Komplikasi dan Patologi Masa Nifas
Komplikasi dan Patologi Masa Nifas
Dosen Pengampu
Rizki Amelia,[Link].,Bd.,[Link]
Disusun Oleh
Kelompok 3
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
"Asuhan Komprehensif pada Ibu Nifas dengan Komplikasi dan Patologi" ini
dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran
yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini di masa
mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan dan manfaat bagi kita
Penyusun
DAFTAR ISI
TD : Tekanan Darah
KB : Keluarga Berencana
PE : Pulmonary Embolism
KB : Keluarga Berencana
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masa nifas (puerperium) adalah periode kritis bagi seorang ibu yang
6-8 minggu. Periode ini merupakan masa adaptasi, baik secara fisiologis
komplikasi yang dapat mengancam jiwa. Angka Kematian Ibu (AKI) masih
kedalam keadaan normal, dengan tenggang waktu sekitar 42 hari atau enam
untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasio kematian
ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh
setelah bayi lahir pada persalinan pervaginam dan melebihi 1000 ml pada
seksio sesarea atau perdarahan yang lebih dari normal yang telah
Angka Kematian Ibu (AKI) didunia adalah 289.000 jiwa atau ada sekitar
800 ibu di dunia meninggal setiap harinya akibat komplikasi kehamilan dan
persalinan. Penyebab utama dari kematian ibu antara lain sumber daya yang
tahun 2020 kematian ibu 4.627 kasus atau terjadi peningkatan sebanyak 9%
kematian ibu dari tahun 2019 dan pada tahun 2021 kematian ibu meningkat
sebanyak 37% dari tahun 2019. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan
(Istiningsih , 2024)
komplikasi pada masa nifas adalah kunci untuk mencegah morbiditas dan
ini adalah:
1. Apa saja komplikasi dan patologi yang umum terjadi pada masa nifas?
C. Tujuan Penulisan
komplikasi nifas.
PEMBAHASAN
memiliki komplikasi
3 tahap, yaitu:
a. Tahap I : Taking in
sewaktu melahirkan.
tersebut.
c. Tahap III : Letting go
a. Involusi Uterus
sehingga pada hari ke-7 TFU berkisar 5 cm dan pada hari ke-
b. Lochea
postpartum.
persalinan.
sayur, 1 potong ikan) setiap pagi, siang dan sore hari dan
b. Ambulasi
karena merasa letih dan sakit. Namun ibu harus dibantu turun
c. Eliminasi
Diuresis yang nyata akan terjadi pada satu atau dua hari
bermanfaat.
d. Kebersihan diri/perineum
e. Istirahat
f. Seksual
atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah
g. Keluarga berencana
Tujuannya :
atonia uteri
Tujuannya:
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus
abnormal
istirahat
– tanda penyakit
bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi
sehari– hari.
Tujuannya :
abnormal
istirahat
digunakan
B. Perdarahan Postpartum (Postpartum Hemorrhage - PPH)
d. Patofisiologi
Tanda-tanda dari anemia dimulai dengan menipisnya simpanan
zat besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan
denganmeningkatnya kapasitas pengikatan zat besi. Tahap yang lebih
lanjut berupa habisnya simpanan zat besi, berkurangnya kejenuhan
transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang diubah menjadi
darah dan akan diikuti dengan menurunnya kadar feritin serum.
Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya
kadar Hb (Kartalina, 2021).
Gejala anemia defisiensi besi dibagi menjadi dua, yaitu tanda dan
gejala anemia defisiensi besi tidak khas serta tanda dan gejala anemia
defisiensi besi yang khas. Tanda dan gejala anemia defisiensi besi tidak
khashampir sama dengan anemia pada umumnya yaitu cepat lelah atau
kelelahankarena simpanan oksigen dalam jaringan otot kurang sehingga
metabolisme otot terganggu, nyeri kepala dan pusing merupakan
kompensasi dimana otak kekurangan oksigen karena daya angkut
hemoglobin berkurang. kesulitan bernapas, terkadang sesak napas
(Permatasari & Mildiana, 2021).
e. Tanda Gejala
Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum
hamil, derajat hipervolemia-terinduksi kehamilan, dan derajat anemia
saat persalinan. Gambaran Perdarahan PostPartum yang dapat
mengecohkan adalah kegagalan nadi dan tekanan darah untuk
mengalami perubahan besar sampai terjadi kehilangan darah sangat
banyak. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tandatanda
syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan
kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Sunarsih, 2019).
