BAB II KONDISI UMUM KOTA SEMARANG 2.1.

KONDISI SAAT INI Kota Semarang merupakan Ibukota Propinsi Jawa Tengah, berada pada perlintasan Jalur Jalan Utara Pulau Jawa yang menghubungkan Kota Surabaya dan Jakarta. Secara geografis, terletak diantara 109o 35„ – 110o 50„ Bujur Timur dan 6o 50‟ – 7o 10‟ Lintang Selatan. Dengan luas 373,70 km2, Kota Semarang memiliki batas-batas wilayah administrasi sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah Selatan Sebelah Timur Sebelah Barat : Laut Jawa : Kabupaten Semarang : Kabupaten Demak : Kabupaten Kendal

Sebelum tahun 1976 luas Kota Semarang 99,40 km2 dan setelah terjadinya pemekaran sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 1976, dengan menggabungkan sebagian wilayah Kabupaten Semarang, sebagian Kabupaten Kendal, sebagian Kabupaten Demak luas wilayah Kota menjadi 373,70 km2. Curah hujan tahunan kota Semarang rata-rata sebesar 2.790 mm, suhu udara berkisar antara 22,60 C sampai dengan 32,10 C, dengan kelembaban udara tahunan rata-rata 77%. Wilayah Kota Semarang seluas 373,70 km2 dengan jumlah penduduk pada tahun 2005 sebesar 1.419.478 jiwa. Kota Semarang terbagi menjadi 16 Kecamatan dan 177 Kelurahan. Dari 16 kecamatan yang ada, terdapat 2 kecamatan yang mempunyai wilayah terluas yaitu kecamatan Mijen (57,55 km2) dan Kecamatan Gunungpati (54,11 km2). Kedua Kecamatan tersebut terletak dibagian selatan yang merupakan wilayah perbukitan dan sebagian besar wilayahnya terdapat areal persawahan dan perkebunan. Sedangkan kecamatan yang mempunyai luas terkecil adalah Kecamatan Semarang Selatan (5,93 km2) diikuti oleh Kecamatan Semarang Tengah (6,14 km2) .

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 1

Secara topografis Kota Semarang terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai, dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan dan tonjolan. Daerah pantai 65,22% wilayahnya adalah dataran dengan kemiringan 25% dan 37,78 % merupakan daerah perbukitan dengan kemiringan 15-40%. Kondisi lereng tanah Kota Semarang dibagi menjadi 4 jenis kelerengan yaitu lereng I (0-2%) meliputi kecamatan Genuk, Pedurungan, Gayamsari, Semarang Timur, Semarang Utara dan Tugu, serta sebagian wilayah Kecamatan Tembalang, Banyumanik dan Mijen. Lereng II (2-5%) meliputi Kecamatan Semarang Barat, Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati dan Ngaliyan, lereng III (15-40%) meliputi wilayah di sekitar Kaligarang dan Kali Kreo (Kecamatan Gunungpati), sebagian wilayah kecamatan Mijen (daerah Wonoplumbon) dan sebagian wilayah Kecamatan Banyumanik, serta Kecamatan Candisari. Sedangkan lereng IV (> 50%) meliputi sebagian wilayah Banyumanik (sebelah tenggara), dan sebagian wilayah Kecamatan Gunungpati, terutama disekitar Kaligarang dan Kali Kripik. Kota Bawah yang sebagian besar tanahnya terdiri dari pasir dan lempung. Pemanfaatan lahan lebih banyak digunakan untuk jalan, permukiman atau perumahan, bangunan, halaman, kawasan industri, tambak, empang dan persawahan. Kota Bawah sebagai pusat kegiatan pemerintahan, perdagangan, perindustrian, pendidikan dan kebudayaan, angkutan atau transportasi dan perikanan. Berbeda dengan daeah perbukitan atau Kota Atas yang struktur geologinya sebagian besar terdiri dari batuan beku. Wilayah Kota Semarang berada pada ketinggian antara 0 sampai dengan 348,00 meter dpl (di atas permukaan air laut). Secara topografi terdiri atas daerah pantai, dataran rendah dan perbukitan, sehingga memiliki wilayah yang disebut sebagai kota bawah dan kota atas. mempunyai ketinggian 90,56 Pada daerah perbukitan - 348 MDPL yang diwakili oleh titik tinggi yang

berlokasi di Jatingaleh dan Gombel, Semarang Selatan, Tugu, Mijen, dan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 2

Gunungpati, dan di dataran rendah mempunyai ketinggian 0,75 MDPL. Kota bawah merupakan pantai dan dataran rendah yang memiliki kemiringan antara 0% sampai 5%, sedangkan dibagian Selatan merupakan daerah dataran tinggi dengan kemiringan bervariasi antara 5%-40%. Secara lengkap ketinggian tempat di Kota Semarang dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Table 2.1 KETINGGIAN TEMPAT DI KOTA SEMARANG
No.
1. 2.

Bagian Wilayah
Daerah Pantai Daerah Dataran Rendah - Pusat Kota (Depan Hotel Dibya Puri Semarang) - Simpang Lima Daerah Perbukitan - Candi Baru - Jatingaleh - Gombel - Mijen - Gunungpati Barat - Gunungpati Tmur

Ketinggian (MDPL)
0,75 2,45 3,49 90,56 136,00 270,00 253,00 259,00 348,00

3.

Sumber : Kota Semarang Dalam Angka Tahun 2005

Didalam proses perkembangannya, Kota Semarang sangat dipengaruhi oleh keadaan alamnya yang membentuk suatu kota yang mempunyai ciri khas yaitu terdiri dari daerah perbukitan, dataran rendah dan daerah pantai. Dengan demikian topografi Kota Semarang menunjukkan adanya berbagai kemiringan tanah berkisar antara 0 persen sampai 40 persen (curam) dan ketinggian antara 0,75 – 348,00 MDPL. Di Kota Semarang mengalir 9 (sembilan) sungai besar dan beberapa sungai kecil, adapun 9 sungai besar tersebut antara lain sungai Banjir Kanal Timur, Banjir Kanal Barat, Kali Babon, Kali Kreo, Kali Kripik, Kaligarang, Kali Semarang, Kali Bringin, dan Kali Plumbon. Sedangkan penanganan drainase di Kota Semarang terbagi atas dua karakteristik wilayah, yaitu penanganan daerah atas dan daerah bawah. Penanganan daerah atas terbagi ke dalam beberapa pelayanan DAS, yaitu DAS Babon, DAS Banjir Kanal Timur, DAS Banjir Kanal Barat, DAS Silandak/Siangker, DAS Bringin dan DAS Plumbon. Sementara bagian bawah

terbagi kedalam empat sistem drainase meliputi sistem Drainase Semarang Timur, Sistem Drainase Semarang Tengah, Sistem Drainase Semarang Barat dan
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 3

Sistem Drainase Semarang Tugu. Arah pembangunan pembangunan manusia pembangunan. Semarang dapat dilihat Kota Semarang sangat berkaitan dengan subyek maupun obyek secara makro di Kota makro yaitu Indeks yang sejahtera sebagai dari salah satu

Kemajuan pembangunan manusia indikator

Pembangunan Manusia (IPM).

Peningkatan angka IPM di Kota Semarang

secara umum masih lamban, dari perkembangan IPM selama 10 tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata 1 % pertahun. Pada tahun 2005 IPM Kota Semarang mencapai 75,3 % yang terdiri dari indeks pendidikan sebesar 82 % yang meliputi angka melek huruf sebesar 94 % dan rata-rata lama sekolah sebesar 58 %, indek kesehatan sebesar 71,8 % dan indek daya beli masyarakat sebesar 53 %. Walaupun angka IPM mengalami perkembangan yang tidak signifikan namun selama lima tahun terkahir pembangunan Kota Semarang telah menunjukkan arah yang tepat dimana hasil akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun demikian Jumlah penduduk miskin sejak tahun 1993 sampai dengan tahun 2005 mengalami peningkatan rata-rata sebesar 0,21 % pertahun. Peningkatan tersebut dipicu dengan adanya krisis ekonomi yang belum pulih. 2.1.1 2.1.1.1 SOSIAL, BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA Kependudukan dan Keluarga Berencana Jumlah penduduk Kota Semarang menurut data BPS sampai akhir Desember tahun 2005 sebesar 1.419.478 jiwa. Dengan jumlah sebesar itu Kota Semarang termasuk dalam 5 besar Kabupaten/Kota yang mempunyai jumlah penduduk terbesar di Jawa Tengah. Pertumbuhan penduduk selama 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan perkembangan yang semakin meningkat. Jumlah penduduk Kota Semarang tahun 2000 sebanyak 1.309.667 jiwa dan sampai dengan tahun 2005 sebesar 1.419.478 jiwa. Laju pertumbuhan penduduk selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif, dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 1,62 % per tahun.

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 4

Kecamatan Semarang Tengah (1. Kecamatan-kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk tinggi merupakan daerah pengembangan areal perumahan dan industri.43 1.16%). kemudian Kecamatan Genuk (4. 9.581 7.44%).453 2.349 6.95 4.419.146 804 2.549 37. 15.18 66. 16.78 25.7 83.636 10. Gajahmungkur (0. Kecamatan Tembalang (2.478 Kepadatan Penduduk (/km2) 760 1.741 6. Tabel 2.62 % per tahun.248 21.94%. 6. Kecamatan Gunungpati (3.99%). 7.11 62.148 4.93 85.54 80.22%).95%). 13.72%).69 111.738 9. Semarang Barat (1.812 20. 5.662 14.710 7.57%).7 1.2005 dapat dikendalikan dan mengalami penurunan dari 0. hanya pada tahun 2001 yang mengalami pertumbuhan yang meningkatkan yakni 2.57 1.02 %.551 44.16 -1.07 60.38 1.43 1.43%).794 10.39 72. Sedangkan kecamatan-kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk kecil atau bahkan negatif diantaranya adalah II .Laju pertumbuhan penduduk dari tahun 2000 . Tugu (1.752 54.371 12. 3.16%). 10.2 Kepadatan Penduduk dan Pertumbuhan Penduduk Kota Semarang Tahun 2005 No. 14.99 99.424 5. 8.354 31.453 12.68 0.204 6. Kecamatan Mijen Gunungpati Banyumanik Gajahmungkur Semarang Selatan Candisari Tembalang Pedurungan Genuk Gayamsari Semarang Timur Semarang Utara Semarang Tengah Semarang Barat Tugu Ngaliyan Jumlah Luas Wilayah Jumlah (km) Penduduk (jiwa) 57. Dan persebaran laju pertumbuhan pada masing-masing wilayah sampai dengan tahun 2005 mengalami pertumbuhan yang tidak sama.619 Pertumbuhan ( % /thn) 4.661 10.44 -0. kecamatan Gayamsari (0. 4.43%). Kecamatan Ngaliyan (1.42 Sumber Data Semarang Dalam Angka Pertumbuhan penduduk paling tinggi berada di Kecamatan Mijen sebesar 4.865 11.55 43.74 155.22 3. penduduk selama lima tahun Secara kumulatif pertumbuhan terakhir (2000-2005) mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 1.99 0.317 2.704 6.97 124.620 7. 12.14 77.111 25.72 1.2 115.62 -0.38 2.94 3.430 27. 1.5 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .12 0. Kecamatan Pedurungan (3.72 154.16 0.489 373. 11. 2.09 % namun pertumbuhan penduduk dapat dikendalikan kembali sehingga mengalami penurunan.

273 6.162 17.019 26. Kecamatan Semarang Timur (-0.504 Pindah 26. orang tua.172 38.066 34. kematian dan migrasi.910 penduduk yang pergi sebanyak 29.778 7.68%).172 6. Kecamatan Candisari (-0.315 17.172 jiwa. 2005 jumlah kelahiran sebanyak 19. Sebagian besar masyarakat.063 7.910 jiwa dan Tabel 2. Para anak dan remaja lebih merasa nyaman mendiskusikannya secara terbuka II .770 16.2005 Penduduk (jiwa) Mati Datang 6.520 35. Kecamatan Semarang Utara (0.Kecamatan Banyumanik (-1.133 15. jasa.504 jiwa. 8.682 36. maupun remaja belum memahami hakhak dan kesehatan reproduksi remaja.25 persen pasangan usia subur (PUS) menggunakan kontrasepsi.38%). Hal ini sangat Pada tahun dipengaruhi oleh jumlah kelahiran.75 persen PUS yang sebenarnya tidak ingin anak atau menunda kehamilannya. Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Lahir 16.562 19.38%) dan Kecamatan Semarang Selatan (0. Pertumbuhan penduduk untuk masing-masing kecamatan di Kota Semarang kondisinya sangat bervariasi.3 Perkembangan Penduduk Lahir.62%). Pembangunan Keluarga Berencana dan kesejahteraan keluarga. sedangkan 23.107 jiwa.107 Sumber Semarang Dalam Angka Besarnya penduduk yang datang ke Kota Semarang disebabkan daya tarik kota Semarang sebagai kota perdagangan. tidak memakai kontrasepsi (unmet need). jumlah kematian sebanyak penduduk yang datang sebanyak 38.12%).105 8. Pemahaman dan kesadaran tentang hak dan kesehatan reproduksi remaja masih rendah dan tidak tepat.657 29. berdasarkan pendataan keluarga 2002 hanya 76. Masyarakat dan keluarga masih enggan untuk membicarakan masalah reproduksi secara terbuka dalam keluarga. industri dan pendidikan.367 25.948 37. Mati.320 35.390 26.6 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .925 25. Datang dan Pindah Kota Semarang Tahun 2000 .

948 jiwa sampai dengan tahun 2005 sebesar 978. Pendidikan kesehatan reproduksi remaja melalui jalur sekolah belum sepenuhnya berhasil.2 Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian Jumlah penduduk berdasarkan usia produktif selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan rata-rata pertahun sebesar 1.7 . Pada tahun 2000 sebesar 898. menuntut adanya komitmen yang tinggi dari Pemerintah Kota Semarang tentang arti pentingnya pelaksanaan program KB bagi keberhasilan pembangunan. Pemahaman yang tidak benar tentang hak-hak dan kesehatan reproduksi ini menyebabkan banyaknya remaja yang berperilaku menyimpang tanpa menyadari akibatnya terhadap kesehatan reproduksi mereka.1. Indikator ini menunjukkan suatu ukuran dari keberhasilan dalam upaya pengendalian kelahiran. yang kemudian diubah menjadi Kepres Nomor.1. dan agama yang menganggap pembahasan kesehatan reproduksi sebagai hal yang tabu justru lebih populer. Sementara itu.949 jiwa. adalah penduduk usia produktif (15 . budaya. Pemahaman nilai-nilai adat.03 %.dengan sesama teman. banyaknya remaja yang kurang Semua ini mengakibatkan atau mempunyai memahami pandangan yang tidak tepat tentang masalah kesehatan reproduksi.97 % penduduk Kota Semarang 31. pusat atau lembaga advokasi dan konseling hak-hak dan kesehatan reproduksi bagi remaja yang ada saat ini masih terbatas jangkauannya dan belum memuaskan mutunya. Rata-rata kelahiran total selama tahun 2000-2003 dibawah angka 2 Total Fertility Rate (TFR<2). 2. Penyerahan kewenangan Bidang KB kepada Pemerintah Kota sesuai dengan Kepres Nomor 103/2001.64) tahun dan penduduk usia tidak produktif (0-14 dan 65 tahun keatas) sebesar Dari data tersebut diketahui bahwa angka beban tanggungan sebesar Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Sekitar 68.72%. 9/2004.

45 %

yang berarti setiap 100

orang penduduk usia produktif

menanggung sekitar 45 penduduk usia tidak produktif.
Tabel 2.4
Jumlah Penduduk Kota Semarang Berdasarkan Usia Tahun 2000 - 2005 Usia 10 - 14 15 – 65 121,824 898,984 124,659 904,331 128,403 921,325 125,533 951,412 127,440 966,522 978,949 122,614

Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005

0–9 252,386 259,102 268,071 264,201 267,561 278,346

65 + 36,473 34,228 32,206 37,047 37,610 39,569

Jumlah 1,309,667 1,322,320 1,350,005 1,378,193 1,399,133 1,419,478

Sumber Data Semarang Dalam Angka

Struktur

Penduduk

menurut

tenaga

kerja

dapat

digambarkan

berdasarkan pada penduduk usia kerja. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2000 sebanyak 680.150 orang sampai dengan tahun 2005 sebanyak 756.887 orang atau mengalami pertumbuhan rata-rata 2,26% per tahun.
Tabel 2.5
Perkembangan Usia Kerja, Angkatan Kerja, Pencari Kerja, Pengangguran, dan TPAK Kota Semarang Tahun 2000 -2005 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Usia Kerja 898,984 904,331 921,325 951,412 966,522 978,949 Angkatan Pencari Pengangg Kerja Kerja uran 19,491 191,095 680,150 19,514 162,254 686,517 16,020 165,498 685,865 12,133 172,342 600,748 15,166 163,946 609,875 16,484 190,113 756,887 TPAK 75.66% 75.91% 74.44% 63.14% 63.10% 77.32%

Sumber Data Semarang Dalam Angka

Dilihat dari Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) yakni perbandingan antara penduduk usia kerja dengan jumlah angkatan kerja, mulai tahun 2000 sampai dengan 2005 mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Hal tersebut Pada tahun 2005 merupakan pertumbuhan yang paling tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya yakni sebesar 77,32%. menunjukkan bahwa perlunya peningkatan lapangan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 8

pekerjaan yang cukup guna menampung banyaknya penduduk usia kerja. Hubungan industrial tenaga kerja di Kota Semarang sampai tahun 2000 terdapat 326 kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) dan 26 kasus perselisihan hubungan industrial (PHI) sedangkan pada tahun 2005 kasus PHK turun menjadi 263 kasus dan PHI naik menjadi 52 kasus Upaya perluasan kesempatan kerja dalam rangka mengurangi pengangguran telah dilakukan, antara lain melalui penempatan tenaga kerja baik di dalam maupun di luar negeri, penyelenggaraan bursa kerja, dan pengembangan informasi tenaga kerja. Adapun upaya peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja dilakukan melalui berbagai kegiatan pelatihan kerja dan magang. Upaya perluasan kesempatan kerja juga dilakukan melalui program transmigrasi, selama lima tahun terakhir jumlah penempatan transmigrasi pada tahun 2000 dan 2004 tidak ada penempatan transmigrasi asal Semarang sedangkan pada tahun 2001 sampai dengan tahun 2005 masing-masing sebanyak pada tahun 2001 sebanyak 12 KK (52 jiwa), tahun 2002 sebanyak 14 KK (39 jiwa), tahun 2003 sebanyak 2 KK (2 jiwa) dan pada tahun 2005 sebanyak 10 KK(24 jiwa). ditekankan Pelaksanaan pada program transmigrasi tidak semata-mata tetapi pada target pemindahan penduduk,

pencapaian kesejahteraan transmigran dan perannya dalam rangka pengembangan pusat-pusat pertumbuhan di daerah penempatan. 2.1.1.3 Pendidikan Pembangunan pendidikan pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mampu menghadapi setiap perubahan dan diharapkan dapat membentuk manusia seutuhnya yaitu beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 9

jasmani dan rohani, mandiri, bertanggungjawab dan memiliki etos kerja yang tinggi. Perkembangan indikator pendidikan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 mengalami peningkatan yang cukup baik. Keberhasilan pembangunan pendidikan dapat diukur dengan ratarata lama sekolah dan angka melek huruf. Kedua indeks ini menjadi indikator utama dalam indeks pendidikan yang menentukan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Pada tahun 2005 rata-rata lama sekolah di Kota Semarang mencapai 9,6 tahun atau sebesar 58 %, sedangkan angka melek huruf tidak bersekolah.
Tabel 2.6 Perkembangan APK dan APM Pendidikan Kota Semaran Tahun 2000 - 2005
No 1. 2. 3. Jenjang Pendidikan APK SD/MI SLTP/MTs SMA/SMK/MA 105.44 96.32 87.08 102.85 91.48 86.5 101.98 93.64 92.48 103.22 94.49 83.42 100.87 92.34 83.42 109.52 87.19 83.13 2000 2001 Tahun 2002 2003 2004 2005

sebesar 94 %.

