0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan55 halaman

Komplikasi dan Patologi Masa Nifas

Dokumen ini adalah laporan asuhan komprehensif mengenai komplikasi dan patologi pada masa nifas, disusun oleh kelompok mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur. Laporan ini membahas pentingnya pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi selama masa nifas dan penanganan yang tepat untuk mencegah morbiditas dan mortalitas maternal. Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi komplikasi, memahami gejala, serta menyajikan kerangka asuhan kebidanan yang komprehensif.

Diunggah oleh

klinik
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan55 halaman

Komplikasi dan Patologi Masa Nifas

Dokumen ini adalah laporan asuhan komprehensif mengenai komplikasi dan patologi pada masa nifas, disusun oleh kelompok mahasiswa Politeknik Kesehatan Kemenkes Kalimantan Timur. Laporan ini membahas pentingnya pemahaman tentang komplikasi yang dapat terjadi selama masa nifas dan penanganan yang tepat untuk mencegah morbiditas dan mortalitas maternal. Tujuan utama dari makalah ini adalah untuk mengidentifikasi komplikasi, memahami gejala, serta menyajikan kerangka asuhan kebidanan yang komprehensif.

Diunggah oleh

klinik
Lisensi
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN ASUHAN KOMPREHENSIF

KOMPLIKASI DAN PATOLOGI PADA MASA NIFAS

Dosen Pengampu
Rizki Amelia,[Link].,Bd.,[Link]

Disusun Oleh
Kelompok 3

Adisti (P07224324295) Dwi Dariyanti (P07224324248)


Afidtiyah Nurrohma (P07224324329) Eka Rahmayanti (P07224324273)
Ajeng Diya Wulandari (P07224324312) Eka Setia Afriani (P07224324263)
Al Qoraima Adelina A (P07224324254) Eka Wulandari (P07224324240)
Aninda Yusva Satiti (P07224324330) Ety Rahayu (P07224324277)
Anisatul Fatimah S (P07224324285) Hamidah (P07224324313)
Arnida (P07224324201) Harti Ariaty (P07224324267)
Chairunnisa (P07224324265) Husnul Khatimah (P07224324325)
Dewi Rahmawati (P07224324343) Khalisah Hanifah N (P07224324331)
Dhiva Indah P (P07224324256)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES KALIMANTAN


TIMUR
PRODI SARJANA TERAPAN KEBIDANAN SAMARINDA
TAHUN 2025
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas

berkat rahmat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul

"Asuhan Komprehensif pada Ibu Nifas dengan Komplikasi dan Patologi" ini

dengan baik dan tepat waktu. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas

mata kuliah Asuhan Kebidanan Nifas.

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa masih terdapat

banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran

yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan makalah ini di masa

mendatang. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan dan manfaat bagi kita

semua, khususnya dalam bidang kesehatan ibu dan anak.

Samarinda, 06 Oktober 2025

Penyusun
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .................................................................. i


KATA PENGANTAR ................................................................ ii
DAFTAR ISI............................................................................. iii
DAFTAR ISTILAH .................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................ 4
C. Tujuan.......................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Dasar Teori ..................................................... 5
B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan ........... 24
BAB III TINJAUAN KASUS.................................................. 41
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................... 47
B. Saran......................................................................... 47
DAFTAR PUSTAKA .............................................................. 48
DAFTAR ISTILAH

Periode setelah melahirkan sampai alat reproduksi


Masa Nifas (Puerperium) :
kembali seperti semula (±6 minggu).

Proses kembalinya ukuran dan bentuk uterus seperti


Involusi Uterus :
sebelum hamil.

Cairan sekret dari kavum uteri dan vagina pada masa


Lochea :
nifas.

Kondisi di mana uterus gagal berkontraksi setelah


Atonia Uteri :
melahirkan.

Infeksi Nifas (Sepsis


: Infeksi traktus genital setelah persalinan.
Puerperalis)

Pembentukan bekuan darah di vena dalam, umumnya


Trombosis Vena Dalam (DVT) :
ekstremitas bawah.

Gumpalan darah yang berpindah ke paru-paru


Emboli Paru (PE) :
menyebabkan sumbatan.

Perubahan emosional ringan setelah melahirkan,


Postpartum Blues :
berlangsung 1–2 minggu.

Gangguan mood serius yang muncul setelah


Depresi Postpartum :
melahirkan.

Gangguan mental berat setelah persalinan, perlu


Psikosis Postpartum :
perawatan intensif.

Kegagalan uterus untuk kembali ke ukuran normal


Subinvolusi Uteri :
setelah persalinan.
DAFTAR SINGKATAN

AKI : Angka Kematian Ibu

AKB : Angka Kematian Bayi

HPP : Haemorrhage Postpartum (Perdarahan Postpartum)

PPH : Postpartum Hemorrhage

WHO : World Health Organization

TD : Tekanan Darah

TFU : Tinggi Fundus Uteri

ASI : Air Susu Ibu

KB : Keluarga Berencana

DVT : Deep Vein Thrombosis

PE : Pulmonary Embolism

ISK : Infeksi Saluran Kemih

IMD : Inisiasi Menyusu Dini

KB : Keluarga Berencana
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa nifas (puerperium) adalah periode kritis bagi seorang ibu yang

dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan

kembali seperti keadaan sebelum hamil, yang berlangsung selama kira-kira

6-8 minggu. Periode ini merupakan masa adaptasi, baik secara fisiologis

maupun psikologis. Meskipun sebagian besar ibu melewati masa nifas

dengan normal, periode ini memiliki risiko tinggi untuk terjadinya

komplikasi yang dapat mengancam jiwa. Angka Kematian Ibu (AKI) masih

menjadi masalah serius di banyak negara, termasuk Indonesia, di mana

perdarahan dan infeksi postpartum menjadi penyebab utama (Kementerian

Kesehatan RI, 2021).

Masa nifas merupakan masa mengembalikan alat genetalia interna

kedalam keadaan normal, dengan tenggang waktu sekitar 42 hari atau enam

minggu dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat

kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Puerperium dibagi

menjadi 3 yaitu puerperium dini, puerperium intermedial, dan remote

puerperium (Indriyani, 2019). Potensial bahaya yang sering terjadi adalah

pada immediate 24 jam pertama dan erly postpartum period ( minggu

pertama ) sedangkan perubahan secara bertahap kebanyakan terjadi pada

late postpartum (minggu kedua-minggu ke enam). Bahaya yang paling


sering terjadi itu adalah perdarahan pasca persalinan atau HPP (

Haemorhage Postpartum) ( Indriyani, 2019 )

Perdarahan postpartum menyebabkan kematian sebanyak 25-30% di

negara berkembang. Angka Kematian Ibu merupakan salah satu indikator

untuk melihat keberhasilan upaya kesehatan ibu. AKI adalah rasio kematian

ibu selama masa kehamilan, persalinan dan nifas yang disebabkan oleh

kehamilan, persalinan, dan nifas atau pengelolaannya bukan karena sebab-

sebab lain seperti kecelakaan atau insidental di setiap 100.000 kelahiran

hidup (Istiningsih , 2024)

Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang melebihi 500 ml

setelah bayi lahir pada persalinan pervaginam dan melebihi 1000 ml pada

seksio sesarea atau perdarahan yang lebih dari normal yang telah

menyebabkan perubahan tanda vital, seperti kesadaran menurun, pucat,

limbung, berkeringat dingin, sesak napas, serta tensi 100/menit

(Cunningham, 2014). Faktor-faktor yang berhubungan dengan perdarahan

postpartum yaitu jumlah paritas, jarak antar kelahiran, retensioo plasenta,

anemia, gemelli, partus lama dan bayi besar (Istiningsih , 2024)

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) tahun 2014,

Angka Kematian Ibu (AKI) didunia adalah 289.000 jiwa atau ada sekitar

800 ibu di dunia meninggal setiap harinya akibat komplikasi kehamilan dan

persalinan. Penyebab utama dari kematian ibu antara lain sumber daya yang

rendah, perdarahan, hipertensi, infeksi, dan penyakit penyerta lainnya yang

diderita ibu sebelum masa kehamilan (Fifi , 2021)


Jumlah kematian ibu di Indonesia tahun 2019 sebesar 4.221 kasus,

tahun 2020 kematian ibu 4.627 kasus atau terjadi peningkatan sebanyak 9%

kematian ibu dari tahun 2019 dan pada tahun 2021 kematian ibu meningkat

drastis menjadi 7.389 kasus kematian atau mengalami peningkatan

sebanyak 37% dari tahun 2019. Berdasarkan data dari Profil Kesehatan

Indonesia salah satu penyebab kematian ibu terbanyak adalah perdarahan

(Istiningsih , 2024)

Selain perdarahan, penyebab kematian ibu tertinggi lainnya adalah

hipertensi dalam kehamilan,infeksi,partus lama dan abortus ( Kemenkes,

2015 ). Berdasarkan analisa WHO, 27,1% penyebab kematian maternal

terutama disebabkan karena perdarahan, lebih dari 2/3 nya merupakan

kematian akibat perdarahan portpartum ( Satriyandari, 2017 )

Deteksi dini dan penatalaksanaan yang cepat dan tepat terhadap

komplikasi pada masa nifas adalah kunci untuk mencegah morbiditas dan

mortalitas maternal. Seorang bidan atau tenaga kesehatan memiliki peran

sentral dalam memberikan asuhan komprehensif yang mencakup

pemantauan tanda-tanda bahaya, penanganan kegawatdaruratan, serta

dukungan edukasi dan psikologis kepada ibu dan keluarga. Kurangnya

pemahaman mengenai patologi yang mungkin terjadi dapat berakibat fatal,

sehingga pengetahuan mendalam mengenai topik ini sangat esensial bagi

praktisi kesehatan (Prawirohardjo, 2014).


