Anda di halaman 1dari 32

Tutor 12 Endokrin 1 KASUS

A2010

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas tutorial mata kuliah Endokrin I

Disusun oleh : KELOMPOK TUTOR 12

Sinta Dwi Oktaviani Dina Sonyah Putri Sarah Gamarsyah Indriyani Putri Puspitasari Eka Wahyuningsih Efa Fatmawati Karina Amanda Tri Nur Jayanti Afriyani Elizabeth Sitanggang Sarah Nurul Khotimah Ria Amalia Putri Dhea Dezhita

(220110100046) (220110100125) (220110100126) (220110100127) (220110100128) (220110100129) (220110100130) (220110100131) (220110100132) (220110100134) (220110100135) (220110100136)

FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012


Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 KATA PENGANTAR

A2010

Puji syukur penyusun panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas tutorial mata kuliah Endokrin I. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai Hiperemesis Gravidarum Tak lupa penyusun ucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian penulisan makalah ini, khususnya dosen kami ibu Nursiswati, ibu Lin-lin serta dosen-dosen lainnya. Penyusun menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu penyusun sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari para pembaca. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Jatinangor, 01 Mei 2012

Kelompok 12

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 KASUS PEMICU

A2010

Seorang wanita 20 tahun, hamil pertama kalinya datang ke klinik pada tanggal 14 Februari 2012. Ia mengaku hari terakhir haid 28 Desember 2011. Ia biasa haid selama 7 hari. Masuki RS dengan keluhan mual muntah terus menerus sampai keluar cairan kuning. Klien mengatakan setiap kali makan atau minum klien akan muntah. klien mengeluh badan terasa lemas sehingga tidak mampu beraktivitas, nyeri ditenggorokan dan ulu hati. Hasil pemeriksaan fisik : keadaan umum lemah, kesadaran compos mentis, RR = 22X/menit, nadi = 90x/menit, TD = 100/60 mmHg, TB = 158 cm, BB = 44 kg (BB sebelumnya 47 kg), LLA = 23 cm, turgor menurun, mukosa mulut kering. Eliminasi BAK 2-3x/hari volume berkurang, tidak ada rasa nyeri atau terbakar saat BAK, BAB 1x/hari tidak ada kesulitan ataupun pendarahan. Hasil pemeriksaan lab : Hb = 12,5 g/dl, Ht = 49 %, BJ Urine = 1,040, ketonuria (+).

SGD Step 1-5


selasa, 17 April 2012

Chair : Trinur Jayanti Scriber 1 papan tulis : Dina Sonyah Scriber 2 ketik : Dhea Dezhita STEP 1 1. Ketonuria : Adanya protein pada urine (Afri) 2. Compos mentis (eva) : tes kesadaran (Indri), Nilai kesadaran (Afri) STEP 2 1. Kenapa muntah sampai keluar cairan kuning (putri) 2. Kenapa nyeri tenggorokan dan ulu hatinya nyeri ( karina) 3. Kenapa Bbnya turun (Eva) 4. Kenapa pipisnya ngga terasa terbakar? padahal ketonurianya + (eka) 5. Hasil labnya normal atau tidak (Indri) 6. Siklus haidnya apakah normal (Afri) 7. Adakah hubungan umur dengan penyakit (Eva) 8. Adakah hubungan kehamilan dengan penyakit Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 9. Tindakan dan pengobatan (Sarah) 10. Kenapa dia mual muntah tapi BAB lancar? (Indri) 11. Penkes untuk ibu hamil muda (Sarah) 12. Pemdig untuk mengetahui kapan kehamilannya itu apa? (Sinta)

A2010

STEP 3 dan 4 3.Karena mual muntah jadi masukan nutrisi juga kurang (Putri) 6.Siklus haidnya tidak normal karena udah dua bulan tidak haid (Eka) 2.Adanya regurgitasi sehingga nyeri (Afri) 1.Dalam masa kehamilan, Lhnya itu meningkat sehingga asamnya juga meningkat. mual muntahnya itu karena pengaruh hormon (Afri) 4.Ketonuria itu pecahan dari protein, (Afri) 5.Hbnya normal, Ht normal, ketonuria tidak normal karena harunya (Eka) 8. Pasti ada hubungannya, berkaitan dengan hormon 7.tidak ada hubungannya 9. LO 10.LO 11.LO 12.LO

STEP 5 Mind map : Konsep: Definisi, etiologi, manklin, klasifikasi, komplikasi, pencegahan, prognosis, pem.diagnostik, penatalaksanaan

Patofisiologi

Hiperemesis Gravidarum

Asuhan Keperawatan

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 STEP VII REPORTING ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM ENDOKRIN

A2010

Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan memadukan fungsi tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu. Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural). Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil alih oleh sistem saraf. Bila sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon, maka sistem saraf bekerja melalui neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf. Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 A. Struktur

A2010

Terdapat dua tipe kelenjar yaitu eksokrin dan endokrin. Kelenjar eksokrin melepaskan sekresinya ke dalam duktus pada permukaan tubuh, seperti kulit, atau organ internal, seperti lapisan traktus intestinal. Kelenjar endokrin termasuk hepar, pankreas (kelenjar eksokrin dan endokrin), payudara, dan kelenjar lakrimalis untuk air mata. Sebaliknya, kelenjar endokrin melepaskan sekresinya langsung ke dalam darah. Kelenjar endokrin termasuk :1. Pulau Langerhans pada Pankreas2. Gonad (ovarium dan testis)3. Kelenjar adrenal, hipofise, tiroid dan paratiroid, serta timusB. Hormon dan fungsinya Kata hormon berasal dari bahasa Yunani hormon yang artinya membuat gerakan atau membangkitkan. Hormon mengatur berbagai proses yang mengatur kehidupan. Sistem endokrin mempunyai lima fungsi umum :1. Membedakan sistem saraf dan sistem reproduktif pada janin yang sedang berkembang2. Menstimulasi urutan perkembangan3. Mengkoordinasi sistem reproduktif4. Memelihara lingkungan internal optimal5. Melakukan respons korektif dan adaptif ketika terjadi situasi daruratC. Klasifikasi Dalam hal struktur kimianya, hormon diklasifikasikan sebagai hormon yang larut dalam air atau yang larut dalam lemak. Hormon yang larut dalam air termasuk polipeptida (mis., insulin, glukagon, hormon adrenokortikotropik (ACTH), gastrin) dan katekolamin (mis., dopamin, norepinefrin, epinefrin)Hormon yang larut dalam lemak termasuk steroid (mis., estrogen, progesteron, testosteron, glukokortikoid, aldosteron) dan tironin (mis., tiroksin). Hormon yang larut dalam air bekerja melalui sistem mesenger-kedua, sementara hormon steroid dapat menembus membran sel dengan bebas.D. Karakteristik Meskipun setiap hormon adalah unik dan mempunyai fungsi dan struktur tersendiri, namun semua hormon mempunyai karakteristik berikut.Hormon disekresi dalam salah satu dari tiga pola berikut (1) sekresi diurnal adalah pola yang naik dan turun dalam periode 24 jam. Kortisol adalah contoh hormon diurnal. Kadar kortisol meningkat pada pagi hari dan turun pada malam hari. (2) Pola sekresi hormonal pulsatif dan siklik naik turun sepanjang waktu tertentu, seperti bulanan. Estrogen adalah non siklik dengan puncak dan lembahnya menyebabkan siklus menstruasi. (3) Tipe sekresi hormonal yang ketiga adalah variabel dan tergantung pada kadar subtrat lainnya. Hormon paratiroid disekresi dalam berespons terhadap kadar kalsium serum. Hormon bekerja dalam sistem umpan balik. Loop umpan balik dapat positif atau negatif dan memungkinkan tubuh untuk dipertahankan dalam situasi lingkungan optimal. Hormon mengontrol laju aktivitas selular. Hormon tidak mengawali perubahan biokimia. Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

