Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN

Kromatografi Kilat (flash chromatography)


Pembimbing : Dra. Zalny Yetti, M.Pd. Kelompok 7 Siska Rohmatika Siti Risda Wahyuni Sri Handriyani 091431025 091431026 091431027

Tanggal Percobaan

: 30 Mei 2011

Tanggal Penyerahan : 06 Juni 2011

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


Jurusan Teknik Kimia Program Studi Kimia Analis 2011

I.

TUJUAN 1.1 Memhami prinsip kromatografi kilat (KKi) dan melakukan pemisahan dengan metoda Kki. 1.2 Mampu melakukan pemisahan dan mengidentifikasi sampel dengan metoda KKi

II. DASAR TEORI 2.1 Prinsip Flash kromatografi merupakan kromatografi yang teratur dengan tekanan rendah ( pada umumnya < 20 p.s.i. ) digunakan sebagai kekuatan bagi elusi bahan pelarut melalui suatu ruangan atau kolom yang lebih cepat. Ini menghasilkan kualitas yang sedang, tetapi pemisahan berlangsung cepat ( 10-15 menit ). Pemisahan ini tidak sesuai untuk pemisahan suatu campuran yang terdiri dari macam-macam zat, tetapi sangat baik untuk memisahkan sedikit reaktan dari komponen utama dalam sintesa organik. Tergantung dari ukuran kolom, berapa gram sample dapat dilapisi dalam satu waktu. Metode ini dikembangkan oleh Still, W.C., Khan, M., dan Mitra, A. (J. Org. Chem., 43 (14), 2923, 1987). Terdapat suatu pengaturan umum untuk tekanantekanan yang lebih kecil dari 20 p.s.i dengan control ( pengawasan ) manual pada aliran dan terdapat pengaturan tekanan-takanan yang lebih besar 50 p.s.i dengan suatu ukuran tekanan yang mengikat untuk mengukur aliran. Dari kolom-kolomnya adalah panjangnya 30 sampai 45 cm , perubahan persediaan dari 250 ml ke 3000 ml dan untuk unit-unit dengan telanan yang lebih besar disediakan martel epoksi untuk keselamatan. Pembungkus kolom biasanya silica gel. Komponen-komponen ini biasanya dijaga oleh pengapit atau disekrup bersama-sama. Setidak-tidaknya, pemisahan ini harus dilakukan dibelakang pelindung keselamatan. Gelas atau kaca frits tidak digunakan pada alas kolom karena terlalu banyak volume yang macet di bawahnya. Serat kaca dan pasir tidak digunakan sebagai pengganti.

2.2 Teknik 2.2.1 Pembungkus Kolom Sebagian besar pembungkus kolom adalah silika gel. Still menemukan ukuran partikel terbaik yaitu 40-63 mata jala. Pemisahan diberi tanda sebagai penerimaan waktu (r) dibagi dengan luas puncak (w).

2.2.2 Metode Pembungkus Kering Metode dari Still untuk sebuah kolom dengan diameter 2 cm. Penambahan 40-63 mata jala silica gel untuk suatu kedalaman 14-15 dalam sebuah penambahan tunggal. Dengan stopclock membuka, kolom tersebut dengan perlahan-lahan ditepuk dengan tegak lurus pada suatu puncak untuk mengatur letak puncak. Penambahan 2 mm pada 50-100 mata jala pasir pada puncak pada alas flat gel. Kolom tersebut diapit untuk memekan pembungkus dan pengelusian. Bahan pelarut secara hati-hati dituangkan di atas pasir untuk mengisi kolom tersebut dengan penuh. Katup jarum pengontrol arus tersebut dubuka semua pada jarak tersebut, disesuaikan dengan kerapatan pada puncak kolom dan dilindungi dengan karet penyambung yang kuat. Klep garis udara yang utama yang mendorong kearah pengontrol arus dibuka sedikit dan sebuah jari yang ditempatkan secara tepat diatas karet tersebut. Ini akan menyebabkan tekanan di atas alas adsorben menaikkan dengan cepat dan menekan silica gel tersebut sebagai solven dipaksa dengan cepat membungkus kolom tersebut. Hal ini penting untuk menjaga tekanan sampai semua yang ada di udara dilepas dan bagian yang lebih rendah dari kolom tersebut diam, dengan cara lain kolom tersebut akan pecah dan harus dibungkus kembali.

