Anda di halaman 1dari 12

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Manusia diberi oleh Allah akal yang berguna untuk berfikir. Berfikir adalah upaya manusia untuk memperbaiki dirinya baik dihadapan Allah maupun manusia , sebab dengan proses berfikir manusia akan cemerlang dan terlihat bijaksana dalam menyelesaikan masalahnya. Keinginan untuk menjadi cerdas adalah wajar. Karena itu manusia selalu mencoba-coba apakah hal itu sesuai dengan pemikirannya atau tidak. Kita semua paham bahwa sesungguhnya makanan bagi akal mkita adalah sepiring akal dan segelas nasihat. Dengan itu, manusia akan selalu merasa dirinya akan selalu dalam kebaikan. Demi menunjang ketercapaian itu, maka adakalanya kita butuh dengan yang disebut penelitian. Penelitian memiliki maksud untuk menjadi lantaran bagi kita dalam membuat suatu rancangan dasar bagi pemahaman kita. Kita tidak akan mengerti maupun memahami jikalau kita tidak berusaha untuk meneliti masalah atau hal itu. Melihat pentingnya penelitian maka kami menyusun sebagian bab tentang penelitian pendidikan.

I.2 Rumusan Masalah


I.2.1 Bagaimana bahasan pengantar tentang pembahasan populasi dan sampel penelitian ? 1.2.2 Apa pengertian populasi ? 1.2.3 Apa pengertian sampel penelitian ? 1.2.4 Mengapa sampel penelitian diperlukan ? 1.2.5 Bagaimana prosedur pengambilan sampel ?
1

I.3 Tujuan
I.3.1 Untuk mengetahui bahasan pengantar tentang pembahasan populasi dan sampel penelitian; 1.3.2 Untuk mengetahui pengertian populasi; 1.3.3 Untuk mengetahui pengertian sampel penelitian; 1.3.4 Untuk mengetahui mengapa sampel penelitian diperlukan; 1.3.5 Untuk mengetahui prosedur pengambilan.

1.4 Manfaat
1.4.1 Bagi Penulis Penulisan makalah ini disusun sebagai pemenuhan tugas kelompok dari mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan. 1.4.2 Bagi pihak lain Makalah ini diharapkan dapat menambah referensi pustaka yang berhubungan dengan masalah metode penelitian pendidikan khususnya terkait populasi dan sampel penelitian .

BAB II PEMBAHASAN

II.1 Pengantar
Penelitian adalah penerapan pendekatan ilmiah dengan pengkajian suatu masalah. Tujuannya yaitu untuk menemukan jawaban terhadap persoalan yang signifikan, melalui penerapan prosedur ilmiah, dengan ciri: 1. sistematis, dilaksanakan menurut pola tertentu dari yang paling sederhana sampai kompleks hingga tercapai tujuan peneliti secara efektif dan efisien; 2. terencana, dilaksanakan dengan adanya unsure kesengajaan dan sebelumnya telah dipikirkan langkah-langkah pelaksanaannya; 3. mengikuti konsep ilmiah, semua kegiatan penelitian mengikuti cara-cara yang sudah ditentukan,yaitu prinsip memperoleh ilmu pengetahuan.

Sebagai suatu proses, penelitian membutuhkan tahapan-tahapan tertentu yang oleh Bailey disebut sebagai suatu siklus yang lazimnya diawali dengan: 1. 2. 3. 4. Pemilihan masalah dan pernyataan hipotesisnya; Pembuatan desain penelitian; Pengumpulan data; Pembuatan kode dan analisis data, dan diakhiri dengan interpretasi

hasilnya Penelitian pendidikan pada umumnya mengandung dua ciri pokok, yaitu logika dan pengamatan empiris (Babbie, 1986:16) yang harus dipakai dengan konsisten, artinya dua unsure itu harus memiliki hubungan fungsional-logis. Logika dimaksudkan kepada pemahaman terhadap teori yang digunakan dan asumsi dasar yang digunakan oleh peneliti ketika akan memulai kegiatan penelitian. Disamping itu pengamatan empiris bertolak dari hasil kerja indera manusia dalam melaksanakan observasi dan kekuatan pemahaman manusia terhadap data-data lapangan. Kegiatan antara penggunaan logika dan pengamatan empiric harus berjalan konsisten, artinya kedua unsure (logika dan pngamatan empiris) harus memiliki keterpaduan dan memungkinkan terjadi dialog intensif. Dengan demikian pengamatan empiris harus dilakukan sesuai dengan pertimbangan logis yang ada. (Djaja, sutrino.2012.Metodelogi Penelitian Pendidikan)

