Anda di halaman 1dari 52

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, penggunaan energi terutama energi listrik diperlukan sekali oleh masyarakat yang sudah maju maupun yang sedang berkembang dalam jumlah yang besar, namun diusahakan dengan biaya serendah mungkin. Banyak sekali energi alternatif dari alam terutama di Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik. Salah satu contoh alternatif energi yang dapat dipilih adalah angin, karena angin terdapat dimana-mana sehingga mudah didapat serta tidak membutuhkan biaya besar. Karena energi listrik tidak dihasilkan langsung oleh alam maka untuk memanfaatkan angin ini diperlukan sebuah alat yang yang bekerja dan menghasilkan energi listrik. Alat yang dapat digunakan adalah kincir angin. Kincir angin ini akan menangkap energi angin dan menggerakkan generator yang nantinya akan menghasilkan energi listik. Kincir angin yang penulis gunakan adalah kincir angin bersudu banyak dengan poros horisontal. Kincir ini dapat ditingkatkan efisiensinya untuk mendapat koefisien daya yang maksimal. Salah satunya dengan pengunaan sudu berjumlah banyak. Sudu yang dipakai adalah delapan sudu. Koefisien daya yang maksimal ini akan meningkatkan jumlah watt (daya) yang dihasilkan sehingga untuk mendapatkan jumlah watt tertentu cukup dengan menggunakan jumlah kincir angin yang lebih sedikit.

1.2. Tujuan dan Manfaat Tujuan : a. Mengetahui koefisien daya kincir. b. Mengetahui perbandingan daya yang dihasilkan oleh kincir dengan variasi jumlah sudu dan sudut. c. Menggunakan kincir angin poros horisontal untuk pembangkit listrik d. Untuk meningkatkan dan mengembangkan kreatifitas mahasiswa dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)
1

Manfaat : a. Kincir angin ini dapat digunakan sebagai salah satu aplikasi pemanfaatan energi terbarukan. b. Dalam pembuatan skala besar mampu menghasilkan energi listrik yang besar, dan dapat diterapkan dalam masyarakat.

1.3. Batasan Masalah Batasan masalah dalam Rancang Bangun Mesin ini yaitu: a. Merancang dan membuat kincir angin poros horisontal dengan jumlah sudu banyak (delapan dan empat sudu). b. Mencari koefisien daya kincir angin. c. Konstruksi kincir diharapkan mampu menahan angin yang bertiup dengan kecepatan maksimum 7 m/s. d. Konstruksi kincir ini dapat berputar ke segala arah (dalam sumbu vertikal), menyesuaikan arah datangnya angin. e. Bentuk sudu yang digunakan adalah sudu datar, dengan tipe sudu linear terbalik.

1.4 Sistimatika Penulisan BAB I. PENDAHULUAN Berisi Latar Belakang Masalah , Tujuan , Manfaat , Batasan Masalah an sistimatika Penulisan BAB II. PERANCANGAN KINCIR Pada Bab ini berisi teori dasar tentang angin dan tenaga angin , BAB III.. PERANCANGAN KINCIR Pada Bab ini berisi Data-Data dari Pembangkit Listrik dengan Kincir Sudu Datar , Perancangan Sudu , Perhitungan pada Poros BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS DATA Pada Bab ini berisi Metode Pegumpulan Data , Variabel Pengujian , Analisa Data , Menghitung daya angin ( Pin ) , Menghitung koefisien daya ( Cp ) BAB IV. PEMELIHARAAN KINCIR Pada Bab ini berisi tentang pemasangan , Perawatan BAB V. PENUTUP
2

BAB II

DASAR TEORI

2.1.

Potensi Tenaga Angin Dalam realitas, tenaga angin adalah sekedar bentuk tenaga surya yangdikonversi. Radiasi

matahari memanas di berbagai tempat di bumi dengan kecepatan yang berbeda pada siang dan malam hari. Hal ini menyebabkan berbagai bagian atmosfer memanas dalam waktu yang berbeda. Udara panas menaik, dan udara yang lebih sejuk tertarik untuk menggantikannya. Inilah yang menyebabkan terjadinya angin. Jadi angin, yang disebabkan oleh gerakan molekul udara di atmosfer, berasal dari energi matahari. Semua benda statis termasuk molekul udara menyimpan energi laten disebut dengan energi potensial. Pada saat molekul udara mulai bergerak, maka energi potensialnya dikonversi menjadi energi kinetik (energi gerakan) sebagai akibat dari kecepatan molekul udara. Mesin energi angin, yang dinamakan turbin angin, menggunakan energi kinetik angin dan mengkonversinya menjadi energi mekanis atau listrik yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai tujuan praktis. Angin bertiup di atas 'sayap' juga disebut bilah atau aerofoil dari turbin angin, yang menyebabkan berputar cepat. Turbin angin menggunakan gerakan rotasi untuk membangkitkan listrik atau menjalankan peralatan mesin seperti pompa. Angin adalah udara yang memiliki massa dan bergerak dengan kecepatantertentu. Akibat pergerakan ini, angin memiliki daya yang sebanding dengan massanyadan berbanding lurus dengan kuadrat kecepatannya. Secara ideal kecepatan angin yangmenggerakkan kincir angin ada tiga, yaitu kecepatan aliran angin masuk (Vi) ataukecepatan aliran angin menuju blade , kecepatan aliran angin saat mengenai blade (Va) dan kecepatan aliran angin ketika meninggalkan Blade (Ve)., yaitu :Angin mempunyai tenaga yang sama besarnya dengan energi kinetik dari aliranangin tersebut, yaitu 2.1.1. Turbin Angin Kelebihan Turbin Angin

Turbin angin kecil berkapasitas 3kW mampu menghasilkan energi listrik hingga 7.000 kWh per tahun. Sumber energi primer secara cuma-cuma angin Tenaga angin bisa dipadukan dengan tenaga surya untuk memasok energi pada malam hari pada saat tidak ada tenaga surya yang tersedia. Ini bisa membuat usia battery bank lebih lama.

Dampak minimal pada lingkungan. Tidak menghasilkan limbah atau emisi. Turbin angin berkapasitas 3kW bisa menghindarkan dari emisi CO2 hingga 5 ton per tahun. Hanya memerlukan sebidang tanah berukuran kecil. Memfasilitasi sumber pendapatan baru atau meningkatkan pendapatan dari usaha yang sudah ada.

Kekurangan tenaga angin Memerlukan sumber angin yang cukup pada lokasi Angin yang tidak merata bias menyebabkan produksi energi tidak konsisten Biaya modal yang tinggi Bising; ada indikasi bahwa suara bising berfrekuensi ultra rendah yang berasal dari turbin angin berpotensi merugikan manusia dan hewan. Kerusakan akibat petir dan burung yang bermigrasi.

