Anda di halaman 1dari 8

BAB II PEMBAHASAN

Prasangka adalah sikap negatif terhadap kelompok atau terhadap seseorang. Prasangka adalah pernilaian terhadap sesuatu yang berdasarkan fakta dan informasi yang terlingkup.4 Prasangka timbul karena adanya penilaian yang tidak berdasar dan suatu pengambilan sikap sebelum menilai

A. PRASANGKA Prasangka adalah sebuah sikap (biasanya bersifat negatif) yang ditujukan bagi anggota-anggota beberapa
1

dengan cermat.

kelompok,

yang

didasarkan

pada

1.

Sumber-sumber Prasangka Prasangka sebagai suatu penilaian terhadap sesuatu dan sikap negative terhadap kelompok atau terhadap seseorang, dapat bersumber dari : a. Interaksi sosial, yakni dari ketidak-adilan, In group-out group, konformitas, dukungan institusional dan konflik antar kelompok. Konflik langsung antar kelompok. b. Dinamika kepribadian, dijelaskan dengan kajian karena: a) Teori Frustasi-Agresi atau teori kambing hitam Jika seseorang mengalami frustasi dan tidak dapat menemukan alasannya atau tidak dapat mengatasi sumber penyebab dari frustasi itu, orang akan mencari kambing-hitam untuk dijadikan sasaran prasangka dan agresinya.5 b) Kebutuhan akan status dan rasa memiliki terhadap kelompok Faktor penyebab yang satu ini ada kaitannya dengan perasaan in group-out group Hitler dan Bung Karno sama-sama

keanggotaannya dalam kelompok. Dengan kata lain, jika seseorang memiliki prasangka pada seseorang, maka prasangka yang muncul didasarkan pada keanggotaan orang tersebut pada sebuah kelompok dan bukan oleh karakteristik lain yang dimilikinya, seperti kepribadian, masa lalu atau karena kebiasaan negatifnya. Myers dkk berpendapat bahwa prasangka adalah penilaian yang tidak berdasar terhadap anggota/kelompok lain dan pengambilan sikap sebelum menilai dengan cermat sehingga menyimpang dari kenyataan. 2 Prasangka adalah sikap yang negative terhadap kelompok tertentu atau seseorang, semata-mata karena keanggotaannya dalam kelompok tertentu.3 Prasangka ini menurut penulis timbul karena penilaian yang tidak berdasar (unjustified) dan pengambilan sikap sebelum menilai dengan cermat, sehingga terjadi penyimpangan pandangan dari kenyataan yang sesungguhnya.

menciptakan musuh bersama (out group) untuk menggalang


1

Sarwono.W Sarlito. 2011. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika. Hal.226 2 Luthfi, Ikhwan dkk. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta. Hal.156 3 Sarwono. W Sarlito. 2002. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka. Hal.267

Iska, Neni Zikri. 2008. Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan. Jakarta: Kizi Brothers. Hal.114 5 Sarwono. W Sarlito. 2002. Psikologi Sosial: Individu dan Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: Balai Pustaka. Hal.286

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 1

rasa saling memiliki antara sesam orang Jerman dan bangsa Indonesia (in group). musuh bersama yang diciptakan Hitler adalah Yahudi, sedangkan Bung Karno menciptakan Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme). Dengan ikatan perasaan saling memiliki itu satu kelompok dapat sangat kompak dan militan. c) Kepribadian yang otoriter Adorno, dkk. (1950) melaporkan bahwa dari survei mereka terhadap orang-orang amerika dewasa pada tahun 1990 ternyata prasangka dan sikap bermusuhan terhadap orang yahudi selalu bersamaan dengan prasangka dan permusuhan terhadap golongan minoritas lain. Dengan kata lain, orang yang mempunyai prasangka akan berprasangka kepada semua golongan, sementara orang yang tidak berprasangka tidak mempunyainya sama sekali. Ini berarti bahwa prasangka lebih disebabkan oleh kepribadian, bukan oleh sikap. d) Faktor kognitif Prasangka dapat timbul karena adanya rangsang yang secara mencolok sangat berbeda dari lingkungannya. Misalnya orang Eropa di tengah penduduk desa Jawa Tengah akan

2.

