Anda di halaman 1dari 8

VIRUS NIPAH

1. SINONIM
Virus Nipah ditemukan pertama kali ketika terjadi wabah penyakit di Kampung Sungai Nipah, Malaysia pada tahun 1998. Virus ini bersama virus Hendra merupakan bentuk virus baru yaitu Henipavirus dalam family Paramyxoviridae (Anno 1999). Infeksi virus Nipah ini di Malaysia dikenal juga dengan sebutan Porcine Respiratory and Ensefalitis Syndrome (PRES) dan nama umumnya adalah "Barking Sindrom Babi" (BSB). Nipah (nee-pa) merupakan penyakit virus yang dapat menular pada hewan dan manusia. Wabah virus Nipah telah dilaporkan di Asia Tenggara (Malaysia, Singapura, India, dan Bangladesh). OIE and Australian Health Authorities merekomendasikan bahwa virus Nipah merupakan zoonosis yang sangat serius dengan kasus kematian 40-70%.

Dosen Pembimbing: Dr. drh. Trioso Purnawarman, MSi

Disusun oleh: Kelompok 5 Azrul Zulmy Adhi Mediesyah Ahmad Nurhayati Suwartiani Khansaa Mirajziana Raja Yufiandri Moh. Miftahurrohman S. Norsyamimi Jubidin B04070185 B04080030 B04080038 B04080072 B04080113 B04080139 B04088006

2. PENYEBAB
2.1 Agen Agen virus Nipah adalah dari family Paramyxoviridae. Klasifikasi virus tersebut menurut Bossart et al (2002) ialah: Grup : Grup V ((-) ssRNA) Ordo : Mononegavirales Famili : Paramyxoviridae Genus : Henipavirus Type spesies : Hendravirus Spesies : Nipah virus 2.2 Karakteristik Virus 2.2.1 Morfologi Virus Nipah Spiral yang simetris Memiliki selubung yang jelas (amplop) Ukuran diameter 150-200 nm Panjang 10.000-10.040 nm Berbentuk bulat dan berfilamen Bentuknya bervariasi Ukuran diameter inti kapsid 13-18 nm 2.2.2 Komposisi Genetik Virus RNA Umumya bersifat negatif Panjang nukleotida 15.200-15.900 Beruntai tunggal 2.2.3 Struktur Nirus Nipah

Bagian Kesehatan Masyarakat Veteriner Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor 2012

Replikasi virus Nipah sering terjadi pada epitel pernapasan induk semang. Replikasi virus ini mirip dengan virus lain yang terdapat dalam kelompok Paramyxoviridae dan secara keseluruhan sangat mirip dengan virus influenza. Replikasi kelompok virus ini terjadi di sitoplasma. Virus melekat pada permukaan sel inang, amplop ke membran plasma, dan inti kapsid dilepaskan ke dalam sel. RNA negatif ditranskripsikan menjadi RNA pembawa dan RNA positif yang digunakan untuk membuat RNA negatif. Setelah terjadi pertemuan antara kedua virus RNA tersebut kemudian virus mulai bertunas dari membran sel. Virus ini memiliki kemampuan seperti sel-sel yang dapat berfusi dan menciptakan sel-sel berinti besar yang disebut syncytia. Virus dapat shedding dan berpindah ke tubuh inang lainnya melalui feses, urin, air liur dan batuk.

