Anda di halaman 1dari 11

PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT.

PERTAMINA UP III PALEMBANG, SUMATERA SELATAN

Dibuat untuk memenuhi persyaratan permohonan Kerja praktek di PT. PERTAMINA UP III Palembang, Sumatera Selatan

OLEH: Dwi Yahrinta Pratiwi Rizka Hardiyanty Lola Rethiana (03081003065) (03081003074) (03081003075)

JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SRIWIJAYA INDERALAYA 2011

PROPOSAL KERJA PRAKTEK


1. Pelaksana Nama/NIM : 1. Dwi Yahrinta Pratiwi / 03081003065 2. Rizka Hardiyanty 3. Lola Rethiana Fakultas Jurusan Universitas
2. Tempat Pelaksanaan

/ 03081003074 / 03081003075

: Teknik : Teknik Kimia : Sriwijaya : PT. Pertamina UP III Palembang, Sumatera Selatan : 30 Januari 30 Maret 2012

3. Waktu Pelaksanaan

Inderalaya, Agustus 2011 Pelaksana Kerja Praktek

Dwi Yahrinta Pratiwi NIM.03081003065 Mengetahui,

Rizka Hardiyanty NIM.03081003074

Lola Rethiana NIM.03081003075

Ketua Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya,

Dosen Pembimbing Kerja Praktek,

Ir. H. A. Rasyidi Fachry, M.Eng NIP. 195109101981031001

Dr.Novia,ST.MT NIP.197311052000032003

PROPOSAL KERJA PRAKTEK DI PT. PERTAMINA UP III Palembang, Sumatera Selatan

I.

LATAR BELAKANG Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta semakin pesatnya pertukaran

informasi di era gobalisasi ini, menuntut kita untuk selalu meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang tangguh dan berkualitas. Negara Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya alam (SDA) yang dapat didayagunakan secara bijaksana. Peningkatan SDM di Indonesia lebih lambat dari degradasi kuantitas SDA yang sangat cepat. Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan dan kita tidak ingin SDA habis dan terkuras oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab akan eksistensi SDA ini. Hal tersebut merupakan masalah kita bersama sebagai mahasiswa kita perlu mencari solusi dalam eksistensi di masyarakat, yaitu sebagai : 1. Agent of change (komponen perubah) 2. Social Control (control sosial) 3. Iron Stock (kualitas sumber daya manusia ) Peran iron stock ini harus dipersiapkan secara sungguh- sungguh, iron stock tidak akan terbentuk dengan hanya mengandalkan bangku akademik, sebab hanya sumber daya manusia tangguh dan berkualitas yang dapat berkiprah dan berkompetisi dalam masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa didalam pembentukannya menjadi tangguh dan berkualitas, tidak hanya menerima materi dari bangku perkuliahan saja,tetapi juga dituntut proaktif dalam menggali ilmu yang ada aplikasinya didunia industri. Dengan adanya permasalahan diatas maka jajaran pihak Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya memasukkan kegiatan kerja praktek kedalam kurikulum wajib

