Anda di halaman 1dari 20

POTENSI CBM SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF DI INDONESIA CBM (coal bed methane) atau disebut juga Gas Metana

Batubara (GMB) merupakan energi alternatif yang sangat potensial pada saat ini. GMB ini sedang gencar-gencarnya dikembangkan di Indonesia melalui beberapa wilayah kerja yang sangat berpotensi di Indonesia. Wilayah kerja yang dilelangkan merupakan wilayah yang dalam peta cekungan batubara memiliki formasi pembawa batubara yang baik, dan sudah terbukti memiliki batubara yang mempunyai potensi tinggi.

GAMBAR 1 SUMBER DAYA CBM NASIONAL CBM merupakan sumber energi takterbarukan yang ditemukan dengan recent technology, sehingga diklasifikasikan sebagai EBT dan termasuk dalam kategori cadangan gas non konvensional. Perbedaan cadangan konvensional dan non konvensional terletak pada tingkat teknologi yang digunakan untuk mengambilnya, serta perbedaan pola pikir yang dibutuhkan. Sebagai cadangan gas

non konvensional, CBM merupakan gas dengan kandungan metana tinggi, mencapai 88-98% dan terjebak pada pori-pori batubara, dimana batubara ini tergenangi oleh air. Kandungan metana yang tinggi menguntungkan untuk dipakai secara langsung, karena tidak mengandung zat lain yang merugikan dalam pengolahan semisal H2S, sehingga disebut sweet gas. Dengan sedikitnya jumlah pengotor seperti H2S maka biaya pengolahan bisa diminimalisasi, berbeda dengan gas alam pada umumnya. Berdasar beberapa sampel yang diambil di lapangan, kandungan panas dari CBM mencapai 900-1100 BTU/SCF (British Thermal Unit / Standard Cubic Feet). Sebaga iperbandingan, dengan laju alir gas 1000 SCF/day, maka dapat terbangkitkan listrik sebesar 100 kWh. Berdasarkan segitiga sumberdaya Holditch (Gambar 2), cadangan non konvensional memiliki jumlah yang lebih besar dari cadangan konvensional, sehingga ketika permintaan energi meningkat dan teknologi telah mumpuni, eksplorasi dan eksploitasinya tidak terhindarkan. Untuk minyak, cadangan konvensionalnya adalah minyak ringan, sementara cadangan non konvensionalnya adalah minyak berat, minyak ekstra berat, serta oil shale. Untuk gas, cadangan konvensionalnya adalah gas kualitas tinggi (high quality gas), sedangkan cadangan non konvensionalnya adalah CBM, shale gas, gas mutu rendah, dan tight gas.

GAMBAR 2 SEGITIGA SUMBER DAYA HOLDITCH

Berdasarkan data ESDM, cadangan batubara Indonesia adalah sekitar 18-22 miliar ton, sehingga berimpilikasi cukup besarnya potensi CBM. Potensi CBM di cekungan batubara Indonesia berkisar pada angka 337-450 TCF (Trillion Cubic Feet), yang tersebar dengan detil sebagai berikut : TABEL I PERSEBARAN POTENSI DAN CADANGAN CBM INDONESIA

Dari Tabel I dapat terlihat bahwa potensi CBM yang paling besar terdapat di Sumatera dan Kalimantan, yang merupakan konsekuensi yang wajar sebagai wilayah yang memiliki cadangan batubara terbesar di Indonesia. Perbedaan utama cadangan dan potensi terletak pada tingkat kepastiannya, dimana cadangan memiliki tingkat kepastian lebih besar. Untuk mengetahui cadangan dibutuhkan investasi lebih lanjut dalam bentuk pemboran atau penambangan langsung. Apabila dibandingkan dengan potensi gas alam pada tahun 2005 sebesar 384 TCF, maka CBM memiliki keunggulan dalam jumlah potensi. Namun, cadangan gas alam pada 2005 telah mencapai 180 TCF sedangkan proyek-proyek CBM baru dimulai di Indonesia pada tahun 2008.Meskipun demikian, prospek CBM dapat dikatakan lebih baik dari gas alam, karena secara prinsip dimana ada batubara, disitu terdapat
3

CBM. Prinsip ini dikembangkan dengan acuan teori pembentukan CBM dari lapisan batubara yang ada. Berdasarkan data Bank Dunia, konsentrasi potensi terbesar terletak di Kalimantan dan Sumatera. Di Kalimantan Timur, antara lain tersebar di Kabupaten Berau dengan kandungan sekitar 8,4 TCS, Pasir/Asem (3 TCS), Tarakan (17,5 TCS), dan Kutai (80,4 TCS). Kabupaten Barito, Kalimantan Tengah (101,6 TCS). Sementara itu di Sumatera Tengah (52,5 TCS), Sumatera Selatan (183 TCS), dan Bengkulu 3,6 TCS, sisanya terletak di Jatibarang, Jawa Barat (0,8 TCS) dan Sulawesi (2 TCS). Sebagai informasi, sumber daya terbesar sebesar 6,49 TCS ada di blok Sangatta-1 dengan operator Pertamina hulu energi methane Kalimantan A dengan basin di Kutai. Disusul Indragiri hulu dengan operator Samantaka mineral prima dengan basin Sumatera Selatan yang mempunyai sumber daya 5,50 TCS, dan sumber daya paling rendah terlatak di blok Sekayu yang dioperatori Medco SBM Sekayo dengan basin Sumatera Selatan, dengan sumber daya 1,70 TCS. Pilot project CBM telah dilakukan Lemigas di Lapangan Rambutan pada 2004. Kontrak kerjasama CBM pertama dilakukan di 2008 dan hingga September 2009, telah ditandatangani 39 KKS CBM.

GAMBAR 3 SUMUR CBM DI LAPANGAN RAMBUTAN, SUMATERA SELATAN

Seiring bertambahnya kebutuhan akan energi, baik untuk listrik dan transportasi, negara-negara berkembang seperti Indonesia juga membutuhkan suatu energi alternatif yang dapat terus dikembangkan. Dapat kita lihat pada (Gambar 2), dimana kebutuhan akan energi untuk pembangkit listrik terus berkembang. Salah satu pembangkit listrik di dunia yang paling dominan adalah dari energi batubara. POTENSI CBM LUAR NEGERI Berdasarkan evaluasi yang dilakukan Advanced Resources International, Inc (ARI) tahun 2003, Indonesia memiliki cadangan CBM sekitar 400-453 TCF dan menempati posisi ke 6 di dunia.

GAMBAR 4 SUMBER PEMAKAIAN ENERGI UNTUK KONSUMSI LISTRIK DI DUNIA. TABEL II

JUMLAH CADANGAN CBM DUNIA NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 NEGARA Rusia China Amerika Serikat Australia/New Zealand Kanada Indonesia Afrika bagian Selatan Eropa bagian Barat Ukraina Turki India Kazakhstan Amerika bagian Selatan/Meksiko: Polandia JUMLAH CADANGAN 450-2.000 TCF 700-1.270 TCF 500-1.500 TCF 500-1.000 TCF 360-460 TCF 400-453 TCF 90-220 TCF 200 TCF 170 TCF 50-110 TCF 70-90 TCF 40-60 TCF 50 TCF 20-50 TCF.

Sumber Advanced Resources International, Inc (Ari)

PRODUKSI CBM Untuk memproduksi CBM, lapisan batubara harus terairi dengan baik sampai pada titik dimana gas terdapat pada permukaan batubara. Gas tersebut akan teraliri melalui matriks dan pori, dan keluar melalui rekahan atau bukaan yang terdapat pada sumur (Gambar 5). Air dalam lapisan batubara didapat dari adanya proses penggambutan dan pembatubaraan, atau dari masukan (recharge) air dalam outcrops dan akuifer. Air dalam lapisan tersebut dapat mencapai 90% dari jumlah air keseluruhan. Selama proses pembatubaraan, kandungan kelembaban (moisture) berkurang, dengan rank batubara yang meningkat.

