dlkerlngkan
lakLor koreksl =
air kadar % 100
100


Pasll
L. 2. 3 Ekstraksi Komponen Aktif












































Sampel
- dlLlmbang 30 g
- dlrendam dengan 130 mL pelaruL eLll aseLaL
selama 24 [am dengan 3 [am pengocokan
menggunakan sboket
- dlbllas dengan 130 mL pelaruL yang sama
sampal Lldak ada yang LereksLrak (berwarna
pucaL)
- dlsarlng

LksLrak eLll aseLaL
Ampas
- dlkerlngkan
- dlrendam dengan 130 mL pelaruL
dlkloromeLana selama 24 [am dengan 3 [am
pengocokan menggunakan sboket
- dlbllas dengan pelaruL yang sama sampal
Lldak ada yang LereksLrak
- dlsarlng

Ampas LksLrak dlkloromeLana
- dlkerlngkan
- dlrendam dengan 130 mL pelaruL peLroleum
eLer selama 24 [am dengan 3 [am
pengocokan menggunakan sboket
- dlbllas dengan pelaruL yang sama sampal
Lldak ada yang LereksLrak
- dlsarlng

Ampas
LksLrak peLroleum eLer
- dlroLary evaporaLor
elaruL LksLrak pekaL maslng-maslng fraksl
L. 2. 4 Uji Fitokimia dengan Uji Reagen
Uji fitokimia kandungan senyawa aktif dengan uji reagen dari ekstrak
pekat etil asetat, diklorometana, dan petroleum eter dari tanaman anting-anting
dilakukan untuk uji alkaloid, flavonoid, tanin, saponin, dan triterpenoid/steroid.
L. 2. 4. 1 Uji Alkaloid
















L. 2. 4. 2 Uji Flavonoid








L. 2. 4. 3 Uji Tanin
L. 2. 4. 3. 1 Uji dengan FeCl
3
1 %









eksLrak sampel
- dlmasukkan dalam Labung reaksl
- dlLambahkan 0,3 mL PCl 2
- dlbagl laruLannya dalam dua Labung
Lndapan [lngga
LaruLan pada Labung l LaruLan pada Labung ll
- dlLambahkan 2-3 LeLes
reagen uragendorff
- dlLambahkan 2-3 LeLes reagen
Mayer
Lndapan kekunlng- kunlngan
- dlmasukkan dalam Labung reaksl
- dllaruLkan 1-2 mL meLanol panas 30
- dlLambah logam Mg dan 4-3 LeLes PCl pekaL
eksLrak sampel
Merah/[lngga
- dlmasukkan dalam Labung reaksl
- dlLambahkan 2-3 LeLes laruLan leCl
3
1

Pl[au kehlLaman/ blru LlnLa
eksLrak sampel
L. 2. 4. 3. 2 Uji dengan gelatin




L. 2. 4. 4 Uji Saponin










L. 2. 4. 5 Uji Triterpenoid/Steroid









L. 2. 5 Uji Fitokimia dengan KLT












- dlmasukkan dalam Labung reaksl
- dlLambah alr 10 ml alr sambll dlkocok selama 1 menlL
- apablla menlmbulkan busa dlLambahkan 2 LeLes PCl 1 n dlblarkan selama 10
menlL
8usa yang LerbenLuk LeLap sLabll
eksLrak sampel
- dlmasukkan dalam Labung reaksl
- dlLambahkan reagen Lleberman-burchard
- dlamaLl perubahan warnanya
clncln kecoklaLan/vloleL (LrlLerpenold) aLau warna hl[au keblruan (sLerold)
eksLrak sampel
- dlLoLolkan pada [arak 1 cm darl Lepl bawah plaL dengan plpa kapller plaL slllka
gel l
234
1x10 cm
2

- dlkerlngkan dan dlelusl dengan maslng-maslng fase gerak golongan senyawa
pada Label L. 2. 1
- dlperlksa noda pada permukaan plaL dl bawah slnar uv pada pan[ang
gelombang 234 nm dan 366 nm.
- dlamaLl maslng-maslng hasll nodanya dengan maslng-maslng reagen pada
Label L. 2. 1

LksLrak sampel
Pasll
LksLrak sampel
- dlLambah laruLan gelaLln
Lndapan puLlh
Tabel L. 2. 1 Jenis-jenis fasa gerak dan pendeteksi untuk metabolit sekunder
pada uji KLT
Golongan
Senyawa
Fasa Gerak Pendeteksi Hasil
Warna Noda
Alkaloid 1. metanol-kloroform
(0,5:9,5)
2. kloroform- metanol
(9:1)

pereaksi
Dragendorff

coklat jingga
Flavonoid 1. kloroform-metanol
(8:2)
2. butanol-asam asetat-
air (4:1:5)
diuapi uap
amonia
biru kehijauan
Tanin 1. butanol-asam asetat-
air (14:1:5)
2. asam asetat glasial-
air- HCl pekat
(30:10:3)
FeCl
3
1 % ungu lembayung
Saponin 1. kloroform-metanol-
air (14:6:1)
2. kloroform-metanol-
air (20: 60: 10)
H
2
SO
4
0,1
M
ungu-ungu gelap
Triterpenoid 1. benzene-kloroform
(3:7)
2. heksana-etil asetat
(1:1)
pereaksi
Lieberman-
Burchard
merah ungu (violet)
Steroid 1. sikloheksana:etil
asetat (1:1)
2. n-heksana:etil asetat
(7:3)
pereaksi
Lieberman-
Burchard
hijau kebiruan



