Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH MIKROBIOLOGI PANGAN Salmonella pullorum Dosen pengampu : Fitriyono Ayustaningwarno, STP, M.

Si

disusun oleh : Dwi Astuti Farikha Ika Nindyas R. Rusdaina 22030111130033 22030111130036 22030111130035

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat rahmat dan karunia-Nya-lah sehingga makalah yang berjudul Salomella pullorum ini dapat disusun. Makalah ini berisi tentang penjelasan mengenai taxonomy, penyakit yang disebabkan, gejala dan cara

pencegahannya, serta daur hidupnya. Materi dalam makalah ini disunting dari berbagai sumber ilmiah. Penyusun sangat menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan. Kami berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Semarang, 11 Mei 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Unggas adalah makhluk hidup yang rentan penyakit. Ada berbagai macam faktor yang menyebabkan penyakit dalam unggas, salah satunya adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Bakteri ini merupakan jenis bakteri pathogen karena menyebabkan penyakit bagi makhluk hidup. Ada berbagai jenis bakteri pathogen, salah satunya Salmonella pullorum. Bakteri ini menyebabkan penyakit pullorum pada unggas khusunya ayam dan kalkun. Bakteri ini menyebabkan penyakit pullorum. Penyakit pullorum dapat menyebabkan kematian jika menyerang unggas muda pada umur 3 minggu atau kurang dengan tingkat mortalitas antara 20-80%. Penyebaran penyakit pullorum sangat luas dan hampir di seluruh dunia pernah terserang. Pertama kali penyakit pullorum ditemukan pada tahun 1899. S. pullorum di Indonesia pertama kali diisolasi pada tahun 1971 oleh Sri Poernomo.Bakteri ini selain menimbulkan kematian pada unggas juga bisa menyebabkan penyakit jika kita memakan produk olahan unggas yang telah terinfeksi oleh Salmonella pullorum.

1.2 Rumusan Masalah 1.2.1 Bagaimana taxonomi dari Salmonella pullorum ? 1.2.2 Bagaimana karakteristik Salmonella pullorum ? 1.2.3 Penyakit apa yang disebabkan oleh Salmonella pullorum ? 1.2.4 Bagaimana gejala, pencegahan, dan pengobatannya ? 1.2.5 Bagaimana daur hidup dari Salmonella pullorum ?

1.3 Tujuan 1.3.1 Dapat mengetahui taxonomi dari Salmonella pullorum 1.3.2 Dapat mengetahui karakteristik dari Salmonella pullorum 1.3.3 Dapat mengetahui penyakit apa yang disebabkan oleh Salmonella pullorum 1.3.4 Dapat mengetahui gejala, pencegahan, dan pengobatannya 1.3.5 Dapat mengetahui daur hidup dari Salmonella pullorum

1.4 Manfaat 1.4.1 Untuk mengetahui taxonomi dari Salmonella pullorum 1.4.2 Untuk mengetahui karakteristik dari Salmonella pullorum 1.4.3 Untuk mengetahui penyakit apa yang disebabkan oleh Salmonella pullorum 1.4.4 Untuk mengetahui gejala, pencegahan, dan pengobatannya 1.4.5 Untuk mengetahui daur hidup dari Salmonella pullorum

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Taxonomi Kingdom Filum Kelas Ordo Familia Genus Spesies : Bacteria : Proteobacteria : Gammaproteobacteria : Enterobacteriales : Enterobacteriaceae : Salmonella : Salmonella pullorum

2.2 Karakteristik

Gambar Salmonella pullorum.

Salmonella adalah salah satu dari 14 genus bakteri dari keluarga Enterobacteriaceae. Enterobacteriaceae ini adalah bakteri yang berbentuk batang pendek, gram negatif, aerob/fakultatif, tidak berspora, bergerak (peritrichous) tidak bergerak (atrichous), mereduksi nitrat menjadi nitrit,

mengadakan fermentasi glukosa dengan atau tanpa gas, katalase positif, dan oksidasi negative.1 Genus Salmonella ini meliputi bakteri yang mempunyai hubungan serologik,berbentuk batang pendek, gram negatif, aerob/fakultatif,tidak berspora, bergerak dengan flagel peritrichous,tidak mengadakan fermentasi adonital dar sukrosa,tidak membentuk indol, tidak merubah urea maupunacetil-methyl carbonial.2 Kadang-kadangterjadi

mutasi bakteri yang tidak bergerak, darterdapat tipe kuman yang tidak bergerak yaituSalmonella pullorum dan S.gallinarum. Salmonella pullorum adalah bakteri berbentuk batang pendek, tidak berspora dan unggas/ayam sebagai host spesifiknya . Salmonella pullorum ditemukan pertama kali tahun 1899, uji aglutinasi tabung untuk mendeteksi ayam karier ditemukan pada tahun 1913, sedang uji aglutinasi dengan darah (whole blood test) ditemukan pada tahun 1931. 3 Di Indonesia S. pullorum diisolasi pertama kali pada tahun 1971. 4