Hormon hanya mempegaruhi sel-sel yang mengandung reseptor yang sesuai, yang melalukan : fungsi spesifik. Hormon mempunyai fungsi dependen dan interdependen. Pelepasan hormon dari satu kelenjar sering merangsang pelepasan hormone dari kelenjar lainnya. Hormone secara konstan di reactivated oleh hepar atau mekanisme lain dan diekskresi oleh ginjal. Peran hipotalamus dan kelenjar hipofise. Dua kelenjar endokrin yang utama dala hipotalamus dan hipofise. Aktivitas endokrin dikontrol secara langsung dan tak langsung oleh hipotalamus, yang menghubungkan sistem persarafan dengan sistem endokrin. Dalam berespons terhadap input dari area lain dalam otak dan dari hormon dalam dalam darah, neuron dalam hipotalamus mensekresi beberapa hormon realising dan inhibiting. Hormon ini bekerja pada sel-sel spesifik dalam kelenjar pituitary yang mengatur pembentukan dan sekresi hormon hipofise. Hipotalamus dan kelenjar hipofise dihubungkan oleh infundibulum. Hormon yang disekresi dari setiap kelenjar endokrin dan kerja dari masing-masing hormon. Perhatikan bahwa setiap hormon yang mempengaruhi organ dan jaringan terletak jauh dari tempat kelenjar induknya. Misalnya oksitosin, yang dilepaskan dari lobus posterior kelenjar hipofise, menyebabkan kontraksi uterus. Hormon hipofise yang mengatur sekresi hormon dari kelenjar lain disebut hormon tropik. Kelenjar yang dipengaruhi oleh hormon disebut kelenjar target.Sistem umpan balik Kadar hormon dalam darah juga dikontrol oleh umpan balik negatif manakala kadar hormon telah mencukupi untuk menghasilkan efek yang dimaksudkan, kenaikan kadar hormon lebih jauh dicegah oleh umpan balik negatif. Peningkatan kadar hormon mengurangi perubahan awal yang memicu pelepasan hormon. Misalnya peningkatan sekresi ACTH dari kelenjar pituitari anterior merangsang peningkatan pelepasan kortisol dari korteks adrenal, menyebabkan penurunan pelepasan ACTH lebih banyak. Kadar substansi dalam darah selain hormon juga memicu pelepasan hormon dan dikontrol melalui Sistem umpan balik. Pelepasan insulin dari pulau langerhan di pankreas didorong oleh kadar glukosa darah.Aktivasi sel-sel target. Manakala hormon mencapai sel target, hormon akan mempengaruhi cara sel berfungsi dengan satu atau dua metoda, pertama melalui penggunaan mediator intraselular dan kedua mengaktifkan gen-gen di dalam sel. Salah satu mediator intraselular adalah cyclic adenosine monophosphate (cAMP), yang berikatan dengan permukaan dalam dari membran sel. Ketika hormon melekat pada sel, kerja sel akan mengalami sedikit perubahan. Misalnya, ketika hormon pankreatik glukagon berikatan dengan sel-sel hepar, kenaikan kadar AMP meningkatkan pemecahan glikogen menjadi glukosa. Jika hormon mengaktifkan sel dengan berinteraksi dengan gen, gen akan mensitesa mesenger RNA (mRNA) dan pada akhirnya protein (mis., enzim, steroid). Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 Substansi ini mempengaruhi reaksi dan proses selular.1. Struktur

A2010 dan fungsi

hipotalamusHipotalamus terletak di batang otak tepatnya di dienchepalon, dekat dengan ventrikel otak ketiga (ventrikulus tertius) Hipotalamus sebagai pusat tertinggi sistem kelenjar endokrin yang menjalankan fungsinya melalui humoral (hormonal) dan saraf. Hormon yang dihasilkan hipotalamus sering disebut faktor R dan I mengontrol sintesa dan sekresi hormon hipofise anterior sedangkan kontrol terhadap hipofise posterior berlangsung melalui kerja saraf. Pembuluh darah kecil yang membawa sekret hipotalamus ke hipofise disebut portal hipotalamik hipofise. Hormon-hormon hipotalamus antara lain:a. ACTH : Adrenocortico Releasing Hormonb. ACIH : Adrenocortico Inhibiting Hormonc. TRH : Tyroid Releasing Hormpnd. TIH : Tyroid Inhibiting Hormone. GnRH : Gonadotropin Releasing Hormonf. GnIH : Gonadotropin Inhibiting Hormong. PTRH : Paratyroid Releasing Hormonh. PTIH : Paratyroid Inhibiting Hormoni. PRH : Prolaktin Releasing Hormonj. PIH : Prolaktin Inhibiting Hormonk. GRH : Growth Releasing Hormonl. GIH : Growth Inhibiting Hormonm. MRH : Melanosit Releasing Hormonn. MIH : Melanosit Inhibiting Hormon Hipotalamus sebagai bagian dari sistem endokrin mengontrol sintesa dan sekresi hormon-hormon hipofise. Hipofise anterior dikontrol oleh kerja hormonal sedang bagian posterior dikontrol melalui kerja saraf.