L. 2. 6 Uji Toksisitas dengan Larva Udang Artemia salina Leach
L. 2. 6. 1 Penetasan Telur







Larva udang dalam alr lauL
- dlLempaLkan pada boLol peneLasan
- dlmasukkan 2,3 mg Lelur Attemlo solloo Leach
- dlaerasl selama 48 [am

Alr lauL 230 ml
L. 2. 6. 2 Uji Toksisitas



























100 mg eksLrak kenLal eLll aseLaL, dlkloromeLana, dan peLroleum eLer
- dllaruLkan dengan menggunakan 10 mL pelaruLnya maslng-maslng
- dlperoleh dlplpeL maslng-maslng laruLan sebanyak 0 L, 3 L, 23 L, 30 L
100 L,130 L, 200 L dan 230 L sehlngga LerbenLuk laruLan eksLrak
dengan konsenLrasl 0 ppm (laruLan konLrol), 3 ppm, 23 ppm, 30 ppm, 100
ppm, 130 ppm, 200 ppm, dan 230 ppm.
- dlmasukkan ke dalam boLol vlal
- dluapkan pelaruLnya sampal kerlng
- dlmasukkan 100 L dlmeLll sulfokslda, seLeLes laruLan ragl roLl, dan 2 mL
alr lauL
- dlkocok hlngga eksLraknya laruL
- dlmasukkan 10 ekor larva udang
- dlLambahkan alr lauL sampal volumenya men[adl 10 mL
- dlamaLl kemaLlan larva udang seLelah 24 [am
- erlakuan dllakukan pengulangan maslng-maslng sampel sebanyak 3 kall
- dlanallsls daLanya unLuk mencarl LC
30


Pasll
Lampiran 3. Pembuatan Reagen dan Larutan
L. 3. 1 Pembuatan HCl 2 %
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

37 % x V
1
= 2 % x 10 mL

V
1
= 0,5 mL
Jadi, untuk membuat larutan HCl 2 % diambil sebanyak 0,5 mL larutan HCl
pekat 37 %, dilarutkan dalam labu ukur 10 mL.
L. 3. 2 Pembuatan Reagen Dragendorff
I. 0,6 g bismutsubnitrat dalam 2 mL HCl pekat dan 10 mL H
2
O.
II. 6 g KI dalam 10 mL H
2
O.
Kedua larutan tersebut dicampur dengan 7 mL HCl pekat dan 15 mL H
2
O
(Harborne, 1987).
L. 3. 3 Pembuatan Reagen Mayer
A. HgCl
2
1,358 g
Akuades 60 mL
B. KI 5 g
Akuades 10 mL
Cara membuatnya adalah tuangkan larutan A ke dalam larutan B, encerkan
dengan akuades sampai volume larutan menjadi 100 mL.




L. 3. 4 Pembuatan metanol 50%
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

90 % x V
1
= 50 % x 10 mL

V
1
= 5,6 mL
Jadi, untuk membuat larutan metanol 50 % diambil sebanyak 5,6 mL larutan
metanol 90 %, dilarutkan dalam labu ukur 10 mL.
L. 3. 5 Pembuatan FeCl
3
1%
BM FeCl
3
= 162,2 g/mol
Massa FeCl
3
=
4 , 22
V % 1
3
FeCl BM

=
4 , 22
L 0,01 / 2 , 162 % 1 mol g

= 0,072 g = 72 mg
Jadi, untuk membuat larutan FeCl
3
1% diambil sebanyak 72 mg serbuk FeCl
3
,
dilarutkan dalam labu ukur 10 mL.
L. 3. 6 Pembuatan Larutan Gelatin
Cara pembuatannya adalah 2,5 g serbuk gelatin dicampur dengan 50 mL
larutan garam NaCl jenuh, kemudian dipanaskan sampai gelatin larut
seluruhnya. Setelah dingin, ditambah larutan garam NaCl jenuh dalam labu
ukur 100 mL sampai tanda batas dan dikocok hingga homogen.




