Anda di halaman 1dari 36

I.

Deteksi dan Tumbuh Kembang dari Depkes Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Deteksi dini tumbuh kembang anak adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan anak prasekolah. Dengan ditemukan secara dini penyimpangan /masalah tumbuh kembang anak, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan/intervensi yang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Ada 3 jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa : Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan status gizi kurang/buruk dan mikro/makrosefali. Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan anak (keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar. Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional, autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Keterangan : BB/TB : Berat badan terhadap tinggi badan LK : Jadwal dan jenis deteksi dini tumbuh kembang dapat berubah sewaktu-waktu yaitu pada : Kasus Rujukan Ada kecurigaan, anak mempunyai penyimpangan tubuh Ada keluhan anak mempunyai masalah tumbuh kembang.

1. DETEKSI DINI PENYIMPANGAN PERTUMBUHAN Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan dilakukan di semua tingkat pelayanan. Adapun pelaksana dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

Tingkat Pelayanan Keluarga, masyarakat

Pelaksana o Orang tua o Kader kesehatan o Petugas PADU, BKB TPA dan Guru TK o Dokter o Bidan o Perawat o Ahli gizi o Petugas lainnya

Alat yang digunakan o KMS o Timbangan dacin

Puskesmas

o Table BB/TB o Grafik LK o Timbangan o Alat ukur tinggi badan o Pita ukur tinggi badan o Pita pengukur lingkar kepala

A. Pengukuran berat badan terhadap tinggi badan BB/TB) Tujuan pengukuran BB/TB adalah untuk menentukan status gizi anak, normal, kurus, kurus sekali atau gemuk. Jadwal pengukuran BB/TB disesuai dengan jadwal deteksi dini tumbuh kembang balita. Pengukuran dan penilaian BB/TB dilakukan oleh tenaga kesehatan terlatih. Pengukuran Berat Badan/BB : o Menggunakan timbangan bayi Timbangan bayi digunakan untuk menimbang anak sampai umur 2 tahun atau selama anak masih bisa berbaring/duduk tenang. Letakkan timbangan pada meja yang datar dan tidak mudah bergoyang

Lihat posisi jarum atau angka harus menunjukkan ke angka 0. Bayi sebaiknya telanjang, tanpa topi, kaus kaki, sarung tangan. Lihat jarum timbangan sampai berhenti. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan. Bila bayi terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angkadi tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan ke kiri.

o Menggunakan timbangan injak. Letakkan timbangan di lantai yang latar sehingga tidak mudah bergerak. Lihat posisi jarum atau angka harus menunjukkan ke angka 0. Anak sebaiknya memakai baju sehari-hari yang tipis, tidak memakai alas kaki, jaket, topi, kalung, jam tangan, dan tidak memegang sesuatu. Anak berdiri di atas timbangan tanpa dipegangi. Lihat jarum timbangan sampai berhenti. Baca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan atau angka timbangan. Bila anak terus menerus bergerak, perhatikan gerakan jarum, baca angka di tengah-tengah antara gerakan jarum ke kanan dan kiri. Pengukuran Panjang Badan (PB) atau tinggi Badan (TB) : o Cara mengukur dengan posisi berbaring : Sebaiknya dilakukan oleh 2 orang Bayi dibaringkan telentang pada alas yang datar. Kepala bayi menempel pada pembatas angka 0. Petugas 1 : kedua tangan memegang kepala bayi agar tetap menempel pada pembatas angka 0 (pembatas kepala).

2. DETEKSI DINI PENYIMPANGAN PERKEMBANGAN ANAK Deteksi dini penyimpangan perkembangan anak dilakukan di semua tingkat pelayanan. Adapun pelaksana dan alat yang digunakan adalah sebagai berikut :

Keterangan :

Buku KIA KPSP TDL TDD BKB TPA Pusat PADU TK

: Buku kesehatan Ibu dan Anak : Kuisioner Pra Skrining Perkembangan : Tes Daya Lihat : Tes Daya Dengar : Bina Keluarga Balita : Tempat Penitipan Anak : Pusat Pendidikan Anak Dini Usia : Taman Kanak-kanak

A. Skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan Kuesioner Pra Skrining perkembangan (KPSP). o Tujuan skrining/pemeriksaan perkembangan anak menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan anak normal atau ada penyimpangan. o Jadwal skrining/pemeriksaan KPSP rutin adalah pada umur 3, 6, 9 ,12, 15, 18, 21, 24, 30, 36, 42, 48, 54, 60, 66, dan 72 bulan. Jika anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta ibu datang kembali pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan rutin. Misalnya bayi umur 7 bulan, diminta kembali untuk skrining KPSP pada umur 9 bulan. Apabila orang tua datang dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang, sedangkan umur anak bukan umur skrining maka pemeriksaan menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat- yang lebih muda. o Skrining/pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan, guru TK dan petugas PADU terlatih. o Alat/instrument yang digunakan adalah : Formulir KPSP menurut umur. Formulir ini berisi 9-10 pertanyaan tentang kemampuan perkembangan yang telah dicapai anak. Sasaran KPSP anak umur 0-72 bulan. Alat bantu pemeriksaan berupa : pensil, kertas, bola sebesar bola tenis, kerincingan, kubus berukuran sisi 2,5cm sebanyak 6 buah, kismis, kacang tanah, potongan biscuit kecil berukuran 0,5-1cm. o Cara menggunakan KPSP :

Pada waktu pemeriksaan/skrining, anak harus dibawa. Tentiukan umur anak dengan menanyakan tanggal bulan dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih 16 hari dibulatkan menjadi 1 bulan. Contoh : bayi umur 3 bulan 16 hari, dibulatkan menjadi 4 bulan. Bila umur bayi 3 bulan 15 hari, dibulatkan menjadi 3 bulan.

Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai dengan umur anak. KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan, yaitu : Pertanyaan yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak, contoh : dapatkah bayi makan kue sendiri ? Perintah kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP. Contoh : Pada posisi bayi anda telentang, tariklah bayi pada pergelangan tangannya secara perlahanperlahan ke posisi duduk.

Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut menjawab, oleh karena itu pastikan ibu/pengasuh anak mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.

Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu persatu. Setiap pertanyaan hanya ada 1 jawaban, Ya atau Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.

Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh anak menjawab pertanyaan terdahulu. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

o Intepretasi hasil KPSP : Hitunglah berapa jumlah jawaban YA. Jawaban Ya, bila inu/pengasuh anak menjawab : anak bisa atau pernah atau sering atau kadang-kadang melakukannya. Jawaban Tidak, bila ibu/pengasuh anak menjawab : anak belum pernah melakukan atau tidak pernah atau ibu/pengasuh anak tidak tahu. Jumlah pasangan Ya = 9 atau 10, perkembangan anak sesuai dengan tahap perkembangannya (S). Jumlah jawaban Ya = 7 atau 8, perkembangan anak meragukan (M).

