Anda di halaman 1dari 10

PERILAKU BUNUH DIRI

1. DEFINISI
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, 2007.) Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk menyakiti diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai sesuatu yang diinginkan. (Stuart dan Sundeen, 1995). Bunuh diri adalah pikiran untuk menghilangkan nyawa sendiri (Ann Isaacs, 2004) Bunuh diri adalah ide, isyarat dan usaha bunuh diri, yang sering menyertai gangguan depresif dan sering terjadi pada remaja (Harold Kaplan,1997) Bunuh diri adalah suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri kehidupan individu secara sadar berhasrat dan berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati. Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang akan mengakibatkan kematian, luka atau menyakiti diri sendiri. Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Menurut Maris, Berman, Silverman, dan Bongar (2000), bunuh diri memiliki 4 pengertian, antara lain: 1. Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional 2. Bunuh diri dilakukan dengan intensi 3. Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri 4. Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung (pasif), misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan kelangsungan hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api.

2. ETIOLOGI
1. Factor genetic dan teori biologi Faktor genetik mempengaruhi terjadinya resiko bunuh diri pada keturunannya. Disamping itu adanya penurunan serotonin dapat menyebabkan depresi yang berkontribusi terjadinya resiko bunuh diri. Faktor genetik (berdasarkan penelitian): a. 1,5 3 kali lebih banyak perilaku bunuh diri terjadi pada individu yang menjadi kerabat tingkat pertama dari orang yang mengalami gangguan mood/depresi/ yang pernah melakukan upaya bunuh diri. b. Lebih sering terjadi pada kembar monozigot dari pada kembar dizigot. Faktor Biologis lain: 1. Biasanya karena penyakit kronis/kondisi medis tertentu, misalnya: a. Stroke b. Gangguuan kerusakan kognitif (demensia) c. Diabetes, Penyakit arteri koronaria d. Kanker e. HIV / AIDS 2. Teori sosiologi Emile Durkheim membagi bunuh diri dalam 3 kategori yaitu : Egoistik (orang yang tidak terintegrasi pada kelompok sosial) , atruistik (Melakukan bunuh diri untuk kebaikan masyarakat) dan anomik ( Bunuh diri karena kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain dan beradaptasi dengan stressor). 3. Teori psikologi Sigmund Freud dan Karl Menninger meyakini bahwa bunuh diri merupakan hasil dari marah yang diarahkan pada diri sendiri. Faktor Psikososial & Lingkungan: a. Teori Psikoanalitik / Psikodinamika: Teori Freud, yaitu bahwa kehilangan objek berkaitan dengan agresi dan kemarahan, perasaan negatif terhadap diri, dan terakhir depresi. b. Teori Perilaku Kognitif: Teori Beck, yaitu Pola kognitif negatif yang berkembang, memandang rendah diri sendiri c. Stressor Lingkungan: kehilangan anggota keluarga, penipuan, kurangnya sistem pendukung sosial 4. Penyebab lain a. Adanya harapan yang tidak dapat di capai b. Merupakan jalan untuk mengakhiri keputusasaan dan ketidakberdayaan c. Cara untuk meminta bantuan d. Sebuah tindakan untuk menyelesaikan masalah

C. RENTANG BUNUH DIRI


Pada umumnya tindakan bunuh diri merupakan cara ekspresi orang yang penuh stress. Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya : 1. Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau sebuah metode yang digunakan tanpa melakukan aksi/tindakan, bahkan klien pada tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran tentang keinginan untuk mati. 2. Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri. 3. Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat yan dalam bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya . 4. Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati. Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan Crying for help sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan. 5. Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang mematikan . walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan kehidupannya.

D. AKIBAT BUNUH DIRI


Resiko bunuh diri dapat mengakibatkan sebagai berikut : 1. Keputusasaan 2. Menyalahkan diri sendiri 3. Perasaan gagal dan tidak berharga 4. Perasaan tertekan 5. Insomnia yang menetap 6. Penurunan berat badan 7. Berbicara lamban, keletihan 8. Menarik diri dari lingkungan social 9. Pikiran dan rencana bunuh diri 10. Percobaan atau ancaman verbal

E. POHON MASALAH

F. TANDA DAN GEJALA


Pengkajian orang yang bunuh diri juga mencakup apakah orang tersebut tidak membuat rencana yang spesifik dan apakah tersedia alat untuk melakukan rencana bunuh diri tersebut. Petunjuk dan gejala 1. Keputusasaan 2. Celaan terhadap diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berguna 3. Alam perasaan depresi 4. Agitasi dan gelisah 5. Insomnia yang menetap 6. Penurunan BB 7. Berbicara lamban, keletihan, menarik diri dari lingkungan sosial. 8. Petunjuk psikiatrik a. Upaya bunuh diri sebelumnya b. Kelainan afektif c. Alkoholisme dan penyalahgunaan obat d. Kelaianan tindakan dan depresi mental pada remaja e. Dimensia dini/ status kekacauan mental pada lansia f. Riwayat psikososial 1. Baru berpisah, bercerai/ kehilangan 2. Hidup sendiri 3. Tidak bekerja, perubahan/ kehilangan pekerjaan baru dialami 4. Faktor-faktor kepribadian 5. Implisit, agresif, rasa bermusuhan 6. Kegiatan kognitif dan negatif 7. Keputusasaan 8. Harga diri rendah 9. Batasan/gangguan kepribadian antisocial