Gambar 1 Struktur virus Nipah (Marahimi 2011)

Gambar 3 Siklus replikasi virus Nipah famili Paramyxoviridae (Moss dan Griffin 2006) 2.4 Vektor Biologis Virus Nipah telah terbukti dapat menyebabkan penyakit klinis pada babi dan manusia serta terjadi perubahan serologi di beberapa hewan seperti tikus, kucing, anjing, kuda, dan hewan ternak lainnya. Virus Nipah juga sangat umum di berbagai spesies kelelawar yang menjadi inang difinitif dari virus ini (Reynes et al, 2005). Penularan virus ini baik dari hewan ke hewan maupun dari hewan ke manusia dapat terjadi melalui

Gambar 2 Virus nipah dibawah mikroskop elektron (Wikipedia.com) 2.3 Siklus Hidup

kontak langsung pada hewan yang terinfeksi (biasanya babi) sehingga pada proses transmisi tidak melalui vektor biologis. 2.5 Daya Hidup Agen di luar Host Wijaya (2006) mengindikasi dalam penelitian beberapa dekade yang lalu bahwa virus Nipah berada pada kelelawar buah dalam bentuk inaktif. Perusakan habitat, perubahan iklim serta perkembangan dan perluasan industri pertanian mengakibatkan virus menjadi aktif dan menginfeksi spesies lain. Virus ini dapat bertahan dalam kotoran yang dikeluarkan oleh kelelawar dan gelembung air sehingga penularan secara inhalasi sangat efektif. Virus ini akan tumbuh baik pada pH yang optimal yaitu pH 7-8. Virus ini tidak tahan asam dan akan mati pada pemanasan dengan suhu 56 C selama 1 jam. Berdasarkan morfologinya, virus ini memiliki amplop sehingga tidak tahan terhadap pelarut lemak seperti eter, formalin dan deterjen.

3.3 Sumber Agen Penyebab 3.3.1 Infeksi Virus Nipah dapat menyebar akibat ulah manusia, yaitu pada saat terjadinya kebakaran hutan akibat penebangan liar. Peristiwa ini menyebabkan habitat alami kelelawar buah atau satwa liar lainnya tergaggu dan sumber makanan menjadi berkurang sehingga mereka bermigrasi ke tempat lain untuk dapat bertahan hidup (Chua 2003). Babi dapat terinfeksi akibat kontak atau makanan dari objek atau material yang terkontaminasi virus Nipah. Virus dapat menyebar diantara babi melalui kontak langsung ataupun udara pada saat babi yang terinfeksi tersebut batuk. Spesies lainpun dapat terinfeksi apabila adanya kontak langsung dengan babi yang terinfeksi atau objek yang terkontaminasi (CFSPH 2008).

3. SUMBER INFEKSI DAN CARA PENULARAN


3.1 Induk Semang Definitif Inang alami virus Nipah adalah sejenis kelelawar buah dari genus Pteropus. Hewan ini mendistribusikan virus ke wilayah timur, barat, dan tenggara wilayah Australia, Indonesia, Malaysia, Filipina dan sebagian wilayah Pulau Pasifik. Kelelawar diketahui rentan terinfeksi penyakit ini namun tidak menunjukan gejala klinis. Virus Nipah ditemukan pada banyak spesies kelelawar buah, diantaranya adalah Pteropus hyomelanus, Pteropus vampyrus, Pteropus giganticus, Pteropus lylei, Cynopterus brchyotis, Eonycteris spelaea, Hipposideros larvatus dan Scotophilus insectivorous kuhlii. Kelelawar buah dari genus Pteropus seperti Pteropus vampyrus dan Pteropus hypomelanus di Malaysia dan Pteropus lylei yang ditemukan di bagian Indochina merupakan induk semang alami virus Nipah (Chua 2010). 3.2 Induk Semang Antara Induk semang antara virus Nipah adalah babi. Babi adalah hewan yang diketahui secara umum memiliki kemiripan genetik dengan manusia, maka dari itu sering sekali virus yang menyerang manusia dengan beradaptasi terlebih dahulu di tubuh babi, termasuk virus Nipah. Babi yang terinfeksi virus Nipah dapat menunjukkan gejala asimptomatis dan juga simptomatis. Gejala yang simptomatis sering membuat kekhawatiran para peternak. Penularan virus Nipah dari kelelawar buah ke babi dapat terjadi karena adanya tumpang tindih antara habitat kelelawar dan peternakan babi di semenanjung Malaysia.