2.2.3 Pembungkus Basah Dalam metode ini silica gel dibuat dalam suatu noda dan dituangkan ke dalam kolom dengan cara membuka jalan keluar. Tekanan dipasang untuk mempertahankan bahan pelarut yang keluar lewat bagian bawah dan juga membungkus kolom tersebut dengan rapat tanpa adanya pengikatan udara. Tekanan tersebut dilepaskan, stopcock ditutup, sample ditambahkan kemudian diikuti dengan prosedur elusi yang tetap. 2.2.4 Pompa Untuk kebanyakkan aplikasi, udara dari sebuah penekanan angin digunakan, dan suatu pompa tidaklah diperlukkan. Ini mingkin dari sebuah silinder udara. Bagaimanapun, untuk tujuan

pemisahan yang hanya memiliki dana yang minim, dua pelengkap penekan rendah telah diuji. Tekanan pompa yang lebih rendah adalah suatu pengaturan balon ganda. Suatu balon besar di tempatkan di dalam balon lain, ditutup dan dikaitkan dengan puncak kolom. Tekanan-tekanan pada 2-3 p.s.i dicapai. Tekanan tersebut tetap bagus karena volume balon tersebut lebih besar dari pada volume bahan pelarut yang digunakan. Untuk tekanan yang lebih tinggi, tergantung dari luas dan bahkan lebih dari suatu laju arus.

2.2.5 Penekan Gas Udara Penekan udara digunakan secara normal kecuali jika campuran merupakan udara/oksigen yang sensitive. Kemudian penekan nitrogen digunakan. Gas-gas ini ditekan oleh pompa yang mempunyai segel minyak, sehingga gas selalu berisi uap air minyak dalam jumlah yang kecil. Sebuah perangkap antara persediaan dan kolom tersebut dapat digunakan. Tetapi hanya digunakan jika diinginkan kemudian dihasilkan produk yang sangat tinggi. Dengan perlindingan system sesederhana mungkin.

2.2.6 Penambahan Sampel Tujuan pengontrolan arus adalah untuk mengurangi tekanan gas berikutnya yang diperlukan adalah laju arus bahan yang sesuai dan untuk membebaskan gas yang berlebih keluar melalui suatu lubang angina. Pengontrol komersil memberikan lima pengontrol kendali dan dapat bergantian sesuai dengan keperluan untuk perbedaan luas-luas kolom dan brrubah-ubah dalam viskositas pada bahan-bahan pelarut. Bagaimanapun, jika sebuah system sederhana diperlukan pemisahan yang rutin untuk itu diperlukan pengontrol arus.

2.2.7 Elusi Bahan Pelarut Pengalaman telah menunjukkan bahwa pemisahan terbaik berlangsung jika diinginkan komponen yang mempunyai suatu Rf 0.35 pada suatu silica gel lapis tipis dan tidak murni pada kurang lebih 0.15 Rf ml. system bahan pelarut yang telah ditemukan untuk bekerja dengan baik meliputi 10-50 % campuran etil asetat / 30-600C dengan petroleum eter atau dengan heksan. 2.2.8 Pengumpulan dan Deteksi Sampel lewat dengan sedemikian cepat sehingga harus ditemukan sebuah cara yang mudah untuk mengumpulkan fraksi-fraksi yang ada. Tabel 18-1 memberikan rekomendasi

