Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KOROSI

MELTOM A. TAMPAI AHMAD SETIADI ARAS RISKI PARAMITA F 331 07 019 F 331 07 011 F 331 07 026

PROGRAM STUDI S1 TEKN IK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TADULAKO 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Korosi merupakan proses degradasi, deteorisasi, pengerusakan material yang disebabkan oleh pengaruh lingkungan sekelilingnya. Adapun prosesnya yakni merupakan reaksi redoks antara suatu logam dengan berbagai zat disekelilingnya tersebut. Dalam bahasa sehari-hari korosi disebut dengan perkaratan. Kata korosi berasal dari bahasa latin corrodere yang artinya pengrusakan logam atau perkaratan. Jadi jelas korosi dikenal sangat merugikan. Korosi merupakan sistem termodinamika logam dengan lingkungannya, yang berusaha untuk mencapai kesetimbangan. Sistem ini dikatakan setimbang bila logam telah membentuk oksida atau senyawa kimia lain yang lebih stabil. Pencegahan korosi merupakan salah satu masalah penting dalam ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Besi adalah salah satu dari banyak jenis logam yang penggunaannya sangat luas dalam kehidupan sehari-hari. Namun kekurangan dari besi ini adalah sifatnya yang sangat mudah mengalami korosi. Padahal besi yang telah mengalami korosi akan kehilangan nilai jual dan fungsi komersialnya. Ini tentu saja akan merugikan sekaligus membahayakan. Berdasarkan dari asumsi tersebut, percobaan ini difokuskan dalam upaya pencegahan terjadinya peristiwa korosi ini khususnya

pada besi. Selain itu pada percobaan ini akan diketahui logam-logam apa sajakah yang dapat menghambat terjadinya korosi sesuai dengan sifat-sifat kimianya.

B. TUJUAN PERCOBAAN 1. Untuk mengetahui laju korosi terhadap besi yang di simpan dalam botol dalam keadaan tertutup dan terbuka. 2. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan antara air laut pasang ataupun surut terhadap laju korosi.

BAB II TEORI DASAR

A. PROSES TERJADINYA KOROSI Korosi (Kennet dan Chamberlain, 1991) adalah penurunan mutu logam akibat reaksi elektro kimia dengan lingkungannya. Korosi atau pengkaratan merupakan fenomena kimia pada bahan bahan logam yang pada dasarnya merupakan reaksi logam menjadi ion pada permukaan logam yang kontak langsung dengan lingkungan berair dan oksigen. Contoh yang paling umum, yaitu kerusakan logam besi dengan terbentuknya karat oksida. Dengan demikian, korosi menimbulkan banyak kerugian. Korosi logam melibatkan proses anodik, yaitu oksidasi logam menjadi ion dengan melepaskan elektron ke dalam (permukaan) logam dan proses katodik yang mengkonsumsi electron tersebut dengan laju yang sama : proses katodik biasanya merupakan reduksi ion hidrogen atau oksigen dari lingkungan sekitarnya. Untuk contoh korosi logam besi dalam udara lembab, misalnya proses reaksinya dapat dinyatakan sebagai berikut : Anode {Fe(s) Fe2+(aq)+ 2 e} x 2 Katode O2(g)+ 4H+(aq)+ 4 e 2 H2O(l) + Redoks 2 Fe(s) + O2 (g)+ 4 H+(aq) 2 Fe2++ 2 H2O(l) Dari data potensial elektrode dapat dihitung bahwaemf standar untuk proses korosi ini, ,yaituE 0sel = + 1,67 V ; reaksi ini terjadi pada lingkungan asam dimana ion H+ sebagian dapat diperoleh dari reaksi karbon dioksida atmosfer dengan air