Cara Mengatasi Prasangka Untuk mengatasi prasangka dapat dilakukan melalui : a) Hilangkan diskriminasi

b) Memperbanyak kontak antar kelompok c) Pola hubungan

B. DISKRIMINASI Diskriminasi contoh Apartheid.6 Adapun Vaughan dan Hogg (2005) menjelaskan bentuk-bentuk diskriminasi itu sebagai berikut: 1. Menolak untuk menolong Menolak untuk menolong adalah ciri dari diskriminasi rasial yang nyata. Penelitian eksperimen dari Gaertner dan Dovidio (1977 dalam Vaughan da Hogg, 2005) menunjukkan bahwa orang kulit putih lebih menolak untuk menolong confederate kulit hitam daripada confederate kulit putih dalam situasi darurat. Ini terjadi jika mereka memiliki belief bahwa ada penolong lain yang potensial. 2. Tokenisme Tokenisme adalah minimnya perilaku positif kepada pihak minoritas. Perilaku ini nanti digunakan sebagai pembelaan dan justifikasi bahwa ia sudah melakukan hal baik yang tidak melanggar diskriminasi (misalnya, saya sudah memberikan cukup, kan?). 3.
6

adalah

tingkah

laku

atau

perbuatan

yang

tidak

menguntungkan kepada orang lain karena ia menjadi anggota suatu kelompok,

menimbulkan berbagai prasangka karena bentuk fisiknya yang lain dari pada yang lain sehingga segera menimbulkan disonansi kognitif. Dalam hubungan ini terjadi proses generalisasi. Kalau buleyang pertama datang ke kampung itu membawa coklat, penduduk akan menyangka bahwa bule-bule berikutnya datang kekampung itu semua akan membawa cokelat.

Reverse Discrimination

Luthfi, Ikhwan dkk. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta. Hal.158

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 2

Reverse discrimination adalah praktik melakukan diskriminasi yang menguntungkan pihak yang biasanya menjadi target prasangka dan disikriminasi dengan maksud agar mendapatkan justifikasi dan terbebas dari tuduhan telah melakukan prasangka dan diskriminasi. Target Dari Prasangka dan Diskriminasi 1. Seksisme Nampaknya prasangka dan diskriminasi yang paling banyak terjadi adalah dalam pembedaan antara pria dan wanita. 2. Rasisme Diskriminasi terhadap ras dan etnis tampaknya merupakan diskriminasi yang paling banyak menimbulkan perbuatan brutal di muka bumi ini. Banyak penelitian psikologi sosial berfokus pada sikap terhadap anti-kulit hitam di Amerika Serikat. Sejak beratesratus tahun sudah disebutkan bahwa sikap kulit putih terhadap orang negro di AS adalah negatif. Mereka cenderung melihat bahwa kulit hitam merefleksikan persepsi umum mengenai orang desa, budak dan pekerja kasar. 3. Ageism Hasil penelitian dari Noels, Giles dan La Poire (2003 dalam Vaughan dan Hogg, 2005) menunjukkan bahwa dewasa muda cenderung menilai individu di atas 65 tahun sebagai orang yang mudah tersinggung, tidak sehat, tidak menarik, tidak bahagia, pelit, tidak efektif, kurang terampil secara sosial, lemah, terlalu mengontrol, terlalu membuka diri, egosentris, tidak kompeten, kasar dan ringkih. 4. Diskriminasi terhadap kelompok homoseksual 5.

Prasangka terhadap homoseksualitas semakin menyebar. Sebagai contoh, sebuah survey di AS oleh Levitt dan Klasen pada tahun 1974 menunjukkan bahwa mayoritas orang memiliki belief bahwa homoseksualitas adalah penyakit dan perlu untuk dilarang secara legal. Bahkan dalam penelitian Henry, ditemukan hanya 39% orang yang mau mengunjungi praktik dokter seorang homoseksual. Diskriminasi berdasarkan keterbatasan fisik Diskriminasi atas orang yang memiliki keterbatasan fisik dianggap illegal dan tidak diterima secara sosial, bahkan masyarakat di Australia dan Selandia Baru sangat sensitif dengan kebutuhan orangorang yang berkebutuhan khusus ini. Mereka menyediakan fasilitas umum yang mempertimbangkan kepentingan kaum yang mengalami keterbatasan fisik ini. Misalnya, toilet yang khusus, jalur yang khusus untuk kursi roda di area publik.

