Anda di halaman 1dari 45

STATUS PASIEN

I.

Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Agama Tanggal lahir Pendidikan Pekerjaan Alamat No. RekamMedis Tanggal pemeriksaam : Tn. A : 38 tahun : Laki-laki : Islam : 30 Desember 1973 : SMA : Karyawan : Cimanggis : 14 71 26 : 12 maret 2012

II.

Anamnesis (autoanamnesis) Keluhan Utama Penglihatan kabur pada mata kanan.

Keluhan Tambahan Mata kanan sakit, merah, pandangan kabur, mata berair, dan kepala sebelah kanan sakit.

Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dengan keluhan pada mata kanan penglihatannya tiba tiba kabur sejak 3 jam yang lalu. Keluhan tersebut diikuti dengan sakit dan merah pada mata serta berair seperti air mata yang banyak sekali. Tiga jam yang lalu pasien bermain badminton, lalu ketika temannya melakukan smash keras, pasien sedang melihat ke tempat lain. Lalu shuttlecock mengenai mata kanan pasien, lalu terasa sakit dan pandangan menjadi kabur sampai tidak terlihat apa-apa. Saat ini pasien tidak bisa melihat dengan jelas, hanya tampak benda benda yang kabur. Lalu di matanya tampak merah diseluruh mata, bagian hitam dari mata tampak terisi darah dan terasa sakit. Kepala pasien juga terasa sakit pada sisi kanan. Sekitar kelopak mata tampak bengkak kemerahan dan matanya berair seperti air mata dan nyeri

bila dibuka. Keluhan mual, muntah dan nyeri kepala sisi kiri disangkal pasien. Mata kiri pasien tidak ada keluhan. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya. Riwayat Penyakit Keluarga Pasien menyangkal pada keluarga ada yang menderita keadaan seperti ini.

III.

Pemeriksaan Fisik Status Generalis Keadaan Umum Kesadaran : Tampak sakit sedang : Compos mentis

Tanda vital Tekanan darah Nadi Suhu Frekuensi Kepala Mata Telinga, Hidung, Tenggorok Gigi gegili Leher Thoraks dan abdomen Ekstremitas : 110/80 mmHg : 88 x/menit : 36,80 C : 24 x/menit : Normocephal : (lihat status oftalmologi) : Dalam batas normal : Jumlah lengkap : Pembesaran KGB (-), pembesaran tiroid (-) : Dalam batas normal : Akral hangat, edema (-), Sianosis (-)

Status Oftalmologi OD Tidak berdeviasi Tes Hirschberg OS Tidak berdeviasi

Baik Ke segala arah 1/300 5/5,5 Edema +, hiperemis Visus TIO Palpebra

Baik Ke segala arah 6/6 5/5,5 Edema (-) silia lengkap dan tumbuh teratur, trikiasis (-) madarosis (-)

Konj palpebra: hiperemis Konj Bulbi: inj konjunctiva +, Inj siliaris + Jernih, udem -

Konjungtiva

Papil (-) folikel (-) hordeolum () kalazion (-) hiperemis (-) sekret (-)

Kornea

Jernih,

ukuran

dalam

batas

normal, edema (-) sikatrik (-) ulkus (-) erosi (-) xerosis (-)

BMD

Kedalaman

normal,

jernih,

hipopion (-) hifema (-)

Seluruh BMD terisi darah encer Sulit dinilai Iris Kripti (-) sinekia anterior (-) sinekia posterior (-) Sulit dinilai Pupil Bulat, isokor, refleks cahaya langsung/tidak langsung (+) Sulit dinilai Lensa Jernih
3

Sulit dinilai Tidak dilakukan

Vitreous Fundus

Tidak terlihat Tidak dilakukan

IV.

Resume Pasien datang dengan keluhan mata kanan penglihatannya tiba tiba kabur sejak 3 jam yang lalu. Keluhan tersebut diikuti dengan nyeri, hiperemis, dan lakrimasi pada mata, dan nyeri pada kepala sebelah kanan. Pada observasi keadaan umum didapatkan pasien tampak sakit sedang. Dari status oftalmologi, pada mata kanan didapatkan visus 1/300, TIO 5/5,5 = 17,3 mmHg. Pada konjunctiva palpebra tampak hiperemis, konjunctiva bulbi terdapat injeksi konjunctiva +, dan injeksi siliaris +. Pada BMD tampak terisi penuh oleh darah encer. Pupil, iris, lensa, vitreus, dan fundus sulit dinilai karena BMD terisi darah.

V.

Diagnosis Kerja Hifema OD e.c Trauma tumpul oculi

VI.

Diagnosis Banding -

VII.

Pemeriksaan Penunjang USG untuk melihat bagian posterior mata.

VIII.

Penatalaksanaan 1. Pasien dirawat dengan posisi kepala 30 45 o 2. Mata ditutup 3. Antifibrinolitik Asam Tranexamat 4 x 250 mg per oral 4. Antibiotik Steroid tetes cendo xitrol 3 x 1 5. Azetazolamid 3 x 250 mg

IX.

Prognosis Ad vitam Ad functionam Ad sanationam Ad cosmeticam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : ad malam : dubia

Pembahasan Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam BMD, yaitu daerah diantara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar Diagnosa pada pasien ini dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, dan pemeriksaan fisik opthalmologis. Pada anamnesis pasien mengeluhkan pandangan kabur pada mata kanan. Keluhan tersebut diikuti dengan nyeri, hiperemis, dan lakrimasi pada mata, dan nyeri pada kepala sebelah kanan. Ditemukan darah di dalam bilik mata yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah BMD, perdarahan yang mengisi setengah bilik mata depan dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intraokuler, sehingga mata tereasa sakit oleh karena glaucoma. Jika hifema mengisi seluruh bilik mata depan, rasa sakit bertambah dan penglihatan lebih menurun lagi. Pada observasi keadaan umum didapatkan pasien tampak sakit sedang. Dari status oftalmologi, pada mata kanan didapatkan visus 1/300, visus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina. Pada konjunctiva palpebra tampak hiperemis, konjunctiva bulbi terdapat injeksi konjunctiva +, dan injeksi siliaris +. Pada BMD tampak terisi penuh oleh darah encer. Pupil, iris, lensa, vitreus, dan fundus sulit dinilai karena BMD terisi darah. Perdarahan ini biasanya disebabkan oleh terjadinya robekan di pembuluh darah ins atau badan siliar. Darah ini dapat mengotori permukaan kornea dan mengisi BMD, sehingga mengakibatkan penglihatan menjadi kabur. Penatalaksanaan dari hifema bertujuan untuk menghentikan perdarahan atau menghindarkan timbulnya perdarahan sekunder, mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata, merawat dan mengobati jaringan sekitarnya, dan meminimalisasi kerusakan lebih lanjut lagi.

BAB II PEMBAHASAN UMUM

2.1. ANATOMI SUDUT BILIK MATA DEPAN DAN IRIS

Bilik mata depan merupakan struktur penting dalam hubungannya dengan pengaturan tekanan intraokuler. Hal ini disebabkan karena pengaliran cairan aquos harus melalui bilik mata depan terlebih dahulu sebelum memasuki kanal Schlemm.1 Bilik mata depan dibentuk oleh persambungan antara kornea perifer dan iris. Ciri-ciri anatomi yang dimilikinya:2 1. Adanya garis Schwalbe yang merupakan batas akhir endotel dan membran Descement kornea 2. Adanya anyaman trabekula yang terletak di atas kanal Schlemm. Pada potongan melintang, anyaman ini tampak berbentuk segitiga dengan dasarnya yang mengarah ke korpus siliaris. Anyaman trabekula sendiri tersusun atas jaringan kolagen dan elastik sebagai lembaran-lembaran berlubang yang membentuk semacam saringan. Anyaman yang menghadap ke bilik mata depan disebut anyaman uvea, sedangkan yang menghadap ke korpus siliaris disebut anyaman korneoskleral. 3. Terdapat taji sklera yang merupakan penonjolan sklera ke arah dalam di antara korpus siliaris dan kanal Schlemm.

Gambar 2.1 Anatomi Sudut Bilik Mata Depan2

Selain ketiga struktur di atas, ada dua struktur lain yang juga membentuk bilik mata depan yaitu iris dan korpus siliaris. Iris merupakan bagian uvea sebagai perpanjangan korpus siliaris ke anterior. Iris terletak bersambungan dengan permukaan anterior lensa dan memisahkan bilik mata depan dengan bilik mata belakang. Fungsinya untuk mengatur cahaya yang masuk ke mata.1,2

Gambar 2.2 Anatomi Bilik Mata Depan dan Jaringan Sekitar3

Iris adalah perpanjangan dari corpus siliaris ke anterior. Iris berupa permukaan pipih dengan apertura bulat yang terletak di bagian tengah, pupil. Iris terletak bersambungan dengan permukaan anterior lensa, memisahkan bilik mata depan dan bilik mata belakang, yang masing masing berisi aquaous humor. Di dalam stroma iris terdapat sfingter dan otot otot dilator. Kedua lapisan berpigmen pekat pada permukaan posterior iris merupakan perluasan neuroretina dan lapisan epitel pigmen retina ke arah anterior.1,3 Perdarahan iris berasal dari circulus major iris. (gambar 2.2). Kapiler kapiler iris mempunyai lapisan endotel yang tidak berlubang sehingga normalnya tidak membocorkan fluoresein yang disuntikan secara intravena. Persarafan sesoris iris melalui serabut serabut dalam nervi seliaris.3 Iris mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata. Ukuran pupil pada prinsipnya ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi akibat aktivitas parasimpatis yang
8

dihantarkan oleh nervus occulomotorius (N.III) dan dilatasi yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatis.3

