Anda di halaman 1dari 36

BAB II TINJAUAN TEORITIS

A. 1.

Konsep Dasar Pengertian Hiperplasia Prostat Benigna (BPH) adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia dan penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas usia 60 tahun (Brunner & Suddarth, 1999). BPH adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostat yang menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Doenges, 2000). Dahulu disebut juga sebagai hipertrofi prostat jinak (Benign Prostat Hipertropy = BPH), istilah hipertrofi karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretral yang mendesak jaringan prostat yang asli ke periper dan menjadi simpai bedah (Mansjoer, Arief, 2000).

2.

Anatomi dan fisiologi a. Anatomi Prostat Merupakan kelenjar yang berada dibawah vesika urinaria melekat pada dinding bawah vesika urinaria disekitar uretra bagian atas. Kelenjar prostat kira-kira sebesar buah kenari, berat prostat pada orang dewasa normal kira-kira 20 gram, yang letaknya retroperitonial,

melingkari leher kandung kemih dan uretral dan terdiri dari kelenjar majemuk, saluran-saluran dan otot polos. Kelenjar prostat, merupakan suatu kelenjar yang terdiri dari 30 50 kelenjar, yang terbagi atas lima lobus, yaitu lobus posterior, medius, anterior dan dua lobus lateral, tetapi selama perkembangan selanjutnya ketiga lobus posterior bersatu dan disebut lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus-lobus lain tampak homogen berwarna keabu-abuan, dengan kista kecil-kecil berisi cairan seperti susu. Kista-kista ini ialah kelenjar-kelenjar postat. b. Fisiologi Prostat ialah suatu alat tubuh yang bergantung pengaruh endokrin dan dapat dianggap imbangan (counterpart) dari pada payudara pada wanita. Fungsi kelenjar prostat, menambah cairan alkalis pada cairan seminalis, yang berguna melindungi spermatozoa terhadap tekanan yang terdapat pada uretra. 3. Etiologi Penyebab BPH belum jelas, namun terdapat faktor risiko umur dan hormon androgen. Perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria usia 30 40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pada pria usia 50 tahun keatas (Mansjoer Arief, 2000).

4. Patogenesis Menurut Mansjoer Arif (2000), ialah : a. Teori Dehidrostetosteron (DHT)

Telah disepakati bahwa aksis hipofisis testis dan reduksi testosteron menjadi dehidrotestosteron dalam sel prostat menjadi faktor terjadinya penetrasi DHT kedalam inti sel yang dapat menyebabkan inskripsi pada RNA sehingga menyebabkan terjadinya sintesis protein. Proses reduksi ini difasilitasi oleh enzim 5-a-reduktase. b. Teori Hormon

Estrogen berperan pada inisiasi dan maintenance pada prostat manusia. c. Faktor interaksi stroma dan epitel

Hal ini banyak dipengaruhi oleh growth factor. Basic Fibroblast Growth Factor (b-FGF) dapat menstimulasi sel stroma dan ditemukan dengan konsentrasi yang lebih besar pada klien dengan pembesaran prostat jinak. b-FGF dapat dicetuskan oleh mikrotrauma karena miksi, ejakulasi atau infeksi. d. Teori kebangkitan kembali (reawakening)

atau reinduksi dari kemampuan mesenkim sinus urogenital untuk berproliferasi dan membentuk jaringan prostat. Patofisiologi Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada

5.

tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher bulibuli dan daerah prostat meningkat, serta otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi lagi sehingga terjadi retensio urine, yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas. Adapun patofisiologi dari masingmasing gejala awal BPH adalah: a. Penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang disebabkan resistensi uretra adalah gambaran awal dan menetap dari BPH. b. Hesitancy terjadi karena destrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat melawan resistensi uretra. c. Intermittency terjadi karena destrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urine yang banyak dalam buli-buli. d. Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval pada tiap miksi lebih pendek. e. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturia) karena hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama tidur.

f. Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan destrusor sehingga terjadi kontraksi involunter. g. Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan

berkembangnya penyakit urine keluar sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum, tekanan dalam buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan sfingter. Skema Patofisiologi (Mansjoer, Arief (2000) Bertambahnya Usia Reaksi enzim 5-a-reduktase Produksi testosteron Menuurun DHT DHT reseptor kompleks dalam sitoplasma sel prostat Inti sel RNA Sintesis protein Proliferasi sel Pembesaran prostat Perubahan pada Traktus urinarius akibat resistensi Uretra Tonus trigonum dan leher vesika kekuatan kontraksi destrusor 10 Rangsangan pada vesika Testosteron menurun Estrogen meningkat Reaksi enzim aromatase

Konversi testosteron menjadi estrogen Tidak seimbang

Fase kompensasi (penebalan destrusor ) Dekompensasi otot destrusor

Kontraksi vesika meningkat walaupun belum penuh Iritasi mukosa

1) 2)

Nokturia, Urgency, Disuria Frekuensi meningkat Nyeri akut

Kekuatan kontraksi destrusor menurun Dekompensasi otot destrusor menurun/gagal Dengan gejala obstruksi : 1) Hesitency 2) Intermittency 3) Terminal dribbling 4) Pancaran lemah 5) Rasa belum puas sehabis miksi Urine sisa Prostatektomi Post operasi

Terpasang kateter Tekanan dan iritasi kateter / balon Nyeri akut

irigasi bladder Kurang 2500 ml/24 jam urine sedikit terbentuk aliran urine tidak lancar bekuan darah terbentuk

luka operasi

konsumsi minum 2500-3000 ml/24 jam

banyak terbentuk urine aliran urine lancar bekuan darah tidak terbentuk

11

Retensi urine

Distensi bladder

perdarahan

nyeri bladder perembesan urine

6. Manifestasi klinis Biasanya pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai Lower Urineary Tract Symptoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif (Mansjoer Arief, 2000). a. Gejala iritatif : 1) Sering miksi (frekuensi). 2) Terbangun untuk miksi pada malam hari (nocturia). 3) Perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgency). 4) Nyeri pada saat miksi (disuria). b. Gejala obstruktif : 1) Pancaran melemah. 2) Rasa tidak lampias sehabis miksi. 3) Kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitency). 4) Harus mengedan (straining). 5) Miksi terputus-putus (intermittency). 6) Waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urine dan inkontinensia urine karena overflow. Selain gejala diatas, gejala generalisata mungkin juga tampak termasuk keletihan, anoreksia, mual dan muntah, dan rasa tidak nyaman pada epigastrik.

12

Gejala dan tanda pada klien yang telah lanjut penyakitnya, misalnya gagal ginjal, yang dapat ditemukan uremia, peningkatan tekanan darah, denyut nadi, respirasi, foetor uremik, perikarditis, ujung kuku yang pucat, tanda-tanda penurunan mental serta neuropati perifer. Bila sudah terjadi hidronefrosis atau pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri di Costo Vertebrae Angularis (CVA). Buli-buli yang distensi dapat dideteksi dengan palpasi dan perkusi. Pemeriksaan penis dan uretra penting untuk mencari etiologi dan menyingkirkan diagnosis banding seperti sriktur, karsinoma, stenosis meatus atau fimosis. Derajat berat obstruksi dapat diukur dengan menentukan jumlah sisa urine setelah miksi spontan, sisa urine diukur dengan cara mengukur sisa urine yang masih dapat dikeluarkan dengan kateterisasi. Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan inter vensi pada hipertropi prostat (Mansjoer Arief, 2000 : 332). 7. Pemeriksaan penunjang

Menurut Mansjoer Arief, (2000) pemeriksaan penunjang pada penyakit BPH, meliputi : a. Pemeriksaan laboratorium Analisis urine dan pemeriksaan mikroskopik urine penting untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri dan infeksi. Bila terdapat hematuri harus diperhitungkan etiologi lain seperti keganasan pada saluran kemih, batu, infeksi saluran kemih.

13

Elektrolit, kadar ureum, dan kreatinin darah merupakan informasi dasar dari fungsi ginjal dan status metabolik. Pemeriksaan Prostat Spesifik Antigen (PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini keganasan. b. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan yang biasanya dilakukan adalah foto polos abdomen, pielografi intravena, USG dan sistoskopi, tujuannya adalah untuk memperkirakan volume BPH. 8. Diagnosis Banding Kelemahan otot destrusor dapat disebabkan oleh kelainan saraf (kandung kemih neurologik), misalnya pada lesi medula spinalis, neuropati diabetes, bedah radikal yang mengorbankan persarafan didaerah pelvis, dan penggunaan obat-obatan (penenang, penghambat reseptor ganglion dan parasimpatik). Kekakuan leher buli-buli dapat disebabkan oleh proses fibrosis. Resistensi uretra dapat disebabkan oleh pembesaran prostat (jinak atau ganas), tumor dileher buli-buli, batu uretra dan striktur uretra. 9. Penatalaksanaan Rencana pengobatan bergantung pada penyebab, keparahan obstruksi, dan kondisi klien (Mansjoer Arief, 2000).

a.Observasi

14

Dilakukan pada klien dengan keluhan ringan, nasehat yang diberikan ialah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia, dan menghindari mengurangi obat-obat minum kopi dekongestan dan tidak

(parasimpatolitik),

diperbolehkan minum alkohol. b.Terapi Medikamentosa 1) Penghambat adrenergik a Obat yang biasa dipakai ialah prazosin, yang berfungsi untuk mengurangi obstruksi pada buli-buli tanpa merusak kontraktilitas destrusor. 2) Penghambat 5-a-reduktase Obat yang dipakai adalah finasteride. Golongan obat ini dapat menghambat pembentukan DHT sehingga prostat yang membesar akan mengecil. 3) Fitoterapi Terapi Bedah Waktu penanganan untuk tiap klien bervariasi tergantung berat ringannya gejala dan komplikasi. Indikasi absolut untuk terapi bedah, yaitu : 1) 2) 3) 4) Retensio urine berulang. Hematuri. Tanda penurunan fungsi ginjal. Infeksi saluran kemih berulang.

15

5)

Tanda-tanda obstruksi berat, yaitu divertikel, hidroureter, dan hidronefrosis.

6)

Ada batu saluran kemih.

Engram, Barbara (1999) menyebutkan ada empat cara pembedahan prostatektomi, masing-masing dengan hasil yang berbeda, yaitu: 1). Transurethral Resection of the Prostate (TURP) a). Jaringan abnormal diangkat melalui rektoskop yang

dimasukan melalui uretra. b). Tidak dibutuhkan balutan setelah operasi. c). Dibutuhkan kateter foley setelah operasi. 2). Prostatektomi suprapubik a) Penyayatan perut bagian bawah dibuat melalui leher

kandung kemih. b) Diperlukan verban luka drainase, kateter foley dan

kateter suprapubik setelah operasi. 3). Prostatektomi retropubis a). b). c). 4). Penyayatan dilakukan pada perut bagian bawah. Tidak ada penyayatan pada kandung kemih. Diperlukan balutan luka, foley kateter, dan drainase. Prostatektomi perineal a). Penyayatan dilakukan diantara skrotum dan anus. b). Digunakan jika diperlukan prostatektomi radikal. c). Vasektomi dilakukan sebagai pencegahan epididimistis.

16

d). Persiapan

buang

hajat

diperlukan

sebelum

operasi

(pembersihan perut, enema, diet rendah sisa dan antibiotik). e). Setelah operasi balutan perineal dan pengeringan luka (drainase) dilekatkan pada tempatnya kemudian dibutuhkan rendam duduk. d. Terapi Invasif Minimal 1) Thermotherapy (TUMT). 2) (TUBD). 3) Ultrasound. 4) 5) B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Proses Keperawatan adalah proses yang terdiri dari lima tahap, yaitu pengkaji, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Doenges, 2000). 1. Pengkajian Menurut Doenges, (2000), pengkajian pada klien dengan Hiperplasia Prostat Benigna, meliputi : a. Sirkulasi darah Tanda : Peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal). Ablasi jarum Transuretra. Stent Prostat. High-instensity Focused Dilatasi Balon Transurethral Transurethral Microwave

17

b.

Eliminasi Gejala : Penurunan kekuatan / dorongan aliran urine; tetesan, keraguraguan pada berkemih awal, ketidakmampuan untuk

mengosongkan kandung kemih dengan lengkap; dorongan dan frekuensi berkemih, nokturia, disuria, hematuri, duduk untuk berkemih, inpeksi saluran kemih berulang, riwayat batu (stasis urinaria), konstipasi (protrusi prostat kedalam rektum). c. Makanan / cairan Gejala : Anoreksia, mual, muntah, penurunan berat badan. d. Nyeri / kenyamanan Gejala : Nyeri Suprapubis, panggul, atau punggung; tajam, kuat, nyeri punggung bawah. e. Keamanan Gejala : Demam. f. Seksualitas Gejala : Masalah tentang efek kondisi/terapi pada kemampuan seksual, takut inkontinensia/menetes selama hubungan intim, penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi. g. Penyuluhan / pembelajaran Gejala : Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal, penggunaan antihipertensi atau antidepresan, antibiotik urinarius atau agen antibiotik, obat yang diual bebas untuk flu/alergi obat mengandung simpatomimetik.

18

Pertimbangan pemulangan : Memerlukan bantuan dengan manajemen terapi, contoh cateter. h. Pemeriksaan Diagnostik 1) Urinalisa : Warna kuning, coklat gelap, atau terang (berdarah); penampilan keruh; pH 7 atau lebih besar (menunjukkan infeksi); bakteri. 2) Kultur urine : Dapat menunjukkan Staphylococcus aureus, Proteus, Klebsiella, Pseudomonas atau Escherchia coli. 3) Sitologi urine : Untuk mengesampingkan kanker kandung kemih. 4) 5) BUN / Kreatinin : Meningkat bila fungsi ginjal dipengaruhi. Asam fosfat serum / antigen khusus prostatik : Peningkatan karena pertumbuhan selular dan pengaruh hormonal pada kanker prostat (dapat mengidentifikasikan metastase tulang). 6) Sel Darah Putih (SDP) : Mungkin lebih besar dari 11.000 mm3, mengidentifikasikan infeksi bila klien tidak imunosupresi. 7) Penentuan kecepatan aliran Urine : Mengkaji derajat obstruksi kandung kemih. 8) IVP dengan film pasca berkemih : Menunjukkan perlambatan pengosongan kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih.

19

9)

Sistouretrografi berkemih : Digunakan sebagai ganti IVP untuk memvisualisasi kandung kemih dan uretra karena ini

menggunakan bahan kontras lokal. 10) Sistogram : Mengukur tekanan dan volume dalam kandung kemih untuk mengidentifikasi disfungsi yang tak berhubungan dengan BPH. 11) Sistouretroskopi : Untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan dan perubahan dinding kandung kemih (kontra indikasi pada adanya infeksi saluran kemih (ISK) akut sehubungan dengan risiko sepsis gram negatif). 12) Sistometri : Mengevaluasi fungsi otot destrusor dan tonusnya. 13) Ultrasound transrektal : Mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine; melokalisasi lessi yang tak berhubungan dengan BPH. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinik mengenai respon individu, keluarga, dan komunitas terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan yang aktual dan potensial (Doenges, 2000). Menurut Doenges (1999), diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan BPH, yaitu: a. Diagnosa keperawatan Pra operasi 1) Retensi urine (akut/kronik) berhubungan dengan obstruksi mekanik; pembesaran prostat, dekompensasi otot destrusor,

20

ketidak mampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. 2) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih, kolik ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi. 3) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan

berhubungan dengan pasca obstruksi urine dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis, Endokrin: ketidak seimbangan elektrolit (disfungsi ginjal). 4) Ketakutan/ansietas berhubungan dengan perubahan status

kesehatan; kemungkinan prosedur bedah, malu / hilang martabat sehubungan dengan pemajanan genital sebelum, selama dan sesudah tindakkan; masalah tentang kemampuan seksualitas. 5) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,

prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, masalah tentang area sensitive. b. Diagnosa keperawatan Pasca operasi 1) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi

mekanikal : bekuan darah, edema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter/balon. 2) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vascular, kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukkan praoperatif.

21

3) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasive: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering, trauma jaringan, insisi bedah (contoh perineal). 4) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan/atau tekanan dari balon kandung kemih (traksi). 5) Risiko disfungsi seksual sehubungan dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan kateter, keterlibatan area genital). 6) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,

prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi. 3. Perencanaan keperawatan Perencanaan merupakan petunjuk untuk penanganan, aktivitas dan tindakan yang membantu pasien dalam mencapai hasil yang diharapkan (Doenges, 2000). Menurut Doenges, (2000), rencana tindakan keperawatan pada klien dengan Benigna Prostat Hiperplasia, adalah : a. Pra operasi 1) Retensi urine (akut/kronik) berhubungan dengan obstruksi mekanik; pembesaran prostate, dekompensasi otot destrusor,

22

ketidak mampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat. Hasil yang diharapkan : Tidak teraba distensi kandung kemih (bladder), tidak ada retensi urine, menunjukkan residu paska berkemih kurang dari 50 ml, dan tidak adanya tetesan/kelebihan cairan. Rencana Tindakan : a) Dorong klien untuk berkemih tiap 2 4 jam dan bila tibatiba dirasakan. b) c) d) e) f) Tanyakan klien tentang inkontinensia stress. Observasi aliran urine, perhatikan ukuran dan kekuatan. Awasi dan catat waktu dan jumlah tiap berkemih. Perkusi dan palpasi daerah suprapubik. Dorong pemasukan cairan sampai 3000 ml sehari, dalam toleransi jantung bila di indikasikan. g) h) i) j) Awasi tanda vital dengan ketat. Berikan / dorong kateter lain dan perawatan perineal. Berikan rendam duduk sesuai indikasi. Kolaborasi : berikan obat sesuai indikasi (antispasmodic).

Rasionalisasi : a) Meminimalkan retensi urine distensi berlebihan pada kandung kemih.

23

b)

Tekanan uretral tinggi menghambat pengosongan kandung kemih atau dapat menghambat berkemih sampai tekanan abdominal meningkat cukup untuk mengeluarkan urine secara tidak sadar.

c) d)

Berguna untuk mengevaluasi obstruksi dan pilihan intervensi. Retensi urine meningkatkan tekanan dalam saluran perkemihan atas, yang dapat mempengaruhi fungsi ginjal.

e) f)

Distensi kandung kemih dapat dirasakan didaerah suprapubik. Peningkatan aliran cairan, mempertahankan perfusi ginjal dan membersihkan ginjal dan kandung kemih dari pertumbuhan bakteri.

g)

Kehilangan fungsi ginjal mengakibatkan penurunan eliminasi cairan dan akumulasi sisa toksik.

h) i)

Menurunkan risiko infeksi asenden. Meningkatkan relaksasi otot, penurunan edema, dan dapat meningkatkan upaya berkemih.

j) iritasi oleh kateter.

Menghilangkan spasme kandung kemih sehubungan dengan

2) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa, distensi kandung kemih, kolik ginjal; infeksi urinaria; terapi radiasi. Hasil yang diharapkan : Klien tampak rileks, mampu untuk istirahat / tidur dengan tepat, klien mengatakan sakitnya berkurang atau hilang. Rencana Tindakan :

24

a) lamanya. b)

Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 10)

Plester selang drainase pada paha dan kateter pada abdomen (bila traksi tidak diperlukan).

c) d)

Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Berikan tindakan kenyamanan, contoh: pijatan punggung, membantu klien melakukan posisi yang nyaman dan dorong penggunaan relaksasi / latihan napas dalam.

e) air hangat.

Dorong menggunakan rendam duduk dengan menggunakan

Kolaborasi : f) g) Masukkan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainase. Berikan obat sesuai indikasi: antispasmodic dan sedative kandung kemih, serta narkotik sesuai indikasi. Rasionalisasi : a) Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan / keefektifan intervensi. b) penis-skrotal. c) Tirah baring mungkin diperlukan pada awal fase retensi akut. Namun ambulasi dini dapat memperbaiki pola berkemih normal dan menghilangkan nyeri kolik. Mencegah penarikan kandung kemih dan erosi pertemuan

25

d)

Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan kemampuan koping.

e) f) kepekaan kelenjar. g)

Meningkatkan relaksasi otot. Pengaliran kandung kemih menurunkan tegangan dan

Menghilangkan kepekaan kandung kemih, diberikan untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan relaksasi mental dan fisik. 3) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan pasca obstruksi diuresis dari drainase cepat kandung kemih yang terlalu distensi secara kronis, Endokrin : ketidak seimbangan elektrolit (disfungsi ginjal). Hasil yang diharapkan : Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, dan membrane mukosa lembab. Rencana Keperawatan :

a)

Awasi keluaran dengan hati-hati, tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan keluaran urine 100-200 ml/jam.

b) individu. c)

Dorong peningkatan pemasukan oral berdasarkan kebutuhan

Awasi tekanan darah, nadi dengan sering serta evaluasi pengisisan kapiler dan membrane mukosa.

d)

Kolaborasi tentang pemberian cairan infus sesuai kebutuhan.

26

4) Ketakutan/ansietas

berhubungan

dengan

perubahan

status

kesehatan; kemungkinan prosedur bedah, malu / hilang martabat sehubungan dengan pemajanan genital sebelum, selama dan sesudah tindakkan; masalah tentang kemampuan seksualitas. Hasil yang diharapkan : Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang tepat perasaan dan penurunan cemas. Rencana Tindakan : a) b) c) Selalu ada untuk klien Buat hubungan saling percaya dengan klien / orang terdekat. Berikan informasi tentang prosedur dan tes khusus dan apa yang terjadi, contoh; kateter, urine berdarah, iritasi kandung kemih, ketahui sebelum banyak informasi yang diinginkan klien. d) Pertahankan prilaku nyata dalam melakukan prosedur / menerima klien, lindungi privacy klien. e) perasaan. f) sebelumnya. Rasionalisasi : a) b) Menunjukkan perhatian dan keinginan untuk membantu. Membantu dalam diskusi tentang subyek sensitive. Beri penguatan informasi klien yang telah diberikan Dorong klien / orang terdekat untuk menyatakan masalah /

27

c)

Membantu klien memahami tujuan dari apa yang dilakukan dan mengurangi masalah karena ketidaktahuan.

d) klien. e)

Menyatakan penerimaan dan menghilangkan rasa malu

Mendefinisikan masalah, memberikan kesempatan untuk menjawab pertanyaan, memperjelas kesalahan konsep dan solusi pemecahan masalah.

f)

Memungkinkan klien untuk menerima kenyataan dan menguatkan kepercayaan kepada pemberi perawatan dan pemberi informasi. 5) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi,

prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat; salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, masalah tentang area sensitive. Hasil yang diharapkan : menyatakan pemahaman proses penyakit, mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala proses penyakit, berpartisifasi dalam program pengobatan. Rencana Tindakan : a) b) c) seksual. d) Anjurkan untuk menghindari makanan berbumbu, kopi, alkohol, mengemudi mobil lama, pemasukan cairan cepat (terutama alkohol). Kaji ulang proses penyakit, pengalaman klien. Dorong menyatakan rasa takut/perasaan dan perhatian. Berikan informasi bahwa kondisi tidak ditularkan secara

28

e)

Bicarakan masalah seksual, contoh bahwa selama episode akut, koitus dihindari tetapi mungkin membantu dalam pengobatan kondisi kronis.

f)

Berikan informasi tentang anatomi dasar seksual, dorong pertanyaan dan tingkatkan dialog tentang masalah.

g)

Kaji ulang tanda / gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh urine keruh, berbau; penurunan haluaran urine, ketidakmampuan untuk berkemih; adanya demam/menggiggil.

h) lain tentang diagnosa. i)

Diskusikan perlunya pemberitahuan pada perawat kesehatan

Beri penguatan pentingnya evaluasi medik untuk sedikitnya 6 bulan sampai 1 tahun, termasuk pemeriksaan rectal, urinalisa.

Rasionalisasi : a) Memberikan membuat pilihan informasi terapi. b) rehabilitasi vital. c) d) Mungkin merupakan ketakutan yang tidak dibicarakan. Dapat menyebabkan iritasi prostate dengan masalah kongesti. Peningkatan tiba-tiba pada aliran urine dapat menyebabkan distensi kandung kemih dan hilang tonus kandung kemih, mengakibatkan episode retensi urinaria akut. Membantu klien mengalami perasaan dapat merupakan dasar pengetahuan dimana klien dapat

29

e)

Aktivitas seksual dapat meningkatkan nyeri selama episode akut tetapi dapat memberikan suatu masase pada adanya penyakit kronis.

f)

Memiliki informasi tentang anatomi membantu klien memahami implikasi tindakan lanjut, sesuai dengan afek penampilan seksual.

g) h)

Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi lebih serius. Menurunkan resiko terapi tidak tepat, contoh : penggunaan dekongestan, antikolinergik, dan antidepresan meningkatkan retensi urine dan dapat mencetuskan episode akut.

i)

Hipertropi kadang berulang dan/atau infeksi (disebabkan oleh organisme yang sama atau berbeda) tidak umum dan akan memerlukan perubahan terapi untuk mencegah komplikasi serius.

b.

Pasca Operasi 1) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanikal: bekuan darah, edema, trauma, prosedur bedah, tekanan dan iritasi kateter/balon. Hasil yang diharapkan : Klien menunjukkan prilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih / urinaria, tidak ada retensi urine, menunjukan residu paska berkemih kurang dari 50 ml, dapat berkemih dengan posisi normal. Rencana Tindakan :

a)

Kaji keluaran urine dan sistem kateter / drainase, khususnya selama irigasi kandung kemih.

30

b)

Bantu klien memilih posisi normal untuk berkemih, contoh; berdiri, berjalan kekamar mandi dengan frekuensi sering setelah kateter dilepas.

c)

Perhatikan waktu, jumlah berkemih dan aliran-aliran setelah kateter dilepas. Perhatikan keluhan rasa penuh kandung kemih, ketidakmampuan berkemih, urgency.

d)

Anjurkan klien untuk berkemih bila terasa dorongan tetapi tidak lebih dari 2 4 jam / protocol.

e) f) g)

Ukur volume residu bila ada kateter suprapubik. Upayakan pemasukan cairan 3000 ml sesuai toleransi. Anjurkan klien untuk latihan perineal, contoh : mengencangkan bokong, menghentikan dan memulai aliran urine.

h)

Beri informasi pada klien bahwa penetesan setelah kateter dilepas masih ada dan akan teratasi sesuai indikasi. Kolaborasi :

i)

Pertahankan irigasi kandung kemih continue (continuous bladder irrigation) sesuai indikasi periode paska operasi dini. Rasionalisasi :

a) b) c)

Retensi dapat terjadi karena edema area bekuan darah, dan spasme kandung kemih. Mendorong pasase urine dan meningkatkan rasa normalitas. Kateter biasanya dilepas 2 5 hari setelah bedah, tetapi berkemih dapat berlanjut menjadi masalah untuk beberapa waktu karena edema uretral dan kehilangan tonus.

d)

Berkemih dengan dorongan mencegah retensi urine.

31

e)

Mengawasi keefektifan pengosongan kandung kemih. Residu lebih dari 50 ml menunjukkan perlunya kontinuitas kateter sampai tonus kandung kemih membaik.

f) g)

Mempertahankan hidrasi adekuat dan perfusi ginjal untuk aliran urine. Membantu meningkatkan kontrol kandung kemih spingter, meminimalkan inkontinensia.

h)

Informasi membantu klien untuk menerima masalah. Fungsi normal dapat kembali dalam waktu 2 3 minggu tetapi memerlukan sampai 8 bulan setelah pendekatan perineal.

i)

Mencuci kandung kemih dari bekuan darah dan debris untuk mempertahankan patensi kateter / aliran urine. 2) Risiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan area bedah vascular, kesulitan mengontrol perdarahan, pembatasan pemasukkan praoperatif. Hasil yang diharapkan : Mempertahankan hidrasi adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik, membrane mukosa lembab, dan keluaran urine tepat, serta menunjukkan tak ada perdarahan aktif. Rencana Tindakan :

a) b) c)

Hindari manipulasi kateter berlebihan. Awasi pemasukkan dan pengeluaran. Evaluasi warna dan konsistensi urine.

32

d)

Awasi tanda vital, perhatikan peningkatan nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat, perlambatan pengisian kapiler, dan membrane mukosa kering.

e) f) g)

Selidiki kegelisahan, kacau mental, perubahan perilaku. Dorong pemasukkan cairan 3000 ml/hari kecuali kontraindikasi. Hindari pengukuran suhu rectal dan menggunakan selang rectal / enema. Kolaborasi :

h)

Awasi pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi, contoh Hb / Ht, jumlah sel darah merah.

i) j) k)

Pertahankan traksi kateter menetap; plester kateter di bagian dalam paha. Kendorkan traksi dalam 4 5 jam. Berikan pelunak feses, laksatif sesuai indikasi. Rasionalisasi :

a) b) c) d)

Gerakan/penarikan kateter dapat menyebabkan perdarahan. Indicator keseimbangan cairan dan kebutuhan penggantian. Dapat mengidentifikasikan diskrasia darah atau masalah pembekuan darah. Dehidrasi / hipovolemik memerlukan intervensi cepat untuk mencegah berlanjut ke syock.

e)

Dapat menunjukkan penurunan perfusi cerebral atau indikasi edema cerebral karena kelebihan cairan selama prosedur TURP.

f)

Membilas ginjal/kandung kemih dari bakteri dan debris tetapi dapat menyebabkan intoksikasi cairan / kelebihan cairan bila tidak diawasi dengan ketat.

33

g)

Dapat mengakibatkan penyebaran iritasi terhadap dasar prostate dan peningkatan tekanan kapsul prostat dengan resiko perdarahan.

h) i)

Berguna dalam evaluasi kehilangan darah/kebutuhan penggantian. Traksi terisi balon 30 ml diposisikan pada fosa uretral prostate akan membuat tekanan pada aliran darah pada kapsul prostat untuk membantu

mencegah/mengontrol perdarahan. j) Traksi lama dapat menyebabkan trauma/masalah permanen dalam mengontrol urine. k) Pencegahan konstipasi/mengejan untuk defekasi menurunkan resiko perdarahan rectal-perineal. 3) Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan prosedur invasif : alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung kemih sering, trauma jaringan, insisi bedah (contoh perineal). Hasil yang diharapkan : Mencapai waktu penyembuhan, dan tidak mengalami tanda infeksi. Rencana Tindakan : a) Pertahankan sistem kateter steril; berikan perawatan kateter regular dengan sabun dan air, berikan salep antibiotik disekitar sisi kateter. b) Awasi tanda vital, perhatikan demam ringan, menggiggil, nadi dan pernapasan cepat, gelisah, peka dan disorientasi. c) d) Observasi drainase dari luka, sekitar kateter suprapubik. Ganti balutan dengan sering (insisi supra/retropubik dan perineal), pembersihan dan pengeringan kulit sepanjang waktu.

34

Kolaborasi : e) Berikan antibiotik sesuai indikasi. Rasionalisasi : a) b) Mencegah pemasukan bakteri dan infeksi/sepsis lanjut. Klien yang mengalami sistoskopi dan / atau TURP prostat berisiko untuk syock bedah/septik sehubungan dengan manipulasi/instrumentasi. c) Adanya drainase, insisi suprapubik meningkatkan risiko untuk infeksi, yang diindikasikan dengan eritema, drainase purulen. d) Balutan basah menyebabkan kulit iritasi dan memberikan media pertumbuhan bakteri, peningkatan risiko infeksi luka. e) Mungkin diberikan secara profilaktik sehubungan dengan peningkatan risiko infeksi pada Prostatektomy. 4) Nyeri (akut) berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, refleks spasme otot sehubungan dengan prosedur bedah dan/atau tekanan dari balon kandung kemih (traksi). Hasil yang diharapkan : Melaporkan nyeri hilang / terkontrol, menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individu dan klien tampak rileks, tidur / istirahat dengan tepat. Rencana Tindakan : a) b) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0 10). Pertahankan patensi kateter dan sistem drainase. Pertahankan selang bebas dari lekukan dan bekuan.

35

c) d) e)

Tingkatkan pemasukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi. Berikan informasi akurat tentang kateter, drainase dan spasme kandung kemih. Berikan tindakan kenyamanan (pengubahan posisi, pijatan punggung) dan aktivitas aktivitas terapeutik. Dorong penggunaan teknik relaksasi, termasuk latihan napas dalam, visualisasi, pedoman imajinasi.

f)

Berikan rendam duduk atau lampu penghangat bila diindikasikan. Kolaborasi :

g)

Berikan antispasmodik. Rasionalisasi :

a)

Nyeri tajam, intermiten dengan dorongan berkemih / pasase urine sekitar kateter menunjukan spasme kandung kemih.

b)

Mempertahankan fungsi kateter dan drainase sistem, merurunkan risiko distensi / spasme kandung kemih.

c)

Menurunkan iritasi dengan mempertahankan aliran cairan konstan ke mukosa kandung kemih.

d) e)

Menghilangkan ansietas dan meningkatkan kerja sama dengan prosedur tertentu. Menurunkan ketegangan otot, memfokuskan kembali perhatian, dan dapat meningkatkan kemampuan kooping.

f) spasme dan nyeri. 5)

Merilekskan otot polos, untuk memberikan penurunan

Risiko disfungsi seksual sehubungan dengan situasi krisis (inkontinensia, kebocoran urine setelah pengangkatan kateter,

36

keterlibatan area genital), ancaman konsep diri/perubahan status kesehatan. Hasil yang diharapkan : Klien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi, menyatakan pemahaman situasi individual, menunjukan keterampilan

pemecahan masalah. Rencana Tindakan : a) Berikan keterbukaan pada klien / orang terdekat untuk membicarakan tentang masalah inkontinensia dan fungsi seksual. b) c) d) e) Berikan informasi akurat tentang harapan kembalinya fungsi seksual. Diskusikan dasar anatomi. Jujur dalam menjawab pertanyaan klien. Diskusikan ejakulasi retrograd bila pendekatan Transuretral/suprapubik digunakan. Intruksikan latihan perineal dan interupsi/kontinue aliran urine. Kolaborasi : f) Rujuk ke penasehat seksual sesuai indikasi. Rasionalisasi : a) Dapat mengalami ansietas tentang efek bedah dan dapat menyembunyikan pertanyaan yang diperlukan. Ansietas dapat mempengaruhi kemampuan untuk menerima informasi yang diberikan sebelumnya. b) Impotensi fisiologis terjadi bila sarap perineal dipotong selama prosedur radikal; pada pendekatan lain, aktivitas seksual dapat dilakukan seperti biasa dalam 6 8 minggu.

37

c)

Sarap pleksus mengontrol aliran secara posterior ke prostat melalui kapsul. Pada prosedur yang tidak melibatkan kapsul prostat, impoten dan sterilitas biasanya tidak menjadi konsekuensi. Prosedur bedah mungkin tidak memberikan pengobatan

permanen, dan hipertropi dapat berulang. d) Cairan seminal mengalir kedalam kandung kemih dan disekresikan melalui urine. Ini tidak mempengaruhi fungsi seksual tetapi akan menurunkan kesuburan dan menyebabkan urine keruh. e) Meningkatkan peningkatan pengontrolan otot kontinensia urinaria dan fungsi seksual. f) profesional. 6) Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan/mengingat ; salah interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi. Hasil yang diharapkan : Menyatakan pemahaman prosedur bedah dan pengobatan. Masalah menetap/tidak teratasi memerlukan intervensi

Rencana Tindakan : a) b) Kaji implikasi prosedur dan harapan masa depan. Tekankan perlunya nutrisi yang baik; dorong konsumsi buah, meningkatkan diet tinggi serat.

38

c)

Diskusikan pembatasan aktivitas awal, contoh; menghindari mengangkat berat latihan keras, duduk / mengendarai kendaraan terlalu lama, memanjat lebih dari dua dari tingkat tangga sekaligus.

d) e) sumber alat/dukungan. f)

Dorong kesinambungan latihan perineal. Instruksikan perawatan kateter urine bila ada. Identifikasi

Kaji ulang tanda / gejala yang memerlukan evaluasi medik, contoh; eritema, drainase purulen dari luka, perubahan dari karakter / jumlah urine, adanya dorongan / frekuensi; perdarahan berat, demam / menggiggil. Rasionalisasi :

a)

Memberikan membuat pilihan informasi.

dasar

pengetahuan

dimana

klien

dapat

b)

Meningkatkan penyembuhan dan mencegah komplikasi, menurunkan risiko perdarahan pascaoperasi.

c)

Peningkatan tekanan abdominal / meregangkan yang menempatkan stress pada kandung kemih dan prostat, menimbulkan risiko perdarahan.

d) inkontinensia. e) perawatan diri. f) 4. Pelaksanaan

Membantu

kontrol

urinaria

dan

menghilangkan

Meningkatkan

kemandirian

dan

kompetensi

dalam

Intervensi cepat dapat mencegah komplikasi serius.

39

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien post operasi prostat mengacu pada rencana keperawatan yang sesuai dengan teori Doenges, M.E. (2000), meliputi: mempertahankan homeostasis/stabilitas

hemodinamik, meningkatkan kenyamanan, mencegah komplikasi dan memberikan informasi tentang prosedur bedah/prognosis, pengobatan dan kebutuhan rehabilitasi. Pada tahap pelaksanaan yang dilakukan adalah melaksanakan tindakan-tindakan keperawatan yang telah direncanakan dan melakukan pendokumentasian semua tindakan yang telah dilakukan. 5. Evaluasi Evaluasi asuhan keperawatan merupakan tahap akhir dari proses keperawatan dalam rangkah mengevaluasi respon klien terhadap perawatan yang diberikan untuk memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah tercapai (Doenges, 2000). Hasil akhir yang diharapkan dari perawatan klien post operasi prostat, adalah aliran urine baik/meningkat, nyeri hilang / terkontrol, komplikasi tercegah / minimal, prosedur / prognosis, program terapi, dan kebutuhan rehabilitasi dipahami (Doenges, 2000).

40

41