C. STEREOTIP Stereotip (stereotypes) adalah kerangka berfikir kognitif yang terdiri dari pengetahuan dan keyakinan tentang kelompok sosial tertentu dan traits tertentu yang mungkin dimiliki oleh orang yang menjadi anggota kelompokkelompok ini. Dengan kata lain, stereotip menyatakan bahwa setiap orang yang menjadi anggota kelompok sosial tertentu memiliki traits-traits tertentu, setidaknya pada derajat tertentu. Seperti kerangka berfikir kognitif, stereotip memberikan efek kuat bagaimana kita memproses informasi sosial. Informasi yang relevan dengan stereotip yang diaktifkan sering kali diproses dengan lebih cepat dan diingat

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 3

lebih baik, daripada informasi yang tidak berhubungan dengan hal tersebut. Serupa dengan hal tersebut, stereotip mendorong seseorang memperhatikan jenis-jenis informasi tertentu. Stereotip dapat dikatakan gambaran atau tanggapan tertentu mengenai sifat-sifat dan watak pribadi oarang golongan lain yang bercorak negatif.
7

sering

tanpa

disadari.

Label-label

kategori

adalah

penting

dalam

memunculkan perasaan atau anggapan terhadap kategori itu.

Intervensi Kognitif Stereotip memainkan peran penting dalam prasangka.

Dua orang psikolog sosial, Dunning dan Sherman, mendeskripsikan stereotip sebagai penjara kesimpilan (inferential prisons). Ketika stereotif telah terbentuk, stereotif akan membangun persepsi kita terhadap orang lain, sehingga informasi baru tentang orang akan diinterpretasikan sebagai penguatan terhadap stereotip kita, bahkan ketika hal ini tidak terjadi. Pendekatan stereotif implisit ini memunculkan gagasan inovatif yang meembedakan antara dua jenis pengukuran stereotip dan prasangka. Pengukuran pelaporan diri (self-report) konvensional dideskripsikan sebagai refleksi dari sikap eksplisit, yang diasumsikan untuk merefleksikan pemrosesan terkontrol. Sebaliknya, implicit stereotypes (Stereotif implisit) mereflesikan asosiasi yang sudah dikenali dengan baik yang dapat secara otomatis diaktifkan, dan karenanya bersifat spontan, tak terkontrol, dan tak diniatkan. Stereotip implisit ini tidak bisa dipikirkan lebih dahulu, dan seseorang dapat dikatakan mungkin tidak menydarinya sama sekali atau tidak menyadari bagaimana stereotip ini mempengaruhi persepsinya terhadap orang lain. Akibatnya, stereotip implisit tidak dapat diukur dengan mudah, seperti ditunjukan dalam bagian research Highlight. Pendekatan kognitif memandang stereotip dan prasangka berasal dari proses kognitif normal, terutama dari kategorisasi individu menjadi ingroup dan out-group. Pemrosesan berbasis kategori cenderung otomatis dan
7

Kecenderungan untuk memikirkan orang lain dalam hubungannya dengan keanggotaan mereka dalam bebagai kelompok atau kategori (dikenal sebagai category-driven processing), tampaknya menjadi faktor kunci bagi terjadi dan menetapnya beberapa bentuk prasangka. Jika hal ini benar, maka intervensi yang diirancang untuk mengurangi dampak stereotip dapat terbukti sangat efektif dalam mengurangi prasangka dan diskriminasi. Dampak stereotip dapat dikurangi dengan memotivasi orang lain untuk tidak berprasangka. Sebagai contoh, dengan membuat mereka menyadari norma-norma keadilan dan standar yayng menuntut semua menerima perlakuan yang sama. Sama halnya, ketergantungan pada stereotip dapat dikurangi dengan mendorong seseorang untuk memikirkan orang lain secara hati-hati dengan lebih memperhatikan keunikan karakteristiknya dari pada keanggotaannya dalam berbagai kelompok.

