Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Desa merupakan bagian vital bagi keberadaan bangsa Indonesia. Vital karena desa merupakan satuan terkecil dari bangsa ini yang menunjukkan keragaman Indonesia. Selama ini terbukti keragaman tersebut telah menjadi kekuatan penyokong bagi tegak dan eksisnya bangsa. Dengan demikian penguatan desa menjadi hal yang tak bisa ditawar dan tak bisa dipisahkan dari pembangunan bangsa ini secara menyeluruh.

Hampir semua kebijakan pemerintah yang berkenaan dengan pembangunan desa mengedepankan sederet tujuan mulia, seperti mengentaskan rakyat miskin, mengubah wajah fisik desa, meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat, memberikan layanan sosial desa, hingga memperdayakan masyarakat dan membuat pemerintahan desa lebih modern. Namun, pada kenyataannya desa sekedar dijadikan obyek pembangunan, yang keuntungannya hanya dirasakan oleh pihak yang melaksanakan pembangunan di desa tersebut, misalnya elit kabupaten, provinsi, bahkan pusat. Di desa, pembangunan fisik menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Karena itu, Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang ada sejak tahun 2000 dan secara teoritis memberi kesempatan pada desa untuk menentukan arah pembangunan dengan menggunakan dana PPK, orientasi penggunaan dananyapun lebih untuk pembangunan fisik. Berdasarkan hal diatas, benar bahwa yang selama ini terjadi sesungguhnya adalah Pembangunan di desa dan bukan pembangunan untuk, dari dan oleh desa. Desa adalah unsur bagi tegak dan eksisnya sebuah bangsa yakni Indonesia. Meskipun pembangunan merupakan sebuah program yang diterapkan sampai kedesa-desa, alangkah baiknya jika menerapkan konsep :Membangun desa, menumbuhkan kota.

Salah satu desa yang sedang berkembang dan mengalami pembangunan yang cukup pesat yakni desa Lakkang yang lebih dikenal sebagai Pulau Lakkang yang berarti tidak mau lepas, berada dalam administrasi Kecamatan Tallo. Kelurahan Lakkang dengan luas 1,65 km2 di batasi oleh dua perairan, yaitu Sungai Tallo dan Sungai Pampang. Desa tersebut dalam

pembangunannya mendapat bantuan yang berasal dari PNPM Mandiri dalam bentuk kelompok pemberdayaan masyarakat berupa BKM (Badan Keswadayaan Masyarakat) yang merupakan program ataupun kebijakan pemerintah Kota Makassar. 2. RUMUSAN MASALAH 1) Bagaimana aspek fisik dan aspek non fisik permukiman pada kelurahan lakkang yang mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat? 2) Bagaimana permasalahan desa yang terkait dengan aspek fisik dan aspek non fisik pada permukiman di kelurahan Lakkang? 3) Bagaimana pengaruh program-program pembangunan desa pada kelurahan Lakkang terhadap kehidupan masyarakat setempat? 3.TUJUAN 1) Mengetahui aspek fisik dan aspek non fisik permukiman pada kelurahan lakkang yang mempengaruhi kehidupan masyarakat setempat 2) Mengetahui permasalahan desa yang terkait dengan aspek fisik dan aspek non fisik pada permukiman di kelurahan Lakkang 3) Mengetahui pengaruh program-program pembangunan desa pada kelurahan Lakkang terhadap kehidupan masyarakat setempat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Latar Belakang Pembangunan Desa di Indonesia Para pendiri Negara kita Republik Indonesia tercinta dengan segala pemahamannya tentang kondisi Tanah Air Indonesia yang terdiri beribu ribu pulau dan suku bangsa dengan bijak menempatkan kondisi Desa sebagai unsur Pemerintah terdepan. Struktur Pemerintahan sedemikian rupa memiliki semangat untuk menjadikan Desa sebagai pilar utama pembangunan bangsa, logikanya bila sekitar 80.000 desa di bumi pertiwi ini maju, mandiri, sejahtrera dan demokratis maka menjelmalah Negara Kesatuan Indonesia menjadi bangsa yang besar dan terhormat dalam percaturan bangsa bangsa di dunia. Lain yang diharap lain pula kenyataannya, dengan pola sentralistik yang dikembangkan di masa lalu telah menempatkan desa menjadi pelengkap penderita yang tidak berdaya segalanya ditentukan dari atas bahkan cenderung segala potensi yang dimilikinya lebih banyak menjadi Upeti pada Pemerintah diatasnya. Desa tetap miskin bodoh dan abdi para pejabat diatasnya yang semakin rakus mengeksploitasi desa. Setelah berjalan lama mulai tumbuh akan kesadaran akan kekeliruan tersebut terutama setelah terbukti bahwa pola sentralistik hanya menghasilkan koruptor-koruptor dan kesenjangan sosial yang tajam antara pusat, daerah dan desa. Reformasi pola ini dirombak total dimana pola desentralisasi yang ditinggalkan akan dipacu kembali Undang-Undang Dasar 1945 yang telah diamandemen, kemudian lahir Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah yang semangatnya lebih berpihak pada desentralisasi dan demokratisasi. Kesulitan berhimpun dalam rangka membangun posisi tawar bagi pemerintahan desa telah punah. Selama ini, kebijakan pembangunan di Indonesia terutama pembangunan Desa selalu bersipat top down dan sektoral dalam perencanaan serta implementasinya tidak terintegrasi, hal ini dapat dilihat dari program pemerintah pusat ( setiap departemen ) yang bersipat sektoral. Perencanaan disusun

