Anda di halaman 1dari 12

DRAFT LAPORAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH ACARA III TEKSTUR TANAH (KUALITATIF)

Nama

Kelompok Golongan Asisten

Oleh: : 1. Siti Sabrina S. 2. Hervy Marmianory Y. 3. Risma Ardilli Hayu 4. Dwi Hutami A. N. 5. Ramadan Madini 6. Esi Asyani Listyowati :2 : B1 : Kartika Juwita

(12282) (12291) (12307) (12308) (12315) (12328)

LABORATORIUM ILMU TANAH UMUM JURUSAN TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2012

ACARA III TEKSTUR TANAH (KUALITATIF) ABSTRAKSI


Praktikum Tekstur Tanah ini dilaksanakan pada Senin, 30 April 2012 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Bahan yang digunakan adalah tanah kering udara diameter 2 mm. Pengamatan dilakukan untuk menetapkan tekstur tanah. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Tekstur tanah ialah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi-fraksi penyusun tanah. Adapun fraksi penyusun tanah, yaitu pasir (sand), debu (silt), dan lempung (clay). Ketiga fraksi tersebut memiliki proporsi dan komposisinya antara jenis tanah yang satu dengan yang lain berbeda-beda, akibatnya fraksi penyusun tanah yang dominan akan menjadi ciri dari jenis tanah yang bersangkutan. Tekstur tanah adalah atribut tanah yang bersifat permanen dan alami, dan istilah ini sering menentukan susunan fisik tanah. Dalam praktikum ini diketahui bahwa tanah Alfisol bertekstur geluh lempung debuan dengan kadar lempung 35%.

I. A. Latar Belakang

PENDAHULUAN

Tanah terdiri dari butir-butir tanah dari berbagai ukuran. Bahan tanah yang berukuran lebih dari 2mm disebut bahan kasar, yaitu kerikil sampai batu, sedangkan bahan-bahan tanah yang lebih halus dapat dibedakan menjadi: pasir dengan ukuran 2mm - 50, debu dengan ukuran 50- 2, dan lempung dengan ukuran kurang dari 2. Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah berdasarkan perbandingan banyaknya butir-butir pasir, debu, dan lempung. Tekstur tanah adalah keadaan tanah yang menunjukan kasar halusnya tanah. Hal ini dapat dideteksi dengan cara memirit tanah dengan jari tangan. Tekstur tanah berkaitan dengan kemampuan tanah untuk menahan air dan juga reaksi kimia tanah. Tanah-tanah yang bertekstur pasir mempunyai luas permukaan yang kecil sehingga sulit untuk menahan air maupun unsur hara. Tanah-tanah yang bertekstur lempung mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyediakan unsur hara tinggi. Tanah bertekstur halus juga lebih aktif dalam reaksi kimia daripada tanah yang bertekstur kasar. Tekstur tanah merupakan salah satu sifat fisik tanah yang tidak mudah berubah maka sering digunakan untuk menduga asal bahan induk tanah dan proses yang berlangsung pada suatu bentang lahan. Tekstur tanah perlu dipelajari karena tanah

