Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN A.

latar belakang masalah karya sastra dalam perkembangannya di zaman dahulu dan zama sekarang, mengalami pasang surut dan masanya masing-masing. setiap periode pastilah mempunyai suatu hal yang membedakan suatu karya sastra dengan karya sastra lainnya. entah itu dalam hal isi, redaksi, dan lainnya. seorang sastrawan dalam menulis atau menuangkan ide dalam suatu karya tidaklah tanpa suatu hal atau sebab. karya dapat dianggap sebagai suatu hal yang bersumber dari segala hal yang ada dalam diri sang pengarang. karya sastra dapat menjadi sebuah manifestasi, atau perwujudan dari segala bentuk perasaan dan pemikirannya. selain itu dalam karya sastra juga tersimpan hal-hal yang terkait dengan dimana, serta kapan seorang sastrawan itu lahir dan tumbuh. oleh karena itu karya sastra mampu menjadi sebuah wadah untuk menuangkan segala ide dan pemikiran seorang sastrawan. dapat pula menjadi sebuah cermin yang merefeksikan apa yang sedang ingin disampaikan sang penulis. karya sastra tidaklah lahir dengan begitu saja tanpa adanya pengaruh-pengaruh yang menyertaiinya. karya sastra adalah perwujudan dari segala sesuatu yang berkenaan dnegan pemikiran, pengalaman, rekaman budaya pengarang yang berasal dari dirinya dan juga masyarakat sekitarnya. karya sastra itu ditampilkan dalam bentuk puisi, prosa, dan prosa liris. dalam bentuk prosa karya sastra muncul dalam bentuk cerpen, novel, biografi, dan otobiografi. jadi salah satu bentuk karya sastra berupa prosa adalah novel. novel merupakan salah satu bentuk karya sastra yang mampu memberikan manfaat yang besar bagi perkembangan kemanusiaan dan kehidupan manusia. hal ini sesuai dengan pernyataan yang seringkali kita dengar bahwa novelis dapat mengajarkan lebih banyak tentang sifat-sifat manusia dari pada psikologi- the novelist can teach you more about human nature than the psychologist (wellek, 1993:34). para novelis menampilkan pengajarannya melalui berbagai tema dan amanat dalam novelnya, tema kemanusiaan, sosial, cinta kasih, ketuhanan, dan sebagainya. secara garis besar, watak karya sastra dapat dibedakan menjadi dua, yaitu watak universal dan watak local (budi darma). sastra mempunyai watak universal karena dalam

penulisannya, karya sastra mempunyai tema yang sangat luas, yakni tentang kasih sayang, cinta kasih, kemanusiaan, kebahagiaan, ketidakadilan, dan lain-lain. kemudian mempunyai watak local karena walau bersifat universal akan tetapi di dalamnya tetap memuat ciri-ciri local yang berkaitan dengan zaman dimana karya sastra itu dibuat.

B. RUMUSAN MASALAH berdasarkan pemaparan diatas maka rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah: 1. Bagaimana struktualisme genetik novel gadan tuladu syamsun ukhra karya husain munis? 2. Bagaimana pandangan Husain Munis tentang pendidikan dalam novel ghodan tuladu syamsun ukhra? C. TUJUAN PENELITIAN maka sesuai dengan rumusan masalah diatas, maka tujuan penelitian ini adalah: 1. Untuk mendeskripsikan struktualisme genetik dalam novel gadan tuladu syamsun ukhra karya husain munis. 2. Untuk mengetahui pemikiran-pemikiran Husain Munis dalam dunia pendidikan. D. MANFAAT PENELITIAN manfaat dalam penelitian atau pembahasan ini adalah sebagai berikut: 1. manfaat teoritis penelitian ini diharapkan dapat mampu membantu perkembangan karya sastra khusunya teori struktualisme genetik dan penggunaanya di dalam menganalisis sebuah karya sastra. 2. manfaat praktis dari penelitian ini adalah mampu memperkaya dan menambah wawasan peneliti khsusnya dan pembaca umumnya dalam mengkaji sebuah karya sastra dengan menggunakan teori struktualisme genetik. E. TINJAUAN PUSTAKA setelah melakukan tinjauan terhadap beberapa penelitian yang sekiranya memiliki keterkaitan dengan pembahasan ini, kami menemukan skripsi yang membahas tentang novel ghadan tuladu syahrun ukhra, namun ada yang berbeda kajiannya, F. LANDASAN TEORI Dalam meneliti karya sastra sebagai objek kajian, paling tidak ada dua pendekatan, yaitu pendekatan intrinsic dan ekstrinsik. pendekatan intrinsic berasal dari pemahaman yang didasarkan pada teori bahwa karya sastra merupakan objek otonom, yaitu objek yang mengatur dan memenuhi dirinya sendiri.pendekatan ekstrinsik berangkat dari pemahaman yang didasarkan pada asumsi bahwa karya