Gambar 4 Inang virus nipah (Chua 2003) 3.3.2 Penularan dari Hewan ke Hewan Babi adalah induk semang antara yang berpotensi tinggi menyebarkan penyakit. Babi yang terkena virus Nipah mempunyai beberapa karakter, ada yang tidak menunjukkan gejala klinis dan ada yang menunjukkan gejala klinis. Virus Nipah disebarkan oleh kelelawar yang

sering bermigrasi. Virus dapat ditemukan didalam urin, feses, dan sisa buah yang telah dimakan oleh kelelawar tersebut. (CFSPH 2008). Data surveillance menunjukkan bahwa virus Nipah menyebar dengan cepat diantara babi dalam satu peternakan dan penularannya melalui kontak dengan sekreta seperti urin, air liur, semen ekskreta dari hewan yang terinfeksi dan hewan yang menjadi pembawa vrus (carrier). Hewan lain yang dapat terinfeksi adalah kuda dengan gejala penyakit ensefalitis, anjing dengan gejala mirip distemper, demam, gangguan pernafasan, dan keluarnya cairan dari hidung dan mata. Kucing juga bisa terkena infeksi virus Nipah dengan gejala demam, depresi, dan gangguan pernafasan. Dari hasil penelitian diketahui bahwa penyakit ini dapat ditransmisikan kepada hamster. 3.3.3 Penularan dari Hewan ke Manusia Virus Nipah tidak hanya menyerang babi tetapi juga dapat menyerang manusia. Kontak langsung dengan babi yang terinfeksi merupakan cara penularan utama. Kasus pertama ditemukan dalam wabah besar di Malaysia pada tahun 1999 (Goh et al. 2000). Manusia yang diidentifikasi terinfeksi sebanyak 90% adalah peternak babi atau pernah kontak dengan babi. Infeksi pada manusia dapat bervariasi dari tidak ada gejala hingga meninggal. Selama periode epidemik tahun 19981999 di Malaysia, 40-50% dari kasus di manusia mengakibatkan kematian (CFSPH 2008). Beberapa wabah yang lebih kecil pada manusia terjadi setiap tahun di Bangladesh dan India Selatan sejak tahun 2001. Tingkat fatalitas lebih dari 200 kasus adalah sekitar 70%. Menurut Luby et al. (2006), kurma mentah yang terkontaminasi oleh air liur, air seni atau feses kelelawar dianggap sebagai cara penting dalam penularan virus Nipah ke manusia. Kemunculan kelelawar yang berhubungan dengan infeksi virus ke manusia diakibatkan hilangnya habitat alami kelelawar. Habitat kelelawar hancur akibat aktivitas manusia sehingga hewan tersebut stres, lapar, sistem kekebalan tubuh semakin lemah, dan jumlah virus dalam urin dan air liur kelelawar bertambah. Pada saat terjadi wabah virus Nipah di Bangladesh virus dapat ditularkan secara langsung dan tidak langsung dari kelelawar yang terinfeksi ke manusia (Gurley et al. 2007).

Gambar 5 Inang virus nipah (Chua 2003)

3.3.4 Penularan dari Manusia ke Manusia Pada awal wabah di Malaysia dan Singapura, sebagian besar infeksi pada manusia berasal dari kontak langsung dengan babi yang sakit atau bagian jaringan yang terkontaminasi. Penularan dari manusia ke manusia ditemukan di Bangladesh pada tahun 2004 (Gurley et al. 2007). Sumber infeksi yang paling mungkin terjadi pada saat wabah di Bangladesh dan India adalah melalui konsumsi buah-buahan atau produk buah (misalnya jus kurma mentah) yang terkontaminasi dengan urin atau air liur dari kelelawar buah yang terinfeksi (CFSPH 2008). Setelah kejadian wabah di Bangladesh dan India, virus Nipah menyebar secara langsung dari manusia ke manusia melalui kontak langsung dengan orang terinfeksi melalui sekresi dan ekskresi. Kasus manusia ke manusia juga telah dilaporkan terjadi pada penjaga dan pekerja rumah sakit di India pada tahun 2001. Petugas kesehatan

dan pengunjung rumah sakit menjadi terinfeksi setelah kontak langsung dengan pasien rawat inap yang terinfeksi virus Nipah (Cadha et al. 2006)