Jumlah jawaban Ya = 6 atau kurang, kemungkinan ada penyimpangan (P). Untuk jawaban Tidak, perlu dirinci jumlah jawaban tidak menuerut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian).

o Intervensi : Bila perkembangan anak sesuai umur (S), lakukan tindakan berikut : Beri pujian kepada ibu karena telah mengasuh anaknya dengan baik. Teruskan pola asuh anak sesuai dengan tahap perkembangan anak. Beri stimulasi perkembangan anak setiap saat, sesering mungkin, sesuai dengan umur dan kesiapan anak. Ikutkan anak pada kegiatan penimbangan dan pelayanan kesehatan di posyandu secara teratur sebulan 1 kali dan setiap ada kegiatan Bina Keluarga Balita (BKB). Jika anak sudah memasuki usia prasekolah (36-72 bulan), anak dapat diikutkan pada kegiatan di Pusat Pendidikan Anak Dini Usia (PADU), kelompok bermain taman kanak-kanak. Lakukan pemeriksaan/skrining rutin menggunakanKPSP setiap 3 bulan pada anak berumur kurang dari 24 bula dan setiap 3 bulan pada anak berumur kurang dari 24 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 24 sampai 72 bulan. Bila perkembangan anak meragukan (M), lakukan tindakan berikut : o Beri petunjuk pada ibu agar melakukan stimulasi perkembangan pada anak lebih sering lagi, setiap saat dan sesering mungkin. o Ajarkan ibu cara melakukan intervensi stimulasi perkembanagn anak untuk mengatasi penyimpangan/mengejar ketinggalannya. o Lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mencari kemungkinan adanya penyakit yang menyebabkan penyimpangan perkembangannya. o Lakukan penilaian ulang KPSP 2 minggu kemudian dengan mengunakan daftar KPSP yang sesuai dengan umur anak. o Jika hasil KPSP ulang jawaban Ya tetap 7 atau 8 maka kemungkinan ada penyimpangan (P).

Bila tahapan perkembangan terjadi penyimpangan (P), lakukan tindakan berikut : Rujukan ke Rumah Sakit dengan menuliskan jenis dan jumlah penyimpanagan perkembangan (gerak kasar, gerak halus, bicara & bahasa, sosialisasi dan kemandirian).

B. Tes Daya Dengar (TDD) Tujuan tes daya dengar adalah untuk menemukangangguan pendengaran sejak dini, agar dapat segera ditindaklajuti untuk meningkatkan kemampuan daya dengar dan bicara anak. Jadwal TDD adalah setiap 3 bulan pada bayi umur kurang dari 12 bulan dan setiap 6 bulan pada anak umur 12 bulan ke atas. Tes ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PADU dan petugas terlatih lainnya. Alat/sarana yang diperlukan adalah : Instrument TDD menurut umur anak. Gambar binatang (ayam, anjing, kucing), manusia. Mainan (boneka,kubus, sendok, cangkir, bola)

Cara melakukan TDD : Tanyakan tanggal, bulan, tahun anak lahir, hitung umur anak dalam bulan. Pilih daftar pertanyaan TDD yang sesuai dengan umur anak. Pada anak umur kurang dari 24 bulan : Semua pertanyaan harus dijawab oleh orang tua/pengasuh anak. Tidak usah ragu-ragu atau takut menjawab, karena tidak untuk mencari siapa yang salah. Bacakan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu berurutan. Tunggu jawaban dari orang tua/pengasuh anak. Jawaban YA jika menurut orang tua/pengasuh anak, anak dapat melakukannya dalam satu bulan terakhir. Jawaban TIDAK jika menurut orang tua/pengasuh anak tidak pernah, tidak tahu atau tak dapat melakukannya dalam satu bulan terakhir.

Pada anak umur 24 bulan atau lebih : Pertanyaan-pertanyaan berupa perintah melalui orangtua/pengasuh anak untuk dikerjakan oleh anak. Amati kemampuan anak dalam melakukan perintah orang

tua/pengasuh. Jawaban YA jika anak dalam melakukan perintah orang tua/pengasuh. Jawaban TIDAK jika anak tidak dapat melakukan perintah

orangtua/pengasuh. Interpretasi : Bila ada satu atau lebih jawaban TIDAK, kemungkinan anak mengalami gangguan pendengaran. Catat dalam buku KIA atau kartu kohort bayi/balita atau status/catatan medic anak, jenis kelainan. Intervensi : Tindak lanjut sesuai dengan buku pedoman yang ada. Rujuk ke RS bila tidak dapat ditanggulangi.

C. Tes Daya Lihat (TDL) tujuan tes daya lihat ini adalah untuk mendeteksi secara dini kelainan daya lihat agar segera dapat dilakukan tindakan lanjutan sehingga kesempatan untuk memperoleh ketajaman daya lihat menjadi lebih besar. Jadwal tes daya lihat dilakukan setiapa 6 bulan pada anak usia prasekolah umur 36 sampai 72 bulan. Tes ini dilaksanakan oleh tenaga kesehatan, guru TK, tenaga PADU dan petugas terlatih lainnya. Alat/sarana yang diperlukan adalah : Ruangan yang bersih, tenang dengan penyinaran yang baik Dua buah kursi, 1 untuk anak, 1 untuk pemeriksa. Poster E untuk digantung dan kartu E untuk dipegang anak.

Cara melakukan tes daya lihat : Pilih suatu ruangan yang bersih dan tenang, dengan penyinaran yang baik. Gantungkan poster E setinggi mata anak pada posisi duduk.

Letakkan sebuah kursi sejauh 3 meter dari poster E, menghadap ke poster E. Letakkan sebuah kursi lainnya di samping poster E untuk pemeriksa. Pemeriksa memberikan kartu E pada anak. Latih anak dalam mengarahkan kartu E menghadapatas, bawah, kiri, dan kanan, sesuai yang diyunjuk pada poster E oleh pemeriksa. Beri pujian setiap kali anak mau melakukannya. Lakukan hal ini sampai anak dapat mengarahkan kartu E dengan benar.

Selanjutnya, anak diminta menutup sebelah matanya dengan buku atau kertas. Dengan alat penunjuk, tunjuk huruf E pada poster, satu persatu mulai baris pertama sampai baris keempat atau baris E terkecil yang masih dapat dilihat. Puji anak setiap kali dapat mencocokkan posisi kartu E yang dipegangnya dengan huruf E pada poster.

Ulangi pemeriksaan tersebut pada mata satunya dengan cara yang sama. Tulis baris E terkecil yang masih dapat dilihat, pada kertas yang telah disediakan : Mata kanan : .. Mata . kiri :

Interpretasi : Anak prasekolah umunya tidak mengalami kesulitan melihat sampai baris keyiga pada poster E. Bila kedua mata anak tidak dapat melihat baris ketiga poster E, artinya tidak dapat mencocokkan arah kartu E yang dipegangnya dengan arah E pada baris ketiga yang ditunjuk oleh pemeriksa, kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat.

Intervensi : Bila kemungkinan anak mengalami gangguan daya lihat, minta anak datang lagi untuk pemeriksaan ulang. Bila pada pemeriksa berikutnya, anak tidak dapat melihat sampai baris yang sama, atau tidak dapat melihat baris yang

sama dengan kedua matanya rujuk ke Rumah Sakit dengan menuliskan mata yang mengalami gangghuan (kanan, kiri atau keduanya).

INSTRUMEN TES DAYA DENGAR ANAK MENURUT UMUR ANAK Umur 6 bulan 1. Pada waktu bayi tidur kemudian anda berbicara atau Ya Tidak membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? 2. Pada waktu bayi tidur telentang dan anda dudyk di dekat Ya Tidak kepala bayi pada posisi yang tidak terlihat oleh bayi, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambul mengangkat kaki tangannya ke atas ? 3. Apabila ada suara nyaring (missal suara batuk, salak anjing, Ya Tidak piring jatuh ke lantai dan lainnya), apakah bayi terkejut atau terlompat ? Umur 6-9 bulan 1. Pada waktu bayi tidur kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? 2. Pada waktu bayi tidur telentang dan anda Ya duduk di dekat kepala bayi pada posisi yang tidak terlihat oleh bayi, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambul mengangkat kaki tangannya ke atas ? 3. Apabila ada suara nyaring (misal suara batuk, Ya salak anjing, piring jatuh ke lantai dan Tidak Tidak Ya Tidak

lainnya), apakah bayi terkejut atau terlompat ? 4. Anda berada di sisi yang tidak terlihat oleh bayi, sebut namanya atau bunyikan sesuatu, apakah bayi memalingkan kepala mencari sumber suara ? Ya Tidak