Gambar 2.3 Perdarahan mata3

2.2 FISIOLOGI HUMOR AQUOS 2.2.1 Produksi Cairan Aquos Cairan aquos diproduksi oleh korpus siliaris, tepatnya dari plasma darah di jaringan kapiler proccesus siliaris. Sebagai cairan yang mengisi bilik mata depan, cairan aquos berfungsi untuk menjaga tekanan intraokuler, memberi nutrisi ke kornea dan lensa dan juga memberi bentuk ke bola mata anterior. Volumenya sekitar 250 L dengan jumlah yang diproduksi dan dikeluarkan setiap harinya berjumlah 5 mL/hari.8 Cairan ini bersifat asam dengan tekanan osmotik yang lebih tinggi dibandingkan plasma. Komposisi cairan aquos kurang lebih mirip dengan plasma, kecuali bahwa cairan ini memiliki konsentrasi askorbat, piruvat, laktat dan klorida yang lebih tinggi. Sedangkan konsentrasi protein, urea, glukosa, natrium bikarbonat dan karbon dioksida cairan aquos lebih rendah dari plasma.1

Kecepatan produksi cairan aquos diukur dalam satuan mikroliter per menit (L/menit). Para peneliti di Amerika Serikat melakukan penelitian terhadap 300 orang dengan tekanan intraokuler normal yang berusia antara 3 sampai 38 tahun dengan menggunakan teknik penyaringan (scan) fluorofotometri. Dalam penelitian tersebut didapat bahwa kecepatan rata-rata aliran cairan aquos pada jam 8.00 16.00 berkisar antara 2,75 0.63 L/menit sehingga didapat batas normal produksi cairan aquos sekitar 1,8 4,3 L/menit. Kecepatan ini dalam sehari dapat bervariasi yang disebut dengan variasi diurnal yaitu kecepatan selama tidur 1,5 kali lebih cepat dari pada pagi hari.4 2.2.2 Mekanisme Pengaliran Cairan Aquos Cairan aquos yang dihasilkan korpus siliaris berada di bilik mata belakang. Cairan ini kemudian akan mengalir melalui pupil masuk ke bilik mata depan. Aliran cairan aquos di dalam bilik mata depan mengarah ke perifer, ke arah anyaman trabekula yang berfungsi sebagai saringan dan masuk ke dalam kanal Schlemm. Saluran efferen kanal Schlemm terdiri dari 300 saluran pengumpul dan 12 vena aquos yang akan mengalirkan cairan ke dalam vena episklera. Jalur ini dikenal sebagai sistem kanalikuli atau sistem konvensional yang mengalirkan 83-69% cairan aquos. Sejumlah 5-15% sisanya keluar melalui sistem uveoskleral yaitu di antara berkas otot siliaris dan sela-sela sklera. Jalur alternatif ini disebut sistem ekstrakanalikuli atau sistem unkonvensional.4 Kecepatan pembentukan cairan aquos dan hambatan pada mekanisme pengaliran keluarnya menentukan besarnya tekanan intraokuler. Normalnya tekanan di dalam bola mata berkisar antara 10-20 mmHg. Peningkatan tekanan intraokuler dapat terjadi akibat produksi cairan aquos yang meningkat misalnya pada reaksi peradangan dan tumor intraokuler atau karena aliran keluarnya yang terganggu akibat adanya hambatan pada pratrabekular, trabekular atau post trabekular.4

2.3. TRAUMA OKULI

Trauma mata sering merupakan penyebab kebutaan unilateral pada anak dan dewasa muda; kelompok usia ini mengalami sebagian besar trauma mata yang parah. Dewasa muda, terutama pria, merupakan kelompok yang kemungkinan besar mengalami trauma tembus mata. Kecelakaan di tempat kerja, kecelakaan di rumah, kekerasan, ledakan aki, cedera
10

akibat olah raga, dan kecelakaan lalu lintas merupakan keadaan-keadaan yang paling sering menyebabkan trauma pada mata. Saat ini trauma mata akibat tembakan paintball meningkat. Penggunaan seat belt saat mengendarai mobil telah menurunkan angka kejadian trauma mata akibat benturan kaca depan mobil saat kecelakaan. Trauma mata yang berat dapat menyebabkan gangguan multipel pada kelopak mata, bola mata dan jaringan lunak. 3,4,5 Trauma pada mata akan mengakibatkan kerusakan mata serta menyebabkan timbulnya penyulit yang dapat menyebabkan menurunnya fungsi penglihatan. Trauma pada mata dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya trauma tumpul, trauma tembus bola mata, trauma kimia serta trauma radiasi.1 Sebagai seorang dokter umum, diperlukan kemampuan untuk mengevaluasi trauma mata yang sering terjadi dan kemampuan untuk menentukan apakah trauma yang dialami pasien perlu dikonsultasikan ke dokter spesialis mata atau tidak. Pada keadaan gawat darurat mata yang sesungguhnya seperti trauma kimia, seorang dokter umum yang bekerja di pelayanan primer harus dapat melakukan penatalaksanaan awal karena beberapa menit pertama setelah terjadinya trauma adalah masamasa paling krusial yang akan menentukan prognosis pasien.6 2.3.1. Definisi & Terminologi7

Trauma dapat terjadi pada spektrum yang luas dari mata, yaitu bola mata, nervus optikus, dan adneksa. Kesemuanya dapat menyebabkan kelainan penampilan mata maupun tajam penglihatan mulai dari yang ringan sampai berat. Untuk memahami trauma okular, perlu diketahui terlebih dahulu terminologi yang berlaku pada trauma okular menurut Birmingham Eye Trauma Terminology (BETT).4 Diagnosa yang sering digunakan pada praktik klinis:

11

Gambar 2.4. BETT. Kotak dengan bingkai ganda (diagnosis yang digunakan pada praktik klinik)7 Terminologi:7 Dinding mata : terdiri atas kornea dan sklera. Meskipun mata memiliki 3 lapisan, untuk tujuan klinis dan praktis mendiagnosa cedera pada dinding mata, hanya struktur terluar yang dimasukkan dalam definisi. Kontusio : tidak terdapat luka (dengan ketebalan penuh). Kontusio disebabkan oleh penyampaian energi langsung dari obyek (contoh: ruptur koroid), atau akibat perubahan bentuk bola mata (contoh: resesi sudut). Laserasi lamelar Ruptur : : luka ketebalan parsial pada dinding mata. luka ketebalan penuh pada dinding mata, disebabkan oleh obyek tumpul, karena mata dipenuhi oleh cairan yang tidak dapat ditekan (incompressible). Dinding mata mengalami perlemahan pada titik lemahnya (lokasi impaksi atau lokasi lain seperti luka katarak lama). Luka sebenarnya dihasilkan oleh mekanisme ke dalam-ke luar (inside-out mechanism). Laserasi luka :ketebalan penuh pada dinding mata, disebabkan oleh obyek tajam. Luka terjadi pada tempat impaksi akibat mekanisme dari luar-ke dalam (outside-in). Cedera penetratif /tembus luka :masuk. Jika terdapat lebih dari satu luka, masing-masing pasti diakibatkan oleh agen yang berbeda.
12

Benda asing tertahan Cedera perforatif

secara teknis merupakan cedara penetrasi, namun dikelompokkan : terpisah karena dampak klinis yang berbeda. luka :masuk dan keluar. Kedua luka disebabkan oleh agen yang sama.

2.3.2. Klasifikasi Klasifikasi trauma pada mata berdasar mekanisme:7 I. Trauma mekanik I.1. Trauma Tumpul Trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan benda yang keras atau benda yang tidak keras, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan keras (kencang) ataupun lambat.

A. Hematoma Kelopak Hematoma palpebra yang merupakan pembengkakan atau penimbunan darah di bawah kulit kelopak akibat pecahnya pembuluh darah palpebra. Hematoma kelopak merupakan kelainan yang sering terlihat pada trauma tumpul kelopak. Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai kedua kelopak dan berbentuk kacamata hitam yang sedang dipakai, maka keadaan ini disebut sebagai hematoma kacamata. Hematoma kacamata adalah keadaan sangat gawat. Hal tersebut dapat terjadi akibat pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda fraktur basis kranii.7 Pada pecahnya a. Oftalmika maka darah masuk ke dalam rongga orbita melalui fisura orbita. Akibat darah tidak dapat menjalar lanjut karena dibatasi septum orbita kelopak mata maka akan terbentuk gambaran hitam pada kelopak seperti memakai kacamata. Pada hematoma kelopak dini dapat diberikan kompres dingin untuk menghentikan perdarahan dan menghilangkan rasa sakit. Bila telah lama, untuk memudahkan absorpsi darah dapat dilakukan kompres hangat pada kelopak mata.6

B. Edema Konjungtiva Jaringan konjungtiva yang bersifat selaput lendir dapat menjadi kemotik pada setiap kelainannya, demikian pula akibat trauma tumpul. Bila kelopak terpajan ke
13

dunia luar dan konjungtiva secara langsung kena angin tanpa dapat mengedip, maka keadaan ini telah dapat mengakibatkan edema pada konjungtiva. Kemotik Konjungtiva yang berat dapat mengakibatkan palpebra tidak menutup sehingga bertambah rangsangan terhadap konjungtiva. Pada edema konjungtiva dapat diberikan dekongestan untuk mencegah pembendungan cairan di dalam selaput lendir konjungtiva. Pada kemotik konjungtiva berat dapat dilakukan disisi sehingga cairan konjungtiva kemotik keluar melalui insisi tersebut.6,7

C. Perdarahan Subkonjungtiva Perdarahan subkonjungtiva terjadi akibat pecahnya pembuluh darah yang terdapat pada di bawah konjungtiva, seperti arteri konjungtiva dan arteri episklera. Jika pembuluh darah di permukaan mata rusak, konjungtiva akan menjadi merah. Perdarahan superfisial dapat tampak mengkhawatirkan tetapi sebenarnya tidak berarti banyak. Perdarahan ini dapat sembuh tanpa diterapi. Area yang merah dapat menjadi agak hijau dan lalu menjadi kuning dalam beberapa hari. Jejak perdarahan biasanya hilang dalam satu atau dua minggu.7 Pecahnya pembuluh darah ini akibat batuk rejan, trauma tumpul basis kranii (hematoma kaca mata), atau pada keadaan pembuluh darah yang rentan dan mudah pecah. Pembuluh darah akan rentan dan mudah pecah pada usia lanjut, hipertensi, arteriosklerose, konjungtiva meradang (konjungtivitis), anemia, dan obat-obat tertentu. Bila pendarahan ini terjadi akibat trauma tumpul maka perlu dipastikan bahwa tidak terdapat robekan di bawah jaringan konjungtiva atau sklera. Kadang-kadang hematoma subkonjungtiva menutupi keadaan mata yang lebih buruk seperti perforasi bola mata.6 Pemeriksaan funduskopi perlu pada setiap penderita dengan pendarahan subkonjungtiva akibat trauma. Bila tekanan bola mata rendah dengan pupil lonjong disertai dengan penurunan ketajaman penglihatan dan perdarahan subkonjungtiva, maka sebaiknya dilakukan eksplorasi bola mata untuk mencari adanya kemungkinan bulbus olkuli. Pengobatan dini pada perdarahan

subkonjungtiva adalah dengan kompres hangat. Pendarahan subkonjungtiva akan hilang atau diabsorpsi dalam 1-2 minggu tanpa diobati.6,7