Penduduk Kota Semarang yang

masih buta aksara sebagian besar adalah penduduk usia lanjut yang

APM 1. SD/MI 82.24 2. SLTP/MTs 73.76 3. SMA/SMK/MA 70.54 Sumber Data Bappeda Kota Semarang

85.86 68.27 62.1

83.05 66.72 61.43

82.5 69.45 59.57

81.81 67.87 59.57

95.83 76.43 64.23

Dilihat dari Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) pada masing-masing jenjang pendidikan tiap tahun mengalami fluktuatif. Sampai dengan tahun 2005 Angka Partisipasi Kasar (APK) sebesar 109,52 % untuk jenjang pendidikan SD/MI, sebesar 87,19 %, untuk jenjang pendidikan SLTP/MTs dan sebesar 83,13 % untuk jenjang pendidikan SLTA/MA. Sedangkan Angka Partisipasi Murni (APM) untuk SD/MI sebesar 95,83 %, SMP/MTs sebesar 76,43 % dan SMA/SMK/MA sebesar 64,23 %. Pencapaian APM jenjang pendidikan SD termasuk kategori tinggi dibanding APM di sekolah menengah, hal ini disebabkan karena
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 10

faktor sosial budaya yang menyangkut persepsi orang tua yang sempit sehingga kurang menyadari arti pentingnya pendidikan bagi anak serta faktor ekonomi keluarga yang tergolong kurang mampu, menyebabkan anak usia sekolah menengah tidak bersekolah. Kondisi Gedung/ruang Kelas apabila dilihat dari kuantitas sudah cukup memadai namun secara kualitas gedung/ruang sekolah sampai dengan tahun 2005 sangat memprihatinkan khususnya untuk Sekolah Dasar. Jumlah gedung/ruang kelas yang rusak untuk SD/MI sebesar 14,19 %, SLTP/MTs sebesar 32,89 % dan SLTA/SMK/MA sebesar 38,46 %, kondisi ini sangat berpengaruh pada kelancaran kegiatan belajar mengajar.
Tabel 2.7
JUMLAH GEDUNG DAN RUANG KELAS DI KOTA SEMARANG TAHUN 2005 Gedung/Ruang Kelas (unit) Gedung Ruang Kelas 1. SD N 495 2,557 SD Swasta 154 1,553 2. SLTP N 41 803 SLTP Swasta 121 844 3. SLTA N 27 663 SLTA Swasta 114 1,199 Sumber Data Semarang Dalam Angka diolah No Jenjang Pendidikan

Disisi lain jumlah siswa putus sekolah di Kota Semarang khususnya pada jenjang pendidikan tingkat dengan tahun 2005 mengalami peningkatan. SLTA/SMK/MA sampai Pada jenjang jengang

pendidikan SD pada tahun 2005 mengalami penurunan di banding tahun-tahun sebelumnya, namun untuk jenjang pendidikan SMA/SMK mengelami kenaikan yakni menjadi sebesar 0,85%. Hal tersebut disebabkan karena faktor ekonomi dan hampir sebagian besar siswa yang tidak meneruskan sekolah berasal dari keluarga miskin. Masyarakat miskin menilai bahwa pendidikan masih terlalu mahal dan belum memberikan manfaat yang signifikan atau sebanding dengan

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025

II - 11

bahas Inggris. dll. swasta pendidikan non formal/lembaga kursus berjumlah 52 lembaga. Tabel 2.85 1. komputer. Universitas Negeri Semarang (UNNES). SMA/SMK Sumber Bappeda Kota Semarang Sejak tahun 2005 muncul fenomena berkembangnya pendidikan sekolah berskala internasional. Beberapa perguruan tinggi negeri di Semarang antara lain Universitas Diponegoro (UNDIP).07 0.39 0.12 .07 0.78 2005 0. Politeknik Negeri Semarang (POLINES). SD 2.07 0. Sampai dengan tahun 2005. Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .2005 No Jenjang Pendidikan 2000 0.46 0.74 Tahun (%) 2002 2003 0. Dari tahun ke tahun jumlah perguruan tinggi swasta di Kota Semarang semakin meningkat jumlahnya.45 0. antara lain Kondisi dengan dalam latihan jumlah bidang di dilaksanakan formal/balai bergerak serta/partisipasi pendidikan lembaga penyelenggaraan perusahaan atau kerja/penyelenggaraan kursus.06 0. swasta non yang non formal.749 orang. berdasarkan data tahun 2005.74 2001 0.42 0.48 0.05 0. Sekolah Dasar internasional yang pertama berdiri di Kota Semarang adalah Semarang International School. Penyelenggaraan pembangunan melibatkan pendidikan peran pendidikan non formal. SLTP/MTS 3.sumberdaya yang dikeluarkan. Semarang terdapat sejumlah perguruan tinggi ternama. Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi. Politeknik Pelayaran.4 0.75 2004 0.39 0. dengan jenis pelatihan seperti ketrampilan menjahit.8 Perkembangan Angka Siswa Putus Sekolah Kota Semarang Tahun 2000 . tata boga. jumlah lembaga swasta yang menyelenggarakan perguruan tinggi sejumlah 56 unit dengan jumlah mahasiswa sebesar 71. Hal ini menunjukkan bahwa investasi di bidang pendidikan cukup menjanjikan di Kota Semarang.1 0.

2.1. pelopor dan penggerak pembangunan. sekolah. Kondisi perpustakaan umum dan daerah Kota semarang menunjukkan kecenderungan meningkat dari sisi jumlah. Nuswantoro Tujuhbelas Universitas Universitas Stikubank (UNISBANK). koleksi. pengunjung. Universitas Katolik Soegijapranata (UDINUS). Perpustakaan yang ada di Kota Semarang pada tahun 2005 terdiri dari perpustakaan umum dan perpustakaan khusus (universitas. Selain itu pelayanan perpustakaan juga dilakukan melalui Taman Bacaan / perpustakaan diwilayah Kecamatan dan perpustakaan keliling.1.523 orang.1. Pada tahun 2005 Jumlah Taman bacaan/perpustakaan di seluruh wilayah Kecamatan di Kota Semarang sebanyak 176 buah. Perguruan tinggi swasta antara lain Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA). Agustus 1945 (UNIKA).4 Perpustakaan Mencerdaskan kehidupan masyarakat juga dilakukan melalui penyediaan layanan kondisi perpustakaan dan peningkatan minat baca masyarakat.208 buku dengan pengunjung mencapai 24. 2.Walisongo. Kondisi kepemudaan saat ini harus diakui bahwa semangat kepeloporan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . dan lainnya).1. dan fasilitas layanan. IKIP PGRI. Koleksi buku di Perpustakaan di Kota semarang berjumlah 41. Universitas Universitas Muhammadiyah Semarang (UNIMUS) dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Pariwisata (STIEPARI). (UNTAG).13 . dan Akademi Kepolisian (AKPOL). Pemuda dan Olah Raga Pembangunan Pemuda dan olah raga merupakan salah satu upaya dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa sebagai pemimpin.5. Banyaknya penyelenggaraan perguruan tinggi di Kota Semarang menjadikan Kota Semarang sebagai salah satu pusat pendidikan di Provinsi Jawa Tengah. Universitas Semarang Dian (USM).

2.1.355 Jiwa atau 37. lapangan tenis sebanyak 11 buah. lapangan Sepak bola sebanyak 27 buah. Perubahan derajat kesehatan masyarakat antara lain didukung oleh tingkat ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan serta variabel primer lainnya seperti ketersediaan tenaga medis dan paramedis.6.14 . penyalahgunaan narkoba oleh generasi muda. hal ini terlihat dari rendahnya aktifitas olah raga yang dilakukan oleh masyarakat. dan kesadaran masyarakat serta aspek lain yang bersifat sebagai penunjang terhadap kesehatan. kualitas pelayanan. kolam renang sebanyak 8 buah. Hal ini dapat dicermati dari kurang mandirinya organisasi kepemudaan yang ada dan kurangnya koordinasi antar organisasi kepemudaan. Kondisi keolahragaan selama lima tahun terakhir menunjukkan budaya masyarakat untuk berolahraga belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Jumlah fasilitas olahraga di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 adalah sebagai berikut . manajemen. gelanggang olah raga sebanyak 5 buah.5% dari total penduduk Kota Semarang. perilaku seksual menyimpang dan tindak kriminal lainnya.pemuda dalam proses pembangunan daerah masih perlu ditingkatkan.1. Disisi lain sarana dan prasarana olah raga belum mendukung terwujudnya budaya berolahraga. Sampai dengan tahun 2005 jumlah pemuda (penduduk usia 15 – 34 Tahun) di Kota Semarang mencapai 525. lapangan golf sebanyak 4 buah. banyaknya perkelahian antar pelajar. lapangan bola voley sebanyak 74 buah. Kondisi Pembangunan kesehatan dapat dilihat dari 3 (tiga) indikator utama yang berpengaruh Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Kesehatan Pembangunan kesehatan di Kota Semarang selama 10 tahun terakhir menunjukan perubahan yang positif. dan belum dapat menunjukkan prestasi dibidang olah raga secara optimal baik ditingkat nasional maupun ditingkat internasional.

dan pada tahun 2005 Angka Kematian Ibu sebesar 43/1000 Kelahiran Hidup (KH).000 anak balita. Dan kematian Balita mempengaruhi kesehatan dari sebanyak 25 anak. pengaruh lain yang menentukan adalah sulitnya keluarga dalam memutuskan keadaan untuk dirujuk. Kematian tersebut rata-rata terjadi di tempat pelayanan rujukan.terhadap keberhasilan bidang kesehatan yaitu Angka Kematian Ibu (AKI). yaitu di Rumah Sakit akibat keterlambatan rujukan dari pelayanan dasar Bidan Praktek Swasta (BPS).445 Kelahiran Hidup (KH) yang terdiri dari 97 bayi (untuk kematian perinatal dan neonatal). Angka Kematian Bayi (AKB) dan Usia Harapan Hidup (UHH). Jumlah kematian ibu maternal di Kota Semarang pada tahun 2005 sebanyak 10 orang dengan jumlah kelahiran hidup sebanyak 21. Child Mortality Rate (CMR) menggambarkan faktor.faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kesehatan anak balita seperti gizi. penyakit menular dan kecelakaan. Hal ini dapat disebabkan karena terlambat dalam penentuan diagnosa maupun dalam pengambilan keputusan klinik sehingga terlambat sampai ditempat rujukan. Jumlah kematian bayi di Kota Semarang pada tahun 2005 sebesar 122 dari 21.000 KH. Ada banyak faktor yang bayi serta diantaranya kesediaan tinggi tenaga rendahnya medis kematian terampil tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan yang masyarakat untuk merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern. Indikator ini dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial dan tingkat kemiskinan penduduk. sanitasi.15 .445 orang atau 46 orang dari 100. Angka Kematian Bayi (AKB). Angka Kematian Ibu (AKI) mengalami pertumbuhan yang fluktuatif. Angka Kematian Balita (1-4 tahun) adalah jumlah kematian anak usia 1-4 tahun per 1. Menurunnya kematian bayi dalam beberapa tahun terakhir disebabkan adanya peningkatan dalam kualitas hidup pelayanan kesehatan pada masyarakat. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

Angka Harapan Hidup (AHH) Kota Semarang sampai tahun 2005 mencapai 70 tahun. Dan untuk jumlah tenaga medis yang ada di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 baik dari instansi pemerintah maupun Swasta adalah sebanyak 7. yakni dengan masih ditemukannya beberapa kasus penyakit menular. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . angka ini di atas angka harapan hidup tingkat Nasional sebesar 65 tahun.16 . Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Pembantu sebagai ujung pelayanan kesehatan kepada masyarakat dengan jumlah 70 buah sehingga rata-rata tiap kecamatan dilayani oleh 4 buah. Puskesmas. serta didukung oleh fasilitas kesehatan lainnya memberikan gambaran bahwa pelayanan fasilitas kesehatan masyarakat telah mencukupi. Jumlah penderita TB Paru BTA (+) sebanyak 812 kasus . secara rinci jumlah tenaga medis pada setiap jenis sebagaimana tabel dibawah ini. penderita AIDS sebanyak 11 kasus.297 kasus pada tahun 2005. Jumlah Rumah Sakit sebanyak 14 buah. penderita kasus narkoba 41 kasus. hal ini dapat dilihat dari jumlah fasilitas kesehatan yang ada di Kota Semarang. Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan di Kota Semarang. dan NAPSA 102 kasus Kondisi pelayanan kesehatan di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 untuk cakupan pelayanan kesehatan telah menjangkau ke seluruh wilayah. jumlah HIV positif 75 kasus.516 orang.845 kasus.Jumlah ini mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang mencapai 136 anak/bayi. Angka penyakit menular pada tahun 2005 sebagai berikut jumlah penderita DBD sebanyak 2. Puskesmas 37 buah dengan 11 Puskesmas Perawatan dan Puskesmas Pembantu 33 buah. Rumah Sakit Bersalin dan Rumah Bersalin sebanyak 30 buah. jumlah penderita DBD sebanyak 1.

Apotik 18. RS Kusta 4. Dokter Gigi 5 4.10 PERKEMBANGAN FASILITAS KESEHATAN DI KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . Tenaga Keteknisian Medik 0 14. RS Bersalin 6. Kelurahan PKMD 13. Perawat 0 5. Fasilitas Kesehatan Tahun 2002 2003 0 3 8 2 1 1 4 3 31 26 11 34 19 177 1348 1341 9293 7428 187 115 25 37 0 3 8 2 1 1 4 3 29 26 11 34 19 177 1363 1341 8824 7664 201 120 19 41 0 4 8 2 1 1 4 4 31 26 11 34 17 177 1383 1373 9435 7794 230 148 25 44 2000 0 3 8 2 1 0 0 3 3 19 26 11 34 19 177 1344 1337 9214 7486 165 115 25 22 2001 2004 0 4 8 2 1 0 1 4 4 36 26 11 34 37 177 1393 1383 9694 8213 258 254 25 30 2005 0 4 8 1 1 0 1 4 4 26 37 11 33 37 177 1923 1917 10324 8785 277 254 25 27 RSU Type A Type B Type C Type D 2. Kelengkapan fasilitas ditawarkan oleh RS Umum dan RS Swasta di Kota Semarang menjadi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . RS Ibu dan Anak 7. Industri Farmasi 20. Kesehatan Masyarakat 28 11. Dokter Umum 4 3. Puskemas Pembantu 11. Lab. Klinik Swaswta Sumber Data Semarang Dalam Angka Ketersediaan fasilitas kesehatan yang ada di Kota Semarang. Sarjana Keperawatan 0 6. Puskemas Perawatan 10. RS Bedah Plastik 5. Kabupaten Kendal.2005 No 1. Tenaga Farmasi 3 8. Puskesling 12. Rumah Bersalin/Pondok 8. Posyandu Aktif 15. Tenaga Gizi 5 12. Kabupaten yang Grobogan. Kader Kesehatan yg ada 16. Lainnya 1 Sumber data Dinas Kesehatan Kota Semarang Tabel 2.9 TENAGA MEDIS DAN PARAMEDIS KOTA SEMARANG TAHUN 2005 No Jenis Tenaga Kesehatan DKK Puskesmas 0 78 40 119 0 154 38 0 36 5 40 0 40 0 Rsu/RS Khusus 309 72 32 850 27 193 70 18 17 35 51 38 129 5 IPF 0 0 0 0 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 Intitusi Sub Lainnya Jumlah 24 71 1 48 2 28 12 34 0 27 12 0 37 8 333 225 78 1017 29 378 124 58 59 95 108 38 206 14 Swasta 544 1183 344 1550 13 509 151 228 9 8 25 23 160 7 Jumlah 877 1408 422 2567 42 887 275 286 68 103 133 61 366 21 1. Tenaga Terapi Fisik 0 13. Sarjana Farmasi & Apoteker 4 9.17 . Tenaga Sanitarian 6 10.Tabel 2. Pedagang Besar Farmasi 19. Puskemas 9. Bidan 3 7. Kader Kesehatan aktif 17. tidak hanya dimanfaatkan oleh penduduk Kota Semarang. Dokter Spesialis 0 2. Kabupaten Demak. Kabupaten dan Semarang. RSJ 3. tetapi juga dimanfaatkan oleh penduduk di hinterland Semarang seperti Kota Salatiga. Posyandu yang ada 14.

244 4.2005 No 1.105 1.11 PERKEMBANGAN JUMLAH PENYANDANG MASALAH KESEJAHTERAAN SOSIAL (PMKS) KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .18 .095 3. korban sosial merupakan alam dan hal-hal korban yang berkaitan sosial. dengan keterlantaran baik anak maupun orang usia lanjut.869 5. penderita bencana bencana Pembangunan Kesejahteraan sosial di Kota Semarang dengan fenomena munculnya Sosial (PMKS).012 1. PMKS Gepeng Waria WTS Anjal Penyandang Cacat Jumlah Tahun 2002 2003 966 104 1. 3.21 % per tahun.1.583 Sumber Bappeda Kota Semarang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Kesejahteraan Sosial Kesejahteraan cacat.247 4. Dengan adanya kenyataan ini.564 1.635 1. maka pembangunan kesehatan di Kota Semarang merupakan peluang pengembangan investasi di bidang kesehatan.073 4. 2.881 peningkatan rata-rata 16.979 orang dan sebanyak 3.7.daya tarik tersendiri bagi penduduk di sekitar kota-kota Semarang. Dari tahun ke tahun sarana pelayanan kesehatan semakin meningkat jumlah jumlahnya karena penduduk yang memanfaatkan fasilitas kesehatan semakin meningkat jumlahnya seiring dengan peningkatan penduduk di Kota Semarang dan kota-kota disekitarnya.174 2004 865 102 985 966 1. 2000 923 74 982 1. Perkembangan jumlah PMKS ditandai Penyandang Masalah Kesejahteraan selama kurun waktu 10 tahun terakhir menunjukkan kencenderungan meningkat. 4.586 941 104 1.1. keadaan ini dipacu oleh semakin sulitnya masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup. pada tahun 2000 jumlah PMKS sebanyak 1.583 orang atau mengalami Tabel 2. Perkembangan jumlah penyandang masalah sosial dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 sampai dengan tahun 2005 mengalami perkembangan yang fluktuatif. 5.162 2005 942 111 469 966 1. 2.025 1.979 2001 950 74 972 1.

Disamping itu juga tersedia balai-balai pengobatan yang diselenggarakan memberi Yayasan-yayasan kesehatan Sosial bagi dengan maksud untuk pelayanan penyandang masalah kesejahteraan sosial. Waria. mantan narapidana dan tuna wisma. Balai Pengobatan dan Panti Asuhan Muhammadiyah.500 4.381 orang. Tabel 2. 3 rumah singgah. Rumah Sakit disamping untuk tujuan komersial juga membawa misi untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dengan cara menyediakan ruangan khusus pengabdian. 40 buah panti asuhan. 90 buah yaysan social dengan jumlah sasaran garapan sosial. penyandang masalah kesejahteraan sosial (pengemis dan gelandangan) untuk penduduk lanjut usia. pendidikan.19 . 895 pekerja sosial dan 78 organisasi Sumber Data Semarang Dalam Angka Bentuk-bentuk fasilitas sosial yang ada di Kota Semarang mencakup untuk kesehatan. serta yayasanRencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Perkembangan fasilitas sosial yang tersedia di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 sebanyak 5 buah panti jompo. yatim piatu.381 4.12 Perkembangan Jumlah Fasilitas Sosial dan Sasaran Garapan Tahun 2000 . WTS dan Anjal belum dapat diselesaikan secara tuntas dikarenakan sifatnya musiman dan mereka kebanyakan bukan penduduk asli Kota Semarang.001 5.Permasalahan penyandang masalah sosial khususnya gepeng.005 4.2005 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Panti Jompo 5 5 5 5 5 5 Panti Asuhan 34 34 34 34 40 40 Rumah Singgah 5 5 6 6 3 3 Yayasan Sosial 76 76 82 90 90 90 Sasaran Garapan 5. Yayasan Sosial Sugiyopranoto. Panti Wreda.380 4.001 5.