Umur 9 12 bulan 1. Pada waktu bayi tidur kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah bayi akan bergerak atau terbangun dari tidurnya ? 2. Pada waktu bayi tidur telentang dan anda Ya duduk di dekat kepala bayi pada posisi yang tidak terlihat oleh bayi, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah bayi terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambul mengangkat kaki tangannya ke atas ? 3. Apabila ada suara nyaring (misal suara batuk, Ya salak anjing, piring jatuh ke lantai dan lainnya), apakah bayi terkejut atau terlompat ? 4. Anda berada di sisi yang tidak terlihat oleh bayi, sebut namanya atau bunyikan sesuatu, apakah bayi memalingkan kepala ke arah sumber suara tersebut di samping atau di belakangnya ? Umur 12 24 bulan 1. Pada waktu anak tidur kemudian anda berbicara atau membuat kegaduhan, apakah anak akan bergerak atau Y a T i Ya Tidak Tidak Tidak Ya Tidak

terbangun dari tidurnya ?

d a k

2. Pada waktu anak tidur telentang dan anda duduk di dekat Ya kepala anak pada posisi yang tidak terlihat oleh anak, kemudian anda bertepuk tangan dengan keras, apakah anak terkejut atau mengerdipkan matanya atau menegangkan tubuh sambil mengangkat kaki tangannya ke atas ? 3. Apabila ada suara nyaring (misal suara batuk, salak anjing, Ya piring jatuh ke lantai dan lainnya), apakah anak terkejut atau terlompat ? 4. Tanpa terlihat oleh anak, buat suara yang menarik perhatian anak, apakah anak langsung mengetahui posisi anda sebagai sumber suara yang berpindah-pindah ?

Tida k

Tida k

Y a

T i d a k

5. Ucapkan kata-kata yang mudah dan sederhana, dapatkah anak menirukan anda ?

Y a

T i d a k

Umur 2 3 tahun 1. Tutup mulut anda dengan buku/kertas, tanpa melihat gerakan bibir anda, tanyakan pada anak : Pegang matamu, Pegang kakimu. Apakah anak memegang mata dan kakinya dengan benar ? 2. Pilih gambar dari majalah/buku bergambar, tutup mulut anda dengan buku/kertas, tanpa Ya Tidak Ya Tidak

melihat gerakan bibir anda, tanyakan pada anak : Tunjukkan gambar kucing (atau anjing, kuda, mobil, orang rumah, bunga, dan sebagainya)? Dapatkah anak menunjukkan gambar yang dimaksud dengan benar ? 3. Tutup mulut anda dengan buku/kertas, tanpa melihat gerakan bibir anda, perintahkan anak untuk mengerjakan sesuatu seperti : berikan boneka itu kepada saya, taruh kubus-kubus ini di atas meja/kursi, dan sebagainya. Apakah anak dapat mengerjakan perintah tersebut dengan benar? Ya Tidak

Umur Lebih dari 3 tahun 1. Perlihatkan benda-benda yang ada di sekeliling anak, seperti sendok, cangkir, bola, bunga, dan sebagainya. Suruh anak menyebutkan nama benda-benda tersebut. Apakah anak dapat menyebutkan nama benda-benda tersebut dengan benar ? 2. Suruh anak duduk, anda duduk dalam jarak 3 meter di depan ucapkan : Empat, Satu, delapan, atau menirukan dengan menggunakan jari tangannya. Kemudian tutup mulut anda dengan buku/kertas, ucapkan 4 angka yang berlainan. Apakah anak dapat mengulangi atau menirukan ucapan anda dengan menggunakan jari tangannya? (anda dapat mengulanginya dengan suara yang lebih keras Ya Tidak Ya Tidak

3. DETEKSI DINI PENYIMPANGAN MENTAL EMOSIONAL Deteksi dini penyimpangan mental emosional adalah kegiatan/pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya masalah mental emosional, autism, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas pada anak, agar dapat segera dilakukan tindakan intervensi. Bila penyimpangan mental emosional terlambat diketahui, maka intervensinya akan lebih suliy dalam hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang anak. Deteksi ini dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Ada beberapa jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan mental emosional pada anak, yaitu : o Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) bagi anak umjur 36 bulan sampai 72 bulan. o Ceklis autis anak prasekolah (Ceklist For Autism in Toddlers/CHAT) bagi anak umur 18 bulan sampai 36 bulan. o Formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) menggunakan Abreviated Conner Rating Scale bagi anak umur 36 bulan ke atas.

A. Deteksi Dini Masalah Mental Emosional Pada Anak Prasekolah o Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya penyimpangan/masalah mental emosional pada anak pra sekolah o Jadwal deteksi dini masalah mental emosional adalah rutin setiap 6 bulan pada anak umur 36 bulan sampai 72 bulan. Jadwal ini sesuai dengan jadwal skrining/pemeriksaan perkembangan anak. o Alat yang digunakan adalah kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME) yang terdiri dari 12 pertanyaan untuk mengenali problem mental emosional anak, umur 36 bulan sampai 72 bulan. o Cara melakukan : Tanyakan setiap pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku yang tertulis pada KMME kepada orang tua/pengasuh anak. Catat jawaban YA, kemudian hitung jumlah jawaban YA.

o Interpretasi : Bila ada jawaban YA, maka kemungkinan anak mengalami masalah mental emosional. o Intervensi : Bila jawaban YA, hanya 1 (satu) : Lakukan konseling kepada orang tua menggunakan BUku Pedoman Pola Asuh Yang Mendukung Perkembangan Anak. Lakukan evaluasisetelah 3 bulan, bila tidak ada perubahan rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak. Bila jawaban YA, ditemukan 2 (dua) atau lebih : Rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak. Rujukan harus disertai informasi mengenai jumlah dan masalah mental emosional yang ditemukan.

KUESIONER MASALAH MENTAL EMOSIONAL (KMME) No 1 Pertanyaan Apakah anak anda seringkali terlihat marah tanpa sebab yang jelas ? (seperti banyak menangis, mudah tersinggung atau bereaksi berlebihan terhadap hal-hal yang sudah biasa dihadapinya) 2 Apakah anak anda tampak menghindar dari teman-teman atau anggota keluarganya? (seperti ingin merasa sendirian, menyendiri atau merasa sedih sepanjang waktu, kehilangan minat terhadap hal-hal yang biasa sangat dinikmati) 3 Apakah anak anda terlihat berperilaku merusak dan menentang terhadap lingkungan di Ya Tidak

sekitarnya?

(seperti melanggar peraturan yang ada, mencuri, seringkali melakukan perbuatan yang berbahaya bagi dirinya, atau menyiksa binatang atau anak2 lainnya) Dan tampak tidak perduli dengan nasihatnasihat yang sudah diberikan padanya? 4 Apakah anak anda memperlihatkan adanya perasaan ketakutan atau kecemasan berlebihan yang tidak dapat dijelaskan asalnya dan tidak sebanding dengan anak lain seusianya? 5 Apakah anak anda mengalami keterbatasan oleh karenaadanya konsentrasi yang buruk atau mudah terlih perhatiannya, sehingga mengalami penurunan dalam aktivitas sehari-hari atau prestasi belajarnya? 6 apakah anak anda menunjukkan perilaku

kebingungan sehingga mengalami kesulitan dalam berkomunikasi dan membuat keputusan? 7 Apakah anak anda menunjukkan adanya

perubahan pola tidur? (seperti sulit tidur sepanjang waktu, terjaga sepanjang hari, sering terbangun di waktu tidur malam oleh karena mimpi buruk, mengigau) 8 Apakah anak anda mengalami perubahan pola makan? (seperti kehilangan nafsu makan, makan

berlebihan atau tidak mau makan sama sekali) 9 Apakah anak anda seringkali mengeluh sakit kepala, sakit perut atau keluhan-keluhan fisik lainnya? 10 Apakah anak anda seringkali mengeluh putus

asa

atau

berkeinginan

untuk

mengakhiri

hidupnya? 11 Apakah anak anda menunjukkan adanya

kemunduran perilaku atau kemampuan yang sudah dimilikinya? (seperti mengompol kembali, menghisap

jempol, atau tidak mau berpisah dengan orang tua/pengasuhnya) 12 Apakah anak anda melakukan perbuatan yang berulang-ulang tanpa alas an yang jelas?