2. Struktur dan Fungsi Hipofise Hipofise terletak di sella tursika, lekukan os spenoidalis basis cranii. Berbentuk oval dengan diameter kira-kira 1 cm dan dibagi atas dua lobus Lobus anterior, merupakan bagian terbesar dari hipofise kira-kira 2/3 bagian dari hipofise. Lobus anterior ini juga disebut adenohipofise. Lobus posterior, merupakan 1/3 bagian hipofise dan terdiri dari jaringan saraf sehingga disebut juga neurohipofise. Hipofise stalk adalah struktur yang menghubungkan lobus posterior hipofise dengan hipotalamus. Struktur ini merupakan jaringan saraf. Lobus intermediate (pars intermediate) adalah area diantara lobus anterior dan posterior, fungsinya belum diketahui secara pasti, namun beberapa referensi yang ada mengatakan lobus ini mungkin menghasilkan melanosit stimulating hormon (MSH). Secara histologis, sel-sel kelenjar hipofise dikelompokan berdasarkan jenis hormon yang disekresi yaitu: a. Sel-sel somatotrof bentuknya besar, mengandung granula sekretori, berdiameter 350-500 nm dan terletak di sayap lateral hipofise. Sel-sel inilah yang menghasilkan hormon somatotropin atau hormon pertumbuhan. Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

b. Sel-sel lactotroph juga mengandung granula sekretori, dengan diameter 27-350 nm, menghasilkan prolaktin atau laktogen. c. Sel-sel Tirotroph berbentuk polihedral, mengandung granula sekretori dengan diameter 50-100 nm, menghasilkan TSH. d. Sel-sel gonadotrof diameter sel kira-kira 275-375 nm, mengandung granula sekretori, menghasilakan FSH dan LH. Ssel-sel kortikotrof diameter sel kira-kira 375-550 nm, merupakan granula terbesar, menghasilkan ACTH. Sel nonsekretori terdiri atas sel kromofob. Lebih kurang 25% sel kelenjar hipofise tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan yang lazim digunakan dan karena itu disebut sel-sel kromofob. Pewarnaan yang sering dipakai adalah carmosin dan erytrosin. Sel foli-kular adalah sel-sel yang berfolikel.Hipofise menghasilkan hormon tropik dan nontropik. Hormon tropik akan mengontrol sintesa dan sekresi hormon kelenjar sasaran sedangkan hormon nontropik akan bekerja langsung pada organ sasaran. Kemampuan hipofise dalam mempengaruhi atau mengontrol langsung aktivitas kelenjar endokrin lain menjadikan hipofise dijuluki master of gland.3. Struktur dan Fungsi Kelenjar TiroidKelenjar tiroid terletak pada leher bagian depan, tepat di bawah kartilago krikoid, disamping kiri dan kanan trakhea. Pada orang dewasa beratnya lebih kurang 18 gram. Kelenjar ini terdiri atas dua lobus yaitu lobus kiri kanan yang dipisahkan oleh isthmus. Masing-masing lobus kelenjar ini mempunyai ketebalan lebih kurang 2 cm, lebar 2,5 cm dan panjangnya 4 cm. Tiap-tiap lobus mempunyai lobuli yang di masing-masing lobuli terdapat folikel dan parafolikuler. Di dalam folikel ini terdapat rongga yang berisi koloid dimana hormon-hormon disintesa.kelenjar tiroid mendapat sirkulasi darah dari arteri tiroidea superior dan arteri tiroidea inferior. Arteri tiroidea superior merupakan percabangan arteri karotis eksternal dan arteri tiroidea inferior merupakan percabangan dari arteri subklavia.Lobus kanan kelenjar tiroid mendapat suplai darah yang lebih besar dibandingkan dengan lobus kiri. Dipersarafi oleh saraf adrenergik dan kolinergik. saraf adrenergik berasal dari ganglia servikalis dan kolinergik berasal dari nervus vagus. Kelenjar tiroid menghasilkan tiga jenis hormon yaitu T3, T4 dan sedikit kalsitonin. Hormon T3 dan T4 dihasilkan oleh folikel sedangkan kalsitonin dihasilkan oleh parafolikuler. Bahan dasar pembentukan hormon-hormon ini adalah yodium yang diperoleh dari makanan dan minuman. Yodium yang dikomsumsi akan diubah menjadi ion yodium (yodida) yang masuk secara aktif ke dalam sel kelenjar dan dibutuhkan ATP sebagai sumber energi. Proses ini disebut pompa iodida, yang dapat dihambat oleh ATP-ase, ion klorat dan ion sianat. Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

Sel folikel membentuk molekul glikoprotein yang disebut Tiroglobulin yang kemudian mengalami penguraian menjadi mono iodotironin (MIT) dan Diiodotironin (DIT). Selanjutnya terjadi reaksi penggabungan antara MIT dan DIT yang akan membentuk Tri iodotironin atau T3 dan DIT dengan DIT akan membentuk tetra iodotironin atau tiroksin (T4). Proses penggabungan ini dirangsang oleh TSH namun dapat dihambat oleh tiourea, tiourasil, sulfonamid, dan metil kaptoimidazol. Hormon T3 dan T4 berikatan dengan protein plasma dalam bentuk PBI (protein binding Iodine). Fungsi hormon-hormon tiroid antara adalah: a. Mengatur laju metabolisme tubuh. Baik T3 dan T4 kedua-duanya meningkatkan metabolisme karena peningkatan komsumsi oksigen dan produksi panas. Efek ini pengecualian untuk otak, lien, paru-paru dan testes b. Kedua hormon ini tidak berbeda dalam fungsi namun berbeda dalam intensitas dan cepatnya reaksi. T3 lebih cepat dan lebih kuat reaksinya tetapi waktunya lebih singkat dibanding dengan T4. T3 lebih sedikit jumlahnya dalam darah. T4 dapat dirubah menjadi T3 setelah dilepaskan dari folikel kelenjar. c. Memegang peranan penting dalam pertumbuhan fetus khususnya pertumbuhan saraf dan tulang d. Mempertahankan sekresi GH dan gonadotropin Efek kronotropik dan Inotropik terhadap jantung yaitu menambah kekuatan kontraksi otot dan menambah irama jantung.f. Merangsang pembentukan sel darah merahg. Mempengaruhi kekuatan dan ritme pernapasan sebagai kompensasi tubuh terhadap kebutuhan oksigen akibat metabolisme h. Bereaksi sebagai antagonis insulinTirokalsitonin mempunyai jaringan sasaran tulang dengan fungsi utama menurunkan kadar kalsium serum dengan menghambat reabsorpsi kalsium di tulang. Faktor utama yang mempengaruhi sekresi kalsitonin adalah kadar kalsium serum. Kadar kalsium serum yang rendah akan menekan ;pengeluaran tirokalsitonin dan sebaliknya peningkatan kalsium serum akan merangsang pengeluaran tirokalsitonin. Faktor tambahan adalah diet kalsium dan sekresi gastrin di lambung. 4. Struktur dan Fungsi Kelenjar Paratiroid Kelenjar paratiroid menempel pada bagian anterior dan posterior kedua lobus kelenjar tiroid oleh karenanya kelenjar paratiroid berjumlah empat buah. Kelenjar ini terdiri dari dua jenis sel yaitu chief cells dan oxyphill cells. Chief cells merupakan bagian terbesar dari Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

