Anda di halaman 1dari 13

BAB I PENDAHULUAN I.

1 LATAR BELAKANG Walaupun chiller absorpsi memiliki keunggulan lebih hemat energi listrik dibanding sistem kompresi uap, namun penggunaannya belum memasyarakat. Sampai saat ini, pengguna chiller dengan teknologi ini masih sangat terbatas hanya sebagian kecil industri pengelola gedung perkantoran, mall, dan hotel yang mengoperasikan genset untuk menghasilkan listrik untuk keperluannya sendiri . Di mana penggunaan bahan bakar untuk genset bisa dioptimumkan untuk membangkitkan listrik dan mendapatkan air dingin (chilled water) melalui penggunaan panas buang genset . Salah satu sektor yang memiliki potensi besar limbah dalam bentuk energi panas ( panas buang ) dan sekaligus mempunyai kebutuhan chilled water adalah industri proses ( berbagai macam industri proses) namun sampai saat ini hanya sebagian kecil saja yang telah menggunakan teknologi refrigerasi absorpsi untuk mendapatkan chilled water. Pendingin chilled water sangat berbeda dari AC yang ada di perumahan di mana refrigeran dipompa melalui pengendali udara untuk mendinginkan udara. Apapun yang menyediakan itu, chilled water (antara 4 dan 7 C) dipompa melalui pengendali udara, yang menangkap panas dari udara, kemudian menyebarkan udara ke seluruh area yang akan didinginkan. Air kondensor menyerap panas dari refrigeran di barel dari kondensor water chiller, dan kemudian dikirim melalui saluran kembali ke menara pendingin, yang merupakan perangkat pertukaran panas yang digunakan untuk mentransfer panas limbah ke atmosfer. Sejauh mana menara pendingin menurunkan suhu tergantung pada suhu luar, kelembaban relatif dan tekanan atmosfer.. Peralatan yang dibutuhkan meliputi pendingin, menara pendingin, pompa dan peralatan kontrol listrik. Pengeluaran modal awal untuk ini adalah yang substansial dan biaya pemeliharaan dapat berfluktuasi. Ruang yang memadai harus disertakan dalam desain bangunan untuk pabrik fisik dan akses ke peralatan. I.2 TUJUAN Mengidentifikasi chilled water apakah bisa memenuhi syarat syarat dari ketentuan yang telah ditetapkan. I.3 MANFAAT Mengetahui persyaratan persyaratan kelayakan chilled water yang telah ditetapkan dan mengetahui bagaimana solusi solusi yang diambil dalam mengidentifikasi chilled water.

BAB II PERMASALAHAN Membandingkan data yang hasil pemeriksaan laboratorium suatu badan air dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh DHCS sebagai referensi kami. Data hasil pemeriksaan laboratorium Suhu Tidak Memenuhi 30 C Kekeruhan Warna pH NO2 Phospat Chlorida Sulfat Besi Timbal Kesadahan Data dari DHCS 15 NTU 23 TCU 8,5 4,5 ppm 9 ppm 650 ppm 300 ppm 1 ppm 0,02 ppm 600 ppm Tidak Memenuhi Memenuhi Memenuhi Memenuhi Tidak Memenuhi Tidak Memenuhi Memenuhi Memenuhi

Dari data di atas, maka didapatkan perumusan masalah sebagai berikut : 1.) Bagaimana kualitas air hasil uji laboratorium, apakah sesuai dengan baku mutu air chilled? 2.) Bagaimana cara menganalisa dan mengolahnya, agar air tersebut layak untuk digunakan sebagai air chilled? 3.) Apakah rekomendasi yang dapat diberikan terhadap air dengan kriteria diatas, agar memenuhi baku mutu air chilled?