tanpa melibatkan sektor yang lain serta pemerintah daerah, hal lain yang menjadi permaslahan adalah tidak dicermatinya persoalan mendasar yang terjadi di daerah, sehingga formulasi strategi dan program menjadi tidak tepat. Berkaitan dengan kemiskinan, sebagaimana terinformasikan dalam data statistik, ternyata sebagian besar masyarakat miskin berada di desa, oleh karena itu, pembangunan sudah sewajarnya difokuskan di ddesa sebagai upaya mengatasi kemiskinan, Pembangunan selama ini, lebih banyak di arahkan di kota, hal ini menyebabkan aktivitas perekonomian, berpusat di kota, hal inilah yang menyebabkan terjadinya migrasi dari desa ke kota. Masyarakat desa dengan segala keterbatasan pindah ke kota mengadu nasib dan sebagian besar dari mereka menjadi persoalan besar di kota. Disisi lain, kondisi di desa tidak tersentuh pembangunan secara utuh, infrastruktur dasar tidak terpenuhi, aktivitas ekonomi sangat rendah, peluang usaha juga rendah, sarana pendidikan terbatas, sebagian besar baru terpenuhi untuk sekolah dasar saja, Kondisi ini menyebabkan tidak ada pilihan lain bagi masyarakat desa untuk merubah nasibnya, yaitu dengan merantau ke kota. Pada kenyataannya, seluruh potensi sumber daya alam, sebagai raw material aktivitas penunjang perekonomian bisa dilaksanakan tanpa ada support bahan baku yang diproduksi di desa. Kondisi ini yang harus segera diselesaikan melalui strategi pembangunan desa yang tepat dan teritegrasi. Fakta lain memperlihatkan ekploitasi sumber daya alam di desa secara besar besaran, dengan tidak mencermati daya dukung lingkungan serta tidak melibatkan masyarakat setempat, dengan alasan kemampuan rendah dari masyarakat setempat, menyebabkan kerusakan lingkungan, baik fisik maupun sosial. Kondisi lingkungan menjadi rusak, demikian juga terjadi trasformasi kultur secara negatif, sebagai akibat masuknya para pendatang baru yang menyebabkan strategi pembangunan dalam mengatasi kemiskinan tidak akan berhasil apabila tidak diintegrasikan dalam kebijakan pembangunan berkelanjutanyang secara sadar merubah pola konsumsi masyarakat dan cara-cara produksi yang tidak menunjang keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup.

B. PERMASALAHAN DESA 1. Sampai saat ini belum ada konsep/model pembangunan desa yang dapat menjadi solusi secara optimal dalam upaya pengentasan kemiskinan di desa. 2. Pembangunan desa yang dilaksanakan bersifat sektoral, yang hanya akan memberikan solusi secara parsial juga dan dengan waktu yang bersifat temporer, sehingga tidak ada jaminan kelangsungan program tersebut. 3. Sumberdaya manusia di desa, baik aparat maupun masyarakatnya memberikan kontribusi besar terhadap melambatnya berbagai upaya pelaksanaan pembangunan desa itu sendiri. 4. Keterbatasan sumber pendanaan, baik dari desa maupun dari Kabupaten, Provinsi dan Nasional, merupakan faktor utama lain yang menyebabkan lambatnya proses

pembangunan desa. Disisi lain Anggaran yang disediakan/dialokasikan ke desa, baik dari Kbupaten, Provinsi maupun dari Nasional, cenderung bersifat project, bahkan charity, bersifat sesaat dan berdampak pada golongan tertentu saja di desa. 5. Perencanaan yang disusun, walaupun telah melalui suatu proses yang panjang, yaitu dari Musrenbang, Musrenbangda, (Kabupaten dan Provinsi) serta Musrenbangnas, tetap tidak menujukan suatu streamline yang jelas serta tidak menujukan keterpaduan program (commited programme). Bahkan pada kebanyakan kasus perencanaan, usulan dari desa sejak di awal diskusi pada Musrenbangcam telah terelementasi. 6. Sudut pandang dari semua pihak terhadap upaya pembangunan desa masih seperti dulu, yaitu menempatkan desa sebagai suatu objek dengan klasifikasi rendah, sehingga tidak menjadi prioritas dan bersifat seperlunya saja, sehingga dengan memformulasikan suatu program yang bersifat charity, dianggap telah memberikan sesuatu manfaat yang sangat besar. 7. Belum terlihat adanya suatu pemahaman yang menunjukan bahwa desa sebagai sumber utama pembangunan Nasional, sehingga desa patut menjadi sasaran utama pembangunan dan harus ditempatkan sebagai partner utama dalam sistem pembangunan Nasional. 8. Persoalan ketidak jelasan kewenangan yang ada di Pemerintah Kabupaten, Provinsi dan Nasional menyebabkan terdapatnya berbagai kesulitan dalam menyusun dan

mengimplementasi kebijakan Pemerintah Provinsi terhadap upaya Pembangunan desa.

Memperhatikan kekurangan dan kegagalan pembangunan perancanaan di pedesaan, maka perlu dilakukan penyempurnaan terhadap pendekatan pembangunan desa yang sesuai dengankompleksitas pembangunan serta aspirasi masyarakat. Pendekatan perencanaan partisipatif adalah model yang paling tepat untuk diterapkan dalam proses perencanaan di pedesaan.Istilah partisipasi sekarang ini menjadi kata kunci dalam setiap program pengembangan.Dalam perkembangannya seringkali diucapkan dan ditulis berulang-ulang tetapi kurangdipraktekkan, sehingga cenderung kehilangan makna. Partisipasi sepadan dengan arti peranserta,ikutserta, keterlibatan, atau proses belajar bersama saling memahami,

menganalisis,merencanakan dan melakukan tindakan oleh sejumlah anggota masyarakat. Desa memegang peranan penting dalam proses implementasi kebijakan

pembangunankarena desa merupakan struktur pemerintah terendah dari sistem pemerintahan di Indonesia.Segala kebijakan nasional pasti bermuara pada pembangunan desa. Masyarakat harus diberikanruang untuk turut berperan dalam perencanaa desa. Sebab disadari atau tidak, pembangunan desatelah banyak dilakukan sejak dahulu tapi sampai sekarang hasilnya masih belum memuaskanterhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat pedesaan

Menurut

Adisasmita

(2006),

agar

pembangunan

pedesaan

dapat

menyentuh

seluruhlapisan masyarakat maka harus diterapkan:

(1). .Pembangunan

pedesaan

seharusnya

menerapkan

prinsip

transparansi

(keterbukaan),partisipatif, dapat dinikmati masyarakat, dapat dipertanggungjawabkan (akuntabilitas),dan berkelanjutan. (2). Sasaran pembangunan pedesaan, yaitu untuk terciptanya desa, peningkatan produksi

danproduktivitas,

percepatan

pertumbuhan

peningkatan

keterampilan

dalamberproduksi dan pengembangan lapangan kerja dan lapangan usaha produktif, penigkatanprakarsa dan partisipasi masyarakat dan perkuatan kelembagaan. (3). Pengembangan pedesaan yang mempunyai ruang lingkup pembangunan sarana danprasarana pedesaan, pemberdayaan masyarakat, pengelolaan sumber daya alam dansumber daya manusia, penciptaan lapangan kerja, kesempatan berusaha, peningkatanpendapatan (khususnya terhadap kawasan-kawasan miskin) dan penataan keterkaitanantar kawasan pedesaan dengan kawasan perkotaanAkan tetapi dalam melakukan pembangunan pedesaan,

banyak sekali hambatan yangditemui. Menurut Buuterfield dalam Sayumitra (2009) hambatan tersebut adalah: a. Perbedaan persepsi. Perencanaan pembangunan sering tidak tepat dalam

menanggapiantara apa yang pemerintah programkan dengan apa yang benar-benar dibutuhkanmasyarakat pedesaan. Sehingga terjadi permasalahan dalam pembangunan desa, karenamasyarakat desa memiliki persepsi yang buruk terhadap pembangunan yang dilakukan didesanya b. Kesukaran memilih model pembangunan yang tepat. Mungkin sekali kesulitan inimuncul karena masyarakat pedesaan itu pada umumnya tertutup dan masaih bingungdalam menerima hal-hal baru, model sehingga pemerintah apa pun menjadi bingung diterapkan pula bagi

dalammenentukan

pembangunan

yang

sebaiknya

masyarakatpedesaan. c. Batasan waktu. Program pembangunan pedesaan lambat untuk terlihat hasilnya sehinggapemerintah sering merasa kurang sabar dalam menangani usaha pembangunan pedesaan. d. Persoalan praktis. Hambatan ini muncul bila hal-hal dalam tahap

pelaksanaannyamembuat pembangunan desa terhambat, misalnya saja kurangnya teknologi, kurangnyapengelola yang terlatih dan sebagainya. C. Analisis Pembangunan Desa Terkait dengan pembangunan desa (rural development), secara tradisional Mosher (1969:91) menyebutkan bahwa pembangunan desa mempunyai tujuan untuk pertumbuhan sektor pertanian, dan integrasi Nasional, yaitu membawa seluruh penduduk suatu negara ke dalam pola utama kehidupan yang sesuai, serta menciptakan keadilan ekonomi berupa bagaimana pendapatan itu didistribusikan kepada seluruh penduduk, Menurut Fellman & Getis (2003:357), pembangunan desa diarahkan kepada bagaimana mengubah sumber daya alam dan sumber daya manusia suatu wilayah atau Negara, sehingga berguna dalam produksi barang dan melaksanakan pertumbuhan ekonomi, modernisasi dan perbaikan dalam tingkat produksi barang ( materi) dan konsumsi.

Dengan demikian, pembangunan desa diarahkan untuk menghilangkan atau mengurangi berbagai hambatan dalam kehidupan sosial ekonomi, seperti kurang pengetahuan dan keterampilan, kurang kesempatan kerja, dan sebagainya. Akibat berbagai hambatan tersebut, penduduk wilayah pedesaan umumnya miskin (Jayadinata & Pramandika, 2006: 1), Sasaran dari program pembangunan pedesaan adalah meningkatkan kehidupan sosial dan kehidupan ekonomi masyarakat desa, sehingga mereka memperoleh tingkat kepuasan dalam pemenuhan kebutuhan material dan spiritual Berdasar uraian di atas, pembangunan desa secara konkret harus memperhatikan berbagai faktor, diantaranya adalah terkait dengan pembangunan ekonomi, pembanguna atau pelayanan pendidikan, pengembangan kapasitas pemerintahan dan penyediaan bernagai infrastruktur desa. semua faktor tersebut diperlukan guna mengimplementasikan dan mengintegrasikan

pembangunan desa ke dalam suatu rencana yang terstruktur dalam desain tata ruang. Disisi lain, baik dalam Musyawarah perencanaan pembangunan ( Musrenbang), musyawarah perenacanaan pembangunan daerah ( Musrenbangda), dan musyawarah perencanaan pembanguan kecamatan ( Musrenbangcam), dimana ajang tersebut sebagai ajang perencanaan pembangunan daerah, selama ini dirasakan tidak optimal dan hanya bersifat formalitas semata, karena terjadi tarik menarik kepentingan antara elite di daerah, Dengan demikian, ajang musrenbang/musrenbangda/musrenbangcam pun tidak maksimal untuk menyerap aspirasi masyarakat dalam pembangunan karena masing masing level (elite birokrasi) bertahan dengan pendirian atau keputusan keputusan yang telah dibuat sebelumnya dalam hal penentuan program pembangunan daerah. Di samping itu, hasil musrenbang dalam kenyataannya tidak pernah diaplikasikan dan diimplementasikan dilapangan secara utuh. Otonomi daerah yang berada di Kabupaten/Kota juga menyebabkan peran pemerintah Provinsi menjadi tidak maksimal dalam upaya pengentasan kemiskinan di Jawa Barat, Dalam hierarki perundang undangan, peran pemerintah Provinsi hanya sebatas memberikan saran dan konsultasi kepada pemerintah Kabupaten/Kota. Hal tersebut menyebabkan ketiadaan akses yang lebih bagi pemerintah Provinsi untuk dapat mengimplementasikan program program pengentasan atau penanggulangan kemiskinan di desa.

Minimnya peran pemerintah Provinsi terkait dengan pembangunan desa, kondisi tersebut kemudian diperparah dengan banyaknya kebijakan pemerintah pusat dalam pembangunan desa yang selalu bersifat top down, dimana pemerintah pusat selalu memaksakan program programnya dalam pembangunan desa bagi daerah. Kebijakan Pemerintah dalam pembangunan desa juga bersifat parsial atau sektoral, sehingga keterkaitan dan keterpaduan antar program tidak terjadi. Dengan kata lain, antar departemen terkait tidak ada sinergitas fungsi dan program terkait dengan kemiskinan di desa, selain itu, kebijakan pemerintah dalam pembangunan desa selam ini tidak akomodatif terhadap ke khasan daerah dan cenderung diseragamkan, kebijakan tidak fokus pada pengentasan atau penanggulangan kemiskinan, dimana kegiatan apa yang akan dilakukan tidak berdasarkan pada grand design pembangunan desa (misalnya 5 tahunan) Kebijakan pemerintah terkait pembangunan desa selama ini dinilai tidak berdasarkan pada potensi desa yang ada, tidak berdasarkan pada desain tata ruang (yang telah dibuat), hasil musrenbang tidak implementatif, tidak ada perencanaan yang komprehensif terhadap pembangunan desa, mekanisme perencanaan dan pembiayaan desa tidak optimal, peran Stakeholders terutama pemerintah desa tidak optimal, Hal tersebut telah menyebabkan pembangunan desa hanya menggantungkan (depen on) pada bantuan atau program dari pemerintah pusat, Provinsi Kabupaten dan Kota. selain itu, kebijakan pemerintah terkait pembangunan desa selama ini juga dinilai tidak memperhatikan kondisi faktual infrastruktur yang ada di desa, ketersediaan prasarana ekonomi dan aktivitas ekonomi, pelayanan pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja sehingga diversifikasi usaha di desa sangat terbatas, lebih lanjut, desa menjadi tidak mandiri dan hanya menggantungkan usaha atau pencaharian nafkah kepada sektor pertanian semata. Akibat program program pemerintah yang tidak berdasarkan pada potensi dan kekhasan daerah tersebut telah menyebabkan banyak potensi yang berada di desa menjadi tidak berkembang. Secara umum, berdasarkan peraturan perundang undangan, sebenarnya desa dapat membangun daerahnya berdasarkan prakarsa sendiri secara bottom up. Dimana desa terdiri dari kepala desa dan perangkatnya serta badan permusyawaratan desa (BPD) sebagai legislatif Desa, Di sisi lain, sumber pembiayaan bagi pembangunan desa yang dapat diambil berdasar perundang undangan yaitu dari Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, Kabupaten / Kota, dari penghasilan desa yang syah (BUMdes), serta kerjasama dengan pihak ketiga.

Dengan mekanisme seperti ini, maka perencanaan dan pelaksanaan pembangunan di desa seharusnya bersifat bottom up. Akan tetapi selama ini, baik perencanaan maupun implementasi pembangunan desa selalu bersifat top down, dimana desa hanya menerima program program pembangunan desa dari pemerintah. Berdasarkan mekanisme perundang undangan yang ada, seharusnya desa memiliki grand design pembangunan sendiri (inisiatif desa), jika desa memiliki grand design dalam pembangunan desanya, maka desa dimungkinkan hanya akan mengajukan pembiayaan ke pemerintah pusat, provinsi, kabupaten atau kota. sedangkan inisiatif untuk melakukan dan melaksanakan pembangunan (Program program) datang dari inisiatif desa sendiri. Lebih lanjut, dalam pengajuan pembiayaan yang dilakukan oleh desa kepada pemerintah, terdapat klasifikasi program pembangunan desa, misalnya untuk pembangunan infrastruktur fisik, pembangunan ekonomi dan kemasyarakatan, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Dengan demikian, desa dimungkinkan untuk mengajukan pembiayaan ke pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota, misalnya untuk membangun sekolah, pasar desa, listrik, air, dan sebagainya, Disisi lain, desa dimungkinkan juga untuk dapat melakukan riset potensi desa dan bekerjasama dengan pihak ketiga, misalnya terkait dengan kondisi tanah atau lahan yang tandus dan tidak bisa dikembangkan. Hingga, semua pengajuan program pembangunan desa muncul dari inisiatif desa berdasarkan pada kondisi eksisting dan tata ruang desa, Berdasarkan perundang hal tersebut dapat dilakukan oleh desa, namun sejauh ini berbagai program pembangunan desa selalu ditentukan oleh pemerintah (top down) dan desa hanya melaksanakannya saja, Maka permasalahan yang kemudian timbul adalah, apakah perangkat desanya tidak mengerti ataukah pemerintah yang tidak pernah mengerti akan esensi pembangunan desa, sehingga memaksakan programnya sendiri.

Dengan demikian, pemerintah (baik pusat, provinsi, kabupaten/ kota) seharusnya hanya mendorong dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di desa untuk mampu merencanakan pembangunan desanya, sehingga pemerintah pusat hanya melakukan pembiayaan berbagai program pembangunan yang di ajukan oleh desa, Selama ini permasalahan tersebut selalu terjadi karena desa sendiri tidak memiliki konsep dalam merancang pembangunan desa dan pemerintah juga tidak memahami akan eksistensi pembangunan desa berdasarkan keunikan dan kekhasan desa dengan memaksakan berbagai programnya.

Secara umum kondisi tersebut dapat dikatakan telah mencapai tahap kejenuhan, Untuk mengatasi persoalan kemiskinan, upaya yang perlu dilakukan tidak lagi semata mata mengandalkan pada kebijakan ekonomi makro, tetapi juga diimbangi dengan kebijakan mikro berupa terobosan yang secara langsung memberikan pengaruh pada peningkatan produktivitas golongan miskin tersebut, utamanya dengan peningkatan pembangunan desa yang terintegrasi (Tjiptoherijanto, 1997: 57).

Dengan melihat desa sebagai wadah kegiatan ekonomi, kita harus merubah pandangan inferior atas wilayah ini, dan merubahnya dengan memandang desa sebagai basis potensial kegiatan ekonomi melalui investasi prasarana dan sarana yang menunjang keperluan pertanian, serta mengarahkannya secara lebih terpadu, Sudah saatnya desa tidak dapat lagi dipandang hanya sebagai wilayah pendukung kehidupan daerah perkotaan, namun seharusnya pembangunan wilayah kota atau daerah pedesaan secara menyatu. D. Strategi Pembangunan Desa Mencermati uraian terdahulu, walaupun belum melalui suatu penelitian yang resmi, hanya berbekal pengalaman ( experient base) dan pendekatan literatur, dapat dirumuskan suatu strategi upaya pembangunan desa dalam rangka pengentasan kemiskinan, Sebagai berikut : (1). Penyusunan tata ruang desa menjadi prasyarat utama dalam memulai suatu upaya pembangunan desa. Dalam proses penyusunan tata ruang desa telah dirumuskan berbagai potensi yang ada, keunikan, kultur yang melandasi dan harapan harapan yang ingin dicapai, sehingga wujud desa nantinya menjadi khas, seperti desa wisata, desa tambang, desa kebun, desa peternakan, desa nelayan, desa agribisnis, desa industri, desa tradisional dan lain sebagainya. Dalam tata ruang tersebut, harus tersusun rencana infrastruktur, site plan untuk office, pemukiman, comercial area, lahan usaha/budidaya berbasis sentra(satu hamparan), kemampuan daya dukung lingkungan (berdasarkan estimasi jumlah penduduk maksimal), lokasi pendidikan, sarana pelayanan kesehatan, pasar, terminal dan ruang publik (alun alun, taman) dan sebagainya sesuai kebutuhan dan kesepakatan masyarakat. (2). Penetapan aktivitas dan komoditi yang akan dijadikan basis pengembangan ekonomi desa, didasarkan analisis terhadap potensi yang ada, kemampuan masyarakat pada umumnya, potensi pasar, minat dan kultur masyarakat.