Gambaran table klinis pada hipovolemia dapat dilihat pada tabel
berikut menurut (Sunarsih, 2019).
Volume darah Tekanan darah Tanda dan gejala Derajat syok
yang hilang (sistolik)
500-1000 mL Normal Tidak ditemukan -
(15-20%)
1000-1500 mL 80-100 mmHg Bradikardi Ringan
(20- 25%) (100x/menit)
Berkeringat
lemah
1500-2000 mL 70-80 mmHg Takikardi (100- Sedang
(25- 35%) 120 kali/menit)
Oliguria Gelisah
2000-3000 mL 50-70 mmHg Takikardi (>120 Berat
(35- 50%) kali/menit)
Anuria
Alamat :
2. Keluhan utama:
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan
dengan masa nifas. Untuk mengetahui masalah yang di hadapi
yang berkaitan dengan masa nifas, misalnya pasien merasa mules,
sakit atau nyeri pada jalan lahir karena adanya jahitan pada
perineum (Finlayson et al., 2021). Menurut (Neary et al., 2021)
menyatakan bahwa keluhan utama yang terdapat pada ibu nifas
dengan perdarahan post partum yaitu ibu merasa lemas, pusing
dan berkeringat.
5. Riwayat Menstruasi
Menstruasi terjadi sekitar 14 hari sesudah ovulasi pada siklus 28
hari. Hari pertama keluarnya darah menstruasi ditetapkan sebagai hari
pertama siklus endometrium. Darah menstruasi sebagian besar berasal
dari darah anterial meskipun dapat juga berasal dari darah venosa (Yulia
Darmi et al., 2022).
6. Riwayat Obstetri
Kehamilan Persalinan Anak Nifas
No
Suami Ank UK Peny Jenis Pnlg Tmpt Peny JK BB/PB H M Abnr Laktsi Peny
a. Kehamilan
Suami: salah satu resiko hipertensi akibat kehamilan terjadi pada
multigravida yang memiliki pasangan baru.
UK: kelahiran premature sebelumnya dapat menimbulkan resiko
persalinan premature berikutnya.
Penyulit : penyakit yang diderita saat kehamilan yang lalu dapat
terjadi pada kehamilan saat ini seperti hipertensi, anemia,
perdarahan pada pada kehamilan tua (Ermewaningsih et al.,
2023).
b. Persalinan
Jenis : adanya persalinan Caesar dapat mengindikasikan kelainan
pada kehamilan maupun jalan lahir.
Penolong : penolong persalinan menggambarkan kepercayaan
wanita dan/ keluarganya pada orang tersebut.
Tempat :terdapat kecenderungan wanita akan mendatangi tempat
yang sama dengan persalinan terdahulu untuk melahirkan
Penyulit : terjadinya komplikasi saat persalinan terdahulu dapat
berulang pada persalinan saat ini yang harus dideteksi sedini
mungkin (Ermewaningsih et al., 2023).