2.1.2. Turbin Angin Sumbu Horizontal (TASH) Turbin angin berdasarkan arah / poros perputarannya dibedakan menjadi dua jenis yaitu turbin angin sumbu horizontal dan turbin angin sumbu vertical. Turbin angin sumbu horizontal (TASH) memiliki poros rotor utama dan generator listrik di puncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan oleh sebuah baling-baling angin (baling-baling cuaca) yang sederhana, sedangkan turbin berukuran besar pada umumnya menggunakan sebuah sensor angin yang digandengkan ke sebuah servo motor. Sebagian besar memiliki sebuah gearbox yang mengubah perputaran kincir yang pelan menjadi lebih cepat berputar.
4

Gambar 2.1. Turbin Angin Sumbu Horizontal (TASH) Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi di belakangnya, turbin biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah-bilah turbin dibuat kaku agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh angin berkecepatan tinggi. Sebagai tambahan, bilah-bilah itu diletakkan di depan menara pada jarak tertentu dan sedikit dimiringkan. Karena turbulensi menyebabkan kerusakan struktur menara, dan realibilitas begitu penting, sebagian besar TASH merupakan mesin upwind (melawan arah angin). Meski memiliki permasalahan turbulensi, mesin downwind (menurut jurusan angin) dibuat karena tidak memerlukan mekanisme tambahan agar mereka tetap sejalan dengan angin, bias karena di saat angin berhembus sangat kencang, bilah bilahnya bias ditekuk sehingga mengurangi wilayah tiupan mereka dan dengan demikian juga mengurangiresintensi angin dari bilah-bilah itu.

Gambar 2.2. Kompunen Utama Turbin Angin Sumbu Horisontal (TASH)

Prakondisi : Mulai operasikan pada saat kecepatan angin mencapai 3-5m/detik Memerlukan pemilihan lokasi yang tepat , turbin angin berkapasitas 3kW menghasilkan listrik 5.000-7.000 kWh per tahun (kecepatan angin 5.4m/detik)

2.1.2. Turbin Angin Sumbu Vertikal (TASV) Turbin angin sumbu vertikal/tegak (atau TASV) memiliki poros/sumbu rotor utama yang disusun tegak lurus. Kelebihan utama susunan ini adalah turbin tidak harus diarahkan ke angin agar menjadi efektif. Kelebihan ini sangat berguna di tempat-tempat yang arah anginnya sangat bervariasi. TASV mampu mendaya gunakan angin dariberbagai arah.Dengan sumbu yang vertikal, generator serta gearbox bisa ditempatkan di dekattanah, jadi menara tidak perlu menyokongnya dan lebih mudah diakses untuk keperluan perawatan. Tapi ini menyebabkan sejumlah desain menghasilkan tenaga putaran yang berdenyut. Drag (gaya yang menahan pergerakan sebuah benda padat melalui fluida(zat cair atau gas) bisa saja tercipta saat kincir berputar. Karena sulit dipasang di atas menara, turbin sumbu tegak sering dipasang lebihdekat ke dasar tempat ia diletakkan, seperti tanah atau puncak atap sebuah bangunan. Kecepatan angin lebih pelan pada ketinggian yang rendah, sehingga yang tersediaadalah energi angin yang sedikit. Aliran udara di dekat tanah dan obyek yang lainmampu menciptakan aliran yang bergolak, yang bisa menyebabkan berbagaipermasalahan yang berkaitan dengan getaran, diantaranya kebisingan danbearing wear yang akan meningkatkan
6

biaya pemeliharaan atau mempersingkat umur turbin angin.Jika tinggi puncak atap yang dipasangi menara turbin kira-kira 50% dari tinggibangunan, ini merupakan titik optimal bagi energi angin yang maksimal dan turbulensiangin yang minimal. Komponen Bentuk rotor dengan 2 atau 3 airfoil. Menara dengan poros penggerak pada bagian bawah. Case bisa ditempatkan di atas tanah dan mencakup gearbox opsional dan generator. Prakondisi Mulai beroperasi pada saat kecepatan angin mencapai 1.5-3/detik

Gambar 2.3. Turbin Angin Sumbu Vertikal Source (TASV): AWI (www.awi-bremerhaven.de) 2.1.4. Keunggulan dan Kelemahan Turbin Angin Masing-masing jenis turbin angin yang terlah diuraikan diatas memilikikeunggulan dan kekurangan. A. Keunggulan Kelemahan Turbin Angin Sumbu Horizontal (TASH) Keuntungan , Memberikan kinerja yang lebih baik pada produksi energi dibandingkan dengan turbin angin dengan sumbu vertical. Bisa ditempatkan di lokasi di mana turbin angin bersumbu horizontal akan sesuai
7

Tidak perlu diarahkan ke arah angin Mulai dioperasikan pada angin berkecepatan rendah Pemeliharaan lebih mudah Dikenal tidak bising Dasar menara yang tinggi membolehkan akses ke angin yang lebih kuat ditempat-tempat yang memiliki geseran angin (perbedaan antara laju dan arah anginantara dua titik yang jaraknya relatif dekat di dalam atmosfir bumi.

Di sejumlah lokasi geseran angin, setiap sepuluh meter ke atas, kecepatan angin meningkat sebesar 20%.

Kekurangan ,

Kinerja lebih buruk dalam memproduksi energi dibandingkan dengan turbin angin bersumbu horizontal Turbin angin sumbu vertikal berkapasitas 3kW menghasilkan 2.500-6.500 kWh per tahun. (Kecepatan angin: 5,4 m/detik) tergantung disain yang dipakai. Tidak bisa hidup sendiri, terkadang turbin angin bersumbu vertikal memerlukan motor listrik kecil untuk menghidupkannya. Kegagalan baling-baling karena aus. Mmemerlukan kecepatan angin yang lebih tinggi untuk bisa memproduksi listrik Memerlukan menara yang tinggi untuk menangkap kecepatan angin yang cukup Tambahan sistem ekor (yaw) adalah bagian dari turbin horizontal, lebih kompleks

Menara yang tinggi serta bilah yang panjangnya bisa mencapai 90 meter sulitdiangkut. Diperkirakan besar biaya transportasi bisa mencapai 20% dari seluruhbiaya peralatan turbin angin. TASH yang tinggi sulit dipasang, membutuhkan derek yang yang sangat tinggi dan mahal serta para operator yang tampil. Konstruksi menara yang besar dibutuhkan untuk menyangga bilah-bilah yang berat,gear box, dan generator.

TASH yang tinggi bisa mempengaruhi radar airport, ukurannya yang tinggi merintangi jangkauan pandangan dan mengganggupenampilan pemandangan.

Berbagai varian downwind menderita kerusakan struktur yang disebabkan olehturbulensi. TASH membutuhkan mekanisme kontrol yaw tambahan untuk membelokkan kincir ke arah angin.

B. Keunggulan dan Kelemahan Turbin Angin Sumbu Vertikal (TASV) Keuntungan : Tidak membutuhkan struktur menara yang besar. Karena bilah-bilah rotornya vertikal, tidak dibutuhkan mekanisme yaw. Sebuah TASV bisa diletakkan lebih dekat ke tanah, membuat pemeliharaan bagianbagiannya yang bergerak jadi lebih mudah. TASV memiliki sudut airfoil (bentuk bilah sebuah baling-baling yang terlihatsecara melintang) yang lebih tinggi, memberikan keaerodinamisan yang tinggisembari mengurangi drag pada tekanan yang rendah dan tinggi. Desain TASV berbilah lurus dengan potongan melintang berbentuk kotak atau empat persegi panjang memiliki wilayah tiupan yang lebih besar untuk diameter tertentu daripada wilayah tiupan berbentuk lingkarannya TASH. TASV memiliki kecepatan awal angin yang lebih rendah daripada TASH. BiasanyaTASV mulai menghasilkan listrik pada 10km/jam (6 m.p.h.) TASV biasanya memiliki tip speed ratio (perbandingan antara kecepatan putarandari ujung sebuah bilah dengan laju sebenarnya angin) yang lebih rendah sehinggalebih kecil kemungkinannya rusak di saat angin berhembus sangat kencang. TASV bisa didirikan pada lokasi-lokasi dimana struktur yang lebih tinggi dilarangdibangun. TASV yang ditempatkan di dekat tanah bisa mengambil keuntungan dari berbagailokasi yang menyalurkan angin serta meningkatkan laju angin (seperti gunung ataubukit yang puncaknya datar dan puncak bukit), TASV tidak harus diubah posisinya jika arah angin berubah. Kincir pada TASV mudah dilihat dan dihindari burung.