L. 3. 7 Pembuatan larutan HCl 1 N
BJ HCl pekat = 1,19 g/mL = 1190 g/L
Konsentrasi = 37 %
BM HCl = 36, 42 g/mol
n = 1 (jumlah atom H)
Normalitas HCl = n x Molaritas HCl
= 1 x
pekat HCl BM
HCl BJ % 37

=
mol g
L g
/ 42 , 36
/ 1190 % 37

= 12,09 M12,09 N
N
1
x V
1
= N
2
x V
2

12,09 N x V
1
= 1 N x 100 mL
V
1
= 8,27 mL = 8,3 mL
Jadi, untuk membuat larutan HCl 1 N diambil sebanyak 8,3 mL larutan HCl
pekat 37 %, dilarutkan dalam labu ukur 100 mL.
L. 3. 8 Pembuatan reagen Lieberman-Burchard
5mL asam asetat anhidrat dan 5 mL asam sulfat konsentrate ditambahkan
secara hati-hati melalui dindingnya ke dalam 50 mL etanol absolute dalam
keadaan dingin (Wagner, 2001).
L. 3. 9 Pembuatan NH
3
10%
M
1
x V
1
= M
2
x V
2

50 % x V
1
= 10 % x 10 mL

V
1
= 2 mL
Jadi, untuk membuat larutan NH
3
10% diambil sebanyak 2 mL larutan NH
3

50%, dilarutkan dalam labu ukur 10 mL.

L. 3. 10 Perhitungan Konsentrasi Larutan Ekstrak Untuk Uji Toksisitas
a. Pembuatan larutan stok 10000 ppm ekstrak tanaman anting-anting
ppm = mg/L
mg = ppm. L (jika dibuat larutan stok 1 mL = 10
-3
L)
= 10000 ppm . 10
-3
L = 10 mg
Jadi, larutan stok 10000 ppm pada masing-masing ekstrak dibuat dengan
dilarutkan 10 mg sampel ke dalam 1 mL masing-masing pelarutnya.
b. Pembuatan larutan ekstrak 5 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.5 ppm
V
1
= 0,05 L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 0,05. 10
-4
L = 5 L
Jadi, larutan ekstrak 5 ppm dibuat dengan 5 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.
c. Pembuatan larutan ekstrak 25 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.25 ppm
V
1
= 0,25 L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 0,25. 10
-4
L = 25 L
Jadi, larutan ekstrak 25 ppm dibuat dengan 25 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.
d. Pembuatan larutan ekstrak 50 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.50 ppm
V
1
= 0,5 L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 0,5. 10
-4
L = 50 L
Jadi, larutan ekstrak 50 ppm dibuat dengan 50 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.
e. Pembuatan larutan ekstrak 100 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.100 ppm
V
1
= 10. 10
-1
L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 10. 10
-5
L= 100 L
Jadi, larutan ekstrak 100 ppm dibuat dengan 100 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.
f. Pembuatan larutan ekstrak 150 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.150 ppm
V
1
= 1,5 L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 1,5. 10
-4
L = 150 L
Jadi, larutan ekstrak 150 ppm dibuat dengan 150 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.
g. Pembuatan larutan ekstrak 200 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.200 ppm
V
1
= 2 L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 2. 10
-4
L = 200 L
Jadi, larutan ekstrak 200 ppm dibuat dengan 200 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.
h. Pembuatan larutan ekstrak 250 ppm
V
1
.M
1
= V
2
.M
2

V
1
. 10000 ppm= 10. 10
-3
L.250 ppm
V
1
= 2,5 L.ppm/10
4
ppm
V
1
= 2,5. 10
-4
L = 250 L
Jadi, larutan ekstrak 250 ppm dibuat dengan 250 L larutan stok yang
dilarutkan dalam 10 mL air laut.










Lampiran 4. Data Pengukuran Kadar Air Sampel Tanaman Anting-anting

1. Data Pengukuran Kadar Air Sampel Tanaman Anting-Anting Bagian
Daun dan Bunga
Berat cawan
kosong (g)
Sampel
A1 A2 A3 A4 A5
Ulangan 1 3,3103 3,2630 3,3494 3,3750 3,2228
Ulangan 2 3,3103 3,2630 3,3494 3,3750 3,2228
Ulangan 3 3,3103 3,2630 3,3494 3,3750 3,2228
Ulangan 4 3,3103 3,2630 3,3494 3,3750 3,2228
Ulangan 5 3,3103 3,2630 3,3494 3,3750 3,2228
Rata-rata 3,3103 3,2630 3,3494 3,3750 3,2228

Berat cawan
kosong +
sampel (g)
Sampel
A1 A2 A3 A4 A5
Sampel
basah
8,3108 8,2629 8,3491 8,3752 8,2226
Ulangan 1 4,6280 4,6475 4,6441 4,9792 4,5339
Ulangan 2 4,6210 4,6266 4,6380 4,6501 4,5229
Ulangan 3 4,6166 4,6226 4,6428 4,6342 4,5189
Ulangan 4 4,6222 4,6297 4,6421 4,6349 4,5261
Ulangan 5 4,6214 4,6297 4,6369 4,6375 4,5204
Ulangan 6 4,6168 4,6174 4,6369 4,6288 4,5128
Ulangan 7 4,6129 4,6145 4,6325 4,6233 4,5025
Rata-rata 4,61895 4,62866 4,63878 4,6351 4,5207