c. Anak
Usia : jarak kelahiran yang sangat berdekatan (dibawah dua
tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya
perdarahan pada trimester ketiga termasuk karena alasan plasenta
previa, anemia atau kurang darah, ketuban pecah dini, endometriosis
masa nifas serta yang terburuk yakni kematian saat (Ermewaningsih et
al., 2023)
7. Riwayat Kontrasepsi
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini
dan beralih ke kontrasepsi apa. (Fegita & Satria, 2018)
8. Pola Fungsional Kesehatan
Pola Keterangan
Nutrisi Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbnag,
terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu
menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu,
yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Bila
pemberian ASI berhasil baik, maka berat badan bayi akan
meningkat, integritas kulit baik, tonus otot, serta kebiasaan
makan yang memuaskan. Ibu menyusui tidaklah terlalu
ketat dalam mengatur nutrisinya, yang penting makanan
yang menjamin pembentukan air susu yang berkualitas
dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
bayinya. (Sulistyawati, 2019)
Eliminasi Setelah ibu melahirkan, terutama bagi ibu yang pertama kali
melahirkan akan terasa pedih bila BAK. Keadaan ini
kemungkinan disebabkan oleh iritasi pada uretra sebagai
akibat persalinan sehingga penderita takut BAK. Bila
kandungan kemih penuh, maka harus diusahakan agar
penderita dapat buang air kecil sehingga tidak akan
membawa bahaya infeksi (Shahbazi Sighaldeh et al., 2020)
Istirahat Karena lelah sehabis bersalin ibu harus beristirahat, tidur
terlentang selama 2 jam postpartum kemudian boleh
miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah
terjadinya trombosis dan tromboemboli (Simbolon &
Pakpahan, 2020)
Dalam penelitian (Michele L. Okun, 2018) mengatakan
bahwa kualitas tidur merupakan faktor risiko pengaruh
negatif ibu pada periode postpartum. Penilaian tidur ibu
perlu dipertimbangkan sebagai komponen untuk
mengidentifikasi wanita yang berisiko mengalami depresi
dan kecemasan pascapersalinan.
Pada ibu post partum seringkali mengalaim pola tidur
yang terganggu. Rasa yang ketidaknyaman yang dialami
oleh ibu post partum dipengaruhi oleh lingkungan yang
kurang nyaman, bayi meringis, aktivitas untuk merawat
bayi, serta nyeri yang dirasakan akibat nyeri jahitan
perineum selama persalinan (Ambounda et al., 2021)
Aktivitas Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada
pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap
kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat
mempercepat proses pengembalian alat-alat reproduksi.
Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah
kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing
ketika melakukan ambulasi (Fegita & Satria, 2018)
Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam
mobilisasi pada ibu post partum dapat disebakan oleh
trauma selama persalinan. Trauma yang dimaksud adalah
luka pada perineum yang menyebabkan ibu merasa nyeri.
Dari luka perineum yang dialami oleh ibu akan membuat
mobilitas fisik ibu terganggu (Sukariasih, 2020).
Personal Hygiene Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting
untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh,
pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk
tetap dijaga (Novita et al., 2022)
Seksualitas Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual
begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan
satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri.
Banyak budaya dan agama yang melarang untuk melakukan
hubungan seksual sampai masa waktu tertentu, misalnya 40
hari atau 6 minggu setelah kelahiran. Keputusan bergantung
pada pasangan yang bersangkutan (Novita et al., 2022)
Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil
dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai
hubungan suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu
dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa
nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan
ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai melakukan
hubungan suami istri kapan saja ibu siap (Novita et al.,
2022)
9. Psokososiokultural Spiritual
Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk
bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu
memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah
(Novita et al., 2022)
a. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Kesadaran : Biasanya kesadaran akan menurun sampai
syok (Sultan, 2020)
b) Tanda Vital : Pada perdarahan pascapersalinan dapat
menyebabkan perubahan tanda vital dimana
tensi <90 mmHg dan nadi >100 x/mnt
pernapasan menjadi lebih cepat (Sultan,
2020)
Antropometri :
(1) Tinggi Badan :
Tinggi badan merupakan salah satu parameter
antropometri yang sangat penting. Berbagai metode
penentuan status gizi pada berbagai usia hampir selalu
menggunakan tinggi badan sebagai parameternya, mulai
dari crown-rump length pada janin, hingga penghitungan
indeks massa tubuh pada dewasa (Warrier & Krishan,
2020).
BB sebelum hamil :
(2) BB sekarang :
Keadaan berat badan lebih dan obesitas pada kehamilan
merupakan salah satu kondisi obstetri berisiko tinggi
karena dapat meningkatkan risiko morbiditas dan
mortalitas ibu dan janin. Komplikasi yang dapat terjadi
pada masa antepartum antara lain meningkatkan risiko
diabetes gestasional dan hipertensi, komplikasi
intrapartum seperti perdarahan postpartum, distosia
bahu, dan kegagalan induksi. Masa postpartum, obesitas
terbukti meningkatkan risiko tromboemboli (Natalia et
al., 2020).
