Anda di halaman 1dari 10

DAMPAK STOCK SPLIT TERHADAP LIKUIDITAS PERDAGANGAN DAN PENDAPATAN SAHAM

Asri Wulandini Purwandaka 04312467

1. LATAR BELAKANG Dalam dekade terakhir ini, semakin banyak emiten di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang melakukan pemecahan saham (Stock Split). Stock Split menjadi salah satu alat popular yang digunakan oleh para manajer perusahaan untuk menata kembali harga pasar sahamnya. Stock Split yang dilakukan oleh emiten dapat berupa stock split atas dasar satu-jadi-dua (Two-for-one-stock), artinya setiap investor akan menerima dua lembar saham untuk setiap satu lembar saham sebelumnya, nilai nominal saham baru ialah setengah dari nilai nominal saham sebelumnya. Begitu juga berlaku bagi stock split atas dasar satu-jadi-tiga (three-for-one-stock). Tindakan stock Split mengakibatkan jumlah saham yang beredar bertambah sehingga para investor yang berhubungan dengan dengan aktifitas tersebut dapat melakukan penyusunan kembali portfolio investasinya. Penyusunan kembali tidak terlepas dari pertimbangan resiko saham yang membentuk portfolio sehingga diharapkan akan diperoleh tingkat resiko yang lebih kecil. Investor rasional akan memilih investasi yang mempunyai risiko terkecil bila dihadapkan pada dua pilihan investasi yang memberikan tingkat return yang

sama. Oleh karena itu tindakan stock split yang dilakukan oleh emiten perlu dipertimbangkan oleh investor dan calon investor dalam mengambil keputusan untuk membeli atau melepas saham yang dimiliki berdasarkan analisis mereka mengenai informasi apa yang terkandung di dalam stock split.

2.

RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH Dari hasil penelitian terhadap stock Split ada yang mendukung

teori empiris stock split, ada pula yang tidak mendukung teori tersebut. Pihak yang mendukung stock split meyakini bahwa harga saham yang lebih rendah akan meningkatkan investor kecil untuk melakukan investasi sehingga akan membuat pasar lebih likuid. Di lain pihak mereka yang menentang stock split dikhawatirkan tingkat harga saham setelah stock split akan menempatkan

perusahaan pada kelompok perusahaan yang memiliki nilai saham rendah sehingga berakibat semakin menurunnya kepercayaan investor terhadap saham tersebut. Stock Split akan meningkatkan biaya pelayanan bagi pemegang saham.

3. TUJUAN PENELITIAN Penelitian bertujuan untuk memberikan masukan empiris

mengenai peristiwa stock split yang dilakukan oleh emiten.

4. MANFAAT PENELITIAN Penelitian ini diharapkan berguna: 1. Bagi investor dan calon investor sebagai bahan

pertimbangan dalam melakukan keputusan investasi 2. Bagi Perusahaan agar berperan serta dalam

meningkatkan likuiditas sahamnya dibursa sehingga lebih menarik dimata investor.

5. HIPOTESA PENELITIAN Harga pasar saham mencerminkan nilai perusahaan. Semakin tinggi harga saham, semakin tinggi pula semakin tinggi nilai perusahaan tersebut dan sebaliknya. Namun, bila harga saham terlalu tinggi, dapat mengurangi minat investor untuk berinvestasi sehingga harga saham sulit untuk meningkat kembali. Dalam mengantisipasi hal tersebut banyak perusahaan melakukan stock split. H1: Harga saham berkorelasi positif dan mempengaruhi

keputusan perusahaan untuk melakukan stock split. Trading Range Theory menyatakan bahwa stock split akan meningkatkan likuiditas perdagangan saham. Harga saham yang terlalu tinggi menyebabkan saham kurang aktif diperdagangkan. Dengan adanya stock split, harga saham menjadi tidak terlalu tinggi sehingga banyak investor yang mampu bertransaksi. H2: Frekuensi Perdagangan saham berkorelasi positif dan mempengaruhi keputusan perusahaan untuk melakukan stock split.

Secara teori semakin tinggi harga saham semakin rendah frekuensi perdagangan saham yang terjadi, begitu juga sebaliknya. Jadi setelah stock split, diharapkan frekuensi perdagangan meningkat. H3: Terdapat perbedaan frekuensi perdagangan saham sebelum dan sesudah stock split. Signally theory menyatakan bahwa stock split memberikan informasi kepada investor tentang proses peningkatan return masa depan. Return yang meningkat tersebut dapat diprediksi merupakan sinyal tentang laba jangka pendek dan jangka panjang. H4: T erdapat perbedaan earning sebelum dan sesudah stock split . 6. METODE PENELITIAN 6.1. Operasionalisasi Variabel dan Pengukurannya 6.1.1. Variabel Tergantung (Dependent Variabel) Untuk Hepotesis pertama (H1) dan (H2), pemilihan stock split sebagai variabel bebas bersifat kuantitatif sehingga pengukuran yang dilakukan hanya memberi 0 (untuk perusahaan yang tidak memiliki stock split) dan 1 (untuk perusahaan yang melakukan stock split) untuk kategori tertentu. VAriabel yang memberi nilai 0 dan 1 disebut variabel Dummy.

6.1.2. Variabel bebas (Independent Variabel) a) Harga Saham

Untuk Hipotesis pertama (H1), harga saham diproksi dengan Closing Price tahunan pada periode 31 Desember tahun sebelum Stock Split dilakukan. Sementara untuk perusahaan yang tidak melakukan stock split, closing price yang digunakan adalah rata-rata Closing Price selama tiga tahun. b) Frekuensi Harga Saham Untuk Hipotesis kedua (H2), Frekuensi perdagangan saham diproksi dengan frekuensi transaksi tahunan, yang digunakan adalah Closing Price pada periode yang akan berakhir pada 31 Desember sebelum stock split dilakukan. Untuk perusahaan yang tidak

melakukan stock split, ialah rata-rata frekuensi transaksi selama 3 tahun. Untuk Hipotesis (H3), Frekuensi perdagangan saham diproksi dengan frekuensi taransaksi kuartalan, yaitu dua kuartal sebelum dan dua kuartal sesudah Stock Split. c) Pertumbuhan Laba Operasi Earning adalah alat manajemen yang digunakan untuk mengukur besar keuntungan yang didapat oleh pemegang saham atau investor.

6.2.

Uji Hipotesis Untuk menguji keterkaitan antara variabel yang ada dalam

hipotesis pertama (H1) dan kedua (H2) digunakan regresi logistic yang dilakukan untuk mengetahui apakah variabel independent (harga

saham dan frekuensi perdagangan saham) mempunyai pengaruh terhadap variabel dependen (Stock Split), Regresi Logistik digunakan karena variabel dependen adalah variabel Dummy, yang bentuk formulanya adalah sebagai berikut: Ln Stock Split 1-stock split = a + b1x1+b2x2+e

Dalam hal ini: a = Konstanta X1 = Closing Price X2 = Frekuensi perdagangan saham e = error Pengujian hepotesis ketiga (H3) dan (H4) menggunakan

parametric paired t-test . Yaitu pengujian hepotesis secara parsial guna menunjukkan peran tiap variabel independent secara individu terhadap variabel dependen. Uji hepotesis ketiga (H3) untuk

mengetahui korelasi frekuensi perdagangan saham kuartal kedua, kuartal kesatu sebelum stock split dengan kuartal kedua, kuartal kesatu setelah stock split dan hipotesis keempat (H4) untuk

mengetahui korelasi pertumbuhan operating income kuartal kedua, kuartal kesatu sebelum stock split dengan kuartal kedua, kuartal kesatu setelah stock split. Untuk Hipotesa ketiga (H3) digunakan Formula:

Xt=-2,-1 < Xt = +1, +2 Xt= Frekuensi perdagangan saham kuartal kesatu dan kedua sebelum dan kuartal kesatu dan kedua setelah stock split.

Untuk hipotesis keempat (H4) digunakan formula:

Op. incj,t = -2, -1 < Op. incj,t = +2, +1 Op. incj,t = Perubahan laba dua operasi dua kuartalan sebelum dan setelah stock split.

7. OBYEK PENELITIAN, POPULASI, DAN SAMPEL Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari BEJ. Dalam penelitian ini keseluruhan saham yang terdaftar di BEJ menjadi populasi. Sampel dari populasi berdasarkan kriteria saham perusahaan go public yang tergabung dalam sembilan sektor industri. Sampel diambil dengan metode purposive sampling untuk sample bersyarat yang ditentukan dengan criteria tertentu atau Kriteria perusahaan yang menjadi sample adalah: 1. Perusahaan yang terdaftar di BEJ 2. Perusahaan yang melakukan stock split 3. Perusahaan yang tidak melakukan stock split 4. Perusahaan yang datanya tersedia secara lengkap untuk kebutuhan analisis judgement sampling.

8. METODE PENGUMPULAN DATA

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berasal dari berbagai sumber antara lain JSX Statistic Quarterly, JSX Annual, internet, laporan keuangan kuartalan dan tahunan. Penggunaan data sekunder didasari oleh pertimbangan bahwa data ini mudah diperoleh, lebih murah, mempunyai rentang waktu dan ruang yang luas.

9. METODE ANALISA Pengujian terhadap hipotesa menggunakan tingkat =10%. Semua proses pengujian menggunakan program aplikasi SPSS 11,5. Untuk mengetahui apakah hipotesis di dukung oleh data atau tidak, dapat dilihat dari: 1. Untuk hipotesis pertama, jika besar Sig Wald lebih kecil tingkat alpha yang digunakan, yaitu 0,10, dan beta bernilai signifikan positif, variabel harga split, saham berpengaruh kata lain,

terhadap

vaiabel

dengan

hipotesis pertama diterima. 2. Untuk Hipotesis kedua, jika besar sig wald lebih kecil tingkat alpa yang digunakan, yaitu 0,10, dan beta bernilai negative, variabel frekuensi perdagangan saham

berpengaruh Signifikan terhadap variabel split; dengan kata lain, hipotesis kedua diterima.

3. Untuk hipotesis ketiga, dan keempat melihat sig t, apabila secara statistic P Value < 0,10, hipotesis alternative diterima.

10. DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Wahyu dan H.M Jogiyanto. 2000. Penelitian tentang Informasi Laba Dan Deviden Kas yang dibawa Oleh Pengumuman Pemecahan Saham. Jurnal Bisnis Dan Akuntansi: Vol.2, no 1 (April): 1-12

Asuith P., R. Gertner dan D Scharfstein. 1994. Anatomy of Financial Distress: An Examination of Junk Bond-Issuers. Quarterly of Economics 109: 1189-1222.

Conroy, Robert M., and Robert S. Harris. 1999. Stock Split and Information; The Role Of Share Price. Journal Of Financial Management: Vol. 28, no.3:28-40.

Mason, Helen B., and Roger M. Shelor. 1998. Stock Split: An Institutional Investor Preferences. The Financial Review 33: 33-46.

Scott, David F. Jr., John D. Martin, J. William Petty, Arthur J. Keown. 1999. Basic Financial Management, New Jersey: Prentice Hall Internasional.

Susetianingsih, Endang. (2001). Analisis Perngaruh Pemecahan Saham (Stock Split Up) Terhadap Likuiditas Saham Perusahaan: Suatu Event Study di BEJ.

http://www.google .com. (Desember).

10