Babi muda

4. GEJALA KLINIS PADA HEWAN


4.1 Gejala Penyakit di Induk Semang Definitif Kalelawar buah dari genus Pteropus seperti Pteropus vampyrus dan Pteropus hypomelanus di Malaysia merupakan pembawa virus Nipah tetapi tidak menunjukkan gejala klinis. 4.2 Gejala Penyakit di Induk Semang Antara Gejala klinis yang terlihat sangat bervariasi pada kelompok usia babi. Babi menunjukkan kematian mendadak akibat gangguan pernapasan yang parah. Babi tua menunjukkan tingkat kematian yang lebih tinggi. Hewan rentan lain yang dapat terkena virus ini adalah hewan domestik seperti kuda, kambing, domba, kucing, dan anjing. Secara alami, infeksi Nipah pada hewan lain selain babi, tidak menimbulkan gejala yang sama seperti pada babi (Sendow dan Adjid 2005). Anjing yang terinfeksi virus Nipah menunjukkan gejala hampir sama dengan gejala klinis yang disebabkan oleh infeksi distemper, yaitu konjungtivitis, mata berair, ingusan, kadang-kadang disertai sesak napas, sedangkan pada kucing dapat menimbulkan gangguan pernafasan (Wahed et al. 2011) dan kuda menunjukkan gejala ensefalitis (CFSPH 2008). Menurut Nor (1999), gejala klinis pada babi sangat bervariasi pada setiap tingkatan usianya, diantaranya adalah: Tingkatan Usia Gejala yang khas Semua usia Gejala klinis berubah sesuai dengan tingkat pertumbuhannya : Gelisah Kejang Fasikulasi otot Kekejangan otot Kelemahan tulang belakang Kematian 1-2 hari setelah menyerang saluran pernafasan Semua babi tidak menunjukkan gejala yang khas Virus menyerang sistem pernafasan dan peredaran darah Babi yang masih Tidak terdapat laporan terjadinya penyakit ini pada menyusu babi yang masih menyusu Penyapihan dan Pertumbuhan

Dewasa

Nekropsi

Batuk Pernafasan melalui mulut Bentuk tubuh tidak normal Konvulsi Gejalanya umum dan ringan Demam Penurunan nafsu makan Sesak nafas Batuk Gangguan syaraf Kejang Gelisah Kandungan berisi gas Keguguran saat awal Kematian saat lahir Kematian mendadak Demam Penurunan nafsu makan Sesak nafas Pneumoni Batuk Sekresi hidung, berwarna kuning-hijau dan sedikit kemerahan Konsolidasi paru, khususnya bagian diafragma Paru-paru penuh dengan eksudat dan busa yang disertai kemerahan Ginjal mengalami kongesti dan pendarahan Organ dalam terlihat normal

5. GEJALA KLINIS PADA MANUSIA


Menurut APHIS Issues (1999), gejala klinis dari infeksi virus Nipah pada manusia adalah demam, sakit kepala, cepat lelah, batuk, sakit pada tulang punggung, muntah-muntah, lemah, radang tenggorokan (susah menelan), dan penglihatan berkurang. Gejala infeksi virus Nipah pada manusia ini mirip dengan flu seperti demam dan nyeri otot. Virus Nipah dalam beberapa kasus juga dapat menyebabkan radang otak yang ditandai dengan demam, gangguan syaraf, dan sulit bernafas. Manusia yang terinfeksi penyakit ini mempunyai sifat infeksi yang asimptomatik (gejala tidak terlihat) sampai yang berat yaitu ensefalitis. Infeksi virus Nipah menyebabkan demam tinggi selama 3-14 hari, sakit

