Anda di halaman 1dari 23

DAFTAR ISI Kata Pengantar ....................................................................................ii Daftar Isi .............................................................................................i BAB I PENDAHULUAN ...............................................................

I.1. Latar Belakang .....................................................................1 I.2.Rumusan Masalah..................................................................1 I.3. Tujuan Penulisan...................................................................2 I.4. Manfaat Penulisan.................................................................2 I.5. Sitematika penulisan..............................................................3 BAB II LANDASAN TEORI............................................................3 II.1.Pandangan umum batubara....................................................3 II.2.Kamus Besar bahasa Indonesia .............................................3 II.3. The International Hand Book of Coal Petrography..............3 II.4. Thissen (1974).......................................................................5 BAB III PEMBAHASAN.................................................................6

III.1. Proses Pembentukan Batu Bara...........................................6 III.2. Riwayat Penggunaan Batu Bara..........................................6 III.3. Batu Bara dan Keberadan Listrik........................................7 III.4. Batu Bara dalam Produksi Besi dan Baja............................8 III.5. Pencairan Batu Bara............................................................9 III.6. Batu Bara dan Produksi Semen......................................... . 11

III.7. Permasalahan Dalam Lingkungan Hidup............................12 III.8.Penggunaan Batu Bara dan Lingkungan Hidup .....................14 BAB IV PENUTUP............................................................................17 IV.1.Kesimpulan...........................................................................17 IV.2.Penutup.................................................................................17 Daftar pustaka.........................................................................................18

Kata Pengantar Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul BATU BARA dan LINGKUNGAN HIDUP Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA 5 Balikpapan . Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi berkat kerjasama dan keterampilan kelompok, kami dapat menyelesaikan tugas ini. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangankekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Batubara merupakan salah satu sumberdaya energi yang banyak terdapat di dunia, selain minyak bumi dan gas alam. Batubara sudah sejak lama digunakan, terutama untuk kegiatan produksi pada industri semen dan pembangkit listrik. Batubara sebagai energi alternatif mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi sehingga dapat menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM) dalam kegiatan produksi untuk industri tersebut. Apalagi beberapa tahun terakhir ini harga BBM terus mengalami kenaikan dan hal ini sangat dirasakan dampaknya terutama dalam hal kebutuhanya sebagai sumber nergi bagi berbagai aktivitas perekonomian dunia.Sebagai salah satu suber alternatif energi dunia, batu bara akan maikn berperan dalam waktu-waktu mnendatang. Sampai saat ini saja, batu bara telah berperan sebesar 40% dari penyediaan kebutuhan listrik di seluruh dunia sebagai sumber energi. Bahkan di Negara nilai tersebut jauh lebih tinggi. Di Polandia misalnya, menggunakan batu bara lebih dari 94% untuk pembangkit listrik; Afrika Selatan 92%; Cina 77%; dan Australia 76%. Batu bara merupakan sumber energi yang mengalami pertumbuhan yang paling cepat di dunia di tahun-tahun belakangan ini lebih cepat daripada gas, minyak, nuklir, air dan sumber daya pengganti. Oleh karena itu, dalam tulisan ini akan dibahas lebih lanjut terkait sumber energi alternative yang bernama batu bara ini.

1.2. Rumusan Masalah 1. Apa dan bagaimana batu bara dapat muncul sebagai salah satu sumber energi dunia? 2. Bagaimana pemasaran batu bara dan apa saja penggunaannya?

3. Bagaimana keterkaitan konsumsi batu bara dengan kualitas lingkungan hidup dunia? 1.3. Tujuan Penulisan Beberapa tujuan penulisan yang berusaha dicapai dalam tulisan ini antara lain: 1. Mengetahui seluk beluk penambangan batu bara. 2. Mengetahui peranan batu bara sebagai sumber energi dunia pada masa mendatang. 3. Memenuhi tugas Lingkungan. 1.4. Manfaat Penulisan Makalah ini dapat menjadi referensi terkait pengetahuan mengenai batu bara sebagi salah satu sumber nergi dunia.Diharapkan mampu menggugah hati nurani untuk senantiasa melakukan segala upaya penghematan pengguanaan energi. mengenai Ekonomi Sumber Daya Alam dan