mengenai ukuran fraksi yang dapat dikumpulkan berdasarkan ukuran sampel dan volume kolom. Aliran sampel dapat dipantau dengan menggunakan detektor uv dan fraksi-fraksi target yang telah diperoleh. Yang telah terbukti berhasil adalah penggunaan rak tabung uji yang memuat beberapa tabung uji berukuran 20150 mm dan pengumpulan satu fraksi ke dalam setiap tabung tersebut. Perhatikan Gambar 18-6 untuk melihat metode deteksi yang mudah. Sampel kasar ditotolkan di sepanjang satu sisi plat TLC, 5 L dari setiap fraksi, lalu ditotolkan di sepanjang tepi plat. Ketika dilakukan kromatografi, fraksi-fraksi yang mengandung senyawa yang diinginkan akan teridentifikasi dan derajat pemisahan yang dicapai pun diketahui.

2.3 Aplikasi Flash Chromatography 2.3.1 Kromatografi Kolom Kering Tehnik kromatografi kolom kering ini tidak lain merupakan modifikasi dengan memanfaatkan keunggulan-keunggulan "Flash chromatography" yaitu pemisahan yang baik dan cepat. Modifikasi yang dilakukan pada prinsipnya memikirkan bahan yang lebih murah, peralatan yang lebih sederhana dan lebih praktis. Ada dua perbedaan yang mendasar, pertama tehnik ini menggunakan sistem pengisapan (suction) untuk mempercepat proses elusi menggantikan sistem penekanan dengan gas. Oleh karena itu proses ini sering disebut dengan kromatografi cairan vakum ( Vacuum Liquid Chromatography-VLC). 2.3.2 Flash chromatography memisahkan senyawa organik pada pKa tinggi dengann menggunakan kolom Teledyne Iscos specialty RediSep Komponen organik dapat berinteraksi dengan permukaan senyawa silanol pada kromatografi Flash normal. Interaksi ini menyebabkan timbulnya goresan puncak tidak tajam, yang akan menyebabkan penumpukan (overlapping) fraksi selama proses pemisahan pada kromatografi. Untuk memperbaiki resolusi pada pemisahan senyawa organik atau asam organik, para ahli kimia membuat suau tipe dengan menambahkan fase gerak yang telah di modifikasi untuk mengurangi goresan puncak. Penambahan sample dapat menjadi sebuah masalah. Pada kromatografi jenis ini perlu ditempatkan sample di tempat yang setipis mungkin. Mempermudah penambahan sample dapat menggunakan corong penambahan sample, dimana sebuah corong dengan tangkai panjang dan teratur, dengan pembengkokkan pada ujung-ujung tangkai corong, dan dengan lobang 4 mm disamping bagian bawah dinding kolom. Agar ketika sample mencapai puncak atas kolom tidak terjadi gangguan pada puncaknya.

2.3.3 Kontrol Arus Mempertajam puncak. Triethylamine atau ammonium hydroxide adalah bahan modifikasi tambahan untuk fase gerak. Teledyne ISCO menawarkan beberapa kolom Redi Sep khusus yang tersedia untuk flash kromatografi agar lebih efisien dalam pemisahan pada pKa tinggi dari senyawa organik. Contoh dari kolom Teledyne ISCO antara lain : RediSep Amine, RediSep Basic Alumina, RediSep SCX (Strong Cation Exchange), RediSep Florisil columns. Dengan menggunakan kolom tersebut dapat meminimalkan waktu pemisahan dengan meningkatkan resolusi pemisahan.

V.

DATA PENGAMATAN

Sampel 1 (campuran rhodamin B, EBT, metilen blue) dengan eluen etanol : diklorometan (3:1) Urutan Warna Warna 1 ( Warna 2 ( Warna 3 ( Warna 4 ( Warna 5 ( Warna 6 ( ) ) ) ) ) ) Waktu 0 menit 26,4 detik 0 menit 45,8 detik 02 menit 46,4 detik 03 menit 08 detik 04 menit 50 detik 15 menit 45,27detik

Sampel 2 (saus tomat) dengan eluen metanol : diklorometan (2:1) Urutan Warna Warna 1 ( Warna 2 ( Warna 3 ( Warna 4 ( ) ) ) ) Waktu 01 menit 51,9 detik 05 menit 33,3 detik 06 menit 42,3 detik 01 menit 23,4 detik

III.