8. Kesejahteraan masyarakat ditandai dengan fenomena permasalahan kesejahteraan sosial masih banyak ditemui di Kota semarang. Namun disisi lain jumlah Keluarga Miskin mengalami kenaikan yang cukup signifikan. korban bencana alam. 2) melakukan kegiatan usaha produktif. serta pendidikan. pelatihan. Kondisi ini ditandai dengan masih banyaknya permasalahan sosial yang muncul dan berkembang seperti meningkatnya jumlah penduduk miskin (seperti gelandangan. dan anak terlantar).1. tindak kekerasan. sandang.yayasan lain yang bernaung di bawah organisasi kemasyarakatan keagamaan adalah beberapa contoh aktivitas dan keterlibatan masyarakat dalam pelayanan untuk kebutuhan kesejahteraan sosial. pendidikan. Walaupun upaya penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) terus dilakukan tetapi belum berhasil mengurangi jumlah PMKS secara signifikan. pada tahun 1996 sebesar 11. serta kesehatan. anak jalanan. dan PMKS lainnya.1.20 . dan perlindungan kepada mereka sebab diantara mereka tidak sedikit yang masuk dalam usia anak-anak dan/remaja. 4) menentukan nasibnya sendiri dan senantiasa mendapat perlakuan diskriminatif dan eksploitatif.987 KK sampai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . papan. 3) menjangkau akses sumber daya sosial dan ekonomi. dan 5) membebaskan diri dari mental dan budaya miskin. Disamping itu juga terdapat rumah singgah yang diselenggarakan yayasan-yayasan sosial dengan maksud dan tujuannya adalah untuk membantu anak dan remaja penyandang tuna wisma (pengemis dan gelandangan) yang dalam kegiatannya dimaksudkan memberi fasilitas singgah atau menginap. 2. Kemiskinan Secara umum kondisi penduduk miskin ditandai oleh ketidakberdayaan atau ketidakmampuan dalam hal: 1) memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan gizi. pengemis.

509 3.600 12.852 jiwa.21 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . 6.964 6. Penanggulangan kemiskinan telah menjadi agenda dan prioritas utama pembangunan serta telah dilaksanakan dalam kurun waktu yang panjang. 2. 7.084 11.511 4.908 3.228 225. 5.807 56. 9.852 6.044 17. 15. 13.400 18.13 PERSEBARAN PENDUDUK MISKIN KOTA SEMARANG TAHUN 2005 No. dan kegiatan penanggulangan kemiskinan baik yang bersifat langsung (program khusus) maupun yang tidak langsung telah diimplementasikan.088 16.400 3. Kecamatan Mijen Gunungpati Banyumanik Gajahmungkur Semarang Selatan Candisari Tembalang Pedurungan Genuk Gayamsari Semarang Timur Semarang Utara Semarang Tengah Semarang Barat Tugu Ngaliyan Jumlah Jumlah Penduduk KK 3.490 3.387 4.108 5.036 15.596 17. walaupun upaya penanganan terhadap mereka sudah dilakukan dan melibatkan banyak pihak namun masalah tersebut secara empiris tidak nampak hasilnya. program.491 1. 16. Berbagai strategi.272 4. kebijakan.288 Sumber Data Bappeda Kota Semarang Dari data persebaran penduduk miskin di Kota Semarang Tahun 2005 paling besar di Kecamatan Semarang barat yakni sebanyak 6.960 13.213 KK atau 24.548 17.252 15. 3. 10. 11. 8.322 Jiwa 13.277 1.899 4.213 1.tahun 2005 mencapai sebesar 56. namun demikian hasilnya belum optimal. 14. Tabel 2.100 4.271 2.063 3.724 6. hal ini menunjukkan bahwa penduduk miskin di Kota Semarang merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah dan masyarakat.896 24.632 13. salah satunya ditandai dengan masih banyaknya penduduk miskin di Kota II .322 KK atau mengalami kenaikan rata-rata sebesar 44 % per tahun. 1. 4. 12.

1. dan infrastruktur yang mempermudah dan mendukung kegiatan sosial ekonomi. sosial budaya maupun politik. Kota Semarang memiliki beberapa jenis budaya. bangunan tempat ibadah sebanyak 24 buah. Upaya penanggulangan riil yang kemiskinan telah di ditempuh Kota sebagai upaya 1) semarang adalah yang memiliki kandungan lokalitas yang sangat pengurangan beban biaya bagi penduduk miskin dengan mengurangi pengeluaran kebutuhan dasar seperti akses pendidikan. mengingat kemiskinan merupakan masalah yang bersifat multidimensional. Bentuk riil tersebut dilaksanakan melalui program antara lain Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP). bangunan pengangkutan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . memperoleh peluang dan perlindungan untuk memperoleh hasil yang lebih baik dalam berbagai kegiatan ekonomi. bangunan Perkantoran 46 buah. Penanggulangan kemiskinan bukanlah hal yang mudah diatasi. bangunan pemerintahan sebanyak 13 buah. bangunan pendidikan sebanyak 11 buah. Banyak sekali peninggalan dalam bentuk kesenian maupun yang masih hidup dan berkembang termasuk beberapa peninggalan bangunan kuno.22 . Di samping itu. Kebudayaan Sebagai kota pesisir/pantai dan kota niaga yang cukup tua. Budaya terrsebut lahir dari proses akulturasi budaya asli dengan budaya yang dibawa para pendatang.9. yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. kemiskinan juga merupakan masalah sosio-ekonomi bervariasi. kesehatan. bangunan kesehatan sebanyak 3 buah. dimana masyarakat miskin memiliki kemampuan pengelolaan. Peninggalan bangunan sejarah berjumlah 170 buah yang terdiri dari bangunan budaya sebanyak 3 buah.Semarang.1. 2. dan 2) meningkatkan pendapatan atau daya beli penduduk miskin melalui peningkatan produktivitas.

Dari data organisasi kesenian yang ada di Kota Semarang tercatat sebanyak 321 organisasi kesenian yang terdiri dari organisasi kesenian qosidah. Tabel 2. Keragaman bangunan rumah tinggal sebanyak 56 buah.sebanyak 3 buah. 9. 15. karawitan. dan budaya itu menjadi kekayaan yang harus bangunan lainnya sebanyak 11 buah.23 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . 5. Pembangunan yang berbasis pada budaya dan kearifan lokal memiliki daya tahan terhadap pengaruh negatif dari budaya asing dan globalisasi yang kontraproduktif dengan nilai-nilai budaya lokal. 8. Aspek budaya Kota Semarang ini merupakan modal dasar sekaligus kearifan lokal yang sangat penting dan potensial bagi Kota Semarang untuk mengembangkan diri dalam jangka panjang tanpa harus tercabut dari akar budayanya. 4. grup tari. 2. 10. ketoprak. 1. 13.14 PERKEMBANGAN ORGANISASI KESENIAN KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . Organisasi kesenian Qosidah Kethoprak Gambang Semarang Bantenan Dalang Drama/Teater Sanggar Seni Keroncong Group Tari Lawak/Dagelan Karawitan Pencak Silat Orkes Melayu Kuda Lumping Campursari 2000 25 21 2 3 4 6 10 82 34 7 46 12 34 7 46 2001 28 27 1 6 77 8 20 83 34 7 43 12 34 7 43 2004 1 25 0 29 3 8 4 89 33 6 33 8 96 1 36 2005 28 22 3 7 0 99 27 6 27 9 27 6 27 6 27 Sumber Data Semarang Dalam Angka Upaya mempertahankan budaya di Kota Semarang sudah dilakukan dengan pagelaran seni dan budaya secara rutin tahunan. 7. 12. drama/teater. 11. gambang semarang. 14.2005 Tahun (buah) 2002 2003 28 21 27 24 1 0 6 7 2 0 3 8 0 0 97 74 33 33 6 6 29 29 7 7 55 60 1 1 11 10 No. 6. keroncong. II . sanggar seni. orkes melayu dan campursari. wayan orang dan lain-lain. dilestarikan dan dikembangkan. 3.

553 235 31 3 2001 845 1.11 100 Jumlah pemeluk agama islam di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 mayoritas adalah bergama Islam yakni sebesar 82. 5.593 110.177.242 104.16 PERKEMBANGAN JUMLAH TEMPAT IBADAH KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .420. Sedangkan jumlah tempat ibadah pada tahun 2005 adalah sebagai berikut masjid sebanyak 969 buah.2.894 9.694 buah.506 239 28 4 2005 969 1.1.90 7.90 %. 4. Tempat Ibadah Masjid Mushola Gereja/Kapel Vihara/Kuil Pura Tahun 2002 2003 855 1.694 251 32 4 Sumber Data Semarang Dalam Angka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .591 236 31 3 2004 911 1. 2. Tabel 2. Tabel 2.64 0.15 PENDUDUK MENURUT PEMELUK AGAMA KOTA SEMARANG TAHUN 2005 No 1 2 3 4 5 6 Agama Islam Kristern Katholik Kristen Protestan Budha Hindu Lainnya Jumlah Jumlah (jiwa) 1.559 242 27 4 882 1.33 1. serta kondusifnya situasi kehidupan beragama dalam menjalankan ibadah sesuai agama dan keyakinannya masing-masing.1. dan 2000 837 1.716 246 28 4 mushola sebanyak 1.097 17.478 Prosentase (%) 82.079 1. pura sebanyak 4 buah.10 Agama Kehidupan beragama di Kota Semarang selama ini berlangsung dalam toleransi yang cukup tinggi.26 0.573 1. Keharmonisan tersebut salah satunya dapat dilihat dari banyaknya tempat ibadah yang ada di sekitar warga yang majemuk.24 . 3. vihara/kuil sebanyak 32 buah.2005 No 1.76 7. gereja/kapel sebanyak 251 buah.

Jumlah penduduk Kota Semarang berdasarkan jenis kelamin Pada tahun 2000 perempuan dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2005 mempunyai proporsi lebih besar dari pada penduduk laki-laki.32% 50.29% 50.29% Sumber Data Semarang Dalam Angka Upaya perlindungan anak juga dilakukan dalam rangka memberikan kepastian hak tumbuh kembang anak sesuai dengan perkembangan usianya.29% 50. Upaya perlindungan terhadap perempuan juga telah dilakukan melalui fasilitasi dan advokasi kepada organisasi/lembaga perempuan antara lain dengan dibentuknya Seruni.29 % dari jumlah penduduk Kota Semarang.17 Perkembangan Proporsi Perempuan Kota Semarang Tahun 2000 . Upaya ini juga dimaksudkan untuk melindungi anak terlepas dari eksploitasi ekonomi dan kekerasan yang kerap menimpa baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.1.046 678. Perkembangan jumlah organisasi II .352 665.27% 50. proporsi perempuan sebesar 50. tokoh agama.973 693.2005 Jumlah Perempuan (jiwa) 658.25 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .11 Perempuan dan anak Kondisi pembangunan dalam perlindungan perempuan dan anak dilaksanakan melalui pengarustamaan gender dan perlindungan anak.851 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Proporsi 50.28% 50. antara pemerintah.488 703.1. Tabel 2. tokoh masyarakat dll.457 713.Upaya-upaya yang telah dilakukan dalam menjaga kerukunan hidup beragama adalah melalui berbagai forum silaturohmi dilakukan melalui fasilitasi kegiatan keagamaan.815 atau sebesar 50. Disamping itu juga 2.27 % dan pada tahun 2005 jumlah penduduk perempuan sebanyak 713.

Menoreh Selatan III No. Kesatrian G No. Borobudur Utara Raya No. Lintang Trenggono IV / 23 Jl. Sugiyopranoto No. Jl. Sutomo No. 153 Jl. 9 Jl. 11 Jl. Rumpun Diponegoro II / 13 Jl.9 Jl. Rejomulyo II/ 2 Jl. 5 Jl. Lempongsari Barat III/353 Jl. Sambiroto Baru Raya 28 A Jl. 19 Jl. 9 Jl. Rejosari I No. Sutomo No. yang terdiri dari angka harapan hidup II . Pemuda 163 Jl.wanita sampai dengan tahun 2005 sebanyak 28 buah. R. Pemuda No. Meranti Timur Dalam IV / 17 Jl. Thohir 35 Penggaron Jl. 5 Jl. 9 Jl. Kedungmundu No. Lompo Batang No. Pawiyatan Luhur Bendan Dhuwur (UNTAG) Jl. Abdulrahman Saleh 5 . Kedungmundu No. Wonodri Krajan III / 684 Jl. Dr. Julungwangi II No. 4 Gedung Juang 45. Nangka Barat No. 12 Jl. KH.26 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Banyumanik Indikator kondisi perempuan diukur dengan indeks pembangunan gender. Dr. 269 Jl. 4 Jl. 30 Jl. Singosari X No.18 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Al Hidayah Tiara Kusuma Perip TNI Polri Dharma Wanita Persatuan Bhayangkara Ikawati 17 YPSMI WKRI PWKI IIDI PERWARI Muslimat NU Wirawati Catur Panca Aisyiah Himpunan Wanita Karya Wanita Islam Adyaksa Dharmakarini Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Persatuan Wanita Nangka (PWN) Persit KCK Jala Senastri Perwanas Pepabri Wanita Satya Praja KOWAVERI Rukun Ibu Singosari KERTA Himpunan Wanita Pejuang Jl. ORGANISASI SOSIAL WANITA DI KOTA SEMARANG NO ORGANISASI ALAMAT Tabel 2. Citra Blok E/6 Perum Graha Estetika. 99 Jl. Martadinata No. Sunan Bonang II No. 2 Jl.E. 38 Jl.

482 3.73 13.36% per tahun.239 5.3. Angka melek huruf perempuan 90.626.2. tahun 2000 sebesar 4.19 Perkembangan LPE.636.195.1.142.97 % pertumbuhan ekonomi turun menjadi 4. PDRB.111.921 Pendapatan Perkapita (rp) 3.5. Berdasarkan Pada harga konstan 1993.2005 mengalami pertumbuhan rata-rata sebesar 4.56 6.399. Pendapatan Perkapita dan Inflasi Kota Semarang Tahun 2000 .27 .405.471.perempuan tahun 1999 mencapai 72.2005 (berdasar Harga Konstan 1993) Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 LPE (%) 4.098 3.07 5.162 6.297. EKONOMI Kondisi makro perekonomian Kota Semarang selama lima tahun terakhir mengalami pertumbuhan yang fluktuatif.051 3.98 13.16 PDRB (jt) 5.46 2. tetapi masih menggambarkan keadaan yang belum mengarah pada posisi adil gender.782 3.887.3% dan rata-rata lama sekolah sebesar 8. Untuk tenaga kepemimpinan dan tenaga profesional di Kota Semarang sampai tahun 2005 mencapai 36. Dari gabungan beberapa indikator yang digunakan indeks perberdayaan gender Kota Semarang sebesar 64.16 %.855 5.97 5. Indikator lain dalam mengukur indeks pembangunan gender di Kota Semarang adalah komposisi angota parlemen untuk hasil pemilu tahun 2004 proporsi perempuan dalam legislatif sebesar 15 %.1.2 sedangkan laki-laki 68.542.0.533 5.694 3. pertumbuhan ekonomi periode tahun 2000 .1.365. Tabel 2.906 6.11 4.43 4.1.2. walaupun demikian indeks pemberdayaan gender mencapai 61.10 4.98 16. Kondisi dan Struktur Ekonomi dan sampai dengan tahun 2005 Sumber Data Semarang Dalam Angka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .562 Inflasi (%) 8.6 %. ini berarti masih ada berbagai bias gender. 2.02 4.

66 0.22 12.67 0.07 Hotel dan Restoran.39 % per tahun tahun.58 35. kemudian diikuti sektor dominan lainnya yaitu sektor industri pengolahan dengan rata-rata sebesar 31.60 35.71 35. dan Sektor Jasa-jasa dengan rata-rata sebesar 12.63 13.25 31.28 .25 31.62 7.83 7.48 13.63 35.62 6.26 31.48 1. Jasa-jasa Sumber Data Semarang Dalam Angka Meningkatnya pertumbuhan ekonomi tersebut dipengaruhi oleh kontribusi lapangan usaha atau sektor-sektor ekonomi yang ada di Kota Semarang.47 7. Hotel dan Restoran.06 2001 0. ekonomi yang di Kota Semarang.51 6.33 6.10 6.57 35.98 6.54 35.61 3. 4. selama kurun waktu tahun 2000 – 2005 memberikan kontribusi rata-rata sebesar 34. Sektor dominan yang mempunyai kontribusi paling besar terhadap PDRB adalah Tabel 2.25 31.20 PERTUMBUHAN SEKTOR-SEKTOR USAHA EKONOMI KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .67 3.15 0.38 13.31 12.98 % per tahun. 3.68 0. Sektor dominan yang mempunyai kontribusi paling Perdagangan.25 31.39 7.2005 No.79 0.43 3. Persewaan dan jasa 8. Pengankutan dan Komunikasi Keuangan. 2000 0.73 % per yang memberikan Sedangkan sektor-sektor usaha lainnya kontribusi terhadap PDRB yaitu sektor pengangkutan dan komunikasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 2. Hotel dan Restoran besar terhadap PDRB adalah Industri Pengolahan dan Jasa-jasa.54 3. Industri Pengolahan dan Jasa-jasa.04 1.34 1. Gas dan Air Minum Bangunan Tahun (%) 2002 2003 0.68 0.35 6. 1.66 0.41 1.74 2005 0.22 2004 0.Penurunan pertumbuhan pada tahun 2002 dan tahun 2004 disebabkan oleh Kebijkan Pemerintahan menaikkan Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Tarif Dasar Listrik (TDL). Perdagangan. Perdagangan.45 3.85 6. Hotel dan Restoran 7.45 7.Sektor Ekonomi Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Meningkatnya dipengaruhi pertumbuhan ekonomi tersebut terbesar oleh kontibusi lapangan usaha atau sektor-serktor yakni Perdagangan.34 13.62 1.26 31.52 3.74 7. Perusahaan 9.56 1. 5 Sektor .

2. Selama 5 tahun terakhir omzet sektor industri meningkat. persewaan dan jasa perusahaan sebesar 6. menempati lahan seluas 1. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .974 unit terdiri dari 1.816 industri kecil (formal).115 pada tahun 2005 dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 162.158 industri besar dan industri menengah 627 dan 1. Jumlah Industri di Kota Semarang yang ada sebanyak 2.46 triliun pada tahun 2005. sektor Bangunan sebesar 4. Selain itu masih ada 1. Sementara itu jumlah industri meningkat dari 3. serta industri kecil baru (19%) sudah ditempatkan di kawasan-kawasan industri. Sebagian besar dari industri-industri tersebut terutama industri besar dan menengah (39 %). infrastruktur dan fasilitasi perijinan. sektor Keuangan.47 % per tahun. Industri Industri merupakan salah satu sektor andalan Kota Semarang dalam menunjang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.96 triliun pada tahun 2001 menjadi Rp 4.673 orang pada tahun 2005. 2.30 % per tahun.dengan rata-rata sebesar 7.141 unit industri kecil nonformal (kerajinan rumah tangga) yang tidak memiliki izin industri/tanda daftar industri.29 . Adapun jumlah investasi industri di Kota Semarang mengalami peningkatan dari Rp 13.2.1.84 % per tahun.11 % per tahun.443 unit pada tahun 2001 menjadi 4. yaitu dari Rp 3.92 % per tahun dan sektor Pertambangan dan penggalian dengan rata-rata sebesar 0. sektor Pertanian sebesar 0.37 triliun pada tahun 2001 menjadi Rp 13.25 % per tahun. Total luas kawasan industri di Kota Semarang ada 9 lokasi. sektor Listrik Gas dan Air minum sebesar 1.326 Ha dengan jumlah unit usaha industri di kawasan industri tersebut sebesar 733 unit perusahaan.81 triliun pada tahun 2005. Upaya dalam pengembangan industri di Kota Semarang yang telah dilakukan melalui penyediaan kawasan.

kecil dan menengah masih mampu bertahan ditengah badai krisis. 61.2.285. Perkembangan koperasi mengalami peningkatan. perkembangannya juga mengalami peningkatan.1.000. usahausaha mikro. Koperasi dan UMKM Koperasi dan usaha Mikro Kecil menengah memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.2. dan penguatan kelembagaan dan manajemen kewirausahaan. Dilihat dari modal koperasi UKM. khususnya akses pada perbankan/lembaga keuangan. ketika banyak perusahaan skala besar banyak yang kolaps bahkan harus menutup perusahaanya.000.3. hal ini dapat lihat dari jumlah koperasi di Kota Semarang sampai dengan tahun 2005 sebanyak 1..054 unit yang terdiri diri Koperasi Aktif sebanyak 596 unit dan koperasi tidak aktif 458 unit.057. Upaya dalam pengembangan koperasi dan UMKM di Kota Semarang telah dilakukan melalui fasilitasi akses permodalan.dan modal UKM sebesar Rp. kecil dan menengah terbukti lebih mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi. yang berarti meningkat dibanding tahun 2000 yang tercatat sebanyak 969 unit koperasi yang terdiri dari 865 unit koperasi aktif dan sebanyak 104 unit koperasi tidak aktif . Peranan koperasi sebagai sokoguru perekonomian dan pengembangan usaha mikro. 258.000.30 . Permasalahan mendasar yang terjadi adalah masih lemahnya akses UMKM terhadap pembiayaan untuk peningkatan modal usaha.000.-. sampai dengan tahun 2005 modal koperasi sebesar Rp. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . selain itu masih terkendala di bidang pemasaran dan kualitas sumberdaya pengelola koperasi.

4.2.230. meliputi penciptaan iklim kondusif bagi dunia usaha.91 triliun pada tahun 2005.364. kontribusi sektor pertanian terhadap pembentukan PDRB sangat kecil yaitu 0.9 % 214.2. Namun.1.360 penduduk atau 2.31 . Jumlah proyek PMDN juga mengalami penurunan dari 26 proyek dengan nilai investasi Rp. serta penyediaan infrastruktur yang memadai..43 juta US$ pada tahun 2005.187. seperti kepastian hukum.91 triliun pada tahun 2001 menjadi 20 proyek dengan nilai investasi sebesar Rp1.970. diperlukan berbagai kebijakan pemerintah.-. promosi terpadu. Kebijakan tersebut adalah penciptaan iklim kondusif bagi investor dalam dan luar negeri dalam segala hal. namun jika dhitung dengan harga berlaku sebesar 0.5. intermediasi perbankan. 2. Investasi Investasi PMA Kota Semarang dilihat dari jumlah proyek selama lima tahun terakhir mengalami penurunan dari 57 proyek pada tahun 2001 menjadi 47 proyek pada tahun 2005. penyediaan infrastruktur yang memadai dan kebijakan tata ruang yang konsisten.67 % atau sebesar Rp. Upaya untuk mendorong tercapainya pemenuhan kebutuhan investasi swasta dan berkembangnya sektor riil. Pertanian Dari segi perekonomian Kota Semarang.26 % dari penduduk Kota Semarang. yaitu dari 96. atau sebesar Rp.berdasarkan harga konstan 1993. 42. Pemerintah Kota Semarang telah mendukung penciptaan kebijakan pemerintah yang pro investasi dan dapat mendorong berkembangnya sektor riil. apabila dilihat dari nilai investasi mengalami kenaikan.68 juta US$ pada tahun 2001 menjadi 610. ketenagakerjaan. Dilihat dari kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB relatif kecil namun penyerapan tenaga kerja pada sektor ini sebanyak 14. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 2. peningkatan produktivitas tenaga kerja.1.2.

310 Tabel 2.960 13.620 3. tanaman Sendangkan kontribusi terkecil dari kehutanan. sapi perah. tanaman perkebunan.620 3. Berdasarkan harga konstan tahun 1993 kontribusi peternakan sebesar 44 % sedangkan kontribusi tanaman bahan makanan sebesar 40 % terhadap sektor pertanian.778.640 2004 8. sapi potong. sektor ini adalah peternakan dan Kontribusi terbesar dari bahan pangan.620 3.430 12.377.394.224 24.501. Dari sektor peternakan kontribusi yang cukup dalam pertumbuhan ekonomi.440 17.699 46.680 8.010 651.620 3.760 37. kambing dan domba Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 dengan II .470 12.975 25.584 2003 24.912.300 11.669 24.620 3.569 2004 24. Penurunan tersebut merupakan konsekuensi logis dari wilayah perkotaan sebagai akibat beralihnya tenaga kerja pertanian menjadi pekerja lain yang menjanjikan pendapatan lebih baik.260 92.815 21.613 48.985.259 21.160.2005 No Penggunaan Lahan 2000 2001 23. Sektor pertanian mencakup tanaman pangan.22 PERKEMBANGAN JUMLAH PETANI DAN BURUH TANI KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .271 47.282 23.609 48.440 2002 8.310 45. seperti ternak ayam ras petelur. ayam buras.470 3.711 1 Petani Sendiri 2 Buruh Tani Jumlah Luas lahan pertanian produktif Kota Semarang selama kurun waktu lima tahun terkahir mengalami penurunan kualitas. Dan untuk harga berlaku kontribusi peternakan sebesar 46 % dan kontribusi sektor tanaman bahan makanan sebesar 46 %.710 11.371.455.21 LAHAN PERTANIAN KOTA SEMARANG TAHUN 2000 . dan kehutanan.500.260 29. peternakan.154.575 Jumlah Petani 2002 22.351 47. hal ini dilihat dari jumlah populasi yang semakin meningkat di Kota Semarang.2005 No Penggunaan Lahan 2000 1 Tegalan / Kebun 2 Padang rumput 3 Sawah Jumlah Sumber Data Semarang Dalam Angka Luas (Ha) per Tahun 2001 8.Tabel 2.960 12.658.187.941.490 2003 9.943.400 27.590 2005 7.514 2005 30.32 .500.060 651.897.956.

tanaman empon-empon. pada tahun 2005 komoditas padi dan palawija sebesar 7.159 kg.7 ton atau mengalami penurunan rata-rata sebesar 34.06 % dengan produk hasil ternak pada tahun 2005 yakni telur sebanyak 5.907 liter dan daging baik unggas maupun non unggas 2.33 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .894.6. sedangkan komoditas buah-buahan sebesar 67.53 kg/pohon. sebesar 11. Pada sektor tanaman bahan pangan terdiri dari komoditas Padi dan palawija. susu sebesar 3. Secara umum tiap komoditas mengalami peningkatan kecuali komoditas tanaman buah-buahan. Kelautan dan Perikanan Pada bidang pembangunan kelautan dan perikanan terjadi tekanan yang sangat berat terhadap sumber daya laut pada wilayah pantai utara Kota Semarang karena adanya usaha penangkapan ikan yang berlebihan.804 butir. pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok petani serta penanganan pasca panen. II .1.69 % per tahun dan untuk produksi perikanan darat/kolam sebesar 55.56 Upaya yang telah dilakukan dalam mendorong bidang pertanian melalui pemberian sarana dan prasarana produksi pertanian.2.83 ton.peningkatan rata-rata per tahun sebesar 13. buah-buahan serta tanaman perkebunan rakyat. kwintal. Komoditas perikanaan selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan baik dari luas areal lahan maupun dari jumlah produksi perikanan. tanaman empon-empon sebesar 428 ton yang merupakan faktor pendukung perkembangan industri jamu sebagai salah satu produk Unggulan Daerah.94 % per tahun. Komoditas hasil perikanan secara umum mengalami penurunan.431. Komoditas tanaman perkebunan rakyat sebesar 193. pada tahun 2005 untuk produksi perikanan darat/tambak sebesar 615.488.686.4 ton atau mengalami penurunan rata-rata sebesar 4.

00 5.298.245.26 3.26 3.00 1.140 2004 970.50 1.572.044.35 % per tahun.7.12 2. Upaya dalam pembangunan bidang kelautan dan perikanan dilakukan melalui pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.510 2002 1.2005 No 1 2 3 Penggunaan Lahan 2000 Tambak Kolam / Empang Perairan Umum (Sungai/Waduk) Jumlah 1.230. Penurunan produktifitas perikanan juga disebabkan rsendahnya penggunaan teknologi perikanan dan kurangnya sarana prasarana masih menjadi permasalahan bagi nelayan.50 1. menyebabkan tidak dapat melaut sedangkan mereka tidak mempunyai alternatif mata pencaharian lain sehingga berakibat turunnya penghasilan yang diperoleh dan berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangga nelayan.360 Sumber Data Semarang Dalam Angka Dari data lahan perikanan di Kota Semarang tahun 2000-2005.100 ha menjadi 1.230.16 323.458.299.1. 2.00 5.75 323. pembinaan dan penguatan kelembagaan kelompok petani nelayan serta penanganan pasca panen.572.34 .50 1.660 2005 1.130. pemberian sarana prasarana produksi kelautan dan perikanan.00 323.24 184. luas lahan perikanan mengalami penurunan dari tahun 2000 seluas 1.50 1. Pertambangan Dalam bidang pertambangan Pemerintah Kota Semarang selama ini hanya memberikan rekomendasi untuk penerbitan ijin penggalian bahan tambang golongan C dan pemanfaatan Air Bawah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .00 5.64 323.50 1.360 ha atau 4.23 LAHAN PERIKANAN KOTA SEMARANG TAHUN 2000 .500 2003 970. Nelayan juga harus dihadapkan pada kondisi alam yang ekstrem selama 4 bulan (sekitar November – Februari) setiap tahunnya.2.Tabel 2.572.110 Luas (Ha) per Tahun 2001 1.35 323.245.

8. yakni sebesar 35. nilai ekonomi dari sektor perdagangan pada tahun 2005 mencapai Rp.1 trilyun. Sektor Perdagangan yang di dalamnya termasuk hotel dan restoran menjadi penyumbang terbesar dalam PDRB kota Semarang.62% pada tahun 2005. pasir dan batu Kecamatan Ngaliyan. Upaya yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Semarang adalah dengan pengawasan dan pengendalian terhadap pemanfaatan bahan galian C dan ABT. Namun demikian masih sering terjadi kasus-kasus pelanggaran terhadap ijin galian yang diterbitkan sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan. Penggalian bahan tambang galian C berada di Kelurahan Ngaliyan. Banbankerep yang ada di Kota yang dan Wonosari Semarang berupa penggalian tanah urug.35 . berdasar harga berlaku sebesar Rp. 2.Tanah (ABT) yang dikeluarkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.1.2. Sampai dengan tahun 2005. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Berdasar harga konstan 1993. 2. 9. Perdagangan Proporsi sektor perdagangan dalam perekonomian daerah juga sangat signifikan. pemanfaatan Air Bawah Tanah (ABT) di Kota Semarang telah menjamur dan tidak terkendali.2 trilyun.

19 pasar lokal. Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam mendorong pertumbuhan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .034 2001 1.769 2005 2.36 .662.000 2003 1.000 878. Jika dihitung berdasar harga berlaku menunjukkan penurunan. 3 pasar grosir dan 11 mall/plaza.640.467 735.327.809 Sumber Data : Indikator Ekonomi Kota Semarang 2005 Pertumbuhan sektor perdagangan selama lima tahun terakhir (20012005) berdasar harga konstan menunjukkan angka pertumbuhan yang stabil. jalur darat melalui jalan arteri Pantura. Keberadaanya merupakan cabang jaringan supermarket internasional. laut maupun udara. sekitar 5 %. Perkembangan aktivitas perdagangan di Kota Semarang selama 10 tahun terus mengalami dari peningkatan. hal ini dapat dilihat pada lima tahun terakhir belum pernah mengalami kelangkaan distribusi bahan kebutuhan masyarakat. Untuk jalur laut dan udara melalui pelabuhan Tanjung Emas dan Bandara Ahmad Yani.356.308.2005 (dalam US $) Tahun Nilai Ekspor Nilai Impor 2000 2. Distribusi barang tidak mengalami hambatan yang berarti. sarana perdagangan prasarana tidak bisa dipisahkan ketersediaan perdagangan.770.000 2004 2. nasional dan regional.096. serta jaringan kereta api.725 916.585.240. dari 14 % tahun 2001 menjadi 13 % pada tahun 2005.640. rusak sedang 7 buah sedangkan rusak berat sebanyak 37 buah .600.861 974.405.918 1. baik pada jalur Pantura mapun jalur Selatan Jawa.900.000.800. Prasarana perdagangan sampai dengan tahun 2005 memliki 47 pasar tradisional dengan kondisi baik sebanyak 1 buah.226.090 778.Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor (US $) Kota Semarang Tahun 2000 .000 2002 1.334.728. 54 pasar swalayan.841. ini disebabkan lalulintas barang dapat dilakukan baik melalui darat. Dari data tersebut terdapat 23 pusat perbelanjaan modern yang tersebar di wilayah Kota dan daerah pengembangan.

004.247. Pariwisata Pembangunan pariwisata di Kota Semarang selama beberapa tahun terakhir mengalami penurunan yakni rata-rata 0. Pengunjung.714 686.65 % per tahun.591 1. jumlah Sedangkan jasa pariwisata masuk dalam sektor Bank dan Jasa-jasa. Berdasarkan perkembangan pengunjung pendapatan pariwisata selama lima tahun terakhir 2000-2005 jumlah kunjungan wisata mengalami pertumbuhan yang fluktuatif rata-rata sebesar 9.064 783.363.360 6.00 2.00 2.713 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pendapatan (Rp) 1.902.158.00 1.191.898.316 wisatawan dengan jumlah wisatawan asing relatif kecil yakni sebesar 6.00 2. kemudahan perijinan dalam berusaha.038 661.713 orang atau sebesar 1 % dari total wisatawan.095 2.778.1.184. dan tersebar di sektor-sektor ekonomi yang lain seperti sumbangan hotel perdagangan.608 4.2005 Jumlah Obyek 18 18 18 18 18 18 Jumlah Kunjungan (org) Domestik 875. dan restoran dalam sektor Sumbangan pariwisata hotel dan restoran.920 1.171 2.9. namun struktur PDRB yang ada tidak mengukur sumbangan pariwisata secara langsung. Sumbangan sektor pariwisata terhadap perekonomian Kota Semarang cukup besar.74 % per tahun.603 Asing 6. 2.516.101.704. dan Pendapatan Pariwisata Kota Semarang Tahun 2000 .00 3. memberikan kepastian berusaha.240.604 633.24 Perkembangan Obyek Wisata. perdagangan baru.551.782.2.032.985.997.37 .00 Sumber Data Semarang Dalam Angka Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Tabel 2.bidang perdagangan dilakukan melalui meningkatkan sarana prasana distribusi produk.780. Dari sejumlah 18 obyek wisata yang ada di pada tahun 2005 jumlah wisatawan sebanyak Kota Semarang dan mendorong terbentuknya pusat-pusat 640.

hingga wisata kuliner. Sedangkan jumlah biro perjalanan di Kota Semarang tahun 2005 sebanyak 63 buah Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam mendorong pertumbuhan pariwisata dilakukan melalui meningkatkan sarana prasana kepariwisataan. Sedangkan untuk tingkat hunian hotel berbintang di Kota Semarang tahun 2005 menunjukkan rata-rata lama menginap sebesar 1. sehingga objek wisata yang ada kurang kompetitif dalam persaingan pasar regional maupun global. yang terdiri dari Hotel Bintang 5 sebanyak 3 buah. Namun. melati 1 sebanyak 19 buah dan wisma sebanyak 11 buah. budaya. kondisi objek wisata. bintang 1 sebanyak 13 buah. melati 2 sebanyak 16 buah. bintang 3 sebanyak 8 buah. religi.64 hari dan Untuk tingkat hunian kamar hotel melati asing sebesar 116 orang dan Jumlah hotel bintang. rumah makan. sebesar 608. bintang 4 sebanyak 3 buah. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Money changer. wisma di Kota Semarang tahun 2005 mencapai 96 buah. Obyek wisata yang ada di Kota Semarang terdiri dari wisata Pariwisata di Kota Semarang didukung oleh fasilitas pariwisata lengkap seperti akomodasi. serta pemasaran pariwisata. baik alam maupun buatan tersebut belum dikelola dengan optimal. kemudahan perijinan dalam usaha pariwisata. pusatpusat perbelanjaan. bintang 2 sebanyak 8 buah.38 .067 oarang yang terdiri domestik sebesar 507.35 hari. landscape. sedangkan wisatawan asing banyak mengunjungi Museum Jamu Djago dan Museum Nonya Meneer.Dari data tersebut wisatawan nusantara tercatat paling banyak mengunjugi obyek Puri Maerokoco. melati dan domestik sebesar 1. Melati 3 sebanyak 15 buah. bahari. Biro perjalanan wisata serta fasilitas infrastruktur lainnya.951 orang.37 hari yang terdiri dari wisatawan asing sebesar 1. pendidikan. dan penambahan obyek wisata.

ke depan tetap diupayakan peningkatan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas dalam temuan teknologi tepat guna yang dapat diterapkan di masyarakat. baik oleh pemerintah daerah.3 ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) telah Hal ini didukung dengan dibangun SIM dalam rangka mengalami kemajuan yang cukup pesat. dan 1 (satu) Website Pemerintah Kota Semarang. masyarakat. terutama bagi masyarakat yang bergerak di bidang industri yang bahan bakunya menggunakan bahan lokal. Oleh sebab itu.1. Kondisi tersebut mengakibatkan adanya pemborosan sumber daya dan hasilnya kurang memiliki nilai implementatif atau sulit menjadi dasar operasional dan belum sepenuhnya mampu mendukung penyelenggaraan dan kebutuhan masyarakat.39 . Sistem Informasi Kependudukan (SIMDUK). maupun institusi lainnya. perguruan tinggi. Mulai tahun 2002 telah ketersediaan telekomunikasi dan informatika yang mudah diakses oleh penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di Kota Semarang. Kelemahan dalam penelitian yang dilaksanakan oleh berbagai elemen masyarakat adalah belum diintegrasikan dalam satu jaringan penelitian yang efektif. Penelitian dan pengembangan merupakan salah satu pendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Upaya yang telah dilakukan Pemerintah Kota Semarang dalam bidang IPTEK melalui kerjasama penelitian dengan perguruan tinggi dan lembaga- Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Hasil temuan teknologi tepat guna bagi masyarakat bermanfaat dalam membantu kehidupan perekonomian.2. Sampai dengan tahun 2005 dalam penguasaan teknologi informasi Pemerintah Kota Semarang telah terbangun 15 (lima belas) Sistem Manajemen Daerah (SIMDA) yang meliputi Sistem Informasi Kepegawiaan (SIMPEG). sehingga masih banyak terjadi duplikasi dari kegiatan penelitian yang serupa. Berbagai temuan teknologi tersebut dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Berbagai penelitian sudah dilaksanakan. Sistem Informasi Barang Daerah (SIMBADA).

selalu tertinggal dari tuntutan kebutuhan masyarakat yang tumbuh baik dalam artian jumlah maupun kualitas pelayanan yang dibutuhkan. Kondisi tersebut antara lain ditunjukkan oleh panjang jalan yang dilihat dari status pengelolaannya menunjukkan adanya panjang yang relatif tetap. Sarana dan prasarana perhubungan yang ada. Sedangkan outter ringroad selatan sampai saat ini belum terbangun. provinsi maupun jalan kota. Pembangunan fasilitas umum merupakan salah satu upaya dalam pemenuhan kebutuhan akan infrastruktur kota yang menjadi tuntutan atau kebutuhan aktivitas masyarakat kota Semarang. baik untuk jalan nasional. sehingga belum mampu menjadi penyeimbang pertumbuhan wilayah serta belum mampu menjadi penopang jalur distribusai nasional. drainase.40 . Sarana dan prasarana wilayah (infrastruktur) terutama sarana prasarana perhubungan darat. Pemenuhan akan infrastruktur kota dilakukan melalui pemenuhan sarana dan prasarana jalan dan jembatan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .lembaga penelitian lainnya. pada satu sisi memiliki nilai yang strategis. sehingga belum menjadi sarana transportasi massal yang menjadi pilihan utama masyarakat. khususnya jalan dan perkeretaapian kondisinya belum memadai. tetapi pada sisi lain memiliki beban yang cukup peran berat. Jalur rel kereta api kondisinya masih memprihatinkan ditambah sistem pengelolaan yang belum memadai.1. 2. dan karena harus sebagai mampu menjaga jalur bahkan distribusi meningkatkan fungsinya penopang perekonomian nasional maupun sebagai aksesibilitas internal yang berfungsi sebagai penggerak utama (prime mover) perekonomian daerah. dan penyediaan air baku. Jalur jalan Pantura empat lajur yang melewati Kota semarang selalu menghadapi masalah alam yaitu banjir dan rob.4 SARANA DAN PRASARANA Kota semarang yang terletak di tengah-tengah jalur distribusi Jawa– Sumatera.