Kadar air = % 100
) (
) (

a b
c b

Keterangan: a = berat konstan cawan kosong
b = berat cawan + sampel sebelum dikeringkan
c = berat konstan cawan + sampel setelah dikeringkan
Faktor koreksi =
air kadar % 100
100


% Kadar air terkoreksi = Kadar air- Faktor koreksi
1) Kadar air A1 = % 100
) 3108 , 3 3108 , 8 (
) 61895 , 4 3108 , 8 (

= % 100
) 00062 , 5 (
) 6985 , 3 (
= 73,96 %
Faktor koreksi =
96 , 73 100
100

= 3,8402
% Kadar air terkoreksi = 73,96% - 3,8402 % = 70,1198 %

2) Kadar air A2 = % 100
) 2628 , 3 2629 , 8 (
) 62867 , 4 2629 , 8 (

= % 100
) 0001 , 5 (
) 63423 , 3 (
= 72,68 %
Faktor koreksi =
68 , 72 100
100

= 3,66
% Kadar air terkoreksi = 72,68 % - 3,66 % = 69,02 %

3) Kadar air A3 = % 100
) 34902 , 3 3491 , 8 (
) 63878 , 4 3491 , 8 (

= % 100
) 00088 , 5 (
) 71032 , 3 (
= 74,21 %
Faktor koreksi =
21 , 74 100
100

= 3,88
% Kadar air terkoreksi = 74,21 % - 3,88 % = 70,33 %

4) Kadar air A4 = % 100
) 37476 , 3 3752 , 8 (
) 6351 , 4 3752 , 8 (

= % 100
) 00044 , 5 (
) 7401 , 3 (
= 74,795 %
Faktor koreksi =
795 , 74 100
100

= 3,967
% Kadar air terkoreksi = 74,795 % - 3,967 % = 74,795 %

5) Kadar air A5 = % 100
) 2228 , 3 2226 , 8 (
) 52073 , 4 2226 , 8 (

= % 100
) 9968 , 4 (
) 70187 , 3 (
= 74,08 %
Faktor koreksi =
08 , 74 100
100

= 3,858
% Kadar air terkoreksi = 74,08 % - 3,858 % = 70,22 %

Kadar air rata-rata pada sampel daun dan bunga
=
5
% 222 , 70 % 828 , 70 % 33 , 70 % 02 , 69 % 1198 , 70 + + + +

= 70,104 %






2. Data Pengukuran Kadar Air Sampel Tanaman Anting-Anting Bagian
Akar dan Batang
Berat cawan
kosong (g)
Sampel
B1 B2 B3 B4 B5
Ulangan 1 3,3334 3,2690 3,2922 3,2886 3,2833
Ulangan 2 3,3332 3,2683 3,2922 3,2884 3,2829
Ulangan 3 3,3333 3,2687 3,2920 3,2884 3,2832
Ulangan 4 3,3331 3,2687 3,2919 3,2887 3,2828
Ulangan 5 3,3336 3,2687 3,2922 3,2885 3,2829
Rata-rata 3,3333 3,2687 3,2921 3,2885 3,2885

Berat cawan
kosong +
sampel (g)
Sampel
B1 B2 B3 B4 B5
Sampel
basah
8,3345 8,2689 8,2924 8,2897 8,2829
Ulangan 1 5,2199 5,1480 5,3283 5,0348 5,6616
Ulangan 2 5,1560 5,1349 4,9594 5,0283 5,1728
Ulangan 3 5,1470 5,1321 4,9373 5,0397 5,1437
Ulangan 4 5,1614 5,1397 4,9475 5,0357 5,1565
Ulangan 5 5,1607 5,1395 4,9467 5,0449 5,1538
Ulangan 6 5,1342 5,1278 4,9366 5,0227 5,1395
Ulangan 7 5,1263 5,1265 4,9339 5,0202 5,1415
Rata-rata 5,15936 5,1503 4,9496 5,0361 5,1416