2.3 Antigen Salmonella Genus Salmonella ini mempunyai antigen badan somatik O (ohne) dam antigen flagel H (hauch) sebagai contoh: O:H S. typhi 9,12 [Vi] : d : S. typhimurium 1, 4, 5, 12 : i : 1, 2 Anggota genus Salmonella ini mempunyai struktur antigen yang tidak stabil dan dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu dan bakteri ini pada suatu saat dapat membentuk variasi secara tiba-tiba, variasi antigen : 1. Antigen variasi H-O, dimana bakteri kehilangan antigen H. 2. Antigen variasi S T R, dimara bakteri kehilangan antigen O 4 transisi dari bentuk S (smooth) ke bentuk T (transient) atau bentuk R (rough). Bentuk T-bentuk antara S dar R, bentuk S mengandung struktur antigen O yang karakteristik dari serotip yang bersangkutan, sebaliknya bentuk R = kehilangan antigen O yang normal.
2

karena itu kita mengenal

3. Variasi bentuk a. Variasi O, variasi ini terjadi pada beberapa serotipe Salmonella yang mengandung antigen 0 1 ; 06; 0,2. Sebagai contoh Salmonella yang mengandung antigen 0 1 ; ada beberapa koloni yang mengandung antigen O, secara kuantitatif banyak (+ +) sedang beberapa koloni jumlahnya sedang (+) dan ada yang sedikit sekali (), begitu pula untuk 06 . Sedarg antigen 012, adalah kolnpleks, terdiri dari tiga fraksi yaitu 12 1 , 12 2, 123 . Harya fraksi 122 yang mengalami variasi, hal ini dapat terlihat pada struktur antigen S. pullorum, S. pullorum strain standar mengandung fraksi 12 2 sedikit (12 3 dominan) S. pullorum strain varian mengandung fraksi 12 2 dalam jumlah lebih banyak daripada 12 3 . S. pullorum strain intermediate mengandung fraksi 122 dan 123 sama banyak.
5

b. Variasi Vi (V-W), variasi ini memiliki strain V = koloni yang memiliki antigen Vi, sedang strain W= koloni yang kehilangan antigen Vi. c. Variasi M-N, mengalami suatu perubahan bentuk M (mucoid) ke bentuk normal (nonmucoid) 4. Variasi fase a. Variasi H, ada tiga macam variasi : variasi fase spesifik-non spesifik dari Andrewes: S. paratyphi B (1, 4, 5, 12 : b : 1, 2) variasi fase a-R dari Kauffmann & Mitsui: S. abony (1, 4, 5, 12 : b: enx) variasi fase Edwards & Bruner : S. wien (4, 12, 27 : b :lw)

b. Phase-Rhough: Phase-R: bakteri yang kehilangan antigen H Phase-S-R: bakteri yang kehilangan antigen O

2.4 Sifat Biokomia Salmonella sp. bersifat aerob dan anaerob falkultatif, pertumbuhan Salmonella sp. pada suhu 37oC dan pada pH 6-8. Salmonella sp. memiliki flagel jadi pada uji motilitas hasilnya positif , pada media BAP (Blood Agar

Plate) menyebabkan hemolisis. Pada media MC (Mac Conkay) tidak memfermentasi laktosa atau disebut Non LaktosaFermenter (NLF) tapi Salmonella sp. memfermentasi glukosa, manitol dan maltose disertai pembentukan asam dan gas kecuali S. typhi yang tidak menghasikkan gas. Kemudian pada media indol negatif, MR positif, Vp negatif dan sitrat kemungkinan positif. Tidak menghidrolisiskan urea dan menghasilkan H2S.6

