Anda di halaman 1dari 2

TINJAUAN PUSTAKA Suhu tanah mengalami perubahan dari pengembunan secara terus menerus pada kedalaman yang dangkal

di banyak tanah di daerah Alaska yang beku sampai ke Hawai yang tropis, dimanapun jarang ditemukan suhu tanah dapat mencapai 100o F (37,8o C) pada hari yang panas sekalipun. Pada kebanyakan permukaan bumi, suhu tanah harian jarang mengalami perubahan pada kedalaman 20 inchi (51 cm). tapi dibawah kedalaman tersebut suhu tanah akan mengalami perubahan yang secara lambat menunjukkan pertambahan derajat suhu sekitar 2o F (Donahue dkk, 1977). Kebanyakan tanah memiliki albedo 0,10 sampai 0,15, dan semakin besar tingkatannya maka akan semakin kering tanah tersebut, dan warna tanah cerah yang dimiliki oleh albedo yang lebih tinggi dari pada yang rendah akan lebih gelap. Hebatnya lagi, semakin kecil albedo tanah maka akan semakin besar terjadinya fluktuasi suhu tanah. Oleh karena itu banyak di daerah bermusim panas menutup tanah dengan bubuk putih (pengapuran) yang akan mengurangi kemungkinan terjadinya fluktuasi suhu tanah ke permukaan tanah, dan jika ditutupi dengan bubuk hitam maka akan terjadi fluktuasi suhu tanah besar-besaran (Wild, 1973). Suhu tanah yang rendah dapat mempengaruhi penyerapan air dari pertumbuhan tumbuhan. Jika suhu tanah rendah, kecil kemungkinan terjadi transpirasi, dan dapat mengakibatkan tumbuhan mengalami dehidrasi atau kekurangan air. Pengaruh dari suhu tanah pada proses penyerapan bisa dilihat dari hasil perubahan viskositas air, kemampuan menyerap dari membran sel, dan aktivitas fisiologi dari sel-sel akar itu sendiri. Dengan kata lain pada keadaan udara yang panas maka evaporasi air dari permukaan tanah akan semakin besar (Tisdale and Nelson, 1966). Untuk mengatur suhu tanah bukanlah kemampuan manusia secara pribadi, tapi suhu tanah tersebut dapat di kontrol dengan cara yaitu dengan menutupi mulsa organik pada tanah, dan pengaturan tanaman residu yang keduanya dapat mempengaruhi implikasi biologi, juga bisa dengan mulsa plastik yang biasanya diberikan untuk perkebunan dan terakhir dapat dengan cara mengatur penguapan tanah (Brady and Weil, 2000). Suhu tanah bervariasi secara berkelanjutan. Di permukaan tanah, pada malam hari panas yang telah hilang menghasilkan suhu yang menurun mencapai titik minimum dan ketika ada matahari suhu tanah yang minimum tersebut meningkat. Dengan bantuan sinar matahari, tanah memulai menyimpan energi yang kemudian menghilang, disebabkan suhu meningkat. Proses tersebut akan terus berkelanjutan hingga sore hari atau intensitas radiasi yang mengalami kemunduran disebabkan karena jumlah energi yang diterima menurun hingga hilang sama sekali dari permukaan tanah (Hausenbuiller, 1982). Suhu tanah dipengaruhi oleh aktivitas mikrobakteri. Jangkauan suhu yang dicapai ketika nitrat dibentuk secara umum berkisar antara 1o-40o C (34o-104o F). suhu tanah yang optimum pada 30o C (86o F). walaubagaimanapun juga, nitrat berhubungan dengan faktor optimum, kadar nitrat rendah diperkirakan suhu tanah sekitar 34o F (Tisdale and Nelson, 1960). Di bawah pembekuan tidak ada aktivitas hayati, air tidak bergerak melalui tanah sebagai cairan dan kecuali bila ada embun beku memecah, waktu berhenti bagi tanah. Perkecambahan biji dan pertumbuhan akar hampir tak terjadi pada kisaran 0 sampai 5o C. horison sedingin 5o C bertindak sebagai panci panas bagi kebanyakan akar tanaman. Masing-masing jenis tanaman mempunyai persyaratan suhunya sendiri. Proses kimia dan kegiatan jasad renik yang mengubah hara tanaman menjadi bentuk yang dapat digunakan secara materi juga dipengaruhi oleh suhu. Pembekuan dan pencairan berperan dalam pelapukan batuan, pembentukan struktur dan pemanjangan akar tanaman.

Jadi suhu tampaknya merupakan sifat tanah yang penting (Foth, 1994). Suhu tanah juga akan dipengaruhi oleh jumlah serapan radiasi matahari oleh permukaan bumi. Pada siang hari suhu permukaan tanah akan lebih tinggi dibandingkan suhu pada lapisan tanah yang lebih dalam. Hal ini juga disebabkan karena permukaan tanah yang akan menyerap radiasi matahari secara langsung pada siang hari tersebut, baru kemudian panas dirambatkan ke lapisan tanah yang lebih dalam secara konduksi. Sebaliknya, pada malam hari permukaan tanah akan kehilangan panas terlebih dahulu, sebagai akibatnya suhu pada permukaan tanah akan lebih rendah dibandingkan dengan suhu pada lapisan tanah yang lebih dalam. Pada malam hari, panas akan merambat dari lapisan tanah yang lebih dalam menuju ke permukaan (Lakitan, 1992).DAFTAR PUSTAKA Baver, L.D. 1960. Soil Physics. Modern Asia. Jhon Wiley & Sons,INC., New york. Bappedasu. 1983. Analisa Pola Tata Guna Tanah Berdasarkan Produktivitas Tanah di Sumatera Utara. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Tingkat satu sumatera utara, Medan. Brady, N.C. 1984. The Nature and Properties of Soils. Macmillan Publishing Company, New york. Brady, N.C., and R.R. Weil. 2000. Elements of The Nature and Properties of Soils. Prentice Hall, New jersey. Donahue, R.L., R.W. Miller, and J.C. Shickluna. 1977. Soils An Introduction to Soils and Plant Growth Fourth Edition. Prentice Hall Inc, New jersey. Foth, H.D. 1994. Dasar-dasar Ilmu Tanah Edisi keenam. Penerbit Erlangga, Jakarta. Hausenbuiller, R.L. 1982. Soil Science Principles and Practice. WCB Company, Iowa. Lakitan, B. 1992. Dasar-dasar Klimatologi. Penebar Swadaya, Jakarta. Notohadiprawiro, T. 1998. Tanah dan Lingkungan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Jakarta. Simpson, K. 1983. Soil. Longman, London. Tisdale, S.L. and W.L. Nelson. 1960. Soil Fertility And Fertilizers. The Macmillan Company, New york. Tisdale, S.L. and W.L. Nelson. 1966. Soil Fertility And Fertilizers Third Edition. Collier Macmillan Publishers, London. Wild, A. 1973. Russels Soil Condition and Plant Growth Eleventh Edition. Longman Scientific & Technical, New york.