1) Kadar air B1 = % 100
) 3332 , 3 3345 , 8 (
) 1534 , 5 3345 , 8 (

= % 100
) 0013 , 5 (
) 1752 , 3 (
= 63,49 %
Faktor koreksi =
49 , 63 100
100

= 2,74
% Kadar air terkoreksi = 63,49 % - 2,74 % = 60,75 %

2) Kadar air B2 = % 100
) 2687 , 3 2689 , 8 (
) 1303 , 5 2689 , 8 (

= % 100
) 0002 , 5 (
) 1386 , 3 (
= 62,77 %
Faktor koreksi =
77 , 62 100
100

= 2,69
% Kadar air terkoreksi = 62,77 % - 2,69 % = 60,08 %

3) Kadar air B3 = % 100
) 2921 , 3 2924 , 8 (
) 9496 , 4 2924 , 8 (

= % 100
) 0003 , 5 (
) 3428 , 3 (
= 66,85 %
Faktor koreksi =
85 , 66 100
100

= 3,02
% Kadar air terkoreksi = 66,85 % - 3,02 % =63,83 %

4) Kadar air B4 = % 100
) 2885 , 3 2889 , 8 (
) 0361 , 5 2889 , 8 (

= % 100
) 0004 , 5 (
) 2528 , 3 (
= 65,16 %
Faktor koreksi =
16 , 65 100
100

= 2,87
% Kadar air terkoreksi = 65,16 % - 2,87 % = 62,29%

2) Kadar air B2 = % 100
) 2830 , 3 2829 , 8 (
) 1416 , 5 2829 , 8 (

= % 100
) 9999 , 4 (
) 1413 , 3 (
= 62,83 %
Faktor koreksi =
83 , 62 100
100

= 2,69
% Kadar air terkoreksi = 62,83 % - 2,69 % = 60,14 %

Kadar air rata-rata pada sampel akar dan batang
=
5
% 14 , 60 % 29 , 62 % 84 , 63 % 08 , 60 % 75 , 60 + + + +

= 61,42 %

3. Data Pengukuran Kadar Air dengan Sampel Seluruh Bagian Tanaman
Anting-Anting
Berat cawan
kosong (g)
Sampel
C1 C2 C3 C4 C5
Ulangan 1 3,3105 3,2632 3,3496 3,3748 3,2229
Ulangan 2 3,3107 3,2631 3,3495 3,3747 3,2228
Ulangan 3 3,3107 3,2630 3,3495 3,3749 3,2231
Rata-rata 3,3106 3,2631 3,3495 3,3748 3,2229

Berat cawan
kosong +
sampel (g)
Sampel
C1 C2 C3 C4 C5
Sampel
basah
8,3109 8,2635 8,3497 8,3751 8,2229
Ulangan 1 5,2189 5,3204 5,1908 5,2454 5,1465
Ulangan 2 5,1621 5,2014 5,1895 5,1704 5,1275
Ulangan 3 5,1704 5,1985 5,1890 5,1706 5,1269
Ulangan 4 5,1612 5,1990 5,1889 5,1704 5,1270
Ulangan 5 5,1614 5,1986 5,1890 5,1705 5,1271
Ulangan 6 5,1613 5,1987 5,1891 5,1704 5,1270
Ulangan 7 5,1612 5,1986 5,1891 5,1704 5,1270
Rata-rata 5,1613 5,1986 5,1890 5,1705 5,1270
1) Kadar air C1 = % 100
) 3106 , 3 3109 , 8 (
) 1613 , 5 3109 , 8 (

= % 100
) 0003 , 5 (
) 1496 , 3 (
= 62,99 %
Faktor koreksi =
99 , 62 100
100

= 2,70
% Kadar air terkoreksi = 62,99 % - 2,70 % = 60,29 %

2) Kadar air C2 = % 100
) 2631 , 3 2635 , 8 (
) 1986 , 5 2635 , 8 (

= % 100
) 0004 , 5 (
) 0649 , 3 (
= 61,29 %
Faktor koreksi =
29 , 61 100
100

= 2,58
% Kadar air terkoreksi = 61,29 % - 2,58 % = 58,71 %

3) Kadar air C3 = % 100
) 3495 , 3 3497 , 8 (
) 1890 , 5 3497 , 8 (

= % 100
) 0002 , 5 (
) 1607 , 3 (
= 63,21 %
Faktor koreksi =
21 , 63 100
100

= 2,72
% Kadar air terkoreksi = 63,21 % - 2,72 % =60,49 %

4) Kadar air C4 = % 100
) 3748 , 3 3752 , 8 (
) 1705 , 5 3752 , 8 (

= % 100
) 0004 , 5 (
) 2048 , 3 (
= 64,09 %
Faktor koreksi =
09 , 64 100
100

= 2,81
% Kadar air terkoreksi = 64,09 % - 2,81 % = 61,28%

5) Kadar air C5 = % 100
) 2229 , 3 2229 , 8 (
) 1270 , 5 2229 , 8 (

= % 100
) 5 (
) 0959 , 3 (
= 61,92 %
Faktor koreksi =
92 , 61 100
100

= 2,63
% Kadar air terkoreksi = 61,92 % - 2,63 % = 59,29 %

Kadar air rata-rata pada sampel akar dan batang
=
5
% 29 , 59 % 28 , 61 % 49 , 60 % 71 , 58 % 29 , 60 + + + +

= 60,01 %

4. Kadar Air yang Terkandung dalam Masing-Masing Bagian Tanaman
Anting-Anting (Acalypha Indica Linn.)
Sampel Kadar air (%)
Daun dan bunga 70,10
Batang dan akar 61,42
Seluruh tanaman 60,01