B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam makalah

ini adalah:

1. Apa saja komplikasi dan patologi yang umum terjadi pada masa nifas?

2. Bagaimana tanda, gejala, dan etiologi dari setiap komplikasi tersebut?

3. Bagaimana konsep asuhan komprehensif yang harus diberikan pada

ibu nifas dengan komplikasi dan patologi?

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:

1. Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan berbagai komplikasi dan

patologi yang dapat terjadi pada masa nifas.

2. Untuk memahami penyebab serta tanda dan gejala dari setiap

komplikasi nifas.

3. Untuk menyajikan kerangka asuhan kebidanan yang komprehensif

dalam menangani kasus patologis pada masa nifas.


BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Dasar Masa Nifas (Puerperium)

1. Definisi Masa Nifas

Masa nifas adalah masa setelah seorang ibu melahirkan bayi

yang dipergunakan untuk memulihkan kesehatannya kembali yang

umumnya memerlukan waktu 6-12 minggu. Menurut Prawihardjo

(2016), masa nifas atau puerperium adalah di mulai sejak 2 jam

setelah persalinan sampai dengan 6 minggu (42 hari) setelah itu.

Sedangkan menurut Mochtar, (2016), masa nifas (puerperium)

adalah masa pemulihan kembali, mulai dari persalinan selesai

sampai alat-alat kandungan kembali seperti prahamil, lama masa

nifas yaitu 6-8 minggu.

2. Tahapan Masa Nifas

Masa nifas seperti yang dijelaskan diatas merupakan

rangkaian setelah proses persalinan dilalui oleh seorang wanita,

beberapa tahapan masa nifas yang harus dipahami oleh seorang

bidan antara lain:

a. Puerperium dini, yaitu pemulihan dimana ibu telah

diperbolehkan berdiri dan berjalan – jalan.

b. Puerperium intermediet, yaitu pemulihan menyeluruh alat –

alat genital yang lamanya 6 – 8 minggu.


c. Remote puerperium, adalah waktu yangdiperlukan untuk

pulih dan sehat terutama bila selama hamil dan bersalin

memiliki komplikasi

Adapun periode postpartum ini diuraikan oleh Rubin dalam

3 tahap, yaitu:

a. Tahap I : Taking in

Periode ini berlangsung 1-2 hari setelah melahirkan. Ibu

baru umumnya pasif dan sangat tergantung, serta

perhatiannya tertuju pada kekhawatiran akan tubuhnya.

Ia akan mengingat-ingat kembali pengalamannya

sewaktu melahirkan.

b. Tahap II : Taking hold

Periode ini berlangsung pada hari ke-2 sampai harike-4

pascapartum. Ibu mulai sadar dengan kemampuannya

untuk menjdi orang tua yang sukses dan meningkatkan

tanggung jawab terhadap bayinya. Ibu berkosentrasi

pada pengontrolan fungsi tubuhnya, BAB dan BAK, juga

kekuatan serta ketahanan tubuhnya. Ibu berupaya keras

menguasai berbagai keterampilan perawatan bayi

misalnya menggendong, menyusui, memandikan dan

memasang popok. Pada periode ini, ibu cenderung

sensitif dan merasa tidak mahir melakukan keterampilan

tersebut.
c. Tahap III : Letting go

Periode ini biasanya dimulai setelah ibu pulang kerumah

dan sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian

yang diberikan kepada keluarga. Ibu harus mengambil

alih tanggung jawab perawatan bayi.

3. Perubahan Fisiologis Masa Nifas

a. Involusi Uterus

Involusi uterus adalah kembalinya uterus kepada

keadaan sebelum hamil, baik dalam bentukmaupun posisi.

Selain uterus, vagina, ligamen uterus, dan otot dasar panggul

juga kembali ke keadaan sebelum hamil. Bila ligamen uterus

dan otot dasar panggul tidak kembali ke keadaan sebelum

hamil, kemungkinan terjadinya prolaps uteri makin besar.

Selama proses involusi, uterus menipis dan mengeluarkan

lokia yang diganti dengan endometrium baru. Setelah

kelahiran bayi dan plasenta terlepas, otot uterus berkontraksi

sehingga sirkulasi darah yang menuju uterus berhenti dan ini

disebut denga iskemia.

Lapisan desidua yang dilepaskan dari dinding uterus

disebut lokia. Endometrium baru tumbuh danterbentuk

selama 10 haripostpartum dan menjadi sempurna sekitar 6

minggu. Proses involusi berlangsung sekitar 6 minggu.

Selama proses involusi uterus berlangsung, berat uterus


mengalami penurunan dari 1000 gram menjadi 60 gram, dan

ukuran uterus berubah dari 15x11x7,5 menjadi 7,5x5x2,5.

Setiap minggu, berat uterus turun sekitar500 gram dan

serviks menutup hingga selebar 1 jari.

Proses involusi uterus disertai dengan penurunan

tinggi fundus uteri (TFU). Pada hari pertama, TFU diatas

simpisis pubis atau sekitar 12 cm. Proses ini terus

berlangsung dengan penurunan TFU 1 cm setiap harinya,

sehingga pada hari ke-7 TFU berkisar 5 cm dan pada hari ke-

10TFU tidak teraba di simfisis pubis (Maryanti, 2016)

b. Lochea

Lochea adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri

dan vagina dalam masanifas. Lochea keluar dari uterus

setelah bayi lahir sampai dengan 3 atau 4 minggu

postpartum.

Lochea terdiri dari:

1. Lochea rubra (cruenta): berisi darah segar dan sisa-

sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa,

lanugo, dan mekoneum, selama 2 hari pasca

persalinan.

2. Lochea sanguinolenta: berwarna merah kekuningan

berisi darah dan lendir, hari ke 3-6 pasca persalinan.


3. Lochea serosa: berwarna kuning, cairan tidak

berdarah lagi, pada hari ke 7-14 pasca persalinan.

4. Lochea alba: cairan putih, setelah 2 minggu.

5. Lochea purulenta: terjadi infeksi, keluar cairan

seperti nanah berbau busuk

6. Lochiostasis: lochea tidak lancar keluarnya.

4. Kebutuhan Dasar Ibu Masa Nifas

Menurut Rukiyah, dkk (2016), adapun kebutuhan ibu pada masa

nifas antara lain sebagai berikut:

a. Nutrisi dan cairan

Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari. Makan

dengan menu seimbang untuk mendapatkan gizi yang

seimbang. Minum sedikitnya 3 liter setiap hari (anjurkan ibu

untuk minum setiap kali menyusui), makan sedikitnya 3 kali

perhari (anjurkan ibu untuk makan 1 piring nasi, 1 mangkuk

sayur, 1 potong ikan) setiap pagi, siang dan sore hari dan

minum susu 1 gelas setiap pagi dan malam hari. Minum

kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan

vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya.

b. Ambulasi

Ibu yang baru melahirkan mungkin enggan banyak bergerak

karena merasa letih dan sakit. Namun ibu harus dibantu turun

dari tempat tidur dalam 24 jam pertamasetelah kelahiran


pervaginam. Ambulasi ini adalah bertujuan untuk mencegah

thrombosis vena. Tujuan ambulasi dini adalah

untukmembantu menguatkan otot – otot perut dan dengan

demikian menghasilkan bentuk tubuh yang baik,

mengencangkan otot dasar panggul sehingga mencegah atau

memperbaiki sirkulasi darah seluruh tubuh.

c. Eliminasi

Diuresis yang nyata akan terjadi pada satu atau dua hari

pertama setelah melahirkan, dan kadang – kadang ibu

mengalami kesulitan mengosongkan kandung kemihnya

karena rasa sakit, memar atau gangguan pada tonus otot. Ia

dapat dibantu untuk duduk diatas kursi berlubang tempat

buang air kecil. Penatalaksanaan defekasi diperlukan

sehubungan dengan kerja ususcenderung melambat dan ibu

yang baru melahirkan mudah mengalami konstipasi,

pemberian obat – obat untuk pengaturan kerja usus kerap

bermanfaat.

d. Kebersihan diri/perineum

Pada ibu masa nifas sebaiknya anjurkan kebersihan seluruh

[Link] pada ibu bagaimana membersihkan

daerah kelamin dengan sabun dan air. Pastikan ia mengerti

untuk membersihkan daerah disekitar vulva terlebih dahulu

dari depan ke belakang. Nasehatkan ibu untuk


membersihkan diri setiap kali selesai buang air kecul dan

[Link] ibu untuk mengganti pembalut atau kain

pembalut setidaknya dua kali sehari.

e. Istirahat

Istirahat pada ibu selama masa nifas untuk mencegah

kelelahan yang berlebihan. Sarankan ia untuk kembali ke

kegiatan – kegiatan rumah tangga biasa perlahan – lahan,

serta untuk tidur siang atau beristirahat selagi bayi tidur.

f. Seksual

Secara fisik aman untuk memulai hubungan suami istri

begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan satu

atau dua jari ke dalam vagina tanpa rasa nyeri. Begitu darah

merah berhenti dan ibu tidak merasakan ketidaknyamanan,

aman untuk memulai melakukan hubungan suami istri kapan

saja ibu siap.

g. Keluarga berencana

Idealnya pasangan harusmenunggu sekurang – kurangnya 2

tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan harus

menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin

merencanakan keluarganya. Namun, petugas kesehatan

dapat membantu merencanakan keluarganya dengan

mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah

kehamilan yang tidak diinginkan


h. Latihan/senam nifas

Latihan/senam nifas, didiskusikan pentingnya

mengembalikan otot – otot perut dan panggul kembali

normal. Ibu akan merasa lebih kuat dan ini menyebabkan

otot perutnya menjadi kuat sehingga mengurangi rasa sakit

pada punggung. Jelaskan bahwalatihan tertentu beberapa

menit setiap hari sampai membantu.

