Anda di halaman 1dari 19

Praktikum Biofarmasetik dan Farmakokinetik

Uji Difusi

Bayyinah Dewanti Rosyana Fitri Ratna Dewi Hesty Priska Aprina Nur Ikhlas FARMASI IV A KELOMPOK 4 Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Jakarta

DAFTAR ISI
I. TUJUAN PRAKTIKUM ............................................................................................................................. 3

II.

DASAR TEORI ......................................................................................................................................... 3 a. Parasetamol ..................................................................................................................................... 3 b. Gel .................................................................................................................................................... 4 Dasar Gel .......................................................................................................................................... 5 1) Dasar gel hidrofobik ..................................................................................................................... 5 2) Dasar gel hidrofilik........................................................................................................................ 5 c. Uji difusi ............................................................................................................................................ 6

III. ALAT DAN BAHAN ............................................................................................................................... 11

IV. CARA KERJA ......................................................................................................................................... 12 Pembuatan Membrane Difusi ............................................................................................................. 12 Pembuatan Sediaan Gel ..................................................................................................................... 12 Uji membrane difusi dengan metode flow through ........................................................................... 13

V.

HASIL PENGAMATAN .......................................................................................................................... 13 PARASETAMOL ................................................................................................................................... 14 HASIL DIFUSI PARASETAMOL DALAM GEL ......................................................................................... 14

VI. PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 17

VII. KESIMPULAN ....................................................................................................................................... 18

VIII. DAFTAR PUSTAKA................................................................................................................................ 19

PERCOBAAN III UJI DIFUSI

I.

TUJUAN PRAKTIKUM
Mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi difusi obat melalui kulit Mengetahui tahap-tahap uji difusi obat

II.

DASAR TEORI

a. Parasetamol
Parasetamol atau asetaminophen, N-asetil-4Aminofenol (C8H9NO2), dengan BM 151,16 dan mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari 101,0% C8H9NO2. Pemerian: hablur atau serbuk hablur berwarna putih tidak berbau dan rasa pahit. Kelarutan: Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan dalam 9 bagian propilenglikol; larut dalam larutan alkalihidroksida. Khasiat dan kegunaan yaitu analgetikum, antipiretikum. (Farmakope Indonesia edisi ketiga tahun 1979)

Asetaminofen adalah metabolit fenasetin yang bertanggung jawab atas efek analgesiknya. Obat ini menghambat prostaglandin yang lemah pada jaringan perifer dan tidak memiliki efek anti-implamasi yang bermakna. Absorpsi asetaminofen tergantung pada kecepatan pengosongan lambung, dan kadar puncak di dalam darah biasanya tercapai dalam waktu 30-60 menit. Asetaminofen sedikit terikat dengan protein plasma dan sebagian dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati dan diubah menjadi asetaminofen sulfat dan glukuronida, yang secara farmakologi tidak aktif. Kurang dari 5% diekskresikan dalam bentuk tidak berubah. Suatu metabolit minor tetapi sangat reaktif (N-asetil p-benzo kuinon), penting pada dosis besar, karena toksisitasnya yang besar terhadap hati dan ginjal.

Waktu paruh asetaminofen 2-3 jam dan relative tidak dipengaruhi oleh fungsi ginjal. Pada jumlah toksik atau adanya penyakit hati, wktu paruhnya bisa meningkat dua kali lipat atau lebih. Pada pemakaian 15 gram asetaminofen bisa berakibat fatal; kematian disebabkan oleh hepatotoksisitas yang berat dengan nekrosis lobules sentral, kadang berhubungan dengan nekrosis tubulus ginjal akut. (Bertram G. Katzung; Farmakologi dasar dan klinik edisi VI)

