Anda di halaman 1dari 9

HUKUM PEMBUKTIAN ACARA PERDATA, KEKUATAN PEMBUKTIAN ALAT BUKTI PERSANGKAAN

1. Dalam HIR & BW Pasal 164 HIR & 1866 BW Maka yang disebut alat-alat bukti, yaitu: Bukti dengan surat Bukti dengan saksi Persangkaan-persangkaan Pengakuan Sumpah

Di dalam segala hal dengan memperhatikan aturan-aturan yang ditetapkan dalam pasal-pasal berikut. Pasal 173 HIR Persangkaan saja yang tidak berdasarkan suatu peraturan undang-undang yang tertentu, hanya harus diperhatikan oleh hakim waktu menjatuhkan keputusan, jika persangkaan itu penting, saksama, tertentu dan satu sama lain bersetujuan.

Pasal 1915-1922 BW Tentang persangkaan-persangkaan

Pasal 1915 Persangkaan ialah kesimpulan yang oleh undang-undang atau oleh Hakim ditarik dari suatu peristiwa yang diketahui umum ke arah suatu peristiwa yang tidak diketahui umum. Ada dua persangkaan, yaitu persangkaan yang berdasarkan undangundang dan persangkaan yang tidak berdasarkan undang-undang.

Pasal 1916 Persangkaan yang berdasarkan undang-undang ialah persangkaan yang dihubungkan dengan perbuatan tertentu atau peristiwa tertentu berdasarkan ketentuan undang-undang. Persangkaan semacam itu antara lain adalah;
Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan| 1

1. perbuatan yang dinyatakan batal oleh undang-undang, karena perbuatan itu semata-mata berdasarkan dari sifat dan wujudnya, dianggap telah dilakukan untuk menghindari suatu ketentuan undang-undang; 2. pernyataan undang-undang yang menyimpulkan adanya hak milik atau pembebasan utang dari keadaan tertentu; 3. kekuatan yang diberikan oleh undang-undang kepada suatu putusan Hakim yang memperoleh kekuatan hukum yang pasti; 4. kekuatan yang diberikan oleh undang-undang kepada pengakuan atau kepada sumpah salah satu pihak. Pasal 1917 Kekuatan suatu putusan Hakim yang telah memperoleh kekuatan hukum yang pasti hanya mengenai pokok perkara yang bersangkutan. Untuk dapat menggunakan kekuatan itu, soal yang dituntut harus sama; tuntutan harus didasarkan pada alasan yang sama; dan harus diajukan oleh pihak yang sama dan terhadap pihak-pihak yang sama dalam hubungan yang sama pula.

Pasal 1918 Suatu putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang pasti, yang menyatakan hukuman kepada seseorang yang karena suatu kejahatan atau pelanggaran dalam suatu perkara perdata, dapat diterima sebagai suatu bukti tentang perbuatan yang telah dilakukan, kecuali jika dapat dibuktikan sebaliknya.

Pasal 1919 Jika seseorang telah dibebaskan dari tuduhan melakukan kejahatan atau pelanggaran terhadapnya, maka pembebasan tersebut tidak dapat diajukan sebagai perkara perdata ke Pengadilan untuk menangkis tuntutan ganti rugi.

Pasal 1920 Putusan Hakim mengenai kedudukan hukum seseorang, yang dijatuhkan terhadap orang yang menurut undang-undang berwenang untuk membantah tuntutan itu, berlaku terhadap siapa pun.

Pasal 1921 Suatu persangkaan menurut undang-undang, membebaskan orang yang diuntungkan persangkaan itu dan segala pembuktian lebih lanjut.
Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan| 2

Terhadap suatu persangkaan menurut undang-undang, tidak boleh diadakan pembuktian, bila berdasarkan persangkaan itu undangundang menyatakan batalnya perbuatan-perbuatan tertentu atau menolak diajukannya suatu gugatan ke muka Pengadilan, kecuali bila undang-undang memperbolehkan pembuktian sebaliknya, tanpa mengurangi ketentuan-ketentuan mengenai sumpah di hadapan Hakim.