B. Deteksi Dini Autis Pada Anak Prasekolah o Tujuannya adalah untuk mendeteksi secara dini adanya autis pada anak umur 18 bulan sampai 36 bulan. o Jadwal deteksi dini autis pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bial ada keluhan dari ibu/pengasuh atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PADU, pengelola TPA dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan dibawah ini : Keterbatasan berbicara Gangguan komunikasi/interaksi social Perilaku yang berulang-ulang

o Alat yang digunakan adalah CHAT (Checklist for Autism Toddlers). CHAT ini ada 2 jenis pertanyaan, yaitu : Ada 9 pertanyaan yang dijawab oleh orang tua/pengasuh anak. Pertanyaan diajukan secara berurutan, satu persatu. Jelaskan kepada orangtua untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab. Ada 5 perintah bagi anak, untuk melaksanakan tugas seperti yang tertulis CHAT. o Cara menggunakan CHAT

Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku yang tertulis pada CHAT kepada orang tua atau pengasuh anak. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan tugas pada CHAT Catat jawaban orang tua/pengasuh anak dan kesimpulan hasil

pengamatankemampuan anak, YA atau TIDAK. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab. o Interpretasi : Risiko tinggi menderita autis: bila jawaban Tidak pada pertanyaan A5, A7, B2, B3, dan B4. Risiko rendah menderita autis : bila jawaban Tidak pada pertanyaan A7 dan B4 Kemungkinan gangguan perkembangan lain : bila jawaban Tidak jumlahnya 3 atau lebih untuk pertanyaan A1-A4; A8-A9; B1; B5. Anak dalam batas normal bila tidak termasuk dalam kategori 1, 2, dan 3. o Intervensi : o Bila anak risiko menderita autis atau kemungkinan ada gangguan perkembangan, rujuk ke Rumah Sakit yang memiliki fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak.

CEKLIS DETEKSI DINI AUTIS PADA ANAK UMUR 16-36 BULAN CHAT (Checklist For Autism In Toddlers) A 1 Alo anamnesis Apakah anak senang diayun-ayun atau Ya Tidak

diguncang-guncang naik turun (bounched) dipaha anda? 2 3 Apakah anak tertarik (memperhatikan) anak lain? Apakah anak suka memanjat-manjat, seperti memanjat tangga? 4 Apakah anak suka bermain ciluk-ba, petak umpet?

Apakah anak pernah bermain berbentuk cangkir dan teko, atau permainan lain?

apakah anak pernah menunjuk atau meminta sesuatu dengan menunjukkan jari ?

Apakah anak pernah menggunakan jari unruk mneunjukk ke sesuatu agar anda melihat ke sana?

Apakah anak dapat bermain dengan mainan yang kecil (mobil atau kubus) ?

Apakah anak pernah memberikan suaru benda untuk menunjukkan sesuatu?

B 1

Pengamatan Selama pemeriksaan apakah ank menatap (kontak mata) dengan pemeriksa?

Ya

Tidak

Usahakan menarik perhatian anak, kemudian pemeriksa menunjuk sesuatu di ruangan pemeriksa sambil mengatakan : Lihat itu ada bola (atau mainan lain)! Perhatikan mata anak, apakah ia melihat ke benda yang ditunjuk, bukan melihat tangan pemeriksa?

Usahakan

menarik

perhatian

anak,

berikan

mainan gelas/cangkir dan teko. Katakan pada anak : secangkir susu buat mama! 4 Tanyakan pada anak : Tunjukkan mana gelas! (gelas dapat diganti dengan nama benda lain yang dikenal anak dan ada di sekitar kita). Apakah anak menunjukkan benda tersebut dengan

jarinya? Atau sambil menatap wajah anda ketika menunjuk ke suatu benda? 5 Apakah anak dapat menumpuk beberapa

kubus/balok menjadi suatu menara?

C. Deteksi Dini Gangguan Pemusatan Perhatian Dan Hiperaktivitas (GPPH) Pada Anak Prasekolah o Tujuannya adalah untuk mengetahui secara dini anak adnya Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) pada anak umur 36 bulan ke atas. o Jadwal deteksi dini GPPH pada anak prasekolah dilakukan atas indikasi atau bila ada keluhan dari orang tua/pengasuh anak atau ada kecurigaan tenaga kesehatan, kader kesehatan, BKB, petugas PADU, pengelola TPA, dan guru TK. Keluhan tersebut dapat berupa salah satu atau lebih keadaan di bawah ini : Anak tidak bisa duduk tenang Anak selalu bergerak tanpa tujuan dan tidak mengenal lelah Perubahan suasan hati yang yang mendadak/impulsive

o Alat yang digunakan adalah formulir deteksi dini Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas/GPPH (Abbreviated Conners Ratting Scale) Formulir ini terdiri dari 10 pertanyaan yang ditanyakan ke[pada

orangtua/pengasuh anak/guru TK dan pertanyaan yang perlu pengamatan pemeriksa. o Cara menggunakan formulir deteksi dini GPPH : Ajukan pertanyaan dengan lambat, jelas dan nyaring, satu persatu perilaku yang tertulis pada formulir deteksi dini GPPH. Jelaskan kepada orang tua/pengasuh anak untuk tidak ragu-ragu atau takut menjawab. Lakukan pengamatan kemampuan anak sesuai dengan pertanyaan pada formulir deteksi dini GPPH Keadaan yang ditanyakan/diamati ada pada anak dimanapun anak berada, missal ketika di rumah, sekolah, pasar, took, dll. Setiap saat dan ketika anak dengan siapa saja.

Catat jawaban dan hasil pengamatan perilaku anak selama dilakukan pemeriksaan. Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab.

o Interpretasi : Beri nilai pada masing-masing jawaban sesuai dengan bobot nilai berikut ini dan jumlahkan nilai masing-masing jawaban menjadi nilai total Nilai 0 : jika keadaan tersebut tidak ditemukan pada anak Nilai 1 : jika keadaan tersebut kadang-kadang ditemukan pada anak. Nilai 2 : jika keadaan tersebut sering ditemukan pada anak Nilai 3 : jiak keadaan tersebut selalu ada pada anak. Beri nilai total 13 atau lebih anak kemungkinan dengan GPPH. o Intervensi : Anak dengan kemungkinan GPPH perlu dirujuk ke Rumah Sakit yang memiliki : fasilitas kesehatan jiwa/tumbuh kembang anak untuk konsultasi lebih lanjut. Beri nilai total kurang dari 13 tetapi anda ragu-ragu, jadwalkan pemeriksaan ulang 1 bulan kemudian. Ajukan pertanyaan kepada orang-orang terdekat dengan anak (orang tua, pengasuh, nenek, guru dsb).

