SRI MULAWARDANI_H1A008023

KONJUNGTIVITIS VIRUS
1. Konjungtivitis Folikuler Virus Akut
a. Demam Faringokonjungtival  Tanda dan gejala
Demam Faringokonjungtival ditandai oleh demam 38,3-40 ⁰C, sakit tenggorokan, dan konjungtivitis folikuler pada satu atau dua mata. Folikuler sering sangat mencolok pada kedua konjungtiva dan pada mukosa faring. Mata merah dan berair mata sering terjadi, dan kadang-kadang sedikit kekeruhan daerah subepitel. Yang khas adalah limfadenopati preaurikuler (tidak nyeri tekan).

 Laboratorium
Demam faringokonjungtival umumnya disebabkan oleh adenovirus tipe 3 dan kadang – kadang oleh tipe 4 dan 7. Virus itu dapat dibiakkan dalam sel HeLa dan ditetapkan oleh tes netralisasi. Dengan berkembangnya penyakit, virus ini dapat juga didiagnosis secara serologic dengan meningkatnya titer antibody penetral virus. Diagnosis klinis adalah hal mudah dan jelas lebih praktis.

Kerokan konjungtiva terutama mengandung sel mononuclear, dan tak ada bakteri yang tumbuh pada biakan. Keadaan ini lebih sering pada anak-anak daripada orang dewasa dan sukar menular di kolam renang berchlor.

 Terapi
Tidak ada pengobatan spesifik. Konjungtivitisnya sembuh sendiri, umumnya dalam sekitar 10 hari. 1

b. Keratokonjungtivitis Epidemika

 Tanda dan gejala
Keratokonjungtivitis epidemika umumnya bilateral. Awalnya sering pada satu mata saja, dan biasanya mata pertama lebih parah. Pada awalnya pasien merasa ada infeksi dengan nyeri sedang dan berair mata, kemudian diikuti dalam 5-14 hari oleh

bila terbentuk pseudomembran. kemosis.  Laboratorium Keratokonjungtiva epidemika disebabkan oleh adenovirus tipe 8. sakit tenggorokan. Dapat membentuk pseudomembran dan mungkin diikuti parut datar atau pembentukan symblepharon. bukan di tepian. Folikel dan perdarahan konjungtiva sering muncul dalam 48 jam. yang menjadi sumber penyebaran. keratitis epitel. otitis media. Larutan mata.Kekeruhan subepitel terutama terdapat di pusat kornea. Konjungtivitis berlangsung paling lama 3-4 minggu. dan diare. Sensai kornea normal. 19.  Penyebaran Transmisi nosokomial selama pemeriksaan mata sangat sering terjadi melalui jari-jari tangan dokter. atau pemakaian larutan yang terkontaminasi. dan 37 (subgroub D dari adenovirus manusia).  Pencegahan Bahaya kontaminasi botol larutan dapat dihindari dengan dengan memakai penetes steril pribadi atau memakai tetes mata dengan kemasan unit-dose. juga terdapat banyak neutrofil. Keratokonjungtiva epidemika pada orang dewasa terbatas pada bagian luar mata. Nodus preaurikuler yang nyeri tekan adalah khas. Virus itu dapat bertahan dalam larutan itu. mungkin terkontaminasi saat ujung penetes obat menyedot materi terinfeksi dari konjungtiva atau silia. terutama anestetika topical. dan kekeruhan subepitel bulat. Edema palpebra. Kerokan konjungtiva menampakkan reaksi radang mononuclear primer. alat-alat pemeriksaan mata yang kurang steril. pada anak-anak mungkin terdapat gejala sistemik infeksi virus seperti demam. dan menetap berbulan-bulan namun menyembuh tanpa meninggalkan parut. 29. Virus-virus ini dapat diisolasi dalam biakan sel dan diidentifikasi dengan tes netralisasi. Namun.SRI MULAWARDANI_H1A008023 fotofobia. Cuci tangan . dan hyperemia konjungtiva menandai fase akut.