Lampiran 5. Perhitungan Rendemen

1. Ekstrak Etil asetat 1
Berat botol kosong = 118,1012 g
Berat botol kosong + ekstrak pekat = 120,1171 g
Berat ekstrak pekat = (Berat botol kosong + ekstrak
pekat)- Berat botol kosong
= 120,1171 g 118,1012 g
= 2,0159 g
2. Ekstrak Etil asetat 2
Berat botol kosong = 118,1022 g
Berat botol kosong + ekstrak pekat = 120,5522 g
Berat ekstrak pekat = (Berat botol kosong + ekstrak
pekat)- Berat botol kosong
= 120,5522 g 118,1022 g
= 2,45 g
Berat ekstrak pekat = berat ekstrak 1 + berat ekstrak 2
= 2,0159 + 2,45
= 4,4659

Rendemen = % 100
sampel berat
pekat ekstrak berat
= % 100
60
4659 , 4

g
g

= 7,44 % (b/b)


3. Ekstrak Diklorometana 1
Berat botol kosong = 358,3 g
Berat botol kosong + ekstrak pekat = 360,2 g
Berat ekstrak pekat = (Berat botol kosong + ekstrak
pekat)- Berat botol kosong
= 360,2 g 358,3 g = 1,9 g
4. Ekstrak Diklorometana 2
Berat botol kosong = 358,3 g
Berat botol kosong + ekstrak pekat = 360,4 g
Berat ekstrak pekat = (Berat botol kosong + ekstrak
pekat)- Berat botol kosong
= 360,2 g 358,3 g = 2,1 g

Berat ekstrak pekat = berat ekstrak 1 + berat ekstrak 2
= 1,9 + 2,1
= 4

Rendemen = % 100
sampel berat
pekat ekstrak berat
= % 100
60
4

g
g

= 6,67 % (b/b)
5. Ekstrak petroleum eter 1
Berat botol kosong = 358,3 g
Berat botol kosong + ekstrak pekat = 359,3 g
Berat ekstrak pekat = (Berat botol kosong + ekstrak
pekat)- Berat botol kosong
= 359,3 g 358,3 g = 1,0 g
6. Ekstrak petroleum eter 2
Berat botol kosong = 358,3 g
Berat botol kosong + ekstrak pekat = 359,2 g
Berat ekstrak pekat = (Berat botol kosong + ekstrak
pekat)- Berat botol kosong
= 359,2 g 358,3 g = 0,9 g
Berat ekstrak pekat = berat ekstrak 1 + berat ekstrak 2
= 1,0 + 0,9
= 1,9

Rendemen = % 100
sampel berat
pekat ekstrak berat
= % 100
60
9 , 1

g
g

= 3,167 % (b/b)
















Lampiran 6 Dokumentasi
1. Analisis kadar air

Gambar 1. Daun dan
bunga yang telah
dipotong kecil-kecil

Gambar 2. Akar dan
batang yang telah
dipotong kecil-kecil


Gambar 3. Sampel
setelah dikeringkan

2. Preparasi sampel

Gambar 4.
Tanaman
anting-anting

Gambar 5.
Pengeringan
sampel dengan
oven

Gambar 6.
Penghalusan
sampel dengan
blender



Gambar 7. Sampel
setelah dihaluskan

3. Ekstraksi

Gambar 8.
Sampel
ditimbang


Gambar 9.
Pengocokan Sampel
menggunakan shaker
Gambar 10.
Filtrat etil asetat

Gambar 11.
Filtrat
diklorometana
Gambar 12.
Filtrat petroleum
eter

Gambar 13. Rotary
Evaporator

Gambar 14.
Vortex

Gambar 15.
Sampel dalam
desikator

4. Uji Fitokimia
1. Flavonoid

Gambar 16. Uji
flavonoid ekstrak etil
asetat

Gambar 17. Uji
flavonoid ekstrak
diklorometana

Gambar 18. Uji
flavonoid ekstrak
petroleum eter

2. Tanin

Gambar 19. Uji tanin
ekstrak etil asetat
dengan FeCl
3
1%



Gambar 20. Uji tanin
ekstrak diklorometana
dengan FeCl
3
1%


Gambar 21. Uji tanin
ekstrak petroleum eter
dengan FeCl
3
1%


Gambar 22. Uji tanin
ekstrak etil asetat
dengan larutan gelatin


Gambar 23. Uji tanin
ekstrak diklorometana
dengan larutan gelatin

Gambar 24. Uji tanin
ekstrak petroleum eter
dengan larutan gelatin


3. Alkaloid

Gambar 25. Uji ekstrak
etil asetat dengan
reagen dragendorf


Gambar 26. Uji ekstrak
diklorometana dengan
reagen dragendorf


Gambar 27. Uji
ekstrak petroleum eter
dengan reagen
dragendorf


Gambar 28. Uji ekstrak
etil asetat dengan
reagen mayer


Gambar 29. Uji ekstrak
diklorometana dengan
reagen mayer


Gambar 30. Uji
ekstrak petroleum eter
dengan reagen mayer







4. Triterpenoid/ steroid

Gambar 31. Uji ekstrak
etil asetat dengan
Liebermenn burchard


Gambar 32. Uji ekstrak
diklorometana dengan
Liebermenn burchard


Gambar 33. Uji
ekstrak petroleum eter
dengan Liebermenn
burchard


5. Saponin

Gambar 34. Uji busa
ekstrak etil asetat

Gambar 35. Uji busa
ekstrak diklorometana

Gambar 36. Uji busa
ekstrak petroleum
eter











Lampiran 7. Data Kematian Larva dan Perhitungan LC
50
uji toksisitas
masing-masing ekstrak