FORMULIR DETEKSI DINI GANGGUAN PEMUSATAN PERHATIAN DAN HIPERAKTIVITAS (GPPH) (Abbreviated Conners Ratting Scale)

Kegiatan yang diamati 1. Tidak kenal lelah, atau aktivitas yang berlebihan 2. Mudah menjadi gembira, impulsive 3. Menganggu anak-anak lain 4. Gagal menyelesaikan kegiatan yang telah dimulai, rentang perhatian pendek 5. Menggerak-gerakkan anggota badan atau kepala secara terus-menerus 6. Kurang perhatian, mudah teralihkan 7. Permintaannya harus segera dipenuhi,

,mudah menjadi frustasi 8. Sering dan mudah menangis 9. Suasana hatinya mudah berubah dengan cepat dan drastis 10. Ledakkan kekesalan, tingkah laku eksplosif dan tak terduga. Jumlah Nilai total :

1. Teori & Pemantauan Perkembangan Teori perkembangan Berikut akan diuraikan secara singkat beberapa teori perkembangan yang dianut oleh Sigmund Freud, Erik Erikson, jean Piaget, dan Robert Sears. Mereka menyoroti perkembangan dari berbagai aspek yang berbeda, namun semua sepakat bahwa proses perkembangan terjadi selangkah demi selangkah secara urut dan teratur. Bila anak telah dapat menguasai dengan baik tugas perkembangan pada tahap tertentu, baru ia akan melangkah dengan mantap ke tahap perkembangan berikutnya yang lebih kompleks. Gangguan perkembangan akan terjadi bila anak tidak berhasil menyelesaikan tugas perkembangan dalam suatu tahap tertentu. Sigmund Freud Sigmund Freud terkenal sebagai penggali teori alam bawah sadar dan pakar psikoanalisis. Tapi kita sering lupa bahwa Freud lah yang menekankan pentingnya arti perkembangan psikososial pada anak. Ia menerangkan bahwa berbagai problem yang dihadapi penderita dewasa ternyata disebabkan oleh gangguan atau hambatan yang dialami selama perkembangan psikososialnya. Freud membangun suatu rangka perkembangan psikososial yang sangat komprehensif, dinamik dan sistematik. Ia mnguraikan tentang akibat buruk pada masa dewasa akibat hambatan atau gangguan perkembangan psikososial. Tujuan psikoterapi yang ia lakukan adalah untuk membantu penderita menyelesaikan hambatan fase perkembangan lampau sehingga dapat melangkah dengan lebih mantap menuju kedewasaan. Freud membagi perkembangan menjadi 5

tahap yang secara beurut dilalui oleh setiap individu dalam perkembangan menuju kedewasaan, yaitu 1) fese oral, 2) fase anal, 3) fase falik/oedipal, 4) fase laten, 5) fase genital.

Fase oral. Disebut fase oral karena dalam hal ini anak mendapat kenikmatan dan kepuasan dari pengalaman sekitar mulutnya. Fase oral mencakup tahun pertama kehidupan ketika anak sangat tergantung dan tidak berdaya. Ia perlu dilindungi agar mendapat rasa aman. Menurut Freud dsar perkembangan mental yang sehat sangat tergantung dari hubungan ibu-anak pada fase ini. Bila ibu berhasil memuaskan kebutuhan dasar anak maka anak tersebut merasa aman dan dapat melangkah dengan mantap ke fase berikutnya. Tetapi terdapat beberapa titik rawan dalam fase ini yang berhubungan dengan persoalan makan dan menyapih yang tampaknya sederhana namun ternyata mempunyai arti sangat penting. Bila terdapat gangguan atau hambatan dalam hal ini maka akan terjadi fiksasi oral, artinya pengalaman buruk tentang masalah makan dan menyapih akan menyebabkan anak terfiksasi pada fase ini sehingga perilakunya kelak akan banyak terarah untuk mencari kepuasan yang tidak diperoleh pada fase oral. Betapa penting peran ibu dapat terlihat dari cara anak menyelesaikan fase tersebut. Bila fase pertama ini dapat diselesaikan dengan baik maka anak telah siap untuk melangkah dengan mantap ke fase berikutnya. Bila fase pertama belum terselesaikan dengan baik maka persoalan ini akan terbawa ke fase kedua. Ketidaksiapan tersebut tampak pada perilaku anak yang tetap mau tergantung dan menolak untuk mandiri. Kadang anak menutupi ketidak siapan tersebut dengan memusatkan perhatiannya pada berbagai tuntutan fase berikutnya sehingga tampak perilaku anak yang terlalu mandiri. Ketidak siapan ini meskipun berhasil ditutupi biasanya kelak akan muncul kembali berupa berbagai gangguan tingkah laku.

Fase anal. Fase kedua atau fase anal berlangsung antara umur 1-3 tahun. Pada fase ini anak mulai menunjukkan sikap ke-AKU-annya. Sikapnya sangat narsisistik dan egoistic. Ia pun mulai belajar kenal dengan tubuhnya sendiri dan mendapatkan kepuasan dari pengalaman autoerotiknya. Sesuai dengan namanya Fase anal, salah satu tugas utama anak pada fase ini adalah latihan kebersihan atau disebut juga latihan toilet. Anak mengalami perasaan nikmat pada saat menahan, maupun pada saat mengeluarkan tinjanya. Sebagian kenikmatan ini berasal dari rasa

kepuasan yang bersifat egosentrik, yaitu bahwa ia bisa mengendalikan sendiri fungsi tubuhnya. Bagian lain kenikmatan tersebut berasal dari perasaan yang berhubungan dengan daerah erogen anus. Bila orang tua tidak dapat membantu anak untuk menyelesaikan tugas latihan kebersihan dengan baik, maka akan timbul bebagai macam kesulitan tingkah laku. Bila latihan kebersihan dilakukan orang tua secara berlebihan, misalnya dengan kemarahan dan hukuman, maka anak dapat membalasnya dengan meretensi tinjanya, sambil menunjukan kekuasaan dirinya pada orang tuanya: terjadilah obstipasi psokogenik. Sebaliknya bisa juga si anak malah menbuang tunjanya secara sering dan sembarangan untuk melawan ibunya yang bersifat pembersih secara berlebihan, terjadilah enkropesi. Menurut Sigmund Freud, sisa-sisa konflik pada fase anal ini akan menimbulkan kepribadian yang anal-retentif atau anal-ekchulsif. Seorang dengan kepribadian anal-retentif, mempunyai sifat yang obsesif, berpandangan sempit, introvent, dan juga pelit. Sebaliknya, kepribadian anal-ekchulsif ditandai oleh sifat yang ekstrovert, impulsive, tidak rapih, dan kurang pengendalian diri. Suatu tugas penting yang lain dalam fase ini adalah perkembangan pembicaraan dan bahasa. Anak mula-mula hanya mengeluarkan bahasa suara yang tidak ada artinya, hanya untuk merasakan kenikmatan dari sekitar bibir dan mulutnya. Melihat reaksi yang menunjukkan rasa senang dari orang tua dan orang lain di sekitarnya atas suara-suara tersebut, anak mulai berusaha untuk meniru dan mengulang, dan akhirnya keluarlah mama dan papa, dan kemudian timbul bahasa kata dan kalimat yang ada artinya. Pada fase ini hubungan interpersonal anak masih sangat terbatas. Ia melihat benda-benda hanya untuk kebutuhan dan kesenangan dirinya. Pada umur ini seorang anak masih bermain sendiri, ia belum bisa berbagi atau main bersama dengan anak lain. Sifatnya masih sangat egosentrik dan sadistic.