membentuk H2CO3. Ion Fe+2 yang terbentuk, di anode kemudian teroksidasi lebih lanjut oleh oksigen membentuk besi (III) oksida : 4 Fe+2(aq)+ O2 (g) + (4 + 2x) H2O(l) 2 Fe2O3x H2O + 8 H+(aq) Hidrat besi (III) oksida inilah yang dikenal sebagai karat besi. Sirkuit listrik dipacu oleh migrasi elektron dan ion, itulah sebabnya korosi cepat terjadi dalam air garam. Jika proses korosi terjadi dalam lingkungan basa, maka reaksi katodik yang terjadi, yaitu : O2 (g) + 2 H2O(l)+ 4e 4 OH-(aq) Oksidasi lanjut ion Fe2+ tidak berlangsung karena lambatnya gerak ion ini sehingga sulit berhubungan dengan oksigen udara luar, tambahan pula ion ini segera ditangkap oleh garam kompleks hexasianoferat (II) membentuk senyawa kompleks stabil biru. Lingkungan basa tersedia karena kompleks kalium heksasianoferat (III). Korosi besi realatif cepat terjadi dan berlangsung terus, sebab lapisan senyawa besi (III) oksida yang terjadi bersifat porous sehingga mudah ditembus oleh udara maupun air. Tetapi meskipun alumunium mempunyai potensial reduksi jauh lebih negatif ketimbang besi, namun proses korosi lanjut menjadi terhambatkarena hasil oksidasi Al2O3, yang melapisinya tidak bersifat porous sehingga melindungi logam yang dilapisi dari kontak dengan udara luar. B. DAMPAK DARI KOROSI Karatan adalah istilah yang diberikan masyarakat terhadap logam yang mengalami kerusakan berbentuk keropos. Sedangkan bagian logam yang rusak dan berwarna hitam kecoklatan pada baja disebut Karat. Secara teoritis karat adalah istilah yang diberikan terhadap satu jenis logam saja yaitu baja, sedangkan secara

umum istilah karat lebih tepat disebut korosi. Korosi didefenisikan sebagai degradasi material (khususnya logam dan paduannya) atau sifatnya akibat berinteraksi dengan lingkungannya.

Korosi merupakan proses atau reaksi elektrokimia yang bersifat alamiah dan berlangsung dengan sendirinya, oleh karena itu korosi tidak dapat dicegah atau dihentikan sama sekali. Korosi hanya bisa dikendalikan atau diperlambat lajunya sehingga memperlambat proses perusakannya. Dilihat dari aspek elektrokimia, korosi merupakan proses terjadinya transfer elektron dari logam ke lingkungannya. Logam berlaku sebagai sel yang memberikan elektron (anoda) dan lingkungannya sebagai penerima elektron (katoda). Reaksi yang terjadi pada logam yang mengalami korosi adalah reaksi oksidasi, dimana atom-atom logam larut kelingkungannya menjadi ion-ion dengan melepaskan elektron pada logam tersebut. Sedangkan dari katoda terjadi reaksi, dimana ion-ion dari lingkungan mendekati logam dan menangkap elektron- elektron yang tertinggal pada logam. Dampak yang ditimbulkan korosi sungguh luar biasa. Berdasarkan pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Serikat mengalokasikan biaya pengendalian korosi sebesar 80 hingga 126 milyar dollar per tahun. Di Indonesia, dua puluh tahun lalu saja biaya yang ditimbulkan akibat korosi dalam bidang indusri mencapai 5 trilyun rupiah. Nilai tersebut memberi gambaran kepada kita betapa besarnya dampak yang ditimbulkan korosi dan nilai ini semakin meningkat setiap tahunnya karena belum terlaksananya pengendalian korosi secara baik bidang indusri. Dampak yang ditimbulkan korosi dapat berupa kerugian langsung dan kerugian tidak langsung. Kerugian langsung adalah berupa terjadinya kerusakan pada peralatan, permesinan atau stuktur bangunan. Sedangkan kerugian tidak langsung berupa

terhentinya aktifitas produksi karena terjadinya penggantian peralatan yang rusak akibat korosi, terjadinya kehilangan produk akibat adanya kerusakan pada kontainer, tanki bahan bakar atau jaringan pemipaan air bersih atau minyak mentah, terakumulasinya produk korosi pada alat penukar panas dan jaringan pemipaannya akan menurunkan efisiensi perpindahan panasnya, dan lain sebagainya. Bahkan kerugian tidak langsung dapat berupa terjadinya kecelakaan yang menimbulkan korban jiwa, seperti kejadian runtuhnya jembatan akibat korosi retak tegang di West Virginia yang menyebabkan 46 orang meninggal dunia, terjadinya kebakaran akibat kebocoran pipa gas di Minnesota karena selective corrosion dan meledaknya pembangkit tenaga nuklir di Virginia akibat terjadinya korosi erosi pada pipa uapnya.