G. PENGOBATAN Obat-obatan yang digunakan biasanya antidepresan karena kebanyakan bunuh diri merupakan tindak lanjut dari depresi yang berlebihan : 1. Obat antipsikotik Haloperidol (haldol) suatu trankuilizer yang sangat berguna dalam kedaruratan psikiatrik karena ia relatif tidak menyebabkan sedatif, ia tak ada atau sedikit mempunyai efek kardiovaskuler, dan tersedia dalam bentuk parenteral, cairan dan tablet. Dosis biasa haloperidol 5-10 mg I.M setiap 30 menit.

2. Obat antiansietas Diazepam (valium) mempunyai efek antiansietas, antikejang serta pelemas otot, yang membuatnya berguna dalam kedaruratan psikiatrik. Ia tersedia dalam bentuk parenteral dan tablet. Dosis biasa 5-10 I.V dalam 2 menit atau 10 mg per oral setiap jam sampai pasien terkontrol.

H. PENGKAJIAN
Data yang perlu dikumpulkan saat pengkajian : 1. Riwayat masa lalu : a. Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri b. Riwayat keluarga terhadap bunuh diri c. Riwayat gangguan mood, penyalahgunaan NAPZA dan skizofrenia d. Riwayat penyakit fisik yang kronik, nyeri kronik. e. Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian boderline, paranoid, antisosial, gangguan persepsi sensori, gangguan proses pikir f. Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses berduka 2. Symptom yang menyertainya a. Apakah klien mengalami : 1. Ide bunuh diri 2. Ancaman bunuh diri 3. Percobaan bunuh diri 4. Sindrom mencederai diri sendiri yang disengaja b. Derajat yang tinggi terhadap keputusasaan, ketidakberdayaan dan anhedonia dimana hal ini merupakan faktor krusial terkait dengan resiko bunuh diri 3. Bila individu menyatakan memiliki rencana bagaimana untuk membunuh diri mereka sendiri. Perlu dilakukan penkajian lebih mendalam lagi diantaranya a. Cari tahu rencana apa yang sudah di rencanakan b. Menentukan seberapa jauh klien sudah melakukan aksinya atau perencanaanuntuk melakukan aksinya yang sesuai dengan rencananya. c. Menentukan seberapa banyak waktu yang di pakai pasien untuk merencanakan dan mengagas akan bunuh diri d. Menentukan bagaiamana metoda yang mematikan itu mampu diakses olehklien. e. Hal hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan pengkajian tentang riwayat kesehatan mental klien yang mengalami resiko bunuh diri f. Menciptakan hubungan saling percaya yang terapeutik g. Memilih tempat yang tenang dan menjaga privasi klien h. Mempertahankan ketenangan, suara yang tidak mengancam dan mendorong komunikasi terbuka.

i. Menentukan keluhan utama klien dengan menggunakan kata kata yang dimengerti klien j. Mendiskuiskan gangguan jiwa sebelumnya dan riwayat pengobatannya k. Mendapatkan data tentang demografi dan social ekonomi l. Mendiskusikan keyakinan budaya dan keagamaan m. Peroleh riwayat penyakit fisik klien 4. Pengkajian Faktor Resiko Perilaku bunuh Diri a. jenis kelamin: resiko meningkat pada pria b. usia: lebih tua, masalah semakin banyak c. Status perkawinan: menikah dapat menurunkan resiko, hidup sendiri merupakan masalah d. Riwayat keluarga: meningkat apabila ada keluarga dengan percobaan bunuh diri / penyalahgunaan zat e. pencetus ( peristiwa hidup yang baru terjadi): f. kehilangan orang yang dicintai, pengangguran, mendapat malu di lingkungan social g. Faktor kepribadian: lebih sering pada kepribadian introvert/menutup diri h. penelitian membuktikan bahwa ras kulit putih lebih beresiko mengalami perilaku bunuh diri

I. DIAGNOSA KEPERAWATAN Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien perilaku bunuh diri adalah : 1. Resiko bunuh diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah 2. Koping individu inefektif berhubungan dengan kehilangan

J. INTERVENSI DAN RASIONAL 1. Resiko bunuh diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah Tujuan jangka pendek :klien dapat meningkatkan harga diri Tujuan jangka panjang : klien tidak akan melakukan pengulangan percobaan bunuh diri Intervensi dan Rasional 1. Jika bunuh diri terjadi, rawat luka klien dengan tidak mengusik penyebabnya dan jangan berikan reinforcement positif pada perilaku tersebut. Rasional : Kurangnya perhatian untuk perilaku maladaptive dapat menurunkan pengulangan bunuh diri. 2. Singkirkan semua benda yang berbahaya dari lingkungan klien Rasional : Keamanan klien merupakan prioritas keperawatan