I.5. Sistematika penulisan Sistematika penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

BAB I. PENDAHULUAN PEMBUKA: Latar belakang,rumusan masalah,tujuan,manfaat,dan metode Pengerjaan makalah

BAB II. TINJAUAN TEORITIS Pandangan umum batubara (Wikipedia Indonesia),kamus besar bahasa indonesia,the international Hand book of coal petrography,dan thissen(1974)

BAB III. ISI DAN PEMBAHASAN Proses pembentukan batubara,riwayat penggunaan batubara,batubara dan keberadaan listrik,batubara dalam produksi besi dan baja,pencairan batubara ,batubara dan produksi semen,permasalahan dalam lingkungan hidup,dan pengunaan batubara dalam lingkungan hidup.

BAB IV.PENUTUP Kesimpulan , saran, dan daftar pustaka

DAFTAR PUSTAKA

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Pandangan umum batubara (Wikipedia Indonesia) Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu, adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada Zaman Permian, kira-kira 270 jtl, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke Zaman Tersier (70 - 13 jtl) di berbagai belahan bumi lain.

2.2. Kamus besar bahasa Indonesia Kamus besar bahasa Indonesia dalam edisi yang kedua pada tahun 1995 : Batubara adalah arang yang diambil dari dalam tanah yang berasal dari tumbuhan darat, tumbuhan air dan sebagiannya yang telah menjadi batu

2.3. The International Hand Book of Coal Petrography The International Hand Book of Coal Petrography dalam penerbitannya yang kedua pada tahun 1963 memberikan pengertian batubara sebagai berikut:

Batubara adalah batuan sedimen yang mudah terbakar, terbentuk dari proses sisa-sisa tanaman dalam variasi tingkat pengawetan diikuti oleh proses kompaksi dan terkubur dalam cekungan-cekungan yang diawali pada kedalaman yang tidak terlalu dangkal. Cekungan-cekungan ini pada garis besarnya dibagi atas cekungan limnit (intra continental) dan cekungan paralis yang berhubungan dengan air laut. Segera setelah lapisan-lapisan dasar turun terus-menerus, sisa-sisa tanaman yang terkubur tersebut dipengaruhi oleh proses normal metamorfosis, terutama oleh temperature dan tekanan.

2.4 Thissen (1974) Thissen (1974)menemukan beberapa kejanggalan batubara ketika beliau mendefinisikan sebagai berikut : Batubara adalah suatu benda padat yang kompleks, terdiri dari bermacam-macaunsur yang mewakili banyak komponen kimia, dimana hanya sedikit dari komponen kimia tersebut homogen, tetapi hampir semua berasal dari dari sisa-sisa tanaman. Sisa-sisa tanaman tersebut sangat kompleks, terdiri dari bermacam-macam tissue dimana tiap tissue terdiri dari beberapa sel. Dengan sendirinya akanberkomposisi sejumlah komponen kimia dalam pengertian yang bervariasi.

III.1 Proses Pembentukan Batu Bara Pada awalnya, batu bara merupakan tumbuh-tumbuhan pada zaman prasejarah, yang berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Kemudian, karena adanya pergeseran pada kerak bumi (tektonik), rawa dan lahan gambut tersebut lalu terkubur hingga mencapai kedalaman ratusan meter. Selanjutnya, material tumbuh-tumbuhan yang terkubur tersebut mengalami proses fisika dan kimiawi, sebagai akibat adanya tekanan dan suhu yang tinggi. Proses perubahan tersebut, kemudian menghasilkan batu bara yang kita kenal sekarang ini. Setiap batu bara yang dihasilkan, memiliki mutu (dilihat dari tingkat kelembaban, kandungan karbon, dan energi yang dihasilkan) yang berbeda-beda. Pengaruh suhu, tekanan, dan lama waktu pembentukan (disebut maturitas organik), menjadi faktor penting bagi mutu batu bara yang dihasilkan III.2 Riwayat Penggunaan Batu Bara Batu bara memiliki sejarah penggunaan yang sangat panjang dan beragam. Beberapa ahli sejarah yakin bahwa batu bara pertama kali digunakan secara komersial di Cina. BAhkan ahli sejarah mengtakan bahwa terdapat suatu tambang di timur laut Cina yang menyedikan batu bara untuk mencairkan tembaga yang kemudian digunakan untuk mencetak uang logam sekitar tahun 1000 SM. Kemudian seorang filsuf yunani,yaitu Aristoteles dalam salah satu tulisanya menyebutkan arang yang berbentuk seperti batu. Abu batu bara yang ditemukan di reruntuhan