kelenjar paratiroid, mensintesa dan mensekresi hormon paratiroid atau parathormon disingkat PTH. Parathormon mengatur metabolisme kalsium dan posfat tubuh. Organ :argetnya adalah tulang, ginjal dan usus kecil (duodenum). Terhadap tulang, PTH mempertahankan resorpsi tulang sehingga kalsium serum :neningkat. Di tubulus ginjal, PTH mengaktifkan vitamin D. Dengan vitamin D yang aktif akan terjadi peningkatan absorpsi kalsium dan posfat dari intestin. Selain itu hormon inipun akan meningkatkan reabsorpsi Ca dan Mg di tubulus ginjal, meningkatkan pengeluaran Posfat, HCO3 dan Na. karena sebagian besar kalsium disimpan di tulang maka efek PTH lebih besar terhadap tulang. Factor yang mengontrol sekresi PTH adalah kadar kalsium serum di samping tentunya PTSH 5. Struktur dan fungsi kelenjar Pankreas Pankreas terletak di retroperiotoneal rongga abdomen bagian atas, dan terbentang horizontal dari cincin duodenal ke lien. Panjang sekitar 10-20 cm dan lebar 2,5-5 cm. mendapat pasokan darah dari arteri mensenterika superior dan splenikus. Pankrea berfungsi sebagai organ endokrin dan eksokrin. Fungsinya sebagai organ endokrin didukung oleh pulau-pulau Langerhans. Pulau-pulau Langerhans terdiri tiga jenis sel yaitu; sel alpha yang menghasilkan yang menghasilkan glukoagon, sel beta yang menghasilkan insulin, dan sel deltha yang menghasilkan somatostatin namun fungsinya belum jelas diketahui. Organ sasaran kedua hormon ini adalah hepar, otot dan jaringan lemak. Glukagon dan insulin memegang peranan penting dalam metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Bahkan keseimbangan kadar gula darah sangat ,dipengaruhi oleh kedua hormon ini. Fungsi kedua hormon ini saling bertolak belakang. Kalau secara umum, insulin menurunkan kadar gula darah sebaliknya untuk glukagon meningkatkan kadar gula darah. Perangsangan glukagon bila kadar gula darah rendah, dan asam amino darah meningkat. Efek glukoagon ini juga sama dengan efek kortisol, GH dan epinefrin.Dalam meningkatkan kadar gula darah, glukagon merangsang glikogenolisis (pemecahan glikogen menjadi glukosa) dan

meningkatkan transportasi asam amino dari otot serta meningkatkan glukoneogenesis (pemecahan glukosa dari yang bukan karbohidrat). Dalam metabolisme lemak, glukagon meningkatkan lipolisis (pemecahan lemak).Dalam menurunkan kadar gula darah, insulin sebagai hormon anabolik terutama akan meningkatkan difusi glukosa melalui membran sel di jaringan. Efek anabolik penting lainnya dari hormon insulin adalah sebagai berikut:a. Efek pada hepar1) Meningkatkan sintesa dan penyimpanan glukosa2) Menghambat glikogenolisis, Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

glukoneogenesis dan ketogenesis3) Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas di heparb. Efek pada otot1) Meningkatkan sintesis protein2) Meningkatkan transportasi asam amino3) Meningkatkan glikogenesisc. Efek pada jaringan lemak 1) Meningkatkan sintesa trigliserida dari asam lemak bebas 2) Meningkatkan penyimpanan trigliserida3) Menurunkan lipolisis 6. Struktur dan Fungsi Kelenjar Adrenal Terletak di kutub atas kedua ginjal. Disebut juga sebagai kelenjar suprarenalis karena letaknya di atas ginjal. Dan kadang juga disebut sebagai kelenjar anak ginjal karena menempel pada ginjal. Kelenjar adrenal terdiri dari dua lapis yaitu bagian korteks dan bagian medulla. Keduanya menunjang dalam ketahanan hidup dan kesejahteraan, namun hanya korteks yang esensial untuk kehidupan. a. Korteks adrenalKorteks adrenal esensial untuk bertahan hidup. Kehilangan hormon adrenokortikal dapat menyebabkan kematian. Korteks adrenal mensintesa tiga kelas hormon steroid yaitu mineralokortikoid, glukokortikoid, dan androgen. b. Mineralokortikoid Mineralokortikoid (pada manusia terutama adalah aldosteron) dibentuk pada zona glomerulosa korteks adrenal. Hormon ini mengatur keseimbangan elektrolit dengan meningkatkan retensi natrium dan ekskresi kalium. Aktivitas fisiologik ini selanjutnya membantu dalam mempertahankan tekanan darah normal dan curah jantung. Defisiensi mineralokortikoid (penyakit Addisons) mengarah pada hipotensi, hiperkalemia, penurunan curah jantung, dan dalam kasus akut, syok. Kelebihan mineralokortikoid mengakibatkan hipertensi dan hipokalemia. c. Glukokortikoid Glukokortikoid dibentuk dalam zona fasikulata. Kortisol merupakan glukokortikoid utama pada manusia. Kortisol mempunyai efek pada tubuh antara lain dalam: metabolisms glukosa (glukosaneogenesis) yang meningkatkan kadar glukosa darah; metabolisme protein; keseimbangan cairan dan elektrolit; inflamasi dan imunitas; dan terhadap stresor.d. Hormon seksKorteks adrenal mensekresi sejumlah kecil steroid seks dari zona retikularis. Umumnya adrenal mensekresi sedikit androgen dan estrogen dibandingkan dengan sejumlah besar Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

hormon seks yang disekresi oleh gonad. Namun produksi hormon seks oleh kelenjar adrenal dapat menimbulkan gejala klinis. Misalnya, kelebihan pelepasan androgen menyebabkan virilisme. sementara kelebihan pelepasan estrogen (mis., akibat karsinoma adrenal menyebabkan ginekomastia dan retensi natrium dan air.7. Struktur dan Fungsi Kelenjar GonadTerbentuk pada minggu-minggu pertama gestasi dan tampak jelas pada minggu kelima. Difrensiasi jelas dengan mengukur kadar testosteron fetal terlihat jelas pada minggu ke tujuh dan ke delapan gestasi. Keaktifan kelenjar gonad terjadi pada masa prepubertas dengan meningkatnya sekresi gonadotropin (FSH dan LH) akibat penurunan inhibisi steroid.a. Testes Dua buah testes ada dalam skrotum. Testis mempunyai dua fungsi yaitu sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Menghasilkan hormone testosteron dan estradiol dibawah pengaruh LH. Testosteron diperlukan untuk mempertahankan

spermatogenesis sementara FSH diperlukan untuk memulai dan mempertahankan spermatogenesis.Estrogen mempunyai efek menurunkan konsentrasi testosteron melalaui umpan balik negatif terhadap FSH sementara kadar testosteron dan estradiol menjadi umpan balik negatif terhadap LH. Fungsi testis sebagai organ reproduksi berlangsung di tubulus seminiferus.Efek testosteron pada fetus merangsang diferensiasi dan perkembangan genital ke arah pria. Pada masa pubertas hormon ini akan merangsang perkembangan tanda-tanda seks sekunder seperti perkembangan bentuk tubuh, pertumbuhan dan perkembangan alat genital, distribusi rambut tubuh, pembesaran laring dan penebalan pita suara serta perkembangan sifat agresif. Sebagai hormon anabolik, akan merangsang pertumbuhan dan penutupan epifise tulang.b. Ovarium Seperti halnya testes, ovarium juga berfungsi sebagai organ endokrin dan organ reproduksi. Sebagai organ endokrin, ovarium menghasilkan hormon estrogen dan progesteron. Sebagai organ reproduksi, ovarium menghasilkan ovum (sel telur) setiap bulannya pada masa ovulasi untuk selanjutnya siap untuk dibuahi sperma. Estrogen dan progesteron akan mempengaruhi perkembangan seks sekunder, menyiapkan endometrium untuk menerima hasil konsepsi serta mempertahankan proses laktasi. Estrogen dibentuk di sel-sel granulosa folikel dan sel lutein korpus luteum. Progesteron juga dibentuk di sel lutein korpus luteum.