Jalan Nasional 59.971 Jumlah 2. Panjang jalan di seluruh wilayah Kota Semarang mencapai 2.261 Km.762.714 Provinsi 28.41 . Sistem jaringan jalan di wilayah Kota Semarang dilalui jalur utama yang menghubungkan wilayah-wilayah penting baik antar provinsi maupun didalam Provinsi Jawa Tengah.12% sudah di aspal. dan sisanya dalam keadaan rusak.1 Perhubungan Sistem jaringan jalan yang ada di Kota Semarang terdiri atas : arteri primer.910 20.762. Tabel 2. Dari beberapa fungsi jalan yang ada di Kota Semarang tersebut.239.479 Sedang 14. jalan Provinsi 28. Berdasarkan status kepemilikan jaringan jalan di Kota Semarang terbagi atas.314 625.48% dalam keadaan sedang. lokal primer. kolektor sekunder. yaitu jaringan jalan artei primer (pantura) yang banyak dilewati kendaraan dari arah Jakarta maupun kendaraan dalam Kota Semarang sendiri.4. jalan arteri primer yang menuju kearah Surakarta juga mempunyai kepadatan dengan intensitas tinggi.76 km. dan jalan Kota 2.950 7.673. 32.200 875. sedangkan dari kondisinya 44.971 km. kolektor primer.87% dalam keadaan baik.2.190 1. Kedudukan kota ini berpengaruh terhadap kepadatan lalu lintas yang melalui Kota Semarang.428 Rusak 2. arteri sekunder.890 Kota/Lokal 2.900 1. dan jalan-jalan dalam di pusat Kota Semarang yang mewadahi pergerakan masyarakat Semarang sebagai lokasi tujuan dari pergerakan.177.621 Sumber: Kota Semarang dalam Angka Tabel 2.278 897.673.25 Status Jalan dan Kondisi Jalan di Kota Semarang Tahun 2005 Status Jalan Negara Panjang (km) 59. lokal sekunder dan jalan lingkungan.500 621.89 km. terdapat beberapa ruas jalan yang benar-benar mempunyai tingkat kepadatan dengan intensitas tinggi.26 Banyaknya Kendaraan Bermotor dan Trayek Angkutan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .379 1. Adapun bila dilihat dari jenis permukaannya 52.1.760 Kondisi Baik 41.

Taksi Angkutan Kota Mobil Pribadi Sepeda Motor Jumlah 530 732 1. Aspek yang terkait dengan sarana transportasi tersebut adalah terminal dan tempat-tempat pemberhentian sementara. Terminal bus Terboyo merupakan terminal utama Kota Semarang yang untuk Bus AKDP pada tahun 2005 yang masuk ke terminal ini rata-rata setiap bulannya adalah sebanyak 12. dan Terminal Mangkang yang masih dalam proses pengembangan.813 bus. Trayek Ranting Sumber : Semarang Dalam Angka Sarana transportasi berkaitan erat dengan fasilitas-fasilitas yang menunjang sistem pergerakan ataupun sistem prasarana transportasi yang ada. Selain terminal. Sarana angkutan terbagi menjadi tiga jenis. Antar Kota Dalam Propinsi (AKDP) dan Angkutan Kota/Angkutan Pedesaan (AK/AP). angkutan laut dan angkutan udara. Jenis Kendaraan / Trayek Angkutan BUS Truk Colt. 4. 3. Terminal tipe B merupakan terminal yang melayani angkutan penumpang antar kota dalam propinsi dan angkutan kota/ angkutan perdesaan (AK/AP) terminal yang masuk dalam kelas ini adalah terminal Penggaron. Terminal tipe C merupakan terminal yang melayani angkutan kota / perdesaan (AK/AP). terminal tipe C berada di Gunungpati dan Cangkiran. Trayek Utama 2.320 708 20.408 bus tiap bulannya. 2. yaitu angkutan darat. fasilitas transportasi yang digunakan sebagai tempat pemberhentian akhir (stop station) namun tidak disediakan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .682 93. Terminal Kota Semarang yang masuk ke dalam kelas ini adalah Terminal Terboyo.di Kota Semarang Tahun 2005 1. 5.42 . Terminal Tipe A merupakan terminal yang melayani angkutan penumpang Antar Kota Antar Propinsi (AKAP).073 49 buah 44 buah Jenis Trayek 1. Sedangkan untuk Bus AKAP sebanyak 2. 6.

Semarang . Perumahan Plamongan Indah. kios-kios kecil. dan angkotan kota (angkota) yang melayani pergerakan penumpang di dalam Kota Semarang sebanyak 2. Perumnas Banyumanik. Rembang.bangunan terminal antara lain: Pasar Johar.322 armada (40 trayek). Perumahan Kuasen Rejo. Pelabuhan Tanjung Mas. Kudus. sedangkan angkutan kota dalam propinsi (AKDP) sebanyak 267 armada. Puri Maerokoco. dan taksi sebanyak 1. Rejomulyo. dan lain sebagainya. Ngaliyan. Perumahan Bukit Kencana Jaya. Perumnas Pucang Gading. Kota Semarang memiliki trayek angkutan yang mampu menjangkau 13 (tiga belas) kabupaten. Perumahan Pasadena. Mereka masih memanfaatkan jalan raya sebagai tempat untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Elizabeth. akan tetapi beberapa dari angkutan tersebut belum memanfaatkan terminal sebagai tempat transit. Perumahan Gedawang. Tinjomoyo. Jepara. Purworjo.43 .320 buah. Perumahan Payung Mas.Surabaya. Rowosari. Kokrosono. yang merupakan area transit point dalam kaitannya dengan mobilitas penduduk dan pelayanan transportasi public. Cilacap dan Wonogiri. Tegal. bus kota sebanyak 670 armada (37 trayek). Banyumas. Kualitas moda angkutan umum yang ada saat ini cukup baik. Komplek Industri Candi. RS. Keberadaan Terminal Mangkang sebagai pusat aktivitas transportasi yang melayani trayek lokal Kota Semarang maupun trayek regional Jakarta. yaitu Purwodadi. Sub Terminal Banyumanik. Pati.992 armada yang terdiri dari angkutan mobil penumpang umum (MPU) sebanyak 2. Angkutan ini berfungsi menghubungkan beberapa kota dalam satu propinsi. Karanganyar. Angkutan kota dalam antar propinsi (AKAP) yang masuk ke Kota Semarang sebanyak 199 armada. Pudakpayung. Blora. PRPP. Perkembangan aktivitas utama di terminal ini juga memunculkan banyak aktivitas lain di dalamnya seperti PKL. Trayek terbanyak yang dilayani dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Surakarta.

yaitu angkutan dengan trayek tetap dan angkutan yang belum memiliki trayek tetap. Posisi Kota Semarang yang strategis dengan lokasinya yang berada di tengahtengah pulau Jawa memberikan fungsi kota ini sebagai pusat tjuan perlintasan kereta api menuju ke berbagai kota di Pulau Jawa.Kota Semarang adalah trayek yang menuju Banyumas sebanyak 4 trayek. Angkutan kota dengan bus kota DAMRI melayani 4 (empat) trayek dalam kota yaitu Terboyo-Mangkang.44 . Kedua stasiun ini memiliki kelas pelayanan yang berbeda. Untuk sarana dalam pengoperasionalan kereta api. Dari kunjungan kapal selama tahun 2005. banyaknya kapal yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Emas Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . sedangkan jumlah kendaraan terbanyak adalah yang melayani trayek Semarang-Solo sebanyak 248 armada. Selain itu keunggulan lain yang berupa keefektifan waktu perjalan menjadi hal yang membedakan moda ini. Selain angkutan kota jenis mikro bus. Sehingga di pelayanan yang diberikan moda transportasi kereta api di kota ini terdiri atas berbagai pilihan tujuan. Angkutan laut juga merupakan sarana perhubungan yang cukup penting di Kota Semarang. sedangkan Stasiun Tawang difungsikan untuk memberikan pelayanan kelas bisnis dan eksekutif. Kota Semarang memiliki dua stasiun utama. yaitu Stasiun Tawang dan Stasiun Poncol. Terboyo-Jatingaleh. Angkutan kota ini terbagi atas dua angkutan. Keselamatan yang lebih dibandingkan dengan moda transportasi lain dan mampu menampung jumlah penumpang dengan kapasitas yang besar (public transport) menjadi keunggulan moda kereta api. Stasiun Poncol difungsikan untuk memberikan pelayanan dengan kelas ekonomi dan barang. NgaliyanPucanggading dan Pasar Johar-Perumnas Banyumanik. Tryak angkuta kota terdapat 68 trayek dengan jumlah armada yang melayani sebanyak 399 armada. terdapat angkutan kota jenis bus kota yang memiliki trayek tetap.

141. Angkutan udara mulai dirasakan manfaatnya seiring dengan kemajuan pembangunan.092 kapal.1.047 orang mengalami kenaikan masing-masing sebesar 18. sistem tranportasi laut di Kota Semarang juga melayani arus angkutan penumpang dan barang.406 dan 7. pada saat terjadinya krisis moneter peminatnya naik sebesar 30.55% dan 21.2. Upaya yang dilakukan dalam bidang perhubungan melalui pengembangan sistem jaringan jalan dan transportasi.161 ton. rakyat. pengembangan moda angkutan masal dan pengembangan antar dan inter moda angkutan(darat.88%. lokal. bila dibandingkan dengan keadaan tahun sebelumnya mengalami kenaikan masing-masing sebesar 0. laut dan udara).56%. tanker dan non tanker. Lapangan Penumpukan dan Terminal. yaitu samudera. Arus penumpang yang dilayani yaitu penumpang regional. Lapangan Peti Kemas.58% dan 0. Namun demikian. dengan membawa barang yang diturunkan sebanyak 4. sedangkan jumlah penumpang yang datang dan berangkat masing-masing sebanyak 702. nusantara.414 ton.383 orang dan 686. Perumahan dan Permukiman Pembangunan perumahan dan fasilitas umum di Kota Semarang selama 10 tahun terakhir dilihat dari banyaknya rumah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .342. Seperti halnya sistem transportasi jalan raya dan jalan rel. sedangkan arus barang yang dilayani terdiri atas 6 (enam) jenis pelayaran. 2. Pelabuhan Tanjung Emas merupakan pelabuhan samudera yang memiliki fasilitas tiga dermaga yaitu.sebanyak 3.405.4. dengan pelabuhan Tanjung Mas sebagai simpul transportasi yang melayani pergerakan sistem transportasi laut. Arus lalu lintas pesawat udara pada tahun 2005 yang datang dan berangkat tercatat sebanyak 7.87%.45 . sedangkan jumlah abrang yang dimuat adalah sebesar 2.

Semi permanen sebesar 21. pada tahun 2005 Papan/kayu 11.73 % dan pada tahun 2005 dapat dipenuhi sebesar 82. untuk kondisi Gedung permanen sebesar 66. Bukit Kencana Jaya. Adapun pengembang yang mengembangkan proyek perumahan di Kota Semarang antara lain PT. Sambirejo. Bumi Wanamukti. Sendangguwo. Graha Estetika. Pedurungan Kidul.35 %.07 %.77%. Pudak Payung dan Pedalangan. Sedangkan perumahan yang dibangun oleh Real Estate sebanyak 45 kawasan antara lain Taman Setyabudi. Dilihat dari kondisi rumah yang ada juga mengalami peningkatan dari tahun 1996 untuk kondisi Gedung permanen sebesar 65. Sendangmulyo.46 %. Tulus Harapan. Graha Mukti. Jumlah rumah pada tahun 1996 sebanyak 249. Gayamsari. Pasadena. Perum Korpri Tugurejo. Plamongan Indah.99 %. Bukit Permata Puri dan lain-lain.30 %. Kekancan Mukti. Tembalang. Sinar Waluyo. Bukit Semarang Baru.penduduk mengalami peningkatan rata-rata sebesar 1. Tanah Mas.239 rumah pada tahun 2005. Pembangunan Perumahan. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . PT. Semi permanen sebesar 21.533 rumah menjadi 292. Klipang . pada tahun 1996 kebutuhan rumah penduduk dipenuhi sebesar 79. Banyumanik. Villa Aster. Dilihat dari kebutuhan rumah di Kota Semarang mengalami peningkatan sebesar 2. Plamongan Hijau. Bangetayu Wetan. Srondol Wetan. Bangetayu Kulon. Semarang Indah. Bukit Sari. Beberapa lokasi perumahan yang dibangun oleh Perum Perumnas dan KORPRI sebanyak 36 kawasan antara lain Perumnas Tlogosari. Papan/kayu 10.46 . Dari data tersebut kondisi rumah selama kurun waktu 10 tahun mengalami peningkatan baik jumlah maupun kondisi fisik rumah. Bukit Permata Hijau.62 %. PT.71 % per tahun. PT.93 % dan bambu/lainnya 0. Krapyak. Pemenuhan kebutuhan akan perumahan selain dilakukan secara individu penduduk juga dilakukan oleh Perum Perumnas dan pengembang swasta lainnya. Adhi Karya.54 %.93 % dan bambu/lainnya 1. Kalicari. Bukit Kencana Jaya. Bulusan.

Terboyo Wetan. Bojong Salaman. Banjir Kanal. pemenuhan kebutuhan sarana prasarana dasar permukiman. Plombokan. Rusun Bandarharjo I. hal ini dapat dilihat dari semakin banyaknya sarana dan prasarana lingkungan permukiman khususnya diwilayah pinggiran/perbatasan. Randugarut. Tanjungmas. Tawang. Jrakah. Selain itu ada juga rumah sewa atau rumah susun sewa yang dikelola oleh Pemerintah Kota Semarang adalah Rusun Plamongansari. Putra Wahid Sejahtera. Bandarharjo.Kardeka Alam Lestari. Bulu. Rumah Sewa Karangroto. Kini Jaya indah. Indo Perkasa Usahatama. Tugurejo. PT. Terboyo Kulon. PT. Semarang Indah. PT. Purwodinatan. Pekojan. Pandean Lamper.47 . Tawang Mas. PT. Genuksari. PT. Namun dari jumlah rumah di Kota Semarang masih ada sebagian masyarakat yang belum mempunyai tempat tinggal yang layak. Graha Padma Internusa. Mangunharjo. Kampung Melayu. Panggung Kidul. Peterongan. Upaya pemerintah Kota Semarang yang telah dilakukan dalam bidang perumahan dan permukiman melalui pemenuhan kebutuhan perumahan permukiman yang berkualitas dan layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah. PT. Sindur Grahatama. Rusun Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Sleko. penduduk kurang mampu tinggal dikawasan kumuh yang diperkirakan tersebar di 42 titik yaitu di Krasakan. Kekancan Mukti. Dari Perum Perumnas yang ada hanya beberapa yang telah menyerahkan fasilitas sosial dan fasilitas umumnya kepada Pemerintah Kota Semarang yakni Perumnas Tlogosari dan Banyumanik. Dargo. Tanah Mas. Dadapsari. Bulu Lor. Tambakrejo. PT. Rusun Karangroto. Trimulyo. Kuningan. Kondisi kualitas lingkungan perumahan permukiman juga mengalami peningkatan. Sayangan. mendorong peran kelembagaan perumahan dan permukiman. Mangkang Kulon. Kalisari. Mangkang Wetan. Kebonharjo. PT. Makam kobong. Rumah Sewa Gasemsari. Karang Ayu. Panggung Lor. Purwosari. Karanganyar. Lemah Gempal. Sukorejo. Bubakan.

Sumber Daya Air Wilayah Kota Semarang mengalir beberapa sungai yang tergolong besar.165 pelanggan yang didominasi oleh pelanggan non niaga atau rumah tangga. daerah Hulu dengan sendirinya merupakan daerah limpasan debit air dari sungai yang melintas dan mengakibatkan terjadinya banjir.Bandarharjo II. Rusun Pekunden. Air bersih. Penanganan daerah atas terbagi ke dalam beberapa pelayanan DAS. Sementara pengelolaan drainase bagian bawah terbagi ke dalam empat sistem drainase.1. pengguna rata-rata terbesar adalah instansi pemerintah. sistem Drainase Semarang Barat.27 Jumlah Sumur Bor di Kota Semarang No Tahun Jumlah Pengambilan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . DAS Banjir Kanal Timur.4. Kondisi ini diperparah oleh karaktersitik wilayah dimana perbandingan panjang sungai dan perbedaan ketinggian (kontur) sangat curam sehingga curah hujan yang terjadi didaerah hulu akan sangat cepat mengalir ke daerah hilir. DAS Bringin. Pemenuhan air bersih yang dipenuhi oleh PDAM baru mencakup 60 % atau sebesar 115.48 . DAS Silandak/Siangker. yaitu DAS Babon. Penanganan drainase Kota Semarang. DAS Banjir Kanal Barat. merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi masyarakat dan fungsi perkotaan. serta industri. Sistem Drainase Semarang Tengah.207 ha. 2. Meskipun demikian. dengan rata-rata pemakaian di atas 1.3. pelabuhan dan sejenisnya. Sistem Drainase Semarang Timur. Sampai dengan tahun 2005 daerah genangan banjir di Kota Semarang seluas 9. terbagi atas dua karakteristik wilayah yaitu penanganan daerah atas dan penanganan daerah bawah. dan Sistem Drainase Semarang Tugu.500 m3. Tabel 2. DAS Plumbon. dan Pondok Boro.

Sebenarnya jika dilihat dari tiap kecamatan yang ada di Kota Semarang maka jaringan telepon telah menjangkaunya. II . Sambungan telepon di Kota Semarang sebanyak 66.000.500 m3/tahun 23. penguatan kelembagaan.49 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .1.000 45.000 38.729 dan tempat tinggal sebanyak 133. dengan mekanisme pasar yang ada kemudian tumbuh usaha wartel di tiap permukiman pusat-pusat kegiatan masyarakat. warung telekomunikasi (wartel) sebanyak 32.000. 2. Telekomunikasi Perkembangan jaringan telekomunikasi beberapa tahun terakhir cukup menggembirakan. pemeliharaan.361 sambungan.000*) *)Ket.050 >1. terlihat dengan banyaknya satuan sambungan yang dipasarkan kepada masyarakat.000 27. Upaya Pemerintah Kota Semarang dalam bidang sumber daya air dilakukan melalui pembangunan. Untuk mengatasi permasalahan lingkungan penyediaan atau jaringan telepon umum.000. yaitu belum meratanya sistem jaringan air bersih dan masih minimnya kapasitas air bersih.1 2 3 4 1990 1995 2000 2005 Sumur 300 320 1. akan tetapi untuk lingkup yang lebih kecil seperti kelurahan yang ada di tiap kecamatan belum terjangkau. pengelolaan kawasan hulu hilir secara terpadu. dan peningkatan sarana prasarana sumber daya air. Permasalahan klasik yang dihadapi berkaitan dengan air bersih adalah masih rendahnya kinerja pelayanan air bersih.4.4. : angka perkiraan Sedangkan pemenuhan air bersih yang diluar cakupan PDAM pemenuhannya dicukupi melalui pembuatan sumur dangkal maupun sumur dalam serta dari air permukaan (sungai).857 unit.000.

4. sedangkan yang menjadi pelanggan rumah tangga sejumlah 282.Dari uraian di atas dapat dilihat bahwa prasarana telekomunikasi telah merata diseluruh kecamatan yang ada di Kota Semarang.479 pelanggan. Jangkauan pelayanan listrik sudah menjangkau pada seluruh wilayah kota Semarang namun belum semua bangunan rumah tangga menjadi pelanggan listrik PLN. Upaya yang dilakukan pemerintah Kota Semarang dalam bidang energi adalah koordinasi penambahan kapasitas produksi energi kelistrikan dan perluasan jaringan sampai keseluruh wilayah kota serta kebijakan efisiensi pemakaian daya listrik.5 POLITIK DAN TATA PEMERINTAHAN Terjadinya krisis ekonomi sejak awal Mei 1997 berlanjut menjadi krisis multidimensi secara akumulatif menimbulkan desakan kuat pada tuntutan reformasi.1. pengendalian dan kemudahan dalam usaha telekomunikasi. yang didominasi oleh pelanggan rumah tangga.900 kwh. pemakai rumah tangga sejumlah dengan konsumsi listrik terbesar adalah 274.708.5.784 pelanggan. radio. Setiap kecamatan dapat mengakses komunikasi dengan mudah lewat pos.691. dengan rata-rata pemakaian daya pelanggan sebesar 746. televisi atupun telepon baik itu telepon rumah atau telepon seluler yang saat ini sedang menjadi trend di kalangan masyarakat. Reformasi politik nasional yang menemukan momentum di tahun II .1.50 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .805. 2. 2. Upaya pemerintah Kota Semarang yang dilakukan dalam bidang telekomunikasi melalui pengaturan. Bila dilihat secara rinci.600 kwh dan industry sejumlah 228. hal ini dapat dilihat dari jumlah bangunan rumah tangga sebanyak 292. Energi Jumlah pelanggan listrik PLN sampai dengan pada tahun 2005 di Kota Semarang tercatat sebanyak 313.304 Kwh.239 buah.