1. Ekstrak etil Asetat

Konsentrasi Etil Asetat (ppm) Jumlah Hewan Uji Mortalitas
0 30 0
5 30 17
25 30 21
50 30 22
100 30 22
150 30 23
200 30 24
250 30 25

Probability Plot for mortalitas
konsentrasi etil asetat {ppm)
P
e
r
c
e
n
t
800 600 +00 200 0 -200 -+00 -600 -800
99
95
90
80
70
60
50
+0
30
20
10
5
1
Table of Statistics
Nean 21,6005
StDev 187,165
Nedian 21,6005
!QR 252,+82
Probability Plot for mortalitas
Probit Data - NL Estimates
Normal - 95 C!


Probit Analysis: mortalitas; jumlah hewan uji versus konsentrasi etil asetat

Distribution: Normal


Response Information

Variable Value Count
mortalitas Success 154
Failure 86
jumlah hewan uji Total 240

Estimation Method: Maximum Likelihood



Regression Table

Standard
Variable Coef Error Z P
Constant -0,115409 0,123382 -0,94 0,350
konsentrasi etil asetat (ppm) 0,0053429 0,0010409 5,13 0,000
Natural
Response 0
Log-Likelihood = -142,344

Goodness-of-Fit Tests

Method Chi-Square DF P
Pearson 36,1374 6 0,000
Deviance 47,7385 6 0,000

Tolerance Distribution

Parameter Estimates

Standard 95,0% Normal CI
Parameter Estimate Error Lower Upper
Mean 21,6005 20,2989 -18,1845 61,3855
StDev 187,165 36,4630 127,760 274,191

Table of Percentiles

Standard 95,0% Fiducial CI
Percent Percentile Error Lower Upper
1 -413,810 98,4597 -724,377 -273,433
2 -362,789 88,6695 -642,135 -236,216
3 -330,418 82,4764 -589,991 -212,567
4 -306,067 77,8297 -550,790 -194,752
5 -286,258 74,0590 -518,920 -180,244
6 -269,399 70,8571 -491,809 -167,880
7 -254,616 68,0560 -468,051 -157,026
8 -241,380 65,5539 -446,790 -147,297
9 -229,342 63,2836 -427,464 -138,437
10 -218,261 61,1988 -409,685 -130,272
20 -135,921 45,9215 -277,998 -69,1722
30 -76,5489 35,3282 -183,895 -24,2620
40 -25,8172 26,9193 -104,812 15,4366
50 21,6005 20,2989 -33,5518 55,1986
60 69,0182 16,4351 31,3784 101,291
70 119,750 17,5284 88,0766 163,374
80 179,123 24,4706 140,895 249,568
90 261,462 38,0267 205,528 377,723
91 272,543 39,9917 213,934 395,261
92 284,581 42,1478 223,022 414,358
93 297,817 44,5407 232,971 435,400
94 312,600 47,2362 244,035 458,947
95 329,460 50,3355 256,604 485,854
96 349,268 54,0047 271,314 517,521
97 373,619 58,5490 289,332 556,519
98 405,990 64,6343 313,195 608,449
99 457,011 74,3004 350,658 690,446
2. Ekstrak Diklorometana
Konsentrasi Etil Asetat (ppm) Jumlah Hewan Uji Mortalitas
0 30 0
5 30 21
25 30 21
50 30 22
100 30 23
150 30 24
200 30 29
250 30 30


Probability Plot for mortalitas
konsentrasi diklorometana {ppm)
P
e
r
c
e
n
t
+00 300 200 100 0 -100 -200 -300 -+00
99
95
90
80
70
60
50
+0
30
20
10
5
1
Table of Statistics
Nean 17,6+95
StDev 105,319
Nedian 17,6+95
!QR 1+2,073
Probability Plot for mortalitas
Probit Data - NL Estimates
Normal - 95 C!