D. GENDER Ketika kita bertemu dengan orang baru, kita pasti berusaha mengidentifikasinya sebagai pria atau wanita. Alasannya, karena gender adalah salah satu kategori paling dasar dalam kehidupan sosial. Proses mengkategorisasikan orang dan sesuatu menjadi maskulin atau feminine dinamakan gender typing (atau sex-typing) (penjenisan gender). Proses ini biasanya terjadi secara otomatis, tanpa banyak pemikiran mendalam.

Gerungan, Psycologi Sosial, (Jakarta: PT. Eresco, 1981), h. 168

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 4

Perbedaan antara wanita dan pria adalah prinsip universal dalam kehidupan sosial. Saat masih anak-anak, pria, dan wanita diharapkan menguasai keterampilan yang berbeda dan mengembangkan kepribadian yang berbeda pula. Saat dewasa, pria dan wanita biasanya mengasumsikan peran gender seperti suami dan istri, ayah dan ibu.

Akan tetapi, meski ada perubahan, stereotip tentang atribut pria dan wanita masih tak berubah. Stereotip Gender Umum CIRI KHAS WANITA Lembut Gampang menangis Agresif Tidak emosional Menyukai matematika dan sains Menyukai dunia Ambisius Objektif Dominan Kompetitif Percaya diri Logis Bertindak sebagi pemimpin Independen CIRI KHAS PRIA

Stereotif Kultural dan Personal Ada perbedaan antara stereotif kultural dan personal. Cultural stereotypes (stereotip kultural) adalah keyakinan tentang jenis kelamin yang dikomunikasikan melalui media massa, agama, seni, dan literature (sastra). Sebagai individu, kita mengenal stereotip kultural, tetapi mungkin kita tak sepakat dengannya. Misalnya, kita tahu bahwa kultur kita menggambarkan wanita sebagai sosok yang kurang kompeten ketimbang lelaki, namun mungkin kita menolak penggambaran ini. Personal Stereotypes (stereotip personal) adalah keyakinan unik kita tentang atribut suatu kelompok orang seperti kelompok wanita dan pria. Isi stereotip dideskripsikan dalam term ciri personal umum yang mencirikan masing-masing jenis kelamin. Kebanyakan dari kita percaya tentang ciri global yang membedakan pria dan pria dan wanita. Riset menunjukan bahwa pria umumnya dinilai lebih tinggi ketimbang wanita dalam hal ciri-ciri yang berhubungan dengan kompetensi, seperti

Suka seni dan sastra Tidak menggunakan kata kasar Berbudi Agamis Tertarik pada penampilannya sendiri Peka pada perasaan orang lain Butuh keamanan Suka mengobrol Rapi Tergantung

Pengaktifan Stereotip Jumlah Informasi Semakin sedikit informasi yang tersedia mengenai seseorang, semakin besar kemungkinan kita akan memahami atau bereaksi terhadapnya berdasarkan stereotip. Ketika kita punya tentang atribut unik dari orang tertentu, kita cenderung tidak mengandalkan stereotip. Kemenonjolan Keanggotaan Kelompok Faktor kedua yang dapat mengaktifkan penggunaan stereotip adalah kemenonjolan keanggotaan kelompok seseorang, yang kasus ini adalah

kepemimpinan, objektivitas, dan independensi. Sebaliknya, wanita biasanya dinilai lebih tinggi dalam ciri-ciri yang berhubungan dengan kehangatan dan ekspresi, seperti kelembutan dan kepekaan terhadap perasaan orang lain. Sejak Pertengahan 1970-an, ada banyak perubahan dalam peran wanita di AS, termasuk peningkatan dramastis jumlah wanita yang bekerja diluar rumah.