Bahan dan Alat Kolom kaca kki 2 buah Penampung eluen (gelas kimia 50 ml ) 8 buah Silika gel Etanol : diklorometan ( larutan eluen ) Sampel 1 (campuran EBT, rhodamine B, metilen blue) Sampel 2 (saus tomat) Metanol : diklorometan (larutan eluen) Pipet ukur dan pipet tetes Pompa

IV.

CARA KERJA

silika gel ditambah eluen sampai didapat suspensi kental

suspensi kental dimasukkan ke dalam kolom sampai massa padat 15 cm masukkan melalui dinding kolom sampel kemudian tambahkan eluen sampai batas labu penampung pasang pompa dan aliran tekanan ke dalam kolom amati gerakan pelarut dan tampung setiap pita yang diperoleh lalu uji intensitas warna larutan dengan lampu UV-VIS

Cara kerja untuk sampel saus tomat

timbang 10 gram saus tomat lalu tambahkan etanol 15 mL

campuran tersebut dipanaskan di penangas selama 5 menit

saring dengan kertas saring

simpan filtrat yang pertama lalu yang tersisa di kertas saring ditambahkan diklorometan 15 mL

lalu dipanskan lagi dipenangas 5 menit dan saring . lakukan dua kali sampai ekstrak saus tomat terambil semua.

filtrat pertama dan kedua dicampur dan diuapkan sampai didapatkan sampel ekstrak kental

Nama NIM Kelas

: Fanny Fauziyah : 091431008 : 2 A - Analis Kimia

Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan percobaan pemisahan suatu campuran zat warna dengan metode Flash Chromatography ( kromatografi kilat). Flash Kromatografi adalah bentuk yang cepat dari kromatografi kolom preparatif - Prep LC berdasarkan tekanan udara untuk pemisahan cepat. Menggunakan prinsip yang sama seperti KLT, kromatografi kilat dapat dilakukan dengan pemanfaatan jumlah yang tepat dari fase diam dan jenis eluen, dalam percobaan fase diam yang digunakan adalah pasir silika, dan pelarut pengembang (eluen) campuran methanol dan dichlormetan dengan perbandingan 1:3. Sebanyak 10 gram pasir silika dicampurkan dengan eluen hingga homogen dan campuran menjadi agak kental. Campuran kemudian dimasukkan dengan cepat ke dalam kolom yang sudah dipersiapkan sampai ketinggian 15 cm dari kolom. Pada saat memasukkan silika ke dalam kolom harus dilakukan dengan cepat sambil menambahkan terus eluen, hal ini dilakukan karena sifat silika yang mudah mengeras, sehingga untuk menjaga kolom agar tidak pecah maka harus ditambahkan eluen, karena jika kolom pecah akan mempengaruhi kecepatan pemisahan dan proses pemisahan tidak akan sempurna. Dengan menggunakan pipet, sebanyak 2 mL sampel dimasukkan ke dalam kolom yang telah berisi campuran silica dan eluen. Sampel yang digunakan adalah campuran zat warna dari Rhodamine- B (merah), EBT (ungu) dan, Metil Biru (biru). Berbagai komponen warna dari campuran sampel yang terpisah berdasarkan pada polaritas dan afinitas masing-masing. Dengan bantuan tekanan udara dari atas dapat mengumpulkan fraksi pelarut dari kolom, yang berisi komponen terisolasi (dimurnikan). Tekanan udara digunakan untuk memaksa pelarut melalui kolom dan membawa zat warna yang terpisah di dalam kolom, sehingga mempercepat proses pemisahan. Percobaan dilakukan secara duplo, yang pertama proses pemisahan tidak menggunakan tekanan dan yang kedua dengan menggunakan tekanan. Pada percobaan yang pertama zat warna yang pertama terpisah dan keluar dari kolom adalah warna biru yang tak lain adalah metil biru, namun pada percobaan yang kedua zat warna yang pertama terpisah adalah warna merah yaitu Rhodamin B, hal ini kemungkinan terjadi karena kondisi kolom pada percobaan yang pertama