bangsa Romawi di Ingris menunjukkan bahwa bangsa Romamwi telah menggunakan batu barea sebagai sumebr energi sejak 400 tahun SM. Sebuah catatan sejara dari bad pertengahan menyebutkan bukti pertama penambanga batu bara di Eropa. Bahkan catatab tersebut juga menyebutkan terdapat suatu perdagangan internasional batu bara laut dari lapisan batu bara yang terpapar di pantai Inggris yang kemudian dikumpulkan dan di ekkspor ke Belgia. Kemudian setelah revolusi industri pada abad 18 dan 19 bergulir, pengguanaan batu bara pun senantiasa makin berkembang pesat.

III.3 Batu Bara dan Keberadan Listrik Kehidupan moderen tidak bisa dibayangkan tanpa adanya listrik. Listrik menerangi rumah, gedung,jalanan, memanaskan rumah dan industri, serta menghidupkan sebagian besar peralatan yang digunakan di rumah, kantor dan mesin-mesin di pabrik. Meningkatkan akses ke listrik di seluruh dunia merupakan faktor kunci dalam mengentaskan kemiskinan Karena pentingnya energi yang disebut sebagai listri ini maka pengupayaan penciptaan energi ini dilakukan dengan banyak hal. Salah satu cara untuk mendapatkan energi listri ini adala dengan mengubah energi yang terdapat pada batu bara ini menjadi energi listrik. Pembangkit listrik pertama kali dibangun mengguanakan batu bara bongkahan yang dibakar diatas rangka bakar dalam ketel untuk menghasilkan uap. Kini, batu bara digiling dahulu menjadi bubuk halus, yang meningkatkan area permukaan dan memungkinkan untuk terbakar secara lebih cepat. Meningkatkan akses untuk menggunakan listrik dan menghentikan pembakaran bahan bakar dalam rumah dapat menyebabkan dampak kesehatan yang penting. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

memperkirakan bahwa asap yang ditimbulkan oleh pembakaran bahan bakar padat di dalam ruangan menyebabkan kematian 1,6 juta orang setiap tahun di negara miskin di dunia. Meningkatkan akses ke energi juga mendukung perkembangan ekonomi, yang antara lain: Pekerja yang sebelumnya harus mengumpulkan bahan bakar dapat bebas melakukan kegiatan yang lebih produktif seperti dalam industri pertanian dan pabrik. Kegiatan tersebut meningkatkan pendapatan rumah tangga, pasokan tenaga kerja dan kapasitas produksi dari perkembangan ekonomi. Pengumpulan bio massa yang intensif untuk bahan bakar konsumsi rumah tangga dalam banyak hal menurunkan produktivitas lahan pertanian melalui penggundulan (dengan memotong pohonpohon) atau melalui penghilangan lahan subur (dengan mengumpulkan kotoran hewan). Pembakaran yang tidak efisien dari bahan bakar non konvensional, terutama dari dalam rumah yang tidak memiliki cerobong asap, dapat menimbulkan komplikasi kesehatan. Membuat rumah tangga menggunakan sumber daya energi moderen akan meningkatkan kesehatan dan produktivitas. Pengadaan listrik untuk rumah tangga berguna untuk penggunaan alat-alat modern seperti mesin cuci dan penerangan yang akan meningkatkan produktivitas industri kecil dan waktu senggang.