berpengaruh penting pada tanaman melalui hubungannya dengan udara dan air. Selain itu, tekstur tanah perlu diketahui untuk mengetahui fraksi yang dominan dalam proporsi dan komposisinya antara jenis tanah satu dengan tanah yang lain berbeda. B. Tinjauan Pustaka Komposisi tanah sangat komplek dan saling mempengaruhi, dari benda padat dengan mineral, anorganik, bahan-bahan organik, cairan (air), dan gas (udara). Tekstur tanah merupakan butir-butiran tanah dengan bermacam-macam bentuk dan ukuran. Adapun kombinasi atau susunan partikel tanah disebut struktur tanah. Perbedaan tekstur dan struktur menentukan sifat fisik tanah. Misalnya jumlah ruangan (pores) antara partikel-partikel tanah. Selanjutnya, hal ini akan mempengaruhi pembuangan air, penyimpanan air, penyinaran, kapasitas penerimaan nutrisi, pengumpulan dan penyebaran sistem akar (Luwiharto, 1999). Tekstur tanah juga mempengaruhi ruang perakaran tanaman, konsistensi, dan keterolahan tanah. Tanah pasiran memiliki laju peresapan air baik, kapasitas menahan air rendah, kandungan hara rendah, kapasitas adsorpsi rendah, baik untuk sistem perakaran, dan mudah diolah. Tanah lempungan memiliki drainase buruk, kapasitas pengikatan air tinggi, aerasi kurang baik, kandungan hara tinggi, kapasitas penyerapan tinggi, kurang baik untuk sistem perakaran, dan sukar diolah. Sedangkan tanah debuan mempunyai sifat antara lempung dan pasir (Sutanto, 2005). Tekstur tanah dapat diperkirakan di lapangan dengan mengamati karakteristik fisiknya. Sebuah tanah berpasir terasa berpasir dan berantakan dengan mudah jika dibentuk menjadi bola ketika lembab. Sebuah tanah liat terasa agak berpasir. Namun ini mudah untuk dibentuk, karena memiliki jumlah pasir relatif serta lumpur tanah liat, dan dapat dibentuk menjadi bola ketika lembab. Namun masih dapat terpisah dengan mudah bila diperas. Sebuah tanah berlumpur dapat terpisah dengan mudah dan memiliki penampilan seperti tepung ketika kering. Ketika lembab, tanah berlumpur memiliki nuansa apik dan tidak membentuk pita ketika dijepit antara jari dan jempol. Sebuah tanah liat membentuk gumpalan keras, dan retak terbentuk di permukaan. Tanah lempung terasa lengket dan dapat ditekuk ketika lembab. Sebuah pita dapat dibentuk ketika basah dengan mencubit tanah antara jari dan jempol. Sebuah lagi pita

terbentuk sebelum menunjukkan jumlah kerusakan yang lebih tinggi dari tanah liat (Department of Crop and Soil Sciences, 2007) Tanah-tanah yang mengandung mineral liat smektit mempunyai prospek yang cukup besar untuk dikembangkan menjadi lahan pertanian tanaman pangan asal dibarengi dengan pengelolaan tanaman dan tanah yang tepat. Tanah ini umumnya meliputi tanah Aluvial (Inceptisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols). Tanah-tanah tersebut mempunyai penyebaran yang cukup luas di tanah air, yaitu Vertisols sekitar 2,12 juta, Inceptisols 70,52 juta, dan Alfisols 5,5 juta ha yang tersebar di wilayah Jawa (Jabar, Jateng, dan Jatim), Sulawesi (Sulsel, Sulteng, dan Gorontalo), dan Nusa Tenggara (Lombok) (Nursyamsii et al., 2007). Tanah yang baik adalah tanah-tanah dengan sifat fisik yang baik dimana agregatnya mantap, tekstur lempung/lempung berliat, kapasitas penahan air cukup baik dan total ruang pori optimal. Disamping itu tanah harus mempunyai kesuburan yang baik dan mengandung bahan organik yang tinggi serta tidak mengandung unsur yang beracun (Sitepu et al., 1994). Hasil eksperimen yang diperoleh dalam penelitian ini, dan simulasi hasil yang dilaporkan dalam literatur, jelas menggarisbawahi bahwa pilihan yang cocok dari jenis tanah dapat meningkatkan WUE spesies yang dibudidayakan (Katerjia dan Mastrorilli, 2009). Jenis tanah Alfisol memiliki lapisan solum tanah yang cukup tebal yaitu anatara 90-200 cm, tetapi batas antara horison tidak begitu jelas. Warna tanah adalah coklat sampai merah. Tekstur agak bervariasi dari geluh sampai lempung, dengan struktur gumpal bersudut. Kandungan unsur hara tanaman seperti N, P, K, dan Ca umumnya rendah dan reaksi tanahnya (pH) sangat tinggi (Sarief, 1985).