sastra merupakan objek yang terikat dan tidak lepas dari pengarang realitas, dan audiennya. Teori struktualisme genetik menyatakan bahwa karya sastra adalah pengarangnya dan sekaligus merupakan suatu kenyataan sejarah karya yang

mengkondisikan munculnya karya sastra itu.karya sastra dapat dipahami dapat dipahami asalnya dan terjadinya dari satu latar belakang social tertentu. Untuk menopang teori struktualisme genetik goldman membangun seperangkat kategori yang saling berhubungan yaitu fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan. Pertama, fakta kemanusiaan adalah segala aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun visik yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Kedua, subjek kolektif yang dimaksudkan dalam teori ini adalah subjek fakta social (historis). karya-karya cultural yang besar merupakan fakta sosial yang merupakan ciptaan subjek trans-individual. subjek transindividual adalah satu kesatuan atau satu kolektivitas, bukan kumpulan-kumpulan individu yang berdiri sendiri-sendiri. subjek kolektif ini adalah satu kelompok yang sudah membuat pandangan secara lengkap dan menyeluruh mengenai kehidupan dan yang telah mempengaruhi sejarah perkembangan umat manusia. Ketiga, pandangan dunia. teori ini melihat adanya homologi antara struktur karya sastra dengan struktur masyarakat sebab keduanya adalah produk dari masyarakat yang sama. pandangan dunia merupakan satu kompleksitas menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi dan perasaan-perasaan yang menghubungkan bersama anggota kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkanya dengan kelompok sosial lain. karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner dimana pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek dan relasi-relasi secara imajiner. Keempat, struktur karya sastra merupakan produk strukturasi dari subjek kolektif. karya sastra merupakan struktur yang koheresi dan terpadu. seperti halnya masyarakat, karya sastra adalah totalitas, setiap karya sastra adalah suatu keutuhan hidup yang difahami lewat unsure-unsurnya. namun konsep struktur dalam struktualisme lebih bersifat tematik. yang menjadi pusat perhatiannya adalah relasi antar tokoh dengan tokoh dan tokoh dengan objek yang ada di sekitarnya.

Kelima adalah dialektika. goldman memandang bahwa karya sastra merupakan refleksi usaha manusia untuk memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sosial nyata karena karya sastra merupakan satu konsep struktur yang koheren.

G. PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN Pendekatan yang akan kami lakukakn adalah objektif historis atau biografis. pendekatan objektif memandang bahwa karya sastra memiliki unsure-unsur pembangun struktur sehingga aspek yang harus diteliti adalah unsure-unsur yang ada yang membangun secara utuh sebuah karya sastra. karya sastra tidak akan hisup tanpa adanya unsure-unsur tersebut. sedangkan pendekatan historis atau biografis adalah menganggap subjek pencipta karya sastra sebagai asal-usul.

Sinopsis Novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr


: Nadia, lengkapnya Nadia Badruddn asan adalah seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang anak. Sebagai ibu rumah tangga, Nadia banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus rumah dan anak-anak. Setiap pagi, dia bangun lebih awal untuk melaksanakan kewajibannya. Setelah semuanya rapi barulah Nadia membangunkan suaminya, Mjid Taufk diq, yang bekerja sebagai pembantu menteri dan anak-anaknya, kecuali Susan yang sudah terbiasa bangun sendiri. Selama puluhan tahun, ia tegar menjalani itu semua. Nadia merupakan sumber cahaya di keluarga itu. Dia rela mengorbankan dirinya demi keluarga. Bahkan, ia rela melepas pekerjaannya di sebuah kedutaan asing setelah melahirkan kedua anaknya, riq dan Susan, meski gajinya tinggi. Baginya pendidikan anak-anak dan keluarga lebih penting. Hal itulah yang membuat ia berbeda dengan perempuan lain dan kedua temannya, Amnah Zuhd dan Zhiyah Ism l. Meski Nadia sudah berusaha melakukan yang terbaik untuk keluarganya, tetapi keluarganya tidak berjalan sesuai harapannya. Masalah muncul ketika anak pertamanya, riq, yang kuliah di Fakultas Kedokteran, mulai menuntut hidup mewah dan perlakuan khusus. Ia meminta Nadia untuk melayaninya, menyiapkan makan-makanan enak, dibelikan mobil, dan dipenuhi segala permintaannya.