2.5Pullorum Disease Penyakit pullorum adalah penyakit unggas yang ditularkan melalui telur, terutama pada ayam dan kalkun yang ditandai dengan berak putih dan kematian tinggi pada unggas muda. Unggas dewasa bertindak sebagai karier. Penyakit pullorum terutama menyerang ayam dan kalkun umur dibawah satu bulan serta unggas lain. Penyakit pullorum tersebar dimanamana di dunia. 7 Penyakit pullorum dapat menyebabkan kerugian ekonomi yang besar karena menyebabkan produksi telur turun, daya tunas (fertilitas) telur rendah, daya tetas rendah, kematian embrio tinggi, kematian anak ayam dibawah 4 mimggu tinggi, kadang-kadang ayam dewasa dapat juga mati, biaya uji serologik (pullorum) besar. S. pullorum seperti Salmonella spp . yang lain cenderung lebih sering menginfeksi unggas muda dibawah umur satu bulan dibandingkan unggas tua dan menyebabkan bakteriamia . S. pullorum mempunyai struktur antigen yang sama dengan S. gsllinarum yang hanya dapat dibedakan dengan uji biokimianya yaitu dulcitol dan ornithin dicarboxyease.8 S.pullorum bisa tahan berbulan-bulan bahkan beberapa tahun pada suhu sedang dan kondisi yang bagus, tetapi mudah dimusnahkan dengan mempergunakan desinfektan biasa dan mati oleh formaldehida yang dipakai untuk fumigasi pada mesin penetasan. Penyakit pullorum dapat ditularkan secara vertikal melalui telur dan induk kepada anaknya atau

secara horizontal dengan kontak langsung atau tidak langsung melalui air minum, pakan, alat-alat dsn vektor (serangga dan tikus). 8

2.6 Gejala Penyakit Pullorum a. Biasanya terlihat pada anak ayam muda yang berumur lebih dari 3 minggu.9 b. Indikasi pertama terlihat dari banyaknya anak ayam yang mati dan kematian yang terjadi segera setelah tanda-tanda diare pada tempat penetasan.9 c. Variabel tanda klinis dan tidak khusus.9 d. Diare putih 10 e. Depresi10 f. Bulu rontok10 g. Mata Tertutup10 h. kicau keras10 i. j. terengah-engah10 pincang10 Usus atau sekum peradangan10

k. Abu-abu nodul di paru-paru, hati, ampela dan dinding jantung10 l. m. Splenomegali10 n. Sekum inti10 o. Urat kristal dalam ureter10 p. Lumpuh 11 q. Mengantuk11 r. kebutaan pada burung yang masih muda11

2.7 Penularan Pullorum menyebar dari burung induk yang terinfeksi melalui telur ayam. Anak ayam yang terinfeksi menyebarkan penyakit lateral dalam temat penetasan. Laporan penyakit klinis pada spesies unggas selain ayam, kalkun dan burung merupakan tanda-tanda yang langka. 10

Gambar 2.1 Penularan Penyakit Pullorum Penularan menyebar secara vertikal melalui telur (transovarian) atau pada telur (oleh kontaminasi feses) atau dengan kontaminasi pakan dan air, kontaminasi inkubator, telur meledak, atau transmisi dari burung ke burung.Penularan hanya terjadi pada spesies yang spesifik (hanya terjadi pada burung).

2.8. Lesio Lesio pada anak ayam yang terserang pulorum adalah terjadi

pembengkakan hati, kongesti, fokal nekrotik pada hati, limpa bengkak, bersuara mengerik dengan keras, terengah-engah, perkejuan pada sekum, kantung kuning telur tidak terserap sempurna dan mengalami perkejuan. Terdapat materi keras di sekum, dikenal dengan cecal core dan terapat kristal urat pada ureter. Pada ayam dewasa terjadi lesio yang susah dibedakan dengan lesio yang ditimbulkan oleh penyakit fowl thypoid.12

Gambar 2.2S.pullorum. Bintil Putih keabu-abuan pada leher ayam. Lesi yang sama terjadi pada hati dan liver12

Gambar 2.3 S. pullorum. Synovitis hock joints pada ayam12

Gambar 2.4 S. pullorum. Pada ayam dewasa, ovary adalah organ yang sangat berperan. Ovarium menunjukkan sedikit degenerasi ova, beberapa yang menempel pada batang panjang dari bagian organ. Pada ovarium yang terinfeksi bisa berubah warna dan terinspitasi.

2.9 Penanganan

Gambar 2.5 Perbandingan efek serius dari uncontrolled pullorum disease dan hasil darai penggunaan agglutination test dan the disposal of reactors.