(3) Lila :
2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Kepala : Kepala merupakan organ tubuh yang
penting dikaji karena dikepala terdapat organ-organ
yang sangat berperan dalam fungsi
[Link] dengan memperhatiakan bentuk
kepala terdapat benjolan atau tidak, nyeri tekan dan
dan kebersihan kepala. Kepala merupakan organ
tubuh yang penting dikaji karenadikepala terdapat
organ-organ yang sangat berperan dalam fungsi
kehidupan (Novita et al., 2022).
Wajah : Dapat tampak pucat, menunjukkan tanda anemik
(Nurlela et al., 2017)
Mata : Konjungtiva pucat (Nurlela et al., 2017)
Hidung : Hidung di kaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan
fungsi hidung bagian dalam, lalu sinus- sinus (Fegita
& Satria, 2018).
Mulut : Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut
Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menilai ada
tidaknya trismus, halitosis dan labioskisis. Trismus
yaitu kesukaran membuka mulut. Halitosis yaitu bau
mulut tidak sedap karena personal hygine yang
kurang. Labioskisis yaitu keadaan bibir tidak simetris.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada gusi untuk
menilai edema atau tanda-tanda radang (Fegita &
Satria, 2018)
Telinga : Untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga,
gendang telinga/membran timpani, dan pendengaran.
Teknik yang di gunakan adalah inspeksi dan palpasi.
Pemeriksaan pendengaran dilaksanakan dengan
bantuan garfutala untuk mengetahui apakah pasien
mengalami gangguan pendengaran atau tidak (Fegita
& Satria, 2018).
Leher : Teknik yang di gunakan adalah inspeksi dan
palpasi. Tujuan pengkajian leher secara umum adalah
mengetahui bentuk leher serta organ-organ penting
yang berkaitan. Pembesaran kelanjar limfe dapat
disebabkan oleh berbagai penyaki, misalnya
peradangan akut/ [Link] limfe juga
terjadi dibeberapa kasus seperti tuberculosis
atausifilis. Palpasi kelenjar tyroid dilakukan untuk
mengetahui adanya pembesaran kelenjar tyroid yang
biasanya disebabkan oleh kekurangan garam yodium.
Palpasi pada leher dilakukan untuk mengetahui
keadaan dan lokasi kelenjar limfe, kelenjar tyroi dan
trakea. Pembesaran kelanjar limfe dapat disebabkan
oleh berbagai penyaki, misalnya peradangan akut/
[Link] limfe juga terjadi dibeberapa
kasus seperti tuberculosis atau sifilis. Palpasi kelenjar
tyroid dilakukan untuk mengetahui adanya
pembesaran kelenjar tyroid yang biasanya disebabkan
oleh kekurangan garaam yodium (Fegita & Satria,
2018).
Dada : Dada simetris suara terndengar keras, nyaring,
dengan hembusan yang lembut, terdengar diatas
trakea atau daerah lekuk
[Link], suara terdengar
nyaring dengan intensitas sedang. Inspirasi sama
panjang dengan ekspirasi, terdengar di daerah dada
dimana bronkus tertutup oleh dinding [Link],
terdengar lembut dan halus inspirasi lebih panjang
dari ekspirasi. Umumnya bersuara resonan dan
dullness. Karena suara resonan dihasilkan oleh
jaringan paru-paru yang normalnya bergaung dan
bernada rendah dan suara dullness dihasilkan oleh di
bagian atas jantung dan paru-paru (Fegita & Satria,
2018).
Payudara : Kolostrum merupakan ekskresi cairan
dengan viskositas kental, lengket dan berwarna
kekuningan pada hari pertama sampai hari keempat
postpartum. ASI transisi yang keluar setelah
kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak
hari keempat sampai hari kesepuluh. ASI matur
disekresi pada hari kesepuluh dan seterusnya, tampak
berwarna putih, kandungannya relatif konstan.