14

D.Edema Kornea Trauma tumpul yang keras atau cepat mengenai mata dapat mengakibatkan edema kornea bahkan ruptur membran Descemet. Edema kornea akan memberikan keluhan penglihatan kabur dan terlihatnya pelangi sekitar bola lampu atau sumber cahaya yang dilihat. Kornea akan terlihat keruh, dengan uji plasido positif. Edema kornea yang berat dapat mengakibatkan masuknya sebukan sel radang dan neovaskularisasi ke dalam jaringan stroma kornea. Pengobatan yang diberikan adalah larutan hipertonik seperti NaCl 5% atau larutan garam hipertonik 2-8%, glukosa 40%, dan larutan albumin. 6 Bila terdapat peninggian tekanan bola mata maka akan diberikan asetazolamid. Pengobatan untuk menghilangkan rasa sakit dan memperbaiki tajam penglihatan dengan lensa kontak lembek dan mungkin akibat kerjanya menekan kornea terjadi pengurangan edema kornea. Penyulit trauma kornea yang berat berupa terjadinya kerusakan M. Descemet yang lama sehingga mengakibatkan keratopati bulosa yang akan memberikan keluhan rasa sakit dan menurunkan tajam penglihatan akibat astigmatisme ireguler.6,7

E.Iridoplegia Trauma tumpul pada uvea dapat mengakibatkan kelumpuhan otot sfingter pupil atau iridoplegia sehingga pupil menjadi lebar atau midriasis. Pasien akan sukar melihat dekat karena gangguan akomodasi, silau akibat gangguan pengaturan masuknya sinar pada pupil. Pupil terlihat tidak sama besar atau anisokoria dan bentuk pupil dapat menjadi ireguler. Pupil ini tidak bereaksi terhadap sinar. Iridoplegia juga dapat muncul tanpa gangguan akomodasi.7 Iridoplegia akibat trauma akan berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Pada pasien dengan iridoplegia sebaiknya diberi istirahat untuk mencegah terjadinya kelelahan sfingter dan pemberian roboransia.7

F.Iridodialisis Iridodialisis merupakan ruptur iris pada pangkalnya, bagian perifernya terlepas dari prosesus siliaris. Hal ini merupakan akibat dari kontusio, peregangan iris dari dan pada insersinya. Pasien dengan iridodialisis yang kecil bisa tidak terdapat keluhan. Sedangkan pasien dengan iridodialisis yang relatif besar,

15

keluhan yang dirasakan pasien umumnya merasa pandangan ganda monokular, fotofobia, dan terlihat kilatan cahaya.7 Pada iridodialisis akan terlihat pupil lonjong. Biasanya iridodialisis terjadi bersama-sama dengan terbentuknya hifema. Bila keluhan demikian, maka

sebaiknya dilakukan pembedahan pada pasien dengan melakukan reposisi pangkal iris yang terlepas. Namun, jika iridodialisis tidak memberikan keluhan, maka dilakukan tirah baring dan observasi. Mata yang sakit dapat ditutup untuk mencegah cedera lebih lanjut.7

G.Iritis Traumatik Pada trauma tumpul dapat terjadi reaksi jaringan uvea sehingga menimbulkan iritis atau iridosiklitis atau radang uvea anterior. Pada mata akan terlihat mata merah, akibat adanya darah di dalam bilik mata depan maka akan terdapat pupil yang mengecil dengan ketajaman penglihatan yang menurun. Iritis biasanya terjadi dengan cepat dan unilateral. Berikut ini beberapa gejala dan tanda yang dapat ditemui:7

Nyeri pada mata yang terkena. Bertambah ketika melihat cahaya terang (fotofobia)

Mata merah Pupil yang kecil atau iregular Pandangan kabur Sakit kepala Mata berair

Diagnosis iritis dengan melakukan pemeriksaan slit lamp. Pada pemeriksaan slit lamp dapat ditemukan sel-sel darah putih (kumpulan sel radang) dan flare (partikel protein) pada cairan aqueous humor.Pada iritis dapat diberikan tetes mata midriatik dan steroid topikal.Bila terlihat tanda radang berat maka dapat diberikan steroid sistemik. Iritis traumatik biasanya akan menghilang dalam 1-2 minggu pengobatan.6

H. Hifema Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Pasien akan mengeluh sakit, disertai dengan epifora, dan blefarospasme. Penglihatan pasien
16

akan sangat menurun. Bila pasien duduk, hifema kan terlihat terkumpul di bagian bawah bilik mata depan, dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis.8 Pengobatan dengan merawat pasien dengan tidur di tempat tidur yang ditinggikan 30 derajat pada kepala, diberi koagulasi, dan mata ditutup. Pada anak yang gelisah dapat diberikan obat penenang. Asetazolamida diberikan bila terjadi penyulit, yaitu glaukoma. Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak berjalan demikian, maka sebaiknya penderita dirujuk.6 Parasentesis atau mengeluarkan darah dari bilik mata depan dilakukan pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea, glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam, atau bila setelah 5 hari tidak terlihat tanda-tanda hifema akan berkurang. Kadang-kadang sesudah hifema hilang atau 7 hari setelah trauma dapat terjadi pendarahan atau hifema baru yang disebut hifema sekunder yang pengaruhnya akan lebih hebat karena pendarahan akan lebih sukar hilang.6

I. Dislokasi Lensa Trauma tumpul lensa dapat menyebabkan dislokasi lensa. Dislokasi lensa terjadi pada putusnya zonula Zinn yang akan mengakibatkan kedudukan lensa terganggu.6

J. Subluksasi Lensa Subluksasi lensa terjadi akibat putusnya sebagian zonula Zinn sehingga lensa berpindah tempat. Subluksasi lensa dapat juga terjadi spontan akibat pasien

menderita kelainan pada zonola Zinn yang rapuh (sindrom marfan). Pasien pasca trauma akan mengeluh penglihatan berkurang. Subluksasi lensa akan memberikan gambaran pada iris berupa iridodonesis.6 Akibat pegangan pada zonula tidak ada maka lensa yang elastis akan menjadi cembung dan mata akan menjadi lebih myopi. Lensa yang menjadi sangat cembung mendorong iris ke depan sehingga sudut bilik mata tertutup. Bila sudut bilik mata menjadi sempit, pada mata ini mudah terjadi glaukoma sekunder.7 Subluksasi dapat mengakibatkan glaukoma sekunder dimana terjadi penutupan sudut bilik mata oleh lensa yang mencembung. Bila terjadi penyulit
17

subluksasi lensa, seperti glaukoma atau uveitis maka tidak dilakukan pengeluaran lensa dan diberi kaca mata koreksi yang sesuai.7

K. Luksasi Lensa Anterior Bila seluruh zonula Zinn di sekitar ekuator putus akibat trauma maka lensa dapat masuk ke dalam bilik mata depan. Akibat lensa terletak di dalam bilik mata depan, maka akan terjadi gangguan pengaliran keluar cairan bilik mata sehingga akan timbul glaukoma kongestif akut dengan gejala-gejalanya.7 Pasien akan mengeluh penglihatan turun mendadak disertai rasa sakit yang hebat, muntah, mata merah dengan blefarospasme. Terdapat injeksi siliar yang berat, edema kornea, lensa di dalam bilik mata depan. Iris terdorong ke belakang dengan pupil yang lebar. Tekanan bola mata sangat tinggi. Pada luksasi lensa anterior sebaiknya pasien dikirim pada dokter mata untuk dikeluarkan lensanya dengan terlebih dahulu diberikan asetazolamida untuk menurunkan tekanan bola matanya.7

L. Luksasi Lensa Posterior Pada trauma tumpul yang keras pada mata dapat terjadi luksasi lensa posterior akibat putusnya zonula Zinn di seluruh lingkaran ekuator lensa sehingga lensa terjatuh ke dalam badan kaca dan tenggelam di dataran bawah polus posterior fundus okuli.7 Mata ini akan menunjukkan gejala mata tanpa lensa atau Lensa yang terlalu lama pada polus posterior dapat menimbulkan penyulit akibat degenerasi lensa, berupa glaukoma fakolitik ataupun uveitis fakotoksik. Bila luksasi lensa telah menimbulkan penyulit sebaiknya secepatnya dilakukan ekstraksi lensa.8

M. Katarak Trauma Katarak akibat cedera pada mata dapat akibat trauma perforasi atau pun tumpul yang terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior. Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.6 Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan
18

terbatas kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata depan.8 Pada keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang bercampur makrofag dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis fakoanafilaktik. Lensa dengan kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks lensa sehingga akan mengakibatkan apa yang disebut sebagai cincin Soemering atau bila epitel lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara Elsching.7 Pengobatan katarak traumatik tergantung pada saat terjadinya. Bila terjadi pada anak, sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia. Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau sekunder.8 Pada katarak trauma bila tidak terdapat penyulit, maka dapat ditunggu sampai mata menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveitis dan lain sebagainya maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uveitis dan glaukoma sering dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan. Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis atau salah letak lensa.9

N. Cincin Vossius Pada trauma lensa dapat terlihat apa yang disebut sebagai cincin Vossius yang merupakan cincin berpigmen yang terletak tepat di belakang pupil yang dapat terjadi segera setelah trauma, yang merupakan deposit pigmen iris pada dataran depan lensa sesudah sesuatu trauma, seperti suatu stempel jari. Cincin hanya menunjukkan tanda bahwa mata tersebut telah mengalami suatu trauma tumpul.7

O. Edema Retina dan Koroid Trauma tumpul pada retina dapat mengakibatkan edema retina, penglihatan akan sangat menurun. Edema retina akan memberikan warna retina yang lebih abu-abu akibat sukarnya melihat jaringan koroid melalui retina yang sembab. Berbeda dengan oklusi arteri retina sentral dimana terdapat edema retina kecuali daerah makula, sehingga pada kedaan ini akan terlihat cherry red spot yang
19

berwarna merah. Edema retina akibat trauma tumpul juga mengakibatkan edema makula, namun tidak terdapat cherry red spot.4 Pada trauma tumpul yang paling ditakutkan adalah terjadi edema makula atau edema Berlin. Pada keadaan ini akan terjadi edema yang luas sehingga fundus okuli berwarna abu-abu. Umumnya penglihatan akan normal kembali setelah beberapa waktu, akan tetapi penglihatan dapat berkurang akibat tertimbunnya daerah makula oleh sel pigmen epitel.4

P. Ablasi Retina Trauma dapat merupakan pencetus untuk terlepasnya retina dari koroid pada penderita ablasi retina. Biasanya pasien telah mempunyai bakat untuk terjadinya ablasi retina ini, seperti retina tipis akibat retinitis semata, miopia, dan proses degenerasi retina lainnya.7 Pada pasien akan terdapat keluhan seperti adanya selaput yang seperti tabir lapang pandangannya. Bila terkena atau tertutup daerah makula maka tajam penglihatan akan menurun. Pada pemeriksaan funduskopi akan terlihat retina yang berwarna abu-abu dengan pembuluh darah yang terlihat terangkat dan berkelokkelok. Kadang-kadang terlihat pembuluh darah seperti yang terputus-putus. Pada pasien dengan ablasi retina maka secepatnya dirawat untuk dilakukan pembedahan oleh dokter mata.7

Q. Ruptur Koroid Pada trauma keras dapat terjadi perdarahan subretina yang dapat merupakan akibat ruptur koroid. Ruptur ini biasanya terletak di polus posterior bola mata dan melingkar konsentris di sekitar papil saraf optik. Bila ruptur koroid ini terletak atau mengenai daerah makula lutea, maka tajam penglihatan akan sangat menurun. Ruptur ini bila tertutup oleh perdarahan subretina agak sukar dilihat kan tetapi bila darah tersebut telah diabsorpsi maka akan terlihat bagian ruptur berwarna putih karena sklera dapat dilihat langsung tanpa tertutup koroid.7

R. Avulsi Papil Saraf Optik Pada trauma tumpul dapat terjadi saraf optik terlepas dari pangkalnya di dalam bola ata yang disebut sebagai avulsi papil saraf optik. Keadaan ini akan mengakibatkan turunnya tajam penglihatan yang berat dan sering berakhir dengan
20

kebutaan. Penderita ini perlu dirujuk untuk menilai kelainan fungsi retina dan saraf optiknya.6

S. Optik Neuropati Traumatik Trauma tumpul dapat mengakibatkan kompresi pada saraf optik, demikian pula pendarahan dan edema sekitar saraf optik. Penglihatan akan berkurang setelah cedera mata. Terdapat reaksi defek aferen pupil tanpa adanya kelainan nyata pada retina. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah gangguan penglihatan warna dan lapangan pandang. Papil saraf optik dapat normal beberapa minggu sebelum menjadi pucat.7 Diagnosis banding penglihatan turun setelah sebuah cedera mata adalah trauma retina, perdarahan badan kaca, trauma yang mengakibatkan kerusakan pada kiasma optik. Pengobatan adalah dengan merawat pasien pada waktu akut dengan memberi steroid. Bila penglihatan memburuk setelah steroid aka perlu dipertimbangkan tindakan pembedahan.7 T. Perdarahan retrobulbar7 Perdarahan retrobulbar merupakan komplikasi yang jarang yang mungkin terjadi setelah trauma pada wajah bagian tengah atau setelah operasi jaringan lunak atau keras di sekitar mata. Jika tidak diobati, dapat mengakibatkan adalah akibat blepharoplasty

kebutaan. Komplikasi yang paling ditakuti

adalah kehilangan penglihatan karena hematoma retrobulbar; untungnya, kejadian ini jarang terjadi. Tanda Kardinal dan gejala perdarahan retrobulbar adalah nyeri, diplopia, ophthalmoplegia, proptosis, dan penurunan ketajaman visual yang mengarah ke kebutaan. Pendarahan ke dalam ruang intraorbital dapat menyebabkan gangguan visual akut karena terjadi kompresi saraf optik dan arteri. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan computed tomography (CT) dari

orbit atau dengan USG mata. Gambar-gambar diagnostik juga penting dalam menentukan ukuran hematoma. Manajemen awal perdarahan retrobulbar termasuk pemantauan secara rutin dan cermat untuk mencari tanda kerusakan visual, yang akan membutuhkan operasi darurat (dekompresi saraf optik). Perawatan non-operasi : istirahat di tempat tidur dengan kepala tempat tidur pasien diangkat, kompres
21

dingin, analgesia, dan

obat

penenang untuk

menurunkan

tekanan

darah

dan mencegah perdarahan berlanjut. Beberapa terapi farmakologis dapat meliputi pemberian manitol,

acetazolamide, obat tetes mata timolo, kortikosteroid.

II.2. Trauma Tajam

Trauma tembus terjadi jika mata ditembus oleh benda tajam atau benda berukuran kecil dengan kecepatan tinggi.2,
4, 6

Bersama dengan cedera akibat

bahan kimia, cedera mata terbuka merupakan bentuk yang paling menghancurkan dari trauma mata. Cedera ini diakibatkan oleh benda tajam yang mempenetrasi kornea dan sklera. Trauma tembus merupakan luka yang mengenai dinding mata hingga bola mata. Sedangkan perforasi ditujukan pada luka dimana terdapat luka masuk dan keluar.2 Baik trauma tajam yang penetratif atau trauma tumpul yang mengakibatkan tekanan kontusif dapat menyebabkan ruptur bola mata.2 Benda tajam atau benda dengan kecepatan tinggi dapat menyebabkan perforasi langsung. Benda asing kecil dapat mempenetrasi mata dan tetap berada di bola mata.6 Trauma akibat partikel kecil dengan kecepatan tinggi (small high-velocity particles), misalnya yang ditimbulkan dari proses penggilingan atau hammering dapat memberikan manifestasi berupa nyeri ringan dan penurunan visus. Kemosis hemoragik, laserasi konjungtiva, bilik mata depan dangkal dengan atau tanpa pupil eksentrik, hifema, atau perdarahan vitreous juga dapat terjadi. Tekanan intraokular dapat rendah, normal, atau sedikit meningkat.5 Cedera tembus mencakup seluruh spektrum sindroma klinis.5 Gejala dapat bervariasi dari penetrasi masif kornea dan sklera dengan hilangnya bilik mata depan, hingga cedera yang sangat kecil dan hampir tak terlihat yang dapat menutup spontan, misalnya pada luka akibat cedera penetrasi halus atau luka masuk benda asing, tergantung pada beratnya cedera, visus pasien dapat terpengaruh berat atau tidak terpengaruh sama sekali.10

A. Trauma tembus pada palpebra Mengenai sebagian atau seluruhnya, jika mengenai levator apaneurosis dapat menyebabkan suatu ptosis yang permanen.6

22

Gambar.2.5 Laserasi palpebra10

B. Trauma tembus pada saluran lakrimalis Dapat merusak sistem pengaliran air mata dari pungtum lakrimalis sampai ke rongga hidung. Hal ini dapat menyebabkan kekurangan air mata.6

C. Trauma tembus pada Orbita Luka tajam yang mengenai orbita dapat merusak bola mata, merusak saraf optik, menyebabkan kebutaan atau merobek otot luar mata sehingga menimbulkan paralisis dari otot dan diplopia. Selain itu juga bisa menyebabkan infeksi, menimbulkan selulitis orbita, karena adanya benda asing atau adanya hubungan terbuka dengan rongga-rongga di sekitar orbita.9

Gambar. 2.6 Trauma tembus orbita10

D. Trauma tembus pada Konjungtiva Trauma dapat mengakibatkan robekan pada konjungtiva. Bila robekan konjungtiva ini kecil atau tidak melebihi 1 cm, maka tidak perlu dilakukan penjahitan. Bila robekan lebih dari 1 cm perlu dilakukan penjahitan untuk mencegah granuloma. Pada setiap robekan konjungtiva perlu diperhatikan juga robekan sklera yang biasa disertai robekan konjungtiva. Disamping itu, pemberian antibiotik juga perlu diberikan untuk mencegah infeksi sekunder. 9

23

Gambar. 2.7 Trauma tembus subkunjungtiva10

E. Trauma tembus pada Sklera Bila ada luka tembus pada sklera dapat menyebabkan penurunan tekanan bola mata dan kamera okuli jadi dangkal, luka sklera yang lebar dapat disertai prolap jaringan bola mata, sehingga bisa menyebabkan infeksi dari bagian dalam bola mata.9

F. Trauma tembus pada Kornea Bila luka tembus mengenai kornea dapat menyebabkan gangguan fungsi penglihatan karena fungsi kornea sebagai media refraksi. Bisa juga trauma tembus kornea menyebabkan iris prolaps, korpus vitreum dan korpus ciliaris prolaps, hal ini dapat menurunkan visus.6 Bila tanpa perforasi : erosi atau benda asing tersangkut di kornea. Tes fluoresia (+). Jaga jangan sampai terkena infeksi, sehingga menyebabkan timbulnya ulkus atau herpes pada kornea. Lakukan pemberian antibiotika atau kemoterapeutika yang berspektrum luas, lokal dan sistemik. Benda asing di kornea diangkat, setelah diberi anastesi lokal dengan pantokain. Kalau mulai ada neovaskularisasi dari limbus, berikanlah kortison lokal atau subkonjungtiva. Tetapi jangan diberikan kortison pada luka yang baru atau bila ada herpes kornea.9 Bila ada perforasi : bila luka kecil, lepaskan konjungtiva di limbus yang berdekatan, kemudian ditarik supaya menutupi luka kornea tersebut (flap konjungtiva). Bila luka di kornea luas, maka luka itu harus dijahit. Kemudian ditutup dengan flap konjingtiva. Jika luka di kornea itu disertai prolaps iris, iris yang keluar harus dipotong dan sisanya di repossisi, robekan di kornea dijahit dan ditutup dengan flap konjungtiva. Kalau luka telah berlangsung beberapa jam, sebaiknya bilik mata depan dibilas terlebih dahulu dengan larutan penisilin 10.000

24

U/cc, sebelum kornea dijahit. Sesudah selesai seluruhnya, berikan antibiotika dengan spektrum luas dan sistemik, juga subkonjungtiva.9

Gambar.2.8 Laserasi kornea10

G.Trauma tembus pada Uvea Bila terdapat luka pada uvea maka dapat menyebabkan pengaturan banyaknya cahaya yang masuk sehingga muncul fotofobia atau penglihatan kabur.9

H.Trauma tembus pada Lensa Bila ada trauma akan mengganggu daya fokus sinar pada retina sehingga menurunkan daya refraksi dan sefris sebagai penglihatan menurun karena daya akomodasi tidak adekuat.3

I.Trauma tembus pada Retina Dapat menyebabkan perdarahan retina yang dapat menumpuk pada rongga badan kaca, hal ini dapat muncul fotopsia dan ada benda melayang dalam badan kaca.9

J.Trauma tembus pada corpus siliar Luka pada corpus siliar mempunyai prognosis yang buruk, karena kemungkinan besar dapat menimbulkan endoftalmitis, panoftalmitis yang berakhir dengan ptisis bulbi pada mata yang terkena trauma. Sedangkan pada mata yang sehat dapat timbul oftalmia simpatika. Oleh karena itu, bila lukanya besar, disertai prolaps dari isi bola mata, sehingga mata mungkin tak dapat melihat lagi, sebaiknya di enukleasi bulbi, supaya mata yang sehat tetap menjadi baik.9

25

I.3. Trauma Benda Asing

Benda asing yang dapat masuk ke dalam mata dibagi dalam beberapa kelompok:6

1. Benda logam, terbagi menjadi benda logam magnit dan bukan magnit. 2. Benda bukan logam , contohnya batu, kaca, bahan tumbuh-tumbuhan,
bahan pakaian, bulu mata.

3. Benda inert yaitu benda yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak
menimbulkan reaksi jaringan mata, kalau terjadi reaksipun hanya ringan saja dan tidak mengganggu fungsi mata. Contoh: emas, perak, platina, batu, kaca, porselin, macam plastik- tertentu. Kadang-kadang benda inertpun dapat menimbulkan reaksi mekanik, sehingga dapat menyebabkan gangguan fungsi mata, umpamanya pecahan kaca yang terdapat di dalam sudut bilik mata depan dapat menimbulkan kerusakan pada endotel kornea, sehingga kornea menjadi keruh karena edema yang dapat akibatkan penurunan ketajaman penglihatan.

4. Benda reaktif terdiri dari benda-benda yang dapat menimbulkan reaksi


jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata. Contoh: timah hitam, seng, nikel, aluminium, tembaga, kuningan, besi tumbuh-tumbuhan, bahan pakaian, bulu ulat. Pada benda asing yang inert harus dilihat apakah menimbulkan reaksi mekanik yang mengganggu fungsi mata atau tidak. Bila tidak menimbulkan gangguan ada baiknya dibiarkan saja, dan perhatian ditujukan pada perawatan luka perforasi

yang disebabkan benda asing tersebut. Bila benda asing itu reaktif, maka harus dikeluarkan. Benda asing yang berada di permukaan tanpa menimbulkan perforasi, mudah dikeluarkan dan hanya sedikit menimbulkan bekas (nebula kornea), sehingga prognosisnya baik.6 Bila menimbulkan perforasi, prognosis tergantung dari jenis benda asing. Pada yang inert, prognosisnya baik, sedang benda reaktif magnetik, yang lebih mudah dikeluarkan daripada yang non magnetik, prognosisnya lebih baik. Benda asing yang timbulkan perforasi yang hebat, dapat menyebabkan prolaps badan kaca, ablasi retina ataupun ptisis bulbi. Benda asing yang terletak disegmen anterior

26

lebih mudah dilihat dan dikeluarkan dari pada yang disegmen anterior, sehingga prognosisnya lebih baik.6

II. Trauma kimia II.1. Trauma kimia asam Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik, organik (asetat, forniat) dan organic anhidrat (asetat). Asam terdisosiasi menjadi ion-ion hidrogen dan anion di kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan bola mata dengan merubah pH, sedangkan anion menyebabkan denaturasi, presipitasi dan koagulasi protein pada epitel epitel kornea yang terpajan. Presipitasi dan koagulasi permukaan bola mata disebut nekrosis koagulatif.10 Asam menyebabkan koagulasi protein pada epitel kornea dan membentuk presipitat jaringan nekrotik sehingga mencegah atau membatasi terjadinya penetrasi dan kerusakan lebih lanjut. Bila konsentrasi asam tidak tinggi, asam tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Umumnya kerusakan yang terjadi bersifat nonprogresif dan hanya pada bagian superfisial saja. Biasanya trauma akibat asam akan normal kembali, sehingga tajam penglihatan tidak banyak terganggu. 6,8 Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secepatnya dengan menggunakan salin isotonic steril (beberapa liter untuk satu mata) dan selama mungkin untuk menghilangkan dan melarutkan bahan yang mengakibatkan trauma. Analgesik dan anastesik topical hampir selalu diberikan. Komplikasi paling serius dari trauma asam adalah jaringan parut konjungtiva dan kornea, vaskularisasi kornea, glaukoma dan uveitis.1

II.2. Trauma kimia basa Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan menambah kerusakan kolagen kornea. Akibat berlanjutnya aktivitas kolagenase, dapat terjadi perlunakan kornea dan kemungkinan perforasi. Hidrasi kolagen menyebabkan distorsi dan pemendekan fibril, sehingga menyebabkan perubahan pada jaringan trabekular yang dapat meningkatkan tekanan intra okuler (TIO). Dapat disimpulkan bahwa, trauma basa terjadi penghancuran jaringan kolagen, bersifat koagulasi sel dan terjadi proses penyabunan. 3,7

27

Proses yang ditimbulkan akibat bahan alkali dapat disebut juga nekrosis likuefaksi. Larutan alkali mencairkan jaringan dengan jalan mendenaturasi protein dan saponifikasi jaringan lemak. Kerusakan yang ditimbulkan pada mata adalah akibat saponifikasi membran sel dan kematian sel, serta gangguan matriks ekstraselular. Kerusakan ini bersifat ireversibel.6,10,11 Dibandingkan dengan bahan asam, trauma oleh bahan basa lebih cepat merusak mata. Hal ini disebabkan karena basa memiliki sifat hidrofilik dan lipofilik, sehingga dapat dengan cepat menembus membran sel. Alkali akan menembus dengan cepat melalui kornea, bilik mata depan, dan sampai jaringan retina (menyebabkan kebutaan). Penetrasi lapisan kornea ini dapat terus berlangsung bahkan lama setelah trauma terjadi. Dengan demikian, trauma akibat bahan kima basa akan memberikan akibat yang sangat gawat pada mata. Bahan akustik soda dapat masuk ke dalam bilik mata depat dalam waktu 7 detik.1,7,11 Terdapat 4 derajat pada trauma kimia basa, yaitu : Derajat 1: Hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata Derajat 2: Hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel kornea Derajat 3: Hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea Derajat 4: Konjungtiva perlimal nekrosis sebanyak 50 %

Tindakan bila terjadi trauma basa adalah dengan secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik. Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Bila mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit segera setelah trauma. Penderita diberi siklopegia, antibiotika, EDTA untuk mengikat basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma alkali diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ke tujuh.7

III. Trauma fisika III.1. Trauma bakar Luka bakar termal pada kelopak mata diterapi dengan antibiotik topikal dan pembalut steril. Apabila terjadi kerusakan kornea, maka biasanya tidak diperlukan bebat tekan karena adanya pembengkakan kelopak yang ekstensif. Setelah 2-3 hari, mulai terjadi ektropion dan retraksi kelopak mata. Tarsorafi dan ruang basah yang dibuat dari plastik dapat melindungi kornea. Tandur kulit full-thickness
28

ditunda sampai kontraksi kulit tidak lagi berlanjut. Pada kasus "flash burn" yang parah, mungkin diperlukan penetesan anestetik topikal steril untuk pemeriksaan. Pengobatan berupa bebat tekan disertai salep antibiotik. Apabila terdapat iritis diberikan obat midriatikum.8 Ada 3 stadium : Stadium I : hiperemia pada konjungtiva dengan banyak lendir, kekeruhan

enteng pada epitel kornea. Stadium II : kemosis pada konjungtiva, nekrose dari epitel dan lapisan-

lapisan luar kornea. Stadium III : nekrose dari konjungtiva dan nekrose yang dalam dari kornea.

Akibat dari stadium II dan III, dapat timbul pseudopterigium, simblefaron, ankiloblefaron, leukoma tebal dikornea atau leukoma adherens, stafiloma kornea, dengan neovaskularisasi.8 Pengobatan:8 Pada stadium I: antibiotika atau kemoterapeutika. Pada stadium II dan III sebaiknya dikirim kepada seorang ahli, dimana mungkin harus dilakukan transplantasi selaput lendir dari bibir kebagian-bagian konjungtiva yang nekrotis. Kalau kornea sangat keruh, mungkin dilakukan transplantasi kornea. Lokal diberikan antibiotika, kemoterapeutika. Kortison diberikan bila lukanya sudah sembuh.

IV. Trauma radiasi Trauma radiasi yang sering ditemukan adalah akibat :3 Sinar inframerah Sinar ultraviolet Sinat X dan sinar terionisasi

A. Trauma Infra Merah Akibat sinar infra merah dapat terjadi pada saat menatap gerhana matahari dan pada saat bekerja dipemanggangan. Kerusakan ini dapat terjadi akibat terkonsentrasinya sinar inframerah terlihat. Kaca yang mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan kaca akan mengeluarkan sinar infra merah. Bila seseorang berada pada jarak 1 kaki selama satu menit di depan kaca yang

29

mencair dan pupilnya lebar atau midriasis maka suhu lensa akan naik sebanyak 9 derajat Celcius. Demikian pula iris yang mengabsorbsi sinar infra merah akan panas sehingga berakibat tidak baik terhadap kapsul lensa di dekatnya. Absorbsi sinar infra merah oleh lensa akan mengakibatkan katarak dan eksfoliasi kapsul lensa.3 Akibat sinar ini pada lensa maka katarak mudah terjadi pada pekerja industri gelas dan pemanggangan logam. Sinar infra merah akan mengakibatkan keratitis superfisial, katarak kortikal anterior posterior dan koagulasi pada koroid. Bergantung pada beratnya lesi akan terdapat skotoma sementara ataupun permanen. Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang sudah terjadi kecuali mencegah terkenanya mata oleh sinar infra merah ini. Steroid sistemik dan lokal diberikan untuk mencegah terbentuknya jaringan parut pada makula atau untuk mengurangi gejala radang yang timbul.3

B.Trauma Ultra Violet (Sinar Las) Sinar ultra violet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat, mempunyai panjang gelombang antara 350 - 295 nM. Sinar ultra violet banyak terdapat pada saat bekerja las, dan menatap sinar matahari atau pantulan sinar matahari di atas salju. Sinar ultra violet akan segera merusak epitel kornea. Sinar ultraviolet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga kerusakan pada lensa dan retina tidak akan nyata terlihat. Kerusakan ini akan segera baik kembali setelah beberapa waktu, dan tidak akan memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap.3 Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan memberikan keluhan 4-10 jam setelah trauma. Pasien akan merasa mata sangat sakit, mata seperti kelilipan atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme, dan konjungtiva kemotik. Kornea akan menunjukan adanya infiltrat pada permukaannya, yang kadang-kadang disertai dengan kornea yang keruh dengan uji fluoresein positif. Keratitis terutama terdapat pada fisura palpebra. Pupil akan terlihat miosis. Tajam penglihatan akan terganggu.3 Keratitis ini dapat sembuh tanpa cacat, akan tetapi bila radiasi berjalan lama kerusakan dapat permanen sehingga akan memberikan kekeruhan pada kornea. Keratitis dapat bersifat akibat efek kumulatif sinar ultraviolet sehingga gambaran keratitisnya menjadi berat. Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia,
30

antibiotika lokal, analgetika, dan mata ditutup untuk selama 2-3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.3

C. Sinar Ionisasi dan Sinar X Sinar ionisasi dibedakan dalam bentuk: Sinar alfa yang dapat diabaikan Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan Sinar gama dan Sinar X

Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan katarak dan rusaknya retina. Dosis kataraktogenik bervariasi dengan energi dan tipe sinar, lensa yang lebih mudah lebih peka. Akibat dari sinar ini pada lensa, terjadi pemecahan diri set epitel secara tidak normal. Sedang sel baru yang berasal dari sel germinatif lensa tidak menjadi panjang. Sinar X merusak retina dengan gambaran seperti kerusakan yang diakibatkan diabetes melitus berupa dilatasi kapiler, perdarahan, mikroaneurismata, dan eksudat.6 Luka bakar akibat sinar X dapat merusak kornea yang mengakibatkan kerusakan permanen yang sukar diobati. Biasanya akan terlihat sebagai keratitis dengan iridosiklitis ringan. Pada keadaan yang berat akan mengakibatkan parut konjungtiva atrofi sel goblet yang akan mengganggu fungsi air mata. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topikal dengan steroid 3 kali sehari dan sikloplegik satu kali sehari. Bila terjadi simblefaron pada konjungtiva dilakukan tindakan pembedahan.6

2.3. Diagnosis Trauma 2.3.1 Anamnesis6 Mekanisme trauma harus ditanyakan dengan detail dan lengkap o Bentuk dan ukuran benda penyebab trauma. o Asal dari objek penyebab trauma. o Kemungkinan adanya benda asing pada bola mata dan atau pada orbita.

31

o Kemungkinan terjadinya trauma pada lokasi pembangunan atau pengolah metal harus ditanyakan untuk mengarah kepada benda intraokular metal. o Benda asing organik yang dapat menimbulkan infeksi.

Keadaan saat terjadinya trauma o Waktu pasti terjadinya trauma. o Lokasi terjadinya trauma. o Penggunaan kacamata koreksi atau pelindung. o Aksesoris mata yang dapat melindungi atau berkontribusi pada trauma akut. o Keadaan miopia berat menyebabkan mata lebih rentan terhadap trauna kompresi anterior-posterior.

Riwayat medis o Riwayat mata Operasi mata sebelumnya, dapat membuat jaringan lebih mudah ruptur. Penglihatan sebelum terjadinya trauma pada kedua mata. Penyakit mata yang ada. Medikasi yang sedang dijalani termasuk obat tetes mata dan alergi. o Status tetanus

Gejala o Nyeri Nyeri dapat tersamar bila pasien memiliki trauma lain. Nyeri dapat tidak langsung berat pada trauma tajam, baik dengan atau tanpa benda asing. o Penglihatan secara umum berkurang jauh o Diplopia Dapat terjadi akibat terjepitnya atau disfungsi otot ekstraokular akibat trauma pada tulang orbita. Akibat trauma saraf kranial pada cedera kepala. Monokular diplopia akibat dari dislokasi atau subluksasi lensa.

32

2.3.2

Pemeriksaan fisik6 o Pemeriksaan segmen posterior mungkin sulit dilakukan karena trauma yang terjadi dapat menghalangi pemeriksaan segmen posterior. o Pemeriksaan harus dilakukan dengan sistematis dengan tujuan mengidentifikasi dan melindungi mata. o Hindari kerusakan lebih lanjut dan minimalisasi kemungkinan ekstrusi intraokular. Ketajaman penglihatan dan gerakan bola mata, sangat penting untuk dinilai o Tentukan ketajaman penglihatan seakurat mungkin pada masingmasing mata. o Periksa pergerakan bola mata, bila terganggu harus dievaluasi apakah terjadi fraktur pada lantai orbita. Orbita o Periksa adanya deformitas tulang, benda asing, dan dislokasi bola mata. o Benda asing pada mata yang tertanam atau bila terjadi perforasi harus dijaga hingga dilakukan pembedahan. Palpebra o Palpebra dan trauma kelenjar lakrimal dapat menunjukan adanya trauma yang dalam pada mata. o Laserasi pada palpebra dapat menyebabkan perforasi bola mata. Konjungtiva o Laserasi konjungtiva dapat terjadi pada kerusakan sklera yang serius. o Perdarahan konjungtiva yang berat dapat mengindikasikan ruptur bola mata. Kornea dan sklera o Laserasi kornea penuh atau yang melibatkan sklera merupakan bagian dari ruptur bola mata dan harus diperbaiki di kamar operasi. o Dapat terjadi prolapse iris pada laserasi kornea penuh. Pupil o Periksa bentuk, ukuran, refleks cahaya, dan afferent pupillary defect (APD).

33

o Bentuk lancip, tetesan air, atau ireguler bisa terjadi pada ruptur bola mata. Segmen anterior o Pada pemeriksaan dengan lampu slit, bisa ditemukan defek pada iris, laserasi kornea. o Bilik mata depan dangkal dapat menjadi tanda ruptur bola mata dengan prognosis yang buruk. o Pada ruptur posterior dapat ditemukan bilik mata depan dalam pada ekstrusi vitreous pada segmen posterior. Temuan lain o Perdarahan viteous setelah trauma menunjukan adanya robekan retina atau koroid, avulsi saraf optikus, atau adanya benda asing. o Robekan retina, edema, ablasio, dan hemoragi dapat terjadi pada ruptur bola mata.2,4

2.4. Hifema 2.4.1. Definisi Hifema merupakan keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan, yaitu daerah di antara kornea dan iris, yang dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus (cairan mata) yang jernih. Darah yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata telanjang. Walaupun darah yang terdapat di bilik mata depan sedikit, tetap dapat menurunkan penglihatan.1 Hifema atau darah di dalam bilik mata depan dapat terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Bila pasien duduk hifema akan terlihat terkumpul dibawah bilik mata depan dan hifema dapat memenuhi seluruh ruang bilik mata depan.2 Penglihatan pasien akan sangat menurun. Kadang-kadang terlihat iridoplegia dan iridodialisis. Pasien akan mengeluh sakit disertai dengan epifora dan blefarospasme.7 Gaya-gaya kontusif sering merobek pembuluh darah di iris dan merusak sudut bilik mata depan. Darah di dalam aqueous dapat membentuk suatu lapisan yang dapat terlihat (hifema). Glaukoma akut terjadi bila anyaman trabekular tersumbat oleh fibrin dan sel atau bila pembentukan bekuan darah menimbulkan bokade pupil.7
34

2.4.2. Klasifikasi a)
1.

Berdasarkan penyebabnya hifema dibagi menjadi:12 Hifema traumatika adalah perdarahan pada bilik mata depan yang disebabkan pecahnya pembuluh darah iris dan badan silier akibat trauma pada segmen anterior bola mata.
2. 3.

Hifema akibat tindakan medis (misalnya kesalahan prosedur operasi mata). Hifema akibat inflamasi yang parah pada iris dan badan silier, sehingga pembuluh darah pecah.

4.

Hifema akibat kelainan sel darah atau pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).

5.

Hifema akibat neoplasma (contohnya retinoblastoma). Berdasarkan waktu terjadinya, hifema dibagi atas 2 yaitu:6

b)
1. 2.

Hifema primer, timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2. Hifema sekunder, timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma. Berdasarkan tampilan klinisnya dibagi menjadi beberapa grade (Sheppard) :7,12

c)
1. 2. 3. 4.

Grade I Grade II Grade III Grade IV

: darah mengisi kurang dari sepertiga BMD (58%) : darah mengisi sepertiga hingga setengah BMD (20%) : darah mengisi hampir total BMD (14%) : darah memenuhi seluruh BMD (8%)

35

Gambar 2.9 Klasifikasi Hifema13 2.4.3. Etiologi

Hifema biasanya disebabkan oleh trauma tumpul pada mata seperti terkena bola, batu, peluru senapan angin, dan lain-lain. Selain itu, hifema juga dapat terjadi karena kesalahan prosedur operasi mata. Keadaan lain yang dapat menyebabkan hifema namun jarang terjadi adalah adanya tumor mata (contohnya retinoblastoma), dan kelainan pembuluh darah (contohnya juvenile xanthogranuloma).7. Hifema yang terjadi karena trauma tumpul pada mata dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan bagian dalam bola mata, misalnya terjadi robekan-robekan jaringan iris, korpus siliaris dan koroid. Jaringan tersebut mengandung banyak pembuluh darah, sehingga akan menimbulkan perdarahan. Perdarahan di dalam bola mata yang berada di kamera anterior akan tampak dari luar. Timbunan darah ini karena gaya berat akan berada di bagian terendah.10

36

2.4.4. Patofisiologi Trauma tumpul menyebabkan kompresi bola mata, disertai peregangan limbus, dan perubahan posisi dari iris atau lensa. Hal ini dapat meningkatkan tekanan intraokuler secara akut dan berhubungan dengan kerusakan jaringan pada sudut mata. Perdarahan biasanya terjadi karena adanya robekan pembuluh darah, antara lain arteri-arteri utama dan cabang-cabang dari badan siliar, arteri koroidalis, dan venavena badan siliar.7

Gambar 2.10 Mekanisme Perdarahan akibat Trauma Tumpul Mata 7

Inflamasi yang parah pada iris, sel darah yang abnormal dan kanker mungkin juga bisa menyebabkan perdarahan pada BMD. Trauma tumpul dapat merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Gaya-gaya kontusif akan merobek pembuluh darah iris dan merusak sudut BMD. Tetapi dapat juga terjadi secara spontan atau pada patologi vaskuler okuler. Darah ini dapat bergerak dalam ruang BMD, mengotori permukaan dalam kornea.7 Perdarahan pada bilik mata depan mengakibatkan teraktivasinya mekanisme hemostasis dan fibrinolisis. Peningkatan tekanan intraokular, spasme pembuluh darah, dan pembentukan fibrin merupakan mekanisme pembekuan darah yang akan menghentikan perdarahan. Bekuan darah ini dapat meluas dari bilik mata depan ke bilik mata belakang. Bekuan darah ini biasanya berlangsung hingga 4-7 hari. Setelah itu, fibrinolisis akan terjadi. Setelah terjadi bekuan darah pada bilik mata depan, maka plasminogen akan diubah menjadi plasmin oleh aktivator kaskade koagulasi. Plasmin akan memecah fibrin, sehingga bekuan darah yang sudah terjadi mengalami disolusi. Produk hasil degradasi bekuan darah, bersama dengan sel darah merah dan debris peradangan, keluar dari bilik mata depan menuju jalinan trabekular dan aliran uveaskleral.7

37

Perdarahan dapat terjadi segera sesudah trauma yang disebut perdarahan primer. Perdarahan primer dapat sedikit dapat pula banyak. Perdarahan sekunder biasanya timbul pada hari ke 5 setelah trauma. Perdarahannya biasanya lebih hebat daripada yang primer. Oleh karena itu seseorang dengan hifema harus dirawat sedikitnya 5 hari. Dikatakan perdarahan sekunder ini terjadi karena resorpsi daribekuan darah terjadi terlalu cepat sehingga pembuluh darah tak mendapat waktu yang cukup untuk regenerasi kembali.7 Penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari BMD dalam bentuk sel darah merah melalui sudut BMD menuju kanal schlem sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini.Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisi kornea, yang hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaukoma.7 Adanya darah pada bilik mata depan memiliki beberapa temuan klinis yang berhubungan. Resesi sudut mata dapat ditemukan setelah trauma tumpul mata. Hal ini menunjukkan terpisahnya serat longitudinal dan sirkular dari otot siliar. Resesi sudut mata dapat terjadi pada 85 % pasien hifema dan berkaitan dengan timbulnya glaukoma sekunder di kemudian hari. Iritis traumatik, dengan sel-sel radang pada bilik mata depan, dapat ditemukan pada pasien hifema. Pada keadaan ini, terjadi perubahan pigmen iris walaupun darah sudah dikeluarkan. Perubahan pada kornea dapat dijumpai mulai dari abrasi endotel kornea hingga ruptur limbus. Kelainan pupil seperti miosis dan midriasis dapat ditemukan pada 10 % kasus. Tanda lain yang dapat ditemukan adalah siklodialisis, iridodialisis, robekan pupil, subluksasi lensa, dan ruptur zonula zinnii. Kelainan pada segmen posterior dapat meliputi perdarahan vitreus, jejas retina (edema, perdarahan, dan robekan), dan ruptur koroid. Atrofi papil dapat terjadi akibat peninggian tekanan intraokular. 7

38

2.4.5. Diagnosis Gejala Klinik Pasien akan mengeluh nyeri pada mata disertai dengan epifora dan blefarospasme. Penglihatan pasien akan sangat menurun, bila ditemukan kasus hifema sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara teliti keadaan mata luar.10 Ditemukan darah di dalam bilik mata yang terlihat dengan mata telanjang bila jumlahnya cukup banyak. Bila pasien duduk, hifema akan terlihat terkumpul di bagian bawah BMD, perdarahan yang mengisi setengah bilik mata depan dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intraokuler, sehingga mata tereasa sakit oleh karena glaucoma. Jika hifema mengisi seluruh bilik mata depan, rasa sakit bertambah dan penglihatan lebih menurun lagi. Pada iris dapat ditemukan robekan atau iridodialysis dan iridoplegia. 1 Pada hifema karena trauma, jika diemukan penurunan tajam penglihatan segera, maka harus dipikirkan kerusakan seperti luksasi lensa, ablasi retina, udem macula.12 Tanda Klinik Pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakan diagnosis hifema adalah:12 Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen; visus dapat menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina. Slit Lamp Biomicroscopy: untuk menentukan kedalaman BMD dan iridocorneal contact, aqueous flare, dan synechia posterior. Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler. Pengukuran tonografi: mengkaji tekanan intra okuler. Tes provokatif: digunakan untuk menentukan adanya glaukoma bila TIO normal atau meningkat ringan. Pemeriksaan penunjang Laboratorium7 Seluruh pasien hifema sebaiknya juga diperksa tes berikut ini: Sickle cell preparation; Hemoglobin electrophoresis; Bleeding tests (prothrombin time, partial thromboplastin time, platelet counts, and bleeding time); and Fungsi hati dan fungsi ginjal
39

Ultrasonography7 Untuk memeriksa bagian posterior dari mata.

2.4.6. Penatalaksanaan Biasanya hifema akan hilang sempurna. Bila perjalanan penyakit tidak berjalan demikian maka sebaiknya penderita dirujuk. Walaupun perawatan penderita hifema traumatik ini masih banyak diperdebatkan, namun pada dasarnya adalah :7
1)

Menghentikan perdarahan atau sekunder.

menghindarkan timbulnya

perdarahan

2) 3) 4)

Mengeliminasi darah dari bilik depan bola mata Merawat dan mengobati jaringan sekitarnya Meminimalisasi kerusakan lebih lanjut lagi.

Prinsip pengobatan hifema dapat dilakukan antara lain dengan: 1. Tirah baring (bedrest total)3,7,8,12, Penderita ditidurkan dalam keadaan terlentang dengan posisi kepala diangkat (diberi alas bantal ) dengan elevasi kepala 30 - 45 (posisi

semifowler). Hal ini akan mengurangi tekanan darah pada pembuluh darah iris serta memudahkan evaluasi jumlah perdarahannya. Ada banyak pendapat dari banyak ahli mengenai tirah baring sempurna ini sebagai tindakan pertama yang harus dikerjakan bila menemui kasus traumatik hifema. Bahkan beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan tirah baring kesempuranaan absorbsi dari hifema dipercepat dan sangat mengurangi timbulnya komplikasi perdarahan sekunder. Istirahat total ini harus dipertahankan minimal 5 hari mengingat kemungkinan perdarahan sekunder. Hal ini sukar dilakukan, terlebih pada anakanak, sehingga kalau perlu diikat tangan dan kakinya ketempat tidur dan pengawasan dilakukan dengan sabar. 2. Bebat Mata3 Mengenai pemakaian bebat mata, masih belum ada persesuaian pendapat diantara para ahli. Penggunaan bebat mata pada mata yang terkena trauma yaitu untuk mengurangi pergerakan bola mata yang sakit.