dan merupakan kriteria kelulusan dalam pencapaian predikat sarjana strata satu (S-1) yaitu pada mata kuliah kerja praktek dengan bobot 2 sks. Melalui kerja praktek ini mahasiswa mendapat gambaran yang riil tentang kondisi operasi, aplikasi alat, permasalahan saat proses dan berbagai macam hal yang tidak bisa didapatkan pada saat perkuliahan. Disamping itu, mahasiswa dapat melihat aplikasi ilmu yang didapat secara teori pada saat perkuliahan digunakan didunia industri. Mahasiswa diharapkan secara proaktif memperhatikan kasus-kasus yang terjadi pada kondisi operasi karena tidak menutup kemungkinan mahasiswa akan mendapatkan hal-hal yang baru sehingga mendapat pengalaman dan pola pikir baru. Pengetahuan yang didapat selain kerja praktek dapat dijadikan pengalaman bekal terjun didunia kerja yang sesuai dengan bidang profesi yang ditempuh dibangku kuliah setelah menyelesaikan pendidikannya. Dengan demikian mahasiswa diharapkan mampu menjadi problem solver, bukan hanya sekedar problem viewer apalagi problem maker. Kiprah Pertamina UP III banyak dirasakan didunia perminyakan sebagai contoh unit pengolahan minyak mentah (refinery crude oil) yang memiliki fasilitas dan teknologi mutakhir dalam prosesnya. Teknologi tersebut adalah proses Catalityc Cracking sedangkan alat yang menjadi unggulannya adalahnya Fluidized Catalityc Cracker (FCC). Dengan landasan diatas, maka kami mengajukan permohonan untuk melakukan kerja praktek di Pertamina Unit Pengolahan III (UP III) Plaju-Palembang Sumatera Selatan, karena dengan melakukan kerja praktek dilokasi tersebut, kami dapat mempelajari secara langsung dan juga lebih mendalami pengetahuan yang terjadi pada proses minyak khususnya pengolahan minyak dan petrokimia, serta memperoleh pengalaman kerja dibidang industri kimia. II. LANDASAN PEMIKIRAN
1. Pertamina UP III Plaju-Palembang merupakan unit proses Crude Oil (Refinery

Process). Berbagai macam proses berlangsung dalam unit pengolahan tersebut mulai dari crude oil sampai menjadi bentuk refinery.

Crude oil Distillation Crude oil distillation adalah proses dimana crude oil difraksionasikan

berdasarkan kenaikan titik didih (boiling point). Crude oil yang berasal dari proses drilling (pengeboran) masih mengandung air, gas dan mineral-mineral berserta garam. Untuk lebih mengoptimasi hasil maka dibutuhkan pencucian pada crude oil tersebut. Proses ini dikenal dengan crude oil Pre Treatment. Pencucian tersebut dilakukan dengan dua cara :
a.

Separation Field Adalah proses yang menggunakan separator berupa vessel yang besar, dimana proses pemisahannya dengan cara gravitasi dalam vessel tersebut dibagi-bagi dalam berberapa zone. Zone-zone tersebut terbagi menjadi tiga fase yaitu gas, crude oil dan air yang mengandung mineral.

b.

Crude Desalting Adalah pencucian crude oil dari garam-garam dan partikel tersuspensi. Pada umumnya proses-proses refinery dapat dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu :
1. Separation (Distillation)

Untuk memisahkan Crude Oil ke dalam fungsinya masing-masing. 2. Conversion Biasanya digunakan untuk proses cracking untuk mengubah berat molekul dan boiling point.
3. Up Grading

Untuk

mendapatkan

produk

yang

diharapkan

crude

oil

dalam

penanganannya saat didestilasi diperlakukan dua kondisi :


Atmosphoric stage

Tekanan yang diberikan pada proses ini harus tinggi. Biasanya sekitar 10 20 lb/inc2 gauge atau bahkan lebih tinggi lagi. Temperaturnya sekitar 700oF

atau kurang lebih 370oC. Produk yang dihasilkan pada proses ini dikenal dengan Atmospheric Gas Oil (ASO).
Vacum Stage

Untuk memaksimalkan proses refinery maka bottom produk dari atmospheric Distillation di destilasi ulang di vaccum Distilation. Crude Oil tersebut dipanaskan menjadi suhu 700o -750o F pada flash point di Vaccum Tower dan diberi tekanan sekitar 20 -120 mmHg. Steam dapat juga digunakan untuk meningkatkan Vaporisasi. Kemudian produk yang keluar dari Vaccum Stage disebut Vaccum Gas Oil (VGO) dijadikan feed bagi Catalytic Cracking. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kandungan Gasoline dalam refinery produk nantinya. Selain proses Catalytic Cracking dapat pula dilakukan proses Coking, steam cracking, dan Hydro Cracking. Equipment yang biasa digunakan pada crude oil Distilation adalah Towers, Trays, Exchangers, fired Heaters berserta beberapa equipment tambahan seperti Pump, Valves dan instrument control. System utilitas yang digunakan seperti fuel, steam, air, Udara, energy.
2. Pertamina UP III Plaju merupakan Unit proses yang menggunakan teknologi modern