Patofisiologi Umum Gangguan Sistem Endokrin Untuk memudahkan pengertian kita tentang patofisiologi pada berbagai kelainan kelenjar endokrin, berikut akan dihantarkan gambaran sepintas tentang patofisiologi umum gangguan endokrin, mengingat fungsi sistem endokrin yang kompleks dan rumit mencakup mekanisme Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

kerja hormonal dan adanya mekanisme umpan balik yang negatif yang sudah barang tentu akan mempengaruhi perjalanan penyakit. Seperti lazimnya kelainan-kelainan pada organ tubuh, pada kelenjar endokrin pun berlaku hal yang sama dimana gangguan fungsi yang terjadi dapat diakibatkan oleh: Peradangan atau infeksi Tumor atau keganasan Degenerasi Idiopatik Dampak yang ditimbulkan oleh kondisi patologis diatas terhadap kelenjar endokrin dapat berupa: Perubahan bentuk kelenjar tanpa disertai perubahan sekresi hormonal Peningkatan sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin sering diistilahkan dengan hiperfungsi kelenjar. Penurunan sekresi hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin, dan diistilahkan dengan hipofungsi kelenjar. Adanya hubungan timbal balik antara kelenjar hipofise sebagai master of gland dengan kelenjar targetnya, hipofise terhadap hipotalamus serta jaringan atau organ sasaran dengan kelenjar target, memungkinkan penyebab dari suatu kasus dapat lebih dari satu; artinya mungkin saja penyebab ada pada jaringan/organ sasaran, atau pada kelenjar target, ataupada kelenjar hipofise atau hipotalamus. Oleh karena itu, untuk tujuan kemudahan dalam penanggulangannya maka dalam setiap kasus akan di dipaparkan kemungkinan penyebabnya baik yang bersifat primer, sekunder,atau tertier. penyebab yang bersifat primer bila penyebabnya ada pada kelenjar penghasil hormon itu sendiri. Bersifat sekunder, bila penyebabnya ada pada kelenjar di atasnya. Bersifat tertier, bila penyebabnya di luar primer dan sekunder seperti penggunaan obat-obatan tertentu ataupun kelainan pada organ tubuh tertentu yang dapat mempengaruhi fungsi kelenjar.Seperti bila terjadi peningkatan ACTH (hormon hipofise) pada serum yang akan menyebabkan hiperfungsi kelenjar adrenal sehingga terjadi hipersekresi hormon-hormon adrenal maka penyebabnya disebut sekunder.Disebut penyebab primer bila penyebapnya ada pada kelenjar adrenal sendiri. Disebut tertier bila penyebabnya diluar kedua penyebab diatas. Misalnya, pengunaan obat-obatan yang dapat merangsang ACTH atau merangsang sekresi hormon adrenal. Untuk pemahaman yang lebih baik tentang patofisiologi berbagai kelainan endokrin, Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

ada dua hal utama yang harus dipahami dengan baik.Efek dari setiap hormon yang dihasilkan oleh kelenjar endokrin terhadap jaringan endokrin dan terhadap jaringan atau organ sasarannya.Fungsi organ/jaringan sasaran dari setiap hormon.

KONSEP PENYAKIT HIPEREMESIS GRAVIDARUM

A. DEFINISI Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu menjadi buruk. (Sarwono Prawirohardjo, Ilmu Kebidanan, 1999). Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu, begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidrasi, terdapat aseton dalam urine, bukan karena penyakit seperti Appendisitis, Pielitis dan sebagainya (http://zerich150105.wordpress.com/). Dalam buku obstetri patologi (1982) Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan dimana seorang ibu hamil memuntahkan segala apa yang di makan dan di minum sehingga berat badannya sangat turun, turgor kulit kurang, diuresis kurang dan timbul aseton dalam air kencing (http://healthblogheg.blogspot.com/). Hiperemesis Gravidarum adalah suatu keadaan pada ibu hamil yang ditandai dengan muntah-muntah yang berlebihan (muntah berat) dan terus-menerus pada minggu kelima sampai dengan minggu kedua belas Penyuluhan Gizi Rumah Sakit A. Wahab Sjahranie Samarinda (http://healthblogheg.blogspot.com/).

B. ETIOLOGI Penyebab Hiperemesis gravidarum belum diketahui secara pasti. Perubahanperubahan anatomik pada otak, jantung, hati dan susunan saraf disebabkan oleh kekurangan vitamin serta zat-zat lain akibat inanisi Beberapa faktor predisposisi dan faktor lain yang ditemukan :

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

a). Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida, mola hidatidosa dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan ganda memimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang peranan, karena pada kedua keadaan tersebut hormon Khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan. b). Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu tehadap perubahan ini merupakan faktor organik. c). Alergi. Sebagai salah satu respon dari jaringan.ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah satu faktor organik. d). Faktor psikologik memegang peranan yang penting pada penyakit ini walaupun hubungannya dengan terjadinya hiperemesis gravidarum belum diketahui dengan pasti. Rumah tangga yang retak, kehilangan pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab sebagai ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan muntah sebagai ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai pelarian karena kesukaran hidup. Tidak jarang dengan memberikan suasana yang baru sudah dapat membantu mengurangi frekwensi muntah klien

faktor endokrin antara lain Human Chorionic Gonodotrophin, estrogen, progesteron, Thyroid Stimulating Hormone, Adrenocorticotropine Hormone, human Growth Hormone, prolactin dan leptin. faktor non endokrin antara lain immunologi, disfungsi gastrointestinal, infeksi Helicobacter pylori, kelainan enzym metabolik, defisiensi nutrisi, anatomi dan psikologis.