68 %. Demikian pula terkait dengan pengetahuan dan kesadaran politik bagi masyarakat perdesaan. Hal ini mempengaruhi jalannya tata pemerintahan di daerah.897 pemilih atau 66. perubahan lima undang-undang politik. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah serta berbagai peraturan pelaksanaan yang dibutuhkan.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah untuk mengganti undang-undang sebelumya. secara monumental diwujudkan dalam pemilu tahun 1999 dan pemilu legislatif serta pemilu presiden/wakil presiden tahun 2004.70 persen. Upaya pemerintah Kota Semarang yang telah dilakukan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Otonomi daerah menjadi salah satu icon penyelenggaraan pemerintahan. tetapi disebabkan adanya Pemilih yang menggunakan haknya diluar kota Semarang. Pada Pemilu Legislatif tahun 2004 jumlah pemilih yang menggunakan haknya mencapai 83. dan pada Pilkada Kota Semarang tahun 2005 jumlah pemilih sebanyak 997. Partisipasi masyarakat dalam mengikuti pesta demokrasi pemilu tahun 2004 menunjukkan prosentase diatas rata-rata tingkat nasional.200 pemilih dan yang menggunakan hak pilihnya sebesar 664.1998. Tingginya dinamika politik dan perlunya konsolidasi dan sinkronisasi ketentuan normatif maka lahirlah Undang-Undang No. dan pada Pemilu Presiden Putaran II sebesar 78. kaum perempuan dan pemilih pemula. Sedangkan dalam penyelenggaraan pemerintahan telah terjadi perubahan yang sangat signifikan sejak bergulirnya reformasi. Penurunan peserta pemilu tersebut bukan dikarenakan banyaknya pemilih yang Golput.28 persen. Dalam melalui dua kali penyelenggaraan pemerintahan juga terus dilakukan pembenahan ditandai dengan terbitnya Undang-undang No. Namun demikian banyak peraturan pelaksanaannya yang belum konsisten dan cenderung saling tumpang tindih.70 persen. Partisipasi dan kesadaran politik masyarakat masih perlu mendapatkan perhatian terutama menyangkut hak dan kewajiban warga negara serta institusionalisasi partai politik dalam kegiatan politik. pada Pemilu Presiden Putaran I sebesar 78.51 .

6. pada era reformasi cenderung terjadi peningkatan gangguan kriminalitas sebagai akibat tingginya angka pengangguran. peningkatan kualitas SDM aparatur. ketentraman dan ketertiban yang diakibatkan oleh kondisi sosial di Kota Semarang. kriminalitas dan rendahnya tingkat pelanggaran terhadap Peraturan Daerah. Ketertiban dan keamanan masyarakat sebagai salah satu prasyarat utama untuk keberhasilan pelaksanaan pembangunan. kemiskinan dan faktor ekonomi lainnya.52 . Oleh karena itu pembangunan harus mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bela negara dan berbagai gangguan kamtibmas yang mungkin terjadi.penataan struktur organisasi perangkat daerah.1. peningkatan kualitas pelayanan publik. Kota Semarang menyimpan berbagai potensi gangguan keamanan. Pembangunan di bidang keamanan dan ketertiban masyarakat telah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . dan peningkatan kesadaran berpolitik masyarakat. KEAMANAN DAN KETERTIBAN Sebagai salah satu kota besar di Indonesia. kasus unjuk rasa yang berkaitan dengan bidang politik dan bidang ekonomi dan kasus pemogokan kerja. kasus pertikaian antar wilayah/kampung. dan politik masyarakat dengan dalam kegiatan pemerintahan dan maupun kegiatan mampu menjawab tantangan untuk dapat meningkatkan stabilitas politik dan pembangunan sesuai tuntutan demokratisasi transparansi pemerintahan dalam mewujudkan good governance. pertikaian antar pelajar. memahami dan mentaati kesadaran berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk mengetahui. sehingga pemerintahan dan pembangunan dapat berjalan. fasilitasi kegiatan politik. Hal ini terlihat pada jumlah kriminalitas di kota Semarang pada tahun 2005 tercatat sebanyak 268 kasus yang terdiri dari kasus pertikaian antar warga. Kondisi pembangunan keamanan dan ketertiban implikasi dari pelaksanaan pembangunan ini adalah merupakan salah rendahnya tingkat satu prasyarat keberhasilan pelaksanaan pembangunan di Kota Semarang.

193 137 2.193 137 1. Masyarakat diharapkan mengetahui hak dan kewajibannya sebagai warga sekaligus memiliki hak dan kewajiban dan persamaan perlakukan dalam masalah hukum.7. 2.1.116 137 4.053 2004 94 8.078 8.dapat diwujudkan dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.193 137 1.1. dan penegakan Peraturan Daerah baru dan 39 buah merupakan revisi Peraturan Daerah lama yang tidak sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat. Dari 85 6.1 HUKUM DAN APARATUR Hukum Dalam era otonomi daerah selama telah ditetapkan 362 Peraturan Daerah.7.28 KEKUATAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT (LINMA) KOTA SEMARANG TAHUN 2000 – 2005 No 1 2 3 4 5 Klasifikasi LINMAS 2000 SATPOL PP HANSIP /KAMRA LINMAS MENWA POSKAMLING 90 6. ekonomi.181 2003 89 8.078 137 4. 2. maupun Keputusan DPRD.489 6.122 2005 118 9.53 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Upaya pemerintah Kota Semarang dalam bidang keamanan dan ketertiban telah dilakukan melalui peraturan perundang-undangan.037 Perda sepuluh tahun terakhir Keputusan Walikota 46 buah merupakan koordinasi antar instansi dan masyarakat. Tabel 2. dan budaya.078 8. Hal ini sejalan dengan semangat UUD 45 yang menyebutkan Indonesia adalah negara hukum sehingga II . fasilitasi sarana dan prasarana keamanan lingkungan. kepastian hukum kepada masyarakat.038 6.124 9. Pembangunan hukum dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan negara.678 2002 90 9.032 137 3.433 Sumber Data Bappeda Kota Semarang Keberhasilan pembangunan di bidang tersebut dirasakan masyarakat dalam kehidupan sosial. Rasa aman yang dirasakan masyarakat tidak terlepas dari upaya yang telah dilakukan pemerintah melalui berbagai sistem keamanan.398 orang 2001 90 8.

perangkat daerah terdiri Sampai dengan tahun 2005 Badan. No. 84 Tahun 2000 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah. Terjadinya perubahan dari UU. No. 6 Kecamatan dan 177 Kelurahan. No.7. No. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Setelah tahun 2000 kelembagaan Kondisi pemerintah daerah semakin memperhatikan nuansa lokal.2 Aparatur Penyelenggaraan pemerintahan sangat Kota ditentukan Semarang keberhasilannya oleh institusi birokrasi pemerintah. Secara faktual kombinasi pertimbangan manajerial dan non manajerial dalam penempatan aparatur sulit dielakkan. 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah sebagai revisi PP. Upaya dalam bidang hukum telah dilakukan melalui sosialisasi peraturan perundang-undangan dan pengembangan jaringan dokumentasi hukum. dilematis tersebut semakin nampak ketika daerah diberi kebebasan untuk menentukan jenis dan jumlah unit organisasi berdasarkan kemampuan. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah membuka harapan baru bagi daerah dalam mengatasi situasi dilematis. 84 Tahun 2000 dimana didalamnya memberi banyak pembatasan terhadap jumlah dan jenis unit organisasi. pembentukan struktur organisasi dan tata kerja pemerintah sangat diwarnai dengan nuansa sentralistik.1. Hal ini semakin mencolok ketika muncul PP.54 . jumlah 16 Sekretariat Daerah (3 asissten dengan 8 4 Kantor. Sebelum era otonomi daerah.persamaan dan kepastian hukum menjadi panglima dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. Bagian). 22 Tahun 1999 ke UU. 17 Dinas. kebutuhan dan beban kerja sebagaimana dimaksud PP. dimana semuanya ditentukan oleh Pusat. 2. 1 Sekretariat DPRD. No.

653 Tenaga Pegawai Harian Lepas (TPHL). 3.852 pegawai. dan dimana hot line disertai service dengan dengan pengadaan memanfaatkan teknologi dan informasi dalam bentuk P5 (Pusat Penanganan Pengaduan Pelayanan Publik). dan sehingga menimbulkan dampak inefisiensi.55 .043 Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan 2. kurang profesional dan kurang mempertimbangan aspek kompetensi. Dengan berlakunya otonomi daerah terdapat pelimpahan pegawai dari instansi vertikal sampai dengan tahun 2005 jumlah pegawai sebanyak 15.93%) berpendidikan SD. seperti . Beberapa langkah perubahan yang dilakukan dalam rangka peningkatan pelayanan umum antara lain: pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT). Setelah era reformasi. orang (36. penyelenggaraan pelayanan umum semakin mendapat perhatian dalam pelaksanaan pembangunan.Kinerja masyarakat pemerintah menunjukkan daerah adanya dalam banyak pelayanan kelemahan kepada dalam penyelenggaraan pelayanan publik. 5. prosedur yang berbelit maupun keterbatasan cakupan layanan. tumpang tindih perijinan.962 orang (26. otonomi sebanyak 5.42 %) (4.23%) Dari sisi tingkat pendidikan pegawai 737 orang SLTA.68%) berpendidikan SLP. ketidaksesuaian antara struktur organisasi dengan jumlah pegawai. Hal ini menyebabkan aparatur pemerintah berada dalam posisi yang tidak netral. Pusat Penanganan Pengaduan Pelayanan Publik (P5). aplikasi Standar Pelayanan Minimal melalui Bulan Layanan Publik pada tahun 2003. kualitas aparatur beban kerja. Sebelum era otonomi daerah aparatur pemerintah diposisikan sebagai salah satu pilar kekuasaan politik. dan pada tahun 2004 ditingkatkan menjadi Tahun Peningkatan sarana Pelayanan pengaduan Publik.435 berpendidikan Jumlah aparatur Pemerintah Kota Semarang sebelum Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . diskriminasi pelayanan. 703 orang (4.

735 3. produktif.2005 No.berpendidikan D-I/D-II/D-III. dan penurunan kualitas sumber daya alam.281 3. S3.796 3. 3.D2 danD3) S1 S2 S3 JUMLAH 2001 987 790 6. Hal tersebut mengingat semakin terbatasnya sumber daya alam dan adanya arus perdagangan bebas yang semakin kuat sehingga kawasan strategis perlu didorong dan diperkuat eksistensinya.21%) berpendidikan S1.8.938 157 15.043 Sumber : Badan Kepegawaian Daerah Kota Semarang Upaya yang telah dilakukan melalui peningkatan SDM aparatur. Tabel 2.700 3.463 2005 741 704 5.012 3.943 230 1 15. dan berkelanjutan yang diimbangi dengan konsistensi dan komitmen dalam pengendalian serta penegakan hukum merupakan tantangan ke depan yang harus dihadapi dan dipersiapkan bersama dengan seluruh stakeholders. Meningkatnya dinamika dan aktivitas penduduk sejalan dengan semakin mantapnya pelaksanaan otonomi daerah.451 3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .53 %) berpendidikan S2 dan 1 orang (0.974 3. 233 orang (1.945 2003 891 772 5. Dalam kondisi seperti ini ruang akan menjadi komoditi yang sangat strategis.56 . 2.885 154 15. 1 2 3 4 5 6 7 Tingkat Pendidikan SD SLTP SLTA Diploma (D1. WILAYAH. peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan aparatur serta pengembangan pegawai.866 3. pengaruh arus perdagangan bebas.0%) berpendidikan Pada satu sisi jumlah pegawai yang besar tersebut merupakan aset namun pada sisi lain apabila tidak dapat dioptimalkan akan merupakan beban bagi pemerintah daerah. nyaman.29 Jumlah Pegawai Negeri Sipil (PNS) Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pemerintah Kota Semarang Tahun 2001 .940 orang (26.830 151 15. TATA RUANG DAN PERTANAHAN Kerja sama sinergitas pengelolaan potensi merupakan tantangan pembangunan perwilayahan ke depan yang secara konsisten terus dilaksanakan. Untuk itu. pelaksanaan penataan ruang yang aman.895 3.125 3.737 2002 952 828 6.239 2004 848 773 6.865 153 15.1.

Beberapa kawasan kerja sama strategis telah mulai terbentuk dan operasional antara lain. Demak. Kedungsepur (Kendal. Upaya yang telah dilakukan adalah peningkatan keserasian dan kelestarian sesuai dengan potensi dan daya dukung wilayah. maka kebutuhan akan lahan juga meningkat pula.1.Seiring dengan meningkatnya kebutuhan ruang. sehingga tantangan yang dihadapi pada bidang pertanahan adalah peningkatan pelayanan administrasi pertanahan yang berpihak pada kepentingan masyarakat yang telah mulai dirintis saat ini melalui sistem manajemen pertanahan berbasis masyarakat. daya saing. dimaksudkan Kota Kerjasama untuk kawasan pembangunan harmonis dalam tersebut kerangka mensinergikan kawasan ini pembangunan agar antar wilayah dapat saling berinteraksi secara Semarang dengan hinterlandnya. 2. dan daya dukung potensi wilayah Kota semarang dalam konteks kawasan wilayah strategis dilakukan dengan dengan pendekatan pembangunan kerja sama operasionalnya melalui pembangunan wilayah/kawasan antar kabupaten/kota mendasarkan pada kerjasama kawasan yang telah ditetapkan RTRW Kota Semarang. Semarang. Pertumbuhan masing-masing kecamatan relatif lambat dibanding dengan kecepatan perkembangan dinamika kebutuhan pelayanan kepada masyarakat. Salatiga dan Purwodadi). Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .8. Sekaligus kerjasama pembangunan kawasan dimaksudkan untuk mengurangi dampak disparitas pembangunan kawasan dan urbanisasi. Ungaran. regional dan kota.1 Wilayah Kota Semarang terbagi dalam 16 kecamatan dan 177 kelurahan. pengembangan struktur pola ruang kota dengan mempertimbangkan fungsi nasional. terutama permasalahan infrastruktur dan penyediaan lapangan pekerjaan.57 . Upaya peningkatan daya jual.

Permasalahan yang dihadapi dalam penataan ruang adalah pemanfaatan dan pengendalian tata ruang yang tidak konsisten dan belum adanya kesepahaman serta komitmen antar pelaku pembangunan dalam pengelolaan tata ruang.8. meliputi ruang darat. Kemudian menyesuaikan dengan UU No. 6 sampai 15 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota BWK (Bagian Wilayah Kota) I sampai X tahun 2000 – 2010. Pada tingkatan alokasi zonasi fungsi mendetailkan RTRW tersebut telah ditetapkan Perda No. 2 Tahun 1990.58 . laut. Tabel 2. 01 Tahun 1999 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 1995 – 2005 yang kemudian direvisi dengan Perda No.2 Tata Ruang Tata Ruang wilayah Kota Semarang sebagai bagian dari tata ruang wilayah nasional merupakan satu kesatuan ruang wilayah NKRI. berdaya guna dan berhasil guna secara berkelanjutan demi terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial sesuai UUD‟45. 5 Tahun 1981 tentang Rencana Induk Kota Semarang Tahun 1975 – 2000 yang direvisi dengan Perda No. 5 Tahun 2003 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Semarang Tahun 2000 – 2010.2.1. Pada tahun 1981 telah ditetapkan Perda No. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang telah ditetapkan Perda No. dan udara.30 Penggunaan Lahan Kota Semarang 2000-2005 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . termasuk di dalam bumi maupun sebagai sumber daya yang harus dikelola secara bijaksana.

50 67.30 226.62 1.47 134.897.46 2003 119.99 633.383.262.50 94.914.34 8. 15. Berdasarkan luas wilayahnya. 12.020.40 Luas (Ha) 2002 3.71 374.370.00 460.00 18.83 37.394.62 1.956.24 km2.658.40 27.96 2005 19.459. 3.98 2.97 226. Lahan Kering a. dan luas lahan II .19 8.50 94.711.63 194.89 130.802.518.00 432.41 8.008.95 2004 19.370.913.00 432.004.00 432.90 33.00 628.71 2002 19.876. Rawa f.00 33.55 8.00 61.218.382.943.84 651.370.62 1.45 37.00 99.500. 2.43 14.809.788.48 2. 13.14 km2.89 324.73 238. Padang/rumput d.778.59 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .472.388.457. dengan spesifikasi memiliki luas lahan sawah 1008 km2 atau sekitar 25. 11.61 1.29 Sumber Data Semarang Dalam Angka Kota Semarang memiliki lahan seluas 373.00 33.008. 4.94 976.07 9.43 18.62 115. Pekarangan & Bangunan b.40 2004 3.394. No Kecamatan S emarang T engah S emarang Utara S emarang T imur G ayamsari G enuk P edurungan S emarang S elatan C andisari G ajah Mungkur T embalang B anyumanik G unungpati S emarang B arat Mijen Ngaliyan T ugu Jumlah 92.57 1.00 510.370.594.00 3.00 1.00 67.340.88 5.55 50.98 2. 9. 14. Tambak/Kolam e.459.00 99.657.47 2.81 1.563 km2 dan lahan kering yang seluas 334.61 1.455.70 km2.00 1.455.00 64.40 2003 3. Dari keseluruhan lahan yang ada terdiri atas lahan yang berupa lahan sawah seluas 39.00 33.56 37.71 394.62 1. Irigasi 1/5 Teknis c.377.00 33.00 64. Tegalan dan Kebun c.45 37.89 130.71 134.912.008.00 171.00 60.71 417.373.10 37.00 1. kecamatan Mijen yaitu sebesar 6.00 18. 6 7.00 38.25% dari luas total lahan sawah di Kota Semarang.90 8.40 8.89 378.058.93 13.74 994.00 509.414.90 8. Non PU 2.43 231. Tadah Hujan e.876.50 61.74 995.06 651.126. 10.03 37.107.48 208.00 7.50 61. 8.008. 16.15 8.00 18.97 14.23 8.89 114.776.94 1.00 570.57 1.386.10 13.No Penggunaan Lahan 2000 2001 3.00 3.612.94 991. Irigasi Teknis b.55 8.501.404.40 1.00 460.881. 5.63 510. Irigasi sederhana d. Lahan Sawah a.658.32 171.00 3.98 1.00 566.101.28 338.370.57 1.33 460.40 2005 3.57 1.043.956.657.30 Areal Lahan Sawah di Kota Semarang 2001-2005 Areal Lahan Sawah (Ha) 2001 1.00 95.01 651. Lahan tak diusahakan f.386.897.01 651.96 164.75 8.24 29.00 460.99 18.00 95.298.50 71.00 631.40 3.459.56 263.94 1.000.00 3.44 13.00 1.57 1.97 8.00 3. Lain-lain Tanah Kering Jumlah Sumber Data Bappeda Kota Semarang di olah Tabel 2.00 33.69 15.