GAMBAR 5 KAITAN ANTARA LAPISAN BATUBARA, AIR DAN SUMUR CBM. Gas biogenik dari lapisan batubara subbituminus akan dapat berpotensi menjadi CBM. Gas biogenik tersebut terjadi oleh adanya reduksi bakteri dari CO2, dimana hasilnya berupa methanogens, bakteri anaerobik yang keras, menggunakan H2 yang tersedia untuk mengkonversi asetat dan CO2 menjadi metane sebagai produk dari metabolismenya. Sedangkan beberapa methanogens membuat amina, sulfida, dan methanol untuk memproduksi metane. Aliran air, dapat memperbaharui aktivitas bakteri, sehingga gas biogenik dapat berkembang hingga tahap akhir. Pada saat penimbunan maksimum, temperatur maksimum pada lapisan batubara mencapai 40-90C, dimana kondisi ini sangat ideal untuk pembentukan bakteri metane. Metane tersebut terbentuk setelah aliran air bawah tanah pada saat ini telah ada. Apabila air tanah turun, tekanan pada reservoir turun, pada saat ini CBM bermigrasi menuju reservoir dari sumber lapisan batubara. Perulangan kejadian ini merupakan regenerasi dari gas biogenik. Kejadian ini dipicu oleh naiknya air tanah atau lapisan batubara yang tercuci oleh air. Hal tersebut yang memberikan indikasi bahwa CBM merupakan energi yang dapat terbaharui. Lapisan batubara dapat menjadi batuan sumber dan reservoir, karena itu CBM diproduksi secara insitu, tersimpan melalui permukaan rekahan, mesopore, dan mikropore (Gambar 6). Permukaan tersebut menarik molekul gas, sehingga tersimpan menjadi dekat. Gas tersebut tersimpan pada rekahan dan sistem pori pada batubara sampai pada saat air merubah tekanan pada reservoir. Gas kemudian
7

keluar melalui matriks batubara dan mengalir melalui rekahan sampai pada sumur. Gas tersebut sering kali terjebak pada rekahan-rekahan.

GAMBAR 6 KAITAN ANTARA POROSITAS MIKRO, MESO DAN MAKRO. CBM juga dapat bermigrasi secara vertikal dan lateral ke reservoir batupasir yang saling berhubungan. Selain itu, dapat juga melalui sesar dan rekahan. Kedalaman minimal dari CBM yang telah dijumpai 300 meter dibawah permukaan laut. Gas terperangkap pada lapisan batubara sangat bergantung pada posisi dari ketinggian air bawah tanah. Normalnya, tinggi air berada diatas lapisan batubara, dan menahan gas di dalam lapisan. Dengan cara menurunkan tinggi air, maka tekanan dalam reservoir berkurang, sehingga dapat melepaskan CBM (Gambar 7).

GAMBAR 7 PENAMPANG SUMUR CBM Pada saat pertama produksi, ada fasa dimana volume air akan dikurangi (dewatering) agar gas yang dapat diproduksi dapat meningkat. Setelah fasa ini, fasafasa produksi stabil akan terjadi. Seiring bertambahnya waktu, peak produksi akan terjadi, saat ini merupakan saat dimana produksi CBM mencapai titik maksimal dan akan turun (decline). Volume gas yang diproduksi akan berbanding terbalik dengan volume air. Bila volume gas yang diproduksi tinggi, maka volume air akan berkurang. Setelah peak produksi, akan terjadi fasa selanjutnya, yaitu fasa penurunan produksi (Gambar 8). Seperti produksi minyak dan gas pada umumnya, fasa-fasa tersebut biasa terjadi. Namun demikian, seperti yang telah diuraikan, CBM dapat terbaharukan. Dari (Gambar 8) terlihat karakteristik khusus yang dimiliki sumur CBM, yaitu produksi air yang sangat banyak pada awal proyek. Air ini berasal dari dewatering yang berfungsi untuk menurunkan muka air dari lapisan batubara. Sekalipun CBM sudah mulai terproduksi di awal, produksinya baru mencapai
9

10

puncak saat air sudah makin sedikit terproduksi, setelah itu mulai menurun secara alamiah. Puncak produksi dari CBM kebanyakan hanya berkisar pada ratusan MCFD. Disinilah terdapat permasalahan, dimana produksi gas yang sangat kecil pada awal, maka investor kesulitan untuk mendapatkan modalnya kembali dalam waktu yang cepat.