Khas terdapat sebuah nodus preaurikuler yang terasa nyeri jika ditekan. Vesikel herpes kadang-kadang muncul di palpebra dan tepian palpebra. namun kompres dingin akan mengurangi beberapa gejala. c. tetapi tidak terlihat dengan pulasan Giemsa. adalah keadaan yang luar biasa yang ditandai pelebaran pembuluh darah unilateral. iritasi. kortikosteroidselama konjungtivitis akut dapat memperpanjang keterlibatan kornea sehingga harus dihindari.  Terapi Sekarang ini belum ada terapi spesifik. Pada kornea tampak lesi-lesi epithelial tersendiri yang umumnya menyatu membentuk satu ulkus atau ulkusulkus epithelial yang bercabang banyak (dendritik). reaksinya terutama polimorfonuklear akibat kemotaksis dari tempat nekrosis. reaksi radangnya terutama mononuclear. Konjungtivitis Virus Herpes Simpleks  Tanda dan gejala Konjungtivitis virus herpes simplex biasanya merupakan penyakit anak kecil. sakit. kemudian dibilas dengan air steril dan dikeringkan dengan hati-hati.  Laboratorium Tidak ditemukan bakteri di dalam kerokan atau dalam biakan. Inklusi intranuklear tampak dalam sel konjungtiva dan kornea. dan fotofobia ringan. Jika konjungtivitisnya folikuler. Tonometer aplanasi harus dibersihkan dengan alcohol atau hipoklorit.3 Virus mudah diisolasi dengan mengusapkan sebuah aplikator berujung kain kering di atas konjungtiva dan memindahkan sel-sel terinfeksi ke jaringan biakan. namun jika pseudomembran. jika dipakai fiksasi Bouin dan pulasan Papanicolaou. bertahi mata mukoid. Konjungtivitisnya folikuler.SRI MULAWARDANI_H1A008023 secara teratur di antara pemeriksaan dan pembersihan serta sterilisasi alat-alat yang menyentuh mata khususnya tonometer juga suatu keharusan. disertai edema hebat pada palpebra. Ditemukannya sel – sel epithelial raksasa multinuclear mempunyai nilai diagnostic. Agen antibakteri harus diberikan jika terjadi superinfeksi bacterial. .

folikel konjungtiva. dan hemoragi subkonjungtival. 1 tetes setiap jam sewaktu bangun dan 1 tetes setiap 2 jam di waktu malam. d. Untuk ulkus kornea. Namun. Antivirus topical sendiri harus diberikan 7 – 10 hari: trifluridine setiap 2 jam sewaktu bangun atau salep vida rabine lima kali sehari. atau idoxuridine 0. Kebanyaka pasien mengalami limfadenopati preaurikuler.SRI MULAWARDANI_H1A008023  Terapi Jika konjungtivitis terdapat pada anak di atas 1 tahun atau pada orang dewasa. Kadang-kadang terjadi kemosis.1 %. 400 mg lima kali sehari selama 7 hari. banyak mengeluarkan air mata.  Tanda dan Gejala Mata terasa sakit. edema palpebra. Konjungtivitis ini disebabkan oleh coxackie virus A24. Hemoragi subkonjungtiva umumnya difus. Untuk ulkus kornea mungkin diperlukan debridemen kornea dengan hati-hati yakni dengan mengusap ulkus dengan kain kering.Penggunaan kortikosteroid dikontraindikasikan. dan menutupkan mata selama 24 jam. dimulai di konjungtiva bulbi superior dan menyebar ke bawah. dan . Antivirus topical harus dipakai 7-10 hari. antivirus local maupun sistemik harus diberikan untuk mencegah terkenanya kornea. Konjungtivitis Hemoragika Akut  Epidemiologi Semua benua dan kebanyakan pulau di dunia pernah mengalami epidemic besar konjungtivitis konjungtivitis hemoregika akut ini. fotofobia. umunya sembuh sendiri dan mungkin tidak perlu terapi. meneteskan obat antivirus. Keratitis herpes dapat pula diobati dengan salep acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari atau dengan acyclovir oral. Lebih jarang adalah pemakaian vidarabine atau idoxuridine. namun dapat berupa bintikbintik pada awalnya. Pertama kali diketahui di Ghana dalam tahun 1969. merah. sensasi benda asing. Masa inkubasi virus ini pendek (8-48 jam) dan berlangsung singkat (5-7 hari). debridmen kornea dapat dilakukan. karena makin memperburuk infeksi herpes simplex dan mengkonversi penyakit dari proses sembuh sendiri yang singkat menjadi infeksi yang sangat panjang dan berat.