Pasal 1922 Persangkaan yang tidak berdasarkan undang-undang sendiri diserahkan kepada pertimbangan dan kewaspadaan Hakim, yang dalam hal ini tidak boleh memperhatikan persangkaan-persangkaan yang lain. Persangkaan-persangkaan yang demikian hanya boleh diperhatikan, bila undang-undang mengizinkan pembuktian dengan saksi-saksi, begitu pula bila terhadap suatu perbuatan atau suatu akta diajukan suatu bantahan dengan alasan-alasan adanya itikad buruk atau penipuan.

2. Dalam buku Pokok-Pokok Hukum Perdata, hal. 181-182,

karangan Prof Subekti, S.H, penerbit PT Intermasa Persangkaan ialah suatu kesimpulan yang diambil dari suatu peristiwa yang sudah terang dan nyata. Dari peristiwa yang terang dan nyata ini ditarik kesimpulan bahwa suatu peristiwa lain yang harus dibuktikan juga telah terjadi. Dalam hukum pembuktian, ada dua macam persangkaan, yaitu persangkaan yang ditetapkan oleh undang-undang sendiri (wattelijk vermoeden) dan persangkaan yang ditetapkan oleh hakim (rechtelijk vermoeden). Persangkaan yang ditetapkan oleh undang-undang, pada hakekatnya merupakan suatu pembebasan dari kewajiban membuktikan sesuatu hal untuk keuntungan salah satu pihak yang berperkara. Misalnya, ada tida kwitansi pembayaran sewa rumah yang berturut-turut. Menurut undang-undang menimbulkan suatu persangkaan, bahwa uang sewa untuk waktu yang sebelumnya juga telah dibayar. Dengan menunjukkan kwitansi pembayaran sewa yang tiga bulan berturut-turut itu, si penyewa rumah dibebaskan dari kewajibannya untuk membuktikan bahwa ia sudah membayar uang sewa untuk bulan-bulan yang sebelumnya. Suatu persangkaan yang ditetapkan oleh hakim, terdapat dalam pemeriksaan suatu perkara di mana untuk pembuktian suatu peristiwa tidak bisa didapatkan saksi-saksi yang dengan mata kepala sendiri telah melihat peristiwa itu. Misalnya, dalam suatu perkara di mana seorang suami mendakwa isterinya berbuat zina dengan seorang lelaki lain. Hal ini tentulah sangat sukar memperoleh saksi-saksi yang melihat dengan mata kepala sendiri perbuatan zina itu. Akan tetapi, jika ada saksi-saksi yang melihat si isteri itu menginap dalam satu kamar dengan seorang
Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan| 3

lelaki sedangkan dalam kamar tersebut hanya ada satu tempat tidur saja, maka dari keterangan saksi-saksi itu hakim dapat menetapkan suatu persangkaan bahwa kedua orang itu sudah melakukan perbuatan zina. Dan memang dalam praktek perbuatan zina itu lazimnya hanya dapat dibuktikan dengan persangkaan.

3. Dalam buku Hukum Acara Perdata Indonesia, hal. 179-183, karangan Prof. Sudikno Mertokusumo, S.H., penerbit Liberty, Yogyakarta Pasal 164 HIR (psl. 248 Rbg. 1866 BW) menyebutkan sebagai alat bukti sesudah saksi: persangkaanpersangkaan (vermoedens, presumptions). Tentang pengertian persangkaan banyak terdapat salah pengertian. Ada kalanya persangkaan itu dianggap sebagai alat bukti yang berdiri sendiri atau sebagai suatu dasar pembuktian atas suatu pembebasan pembebanan pembuktian, dan memang merupakan the slipperiest member of the family of legal terms.1 Kalau pembuktian secara yuridis itu merupakan persangkaan yang meyakinkan, maka persangkaan itu merupakan pembuktian 2 sementara. Pada hakekatnya yang dimaksudkan dengan persangkaan tidak lain adalah alat bukti yang bersifat tidak langsung. Misalnya saja pembuktian daripada ketidak hadiran seseorang pada suatu waktu di tempat tertentu dengan membuktikan kehadirannya pada waktu yang sama di tempat yang lain. Dengan demikian maka setiap alat bukti dapat menjadi persangkaan. Bahkan hakim dapat menggunakan peristiwa prosesuil maupun peristiwa notoir sebagai persangkaan.3 Apakah alat bukti itu termasuk persangkaan atau bukan terletak pada persoalan apakah alat bukti itu memberikan kepastian yang langsung mengenai peristiwa yang diajukan untuk dibuktikan atau mengenai peristiwa yang tidak diajukan untuk dibuktikan, tetapi ada sangkut pautnya dengan peristiwa yang diajukan untuk dibuktikan. Surat yang tidak ditanda tangani, yang langsung ada sangkut pautnya dengan suatu perjanjian yang disengketakan, bukan merupakan persangkaan, demikian pula keterangan saksi yang samar-samar tentang apa yang dilihatnya dari jauh mengenai perbuatan melawan hukum. Sebaliknya keterangan 2 orang saksi bahwa seseorang ada di tempat X, sedang yang harus dibuktikan ialah bahwa orang tersebut tidak ada ditempat X, merupakan persangkaan.

