Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS PROFITABILITAS : RETURN ON ASSET (ROA)

Analisis Return On Asset (ROA) digunakan sebagai alat untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada masa lalu. Analisis ini kemudian bisa diproyeksikan ke masa depan untuk melihat kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba pada masa mendatang.

A. PERHITUNGAN ROA
Analisis ROA mengkur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dengan menggunakan Total Asset (kekayaan) yang dipunyai perusahaan setelah disesuaikan dengan biaya-biaya untuk mendanai asset tersebut. Variasi dalam perhitungan ROA, adalah dengan memasukkan biaya pendanaan. Biaya-biaya pendanaan yang dimaksud adalah bunga yang merupakan biaya pendanaan dengan hutang. Dividen yang merupakan biaya pendanaan dengan saham dalam analisis ROA tidak diperhitungkan. Biaya bunga ditambahkan ke laba yang diperoleh perusahaan. ROA bisa di interpretasikan sebagai hasil dari serangkaian kebijakan perusahaan (strategi) dan pengaruh dari factor-faktor lingkungan (environmental factors). Analisis difokuskan pada profitabilitas asset, dan dengan demikian tidak memperhitungkan cara-cara untuk mendanai asset tersebut. Formula ROA bisa dihitung sebagai berikut (dengan memasukkan pendanaan) ROA = (1)

Karena bunga tidak masuk dalam analisis ROA maka bunga ditambahkan kembali ke laba bersih. Apabila ingin lebih tepat lagi , maka sebenarnya ada penghematan pajak yang muncul.dari penggunaan bunga, karena bunga bisa dipakai sebagai pengurang pajak. Dengan demikian setelah penyesuaian pajak, formula ROA dihitung sebagi berikut : ROA =
( )

(2)

Dalam formula diatas, bunga ditambahkan kembali ke laba bersih, sedangkan pengehematan pajak karena bunga dikurangkan dari Laba Bersih. Dalam hal ini digunakan total Asset Rata-rata bukannya Total Asset pada akhir periode. Biasanya asset rata-rata dihitung dengan menjumlahkan Asset pada awal periode dengan asset pada akhir periode dan dibagi dua. Untuk bisnis yang tidak bersifat musiman, penggunaan semacam itu sudah memadai. Tetapi untuk bisnis musiman, rata-rata Asset pada akhir setiap triwulan lebih baik digunakan. Laba bersih suatu perusahaan kadang-kadang dipengaruhi oleh 2 faktor luar biasa yang tidak selalu muncul dalam kegiatan bisnis yang normal. 1. Laba karena perubahan prinsip akuntansi 2. Biaya Restrukturisasi

Dalam kaitannya dengan perubahan prinsip akuntansi, ada argumentasi yang bisa dikemukakan, yaitu laba karena perubahan akuntansi tidak sering muncul (nonrecurring) dan Relatif bukan bagian dari kegiatan bisnis yang normal. Karena itu laba merupakan laba yang dihasilkan dari perubahan akuntansi seharusnya tidak diperhitungkan karena tidak mencerminkan kemampuan perusahaan yang sebenarnya dalam menghasilkan laba.

Dalam kaitannya dengan biaya Restrukturisasi perusahaan ada beberapa argumentasi yang bisa dikemukakan :

1. Faktor tersebut muncul relatif tidak sering dan bisa dikatakan sebagai nonrecurring 2. Item tersebut bisa dikatakan merupakan bagian normal dari kegiatan bisnis 3. Jumlah tersebut cukup material Dengan alsan diatas, maka dapat diambil pendekatan mengeluarkan Laba karena perubahan prinsip akuntansi dan memasukan biaya restrukturisasi. Tetapi apabila akan dilakukan perbandingan cross sectional, maka perlu konsistensi perlakuan perlu dilakukan.

B. KOMPONEN KOMPONEN ROA ROA bisa dipecahkan lagi ke dalam dua komponen yaitu Profit Margin dan Perputaran Total Aktiva. Pemecahan ini bisa menghasilkan analisis yang lebih tajam lagi. ROA =
( )

ROA = =

Profit Magin
(

Perputaran Total Aktiva


)

(3)

Profit Margin melaporkan kemampuan perusahaan menghasilkan laba dari tingkat penjualan tertentu. Profit margin bisa diinterpretasikan sebagai tingkat efesiensi perusahaan, yaitu sejauh mana kemampuan perusahaan menekan biaya biaya yang ada dalam perusahaan. Perputaran Total Aktiva mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan penjualan dari total investasi tertentu. Rasio ini juga dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan dalam mengelola aktiva berdasarkan tingkat penjualan yang tertentu. Rasio ini mengukur aktivitas penggunaan aktiva perusahaan.

C. PERHITUNGAN RETURN ON ASSET PT. HM SAMPOERNA Tbk. Berikut Tabel ROA, Profit Margin,dan Perputaran Total Aktiva PT. HM Sampoerna Tbk. PT. HM Sampoerna Tbk. ROA Profit Margin Perputaran Aktiva

Tahun 2010 33,90 % 14,94 % 2.26882202

Tahun 2009 30,28 % 13,15 % 2.30262214

Tahun 2008 24,64 % 11,30 % 2.180175487

Tabel ROA, Profit Margin dan Perputaran Aktiva PT. HM Sampoerna diatas dihitung dengan menggunakan Rasio (3) Dari table diatas dapat kita lihat bahwa ROA PT. HM Sampoerna Tbk. Dari tahun 2008 hingga tahun 2010 mengalami peningkatan hal ini dikarenakan Profit Margin dan Perputaran Aktiva mengalami peningkatan di tahun tahun tersebut kecuali pada tahun 2010, untuk perputaran aktiva ditahun tersebut mengalami penurunan namun

hal tersebut tidak mengakobatkan penurunan pada ROA karena ditahun yang sama Profit Margin PT. HM Sampoerna pada tahun 2010 mengalami peningkat. Berikut ini Perhitungan atas ROA, Profit Margin,dan Perputaran Aktiva PT. HM Sampoerna. PT. HM Sampoerna Tbk. ROA
( Profit Margin x Perputaran Aktiva )

Tahun 2010 14,94 % x 2,26882202 33,90 %

Tahun 2009 13,15 % x 2.30262214 30,28 %

Tahun 2008 11,30 % x 2.180175487 24,64 %

Profit Margin
( )

0,1494 = 14,94 %

0,1315 = 13,15 %

0,1130 = 11,30 %

Perputaran Aktiva

2.26882202

2.30262214

2.180175487

Dalam perhitungan diatas tingakat pajak diperhitungkan dengan membandingkan Beban Pajak penghasilan dengan Laba Sebelum Pajak Penghasilan. Selain itu juga, ada Total Aset Rata rata yang diperhitungkan dengan merata ratakan penjumlahan Aset awal tahun dengan akhir tahun. Berikut ini perhitungan keduanya. PT. HM Sampoerna Tbk. Tingkat Pajak Tahun 2010 Tahun 2009 Tahun 2008

0,2658 = 0,27 = 27 % Total Aset Rata Rata

0,2944 = 0,29 = 29 %

0,3277 = 0,33 = 33 %

19,120,785

16,925,133

15,907,180

Dari data data diatas dapat kami temukan beberapa alasan mengenai peningkatan dan penurunan yang terjadi pada ROA, Profit Margin dan Perputaran Aktiva sejak Tahun 2008 hingga Tahun 2010 pada PT. HM Sampoerna Tbk. yaitu sebagai berikut: Peningkatan ROA dari Tahun 2008 ke 2009 dan 2009 ke 2010 dikarenakan adanya peningkatan Persentase Profit Margin diikuti dengan peningkatan nilai Perputaran Aktiva, peningkatan Profit Margin dikarenakan adanya peningkatan elemen elemen dalam perhitungan Profit Margin dan penurunan pada Tingkat Pajak yang mengakibatkan jumlah Pendapatan Bunga yang didapat dari tahun ketahun mengalami peningkatan dan Peningkatan Perputaran Aktiva juga dikarenakan adanya peningkatan Penjualan dan Total Aset Rata rata setiap tahunnya.

D. PERBANDINGAN ROA PT. HM SAMPOERNA DENGAN PERUSAHAAN LAIN


Berikut ini perbandingan ROA, Profit Margin,dan Perputaran aktiva PT. HM Sampoerna dengan beberapa perusahaan lain di Indonesia. PT. HM Sampoerna Tbk. ROA Profit Margin Perputaran Aktiva PT. Bumi Resources ROA Profit Margin 125 % 21 % 64 % 12 % 155 % 20 %

Tahun 2010 33,90 % 14,94 % 2.26882202

Tahun 2009 30,28 % 13,15 % 2.30262214

Tahun 2008 24,64 % 11,30 % 2.180175487

Perputaran Aktiva

6,0

5,2

7,6

PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. ROA Profit Margin Perputaran Aktiva PT. Kalbe Farma Tbk. ROA Profit Margin Perputaran Aktiva 271 % 13 % 21,5 172 % 10 % 16,8 121 % 9% 13.4 136 % 16 % 8,7 248 % 26 % 9.6 343 % 33 % 10,4

ROA Profit Margin Perputaran Aktiva

ROA Profit Margin Perputaran Aktiva

Dari tabel diatas dapat dilihat terdapat adanya perbedaan nilai Return on Assets yang berbeda pada perusahaan yang diperbadingkan dengan ROA PT.HM Sampoerna. Untuk beberapa perusahaan bahkan menghasilkan ROA yang jauh lebih besar seperti ROA yang dihasilkan oleh PT. Bumi Resources dan PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk.

Perbedaan tersebut meemunculkan beberapa pertanyaan penting terkait perbedaan tersebut, yaitu : 1. Faktor faktor apa yang bisa menjelaskan mengapa beberapa industri bisa menghasilkan ROA yang lebih tinggi dibandingkan dengan Industri yang lain? 2. Faktor faktor apa yang bisa menjelaskna perbedaan antara industri yang mempunyai perputaran aktiva yang tinggi tetapi memiliki Profit margin yang rendah dengan industri yang mempunya perputran aktiva rendah tetapi memiliki Profit Margin yang tinggi ? Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan berikut, terdapat dua faktor yang mempengaruhi perbedaan ROA antar Industri dan mempengaruhi perbedaan Proporsi Profit Margin atau Perputaran Aktiva antarindustri. 1. Operating Laverage Operating Laverage menunjukan sejauh mana pemakaian beban tetap dalam suatu perusahaan. Perusahaan yang menggunakan biaya tetap yang tinggi berarti mempunyai Operating Laverage yang tinggi. Perusahaan yang mempunyai proporsi aktiva tetap yang besar ( Melakukan Investasi besar pada aktiva tetap ) akan mempunyai beban depresiasi yang tinggi, yang berate mempunyai beban operasional yang tinggi dan berarti mempunyai Operating Laverage yang tinggi. PT. Bumi Resourses merupakan perusahaan yang bergerak dalam kegiatan eksploitasi batubara. Untuk mengoperasikan kegiatannya, diperlukan banyak investasi dalam asset tetap dibanding dengan Investasi yang dilakukan PT. HM Sampoerna pada Asetnya. Oleh karena itu PT. Bumi Resources pasti akan memiliki Operating Laverage yang tinggi dibanding PT HM Sampoerna.. Begitupun dengan PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. yang bergerak dalam usaha pembuatan semen. Sudah pasti kita ketahui bersama untuk

melakukan kegiatan usahanya PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. pasti akan memerlukan banyak asset yang dipergunakan terutama dalam pengolahan produknya, dan menandakan adanya banyak investasi dalam asset. Dengan demikian PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. Juga memiliki operating Laverage yang tinggi. Bila dilihat dari hasil perhitungan ROA pada tabel diatas jelas dapat dilihat, PT. Bumi Resources dan PT. Indocement Tunggal perkasa Tbk. yang memiliki Operating Laverage yang tinggi ternyata juga memiliki ROA yang tinggi dibanding dengan PT HM Sampoerna yang memiliki tingkat investasi terhadap asset yang tidak terlalu tinggi. Dari data diatas jiga kita dapat melihat ROA yang dimiliki oleh PT. Kalbe Farma yang terbilang atau dapat dikatakan memiliki ROA yang hamper sama dengan perusahaan yang sangat dimungkinkan banyak menginvestasikan modalnya dalam Aset. PT.Kalbe Farma merupakan Perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur pembuatan obat. Tidak jauh berbeda sebenarnya dengan PT. HM Sampoerna yang merupakan perusahaan Manufaktur dalam pembuatan rokok. Dalam hal ini, kami berkesimpulan bahwa perusahaan manufaktur tidak akan terlalu banyak menginvestasikan modalnya dalam asset namun lebih kepada bahan baku dan laian lain yang berkaitan dengan produk. Adanya ROA PT. Kalbe Farma yang tinggi mungkin dikarenakan alasan alasan lain. Perusahaan atau industri dengan operating laverage yang tinggi akan mempunyai fluktutif pendapatan yang tinggi pula. Ini berarti resiko perusahaan juga tinggi. Apabila kondisi perekonomian membaik, penjualan akan meningkat, perusahaan dengan operating laverage yang tinggi akan mengalami kenaikan keuntungan yang tinggi, sebaliknya apabila kondisi perekonomian menurun, penjualan pun akan menurun dan perusahaan tersebut juga akan mengalami penurunan yang tajam. Itulah yang terjadi pada PT.

Indocement Tunggal Perkasa Tbk. Penurunan ROA menandakan adanya penurunan yang tajam atas pendapatannya. Sesuai dengan pernyataan

10

sebelumnya dimana ketika perusahaan dengan operating laverage yang tinggi akan memeperoleh resiko yang tinggi pula. Berbeda dengan perusahaan yang memiliki operating laverage yang tinggi, perusaahan yang memiliki operating laverage tidak akan mengalami fluktuasi setajam perusahaan yan miliki Operating Laverage yang tinggi.

2. Siklus Kehidupan Produk

Siklus Kehidupan Produk akan memiliki pengaruh terhadap ROA atau perbedaan perbedaan ROA. Produk, mulai dari muncul hingga menghilang bergerak memelalui beberapa tahap, yaitu : 1. Tahap Perkenalan 2. Tahap Pertumbuahan 3. Tahap Kedewasaan 4. Tahap Penurunan Prilaku penjualan, Laba, Investasi dan ROA yangbebrkaitan dengan empat tahap siklus produk tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut ini :

Perkenalan Penurunan

Pertumbuhan

Kedewasaan

11

Perkenalan Penurunan

Pertumbuhan

Kedewasaan

Perkenalan Laba Negatif

Pertumbuhan Positif Negatif Kecil / Positif Kecil

Kedewasaan Positif

Penurunan Positif / Negatif Positif Besar / Kecil

Investasi (Aliran Kas )

Negatif Besar

Positif Besar

Pada Tahap Perkenalan, perusahaan memfokuskan pada pengembangan produk ( melalui riset dan pengembangan ), pengembangan pasar( melalui iklan dan promosi lain , pengembangan kapasitas (melalui invesatsi pada pengebangan pabrik baru atau perluasan pabrik. Pada dasarnya pada tahap ini perusahaan bertujuan

memperkenalkan produk dan memperoleh market share. Pada tahap perkenalan, perusahaan lebih sibuk menyiapkan inrastruktur produk dengan melakukan investasi pada pabrik dan peralata. Ini semua memerlukan biaya

12

dan mengakibatkan aliran kas keluar semakin besar. Pada tahap pertumbuhan, penjualan mulai mengalami peningkatan, pengeluaran mulai berkurang. Pengeluaran pada tahap tersebut lebih pada pengakomodasian permintaan yang meningkat. Pada tahap ini aliran kas masuk mungkin saja masih negative namun tidak terlalu rendah begitupun jika aliran kas positif, tidak akn terlalu tinggi. Berbeda pada tahap kedewasaan dimana produk suda mulai terkenal dan tidak perlu upaya untuk melakjukan pengembanagn dan penyiapan infrastruktur. Pengeluaran investasi pada tahap ini tidak signifikan. Kompetisi semakin keras. Pengelolaan biaya menjadi penting pada tahap ini. Pada tahap ini juga perusahaan akan mengdapat ROA yang cukup tinggi. Selain itu juga aliran kas positif semakin membesar. Pada tahap penurunan, Permintaan terhadap produk semakin berkurang, kompetisi semakin tajam. Pengeluaran mulai banyak dikeluarkan untuk mempertahankan eksistensi produk di pasar. Pada tahap ini, aliran kas mungkin masih positif hingga menjadi negative. Bila dikaitkan dengan hal diatas, perusahaan perusahaan yang kita perbandingkan, dimana PT. Bumi Resources, PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. dan PT. Kalbe Farma yang memiliki ROA lebih tinggi dibanding dengan ROA yang dimilki oleh PT. HM Sampoerna dapat disebabkan karena perusahaan perusahaan tersebut dalam keadaan atau pada tahap siklus produk Kedewasaan dimana pada tahap ini ROA yang diperoleh perusahaan cukup tinggi. Dan kecilnya ROA PT. HM Sampoerna sedang dalam tahap penurunan dalam siklus produk yang mungkin dikarenakan munculnya pesaing pesaing yang memproduksi rokok yang lebih diminati dengan segala kelebihannya. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian dimana ditemukan adanya komposisi yang berbeda dari masing masing perusahaan yang diperbandingkan dalam hal Komposisi Profit Margin dan Perputaran Aktiva.

13

PT.HM Sampoerna Tbk., PT. Bumi Resources, dan PT. Indocement Tunggal Perkasa Tbk. memiliki Profit Margin yang lebih tinggi dibanding dengan Perputaran aktivanya. Sementara itu, PT. Kalbe Farma memiliki Profit Margin yang lebih rendah dibanding dengan Perputaran aktivanya. Hal ini dapat terjadi karena beberapa hal diantaranya karena adannya Pembatasan Kapasitas dan Pembatasan Kompetisi dan Kaitannya dengan Strategi Bisnis. Perusahaan atau industri yang ditandai dengan biaya tetap yang besar dan membutuhkan periode yang lama untuk membanguan atau menambah kapasitas produksi akan mempunyai pembatasan kapasitas. Ada batasan terhadap jumlah atau besarnya perputaran asset perusahaan. Bagi perusahaan seperti ini diperlukan cara lain agar dapat mecapai ROA yang cukup tinggi. Cara tersebut adalah dengan menaikan Profit Margin-nya. Sementara itu, Kompetisi yang ketat juga akan memberikan batasan terhadapat Profit Margin yang dibisa dicapai. Dengan adanya hal tersebut, perusahaan yang bersaing dalam kompetisi yang ketat perlu melakukan pembatasan kompetisi. Untuk perusahaan semacam ini, unutk mencapai ROA yang tinggi perusahaan tersebut harus meningkatkan Perputaran Aktivanya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara menurunkan biaya investasi-nya dan melakukan pengendalian biaya. Berikut ini ringkasan pengaruh pembatasan kapasitas dan pembatasan kompetisi Wilayah A Intensitas Modal Tinggi Kompetisi Monopoli Oligopoli atau B Sedang Kompetisi Monoplistik C Rendah Kompetisi Murni Fokus Strategi Profit Margin Profit Margin, Perputaran Aktiva atau kombinasi keduanya Perputaran aktiva

14

Dalam Strategi generik yang dirumuskan oleh Michael Porter, ada tiga jenis strategi generik yaitu 1. Diferensiasi 2. Biaya Rendah 3. Fokus Deferensiasi merupakan upaya memberikan perbedaan terhadap produk yang dipersaingkan. Deferensiasi ini biasanya ditekankan pada kualitas yang lebih baik, pelayanan yang lebih baik, dan faktor faktor lainnya. Bila dilihat dari tabel diatas upaya Deferensiasi ini merupukan uapaya yang cocok diterapkan pada penigkatan ROA di Wilayah A. Biaya rendah dilakukan dengan menekan biaya biaya perusahaan agar perusahaan dapat memperoleh daya saing harga. Penekanan biaya ini biasanya dilakukan dengan pemanfaatan skal ekonomi, efesiensi produksi, dan pengendalin pengendalian lainnya. Nila dilihat dari tabel diatas, upaya ini lebih cocok diterapkan pada Wilayah C

15