Anda di halaman 1dari 7

SINOPSIS TUTORIAL Kucing Muntaber Blok : 19 Nama : Anggarda Prasetyo UP :1

No. Mhs : 08/265857/05936

Leaning Objectif : 1. Mengetahui etiologi, patogenesis, gejala klinis, pengobatan dan pencegahan dari penyakit infeksius gastrointestinal pada kucing ! 2. Mengetahui aspek zoonosis dari toxoplasma !

Ringkasan Belajar A. Infertilitas pada anjing (non infeksius) Toxocariasis Etiologi Toxocara cati (terutama pada kucing), Toxocara canis (terutama pada anjing). Termasuk roundworm, Kelas Nematoda superfamili Ascaridoidea dengan ukuran yang besar berwarna putih. Telur berbntuk subglobular dengan lapisan luar (shell) yang tebal dan berbintik-bintik (Urquhart, et.al.1988). Siklus hidup langsung, dengan paratenic host (misalnya rodensia atau burung, ingesti telur yang infektif dan L2 masuk ke jaringan host, menetap hingga ditelan oleh anjing, perkembangan selanjutnya terjadi pada gastrointestinal anjing). Telur dikeluarkan lewat feses, stadium infektif L3 berkembang dalam telur setelah 3-4 minggu (Ballweber,2001). Toxocara cati dapat menginfeksi kucing sepanjang hidupnya, menyebabkan kontaminasi lingkungan sekitar. Prevalensi infeksi tinggi karena banyak cara infeksi dan waktu hidup telur yang lama pada lingkungan. Seekor betina dapat memproduksi sekitra 200.000 telur setiap harinya, dan telur dapat bertahan hidup di lingkungan (indoor maupun outdoor) selaama beberapa tahun.

(Gbr: telur Toxocara cati)

Patogenesis & gejala klinis Verminous pneumonia, karena migrasi larva T.canis dapat terjadi pada puppy. Dalam usus, cacing dewasa mengambil nutrisi dari hospes definitifnya dengan menyebabkan kelukaan dinding usus dan mengambil nutrisi dari sirkulasi. Berdasarkan siklus hidupnya, larva menyebabkan penyakit dengan fase migrasi yang meninggalkan lesi pada organ dan jaringan yang dilalui. Keparahannya bergantung kepada jumlah, baik pada cacing dewasa maupun larva. Perjalanan larva infektif T. cati melalui jaringan paru-paru dan hati dapat menyebabkan terjadinya edema pada kedua organ tersebut. Paru-paru yang mengalami edema mengakibatkan batuk, dipsnoe, selesma, dengan eksudat yang berbusa dan kadang mengandung darah. Perjalanan larva lewat lambung, pada yang berat menyebabkan distensi lambung, diikuti oleh muntah, dan mungkin disertai keluarnya cacing yang belum dewasa didalam bahan yang dimuntahkan (vomitus). Cacing dewasa dapat menyebabkan kerusakan pada usus halus, pada hewan dewasa kadang tidak terlihat gejalanya. Hewan yang mengalami infestasi cacing yang berat dapat menunjukkan gejala kekurusan, bulu kusam, perbesaran perut (pot-belly), juga gangguan usus yang antara lain ditandai dengan sakit perut (kolik). Obstruksi usus baik parsial maupun total, dan dalam keadaan ekstrim terjadi perforasi usus hingga tampak gejala peritonitis. Pada beberapa kasus bisa menunjukkan anemia, muntah, diare atau konstipasi. Pada kasus yang sangat berat tapi jarang terjadi, bisa terdapat obstruksi usus. Gejala batuk dapat teramati sebagai akibat adanya migrasi melalaui sistema respirasi. Pada hewan muda, migrasi larva dapat berakibat pneumonia. Adanya cacing yang banyak menyebabkan penurunan bahan makanan yang diserap, hingga terjadi hipoalbuninemia, yang selanjutnya menyebabkan kekurusan dengan busung perut (asites). Perut memperlihatkan pembesaran dan tampak menggantung. Gejala klinis pada puppy dan kitten misalnya muntah, diare, obstruksi intestinal dapat terlihat namun tidak umum, kematian dapat terjadi pada infeksi prenatal atau lactogenic yang parah pada puppy dan kitten setelah 2-3 minggu setelah kelahiran. Larva dapat menyebabkan visceral larval migrans (VLM) atau ocular larval migrans (OLM) pada manusia, saat telur infektif tertelan, menetas dan larva secara berlanjut bermigrasi pada bermacam jaringan, terjadi reaksi radang bentuk granuloma menyebabkan kematian larva. Tingkat keparahan dan karakteristik gejala tergantung pada jaringan tempat larva berada, banyaknya larva yang bermigrasi dan frekuensi dari reinfeksi (Ballweber,2001). Diagnosis Pemeriksaan antemortem Ditemukan telur pada feses, telur berbentuk subspherical, kuning kecoklatan, lapisan shell terluar berbintikbintik kasar, ukuran 75-90 interior telur. Pemeriksaan postmortem
2

(T.canis) 65-75

m (T.cati), berisi sel single dan gelap yang mengisi

Cacing dewasa ditemukan pada usus halus berwarna putih, dengan panjang 3-10 cm (T.cati) atau 10-18 cm (T.canis) (Ballweber,2001). Penanganan/terapi Anjing: treatment pada puppy pada usia 2 minggu, diulang lagi pada usia 4,6,8 minggu. Treatmen yang diijinkan menggunakan dichlorvos, diethylcarbamazine, fenbendazole, flubendanzole, mebendazole, milbemicyn, nitroscanate, piperazine dan pyrantel. Kombinasi obat yang dapat digunakan

praziquantel/pyrantel/febantel, pyrantel/febantel dan pyrantel/oxantel. Kucing: treatment pada kucing pada umur 3 minggu, diulang pada umur 8-10 minggu. Treatment yang diijinkan menggunakan dichlorvos, diethylcarbamazine, fenbendazole, mebendazole, piperazine, pyrantel, selamectin, kombinasi praziquantel/pirantel heartworm-preventive program menggunakan milhemycin atau selamectin untuk mengontrolinfeksi ascarid pada kucing. Tindakan preventif Pencegahannya dengan cara deworming secara teratur, higienitas pakan dan lingkungan, dan kontrol terhadap populasi hospes intermedier dan paratenik. Pemeriksaan feses harus dilakukan segera setelah anak kucing lepas masa sapih; 4 8 minggu setelah treatment berakhir; pemeriksaan reguler setahun sekali, dan sebelum betina dikawinkan. Pemberian obat cacing hendaknya dilakukan minimal 1 tahun sekali. Zoonosis pada manusia Yang beresiko terhadap toxocariasis adalah anak-anak dan pemilik kucing. Dua puluh empat laporan kasus menunjukkan infeksi Toxocara cati dewasa lebih sering daripada Toxocara canis pada manusia. 1. Ocular Larva Migrans (OLM) OLM terjadi saat larva memasuki mata, menyebabkan inflamasi dan pembentukan jaringan ikat pada retina. Setiap tahunnya lebih dari 700 orang terinfeksi toxocara mengalami penglihatan permanen karena OLM. Kelukaan pada mata karena migrasi larva kedalam posterior chamber bola mata, menyebabkan granulomatous renitis, perlekatan retina, kehilangan daya lihat, atau pada kasus berat kebutaan permanen. 2. Visceral Larva Migrans (VLM) Infeksi berat atau berulang, meskipun jarang dapat menyebabkan VLM, pembengkakan organ tubuh atau sistem syaraf pusat. Organ yang dapat terserang antara lain hati, paru-paru, ginjal, dan otak. Gejala VLM yang disebabkan perpindahan larva cacaing dalam tubuh antara lain: demam, batuk, asma, atau pneumonia. Pada banyak kasus, infeksi toxocara tidak serius, dan banyak orang, terutama orang dewasa yang terinfeksi larva dalam jumlah sedikit, dapat tidak menimbulkan gejala. Kasus parah yang jarang tetapi lebih dapat terjadi pada anak-anak, yang selalu bermain di tempat kotor atau memakan tanah yang terkontaminasi kotoran kucing. Cara masuknya melalui telur toxsocara dalam tanah yang terkontaminasi. OLM biasanya terjadi pad anak-anak umur 7 8 tahun, dan VLM pada anak umur 1 4 tahun. Alasan perbedaan umur ini belum diketahui. Anak kucing mendapatkan larva dari induk mereka sebelum lahir atau melalui susu, larva menjadi dewasa dengan cepat dalam usus anak kucing, saat umurnya 3 4 minggu, cacing mulai memproduksi telur dalam
3

jumlah banyak dan mengkontaminasi lingkungan. Telur kemudian menjadi larva infektif di lingkungan setelah 2 minggu. Pengobatan VLM dengan antiparasitik dan antiinflamatorik, sedang OLM lebih sulit, hanya untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Pencegahan a. Bawa kucing ke dokter hewan, terutama kucing muda, untuk deworming; b. Cuci tangan dengan sabun dan air setelah bermain dengan hewan peliharaan dan setelah kegiatan di luar ruangan, terutama sebelum makan. Ajari anak-anak untuk selalu mencuci tangan setelah bermain dengan kucing di alam maupun di luar ruangan; c. Larang keras anak-anak untuk bermain di daerah dengan tanah yang terkontaminasi kotoran hewan. d. Bersihkan tempat tinggal kucing setidaknya sekali seminggu. Feses harus dikubur atau dimasukkan/dibungkus plastik dan dimasukkan ke tong sampah (disposal trash); e. Ajari anak-anak bahwa sangat berbahaya jika memakan tanah. Toxoplasmosis Etiologi Penyakit toxoplasmosis disebabkan oleh parasit intraseluler Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii terdapat dalam 3 bentuk yaitu bentuk trofozoit, kista, dan Ookista. Trofozoit berbentuk oval dengan ukuran 3 7 um, dapat menginvasi semua sel mamalia yang memiliki inti sel. Trofozoit ditemukan dalam jaringan selama masa akut dari infeksi. Bila infeksi menjadi kronis trofozoit dalam jaringan akan membelah secara lambat dan disebut bradizoit. Bentuk kedua adalah kista yang terdapat dalam jaringan dengan jumlah ribuan berukuran 10 100 um. Kista penting untuk transmisi dan paling banyak terdapat dalam otot rangka, otot jantung dan susunan syaraf pusat. Bentuk yang ke tiga adalah bentuk Ookista yang berukuran 10-12 um. Ookista terbentuk di sel mukosa usus kucing dan dikeluarkan bersamaan dengan feces kucing. Dalam epitel usus kucing berlangsung siklus aseksual atau schizogoni dan siklus atau gametogeni dan sporogoni yang menghasilkan ookista dan dikeluarkan bersama feces kucing. Kucing yang mengandung toxoplasma gondii dalam sekali exkresi akan mengeluarkan jutaan ookista. Bila ookista ini tertelan oleh hospes perantara seperti manusia, sapi, kambing atau kucing maka pada berbagai jaringan hospes perantara akan dibentuk kelompok-kelompok trofozoit yang membelahsecara aktif. Pada hospes perantara tidak dibentuk stadium seksual tetapi dibentuk stadium istirahat yaitu kista. Bila kucing makan tikus yang mengandung kista maka terbentuk kembali stadium seksual di dalam usus halus kucing tersebut (Urquhart,1996).

Gambar 2. Sikulus hidup Toxoplasma gondii (Tilley et all, 2001)

Gejala Klinis, Diagnosis, dan Pengobatan Infeksi Toxoplasma gondii pada kucing biasanya tidak ditandai dengan gejala klinis tetapi pada hewan yang mengalami kebuntingan muda biasanya terjadi abortus dan apabila dapat lahir neonates akan cacat.Gold standard diagnosis untuk toxoplasmosis sampai sekarang adalah pengukuran titerantibodi. Ditemukannya Ig M merupakan petanda infeksi akut yang baru saja terjadi dan merupakan bentuk infeksi aktif. Ig G merupakan petanda infeksi telah berlangsung lama atau khronis. Diagnosis toxoplasmosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan serologis dan menemukan parasit dalam jaringan tubuh penderita (Subronto,2006). Kombinasi pyrimethamine dan trisulfapyrimidine dengan penambahan asam folat dan yeast secara sinergis akan menghambat siklus p-amino asam benzoat dan siklus asam folat. Obat lainnya adalah trimetoprim dan spiramycin (Subronto,2006). Tindakan preventif Dalam hal pencegahan toxoplasmosis yang penting ialah menjaga kebersihan, mencuci tangan setelah memegang daging mentah menghindari feces kucing pada waktu membersihkan halaman atau berkebun. Memasak daging minimal pada suhu 66 derajat celcius atau dibekukan pada suhu 20 derajat Celcius. Menjaga makanan agar tidak terkontaminasi dengan binatang rumah atau serangga. Wanita hamil trimester pertama sebaiknya diperiksa secara berkala akan kemungkinan infeksi dengan toxoplasma gondii.
5