GAMBAR 8 PRODUKSI AIR DAN GAS VS WAKTU Berbeda dengan gas alam, yang pada saat awal dimana tekanan reservoir masih sangat besar,produksi gas akan sangat besar, sehingga dalam waktu singkat investor kembali mendapatkan modalnya. Karakteristik ini merupakan karakteristik khusus CBM. TABEL III PERBANDINGAN BEBERAPA FAKTOR KEEKONOMIAN CBM DAN GAS ALAM

10

11

Mengangkat CBM ke Permukaan CBM diproduksi dengan cara terlebih dahulu merekayasa batubara (sebagai reservoir) agar didapatkan cukup ruang sebagai jalan keluar gasnya. Proses rekayasa diawali dengan memproduksi air (dewatering) agar terjadi perubahan kesetimbangan mekanika. Setelah tekanan turun, gas batubara akan keluar dari matriks batubaranya. Gas metana kemudian akan mengalir melalui rekahan batubara (cleat) dan akhirnya keluar menuju lobang sumur. Puncak produksi CBM bervariasi antara 2 sampai 7 tahun. Sedangkan periode penurunan produksi (decline) lebih lambat dari gas alam konvensional. Setelah diputuskan tempat yang potensial untuk dilakukan pemboran CBM berdasarkan pertimbangan ahli geologi dan geofisika, maka pemboran sumur CBM dilakukan. Inti dari pemboran sendiri adalah membuat sambungan berdasarkan perbedaan tekanan antara lapisan batubara yang mengandung CBM dengan permukaan, sehingga gas dapat mengalir. Pemboran sumur CBM harus mempertimbangkan kekuatan batubara yang cukup lemah dibandingkan batuan lain. Sebelum produksi CBM dapat dilakukan, dewatering harus dilakukan terlebih dahulu (Gambar 9). Dewatering merupakan proses mengurangi ketinggian
11

12

air dalam lapisan batubara, hingga ketinggian air ini tidak lebih tinggi dari lapisan batubara terbawah yang ingin diproduksi (dimungkinkan lebih dari satu lapisan batubara yang ingin diproduksi). Fungsi utama dari dewatering adalah menginisiasi terjadinya desorbsi dari micropores yang ada, yang terjadi apabila tekanan akibat ketinggian air berkurang. Proses ini dilakukan dengan menggunakan pompa tertentu, misalnya pompa angguk, dimana sumur CBM yang dangkal biasanya tidak dapat mengangkat air secara optimal karena kurangnya tekanan bawah permukaan. Pada Gambar 5 terlihat bahwa dewatering dilakukan dengan pompa, dan air melewati pipa kecil bernama tubing, sementara CBM akan melewati anulus, yaitu ruang kosong diantara formasi (atau pipa selubung) dan tubing. Gas secara umum tidak akan masuk melalui tubing, karena terhalang oleh kolom hidrostatik air setinggi tubing. Selain proses dewatering, terdapat juga proses yang dinamakan komplesi, yaitu untuk melengkapi sumur dengan peralatan yang dibutuhkan untuk melakukan produksi. Problem utama dalam komplesi CBM adalah permeabilitas (ukuran kemudahan untuk mengalir) batubara yang sangat kecil, yaitu 0.1-1 md. Selain itu, seringkali terakumulasi kepingan-kepingan kecil batubara (coal fines) yang dapat menghambat produksi CBM. Untuk mengatasi hambatan tersebut, secara umum dilakukan dua jenis komplesi dalam produksi CBM. Jenis pertama adalah open hole completions dan jenis kedua adalah cased hole completions. Masing-masing tipe komplesi memiliki pertimbangannya sendiri, dan memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing.

