Anda di halaman 1dari 2

PERCOBAAN VI : SEPARATION OF RACEMATE

Nasya Indriani (10710057) Asisten: Alifa Nur Mardha Tanggal Percobaan: Selasa, 28/02/2012 FA2202-Dasar Sintesis SenyawA Obat

Laboratorium Kimia Farmasi Farmakokimia SF ITB


Abstrak Ibuprofen adalah obat yang tergolong ke dalam NSAIDs (Non-Steroid Anti-Inflammmatory druge) memiliki efek terapeutik mengatasi rasa sakit akibat atritis. Ibuprofen merupakan rasemat dengan dua enantiomer. Hanya SIbuprofen saja yang memiliki efek terapeutik, karema hanya enantiomer S yang cocok dengan reseptor antiinflamasi. Selain itu enantiomer R-Ibuprofen memiliki efek teratogenik yang dapat menyebabkan cacat pada bayi. Oleh sebab itu ibuprofen harus melalui pemisahan rasemat. Untuk memisahkan kedua enantiomer tersebut, Ibuprofen direaksikan dengan basa kinin (kiral) sehingga membentuk garam diastereomer.garam diastrereomer ini bisa dipisahkan karena memiliki sifat kelarutan yang berbeda. Garam diastereomer tersebut dilarutkandalan etanol 70%. Etanol 70% ini hanya akan melarutkan salah satu dari diastereomer sehingga diastereomer dapat dipisahkan. Kemudian larutan tersebut dimasukkan pada refrigator hingga terbentuk kristal. Kristal disaring dan filtratnya diuapkan hingga terbentuk residu. Untuk memisahkan enantiomer dari garam diastereomer tersebut, kristal /residu dicampur etil asetat sehingga terbentuk suspensi. Suspensi kemudian diekstraksi dengan HCl sehingga terbentuk asam bebas. Kemudian dilarutkan denganpelarut organik, sehingga enantiomer ibuprofen akan larut di dalamnya. Fase organik tersebut dihilangkan pengotornya melalui penyaringan kemudian diuapkan sehingga didapat residu kering. Residu direkristalisasi sehingga diperoleh enantiomer murni dari ibuprofen. Kemudian kristal di cek karakteristiknya dengan diukur rotasi optiknya dan dihitung rotasi jenisnya. Jika suatu cahaya terpolarisasi bidang dilewatkan dalam suatu larutan yang mengandung suatu enantiomer maka bidang polarisasi itu dapat berputar. 1. PENDAHULUAN
Pemisahan rasemat asam/basa dapat dilakukan dengan menambahkan asam/basa kiral pada rasemat tersebut. Reaksi tersebut menghasilkan garam distereomer yang memiliki sifat kelarutan yang berbeda. Perbedaan kelarutan tersebutlah yang menyebabkan mereka bisa dipisahkan. Setelah berhasil dipisahkan, yang ada hanya enantiomer dengan garamnya. Untuk memisahkan enantiomer dengan garamnya digunakan asam kuat. Asam kuat yang ditambahkan akan mengikat garam menjadi asam bebas dan enantiomer terpisah dari garamnya.

garam diastereomer. Garam diastereomer merupakan 2 senyawa kimia yang berbeda dan mempunyai sifat fisikokimia yang berbeda pula, terutama kelarutan.

2.

STUDI PUSTAKA

Ibuprofen tergolong ke dalam kelompok analgesik dan antipiretik. Ibuprofen digunakan untuk mengatasi rasa sakit akibat artritis, obat sakit kepala, mengurangi sakit otot, nyeri haid, salesma, flu, dan sakit selepas pembedahan. Ibuprofen memiliki efek analgesik dengan menghambat secara langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem syaraf pusat dan mengkatalis seperti siklooksigenase sehingga mencegan sensitasi reseptor rasa sakit. Ibuprofen merupakan rasemat. Hanya enantiomer S yang memiliki efek farmakologi. Sebaliknya enantiomer R memiliki efek samping, yaitu bersifat teratogenik.

Suatu objek bersifat kiral bila berbeda dengan bayangan cerminnya. Molekul kiral tidak dapat ditumpang tindihkan dengan bayangan cerminnya melalui rotasi atau geseran paralel. Kedua bentuk yang merupakan bayangan cermin satu sama lainnya disebut enantiomer. Suatu enantiomer dapat memutar bidang polarisasi dengan melewatkan cahaya terpolarisasi bidang pada larutan tersebut. Rasemat adalah campuran akuimolar dua enantiomer yang tidak memiliki sifat optis aktif. Enantiomer asam/basa yang membentuk rasemat bisa direaksikan dengan asam/basa kiral menghasilkan

Laporan Praktikum Dasar Sintesis Senyawa Obat SEKOLAH FARMASI ITB

3. 3.1

METODOLOGI PENYIAPAN KININ BASA BEBAS

NaOH 0,2 M dimasukkan bersama dengan garam kinin pada cong pisah. Campuran dikocok hingga terbentuk suspensi. Kemudian suspensi dikocok dengan etil asetat sebanyak dua kali. Bagian fasa organik diambil. Fase organik disaring dengan kertas saring yang dilengkapi Na Sulfat.