II. METODOLOGI Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah yang berjudul Tekstur Tanah (Kualitatif) dilaksanakan pada Senin 30 April 2012 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah contoh tanah kering udara dengan 2 mm. Prinsip analisis yang digunakan adalah penentuan kualitatif secara pilinan. Cara kerja yang dilaksanakan dalam acara III ini adalah sebagai berikut. Segenggam contoh tanah 2 mm diambil dan dibuat adonan dengan ditambahkab air sedikit demi sedikit sambil diremas-remas sampai sifat keliatan (plasticity) muncul. Kandungan air sekitar kapasitas lapangan (lembab), tidak boleh terlalu basah. Adonan dibuat bola dengan dikepal-kepal. Jika tidak dapat, kelas tekstur contoh tanah adalah pasir. Jika dapat dibuat bola adonan tanah dibuat pita dengan ditekan dan didorong hati-hati antara ibu jari dengan jari telunjuk sampai ujung pita tanah menjulur melampaui ujung jari telunjuk dan patah karena gaya beratnya. Jika tidak dapat (panjang pita < 0,5 cm), kelas struktur contoh tanah adalah pasir geluhan. Jika dapat dibuat pita (panjang pita < 0,5 cm) maka contoh tanah yang sudah dibentuk pita diukur panjangnya. Jika panjang pita 0,5-2,5 cm, contoh tanah dibuat bubur (kandungan air di atas jenuh) di atas telapak tangan, digosok-gosok dengan jari sambil dirasakan. Jika rasa menonjol kasar maka kelas tekstur geluh pasiran, jika rasa menonjol halus licin maka kelas tekstur geluh debuan, jika rasa menonjol halus licin mutlak maka kelas tekstur debu, dan jika rasa menonjol kasar dan halus seimbang maka kelas tekstur geluh. Untuk panjang pita yang berukuran 2,5-5,0 cm, selanjutnya contoh tanah dibuat bubur (kandungan air di atas jenuh) di atas telapak tangan, digosok-gosok dengan jari sambil dirasakan. Jika rasa menonjol kasar maka kelas tekstur geluh lempung pasiran, jika rasa menonjol halus licin maka kelas tekstur geluh lempung debuan, jika rasa menonjol halus licin mutlak maka kelas tekstur debu, dan jika rasa menonjol kasar dan halus seimbang maka kelas tekstur geluh lempungan. Untuk panjang pita yang berukuran lebih dari 5 cm, selanjutnya contoh tanah dibuat bubur (kandungan air di atas jenuh) di atas telapak tangan, digosok-gosok dengan jari sambil dirasakan. Jika rasa menonjol kasar maka kelas tekstur lempung pasiran, jika rasa menonjol halus licin maka kelas tekstur lempung debuan, jika rasa menonjol halus licin mutlak maka kelas tekstur

debu, dan jika rasa menonjol kasar dan halus seimbang maka kelas tekstur lempung. Kelas tekstur yang telah diketahui selanjutnya dicari angka kadar lempung dengan digunakannya harga tengah kadar lempung kelas tekstur bersangkutan menurut diagram segitiga tekstur USDA.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui tekstur tanah dalam keadaan basah dengan menggunakan metode kualitatif yaitu dengan cara membentuk pita yang didorong dan ditekan dengan ibu jari dan telunjuk. Kemudian panjangnya dapat diukur baik yang patah maupun tidak patah. Langkah selanjutnya, tanah dibuat menjadi bubur. Penentuan kelas tekstur tersebut dikerjakan dengan cara menggosok-gosokkan tanah diantara ibu jari dan telapak tangan yang dapat dirasakan kekasaran atau kehalusannya. Perlakuan tersebut digunakan untuk menentukan kelas tekstur tanah yang berupa pasir, pasir geluhan, debu, geluh pasiran, geluh debuan, geluh, geluh lempung pasiran, geluh lempungan, geluh lempung debuan, lempung pasiran, lempung debuan, atau lempung. Berdasarkan kelas tekstur yang diperoleh tersebut, dapat diketahui angka kadar lempung dengan menggunakan harga tengah kadar lempung kelas tekstur yang bersangkutan dengan diagram segitiga tekstur USDA. Metode kualitatif tersebut digunakan karena lebih sederhana dan mudah dilaksanakan. Selain itu praktikan akan lebih mudah memahami metode tersebut karena untuk mengetahui kelas tekstur tersebut cukup dengan menggunakan kepekaan indra peraba. Ketelitian dan kepekaan praktikan sangat diperlukan pada saat merasakan tekstur tanah tersebut agar hasil yang diperoleh akurat. Tanah yang digunakan pada praktikum ini adalah jenis tanah alfisol berdiameter 2mm. Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa alfisol memiliki tekstur tanah geluh lempung debuan dengan kadar lempung 35%. Hasil ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa alfisol memiliki kelas tekstur geluh sampai lempung. Hal ini disebabkan oleh tanah alfisol dapat dibuat bola saat diberi sedikit air dan dikepalkepalkan. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi kelas tekstur tanah adalah kemampuan tanah memegang dan menyimpan air, aerasi, serta permeabilitas, kapasitas tukar kation dan kesuburan tanah. Dalam Usaha pertanian, kondisi tekstur tanah menjadi perhatian utama bagi petani. Karena dengan mengetahui tekstur tanah maka akan diketahui pula vegetasi apa yang cocok untuk dikembangbiakan, mengetahui cara pengolahannya seperti apa dan bagaimana. Karena tekstur tanah dapat mempangaruhi tanaman yang tumbuh di atas tanah. Pengaruhnya antara lain :