III.4.Batu Bara dalam Produksi Besi dan Baja Baja penting untuk kehidupan sehari-hari contohnya mobil, kereta api, bangunan, kapal,jembatan, lemari pendingin, peralatan medis dimana semuanya dibuat dengan menggunakan baja. Baja merupakan unsur vital

untuk mesin-mesin yang membuat hampir setiap produk yang saat ini kita gunakan. Batu bara penting bagi produksi besi dan baja; sekitar 64% dari produksi baja di seluruh dunia berasal dari besi yang dibuat di tanur tiup yang menggunakan batu bara. Produksi baja mentah dunia berjumlah 965 juta ton pada tahun 2003, menggunakan batu bara sekitar 543 juta ton. Prose pembuatan baja membutuhkan bahan baku bijih besi, kokas (yaitu batu bara berjenis kokas yang dibuat secara khusus), dan sedikit batu gamping. Kemudian melalui proses kimia dalam tanur uap, bahan-bahan mentah tersebut pun melebur dan pada proses terakhir menghasilkan baja yang dapat dipergunakan menjadi alat-alat yang kita gunakan saat ini. Dalam perkembangannya industri baja ini mampu menjadi sektor industri yang cukup di gemari banyak negara. Dalam gambar dibawah ini dapat kita lihat bahwa Cina, Jepang, dan AS menjadi negara penghasil baja terbesar di dunia. Sementara itu Indonesia masih berada jauh dari sepuluh besar dalam percaturan produksi baja di dunia. III.5. Pencairan Batu Bara Di sejumlah negara, batu bara dikonversikan menjadi bahan bakar cair suatu proses yang disebut pelarutan. Bahan bakar cair dapat disuling untuk menghasilkan bahan bahar pengangkut dan produkproduk minyak lainnya seperti plastik dan bahan pelarut. Ada dua metode pelarutan utama: Pencairan batu bara langsung dimana batu bara dikonversikan menjadi bahan bakar cair dalam suatu proses tunggal ; Pencairan batu bara tidak langsung dimana batu bara dijadikan gas kemudian dikonversikan menjadi zat cair. Salah satu negara yang melakukan proses ini adalah Cina dan Afrika Selatan. Dari hasil proses ini, batu bara cair dapat dipergunakan sebagai

pengganti minyak mentah. Sehingga jika harga minya dunia tinggi, maka peran batu bara cair ini akan makin kompertitif. III.6. Batu Bara dan Produksi Semen Semen mempunyai peranan yang sangat penting dalam industri konstruksi. Lebih dari 1350 juta ton semen digunakan di dunia setiap tahunya. Dan dengan perkembangan industri perumahan yang semakin cepat, diperkirakan konsumsi semen pun juga akan makin besar.Semen terbuat dari campuran kalsium karbonat (umumnya dalam bentuk batu gamping), silika, oksida besi dan alumina. Sementara itu, batu bara dipergunakan sebagai sumber energi dalam produksi semen. Energi yang dibutuhkan untuk memproduksi semen sangat besar. Oleh karena itulah, kebutuhan batu bara dalam proses produksi ini juga berkuantitas besar. Untuk memproduksi semen sebanyak 900 gr misalnya, akan membuttuhkan energi batu bara sebesar 450 gr. Dan banyak ahli memprediksi pada masa-masa mendatang peran batu bara sebagai input penting dalam industri semen akan tetap eksis. Selain berperan dalam berbagai industri di atas, batu bara juga banyak berperan dalam pusat pengelolaan alumina, pabrik kertas, industri kimia serta farmasi. Batu bara juga merupakan suatu bahan penting dalam pembuatan produk-produk seperti: Karbon teraktivasi, yaitu bahan yang digunakan pada saringan air dan pembersih udara serta mesin pencucidarah,Serta karbon, yaitu bahan pengeras yang sangat kuat tetapi ringan, biasa digunakan pada konstruksi sepeda gunung maupun raket tenis,Metal sislikon- digunakan untuk memproduksi silikon dan silan, yang pada giliranya akan digunakan untuk membuat pelumas, bahan kedap air, resin, kosmetik, shampo, dan pasta gigi. III.7 Permasalahan Dalam Lingkungan Hidup