Probit Analysis: mortalitas; jumlah hewan uji versus konsentrasi dikl

Distribution: Normal
Response Information

Variable Value Count
mortalitas Success 170
Failure 70
jumlah hewan uji Total 240

Estimation Method: Maximum Likelihood
Regression Table

Standard
Variable Coef Error Z P
Constant -0,167581 0,129269 -1,30 0,195
konsentrasi diklorometana (ppm) 0,0094950 0,0014585 6,51 0,000
Natural
Response 0

Log-Likelihood = -114,899
Goodness-of-Fit Tests

Method Chi-Square DF P
Pearson 39,0201 6 0,000
Deviance 50,3096 6 0,000

Tolerance Distribution
Parameter Estimates

Standard 95,0% Normal CI
Parameter Estimate Error Lower Upper
Mean 17,6495 11,9536 -5,77909 41,0780
StDev 105,319 16,1777 77,9394 142,317


Table of Percentiles

Standard 95,0% Fiducial CI
Percent Percentile Error Lower Upper
1 -227,359 45,2411 -353,274 -158,692
2 -198,650 40,9529 -312,437 -136,386
3 -180,434 38,2465 -286,555 -122,205
4 -166,731 36,2198 -267,104 -111,519
5 -155,585 34,5782 -251,296 -102,813
6 -146,098 33,1864 -237,851 -95,3920
7 -137,780 31,9710 -226,073 -88,8755
8 -130,331 30,8870 -215,535 -83,0323
9 -123,558 29,9050 -205,959 -77,7105
10 -117,322 29,0047 -197,151 -72,8045
20 -70,9893 22,4639 -132,003 -36,0507
30 -37,5799 18,0207 -85,5765 -8,99800
40 -9,03282 14,5868 -46,6505 14,8610
50 17,6495 11,9536 -11,4782 38,3723
60 44,3318 10,3247 21,5124 64,0654
70 72,8789 10,2457 53,0830 95,2798
80 106,288 12,3253 85,1683 136,673
90 152,621 17,4409 124,851 198,893
91 158,857 18,2321 129,977 207,480
92 165,630 19,1090 135,511 216,844
93 173,079 20,0912 141,559 227,178
94 181,397 21,2073 148,275 238,757
95 190,884 22,5013 155,891 252,006
96 202,030 24,0454 164,792 267,620
97 215,733 25,9726 175,676 286,873
98 233,949 28,5733 190,067 312,544
99 262,658 32,7385 212,617 353,137




3. Ekstrak Petroleum Eter
Konsentrasi Etil Asetat (ppm) Jumlah Hewan Uji Mortalitas
0 30 0
5 30 21
25 30 23
50 30 26
100 30 27
150 30 30
200 30 30
250 30 30


Probability Plot for mortalitas
konsentrasi PE {ppm)
P
e
r
c
e
n
t
200 100 0 -100 -200
99
95
90
80
70
60
50
+0
30
20
10
5
1
Table of Statistics
Nean 11,85+7
StDev +7,3+78
Nedian 11,85+7
!QR 63,8712
Probability Plot for mortalitas
Probit Data - NL Estimates
Normal - 95 C!


Probit Analysis: mortalitas; jumlah hewan uji versus konsentrasi PE (ppm)
Distribution: Normal
Response Information

Variable Value Count
mortalitas Success 187
Failure 53
jumlah hewan uji Total 240

Estimation Method: Maximum Likelihood
Regression Table

Standard
Variable Coef Error Z P
Constant -0,250376 0,150354 -1,67 0,096
konsentrasi PE (ppm) 0,0211203 0,0037286 5,66 0,000
Natural
Response 0

Log-Likelihood = -79,415
Goodness-of-Fit Tests

Method Chi-Square DF P
Pearson 37,0668 6 0,000
Deviance 46,5161 6 0,000

Tolerance Distribution
Parameter Estimates

Standard 95,0% Normal CI
Parameter Estimate Error Lower Upper
Mean 11,8547 5,98345 0,127391 23,5821
StDev 47,3478 8,35876 33,4988 66,9222


Table of Percentiles

Standard 95,0% Fiducial CI
Percent Percentile Error Lower Upper
1 -98,2927 22,6156 -165,386 -65,0256
2 -85,3858 20,4111 -145,796 -55,2906
3 -77,1967 19,0214 -133,385 -49,0961
4 -71,0364 17,9818 -124,060 -44,4246
5 -66,0255 17,1406 -116,484 -40,6159
6 -61,7604 16,4282 -110,043 -37,3670
7 -58,0207 15,8067 -104,401 -34,5121
8 -54,6723 15,2529 -99,3549 -31,9504
9 -51,6271 14,7518 -94,7709 -29,6156
10 -48,8239 14,2929 -90,5560 -27,4617
20 -27,9942 10,9809 -59,4345 -11,2577
30 -12,9745 8,77512 -37,3682 0,800928
40 -0,140696 7,13503 -19,0296 11,6208
50 11,8547 5,98345 -2,72538 22,5704
60 23,8502 5,44643 12,1678 34,9310
70 36,6839 5,74699 26,0366 50,2207
80 51,7036 7,07132 40,0131 70,3692
90 72,5334 9,83965 57,3490 100,359
91 75,3365 10,2559 59,5900 104,487
92 78,3818 10,7157 62,0088 108,987
93 81,7302 11,2292 64,6521 113,951
94 85,4698 11,8113 67,5866 119,513
95 89,7349 12,4847 70,9142 125,876
96 94,7459 13,2868 74,8015 133,373
97 100,906 14,2862 79,5534 142,618
98 109,095 15,6330 85,8336 154,943
99 122,002 17,7872 95,6688 174,433