Mengkaji simetris atau tidak, konsistensi, ada
pembengkakan atau tidak, putting menonjol/tidak,
dan lecet/tidak. Mengkaji konsistensi, ada
pembengkakan atau tidak, putting menonjol/tidak,
dan lecet/tidak (Shahbazi Sighaldeh et al., 2020).
Abdomen : Pada pemeriksaan luar obstetri ditemukan tinggu
fundus uteri (TFU) setinggi umbilikus, kontraksi
sedang / tidak terdapat kontraksi, tidak terdapat nyeri
tekan (Nurlela et al., 2017)
Genetalia : Pemeriksaan dalam ditemukan portio lividae, OUE
terbuka, perdarahan aktif, laserasi positif, hecting
positif (Nurlela et al., 2017).
Palpasi
Kepala : Kepala merupakan organ tubuh yang penting dikaji
karena dikepala terdapat organ-organ yang sangat
berperan dalam fungsi kehidupan. Palpasi untuk
mengetahui adanya nyeri tekan atau tidak.
Mata : Tidak teraba oedema pada kelopak mata.
Telinga : Tidak teraba oedem, benjolan atau massa.
Hidung : Tidak teraba oedem, polip, benjolan atau massa.
Leher : Palpasi pada leher dilakukan untuk mengetahui keadaan
dan lokasi kelenjar limfe, kelenjar tyroi dan trakea.
Pembesaran kelanjar limfe dapat disebabkan oleh
berbagai penyaki, misalnya peradangan akut/
[Link] limfe juga terjadi dibeberapa
kasus seperti tuberculosis atau sifilis. Palpasi kelenjar
tyroid dilakukan untuk mengetahui adanya
pembesaran kelenjar tyroid yang biasanya disebabkan
oleh kekurangan garaam yodium (Nurlela et al., 2017)
Dada : Tidak teraba benjolan atau massa pada payudara,
payudara teraba tegang, dapat teraba noduli-noduli,
akibat hipertrofi kelenjar alveoli
Payudara : Mengkaji konsistensi, ada pembengkakan atau tidak,
putting menonjol/tidak, dan lecet/tidak
Ketiak : Tidak teraba benjolan.
Abdomen : TFU setinggi pusat (bayi lahir), 2 jari bawah pusat
(uri lahir), pertengahan sympisis-pusat (1
minggu), tidak teraba, diatas sympisis (2 minggu),
tidak teraba/50 gram (6 minggu), sebesar normal
(8 minggu). Setelah janin lahir, uterus secara
berangsur-angsur akan menjadi kecil sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Cek
kontraksi uterus dan konsistensinya, cek diastasis
rectis abdominalis. kandung kemih bisa buang
air/tidak bisa buang air. Pembesaran uterus, lunak,
sulit dipalpasi dan kadang nyeri tekan abdominal
(Nurlela et al., 2017).
Genitalia : Lakukan eksplorasi sisa plasenta,ketuban dan robekan
(Nurlela et al., 2017)
Ekstermitas:Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan
tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah
rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas
dingin, dan lain-lain (Nurlela et al., 2017).
Auskultasi
Dada : Terdengar suara nafas vesikuler, irama
jantung terdengar normal, frekuensi jantung
>100 x/mnt pernapasan menjadi lebih cepat
(Fegita & Satria, 2018).
Abdomen : Bising peristaltik usus orang dewasa normalnya
adalah 5-35 x/menit.
Perkusi : -
3. Pemeriksaan Penunjang :
a. Pemeriksaan Labolatprium
Hemoglobin, Leukosit, Trombosit, Hematokrit, Clotting
Time (CT),Bleeding Time (BT) (Nurlela et al., 2017). Kadar
hemoglobin, hematokrit, masa perdarahan, masa pembekuan,
Menurut (Ramadhan, dkk, 2019) wanita yang mengalami
anemia dalam persalinan dengan kadar hemoglobin < 11 g/dL
kondisinya akan dengan mudah terganggu meskipun
mengeluarkan darah yang sedikit. Anemia dihubungkan
dengan kelemahan yang dapat dianggap sebagai penyebab
langsung perdarahan postpartum. Resiko perdarahan
postpartum meningkat pada wanita bersalin dengan dimana
uterus akan kekurangan oksigen, glukosa dan nutrisi esensial
dan cenderung bekerja secara tidak efisien pada semua
persalinan, hal inilah yang dapat menyebabkan perdarahan
postpartum semakin meningkat. Anemia dalam kehamilan
tidak hanya berdampak pada persalinan juga dapat
berdampak pada masa nifas.
b. Pemeriksaan USG
Bila perlu untuk menentukan adanya sisa jaringan konsepsi
intrauterine. Sonografi merupakan teknik yang efisien untuk
menilai retensi fragmen plasenta pada pasien
pascapersalinan dan pascaaborsi. Hasil sonografi yang
normal dapat menghindari perlunya pemeriksaan fisik
rongga rahim. Temuan sonografi yang meragukan bukanlah
teknik yang berguna untuk membedakan fragmen plasenta
dari bekuan darah saja (Abd EL Kareem et al., 2021).
INTERVENSI
1. Lakukan pemantauan 2 jam PP
Rasional: menjelaskan keadaan dan hasil pemeriksaan kepada ibu dan
keluarga bahwa ibu mengalami perdarahan dan akan
dilakukan pemantauan tanda-tanda vital yaitu tekanan darah,
nadi, suhu, kontraksi uterus, perdarahan, dan pengeluaran
perdarahan (Novita et al., 2022)
2. Ajarkan ibu untuk melakukan massase
Rasional : Masase dilakukan di fundus uteri melalui dinding depan
abdomen dengan gerakan sirkuler dengan penekanan ke
arah kaudal sampai terasa kontraksi yang kuat. Bila
kontraksi telah baik, palpasi uterus dilakukan setiap 15
menit dan untuk meyakinkan bahwa uterus tidak lembek
setelah masase berhenti (Ambounda et al., 2021)
3. Beritahu ibu untuk memenuhi kebutuhan cairan
Rasional : Menganjurkan ibu untuk memperbanyak minum agar ibu
tidak mengalami dehidrasi karena kehilangan banyak darah
(Neary et al., 2021)
4. Lakukan Kolaborasi dengan dokter obgyn untuk memberikan therapy
Rasional : penggunaan asam tranexamat dapat menurunkan kehilangan
darah pada PPH yang sedang berlangsung. Dosis yang
diberikan sebanyak 4 g+ 6 g (60 mg/Kg sebagai dosis awal
diikuti dengan infus 16 mg/kg/jam) (Shahbazi Sighaldeh et
al., 2020).
IMPLEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan rencana
asuhan yang telah disusun. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya.
EVALUASI
pada penanganan fisik tetapi juga dukungan psikologis dan edukasi. Kerangka
payudara, dan ekstremitas bawah. Penilaian status psikologis ibu juga tidak
"Ibu P1A0 nifas 6 jam dengan perdarahan postpartum primer et causa atonia
intervensi yang sesuai dengan diagnosis dan standar praktik klinis. Ini termasuk
ibu dan keluarga mengenai kondisinya, tanda bahaya, dan perawatan di rumah
TINJAUAN KASUS
Nama Pengkaji :
Subjektif
1. Identitas
Bangunan
jam yang lalu. Darah keluar terus walaupun sudah diganti pembalut berkali-
jantung.
Ibu mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit
pembekuan darah.
5. Riwayat Menstruasi
Siklus : 28 hari
6. Riwayat Obstetri
Ibu bersalin pada tanggal 06 Oktober 2025 pukul 08.00 WITA secara normal
spontan.
Kala I berlangsung 10 jam, Kala II 30 menit, Kala III 5 menit, Kala IV 2 jam.
Plasenta lahir lengkap, namun ±1 jam setelah persalinan darah keluar terus
9. Riwayat Nifas
Ibu belum beristirahat karena masih cemas dan merasa darah terus keluar.
Tidak pernah mengalami penyakit organ reproduksi seperti kista, mioma, atau
endometritis
2 tahun lalu.
Pola Keterangan
Belum makan setelah melahirkan, hanya minum air
Nutrisi
putih ±1 gelas
Eliminasi Belum BAK sejak melahirkan
Istirahat Belum tidur, masih merasa lemas
Aktivitas Tidak mampu bangun dari tempat tidur karena pusing
Personal Belum membersihkan diri karena masih perdarahan
Hygiene banyak
Pola Keterangan
Tidak memiliki kebiasaan buruk seperti merokok atau
Kebiasaan
minum alkohol
ruang bersalin.
Spiritual: Ibu berdoa agar segera sembuh, tampak pasrah dan kooperatif.
Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Tanda Vital:
Suhu: 36,5°C
Pernafasan: 26 x/menit
Antropometri:
BB: 68 kg
TB: 155 cm
LILA: 26 cm
IMT: 28,3
2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Simetris, tidak ada ketombe, rambut tidak rontok, tidak ada benjolan,
Wajah : Simetris, bentuk wajah oval, tampak pucat, tidak terdapat cloasma
gravidarum.
infeksi.
Hidung : Bersih, tidak ada pengeluaran cairan, tidak ada pernapasan cuping
Mulut : Bibir tampak kering, agak pucat, tidak ada caries dentis, tidak ada
Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada, bunyi jantung I dan II reguler
Payudara : Simetris, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, puting susu
Abdomen : Tidak terdapat luka bekas operasi, terdapat linea nigra dan striae
dinding abdomen lembek, tidak ada distensi usus, kontraksi uterus tidak
adekuat (atonia).
Genetalia : Simetris, tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak ada pembesaran
kelenjar bartholini maupun scene, perineum utuh tanpa jahitan, keluar darah
merah segar dalam jumlah banyak, tidak berbau, lochea rubra dominan.
Anus : Tidak ada hemoroid, tidak ada luka atau tanda perdarahan.
Ekstremitas :
Bawah: Simetris, tidak oedem, CRT >3 detik, refleks patella (+),
3. Pemeriksaan Penunjang
Assessment
Planning
Paraf
No Tgl/Jam Tindakan yang Dilakukan
Pelaksana
06-10-2025 / 10.35 Menilai keadaan umum ibu (Airway, Breathing,
1 Mahasiswa
WITA Circulation).
Memanggil bantuan dan menyiapkan alat
2 10.37 WITA Mahasiswa
kegawatdaruratan.
Paraf
No Tgl/Jam Tindakan yang Dilakukan
Pelaksana
Mengosongkan kandung kemih dengan pemasangan kateter
3 10.40 WITA Mahasiswa
steril.
4 10.43 WITA Melakukan masase fundus uteri sampai keras. Mahasiswa
Memberikan Oksitosin 10 IU IM dan infus RL + 20 IU
5 10.45 WITA Mahasiswa
Oksitosin/1000 ml tetes cepat.
Melakukan kompresi bimanual karena perdarahan belum
6 10.50 WITA Mahasiswa
berhenti.
7 10.55 WITA Memberikan misoprostol 800 µg rektal setelah evaluasi. Mahasiswa
Memantau tanda vital setiap 5–10 menit, observasi jumlah
8 11.00 WITA Mahasiswa
darah keluar.
Memberikan edukasi keluarga tentang kondisi ibu dan tanda
9 11.20 WITA Mahasiswa
bahaya syok.
Setelah uterus keras dan perdarahan berkurang, rencana
10 11.30 WITA Mahasiswa
pemeriksaan Hb dan observasi 2 jam.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Penyebab utama dari komplikasi ini sering kali dapat dicegah dan dideteksi
lebih dini melalui pemantauan yang cermat dan pengetahuan yang adekuat
pengkajian yang teliti, diagnosis yang akurat, intervensi yang cepat dan
B. Saran
berkelanjutan.
hebat, demam tinggi, atau perasaan sangat sedih) untuk segera mencari
pertolongan medis.
DAFTAR PUSTAKA
Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Spong, C. Y., & Dashe, J.
EGC.
Varney, H., Kriebs, J. M., & Gegor, C. L. (2019). Varney's Midwifery (6th