Fase oedipal. Fase falik sebenarnya terbentang antara umur 3-12 tahun. Fase ini dibagi dua lagi, yaitu menjadi fase oedipal antara 3-6 tahun, dan fase laten antara 6-12 tahun. Fase oedipal dengan pengenalan anak akan bagian tubuhnya sendiri pada umur sekitar 3 tahun, anak mulai melakukan rangsangan auto-erotik, yaitu meraba-raba dan merasakan kenikmatan dari beberapa daerah erogennya. Anak mulai bisa merasakan dorongan seksualitas yang

kemudian ditunjukkan kepada orang tua dengan jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya. Perasaan ini menimbulkan dorongan untuk bersaing dengan orang tua yang mempunyai jenis kelamin yang sama dengan dirinya. Untuk merebutkan perhatian orang tua yang lain. Persaingan seperti ini cukup aman bagi anak, oleh karena pada orang tua biasanya tidak merasa terancam, atau malah menganggap perasaan anak tersebut lucu. Dengan demikian anak bisa merasakan rasa seksual yang berkembang ini dengan lebih bebas. Namun demikian, lama kelamaan anak akan sadar sendiri bahwa ia tidak akan mungkin mengekspresikan perasaannya dengan seenaknya dan juga tidak mungkin memenangkan persaingan melawan orang tuanya, maka ia belajar untuk menahan diri. Di ssini tampak bahwa anak mulai belajar menyesuaikan diri dengan hukumanhukuman masyarakat, dan dengan demikian superegonya mulai berkembang. Perasaan seksual yang negative ini kemudioan menyebabkan ia menjauhi orang tua dengan jenis kelamin yang berbeda, dan ia mulai mendekat pada orang tua dengan jenis kelamin yang sama. Dimulailah proses identifikasi seksual. Perpindahan identifikasi ini dapat kita tandai dari pergaulan si anak dengan teman-temannya. Anak pada fase pra-oedipal biasanya senang bermain dengan anak yang jenis kelaminnya berbeda, sedangkan anak pasca-oedipal lebih suka berkelompok dengan anak sejenis.

Fase laten. Resolusi konflik oedipal ini menandai permulaan fase laten yang terentang dari umur 7-12 tahun, untuk kemudian anak masuk ke permulaan masa pubertas. Periode ini merupakan periode integrasi, yang bercirikan anak harus berhadapan dengan berbagai macam tuntutan social seperti hubungan kelompok, pelajaran sekolah, konsep moral dan etik, dan hubungan dengan dunia dewasa. Anak belajar untuk merayap dan mengintegrasikan pengalaman baru ini. Dalam fase berikutnya, berbagai tekanan akan dirasakan lebih berat oleh karena terbaur dengan keadaan transisi yang sedang dialami si anak. Fase genital. Dengan selesainya fase laten, maka sampailah anak pada fase terakhir dalam perkembangan, yaitu fase genital. Dalam fase ini si anak harus menghadapi berbagai persoalan yang kompleks; dan ia diharapkan untuk bisa bereaksi sebagai orang dewasa, sedangkan sebenarnya ia masih dalam masa transisi. Kesulitan yang sering timbul pada fase ini seringkali

disebabkan oleh karena si anak belum dapat menyelesaikan fase sebelumnya dengan tuntas. Bila anak telah dapat menyelesaikan segala tugas dan persoalan pada fase sebelumnya dengan baik, maka boleh dikatakan bahwa ia telah dapa menyelesaikan segala tugas dan persoalan pada fase sebelumnya denga baik, maka boleh dikatakan bahwa ia telah dapat menyelesaikan proses perkembangan sosialnya, dari anak hingga dewasa dengan baik.

Erik Erikson Teori psikoanalisis Freud dikembangkan oleh Erikson untuk lebih menekankan pentingnya perkembangan dan juga untuk menyoroti peran si anak sendiri di dalam proses perkembangannya. Erikson melihat anak sebagai makhluk psikososial yang penuh dengan energy. Ia mngungkapkan bahwa perkembangan emosional berjalan sejajae dengan pertumbuhan fisis, dan ada interaksi antara perkembangan fisis dan psikologis. Ia melihat adanya suatu keteraturan yang sama antara perkembangan psikologis dan pertumbuhan fisis, dan ia merasakan bahwa dua-duanya berusaha untuk mengadakan keseimbangan. Dalam perjalanan kearah kedewasaan, perkembangan psikologis, biologis dan social akhirnya akan menyatu. Erikson melihat bahwa anak adalah suatu gabungan dari organism, ego dan makhluk social pada setiap saat. Sumbangan Erikson lain yang penting adalah perhatiannya terhadap cara anak bermain. Ia melihat bahwa anak memakai bermain untuk mengatasi berbagai persoalan. Dalam permainan anak dapat mengulanmg suatu tindakan, mengatasinya, dan mengaturnya untuk mengadakan keseimbangan dalam diriny. Erikson berpendapat bahwa cara terbaik untuk mempelajari ego anak adalah dengan mempelajari cara anak itu bermain. Anak dapat memuaskan perasaannya dalam bermain, oleh karena proses bermain selalu aman dan memberi kesempatan untuk memuaskan fantasinya dan belajar menghadapi realitas. Dapat dikatakan bahwa observasi dan

analisis bermain Erikson kira-kira sejajar dengan analisis mimpi Freud. Erikson membagi perkembangan manusia dari awal hingga akhir hayatnya menjadi 8 fase dengan berbagai tugas yang harus diselesaikan pada setiap fase. Lima fase pertama adalah saat anak tumbuh dan berkembang.

Masa bayi. Kepercayaan dasar vs ketidak percayaan. Dalam masa ini terjadi interaksi sosial yang erat antara ibu dan anak yang dapoat menimbulkan rasa aman dalam diri si anak. Rasa aman yang dinikmati oleh anak tadi dapat kita lihat dari enaknya ia makan, nyenyaknya ia tidur, dan mudahnya ia defekasi. Berkembangnya perasaan aman ini tidak tergantung dari kuantitas makan dan demontrasi saying yang diberikan pada anak, akan tetapi banyak dipengaruhi oleh kualitas hubungan ibu dan anak. Dari rasa aman ini tumbuh rasa kepercayaan dasar terhadap dunia luar. Bila karena suatu sebab kepercayaan ini tidak berhasil tumbuh dalam diri anak, maka akan timbul rasa tidak aman dan tidak percaya terhadap dunia luar dan sesame manusia. Dalam psikopatologi, tidak adanya kepercayaan dasar ini dapat kita amati pada anak yang menderita skizofrenia, sedangkan kurangnya kepercayaan dasar terhadap dunia luar dapat kita lihat pada orang dewasa yang seringkali menarik didi kedalam dunianya sendiri (skiziod) dan mengalami depresi bila mendapat stress.

Masa balita. Kemandirian vs ragu dan malu. Masa balita dari Erikson ini kira-kira sejajar dengan fase anal dari Sigmund Freud. Pada masa ini sedang belajar untuk menegakkan kemandiriannya namun ia belum dapat berpikir secara diskriminatif, oleh karena itu masih perlu mendapatkan bimbingan yang tegas. Meskipun lingkungan mengharapkan anak untuk dapat mandiri, anakpun masih perlu dilindungi tehadap pengalaman yang dapat menimbulkan rasa ragu dan malu. Secara bertahap anak akan belajar untuk mengendalikan diri. Bila ia berhasil mengendalikan diri tanpa harus kehilangan harga diri, maka akan timbul rasa kebanggaan dan percaya diri padanya.

Sebaliknya bila ia tidak diberi kesempatan untuk bisa mengendalikan diri secara mandiri melainkan terlalu banyak dikendalikan dari luar, maka akan timbul bibit keraguan dan rasa malu yang berlebihan. Psikopatologi yang banyak ditemukan sebagai akibat kekurangan dalam fase ini adalah sifat obsesif-kompulsif, dan yang lebih berat lagi adalah sifat atau keadaan paranoid.