II.2 Pengertian Populasi


Populasi adalah himpunan yang lengkap dari satuan-satuan atau individuindividu yang karakteristiknya akan kita kaji atau teliti. Banyaknya individu atau unsur-unsur yang merupakan anggota populasi, dan biasanya disimpulkan dengan X atau N (huruf capital/besar). Jenis populasi dilihat dari beberapa aspek : 1. Berdasarkan jumlahnya, populasi dapat dibedakan menjadi populasi terbatas dan populasi tak terbatas. Populasi terbatas adalah sumber data yang jelas

batasannya secara kuantitatif , sehingga relatif dapat dihitung jumlahnya. Populasi ini memiliki ciri terbatas. Contoh: Tiga juta wanita Indonesia pada tahun 1985; dengan karakteristik: mengikuti program KB. Populasi tak terbatas adalah sumber data yang tidak dapat ditentukan batasnya sehingga relatif tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah. Contoh: Narapidana di Indonesia, Pengangguran di Indonesia. 2. Berdasarkan sifat populasi, dapat dibedakan menjadi populasi homogen dan populasi heterogen. Dua jenis ini dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud populasi homogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat yang sama, sehingga tidak perlu dipersoalkan jumlahnya secara kuantitatif. Contoh: Buruh tani penggarap, PNS golongan III A, Dosen Ilmu Pemerintahan dan lain-lain. Populasi heterogen adalah sumber data yang unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Pada umumnya, populasi yang heterogen terjadi pada penelitian di bidang sosial dan objeknya manusia atau gejala-gejala dalam kehidupan manusia. Contoh: Masyarakat Pedesaan di Kabupaten Garut. Dalam penentuan populasi kita dibantu oleh empat faktor untuk mendefinisikan dengan tepat (Manase Mallo,1986:150), yaitu: isi, satuan, cakupan (skop) dan waktu. Contoh: Dalam suatu penelitian mengenai Prestasi Kerja Pegawai Negeri Sipil di Kabupaten Bekasi pada tahun 2002, penelitian dapat menetapkan populasi penelitiannya sebagai berikut: 1. Semua PNS (Isi) 2. yang bukan sebagai tenaga honorer maupun kontrak (Satuan) 3. Di Kabupaten Bekasi (Cakupan) 4. Pada tahun 2002 (Waktu)
(http://www.GudangMateri.com/populasi-dan-sampel-dalam-penelitian.html)

II.3 Pengertian Sampel Penelitian

Secara harfiah, kata sampel berarti contoh, yaitu contoh yang diambil dari populasinya (keseluruhannya). Jelasnya, sampel merupakan sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan (mewakili populasi) yang diperlukan dalam suatu penelitian. Sampel tersebut juga dapat dikatakan sebagai himpunan bagiandari populasi. Sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya mewakili karakteristik populasinya. Pengambilan sampel penelitian harus benar-benar dapat mewakili populasinya (representative). Dengan demikian, pengambilan sampel penelitian ini memiliki nilai yang srtategis dalam kegiatan penelitian. Oleh karenanya prosedur pengambilan sampel penelitian ini harus didasarkan pada teknik-teknik tertentu yang tepat dan dapat dipertanggung jawabkan secara metodologis, agar dapat menghasilkan data penelitian yang valid, dan pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang valid juga. Teknik penentuan sample dalam penelitian sangat penting peranannya dalam penelitian. Berbagai teknik penentuan sample pada hakikatnya adalah untuk memperkecil kesalahan generalisasi dari sample ke populasi. Hal ini dapat dicapai apabila diperoleh sample penelitian yang representatif. Artinya, sample yang benarbenar mencerminkan populasinya. Ada empat faktor yang harus dipertimbangkan untuk menentukan besarnya sample yang harus diambil dalam penelitian, sehingga dapat diperoleh gambaran yang representatif dari populasinya. Keempat faktor itu adalah: 1. Tingkat keseragaman dari populasi. Semakin homogen populasi itu, makin kecil sample yang perlu diambil; 2. Tingkat presisi (keterandalan) yang dikehendaki dalam penelitian. Makin tinggi tingkat presisi yang dikehendaki dalam penelitian makin besar anggota sample yang harus diambil. Semakin besar sample akan semakin kecil penyimpangan terhadap nilai populasi yang didapat; 3. Rencana analisis yang dikaitkan dengan kebutuhan untuk analisis. Kadangkadang besarnya sample masih belum mencukupi kebutuhan analisis, sehingga mungkin diperlukan sample yang lebih besar.