3. Lakukan pembatasan pada klien tentang percobaan pengulangan bunuh diri. Rasional : Mengontrol klien secara continue untuk mencegah percobaan bunuh diri lagi. 4. Berikan obat-obatan sesuai dengan hasil kolaborasi, pantau keefektifan, dan efek samping. Rasional : Obat penenang seperti ansiolotik/antipsikotik dapat memberikan efek menenangkan pada klien dan mencegah perilaku agresif. 5. Gunakan restrain mekanis bila keadaan memaksa sesuai prosedur tetap. Rasional : Bila klien menolak obat-obatan dan situasi darurat restrain diperlukan pada jam-jam tertentu. 6. Observasi klien dalam restrain tiap 15 menit /sesuai dengan prosedur tetap dengan mempertimbangkan keamanan, sirkulasi darah, dan kebutuhan dasar. Rasional : Keamanan klien merupakan prioritas keperawatan.

2. Koping individu inefektif berhubungan dengan kehilangan Tujuan jangka pendek : klien akan mendapatkan dukungan suportif dari keluarga dan orang terdekat dan dapat mengatasi respon kehilangan. Tujuan jangka panjang : koping individu kembali efektif Intervensi dan rasional 1. Tetapkan kontak verbal dengan klien bahwa ia akan meminta bantuan jika keinginan bunuh diri dirasakan Rasional : mendiskusikan perasaan ingin bunuh diri dengan orang yang dipercaya memberikan derajat keringanan untuk klien, sikap penerimaan klien sebagai individu dapat dirasakan 2. Instruksikan pengunjung untuk membantasi barang bawaan ( yakinkan untuk tidak memberikan makanan dalam tas plastic) Rasional : Mencegah penggunaan benda-benda tertentu untuk melanjutkan ide bunuh dirinya. 3. Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan dukungan social yang adekuat Rasional : Dukungan social dapat meringankan stimulus. 4. Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring sosial yang bisa di akses Rasional : Untuk mempermudah menghubungi keluarga yang bisa membantu meringankan stimulus. 5. Dorong klien untuk melakukan aktivitas social. Rasional : Mengalihkan stimulus ke kegiatan lain..

K. EVALUASI 1. 2. 3. 4. 5. 6. Klien dapat membina hubungan saling percaya Klien terlindung dari perilaku resiko bunuh diri Klien dapat mengarahkan moodnya lebih baik Klien dapat menggunakan dukungan sosial Klien dapat menggunakan koping adaptif dan meilhat sisi positif dari masalahnya Klien dapat menggunakan obat dengan benar dan tepat

L. KESIMPULAN Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian (Gail w. Stuart, Keperawatan Jiwa,2007). Kasus bunuh diri lebih sering terjadi pada usia remaja. Percobaan bunuh diri yang paling umum dilakukan adalah dengan meminum obat-obatan bahkan melalui penembakan yang akibatnya sangat fatal. Faktor predisposisi dari resiko bunuh diri paling banyak disebabkan karena koping inidividu yang tidak efektif yang pada akhirnya akan menyebabkan resiko menciderai diri sendiri dan berujung pada bunuh diri. Orang dengan resiko bunuh diri menunjukkan gejala keputusasaan, menyalahkan diri sendiri, perasaan gagal dan tidak berharga, perasaan tertekan insomnia yang menetap, penurunan berat badan, berbicara lamban, keletihan menarik diri dari lingkungan sosial, dan terlintas pikiran dan rencana bunuh diri. Untuk menangani pasien dengan resiko bunuh diri yang ditandai dengan munculnya gejala-gejala tersebut, intervensi keperawatan yang perlu dilakukan oleh seorang perawat antara lain meningkatkan keamanan klien dan melindungi dari cedera, meningkatkan tidur yang cukup, nutrisi dan higiene yang tepat serta aktivitas, menata lingkungan dan kegiatan rutin, memberikan dukungan emosional, meningkatkan interaksi dan keterlibatan.

M. DAFTAR PUSTAKA CAPTAIN, C, ( 2008). Assessing suicide risk, Nursing made incredibly easy, Volume 6(3), May/June 2008, p 4653 Varcarolis, E M (2000). Psychiatric Nursing Clinical Guide, WB Saunder Company, Philadelphia. Stuart, GW and Laraia (2005). Principles and practice of psychiatric nursing, 8ed. Elsevier Mosby, Philadelphia Shives, R (2008). Basic concept of psychiatric and Mental Health Nursing, Mosby, St Louis. Kaplan and Saddock (2005). Comprehensive textbook of Psychiatry, Mosby, St Louis. Carpenito, LJ (2008). Nursing diagnosis : Aplication to clinical practice, Mosby St Louis. Brunner & Suddarth.2002.KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH.Edisi 8.Jakarta : EGC Tahir, Edi. 2010. Askep Klien Tentamen suicide Aseltine, RH dan DeMartino, R. "Hasil Evaluasi Program Pencegahan Bunuh Diri SOS." American Journal of Kesehatan Masyarakat 94,3 (2004): 446-451.