Pengendalian dan pemusnahan dari pullorum disease harus didasarkan pada pemecahan siklus transmisi. Hal tersebut dapat dilakukan dengan membuktikan dan mengeliminasi adult carrier, karena ini sebagian besar penyakit ini teradapat pada telur yang terinfeksi. Beberapa prosedur dilakukan untuk memastikan bahwa hanya telur yang tidak terinfeksi yang ditetaskan dan hanya ada ayam yang tidak terinfeksi. Blood testing pada ayam dewasa dan sekawanan kalkun yang sedang dalam masa perkembanngbiakan telah dilakukan oleh United States. Aglutination test, digunakan untuk mendetieksi pullorum carriers, berdasarkan satu atau lebih dari tiga metode, dinamakan the tube agglutination test, the rapid whole-blood plate test, dan rapid serum plate test. Masing-masing test berdasarkan fakta bahwa burung yang terinfeksi membawa aliran substansi imun (antibodi) dalam darahnya, di mana akan menggumpal (karena melekat bersaama dengan compact mass) sebuah suspense cair dari killed-pullorum organism (antigen) ketika test suspensi dicampurkan dengan serum atau keseluruhan darah dari burung yang terinfeksi. Penggumpalan dapat dilihat dengan mata telanjang dan mengindikasikan bahwa organisme hidup dan antibodi yang distimulasikan itu ada dalam burung. Darah dari burung yang tidak terinfeksi tidak mengandung antibody apapun dan oleh karenanyatidak ada penggumpalan ketika seluruh dara atau serum dari burung itu dicampur dengan antigen. The rapid whole-blood test telah tersebar luas digunakan untuk menguji ayam. Tes ini mudah dilakukan pada lapangan oleh siapapun yang dilatih untuk penggunaannya. State agricultural colleges untuk beberapa tahun telah melakukan train untuk peternak dalam melakukan bood test dan praktek prosedur lain dalam mengontrol pullorum disease. Tiga jenis agglutination tests yang disebutkan telah digunakan untuk mendiagnosa pullorum disease dan dijelaskan pada The National Poultry Improvement Plan and National Turkey Improvement Plan and Auxiliary

Provisions. Publikasi ini tersedia dari Agricultural Rem search Service, Washington 25, D. C. Dengan agglutination test dapat dihasilkan ayam yang bersih dan tidak terinfeksi. Seperti dapat dilihat pada gambar 2.5. dengan adanya

agglutination test, wabah pullorum disease dapat terkontrol. Sebuah jenis dari pullorum disease ditemukan di Canada pada 1941. Wabah terjadi pada sekawanan ayam yang hasilnya negative dari tes agglutinasi dan dirawat pada kelompok tidak terinfeksi. Wabah yang memiliki sejarah dan gejala yang sama dengan pullorum disease. Kelompok itu diisolasi dan dipelajari. Semua identic dengan Salmonella pullorum, kecuali variasi antigen dari strain pullorum asli yang digunakan untuk memproduksi antigen (tes cairan termasuk killed pullorum organism). Antigen ini dinamakan antigen standar, yang biasanya tidak bereaksi dengan adanya serum dari wabah. Wujud baru dari pullorum disease ini didesain sebagai variant type. Jenis ini telah ditemukan dalam banyak kasus di United States. Untuk mendeteksi infeksi pullorum baik yang standar maupun variant type , sebuah polyvalent-type whole-blood antigen digunakan dalam pengujian ini. Polyvalent antigen terdiri dari campuran baik standar maupun variant-type cultures dari Salmonella Pullorum; antigen standar hanya mengandung standard-type cultures.

2.10 Salmonella phage Telah dilakukan suatu ksperimen yang sebagai berikut.13 1. Total dari 15 fage didapatkan dari feses ayam, hati dari ayam terinfeksi pullorum disease dan S. pullorum, menggunakan jenis strains standar (S), carian (V) dan intermediet (I) dari organisme sebagai penyebar dan indicator strain. Fage tersebut diklasifikasikan menjadi 4 grup yaitu : grup I diambil dari feses, grup II dan II dari S.pullorum cultures dan membahas tentang apakah

bakteriofage bisa dijadikan media identifikasi S. pullorum. Hasilnya adalah

grup IV dari hati ayam yang terinfeksi. Selain itu, fage tersebut dibagi lagi menjadi 10 tipe. 2. Lytic action dari fage grup II dan III itu spesifik untuk serological subtypes dari S.pullorum. Oleh karena itu, hal ini mungkin untuk diidentifikasi dari subtype dari S.pullorum sebagai arti dari lytic action dari fage yang telah disebutkan sebelumnya. 3. Di luar 137 strain dari S. pullorum diperiksa, 127 (92,7%) ditemukan sebagai lisogenik esensial. S dan V strain itu non-lysogenik, sementara hampis semua strain I adalah lisogenik. 4. Intermediate Strain, yang telah banyak terdeteksi di Jepang, telah dibagi menjadi 9 tipe berdasarkan dari pelepasan fage dan fage