C. MANIFESTASI KLINIS

Batas mual dan muntah berapa banyak yang disebut hiperemesis gravidarum tidak ada kesepakatan. Ada yang mengatakan bila lebih dari sepuluh kali muntah. Akan tetapi apabila keadaan umum ibu terpengaruh dianggap sebagai hiperemesis gravidarum. Menurut berat ringannya gejala dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu :

1. Tingkatan I (ringan) Mual muntah terus-menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita Ibu merasa lemah Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 Nafsu makan tidak ada Berat badan menurun Merasa nyeri pada epigastrium Nadi meningkat sekitar 100 per menit Tekanan darah menurun Turgor kulit berkurang Lidah mengering Mata cekung

A2010

2. Tingkatan II (sendang)

Penderita tampak lebih lemah dan apatis Turgor kulit mulai jelek Lidah mengering dan tampak kotor Nadi kecil dan cepat Suhu badan naik (dehidrasi) Mata mulai ikterik Berat badan turun dan mata cekung Tensi turun, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi Aseton tercium dari hawa pernafasan dan terjadi asetonuria.

3. Tingkatan III (berat)

Keadaan umum lebih parah (kesadaran menurun dari somnolen sampai koma) Dehidrasi hebat Nadi kecil, cepat dan halus Suhu badan meningkat dan tensi turun Terjadi komplikasi fatal pada susunan saraf yang dikenal dengan enselopati wernicke dengan gejala nistagmus, diplopia dan penurunan mental Timbul ikterus yang menunjukkan adanya payah hati.

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 D. KLASIFIKASI

A2010

Hiperemesis gravidarum, menurut berat ringannya gejala dapat dibagi dalam 3 (tiga) tingkatan yaitu : 1. Tingkatan I : Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan menurun dan nyeri pada epigastrium.Nadi meningkat sekitar 100 kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang, lidah mengering dan mata cekung.

2. Tingkatan II : Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih berkurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus.Berat badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah, hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi. Aseton dapat tercium dalam hawa pernapasan, karena mempunyai aroma yang khas dan dapat pula ditemukan dalam kencing.

3. Tingkatan III: Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat, suhu badan meningkat dan tensi menurun. Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat makanan, termasuk vitamin B kompleks.Timbulnya ikterus adalah tanda adanya payah hati.

E. KOMPLIKASI Komplikasi yang terjadi akibat hiperemesis gravidarum seperti kehilangan berat badan, dehidrasi, asidosis dari kekurangan gizi, alkalosis, hipokalaemia, kelemahan otot, kelainan elektrokardiografik, tetani, dan gangguan psikologis merupakan komplikasi yang ringan. Komplikasi yang mengancam kehidupan meliputi ruptur oesophageal berkaitan dengan muntah yang berat, Encephalopathy Wernicke's, mielinolisis pusat pontine, retinal haemorrhage, kerusakan ginjal, pneumomediastinum secara spontan, keterlambatan pertumbuhan di dalam kandungan, dan kematian janin. Seorang pasien dengan hiperemesis Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

gravidarum telah dilaporkan telah mengalami epistaksis pada minggu ke 15 kehamilannya dikarenakan kurangnya intake/masukan vitamin K disebabkan karena emesis yang berat dan ketidak-mampuannya untuk mencernakan makanan padat dan cairan. Penggantian vitamin K, parameter koagulasi kembali ke normal. Vasospasme pembuluh darah cerebral dihubungkan dengan hiperemesis gravidarum dilaporkan pada dua pasien.

F. PENCEGAHAN Pencegahan terhadap Hiperemesis gravidarum perlu dilaksanakan dengan jalan memberikan pcnerapan tentang kehamilan dan persalinan sebagai suatu proses yang fisiologik, memberikan keyakinan bahwa mual dan kadang-kadang muntah merupakan gejala yang flsiologik pada kehamilan muda dan akan hilang setelah kehamilan 4 bulan, mengajurkan mengubah makan sehari-hari dengan makanan dalam jumlah kecil tetapi lebih sering. Waktu bangun pagi jangan segera turun dari tempat tidur, tetapi dianjurkan untuk makan roti kering atau biskuit dengan teh hangat.Makanan yang berminyak dan berbau lemak sebaiknya dihindarkan. Makanan dan minuman sebaiknya disajikan dalam keadaan panas atau sangat dingin.

G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Ketika seorang wanita dating dengan keluhan mual dan muntah , riwayat berikut harus dikaji untuk membantu membedakan antara mual dan muntah akibat kehamulan atau kondisi patologis ini.

1. Riwayat 1. Frekuensi muntah 2. Hubungan muntah dengan asupan makanan ( jenis dan jumlah ) 3. Riwayat pola makan ( jenis makanan dan minuman , jumlah, waktu pemberian, dan reaksinya) 4. Riwayat pengobatan ( termasuk reaksi obat) 5. Riwayat gangguan makan 6. Riwayat diabetes 7. Pembedahan abdomen sebelumnya. 8. Frekuensi istirahat 9. Kecemasan dalam kehamilan Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 10. Dukungan keluarga 2. Pemeriksaan fisik 1. Berat badan ( dan hubungannya dengan berat badan sebelumnya) 2. Suhu badan , denyut nadi, dan pernafasan 3. Turgor kulit 4. Kelembapan membrane mukosa 5. Kondisi lidah ( bengkak, kering, pecah-pecah) 6. Palpasi abdomen untuk melihat pembesaran organ , dan nyeri tekan. 7. Pengkajian pertumbuhan janin. 3. Laboratorium 1. Pemeriksaan keton dalam urine 2. Urinalisis : kultur, mendeteksi bakteri, BUN 3. Pemeriksaan fungsi hepar: AST, ALT dan kadar LDH 4. Imaging

A2010

1. USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) : mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel, mendeteksi abnormalitas janin, melokalisasi plasenta.

H. PENATALAKSANAAN 1. Isolasi di kamar khusus di rumah sakit a. Dapatkan memeberikan perhatian secara khusus pada ibu hamil b. Kalau perlu perawatan yang sesuai dengan permintaannya c. Hanya keluarga yang boleh mengunjunginya d. Memberikan situasi dan ketenangan yang lebih baik untuk: Meningkatkan pengertian ibu tentang hamil dan persalinan Tumbuh kembang janin dalam uterus Pentingnya peran ibu hamil, terutama untuk memeberikan mutrisi pada janinnya Pentingnya ketenangan dan kepasrahan terhadap keberadaan kehamilan

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

Emesis-hiperemesis gravidarum adalah proses alami yang tidak dapat dihilangkan, tetapi dapat dikendalikan melalui pengertian yang baik

e. Dalam ruang isolasi makin banyak yang dapat dilakukan: Mengembalikan keseimbangan psikologis ibu hamil dengan memberikan KIE (konseling, informasi dan edukasi) seperti diatas Dapat ditekankan bahwa semakin tua usia kahamilan semakin berkurang kejadian mual-mutahnya dan akhirnya menghilang dengan sendirinya f. Dalam ruang isolasi, terapi intensif dapat dilakukan untuk: Dehidrasi dan memberikan nutrisi Melakukan observasi yang lebih tajam sehingga sikap lanjut dapat ditentukan