kepala yang sulit diobati dengan obat-obatan golongan analgesik, diare, gangguan pernafasan, batuk, dan flu. Gejala ensefalitis yang paling utama yaitu depresi, pusing, inkoordinasi, konvulsi, epilepsi dan koma. Infeksi virus Nipah umumnya menyerang orang dewasa yang pernah kontak dengan babi yang terinfeksi. Hal ini berkaitan erat dengan jenis pekerjaan yaitu sebagai pekerja di peternakan babi atau rumah potong hewan (RPH). Masa inkubasi (interval dari infeksi sampai timbulnya gejala) terjadi antara 4-45 hari. Penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah dapat diketahui setelah penderita mengalami demam dan sakit kepala terus menerus. Gejala ini akan berkembang menjadi koma dalam 24-48 jam. Kebanyakan orang yang bertahan hidup dari ensefalitis akut dapat pulih kembali, namun sekitar 20% masih mengalami konsekuensi tanda neurologis seperti kejang persisten dan perubahan kepribadian. Sejumlah kecil orang yang sembuh akan kambuh kembali dan dapat mengalami ensefalitis kronis. Neurologis yang tidak berfungsi persisten dapat terjadi lebih dari 15% dalam jangka waktu yang lama. Tingkat fatalitas kasus pada manusia diperkirakan mencapai 9-75%, tergantung pada kemampuan virus menginfeksi.

6. DIAGNOSTIK AGEN PENYEBAB


Virus Nipah merupakan virus yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia, maka diagnosa infeksi virus Nipah memerlukan penanganan khusus. Diagnosa penyakit dapat dilakukan berdasarkan epidemiologi penyakit, pengamatan gejala klinis yang ditimbulkan, pemeriksaan laboratorium yang mencakup deteksi antibodi yang spesifik, isolasi virus penyebab, deteksi virus antigen dari sampel yang dicurigai, dan pemeriksaan patologi anatomi. Berbagai tes untuk virus atau antibodi virus Nipah antara lain serum neutralization (SN), polymerase chain reaction (PCR), enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan teknik antibody fluorescence. Virus mudah tumbuh didalam kultur jaringan. Virus Nipah merupakan zoonosis patogen biosecurity level 4 (BSL 4) dan harus sangat hati-hati dalam penanganan hewan yang terinfeksi, dalam mengumpulkan dan menguji sampel (Daniel et al. 2001). Uji SN merupakan uji yang paling sensitif dan spesifik untuk virus Nipah, sehingga uji tersebut dijadikan gold standard pengujian virus Nipah. Uji SN tersebut tidak tepat digunakan untuk melakukan surveillance karena pada uji SN digunakan virus hidup yang penangannnya mutlak dilakukan di laboratorium yang memiliki tingkat keamanan sangat tinggi dengan fasilitas Biosecurity Level (BSL) 4 sehingga biayanya menjadi sangat mahal. Sebagian besar negara di Wilayah Asia Tenggara tidak memiliki fasilitas

yang memadai untuk mendiagnosa virus atau cara mengendalikannya. Bangladesh, India dan Thailand telah mengembangkan kapasitas laboratorium untuk tujuan diagnostik dan penelitian. Uji ELISA dapat digunakan dan diterapkan di laboratorium yang sederhana karena menggunakan virus yang telah dimatikan sebagai antigen. Uji ELISA ini merupakan uji pilihan yang paling tepat dalam melakukan pengujian terhadap infeksi virus Nipah. Balai Besar Penelitian Veteriner (B Balivet) telah menerapkan uji ELISA terhadap serum babi dari beberapa daerah di Indonesia. Konfirmasi terhadap infeksi virus Nipah harus dilakukan dengan uji SN yang saat ini hanya dapat dilakukan di laboratorium Australian Animal Health Laboratory (AAHL), Australia. Deteksi antigen dengan menggunakan uji immuno-histokimia dari sampel organ yang terinfeksi merupakan uji yang sangat memungkinkan dapat diterapkan di Indonesia. Deteksi antigen dapat pula dilakukan dengan menggunakan polymerase chain reaction (PCR) atau teknik antibodi fluorescence (IFAT), namun pemeriksaan ini membutuhkan pengamanan yang khusus dan dilakukan di laboratorium dengan fasilitas BSL 3 (Sendow dan Adjid 2005). Pemeriksaan virus Nipah dapat dilakukan juga dengan kultur sel. Spesimen darah 10 ml, darah utuh dalam tabung EDTA 10 ml, fiksasi spesimen paru-paru segar, otak, organ-organ dan jaringan utama.