suspektibilitas dan penulisan dari fage yang dipercaya dapat cukup berguna untuk investigasi epizootiological dari pullorum disease. 5. Reseptor fage dari S. pullorum dari fage grup II dan III yang merupakan polisakarida yang disintesis pada suspektible strains. Kultur dari S, V dan I memiliki komponen yang sama dari monosakarida. 6. Menurut fakta dari V strain yang merupakan lisogenik pada fage grup II dan II, hal ini menjadi jelas bahwa antigen dari beberapa strain tipe V bervariasi dari 12, ++12, +- to 12, ++12,++.

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Salmonella pullorum menyebabkan pullorum disease pada unggas

khusuhnya ayam dan kalkun. Penyakit pullorum penyebarannya bisa melalui dari ayam parent (induk) melalui telur yang terinfeksi, dan jika telur tersebut terinfeksi, dan setelah ditetaskan, maka ayam yang berhasil menetas dari inkubator akan terinfeksi oleh penyakit tersebut, dan jika ayam tersebut berhasil hidup sampai tahap bertelur, maka ayam tersebut akan terus dan terus menghasilkan telur yang terinfeksi maka sebaiknya ayam tersebut dimusnahkan.

3.2 Saran Pilih dan cermati setiap bahan makanan yang akan dikonsumsi, khususnya daging. Memasak daging sampai benar-benar matang. Biasakan mencuci tangan sebelum memasak, setelah memasak, dan saat akan makan. Rawat setiap hewan peliharaan, khususnya unggas, dengan menjaga kesehatannya dan kebersihan tempat tinggalnya.

DAFTAR PUSTAKA

1. BREUNER,

D.J.

1984.

Enterobactenacial.

In:

Bergeys

Manual of

Systematic Bacteriology. First Edition Volume I . NOEL, R.K. (Ed.). Williams and Wilkins . Baltimore/London p. 964 2. KAUFFMANN, F. 1972 . Serological Diagnosis of Salmonella Species. Kauffinann White-Schema . First edition Munkgaard . pp. 126 3. CHARLTON BR., A.J . BERMUDEZ, M. BOULIANNE, D.A . HALVORSON, J .S . JEFFREY, L.J . NEWMAN, J.E . SANDER and P.S . WAKENELL. 2000. Avian Disease Manual. 5`I' Ed. The American Asociation ofAvian Pathologist Kennet Square, Pensylvania 19 : 48 . p. 243 . 4. POERNONO, S . 1971 . Salmonella pullorum pada anak-anak ayam. Bulletin LPPH 1(1) : 11-20. 5. ANONIMOUS. 2000. Manual ofStandards for Diagnostic Test and Vaccines . Office International des Epizeookis. World Organization for Animal Health. pp. 691-699. 6. 7. SHIVAPRASAD, H.L. 2000. Fowl typhoid and pullorum disease . Rev. Sci . Int. Epic . 19(2) : 405-424 . 8. SHIVAPRASAD, H.L . 1997. Pullorum Disease and Fowl Typhoid. In:

Diseases of Poultry. 10'h Ed. CALNEK (Ed.) . Iowa, State University Press . Ames. Iowa. USA. pp. 82-96. 9. The Control of Salmonella Infections in Poultry [internet]. Available from URL:http://www.safe-poultry.com/PullorumDisease.asp dikutip 1 mei 2012 10. Salmonella Pullorum, Pullorum Disease, 'Bacillary White Diarrhoea' [internet]. Available from URL : http://

www.thepoultrysite.com/diseaseinfo/131/salmonella-pullorum-pullorumdisease-bacillary-white-diarrhoea 11. Diseases: Salmonellosis pullorum [internet]. Available from URL : http://www.worldpoultry.net/diseases/salmonellosis-pullorum-d36.html

12. Sudomo,

Aging.

Pullorum 27,

pada Unggas 2011].

[internet].

2011 from

[Posted URL:

on February

Available

http://asudomo.wordpress.com/2011/02/27/pullorum-pada-unggas/aging sudomo 13. Tsubokura, Misao. Studies on Salmonella Pullorum Phage. JAP. J. VET. RES., VOL. 12, No.4, 1964 : 23, 48.