BAB III PEMBAHASAN Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa chilled water tersebut belum layak persyaratan untuk chilled water yang diperuntukan untuk keperluan industri dikarenakan kandungan ion chlorida, dan sulfat, suhu air yang kurang rendah, selain itu juga kesadahan yang belum memenuhi standar. Oleh karena itu, Untuk mencegah korosi dan fouling(fenomena menempel dan menumpuknya abu pada dinding penghantar panas) pada pipa dan sistem penukar panas, pengguna harus memastikan pembilasan yang tepat, pasivasi dan pengolahan air untuk dilakukan oleh spesialis pengolahan air pada sistem dingin / panas pipa air sekunder untuk memenuhi kontrol kualitas air perlu dilakukan treatment secara khusus untuk mengurangi kandungan ion chlorida, sulfat, menurunkan suhu air, dan menghilangkan kesadahan agar chilled water tersebut memenuhi persyaratan tersebut. MENURUNKAN KADAR KLORIDA Hampir semua air alami mengandung ion klorida . Konsentrasinya bervariasi, tergantung kandungan mineral bumi di berbagai daerah. Dalam jumlah kecil, mereka tidak berpengaruh. Dalam konsentrasi tinggi, mereka menyebabkan masalah. Biasanya konsentrasi klorida rendah. Kadar rendah atau menengah dari senyawa ion tersebut menambah rasa segar pada air. Pada kenyataannya, mereka dibutuhkan karena alasan ini. Jumlah konsentrasi yang berlebihan dari keduanya tentu akan membuat air jadi tidak enak diminum. Aturan EPA tentang air chilled merekomendasikan konsentrasi ion klorida maksimum sebesar 50 mg/l. Klorida menjadikan air terasa asin. Dalam kadar konsentrasi apapun, ini menjadi terasa dan tergantung dari individu masing-masing. Dalam konsentrasi tinggi, klorida menyebabkan air menjadi payau, rasa asin yang sama sekali tidak diinginkan. Walaupun klorida sangat larut, klorida memiliki stabilitas. Stabilitas ini memungkinkan mereka bertahan dari perubahan dan tetap konstan dalam air apapun, kecuali air yang dicemari oleh industri dan kotoran manusia. Klorida menyumbang total kandungan mineral pada air. Seperti yang diindikasikan di atas, total konsentrasi dari mineral mungkin memiliki efek yang bervariasi di rumah. Konsentrasi yang tinggi dari ion klorida mengakibatkan pertambahan kemampuan konduktivitas listrik air. Klorida dan sulfat dapat dihilangkan dari air dengan Reverse Osmosis. Deionisasi (demineralisasi) atau distilasi juga akan menghilangkan klorida dan sulfat dari dalam air, tetapi metode ini tidak cocok untuk perumahan dibanding reverse osmosis. 1. Proses Reverse Osmosis Proses Reverse Osmosis merupakan kebalikan dari proses Osmosis, yaitu memberikan tekanan balik dengan tekanan osmonic lebih besar pada permukaan cairan yang lebih kental, maka cairan yang lebih murni akan menembus permukaan membrane menjadi cairan yang lebih murni. Semakin tinggi tekanan yang diberikan pada cairan yang lebih kental akan semakin cepat cairan yang lebih murni menembus permukaan membrane. (gambar 2)

Proses Osmosis merupakan salah satu proses hukum alam lainnya yang biasa kita temui, yaitu menjadikan materi yang ada disekitarnya seimbang. Keseimbangan yang terjadi pada kedua cairan yang berbeda kekentalannya berupa : Semakin besar beda kekentalan kedua cairan, maka semakin tinggi permukaan cairan yang lebih kental. Perbedaan ketinggi tersebut disebut "tekanan osmonic". Karena itu proses reverse osmosis menjadi mungkin dilakukan dengan memberikan tekanan yang lebih besar dari tekanan osmonic cairan yang mengandung larutan ions. proses ini merupakan proses utama dalam proses pemurnian air dengan hasil kualitas air non mineral. Proses ini melalui alat yang disebut Membrane semipermiable, membrane ini mempunyai lubang air 1/10000 micron dimana air yang melewati lubang tersebut sudah merupakan air bebas meniral bactery, virus dan logam-logam berat lainnya. 1. Proses Dimineralisasi (deionisasi) Demineralisasi atau deionisasi adalah suatu sistem pengolahan air dengan pertukaran ion (ion exchange) melalui media ion exhange resin. Sistem ini mampu menghasilkan air dengan tingkat kemurnian yang sangat tinggi (Ultra Pure Water) dengan jumlah kandungan zat-ionic dan an-ionic mendekati nol sehingga mencapai batas yang hampir tidak dapat dideteksi lagi. Proses Deionisasi Jika pada proses pelunakan yang ditukar adalah ion-ion hardness yaitu Ca dan Mg maka pada proses deionisasi (denineralisasi) semua kation termasuk ion natrium ditukar dengan ion hidrogen (H+) dan semua anion ditukar dengan hidroksil (OH-). Yang dapat ditukar anionnya yaitu terdiri dari; bikarbonat (HCO3-), karbonat (CO32-), silikat (SiO32-), sulfat (SO42-) dan klorida (Cl-). Dalam pelaksanaannya proses deionisasi dilaksanakan 2 tahap yaitu: 1. Pertukaran kation R-H + Ca++ Mg++ Na+ R-Ca R-Mg + H+ R-Na

Dimana R-Ca, R-Mg dan R-Na akan terikat pada resin Ion H+ akan terbawa air 2. Pertukaran Anion R-OH + HCO3R HCO3 + H2O Terikat di resin terbawa air Sama seperti pada proses pelunakan setelah kapasitas penukar ion terpakai habis maka perlu dilakukan regenerasi dengan regenerant yang sesuai. Larutan asam klorida atau asam sulfat biasa digunakan untuk penukar kation dan penukar anion. Reaksi yang terjadi selama proses regenerasi: 1. Pertukaran Kation R-Ca Ca++ + R-Mg +H R-H (dipakai lagi) + Mg++ R-Na Na+ 2. Pertukaran Anion R-HCO3 +OHR-OH + HCO3-

Air yang dihasilkan dari proses ini disebut demin water dan banyak digunakan sebagai air make-up atau air umpan boiler tekanan tinggiataupun tekanan rendah dan sedang. Resin ion excahnge dari resin: Na+ + RH H+ + Rna Dimana R merupakan resin yang berasal dari grup tipe asam. Resin mempunyai kapasitas pertukaran ion yang terbatas. Jumlah total tetap dari resin asam per gramnya sama dengan jumlah konsentrasi dari R-H dan R-Na dengan konstan. Seperti terulis pada persamaan RH + RNa = qm Hal yang sama juga terdapat pad fase larutan di luar resin yaitu total konsentrasi molar dari H2 dan sodium adalah konstan. Seperti terlihat pada persamaan H+ + Na+ = Co Persamaan pada kesetimbangan adalah: H+ RNa / Na+ RH = (Co-C)q* / c (qm- q+) Dimana G dan q* mewakili konsentrasi kesetimbangan dari natrium.

2.

Proses Destilasi Proses destilasi menggunakan sumber panas untuk menguapkan air. Tujuan dari destilasi adalah memisahkan kontaminan dan logam berat dari air salah satunya adalah ion Klorida ( Cl ). Air bersih yang dihasilkan dari proses distilasi didapatkan dengan jalan melakukan penguapan terhadap air sumber / air baku. Cara ini efektif untuk menghilangkan garam yang menyebabkan rasa asin pada air. Ada dua cara sederhana dalam membuat alat distilasi air ini, yakni menggunakan kompor atau menggunakan sinar matahari. Stove-top still merupakan model sederhana untuk alat distilasi dengan menggunakan kompor. Pertama-tama kompor memanaskan air yang ada sebuah belanga. Pemanasan tersebut akan menghasilkan uap panas yang akan dipakai untuk memanaskan belanga kedua yang berisi air sumber yang nantinya akan berisi air bersih. Pemanasan pada belanga kedua juga akan memicu munculnya uap air dari air sumber. Butiran-butiran uap air ini akan tertahan poleh membran plastik dan akhirnya akan jatuh pada wadah air bersih yang terletak ditengah tengah belanga kedua. Untuk lebih lengkapnya lihat gambar dibawah ini.

Adapun cara yang kedua adalah menggunakan sinar matahari untuk menghasilkan uap air. Butiran uap-uap air tersebut kemudian akan tertahan pada kaca tembus pandang. Setelah butiran semakin banyak, maka akan berubah menjadi tetesan air yang akan ditahan oleh palung/talang air yang akan mengarahkan butiran air ke dalam wadah untuk penampungan air bersih. PENGHILANGAN ION SULFAT Sulfat bersifat iritan bagi saluran gastro-intestinal, bila dicampur dengan magnesium atau natrium. Jumlah MgSO4 yang tidak terlalu besar sudah dapat menimbulkan diare. Sulfat pada boilers menimbulkan endapan (hard scales) demikian pula pada heat exchanger (Soemirat, 1994). Sulfat dapat ditentukan dengan cara mengendapkannya dengan barium klorida (BaCl 2) untuk membentuk endapan barium sulfat (BaSO4). Partikel endapan BaSO4 terlalu kecil untuk disaring sehingga perlu didigesti untuk membentuk kristal yang lebih besar. Proses ini menghasilkan kristal yang sukar larut (Adam, 2011). Sumber kesalahan berasal dari coprecipitation dari beberapa kation seperti kalium dan besi (II). Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah tersebut dapat diatasi dengan cara menambahkan larutan sampel yang panas kedalam larutan BaCl2 panas. Hal ini akan mengurangi adanya coprecipitation (Adam, 2011).