yang kurang baik dan kolom pecah, sehingga tidak terjadi proses pemisahan yang sempurna. Tetapi pada percobaan yang kedua kondisi kolom lebih baik, sehingga pemisahan terjadi dengan baik. Penyebab rusaknya kolom pada percobaan yang pertama adalah pada saat memasukkan silika kedalam kolom seharusnya dengan cepat ditambahkan eluen secara bersamaan agar silika tidak kering, namun pada saat percobaan eluen terlambat dimasukkan sehingga membuat silika mengering dan menjadi pecah. Setiap zata warna yang terkandung dalam sampel memiliki nilai afinitas terhadap fasa diam yang berbeda, afinitas tersebut mempengaruhi seberapa lama zat warna tersebut tertahan didalam fasa diam. Semakin besar afinitas yang dimiiki suatu zat warna semakin lama waktu yang dibutuhkan zat tersebut untuk keluar dari kolom. Diambil dari data percobaan kedua bahwa sampel warna merah (Rhodamin B) memiliki nilai afinitas yang lebih kecil terhadap fasa diam, sehingga warna merah lebih dulu keluar kemudian diikuti oleh warna ungu, dan yang terakhir keluar adalah warna. Dapat disimpulkan bahwa afinitas warna biru lebih besar terhadap fasa diam dibandingkan dengan warna ungu dan merah (merah<ungu<biru). Dari hasil pengamatan dapat dilihat pada percobaan yang pertama proses pemisahan terbukti lebih lambat bila dibandingkan dengan percobaan yang kedua, hal ini terbukti bahwa tekanan sangat berpengaruh terhadap waktu pemisahan, maka disebut Flash Chromatography.

Nama Kelompok NIM

: Dwi Wulan Janiar Sari :2 : 091431006

Pembahasan

Pada dasarnya, kromatografi kilat (flash chromatography) memiliki prinsip yang sama dengan kromatografi kolom cara basah. satu hal yang membedakan adalah adanya peralatan tambahan yang dipasangkan pada flash kromatografi. Adapun peralatan tersebut adalah suatu pompa yang merupakan alat yang biasa digunakan pada akuarium. Pemasangan pompa bertujuan untuk memberikan tekanan sehingga memperlacar pergerakan eluen dalam kolom dan proses pemisahan sampel dapat berlangsung dengan lebih cepat. Pada kromatografi kilat, yang menjadi fasa diam adalah silika gel sementara yang menjadi fasa gerak adalah larutan pelarut pengembang (eluen). Pada praktikum, eluen yang digunakan adalah campuran antara metanol dan dikloro metana yang dicampurkan dengan perbandingan 1:3. Sementara itu sampel yang akan dipisahkan merupakan campuran dari tiga jenis pewarna yaitu rhodamine B (merah), metilen blue (biru) dan dan EBT (ungu) yang dicampurkan masing masing sebanyak 2 mL. Percobaan dilakukan beberapa kali dengan perlakuan, kondisi dan hasil yang berbeda. Percobaan pertama, perlatan pompa tidak dipasang pada kolom. Dengan kondisi kolom yang kurang baik (silika gel pecah) akibat penambahan eluen yang terlambat, proses pemisahan berlangsung dengan cukup cepat walaupun pemasangan pompa tidak dilakukan. Hasilnya, warna biru terpisah terlebih dahulu yang dilanjutkan dengan terpisahnya warna ungu dan merah (warna yang terpisah sedikit kurang sempurna pula akibat rusaknya kolom). Percobaan kedua berlangsung dengan pemasangan pompa. Kali ini kondisi kolom lebih baik dengan jumlah bagian silika yang pecah lebih sedikit dari sebelumnya. Pada percobaan kedua ini proses pemisahan berlangsung dalam waktu yang lebih singkat dan dengan kualitas pemisahan yang lebih baik (lebih sempurna) dibanding dengan proses pemisahan pada percobaan pertama. Hasil yang berbeda pun ditunjukan dengan terpisahnya warna merah terlebih dahulu yang kemudian diikuti dengan warna ungu dan warna biru terpisah paling akhir. Dilihat dari kondisi pada percobaan kedua yang lebih baik yaitu dari kondisi silika yang lebih baik dan dengan pemberian