4. Penentuan ukuran sample dipengaruhi oleh teknik penentuan sample yang

digunakan. Jika teknik yang digunakan tepat/sesuai kerepresentatifan maka sample akan terjaga. Teknik ini juga tergantung pada biaya dan tenaga. (http:/metode-peneltian-sosal.blogspot/populasi-dan-sampel-penelitian.html)

II.4 Mengapa Sampel Penelitian Diperlukan?


Karena suatu penelitian yang ditujukan untuk mengetahui karakteristik suatu populasi, masalah penggunan sampel merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan disadari dalam kehidupan sehari-hari penggunaan sampel bukan merupakan suatu hal yang asing lagi bagi maka tidak perlu semua anggota populasi diobservasi, tetapi cukup hanya sebagiannya saja, sebagian anggota populasi tersebut disebut sampel. Ada beberapa alasan mengapa kita perlu mengambil sampel penelitian alsan itu bisa diilustrasikan, maka satu-satunya jalan harus menggunakan sempel sebagai data untuk menarik kesimpulan penelitian. Di sisi lain jika populasinya terbatas dan diketahui karakteristik dan jumlahnya, maka kita dapat menggunakan baik data sampel, maupun populasi. Meskipun demekian jika jumlah populasinya amat kecil, disarankan untuk menggunakan data populasi. Banyak ahli peneliti yang mengatakan bahwa hakikat peneliti yang sebenarnya itu adalah peneliti yang dapat menggeneralisasikan dari satu subyek kecil kedalam subyek yang lebih besar. Dan dengan demikian data penelitian yang dibutuhkan untuk penelitian adalah data sempel. Penggunaan kata sempel dalam penelitian biasanya dilakukan dengan alasan sebagai berikut : 1. Penelitian secara individual atau satu persatu terhadap seluruh

anggota populasi tidak mungkin dilaksanakan. Jika populasi kita cukup besar rasanya tidak mungkin untuk satu persatu semua anggota populasi. Jika ingin meneliti satu persatu setiap anggota papulasi, maka hal itu akan merupakan pemborosan waktu, tenaga dan biasya.

2.

Subyek penelitian bersikat homogin. Jika subyek penelitian bersifat

homogin, di teliti semuanya atau diteliti sebagian akan menghasilkan kesimpulan yang sama. Oleh karena itu perlu di ambil sempel agar lebih hemat tenaga, waktu dan biaya. 3. Dampak destruktif terhadap obyek yang diteliti, peneliti harus

menggunakan data sempel untuk menarik kesimpulan. Jika peneliti menggunakan data populasi, maka mungkin tidak akan pernah ada produksi lampu listrik yang dapat di jual. Dengan demikian, peneliti yang seharusnya dapat membantu dalam pengembangan produksi perusahaan, jika tidak menggunakan data sampel malah dapat menghancurkan perusahaan. 4. Ketiga alasan tersebut, terdapat alasan yang bersifat praktis yaitu

menghemat waktu, tenaga dan biasa peneliti. Dengan menggunakan sampel peneliti akan dapat menghemat waktu, tenaga dan biaya peneliti, namun tetap dengan kualitas hasil penelitian yang sama.

II.5 Prosedur Pengambilan Sampel


Untuk dapat memperoleh sampel yang representative dari suatu populasi, paling tidak perlu diikuti langkah-langkah pengambilan sampel penelitian sebagai berikut : 1. Mengidentifikasi ciri-ciri populasi dan sampel 2. Menentukan besarnya sampel 3. Melakukan pengambilan sampel dengan teknik-teknik tertentu

1.