Sulfat ini cukup sulit dihilangkan dari air, karena sifat sulfat yang sempurna larut dalam air, sehingga untuk memisahkannya harus memakai membran elektrodialisis. Cara untuk mendeteksi kandungan sulfat dalam air dapat dilakukan dengan mempergunakan alat spektrofotometer (uji kuantitatif) pada panjang gelombang 420 nm, sedangkan untuk mendeteksi secara cepat (uji kualitatif) cukup dengan mereaksikan sampel air dengan larutan barium klorida 10% pada kondisi pH netral. Reaksi berupa endapan putih menunjukkan sampel air positif mengandung cemaran senyawa sulfat. Cara deteksi lebih cepat lagi dapat dilakukan dengan menggunakan perangkat uji- sulfat (uji semi kuantitatif), yaitu berupa Kitsulfat yang sudah banyak diproduksi secara komersial (Anonymous C, 2010). Ada 2 metode analisis yang digunakan dalam determining Sulfat, yaitu (Sawyer, 1978): 1. Metode gravimetri Metode gravimetri merupakan metode yang digunakan untuk menghasilkan hasil yang paling akurat dan merupakan prosedur standar yang disarankan untuk konsentrasi Sulfat diatas 10 mg/l. 2. Turbidity Metode ini digunakan dalam pengukuran didasarkan pada kenyataan bahwa Barium Sulfat cenderung dalam bentuk koloid dan bahwa kecenderungan ini adalah dihadapan perubahan Natrium Klorida-Asam Klorida larutan yang mengandung gliserol dan senyawa organik lainnya. MENURUNKAN SUHU AIR Pendingin air dingin sangat berbeda dari AC khas perumahan di mana refrigeran dipompa melalui pengendali udara untuk mendinginkan udara. air dingin (antara 4 dan 7 C) dipompa melalui pengendali udara, yang menangkap panas dari udara, kemudian menyebarkan udara ke seluruh area yang akan didinginkan. Air kondensor menyerap panas dari refrigeran di barel dari kondensor water chiller, dan kemudian dikirim melalui saluran kembali ke menara pendingin, yang merupakan alat pertukaran panas yang digunakan untuk mentransfer panas limbah ke atmosfer. Sejauh mana menara pendingin menurunkan suhu tergantung pada suhu luar, kelembaban relatif dan tekanan atmosfer. Air di sirkuit air dingin akan diturunkan ke suhu wet bulb atau suhu dry bulb sebelum melanjutkan ke water chiller, di mana ia didinginkan sampai antara 4 dan 7 C dan dipompa ke handler udara, dan siklus tersebut berlanjut. Peralatan yang dibutuhkan meliputi pendingin, menara pendingin, pompa dan peralatan kontrol listrik. CARA MENGHILANGKAN KESADAHAN Penghilangan kesadahan (pelunakan) air dilakukan untuk menghilangkan atau mengurangi kation Ca2+ dan Mg2+. Kation penyebab kesadahan dapat dikurangi atau dihilangkan dengan proses-proses sebagai berikut : a.)Pemanasan b.)Proses pengendapan kimia, dan c.)Pertukaran ion (Ion Exchange) Penghilangan kesadahan dapat dilakukan di dalam instalasi pengolahan (treatment plant) untuk kapasitas yang besar atau dalam skala rumah tangga untuk skala yang kecil. Untuk kesadahan yang tinggi umumnya dilakukan di instalasi pengolahan air sampai derajad

kesadahan moderat yakni 50 -150 mg/l kesadahan. Untuk skala rumah tangga penghilangan kesadahan umumnya dilakukan dengan cara pertukaran ion. Air sadah sementara Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawasenyawa tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Reaksi yang terjadi adalah : Ca(HCO3)2 (aq) > CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g) Air sadah tetap Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia tertentu. Pereaksi yang digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3 (aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion Ca2+ dan atau Mg2+. CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) > CaCO3 (s) + 2NaCl (aq) Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) > MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq) Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air tersebut telah terbebas dari kesadahan. Mekanisme Pertukaran Ion di dalam Proses Penghilangan kesadahan Resin penukar ion positif (kation) yang digunakan secara kemersial umumnya dalam bentuk asam kuat atau asam lemah. Resin penukar ion positif (kation) asam kuat dapat menghilangakan seluruh kation atau ion positif yang ada di dalam air, sedangkan resin penukar ion positif asam lemah umumnya dibatasi hanya untuk menghilangkan kesadahan yang berhubungan dengan alkinitas karbonat. Selain dalam bentuk asam kuat atau asam lemah ada pula yang ada dalam bentuk netral ( intermediate). Resin penukar ion mempunyai afinitas yang berbeda terhadap tiap jenis ion yang ada di dalam air. Akibatnya resin penukar ion menunjukkan urutan selektivitas untuk tiap jenis ion yang terlarut di dalam air. Untuk resin penukar ion positif dalam bentuk asam kuat (srong acid cation exchange resin) urutan jenis ion positif yang mempunyai afinitas terhadap resin penukar ion mulai dari yang terbesar sampai yang terkecil adalah sebagai berikut : Kalsium (Ca2+), Magnesium (Mg 2+), Ammonium (NH4 + ), Kalium atau Potasium (K+), Sodium atau Natrium (Na+), dan yang terakhir Hidrogen (H+). Dengan demikian apabila air dilewatkan ke dalam suatu bed (unggun) resin penukar ion postif maka pada lapisan unggun resin yang paling atas sebagian besar diduduki oleh ion Kalsium (Ca +2) disebabkan karena Kalsium mempunyai afinitas yang paling besar. Oleh karena magnesium mempunyai mempunyai afinitas yang lebih tinggi setelah kalsium maka lapisan di bawah kalsium sebagian besar akan ditempati oleh ion magnesium (Mg +2), demikian seterusnya. Lapisan yang paling bawah akan ditempati oleh ion Natrium (Na+) karena mempunyai afinitas terhadap resin penukar ion yang paling rendah. Secara sederhana ilustrasi mekanisme pertukaran ion didalam unggun resin penukar ion positip dapat dilihat seperti pada Gambar. Pada saat sebelum proses seluruh lapisan unggun resin ditempati oleh ion hidrogen (H+). Tahap berikutnya yaitu awal operasi ion kalsium, magnesium, natrium yang masuk ke dalam unggun resin akan menempati unggun resin
9

menggantikan kedudukan ion hidrogen. Lapisan paling atas akan ditempati oleh ion kalsium, selanjutnya oleh ion magnesium, kemudian natrium dan lapisan yang paling bawah masih ditempati oleh ion hidrogen. Sebagian ion hidrogen yang telah ditukar oleh ion kalsium, magnesium dan natrium akan keluar terikut dengan air yang keluar unggun resin. Apabila operasi berlanjut terus maka ion kalsium yang masuk akan menggantikan kedudukan ion magnesium, ion magnesium yang masuk akan menggatikan kedudukan ion natrium, dan ion natrium yang masuk akan menggantikan ion hidrogen. Sedangkan ion hidrogen yang telah tertukar akan keluar unggun resin melalui airan air yang keluar. Jika operasi berlangsung terus maka seluruh resin akan ditempati oleh ion kalsium dan magnesium. Pada proses pelunakan air atau proses penghilangan kesadahan, saat seluruh unggun resin telah diduduki oleh ion kalsium dan magnesium maka proses pelunakan harus dihentikan karena jika proses dilanjutkan maka ion magnesium akan tergantikan oleh ion kalsium dan ion magnesium yang tergantikan akan keluar melalui aliran air yang keluar unggun resin. Pada kondisi seperti ini resin dinyatakan jenuh dan harus diregenerasi kembali. Ion-ion yang tak diharapkan keluar misalnya magnsium atau kalsium yang terikut keluar unggun resin penukar ion disebut leakage .