(3). Pembentukan lembaga lembaga masyarakat yang akan berperan sebagai stakeholders, dan akan memberikan berbagai masukan dalam proses pembangunan desa. (4). Perumusan perencanaan pembangunan untuk satu masa jabatan Kepala Desa, serta program pembangunan setiap tahunnya. Perumusan harus melibatkan harus melibatkan seluruh komponen di desa, didasarkan kepada tata ruang yang telah disusun serta didasarkan kepada kewajaran dan ketersediaan anggaran. (5). Pemerintah pusat, Provinsi, Kabupaten / Kota dapat memberikan asistensi, masukan sesuai dengan kebijakan, misi dan visi terhadap dokumen perencanaan yang disusun, serta memberikan dukungan berupa pengalokasiandana dalam bentuk tugas pembantuan atau bantuan yang diarahkan (specific grand ), Dengan demikian tidak ada lagi program charity, baik dari Kabupaten / Kota, Provinsi maupun dari pusat. Seluruh aktivitas pembangunan di desa sudah terintegrasi programnya (commited program ) dan sudah terintegrasi juga alokasi anggarannya (commited budget). (6). Untuk pembangunan pendidikan, terutama dalam menuntaskan program wajardikdas sembilan tahun, di desa perlu di bangun sekolah dasar dan sekolah lanjutan pertama dalam satu lokasi, ini dilakukan untuk mengefisiesikan biaya pembangunan dan pemeliharaan sekolah, juga untuk meringankan beban orang tua murid yang besar, yaitu komponen transport. (7). Untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan di desa perlu dibangun Puskesmas Pembantu atau sejenis, dan untuk desa yang sangat terpencil dapat didukung dengan Unit Pelayanan Kesehatan Keliling. (8). Untuk pembangunan perekonomian di desa, dilakukan penetapan kegiatan dan komoditas terpilih, sinkronisasi dengan Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten / Kota, penguatan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes), penyiapan masyarakat dan lokasi sentra Manajemen sentra, Penetapan berbagai kerjasama dengan pihak ketiga, penyiapan sarana perekonomian (seperti terminal, pasar, koperasi, atau sejenis), penunjang aktivitas ekonomi masyarakat, serta pembentukan lembaga fasilitator, baik dari masyarakat Desa itu sendiri atau dari luar dan dari Perguruan Tinggi melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN).

(9). Untuk meningkatkan SDM aparat desa dilakukan dengan meningkatkan program dan kegiatan yang telah berjalan melalui program pusat, provinsi dan kabupaten / kota, efektivitas program lomba desa dan peningkatan program Non Governtment (NGO). Beberapa aspek yang menjadi kesimpulan mengenai pembangunan desa antara lain: a. Keberhasilan pembangunan desa sangat dipengaruhi oleh cara pandang level pemerintah, baik pusat, provinsi maupun kabupaten / kota. b. Pembangunan Desa pada hakekatnya merupakan pengakuan dan penghargaan dari semua pihak terhadap pemerintahan dan masyarakat desa dalam upayanya mencapai harapan dengan potensi, dan kekhasannya sendiri sehingga desa seyogyanya menjadi prioritas utama pembangunan dari semua level pemerintahan. c. Keberhasilan pembangunan desa akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap keberhasilan pembangunan secara nasional, provinsional dan kabupaten / kota. d. Persoalan kemiskinan, baik diperkotaan maupun di pedesaan akan tereliminasi secara signifikan, apabila tercapai pembangunan di desa desa. e. Konsep Desa Mandiri, Dinamis dan Sejahtera, merupakan konsep integrasi perencanaan dan implementasi, dikenal dengan commited programme dan commited budget, merupakan konsep yang dilakukan secara gradual, terarah dan pasti, serta melibatkan semua pemangku kepentingan yang akan beraktivitas di desa. f. Keberhasilan konsep ini sangat tergantung kepada political will para pengambilan kebijakan dan peran serta seluruh pemangku kepentingan. Bagi masyarakat di pedesaan, perencanaan partisipatif merupakan sebuah instrumentyang sangat penting karena merupakan salah satu dari serangkaian perjalanan pembangunantersebut merupakan langkah awal yang akan menentukan keberhasilan pembangunan dipedesaan. Desa memiliki pengaruh yang besar dalam pembangunan serta politik pemerintahan ditanah air. Dari sisi sumber daya alam, desa merupakan pensuplai utama sumber bahan makananpenduduk kotakota besar. Oleh karena itu sudah seharusnya perencanaan pembangunan di desamerupakan sebuah hasil proses musyawarah yang senantiasa memperhatikan aspirasi masyarakatsecara utuh. Dengan demikian pelaksanaan pembangunan di desa benar-benar dapat dirasakanoleh masyarakat serta berjalan secara efektif dan efisien.Menurut Sayumitra (2009), di era

desentralisasi dan keterbukaan ini sudah saatnyamasyarakat desa diberi kesempatan dan kewenangan luas dalam mengelola pembangunan yangada di wilayahnya. Kewenangan tersebut baik dimulai sejak tahapan perencanaan, pelaksanaanhingga evaluasinya. Pendekatan seperti itu memungkinkan semua aktivitas pembangunan di desasepenuhnya sesuai dengan kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat desa dan sesuai dengankonteks setempat (baik kondisi sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan fisiknya).Dalam pengembangan air bersih dan sanitasi di Desa Bendosari saat ini sudah mengarahke pendekatan perencanaan yang berbasis partisipasi masyarakat.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelurahan atau Lakang di kecamatan Tallo, yang merupakan sedimentasi dari sungai Tallo kota Makassar. 2. Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data meliputi: 1. Observasi langsung yaitu, data yang dibutuhkan terutama mengenai gambaran umum dari objek yang diamati didokumentasikan dan digunakan sebagai bahan untuk melakukan wawancara. 2. Wawancara yaitu pengumpulan informasi melalui tanya jawab kepada pihak yang berhubungan dengan penelitian ini. 3. Literatur-literatur terkait yang dicari melalui internet.