40

3. Medikamentosa3,12 Tetes mata steroid dapat diberikan jangka pendek bersama dengan dilatasi pupil. Steroid dapat menurunkan resiko perdarahan ulang, Steroid dapat diberikan secara sistemik dengan dosis 40 mg/hari. Beberapa penelitian mengisyaratkan bahwa pengguanaan asam aminokaproat oral untuk menstabilkan pembentukan pembekuan darah dan menurunkan resio perdarahan ulang. Dosisnya adalah 100 mg/kgBB setiap 4 jam sampai maksimum 30g/ hari selama 5 hari. Jika timbul glaucoma, maka penatalaksanaan mencakup pemberian timolol 0,25% atau 0,5% dua kali sehari; asetazolamid 4 x 250 mg Dapat digunakan obat hiperosmotik seperti gliserin 50% yang diberikan larutan secara oral dengan dosis efektif 4 kali perhri 1 1,5 gr/kgBB atau 1cc per kgBB. Gliserin ini dapat dicampur dengan jeruk nipis agar tidak terlalu manis. Gliserin ini harus diminum sekaligus, bila tidak gliserin ini tidak efektif. Gliserin dapat digunakan untuk menurunkan TIO dalam 30 90 menitsetelah pemberian, dan akan bekerja selama 5 6 jam. 4 Tindakan bedah 3,7,8,12 Perawatan cara ini akan dikerjakan bilamana ditemukan glaukoma sekunder, tanda imbibisi kornea atau hemosiderosis cornea. Dan tidak ada pengurangan dari tingginya hifema dengan perawatan non-operasi selama 3 - 5 hari. Untuk mencegah atrofi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata maksimal > 50 mmHg selama 5 hari atau tekanan bola mata maksimal > 35 mmHg selama 7 hari. Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata rata-rata > 25 mmHg selama 5 hari atau bila ditemukan tanda-tanda imbibisi kornea. Intervensi bedah biasanya diindikasikan pada atau setelah 4 hari. Dari keseluruhan indikasinya adalah sebagai berikut: Elevasi TIO > 50 mmHg selama 5 hari Elevasi TIO > 35 mmHg selama 7 hari. Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila tekanan bola mata rata-rata > 25 mmHg selama 5 hari atau bila ditemukan tandatanda imbibisi kornea. Perdarahan yang masih bertahan selama > 10 hari untuk mencegah sinekia anterior perifer
41

Hifema mengisi lebih dari COA yang menetap lebih dari 8-9 hari (untuk mencegah peripheral anterior synechiae) Pada pasien dengan sickle cell disease dengan hifema berapapun ukurannya dengan tekanan Intra ocular lebih dari 35 mmHg lebih dari 24 jam. Jika Tekanan Inta Ocular menetap tinggi 50 mmHg atau lebih selama 4 hari, pembedahan tidak boleh ditunda. Suatu studi mencatat atrofi optic pada 50 persen pasien dengan total hifema ketika pembedahan terlambat. Corneal bloodstaining terjadi pada 43% pasien. Pasien dengan sickle cell hemoglobinopathi diperlukan operasi jika tekanan intra ocular tidak terkontrol dalam 24 jam.

Tindakan operasi yang dikerjakan adalah :3,7 1. Parasentesis Parasentesis merupakan tindakan pembedahan dengan mengeluarkan cairan/darah dari bilik depan bola mata dengan teknik sebagai berikut : dibuat insisi kornea 2 mm dari limbus ke arah kornea yang sejajar dengan permukaan iris. Biasanya bila dilakukan penekanan pada bibir luka maka koagulum dari bilik mata depan akan keluar. Bila darah tidak keluar seluruhnya maka bilik mata depan dibilas dengan garam fisiologis. Biasanya luka insisi kornea pada parasentesis tidak perlu dijahut. Parasentese dilakukan bila TIO tidak turun dengan diamox atau jika darah masih tetap terdapat dalam BMD pada hari 5-9. 2. 3. Melakukan irigasi di bilik depan bola mata dengan larutan fisiologik. Dengan cara seperti melakukan ekstraksi katarak dengan membuka korneoscleranya sebesar 1200

2.4.7. Komplikasi Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatik hifema adalah perdarahan sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis di samping komplikasi dari traumanya sendiri berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina, katarak dan iridodialysis. Besarnya komplikasi juga sangat tergantung pada tingginya hifema.

42

1. Perdarahan sekunder Komplikasi ini sering terjadi pada hari ke 2 sampai ke 5, sedangkan insidensinya sangat bervariasi, antara 10 - 40%. Perdarahan sekunder ini timbul karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan primernya. Perdarahan sekunder biasanya lebih hebat daripada yang primer. Terjadi pada 1/3 pasien, biasanya antara 2-5 hari setelah trauma inisial dan selalu bervariasi sebelum 7 hari post-trauma. 7 2. Glaukoma sekunder Glaukoma bisa menjadi komplikasi yang timbul awal atau belakangan, Sekitar 25% dari kelainan ini TIO meningkat > 25 mmHg dan 10% nya 35 mmHg. Glaukoma akut terjadi apabila jaringan trabekula tersumbat oleh fibrin dan sel atau apabila pembentukan bekuan darah menyebabkan penyumbatan pupil. Hal ini terjadi akibat darah dalam bilik mata, karena unsur unsur darah menutupi sudut bilik mata trabekula, sehingga hal ini akan menyebabkan peningkatan TIO.7 Penatalaksanaan hifema glaukoma berikut tergantung pada tingkat elevasi TIO dan ada atau tidaknya anemia sel sabit. Biasanya terapi medis baru dimulai ketika TIO > 30 mmHg dalam fase akut atau 25 mmHg setelah 25 minggu atau lebih.1,7 3. Hemosiderosis kornea Pada penyembuhan darah pada hifema dikeluarkan dari BMD dalam bentuk sel darah merah melalui sudut BMD menuju kanal Schlemm sedangkan sisanya akan diabsorbsi melalui permukaan iris. Penyerapan pada iris dipercepat dengan adanya enzim fibrinolitik di daerah ini. Sebagian hifema dikeluarkan setelah terurai dalam bentuk hemosiderin. Bila terdapat penumpukan dari hemosiderin ini, dapat masuk ke dalam lapisan kornea, menyebabkan kornea menjadi bewarna kuning dan disebut hemosiderosis atau imbibisio kornea, yang hanya dapat ditolong dengan keratoplasti. Imbibisio kornea dapat dipercepat terjadinya oleh hifema yang penuh disertai glaukoma. Hemosiderosis ini akan timbul bila ada perdarahan/perdarahan sekunder disertai kenaikan tekanan intraokuler. Gangguan visus karena hemosiderosis tidak selalu permanen, tetapi kadang-kadang dapat kembali jernih dalam waktu yang lama (2 tahun). Insidensinya 10%.3 Zat besi di dalam bola mata dapat menimbulkan siderosis bulbi yang bila didiamkan akan dapat menimbulkan ftisis bulbi dan kebutaan.14

43

4. Sinekia Posterior Sinekia posterior bisa timbul pada pasien traumatik hifema.Komplikasi ini akibat dari iritis atau iridocyclitis.Komplikasi ini jarang pada pasien yang mendapat terapi medikamentosa dan lebih sering terjadi pada pada pasien dengan evakuasi bedah pada hifema.Peripheral anterior synechiae anterior synechiae terjadi pada pasien dengan hifema pada BMD dalam waktu yang lama, biasanya 9 hari atau lebih.Patogenesis dari sinekia anterior perifer berhubungan dengan iritis yang lama akibat trauma atau dari darah pada BMD. Bekuan darah pada sudut BMD kemudian bisa menyebabkan trabecular meshwork fibrosis yang menyebabkan sudut bilik mata tertutup. 7,12 5. Atrofi optik Atrofi optik disebabkan oleh peningkatan tekanan intra okular. 12 6. Uveitis Penyulit yang harus diperhatikan adalah glaukoma, imbibisio kornea, uveitis. Selain dari iris, darah pada hifema juga datang dari badan siliar yang mungkin juga masuk ke dalam badan kaca (corpus vitreum) sehingga pada funduskopi gambaran fundus tak tampak dan ketajaman penglihatan menurunnya lebih banyak.Hifema dapat sedikit, dapat pula banyak. Bila sedikit ketajaman penglihatan mungkin masih baik dan tekanan intraokular masih normal. Perdarahan yang mengisi setengah BMD dapat menyebabkan gangguan visus dan kenaikan tekanan intra okular sehingga mata terasa sakit oleh karena glaukoma. Jika hifemanya mengisi seluruh BMD, rasa sakit bertambah karena tekanan intra okular lebih meninggi dan penglihatan lebih menurun lagi.7,12

2.4.8. Prognosis Prognosis tergantung pada banyaknya darah yang tertimbun pada kamera okuli anterior. Biasanya hifema dengan darah yang sedikit dan tanpa disertai glaukoma, prognosisnya baik (bonam) karena darah akan diserap kembali dan hilang sempurna dalam beberapa hari. Sedangkan hifema yang telah mengalami glaukoma, prognosisnya bergantung pada seberapa besar glaukoma tersebut menimbulkan defek pada ketajaman penglihatan. Bila tajam penglihatan telah mencapai 1/60 atau lebih rendah maka prognosis penderita adalah buruk (malam) karena dapat menyebabkan kebutaan7,8

44

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Prof.Dr.Sidarta Ilyas, Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2006 Paul R, 2000. Anatomi dan Embriologi Mata, dalam Oftamologi Umum edisi 14 Widya medika. Jakarta

3. 4.

Vaughan D.G,et all. 2010. Oftalmologi Umum, EGC, Jakarta Asbury T, Sanitato JJ. Trauma. Dalam : Vaughan DG, Asbury T, Eva PR, editor. Oftalmologi umum. Edisi ke 14. Jakarta: Penerbit Widya Medika; 1996. h.384-5.

5.

Berson, FG. Ocular and Orbital Injuries. In: Basic Ophtalmology. 6th ed. American Academy of Ophtalmology. 1993. p. 82-7.

6. 7.

Dr.Nana Wijaya, Ilmu Penyakit Mata, Cetakan ke 3, Jakarta 1983 Kuhn F, Morris R, Witherspoon CD. Ocular trauma: principles and practice. [materi elektronik]. New York: Thieme Medical Publishers; 2002. Kanski JJ. 2010, Clinical Ophtalmology. 7th ed. Oxford: Butterworth-Heinemann. Reese M. Eye trauma. University of Illinois. [online]. Diunduh dari:

8. 9.

www.uic.edu/com/eye/LearningAboutVision/EyeFacts/EyeTrauma.shtml 10. Prof.Dr.Sidarta Ilyas, Kedaruratan Dalam Ilmu Penyakit Mata, Balai penerbit FKUI, Jakarta 2000 11. Prof.Dr.Sidarta Ilyas, Sari Ilmu Penyakit Mata, Balai Penerbit FKUI, Jakarta 2008 12. Sheppard J, Crouch E. Hyphema. 2008. Available at http://emedicine.medscape.com/ ophthalmology#anterior. 13. http://www.uptodate.com/contents/image?imageKey=EM/4295 14. J. D. Brodrick, 1972, Corneal blood staining after hyphaema. Brit. J_. Ophthal. (I 972) vol 56, p: 589

45