5. Kunjungan Masa Nifas

Menurut Lockhart, (2016) kunjungan masa nifas :

1. Kunjungan I (6 jam-2 hari )

Tujuannya :

a. Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri

b. Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan, merujuk

bila perdarahan berlanjut

c. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu anggota

keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena

atonia uteri

d. Pemberian ASI awal

e. Melakukan hubungan antara ibu dan bayi

f. Menjaga bayi tetap sehat dengan cara mencegah hipotermi

2. Kunjungan II ( 3-7 hari )

Tujuannya:
a. Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus

berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada

perdarahan abnormal, tidak ada bau

b. Menilai adanya tanda–tanda demam infeksi atau perdarahan

abnormal

c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan, minuman dan

istirahat

d. Memastikan ibu menyusui dengan dan memperhatikan tanda

– tanda penyakit

e. Memberikan konseling kepada ibu mengenai asuhan pada

bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi

sehari– hari.

3. Kunjungan III ( 8-28 hari )

Tujuannya :

a. Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus

berkontraksi, fundus dibawah umbilicus, tidak ada

perdarahan abnormal, tidak ada bau

b. Menilai adanya tanda–tanda demam infeksi atau perdarahan

abnormal

c. Memastikan ibu mendapat cukup makanan, minuman dan

istirahat

d. Memberikan konseling kepada ibu mengenai kontrasepsi

4. Kunjungan IV ( 29-42 Hari )


Tujuannya :

a. Menanyakan ibu tentang penyakit – penyakit yang dialami

b. Memastikan ibu sudah memilih kontrasepsi apa yang akan

digunakan
B. Perdarahan Postpartum (Postpartum Hemorrhage - PPH)

1. Perdarahan Post Partum


a. Pengertian Perdarahan Post Partum
Sejak lama perdarahan postpartum diartikan sebagai kehilangan
darah 500 ml atau lebih setelah janin dan plasenta lahir (akhir kala III)
pada persalinan pervaginam atau 1000 ml atau lebih pada persalinan
seksio sesarea. Definisi ini dirasakan terlalu sederhana apabila
dikaitkan dengan adanya pertambahan volume plasma darah yang
normal pada kehamilan yaitu rata-rata sebesar 30 – 60% atau 1500 –
2000 ml selama kehamilan. Oleh karena itu pengukuran kadar
hematokrit sangat penting menilai jumlah perdarahan yang terjadi
selain pengukuran secara kwantitatif. Secara umum diterima apabila
kadar hematokrit turun sebesar 3% itu berarti sudah terjadi kehilangan
darah sebanyak pertambahan volume darah kehamilan normal (30-
60%) ditambah dengan 500 ml (Simanjuntak, 2020).
Perdarahan post partum adalah perdarahan yang massif yang
berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir dan
jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu
disamping perdarahan karena hamil ektopik dan abortus (Sultan, 2020).
Perdarahan postpartum adalah perdarahan pervaginam 500 cc
atau lebih setelah kala III selesai setelah plasenta lahir). Fase dalam
persalinan dimulai dari kala I yaitu serviks membuka kurang dari 4 cm
sampai penurunan kepala dimulai, kemudian kala II dimana serviks
sudah membuka lengkap sampai 10 cm atau kepala janin sudah tampak,
kemudian dilanjutkan dengan kala III persalinan yang dimulai dengan
lahirnya bayi dan berakhir dengan pengeluaran plasenta. Perdarahan
postpartum terjadi setelah kala III persalinan selesai (Sholaikhah, 2020).
b. Klasifikasi Perdarahan Post Partum
Menurut (Sultan, 2020), perdarahan post partum diklasifikasikan
menjadi 2, yaitu :
1) Perdarahan post partum primer : sejak kelahiran sampai 24 jam
pasca partum.
2) Perdarahan post partum sekunder : 24 jam sampai 6 minggu pasca
partum
Perdarahan postpartum dibagi menjadi dua, yaitu perdarahan
postpartum primer/dini dan perdarahan postpartum sekunder/lanjut
menurut (Salman et al., 2020) :
1) Perdarahan postpartum primer yaitu perdarahan postpartum yang
terjadi dalam 24 jam pertama kelahiran. Penyebab utama perdarahan
postpartum primer adalah atonia uteri, retensio plasenta, sisa
plasenta, robekan jalan lahir, dan inversio uteri.
2) Perdarahan postpartum sekunder yaitu perdarahan postpartum yang
terjadi setelah 24 jam pertama kelahiran. Perdarahan postpartum
sekunder disebabkan oleh infeksi, involusio rahim yang tidak baik,
atau sisa plasenta yang tertinggal.

c. Etiologi Perdarahan Postpartum


Menurut Sultan, (2020) perdarahan postpartum disebabkan oleh
banyak faktor, yaitu:
1) Atonia Uteri
Definisi Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus/kontraksi
rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan
terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta
lahir, sedangkan Hipotonia Uteri adalah keadaan dimana uterus
gagal untuk berkontraksi kembali dan mengecilsesudah janin keluar
dari rahim Perdarahan post partum dapat terjadi karena terlepasnya
sebagian plasenta dari rahim dan sebagian lagi belum, karena
perlukaan pada jalan lahir atau karena atonia uteri. Atonia uteri
merupakan sebab terpenting perdarahan post partum. Atonia uteri
dapat terjadi karena proses persalinan yang lama, perdarahan rahim
yang berlebihan pada waktu hamil seperti pada hamil kembar atau
janin besar, persalinan yang sering dijumpai (multiparitas) atau
anestesi yang dalam. Atonia uteri, rahim membesar dan lembek.
2) Retensio Plasenta
Retensio adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dalam
waktu 1 jam setelah bayi lahir.31 Bila plasenta tetap tertinggal dalam
uterus setengah jam setelah anak lahir disebut sebagai retensio
plasenta. Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif
kala tiga bisa disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan
uterus. Disebut sebagai plasenta akreta bila implantasi menembus
desidua basalis dan Nitabuch Layer, disebut sebagai plasenta inkreta
bila plasenta sampai menembus myometrium dan disebut plasenta
perkreta bila vili korialis sampa menembus perimetrium (Sultan,
2020).
3) Laserasi jalan lahir atau trauma jalan lahir \
Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari
perdarahan post partum. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan
atonia uteri. Perdarahan post partum dengan uterus yang
berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekan serviks atau
vagina. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva
dan perineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum
juga perlu dilakukan setelah persalinan. Sekitar 4-5% perdarahan
post partum oleh laserasi jalan lahir. 13 Pada umumnya robekan
jalan lahir terjadi pada persalinan dengan trauma. Pertolongan
persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik akan
memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu dihindarkan
memimpin persalinan pada saat pembukan serviks belum lengkap.
Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan
perineum, trauma forceps atau vakum ekstraksi atau karena versi
ekstraksi (Sultan, 2020). Robekan yang terjadi bisa ringan (lecet,
laserasi), luka episiotomi, robekan perineum spontan derajat ringan
sampai rupture perinei totalis ( sphincter ani terputus), robekan pada
dinding vagina , fornix uteri, serviks, daerah sekitar klitoris dan
uretra bahkan yang terberat rupture uteri. Oleh karena itu, pada setiap
persalinan hendaklah dilakukan inspeksi yang diteliti untuk mencari
kemungkinan adanya robekan ini. Perdarahan yang terjadi saat
kontraksi uterus baik biasanya karena adanya robekan atau sisa
plasenta. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara melakukan
inspeksi pada vulva , vagina, dan serviks dengan memakai spekulum
untuk mencari sumber perdarahan dengan ciri-ciri warna darah yang
merah segar dan pulsatif sesuai denyut nadi (Sultan, 2020).
Kelainan faktor bekuan darah
Afibrinogemi atau hipofibrinogemi dapat terjadi setelah
abrupsio/solusio plasenta, retensio uteri, janin mati yang lama di
dalam rahim dan pada emboli cairan ketuban. Salah satu teori
etiologik memperkirakan bahwa bahan tromboplastik yang timbul
dari degenerasi dan otolisis desidua serta plasenta dapat memasuki
sirkulasi maternal dan menimbulkan koagulasi intravaskuler serta
penurunan fibrinogen yang beredar. Kegagalan tersebut yaitu
kegagalan pada mekanisme pembekuan, menyebabkan perdarahan
yang tidak dapat dihentikan dengan yang biasanya dipakai untuk
mengendalikan perdarahan.

d. Patofisiologi
Tanda-tanda dari anemia dimulai dengan menipisnya simpanan
zat besi (feritin) dan bertambahnya absorbsi zat besi yang digambarkan
denganmeningkatnya kapasitas pengikatan zat besi. Tahap yang lebih
lanjut berupa habisnya simpanan zat besi, berkurangnya kejenuhan
transferin, berkurangnya jumlah protoporpirin yang diubah menjadi
darah dan akan diikuti dengan menurunnya kadar feritin serum.
Akhirnya terjadi anemia dengan cirinya yang khas yaitu rendahnya
kadar Hb (Kartalina, 2021).
Gejala anemia defisiensi besi dibagi menjadi dua, yaitu tanda dan
gejala anemia defisiensi besi tidak khas serta tanda dan gejala anemia
defisiensi besi yang khas. Tanda dan gejala anemia defisiensi besi tidak
khashampir sama dengan anemia pada umumnya yaitu cepat lelah atau
kelelahankarena simpanan oksigen dalam jaringan otot kurang sehingga
metabolisme otot terganggu, nyeri kepala dan pusing merupakan
kompensasi dimana otak kekurangan oksigen karena daya angkut
hemoglobin berkurang. kesulitan bernapas, terkadang sesak napas
(Permatasari & Mildiana, 2021).