Ilustrasi mekanisme pertukaran ion positif (kation) di dalam resin penukar ion A. Dengan Siklus untuk Na. a. Menggunakan Zeolite Penghilangan Ca dan Mg dengan zeolit : Na2Z + Ca(HCO3)2 Ca-Z + 2 Na(HCO3) Na2Z + Mg(HCO3)2 Mg-Z + 2 Na(HCO3) Na2Z + CaSO4 Ca-Z + 2 Na2SO4 Na2Z + MgSO4 Mg-Z + 2 NaSO4 Na2Z + CaCl2 Ca-Z + 2 NaCl Na2Z + MgCl2 Mg-Z + 2 NaCl Regenerasi dg NaCl : Ca-Z + 2 NaCl Na2Z + FeCl2 Mg-Z + 2 NaCl Na2Z + MnCl2 b. Menggunakan Resin Sintetis Penghilangan Ca dan Mg :
10

R-Na2 + Ca(HCO3)2 R-Ca + 2 Na(HCO3) R-Na2 + Mg(HCO3)2 R-Mg + 2 Na(HCO3) R-Na2 + CaSO4 R-Ca + Na2SO4 R-Na2 + MgSO4 R-Mg + Na2SO4 R-Na2 + CaCl2 R-Ca + 2 NaCl R-Na2 + MgCl2 R-Mg + 2 NaCl Regenerasi dengan NaCl : R-Ca + 2 NaCl 2 R-Na2 + CaCl2 R-Mg + 2 NaCl 2 R-Na2 + MgCl2 B. Dengan Siklus Hidrogen (H) a. Dengan Media Penukar Ion Zeolite : Penghilangan Ca dan Mg : H2-Z + Ca(HCO3)2 Ca-Z + 2 H2O + 2 CO2 H2-Z + Mg(HCO3)2 Mg-Z + 2 H2O + 2 CO2 H2-Z + CaSO4 Ca-Z + H2SO4 H2-Z + MgSO4 Mg-Z + H2SO4 H2-Z + CaCl2 Ca-Z + 2 HCl H2-Z + MgCl2 Mg-Z + 2 HCl Regenerasi dengan HCl : Ca-Z + 2 HCl 2 H2Z + CaCl2 Mg-Z + 2 HCl 2 H2Z + MgCl2 b. Dengan Media Resin Penukar Ion Penghilangan Ca dan Mg : R-H2 + Ca(HCO3)2 R-Ca + 2 H2O + 2 CO2 R-H2 + Mg(HCO3)2 R-Mg + 2 H2O + 2 CO2 R-H2 + CaSO4 R-Ca + H2SO4 R-H2 + MgSO4 R-Mg + H2SO4 R-H2 + CaCl2 R-Ca + 2 HCl R-H2 + MgCl2 R-Mg + 2 HCl Regenerasi dengan HCl : R-Ca + 2 HCl R-H2 + MnCl2 R-Mg + 2 HCl R-H2 + FeCl2 Dilihat dari persamaan reaksinya maka proses penghilangan kalsium (Ca) dan magensium (Mg) dengan pertukaran ion sangat mudah operasinya, tetapi jika air bakunya mempunyai kekeruhan, dan kandungan zat organik serta kadar Fe3+ dan Mn2+ cukup tinggi maka reisn penukar ionnya akan tertutup oleh oleh kotoran tersebut sehingga daya penukar ionnya menjadi cepat jenuh. Hal ini mengakibatkan pencucian dan regenerasi reisn harus lebih sering dilakukan.

11

BAB IV PENUTUP IV.1 KESIMPULAN A.) chilled water tersebut belum memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan oleh DHCS karena terdapat kelebihan ion sulfat dan klorida B.) Suhu air chilled juga belum memenuhi persyaratan, karena suhu terlau tinggi C.) Jika hal tersebut dibiarkan, maka akan menyebabkan korosi dan fouling IV.2 SARAN A.) Dilakukan treatment untuk menurunkan ion sulfat dan klorida B.) Menurunkan suhu air chilled agar memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh DHSC C.) Untuk menghilangkan kesadahan air, dengan cara pertukaran ion

12

DAFTAR PUSTAKA Aimyaya.com Distilasi : Cara Sederhana Mendapatkan Air Bersih dari Air Laut / Air Asin DHCS Technical specs http://karyaprima.my-php.net/?p=73 http://terlova.blogspot.com/2011/04/sulphate-ions-removal-from-aqueous.html http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air www.airsehatisiulang.com www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirMinum/BAB9SADAH.pdf http://www.scribd.com/doc/77129476/Ion-Exchange-Tiwi

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

13