tekanan (pompa) maka hasil yang diambil adalah hasil yang didapat pada percobaan kedua dengan urutan warna yang terpisah secara berurutan : merah-ungu-biru. Setiap zat warna yang tercampur dalam sampel memiliki afinitas yang berbeda terhadap fasa diam. Afinitas tersebut menentukan berapa lama ia tertahan di dalam fasa diam. Dari hasil yang didapat tersebut, maka dapat dikatakan bahwa afinitas warna biru lebih besar terhadap fasa diam dibandingkan dengan warna ungu dan merah (merah<ungu<biru).

Nama : Erlina Ratnasari NIM : 091431007 Percobaan Flash Kromatografi pada dasarnya, memiliki prinsip kerja yang sama dengan Kromatografi Kolom hanya saja pada Flash Kromatografi menggunakan pompa (tekanan udara) sehingga kecepatan aliran dari fase gerak yang melalui fase diam tidak hanya dipengaruhi oleh adanya gaya gravitasi saja tetapi juga dipengaruhi oleh besarnya tekanan dari pompa. Karena penggunaan pompa disini bertujuan untuk mempercepat proses elusi. Percobaan ini menggunakan teknis basah dan dilakukan secara duplo dimana silika jel terlebih dahulu dicampurkan dengan eluen barulah dituangkan kedalam kolom hingga mencapai ketinggian 15 cm. Lalu dimasukkan sampel sebanyak 2 ml dan disusul dengan eluen. Kondisi eluen dalam kolom harus dijaga keberadaannya yaitu 2cm diatas lapisan silica jel. Hal ini bertujuan agar silica jelnya tidak rusak atau berrongga sehingga pemisahan dapat terjadi dengan optimal. Eluen yang digunakan adalah campuran methanol dan dikloro metana dengan perbandingan 1:3 sedangkan sampelnya merupakan campuran dari rhodamin B (merah), metylen blue (biru) dan EBT (ungu). Percobaan pertama memperoleh urutan warna biru ungu merah. Hal ini berarti warna biru memiliki nilai afinitas yang paling rendah terhadap fasa diam dibandingkan dengan warna yang lain. Dan sebaliknya warna merah memiliki nilai afinitas paling tinggi terhadap fasa diam. Dan dapat diketahui pula bahwa semakin rendah nilai afinitas suatu senyawa maka akan semakin singkat waktu yang dibutuhkan oleh senyawa tersebut untuk meninggalkan kolom. Pada percobaan ini tidak digunakan tekanan dari pompa sehingga sama saja dengan kromatografi kolom. Dan pada silike jel terdapat banyak rongga sehingga hasil dari pemisahan ini pun diragunakan keakuratannya sehingga perlu dilakukan percobaan ulang. Untuk percobaan kedua memperoleh urutan warna yang berbeda dengan percobaan pertama yaitu merah ungu biru. Hasil ini justru kebalikkan dari percobaan pertama namun hasil ini diduga merupakan hasil yang seharusnya karena pada percobaan kedua ini pada silika jel dalam kolom tidak terdapat rongga dan diberikan tekanan dari pompa. Selain itu jika dilihat dari lamanya waktu pemisahan percobaan kedua ini lebih cepat dari pada percobaan pertama sehingga sesuai dengan teori dimana salah satu kelebihan Flash Kromatografi yaitu memiliki