dalam pengoperasiannya seperti pengolahan minyak mentah (Crude Oil) lewat proses Catalytic Cracking. Cracking adalah proses yang digunakan industri perminyakan untuk memecah rantai hidro karbon yang panjang dengan katalis cracker sehingga didapat hidrokarbon dengan rantai yang pendek dan dihasilkan fraksi yang ringan. Model cracking dibagi tiga, yaitu : a. Thermal Cracking Proses Cracking dimana proses pemutusan ikatan antar karbonnya lewat proses pemanasan (Heating). b. Catalytic Cracking

Proses Cracking ini sebagian besar digunakan pada Industri perminyakan di seluruh c. dunia untuk memproduksi High-Octane Gasoline. Proses ini menggunakan katalis pemecah untuk memutuskan rantai karbon. Hydro Cracking Proses ini berdasarkan katalis dari bentukan radikal-radikal hydrogen untuk memecah ikatan karbon. Pertamina UP III Plaju menggunakan proses Catalytic Cracking dalam pengolahan minyak mentah (crude oil). Unit yang paling besar dari catalytic cracking adalah reaktor, separator dan generator. Proses Catalytic Cracking membutuhkan temperatur yang lebih rendah dari Thermal Cracking karena ada Catalytic Cracking digunakan Katalis. Gasoline yang dihasilkan dari catalytic memiliki bilangan oktan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Thermal Cracking, tetapi mengandung gas dan coke yang lebih rendah dibanding dengan Thermal Cracking. Kandungan Gasoline yang dihasilkan dari Catalytic Cracking dapat bermnacam-macam tergantung dari katalis dan kondisi operasi yang digunakan. Jenis Catalytic Cracking secara garis besar dibagi dua yaitu: a. Fixed Bed Catalytic Cracking
b. Moving Bed Catalytic Cracking

Komponen yang

paling berperan dalam proses Catalytic Cracking adalah

katalis.. sampai dengan tahun 1963 katalis yang biasa digunakan adalah adsorptive material berasal dari alam. Contohnya Sillica-Alumina, Kaolin, dll. Sekarang ini katalis sintentik dan zeolit telah banyak dikembangkan. Katalis-katalis ini memiliki aktifitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan katalis terlebih dahulu sejumlah logam yang dapat digunakan. Sebagai deaktive katalis yakni besi, nikel, vanadium, dan tembaga. Natural Catalyst memang lebih rendah harganya dibanding syntetic catalyst namun catalyst yang hilang (Catalyst Lost) selama proses lebih banyak terjadi. Disamping itu katalis dengan zeolit ( syntetic Catalyst) dapat menghasilkan lebih banyak Gasoline.

Catalytic Cracking Process Feed untuk proses ini berasal dari hasil destilasi di atmospheric stage. Bila

feednya berfasa liquid maka untuk meminimalisasi residual fuel dilakukan Vacuum Gas Oil (VGO). Kemudian VGO tersebut dialirkan ke reaktor disertai dengan penambahan katalis. Penanganan katalis pada dasarnya terdiri dari empat cara, yaitu : a. Fluidisasi Bed
b. Air lift (TCC dan Houndriflow) c. Fixed bed (Houdry) d. Suspended in oil (Suspensoid)

Fluid catalytic cracking unit sendiri memiliki beberapa tipe yang mempunyai kelebihan maing-masing. Tipe-tipe tersebut terdiri dari :
a. Regenerator diatas reaktor b. Regenerator dan reaktor pada level yang sama c. Regenerator dan reaktan dihubungkan dengan U-shaped Circulation.

d. Stacked
e. Reser CrackerReser

f. Close Bed. Didalam reaktor lewat proses Fluidisasi dengan injeksi steam maka terjadilah proses perengkahan (cracking) atau dengan kata lain pemutusan rantai karbon. Produk yang dihasilkan berupa Light Products, distillate oil, Heavy Fuel, gasoline , berserta produk lainya. Katalis yang digunakan di dalam reactor menjadi spent katalis yang diregenerasikan kedalam generator dengan dihasilkan Fuel Gas.
3. Pertamina UP III Plaju- Palembang menggunakan alat yang disebut residu Catalytic

penambahan steam dan udara maka

katalis dapat digunakan kembali. Pada saat terjadi proses regenerasi di generator

Cracking untuk menjalankan proses catalytic cracking tersebut.

4. Proses pelunakan air (softening) atau proses demineralisasi sebagai boiler feed Water

(BFW) untuk mensupplai kebutuhan steam yang diperlukan pada proses catalytic cracking. Steam diperlukan untuk dialirkan ke dalam reaktor untuk membantu proses Fluidisasi Catalytic Cracking selain itu steam dialirkan juga pada generator untuk meregenerasi katalis. III. TUJUAN
1. Mempelajari Aplikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi di Bidang Teknik

Kimia yang didapat di bangku Akademis pada Pertamina UP III Plaju.


2. Mempelajari secara rinci metode pengolahan Crude oil atau Crude Destillation unit

(CDU) di Pertamina UP III Plaju- Palembang Sumatera Selatan. 3. Mempelajari dan menganalisa berbagai kondisi operasi dalam proses yang menggunakan Fuidized Cracking Catalytic (FCC). 4. Mempelajari dan menganalisa neraca massa dan neraca bahan pada alat proses. 5. Mempelajari proses regenerasi katalis yang digunakan dalam proses Fluidized Catalytic Cracking.
6. Mengetahui dan mempelajari teknik pelunakan air (softening) untuk memenuhi

kebutuhan steam yang digunakan dalam fluidized Catalytic Cracking.


7. Membuka wawasan (point of view) baru bagi mahasiswa akan realitas dunia industri

Teknik Kimia yang kelak akan dihadapinya.


8. Melalui Informasi dan data yang didapat mungkin bisa memberikan sumbangsih

pikiran kepada perusahaan. 9. Memenuhi persyaratan kurikulum Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya.

IV. PERMASALAHAN
1. Optimal operasional katalis di proses Residue Fluid Catalytic Cracking unit

(RFCCU) meliputi :

Sensibilitas terhadap umpan atau feed. Optimal kondisi operasi. Control performance. Umur katalis Regenerabilitas.
2. Penyediaan Supplai Steam untuk proses Catalytic Cracking.

IV. RUANG LINGKUP KERJA PRAKTEK 1. Orientasi dan Studi Kepustakaan Merupakan pendahuluan berupa pengenalan terhadap hal-hal yang umum, seperti sejarah singkat PERTAMINA UP III Plaju Palembang dan hal-hal lain yang berkaitan dengan struktur organisasi dan personalia. 2. Studi Lapangan Mengamati dan mempelajari Residue Fluid Catalytic Craking Unit (RFCCU) serta peralatan penunjang lainnya. 3. Tugas Khusus Pengerjaan tugas khusus dari pembimbing. V. WAKTU PELAKSANAAN a. Waktu

Sesuai dengan surat permohonan yang diajukan kepada Pertamina Unit Pengolahan III Plaju-Palembang Sumatera Selatan. Kami akan melaksanakan Kerja Praktek dari tanggal 30 Januari s/d 30 Maret 2012. b. Pelaksanaan Jadwal rencana pelaksanaan Kerja Praktek : MINGGU KENO 1 2 3 4 5 URAIAN KEGIATAN Orientasi Pengenalan Kepustakaan Kelapangan Utilitas Tugas Khusus 1 + + 2 + + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 + 8 +

Keterangan : (+) ada kegiatan (-) tidak ada kegiatan

VI. PENUTUP Demikianlah proposal ini kami buat sebagai bahan pertimbangan bagi pimpinan Pertamina UP III Plaju-Palembang dengan harapan dapat menerima kami untuk melaksanakan Kerja Praktek. Selanjutnya pihak perusahaan dapat memberikan pengarahan dan bimbingan selama pelaksanaan Kerja Praktek ini. Atas perhatian dan bantuannya kami sampaikan terima kasih.