Anda di halaman 1dari 4

KOMPLEKS BEBERAPA LOGAM TRANSISI DENGAN ION KLORIDA

A. Tujuan Percobaan Mempelajari pengaruh konsentrasi ion klorida pasa pembentukan kompleks klor dari logam besi, koblat, dan nikel dalam resin penukar anion. B. Dasar Teori Resin Penukar Anion Suatu resin penukar ion yang ingin direaksikan dalam suatu sistem dapat dilakukan dengan memasukkan gugus-gugus dari suatu resin yang terionkan kedalam suatu matriks polimer organik, yang paling lazim diantaranya ialah polisterina hubungan silang yang diatas diperikan sebagai absorben. Produk tersedia dengan berbagai derajat hubungan silang. Suatu resin umum yang lazim ialah resin 8% terhubung silang yang berarti kandungan divenilbenzenanya 8 %. Resin-resin itu dihasilkan dalam bentuk manik-manik bulat, biasanya dengan 0,1-0,5 mm, meskipun ukuranukuran lain juga tersedia (Svehla, 1985). Resin pertukaran ion merupakan bahan sintetik yang berasal dari aneka ragam bahan, alamiah maupun sintetik, organik maupun anorganik, memperagakan perilaku pertukaran ion dalam analisis laboratorium dimana keseragaman dipentingkan dengan jalan penukaran dari suatu ion. Pertukaran ion bersifat stokiometri, yakni satu H+ diganti oleh suatu Na+. Pertukaran ion adalah suatu proses kesetimbangan dan jarang berlangsung lengkap, namun tak peduli sejauh mana proses itu terjadi, stokiometrinya bersifat eksak dalam arti satu muatan positif meninggalkan resin untuk tiap satu muatan yang masuk. Ion dapat ditukar yakni ion yang tidak terikat pada matriks polimer disebut ion lawan (Counterion) (Underwood, 2001). Larutan yang melalui kolom disebut influent, sedangkan larutan yang keluar kolom disebut effluent. Proses pertukarannya adalah serapan dan proses pengeluaran ion adalah desorpsi atau elusi. Mengembalikan resin yang sudah terpakai kebentuk semula disebut regenerasi sedangkan proses pengeluaran ion dari kolom dengan reagent yang sesuai disebut elusi dan pereaksinya disebut eluent. Yang disebut dengan kapasitas pertukaran total adalah jumlah gugusan-gugusan yang dapat dipertukarkan di dalam kolom, dinyatakan dalam miliekivalen. Kapasitas penerobosan (break through capacity) didefinisikan sebagai banyaknya ion yang dapat diambil oleh kolom pada kondisi pemisahan; dapat juga dikatakan sebagai banyaknya miliekivalen ion yang dapat ditahan dalam kolom tanpa ada kebocoran yang dapat teramati. Kapasitan penerobosan lebih kecil dari kapasitas total pertukaran kolom dan tidak tergantung terhadap sejumlah variabel,

seperti tipe resin, afinitas penukaran ion, komposisi larutan, ukuran partikel, dan laju aliran (Khopkar, 1990). Faktor kestabilan senyawa kompleks Berikut ini adalah faktor yang dapat mempengaruhi kestabilan ion kompleks: 1. Dari Atom Pusat Ukuran dan muatan ion pusat Semakin besar potensial ioniknya (q/r), gaya ikatnya semakin kuat, sehingga semakin stabil. Harga CFSE Crystal Field Stabilization Energy, semakin besar nilai CFSE nya, semakin stabil kompleks yang terbentuk. Distribusi muatan Menggunakan konsep Hard Soft Acid Base, asam keras-basa keras, atau asam lunak-basa lunak, maka stabil. 2. Dari Ligan Ukuran dan muatan ligan Potensial ionik >, maka lebih stabil. Sifat basa lewis Semakin meningkat sifat basa lewis nya, maka akan semakin menstabilkan. Efek khelat Adanya khelat akan meningkatkan kestabilan senyawa kompleks. Besarnya cincin Ligan khelat dengan ikatan tunggal akan lebih stabil dengan cincin lima. Yang ikatan rangkap, akan lebih stabil dengan cincin enam. Faktor ruang Ligan sederhana (lurus) lebih stabil daripada ligan bercabang. Kompleks Logam Transisi dengan Ion Klorida 1. Kobalt (II) Klorida Kristalnya berwarna biru, berstruktur seperti CdCl2, bersifat higroskopis dan menjadi merah muda bila menyerap air. Larut dalam aseton dan etanol. Heksahidratnya berwarna merah. 2. Besi (III) Klorida Kristalnya berwarna coklat tua,berstruktur lamellar dengan besi nya berkoordinasi secara tetrahedral dengan enam ligan klorin. Dalam fasa gas,FeCl3 memiliki struktur dimer yang berjembatan klorin mirip dengan alumunium klorida. (Saito, 1996) 3. Nikel (II) Klorida NIkel tidak dapat menghasilkan kompleks kloro dalam larutan air. Untuk itu dapat dipisahkan dari Kobalt (II) maupun Besi (III). (Cotton, 1976)

C. Prosedur Percobaan 1. Alat dan Bahan Alat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah diantaranya 1 set kolom resin penukar anion, 1 buah gelas ukur 25 ml, 12 tabung reaksi kecil, 1 buah gelas beker 250ml, 1 lempeng kaca bening, Sedangkan bahan yang digunakan adalah diantaranya Larutan HCl 9M, 5M, 2M, 1M, larutan campuran ion besi (III), Co (II), Ni (II), Larutan KCNS, Larutan NH4CNS, Larutan Ammonia, Larutan dimetil glioksin. 2. Cara Kerja Terlebih dahulu disiapkan kolom resin sesuai komposisi dan gambar yang ada. Kemudian disiapkan 50 ml HCl 1M, 50 ml HCl 2M, 2 ml campuran Fe, Co, dan Ni. Kolom resin dibuka dan HCl 2M dibiarkan menetes namun tetap diatas batas glass wool, ditambahkan 10 ml Larutan HCl 9M dengan pengaturan tetesan 2,5 ml/menit Setelah larutan HCl 9M hampir mencapai batas, keran ditutup dan diisi larutan campuran besi, nikel dan kobalt sebanyak 2 ml, kemudian diteteskan 2,5 ml/menit. Setelah mencapai batas lagi, dilakukan uji dengan larutan HCl 9M hasilnya ditampung di tabung reaksi, hal ini dilakukan 3 kali. Perlakuan yang sama dilakukan dengan HCl 5M dan HCl 1 M. Diulangi sebanyak 4 kali. Setiap larutan yang ada di tabung reaksi diuji dengan larutan KCNS, NH4CNS, Ammonia + dimetil glioksin, dan diamati perubahan yang terjadi. Resin dicuci dengan penambahan 10 ml akuades dan diteteskan sampai tanda batas, kemudian ditambahkan lagi 20 ml HCl 2M dan diteteskan sampai tanda batas. D. Data Hasil Percobaan Kode 5-1 5-2 5-3 6-1 6-2 6-3 6-4 7-1 7-1 7-3 7-4 Deskripsi Eluent Tak berwarna Kuning kehijauan Hijau toska Bening kehijauan Bening kehijauan Hijau toska bening Biru bening Pink tua Orange tua Kuning Kuning bening Uji Fe (III) + + + + Uji Co (II) + + + + + + + + + Uji Ni (II) + + + + + + + + +

E. Pembahasan

F. Kesimpulan Konsentrasi ion klorida berpengaruh pada pembentukan kompleks klor dalam senyawa logam transisi Fe (III), Co (II), dan Ni (II) G. Daftar Pustaka Cotton, Albert F, dan Wilkinson, G., 1976, Basic Inorganic Chemistry, UI Press, Jakarta. Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Press, Jakarta. Underwood, A.L., dan Day, R. A., 2001, Analisis Kimia Kuantitatif, Edisi Keenam, Erlangga, Jakarta. Saito, Taro, 1996, Buku Teks Kimia Anorganik Online, Iwanami Shouten Publishers, Tokyo. Svehla,1985, Analisis Kualitatif Anorganik Makro dan SemiMikro, Kalman Media Pustaka, Jakarta. H. Lampiran Laporan Sementara Tugas Yogyakarta, 26 Maret 2012 Asisten, Praktikan,

Wuri Apriyana

Galang Arif Waskito