Kelemahan Kebanyakan TASV memproduksi energi hanya 50% dari efisiensi TASH karenadrag tambahan yang dimilikinya saat kincir berputar.

2.2.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) adalah suatu teknologi pembangkit listrik yang

merubah potensi energi angin menjadi energi listrik. Angin adalah udarayang bergerak/mengalir, sehingga memiliki kecepatan, tenaga dan arah. Penyebab dari pergerakan ini adalah pemanasan bumi oleh radiasi matahari. Udara di atas permukaan bumi selain dipanaskan oleh matahari secara langsung, juga mendapat pemanasan olehradiasi matahari bumi tidak homogen, maka jumlah energi matahari yang diserap dan dipancarkan kembali oleh bumi berdasarkan tempat dan waktu adalah bervariasi. Hal ini menyebabkan perbedaan temperatur pada atmosfer, yang menyebabkan perbedaan kerapatan dan tekanan atmosfer. Udara memiliki sifat untuk selalu mencapai kesetimbangan tekanan, karena itu perbedaan kecepatan dan tekanan atmosfer ini menyebabkan udara bergerak dari daerah yang bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah.Pada daerah yang relatif panas, partikel udara mendapat energi sehingga udaramemuai. Akibat dari pemuaian ini, tekanan udara di daerah itu naik, namun kerapatan udara menjadi berkurang, sehingga berat jenis udara di tempat itu menjadi relatif kecil, akibatnya udara berekspansi ke atas dan menyebabkan terjadinya penurunan tekanan didaerah yang ditinggalkannya. Daerah ini lalu diisi oleh udara dari daerah sekelilinginya yang memiliki tekanan udara dan massa jenis lebih tinggi. Udara yang berekspansi keatas lalu mengalami penurunan suhu, sehingga terjadi penyusutan dan massa jenisnyakembali naik. Udara ini akan turun kembali di tempat lain yang memiliki tekanan yanglebih rendah. Hal ini berlangsung terus menerus sepanjang waktu, sehingga pergerakanudara terus berlangsung. Turbin angin memanfaatkan energi kinetik dari angin dan mengkonversinya menjadi energi listrik. Ada dua jenis turbin angin yang utama: Turbin angin dengan poros horizontal Turbin angin dengan poros vertikal Turbin angin adalah bagian dari sistem yang lebih besar. Komponen lainnya dinamakan komponen penyeimbang sistem/ balance of system (BOS) dan ada beberapa jenis tergantung kepada jenis sistem yang diinstalasi.. Tiga jenis sistem energi angin yang utama bisa dibedakan:
10

1. Sistem yang Terhubung ke jaringan PLN Jika jaringan PLN sudah ada di daerah tersebut, maka sistem energi angin bisa dihubungkan ke jaringan tersebut. 2. Off grid atau sistem berdiri sendiri Sistem tersebut bisa beroperasi tanpatopangan eksterior; sangat sesuai untuk penggunaan di daerah terpencil 3. Sistem Listrik Hybrid Turbin angin sebaiknya digunakan dengan sumber-sumber energi lainnya (PV, generator diesel). Ini bisa meningkatkan produksi energy listrik dari sistem ini dan menurunkan resiko kekurangan energi.

2 Gambar 2.4. Sistem Terhubung ke jaringan PLN

Gambar 2.5. Sistem berdiri sendiri

11

Gambar 2.6. Sistem Listrik Hybrid Dengan menambahkan genset dalam sistem ini berarti akan menimbulkanbiaya pemeliharaan yang lebih mahal serta biaya bahan bakar tambahan. Bank batere menyimpan energi listrik yang dihasilkan oleh sistem ini (turbin angin, genset atau modul PV) untuk memberikan beban. Battery charge controller melindungi batere dan mengatur charge dan discharge. Inverter mengkonversi energi DC menjadi energi AC. Jika beban mensyaratkan energi DC, maka bisa langsung dipasok oleh turbin angin atau batere, jika beban mensyaratkan AC, maka perlu memasukkan inverter pada sistem tersebut yang akan mengkonversi DC menjadi AC. Rectifier yang mengkonversi energy AC yang dihasilkan oleh generator menjadi energi DC yang bias disimpan dalam batere mungkin perlu.

Sistem yang dihubungkan dengan jaringan PLN Inverter perlu untuk mengkonversi energi DC yang dihasilkan oleh sistem tersebut menjadi AC karena listrik dari pembangkit adalah AC. Energi AC yang dikonversi bisa langsung dipasok ke beban AC.
12

Meteran mengukur energi listrik yang dipasok oleh jaringan.

2.2.1. Berbagai Penggunaan Turbin Angin Ilustrasi ini memberikan gambaran secara umum mengenai penggunaan sistem tenaga angin di Indonesia, lebih dari 600 turbin angin (dengan kapasitas terpasang 0,5-1 GW) kebanyakan diinstal dengan kapasitas di bawah 10 kW. Sebagian besar sistem ini dimanfaatkan untuk penerangan, TV, lemari es, komunikasi dan menstrom aki. Sistem tenaga angin berskala rumah tangga (100-500 watt) belum dilakukan secara luas di Indonesia, karena mensyaratkan ketersediaan angin yang baik agar bisa beroperasi. Beberapa sistem hybrid yang memasok listrik untuk desa-desa dan usah kecil telah diinstal di seluruh Indonesia (baca Studi Kasus sebagai contoh). Di Pulau Rote, sistem hybrid dengan empat turbin angin berkapasitas 10kW, battery bank dan generator telah diinstal sebagai proyek percontohan. Di Pulau Karya, telah diinstal sistem tanpa pembangkit dengan empat turbin angin berkapasitas 1.000 kW untuk keperluan penerangan, komputer dan memompa air. Di dekat Brebes, Jawa Tengah, dua turbin angin bersumbu vertikal tipe Savonius telah diinstal untuk memompa air. Dengan kecepatan angin 3m/detik, sistem ini mampu memompa 1-1,5 liter air per detik dan turbin bisa dijalankan dengan kecepatan angin meskipun hanya 1m/detik.

13

Sistem energi angin.

Turbin angin bersumbu horizontal dan vertical memiliki penggunaan yang sama. Penting untuk memilih teknologi yang disesuaikan dengan kecepatan angin dimana sistem ini harus diinstal

2.3 . Energi - Energi Yang Terdapat Dalam Angin Secara sederhana, energi potensial yang terdapat pada angin dapat memutarkan sudu sudu yang terdapat pada kincir, dimana sudu sudu ini terhubung dengan poros dan memutarkan poros yang telah terhubung dengan generator dan menimbulkan arus listrik. Kincir dengan ukuran besar dapat digabungkan bersama samasebagai pembangkit energi tenaga angin, dimana akan memberikan daya ke dalam sistem transmisi kelistrikan.