e. Tanda Gejala
Efek perdarahan banyak bergantung pada volume darah sebelum
hamil, derajat hipervolemia-terinduksi kehamilan, dan derajat anemia
saat persalinan. Gambaran Perdarahan PostPartum yang dapat
mengecohkan adalah kegagalan nadi dan tekanan darah untuk
mengalami perubahan besar sampai terjadi kehilangan darah sangat
banyak. Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tandatanda
syok yaitu penderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan
kecil, ekstrimitas dingin, dan lain-lain (Sunarsih, 2019).
Gambaran table klinis pada hipovolemia dapat dilihat pada tabel
berikut menurut (Sunarsih, 2019).
Volume darah Tekanan darah Tanda dan gejala Derajat syok
yang hilang (sistolik)
500-1000 mL Normal Tidak ditemukan -
(15-20%)
1000-1500 mL 80-100 mmHg Bradikardi Ringan
(20- 25%) (100x/menit)
Berkeringat
lemah
1500-2000 mL 70-80 mmHg Takikardi (100- Sedang
(25- 35%) 120 kali/menit)
Oliguria Gelisah
2000-3000 mL 50-70 mmHg Takikardi (>120 Berat
(35- 50%) kali/menit)
Anuria

f. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perdarahan Postpartum


Faktor yang mempengaruhi perdarahan postpartum menurut
Sultan (2020) yaitu:
1) Bayi besar (makrosomnia)
Bayi besar (makrosomia) merupakan salah satu faktor risiko
terjadinya perdarahan post partum. Bayi besar didefinisikan jika
berat badan bayi >3500 , sedangkan makrosomia didefinisikan
sebagai berat lahir bayi >4000 gr. Insiden makrosomia telah
meningkat di negara maju, meskipun makrosomia mungkin kurang
umum di negara-negara berkembang. Pada umumnya, berat lahir
bayi >4000 gram terjadi pada 10% dari seluruh persalinan,
sedangkan berat lahir bayi > 4500 gram terjadi 1% dari seluruh
persalinan. Survey kematian perinatal yang dilakukan bagian
kedokteran obstetric dan ginecology spanyol menunjukkan bahwa
insiden bayi dengan berat lahir > 4000 gram adalah 6,7% dan 0,8%
bayi dengan berat lahir > 4500 gram. Penelitian menunjukkan bahwa
bayi makrosomia meningkatkan risiko perdarahan post partum 1,9
kali lebih tinggi dibandingkan dengan bayi dengan berat lahir normal
(Sultan, 2020).
2) Paritas
Riwayat persalinan sangat berhubungan dengan kehamilan
dan persalinan berikutnya. Ibu yang mengalami perdarahan post
partum bukan hanya dilihat dari satu faktor saja seperti riwayat
komplikasi persalinan sebelumnya tetapi bisa dilihat dari faktor
lainnya seperti adanya kejadian anemia dan kunjungan antenatal care
ibu bersalin. Ibu yang sudah sering melahirkan menyebabkan uterus
akan mengalami kelemahan, sehingga besar risikonya untuk terjadi
perdarahan post partum . Hal ini bisa disebabkan karena pada ibu
dengan paritas tinggi yang mengalami persalinan cenderung untuk
terjadinya atonia dan hipotonia uteri.
3) Umur
Umur ibu saat melahirkan mempunyai pengaruh terhadap
timbulnya perdarahan post partum. Ibu dengan umur di bawah 20
tahun, rahim dan panggul sering kali belum tumbuh mencapai
ukuran dewasa. Sebagai akibatnya pada umur tersebut bila
melahirkan, bisa mengalami persalinan lama, sehingga berisiko
terjadinya perdarahan post partum. Bila umur di atas 35 tahun,
kondisi kesehatan ibu sudah menurun, sehingga hamil pada umur
tersebut mempunyai kemungkinan lebih besar untuk terjadi
persalinan lama dan perdarahan post partum.
4) Antenatal care
Tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal
mungkin fisik dan mental ibu serta anak selama dalam kehamilan,
persalinan dan nifas sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu
serta anak dapat diturunkan. Ibu hamil yang menerima pelayanan
antenatal care mempunyai tingkat kematian yang lebih rendah
dibandingkan dengan yang tidak menerima pelayanan antenatal
sehingga kunjungan antenatal yang teratur.
5) Pekerjaan
Derajat sosioekonomi masyarakat akan menunjukkan tingkat
kesejahteraan dan kesempatannya dalam menggunakan pelayanan
kesehatan. Selain dari segi sosioekonomi, pekerjaan ibu juga erat
kaitannya dengan aktifitas fisik sehari-hari dan kondisi psikologis
ibu. Sebagai ibu rumah tangga tentunya ibu memiliki banyak
pekerjaan rumah tangga yang harus diselesaikan setiap hari. Hal
tersebut cenderung berpengaruh terhadap kondisi kesehatan ibu.
6) Pendidikan
Pendidikan ibu merupakan salah satu faktor penting dalam
usaha menjaga kesehatan ibu, anak dan juga keluarga. Ibu dengan
pendidikan yang lebih tinggi memperhatikan kesehatannya selama
kehamilan bila dibandingkan dengan ibu yang tingkat pendidikannya
rendah. Ibu bersalin yang memiliki pendidikan tinggi cenderung
memiliki frekuensi kunjungan antenal yang lengkap dibandingkan
ibu dengan pendidikan rendah.
7) Anemia
Anemia dalam kehamilan adalah penurunan kadar hemoglobin
dalam darah yang mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/
ditransfer ke sel tubuh maupun sel otak dan uterus. Anemia dapat
mengurangi daya tahan tubuh ibu dan meninggikan frekuensi
komplikasi kehamilan serta persalinan. Anemia juga menyebabkan
peningkatan risiko perdarahan post partum. Rasa cepat lelah pada
penderita anemia disebabkan metabolisme energi oleh otot tidak
berjalan secara sempurna karena kekurangan oksigen.
8) Partus lama
Partus lama adalah persalinan yang lebih dari 18 jam yang
dimulai dari tanda-tanda persalinan. Partus lama akan menyebabkan
infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi pada ibu, kadang dapat terjadi
perdarahan post partum yang dapat menyebabkan kematian ibu.
Partus lama banyak disebabkan oleh kontraksi uterus yang tidak
adekuat, selain faktor kontraksi juga dapat disebabkan oleh faktor
janin dan faktor panggul ibu. Persalinan yang lama dapat
menyebabkan kelelahan uterus dimana tonus otot rahim pada saat
setelah pleasenta lahir uterus tidak dapat berkontraaksi dengan baik
sehingga terjadi perdarahan post partum.
g. Komplikasi
Disamping menyebabkan kematian, perdarahan pascapersalinan
memperbesar kemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan
penderita berkurang. Perdarahan banyak kelak bisa menyebabkan
sindrom Sheehan sebagai akibat nekrosis pada hipofisisis pars anterior
sehingga terjadi insufisiensi pada bagian tersebut. Gejalanya adalah
hipotensi, anemia, dan turunnya berat badan. Penurunan fungsi seksual
dengan atrofi alat alat genital, kehilangan rambut pubis dan ketiak,
penurunan metabolisme dengan hipotensi, amenore dan kehilangan
fungsi laktasi. Akibat jangka panjang dari HPP yang parah dan syok
dapat berupa Sindrom Sheehan. Sindrom ini disebabkan oleh
hipovelemia yang dapat mengakibatkan nekrosis kelenjar hipofisis.
Nekrosis ini dapat mempengaruhi fungsi endrokrinyang mana
mengakibatkan kegagalan laktasi dan penuaan dini (Sultan, 2020).

h. Pencegahan Perdarahan Post Partum


Klasifikasi kehamilan resiko rendah dan resiko tinggi akan
memudahkan penyelenggara pelayanan kesehatan untuk menata
strategi pelayanan ibu hamil serta perawatan antenatal dan melahirkan
dengan mengatur petugas kesehatan mana yang sesuai dan jenjang
rumah sakit rujukan. Akan tetapi, pada saat proses persalinan, semua
persalinan mempunyai risiko untuk terjadinya patologi persalinan,
salah satunya adalah perdarahan post partum. Menurut (Sultan, 2020)
antisipasi terhadap hal tersebut dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan
mengatasi setiap penyakit kronis, anemia, dan lain-lain, sehingga
pada saat hamil dan persalinan pasien tersebut ada dala keadaan
optimal.
2) Mengenal faktor predisposisi perdarahan post partum seperti
multipara, anak besar, hamil kembar, hidramnion, bekas seksio,
adariwayat perdarahan post partum sebelumnya dan kehamilan
resiko tinggi lainnya yang resikonya akan muncul saat persalinan.
3) Persalinan harus selesai dalam waktu 24 jam dan pencegahan partus
lama.
4) Kehamilan resiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit
rujukan.
5) Kehamilan resiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan
terlatih dan menghindari persalinan dukun

B. Konsep Dasar Manajemen Asuhan Kebidanan


Asuhan Kebidanan pada ibu nifas dengan perdarahan postpartum primer
I. PENGKAJIAN
a. DATA SUBYEKTIF
1. Identitas
Nama :
Umur : Menurut Perhimpunan Dokter Kandungan
dan Ginekolog Kanada, wanita yang berusia
lebih dari 35 tahun lebih mungkin mengalami
hasil kelahiran yang buruk, seperti
keguguran, komplikasi selama kehamilan,
kelahiran prematur, atau melahirkan lebih
dari 2 bayi dalam 1 kelahiran (yaitu, kembar
atau lebih). Usia ibu >40 tahun meningkatkan
risiko Perdarahan Postpartum, menurut
According to the National Institute for Health
and Care Excellence (NICE) (Wang & Zhang,
2023).
Agama : Berhubungan dengan perawatan dan kebiasaan
kesehatan berkaitan dengan ketentuan agama
(Simbolon & Pakpahan, 2020).
Suku/ Bangsa : Berpengaruh pada adat istiadat atau kebiasaan
sehari-hari (Simbolon & Pakpahan, 2020).
Pendidikan : Mengetahui tingkat [Link]
pendididkan mempengaruhi sikap perilaku
kesehatan seseorang, hal ini juga dibutuhkan
dalam menyesuaikan KIE yang akan
disampaikan kepada klien (Simbolon &
Pakpahan, 2020)
Pekerjaan : Gunanya untuk mengetahui dan mengukur tingkat

Sosial ekonominya, karena ini juga


mempengaruhi dalam gizi pasien tersebut
(Simbolon & Pakpahan, 2020).

Alamat :

2. Keluhan utama:
Untuk mengetahui masalah yang dihadapi yang berkaitan
dengan masa nifas. Untuk mengetahui masalah yang di hadapi
yang berkaitan dengan masa nifas, misalnya pasien merasa mules,
sakit atau nyeri pada jalan lahir karena adanya jahitan pada
perineum (Finlayson et al., 2021). Menurut (Neary et al., 2021)
menyatakan bahwa keluhan utama yang terdapat pada ibu nifas
dengan perdarahan post partum yaitu ibu merasa lemas, pusing
dan berkeringat.

3. Riwayat Kesehatan Klien


Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
riwayat atau penyakit akut, kronis seperti: jantung, DM,
hipertensi, Asma yang dapat mempengaruhi pada masa nifas ini
(Ambounda et al., 2021).
a. Gangguan koagulasi dapat secara langsung menyebabkan
Perdarahan Postpartum. Selain itu, perdarahan yang
berlebihan menyebabkan konsumsi faktor koagulasi, yang
dapat diperburuk melalui koagulopati pengenceran setelah
resusitasi volume, dan dapat menyebabkan perkembangan
Perdarahan Postpartummenjadi Perdarahan Postpartum berat
(de Moreuil et al., 2023).
b. Anemia dalam kehamilan adalah penurunan kadar
hemoglobin dalam darah yang mengakibatkan kurangnya
oksigen yang dibawa/ ditransfer ke sel tubuh maupun sel otak
Dan uterus. Anemia dapat mengurangi daya tahan tubuh ibu
dan meninggikan frekuensi komplikasi kehamilan serta
persalinan. Anemia juga menyebabkan peningkatan risiko
perdarahan post partum (Sultan, 2020)

a) Riwayat Kesehatan sekarang :


Data-data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya penyakit yang diderita pada saat ini yang ada
hubungannya dengan masa nifas dan bayinya (Ambounda et
al., 2021).

4. Riwayat Kesehatan Keluarga


Data ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya
pengaruh penyakit keluarga terhadap gagguan kesehatan pasien
dan bayinya, yaitu apabila ada penyakit keluarga yang
menyertainya (Ambounda et al., 2021).

5. Riwayat Menstruasi
Menstruasi terjadi sekitar 14 hari sesudah ovulasi pada siklus 28
hari. Hari pertama keluarnya darah menstruasi ditetapkan sebagai hari
pertama siklus endometrium. Darah menstruasi sebagian besar berasal
dari darah anterial meskipun dapat juga berasal dari darah venosa (Yulia
Darmi et al., 2022).

6. Riwayat Obstetri
Kehamilan Persalinan Anak Nifas
No
Suami Ank UK Peny Jenis Pnlg Tmpt Peny JK BB/PB H M Abnr Laktsi Peny
a. Kehamilan
Suami: salah satu resiko hipertensi akibat kehamilan terjadi pada
multigravida yang memiliki pasangan baru.
UK: kelahiran premature sebelumnya dapat menimbulkan resiko
persalinan premature berikutnya.
Penyulit : penyakit yang diderita saat kehamilan yang lalu dapat
terjadi pada kehamilan saat ini seperti hipertensi, anemia,
perdarahan pada pada kehamilan tua (Ermewaningsih et al.,
2023).
b. Persalinan
Jenis : adanya persalinan Caesar dapat mengindikasikan kelainan
pada kehamilan maupun jalan lahir.
Penolong : penolong persalinan menggambarkan kepercayaan
wanita dan/ keluarganya pada orang tersebut.
Tempat :terdapat kecenderungan wanita akan mendatangi tempat
yang sama dengan persalinan terdahulu untuk melahirkan
Penyulit : terjadinya komplikasi saat persalinan terdahulu dapat
berulang pada persalinan saat ini yang harus dideteksi sedini
mungkin (Ermewaningsih et al., 2023).
c. Anak
Usia : jarak kelahiran yang sangat berdekatan (dibawah dua
tahun) akan mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya
perdarahan pada trimester ketiga termasuk karena alasan plasenta
previa, anemia atau kurang darah, ketuban pecah dini, endometriosis
masa nifas serta yang terburuk yakni kematian saat (Ermewaningsih et
al., 2023)

7. Riwayat Kontrasepsi
Untuk mengetahui apakah pasien pernah ikut KB dengan
kontrasepsi jenis apa, berapa lama, adakah keluhan selama
menggunakan kontrasepsi serta rencana KB setelah masa nifas ini
dan beralih ke kontrasepsi apa. (Fegita & Satria, 2018)
8. Pola Fungsional Kesehatan

Pola Keterangan
Nutrisi Ibu nifas membutuhkan nutrisi yang cukup, gizi seimbnag,
terutama kebutuhan protein dan karbohidrat. Gizi pada ibu
menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu,
yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Bila
pemberian ASI berhasil baik, maka berat badan bayi akan
meningkat, integritas kulit baik, tonus otot, serta kebiasaan
makan yang memuaskan. Ibu menyusui tidaklah terlalu
ketat dalam mengatur nutrisinya, yang penting makanan
yang menjamin pembentukan air susu yang berkualitas
dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
bayinya. (Sulistyawati, 2019)
Eliminasi Setelah ibu melahirkan, terutama bagi ibu yang pertama kali
melahirkan akan terasa pedih bila BAK. Keadaan ini
kemungkinan disebabkan oleh iritasi pada uretra sebagai
akibat persalinan sehingga penderita takut BAK. Bila
kandungan kemih penuh, maka harus diusahakan agar
penderita dapat buang air kecil sehingga tidak akan
membawa bahaya infeksi (Shahbazi Sighaldeh et al., 2020)
Istirahat Karena lelah sehabis bersalin ibu harus beristirahat, tidur
terlentang selama 2 jam postpartum kemudian boleh
miring-miring kekanan dan kekiri untuk mencegah
terjadinya trombosis dan tromboemboli (Simbolon &
Pakpahan, 2020)
Dalam penelitian (Michele L. Okun, 2018) mengatakan
bahwa kualitas tidur merupakan faktor risiko pengaruh
negatif ibu pada periode postpartum. Penilaian tidur ibu
perlu dipertimbangkan sebagai komponen untuk
mengidentifikasi wanita yang berisiko mengalami depresi
dan kecemasan pascapersalinan.
Pada ibu post partum seringkali mengalaim pola tidur
yang terganggu. Rasa yang ketidaknyaman yang dialami
oleh ibu post partum dipengaruhi oleh lingkungan yang
kurang nyaman, bayi meringis, aktivitas untuk merawat
bayi, serta nyeri yang dirasakan akibat nyeri jahitan
perineum selama persalinan (Ambounda et al., 2021)
Aktivitas Menggambarkan pola aktivitas pasien sehari-hari. Pada
pola ini perlu dikaji pengaruh aktivitas terhadap
kesehatannya. Mobilisasi sedini mungkin dapat
mempercepat proses pengembalian alat-alat reproduksi.
Apakah ibu melakukan ambulasi, seberapa sering, apakah
kesulitan, dengan bantuan atau sendiri, apakah ibu pusing
ketika melakukan ambulasi (Fegita & Satria, 2018)
Gangguan pemenuhan kebutuhan dasar manusia dalam
mobilisasi pada ibu post partum dapat disebakan oleh
trauma selama persalinan. Trauma yang dimaksud adalah
luka pada perineum yang menyebabkan ibu merasa nyeri.
Dari luka perineum yang dialami oleh ibu akan membuat
mobilitas fisik ibu terganggu (Sukariasih, 2020).
Personal Hygiene Pada masa postpartum, seorang ibu sangat rentan terhadap
infeksi. Oleh karena itu, kebersihan diri sangat penting
untuk mencegah terjadinya infeksi. Kebersihan tubuh,
pakaian, tempat tidur, dan lingkungan sangat penting untuk
tetap dijaga (Novita et al., 2022)
Seksualitas Secara fisik, aman untuk melakukan hubungan seksual
begitu darah merah berhenti dan ibu dapat memasukkan
satu atau dua jarinya kedalam vagina tanpa rasa nyeri.
Banyak budaya dan agama yang melarang untuk melakukan
hubungan seksual sampai masa waktu tertentu, misalnya 40
hari atau 6 minggu setelah kelahiran. Keputusan bergantung
pada pasangan yang bersangkutan (Novita et al., 2022)
Dinding vagina kembali pada keadaan sebelum hamil
dalam waktu 6-8 minggu. Secara fisik aman untuk memulai
hubungan suami istri begitu darah merah berhenti, dan ibu
dapat memasukkan 1 atau 2 jari ke dalam vagina tanpa rasa
nyeri. Begitu darah merah berhenti dan ibu tidak merasakan
ketidaknyamanan, maka aman untuk memulai melakukan
hubungan suami istri kapan saja ibu siap (Novita et al.,
2022)

9. Psokososiokultural Spiritual
Masa nifas merupakan masa yang rentan dan terbuka untuk
bimbingan dan pembelajaran. Perubahan peran seorang ibu
memerlukan adaptasi. Tanggung jawab ibu mulai bertambah
(Novita et al., 2022)

10. Riwayat Persalinan Sekarang


Tanggal persalinan, jenis persalinan, jenis kelamin anak,
keadaan bayi meliputi PB, BB, penolong persalinan. Hal ini perlu
dikaji untuk mengetahui apakah proses persalinan mengalami
kelainan atau tidak yang bisa berpengaruh pada masa nifas saat
ini (Ambarika & Yalestyarini, 2021).
1) Jenis persalinan :
2) Kala I :
3) Kala II :
4) Kala III :
5) Kala IV :
Data Bayi :
1) Lahir tanggal :……, jam :…………..
2) Jenis kelamin : Laki-laki/Perempuan
3) Antropometri : BB :………… gr. PB………cm
LK: cm
LD: cm
LP : cm
LILA: cm
1) Kecacatan : Ada/tidak
2) IMD : ( ) Ya, ( ) Tidak
3) Eliminasi:
BAK : f : …x/hari, warna : …., konsistensi :………
BAB : f : ...x/hari,warna:…….,konsistensi :………
1) Nutrisi : ASI/PASI/Lainnya :……………...
(Ambarika & Yalestyarini, 2021).

a. DATA OBYEKTIF
1. Pemeriksaan Umum
a) Kesadaran : Biasanya kesadaran akan menurun sampai
syok (Sultan, 2020)
b) Tanda Vital : Pada perdarahan pascapersalinan dapat
menyebabkan perubahan tanda vital dimana
tensi <90 mmHg dan nadi >100 x/mnt
pernapasan menjadi lebih cepat (Sultan,
2020)

Antropometri :
(1) Tinggi Badan :
Tinggi badan merupakan salah satu parameter
antropometri yang sangat penting. Berbagai metode
penentuan status gizi pada berbagai usia hampir selalu
menggunakan tinggi badan sebagai parameternya, mulai
dari crown-rump length pada janin, hingga penghitungan
indeks massa tubuh pada dewasa (Warrier & Krishan,
2020).
BB sebelum hamil :
(2) BB sekarang :
Keadaan berat badan lebih dan obesitas pada kehamilan
merupakan salah satu kondisi obstetri berisiko tinggi
karena dapat meningkatkan risiko morbiditas dan
mortalitas ibu dan janin. Komplikasi yang dapat terjadi
pada masa antepartum antara lain meningkatkan risiko
diabetes gestasional dan hipertensi, komplikasi
intrapartum seperti perdarahan postpartum, distosia
bahu, dan kegagalan induksi. Masa postpartum, obesitas
terbukti meningkatkan risiko tromboemboli (Natalia et
al., 2020).
(3) Lila :

2. Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Kepala : Kepala merupakan organ tubuh yang
penting dikaji karena dikepala terdapat organ-organ
yang sangat berperan dalam fungsi
[Link] dengan memperhatiakan bentuk
kepala terdapat benjolan atau tidak, nyeri tekan dan
dan kebersihan kepala. Kepala merupakan organ
tubuh yang penting dikaji karenadikepala terdapat
organ-organ yang sangat berperan dalam fungsi
kehidupan (Novita et al., 2022).
Wajah : Dapat tampak pucat, menunjukkan tanda anemik
(Nurlela et al., 2017)
Mata : Konjungtiva pucat (Nurlela et al., 2017)
Hidung : Hidung di kaji untuk mengetahui keadaan bentuk dan
fungsi hidung bagian dalam, lalu sinus- sinus (Fegita
& Satria, 2018).
Mulut : Untuk mengetahui bentuk dan kelainan pada mulut
Pemeriksaan mulut bertujuan untuk menilai ada
tidaknya trismus, halitosis dan labioskisis. Trismus
yaitu kesukaran membuka mulut. Halitosis yaitu bau
mulut tidak sedap karena personal hygine yang
kurang. Labioskisis yaitu keadaan bibir tidak simetris.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan pada gusi untuk
menilai edema atau tanda-tanda radang (Fegita &
Satria, 2018)
Telinga : Untuk mengetahui keadaan telinga luar, saluran telinga,
gendang telinga/membran timpani, dan pendengaran.
Teknik yang di gunakan adalah inspeksi dan palpasi.
Pemeriksaan pendengaran dilaksanakan dengan
bantuan garfutala untuk mengetahui apakah pasien
mengalami gangguan pendengaran atau tidak (Fegita
& Satria, 2018).
Leher : Teknik yang di gunakan adalah inspeksi dan
palpasi. Tujuan pengkajian leher secara umum adalah
mengetahui bentuk leher serta organ-organ penting
yang berkaitan. Pembesaran kelanjar limfe dapat
disebabkan oleh berbagai penyaki, misalnya
peradangan akut/ [Link] limfe juga
terjadi dibeberapa kasus seperti tuberculosis
atausifilis. Palpasi kelenjar tyroid dilakukan untuk
mengetahui adanya pembesaran kelenjar tyroid yang
biasanya disebabkan oleh kekurangan garam yodium.
Palpasi pada leher dilakukan untuk mengetahui
keadaan dan lokasi kelenjar limfe, kelenjar tyroi dan
trakea. Pembesaran kelanjar limfe dapat disebabkan
oleh berbagai penyaki, misalnya peradangan akut/
[Link] limfe juga terjadi dibeberapa
kasus seperti tuberculosis atau sifilis. Palpasi kelenjar
tyroid dilakukan untuk mengetahui adanya
pembesaran kelenjar tyroid yang biasanya disebabkan
oleh kekurangan garaam yodium (Fegita & Satria,
2018).
Dada : Dada simetris suara terndengar keras, nyaring,
dengan hembusan yang lembut, terdengar diatas
trakea atau daerah lekuk
[Link], suara terdengar
nyaring dengan intensitas sedang. Inspirasi sama
panjang dengan ekspirasi, terdengar di daerah dada
dimana bronkus tertutup oleh dinding [Link],
terdengar lembut dan halus inspirasi lebih panjang
dari ekspirasi. Umumnya bersuara resonan dan
dullness. Karena suara resonan dihasilkan oleh
jaringan paru-paru yang normalnya bergaung dan
bernada rendah dan suara dullness dihasilkan oleh di
bagian atas jantung dan paru-paru (Fegita & Satria,
2018).
Payudara : Kolostrum merupakan ekskresi cairan
dengan viskositas kental, lengket dan berwarna
kekuningan pada hari pertama sampai hari keempat
postpartum. ASI transisi yang keluar setelah
kolostrum sampai sebelum ASI matang, yaitu sejak
hari keempat sampai hari kesepuluh. ASI matur
disekresi pada hari kesepuluh dan seterusnya, tampak
berwarna putih, kandungannya relatif konstan.
Mengkaji simetris atau tidak, konsistensi, ada
pembengkakan atau tidak, putting menonjol/tidak,
dan lecet/tidak. Mengkaji konsistensi, ada
pembengkakan atau tidak, putting menonjol/tidak,
dan lecet/tidak (Shahbazi Sighaldeh et al., 2020).
Abdomen : Pada pemeriksaan luar obstetri ditemukan tinggu
fundus uteri (TFU) setinggi umbilikus, kontraksi
sedang / tidak terdapat kontraksi, tidak terdapat nyeri
tekan (Nurlela et al., 2017)
Genetalia : Pemeriksaan dalam ditemukan portio lividae, OUE
terbuka, perdarahan aktif, laserasi positif, hecting
positif (Nurlela et al., 2017).
Palpasi
Kepala : Kepala merupakan organ tubuh yang penting dikaji
karena dikepala terdapat organ-organ yang sangat
berperan dalam fungsi kehidupan. Palpasi untuk
mengetahui adanya nyeri tekan atau tidak.
Mata : Tidak teraba oedema pada kelopak mata.
Telinga : Tidak teraba oedem, benjolan atau massa.
Hidung : Tidak teraba oedem, polip, benjolan atau massa.
Leher : Palpasi pada leher dilakukan untuk mengetahui keadaan
dan lokasi kelenjar limfe, kelenjar tyroi dan trakea.
Pembesaran kelanjar limfe dapat disebabkan oleh
berbagai penyaki, misalnya peradangan akut/
[Link] limfe juga terjadi dibeberapa
kasus seperti tuberculosis atau sifilis. Palpasi kelenjar
tyroid dilakukan untuk mengetahui adanya
pembesaran kelenjar tyroid yang biasanya disebabkan
oleh kekurangan garaam yodium (Nurlela et al., 2017)
Dada : Tidak teraba benjolan atau massa pada payudara,
payudara teraba tegang, dapat teraba noduli-noduli,
akibat hipertrofi kelenjar alveoli
Payudara : Mengkaji konsistensi, ada pembengkakan atau tidak,
putting menonjol/tidak, dan lecet/tidak
Ketiak : Tidak teraba benjolan.
Abdomen : TFU setinggi pusat (bayi lahir), 2 jari bawah pusat
(uri lahir), pertengahan sympisis-pusat (1
minggu), tidak teraba, diatas sympisis (2 minggu),
tidak teraba/50 gram (6 minggu), sebesar normal
(8 minggu). Setelah janin lahir, uterus secara
berangsur-angsur akan menjadi kecil sehingga
akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Cek
kontraksi uterus dan konsistensinya, cek diastasis
rectis abdominalis. kandung kemih bisa buang
air/tidak bisa buang air. Pembesaran uterus, lunak,
sulit dipalpasi dan kadang nyeri tekan abdominal
(Nurlela et al., 2017).
Genitalia : Lakukan eksplorasi sisa plasenta,ketuban dan robekan
(Nurlela et al., 2017)
Ekstermitas:Kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan
tanda-tanda syok yaitu penderita pucat, tekanan darah
rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitas
dingin, dan lain-lain (Nurlela et al., 2017).

Auskultasi
Dada : Terdengar suara nafas vesikuler, irama
jantung terdengar normal, frekuensi jantung
>100 x/mnt pernapasan menjadi lebih cepat
(Fegita & Satria, 2018).
Abdomen : Bising peristaltik usus orang dewasa normalnya
adalah 5-35 x/menit.
Perkusi : -

3. Pemeriksaan Penunjang :
a. Pemeriksaan Labolatprium
Hemoglobin, Leukosit, Trombosit, Hematokrit, Clotting
Time (CT),Bleeding Time (BT) (Nurlela et al., 2017). Kadar
hemoglobin, hematokrit, masa perdarahan, masa pembekuan,
Menurut (Ramadhan, dkk, 2019) wanita yang mengalami
anemia dalam persalinan dengan kadar hemoglobin < 11 g/dL
kondisinya akan dengan mudah terganggu meskipun
mengeluarkan darah yang sedikit. Anemia dihubungkan
dengan kelemahan yang dapat dianggap sebagai penyebab
langsung perdarahan postpartum. Resiko perdarahan
postpartum meningkat pada wanita bersalin dengan dimana
uterus akan kekurangan oksigen, glukosa dan nutrisi esensial
dan cenderung bekerja secara tidak efisien pada semua
persalinan, hal inilah yang dapat menyebabkan perdarahan
postpartum semakin meningkat. Anemia dalam kehamilan
tidak hanya berdampak pada persalinan juga dapat
berdampak pada masa nifas.
b. Pemeriksaan USG
Bila perlu untuk menentukan adanya sisa jaringan konsepsi
intrauterine. Sonografi merupakan teknik yang efisien untuk
menilai retensi fragmen plasenta pada pasien
pascapersalinan dan pascaaborsi. Hasil sonografi yang
normal dapat menghindari perlunya pemeriksaan fisik
rongga rahim. Temuan sonografi yang meragukan bukanlah
teknik yang berguna untuk membedakan fragmen plasenta
dari bekuan darah saja (Abd EL Kareem et al., 2021).

INTERPRETASI DATA DASAR


Diagnosis : Papah, ........jam Postpartum dengan perdarahan
Postpartum Primer
Masalah : Tidak ada
Kebutuhan : Tidak ada

IDENTIFIKASI DIAGNOSIS/MASALAH POTENSIAL


Diagnosis potensial :
Pada Ibu : Infeksi Puerperalis, Syok Hemoragik, Kematian,
Sindrom Sheehan (jarang) (Sultan, 2020). Anemia,
Perdarahan postpartum adalah perdarahan yang dapat
besifat banyak, bergumpalgumpal atau terus
merembes sedikit demi sedikit tanpa henti hingga
menyebabkan syok. Syok Hemoragik atau syok
Hipovolemik adalah suatu syok yang terjadi akibat
perdarahan. Hal ini menyebabkan gangguan sirkulasi
darah ke dalam jaringan sehingga tidak dapat
memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan
dan tidak mampu mengeluarkan hasil metabolisme
(Finlayson et al., 2021).
Pada Bayi : Tidak ada

IDENTIFIKASI KEBUTUHAN/TINDAKAN SEGERA


1. Terapi oksigen
2. Pasang infus
Pemantauan tanda-tanda vital (Nurlela et al., 2017)

3. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian transfusi darah.


Melakukan kolaborasi dengan dokter obgyn karena jika perdarahan
tidak segera diatasi dapat terjadi syok bahkan kematian pada ibu
postpartum (Neary et al., 2021)

INTERVENSI
1. Lakukan pemantauan 2 jam PP
Rasional: menjelaskan keadaan dan hasil pemeriksaan kepada ibu dan
keluarga bahwa ibu mengalami perdarahan dan akan
dilakukan pemantauan tanda-tanda vital yaitu tekanan darah,
nadi, suhu, kontraksi uterus, perdarahan, dan pengeluaran
perdarahan (Novita et al., 2022)
2. Ajarkan ibu untuk melakukan massase
Rasional : Masase dilakukan di fundus uteri melalui dinding depan
abdomen dengan gerakan sirkuler dengan penekanan ke
arah kaudal sampai terasa kontraksi yang kuat. Bila
kontraksi telah baik, palpasi uterus dilakukan setiap 15
menit dan untuk meyakinkan bahwa uterus tidak lembek
setelah masase berhenti (Ambounda et al., 2021)
3. Beritahu ibu untuk memenuhi kebutuhan cairan
Rasional : Menganjurkan ibu untuk memperbanyak minum agar ibu
tidak mengalami dehidrasi karena kehilangan banyak darah
(Neary et al., 2021)
4. Lakukan Kolaborasi dengan dokter obgyn untuk memberikan therapy
Rasional : penggunaan asam tranexamat dapat menurunkan kehilangan
darah pada PPH yang sedang berlangsung. Dosis yang
diberikan sebanyak 4 g+ 6 g (60 mg/Kg sebagai dosis awal
diikuti dengan infus 16 mg/kg/jam) (Shahbazi Sighaldeh et
al., 2020).

IMPLEMENTASI
Pelaksanaan dilakukan dengan efisien dan aman sesuai dengan rencana
asuhan yang telah disusun. Pelaksanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh
bidan atau sebagian dikerjakan oleh klien atau anggota tim kesehatan
lainnya.

EVALUASI

Evaluasi merupakan penilaian tentang keberhasilan dan keefektifan


asuhan kebidanan yang telah dilakukan. Evaluasi didokumentasikan dalam
bentuk SOAP.
C. Asuhan Komprehensif pada Ibu Nifas dengan Komplikasi

Asuhan komprehensif adalah pendekatan holistik yang tidak hanya fokus

pada penanganan fisik tetapi juga dukungan psikologis dan edukasi. Kerangka

asuhan kebidanan mencakup:

1. Pengkajian (Assessment): Melakukan anamnesis yang cermat terkait riwayat

kehamilan dan persalinan, serta pemeriksaan fisik menyeluruh, termasuk

tanda-tanda vital, tinggi fundus uteri, karakteristik lokia, kondisi perineum,

payudara, dan ekstremitas bawah. Penilaian status psikologis ibu juga tidak

kalah penting (Varney, Kriebs, & Gegor, 2019).

2. Diagnosis (Diagnosis): Berdasarkan data subjektif dan objektif yang

terkumpul, bidan menetapkan diagnosis kebidanan yang spesifik, misalnya

"Ibu P1A0 nifas 6 jam dengan perdarahan postpartum primer et causa atonia

uteri" (Prawirohardjo, 2014).

3. Perencanaan dan Implementasi (Planning & Implementation): Merencanakan

intervensi yang sesuai dengan diagnosis dan standar praktik klinis. Ini termasuk

tindakan kolaborasi dengan dokter spesialis, pemberian terapi farmakologis,

tindakan kegawatdaruratan, serta memberikan konseling dan edukasi kepada

ibu dan keluarga mengenai kondisinya, tanda bahaya, dan perawatan di rumah

(Kementerian Kesehatan RI, 2021).

4. Evaluasi (Evaluation): Mengevaluasi efektivitas dari asuhan yang telah

diberikan. Apakah perdarahan berhenti? Apakah tanda-tanda infeksi membaik?

Apakah kondisi psikologis ibu stabil? Evaluasi dilakukan secara berkelanjutan

hingga kondisi ibu benar-benar pulih (Cunningham et al., 2018).


BAB III

TINJAUAN KASUS

Tanggal Pengkajian : 06 Oktober 2025

Waktu Pengkajian : 10.30 WITA

Tempat Pengkajian : BPM “A”

Nama Pengkaji :

Subjektif

1. Identitas

Nama : Ny. A Nama : Tn. M

Umur : 32 tahun Umur : 34 tahun

Suku : Jawa Suku : Jawa

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Pekerjaan : Buruh

Bangunan

Alamat : Jl. Melati No. 25, Samarinda

2. Alasan Datang/Keluhan Utama

Ibu mengatakan mengalami perdarahan banyak setelah melahirkan sekitar 1

jam yang lalu. Darah keluar terus walaupun sudah diganti pembalut berkali-

kali. Ibu merasa lemas, pusing, dan pandangan berkunang.

3. Riwayat Kesehatan Pasien


Ibu mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit menular seperti TBC,

hepatitis, HIV, maupun penyakit menahun seperti asma, hipertensi, atau

jantung.

4. Riwayat Kesehatan Keluarga

Ibu mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki riwayat penyakit

turunan seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, atau gangguan

pembekuan darah.

5. Riwayat Menstruasi

Menarche : usia 13 tahun

Siklus : 28 hari

Lamanya : 3-4 hari

Keluhan : nyeri pada hari pertama haid

Warna darah : merah tua dan kadang ada gumpalan

6. Riwayat Obstetri

Kehamilan Persalinan Anak Nifas Penyulit


ke- 1 Normal Hidup Normal Tidak ada
ke- 2 Normal Hidup Normal Tidak ada
ke- 3 Normal Hidup Patologis Perdarahan Postpartum

7. Riwayat Kehamilan Sekarang

Ibu rutin memeriksakan kehamilan di bidan sebanyak 6 kali.

TM I : mual muntah ringan, masih bisa makan.

TM II : tidak ada keluhan berarti, nafsu makan baik.

TM III : sering nyeri pinggang dan BAK sering malam hari.

Ibu rajin mengonsumsi tablet Fe dan vitamin


8. Riwayat Persalinan Sekarang

Ibu bersalin pada tanggal 06 Oktober 2025 pukul 08.00 WITA secara normal

spontan.

Kala I berlangsung 10 jam, Kala II 30 menit, Kala III 5 menit, Kala IV 2 jam.

Plasenta lahir lengkap, namun ±1 jam setelah persalinan darah keluar terus

menerus sekitar >600 ml, ibu tampak pucat dan lemas.

Penolong melakukan masase uterus, tetapi kontraksi masih lembek dan

perdarahan tetap berlangsung.

9. Riwayat Nifas

Ibu belum beristirahat karena masih cemas dan merasa darah terus keluar.

Belum makan setelah persalinan, hanya minum sedikit air.

10. Riwayat Ginekologi

Tidak pernah mengalami penyakit organ reproduksi seperti kista, mioma, atau

endometritis

11. Riwayat Kontrasepsi

Sebelum kehamilan ini ibu menggunakan KB suntik 3 bulan, terakhir berhenti

2 tahun lalu.

12. Pola Fungsional Kesehatan

Pola Keterangan
Belum makan setelah melahirkan, hanya minum air
Nutrisi
putih ±1 gelas
Eliminasi Belum BAK sejak melahirkan
Istirahat Belum tidur, masih merasa lemas
Aktivitas Tidak mampu bangun dari tempat tidur karena pusing
Personal Belum membersihkan diri karena masih perdarahan
Hygiene banyak
Pola Keterangan
Tidak memiliki kebiasaan buruk seperti merokok atau
Kebiasaan
minum alkohol

13. Riwayat Psikososio-Kultural-Spiritual

Psikologis: Ibu tampak cemas, khawatir darahnya tidak berhenti.

Sosial: Hubungan baik dengan suami dan keluarga. Suami mendampingi di

ruang bersalin.

Kultural: Tidak ada kebiasaan atau pantangan adat khusus.

Spiritual: Ibu berdoa agar segera sembuh, tampak pasrah dan kooperatif.

Objektif

1. Pemeriksaan Umum

Keadaan umum: lemah

Kesadaran: compos mentis

Tanda Vital:

TD: 90/60 mmHg

Nadi: 112 x/menit

Suhu: 36,5°C

Pernafasan: 26 x/menit

Antropometri:

BB: 68 kg

TB: 155 cm

LILA: 26 cm

IMT: 28,3

2. Pemeriksaan Fisik
Kepala : Simetris, tidak ada ketombe, rambut tidak rontok, tidak ada benjolan,

tidak ada nyeri tekan.

Wajah : Simetris, bentuk wajah oval, tampak pucat, tidak terdapat cloasma

gravidarum.

Mata : Simetris, konjungtiva pucat, sklera berwarna putih, tidak terdapat

pengeluaran kotoran, palpebra tidak oedem.

Telinga : Simetris, tidak ada pengeluaran cairan/sekret, tidak ada tanda

infeksi.

Hidung : Bersih, tidak ada pengeluaran cairan, tidak ada pernapasan cuping

hidung, tidak ada nyeri tekan, tidak ada polip.

Mulut : Bibir tampak kering, agak pucat, tidak ada caries dentis, tidak ada

stomatitis, mukosa mulut lembab.

Leher : Simetris, tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada

pembengkakan kelenjar tiroid maupun limfe.

Dada : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada, bunyi jantung I dan II reguler

tetapi agak lemah, bunyi napas vesikuler normal.

Payudara : Simetris, tidak ada benjolan, tidak ada nyeri tekan, puting susu

menonjol, terdapat pengeluaran ASI namun belum lancar.

Abdomen : Tidak terdapat luka bekas operasi, terdapat linea nigra dan striae

albikantes, TFU setinggi pusat, uterus lembek, kandung kemih penuh,

dinding abdomen lembek, tidak ada distensi usus, kontraksi uterus tidak

adekuat (atonia).
Genetalia : Simetris, tidak ada oedem, tidak ada varises, tidak ada pembesaran

kelenjar bartholini maupun scene, perineum utuh tanpa jahitan, keluar darah

merah segar dalam jumlah banyak, tidak berbau, lochea rubra dominan.

Anus : Tidak ada hemoroid, tidak ada luka atau tanda perdarahan.

Ekstremitas :

 Atas: Simetris, tidak oedem, CRT >3 detik (memanjang), refleks

bisep (+), refleks trisep (+).

 Bawah: Simetris, tidak oedem, CRT >3 detik, refleks patella (+),

refleks homan sign (-), kuku tampak pucat.

3. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan Hb (rencana): belum dilakukan karena kondisi gawat.

Perkiraan kehilangan darah: ±700 ml.

Assessment

Diagnosis : P3A0, Nifas 1 jam dengan perdarahan postpartum primer

akibat atonia uteri

Masalah : Uterus lembek, pucat dan lemas

Diagnosis Potensial : Syok hipovolemik dan Anemia postpartum

Masalah Potensial : Kelelahan ekstrem, dehidrasi, gangguan psikologis

Kebutuhan Segera : Menghentikan perdarahan dan stabilisasi kondisi umum ibu

Planning

Paraf
No Tgl/Jam Tindakan yang Dilakukan
Pelaksana
06-10-2025 / 10.35 Menilai keadaan umum ibu (Airway, Breathing,
1 Mahasiswa
WITA Circulation).
Memanggil bantuan dan menyiapkan alat
2 10.37 WITA Mahasiswa
kegawatdaruratan.
Paraf
No Tgl/Jam Tindakan yang Dilakukan
Pelaksana
Mengosongkan kandung kemih dengan pemasangan kateter
3 10.40 WITA Mahasiswa
steril.
4 10.43 WITA Melakukan masase fundus uteri sampai keras. Mahasiswa
Memberikan Oksitosin 10 IU IM dan infus RL + 20 IU
5 10.45 WITA Mahasiswa
Oksitosin/1000 ml tetes cepat.
Melakukan kompresi bimanual karena perdarahan belum
6 10.50 WITA Mahasiswa
berhenti.
7 10.55 WITA Memberikan misoprostol 800 µg rektal setelah evaluasi. Mahasiswa
Memantau tanda vital setiap 5–10 menit, observasi jumlah
8 11.00 WITA Mahasiswa
darah keluar.
Memberikan edukasi keluarga tentang kondisi ibu dan tanda
9 11.20 WITA Mahasiswa
bahaya syok.
Setelah uterus keras dan perdarahan berkurang, rencana
10 11.30 WITA Mahasiswa
pemeriksaan Hb dan observasi 2 jam.
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masa nifas adalah periode adaptasi yang penuh risiko. Komplikasi

serius seperti perdarahan postpartum, infeksi, gangguan tromboemboli, dan

gangguan psikologis dapat terjadi dan mengancam keselamatan ibu.

Penyebab utama dari komplikasi ini sering kali dapat dicegah dan dideteksi

lebih dini melalui pemantauan yang cermat dan pengetahuan yang adekuat

mengenai tanda dan gejala patologis.

Asuhan komprehensif yang diberikan oleh tenaga kesehatan,

khususnya bidan, memegang peranan vital. Pendekatan ini mencakup

pengkajian yang teliti, diagnosis yang akurat, intervensi yang cepat dan

tepat, serta dukungan psikososial. Kolaborasi interprofesional juga menjadi

kunci dalam menangani kasus-kasus komplikasi berat untuk menekan angka

morbiditas dan mortalitas maternal.

B. Saran

1. Bagi Tenaga Kesehatan: Terus meningkatkan pengetahuan dan

keterampilan klinis mengenai deteksi dini dan tatalaksana

kegawatdaruratan pada masa nifas melalui pelatihan dan pendidikan

berkelanjutan.

2. Bagi Institusi Pelayanan Kesehatan: Menyediakan fasilitas, sarana, dan

prasarana yang memadai serta mengembangkan standar operasional

prosedur (SOP) yang jelas untuk penanganan komplikasi postpartum.


3. Bagi Ibu dan Keluarga: Meningkatkan kesadaran akan pentingnya

kunjungan nifas dan mengenali tanda-tanda bahaya (seperti perdarahan

hebat, demam tinggi, atau perasaan sangat sedih) untuk segera mencari

pertolongan medis.
DAFTAR PUSTAKA

Cunningham, F. G., Leveno, K. J., Bloom, S. L., Spong, C. Y., & Dashe, J.

S. (2018). Williams Obstetrics (25th ed.). McGraw-Hill Education.

Kementerian Kesehatan RI. (2021). Profil Kesehatan Indonesia Tahun

2020. Jakarta: Kemenkes RI.

Manuaba, I. B. G., Manuaba, I. A. C., & Manuaba, I. B. G. F. (2012). Ilmu

Kebidanan, Penyakit Kandungan, & KB untuk Pendidikan Bidan.

EGC.

Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan Sarwono Prawirohardjo (4th

ed.). PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Varney, H., Kriebs, J. M., & Gegor, C. L. (2019). Varney's Midwifery (6th

ed.). Jones & Bartlett Learning.

Anda mungkin juga menyukai