1 2

Asser-Anema-Verdam, op.cit, hal.277, E.W. Cleary, op.cit., hal. 803 Bandingkan dengan Ch. J. Enschende, Bewijzen in het strafrecht, RM. Themis 1966 afl.5/6 hal.488. 3 HR 26 Juni 1925, NJ 1925.

Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan|

Ada sementara penulis yang berpendapat bahwa persangkaan itu sesungguhnya bukanlah merupakan alat bukti karena yang dipakai sebagai alat bukti sebetulnya bukan persangkaan itu sendiri, melainkan alat-alat bukti lainnya, sehingga sebagai alat bukti di samping alat-alat bukti lainnya dapat ditinggalkan.4 Menurut ilmu pengetahuan persangkaan merupakan bukti yang tidak langsung dan dibedakan seperti berikut:
1. Persangkaan berdasarkan kenyataan (feitelijke atau rechterlijke

vermoedens, praesumptiones facti). Pada persangkaan berdasarkan kenyataan, hakimlah yang memutuskan berdasarkan kenyataannya, apakah mungkin dan sampai berapa jauhkah kemungkinannya untuk membuktikan suatu peristiwa tertentu dengan membuktikan peristiwa lain. Kalau misalnya peristiwa a yang diajukan, maka hakim memutuskan apakah peristiwa b ada hubungannya yang cukup erat dengan peristiwa a untuk menganggap peristiwa a terbukti dengan terbukti peristiwa b.
2. Persangkaan

berdasarkan hukum rechtsvermoedens, praesumptiones juris).

(wettelijke

atau

Para persangkaan berdasarkan hukum, maka undang-undanglah yang menetapkan hubungan antara peristiwa yang diajukan dan harus dibuktikan dengan peristiwa yang tidak diajukan. Persangkaan berdasarkan hukum ini dibagi menjadi dua:
a. Praesumptiones juris tantum, yaitu persangkaan berdasarkan

hukum yang memungkinkan adanya pembuktian lawan.


b. Praesumptiones juris de jure, yaitu persangkaan berdasarkan

hukum yang tidak memungkinkan pembuktian lawan. Persangkaan diatur dalam HIR (ps. 172), Rbg (Ps.310) dan BW (ps.1915-1922). Menurut pasal 1915 BW maka persangkaan adalah kesimpulankesimpulan yang oleh undang-undang atau hakim ditarik dari suatu peristiwa yang terang nyata ke arah peristiwa lain yang belum terang kenyataannya. Jadi menurut pasal 1915 BW ada dua persangkaan, yaitu yang didasarkan atas undang-undang (praesumptiones juris) dan yang merupakan kesimpulankesimpulan yang ditarik oleh hakim (praesumptiones facti). Satu-satunya pasal dalam HIR yang mengatur tentang persangkaan adalah pasal 173 (ps. 310 Rbg). Pasal tersebut tidak menguraikan apa yang dimaksud dengan persangkaan, akan tetapi hanyalah mengemukakan bilamanakah persangkaan itu boleh diperhatikan sebagai alat bukti, yaitu bahwa persangkaan
4

A.l. Wirjono Prodjodikoro, op.cit., hal. 72, Asser-Anema-Verdam, op.cit., hal 276.

Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan|

saja yang tidak disandarkan pada ketentuan undang-undang hanya boleh diperhatikan oleh hakim pada waktu menjatuhkan putusannya apabila persangkaan itu penting, saksama, tertentu, dan ada hubungannya satu sama lain. Kalau pasal 1915 BW mengenai 2 macam persangkaan, yaitu persangkaan yang didasarkan atas undang-undang dan persangkaan yang didasarkan atas kenyataan, maka pasal 173 HIR (ps. 310 Rbg.) hanya mengatur tentang persangkaan yang tidak disandarkan pada ketentuan undang-undang (blote vermoedens) dan sama sekali tidak dimaksudkan oleh pasal 173 HIR adalah persangkaan yang didasarkan atas kenyataan atau praesumptiones facti (feitelijke atau rechterlijke vermoedens). Persangkaan berdasarkan undang-undang, menurut pasal 1916 BW ialah persangkaan-persangkaan yang oleh undang-undang dihubungkan dengan perbuatan-perbuatan tertentu, antara lain: 1. Perbuatan-perbuatan yang oleh undang-undang dinyatakan batal, karena dari sifat dan keadaannya saja dapat diduga dilakukan untuk menghindari ketentuan-ketentuan undangundang. 2. Peristiwa-peristiwa yang menurut undang-undang dapat dijadikan kesimpulan guna menetapkan hak pemilikan atau pembebasan dari hutang. 3. Kekuatan yang diberikan oleh undang-undang kepada putusan hakim 4. Kekuatan yang diberikan oleh undang-undang pengakuan atau sumpah oleh salah satu pihak. kepada

Tentang persangkaan menurut undang-undang yang tidak memungkinkan pembuktian lawan diatur dalam pasal 1921 ayat 2 BW, yaitu yang dapat menjadi dasar untuk membatalkan perbuatan perbuatan tertentu (ps. 184, 911, 1681 BW). Persangkaan yang tidak memungkinkan bukti lawan pada hakekatnya bukanlah persangkaan. Contoh persangkaan menurut undang-undang yang memungkinkan pembuktian lawan misalnya: pasal 159, 633, 658, 662, 1394, 1439 BW, 42, 44 Peraturan Kepailitan. Persangkaan menurut undang-undangn ini membebaskan orang yang untung karenanya, dari segala pembuktian lebih lanjut (ps. 1921 ayat 1 BW). Kekuatan pembuktiannya bersifat memaksa. Telah terjadi pendapat umum bahwa persangkaan menurut undang-undang di dalam ilmu pengetahuan tidaklah perlu dipertahankan. Persangkaan berdasarkan kenyataan (praesumptiones facti, faitelijke, atau rechterlijke vermoedens) kekuatan pembuktiannya
Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan| 6

diserahkan kepada pertimbangan hakim, yang hanya boleh memperlihatkan persangkaan yang penting, seksama, tertentu dan ada hubungan satu sama lain. Persangkaan-persangkaan semacam itu hanya boleh diperhatikan dalam hal undang-undang membolehkan pembuktian dengan saksi; demikian pula apabila diajukan suatu bantahan terhadap suatu perbuatan atau suatu akta berdasarkan alasan adanya itikad buruk atau penipuan (ps. 1922BW). Berbeda dengan pada persangkaan menurut undang-undang, maka di sini hakim bebas dalam menemukan persangkaan berdasarkan kenyataan. Setiap peristiwa yang telah dibuktikan dalam persidangan dapat digunakan sebagai persangkaan. Pembentukan undang-undang dalam bahawa aslinya menggunakan bentuk jamak untuk persangkaan (vermoedens). Ini berarti bahwa hakim tidak boleh mendasarkan putusannya hanya atas satu persangkaan saja. Dengan perkataan lain satu persangkaan saja tidaklah cukup sebagai alat bukti. Sekarang pendapat ini sudah tidak lagi dianut, sehingga satu peristiwa saja sudah dianggap cukup. Dalam buku Prof. DR. Krisna Harahap, S.H., MH., Hukum Acara Perdata: Mediasi, Class Action, Arbitrase & Alternatif, Bandung: Grafitri, Hlm .95
4.

Perlu kiranya ditambahkan bahwa foto, tape recorder, video dan sebagainya secara modern dianggap pula sebagai alat bukti persangkaan. Dalam buku M. Yahya Harahap, S.H., Hukum Acara Perdata, cetakan ketujuh April 2008, Jakarta: Sinar Grafika, hlm 551-552.
5.

Kekuatan pebuktian alat bukti persangkaan diatur dalam Pasal 1916 dan 1922 KUH Perdata, Pasal 173 HIR. Menurut ketentuan tersebut, dikenal dua bentuk alat bukti persangkaan. Nilai kekuatan dan batas minimal bentuk alat buti persangkaan itulah yang dibicarakan pada uraian ini. a. Nilai Kekuatan dan Batas Minimal Pembuktian Persangkaan Menurut Undang-Undang. 1) Nilai Kekuatan Pembuktiannya Menurut Pasal 1916 KUH Perdata, persangkaan menurut undangundang adalah persangkaan berdasar suatu ketentuan pasal khusus undang-undang berkaitan dengan perbuatan atau peristiwa tertentu. Oleh karena dasar pembuktian alat bukti ini bersumber dari undangundang sendiri, pada prinsipnya:
o

Nilai kekuatan pembuktian yang melekat padanya bersifat: Sempurna (volledig)


Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan| 7

o o

Mengikat (bidende) dan Memaksa (dwingen); Oleh karena itu, kebenaran yang melekat pada alat bukti ini, bersifat imperatif bagi hakim untuk dijadikan sebagai dasar penilaian dalam mengambil putusan. Akan tetapi perlu diingat, sifat nilai kekuatan pembuktian yang mutlak ini hanya berlaku pada persangkaan menurut undang-undang yang tidak dapat dibantah. Sedangkan terhadap persangkaan menurut undangundang yang dapat dibantah, sifat nilai kekuatannya tidak absolut, karena dapat dibantah dengan bukti lawan. Tentang pembagian alat bukti ini akan dibicarakan nanti lebih lanjut.

2) Batas Minimal Pembuktiannya Oleh karena pada alat bukti ini melekat nilai kekuatan pembuktian yang sempurna, mengikat dan menentukan, dapat disimpulkan: Alat bukti tersebut dapat berdiri sendiri tanpa bantuan alat bukti lain; Berarti, pada dirinya sendiri terpenuhi batas minimal pembuktian.

Namun di sini pun perlu diingat. Sepanjang mengenai alat bukti persangkaan menurut undang-undang yang dapat disangkal, batas minimalnya bisa merosot apabila terhadapnya diajukan bukti lawan yang mampu melumpuhkan eksistensinya. Dalam hal yang seperti itu: Nilai kekuatan pembuktiannya turun menjadi alat bukti permulaan; Berarti dalam hal yang seperti itu, dia tidak bisa berdiri sendiril tetapi harus mendapat dukungan alat bukti lain agar dapat mencapai batas minimal pembuktian.

b. Nilai Kekuatan dan Batas Minimal Pembuktian Persangkaan Yang Ditarik dari Fakta-Fakta Persidangan Menurut Pasal 1922 KUH Perdata, persangkaan- persangkaan yang tidak berdasarkan undang-undang sendiri diserahkan kepada pertimbangan dan kewaspadaan hakim. Bertitik tolak dari pasal tersebut, dapat dijelaskan hal-hal berikut. 1) Nilai Kekuatan Pembuktiannya Perhatikan kembali penegasan Pasal 1922 KUH Perdata di atas, dengan jelas disebut:

Nilai kekuatan pembuktiannya diserahkan kepada pertimbangan hakim,


Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan| 8

Dengan demikian sifat kekuatan pembuktiannya adalah bebas (vrijbewijskracht), oleh karena itu hakim bebas untuk menerima atau menolak kebenaran yang terdapat di dalam persangkaan itu.

2) Batas Minimal Pembuktiannya Oleh karena nilai kekuatan pembuktiannya bebas, dengan sendirinya: Tidak bisa berdiri sendiri; Minimal harus ada dua persangkaan; atau Satu persangkaan ditambah dengan salah satu alat bukti lain.

Resume Kekuatan Pembuktian Alat Bukti Persangkaan|