2.3.1. Hubungan daya (power) dan energi (energy) Energi adalah ukuran kesanggupan suatu benda untuk melakukan usaha. Force = massa x percepatan
14

F=mxa,

(Pounds, Newtons) (kilowatt hours, Joules)

(1.1) (1.2)

Energi = kerja (W) = gaya (F) x jarak (d),

Daya adalah usaha yang dilakukan per satuan waktu. Power = P = W / time (t), (kilowatts, Watts, Horsepower) (1.3) (1.4) Power = Torque (Q) x Rotational Speed ()

2.3.2. Energi Kinetik Angin Energi kinetik adalah energi yang dimiliki suatu benda akibat gerakkannya. Energi kinetik = kerja (W) = m V2 Dimana : M = massa dari benda yang bergerak V = kecepatan dari benda yang bergerak Angin yang menggerakkan sudu merupakan udara yang bergerak dan mempunyai massa, sehingga dapat dituliskan sebagai berikut : m = berat jenis () x volume (Area x distance) = xAxd = (kg/m3) (m2) (m) = kg 2.3.3. Daya Angin (Power) Daya angin adalah daya (watt) yang dibangkitkan oleh angin tiap luasan, sehingga daya angin dapat digolongkan sebagai energi potensial. Pada dasarnya daya angin merupakan angin yang bergerak per satuan waktu sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut : Daya = kerja / waktu = energi kinetik / waktu = . m . V2 / t = . (.A.d.).V2 / t = . . A . V2 . (d/t) d/t = V = . . A . V3 (1.6)
15

(1.5)

Gambar 2.1. Kerapatan sudu

Beberapa hal yang harus diingat : a. Daerah sapuan (A) = . R2 b. = kerapatan udara = 1,2 - kg/m3 (m2)

daerah dari sapuan berbentuk lingkaran oleh rotor.

Perhitungan daya yang terdapat di angin : Daya angin = . . A .V3 Dimana : Kecepatan angin = V = 5 meters (m) per second (s), Kerapatan udara = = 1,0 kg/m3 Jari jari sudu = R = 0,2 m Daerah sapuan = A = 0,125 m2 Daya angin = . . A .V3 = (0,5) . (1,0) . (0,125) . (5)3 = 7,85 Watt Satuan energi = (kg/m3) x (m2) x (m3/s3) = (kg-m)/s2 x m/s = N-m/s = Watt
16

m/s

2.3.4. Dasar Turbin Angin Dasar dari alat untuk merubah energi angin adalah turbin angin. Meskipun masih terdapat susunan dan perencanaan yang beragam, biasanya turbin digolongkan ke dalam dua macam tipe (horisontal dan vertikal) dan yang paling banyak digunakan adalah Turbin dengan sumbu x (axis) horisontal. Turbin jenis ini mempunyai rotasi horisontal terhadap tanah (secara sederhana sejajar dengan arah tiupan angin).

Gambar 2.2. Turbin horisontal secara umum Prinsip dasar kerja dari turbin angin adalah mengubah energi mekanis dari angin menjadi energi putar pada kincir, selanjutnya putaran kincirdigunakan untuk memutar generator, yang akhirnya akan menghasilkan listrik. Sebenarnya prosesnya tidak mudah, karena terdapat

berbagai macam subsistem yang dapat meningkatkan safety dan efisiensi dari turbin angin yaitu : 1. Gearbox Alat ini berfungsi untuk mengubah putaran rendah pada kincir menjadi putaran tinggi. Biasanya Gearbox yang digunakan sekitar 1:60. 2. Generator Ini adalah salah satu komponen terpenting dalam pembuatan sistem turbin angin. Generator ini dapat mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Prinsip kerjanya dapat dipelajari dengan menggunakan teori medan elektromagnetik. Singkatnya, (mengacu pada salah satu cara kerja generator) poros pada generator dipasang dengan material ferromagnetic permanen. Setelah itu

17

disekeliling poros terdapat stator yang bentuk fisisnya adalah kumparan-kumparan kawat yang membentuk loop. Ketika poros generator mulai berputar maka akan terjadi perubahan fluks pada stator yang akhirnya karena terjadi perubahan fluks ini akan dihasilkan tegangan dan arus listrik tertentu. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan ini disalurkan melalui kabel jaringan listrik untuk akhirnya digunakan oleh masyarakat. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan oleh generator ini berupa AC (alternating current) yang memiliki bentuk gelombang kurang lebih sinusoidal. 3. Rotor blade Rotor blade atau sudu adalah bagian rotor dari turbin angin. Rotor ini menerima energi kinetik dari angin dan dirubah kedalam energi gerak putar. 4. Tower Tower atau tiang penyangga adalah bagian struktur dari turbin angin horizontal yang memiliki fungsi sebagai struktur utama penopang dari komponen sistem terangkai sudu, poros, dan generator.

2.3.5. Daya Turbin Angin Daya turbin angin adalah daya yang dibangkitkan oleh rotor turbin angin akibat mendapatkan daya dari hembusan angin. Daya turbin angin tidak sama dengan daya angin dikarenakan daya turbin angin terpengaruh oleh koefisien daya. Koefisien daya adalah prosentase daya yang terdapat pada angin yang dirubah ke dalam bentuk energi mekanik P = Cp . . . A . V3 (1.7)

Pemeriksaaan sesungguhnya dari contoh perhitungan daya yang terdapat pada angin adalah daya maksimal dari turbin dengan 0,2 m dapat dihasilkan dari angin berkecepatan 5 m/s yaitu : 7.85 Watt x 0.5926 (Betz Limit) = 4.65 Watt Di dalam rangkaian turbin angin yang berputar selain terdapat bilangan Cp yang mempengaruhi, terdapat pula koefisien Cd yang mempengaruhi sudu dalam menghasilkan daya.
18

Coeffisient of drag (Cd) adalah koefisien dari gaya tarik (drag). Cd pada dasarnya adalah kecenderungan suatu benda untuk mempertahankan diri pada kondisi yang ada dari gaya geser atau gaya tekan yang timbul. Cd dapat berupa benda bergerak ke arah atau di dalam arah aliran fluida yang dapat berupa gas atau cair. Setiap benda mempunyai angka koefisien Cd yang berbeda beda. Semakin halus dan bundar suatu benda maka Cd akan semakin kecil. Besarnya koefisien Cd tidak dipengaruhi oleh ukuran dari benda namun dari sudut posisi laju benda terhadap fluida, (untuk lingkaran Cd = 1,2).

Gambar 2.3. Aliran angin pada sudu 2.3.6. Kemungkinan Maksimum Koefisien Daya

Gambar 2.4. Grafik hubungan koefisien daya dan tip speed ratio untuk berbagai model kincir maksimal yang dapat dihasilkan
19

Menurut Betz, seorang insinyur Jerman, besarnya energi yang maksimum dapat diserap dari angin adalah hanya 0,59259 dari energi yang tersedia. Sedangkan hal tersebut juga dapat dicapai dengan daun turbin yang dirancang dengan sangat baik serta dengan kecepatan keliling daun pada puncak daun sebesar 6 kali kecepatan angin. Pada dasarnya turbin angin untuk generator listrik hanya akan bekerja antara suatu kecepatan angin minimum, yaitu kecepatan start Cs, dan kecepatan nominalnya Cr. 2.3.7. Perbandingan Kecepatan Pada Ujung Sudu Tip Speed Ratio Tip-speed ratio adalah perbandingan dari kecepatan ujung sudu sudu yang berputar dengan kecepatan dari aliran udara

(1. 8) dimana, = kecepatan rotasi dalam radians /sec R = jari jari Rotor V = kecepatan aliran angin 2.3.8. Blade Planform Soliditas Blade planform (sudu) adalah bentuk dari permukaan sudu. Soliditas adalah perbandingan dari luasan sudu dengan daerah sapuan sudu. Lihat gambar 1.1 (gambar kerapatan sudu). Soliditas rendah (0,10) Soliditas tinggi (> 0,80) = kecepatan tinggi, momen puntir rendah = kecepatan rendah, momen puntir tinggi

Soliditas berpengaruh terhadap daya yang dihasilkan turbin angin. Jumlah sudu sedikit memiliki soliditas yang rendah, akan tetapi memiliki kecepatan yang tinggi, begitu pula sebaliknya.