Mengobatinya agar tidak terjadi abortus, lahir mati ataupun cacat bawaan (Tilley et all, 2004). Zoonosis toxoplasma Infeksi dapat terjadi bila manusia makan daging mentah atau kurang matang yang mengandung kista. Infeksi ookista dapat ditularkan dengan vektor lalat, kecoa, tikus, dan melalui tangan yang tidak bersih. Transmisi toxoplasma ke janin terjadi utero melalui placenta ibu hamil yang terinfeksi penyakit ini. Infeksi juga terjadi di laboratorium, pada peneliti yang bekerja dengan menggunakan hewan percobaan yang terinfeksi dengan toxoplasmosis atau melalui jarum suntik dan alat laboratorium lainnya yang terkontaminasi dengan toxoplasma gondii. Melihat cara penularan diatas maka kemungkinan paling besar untuk terkena infeksi toxoplamosis gondii melalui makanan daging yang mengandung ookista dan yang dimasak kurang matang. Kemungkinan ke dua adalah melalui hewan peliharaan. Diphylidium caninum Etiologi Dipylidium merupakan jenis cacing pita yang pendek dibandingkan dengan Taenia, ukuran panjang maksimum adalah 50 cm. Scolex memiliki rostelllum yang protusible,proglotid yang masak memiliki tanda yang menciri (karakteristik) berbentuk seperti biji mentimun. Setiap proglotid terdapat dua pasang organ genital dan lubang kelamin dengan jelas terlihat pada setiap sisi lateral. Ovarium dengan glandula vetelina membentuk masa pada salah satu sisi menyerupai gerombolan buah anggur. Proglotid bunting akan terlepas keluar melalui anus, bergerak berputar-putar dengan bebas atau melekat pada rambut disekitar anus. Telur tersimpan di dalam kantong telur (kapsula) (Urquhart, 1996). Siklus Hidup Hospes intermedier Dipylidium caninum adalah pinjal (ctenocephalides canis, Ctenocephalides felis dan fulex irritans) serta kutu Trichodectes canis, bentuk peralihannya adalah sistiserkoid yang ditemukan didalam rongga badan terbentuk setelah 13 hari. Masa prepaten selama 2 3 minggu. Sistiserkoid pada pinjal menimbulkan kematian atau menjadi lemah dan lamban, sehingga dengan mudah dimakan oleh anjing (Urquhart, 1996). Patogenesis & gejala klinis Selain menyebabkan rasa gatal di daerah anus karena keluarnya proglotid serta rangsangan yang timbul oleh melekatnya proglotid tersebut. Rasa gatal tersebut akan menyebabkan penderita menggosok gosokan bagian rektalnya di tanah. Penderita dengan infeksi berat memperlihatkan gejala nafsu makan menurun dan berat badan yang menurun (Subronto, 2006). Diagnosis Rasa gatal di daerah anus yang diperlihatkan dengan mengosok-gosokan bagian yang gatal tersebut serta berjalan dengan tubuh yang tegak merupakan petunjuk kuat untuk diagnosa. Petunjuk lain dapat dilihat dari adanya potongan proglotid seperti biji mentimun yang berada didalam feses (Subronto,2006).

Penanganan/terapi Pengobatan dengan atabrine, febantel, pyrantel pamoat, praziquantel dan kuinakrin.Pengobatan suportif untuk diare dengan pemberian kaotin suspensi, hematopan B12 untuk pembentukan darah dan menambah nafsu makan, diphenhydramine HCl untuk anti radang (Subronto,2006).

DAFTAR PUSTAKA Ballweber, Lora Rickard. 2001. Veterinary Parasitology. Butterworth-Heinemann: London Hubner, J., M. Uhlikova, and M. Leissova. 2001. Diagnosis of Early Phase of Larvae Toxocariasis Using Ig Avidity. Epidemial Mikrobial Immunal. 50(2): 67-70. Quinn, P.J. 2007. Veterinary Microbiology and Microbial Diseases. Blackwell Science Publishing : Iowa Subronto.2006. Penyakit Infeksi Parasit dan Mikroba Pada Anjing Kucing. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta Tilley, L.P., dan Smith, F.W.K., 2004. The 5-Minute Veterinary Consult Canine and Feline Third Edition. Lippincott Williams & Wilkins : Philadelphia. Urquhart, G.M. 1996. Veterinary Parasitology. Blackwell Science Publishing : Iowa Wikipedia. 2011. Toxoplasma Gondii Life Cycle . Diakses di : http://en.wikipedia.org/wiki/File:Toxoplasma_gondii_Life_cycle_PHIL_3421_lores.jpg . Pada tanggal 15 September 2011. Pukul 13.00 WIB