b. Gel
Pada rute transdermal molekul obat harus bisa melewati stratum korneum yang menahan keluar masuknya zat-zat kimia (Lachman dkk., 1994). Salah satu sediaan yang digunakan melalui rute transdermal yaitu gel. Kandungan air yang tinggi dalam basis gel dapat menyebabkan terjadinya hidrasi pada stratum korneum sehingga akan memudahkan penetrasi obat melalui kulit. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Gel (dari bahasa Latin gelu membeku, dingin, es atau gelatus membeku) adalah campuran koloidal antara dua zat berbeda fase: padat dan cair. Penampilan gel seperti zat padat yang lunak dan kenyal (seperti jelly), namun pada rentang suhu tertentu dapat berperilaku seperti fluida (mengalir). Berdasarkan berat, kebanyakan gel seharusnya tergolong zat cair, namun mereka juga memiliki sifat seperti benda padat. Contoh gel adalah gelatin, agar-agar, dan gel rambut. Biasanya gel memiliki sifat tiksotropi (Ing.: thyxotropy) : menjadi cairan ketika digoyang, tetapi kembali memadat ketika dibiarkan tenang. Beberapa gel juga menunjukkan gejala histeresis. Dengan mengganti cairan dengan gas dimungkinkan pula untuk membentuk aerogel ('gel udara'), yang merupakan bahan dengan sifat-sifat yang khusus, seperti massa jenis rendah, luas permukaan yang sangat besar, dan isolator panas yang sangat baik. Gel merupakan sistem semi padat dimana fase cairnya dibentuk dalam suatu matriks polimer tiga dimensi (terdiri dari gom alam dan atau gom sintesis) yang tingkat silang fisiknya tinggi (Lachman dkk, 1993). Polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi : gom alam seperti tragakan, pektin, karagen, agar dan asam alginat, serta bahan sintesis dan semisintesis meliputi metilselulose, hidroksietilselulose, karboksimetilselulose dan karboksipolimetilen (carbopol) (Banker dan Rhodes, 2002).

Dasar Gel Berdasarkan komposisinya, dasar gel dapat dibedakan menjadi dasar gel hidrofobik dan dasar gel hidrofilik (Ansel, 1985). Dasar gel hidrofobik antara lain petrolatum, plastibase, alumunium stearat, carbowax sedangkan dasar gel hidrofilik antara lain bentonit,

veegum, silika, pektin, tragakan, metil selulosa, karbomer (Allen, 2002).

1) Dasar gel hidrofobik Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel-partikel anorganik. Apabila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, bilamana ada, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase. Berbeda dengan bahan hidrofilik, bahan hidrofobik tidak secara spontan menyebar, tetapi harus dirangsang dengan prosedur yang khusus (Ansel, 1985).

2) Dasar gel hidrofilik Dasar gel hidrofilik umumnya adalah molekul-molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Istilah hidrofilik berarti suka pada pelarut. Pada umumnya karena daya tarik menarik pada pelarut dari bahanbahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya daya tarik menarik dari bahan hidrofobik, sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan memiliki stabilitas yang lebih besar (Ansel, 1985). Gel hidrofilik umumnya mengandung komponen bahan pembengkak, air, penahan lembab dan bahan pengawet (Voigt, 1995). Gel mempunyai kekakuan yang disebabkan oleh jaringan yang saling menganyam dari fase terdispers yang mengurung dan memegang medium pendispers. Perubahan dalam temperatur dapat menyebabkan gel tertentu mendapatkan kembali bentuk cairnya. Gel mempunyai sifat tiksotropi dimana gel menjadi encer setelah pengocokan dan segera menjadi setengah padat atau padat kembali setelah dibiarkan tidak terganggu untuk beberapa waktu tertentu (Ansel, 1989). Zat tambahan pada sediaan topikal salah satunya yaitu zat peningkat penetrasi. Zat peningkat penetrasi merupakan zat tambahan yang dimaksudkan untuk

meningkatkan jumlah zat yang terpenetrasi agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik melalui kulit. Adapun syarat-syarat zat peningkat penetrasi antara lain yaitu tidak mempunyai efek farmakologi, tidak meyebabkan iritasi alergi atau

toksik, dapat bercampur secara fisika dan kimia dengan banyak zat, dan dapat dibuat dalam berbagai sediaan (Agoes, 1993). (http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/04/pengaruh_propilen_glikol_terhadap _laju_difusi)_Propilen glikol dalam sediaan farmasi berfungsi sebagai humektan, pelarut, pelicin, dan sebagai penghambat fermentasi dan pertumbuhan jamur, desinfektan, dan untuk meningkatkan kelarutan (Weller, 1994). Selain itu juga penambahan propilen glikol pada sediaan topikal juga dapat meningkatkan laju difusi (Agoes dkk, 1983) Untuk mengetahui laju dan pengaruh zat peningkat penetrasi perlu dilakukan pengujian pelepasan zat aktif secara in vitro dari sediaan semi solid dapat dilakukan dengan metode lempeng agar dan metode membran. Kedua metode ini digunakan untuk membandingkan pelepasan obat dari sediaan semi solid yang bervariasi (Voight, 1994). Penelitian kuantitatif yang dilakukan oleh Treherne membuktikan bahwa sebagian besar molekul kimia diserap melalui kulit secara difusi pasif (Aiache, 1993). Difusi pasif melalui kulit yang merupakan membran biologis ini mengikuti hukum Ficks I dimana jumlah fluks obat yang melewati membran tergantung dari koefisien permeabilitas membran dan konsentrasi obat yang terlarut dalam pembawa. Penyerapan senyawa pada pemberian transdermal berkaitan dengan pemilihan bahan

pembawa sehingga bahan aktif dapat berdifusi dengan mudah ke dalam struktur kulit. Bahan pembawa dapat mempengaruhi keadaan dengan mengubah permeabilitas kulit dalam batas fisiologik dan bersifat reversibel terutama dengan meningkatkan kelembaban kulit (Aiache, 1993).

c. Uji difusi

Difusi bebas atau transpot pasif suatu zat melalui cairan, zat padat atau melalui membrane adalah suatu proses yang sangat penting dalam ilmu farmasi. Pokok dari fenomena transpor massa yang diterapkan dalam bidang farmasi adalah disolusi obat dari tablet, serbuk dan granul, liofilisasi, ultrafiltrasi dan proses mekanik lainnya. Pelepasan obat dari basis salep atau supositoria lewatnya uap air, gas, obat, atau zat tambahan pada sediaan obat melalui

penyalutan pengemasan, lapisan tipis, dinding wadah plastic, seal, serta permeasi dan distribusi molekul obat dalam jaringan hidup.

DIFUSI Difusi didefinisikan sebagai suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molecular secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas, misalnya suatu membrane polimer, merupakan suatu cara yang mudah untuk menyelidiki proses difusi. Perjalanan suatu zat melalui suatu batas bisa terjadi oleh suatu permeasi molecular sederhana atau oleh gerakan melalui pori dan lubang atau saluran. Difusi molecular atau permeasi melalui media yang tidak berpori bergantung pada disolusi dari molekul yang menembus dalam keseluruhan membrane. Sedang proses kedua menyangkut perjalanan suatu zat melalui pori suatu membrane yang berisi pelarut dan dipengaruhi oleh ukuran relative molekul yang menembusnya serta diameter dari pori tersebut. Lewatnya molekul molekul steroid melalui kulit manusia mungkin sebagian besar meliputi transport melalui folikel rambut, saluran sebum dan pori pori keringat pada epidermis contoh yang lebih baik dari suatu membrane pada skala molecular adalah suatu susunan anyaman polimer yang berakhir dengan cabang dan persilangan saluran bergantung pada ukuran dan bentuk dari molekul yang berdifusi, molekul-molekul itu bisa melalui pori-pori yang berkelok-kelok yang terbentuk oleh tumpang tindihnya ujung polimer. Jika transport melalui saluran tersebut terlalu besar, zat yang berdifusi bisa larut dalam kandungan polimer dan menembus lapisan tipis dengan difusi sederhana. Hukum fick pertama: Sejumlah M benda yang mengalir melalui satu-satuan penampang melintang S dari suatu pembatas dalam satu-satuan waktu dikenal sebagai aliran. Sebaliknya aliran berbanding lurus dengan perbedaan konsentrasi. Konstanta difusi tidak selamanya konstan, karena konstanta tersebut bisa berubah harganya pada konsentrasi yang lebih tinggi. Harga konstanta distribusi juga dipengaruhi oleh temperature, tekanan sifat pelarut dan sifat kimia, dari difusan. Oleh karena itu, konstanta difusi lebih tepat dikatakan sebagai suatu koefisien difusi daripada suatu konstanta.

Hukum fick kedua : Seseorang sering ingin menguji kecepatan perubahan konsentrasi difusan pada suatu titik dalam suatu system. Persamaan untuk transport massa menekankan perubahan konsentrasi dengan berubahnya waktu pada suatu lokasi tertentu daripada difusi massa melalui satu-satuan luas dari barier dalam satuan waktu. Hukum fick pertama memberikan aliran (laju difusi melalui satuan luas) dalam aliran pada keadaan tunak. Hukum kedua secara umum menyatakan suatu perubahan dalam konsentrasi difusan terhadap waktu. Pada setiap jarak x, yakni suatu aliran keadaan tunak tetapi keadaan tunak bisa digambarkan dalam bagian dari hukum kedua. Dengan

mengingat difusan awalnya dilarutkan dalam suatu pelarut pada kompartemen sebelah kiri. Pelarut ditempatkan pada sisi sebelah kanan dari pembatas dan zat terlarut atau penetran mendifusi melalui pembatas pusat dari larutan ke sisi pelarut (dari kompartemen donor ke kompartemen reseptor ). Dalam percobaan difusi, larutan dalam kompartemen reseptor dipindahkan dan diganti secara terus menerus dengan pelarut baru untuk menjaga agar konsentrasi selalu rendah. Keadaan ini disebut keadaan sink ( sink conditions ). Kompartemen kiri sebagai sumber dan kompartemen kanan sebagai sink. Mula-mula konsentrasi difusan dalam kompartemen kiri akan turun dan konsentrasi difusan dalam kompartemen kanan akan naik sampai system tersebut mencapai kesetimbangan, berdasarkan laju hilangnya difusan dari sink dan sifat alamiah dari

pembatas. Bila system tersebut berada dalam periode waktu yang cukup, konsentrasi difusan dalam larutan sebelah kiri dan sebelah kanan pembatas menjadi constant terhadap waktu, tapi jelas tidak sama dalam kedua kompartemen. Jadi, dalam tiap irisan difusi tegak lurus dengan arah aliran . Dalm setiap irisan difusi tegak lurus dengan aliran,laju berubahnya konsentrasi dc/dt akan sama dengan nol dan dengan hukum ke dua. Dc/dt=d d2c/dx2=0 Perbedaan konsentrasi di seberang membrane dc/dx adalah konstan. Hal ini menunjukan suatu hubungan linier antara kosentrasi c dan jarak r. Konsentrasi tidak akan konstan secara kaku tetapi agak sedikit bervariasi terhadap waktu, dan juga dc/dt tidak benar-benar

sama dengan nol, keadaan ini disebut keadaan stasioner dan akan didapat sedikit kesalahan dengan menganggap masa tunak. Jika suatu diagram memisah dua kompartemen dari suatu sel difusi dengan luas penampang melintang s dan dengan ketebalan dan jika konsentrasi dalam membran di sebelah kiri (donor ) dan di sebelah kanan (reseptor) adalah c1 dan c2 hukum fick pertama dapat di tulis: J=DM/sDt=d(c1-c2/h) Dimana (c1-c2)/h kira-kira dc/dx perbedaan (c1-c2)/h dalam diafragma harus dianggap konstan untuk terjadi keadaan suatu stasioner menganggap bahwa lapisan batas air disebut lapisan stasis atau lapisan yang tidak teraduk pada kedua sisi membran tidak berpengaruh nyata terhadap proses transport total. Konsentrasi c1 dan c2 dalm membrane biasanya tidak diketahui tetapi dapat diganti dengan koefisien partisi dikalikan dengan konsentrasi cd pada sisi donor dan cr pada sisi reseptor. Suatu bentuk sediaan dengan aktifitas konstan mungkin tidak menunjukan proses keadaan masa tunak dari waktu pelepasan awal. Lag time adalah waktu yang dibutuhkan oleh suatu penetral (zat yang akan berpenetrasi) untuk memantapkan perbedaan konsentrasi yang sama di dalam membran yang memisahkan kompartemen donor dari kompartemen reseptor. Pengukuran lag time memberikan suatu cara menghitung difusivitas. Difusivitas bergantung pada tahanan atau hambatan terhadap jalannya molekul yang terdifusi. Molekul gas yang terdifusi dengan cepat melalui udara dan gas lainnya. Difusivitas dalam cairan lebih kecil dan dalam padatan lebih kecil lagi molekul gas lewat perlahan-lahan dengan berbagai kesulitan menembus lembaran logam dan pembatas berbentuk kristal. Difusivitas merupakan suatu fungsi dari struktur molekular zat difusan bahan yamg menjadi pembatas.

Absorbsi Obat Melalui Kulit

Tujuan umum penggunaan obat pada terapi dermatologi adalah untuk menghasilkan efek terapetik pada tempat-tempat spesifik di jaringan epidermis. Absorpsi perkutan didefinisikan sebagai absorpsi menembus stratum korneum (lapisan tanduk) dan berlanjut menembus lapisan di bawahnya dan akhirnya masuk ke sirkulasi darah. Kulit merupakan perintang yang efektif terhadap penetrasi perkutan obat (Lachman dkk,1994). Absorbsi per kutan suatu obat pada umumnya disebabkan oleh penetrasi obat melalui stratum korneum yang terdiri dari kurang lebih 40 % protein (pada umumnya keratin) dan 40 % air dengan lemak berupa trigliserida, asam lemak bebas, kolesterol dan fosfat lemak. Stratum komeum sebagai jaringan keratin akan berlaku sebagai membran buatan yang semi permeabel, dan molekul obat mempenetrasi dengan cara difusi pasif, jadi jumlah obat yang pindah menyebrangi lapisan kulit tergantung pada konsentrasi obat atau aimya. Bahan-bahan yang mempunyai sifat larut dalam keduanya, minyak dan air,

merupakan bahan yang baik untuk difusi melalui stratum korneum seperti juga melalui epidermis dan lapisan-lapisan kulit (Ansel, 2005). Prinsip absorbsi obat melalui kulit adalah difusi pasif yaitu proses di mana suatu substansi bergerak dari daerah suatu sistem ke daerah lain dan terjadi penurunan kadar gradien diikuti bergeraknya molekul (Anief, 1997). Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi umumnya obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel.

Difusi obat melalui membran Difusi melalui lapisan tanduk (stratum korneum) merupakan suatu proses yang pasif. Difusi pasif merupakan suatu proses perpindahan masa dari tempat yang berkonsentrasi tinggi ke tempat yang berkonsentrasi rendah. Membran dalam kajian formulasi dan biofarmasi merupakan suatu fase padat, setengah padat atau cair dengan ukuran tertentu, tidak larut atau tidak tercampurkan dengan lingkungan sekitarnya dan dipisahkan satu dan lainnya, umumnya oleh fase cair. Dalam biofarmasi, membran padat digunakan sebagai model pendekatan membran biologis. Membran padat juga digunakan sebagai model untuk mempelajari kompleks atau interaksi antara zat aktif dan bahan tambahan serta proses pelepasan dan pelarutan (Aiache, 1993).

Membran padat sintetik dapat dibedakan menjadi 3 kelompok yaitu membran polimer berpori, membran polimer tidak berpori, dan membran lipida tidak berpori (Aiache, 1993). Dalam studi pelepasan zat aktif yang berada dalam suatu bentuk sediaan digunakan membran padat tiruan yang berfungsi sebagai sawar yang memisahkan sediaan dengan cairan disekitarnya. Teknik pengukuran laju pelepasan yang tidak menggunakan membran akan mengalami kesulitan karena perubahan yang cepat dari luas permukaan sediaan yang kontak dengan larutan uji. Pengadukan pada media reseptor sangat berperan untuk mencegah kejenuhan lapisan difusi yang kontak dengan membran (Aiache, 1993). Perlintasan dalam membran sintetik umumnya berlangsung dalam dua tahap. Tahap awal adalah proses difusi zat aktif menuju permukaan yang kontak dengan membran. Pada tahap ini daya difusi merupakan mekanisme pertama untuk menembus daerah yang tidak diaduk, dari lapisan yang kontak dengan membran. Tahap kedua adalah pengangkutan. Tahap ini dapat dibagi atas dua bagian. Bagian yang pertama adalah penstabilan gradien konsentrasi molekul yang melintasi membran sehingga difusi terjadi secara homogen dan tetap. Bagian yang kedua adalah difusi dalam cara dan jumlah yang tetap. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi tidak berubah sebagai fungsi waktu. Dalam hal ini diasumsikan bahwa interaksi zat aktif-pelarut dan pelarut tidak berpengaruh terhadap aliran zat aktif.

III.

ALAT DAN BAHAN


Membran difusi Parasetamol Propilenglikol Cmc Na Na benzoate Cairan spangler Etanol Air suling asam oleat asam stearat minyak kelapa paraffin lesitin cera alba

BAHAN

ALAT Pompa peristaltic Pengaduk Gelas piala Tangas air thermometer Selang

IV.

CARA KERJA

Pembuatan Membrane Difusi 1. Siapkan alat dan bahan,timbang masing-masing bahan 2. Buat cairan spangler yang terdiri dari: asam oleat 10 g asam stearat 2,5 g minyak kelapa 7,5g paraffin 5ml lesitin 2,5 g cera alba 10 g 3. Timbang bobot awal kertas saring 4. Kertas saring dimasukan ke dalam cairan spingler yang telah dibuat, rendam selama 15 menit 5. Setelah 15 menit angkat kertas lalu diletakan diatas perkamen (pada bagian kasar perkamen agar mudah terserap) sambil di angin-anginkan sampai kering 6. Setelah kering timbang bobot akhir kertas saring (membrane) Pembuatan Sediaan Gel

Formula Gel Parasetamol Cmc Na Propilenglikol Na benzoate Air suling ad

Kel 1 0,5% 5% 10% 0.1% 100%

Kel 2 1% 5% 10% 0,1% 100%

Kel 3 1,5% 5% 10% 0,1% 100%

Kel 4 0.5% 5% 5% 0,1% 100%

Kel 5 1% 5% 5% 0,1% 100%

Kel 6 1,5% 5% 5% 0,1% 100%

1. Timbang masing-masing bahan 2. Na CMC dikembangkan dengan air 20x berat Na CMC. Masukan air hangat kedalam lumpang lalu Na CMC disebar sampai merata tunggu sampai 5 menit kemudian gerus hingga homogen (M1) 3. Dalam lumpang lain masukan parasetamol, Na benzoate dan propilenglikol kemudian gerus hingga homogen (m2) 4. Masukan m1 kedalam m2 aduk hingga homogen tambahkan air sedikit demi sedikit ad 60 gram Uji membrane difusi dengan metode flow through

1. Timbang 1g gel yang sudah di buat 2. Oleskan pada salah satu sisi membran yang berisi cairan spingler yang telah di keringkan 3. Letakan membran yeng telah diolesi gel pada donor, sisi yang ada gel diletakkan menghadap ke atas 4. Nyalakan pompa peristaltik 5. Tiap 20 menit ambil 5ml dari reseptor selama 1 jam. Pindahkan kedalam botol vial, ambil 5ml lagi dari air cadangan, masukkan kedalam air reseptor agar cairan pada reseptor tetap 330ml. Ulangi pada waktu 40 dan 60 menit. 6. Uji kadar parasetamol dengan spektrofotometri

V.

HASIL PENGAMATAN

KELOMPOK 4 bobot awal membrane : 0,0310 gram bobot akhir membrane : 0,0967 gram KELOMPOK 5 bobot awal membrane : 0,0811 gram bobot akhir membrane : 0,0945 gram KELOMPOK 6 bobot awal membrane : 0,0300 gram bobot akhir membrane : 0,1116 gram

Cairan spangler

membrane direndam

membrane diletakkan pada

pada cairan spangler

kertas perkamen agar cepat kering

Pembuatan gel Parasetamol 0,5%

oleskan 1gram gel pada membrane

alat flow through

hasil uji difusi

PARASETAMOL Consentration (X) 0 ppm 2 ppm 4 ppm (Unused) 8 ppm 10 ppm 15 ppm 20 ppm Ordinat value (Y) 0,0017 parasetamol 0,1693 parasetamol 0,3866 parasetamol 0,5812 parasetamol 0,6916 parasetamol 0,9913 parasetamol 1,3092 parasetamol

Regresi linier Jadi

a= 0,032634968 ; b= 0,06451800; r= 0,9989496 y= 0,032634968 + 0,06451800 x HASIL DIFUSI PARASETAMOL DALAM GEL

Kelompok 4

Kadar Parasetamol Sediaan gel 0,5% parasetamol

Waktu 20 40 60 20 40 60 20 40 60

Konsentrasi 0,0773 0,0921 0,1869 0,2021 0,1816 0,0983 0,1099 0,1697 0,1071

Sediaan gel 1% parasetamol

Sediaan gel 1,5% parasetamol

Kelompok 4 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,0773 = 0,032634968 + 0,06451800 x 0,044665032 =0,06451800 x X = 0,692287919 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,0921 =0,032634968 + 0,06451800 x 0,059465032 = 0,06451800 x X = 0,921681267 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,1869 =0,032634968 + 0,06451800 x 0,154265032 = 0,06451800 x X = 2,391038656

Kadar parasetamol kelompok 4


3.000000000 2.500000000 KONSENTRASI 2.000000000 1.500000000 1.000000000 0.500000000 0.000000000 Series 1 20' 0.692287919 40' 0.921681267 60' 2.391038656

Kelompok 5 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,2021= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,169465032 = 0,06451800 x X = 2,626631824 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,1816 =0,032634968 + 0,06451800 x 0,148965032 = 0,06451800 x X = 2,308891038

y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,0983 =0,032634968 + 0,06451800 x 0,065665032 = 0,06451800 x X = 1,01777848

Kadar parasetamol kelompok 5


3.000000000 2.500000000 KONSENTRASI 2.000000000 1.500000000 1.000000000 0.500000000 0.000000000 Series 1 20' 2.626631824 40' 2.308891038 60' 1.017778480

Kelompok 6 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,1099 = 0,032634968 + 0,06451800 x 0,077265032 = 0,06451800 x X = 1,197573266 y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,1697 = 0,032634968 + 0,06451800 x 0,137065032 = 0,06451800 x X = 2,124446387

y= 0,032634968 + 0,06451800 x 0,1071 = 0,032634968 + 0,06451800 x 0,074465032 = 0,06451800 x X = 1,154174525

Kadar parasetamol kelompok 6


2.500000000 2.000000000 KONSENTRASI 1.500000000 1.000000000 0.500000000 0.000000000 Series 1

20' 1.197573266

40' 2.124446387

60' 1.154174525

VI.

PEMBAHASAN
Pada praktikum uji difusi dibuat dalam sediaan parasetamol dalam gel. Dimana gel merupakan sistem semi padat dimana fase cairnya dibentuk dalam suatu matriks polimer tiga dimensi (terdiri dari gom alam dan atau gom sintesis) yang tingkat silang fisiknya tinggi (Lachman dkk, 1993). Polimer digunakan untuk membuat gel parasetamol adalah Na CMC. Gel yang dibuat pada praktikum ini bersifat hidrofilik. Menurut Voigt, 1995 gel hidrofilik umumnya mengandung komponen bahan pembengkak, air, penahan lembab dan bahan pengawet dan pada komponen gel yang dibuat dalam praktikum ini yaitu mengandung air, dan Na benzoate sebagai bahan pengawet. Dasar gel hidrofilik umumnya adalah molekul-molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan memiliki stabilitas yang lebih besar (Ansel, 1985). Kandungan air yang tinggi dalam basis gel dapat menyebabkan terjadinya hidrasi pada stratum korneum sehingga akan memudahkan penetrasi obat melalui kulit. Gel yang dibuat juga mengandung zat tambahan yaitu propilen glikol sebagai zat peningkat penetrasi. Zat peningkat penetrasi merupakan zat tambahan yang dimaksudkan untuk meningkatkan jumlah zat yang terpenetrasi agar dapat digunakan untuk tujuan pengobatan sistemik melalui kulit. Propilen glikol dalam sediaan farmasi berfungsi sebagai humektan, pelarut, pelicin, dan sebagai penghambat fermentasi dan pertumbuhan jamur, desinfektan, dan untuk meningkatkan kelarutan (Weller, 1994). Selain itu juga penambahan propilen glikol pada sediaan topikal juga dapat meningkatkan laju difusi (Agoes dkk, 1983). Setelah pembuatan gel parasetamol pengamatan dilanjutkan dengan uji difusi yaitu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molecular secara acak dan

berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas. Uji difusi dilakukan dengan menggunakan metode Flow through yang terdiri dari sel difusi, pompa peristaltic, pengaduk, gelas piala, tangas air, penampung reseptor, thermometer dan selang dengan diameter 4mm. Air pada penampung reseptor sebanyak 330ml, sesuai dengan banyaknya cairan dalam tubuh. Dalam uji difusi setiap pengambilan cairan dari reseptor harus selalu diganti dengan air cadangan untuk menjaga agar konsentrasi selalu rendah. Keadaan ini disebut keadaan sink ( sink conditions ). Pada uji difusi laju pelarutan obat merupakan jumlah obat terlarut per satuan luas per waktu. Laju pelarutan obat dapat dipengaruhi oleh sifat fisiko kimia obat, formulasi, dan pelarut. Sebagai tambahan suhu media juga mempengaruhi laju pelarutan obat. Suhu yang dipertahankan dalam metode flow through yaitu 370C (sesuai dengan suhu tubuh) karena kenaikan suhu akan meningkatkan energy kinetic molekul dan meningkatkan tetapan difusi. Terakhir difusan diukur dengan spectrometer uv untuk mengetahui kadar parasetamol dalam gel. Jika pada suatu obat diabsorpsi secara sempurna, maka akan diperoleh suatu korelasi linier (Shargel. L; 2005 p. 108). Dari grafik dapat dilihat bahwa kelompok 4 yaitu pada konsentrasi parasetamol 0,5% yang memperlihatkan korelasi linier antara waktu dan konsentrasi parasetamol dimana pada waktu 20 yaitu 0,692287919; 40 yaitu 0,921681267; dan waktu 60 yaitu 2,391038656. Pada kelompok 5 dengan sediaan parasetamol 1% dalam gel menunjukkan grafik menurun yatu menunjukkan bahwa semakin bertambahnya waktu kadar parasetamol semakin menurun, sedangkan pada kelompok 6 dengan sediaan parasetamol 1,5% dalam gel menunjukkan grafik yang terlihat adalah naik-turun dimana pada waktu 20 yaitu 1,154174525; 40 yaitu 2,124446387 dan 60 yaitu 1,197573266.

VII.

KESIMPULAN

Laju pelarutan obat dapat dipengaruhi oleh sifat fisiko kimia obat, formulasi, dan pelarut.

Sebagai tambahan suhu media juga mempengaruhi laju pelarutan obat karena kenaikan suhu akan meningkatkan energy kinetic molekul dan meningkatkan tetapan difusi. Gel yang dibuat pada praktikum ini bersifat hidrofilik karena mengandung air, dan Na benzoate sebagai bahan pengawet. Gel yang dibuat juga mengandung zat tambahan yaitu propilen glikol sebagai zat peningkat penetrasi sehingga dapat meningkatkan laju difusi. Dari grafik dapat dilihat bahwa kelompok 4 yaitu pada konsentrasi parasetamol 0,5% yang memperlihatkan korelasi linier antara waktu dan konsentrasi parasetamol dimana pada waktu 20 yaitu 0,692287919; 40 yaitu 0,92168126.

VIII.

DAFTAR PUSTAKA
Shargel, Leon. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan Edisi II. Surabaya: Airlangga University Press. Nurmeilis, M.Si, Apt,dkk. 2009. Penuntun Praktikum Farmakologi. Program studi farmasi FKIK UIN SYAHID Jakarta Katzung, BG. 1997. Farmakologi Dasar dan Klinik, edisi 6. Jakarta: EGC Anonim. 1979. Farmakope Indonesia edisi ketiga. Jakarta: Depkes RI http://pustaka.unpad.ac.id/wpcontent/uploads/2009/04/pengaruh_propilen_glikol_terhadap _laju_difusi