Semarang Utara dan Semarang Tengah pemanfaatan lahannya hanya berupa lahan non-sawah. tambak/kolam. perkebunan (3.6 Km2). dan penggunaan lain.980. tadah hujan (210. tegalan (939 Km2). tidak diusahakan (5. pekarangan (823 Km2). Penggunaan lahan sawah di Kota Semarang meliputi irigasi teknis (22.99%). ladang (890 Km2).59%). Tabel 2. non PU (99. ladang (5. lainnya (19. Semarang Selatan. Candisari. 45%). dan beberapa jenis penggunaan lainnya dengan prosentase yang kecil.31 Areal Lahan Kering di Kota Semarang Tahun 2005 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . dan yang tidak diusahakan (0.55 Km2). Dari persentase di atas.094 Km2). padang/rumputan. rawa. Kecamatan Mijen memiliki luas lahan non-sawah paling luas dibanding dengan kecamatan-kecamatan lainnya di Kota Semarang dengan luas wilayah 5. diketahui bahwa kecamatan Gajahmungkur. Sedangkan kecamatan yang memiliki luas lahan non-sawah paling kecil yaitu kecamatan Semarang Tengah dengan luas 605 Km2.60 .148 Km2). dapat diketahui pula bahwa kecamatan yang memiliki luas lahan sawah paling besar yaitu kecamatan Gunungpati yaitu sebesar 1.35%). Semarang Timur. irigasi sederhana/irigasi desa (99.5%).61% dari total lahan bukan sawah di Kota Semarang. ladang (19. Disamping penggunaan lahan sawah. tegal/kebun.74 Km2) dan kolam (4. kolam (0.24 km2 atau sekitar 15.5 Km2). Selain itu. dengan spesifikasi pekarangan (527. tegal (4. setengah teknis (57. lainnya (627.386 Km2 atau sebesar 34.188 Km2).72 % dari total lahan sawah di Kota Semarang. Secara keseluruhan kecenderungan penggunaan lahan nonsawah di Kota Semarang yang terbesar yaitu pekarangan (37.53 Km2). tambak (4.5 Km2). lainnya (66.148 km2).16%).210.54 Km2 dengan spesifikasi perkebunan (1116 Km2).bukan sawah sebesar 5.17%).48 Km2). penggunaan lahan di Kota Semarang yang lain meliputi pekarangan.44 Km2).

69 979.1.00 462.75 910.66 4.495.20 822.00 190.55 979.97 153.809.378.97 1.50 24. Semarang Timur 4. Mijen 15. Semarang Tengah 2.20 8.16 27. pembentukan pengendalian kelembagaan penataan pengembangan tata ruang.40 430.33 696.28 52.97 Upaya pemanfaatan yang dan telah dilakukan tata melalui ruang.28 1.75 13.00 371.30 1. Gajah Mungkur 10.25 109.48 126.50 33. terutama dalam kaitannya dengan fungsi pemanfaatannya.62 1. baik fungsi lindung maupun budi daya sesuai RTRW. Candisari 9.89 901. Semarang Selatan 8.80 1.39 691.00 2.48 13.09 194.539 590.85 2. Pembangunan pertanahan dilakukan demi terciptanya tertib administrasi pertanahan dan kepastian hak atas tanah sehingga menjamin kepastian hukum hak atas tanah.50 200.88 418.45 53.62 11. Tembalang 11.378.53 Lain-2 Tanah Kering 71.970.507. bidang yang terdiri dari Sampai dengan tahun 2005 dengan jumlah bidang tanah sebanyak 760. Tugu 5.73 Jumlah Sumber Data Semarang Dalam Angka Padang Tambak/Kol Gembala am 13.61 sebanyak 170.569. Gayamsari 5. Genuk 6 Pedurungan 7.389. 472 bidang sudah bersertifikat.00 507.349. Banyumanik 12. sisanya Sedangkan kepemilikan tanah II .88 8.00 474.00 37.37 901.87 10.70 1.00 45. koordinasi dan fasilitasi serta advokasi tata ruang.8. Gunungpati 13. Ngaliyan 16.53 Rawa 1.085.176.83 392.45 14.312. perencanaan.53 1.067 belum bersertifikat.84 2.94 73.58 2.3 Pertanahan Bidang pertanahan yang merupakan salah satu sumber daya alam yang harus dijaga dan ditata karena mempunyai nilai strategis dalam tatanan kehidupan manusia bersosial dan bernegara.63 2.PENGGUNAAN LAHAN KERING (Ha) No Kecamatan Pekerangan Tegalan & Bangunan dan Kebun 527.80 420.84 811.39 494.00 537. Semarang Utara 3.526.00 1.27 70.89 1.000. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Semarang Barat 14.08 1. 2.573.106.

359 bidang belum bersertifikat. Kali Siangker sekitar Bandara Achmad Yani.Pemerintah Kota Semarang yang terinvetarisir sebanyak 3. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . pendangkalan dasar badan sungai dan penyempitan sungai karena sedimentasi.9 kualitas.62 . Cakupan banjir saat ini telah meluas di beberapa kawasan di Kota Semarang. Upaya yang telah dilaksanakan adalah sosialisasi kepemilikan hak atas tanah. Bandarharjo. Kenaikan tinggi pasang surut ini berdampak pada rob di kawasan Semarang Utara. Panggung Kidul. Semarang Tengah dan Genuk.159 bidang. Tugu. 2. Banjir yang terjadi di Kota Semarang merupakan tradisi tahunan yang pada umumnya disebabkan tidak terkendalinya aliran sungai. fasilitasi dan advokasi pemanfaatan lahan maupun permasalahan konflik pertanahan. adanya kerusakan lingkungan pada daerah hulu (wilayah atas kota Semarang) atau daerah tangkapan air (recharge area) serta diakibatkan pula oleh ketidakseimbangan input – output pada saluran drainase kota. SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Kondisi lingkungan Kota Semarang telah mengalami penurunan angka pasang surut dari tahun 1991 setinggi 0. yang mencakup sekitar muara Kali Plumbon. di Genuk dari Kaligawe sampai perbatasan Demak.87 m. dimana tanah yang sudah bersertifikat sebanyak 870 bidang sedangkan sisanya sebanyak 1. sepanjang jalan di Mangkang. Intrusi air laut telah masuk kedaratan menjorok sampai wilayah. Kawasan pantai yang terkena rob khususnya di Kecamatan Semarang Utara dan Semarang Tengah dipengaruhi oleh adanya penurunan muka tanah dengan laju 2 – 8 cm/tahun(Direktorat Geologi dan Tata Lingkungan). 1994). seperti misalnya di Kelurahan Panggung Lor. akibat kenaikan debit. menjadi 0.1. Karangayu.97 m pada tahun 1994 (laporan dari JICA – Japan International Corporation Agency. kawasan Tawang/Kota Lama sampai ke kawasan Tanjung Mas. Krobokan. kawasan Tugu Muda – Simpang Lima sampai Kali Semarang.

Dari produk sampah yang dihasilkan tersebut. Berdasarkan data “Book Municipal Solid Waste Management In Asian Cities”. pasir dan batu) yang terus meningkat dan kurang terkontrol serta penutupan permukaan lahan yang melebihi daya dukungnya. total produksi sampah di Kota Semarang adalah 4500 m3/hari atau 1.290.159 jiwa telah menghasilkan produk sampah kota sekitar 226. Sampai dengan tahun 2005 beberapa kawasan di Kota Semarang telah terjadi kerusakan lahan sebagai akibat penambangan galian golongan C yang tidak terkontrol. Pedurungan dan Kawasan Genuk. hal ini berdampak pada penurunan kualitas air tanah.276 ton/tahun. Jalan Majapahit. Pada tahun 2005 dengan jumlah penduduk sekitar 1. Salah satu cara untuk mencegah meluasnya proses intrusi air laut ke dalam air tanah adalah dengan pengendalian dan pengawasan serta perlindungan air bawah tanah secara khusus dan intensif. Jalan Pandaran.4 juta jiwa. Kerusakan lingkungan lahan di Kota Semarang terutama diakibatkan oleh penambahan bahan galian golongan C (tanah. Konsekuensi dari berbagai aktifitas penduduk salah satunya adalah masalah persampahan. kurang lebih sejauh 6 km dari garis pantai. banjir dan rusaknya pemandangan alam perbukitan.Jalan Sudirman. kawasan Sampangan. Penyebab intrusi air laut di Kota Semarang disebabkan adanya penyedotan air bawah tanah yang berlebihan dan tidak terkendali serta karena kerusakan lingkungan kawasan pesisir. Cakupan pelayanan pengelolaan sampah di Kota Semarang pada tahun 2005 sekitar 75%.63 . United Nation Centre for Regional Development (UNCRD) tahun 1999 dapat diketahui bahwa dengan jumlah penduduk sekitar 1. sampah dikumpulkan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Kedungmundu dan kawasan Tembalang. seperti di kawasan Ngaliyan. sedimentasi sungai. pengupasan muka tanah. pengeprasan bukit tersebut telah menimbulkan dampak rusaknya lahan penurunan muka air tanah. jumlah sampah yang terkelola dengan baik hanya mencapai sekitar 48 % dari Program Semarang Surakarta Urban Development Program (SSUDP).7 juta m3/tahun. kawasan Simpang Lima. Penambangan yang dilakukan dengan cara penggalian tanah.

mulai dari sumber. serta di TPA. dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: membuang sampah dalam tong sampah. proses pengumpulan dengan door to door dengan dump truck. Dalam pelayanan sampah sampai dengan tahun 2005 container sampah sejumlah 389 buah yang tersebar di sebanyak 340 buah. Tahapan yang dapat dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah yang terjadi adalah dengan daur ulang dan pengomposan. ini menunjukkan kualitas udara pada kategori Sedang mendekati Jelek (Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU).64 . Kesadaran Pemerintah Kota Semarang dalam pengadaan dan pengelolaan ruang terbuka hijau ditunjukkan pada alokasi 132 tersedia kelurahan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . dan paru-paru kota. Sedangkan sisanya dikelola oleh masyarakat dengan sistem pengolahan yang bermacam-macam. Pertamanan dan ruang terbuka hijau disamping merupakan fungsi keindahan. seperti penimbunan di pekarangan. juga berfungsi sebagai ruang interaksi masyarakat. Kegiatan daur ulang dapat dilakukan mulai dari sumber sampah di rumah tangga (skala kecil). kendaraan bermotor berpotensi sebagai kontributor utama menurunnya kualitas udara. Kondisi udara Kota Semarang dari pantauan alat ISPU (Indek Standar Pencemaran Udara) di Kecamatan Tugu. Kecamatan Pedurungan dan Kecamatan Banyumanik sampai bulan Agustus 2000 menunjukkan angka 51 – 100 ppm. pada saat kegiatan pengumpulan dan pemindahan. dan sebagian kecil ada yang dibuang ke sungai. Sedangkan kadar polusi debu di beberapa ruas jalan utama Kota Semarang telah melewati ambang batas Baku Mutu Lingkungan yang ditetapkan (Hasil penelitian Puspedal Bapedalda. kemudian diangkut dan di buang ke tempat pembuangan akhir (TPA) sampah. Dari berbagai sarana transportasi. sarana olah raga. kemudian diangkut dan di buang ke TPA di Mijen. Kepmen Lingkungan Hidup Nomor 45 tahun 1997). 1994/1995 – 1996/1997). pasar-pasar sebanyak 49 buah. Proses pengelolaan persampahan gerobak atau yang ada. dibakar.

politik. belum terdapat taman yang cukup luas untuk sarana rekreasi. 2.lahan pemanfaatan ruang hijau di dalam RTRW yang cukup dominan.4 ha) dan Taman Yos Sudarso (1. yaitu Taman Median Sukarno-Hatta (1. Namun. 147 taman yang dikelola dinas pertamanan dan dari penghijauan/pohon di pinggir jalan. hukum dan aparatur. Namun dengan banyaknya kepentingan berbagai pihak keberadaan mangrove khususnya di wilayah pantai Kota Semarang kondisinya sangat memprihatinkan. Ada dinas yang selalu melakukan pemantauan perihal penghijauan tersebut yaitu Dinas Pertamanan dan Pemakaman serta Dinas Pertanian. II . padahal luas mangrove yang ideal untuk wilayah pantai Kota Semarang seluas ± 325 hektar.65 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . Di pusat Kota Semarang. peningkatan sarana prasarana lingkungan. yaitu Taman Menteri Supono (selain 2 taman pasif. Berdasarkan data yang ada. Perlu upayaupaya penanganan dalam pembangunan daerah 20 tahun ke depan. pengutan kelembagaan serta pengendalian lingkungan.2 ha)). hanya ada satu taman aktif yang mendekati luasan 1 hektar. Mangrove merupakan ekosistem khas pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut serta kadar garam yang ada. konservasi dan pemberdayaan masyarakat. ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).67% yang masuk dalam kondisi baik. ekonomi. dari 15 hektar luas mangrove ± 72. baik bidang sosial budaya dan kehidupan beragama. minimal lebar 100 m di sempadan pantai. TANTANGAN Banyak kemajuan yang telah dicapai tetapi banyak pula tantangan atau masalah ke depan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Memperhatikan betapa pentingnya peranan hutan mangrove dalam ekosistem pantai.33% mangrove di wilayah Kota Semarang dalam kondisi kritis dan hanya 26. Pohonpohon di pinggir jalan membuat kesan Kota Semarang masih cukup hijau. keamanan dan ketertiban. sungai dan muara. Upaya yang telah dilakukan dilakukan meliputi rehabilitasi. selain berfungsi sebagai penyedia unsur hara juga sebagai pelindung pantai. hijau kota terdapat pada: kebun-kebun pribadi.2. mestinya keberadaan hutan tersebut harus diperhatikan.

sedangkan siang hari akan mencapai 2 kali lipat sebagai konsekuensi kota Metropolitan.1. administrasi kependudukan. Tantangan 20 tahun yang akan datang adalah pengembangan perpustakaan berbasis teknologi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . penyediaan sarana dan prasarana.pembangunan wilayah dan tata ruang.2. Prediksi tersebut merupakan jumlah penduduk malam hari. urbanisasi dan persebaran penduduk.2.1 SOSIAL. 2.2 Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Dalam bidang ketenagakerjaan tantangan yang dihadapi adalah menyeimbangkan antara pertumbuhan jumlah angkatan kerja dan ketersediaan kesempatan kerja dalam rangka mengurangi jumlah pengangguran. peningkatan mutu pelayanan dan relevansi pendidikan kebutuhan. disamping peningkatan profesionalisme dan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan serta kecukupan sarana prasarana pendidikan. 2. pemerataan.2.66 . pengelolaan keluarga berencana dan pemerataan penyebaran penduduk yang sesuai dengan daya dukung lingkungan.2.1.4 Perpustakaan Kemajuan teknologi informasi akan berpengaruh pada perubahan perilaku membaca masyarakat.2.3 Pendidikan Tantangan dengan di bidang pendidikan mencakup aksesibilitas.1. kualitas penduduk. Untuk itu diperlukan pengelolaan yang benar tentang kependudukan yang mencakup pelayanan. 2. 2.1. BUDAYA DAN KEHIDUPAN BERAGAMA Kependudukan dan Keluarga Berencana Diprediksikan tahun 2025 jumlah penduduk di Kota Semarang meningkat menjadi sekitar 2. serta pengelolaan sumber daya alam (SDA) dan lingkungan hidup.5 juta jiwa. 2.1. Tantangan Pembangunan kependudukan dan sumber daya manusia dalam kurun waktu 20 tahun yang akan datang adalah pengendalian tingkat pertumbuhan penduduk.

2. Disamping itu tantangan lainnya adalah permintaan akan pelayanan kesehatan yang mudah. 2.5 Kesehatan Seiring dengan semakin membaik tingkat pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.1. keberpihakan dalam perencanaan dan penganggaran yang berpihak kepada warga miskin (pro poor).2. peralatan dan fasilitas kesehatan yang canggih dan representatif sejalan dengan kemajuan IPTEK. bertambahnya sarana prasarana olah raga serta meningkatnya tingkat prestasi olah raga yang mendukung supremasi olah raga baik tingkat regional. serta meningkatnya partisipasi dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .8 Kemiskinan Tantangan yang dihadapi antara lain yaitu perbedaan pemahaman terhadap hak-hak dasar masyarakat miskin.1.informatika. 2.1.7 Kesejahteraan sosial Tantangan bidang kesejahteraan sosial adalah sinergitas penanggulangan masalah penyandang masalah kesejahteraan Sosial (PMKS) yang sistematis.1. 2.6 Pemuda dan Olahraga Tantangan Pembangunan di bidang kepemudaan dan keolahragaan adalah meningkatnya tingkat partisipasi pemuda dalam pembangunan dan semangat kebangsaan.67 . nasional maupun internasional. 2. berkelanjutan dan bermartabat baik yang berada di dalam maupun diluar panti.2.2. meningkatnya sinergi dan koordinasi berbagai upaya penanggulangan kemiskinan. tantangan pembangunan bidang kesehatan yang dihadapi adalah perubahan pola perilaku dan kualitas lingkungan menyebabkan timbulnya berbagai penyakit degenaratif maupun penyakit menular. berkualitas namun terjangkau. Pelayanan kesehatan yang prima sangat identik dengan tersedianya tenaga kesehatan yang profesional.

1.2. Pada sisi lain tantangan lainnya adalah rendahnya indeks pembangunan gender. budaya. informasi. EKONOMI Pembangunan berbasis kewilayahan yang telah dilaksanakan selama ini Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .1. beragama. Tantangan lain di bidang sosial budaya yang tak dapat dikesampingkan adalah pemeliharaan kearifan lokal dalam peradaban. meningkatnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak.2.11 Perempuan dan Anak Pembangunan pemberdayaan perempuan masih dihadapkan pada ketimpangan keadilan gender di berbagai bidang. 2.10 Agama Dibidang kehidupan beragama tantangan yang dihadapi adalah mewujudkan ajaran agama yang mampu menjadi inspirasi dan ajaran moral untuk menggerakkan masyarakat membangun. serta kurang terpenuhinya hak-hak dasar. 2. serta ekses dari ketimpangan kondisi sosial ekonomi serta pengaruh globalisasi. tantangan ke depan yang dihadapi adalah menipisnya nilai moral. kesejahteraan dan perlindungan anak.9 Kebudayaan Di bidang kebudayaan. sumber dalam serta mewujudkan kerukunan antar dan intern umat 2. dan agama. serta penguatan jatidiri dan kepribadian masyarakat.2. utamanya pada akses di bidang pendidikan.2. sebagai akibat dampak negatif perkembangan ilmu pengetahuan. 2.2. teknologi.68 .terbatasnya akses masyarakat miskin. ketenagakerjaan. Lemahnya penghargaan dan hukuman pada upaya-upaya pelestarian bangunan kuno dan cagar budaya. eksploitasi perdagangan orang dan diskriminasi terhadap perempuan dan anak. harkat dan martabat manusia.1. dan ekonomi. kesehatan.

serta terbangunnya industri kreatif.2.69 .2.telah dapat mendorong kerja sama pembangunan antar daerah secara sinergis. tantangan pembangunan ekonomi pada dua puluh tahun ke depan adalah meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas struktur ekonomi bertumpu pada perdagangan dan jasa didukung oleh sektor-sektor prioritas sesuai potensi yang ada sehingga mampu meningkatkan pendapatan perkapita dan secara bertahap kesejahteraan masyarakat.2 Industri Tantangan perindustrian terutama mempertahankan lapangan kerja. industri yang dapat memproduksi barang yang kompetitif dipasar regional. namun masih meningkatkan kesejahteraan masyarakat menciptakan lapangan pekerjaan secara memadai.2. Tantangan pembangunan kewilayahan ke depan adalah meningkatnya kesenjangan pembangunan antardaerah akibat bervariasinya dan terbatasnya potensi sumber daya alam.3 Koperasi dan UKM Pada kondisi perekonomian global koperasi dan UKM dituntut untuk mengembangkan ekonomi kerakyatan yang mampu bersaing dengan pemilik modal besar.1 pengembangan berbagai potensi daerah termasuk pengembangan sumber energi alternatif. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Kondisi dan Struktur ekonomi Pembangunan belum dapat ekonomi Kota Semarang sampai saat ini telah dan menunjukkan adanya peningkatan yang cukup signifikan.4 Investasi Tantangan pada investasi adalah peningkatan daya tarik daerah yang mampu bersaing dengan produk daerah lain dan dapat diterima pasar. 2.2. nasional maupun global. Oleh karena itu. sehingga dapat mendorong daya saing wilayah.2. berbahan baku lokal 2.2.2. 2. industri yang ramah lingkungan. dan sumber-sumber pendapatan daerah sehingga diupayakan 2.2.

2.6 Kelautan dan Perikanan Belum terpenuhinya sarana prasarana perikanan secara optimal menyebabkan produktifitas perikanan dari tahun ke tahun mengalami penurunan.2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .2. membanjirnya produk dari luar yang murah memberikan pukulan terhadap pengusaha kecil/ menengah domestik karena kalah bersaing terhadap murahnya harga produk. tantangan kedepan adalah membangun industri perikanan pasca tangkap untuk pemenuhan konsumsi lokal dan regional.2. serta mengembangkan perikanan darat/kolam mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tantangan ke depan adalah mempertahankan dan melestarikan lahan pertanian produktif.7 Pertambangan Tantangan bidang pertambangan adalah tidak seimbangnnya antara nilai kerusakan lingkungan dengan manfaat yang diperoleh.2. 2. 2.2. meningkatkan produktivitas pertanian yang mempunyai nilai ekonomi tinggi dan menjaga kelestarian lingkungan.5 Pertanian Meningkatnya aktivitas perkotaan berdampak pada alih fungsi lahan pertanian menjadi lahan non pertanian. regulasi investasi yang belum sepenuhnya menjamin serta kerjasama investasi yang saling berusaha menguntungkan.70 .2. pemenuhan sarana prasarana penunjang investasi dan kepastian 2. kendala yang 2.8 dihadapi adanya regulasi yang membatasi kewenangan pemerintah daerah dalam pengendalian ekploitasi Perdagangan Intensifnya pasar bebas/globalisasi menuntut peningkatan kualitas produk barang dan jasa secara lebih kompetitif. terbatasnya sumber daya lokal yang dapat dikembangkan.untuk menarik minat investor yang saling menguntungkan dan dapat meningkatkan perekonomian daerah.2.

penyediaan egoverment bagi birokrasi pemerintahan. Tantangan lainnya adalah ketersediaan perangkat teknologi. religi. informasi dan komunikasi dalam menghadapi perkembangan global. Apabila dilihat kondisi sarana prasarana saat ini. dalam rangka mendorong kemandirian ekonomi dan daya saing produk-produk lokal di pasar regional ataupun global. tantangan ke depan adalah meningkatkan kualitas dan produktivitas barang dan jasa secara bertahap dengan tetap mengacu pada Standar Mutu Nasional maupun Standar Mutu Internasional sehingga memiliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif sebagai produk unggulan Kota Semarang.2. Berkembangnya pasar modern yang mengakibatkan 2. pemaantan dan pengembangan IPTEK.3.4.9 Pariwisata Tantangan pada pariwisata prasarana yang memadahi.2.71 . ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Tantangan yang dihadapi dalam bidang iptek adalah membangun masyarakat yang mampu dalam penguasan.Untuk itu.2. ketersediaan perangkat teknologi dalam rangka peningkatan pelayanan publik. SARANA DAN PRASARANA Meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitasnya di bidang sosial budaya dan perekonomian pada kurun waktu dua puluh tahun ke depan akan membawa konsekuensi terhadap ketersediaan sarana prasarana wilayah yang memadai. 2. khas budaya lokal. pemanfaatan potensi adalah penyediaan sarana dan dengan pengembangan wisata pasar tradisionil tidak mampu bersaing dan berkembangnya sektor informal yang tidak terkendali.2. potensi alam dan buatan menuju Kota Semarang sebagai Daerah Tujuan Wisata. untuk dapat memenuhi cakupan layanan dan kenyamanan bagi masyarakat yang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . 2.

mengembangakan sistem transportasi wilayah yang efisien dan efektif dapat menjangkau ke seluruh wilayah serta dapat menghubungkan antara daerah (sentra-sentra) produksi dan daerah pemasaran.2.4. 2. pengendalian daya rusak air. pemenuhan 2. laut dan udara) dan membangun sarana prasrana transportasi massal guna mengantisipasi kemacetan yang akan semakin parah. 2. pengendalian kualitas air serta terwujudnya kemampuan kelembagaan pengelolaan sarana prasarana sumber daya air yang optimal.3 tempat tinggal bagi masyarakat kurang mampu. Pembangunan di bidang perhubungan. dan pengembangkan sumbersumber air dan penampungan air. peningkatan kualitas lingkungan permukiman pada kawasan kumuh.2.berkualitas. seiring dengan perkembangan dan dinamika masyarakat serta perkembangan perekonomian wilayah memiliki banyak tantangan.2.4. 2.2 Perumahan dan permukiman Tantangan Pembangunan perumahan dan permukiman pada kurun waktu dua puluh tahun ke depan adalah penyediaan dan penataan sarana prasarana yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat dan memenuhi standar kualitas lingkungan perumahan dan permukiman.2. serta menghubungkan antar dan intermoda angkutan (darat. maka hal tersebut menjadi tantangan yang cukup berat pada masa datang.1 Perhubungan Tantangan dalam kurun waktu dua puluh ke depan adalah memenuhi ketersediaan sarana dan prasarana perhubungan kota .72 .4.4 Telekomunikasi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .4. Sumberdaya air Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan sumber daya air dalam rangka menunjang ketahanan pangan dan memenuhi pasokan air baku yang semakin meningkat meliputi meningkatkan sarana dan prasarana sumber daya air dan pengelolaan jaringan irigasi dengan melibatkan masyarakat. pelestarian.

menjadikan alat kontrol atas pemenuhan kepentingan publik dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan dan korupsi. tantangan yang dihadapi dalam bidang politik dalam pelaksanaan desentralisasi di berbagai bidang adalah peningkatan kedewasaan politik bagi masyarakat dan pengembangan budaya politik. tuntutan terhadap kinerja pelayanan publik yang prima berbasis pada partisipasi masyarakat serta pelaksanaan asas dan norma tata pemerintahan yang baik. Oleh karena itu. Seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan menguatnya pelaksanaan desentralisasi.2. POLITIK DAN TATA PEMERINTAHAN Perkembangan dalam bidang politik dan tata pemerintahan seiring dengan makin meningkatnya kesadaran politik dan implementasi kebijakan desentralisasi menjadi fokus perhatian bagi pemerintah maupun masyarakat. 2. 2. serta mampu menciptakan iklim kondusif yang didukung oleh tata pemerintahan yang baik. menjadi tantangan di masa depan guna memenuhi tingkat kepuasan masyarakat. Konsolidasi demokrasi akan dihadapkan pula pada tantangan bagaimana melembagakan kebebasan pers/media massa yang profesional.2.5. sehingga mampu mendorong demokratisasi yang lebih transparan dan lebih bertanggung jawab.4. Peningkatan akses masyarakat terhadap informasi yang bebas dan terbuka. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .5 Energi Tantangan yang dihadapi dalam pembangunan bidang listrik dan energi adalah pemenuhan kebutuhan listrik dan energi bagi rumah tangga dan industri yang semakin meningkat serta pengembangan energi yang terbarukan (ramah lingkungan).Dalam pembangunan telekomunikasi tantangan yang dihadapi adalah mengembangkan dan mengendalikan jaringan telekomunikasi guna memenuhi cakupan layanan telekomunikasi yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.73 .

ketertiban dan penaggulangan bencana yang komprehensif dan partisipatif serta konsistensi dan keadilan penegakan perda.2 Aparatur Tantangan dalam bidang aparatur pemerintah sebagai pelayan masyarakat ke depan adalah mewujudkan aparatur pemerintah yang profesional dan mampu bekerja secara transparan. peningkatan jaminan akan kepastian.6. 2. Di samping itu. akuntabel. KEAMANAN DAN KETERTIBAN Perubahan geopolitik internasional dan nasional akan sangat memengaruhi kondisi keamanan dan ketertiban. Kesadaran masyarakat yang tanggap terhadap berbagai potensi ancaman dan gangguan kamtibmas dan bencana perlu ditingkatkan bersama dengan peningkatan sistem pengelolaan keamanan. dan kualitas prima untuk memenuhi kinerja pelayanan publik. 2. bencana non alam dan bencana sosial.2.2.74 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan dan pelayanan II .2. 2. Tantangan lainnya adalah penaggulangan bencana alam.7. serta harmonisasi produk hukum daerah sesuai perubahan dinamika masyarakat. Hal ini sejalan dengan semakin besarnya tuntutan untuk membentuk peraturan daerah yang baik disertai dengan peningkatan kinerja lembaga dan aparatur hukum serta peningkatan kesadaran hukum masyarakat dan HAM. Tantangan yang dihadapi dalam bidang keamanan dan ketertiban ke depan adalah peningkatan jumlah peristiwa kriminal yang diikuti dengan berkembangnya kejahatan non konvensional dan kejahatan konvensional dengan modus baru.1 HUKUM DAN APARATUR Hukum Tantangan yang dihadapi dalam bidang hukum adalah penegakan hukum secara adil dan tidak diskriminatif.2.7.7. rasa keadilan. dan perlindungan hukum.2.

semakin WILAYAH DAN TATA RUANG Meningkatnya dinamika dan aktivitas penduduk sejalan dengan mantapnya bebas. wilayah daratan dan wilayah Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . sarana dan utilitas perkotaan sehingga tantangan yang dihadapi pada bidang wilayah. lebih baik.70 km2. Pemanfaatan Teknologi Informasi (TI) dalam bentuk egovernment. penataan pelaksanaan dan otonomi daerah.8. arus alam dan perdagangan pelaksanaan penurunan yang kualitas sumber menyebabkan ruang akan menjadi komoditi yang sangat strategis. pengaruh daya produktif. Untuk itu. berkelanjutan merupakan tantangan ke depan yang harus dihadapi dan dipersiapkan bersama dengan seluruh stakeholders.2. tata ruang dan pertanahan adalah tingginya kebutuhan ruang dihadapkan pada terbatasnya lahan efektif yang dapat dikembangkan dalam rangka merumuskan kebijakkan dalam kegiatan penataan ruang dalam rangka terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan. juga akan meningkatkan diterapkannya prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik (good governance). Kemajuan teknologi dan informasi akan mempengaruhi terjadinya perubahan manajemen penyelenggaraan pemerintahan daerah. e-procurement. 2.8. 2. dan lebih murah. keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia dan terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang.75 .1 Wilayah Dengan luas wilayah 373. Kota Semarang memiliki wilayah yang terdiri dari wilayah pesisir/pantai.2.yang sesuai dengan tuntutan masyarakat yang makin maju dan demokratis. Bertambahnya penduduk dengan sendirinya diikuti meningkatnya kebutuhan ruang untuk pemenuhan kebutuhan prasarana. ruang aman. e-business dan cyber law selain akan menghasilkan pelayanan publik yang lebih cepat. nyaman.

3 Pertanahan Dalam rangka menjaga keserasian kegiatan penataan ruang maka tantangan dalam bidang pertanahan adalah bagaimana tercipta tertib administrasi pertanahan dalam rangka meminimalisasi konflik- Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .2 Penataan Ruang Dengan ditetapkannnya Perda No.2.2. 6 sampai No. pertumbuhan dan perkembangan wilayah. pemanfaatan dan pengendalian pemanfaaran ruang agar tercapai tujuan penataan ruang yang aman.76 . Tantangan lainnya adalah sinkronisasi pengembangan antar wilayah agar memberikan manfaat simultan secara agregatif bagi wilayah Kota Semarang.8. Permasalahan yang dihadapi adalah ketimpangan wilayah secara intensif tumbuh di pusat nilai kota. 15 Tahun 2004 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Bagian Wilayah Kota (BWK) I sampai Bagian Wilayah Kota (BWK) X maka kegiatan penatan ruang dituntut adanya komitmen untuk menjaga konsitensi perencanaan.perbukitan. Oleh karena itu tantangan ke depan menyeimbangkan pertumbuhan perkembangan antara wilayah sesuai dengan potensi masing-masing wilayah untuk mencapai nilai tambah yang berimbang antara masingmasing wilayah sesuai dengan fungsi ruang yang ditetapkan dalam rencana tata ruang. Hal ini dalam pengertian bahwa pengembangan setiap wilayah akan memberikan dukungan kepada pengembangan wilayah lainya sesuai dengan potensi geoekonomi dan geofisiografi. dimana pertumbuhan dan perkembangan sementara adalah wilayah pinggiran bagaimana kurang memperoleh tambah dan perkembangan ekonomi kota. 2.8. 2. Tantangan lain adalah bagaimana mensinergikan pertumbuhan kota Semarang dengan wilayah-wilayah hinterlandnya. produktif dan berkelanjutan serta berkeadilan. 5 Tahun 2004 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Semarang dan Perda No.

2. konservasi lahan) Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II . Meningkatnya pertumbuhan dan perkembangan aktivitas perkotaan membawa dampak pada meningkatnya polusi (air. Eksploitasi air tanah secara berlebihan mengakibatkan penurunan permukaan tanah (land subsidence).9. Penambangan Galian C dan. baik di wilayah daratan maupun laut yang berlebihan dan tidak memerhatikan kelestarian serta kurangnya konservasi sumber daya alam.kebakaran. Tantangan kedepan adalah pemanfaatam teknologi ramah lingkungan serta perumusan kebijakan pengelolaan lingkungan hidup dalam rangka pengurangan/eliminasi polusi perkotaan serta pemulihan lingkungan (kebijakan pengendalian Air Bawah Tanah. angin puyuh di wilayah Kota Semarang.konflik dibidang pertanahan. perdagangan dan transportasi serta kerusakan lingkungan hidup. industri. 2. Reklamasi Pantai. Sehingga tantangannya adalah mewujudkan regulasi dan pengendalian dalam pengambilan air tanah. banjir dan rob. Eksploitasi sumber daya alam. Air Bersih. tanah. mengakibatkan menurunnya daya dukung dan daya tampung lingkungan.77 . dan udara). Air Permukaan. serta pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan. SUMBER DAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP Laju pembangunan lima tahun terakhir selain berdampak pada peningkatan kesejahteraan rakyat juga berdampak terhadap fungsi lingkungan hidup. meningkatnya pemanasan global berpotensi meningkatnya bencana longsor. memberi dampak perembesan (intrusi) air laut dan rob sampai jauh ke daratan. Tantangan lainnya adalah banyak terdapat lahan-lahan yang tidak dimanfaatkan secara optimal sesuai fungsi peruntukan yang direncanakan sesuai dengan tata ruang. kekeringan. baik akibat aktivitas domestik.

Derajad kesehatan masyarakat 3. Persaingan ekonomi kerakyatan yang bertumpu pada potensi lokal dengan pemilik modal kuat. ISU STRATEGIS Dari hasil analisis strategi evaluasi internal dan eksternal dalam SWOT Strategis terhadap Kondisi Kota Semarang. 7.3. 2. 2.3. 2. Laju pertumbuhan dan penyebaran penduduk.4 Sarana dan Prasarana Pemenuhan kebutuhan akan sarana dan prasarana perkotaan skala metropolitan : 1. kebutuhan sarana dan prasarana skala pelayanan metropolitan 3. Kualitas Sumber Daya Manusia 2. eksploitasi. Urbanisasi 2. Kemiskinan 2. ROB dan Banjir II . 4.3. perdagangan perempuan dan anak.2 Ekonomi 1. Optimalisasi asset pemerintah daerah.78 kesejahteraan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 .1 Sosial. Persaingan kualitas produk dan harga. 6.2.3. Budaya dan Kehidupan Beragama 1.3. 4. maka dapat dirumuskan isu-isu sebagai berikut : 2. Struktur ekonomi daerah yang belum mantap. Pengangguran 5. 3.3 Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi masyarakat. Pengamalan nilai-nilai agama dan pelestarian nilai-nilai budaya dalam kehidupan bermasyarakat. Diskriminasi.

Konflik Kepentingan Pertanahan 2. Penguatan Otonomi Daerah 2. Pertambangan galian C.6 Keamanan dan Ketertiban 1.2.9 Sumber`Daya Alam dan Lingkungan Hidup 1.1 Daya Saing Ekonomi Daerah. memiliki posisi nilai strategis bagi pertumbuhan ekonomi II .3. Intrusi air laut 2.79 Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 . MODAL DASAR Modal dasar Pembangunan adalah merupakan salah satu kekuatan dan peluang baik yang efektif maupun yang potensial yang dimiliki dan didaya gunakan sebagai salah satu dasar pembangunan daerah antara lain : 2.8 Wilayah. Erosi.4. Reklamasi tambak dan pantai 4.7 Hukum dan Aparatur 1.3. Budaya Tertib 2. Kuantitas dan Kualitas Kriminalitas 2.3.3. 5. 2. Demokratisasi dan partisipasi Politik 2. Kota Semarang.4. Inkonsistensi perencanaan dengan pemanfaatan dan pengendalian ruang 3. Abrasi.3. Pelayanan publik 3. Tata Ruang dan Pertanahan 1. Profesionalisme aparatur 2. dan Penurunan Permukaan Tanah 3. Penurunan/Degradasi kualitas lingkungan dan pemanasan global. Ketimpangan pertumbuhan antar wilayah 2. Kepastian dan keadilan hukum dan hak asasi manusia (HAM) 2.5 Politik dan Tata Pemerintahan 1.

maka berbagai peluang ekonomi yang ada dapat dikelola dan berproduksi secara maksimal. Di samping itu. Keberadaan kedua keunggulan ini akan menjadi pondasi utama untuk membangun ekonomi yang berdaya saing tinggi. banyaknya lembaga-lembaga pendidikan dan pelatihan yang mampu mencetak sumber daya manusia merupakan modal utama terciptanya tenaga kerja terdidik. Hal ini menjadikan keunggulan komparatif bagi kegiatan pemasaran dan pergudangan yang menunjang kegiatan perdagangan dan jasa. Hal ini membuka peluang bagi berkembangnya aktivitas ekonomi yang variatif. nasional maupun internasional. Jika kedua keunggulan ini dapat dibangun. Dari jumlah tersebut 26.04 % merupakan lulusan SLTA ke atas. Luas wilayah kota Semarang baru terbangun sekitar 40 % masih memungkinkan untuk Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .4. serta ditunjang oleh kelengkapan pelayanan transportasi baik darat.478 jiwa yang ada 69 % merupakan Angkatan kerja produktif. Hal tersebut disebabkan Semarang merupakan pusat pemerintahan di Jawa Tengah dan letaknya pada persimpangan jalur ekonomi dari arah barat. dataran rendah dan perbukitan memungkinkan masyarakatnya melakukan berbagai aktivitas yang heterogen. laut dan udara.419. 2. Dari jumlah penduduk sebanyak 1.3 Kondisi Kawasan. yang didukung oleh etos kerja dan moralitas keimanan dan ketaqwaan yang tinggi. Potensi sumber daya manusia yang ada merupakan modal dasar pembangunan yang sangat penting. Keunggulan tersebut tidak akan memberikan manfaat yang optimal tanpa dibarengi dengan usaha-usaha peningkatan keunggulan kompetitif. Tercapainya kondisi ini akan mengembalikan kejayaan Semarang tempo dulu sebagai salah satu kota niaga. 2.4. Kondisi wilayah Kota Semarang yang terdiri dari wilayah pantai.80 . dari daerah hulu sampai hilir.lokal. timur dan selatan.2 Kualitas sumber daya manusia.

Hal tersebut menjamin berlangsungnya kegiatan pembangunan kota.81 . 2. Kondisi potensial ini dapat diperoleh karena Kota Semarang memiliki institusi pemerintahan yang didukung dengan aparatur yang profesional.5. budaya dan agama senantiasa mewarnai segala aktivitas warga kota. selalu saling membantu dan merupakan modal yg tidak ternilai. pada jalur transportasi trans jawa bagian utara.4. serta berbagai hasil penelitian dan pengembangan yang menunjang peningkatan kinerja pelayanan publik dalam rangka menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance). Salah satu potensi pembangunan dan sekaligus menjadi faktor strategis yang dimiliki adalah adanya pemerintahan yang mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. sehingga menciptakan suasana kehidupan warga kota yang kondusif terciptanya ketertiban dan keamanan. Nilai-nilai kearifan sosial. Semangat dan niat kebersamaan secara individu maupun kelompok masyarakat untuk membangun kota.dioptimalkan bagi pengembangan fungsi-fungsi perkotaan. sistem/standar prosedur penyelesaian tugas yang tertata dengan baik. Budaya masyarakat bergotong royong. merupakan perilaku masyarakat yg selalu peduli terhadap sesama. Secara geografis Kota Semarang terletak di tengah pulau Jawa diantara wilayah barat dan wilayah timur.4. yang dapat memberikan banyak peluang menjadi pusat pertumbuhan nasional. memajukan masyarakat dari seluruh pemangku kepentingan. hal ini menjamin terwujudnya tujuan pembangunan Kota Semarang. Komitmen Pemangku Kepentingan. 2.4 Pemerintahan dan Pelayanan Publik. dan dilengkapi dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Selain itu kehidupan berpolitik yang demokratis dan adanya sistem penegakan hukum dan hak asasi manusia (HAM) ikut mendukung terciptanya suasana kota yang tertib dan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

aman tersebut.82 . Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Semarang Tahun 2005-2025 II .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful