Anda di halaman 1dari 5

Sekresi Jumlah volume total saliva setiap 24 jam 500 - 600ml dan kecepatan saliva 0,35 - 0,42 ml/menit

dengan pH normal dari saliva antara 5,6 - 7. Pada keadaan normal kecepatan saliva tanpa stimulasi yaitu 0,25 ml/menit, sedangkan pada stimulasi sebesar 3 - 4 ml/menit (Brobeck, 1981). Dalam keadaan tidak terstimulasi, glandula salivarius yang aktif memproduksi saliva adalah glandula submandibularis. Sedangkan saat terstimulasi oleh pengunyahan, glandula salivarius yang banyak memproduksi saliva adalah glandula parotis. Namun jika ada stimulasi asam, maka glandula parotis dan submandibula hampir memproduksi saliva dalam jumlah yang seimbang. Saliva memiliki beberapa fungsi. Di antaranya adalah: a. Pelumasan makanan dan membantu proses mastikasi, penelanan, dan bicara b. Pembersih mekanis, Proses pembersihan mekanis terjadi melalui aktivitas berkumur-kumur menyebabkan mikro-organisme kurang mempunyai kesempatan untuk berkolonisasi di dalam rongga mulut c. Berperan sebagai buffer, Kompenen yang berperan serta sebagai buffer pada saliva adalah fosfat, urea, protein, dan bikarbonat. Bikarbonat merupakan komponen yang paling besar fungsinya sebagai buffer dalam saliva karena sifatnya yang mudah untuk berikatan dengan hidrogen (Tenovuo dan Lagerl, 1994). fosfat yang berperan untuk beberapa tingkatan dalam buffer saliva pada keadaan volume saliva yang rendah saja (Tenovuo dan Lagerl, 1994). Sedangkan protein merupakan komponen yang paling sedikit peran sertanya sebagai buffer. Fosfat sulit mengikat asam, sedangkan bikarbonat merupakan komponen yang paling mudah mengikat asam. Reaksi yang terjadi adalah: H2O + CO2 H2CO3 HCO3- + H+ (Bardow dkk., 2000). d. Berperan serta dalam proses remineralisasi dan demineralisasi email Remineralisasi dapat menghambat proses larutnya kristal hidroksiapatit lebih lanjut dan membangun kembali bagian kristal apatit

yang telah larut akibat proses demineralisasi sebelumnya. Adanya ion flouride juga memperkuat proses remineralisasi (Kid and Bechal, 1992). Kalsium dan Fosfat memegang peranan penting dalam mekanisme penolakan terhadap dekalsifikasi email gigi dalam lingkungan asam (demineralisasi), sedangkan ion-ion ini memungkinkan terjadinya remineralisasi pada permukaan gigi yang sedikit terkikis e. Berperan serta dalam proses pembekuan darah Hal tersebut sesuai dengan kandungan protein dalan saliva yang sepertiganya mirip dengan protein dalam darah. Hal tersebut sesuai dengan proses pembekuan darah. Yang berperan serta adalah faktor VII yang mirip dengan serum protrombin, faktor IX yang mirip dengan komponen tromboplastin plasma, platelete atau trombosit yaitu protein histatin, dan faktor pertumbuhan epidermal yang berasal dari kelenjar submandibula. Pembekuan darah yang terjadi ketika darah bercampur dengan saliva walaupun bekuan darah yang terbentuk kurang padat bila dibandingkan dengan pembekuan darah normal f. Media dalam pendiagnosisan suatu penyakit (biomarker) Hal tersebut lebih sering orang orang minta untuk dilakukan karena dalam proses pendiagnosisan tidak membutuhkan adanya pembedahan. Biomarker dapat dinilai dari peningkatan atau penurunan molekul tersebut yang dengan acuan pada nilai ambang batas normalnya dalam saliva (Sinaga, 2002). Biomarker dapat berupa sel-sel spesifik, organisme, imumunoglobulin, dan komposisi-komposisi saliva seperti protein, enzim, atau hormon. Komposisi saliva bervariasi tergantung pada waktu siang dan malam hari,sifat dan besar stimulus, keadaan psikis orang yang diteliti, diet, kadar hormon, gerak badan dan obat. Komponen saliva, yang dalam keadaan larut disekresi oleh kelenjarsaliva, dapat dibedakan dalam komponen anorganik dan (bio)organik (Amerongen,1991).

a.

Komponen Organik

Komponen organik terdiri dari beberapa jenis dengan fungsi berbeda, seperti reaksi enzimatis, pelapisan permukaan jaringan, perlindungan terhadap jaringangigi dan kontrol pertumbuhan jaringan (Bradley, 1995). Komponen saliva yang paling utama adalah protein. Selain itu, terdapat komponen lain seperti asam lemak, lipid, glukosa, asam amino, ureum dan amoniak. Protein yang secara kuantitatif penting adalah amilase, protein kaya prolin, musin dan immunoglobulin (Amerongen, 1991). b. Komponen Anorganik Komponen anorganik yang terdapat di dalam saliva berupa ion kalsium, magnesium, fluorida, HCO3, kalium, natrium, klorida, NH4. Selain itu terdapatgas seperti karbondioksida, nitrogen dan oksigen (Rensburg, 1995). Dari kation yang terdapat di dalam saliva, natrium dan kalium memiliki konsentrasi tertinggi.Klorida sangat penting untuk aktivitas enzimatik amilase. Kalium dan fosfat yangterkandung dalam saliva sangat penting untuk remineralisasi email. Kadar fluorida di dalam saliva dipengaruhi oleh konsentrasi fluorida di dalam air minumdan makanan. Tiosianat merupakan suatu gen antibakteri yang bekerja adalah samadengan ion bufer sistem laktoperoksidase. Bikarbonat terpenting

dalamsaliva. Dalam saliva yang dirangsang, ion ini menghasilkan 85% dari kapasitasbufer dalam sistem fosfat 14%. Konsentrasi bikarbonat pada kelenjar parotis dan kelenjar submandibular meningkat dengan meningkatnya aliran saliva (Amerongen, 1991) Rongga mulut dilindungi oleh saliva yang merupakan bahan alkaline dan melindungi jaringan mulut terhadap sifat asam dari makanan dan plak, karena saliva berfungsi sebagai bufer dan netralisasi yang sangat efektif untuk mengurangi sifat kariogenik dari makanan (Amerongen dkk. 1992, Edgar, 1992) Derajat keasaman (pH) saliva dan kapasitas bufer ditentukan oleh susunan kuantitatif dan kualitatif elektrolit di dalam saliva, sedangkan pH saliva tergantung dari perbandingan antara asam dan konjugasi basanya. Kapasitas bufer saliva adalah kemampuan menyangga dan menetralkan kembali penurunan

pH saliva saat bakteri plak sedang memetabolisme gula, terutama ditentukan oleh kandungan bikarbonat, sedangkan fosfat, protein, amoniak dan urea merupakan tambahan sekunder pada kapasitas bufer (Roth dan Calmes, 1981, Amerongen dkk, 1992) 2. Larutan benedict Larutan Benedict mengandung ion-ion tembaga (II) yang membentuk kompleks dengan ion-ion sitrat dalam larutan natrium karbonat. Pengompleksan ion-ion tembaga (II) dapat mencegah terbentuknya sebuah endapan tembaga (II) karbonat. Larutan benedict terdiri atas 17% natrium sitrat dan 9% Na2CO3 dan 1,7 % tembaga sulfat. Benedict Reagen digunakan untuk menguji atau memeriksa kehadiran gula pereduksi dalam suatu cairan. Monosakarida yang bersifat redutor, dengan diteteskannya Reagen akan menimbulkan endapan merah bata. Selain menguji adanya gula pereduksi, juga berlaku secara kuantitatif, karena semakin banyak gula dalam larutan maka semakin gelap warna endapan. Jika berwarna hijau terdapat gula dibawah 0,1 % ; mengendap dengan warna hijau-kuning 0,20,3%; berwarna kuning jingga 0,5% dan merah 1% atau lebih. Uji benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltosa. 3. Larutan Iodium Iodium digunakan untuk menguji apakah suatu makanan mengandung karbohidrat atau tidak. Amilum salah satu kabohidrat terdiri atas dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah polimer dari glukosa yaitu amilosa (kirakira 20-28%) dan sisanya amilopektin. Amilopektin dengan ioduim akan memberikan warna ungu dan menrah lembayung. Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan enzim amilase. Dalam ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum yang ada dalam makanan kita. Oleh enzim amilase dirubah menjadi maltosa. (Anna Poedjiadi, 1994)