Anda di halaman 1dari 13

1. SKALA PENGUKURAN JARAK A.

Skala Borgadus Skala borgadus adalah sekala jarak social untuk mengukur bagaimana tingkat kedekatan atau jarak yang di rasakan oleh orang-orang yang berbeda etnis atau ras yang di kembangkan oleh Emory S. Borgadus. Jarak social antar etnik itu di tentutkan oleh pilihan seseorang dari etnik atau ras terhadap orang etnik atau ras lain dalam beragam aspek mulai dari yang merasa dekat secara emosional hingga merasa dekat secara rasional (atau sebaliknya). Contoh skor Pertanyaan Jawaban

1. apakah saudara menerima orang hitam sebagai warga di negri ini?

2. apakah saudara menerima orang hitam bekerja di kntor saudara?

3. apakah saudara menerima orang hitam sebagai teman se club?

4. apakah saudara menerima orang hitam menjadi tetangga saudara?

5. apakah saudara menerima orang hitam kawin dengan saudara?

Dalam menyusun pertanyaan di atas

urutan-urutan kualitas harus jelas,

dimana gradasinya menurut secara nyata dari penerimaan yang tinggi sampai penerimaa yang rendah. Peratnyaa yang paling bawah diberi skor 1 sedangkan pertanyaan yang plaing atas di beri skor 5. Pertanyaan dalam skala borgadus di susun menurut rangking, dari yang teritnggi ke yang terendah.

Skala ini tidak hanya untuk mengukur hubungan antar etnik atau ras, tetapi juga dikembangkan untuk meneliti interaksi/relasi social keluarga, kewargaan, organisasi politik dan lain-lain.

B. Skala Sosiometrik Sosiometrik adalah alat yang tepat untuk mengumpulkan data mengenai hubunganhubungan sosial dan tingkah laku sosial murid (I. Djumhur dan Muh. Surya, 1985 ). Sosiometrik adalah alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok individu dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial dan status sosial dari masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan ( Depdikbud, 1975 ). Sosiometrik adalah alat untuk dapat melihat bagaimana hubungan sosial atau hubungan berteman seseorang ( Bimo Walgito, 1987 ). Sosiometrik merupakan suatu metode untuk memperoleh data tentang hubungan sosial dalam suatu kelompok, yang berukuran kecil sampai sedang ( 10 50 orang ), berdasarkan preferensi pribadi antara anggota-anggota kelompok (WS. Winkel, 1985 ). Sosiometrik adalah suatu alat yang dipergunakan mengukur hubungan sosial siswa dalam kelompok ( Dewa Ktut Sukardi, 1983 ). Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan pengertian sosiometri adalah suatu tehnik untuk mengumpulkan data tentang hubungan sosial seorang individu dengan individu lain, struktur hubungan individu dan arah hubungan sosialnya dalam suatu kelompok. Metode ini dikembangkan oleh J.L Moreno dan Helen H. Jennings, motede ini digunakan untuk mengukur penerimaan dan penolakan, baik antar individu dalam kelompok kecil, ataupun antara perorangan dengan suatu kelompok. Misalnya membuat skala sosiometrik, adalah mengukur jarak social antar suku di Indonesia.

2. SKALA PENGUKURAN (Rating Scale) Sering responden mempertanyakan arti dari pilihan mereka pada skala tersebut. Ada yang menggunakan 3 (tiga), 4 (empat), 5 (lima) atau lebih kategori tergantung pada pertanyaan. Ada kalanya perbedaan yang mungkin terjadi yang tidak diinginkan responden dalam arti kapasitas jawaban. Contoh:

1.

Apakah saudara setuju atau tidak setuju memperluas program ini ke daerah lainnya di Indonesia? (Centang salah satu) (a) Sangat setuju (b) Setuju (c) Cukup setuju (d) Kurang setuju (e) Sangat kurang setuju

2.

Bila di desa ini dibangun fasilitas umum menurut saudara apa yang penting. (Centang salah satu dari setiap butir berikut).

No.

Program

Kurang penting 1 2 3 4 5 6

Sangat penting 7

1 2

Sanitasi Turbin listrik mikro hidro

3 4 5

Jalan/tras Sekolah Puskermas

Dalam kasus perbedaan tertentu, gunakan skala penomoran mulai dari 0 atau 1 untuk beberapa penomoran, perhatikan contoh 2 di atas, ada 5 (lima) pilihan berseri (series) ingin mengungkapkan sikap; boleh juga dengan 4 (empat) pilihan berseri, yaitu: Sangat bagus, Bagus, Cukup, Kurang. Kadang kala ada juga sampai 10 (sepuluh) pilihan berseri, cuma akan kesulitan dalam hal memaknai angka-angka tersebut. Pada umumnya banyak dipakai 5 (lima) atau 4 (empat) pilihan berseri.

Hal lain yang diperhatikan, apakah butir kuesioner memakai pilihan genap (4) atau ganjil (5). Kalau pilihan ganjil berarti ada pilihan posisi netral (tengah) untuk responden, dan berbeda pada pilihan genap, responden dipaksa memilih salah satu sisi (arah pilihan posisitf atau negatif). Di bawah ini diberi beberapa contoh kategori tingkatan respon.

1) Kategori pilihan genap Sangat tidak puas Kurang puas Puas Sangat puas Semua tidak dibantu Ada sedikit bantuan Ada cukup bantuan Sangat membantu

2) Kategori pilihan ganjil Sangat tidak suka Umumnya tidak suka Tidak tentu Umumnya suka Sangat suka Sangat tidak setuju Beberapa tidak setuju Tidak jelas Beberapa setuju Sangat setuju

Lima kategori pilihan lebih lengkap, daripada empat kategori. Perlu diperhatikan keseimbangan pilihan antara positif dan negatif.

3. Skala penilaian grafik Skala penilaian grafik adalah skala yang mendaftarkan sejumlah ciri (seperti mutu dan kehandalan) dan kisaran kinerja (dari yang tidak memuaskan sampai yang luar biasa memuaskan) untuk masing-masing ciri. Penyelia menilai masing-masing bawahan dengan melingkari skor yang paling baik menggambarkan kinerjanya untuk masing-masing ciri. Nilai yang ditetapkan untuk ciri-ciri itu kemudian dijumlahkan. Gambar 2.1 memperlihatkan bentuk dari metode skala penilaian grafik. Sedangkan menurut Edwin B. Flippo yang dikutip oleh Moh. Masud (2003:249) mengemukakan bahwa : Metode penilaian prestasi kerja yang paling umum digunakan adalah penyusunan skala bagi sejumlah faktor yang cukup spesifik. Pendekatan ini serupa dengan sistem perbandingan antar perorangan kecuali bahwa patokan pembanding untuk skala faktor dalam hal ini diwakili oleh definisi-definisi bukan oleh orang-orang penting.

Upaya untuk melakukan penilaian prestasi kerja, penetapan faktor atau unsur yang dinilai harus sesuai dengan jenis pekerjaan pegawai, sehingga tidak terjadi rasa ketidakadilan para pegawai yang dinilai. Seorang salesman janganlah dinilai dengan faktor atau unsur

penilaian yang berhubungan dengan mesin (operasional), dan begitu juga sebaliknya. Namun, secara umum menurut Mulia Nasution (2000:99), faktor-faktor penilaian yang dapat mempengaruhi prestasi kerja pegawai antara lain : 1. Kualitas kerja. Kriteria penilaiannya adalah ketepatan kerja, keterampilan kerja, ketelitian kerja, dan kerapihan kerja. 2. Kuantitas kerja. Kriteria penilaiannya adalah kecepatan kerja. 3. Disiplin kerja. Kriteria penilaiannya adalah mengikuti instruksi atasan, mematuhi peraturan perusahaan, dan ketaatan waktu kehadiran. Inisiatif. 4. Kriteria penilaiannya adalah selalu aktif atau semangat

menyelesaikan pekerjaan tanpa menunggu perintah atasan artinya tidak pasif atau bekerja atas dorongan dari atasan. Kerjasama. 5. Kriteria penilaiannya adalah kemampuan bergaul dan menyesuaikan diri serta kemampuan untuk memberi bantuan kepada karyawan lain dalam batas kewenangannya.

Ketepatan menyangkut dapat atau tidaknya pegawai menyelesaikan tugas sesuai target waktu, keterampilan menyangkut pengetahuan pegawai terhadap pekerjaannya, ketelitian menyangkut hasil kerja pegawai dapat diuji kebenarannya, kerapihan menyangkut hasil kerja tanpa ada kesalahan. Disiplin berarti mematuhi perintah baik tertulis maupun tidak. Definisi tanggung jawab, kreatif dan inisiatif menurut Tatang Utomo (2000:224) sebagai berikut :

Tanggung jawab adalah kemampuan dalam menanggapi dan menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan. Besarnya tanggung jawab dapat dilihat dari hasil pekerjaan dan kemampuan menanggung risiko atas pekerjaannya. Kreatif adalah kemampuan mengubah sesuatu yang baru, sedangkan inovatif yaitu kemampuan mengubah sesuatu yang sudah ada menjadi lebih baik. Inisiatif adalah kemampuan untuk membuat keputusan tentang apa yang harus dikerjakan pada situasi dan kondisi kritis, tanpa menunggu perintah atau dukungan dari atasan. Contoh Metode Skala Penilaian Grafik Faktor Umum 1. Mutu Skala Luar Biasa Pemeringkatan 100 90 90 80 80 70 70 60 < 60

Kecermatan, ketuntasan, dan dapat Sangat Baik diterimanya kerja yang dijalankan. Baik Perlu Perbaikan Tidak Memuaskan 2. Produktivitas Luar Biasa

100 90 90 80 80 70 70 60 < 60

Mutu dan efisiensi dari kerja yang Sangat Baik dihasilkan dalam periode waktu tertentu. Baik Perlu Perbaikan Tidak Memuaskan 3. Pengetahuan jabatan Luar Biasa

100 90 90 80

Keterampilan dan informasi praktis Sangat Baik atau teknis

Faktor Umum yang digunakan pada jabatan.

Skala Baik Perlu Perbaikan Tidak Memuaskan

Pemeringkatan 80 70 70 60 < 60

4. Kehandalan Sejauhmana diandalkan menyangkut penyelesaian tugas dan tindak lanjut. karyawan

Luar Biasa dapat Sangat Baik Baik Perlu Perbaikan Tidak Memuaskan

100 90 90 80 80 70 70 60 < 60

5. Ketersediaan

Luar Biasa

100 90 90 80 80 70 70 60 < 60

Sejauhmana seseorang karyawan Sangat Baik tepat waktunya, meninjau periode istirahat yang ditetapkan dan catatan kehadiran keseluruhan. Baik Perlu Perbaikan Tidak Memuaskan 6. Ketidakketergantungan Sejauhmana dengan sedikit atau tanpa supervisi. kerja Luar Biasa dijalankan Sangat Baik Baik Perlu

100 90 90 80 80 70 70 60

Faktor Umum

Skala Perbaikan Tidak Memuaskan

Pemeringkatan < 60

Sumber : Gary Dessler, Human Resource Management (1997 : 9)

4. Skala Penilaian Deskriptif Dalam membuat skala penilaian secara deskriptif, kepada penilai hanya di berikan titik awal dan titik akhir saja dengan kontinumdengan suatu angka absolut. Kemudian penilai diminta untuk menilai subjek dengan skor lain dalam jangka kontinum yang diberikan. Misalnya penilai diminta menilai beberapa tempat pariwisata di Aceh, dengan menilai antara 0 sampai dengan 100. tempat wisata tersebut misalnya, 1. 2. 3. 4. 5. 6. lampuuk pantai lhoknga leupung gunong geurute ujong bate pasir putih dan lain-lain

kemudian, rata-rata dari nilai untuk masing-masing tempat wisata tersebut di cari dan dibuat rangkingnya. Rangking yang tertinggi di berikan untuk rata-rata nilai rangking yang tertinggi dan rangking yang terendah untuk rata-rata yang terendah. Reliabilitas skala ini tergantung dari penilai sendiri dan juga dari jumlah item yang di siruh nilai.

5. Skala Penilaian Koperatif Dalam membuat skala penilaian grafik maupun deskriptif, tidak terdapat suatu referensi untuk membandingkan penilai yang diberikan penilai. Jika dalam sekala komperatif, penilai diberikan suatu perbandingan dengan suatu populasi, kelopmpok social ataupun sifat yang telah diketahui umum hasilnya. Misalnya dalam rangka penerimaan calon sebagai ahli

KESMAS, maka ditanya apakah si jono termasuk dalam 10% terpandai, 40% terpandai, ratarata dibawah 40% atau dibawah 10% dari total kelompok ahli KESMAS yang diketahui.

Dalam membuat skala penilaian, beberapa hal dapat menyebabakan terjadinya error sistemik. Pertama error terjadi karena pengaruh halo (halo effect). Jika lebih dari satu ciri subjek yang akan dinilai, penilaian dipengaruhi oleh penilaia terhadap sifat pertama ke sifat kedua dan seterusnya, sehingga penilai cenderung kepada konsisten dalam memberikan penilaian. Kedua error baik hati, dimana penilai over estimate nilai sebenarnya. Ketiga error kontras, dimana penilai selalu menilai subjek selalu berlawanan dengan dirinya sendiri. Untuk mengurangi error tersebut diatas adalah denga cara melatih Penilai dan memberikan penjelasan kepada penilai akan terjadinya error. Memperjelas definisi dari criteria yang akan dinilai, juga dapat ,mengurangi error sistematik.

6. SKALA THURSTONE Skala Thurstone merupakan skala yang disusun dengan memilih butir yang berbentuk skala interval. Setiap skor memiliki kunci skor dan jika diurut kunci skor menghasilkan nilai yang berjarak sama. Contoh skala model Thurstone: Skala 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Skala 11 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 Metode ini mencoba menempatkan sikap seseorang pada rentangan kontinum dari yang sangat unfavorabel hingga sangat fafovabel terhadap suatu obyek sikap. Caranya dengan memberikan orang tersebut sejumlah aitem sikap yang telah ditentukan derajad favorabilitasnya. Tahap yang paling kritis dalam menyusun alat ini seleksi awal terhadap pernyataan sikap dan penghitungan ukuran yang mencerminkan derajad favorabilitas dari masing-masing pernyataan. Derajat (ukuran) favorabilitas ini disebut nilai skala. Untuk menghitung nilai skala dan memilih pernyataan sikap, pembuat skala perlu membuat sampel pernyataan sikap sekitar lebih 100 buah atau lebih. Penrnyataan-pernyataan itu kemudian diberikan kepada beberapa orang penilai (judges). Penilai ini bertugas untuk menentukan derajat favorabilitas masing-masing pernyataan. Favorabilitas penilai itu

diekspresikan melalui titik skala rating yang memiliki rentang 1-11. Sangat tidak setuju 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Sangat setuju Tugas penilai ini bukan untuk menyampaikan setuju tidaknya mereka terhadap pernyataan itu. Median atau rerata perbedaan penilaian antar penilai terhadap aitem ini kemudian dijadikan sebagai nilai skala masing-masing aitem. Pembuat skala kemudian menyusun aitem mulai dari atem yang memiliki nilai skala terrendah hingga tertinggi. Dari aitem-aitem tersebut, pembuat skala kemudian memilih aitem untuk kuesioner skala sikap yang sesungguhnya. Dalam penelitian, skala yang telah dibuat ini kemudian diberikan pada responden. Responden diminta untuk menunjukkan seberapa besar kesetujuan atau ketidaksetujuannya pada masing-masing aitem sikap tersebut. Teknik ini disusun oleh Thrustone didasarkan pada asumsi-asumsi: ukuran sikap seseorang itu dapat digambarkan dengan interval skala sama. Perbedaan yang sama pada suatu skala mencerminkan perbedaan yang sama pula dalam sikapnya. Asumsi kedua adalah Nilai skala yang berasal dari rating para penilai tidak dipengaruhi oleh sikap penilai terhadap isue. Penilai melakukanrating terjhadap aitem dalam tataran yang sama terhadap isue tersebut.

7. SKALA LINKERT Skala linkert pertama kali dikembangkan oleh Rensis Linkert pada tahun 1932 dalam mengukur sikap masyarakat. Dalam skala ini hanya menggunakan item yang secara pasti baik dan secara pasti buruk. Item yang pasti disenangi, disukai, yang baik, diberi tanda negatif (-). Total skor merupakan penjumlahan skor responsi dari responden yang hasilnya ditafsirkan sebagai posisi responden. Skala ini menggunakan ukuran ordinal sehingga dapat membuat ranking walaupun tidak diketahui berapa kali satu responden lebih baik atau lebih buruk dari responden lainnya. Prosedur dalam membuat skala linkert adalah sebagai berikut : 1. Pengumpulan item-item yang cukup banyak dan relevan dengan masalah yang sedang diteliti, berupa item yang cukup terang disukai dan yang cukup terang tidak disukai 2. Item-item tersebut dicoba kepada sekelompok responden yang cukup representatif dari populasi yang ingin diteliti. 3. Pengumpulan responsi dari responden untuk kemudian diberikan skor, untuk jawaban yang memberikan indikasi menyenangi diberi skor tertinggi.

4. Total skor dari masing-masing individu adalah penjumlahan dari skor masing-masing item dari individu tersebut 5. Responsi dianalisa untuk mengetahui item-item mana yang sangat nyata batasan antara skor tinggi dan skor rendah dalam skala total. Untuk mempertahankan konsistensi internal dari pertanyaan maka item yang tidak menunjukkan korelasi dengan total skor atau tidak menunjukkan beda yang nyata apakah masuk kedalam skor tinggi atau rendah dibuang. Kelebihan skala linkert: 1. Dalam menyusun skala, item-item yang tidak jelas korelasinya masih dapat dimasukkan dalam skala. 2. Lebih mudah membuatnya dari pada skala thurstone. 3. Mempunyai reliabilitas yang relatif tinggi dibanding skala thurstone untuk jumlah item yang sama. Juga dapat memperlihatkan item yang dinyatakan dalam beberapa responsi alternatif. 4. Dapat memberikan keterangan yang lebih nyata tentang pendapatan atau sikap responden. Kelemahan skala linkert: 1. Hanya dapat mengurutkan individu dalam skala, tetapi tidak dapat membandingkan berapakali individu lebih baik dari individu lainya. 2. Kadang kala total skor dari individu tidak memberikan arti yang jelas, banyak pola responsi terhadap beberapa item akan memberikan skor yang sama. Validitas dari skala linkert masih memerlukan penelitian empirik.

8. SKALA GUTMAN Skala Guttman dikembangkan oleh Louis Guttman. Skala ini mempunyai ciri penting, yaitu merupakan skala kumulatif dan mengukur satu dimensi saja dari satu variabel yang multidimensi. Skala Guttman yaitu skala yang menginginkan jawaban tegas seperti jawaban benar-salah, ya-tidak, pernah &ndash; tidak pernah. Untuk jawaban positif seperti setuju, benar, pernah dan semacamnya diberi skor 1; sedangkan untuk jawaban negatif seperti tidak setuju, salah, tidak, tidak pernah, dan semacamnya diberi skor 0. Dengan skala ini, akan diperoleh jawaban yang tegas yaitu Ya - Tidak, Benar - Salah dan lain-lain. Penelitian menggunakan skala Gutman dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan. Skala ini dapat pula dibentuk dalam bentuk checklist atau pilihan ganda. Skor 1 untuk skor tertinggi dan skor 0 untuk terrendah. (Analisa seperti pada skala likert).

Contoh :Apakah anda Setuju dengan kebijakan perusahaan menaikkan harga jual? a. Setuju b. Tidak Setuju

9. SEMANTIK DEFFERENSIAL Skala defferensial yaitu skala untuk mengukur sikap dan lainnya, tetapi bentuknya bukan pilihan ganda atau checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum. Sebagai contoh skala semantik defferensial mengukur gaya kepemimpinan seorang pimpinan (pimpinan). Gaya Kepemimpinan Demokrasi 7 Otoriter 6 5 4 3 2 1

Bertanggung 7 Tidak jawab

ber-

6 tanggung 5 jawab 4 3 2 1

Memberi

7 Mendomi-

Kepercayaan 6 nasi 5 4

3 2 1

Menghargai 7 Tidak bawahan 6 menghargai 5 bawahan 4 3 2 1

Keputusan diambil bersama

7 Keputusan 6 diambil 5 sendiri 4 3 2 1

Skala ini digunakan untuk mengukur sikap, hanya bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist, tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawabannya sangat positifnya terletak dikanan garis, dan jawaban yang sangat negatif terletak dibagian kiri garis atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval dan baisanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap/karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang. Responden dapat memberi jawaban pada rentang jawaban yang positif sampai dengan negatif