1. Resistensi, terhadap menembusnya akar-akar kedalam tanah. Tanah dengan kandungan silt dan clay yang tinggi sangat sukar ditembus oleh akar-akar tanaman sehingga percabangan dan perkembangan akar terhambat. Hal ini akan berpengaruh pada daerah yang mempunyai iklim kering panjang. Terutama pada tanamantanaman yang masih berumur muda sangat peka terhadap tekstur tanah sehingga dapat menghasilkan tanaman dewasa yang berbeda. 2. Peresapan air Pada tanah-tanah yang kasar, air hujan yang jatuh akan segera masuk kedalam tanah. Kalau kita mendapatkan tanah yang miring pada tanah yang kadar akan terjadi air aliran sedikit dan sebaliknya pada tanah bertekstur halus. Sehingga pada umumnya pada tanah-tanah yang lebih berat (tekstur halus) akan mudah terjadi erosi sehingga banyaknya air yang mengalir akan mempengaruhi erosifitas tanah terutama oleh air hujan. 3. Kecepatan gerakan air dalam tanah Pada umumnya hal di atas sangat ditentukan oleh tekstur tanah, yaitu makin halus tekstur makin lambat gerakan air. Umumnya pada tanaman muda (annual crop) tidak menghendaki tanah yang bertekstur halus dan sebaliknya termasuk tanaman keras lebih resisten terhadap tanah bertekstur halus. Sehingga dengan demikian kebanyakan tanaman-tanaman muda mempunyai areal tanah pada daerah-daerah bertekstur kasar. Dengan sendirinya pada tanaman padi justru menghendaki sistem lempung ini karena tanaman padi termasuk tanaman yang memerlukan air berlebihan. Kedua macam tekstur ini mempunyai kebaikan dan kelemahan pada masing-masing tanaman. Kalau kita tinjau masalah ini pada tanah pasir maka air akan bergerak lebih cepat dibanding pada tanah-tanah bertekstur halus. Kecepatan gerakan air pada tanah pasir ini begitu cepat sehingga sampai keluar dari daerah perakaran, dan tidak berguna. Ini ada hubungannya dengan mengapa tanaman muda menghendaki tanah pasir karena sistem perakarannya lebih dangkal daripada sistem perakaran tanaman keras sehingga dengan demikian walaupun air bergerak cepat tetapi kedalaman tertentu masih mempunyai kelembaban tertentu sehingga daerah ini masih mengandung air yang cukup untuk mensuplai air. Bila musim kemarau datang dan tanaman sangat tergantung pada air kapiler dari bagian tanah kecepatan naiknya kembali air tanah akan lebih cepat pada tanah-tanah bertekstur kasar.