kemudian digunakan. Namun pada percobaan, kita melakukan kesalahan dengan mengambil fasa airnya. Ketika dilakukan pengocokan kedua kali dengan etil asetat, larutan tercampur sempurna, tidak membentuk dua fasa. Ketika itu kita belum sadar bahwa kita salah menentukan fasa. Karena dibawa ada sedikit fasa berbeda yang terbentuk, yang kami duga fasa organik yang tertinggal, sehingga kami ambil kembali. Pada tahap selanjutnya, larutan yang kami duga fasa organik tersebut disaring dengan kertas saring yang ditambah natrium sulfat. Natrium sulfat berfungsi sebagai penyaring air yang terbawa. Namun pada saat percobaan, natrium sulfat pada penyaring terlarut ke dalam larutan yang kami duga fasa organik dan lolos dari saringan. Natrium sulfat tersebut larut karena larutan yang kita ambil tersebut merupakan fasa air. Ketika itu kita belum menyadari kesalahan itu dan terus melanjutkan percobaan. Larutan tersebut kami campur dengan ibuprofen. Campuran tersebut di aduk pada suhu 50 C selama 2 jam. Pemanasan ini bertujuan mempercepat reaksi. Ketika campuran tersebut diuapkan tidak ada kristal yang terbentuk. Hal ini terjadi karena kita tidak mencampur ibuprofen dengan basa kinin, melainkan dengan fasa air. Jika kristal terbentuk, kristal akan dilarutkan dengan etanol 70%. Kemudian dipanaskan sampai melarut dan disaring saat larutan panas. Menurut literatur, diasteromer memiliki sifat kelarutan yang berbeda, sehingga hanya salah satu enantiomer yang larut. Larutan dimasukkan pada refrigrator. Kristal yang terbentuk disaring, kemudian filtratnya diuapkan hingga dapat diambil residunya. Pada tahap terakhir untuk memisahkan garam dari enantiomernya digunakan asam kuat, yaitu HCl. HCl tersebut akan membentuk asam bebas dan enantiomer terpisah dari garam diastereomernya. Larutan tersebut dilarutkan dalam etanol, sehingga enantiomer itu akan larut. Pengotor dan air disaring dengan kertas saring dan natrium sulfat. Kemudian fase organik tersebut dievaporasi sehingga didapa residunya. Residu tersebut direkristalisasi. Menurut literatur akan didapat kristal murni enantiomer ibuprofen.

3.2

PEMBENTUKAN GARAM DIASTEREOMER

Larutan basa kinin dalam etil asetat ditambahkan dengan ibuprofen pada labu bundar. Pasangkan dengan kondensor. Larutan dikocok pada suhu 50 C selama 2 jam. Bila tidak melarut, tambahkan beberapa tetes etanol. Setelah campuran larut, larutan dikeringkan hingga dihasilkan residu.

3.3

KRISTALISASI GARAM DIASTEREOMER

Residu disimpan dalam labu erlenmeyer kemudian ditambahkan etanol 70%. Dipanaskan sampai melarut dan saring pada keadaan panas. Bila residu tidak larut, tambahkan beberapa tetes etanol 70%. Volume etanol yang digunakan dicatat. Labu ditutup dan dimasukkan ke dalam refrigator selama 1-2 hari. Kristal disaring dengan Bchner. Filtrat diuapkan sehingga terbentuk residu kering.

3.4

ISOLASI ENANTIOMER IBUPROFEN

Kristal dicampur dengan larutan etil asetat hingga terbentuk suspensi. Suspenti diekstraksi dengan asam hidroklorat 0,2 N sebanyak dua kali. Fasa organik yang didapat dicuci dengan aquadest sebanyak dua kali, kemudian disaring dengan kertas saring yang telah ditambah Natrium Sulfat. Larutan diuapkan dalam penguap putar. Residu kering ditambahkan campuran Air : Etanol (50:50). Perbandingan volumenya dicatat. Kemudian direkristalisasi sehingga ditemukan residu murni.

3.5

KARAKTERISASI ENANTIOMER IBUPROFEN

Tiga perempat kristal ditempatkan pada labu ukur 10 mL. Larutkan kristal dengan etanol secara kuantitatif. Diukur rotasi optiknya dan dihitung rotasi jenisnya.

5.

KESIMPULAN

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada awal percobaan kita harus memisahkan garam kinin HCl menjadi kinin basa bebas. Garam kinin HCl direaksikan dengan NaOH. Kinin akan berikatan secara kovalen dengan natrium, senyawa ini menjadi basa kinin yang berkovalen dengan natrium. Campuran tersebut akan membentuk suspensi. Untuk mengambil basa kinin tersebut, dilakukan pengocokan dengan etil asetat. Basa kinin akan larut dalam pelarut organik tersebut. Kemudian fasa organik ini diambil untuk

Kristal enantiomer tidak terbentuk kaarena kesalahan pada pembebasan basa kinin.

6.

DAFTAR PUSTAKA Fessenden, Fessenden. 1986. Organic Chemistry. Jakarta: Erlangga (Halaman 140-155) Solomon, Graham. 2007. Organic Chemistry 10th Edition. United State: Wiley (Halaman 186224)
2

Laporan Praktikum Dasar Sintesis Senyawa Obat SEKOLAH FARMASI ITB