Mengidentifikasi ciri-ciri populasi dan sampel

Menentukan individu, objek, atau teknik apa yang akan digunakan untuk pengembilan sampel dari sebuah populasi sangat bergantung pada generalisasi apa yang akan dibuat oleh peneliti. Bila yang akan diteliti adalah menyangkut tentang tingkat kemampuan mahasiswa PLS FKIP Universitas Jember dalam mengelola program PAUD, maka sampel harus mencakup ciri-ciri populasi mahasiswa PLS tersebut. Pada dasarnya mahasiswa tersebut harus dipilih diseluruh angkatan diPLS FKIP Universitas Jember, mewakili setiap angkatan yang ada di PLS FKIP Universitas Jember, mencerminkan tingkat IQ, sosial ekonomi, Status, dan sebagainya. Namun apabila peneliti sudah puas untuk menggeneralisasikan hasil penelitiannya pada lingkup populasi terbatas, baik ruang lingkup, maupun besarnya, maka peneliti dimungkinkan untuk mengambil sampel yang lebih terbatas, misalkan hanya pada 1 angkatan saja. Meskipun demikian maka peneliti tidak boleh mengeneralisir hasil penelitiannya diluar populasi yang diteliti, kecuali bila ada bukti yang memperlihatnkan bahwa populasi tersebut memiliki beberapa kesamaan dengan populasi yang diteliti.

2.

Menentukan Besar Sampel

Hal-hal yang harus diperhatikan adalah Tingkat keseragaman (homogenitas) populasi. Makin homogen populasi, makin kecil jumlah sampel Tingkat ketelitian hasil penelitian yang dikehendaki. Makin tinggi tingkat keteltian yang dikehendaki, makin besar jumlah sampel Rencana analisa data. Makin rumit teknik analisa data yang akan digunakan, makin besar sampel Tenaga, biaya dan waktu

Hingga saat ini tidak ada pedoman yang pasti sebagai kesepakatan tentang seberapa besar sampel yang harus diambil dari sebuah populasi. Borg dan Gall (1977), misalkan memberikan patokan bahwa untuk studi-studi korelasi telh dianggap memadai manakala telah terdapat 30 kasus namun ahli lain menyatakan bahwa jika subjek penelitian kurang dari 100 maka sebaiknya diambil semua, sehingga penelitiannya adalah penelitian populasi, dan jika subjeknya besar dapat diambil nsampel sebesar 10%-15% dan 20%-25% atau lebih, bergantung pada kemampuan peneliti, luasnya wilayahdan besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti (Suharsimi Arikunto,1986) Para ahli umumnya bersepakat bahwa besar-kecilnya jumlah sampel dipengaruhi oleh kondisi populasinya, apakah populasi cukup homogeny atau tidak. Salah satu rumus pengambilan sampel yang dapat digunakan sebagai pedoman untuki pengambilan sampel pada populasi yang diasumsikan bersifat dikotomis adalah sebagai berikut :

N=

z 2 (1-p) (WayanpArdhana, 1987:95) e

N: besarnya sampel yang diperlukan z: skor standart yang sesuai dengan tingkat keyakinan tertentu (misal 0.95 atau 0.99) e: besarnya kesalaham sampling yang ditolerir dalam situasi tertentu p: proporsi kasus dalam populasi yang menjadi perhatian peneliti Contoh : Suatu penelitian mentolerir kesalahan 5% dengan tingkat keyakinan 0,95. Misal proporsi mahasiswi dalam suatu fakultas adalah 0,65; z yang sesuai dengan tingkat keyakinan 0,95 untuk sampel besar adalah 1,96. Dengan mendistribusikan angkaangka tersebut, dapat diperoleh sebagai berikut :

10

N=

1,96 0,05

(0,65)(1-0,65)

= (39,200)2 (0,65)(0,35) = (1536,64)(0,2275) = 349.585 (dibulatkan = 350) Apabila besarnya kesalahan yang ditolerir dapat dinaikkan menjadi 0,10, maka N sampel yang dibutuhkan hanya sebesar:

N =

1,96 0,10

(0,65)(1-0,65)

= (19,6)2(0.65)(0.35) = (384,16)(0,2275) = 87,98 (dibulatkan = 88)

11

BAB III PENUTUP


III.1 Kesimpulan
Dalam penelitian kuantitatif, populasi dan sampel penelitian sangat diperlukan. Populasi adalah wilayah generasli yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditentukan oleh penbeliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya. Sedangkan sampel adalah sebagaian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Makin besar jumlah sampel mendekati populasi, maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan begitu juga sebaliknya. Dalam menetapkan besar kecilnya sampel, tidaklah ada suatu ketetapan yang mutlak, artinya tidak ada ketentuan berapa persen suatu sampel harus diambil. Suatu hal yang perlu diperhatikan adalah keadaan homogenitas dan heterogenitas populasi.

12