Tambang batu bara terutama tambang terbuka memerlukan lahan yang luas. Hal tersebut tentu menimbulkan permasalahan lingkungan hidup eperti erosi tanah, polusi debu, suara, air, serta dampak terhadap keanekaragaman hayati setempat. Perencanaan dan pengelolaan lingkungan yang baik akan meminimalisir dampak yang terjadi. III.7.1.Gangguan lahan Dalam praktek yang sesuai aturan, kajian tentang lingkungan hidup daerah disekitarnya dilakukan beberapa tahun sebelum suatu tambang batu bara dibuka untuk mengidentifikasi kepekaan dan masalah-masalah yang mungkin akan terjadi. Kajian tersebut mempelajari dampak pertambangan terhadap permukaan dan air tanah, tanah, dan tata guna lahan setempat, tumbuhan alam serta populasi fauna III.7.2.Amblesan Tambang Kondisi ini terjadi dimana permukaan tanah ambles sebagai akibat dari ditambangnya batu bara yang ada di dalamnya. III.7.3.Pencemaran Air Acid mine drainage atau drainase tambang asam (AMD) adalah air yang terbentuk dari reaksi kimia antara air dan batuan yang mengandung mineral belerang. Biasanya yang dihasilkan mengandung asam dan sering berasal dari daerah dimana bijih atau kegiatan tambang batu bara telah membuka batuan yang mengandung pirit. AMD terbentuk pada saat pirit bereaksi terhada udara dan air untuk membentuk asam belerang dan besi terlarutkan. Limpasan asam tersebut melarutkan logam-logam berat seperti tembaga, timbal dan merkuri ke dalam air tanah dan air permukaan.AMD merupakan permasalahan yang muncul pada tambang batu bara permukaan.

III.7.4.Polusi Debu dan Suara Selama melangsungkan kegiatan eksploitasi, dampak polusi udara dan suara terhadap para pekerja dan masyarakat setempat dapat ditekan melalui teknik perencanaan tambang modern dan peralatan khusus. Selama kegiatan penambangan, debu dapat ditimbulkan oleh truk-truk yang berjalan di atas jalan yang tidak beraspal, pemecahan batu bara, dan pengeboran. III.7.5.Penggunaan Gas Metana dari Tambang Batu Bara Metana (CH4) adalah gas yang terbentuk dari proses pembentukan batu bara. Gas tersebut keluar dari lapisan batu bara dan di sekitar strata yang terganggu selama kegiatan penambangan. Gas metana adalah gas rumah kaca yang potensial, diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 18% dari seluruh pengaruh pemanasan global yang timbul dari kegiatan manusia (CO2 diperkirakan memberikan kontribusi sebesar 50%). Batu bara bukan satu-satunya sumber daya yang mengeluarkan gas metana produksi beras di sawah basah dan kegiatan lainnya merupakan emiten utama metana dari lapisan batu bara dapat digunakan daripada dilepaskan ke atmosfir dengan manfaat lingkungan hidup yang penting. Coal mine methane (CMM metana tambang batubara) adalah metana yang disemburkan oleh lapisan batu bara selama penambangan batu bara. Coalbed methane (CBM Metana Lapisan Batu Bara) adalah gas metana yang terperangkap pada lapisan batu bara yang tidak atau tidak akan ditambang. Gas metana sangat mudah meledak dan harus dikeringkan selama kegiatan penambangan untuk menjaga keamanan kondisi kerja. Pada tambang bawah tanah yang aktif, sistem ventilasi berskala besar memindahkan udara dalam kuantitas yang besar melalui tambang untuk menajaga tambang agar tetap aman namun juga mengemisi gas metana dalam konsentrasi yang sangat kecil ke atmosfir. Beberapa tambang aktif

dan tua menghasilkan gas metana melalui sistem degasifikasi, juga dikenal sebagai sistem drainase gas yang menggunakan sumur-sumur untuk mendapatkan gas metana. Selain meningkatkan keselamatan pada tambang batu bara, penggunaan CMM meningkatklan kinerja lingkungan hidup dari suatu kegiatan penambangan batu bara dan dapat memiliki manfaat komersial. Gas metana tambang batu bara memiliki berbagai kegunaan, termasuk produksi listrik di tapak dan di luar tapak, penggunaan dalam proses industri dan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan ketel. Metana lapisan batu bara dapat diambil dengan melakukan pengeboran ke dalam dan memecahkan secara mekanis lapisan batu bara yang belum diolah. Sementara CBM digunakan, batu baranya sendiri belum ditambang.