20

2.3.8.1. Model Model Sudu - Blade Planform


Persegi panjang

Gambar 2.5. Jenisjenis model sudu Model sudu yang paling baik adalah yang mendekati bentuk streamline, dalam pengujian digunakan bentuk taper linear terbalik sebagai bentuk yang mendekati kondisi streamline. 2.3.8.2. Prinsip Prinsip Sudu Turbin angin menggunakan prinsip prinsip aerodinamika seperti halnya pesawat.

Gambar 2.6. Penamaan bagian sudu Keterangan : = sudut kontak = sudut antara garis tengah cord line dan arah dari angin, VR . VR = kecepatan angin yang terdeteksi oleh sudu vector jumlah dari V (aliran angin) dan R (kecepatan ujung ujung sudu). 1.3.9.3. Sifat Sifat Sudu Sifat-sifat sudu mempengaruhi kecepatan putar sudu :
21

a. Gaya angkat tegak lurus dengan arah gerakan. Kita berharap dapat membuat gaya angkat yang besar. b. Gaya tarik sejajar dengan arah gerakan. Kita menginginkan gaya ini kecil.

Gambar 2.7. Pergerakan sudu akibat hembusan angin Dalam membuat sudu yang baik ada beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya : a. Berbentuk kurva gradual - Gradual curves b. Sudut ekor yang tajam - Sharp trailing edge c. Sudut depan yang bundar - Round leading edge d. Perbandingan ketebalan dengan chord - Low thickness to chord ratio e. Permukaan yang halus - Smooth surfaces 2.3.9. Syarat syarat perhitungan produksi energy Di dalam perhitungan energi dari turbin angin mempertimbangkan faktor-faktor berikut : a. Daya angin = . . A . V3 b. Betz Limit = secara teori mempunyai efesiensi 59% maksimal c. Koefisien tarik = Cd d. Daya rata rata = daya maksimal yang dapat dihasilkan generator. e. Faktor kapasitas = energi sesungguhnya / energi maksimal f. Kecepatan angin masuk dimana energi mulai dihasilkan. g. Kecepatan angin terakhir dimana produksi energi berakhir.

22

Gambar 2.8. Kurva daya terhadap kecepatan angin saat menggerakkan sudu

2.3.10. Hubungan Antara Koefisien Daya Dengan Tip Speed Ratio Tip speed ratio mempengaruhi besaran koefisien daya. Hubungan ini digambarkan sebagai berikut : a. Koefisien daya bergantung pada perbandingan ujung sudu. b. Ditandai dengan kurva Cp berbanding dengan perbandingan kecepatan ujung sudu - Tip Speed Ratio Curve.

Gambar 2.9. Kurva hubungan koefisien daya dengan tip speed ratio

23

2.4. Deskripsi Alat

Gambar 2.10. Skema alat Keterangan gambar : 1. Sudu Sudu berfungsi sebagai penangkap energi potensial yang terdapat pada angin 2. Jari-jari sudu Jari jari sudu berfungsi sebagai rangka penguat sudu serta menghubungkannya dengan puli 3. Puli Puli berfungsi sebagai rotor hub (pusat dari kedudukan sudu) dan menghubungkan dengan mekanisme poros utama yang ada dibelakangnya. 4. Bearing (pertama). Bearing atau bantalan berfungsi sebagai penumpu poros supaya dapat berputar dengan baik. 5. Chasing (penutup) Chasing atau penutup berfungsi sebagai pelindung dan juga sebagai penambah nilai estetika dari turbin angin
24

6. Poros Poros berfungsi sebagai penyalur daya dari putaran sudu ke roda penggerak dan diteruskan ke generator. 7. Bearing (kedua) Bearing atau bantalan berfungsi sebagai penumpu poros supaya dapat berputar dengan baik. 8. Roda penggerak Roda penggerak berfungsi untuk mentransmisikan daya dari poros ke generator. 9. Dudukan generator Dudukan generator berfungsi sebagai pemegang generator. 10. Ekor Ekor berfungsi penyesuai arah kedudukan sudu terhadap arah datangnya sumber angin. 11. Kerangka atas Kerangka atas berfungsi sebagai tempat kedudukan keseluruhan mekanisme berada dan berfungsi menurut kedudukannya. 12. Generator Generator berfungsi sebagai pembangkit energi listrik. 13. Bearing (ketiga) Bearing ketiga berfungsi tumpuan berputarnya kerangka atas untuk menyesuaikan arah datangnya angin. 14. Lampu Lampu berfungsi sebagai beban untuk menandakan ada atau tidak adanya arus listrik yang ditimbulkan oleh generator yang bekerja. 15. Poros sumbu vertikal Poros sumbu vertikal berfungsi sebagai tumpuan mekanisme poros diatasnya menyesuaikan arah putaran angin. 16. Tiang utama Tiang utama berfungsi sebagai penyangga keseluruhan mekanisme yang ada diatasnya. 17. Foundations (dasar) Foundations atau dasar berfungsi sebagai tumpuan dari tiang penyangga. untuk

25

BAB III PERANCANGAN SUDU KINCIR

3.1. Data-Data Dari Pembangkit Listrik Dengan Sudu Kincir. Efisiensi angin dipengaruhi oleh kecepatan angin dan jenis angin tersebut, serta titik rancangan dan jenis kincir yang digunakan. Pengambilan data yang diperlukan untuk pengamatan dilakukan dengan menggunakan kincir angin dengan dimensi sebagai berikut:

Gambar 3.1. Skema penampang sudu

26

2.2. Perancangan Sudu Bahan sudu Diameter sudu Lebar tiap sudu Panjang tiap sudu Luas tiap sudu = Mika =1m = 0,23 m (atas), = 0,4 m = (sisi atas + sisi bawah) x tinggi = (0,23 + 0,13) x 0,4 = 0,072 m2 0,13 m (bawah)

2.3. Perhitungan pada Poros Menurut pembebanannya maka poros diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis sebagai berikut: a. Poros trasmisi adalah bagian mesin yang berputar, biasanya bentuk penampangnya bulat, digunakan untuk memindahkan daya melalui putaran.Penerusan daya dilakukan melalui roda gigi, kopling, puli sabuk, sprocket rantai. b. As atau gandar bentuknya seperti poros tetapi biasanya tidak berputar, tidak memindahkan torsi, dan digunakan untuk menumpu roda yang berputar, pulley, roda gigi dsb. c. Spindle (poros mesin) adalah poros pendek yang merupakan bagian yang menyatu dengan mesinnya.

Hal-hal penting di dalam perhitungan poros: 1. Tegangan dan kekuatan 2. Kekuatan a. Kekuatan statis b. Kekuatan kelelahan c. Keandalan 3. Defleksi dan ketegaran (rigidity) a. Defleksi bengkok
27

b. Defleksi puntir c. Slope pada bantalan dan elemen-elemen penumpu poros d. Defleksi geser akibat beban melintang pada poros pendek 4. Keterangan-keterangan poros Di dalam perhitungan gaya pada poros kincir angin horizontal bersudu banyak di dapatkan datadata sebagai berikut: Bahan poros = S 35 C Tabel 3.1 Baja Karbon untuk kontruksi Mesin ( Sularso,2004, hal. 3)

Diameter poros (ds) = 19 mm 1. Daya yang ditransmisikan (P) P = x x A x v 3 x Cd = 0,161553 kW 2. Putaran poros (n1) = 361 rpm 3. Faktor koreksi (fc) = 1,2 4. Daya rencana (Pd) = fc x P
28

= 0,1938 kW 5. Momen rencana (T) = = 522,88 kg.mm 6. Gaya-gaya akibat roda gigi

a. Gaya tangensial (Ft) = = 10,74 kg b. Gaya radial (Fr) = 0,364 x Ft = 3,91 kg c. Gaya aksial (FA) Gaya aksial pada pengujian ini adalah gaya yang searah dengan datangnya angin dan ditahan di bantalan RA. Dalam pengujian gaya aksial tidak dianalisa karena besarnya gaya aksial tidak dipakai dalam perhitungan kincir.

7. Perhitungan Defleksi Pada Poros A. Pengambaran BMD a. Akibat Ft (horisontal) Dimisalkan arah Ft dari bawah

AB = 0,17 m,

BC = 0,06 m
29

MA = 0 Ft x (AB + BC) = RB x AB 10,74 kg x (0,17 m + 0,06 m) = RB x 0,17 m RB = 14,53 kg Fy = 0 RA = RB Ft = 14,53 kg 10,74 kg = 3,79 kg

Penggambaran dari sisi kanan MB1 = Ft x BC = 10,74 kg x 0,06 m = 0,6444 kg.m MA = Ft x (BC+AB) RB x AB = 10,74kg (0,06 m+0,17) 14,53 kg x 0,17m = 0

b. Akibat Fr (vertikal)

AB = 0,17 m, BC = 0,06 m MA = 0 Fr x (AB + BC) = RB x AB


30

3,91 kg x (0,17 m+0,06 m) = RB x 0,17 m RB = 5,29 kg Fy = 0 RA = RB Fr = 5,29 kg 3,91 kg = 1,38 kg

Penggambaran dari sisi kanan MB2 = Fr x BC = 3,91 kg x 0,06 m = 0,2346 kg.m MA = Fr x (BC + AB) RB x AB = 3,91 kg (0,06 m + 0,17 m) 5,29 kg x 0,17 m = 0

= 0.64442 + 0.23462 = 0,6858 kg,m

Defleksi a. Diagram M/EI

b. Batang AB B = - 3,142 x 10-4 rad


31

c...Batang BC B = - 1,144 x 10-4 rad

32

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISIS DATA

4.1 Metode Pegumpulan Data Penyusunan laporan kincir angin sumbu horisontal bersudu banyak ini menggunakan beberapa sumber sebagai acuan teoritis di dalam membuat kincir angin dan menganalisa datadata yang diperoleh melalui pengujian. Di dalam penyusunan digunakan pengumpulan data melalui beberapa pengujian pada tingkat sudut sudu yang berbeda sehingga didapatkan beberapa data yang dibandingkan untuk mengetahui pada sudut sudu manakah yang akan memberikan koefisien daya (Cp) yang paling besar.

4.2 Variabel Pengujian Pengujian kincir angin sumbu horisontal bersudu banyak menggunakan beberapa variable pengujian. Berikut ini adalah beberapa variable pengujian : Posisi sudut sudu diatur pada: a. 15 0 b. 300 c. 450 d. 600 e. 750 f. 850

Dari pengujian kincir angin tersebut didapatkan beberapa data yang diperlukan untuk membandingkan pada sudut sudu yang akan memberikan hasil yang paling maksimal pada beberapa posisi kincir ditandai dengan semakin cepatnya putaran poros dan lampu menyala terang hingga maksimal. A. Pengujian Pada Kincir Angin Dengan Sudu 8 Buah dengan : n1 = putaran roda penggerak (rpm) n2 = putaran kepala dinamo (rpm) v = tegangan (volt)
33

I = arus (ampere) Tabel 4.1. Hasil pengujian dengan sudut sudu 150

Tabel 4.3. Hasil pengujian dengan sudut sudu 450

34

Tabel 4.4. Hasil pengujian dengan sudut sudu 600

Tabel 4.5. Hasil pengujian dengan sudut sudu 750

Tabel 4.6. Hasil pengujian dengan sudut sudu 850

35

Tabel 4.7. Hasil rata rata pengujian dengan variasi sudut

Gambar 4.1. Grafik hubungan antara sudut sudu dengan tegangan yang dihasilkan

36

Gambar 4.2. Grafik hubungan antara sudut sudu dengan arus yang dihasilkan

Gambar 4.3. Grafik hubungan antara sudut sudu dengan daya yang dihasilkan Tabel 4.8. Hasil pengujian dengan sudut sudu 150

37

Tabel 4.9. Hasil pengujian dengan sudut sudu 300

Tabel 4.10. Hasil pengujian dengan sudut sudu 450

Tabel 4.11. Hasil pengujian dengan sudut sudu 600

38

Tabel 4.12. Hasil pengujian dengan sudut sudu 750

Tabel 4.13. Hasil pengujian dengan sudut sudu 850

39

Tabel 4.14. Hasil rata rata pengujian dengan variasi sudut

Gambar 4.4. Grafik hubungan antara sudut sudu dengan tegangan yang dihasilkan

40

Gambar 4.5. Grafik hubungan antara sudut sudu dengan arus yang dihasilkan.

Gambar 4.6. Grafik hubungan antara sudut sudu dengan arus yang dihasilkan.

4.3 Analisis data 4.3.1 Menghitung daya angin Dari tabel sebelumnya dapat dilihat besarnya daya yang dihasilkan dari angin tergantung dari berbagai variasi kecepatan angin dan sudut sudu. Bila kecepatan angin yang digunakan dalam perhitungan adalah v = 7 m/s, maka didapatkan daya angin :

Daya angin (power) daya = x x A x V3 = x 1.2 kg/mm3 x (3,14 x 0,25 m2 ) x (7 m/s)3 = 161,553 Watt = 0,161553 kW Hasil perhitungan daya angin pada kecepatan angin 7 m/s adalah daya pada angin yang tersedia dan merupakan daya potensial. Daya pada angin ini bukanlah daya yang dibangkitkan oleh kincir angin horizontal bersudu banyak. Untuk mendapatkan daya pada kincir angin yang
41

sesungguhnya maka harus dikalikan terlebih dahulu dengan efesiensi daya (coefficient of power) atau dengan bilangan betz limits.

Daya Kincir Daya kincir adalah daya yang dapat dibangkitkan oleh kincir, ditandai dengan menyalanya lampu pengujian dan terukur multimeter akibat adanya daya listrik untuk mendapatkan harga tegangan dan arus listrik.

3.3.2 Menghitung Koefisien Daya (Cp) Yang Dihasilkan Koefisien daya, Cp, adalah perbandingan antara daya yang dibangkitkan oleh kincir (dilihat dari harga tegangan dikalikan arus) dengan daya dari angin yang tersedia untuk tiap luasan area.