waktu pemisahan yang relatif cepat karena adanya tekanan dari pompa. Sehingga dari percobaan kedua diketahui bahwa warna merah memiliki nilai afinitas paling rendah terhadap fasa diamnya daripada warna lainnya.

Nama :Dini Riyanti NIM :091431005

Kelas :2A-Analis Kimia

Suatu zat dapat dipisahkan menjadi suatu senyawanya dengan proses Kromatografi.Kali ini dilakukan suatu proses Flash Kromatografi, dimana proses ini memiliki prinsip yang sama dengan kromatografi kolom.Adapun yang membedakan adalah penambahan vakum/pompa pada flash kromatografi sehingga kecepatan pada fasa gerak lebih cepat terhadap fasa diam dikarenakan tekanan yang berasal dari pompa. Percobaan ini menggunakan fasa diam dengan teknis basah dimana fasa diam berupa silika gel yang dicampurkan dengan eluen.Eluen yang digunakan merupakan campuran dari larutan metanol dan diklorometana dengan perbandingan 1 : 3.Sementara itu sampel yang digunakan adalah merupakan campuran dari tiga jenis pewarna yaitu rhodamine B (merah), metilen blue (biru) dan dan EBT (ungu) yang dicampurkan masing masing sebanyak 2 mL.

Silika gel yang telah ditambah eluen dimasukkan ke dalam kolom sebanyak 12 cm dari panjang kolom kemudian sampel dimasukkan.Percobaan dilakukan secara duplo.Pada percobaan pertama proses dilakukan tanpa bantuan pompa,proses pemisahan berlangsung dengan cukup cepat walaupun pemasangan pompa tidak dilakukan.Namun pada percobaan pertama ini terjadi kerusakan pada fasa diam (terjadi keretakan pada silika gel).Hasilnya,warna biru (metilen blue) keluar terlebih dahulu kemudian disusul dengan warna ungu(EBT) dan merah (rhodamine B).Sementara itu pada percobaan yang kedua,percobaan dilakukan dengan bantuan tekanan dari pompa.Kali ini kondisi kolom lebih baik dengan jumlah bagian silika yang pecah lebih sedikit dari sebelumnya dan pemisahan berlangsung dalam waktu yang lebih singkatHasil pemisahan menunjukan hasil yang berbeda dengan percobaan pertama. Kali ini warna merah terpisah terlebih dahulu yang kemudian diikuti dengan warna ungu dan warna biru terpisah paling akhir.Percobaan yang kedua ini menunjukan hasil yang lebih baik karena kondisi peralatan yang menggunakan pompa dan waktu pemisahan yang lebih cepat.Karena hal tersebut hasil pada percobaan 2 adalah hasil yang diambil.

Berdasarkan percobaan kali ini dapat diketahui bahwa afinitas metilen blue(biru) terhadap fasa diam lebih tinggi dibandingkan dengan EBT (ungu) dan Rhodamine B(merah) (merah<ungu<biru).Afinitas tersebut menentukan berapa lama ia tertahan di dalam fasa diam.

VI.

KESIMPULAN

Sampel pertamayang mengandung rhodamin B, methylen blue, dan EBT memiliki nilai afinitas yang berbeda beda. Berikut ini urutan nilai afinitas dari yang terrendah hingga terbesar: Rhodamin B (merah) EBT (ungu) Methylen blue (biru)

VII.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.2009.www.scribd.com/doc/31356675/I(29 Mei 2011) Anonim.2009.http://insansainsprojects.wordpress.com/kromatografi/ (29 Mei 2011)