Masa bermain. Inisiatif vs rasa bersalah. Masa ini berkisar antara 4-6 tahun. Anak pada umur ini sangat aktif dan banyak bergerak. Ia mulai belajar mengembangkan kemampuannya untuk bermasyarakat. Inisiatifnya mulai berkembang pula dan bersama temannya mulai belajar merencanakan suatu permainan dan melakukannya dengan gembira. Norma masyarakat telag ditanamkan pada anak oleh orang tua dan lingkungan. Hal ini menyebabkan timbulnya rasa bersalah oleh karena adanya rasa persaingan dengan oaring tua yang sejenis. Salah satu konflik yang sangat mendasar adalah timbulnya rasa kebencian pada orang tua yang telah menanamkan superego dalam diri si anak, namun kemudian orang tua itu sendiri ketahuan melakukan hal-hal yang dilarangkannya pada anaknya. Pada orang dewasa, psikopatologi yang sering tampak sebagai akibat sisa konflik pada masa ini adalah reaksi hysteria dan reaksi psikosomatik.

Masa sekolah. Berkarya vs rasa rendah diri. Masa antara usia 6-12 tahun adalah masa anak muali memasuki dunia sekolah yang lebih formal. Ia sekarang berusaha untuk merebut perhatian dan penghargaan atas karyanya. Ia belajar untuk menyelesaikan tugas yang diberikan padanya, rasa tanggung jawab mulai timbul, dan ia mulai senang untuk belajar.(5) Jean Piaget Piaget adalah pakar paling terkemuka dalam bidang teoti perkembangan kognitif. Seperti juga Freud, Piaget melihat bahwa perkembangan itu mulai dari suatu orientasi yang egosentrik, kemudian makin meluas dan akhirnya memasuki dunia soaial. Piaget membagi perkembangan menjadi 4 fase, yaitu :

1) Fase Sensori-motor, 2) Fase praoperasional 3) Fase operasional konkrit

4) Fase operasional formal. 1) Fase sensori motor (0 2 tahun). Piaget melihat bahwa pada mulanya seorang anak mempunyai sifat yang sangat egosentrik dan sangat terpusat pada diri sendiri, yaitu untuk memuaskan kebutuhan dan kesenangannya. Oleh karena kebutuhan pada Fase ini kebanyakan bersifat fisik, maka yang berkembang dengan pesat adalah kemmpuan sensorik-motorik. Anak belajar untuk melakukan berbagai gerakan yang makin terkoordinasi, terarah dan bertujuan. Kepuasan yang didapat dari fungsi sensori-motornya menyebabkan si anak cepat menguasainya, dan dibekali dengan keterampilan tersebut melangkah ke fase berikutnya.

2) Fase pra-operasional (2-7 tahun) Fase ini dibagi menjadi dua, yaiotu fase pra-konseptual dan fase intuitif. Fase prakonseptual (2 4 tahun). Disinin anak mulai mengembangkan kemampuan bahasa yang memungkinkannya untuk berkomunikasi dan bermasyarakat dengan dunia kecilnya. Pada permulaannay anak masih mempertahankan sifat egosentrik dan bicaranyapun lebih banyak digunakan untuk kebutuhan dirinya, seperti minta makan, minum dan sebaginya. Makin lama anak mulai makin mahir berbahasa. Mulailah ia belajar berkomunikasi social. Namun oleh karena sifatnya masih egosentrik maka ia belum dapat menerima pendapat orang lain. Dalam fase intuitif (4-7 tahun) anak makin mampu untuk berfikir secara timbale balik. Ia banyaj=k memperhatikan dan meniru perilaku orang dewasa dan akhirnya mengambil alih norma moral dan perilaku yang dipakai oleh orang tuanya. 3) Fase operational konkrit (7 11 tahun) Pengalaman dan kemampuan yang diperoleh pada fase sebelumnya menjadi mantap. Timbul pula kesadaran atas kemampuannya untuk bekerja sama denganorang lain. Timbul pula kesadaran atas adanya proses timbal balik. Pengertian mengenai proses timbal balik inilah yang menyebabkan ia bisa lebih menerima keadaan yang berbeda.

Dalam proses timbale balik ini suatu posisi bisa berubah, dan risiko untuk melaksanakna suatu ide yang baru tidaklah terlalu berbahaya karena ia selalu bisa kembali ke titik semula.

4) Fase operasional formal (11-16 tahun) Pada akhir fase ini kemampuan berfikir anak akan mencapai taraf kemampuan berfikir orang dewasa. Ia mampu berfikir secara logis, mengeksplorasi dan menyelesaikan persoalan atas dasar berbagai kemungkinan. Kemungkinan berfikir secara operasional formal ini merupakan prasyarat untuk dapat berfikir secara hipotetik deduktif sehingga dengan demikian ia mampu untuk mengerti berbagai eksperimentasi ilmiah serta dalil logika matematik. Bentuk kemampuan kognitif seperti ini oleh Piaget dianggap sebagai bentuk kemampuan berfikir yang paling tinggi, yang sayangnya tidak bisa dicapai oleh setiap remaja. Tercapainya kemampuan ini memungkinkan remaja untuk masuk kedalam dunia pendidikan yang lebih kompleks, yaitu dunia pendidikan tinggi.

Robert Sears Sears mengembangkan teori belajar yang dikaitkan dengan perilaku anak dalam perkembangan. Kalau Sigmund freud berusaha untuk mencari penyebab timbulnya gangguan, maka Robert Sears sebaliknya tidak memperdulikan penyebab gangguan. Freud berpendapat bahwa penyebab timbulnya gangguan jiwa atau perilaku akan ditemukan pada kejadian di masa lampau sesorang. Teori Sears ini dianggap lebih praktis oleh dokter anak. Sears juga sangat menekankan pengaruh orang tua terhadap perkembangan anaknya. Ia berpendapat pola asuh sangat menentukkan perkembangan kepribadian anak. Menurut Sears, lingkungan merupakan saham terbesar dalam pembentukkan perilaku dan orang tualah yang mempunyai pengaruh paling dini dan paling kuat. Menurut Sears, cara mendidik dengan banyak menerapkan pemberian hukuman kurang efektif bila dibandingkan dengan cara pemberian hadiah. Pemberian hadiah tidak usah berupa barang, karena suatu senyuman, belaian atau kecupan, kadang-kadang mempunyai arti yang lebih besar bagi anak. Dalam proses perkembangan Sears melihat adanya hubungan timbal-balik antara perilaku anak dan sikap orang tua. Terlalu banyak

memperbolehkan dan memberikan kesempatan akan banyak menunjang perilaku yang telah ada, sedangkan terlalu banyak membatasi dan mengekang menyebabkan inhibisi perilaku. Pola asuh dan perkembangan anak tergantung dari bagaimana orang tua menemukan balas yang tepat antara terlalu banyak dan terlalu sedikit. Oleh karena penekanannya terhadap aspek belajar dan pentingnya pola asuh, dan juga karena orientasinya terhadap intervensi dan perubahan, maka teori belajar Sears mempunyai tempat yang penting diantara teri-teori perkembangan lainnya. 2. Teori & Pemantauan Pertumbuhan Penilaian Pertumbuhan Fisik 1. Ukuran antropometrik Untuk menilai pertumbuhan fisik anak, sering digunakan ukuran-ukuran antropometrik yang dibedakan menjadi 2 kelompok yan meliputi : a. Tergantung umur (age dependence) Berat badan (BB) terhadap umur Tinggi badan/panjang badan (TB) terhadap umur Lingkaran kepala (LK) erhadap umur Lingkar lengan atas (LLA) terhadap umur

Kesulitan cara ini adalah menetapkan umur anak yang tepat, karena tidak semua anak mempunyai catatan mengenai tanggal lahirnya. b. Tidak tergantung umur BB terhadap TB LLA terhadap TB (QUAC Stick = Quacker Arm Circumfefrence measuring stick) Lain-lain: LLA dibandingkan dengan standar /baku, lipatan kulit pada

trisepsubskapular, abdominal dibandingkan dengan baku. Kemudian hasil pengukuran antropometrik tersebut dibandingkan dengan suatu baku tertentu, misalnya baku Harvard, NCHS, atau baku nasional.