Pada kincir dengan delapan sudu a. Sudut 150 Cp = Daya kincir / Daya angin = 1,997708 Watt / 161,553 Watt = 0, 012 b. Sudut 300 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,062368 Watt / 161,553 Watt = 0, 012 c. Sudut 450 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,428588 Watt / 161,553 Watt = 0, 015 d. Sudut 600 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,607616 watt / 161,553 watt = 0, 016
42

e. Sudut 750 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,482515 watt /161,553 watt = 0, 015 f. Sudut 850 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,003621 watt / 161,553 watt = 0, 012 Pada kincir dengan empat sudu a. Sudut 150 Cp = Daya kincir / Daya angin = 1,997708 Watt / 161,553 watt = 0, 012 b. Sudut 300 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,021547 watt / 161,553 Watt = 0, 012 c. Sudut 450 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,313874 watt / 161,553 watt = 0, 015 d. Sudut 600 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,572011 watt / 161,553 watt = 0, 016 e. Sudut 75
0

Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,648919 watt /161,553 watt


43

= 0, 016 f. Sudut 850 Cp = Daya kincir / Daya angin = 2,185736 watt = 0, 013 Dari perhitungan Cp di atas dapat dianalisa dalam tabel berikut: Tabel 3.15. Hasil Cp pada pengujian kincir dengan 8 sudu

Tabel 3.16. Hasil Cp pada pengujian kincir dengan 4 sudu

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa perubahan sudut mempengaruhi besarnya Cp. Pada kincir dengan delapan sudu nilai Cp akan maksimal pada sudut 600, pada sudut di atas 600 harga Cp akan turun. Sedangkan pada kincir dengan 4 sudu harga Cp yang paling tinggi pada sudut 750. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran titik maksimum sebesar 150. Semakin besarnya harga Cp menunjukkan sudu berfungsi maksimal sebagai penangkap angin.

44

BAB V PEMELIHARAAN KINCIR


Kegiatan pemeliharaan dan servis instalasi kincir angin sangat penting dan mutlak dilakukan. Kegiatan pemeliharaan secara periodik dapat dibagi sebagai berikut:

4.1. Sisi Ekonomi Dan Pemanfaatan Harga turbin angin berukuran adalah antara Rp 54 juta hingga Rp 200 juta, tergantung ukuran dan pemakaiannya. Turbin angin vertikal pada umumnya 10 hingga 20% lebih mahal dibandingkan dengan turbin angin horizontal dengan kapasitas yang sama. Harga turbin angin hanya 15% hingga 45% dari biaya total menginstal sistemenergi angin berukuran kecil. Sebagai patokan umum: Biaya sistem tenaga angin adalah antara Rp 9 juta dan Rp 45 juta per kW dari kapasitas terpasang. Keterlibatan yang intensif dari penduduk desa pada proyek dari awal hingga seterusnya Pemeliharaan yang dilaksanakan dengan baik serta pelatihan penduduk desa. Potensi ekonomi dari proyek sebelum layanan penyediaan listrik Akibat evaluasi kebutuhan masyarakat yang tidak memadai .Dikarenakan kajian sumber angin yang buruk serta pemilihan teknologi yang tidak tepat. Akibat kurangnya suku cadang. Pilihan turbin angin harus disesuaikan dengan kecepatan angin yang ada di lokasi. Kinerja biaya (costperformance) turbin angin yang relatif dengan sumber angin yang tersedia di lokasi merupakan parameter untuk dipertimbangkan. 4.2. Sistem Energi Dan Penggunaannya Untuk pemakaian skala rumah tangga, maka sistem berdiri sendiri (stand-alone system) hanya mungkin untuk angin yang banyak dan cepat (7m/detik), sistem hybrid tidak akan menarik secara ekonomis.Untuk pemakaian di desa, sistem berdiri sendiri dengan genset diesel cadangan hanya akan beroperasi dengan baik jika tersedia angin yang banyak. Sistem hybrid akan lebih sesuai jika sumber angin terbatas.
45

Sistem Energi terdiri dari : 1. Kerja sama Proyek dimulai dengan kerjasama antara Lembaga Penerbangan dan antariksa nasional dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep. Dimulai dengan survei dan pengukuran potensi angin, setelah mendapatkan data angin yang cukup dilakukan kajian untuk pembangunan desa energi angin.Kerjasama dilakukan dengan Bappeda pada tahap penelitian dan dinas Pertambangan dan Energi pada saat implementasi. 2. Pemilihan lokasi Pemilihan lokasi diawali dengan survei dan pengukuran potensi angin, Lokasi yang dipilih adalah suatu desa yang terpencil di pulau yang belum mendapatkan aliran listrik. 3. Teknologi yang Tepat Dipilih teknologi turbin angin dengan konstruksi dan sistem yang sederhana serta dilengkapai dengan diesel cadangan. Aplikasinya untuk penerangan sarana umum dan beberapa rumah penduduk. 4. Detil teknis & modifikasi Sistem terdiri dari 6 unit turbin angin dan 1 unit diesel generator, dengan kapasitas total 25,7 kW dan genset 20 kW. Dilengkapi dengan baterai bank dan inverter. 5. Biaya & Pendanaan Pembangunan didanai oleh LAPAN yang mengadakan sistem pembangkit dan Pemda Sumenep yangmembangun rumah kontrol / monitor. 6. Manajemen proyek & waktu Selesai dibangun, manajemen dan pengelolaan proyek diserahkan kepada kumpulan yang dibentuk, dilatih dan diawasi oleh Pemda Sumenep. Penanggung jawab proyek adalah LAPAN dan Pemda Sumenep. Pelaksanaan pembangunan proyek dapat selesai sesuai jadwal yang direncanakan. Kesulitan dalam transportasi dapat diatasi dengan memberdayakan masyarakat untuk mengangkut barang barang komponen PLTB dan genset. Ijin lokasi diatur oleh Pemerintah Daerah 7. pelatihan & perawatan Pelatihan diberikan kepada perwakilan komunitas yang dilibatkan selama proses pembangunan PLTB, dari penentuan lokasi, pembuatan pondasi, pendirian tower, merakit dan memasang turbin
46

angin, memasang peralatan listrik, batere dan inverter dan tata cara pengoperasian, perawatan dan perbaikan. Setelah selesai instalasi, dilakukan pelatihan dan praktek langsung di lapangan. Penanggungjawab pelatihan adalah LAPAN sebagai pemilik proyek dan Lembaga desa yang dibentuk oleh Pemda 8. Pengawasan Monitoring dilakukan secara berkala namun tidak dipasang peralatan pencatat otomatis (data akuisisi). Hasil yang diporoleh masih kurang dari yang diharapkan. Terjadi penambahan beban yang tidak direncanakan sehingga inverter sering mengalami kerusakan karena over load. 9. Keberlanjutan Atensi dan kerjasama dengan pemerintah setempat harus harmonis (mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan , desa sampai ke RT/RW) Masyarakat dan tokoh dilibatkan sejak awal proyek sebagai sarana sosialisasi tentang sumber energy terbarukan, batasan-batasan dan sifat yang biasanya untuk lokasi spesifik dan kondisi alam. Dibentuk pengelola sistem dari masyarakat setempat yang dibina oleh institusi tingkat Kecamatan atau Kebupaten. Pelatihan dan pendampingan kepada pengelola dan masyarakat, agar paham tentang seluk beluk permasalahan dan keterbatasan sistem pembangkit energi terbarukan, sehingga sadar untuk optimasi

pemanfaatannya sesuai dengan sumber daya yang diperoleh. Keberlangsungan operasional memerlukan biaya operasional, biaya perawatan dan perbaikan dapat dikumpulkan dari iuran masyarakat pengguna. Apabila iuran tidak mencukupi, pemerintah daerah diharapkan memberikan bantuan subsidi untuk perawatan tersebut. Pada beberapa kasus, pemerintah daerah tidak membiayai kekurangan biaya operasional dari sistem, sementara dalam MOU kerjasama dengan pemerintah pusat (yang membangun proyek), pemerintah daerah berkontribusi untuk menyediakan biaya OM guna membantu kekurangan biaya dari hasil yang dikumpulkan oleh pengelola dan masyarakat pengguna 10. Kesulitan Lokasi yang terpencil dan hanya dapat dijangkau dengan perahu kecil, kesulitan utama yang dihadapi selama instalasi berupa masalah transportasi peralatan PLTB dan generator diesel yang cukup berat .