Dengan mengetahui tektur tanah maka akan mengetahui pula bagaimana cara pengolahannya dan hasil panen yang didapat akan memungkinkan mencapai hasil maksimal. Sifat fisika tanah mencakup semua penampilan tanah yang berkaitan dengan komposisi fraksi-mineral tanah, tata ruang udara tanah, proporsi dan komposisi udara-air dalam tanah, perilaku air-udara dalam tanah, dan perilaku tanah atas usikan atau daya tertentu sehingga hubungan tekstur tanah dengan sifat fisika tanah adalah tekstur merupakan bagian dari sifat fisika tanah yang menggambarkan proporsi (perbandingan relatif) dari komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah. Berikut ini merupakan hubungan tekstur tanah dengan sifat fisik tanah lainnya. Hubungan Tektstur tanah dengan kadar air dalam tanah, kadar dan ketersediaan air tanah sebenarnya pada setiap koefisien umum bervariasi terutama tergantung pada tekstur tanah. Hubungan tekstur tanah dengan struktur tanah, pada dasarnya tekstur tanah itu adalah perbandingan antara partikel-partikel pasir, debu dan liat yang menyusun suatu tanah. Dari partikel tersebut beragresi (berkumpul) membentuk struktur tanah. Hubungan tekstur tanah dengan ruang pori total, tanah dengan tekstur halus mempunyai kisaran ukuran dan bentuk partikelnya yang luas. Hal ini telah ditekankan bahwa tanah permukaan yang berpasir mempunyai porositras kecil daripada tanah liat. Berarti bahwa tanah pasir mempunyai volume yang lebih sedikit ditempati oleh ruang pori. Ruang pori total pada tanah pasir mungkin rendah tetapi mempunyai proporsi yang besar yang disusun daripada komposisi pori-pori yang besar yang sangat efisien dalam pergerakan udara dan airnya. Persentase volume yang dapat terisi oleh pori-pori kecil pada tanah pasir rendah yang menyebabkan kapasitas menahan airnya rendah. Sebaliknya tanah-tanah permukaan dengan tekstur halus memiliki ruang pori total lebih banyak dan proporsinya relatif besar yang disusun oleh pori kecil. Akibatnya adalah atanah mempunyai kapasitas menahan air yang tinggi.

IV. KESIMPULAN Secara kualitatif jenis tanah alfisol memiliki kelas tekstur tanah geluh lempung debuan dengan kadar lempung 35 %.

V. PENGHARGAAN Praktikan menyampaikan terima kasih kepada koordinator dan para asisten praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah atas saran dan kritik selama praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah acara III yang berjudul Tekstur Tanah (Kualitatif) berlangsung. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi masyarakat luas.

DAFTAR PUSTAKA Department 2012. Katerjia, N. dan M. Mastrorilli. 2009. Pengaruh tekstur tanah terhadap efisiensi penggunaan air tanaman irigasi : hasil percobaan multi-tahun dilakukan di wilayah Mediterania. Jurnal Agronomi Eropa 30 : 95-100. Luwiharto, E. 1999. Kiat Merawat Bonsai Agar Tampil Prima. Kanisius. Yogyakarta. Nursyamsii, D., K. Idris, S. Sabiham, D.A. Rachim, dan A. Sofyan. 2007. Sifat-Sifat Tanah Dominan yang Berpengaruh Terhadap K Tersedia pada Tanah-Tanah yang Didominasi Smektit. Jurnal Tanah dan Iklim 26 : 13-28. Sarief, S. 1985. Ilmu Tanah Pertanian. Pustaka Buana, Bandung. Sitepu, R., Dinar, L., Erwin, dan T. Sabrina. 1994. Pengaruh tekstur tanah dan komposisi media tumbuh terhadap pertumbuhan bibit kakao dengan menggunakan pot bambu. Buletin Perkebunan. 8: 58-69. Sutanto, R. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah : Konsep dan Kenyataan. Kanisius. Yogyakarta. of Crop and Soil Sciences. 2007. Soil Texture.

http://water.rutgers.edu/Rain_Gardens/factsheet29.pdf. diakses pada tanggal 4 Mei