12

13

GAMBAR 9 PROSES DEWATERING, OPEN HOLE COMPLETION Komplesi open hole memiliki artian komplesi dilakukan tanpa adanya casing (pipa selubung) di sekitar lapisan batubara yang ingin diproduksi, sehingga gas CBM langsung masuk ke dalam lubang bor. Secara umum ada tiga keunggulan komplesi jenis ini, yaitu : 1. Tidak ada casing yang ditinggalkan yang dapat menghalangi penambangan batubara apabila dilakukan setelahnya. 2. Penyemenan casing seperti pada Gambar 9, tidak merusak permukaan lapisan batubara. 3. CBM dapat masuk tanpa halangan apapun. Sejalan dengan perkembangan, maka juga dilakukan multi-zone open hole completion, yaitu komplesi open hole yang dilakukan pada beberapa lapisan batubara sekaligus. Meskipun cukup murah, dan juga memiliki laju alir yang besar, komplesi ini memiliki beberapa kekurangan, yaitu: 1. Batubara akan memproduksi kepingan kecil-kecil dan terakumulasi sepanjang waktu tertentu dan apabila tidak dibersihkan akan mengurangi produksi CBM. 2. Hanya dapat dilakukan apabila lapisan-lapisan batubara cukup berdekatan letaknya (untuk multi zone open hole). 3. Banyaknya lapisan batubara yang terhubung akan menyulitkan apabila lapisan yang lebih diatas memiliki tekanan yang justru lebih besar daripada di bawah,

13

14

sehingga akan terjadi back flow yang merugikan karena dapat mematikan lapisan yang tekanannya lebih kecil, dan akan mengurangi produksi total dari sumur. Dalam komplesi open hole juga sering dilakukan cavity completion, yaitu proses meruntuhkan sebagian lapisan batubara sehingga tercipta gerowong yang memperlancar produksi CBM. Peruntuhan yang dimaksud adalah peledakan terkontrol, yang dilakukan dengan proses penurunan tekanan secara tiba-tiba selama jangka waktu tertentu. Berdasarkan pengalaman perusahaan Amoco di cekungan San Juan yang terletak di Colorado, AS, peningkatan dari 22 MCFD (Metric Cubic Feet per Day)menggunakan open hole completion biasa menjadi 108 MCFD dengan cavity completion, atau sekitar lima kali dari semula. Namun perlu diingat bahwa teknik ini hanya dapat dilakukan dengan kondisi lapisan batubara yang tebal dan memiliki kelebihan tekanan dibandingkan keadaan normal. Komplesi jenis kedua adalah cased hole completions, dimana seluruh lapisan termasuk lapisan batubara dilapisi dengan casing (Gambar 10). Casing merupakan pipa pelindung yang direkatkan pada batuan dengan menggunakan semen. Komplesi ini sering dilakukan pada sumur yang memiliki beberapa lapisan batubara yang ingin diproduksi batubaranya sehingga CBM dari lapisan-lapisan yang berbeda dapat diproduksi baik bergantian maupun bersamaan sesuai keinginan. Setelah dicasing dan dilakukan penyemenan, maka dilakukan perforasi untuk membuka jalur masuk CBM ke lubang sumur. Perforasi merupakan proses menembak casing hingga berlubang.

14

15

GAMBAR 10 KOMPLESI CASED HOLE PADA SUMUR GOB Pada komplesi cased hole sering juga dilakukan hydraulic fracturing, yaitu merekahkan lapisan batuan batubara, dengan tujuan mempermudah CBM untuk mengalir. Prosesnya adalah dengan penyuntikan fluida perekah dengan tekanan tinggi sehingga batuan rekah, dan selanjutnya diganjal dengan suatu bahan tertentu (proppant) sehingga rekahan tidak tertutup kembali. Secara umum, cased hole tidak perlu dilakukan fracturing, hanya perforasi saja, apabila CBM cukup mudah untuk mengalir. Namun demikian, baik perforasi maupun fracturing dapat menimbulkan kerusakan bagi lapisan batubara. Selain dua jenis komplesi diatas, terdapat pula perkembangan lain dalam pengambilan CBM, misalnya adalah sumur gob dan pemboran horizontal di (Gambar 11). Sumur gob adalah pengambilan gas metana setelah pengambilan CBM menyebabkan pilar batubara runtuh, dan ruang kosongnya akan diisi oleh metana, dimana biasanya kandungan metannya lebih rendah. Pemboran horizontal merupakan suatu cara pemboran dimana lapisan batubara ditembus dengan cara sejajar lapisan tersebut dimana dengan cara ini luas permukaan batubara yang terekspos oleh lubang sumur akan lebih besar, sehingga CBM pun akan lebih banyak mengalir ke dalam sumur. Selain pemboran horizontal, juga terdapat ERD (Extended Reach Drilling) dimana dengan teknologi ini, satu lubang bor akan dapat menguras lebih banyak CBM dari lapisan batubara yang ditargetkan.