SRI MULAWARDANI_H1A008023 keratitis epithelial. keratitis superior. Limfonodus . dan air. berombak. putih mutiara. Blefarokonjungtivitis Molluscum Contagiosum Sebuah nodul molluscum pada tepian atau kulit palpebra dan alis mata dapat menimbulkan konjungtivitis folikuler menahun unilateral. dan mungkin menyerupai trachoma. Penyembuhan terjadi dalam 5-7 hari  Terapi Tidak ada pengobatan yang pasti. Konjungtivitis Virus Menahun a. insisi sederhana nodul yang memungkinkan darah tepi memasukinya. Blefarokonjungtivitis Varicella-Zoster  Tanda dan gejala Hyperemia dan konjungtivitis infiltrate disertai dengan erupsi vesikuler khas sepanjang penyebaran dermatom nervus trigeminus cabang oftalmika adalah khas herpes zoster. non-radang dengan bagian pusat. Eksisi. dan pannus superior. malaise. yang memenuhi seluruh sitoplasma sel yang membesar. Konjungtivitisnya biasanya papiler. pseudomembran. namun pernah ditemukan folikel. Biopsy menampakkan inklusi sitoplasma eosinofilik. b. adalah khas molluscum kontagiosum. alat-alat optic yang terkontaminasi. dan vesikel temporer.  Penyebaran Virus ini ditularkan melalui kontak erat dari orang ke orang dan oleh fomite seperti sprei. mialgia. dengan lesi bulat. demam. 2. Reaksi radang yang mononuclear (berbeda dengan reaksi pada trachoma). yang kemudian berulserasi. atau krioterapi akan menyembuhkan konjungtivitisnya. mendesak inti ke satu sisi. umum pada 25% kasus. Uveitis anterior pernah dilaporkan.

timbul bercak-bercak Koplik pada konjungtiva dan kadang-kadang pada carunculus. Keratokonjungtivitis Morbilli  Tanda dan gejala Pada awal penyakit.SRI MULAWARDANI_H1A008023 preaurikuler yang nyeri tekan terdapat pada awal penyakit.  Ø Laboratorium Pada zoster maupun varicella. Virus dapat diperoleh dari biakan jaringan sel – sel embrio manusia. H influenza.  Terapi Acyclovir oral dosis tinggi (800 mg oral lima kali sehari selama 10 hari). Agen ini dapat menimbulkan konjungtivitis purulen yang disertai ulserasi kornea dan penurunan penglihatan yang berat. jika diberi pada awal perjalanan penyakit. namun pada pasien kurang gizi atau imunokompeten. kerokan konjungtiva pada varicella dan zoster mengandung sel raksasa dan monosit. Pada pasien imunokompeten. konjungtiva tampak mirip kaca yang aneh. Beberapa hari sebelum erupsi kulit. dan saat muncul erupsi kulit. agaknya akan mengurangi dan menghambat penyakit. parut pada palpebra. Infeksi herpes dapat menimbulkan ulserasi kornea berat dengan perforasi dan kehilangan penglihatan pada anak-anak kurang gizi di Negara berkembang.dan organism lain. kerokan dari vesikel palpebra mengandung sel raksasa dan banyak leukosit polimorfonuklear. yang dalam beberapa hari diikuti pembengkakan lipatan semiluner. dan bulu mata salah arah adalah sekuele. entropion. . timbul konjungtivitis eksudatif dengan secret mukopurulen. keratokonjungtivitis campak hanya meninggalkan sedikit atau sama sekali tanpa sekuel. penyakit mata ini seringkali disertai infeksi HSV atau infeksi bacterial sekunder oleh S pneumonia. c.

kecuali jika ada pseudomembran atau infeksi sekunder. Ilmu Penyakit Mata edisi ketiga. 2005. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta . Daniel G. 2. DAFTAR PUSTAKA 1. Vaughan. Sedian terpulas giemsa mengandung sel-sel raksasa. kecuali jika ada infeksi sekunder.SRI MULAWARDANI_H1A008023 Kerokan konjungtivitis menunjukkan reaksi sel mononuclear. Widya Medika. Jakarta. 2000. Karena tidak ada terapi spesifik. Ilyas Sidarta. Oftalmologi Umum. hanya tindakan penunjang saja yang dilakukan. dkk.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful