Anda di halaman 1dari 2

Paper Bacaan Individu 6 SOSIOLOGI AGAMA ANDRI BUDINUGROHO / 01110019 Mengantar Teologi Feminis Asia Berbicara di Panggung Dunia1

Diskusi-diskusi mengenai teologi feminis telah berkembang dengan cukup baik di dalam ranah pergumulan dunia teologi sampai dengan saat ini, termasuk juga secara khusus diskusi mengenai teologi feminis Asia. Di dalam memahami dan membuka selubung teologi feminis asia, diperlukan sebuah kesadaran untuk meletakkan dasar pemahaman pada konteks budaya dan historis masyarakat Asia yang khas dan berbeda dari konteks negara-negara Barat yang lebih sekuler. Teologi feminis Asia harus memiliki jati dirinya sendiri sebagai bagian dari karakteristik Asia yang lembut dan sekaligus militan. Melalui forum-forum diskusi baik pribadi, lokal, regional, maupun internasional (contoh: CCA, EATWOT), para teolog feminis berusaha melakukan kajian dengan menggunakan analisis sosial untuk menguak ketidakseimbangan perlakuan yang adil kepada masyarakat perempuan yang pada akhirnya harus menggugat asumsi-asumsi mendasar dalam kerangka pandangan hidup dari suatu masyarakat dan komunitas religius, termasuk juga mempertanyakan sistem teologi tradisional dan konteks kekristenan yang sudah lama menyimpan kepercayaan, mitos, dan praktek dalam budaya patriarkhal yang membangun hubungan dominasi dan subordinasi laki-laki terhadap perempuan. Pada dekade 1980-an, sebagian besar upaya berteologi hanya berkutat di sekitar hak asasi manusia dan keadilan sosial dalam dunia sekuler, teknologi, ideologi, dan ekonomi tanpa melakukan perincian dan pengkhususan tentang studi dari pelanggaran hak asasi dan keadilan kepada kaum perempuan yang termarjinalkan di Asia. Teologi-teologi lokal yang diupayakan oleh kaum laki-laki pun sangat jauh dari realitas masyarakat di Asia dan terlalu banyak berbicara tentang pembangunan nasional, kapitalisme, dan kelas dalam struktur masyarakat tanpa menyentuh kenyataan terdalam yang seharihari dialami oleh masyarakat, terutama kaum perempuan. Dukungan eksistensial dari kaum teolog laki-laki bagi perjuangan perempuan di Asia baru tiba setelah kaum perempuan matang dalam merumuskan jati diri dan makna panggilan perjuangannya yang ingin mengembangkan teologi mereka yang mandiri terhadap teologi barat, teologi pembebasan kaum laki-laki, dan teologi feminis putih. Perjuangan teologi feminis Asia seharusnya merupakan koreksi yang bersifat menyeluruh, dengan tetap menerapkan penghargaan kepada realitas tradisi dan budaya Asia yang merupakan titik berangkat gerakan ini. Komitmen terhadap realitas di Asia dimana perempuan Asia hidup dan dihidupkan, menjadi sumber dan dasar berteologi yang kuat di dalam membangun konstruksi teologi feminis Asia. Teolog-teolog feminis Asia juga perlu membahas tema-tema teologi (kristologi, eklesiologi, pneumatologi, dst) dalam sebuah pola hermeneutika baru yang berangkat dari perspektif dan pengalaman perempuan sendiri, serta keluar dari keterjebakan pola pikir konstruksi patriarkhal yang membelenggu selama ini. Upaya penyeimbangan berteologi adalah usaha yang sangat penting dalam menjaga konsistensi bangunan teologi feminis di Asia. Kecenderungan penitikberatan realitas sosial dari perempuan yang tertindas dan miskin dalam kompleksitas sosio-religius di Asia perlu dikaitkan dengan konteks teologi dan iman gereja di Asia, sebagai upaya penguatan teologi kontekstual perempuan Asia. Teogi feminis mesti juga memberi perhatian kepada institusi agama dan gereja sebagai sebuah realitas sosial yang harus terbuka terhadap kritik dan mampu menyesuaikan diri dengan situasi-situasi baru dalam kehidupan manusia. Perumusan hermeneutik dan spiritualitas yang baru dari gerakan feminis di Asia merupakan sebuah kebutuhan mendesak. Perempuan harus mulai memetakan pengalaman dasariahnya demi menemukan spiritualitasnya yang baru, dimulai dengan keberanian memasuki situasi asing dari dirinya sendiri, dan kemudian melakukan analisis sosial yang diikuti dengan refleksi teologis demi pencapaian suatu kesadaran baru tentang dirinya sendiri dalam konteks sosial di Asia. Proses inilah
1

Paper review bacaan. Risakotta, Farsijana. Menguak Teologi Feminis Asia (hal. 13-32). Gema Duta Wacana Edisi 55. Yogyakarta : Fakultas Theologia, 1999.

Paper Bacaan Individu 6 SOSIOLOGI AGAMA ANDRI BUDINUGROHO / 01110019 yang disebut sebagai spiral hermeneutik, yaitu suatu metode untuk memberi pengertian baru terhadap suatu artikulasi pengalaman yang sedang diteliti dan diperbaharui. Metode ini tidak hanya akan memulihkan perasaan keterasingan perempuan terhadap dirinya sendiri tetapi juga seluruh komunitasnya yang terjebak dalam struktur sosial yang kurang adil terhadap orang yang tertindas. Sudah saatnya, teologi feminis Asia berbicara di panggung dunia. Pertanyaan-pertanyaan terkait dengan usaha menguak teologi feminis Asia adalah ; Apakah teologi feminis Asia benar-benar sudah efektif dan mampu membawa perubahan dalam arah teologi Asia pada khususnya dan dalam arah teologi dunia pada umumnya? Apakah kehadiran teologi feminis Asia hanya muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap faktor-faktor resisten yang membatasi mereka, atau lebih dari itu, teologi feminis Asia juga bermaksud memberikan warna, corak, dan alternatif yang khas Asia terhadap perbendaharaan pemikiran teologi dunia? Sampai sejauh manakah konsistensi teolog-teolog feminis Asia di dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya di tengah gempuran tantangan internal maupun eksternal yang mereka hadapi?