3.8.Penggunaan Batu Bara Dalam Lingkungan Hidup Konsumsi energi global meningkatkan sejumlah masalah lingkungan hidup. Penggunaan energi batu bara juga tidak luput dari munculnya polusi seperti oksida belerang dan nitrogen (SOx dan NOx), serta partikel dan unsur lain seperti merkuri. Masalah yang baru adalah emisi karbon dioksida (CO2). Lepasnya CO2 ke atmosfer dari aktivitas manusia atau sering disebut emisi antropogenik memiliki keterkaitan dengan pemanasan global. Pembakaran bahan bakar fosil adalah sumber utama dari emisi antropogenik dai seluruh dunia.Untuk mananggulangi permasalahan yang muncul dari penggunaan batu bara, kemudian muncul clean coal technology (CCT) yang merupakan salah satu teknologi yang mampu meningkatkan kinerja lingkungan batu bara. Teknologi tersebut mengurangi emisi, limbah, dan meningkatkan jumlah energi yang diperoleh dari setiap ton batu bara. Teknologi juga berbeda berdasarkan jenis batu bara. Pemilihan teknologi tergantung pda tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Teknologi yang mahal dan sangat maju tidak mampu diadopsi oleh negara miskin dan berkembang. Berikut penggunaannya: A. Mencegah Terjadinya Hujan Asam Hujan asam menjadi perhatian dunia mulai dari beberapa tahun yang lalu, pada saat ditemukan pengasaman danau dan kerusakan pohon di beberapa bagian Eropa dan Amerika Utara. Hujan asam disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk drainase asam dari arah hutan yang telah dibuka dan emisi dari pembakaran bahan bahar fosil dalam pengangkutan dan pembangkit listrik.Oksida belerang dan nitrogen diemisikan pada berbagai tingkat dalam pembakaran bahan bakar fosil. Gas-gas tersebut memberikan reaksi kimia terhadap uap air dan zat-zat lainnya di atmosfir dan membentuk asam yang kemudian mengendap pada saat hujan.

Beberapa tindakan telah diambil untuk mengurangi dampak hujan asam, seperti penggunaan sumber energi lain non-fosil. Selain itu menggunakan batu bara dengan kandungan belerang yang rendah adalah cara yang paling ekonomis. Suatu pendekatan alternatif adalah pengembangan istem pelepasan belerang (FGD-flue gas desulphurisation) gas pembakaran untuk digunakan di pembangkit listrik. Sistem ini mampu menghilangkan emisi hingga 99%. Oksida nitrogen dapat memberikan kontribusi pada munculnya kabut serta hujan asam. Emisi NOx dari pembakaran batu bara dapat dikurangi dengan menggunakan pembakar NOx rendah, memperbaiki rancangan pembakar dan menerapkan teknologi yang mengolah NOx pada aliran gas buang. TeknologiSelective Catalytic Reduction (SCR pengurangan katalitis terpilih) dan selective non-catalytic reduction(SNCR pengurangan non-katalitis terpilih) dapat mengurangi emisi NOx sekitar 80-90% dengan mengolah NOx pasca pembakaran. Fluidised Bed Combustion (FBC pembakaran lapisan terfluidisasi) merupakan suatu pendekatan teknologi maju yang efisien untuk mengurangi emisi NOx amupun SOx. FBC mampu untuk mengurangi sebanyak 90% atau lebih. B.Mengurangi Emisi Karbon Dioksida Masalah utama yang menjadi pembicaraan ilmuan seluruh dunia adalah resiko terjadinya pemanasan global. Gas-gas yang terjadi secara alami di atmosfer membantu mangatur suhu bumi dan menangkap radiasi lain atau dikenal sebagai green house effect (efek rumah kaca). Kegiatan manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil, menghasilkan gas rumah kaca yang pada akhirnya berakumulasi di atmosfer. Pembentukan gas tersebut menyebabkan terjadinya efek rumah kaca yang dapat menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim.