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 5

gender. Faktor lain yang mempengaruhi kemenonjolan gender adalah proporsi wanita dibanding pria dalam satu kelompok. Gender seseorang lebih menonjol jika jumlahnya minoritas dalam suatu kelompok. Kekuasaan dan Stereotyping Susan Fiske (1993) menyatakan bahwa keseimbangan kekuasaan akan mempengaruhi tendensi stereotip. Fiske mengatakan bahwa analisnya relevan untuk memahami stereotip gender karena wanita serig berada dalam posisi kekuasaan yang lebih rendah ketimbang pria. Dua Bentuk Prasangka Berdasarkan Gender Seksisme yang penuh kebencian (hostile sexism) berpandangan bahwa wanita, jika tidak inferior daripada pria, memiliki banyak sifat negatif (contoh, mereka ingin diistimewakan, terlalu sensitif, atau berusaha merebut kekuasaan dari pria yang tidak sepantasnya dan tak seharusnya mereka miliki). Seksisme bentuk halus (benevolent sexism) berpandangan bahwa wanita pantas memperoleh perlindungan, superior dibandingkan pria dalam Prasangka Berdasarkan Gender Sifat Dasar dan Dampaknya Lebih dari setengah populasi dunia adalah peremuan. Walaupun faktanya demikian, banyak budaya yang masih memperlakukan wanita sebagai kelompok minoritas. Mereka tidak dilibatkan dalam kegiatan ekonomi dan politik; mereka menjadi korban stereotip negatif yang kuat; dan mereka telah menghadapi diskriminasi yang jelas dalam berbagai aspek kehidupan-di tempat kerja, pendidikan yang lebih tinggi, dan pemerintahan. Situasi ini telah berubah setidaknya di beberapa Negara dan pada derajat tertentu. Praktik diskriminasi telah dilarang oleh hukum-hukum di berbagai Negara, dan setidaknya stereotip negatif yang berdasarkan pada gender perlahan mulai menghilang. Walaupun perubahan tersebut terjadi, seksisme (sexism), prasangka berdasarkan gender terus memberikan efek yang buruk bagi wanita diberbagai negara. Karena prasangka berdasarkan gender mempengaruhi lebih banyak individu dari pada prasangka lain (lebih dari setengah umat manusia), sehingga tentunya layak memperoleh perhatian kita. Menurut Glick dan koleganya, kedua bentuk seksisme itu mereflesikan kenyataan bahwa pria telah lama memiliki posisi dominan dalam kebanyakan masyarakat manusia. Sebagai hasil kekuatan ini, mereka memandang wanita inferior dalam banyak hal. Namun, pada saat yang sama, pria menjadi tergantung pada wanita untuk peran-peran domestik yang mereka mainkan dan untuk keintiman dan cinta yang mereka berikan. Kenyataan ini, pada gilirannya, telah berkontribusi pada perkembangan seksisme yang halus. Lebih jauh, seperti yang telah diduga, semakin tinggi kedua bentuk seksisme, semakin rendah kesetaraan gender (dalam hubungannya dengan kehadiran wanita dengan status pekerjaan, pendidikan, dan standar hidup yang tinggi). Hal ini khususnya benar untuk seksisme yang dimiliki oleh pria tetapi juga untuk wanita. Secara keseluruhan, tampak jelas bahwa berbagai hal (contoh, mereka lebih murni, memiliki selera lebih baik), dan diperlukan untuk kebahagiaan pria (contoh, tidak ada pria yang utuh kecuali ia memilki wanita yang ia puja dalam hidupnya).

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 6

seksisme tidak selalu mengimplikasikan secara seragam pandangan negatif terhadap wanita atau kebencian terhadap wanita. Hal ini melibatkan apa yang sebelumnya tampak sebagai wajah yang lebih baik, juga lebih halus. Akan tetapi, seperti yang disampaikan oleh Glick dan koleganya (2000), seksisme halus pun adalah sebuah bentuk prasangka; hal tersebut juga dapat mempertahankan peran wanita sebagai bawahan. Sehingga seksisme halus juga menghalangi pencapaian tujuan kesetaraan yang penuh, yang merupakan nilai utama di Amerika Serikat dan berbagai Negara lain.

Ringkasnya, meskipun streotip gander berkontribusi pada keberadaan diskriminasi terhadap kaum wanita, namun hal itu bukanlah satu-satunya penyebab. Perbedaan penghargaan terhadap kedua gander, juga berkontribusi terhadap masalah yang berkembang.

Diskriminasi Terhadap Perempuan Peran harapan Satu faktor yang menentukan pergerakan kaum perempuan yang melibatkan harapan mereka sendiri. Secara umum, wanita tampaknya

Dasar Kognitif Seksisme Seksisme melibatkan stereotip gender (stereotaipe gender) keyakinan tentang karakteristik yang seharusnya dimiliki oleh wanita dan pria. Stereotip ini ada bagi kedua gender dan berisi Trait baik yang positif maupun negatif, sebagai contoh, sisi positif dan negatif gender bagi wanita adalah wanita di pandang baik, keibuan , dan penuh pengertian. Sisi negatifnya, mereka dipandang sulit mengambil keputusan, pasif dan terlalu emosional. Serupa dengan pria, pria dipandang memiliki Trait positif dan negatif (contoh, mereka dipandang tegas asertif, dan aktif, tetapi juga agresif, tidak sensitif dan arogan; Hosada dan Stone, dalam publikasi). Walaupun stereotip gander adalah bagian yang penting bagi keberadaan seksisme, namun bukanlah factor satu-satunya. Jackson, Eses, dan Burris menyatakan bahwa variable lain yang tentunya berbeda juga penting. Secara khusus, baik anita dan pria mengekspresikan penghargaan yang lebih tinggi kepada pria. Mengapa? Mungkin karena pria terus-menerus memegang posisi dengan kekuasaan yang lebih besar dan status yang lebih tinggi dalam masyarakat.

memiliki harapan yang lebih rendah terhadap karir mereka dari pada lakilaki. Mereka berharap menerima gaji awal dan gaji puncak lebih rendah. Dan mereka memandang gaji yang lebih rendah bagi perempuan adalah sesuatu yang adil. Peran keyakinan dan persepsi diri Keyakinan yang seringkali disebut, adalah sebuah predictor yang paling baik bagi kesuksesan. Orang yang berharap sukses seringkali sukses; mereka yang berpikir akan gagal menemukan bahwa dugaan tersebut menjadi kenyataan. Sayangnya, wanita cenderung mengeekspresikan kepercayaan diri yang lebih rendah dalam berbagai situasi yang berhubungan dengan prestasi, mungkin karena mereka adalah korban dari seksisme dalam situasi tersebut. Pada gilirannya, ini dapat berkontribusi pada kenyataan bahwa kaum wanita belum mencapai kesejajaran dengan pria diberbagai situasi pekerjaan. Reaksi negatif terhadap otoritas perempuan Saat ini, pada umumnya orang setuju bahwa wanita mampu untuk menjadi pemimpin yang efektif. Wanita telah terpilih untuk menduduki

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 7

jabatan dikantor-kantor besar (perdana mentri, senator), telah ditunjuk sebagai hakim senior (contoh, di Mahkamah Agung di Amerika serikat), jabatan yang tinggi di Militer dan dalam beberapa kasus direktur perusahaan besar dan organisasi.

untuk tidak memberikan pendidikan kepada wanita dan membuat mereka tetap tinggal di rumah saja.

Bahaya-Bahaya Dari Stereotip Stereotip pribadi, seperti bagan-bagan sosial lainnya merupakan suatu cara sosial lainnya, merupaan suatu cara dimana kita mencoba memaknakan kehidupan. Tetapi seperti komponen mental lainnya, stereotip mengandung masalah-masalah bawaan tertentu. Salah satunya adalah bahwa stereotip-stereotip selalu terlampau menyederhanakan dan seringkali sanagat keliru. Misalnya, keyakinan bahwa pria lebih cerdas dari wanita telah dibantah oleh penelitian ilmiah. Sayangnya, orang jarang meninjau kembali akurasi dari stereotipnya. Masalah kedua adalah bawha stereotip terlalu membesar-besarkan antar kelompok dan memperkecil perbedaan didalam kelompok. Stereotip jenis

kelamin dapat membuat sedemikian rupa sehingga seolah-olah semua pria itu serupa, padahal kenyataanya sangat banyak perbedaan individual diantara pria. Hal serupa juga terjadi pada perbedaan diantara wanita dan stereotip jenis kelamin dapat juga membuat seoah-olah pria dan wanita itu amat berbeda padahal biasanya persamaannya justru lebih banya dari pada perbedaannya. Stereotip jenis kelamin dapat menciptkan pandangan yang sangat keliru tenang manusia. Bahaya yang terakhir dari stereotip adalah bahwa seringkali setereotip digunakan untuk membenarkan prasangka dan diskriminasi terhadap anggota kelompok tertentu. Dalam sejarah, kepercayaan yang keliru dimana wanita dianggap tidak mungkin sepandai pria dan wanita kurang berambisi digunakan

Psikologi Sosial Prasangak, Stereotip, Diskriminasi

Page | 8