3. Seleksi Data Selanjutnya jenis data yang dibutuhkan dalam perencanaan ini adalah:

1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh melalui observasi dan serangkaian wawancara. 2. Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh berupa bahan informasi tertulis yang didapatkan melalui studi kepustakaan dan instansi pemerintah terkait.

BAB IV PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum Lokasi Kelurahan Lakkang terletak di Kecamatan Tallo, Kota Makassar.Sulawesi Selatan. Secara historis, daerah ini awalnya bernama Bonto Malangeree yang penduduk aslinya merupakan pindahan dari Gowa. Sehingga daerah ini di kenal sampe sekarang dengan daerah Lakkang yang dalam bahasa Makassar berarti Pindah. Batas-batas administrasi kelurahan Lakkang sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : : : : Kec. Tamalanrea (Kel.Kapasa dan Kel.parangloe) Kec. Panakukang (Kel.Pampang) Kel.Rapokaling dan Kel.Parang Loe Kec.Tamalanrea ( kel. Tamalanrea Indah)

Peta Orientasi Kelurahan Lakkang

Secara administratif, desa Lakkang yang lebih dikenal dengan pulau Lakkang merupakan kawasan tersendiri, yaitu masuk ke dalam administrasi Kelurahan Lakkang, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.Desa Lakkang memiliki luas 1,65 km2, terletak di muara Sungai Tallo di tengah Kota Makassar. Daratan Lakkang disebut pulau karena diapit oleh Sungai Tallo dan Sungai Pampang. Terbentuk karena endapan sedimen selama ratusan tahun. Daratan ini adalah delta Sungai Tallo. Tidak ada jalur transportasi darat untuk mencapai Kampung Lakkang, untuk mencapai pulau tersebut, digunakan transportasi laut. Sebagian besar wilayah pada kelurahan ini, merupakan sawah dan empang, sebelum memasuki wilayah permukiman maka akan di temukan bentangan sawah dan empang. Pulau tersebut memiliki dua dermaga, dimana dermaga yang berada di bantaran sungai Tallo merupakan dermaga yang diperuntukkan bagi perahu yang memulai jalur transportasi air dari dermaga Kera-Kera yang berada di kampus Universitas Hasanuddin Tamalanrea, tepatnya di lokasi teaching farm Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Hasanuddin, sedangkan dermaga di bantaran sungai Pampang merupakan dermaga yang diperuntukkan bagi transportasi air yang memulai rute perjalanan dari . Selain itu, biaya yang dikeluarkan untuk mencapai pulau tersebut Rp 2000 per orang. Pemerintah Kota Makassar juga menjadikan pulau ini sebagai Kawasan Penelitian Terpadu. Pada pulau tersebut akan dilakukan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terpadu, khususnya bidang maritim dan agropolitan. Dalam rencana tata ruang wilayah Kota Makassar, pulau ini berada di kawasan pendidikan terpadu yang dekat dengan beberapa universitas, termasuk Universitas Hasanuddin. Selain itu, Desa ini memiliki berbagai potensi dan bisa dijual menjadi obyek wisata unggulan. Potensi yang dimiliki Desa Lakkang adalah potensi alam seperti pohon-pohon berusia ratusan tahun, empang, daerah pertanian di tengah kota, hasil tambak seperti ikan bandeng dan udang windu.

2. ASPEK-ASPEK FISIK PERMUKIMAN

A. Lokasi dan Lingkungan

Sesuai dengan RTRW Kota Makassar, Kelurahan Lakkang merupakan Kawasan Penelitian Terpadu. Di mana dalam misi pengembangan kawasan, Lakkang memiliki fungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis agropolitan dan maritime. Selain itu, Lakkang juga dijadikan sebagai pusat kawasan hijau binaan.

Sumber: RTRW Kota Makassar 2006-2016

Pesisir Sungai yang mengelilingi Kel. Lakkang

2006-2016

Hal ini sesuai dengan kondisi Lakkang yang berada di pesisir sungai Tallo dengan

Sumber: RTRW Kota Makassar

permukiman yang menjadi tempat masyarakat Pulalu Lakkang bertempat tinggal dan melaksanakan aktivitas sehari-harinya. Kawasan kelurahan Lakkang itu sendiri berupa daratan di tepi sungai. yang terdiri atas kawasan persawahan,tambak,permukiman yang pepohonan yang lebat, yang didominasi oleh pohon bambu. memiliki

Sawah, B. Bangunan Hutan Bambu dan Tambak menjadi bentang yang mendominasi kel.Lakkang

Bangunan pada kelurahan Lakkang terdiri atas tiga tipe, yakni semi permanen, permanen, dan non permanen. Penghasilan masyarakat sangatlah mempengaruhi jenis dan bentuk rumah masyarakat Kel. Lakkang. Penyebaran rumah mengikuti jalan yang berada di pulau tersebut.Sistem pencahayaan maupun penghawaannya cukup baik disebabkan oleh bangunan yang berada di pulau tersebut memiliki kerapatan yang rendah,karena diantara banngunan dipisahkan oleh lahan yang cukup luas pada sisi kanan dan kiri bangunan. Namun bangunan yang memiliki pepohonan di halaman rumahnya, memiliki pencahayaan yang kurang, karena adanya pohon yang menghalangi masuknya cahaya ke dalam rumah.

Bangunan permukiman masyarakat di Kel. lakkang

C. Sarana dan Prasarana 1) SARANA

Pendidikan

Sarana pendidikan di kelurahan Lakkang terdiri atas satu unit sekolah dasar dengan luas
2.400 m2. Penduduk yang sudah tamat dari sekolah dasar melanjutkan pendidikannya di kota

Makassar. Hal ini di karenakan tidak adanya sekolah tingkat pertama dan sekolah menengah atas yang berada di kelurahan tersebut. Berdasarkan wawancara dengan ketua RT, telah direncanakan pembangunan SMP satu atap dan proposalnya telah diterima oleh pemerintah setempat. Sedang

untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat Lakkang lainnya untuk pendidikan, masyarakat harus ekstra keras ke luar Kawasan Lakkang guna bersekolah.