BAB III METODE PERCOBAAN

A. ALAT DAN BAHAN Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut: Botol plastik kecil sebanyak 4 buah. Besi 10 dengan panjang 15 cm sebanyak 4 buah. Timbangan digital. Air laut saat pasang dan surut. Kertas pasir. Majun. B. PROSEDUR KERJA 1. Besi ukuran 10 yang telah di amplas dengan kertas pasir ditimbang dengan timbangan digital dan catat masing-masing berat dari besi tersebut, kemudian besi di masukkan dalam masing-masing botol. 2. Air laut saat pasang dimasukkan ke dalam 2 botol plastik sampai penuh, kemudian salah satu botol di tutup rapat sementara yang satunya di biarkan dalam keadaan terbuka. Kemudian air laut saat surut prosesnya dilakukan sama dengan air laut saat pasang sehingga ka nada 2 botol dengan air laut pasang dan 2 botol air laut surut.

3. Setelah semuanya selesai simpan semua botol tersebut dalam satu tempat, kemudian tiap 1 minggu keluarkan besi dari botol, lap dengan menggunakan kain bersih hingga kering lalu timbang dengan timbangan digital. Catat perubahan berat yang terjadi pada masing-masing besi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL Berikut adalah hasil timbangan berat dari masing-masing besi yang di masukkan kedalam botol berisi air laut. Tanggal: 25 Maret 2011 Air laut pasang tertutup terbuka 0,075 lbs 0,075 lbs 0,034 kg 0,034 kg 1,2 ons 1,2 ons Tanggal: 29 April 2011 Air laut pasang tertutup terbuka 0,075 lbs 0,075 lbs 0,034 kg 0,034 kg 1,2 ons 1,2 ons Tanggal: 6 Mei 2011 Air laut pasang tertutup terbuka 0,075 lbs 0,075 lbs 0,034 kg 0,034 kg 1,2 ons 1,2 ons Tanggal: 20 Mei 2011 Air laut pasang tertutup terbuka 0,075 lbs 0,075 lbs 0,034 kg 0,034 kg 1,2 ons 1,2 ons

Air laut surut tertutup terbuka 0,070 lbs 0,075 lbs 0,032 kg 0,034 kg 1,1 ons 1,2 ons

Air laut surut tertutup terbuka 0,070 lbs 0,075 lbs 0,032 kg 0,034 kg 1,1 ons 1,2 ons

Air laut surut tertutup terbuka 0,070 lbs 0,075 lbs 0,032 kg 0,034 kg 1,1 ons 1,2 ons

Air laut surut tertutup terbuka 0,070 lbs 0,075 lbs 0,032 kg 0,034 kg 1,1 ons 1,2 ons

B. MENGHITUNG LAJU KOROSI perhitungan kehilangan beratW = WO WA W = Selisih berat (gram) WO = Berat sebelum uji WA = Berat setelah uji Perhitungan laju korosi dapat dilakukan dengan melihat rumus laju korosi secara umum. Laju korosi = (K x W) / (A x T xD) K = Konstanta (2,40x 106 x D) T = Waktu ekspos (jam) A = Luas permukaan logam (cm2) W = Kehilangan berat (gram) D = Densitas logam (gram/cm2)

Contoh : Perhitungan kehilangan berat

Wo = 0,034 kg WA = 0,034 kg W = (0,034 0,034)kg = 0 kg Laju korosi T = 168 jam A = D x t = ( 3,14 x 8cm) x 15 cm = 376,8 W=0 D = 7,9 gr/ laju korosi = (2,40x 106 x 7,9 gr/ )
= 0 mdd

x 0) / (376,8

x 168 x 7,9 gr/

Tabel kehilangan berat dan laju korosi


Waktu ekspos (jam) 168 840 1008 1344 Berat awal (gram) 34 34 34 34 Berat akhir (gram) 34 34 34 34 Kehilangan berat (gram) 0 0 0 0 Laju korosi (mdd) 0 0 0 0

Grafik laju korosi

laju korosi
1 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0 500 1000 1500

laju korosi

laju korosi

waktu ekspos

C. PEMBAHASAN Dari data di atas, tampak bahwa dalam waktu 2 bulan berat dari masing-masing besi belum mengalami perubahan sedikitpun. Hal ini disebabkan karena belum terjadinya karat pada permukaan besi yang akan menybabkan berat besi berkurang.

BAB V KESIMPULAN

1. Waktu 3 bulan belum cukup untuk membuat besi berkarat, sehingga berat besi belum berkurang. 2. Perbedaan antara air laut dan air pasang terhadap laju korosi belum dapat diketahui.