Disamping itu masih ada ukuran antropometrik lainnya yang dipakai untuk keperluan khusus, misalnya pada kasus-kasus dengan kelainan bawaan atau untuk menentukan jenis perawakan, antara lain adalah : 1. Lingkaran dada, lingkaran perut dan lingkaran leher. 2. Panjang jarak anara 2 titik tubuh, seperti biakromial untuk lebar bahu, bitrokanterik untuk lebar panggul, bitemporal untuk lebar kepala, dll. Berat badan merupakan ukuran antropometrik yang terpenting, dipakai pada setiap kesempatan memeriksa anak pada semua kelompok umur. Berat badan merupakan hasil peningkatan/ penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh , antara lain tulang, otot, lemak cairan tubuh, dan lain-lainnya. Berat badan dipakai sebagai indicator terbaik pada ssaat ini untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang anak, sensitive terhadap perubahan sedikit saja, pengukuran obyektif dan dapat diulangi, dapat digunakan timbangan apa saja yang relative murah, mudah dan tidak memerlukan banyak waktu. Kerugiannya , indicator berat badan ini tidak sensitive terhadap proporsi tubuh, misalnya pendek gemuk atau tinggi kurus. Perlu diketahui, bahwa terdapat fluktuasi wajar dalam sehari sebagai akibat masukan (intake) makanan dan minuman, dengan keluaran (output) melalui urin, feses, keringat, dan bernafas. Besarnya fluktuasi tergantung pada kelompok umur dan bersifat sangat individual, yang berkisar antara 100-200 gram sampai 500-1000 gram bahkan lebih, sehingga dapat mempengaruhi hasil penilaian. Indicator berat badan dimanfaatkan dalam klinik untuk : 1. Bahan informasi untuk menilai gizi baik yang kaut maupun yang kronis, tumbuh kembang dan kesehatan. 2. Memonitor keadaan kesehatan, misalnya pada pengobatan penyakit 3. Dasar perhitungan dosis obat dan makanan yang perlu diberikan. Tinggi Badan Tinggi badan merupakan ukuran antropometrik kedua yang terpenting. Keistimewaannya adalah bahwa ukuran tinggi badan pada masa pertubuhan meningkat terus sampai tinggi maksimal dicapai. Walaupun kenaikan tinggi badan ini berfluktuasi, dimana tinggi badan

meningkat pesat pada masa bayi, kemudian melambat dan menjadin pesat kembali (pacu tumbuh adolesen), selanuutnya melambat lagi dan akhirnya berhenti pada umur 18-20 tahun. Tulangtulang anggota gerak berhenti bertambah panjang, tetapi ruas-ruas tulang belakang berlanjut tumbuh sampai umur 30 tahun, dengan pengisian tulang pada ujung atas dan bawah korpuskorpus ruas tulang belakang., sehingga tinggi badan sedikit bertambah yaitu 3-5 mm. Antara umur 30 sampai 45 tahun tinggi badan tetap statis, kemudian menyusut. Keuntungannya indicator TB ini adalah pengukurannya obyektif dan dapat diulang, alat dapat dibuat sendiri, murah dan dapat dibawa, merupakan indicator ang baik untuk gangguan pertumbuhan fisik yang sudah lewat(stunting), sebagai perbandingan terhadap perubahanperubahan relative, seperti terhadap nilai BB dan LLA. Kerugiannya adalah perubahan tinggi badan relative pelan, sukar mengukur tinggi badan yang tepat, dan kadang-kadang diperlukan lebih dari seorang tenaga. Disamping itu dibutuhkan 2 macam teknik pengukuran, pada anak umur kurang dari 2 tahun dengan posisi tidur terlentang (panjang supinasi) dan pada uur lebih dari 2 tahun dengan posisi berdiri. Panjang supinasi pada umumnya 1 cm lebih panjang, daripada tinggi berdiri pada anak yang sama meski diukur dengan teknik pengukuran yang terbaik dan secara cermat. Peningkatan nilai rata-rata TB orang dewasa suatu bangsa merupakan indicator peningkatan kesejahteraan /kemakmuran (perbaikan gizi, perawatan kesehatan dan keadaan social ekonomi), jika potensi genetic belum tercapai secara optimal. Demikian pula perkawinan sebagai akibat meluasnya migrasi ke bagian-bagian lain di suatu negeri maupun di dunia, kemungkinan besar mempunyai andil pula pada perubahan secular TB ini Lingkaran kepala Lingkaran kepala mencerminkan volume intracranial. Dipakai untuk menaksir pertumbuhan otak. Apabila otak tidak tumbuh normal maka kepala akan kecil. Sehingga pada lingkar kepala (LK) yang lebih kecil dari normal (mikrosefali), maka menunjukkkan adanya retardasi mental. Sebaliknya kalau ada penyumbatan pada aliran cairan serebrospinal pada hidrosefalus akan meningkat volume kepala, sehingga LK lebih besar dari normal. Sampai saat ini yang dipakai sebagai acuan untuk LK ini adalah kurve LK dari Nellhaus yang diperoleh dari 14 penelitian di dunia, dimana tidak terdapat perbedaan yang bermakan terhadap suku bangsa,

ras, maupun secara geografi. Sehingga kurve LK Nelhaus(1968)n tersebut dapat digunakan juga di Indonesia. Pertumbuhan LK yang paling pesat adalah pada 6 bulan pertama kehidupan, yaitu dari 34 cm pada waktu lahir menjadi 44 cm pada umur 6 bulan. Sedangkan pada umur 1 tahun 47 cm, 2 tahun 49 cm dan dewasa 54 cm. oleh karena itu manfaat pengukuran LK terbatas pada 6 bulan pertama sampai 6 bulan pertama sampai umur 2 tahun karena pertumbuhan otak yang pesat, kecuali diperlukan seperti pada kasus hidrosefalus. LK kepala yang kecil pada umumnya sebagai : Variasi normal Bayi kecil Keturunan Retardasi mental Kraniostenosis

Sedangkan LK yang besar pad umumnya disebabkan oleh : Variasi normal Bayi besar Hidranensefali Tumor serebri Keurunan Efusi subdural Hidrosefalus Penyakit Canavan Megalensefali

Lingkaran lengan Atas Lingkaran lengan atas (LLA) mencerminkan tumbuh kembang jaringan lemak dan otot yang tidak terpengaruh banyak oleh keadaan cairan tubuh dibandingkan dengan berat badan. LLA dapat dipakai untuk meniloai keadaan gizi/tumbuh kembang pada kelompok umur satu tahun. Selanjutnya tidak banyak berubah selama 1-3 tahun. Keuntungan penggunaan LLA ini

adalah alatnya murah, bisa dibuat sendiri, mudah dibawa, cepat penggunaannya, dan dapat digunakan oleh tenaga yang tidak terdidik. Sedangkan kerugiannya adalah LLA hanya untuk identifikasi anak dengan gangguan gizi/ pertumbuhan yang berat, sukar menntukan pertengahan LLA tanpa menekan jaringan, dan hanya untuk anak umur 1-3 tahun, walaupun ada yang mengatakan dapat untuk untuk anak mulai umur 6 bulan s/d 5/6 tahun. Lipatan kulit Tebalnya lipatan kulit pada daerah triseps dan subskapular merupakan refleksi tumbuh jaringan lemak di bawah kulit, yang mencerminkan kecukupan energy. Dalam keadaan defisiensi, lipatan kulit menipis dan sebaliknya menebal jika masukan energi berlebihan. Tebal lipatan kulit dimanfaatkan untuk menilai terdapatnya keadaan gizi lebih, khususnya pada kasus obesitas.