Suatu hari, ketika riq pulang dari kuliah, ia meminta Ammu Imm, pembantu keluarganya, agar segera menghidangkan makanan untuknya, tetapi permintaanya itu ditolak karena Ammu Imm akan menghidangkannya setelah meminta izin. Sikap Ammu Imm yang demikian membuat riq marah. Pada saat itu, Nadia datang menghampiri riq dan menyuruhnya agar mengganti pakaian terlebih dahulu dan menunggu ayahnya sebentar. Setelah semua kumpul, maka makanan pun siap dihidangkan. Sikap Nadia yang demikian memicu pertengkaran antara dia dan riq. Mendengar pertengkaran itu, Mjid mencoba melerai. riq juga marah ketika makanan yang dihidangkan tidak sesuai dengan keinginannya. riq meminta untuk dihidangkan makanan yang beranekaragam. Ia juga meminta dibelikan mobil. Sebagai seorang calon dokter, riq merasa berhak mendapatkan itu semua karena ia berpikiran akan menafkahi keluarganya. riq menganggap Nadia adalah ibu yang paling jahat, tidak sayang anak karena tidak mengabulkan keinginannya. Nadia merasa tercabik-cabik ketika riq berani melawannya. Meskipun hatinya merasa sakit, Nadia tidak bisa membenci anaknya. Nadia tetap bekerja seperti biasa dengan penuh pengertian dan tulus. Suatu sore ketika teman Nadia, Zhiyah, berkunjung ke rumahnya, dia bercerita kepada temannya itu perihal anaknya yang meminta dibelikan mobil. Zhiyah dengan entengnya menyuruh Nadia untuk menuruti permintaan riq. Akan tetapi, Nadia tetap pada pendiriannya, ia menolak permintaan anaknya itu. Ketidaksetujuan Nadia itu bukan karena alasan ekonomi semata, tetapi lebih pada alasan pendidikan. Nadia berpendapat jika riq dibelikan mobil, secara tidak langsung dia telah merusak pendidikannya karena anaknya akan kehilangan rasa menghargai sesuatu. Pada saat itu, teman Nadia lainnya, Amnah Zuhd, datang. Amnah ikut dalam perbincangan Nadia dan Zhiyah. Amnah sependapat dengan Nadia agar tidak memperlakukan anak seperti raja, harus menuruti semua keinginannya. Di tengah perbincangan, Zhiyah berpamitan pulang. Ketika Zhiyah sudah berlalu, Amnah berbisik pada Nadia menawarkan pekerjaan sebagai manajer wisma di kedutaan tempat ia bekerja. Mendengar berita itu, Nadia sangat kaget, tetapi tidak serta merta mengiyakan tawaran Amnah. Nadia meminta waktu untuk memikirkannya. Satu hari setelah pembicaraan dengan Amnah, Nadia duduk di depan meja kamarnya sibuk mengisi buku catatan belanja rumah tangga. Dalam buku itu, Nadia mencatat uang bulanan yang diberikan Mjid dan semua pengeluaran rumah setiap bulannya. Sementara

itu, Ammu Imm duduk di dapur menunggu riq, tetapi ia pulang terlebih dahulu sebelum riq datang karena sudah sore. Tak lama kemudian riq datang sambil berteriak-teriak. Mendengar riq sudah datang, Nadia menghampirinya lalu menyiapkan makanan untuknya. Akan tetapi, riq marah pada ibunya itu karena makanan yang disajikan tidak sesuai dengan keinginannya. riq terus mencerca ibunya, tetapi Nadia tak menghiraukan perkataan anaknya itu sehingga riq semakin geram dan semakin marah. Melihat tingkah riq yang sudah kelewatan, Nadia menegur riq agar bersikap sopan padanya. Mendengar keributan itu, Mjid menghampiri mereka. riq pun langsung mengadu kepada Ayahnya bahwa Ibunya kurang perhatian terhadap anak-anaknya dan lebih mementingkan keperluan pribadinya daripada keluarga. Bahkan, riq memfitnah bahwa Nadia telah membelanjakan uang keluarga untuk ke salon, membeli pakaian, dan ingin membeli mobil untuk dirinya. Mendengar hal itu, Mjid menyalahkan Nadia dan memaksanya agar menuruti permintaan riq karena menurut Mjid apa yang diberikan kepada anaknya itu akan dikembalikan olehnya ketika sudah bekerja dan hal itu sudah menjadi sebuah kebiasaan. Dia juga membatasi hak-hak Nadia sebagai ibu, ia tidak diberi hak mengurus hal apa pun kecuali urusan dapur dan rumah. Selain itu, Mjid juga menyuruh Nadia untuk menghitung kembali keuangan keluarga karena ia tidak percaya lagi dengannya. Setelah pertengkaran itu, hati Nadia menjadi gundah serta pikirannya berkecamuk. Pengorbanannya selama ini tidak dihargai oleh suaminya, Mjid. Dia dianggapnya tak lebih dari seorang pembantu. riq, menghardiknya dan menuntut dirinya untuk melayaninya seperti jongos terhadap tuannya. Melihat ibunya diperlakukan tidak adil, Susan, anak keduanya, ikut bersedih. Dua hari setelah pertengkaran itu, Nadia memutuskan untuk pergi dari rumah dan bekerja di tempat yang ditawarkan Amnah. Hal itu dia lakukan untuk mendidik suami dan anaknya agar bisa menghargai dirinya dan pekerjaannya sebagai ibu. Keesokan harinya, Nadia pergi ke rumah Amnah untuk bersamasama menemui Mr. Edwards di wisma. Sesampainya di wisma, Nadia dan Amnah langsung menemui Mr. Edwards dan membicarakan surat perjanjian kerja. Semua berjalan lancar, Nadia cukup puas karena mendapat gaji yang cukup besar. Esok harinya Nadia sudah mulai bekerja sebagai manajer wisma dan mendapat vasilitas ruangan kantor, tempat istirahat, dan mobil. Semenjak bekerja di wisma, Nadia disibukkan dengan urusan pekerjaan. Di hari pertama kerja, Nadia langsung mengadakan apel di wisma, mengontrol kondisi dan pekerja wisma. Ia

didampingi Mr. Zak, seorang manajer administrasi bagian keuangan. Nadia sangat tegas kepada karyawan, Ia sering menegur pegawai yang lalai, bahkan tak segan memberi hukuman kepada pekerja yang melanggar peraturan. Setelah lelah bekerja, Nadia menghabiskan waktunya di sebuah aparteman yang dikhususkan untuknya beristirahat. Dalam apartemen itu, Nadia ditemani seorang pembantu, Ansah namanya. Meskipun tidak pulang ke rumah, Nadia tetap memperhatikan kondisi rumah dan anak-anaknya melalui Susan, terutama Amad yang masih kecil. Nadia sering berkomunikasi dengan Susan lewat telepon. Setelah kepergian Nadia dari rumah, suasana rumah menjadi sepi. Mjid duduk di sofa dengan secarik kertas surat dari Nadia, sedangkan riq baru keluar dari kamar dan duduk di kursi sebelahnya. Tak lama kemudian Dokter Mamud datang, ia adalah paman riq. Dokter Mamud sengaja diundang oleh Mjid untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya. Mjid menyerahkan surat itu kepada Dokter Mamud dan menyuruh membacanya. Setelah dibacakannya surat itu, Dokter Mamud sangat terkejut karena masalah yang dihadapi bukan masalah sepele. Mereka terlibat diskusi dan perdebatan masalah kepergian Nadia. Selama pembicaraan itu, Dokter Mamud berada di pihak Nadia. Di tengah pembicaraan, Susan datang dan mengatakan perihal yang sebenarnya terjadi sehingga membuat Nadia pergi dari rumah. Keputusan Nadia pergi dari rumah membuat Mjid sadar. Mjid menyadari bahwa dirinya telah berbuat salah, telah tersesat di jalan riq. Ia sangat menyesali sikapnya terhadap Nadia.

ANALISIS NOVEL GADAN TLADU SYAMSUN UKHR KARYA HUSAIN MUNIS ANALISIS STRUKTURAL Tema minor dalam novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr adalah a) seorang ibu harus berpendidikan, berjuang, dan berpendirian kuat dalam menjalankan perannya, b) perbedaan pandangan dalam mendidik anak menyebabkan anak bersikap tidak sopan pada orang tua dan dapat menghancurkan keluarga, c) mendidik anak bukan bentuk investasi, tetapi sebuah kewajiban, dan d) lingkungan mempengaruhi pendidikan anak. Adapun tema mayor novel ini adalah mendidik anak merupakan kewajiban orang tua. Tema novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr berkaitan erat dengan tokoh dan penokohan dalam cerita tersebut, khususnya tokoh utama yang bertugas menyampaikan tema cerita, yaitu Nadia. Tokoh ini digambarkan sebagai seorang ibu yang mampu menjalankan perannya sebagai orang tua. Dalam novel ini juga diceritakan Nadia sebagai sumber cahanya dalam keluarganya. Tema, tokoh dan penokohan tersebut juga berkaitan dengan alur. Alur pada novel ini adalah alur lurus yang menampilkan peristiwa dan konflik yang dialami tokoh dalam cerita tersebut secara urut berdasarkan waktu kejadian sehingga membentuk alur lurus. Melalui alur lurus itulah tokoh, penokohan, dan tema yang disampaikan dalam novel ini lebih jelas dan mudah dipahami. Tema novel tersebut juga berkaitan erat dengan latar tempat, waktu, dan sosial. Latar novel ini adalah negara Mesir tahun 1991 dengan masyarakatnya yang heterogen, sebagian modern dan sebagian konservatif, kental dengan budaya patriarki. Pada saat itu Mesir dipimpin oleh usni Mubrak, seorang pemimpin yang dikenal diktator dan korup sehingga menyebabkan negara itu menghadapi masalah birokrasi dan kesulitan ekonomi. Oleh karena itu, dengan kondisi yang demikian sangat memungkinkan terjadinya masalah dan konflik dalam keluarga khususnya dalam hal mendidik anak. Tema novel ini juga berkaitan dengan judulnya. Tema novel ini adalah mendidik anak merupakan kewajiban orang tua. Adapun judulnya adalah Gadan Tladu