2. Terapi konservatif hiperemesis gravidarum a. Rehidrasi. Pemberian cairan untuk mengimbangi hilanhnya cairan dan elektrolit dapat segera dilakukan pada saat masuk rumah sakit. Larutan glukosa-dekstrosa 5-10% diberikan sekitar 3000cc/24jam untuk keperluan: Rehidrasi sehingga turgoe kulit cepat kembali Meningkatkan diuresis dan membuang benda keton melalui urine Glukosa sendiri sibutuhkan untuk metabolisme umum dan menghindari kerusakan liver lebih lanjut Glukosa yang dipecah menjadi energi diharapkan dapat dapat mengurangi pembentukan badan keton Larutan ringer-dekstrosa atau ringer laktat diperlukan untuk keseimbangan elektrolit. Hari pertama untuk mengurangi muntah dapat dilakukan dengan puasa dan diikuti dengan membasahi mulut dan tenggorokan. Jika muntah berkurang ibu hamil dapat mulai dengan cairan/makanan sebagai berikut: Larutan isotonis yang mengandung elektrolit dengan berbagai rasa dapat diberikan untuk keseimbangan elektrolit Diet hiperemesis gravidarum: a) Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin C, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

b) Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang. Secara berangsur mulai diberikan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D. c) Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium. b. Mobilisasi.pada hari kedua dapat dilakukan ringan setempat dan dilanjutkan mobilisasi yang sesuai dengan kemampuannya. c. Terapi medikmentosa Obt antimuntah. Obat dapat diberikan bersamaan dengan infus, antara lain Primperan Phenotiazin Pemberian vitamin perinfus: B kompleks, vitamin C, B1, B6 Obat lainnya: antihistamin iv, kalau perlukortikosteroid/ACTH Dapat diberikan obat penenang tetapi harus diperhatikan tentang: Jenisnya dipilh yang tidak memepengaruhi janin yang sedang dalam pembentukan organeogenesis Dosis disesuaikan dengan keadaan dehidrasinya Diperhatikan efek samping obat karena sudah mulai terdapat kerusakan organ vital seperti liver, sistem saraf dan ginjal 3. Terapi radikal terminasi kehamilan. Dalam keadaan tertentu, terminasi kehamilan terpaksa dilakukan. Hal ini disebabkan oleh terapi yang tidak diberikan tidak berhasil bahkan keadaan umumnya semakin memburuk.indikasi terminasi kehamilan adalah: Enselopati Wernicke Perdarahan retina Gangguan kardiovaskuler: nadi diatas 120x/menit, tensi darah rendah, tamperatur lebih dari 38oC Ganggan ginjal: oliguria, uremia, proteinemia

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 I. PROGNOSIS Dengan penanganan yang baik prognosis Hiperemesis

A2010

gravidarum sangat

memuaskan. Penyakit ini biasanya dapat membatasi diri, namun demikian pada tingkatan yang berat, penyakit ini dapat mengancam jiwa ibu dan janin.

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010
Faktor Predisposisi

PATOFISIOLOGI

Endokrin Kehamilan pertama atau ganda

Psikomatis Stress emosional

Alergi Antigen baru dari janin plasenta

HCG dan estrogen

Gangguan gastrointestinal

Berlawanan dengan antigen ibu

Merangsang medulla vomiting center

Mobilitas GI Merangsang mual muntah

Emesis berkelanjutan

Hiperemesis gravidarum

Muntah berlebihan

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1
Muntah berlebihan

A2010

Cairan lambung Keluar (kuning) Output intake

Na, C, K Hipokalemi

Nafsu makan intake output makanan In teke nutrisi

Volume cairan tubuh

Absorpsi

HCL

Dehidrasi

Karbohidrat

iritasi sal.cerna

Turgor kulit

Mukosa mulut kering

External dari plasenta

Pembentukan energy

Pemakaian Karbohidrat u/energi

inflamasi Keluar mediator kimia nyeri

Defisit vol cairan tubuh

Imbalance elektrolit Alkalosis respiratory

metabolisme sel ATP Asam laktat

cadangan lemak Protein dipakai oksidasi lemak tak smprn mobilisasi lemak protein ke jar.

Fatigue Intoleran aktivitas

katosis darah

bb gg. pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN Biodata Klien Nama Usia Jenis Kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Diagnosa Medis : Ny. :20 tahun : Perempuan ::::: Hiperemesis Gravidarum

Keluhan Utama : Mual dan muntah Riwayat Kesehatan Sekarang : Riwayat Kesehatan Masa Lalu : Riwayat Kesehatan Keluarga : Kebutuhan Dasar Kusus Aktivitas Istirahat beraktivitas. Integritas Ego Eliminasi : - (Tanyakan adanya konflik keluarga, kesulitan ekonomi, : Klien mengeluh badan terasa lemas sehingga tidak mampu

kehamilan tidak direncanakan) : BAB 2-3x/ hari volume berkurang, tidak ada rasa nyeri atau

terbakar saat BAK. BAB 1x/ hari tidak ada kesulitan atau pun perdarahan. Makanan atau Cairan : Klien mengeluh mual dan muntah yang terus-menerus sampai mengeluarkan cairan kuning. Klien mengatakan setiap kali makan atau minum klien akan muntah. Keamanan Seksualitas selama 7 hari. Interaksi Sosial : - (Kaji adanya perubahan status kesehatan atau stressor : Badan klien nampak lemah. : Klien mengaku terakhir haid 28 Desember 2011, biasa haid

kehamilan, perubahan peran, respon anggota keluarga yang dapat bervariasi terhadap hospitalisasi, dan sistem pendukung yang kurang) Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 GI Pemeriksaan Fisik Keadaan Umum Kesadaran TTV RR HR TD T BB TB LLA

A2010

: Klien mengeluh nyeri di tenggorokan dan ulu hati. : : Lemah : Compos Mentis : : 22x/ menit : 90x/ menit : 100/60 mmHg :: 44 Kg (BB Sebelumnya 47 Kg) : 158 cm : 23 cm

Turgor kulit menurun Mukosa mulut kering Pemeriksaan Laboratorium Hb Ht BJ Urin : 12,5 gr/dl : 49 % : 1,040 : (N : 12-16 gr/dl) (N : 35% - 52%)

Ketonuria (+)

B. ANALISA DATA No. 1. DS: DO: RR 22X/ menit HR 90X/ menit TD 100/60 mmHg Turgor kulit menurun Mukosa mulut kering 2. DS: Klien mengeluh Data Etiologi Hiperemesis gravidarum Mual dan muntah >>
Ciaran lambung keluar (kuning) Output meningkat, intake menurun

Masalah Keperawatan Defisit volume cairan

Penurunan volume cairan tubuh Dehidrasi Turgor kulit menurun dan mukosa mulut kering Defisit Volume Cairan Hiperemesis gravidarum Gangguan

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 mual dan muntah yang terus-menerus sampai mengeluarkan cairan kuning. Klien mengatakan setiap makan/ minum akan muntah. DO: TB 158 cm BB 44 Kg, BB sebelumnya 47 Kg LLA 23 cm Hb 12,5 gr/dl Ht 49% 3. DS: Klien mengeluh badan terasa lemas sehingga tidak mampu beraktivitas. DO: Keadaan umum lemas Kesadaran: Compos mentis Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan Dehidrasi Hemokonsentrasi Aliran darah ke jantung jumlah nutrisi & O2 ke jaringan
Metabolisme intrasel menurun

A2010 pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan

Muntah >> pengeluaran nutrisi >> intake <<


absorbsi menurun
karbohidrat menurun

kebutuhan energi
cadangan lemak dan
protein habis terpakai

Oksidasi lemak tidak sempurna mobilisasi lemak & protein ke jaringan BB menurun

muntah >> intake pembentukan energi


metabolisme sel

Intoleransi aktivitas

ATP menurun

Otot lemah Kelemahan tubuh Intoleransi aktivitas

4.

DS: Klien mengeluh nyeri di tenggorokan dan ulu hati DO: -

Kehamilan Uterus membesar Mendorong lambung dan usus Posisi lambung abnormal Tekanan intragastrik Refluks esofageal
Tonus sfingter esofagus,

Gangguan rasa nyaman: nyeri

muntah HCL ke tenggorokan


mengiritasi

motilitas lambung, & usus menurun drastis

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1
tenggorokan

A2010

Nyeri ulu hati & tenggorokan Gangguan rasa nyaman: Nyeri

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

1.

Gangguan keseimbangan cairan b.d. muntah yang terus menerus d.d. klien mengeluh mual dan muntah yang terus menerus sampai mengeluarkan cairan kuning, mukosa mulut kering, turgor turun, ketonuri (+), TD= 110/60 mmHg. Tupen : setelah dilakukan asuhan keperawata selama 2x24 jam keseimbangan cairan elektrolit membaik dengan kriteria: TTV normal, mukosa mulut lembab, turgor baik, muntah berkurang. Tupen: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 7x24 jam klien dapat mempertahankan keseimbangan cairan secara adekuat. Intervensi Ukur dan catat intake dan output Rasional Dokumentasi yang akurat akan membantu dalam mengidentifikasi pengeluaran cairan/ kebutuhan penggantian pilihan-pilihan yang memengaruhi intervensi Pantau TTV Hipotensi, takikardi, peningkatan pernafasan mengidentifikasi kekurangan cairan Pantau suhu kulit, mukosa membrane, turgor, Kulit yang dingin/ lembab, denyut lemah palpasi denyut perifer mengindikasikan penurunan sirkulasi perifer dan dibutuhkan untuk penggantian cairan tambahan Kolaborasi indikasi pemberian antiemetic sesuai Digunakakn dengan hati-hati untuk

menurunkan mual, muntah dan meningkatkan masukan oral

Kolaborasi

pemberian

cairan

parenteral Mengganti kehilangan cairan

sesuai indikasi. Tingkatkan kecepatan IV bila diperlukan

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1

A2010

2. Gangguan keseimbangan nutrisi b.d. intake tidak adekuat d.d. BB = 44 kg (sebelumnya 47 kg) dengan TB=158 cm, LLA = 23 cm Tupen: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam BB klien naik, klien menghabiskan makanan yang disediakan Tupan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 7x24 jam klien dapat mempertahankan BB normal (tidak ada penurunan BB) Intervensi Kaji kondisi keadekuatan nutrisi klien Timbang BB secara berkala Rasional Menentukan intervansi yang tepat Mengetahui efektivitas diet yang diberikan

Dorong klien untuk makan dengan porsi kecil Meningkatkan intake tapi sering Kolaborasi pemberian diet hiperemesis Memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi

gravidarum sesuai tingkat penyakit

3. Intoleransi aktivitas b.d. kelemahan d.d. klien mengeluh lemas dalam melakukan aktivitas sehari-hari, klien tampak lemah Tupen: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam klien dapat beraktivitas secara toleran, dengan kriteria hasil: adanya peningkatan energy, kebutuhan energy terpenuhi Intervensi Kaji tingkat fngsi pasien Rasional dengan Meyakinkan kontinuitas perawatan dan

menggunakan skala mobilitas fungsional

mempertahankan kemandirian

Kaji kehilangan/ gangguan energy dengan Menunjukan perubahan neurologi karena melihat keseimbangan gaya jalan, lemah otot Batasi aktivitas klien Kolaborasi pemberian vitamin B12 defisiensi vitamin B12 Penghematan energy Meningkatkan metabolic

4. Gangguan rasa nyaman: nyeri b.d. iritasi esophagus dang aster d.d. klien mengeluh nyeri esophagus dan uluhati Tupen: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 2x24 jam klien secara verbal mengatakan nyeri berkurang, klien tampak rileks. Tupan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 7x24 jam klien secara verbal mengatakan tidak ada rasa nyeri, klien tampak rileks. Intervensi Hiperemesis Gravidarum Rasional

Tutor 12 Endokrin 1 Kaji nyeri (skala, lokasi, dirasi dan intensitas) Mengobservasi kondisi

A2010 klien untuk

mengetahui kebutuhan intervensi Kaji TTV, munculnya takikardi, hipotensi Dapat mengindikasikan rasa sakit akut dan dan peningkatan pernapasan, bahkan jika ketidaknyamanan klien menyangkal adanya rasa sakit Ajarkan klien management nyeri (distraksi, Mengalihkan focus klien, meningkatkan rasa relaksasi, imaginary) Berikan informasi mengenai nyaman dan meningkatkan kontrol sifat Pahami penyebab ketidaknyamanan sebagai langkah pemberian tekhnik relaksasi dan Mengurangi perlukaan esophagus dang aster analgetik akan dengan segera mencapai pusat rasa sakit, menimbulkan penghilang yang lebih efektif Observasi kemungkinan efek samping Mencegah komplikasi akibat efek samping penggunaan obat farmakolgi.

ketidaknyamanan, sesuai kebutuhan Kolaborasi pemberian obat iritan

analgetik sesuai indikasi

pemberian analgetik

Hiperemesis Gravidarum

Tutor 12 Endokrin 1 Daftar Pustaka

A2010

Carpenito. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC J.Corwin, Elizabeth.,2001. Buku Saku Patofisiologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta Manuaba, Ida Bagus Gde. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC Mitayani. 2009. Asuhan Keperawatan Maternitas. Jakarta : Salemba Medika Scanlon, Valerie., 2007. Buku Ajar Anatomi dan Fisiologi Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran Jakarta : EGC Sherwood, Lauralee., 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem Edisi II. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. Sloane, Ethel., 2003. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta. Taber, Ben-Zion. 1994. Kapita Selecta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta : EGC Tambayong,jan., 2001. Anatomi dan Fisiologi untuk Keperawatan. Penerbit buku kedokteran. Jakarta : EGC Verrial, W.Eddyman, dkk., 2005. Anatomi Fisiologi Manusia. Universitas Hasanuddin. Makassar.

Hiperemesis Gravidarum