7. TINDAKAN PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN


Pencegahan merupakan sebagian dari komponen pengendalian. Sejak ditemukannya virus Nipah di Malaysia dan Singapura kebijakankebijakan mulai dikembangkan untuk membantu membasmi penyakit tersebut. Salah satunya adalah membasmi penyebaran virus Nipah dengan memilih babi yang berkualitas, memberikan vaksin pada ternak, mencari informasi lebih lanjut tentang pembawa utama virus, epidemiologi, dan patogenesis virus. Pencegahan lainnya adalah dengan tidak melakukan kontak langsung terhadap cairan tubuh dan jaringan hewan yang terinfeksi. Pencegahan terbaik pada hewan adalah berusaha menghindari babi yang diduga telah kontak dengan kelelawar buah dan mencegah hewan lain mendekati babi yang terinfeksi virus tersebut. Pencegahan pada manusia yang terbaik adalah berusaha menghindari kontak langsung dengan hewan yang dapat ditularkan oleh virus Nipah seperti memakan daging hewan yang tertular dan tidak memakan buah yang mungkin terkontaminasi oleh air liur atau urin kelelawar buah penyebab virus Nipah tersebut (CFSPH 2008). Pekerja kesehatan yang menangani pasien terinfeksi virus Nipah juga diharapkan

lebih waspada dengan selalu menggunakan standar keamanan ketika menangani pasien dan diberi vaksin sebagai antisipasinya. Pengawasan berulang (surveillance) adalah cara penting deteksi dini untuk penyakit yang disebabkan oleh virus Nipah. Cara ini telah diimplementasikan di Malaysia, Thailand, dan Bangladesh. Menurut Iehl et al. (2007), antibodi untuk henipavirus dapat ditemukan pada kelelawar buah di Madagaskar (Pteropus rufus, Eidolon dupreanum) dan menurut Hayman et al. (2008), antibodi untuk henipavirus dapat ditemukan pada kelelawar buah di Ghana (Eidolon helvum). Hal ini menandakan suatu distribusi geografi yang luas tetapi tidak ditemukan adanya infeksi pada manusia atau spesies lain di Kamboja, Thailand atau Afrika. Kesadaran pada infeksi virus ini harus ditingkatkan pada lokasi endemik yang disebabkan oleh kelelawar buah. Pengawasan pada hewan seperti kuda dan babi juga penting untuk deteksi dini infeksi virus Nipah. Tidak ada vaksin yang spesifik untuk mencegah infeksi virus Nipah namun vaksin aktif virus Nipah dan transfer pasif dari antibodi virus ini telah menunjukkan hasil yang baik pada penelitian dengan menggunakan hamster. Walpita et al. (2011) dalam penelitiannya, mendeskripsikan vaksin potensial dari virus Nipah (NiV) yang menyerupai partikel virus (NiV VLPs) dan tersusun oleh tiga protein virus Nipah yaitu protein G, F dan M. Ekspresi yang dihasilkan dari protein ini mengoptimalkan kondisi dalam jumlah yang dapat dihitung dari VLPs dengan banyak vaksin yang diinginkan termasuk beberapa VLPs dari paramyxovirus yang tidak terdeskripsikan. Vaksin yang dibuat dengan formulasi sub-unit vaksin rekombinan yang dapat melindungi agen letal virus Nipah berubah pada kucing (McEachern et al. 2008). Vaksin virus Nipah F dan G dari vektor ALVAC Canarypox dapat menjadi vaksin untuk babi dan berpotensi untuk manusia. Strategi utama adalah untuk mencegah virus Nipah pada manusia (Weingartl et al. 2006). Virus Nipah mudah diinaktifasikan oleh berbagai disinfektan, deterjen, sabun dan natrium hipoklorit (pemutih). Pembersihan fisik secara rutin dengan penggunaan disinfektan komersial atau pemutih akan mengendalikan virus di dalam lingkungan namun belum ada obat yang terbukti efektif dalam mengobati infeksi Pengobatan awal dapat dilakukan dengan menggunakan obat antiviral yaitu ribavarin yang dapat mengurangi demam dan gejala lainnya (Chong et al. 2001). Keefektifan pengobatan ini belum dipastikan dalam meningkatkan kelangsungan hidup penderita. Pengobatan ini difokuskan pada demam dan gejala syaraf pada penderita. Bagi pasien yang terinfeksi virus cukup parah disarankan untuk dirawat di rumah sakit dan bila perlu menggunakan ventilator. Ribavarin diberikan secara oral atau intravena