Syamsun Ukhr dalam bahasa Indonesia esok akan terlahir matahari lain. Maksudnya, akan terlahir sosok seperti matahari yaitu sosok seperti Nadia, seorang ibu yang mampu menjalankan perannya sebagai orang tua, mendidik anak dan keluarga dengan baik. Tema novel ini juga berkaitan dengan sudut pandang. Sudut pandang novel ini adalah sudut pandang dia mahatahu. Penggunaan sudut pandang dia mahatahu dalam novel ini membuat pembaca banyak mendapatkan informasi sehingga pembaca itu bisa lebih terlibat secara emosional terhadap cerita. Hal demikian memudahkan pembaca untuk memahami tema yang disampaikan. Alur novel ini memiliki keterkaitan dengan latar. Adanya pergantian latar ketika adanya peralihan dari suatu peristiwa ke peristiwa lain membuat alur cerita menjadi logis. Latar dalam novel ini berkaitan dengan tokoh dan penokohan. Latar yang dihadirkan dalam novel ini adalah latar tempat berupa Mesir dengan lokasi tertentu (villa, rumah Amnah, wisma, tempat kerja Mjid). Latar waktu berupa tahun 1991, pada masa itu Mesir dibawah pemerintahan usni Mubrak yang korup dan diktator. Latar sosial berupa kondisi masyarakat yang sebagian modern dan sebagian lainnya konservatif, memegang teguh budaya patriarki. Latar tersebut mempengaruhi para tokoh dan penggambaran tokoh-tokoh yang dihadirkan dalam cerita novel ini.

BIOGRAFI HUSAIN MUNIS Husain munis dilahirkan di kota suez pada tanggal 28 agustus 1911. ia berasal dari keluarga yang baik. ayahnya sangat memperhatikan pendidikannya sehingga ia tumbuh menjadi pemuda yang sangat mencintai ilmu. setalah lulus dari madrasah alnawiyyah pada umur 19 tahun, Husain munis tertarik untuk kuliah di bidang sastra. selain belajar tentang sastra, dia juga belajar di jurusan sejarah. pada tahun 1934 Husain munis berhasil menyelesaikan studi sarjananya. dia kemudian bekerja sebagai penerjemah di bank perkreditan perancis.

Pada tahun 1937, Husain munis mendapat gelar master dengan tesisnya berjudul fathul-arabi lil-magribi, kemudian ia melanjutkan studinya di bidang kajian diplomasi abad pertengahan di universitas paris, perancis. ketika ia melanjutkan studinya di perancis terjadi perang dunia ke-2 sehingga memaksanya pindah ke universitas of zurich dan berhasil mendapat gelar doktor tahun 1943. dia pun diangkat menjadi dosen di lembaga penelitian luar negeri di universitas zurich. setelah perang dunia ke-2 berakhir, ia kembali ke mesir dan diangkat menjadi dosen sastra. pada tahun 1954, ia mendapat gelar profesor di bidang sejarah islam. pada tahun 1955, Husain munis ditugaskan di kementerian pendidikan dan pengajaran.

Perjalanan karir Husain Munis di dunia akademik sungguh cermelang. hal itu bisa dilihat dari posisi penting yang pernah diamanatkan kepadanya, yaitu 15 menjadi dosen di lembaga penelitian luar negri universitas zurich (1943-1954), profesor sejarah islam di fakultas seni, universitas kairo (1954), direktur institut studi islam di madrid (1957-1969), direktur departemen pendidikan (1955-1957), profesor dan ketua jurusan sejarah di universitas kuwait, (1961-1977). selain menduduki posisi penting, Husain Munis juga telah banyak mendapatkan prestasi dan penghargaan, di antaranya: mendapat gelar master pada tahun 1943, mendapat gelar doctor of arts dari universitas of zurich, swiss, dan bechelor of arts dari departemen sejarah fakultas seni, universitas kairo. pada tanggal 17 maret 1996, Husain munis meninggal dunia. sepanjang hidupnya, Husain munis dikenal sebagai orang yang ramah, rajin, dan cerdas. selain sebagai akademisi, Husain munis juga merupakan salah satu sastrawan arab yang telah banyak menghasilkan karya sastra. adapun karya sastra yang ditulisnya adalah idratuummil-zairi, gadan tladu syamsun ukr, qiatu ab auf, ahlan wa sahlan, al-jriyatu wasy-syiru, khairu satni. STRUKTUR HUSAIN MUNIS DENGAN NOVEL Dari kehidupanya struktur yang menonjol dari Husain Munis adalah bahwa ia seorang yang peduli akan pendidikan. bukan hanya ia tetapi juga keluarganya termasuk sang ayah. kecintaan ya terhadap pendidikan dilakukanya dalam proses pembelajaran hingga menaaki perguruan tinggi diberbagai tempat seperti perancis,

mesir, seperti universitas paris, universitas zurich. juga kegiatan akademisi yang ia jalani selama hidup seperti menjadi dosen di lembaga penelitian luar negeri di universitas zurich, dosen sastra di mesir direktur institut studi islam di madrid (19571969), direktur departemen pendidikan, profesor dan ketua jurusan sejarah di universitas kuwait uga banyak mendapatkan penghargaan diantaranya mendapat gelar master pada tahun 1943, mendapat gelar doctor of arts dari universitas of zurich, swiss, dan bechelor of arts dari departemen sejarah fakultas seni, universitas kairo.

OPOSISI BINER suaminya, majid taufiq Shadiq mempunyai sifat lembut dan sopan namun ia

juga mempunyai sifat tidak faham dengan persoalan ekonomi dan suka bangun kesiangan dan susah dibangunkan (jika dibangunkan dia mengumpat dan berkata kasar). halaman 14 dulu thariq masih anak-anak---tapi sekarang aku adalah dokter , halaman 24 pernyataan miskin ---dan terhormat (bukan miskin) halaman 28 nadia masih saja tampak muda --- garis-garis ketuaan yang selama ini kelompok majikan kelompok Hamba sahaya. 88

tersimpan tiba-tiba muncul , halaman 5 dan 79

SN dan Struktur Sosial Zamannya

Kelompok2 sosial di mesir ada berbagai ragam kelompok sosial yaitu petani , bangsawan yang terdiri dari (mementingkan pendidikan dan hidup sederhana) dan bangsawan yang gemar berfoya-foya dan memanjakan anaknya, kelompok orang kampung (perempuan kampong yang berpakaian hitam dan melilitkan selendang dikepala.

Kelompok sosial pengarang usain Munis dikenal sebagai orang yang ramah, rajin, dan cerdas. menjadi dosen di Lembaga Penelitian Luar Negri Universitas Zurich (1943-1954), Profesor Sejarah Islam di Fakultas Seni, Universitas Kairo (1954), Direktur Institut Studi Islam di Madrid (1957-1969), Direktur Departemen Pendidikan (1955-1957), Profesor dan Ketua Jurusan Sejarah di Universitas Kuwait, (1961- 1977). Selain menduduki posisi penting, usain Munis juga telah banyak mendapatkan prestasi dan penghargaan, di antaranya: mendapat gelar Master pada tahun 1943, mendapat gelar Doctor of Arts dari Universitas of Zurich, Swiss, dan Bechelor of Arts dari Departemen Sejarah Fakultas Seni, Universitas Kairo. Kelompok birokrat aristokrat dan kelompok2 lain dalam tradisi mesir, seorang ibu harus tunduk pada kemauan anak laki-lakinya, tetapi dalam novel ghodan tuladu syamsun ukhro tidak demikian, tokoh utama Nadia memungkiri tradisi itu, melihat dari novel tersebut maka pengarang ingin memberi pesan dan mengkritisi tradisi menyanjungkan anak lelakinya. Gadan Tladu Syamsun Ukhr masyarakat mesir yang selalu

A.

Novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr karya Husain Munis adalah novel yang muncul sekitar tahun 1996. novel ini termasuk dalam karya sastra kontemporer atau karya modern. secara umum pengarangnya pun tergolong dalam sastrawan modern. Husain Munis merupakan seorang intelektual yang berpendidikan tinggi dan berwawasan luas. ia melanjutkan studinya sampai ke eropa. hal tersebut turut

memberi kontribusi dalam karyanya. dimana dalam novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr diceritakan bahwa sebagian besar tokohnya berpendidikan tinggi dan meninggikan masalah pendidikan. wawasan mengenai eropa pun turut ia tuangkan dalam novel ini. Husain Munis pernah bekerja di kementrian pendidikan, hal ini lalu terdapat keterkaitan pada penggambaran tokoh majid yang juga bekerja di kementrian. Gadan Tladu Syamsun Ukhr dengan sosio-kultural zamannya.

B.

analisis strukturalisme genetik, selain memperhatikan struktur intrinsik baik secara parsial maupun secara keseluruhan serta pandangan sosial kelompok pengarang, juga mengangkat latar belakang sejarah, zaman, dan sosial masyarakatnya. Husain Munis dalam karyanya tentu tidak dapat lepas dari pengaruh situasi dan kondisi masyarakat sekitarnya. dalam hal ini, karakteristik ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya masyarakat mesir memberi pengaruh besar dalam karya ini. kecenderungan tersebut dilatarbelakangi oleh adanya suatu asumsi bahwa tata kemasyarakatan bersifat normatif. artinya memiliki unsur-unsur pengatur yang harus ditaati atau dipatuhi. pandangan, sikap, dan norma-norma yang ada dipengaruhi oleh tata kehidupan masyarakat mesir yang berlaku. ini tentu menjadi faktor yang turut menentukan apa yang mesti ditulis pengarang, untuk siapa karya sastra itu diciptakan, dan apa tujuan yang diinginkan melalui karya sastra tersebut. Beberapa hubungan antara novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr dengan kondisi kultural masyarakat mesir pada saat itu diantaranya adalah :

Karakteristik Ideologi.

segi karakteristik ideologi dapat kita lihat dari persoalan yang diangkat pengarang dalam novel ini. novel ini mengangkat permasalahan tentang pengorbanan dan ketulusan. hal ini digambarkan oleh tokoh utama, nadia yang mempertahankan ideologinya sebagai seorang ibu, istri, dan orang tua. di mana ia berprinsip bahwa sebagai seorang ibu, ia harus dapat memberi pedidikan moral kepada anak-anaknya. ia tidak mau memanjakan anak-anaknya karena ia tidak ingin menjadi orang tua yang nantinya akan bergantung pada anak-anaknya. sebagaimana modernisasi yang ada di mesir, nadia pun menunjukkan bahwa wanita bukan lagi hanya akan berperan

sebagai pembantu bagi keluarga, tapi ia juga memiliki eksistensi tersendiri dalam kehidupannya.

Mesir merupakan salah satu negara berkembang di dunia. mayoritas

masyarakatnya bertani, walaupun hanya sebagian dari wilayahnya yang bisa dijadikan lahan pertanian. namun dengan memaksimalkan sumber alam yang ada, seperti sungai nil, pertanian di mesir cukup maju. meski begitu, dalam novel ini pengarang lebih mengarahkan tokohnya sebagai pegawai pemerintahan atau perkantoran. bahkan sedikit digambarkan bahwa petani termasuk ke dalam golongan bawah yang miskin. aku sudah muak. setengah jam aku habiskan waktu menunggu bis. lalu harus satu taksi dengan seorang yang berbau-bau petani begitu ! (munis, 1996 : 26)

Masyarakat mesir mempunyai budaya membaca dan menulis yang cukup

tinggi untuk memperluas wawasan, atau melihat dunia yang lebih luas. produktifitas penerbitan buku-buku, tabloid, majalah, jurnal dan koran harian sejalan dengan semangat membaca masyarakat setempat. budaya ini juga terdapat dalam novel, yaitu ditunjukkan dengan aktivitas nadia yang gemar membaca koran sambil minum kopi untuk memanfaatkan sedikit waktu luangnya. Dalam novel Gadan Tladu Syamsun Ukhr ini, pengarang juga menyebutkan

beberapa makanan khas yang ada di mesir, seperti kusa, basyamil,nasi dan saus, dan syatirah keju rumi. makanan-makanan ini sudah banyak dijauhi keluarga-keluarga kaya di mesir.

Karakteristik Ekonomi.

mayoritas masyarakat mesir bermata pencaharian sebagai petani, walaupun hanya sebagian dari wilayahnya yang bisa dijadikan lahan pertanian. meski demikian, dalam novel ini, kaum petani secara tersirat di masukkan dalam golongan masyarakat bawah yang miskin. keluarga tokoh utama digambarkan sebagai keluarga menengah ke atas. di mana golongan menengah ke atas ini mayoritas bermata pencaharian sebagai pegawai pemerintahan dan kantoran. walaupun yang terlihat adalah bahwa tidak semua pekerja kantoran itu mewah perekonomiannya.

keadaan ekonomi negara mesir saat itu juga tak luput dari perhatian husain munis. sedikit ia melukiskan utang mesir keluar negeri yang mencapai jutaan dollar.