No

Tingkat

Jumlah Sekolah 1 Siswa 123

1 SD 2 SLTP 3 SLTA 4 P.Tinggi Sumber : Data Kelurahan Tahun 2007

Gambar sekolah dasar di Lakkang

Siswa yang bersekolah di Sekolah dasar Negeri yang berada di Kelurahan Lakkang secara umum berasal dari masyarakat lakkang sendiri, dan selebihnya terdapat pula yang berada dari luar kawasan Lakkang yang berasala dari kawasan Tallo. Sarana Kesehatan

Pulau Lakkang telah memiliki sarana kesehatan berupa Puskesmas Pembantu dengan luas 900 m2 yang terletak di sebelah kantor kelurahan Lakkang. Berdasarkan jumlah penduduk Lakkang sesuai data kelurahan tahun 2009-2011, jumlah penduduk Lakkang 952 jiwa. Sedangkan berdasarkan standar Nasional Indonesia untuk Puskesmas pembantu dan balai pengobatan, yang berfungsi sebagai unit pelayanan kesehatan sederhana yang memberikan pelayanan kesehatan terbatas dan membantu pelaksanaan kegiatan puskesmas dalam lingkup wilayah yang lebih kecil diperuntukkan bagi 30.000 jiwa dengaan luas lahan min 300 m2.

Gambar Puskesmas Pembantu

Sarana Perdagangan

Sarana perdagangan di keluarahan Lakkang sesuai dengan standar yang berlaku, dimana bagi wilayah dengan jumlah penduduk 250 jiwa membutuhkan satu unti warung. Di kelurahan Lakkang, warung atau kios berada di beberapa rumah warga.Berdasarkan hasil wawancara dengan koordinator Badan Keswadayaan masyarakat, diberikan bantuan peminjaman modal bagi warga yang ingin membuat warung atau kios. Ini merupakan salah satu program dalam bidang ekonomi. Sedangkan pasar belum terdapat di kelurahan Lakkang, sehingga untuk berbelanja kebutuhan pokok, masyarakat pergi ke pasar yang berada di Kota Makassar.

Gambar Warung yang berada di rumah warga

Sarana Peribadatan
Uraian Mesjid Gereja Vihara Pura Klenteng Total Sumber data Kelurahan Tahun 2009-2010 No 1 2 3 4 5 Jumlah (unit) 2 2 Ket

Mesjid yang terdapat di pulau Lakkang berjumlah dua unit, yang diperuntukkan bagi 952 jiwa masyarakat Lakkang yang seluruhnya beragama islam. Berdasarkan standar yang ada, kebutuhan untuk satu unit Mesjid bagi 2500 penduduk. Sedangkan keberadaan Mushollah atau Langgar diperuntukkan bagi 250 jiwa penduduk, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa masyarakat lebih memilih membuat Masjid untuk meningkatkan pemenuhan kebutuhan rohani masyarakat setempat.

Mesjid Kel. Lakkang

Sarana Pemerintahan Kantor lurah merupakan satu-satunya sarana instansi pemerintahan yang berada di kelurahan tersebut. Kelurahan tersebut merupakan salah satu dari beberapa pulau yang ada di kota Makassar yang memiliki kantor kelurahan yang terletak di dalam pulau. Namun, tidak semua pulau di kota Makassar memiliki kator kelurahan di pulau tersebut. Ini menjadi salah satu keunggulan pulau Lakkang yang dapat dengan mudah masyarakatnya mengakses urusan administrasi yang dapat di urus di tingkat kelurahan pada kantor kelurahan tanpa harus meninggalkan pulau.

6) Sarana MCK Umum Pada kelurahan Lakkang, terdapat MCK umum berupa sumur umum serta beberapa bangunan yang memiliki pintu layaknya sebuah wc umum. Sarana tersebut merupakan hasil dari PNPM Mandiri maupun melalui bantuan pemerintah setempat. Bangunan-bangunan tersebut diperuntukkan bagi masyarakat yang tidak memiliki mck sendiri di rumah.

Gambar Sarana MCK Umum 7) Air Bersih

Prasarana air bersih pada kelurahan Lakkang berupa air tanah yang berasal dari sumur-sumur warga, serta bersumber pula dari PDAM. Air yang mengalir lancar, dengan intensitas setiap hari. sehingga dapat dikatakan kebutuhan warga Lakkang akan air bersih sudah terpenuhi

Gambar tempat penampungan air ,pipa yang mengalirkan air ledeng serta sumur warga.

8) Sistem Drainase Drainase di pulau Lakang tidak tampak seperti drainsae pada umumnya, karena berupa tanah. Hal ini dikarenakan Limbah rumah tangga yang terdapat di kelurahan Lakkang masih dalam jumlah yang sedikit, sehingga masih dapat meresap ke dalam tanah. Namun akibatnya terjadi pengikisan pada tanah tersebut yang menuju ke arah sungai. Hal ini harus diperhatikan, mengingat jika terus dibiarkan akan berakibat pada lingkungan di sekitar bantaran sungai Tallo. Selain itu, terdapat pula drainase yang berada di samping kanan maupun kiri jalan yang berupa drainase terbuka,namun ini hanya terdapat pada sebuah jalan diantara keseluruhan jalan di pulau tersebut.

Gambar drainase terbuka dan drainase yang berupa tanah 9) Prasarana jalan

Jalan yang terdapat di kelurahan Lakkang bermaterialkan paving Block dan sebagian berupa tanah. Jalan ini merupakan hasil dari PNPM Mandiri. Ada beberapa jalan dengan kondisi jalan yang rusak berupa lubang kerusakan pada jalan tersebut. diakibatkan oleh beberapa paving block yang telahmengalami

foto lagiiii Gambar Kondisi jalan


Gambar Prasarana jalan

No Nama Jalan 1 2 3 4 5 6 7 Jl. Nurul Ansar Jl. Nurul Ikhlas Jl. Janang Pabe Jl. Dg. Rilakkang Jl. Dg. Makuling Jl.Dg. Massese Jl. Dg. Maddi

Panjang (meter) 300 273 238 192 100 250 147

Ket Jalan Paving Blok Jalan Paving Blok Jalan Paving Blok Jalan Tanah Jalan Paving Blok Jalan Paving Blok Jalan Paving Blok

8 9 10 11 12 13

Jl. Dermaga 1-Nurul Ansar Jl. Dermaga 2 (RW 01) Jl. Dermaga 3 (RW 01) Jl. Dermaga 4 (RW 02) Jl. Dermaga 5 (RW 02) Jl. Dermaga 6 (Kera-kera) Jumlah

318 50 80 75 50 1.250 3.413

Jalan Paving Blok Jalan Paving Blok Jalan Tanah Jalan Tanah Jalan Tanah Jalan Tanah

Sumber : Data Kelurahan Tahun 2007 10) Prasarana Listrik Kelurahan Lakkang telah terlayani oleh aliran listrik. Hal ini dapat dilihat dengan adanya tiangtiang listrik yang berada di pulau tersebut. Aliran listrik ini berasal dari Kota Makassar. Tiag listrik berada di beberapa baghu jalan, dan bahkan ada yang berada dalam halaman rumah warga.