untuk 140 orang yang terinfeksi oleh virus ini dan asiklovir diberikan kepada semua pasien selama wabah di Singapura (Bellini et al. 2002.).

KESIMPULAN
Virus Nipah telah menyebar di wilayah Asia tetapi belum sampai masuk ke Indonesia. Faktor-faktor penyebab kemunculan penyakit zoonosa adalah perubahan ekologi, perubahan demografi dan perilaku manusia, perjalanan dan perdagangan antar negara, teknologi, industri dan globalisasi, adaptasi mikroba, serta kegagalan pencapaian kesehatan masyarakat. Penyakit yang diakibatkan oleh virus ini sangat berbahaya, terbukti dari tingginya case fatality rate (CFR) yang mencapai 50%. Tiap negara termasuk Indonesia harus melakukan tidakan pencegahan untuk mengendalikan penyebaran penyakit menular dan zoonosis, yaitu pengawasan berulang (surveillance), pendeteksian (detection) dan reaksi (response).

DAFTAR PUSTAKA
Anno. 1999. Outbreak of Hendra-like virus Malaysia and Singapore, 199899. Morb. Mort. Weekly Rep., 48 (13), 265-269. [APHIS]. Animal and Plant Health Inspection Service.1999. Nipah virus, Malaysia. Emerging Disease Notice Australian Wildlife Health Network. 2010. EXOTIC - Nipah Virus FACT SHEET. Australia Bellini WJ, Rota PA, and Parashar UD. 2002. Zoonotic paramyxoviruses. Richman, DD, Whitley, RJ, and Hayden, FG (eds.). Clinical virology 2nd ed. Washington, DC, USA: ASM Press Bossart KN, Wang LF, Flora MN, Chua KB, Lam SK, Eaton BT, Broder CC. 2002. Membrane fusion tropism and heterotypic functional activities of the Nipah virus and Hendra virus envelope glycoproteins. J Virol 76(22):11186-9 [CFSPH]. Center for Food Security and Public Health. 2008 Nipah. [terhubung berkala] http://www.cfsph.iastate.edu/iseaseInfo/ default.htm. [11 Maret 2012] Chadha MS, Comer JA, Lowe L, Rota PA, Rollin PE, Bellini WJ, Ksiazek TG, Mishra AC. 2006. Nipah virus-associated encephalitis outbreak, Siliguri, India. Emerg Infect Dis12:235-40 Chong HT, Kamarulzaman A, Tan CT, Goh KJ, Thayaparan T, Kunjapan SR, Chew NK, Chua KB, Lam SK. 2001. Treatment of acute Nipah encephalitis with ribavirin. Ann Neurol. 49:810-3. Chua KB. 2003 .Nipah virus outbreak in Malaysia. J Clin Vir. 26(3): 265275

Chua KB. 2010. Epidemiology, surveillance and control of Nipah virus infections in Malaysia. Malaysian J Pathol 2010; 32(2) : 69 73 Daniels P, Ksiazek T, Eaton BT. 2001. Laboratory diagnosis of Nipah virus and Hendra infections. Microbes Infect., 3. 2001:289-295. Goh KJ, Tan CT, Chew NK, Tan PSK, Kamarulzaman A, Sarji SA, Wong KT, Abdullah BJJ, Chua KB, Lam SK. 2000. Clinical features of Nipah virus encephalitis among pig farmers in Malaysia. N. Engl. J. Med. ;342, 12291235. Gurley E, Montgomery JM, Hossain MJ, Bell M, Azad AK, Islam MR. 2007.Person-toperson transmission of Nipah virus in a Bangladeshi community. Emerg Infect Dis. ;13:1031-7. Hayman DTS, Suu-Ire R, Breed AC, McEachern JA, Linfa Wang L, Wood JLN, Cunningham AA. 2008. Evidence of henipavirus infection in West African fruit bats. PLoS ONE 3 (7): 2739 Iehl C, Razafitrimo G, Razainirina J, Goodman SM, Faure C, GeorgesCourbot MC, Rousset D, Reynes JM, NicoleAndriaholinirina. 2007. Henipavirus and Tioman virus antibodiesin pteropodid bats, Madagascar. Emerging Infec. Dis 13 (1): 15961. Luby SP , Rahman M, Hossain MJ, Blum LS, Husain MM, Gurley E, Khan R, Ahmed BN, Rahman S, Nahar N, Kenah E, Comer JA, Ksiazek TG. 2006. Foodborne transmission of Nipah virus, Bangladesh. Emerg Infect Dis 12:1888-1894 Marahimi. 2011. Nipah Virus: A deadly encephalitis. [terhubung berkala] http://www.dr.marahimi.com/2011/11/05/nipah-virus/ [19 Maret 2012] McEachern JA, Bingham J, Crameri G, Green DJ, Hancock TJ, Middleton D. A recombinant subunit vaccine formulation protects against lethal Nipah virus challenge in cats. Vaccine. Volume 26, Issue 31, 23 July 2008:3842-3852. Moss WJ, Griffin DE. 2006. Global measles elimination. Nat Rev Microbiol. 4(12):900-8. Nor MNM. 1999. Emergency report on Nipah to the OIE. Disease Information 28: 12(20) Reynes JM, Counor D, Ong S, Faure C, Seng V, Molia S, Walston J, Georges-Courbot MC, Deubel V, Sarthou JL. 2005. Nipah virus in Lyles flying foxes. Cambodia.Emerg Infect Dis 11:1042 Sendow I, Adjid RMA. 2005. Penyakit Nipah Dan Situasinya Di Indonesia. Wartazoa Vol. 15 No. 2. Wahed F, Kader SA, Nessa A, Mahamud MM. 2011. Nipah Virus: An Emergent Deadly Paramyxovirus Infection In Bangladesh. J

Bangladesh Soc Physiol 6(2): 134 139. [terhubung berkala]. http://www.cfsph.iastate.edu [29 Maret 2012]. Walpita P, Barr J, Sherman Ml, Basler CF, Wang L. 2011. Virus-Like Particle-Based Nipah Virus Vaccine. Plos One Weingartl et al. 2006. Recombinant Nipah virus vaccines protect pigs against challenge. Journal of Virology 80, : 7929-38. Wijaya, AM. 2006. Mengenal penyakit dan wabah virus nipah (NiV). [terhubung berkala] http//:infodokterku.com [9 Maret 2012]