Di mesir terdapat budaya orang-orang kaya yang gemar kendaraan impor

mutakhir. sementara disisi lain masih ada saja orang miskin di kota yang mengendarai keledai. mungkin kriteria negara berkembang mesir ini antik, begitu ungkapan sebagian orang. dalam novel ini penggambaran tokoh thariq mendapat pengaruh dari budaya tersebut, di mana tokoh thariq ini menuntun untuk dibelikan mobil dan menolak untuk naik bis atau angkutan umum.

Kehidupan masyarakat mesir lainnya yaitu terdapat kesan perilaku budaya

mereka yang beriman kepada tuhan YME, saling mengungkapkan kasih sayang, hati yang mudah kasihan, lapang dada dan tidak pendendam. tetapi disamping itu ada pula perilaku sebagian mereka yang banyak bicara, suka marah dan mencela, sikap puas, bangga dan memuja keadaan yang ada. hal ini sesuai dengan penokohan yang diberikan pengarang pada tokoh-tokohnya.

Tokoh Aminah disifati dengan wanita yang gemar pergi ke klub dan ia pun

memiliki klub sendiri. hal ini bertalian dengan tradisi masyarakat mesir. bangsa mesir merupakan bangsa yang memiliki cita dan citra ditengah problematika hidup yang menumpuk. kegemaran minum teh (syai) sambil menghisap syisyah -semacam rokok khas arab yang dihisap lewat pipa karet sepanjang sekita satu meter- adalah pemandangan umum yang banyak kita jumpai dikedai-kedai kopi. di kedai tersebut tua muda melepaskan penatnya atau mungkin bermalas-malasan sambil maen domino, dadu atau nonton tv.

Dimesir terdapat tradisi dimana seorang ibu harus tunduk, patuh terhadap

anaknya, memenuhi semua keinginan anaknya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan dua tokoh ibu seperti jamalat salih (istri nur salamah) dan mamanya isham asyur. Juga ditegaskan dalam sebuah dialog hal 62

Nilai yang utuh ditanamkan dalam novel ini ia lah berkaitan dengan pendidikan yang oleh pengarang direpresantisakan melaui tokoh imajiner Nadia, bukan hanya

peoses mendidik anak yang diangkat berkaitan dengan pendidikan disekolah, tetapi juga pendidikan dalam sebuah keluarga, menangani manejemen keluarga, pendidikan moral kepada anaknya, menanamkan kemandirian dll. Karakteristik yang tampak menonjol dari tokoh Nadia sebagai tokoh imajiner yang sengaja diciptakan pengarang guna sarana penyampai pandangan dunia pengarang memiliki karakteristik yang sama dengan karakteritik pengarang dalam bidang pendidikan atau akademisk. Dalam novel tersebut diceritakan bagaimana giatnya seorang ibu seperti nadia memperjuangkan dirinya dengan tanpa mengeluh demi keluarga, beliau seorang terdidik dari keluarga yang terdidik pula, menguasi dua bahasa dengan lancar. Dari sisi ini pengarang pula merupakan seorang akademisi. Dapat ita lihat dari berbagai kegiatan beliau dalam bidanganya sebagai pengajar diberbagai pergruan tinggi, seperti universitas of zurich kemudia berbagai pengahargan yang pernah beliu terima pula dan posisi penting yang pernah beliu jabat. Novel ini merupaka sebuah kritik sosial terhadapa permasalah yang melanda mesir di abad 21 sebagai mana tradisi seorang ibu yang harus menuruti kemauan/ tunduk pada anaknya. Melalu tokoh nadia pengarang mencoba merekontruksi pemikiran semacam itu, dan menjelaskan bahwa sebagai orang tua memiliki kewajiban terhadap anaknya terutama pendidikan dan tidak wajib memnuntut balasan kepada anak setelah mereka menjadi orang sukses. Ibu adalah pejabat rumah tangga yang harus dihargai bukan dijadikan pelayan atau pembantu semaunya. Seorang anak yang rusak masih bisa menjadi baik asal ia pernah mendapatkan pengasuhan seorang ibu yang baik. Sebaliknya, seorang ibu yang rusak akhlaknya, hanya akan melahirkan generasi yang rusak pula akhlaknya. Hal ini yang ingin disampaikan pengarang sebagai bagaian dari kelompok sosial akademisi melalui tokoh Nadia yang mencoba keluar dari tradisi yang ia nyatakan bahwa orang tua yang terlalu menuruti kemauan anaknya hal itu justru akan merusak anaknya sendiri.