Gambar tiang listrik yang berada di Kelurahan Lakkang 11) Prasarana persampahan Masyarakat pulau Lakkang telah memiliki tempat sampah dihampir setiap rumah. Selain itu adanya tempat sampah yang memisahkan sampah berdasarkan jenisnya sudah dapat di jumpai di kelurahan tersebut. Sampah pada umumnya dikelola dengan cara dibakar dan ditimbun. Ini merupakan salah satu upaya pengolahan sampah. Namun ada beberapa lokasi ditemukan adanya tumpukan sampah yang sama sekali tidak mendapat perlakuan. Hal ini dapat merusak lingkungan dan kebersihan di pulau tersebut.

Gambar tempat-tempat sampah

d) Fasilitas Umum dan Sosial 1). Ruang Terbuka Kelurahan Lakkang yang terkenal dengan keadaan alamnya yang masih sangat terjaga memiliki ruang terbuka yang cukup luas. Pepohonan yang berada di pulau tersebut menjadikan pulau tersebut sebagai salah satu pulau yang telah melaksanakan program green and clean merupakan salah satu program pemerintah kota Makassar. Selain itu, terdapat pula area pemakaman dengan luas 5000 m2,lapangan olahraga 3950m2, sawah dengan luas 15.1 ha, tambak atau empang dengan luas 122,01 ha yang semuanya merupakan bagian dari ruang terbuka. Pada beberapa lokasi juga terdapat tempat duduk (bale-bale) yang menjadi fasilitas pada ruang terbuka publik di kelurahan tersebut.

Gambar sawah,tambak,serta kuburan

2). Sarana Transportasi Sungai Kelurahan Lakkang memiliki dua unit dermaga yang menjadi akses masuk ke pulau tersebut. Satu unit berada di bantaran sungai Tallo di sebelah utara pulau Lakkang yang merupakan peruntukkan bagi perahu yang memulai jalur pelayaran dari dermaga kera-kera, dan satu unit terdapat di bagian selatan pulau Lakkang yang berada di bantaran sungai Pampang yang diperuntukkan bagi perahu yang memulai pelayaran dari dermaga..

Gambar dermaga sebelah selatan pulau Lakkang

Gambar dermaga sebelah Utara Pulau

3) Aspek Non Fisik

a) Aspek Kependudukan Pulau Lakkang dengan luas 1,65 km2 memiliki jumlah penduduk berdasarkan data 952 jiwa beradasarkan data kelurahan. Sehingga kepadatan penduduknya adalah 577 jiwa per km2.

Jumlah Penduduk RW 01 1. Laki-laki 262 2. Perempuan 242 Jumlah 504 Sumber data Kelurahan Tahun 2009-2011 No Jenis Kelamin Jumlah RW 02 220 228 448 Total 482 470 952 Persentase (%) 48,4 51,6 100

b) Kondisi Ekonomi

Masyarakat kelurahan Lakkang sebagian besar bermatapencarian sebagai petani atau nelayan. Sedangkan sebagian bermatapencarian sebagai pedagang, buruh, pegawai negeri sipil, dan

pegawai swasta. Rata-rata masyarakat yang berprofesi sebagai buruh bekerja di Kota Makassar. Selain itu, padi yang merupakan hasil pertanian tidak di jual keluar pulau Lakkang, karena padi tersebut hanya menjadi konsumsi bagi masyarakat pulau Lakkang. Lain halnya dengan hasil tambak, berupa udang windu yang di jual kepada perusahaan yang berlokasi di Kawasan Industri Makassar. Berikut merupakan tabel mata pencagarian masyarakat pulau Lakkang:
No 1 2 3 4 5 6 7 8 Uraian Petani/nelayan Jualan/pedagang Mahasiswa/pelajar Buruh PNS/Polri/TNI Karyawan/Peg.swasta Anak-anak/tdk bekerja Dll Jumlah Jumlah RW 01 RW 02 89 77 24 14 129 101 41 38 2 5 22 9 177 153 9 15 493 412 Total 166 38 230 79 7 31 330 24 905 Persentase ( %) 18,3 4,2 25,4 8,7 0,8 3,4 36,5 2,7 100

Sumber : Data Kelurahan Tahun 2007

c) kondisi Sosial dan Kesadaran Masyarakat

Masyarakat Lakkang merupakan masyarakat dengan karakter pedesaan yang kuat, dimana dalam system kekerabatannya sangat kuat. Hal ini didasarkan pada hasil wawancara dengan warga jika ada pesta pada sebuah keluarga, maka masyarakat yang lain akan ikut membantu. Tidak hanya itu, pada beberapa rumah seringkali ditemukan masyarakat yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Masyarakat beraktivitas pada pagi hari dengan berada pada lahan sawah, mengingat sebagian besar masyarakatnya bekerja sebgai nelayan. Masyarakat yang berada di sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, hingga perguruan tinggi semua harus bersekolah di Kota Makassar, sehingga secara langsung akan mendapat pengaruh terhadap kondisi sosialnya,karena bergaul dengan teman-teman mereka yang berasal dari kota Makassar. Kesadaran masyarakat sangat tinggi, terutama jika mengenai permasalahan lingkungan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penyediaan tempat sampah di hamper setiap rumah warga, yang menyebabkan pulau tersebut menjadi desa berprestasi dalam pengelolaan lingkungan hidupnya, karena tetap menjaga dan melestarikan lingkungan.

d) Kondisi teknologi yang tersedia

Di kelurahan Lakkang tidak menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Pengolahan sawah hanya menggunakan tenaga manusia.

e) Kondisi Budaya

Masyarakat Lakkang yang terdiri atas suku Makassar memiliki adat istiadat pada saat pesta panen. Upacara adat tersebut dikenal dengan nama Sempa Raga, berupa pencak Silat. Tidak hanya pada pesta panen sajah upacara adat tersebut juga sering ditampilkan pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Yang terlibat dalam Sempa Raga tersebut adalah anak muda dan ada beberapa orang tua.

4) Kerjasama Badan yang terkait dengan Pembangunan Desa

BAB V PENUTUP