Batu bara adalah salah satu sumber emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan manusia. Gas rumah kaca yang terkait dengan batu bara termasuk metana, karbon dioksida, dan oksida nitro. Gas metana keluar dari tambang batu bara dalam, sedangkan karbon dioksida dan oksida nitro keluar dari batu bara yang digunakan untuk membangkitkan listrik atau proses industri seperti produksi baja dan pabrik semen.

BAB IV PENUTUP IV.1. Kesimpulan Batubara merupakan salah satu sumber daya energi yang banyak terdapat di dunia, selain minyak bumi dan gas alam. Batubara sudah sejak lama digunakan, terutama untuk kegiatan produksi pada industri semen dan pembangkit listrik. Batubara sebagai energi alternatif mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi sehingga dapat menggantikan peran bahan bakar minyak (BBM) dalam kegiatan produksi untuk industri tersebut. Apalagi beberapa tahun terakhir ini harga BBM terus mengalami kenaikan dan hal ini sangat dirasakan dampaknya terutama dalam hal kebutuhanya sebagai sumber energi bagi berbagai aktivitas perekonomian dunia. Serta penggunaan yang dilakukan dalam mencegah terjadi berbagai masalah yang sering terjadi akibat batubara yang digunakan oleh perusahaan. Selain itu batu bara sebagai sumber energy yang banyak digunakan baik itu untuk listrik dan bahan bakar maupun sebagai campuran berbagai bahan kimia atau yang lainnya. IV.2. Saran Dalam segala aspek yang sudah kami temukan dalam permasalahan dan keuntungan yang didapat dalam masalah yang kami lakukan, sebaiknya tingkat kesadaran manusia dalam peggunaan batubara dapat disesuaikan dan dimanfaatkan kembali untuk masa depan dunia terutama dalam masalah lingkungan hidup yang mengakibatkan banyak lingkungan terbuka untuk pengambilan batubara. Serta kami berharap bantuan dari pemerintah agar bisa membatasi proses pengambilan batubara oleh perusahaan perusahaan, agar lingkungan hidup tidak menjadi rusak dan tercemari akibat ulah banyak perusahaan yang tidak perduli terhadap lingkungan hidup.

Daftar pustaka

http://insidewinme.blogspot.com/2007/12/kasus-tambang-batubara.html http://nheyta.blogspot.com/2011/05/definisi-batubara-batubara-merupakan.html http://id.wikipedia.org/wiki/Batu_bara


Daniel Burns. The modern practice of coal mining (1907) Chirons, Nicholas P. Coal Age Handbook of Coal Surface Mining (ISBN 0-07-011458-7) Hamilton, Michael S. Mining Environmental Policy: Comparing Indonesia and the USA (Burlington, VT: Ashgate, 2005). (ISBN 0-7546-4493-6). Hayes, Geoffrey. Coal Mining (2004), 32 pp Hughes. Herbert W, A Text-Book of Mining: For the use of colliery managers and others (London, many editions 1892-1917), the standard British textbook for its era. National Energy Information Center, Greenhouse Gases, Climate Change, Energy, http://www.eia.doe.gov/oiaf/1605/ggccebro/chapter1.html, diakses pada 16 Oktober 2007 Charles V. Nielsen and George F. Richardson. 1982 Keystone Coal Industry Manual (1982) Saleem H. Ali. Minding our Minerals, 2006. [1] A.K. Srivastava. Coal Mining Industry in India (1998) (ISBN 81-7100-076-2)

The Department of Trade and Industry, The Coal Authority, http://www.coal.gov.uk/resources/cleanercoaltechnologies/CoalMineandbedmethane.c fm, diakses pada 16 Oktober 2007 James Tonge. The principles and practice of coal mining (1906)

DISUSUN OLEH : 1. Rudi Simatupang 2. Arbain Rambe 3. Marco Siahaan 4. Arjuna Wirabuana 5. Ade Rahmat

SMA 5 BALIKPAPAN