15

16

GAMBAR 11 FRACTURE, PEMBORAN HORIZONTAL, DAN SUMUR GOB Lingkungan yang Lebih Sehat Serta Produksi CBM yang Meningkat Metana menempel (teradsorpsi) di permukaan batubara pada micropores. Demikian halnya dengan molekul gas lain juga memiliki kesempatan untuk menempel pada permukaan batubara, bahkan ada yang lebih besar kesempatannya, dan ada pula yang lebih kecil. Perbedaan diantara keduanya adalah diameter molekul, karena gaya yang bekerja adalah gaya van der Waals. Prinsip ini yang digunakan untuk mengusir metana dari permukaan batubara, yang akan berimplikasi pada peningkatan jumlah metana yang bisa diambil dari lapisan batubara. Teknik ini disebut Enhanced Coal Bed Methane Recovery (ECBM), dan gas yang dipakai adalah karbondioksida (CO2) dan nitrogen

16

17

(N2). Kedua gas ini dipilih karena selain harganya murah, juga inert (tidak merusak lapisan batubara). Bila N yang digunakan, hasilnya segera muncul sehingga volume produksi juga meningkat. Akan tetapi, karena N dapat mencapai sumur produksi dengan cepat, maka volume produksi secara keseluruhan justru menjadi berkurang. Ketika N diinjeksikan ke dalam rekahan (cleat), maka kadar N di dalamnya akan meningkat. Dan karena konsentrasi N di dalam matriks adalah rendah, maka N akan mengalir masuk ke matriks tersebut. Sebagian N yang masuk ke dalam matriks akan menempel pada pori-pori. Oleh karena jumlah adsorpsi N lebih sedikit bila dibandingkan dengan gas metana, maka matriks akan berada dalam kondisi jenuh (saturated) dengan sedikit N saja. Namun tidak demikian dengan CO2. Gas ini lebih mudah menempel bila dibandingkan dengan gas metana, sehingga CO2 akan menghalau gas metana yang menempel pada pori-pori. CO2 kemudian segera saja banyak menempel di tempat tersebut. Dengan demikian, di dalam matriks akan banyak terdapat CO2 sehingga volume gas itu yang mengalir melalui cleat lebih sedikit bila dibandingkan dengan N. Akibatnya, CO2 memerlukan waktu yang lebih lama untuk mencapai sumur produksi. Selain itu, karena CO2 lebih banyak mensubstitusi gas metana yang berada di dalam matriks, maka tingkat keterambilan (recovery) CBM juga meningkat. Terdapat dua skema yang dapat dipakai dimana masing-masing skema memiliki subskema, sebagai berikut : 1. Injeksi gas inert dari sumber lain a. Injeksi karbondioksida b. Injeksi nitrogen c. Injeksi campuran nitrogen karbondioksida 2. Injeksi gas inert yang terintegrasi dengan CCS (Carbon Capture and Storage) Untuk skema pertama, injeksi gas inert dilakukan dari sumber lain, dimana gas-gas ini dapat dibeli ataupun dengan kerjasama dengan perusahaan tertentu diluar kontraktor yang mengusahakan lapangan CBM. Semua gas diinjeksikan dengan tekanan tinggi sehingga pada saat masuk ke dalam tanah berada dalam kondisi cair. Kemudian karbondioksida maupun nitrogen akan melakukan
17

18

pengusiran terhadap metana, yaitu untuk karbondioksida, ia akan lebih melekat pada batubara dibandingkan metana dan akan menggantikan posisi metana di lapisan batubara. Sedangkan untuk nitrogen, ia bertindak untuk menurunkan fraksi tekanan metana, sehingga metana akan lebih mudah mengalami desorbsi. Jamshidi dan Jessen menunjukkan bahwa untuk injeksi karbondioksida murni akan menunjukkan peningkatan perolehan yang semakin besar saat kemudahan mengalir (permeabilitas) semakin kecil. Sebagai contoh untuk permeabilitas 1md (mili darcy) maka peningkatan produksi mencapai 275% dari keadaan awal yang mencapai faktor perolehan sekitar 85%, sementara pada saat permeabilitas semakin besar maka peningkatan ini menjadi penurunan, yaitu faktor perolehan hanya 10%. Injeksi nitrogen murni akan menghasilkan peningkatan sebesar sekitar 200% dari perolehan awal, dengan tambahan akan memberikan penurunan produksi air. Untuk injeksi campuran nitrogen-oksigen akan menghasilkan peningkatan faktor perolehan yang sama dengan injeksi karbondioksida murni, dengan pengurangan produksi air. Perlu diperhatikan bahwa diperlukan laju injeksi dua kali lebih besar dari laju metana yang diinginkan untuk kasus karbondioksida, sementara dibutuhkan laju injeksi yang sama dengan laju produksi metana yang diinginkan untuk nitrogen. Sedangkan injeksi nitrogen akan breakthrough lebih cepat daripada injeksi karbondioksida. Breakthrough merupakan kejadian dimana gas yang diinjeksikan ikut terproduksi bersama metana yang diinginkan. Breakthrough yang diinginkan adalah yang lebih lambat. Skema kedua adalah sumber gas yang diintegrasikan menjadi satu dengan lapangan CBM. Disini merupakan letak solusi terhadap masalah lingkungan. Walsh menyarankan agar dalam instalasi terintegrasi ini, pembangkit listrik tenaga batubara dan CBM, disatukan pula instalasi produksi bahan bakar hidrogen dan metanol (gambar 12). Selama ini, instalasi-instalasi produksi bahan bakar hidrogen dan metanol memang memproduksi bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, namun dalam proses produksinya sendiri menghasilkan sangat banyak karbondioksida. Sehingga dicari suatu cara untuk membatasi karbondioksida yang
18

19

terlepas, dengan melakukan penangkapan karbondioksida dari sumber-sumber yang sangat kaya akan elemen tersebut, misalnya instalasi produksi metanol dan hidrogen. Setelah ditangkap, dalam bentuk cair ia akan diinjeksikan ke bawah, sehingga prosesnya disebut CCS (Carbon Capture and Storage). Sumber kaya karbondioksida lain misalnya adalah pembangkit tenaga listrik batubara + CBM. Pada pembangkit tenaga listrik sengaja dipakai batubara untuk menambah jumlah karbondioksida dari pembangkit, dan batubara ini kemungkinan besar berasal dari daerah sekitar proyek tersebut. Diperlukannya sumber kaya karbondioksida ini adalah karena belum adanya teknologi untuk menangkap karbondiosksida dari udara bebas.

GAMBAR 12 SKEMA CCS YAN TERINTERASI DENGAN PRODUKSI METANOL, HIDROGEN DAN LAPANGAN CBM Dengan adanya sistem lapangan CBM dan CCS yang terintegrasi ini, maka emisi karbondioksida maupun emisi metana sebagai gas rumah kaca akan jauh berkurang, dan akan menghasilkan energi yang lebih banyak lewat pembangkit listrik, hydrogen fuel cell, dan metanol serta menghasilkan udara yang lebih layak hirup dengan penangkapan 80% karbondioksida buangan instalasi-instalasi diatas. UMUR PRODUKSI CBM Dibandingkan gas alam, CBM memiliki periode produksi lebih lambat. Umumnya produksi terbesar atau puncak produksi terjadi pada periode tahun produksi ke 2 hingga ke 7. Sedang lama periode produksi pada kisaran 10 hingga 20

19

20

tahun. Lebih pendek dibandingkan dengan gas alam yang bisa mencapai 30 hingga 40 tahun. Pada simulasi reservoar Lapangan CBM Rambutan yang memiliki potensi kandungan gas metana lebih kurang sebesar 30.600 MSCF per sumur, 185.000 MSCF untuk daerah Pilot dan 5.5 X 106 MSCF untuk seluruh daerah luasan simulasi diperkirakan dapat diproduksi selama 20 tahun. Kemampuan produksi maksimum CBM Lapangan Rambutan lebih kurang sebesar 7.4 MSCF per hari untuk satu sumur, 37.5 MSCF per hari untuk daerah pilot dan 1.120 MSCF per hari untuk seluruh daerah luasan simulasi, yang dicapai dalam jangka 13.7 tahun.

GAMBAR 13 KK CBM DI LAPANGAN RAMBUTAN KABUPATEN MUARA ENIM

20