47

4.3. Pemeliharaan Periodik Pengawasan sehari-hari dengan tujuan untuk memeriksa secara menyeluruh kondisi dan bekerjanya kincir. Pemeliharaan periodik berupa : a. Baling-baling Keadaan mika sudu harus selalu diperiksa, bila mengalami keretakan maka perlu diganti dan diperiksa pula kekencangan mur dan baut pengikat mika dan sudu. b. Poros Poros diusahakan dipilih dari bahan yang kuat dan tahan korosi. Perawatannya diberi pelumas pada bagian yang terhubung dengan bantalan dan di tempatkan pada rumahan untuk melindungi dari pengaruh luar. c. Bantalan Bantalan adalah elemen mesi yang menumpu dan menerima beban dari poros dan baling-baling yang terus berputar. Bantalan diberi pelumas agargesekan dengan poros dapat diperkecil dan komponen dapat bekerja secara halus dan panjang umur. d. Kerangka Untuk mencegah kerangka dari pengaruh korosi maka perlu dilakukan pengecatan e. Generator penghasil listrik Pemeriksaan generator bertujuan untuk mengetahui keadaan generator dan arus yang dihasilkan. Pemberian pelumas secukupnya pada gigi pinion untuk mengurangi gesekan yang timbul. 4.4. Pelumasan Pemberian minyak pelumas antara dua permukaan bantalan dan poros yang bersinggungan, dengan tekanan sehingga saling bergerak atau bergesekan satu terhadap dengan yang lain disebut pelumasan. Tujuan pelumasan adalah: a. Mengurangi keausan dengan menurunkan gesekan. b. Mendinginkan permukaan dengan mengurangi panas yang diakibatkan oleh gesekan. c. Membersihkan permukaan dengan mencuci butiran logam yang dihasilkan keausan. d. Merapatkan ruangan yang kosong.
48

e. Bahan pelumas harus mencegah karat, mencuci kotoran dan serpihan keausan sehingga melindungi permukaan bahan juga menghindarkan dari penegangan lebih. Dengan melakukan peralatan secara teratur dapat membuat alat tetap dalam kondisi baik dan dapat bekerja dalam waktu yang lama. Karena pada umumnya kincir ini ini ditempatkan di luar dan hampir semua komponen terbuat dari logam sehingga mudah terpengaruh oleh suhu dan cuaca sekitar.

49

BAB VI KESIMPULAN DAN PENUTUP


5.1. Kesimpulan Dari perhitungan-perhitungan dan percobaan diatas, secara singkat dapat diambil kesimpulan-kesimpulan. 1. Sumber energi adalah angin dengan kecepatan 6 m/s 2. Ukuran kincir Sudu a. Bahan sudu = mika - acrylic b. Lebar tiap sudu bawah = 0,13 meter atas = 0,23 meter c. Tinggi tiap sudu = 0,4 meter d. Diameter keseluruhan = 1 meter e. Diameter rangka sudu = 0,08 meter Poros a. Bahan = poros Baja Karbon S 35 C b. Panjang poros = 0,33 meter c. Diameter poros = 0,19 meter d. Diameter puli = 0,2 meter Kerangka Tinggi kerangka = 1,5 meter Ekor = 0,4 x 0.3 meter Bahan pelumas = gemuk, 5.1.1. Kincir Kincir merupakan sebagai penerus putaran dari aliran angin, sehingga kincir dapat berputar. Kincir tersebut mengubah tenaga potensial untuk menghasilkan putaran, putaran tersebut diteruskan untuk memutarkan generator. Putaran pada kincir juga tergantung dari
50

kecepatan angin, semakin cepat aliran angin maka semakin cepat pula putaran yang dihasilkan kincir tersebut. Maka dari itu bantalan putar pada kincir perlu mendapatkan perawatan ekstra untuk menjaga agar putaran pada kincir dapat terjaga dengan baik dari aus dan korosi. 5.1.2. Poros Pada saat kincir berputar ada suatu poros untuk menahan agar kincir dapat berputar dengan stabil. Dari situ pula poros berperan untuk menahan dari beban puntir dan lentur, sehingga kelelahan tumbukan tegangan diameter poros di perkecil. Untuk mendapatkan suatu poros yang dapat menghindari kejadian tersebut dilakukan suatu perhitungan untuk memilih diameter poros yang cocok untuk menahan dari beban puntir dan lengkung tersebut. 5.1.3 Bantalan Dari situ pula dapat dilakukan untuk memilih berbagai macam bantalan untuk menahan beban yang diterima dari suatu poros. Ada berbagai macam bantalan, untuk memilih bantalan tersebut dapat ditentukan melalui diameter poros yang digunakan. Dalam perawatan bantalan juga harus mendapatkan perawatan, bahwa bantalan tersebut juga dapat yang mengakibatkan suatu kincir berputar dengan kecepatan tinggi. Maka bantalan tersebut harus mendapatkan pelumasan yang cukup untuk menghindari dari temperatur yang tinggi akibat gesekan pada bantalan yang berputar dengan kecepatan tinggi. 5.1.4. Roda penggerak Dalam hal ini roda penggerak berperan sebagai penerus putaran dari kincir ke generator. 5.1.5 Generator Generator merupakan komponen listrik yang mengubah gerakan atau energy menjadi listrik.

5.2. Penutup Penulis mengucapkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmatNya sehingga Rancang Bangun Mesin dapat diselesaikan. Baik dalam perancangan maupun dalam pembuatan alat. Penulis menyadari bahwa masih benyak kekurangan dalam perancangan dan pembuatan alat, pleh karena itu kritik dan saran dari Pembaca sangat Penulis harapkan untuk kemajuan.
51

Penulis juga mohon maaf apabila dalammenyajikan Rancang Bangun Mesin ini terdapat penulisan yang tidak berkenan. Dan akhir kata, semoga Rancang Bangun Mesin ini dapat berguna bagi pembaca.

Daftar Pustaka 1. Arismunandar, W. Penggerak Mula Turbin. Bandung: ITB PRESS 2. Makalah Hasim Hanafie, PT Bumi Energi Equatorial, 2007, 3. Nieman, G. 1984. Elemen Mesin. Jakarta: Erlangga. 4. Sudibyo, Roda Gigi I, Surakarta: ATMI 5. Sularso, 1980. Dasar Perancangan dan Pemilihan Elemen Mesin. Jakarta: Pradnya 6. Paramita 7. www.wikipedia.org

52