Anda di halaman 1dari 125

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI


a Listrik memiliki peran vital dan strategis, ketersediannya harus memnuhi aspek andal, aman dan akrab lingkungan. a Keandalan sistem tenaga listrik ditentukan oleh sistem dan konstruksi instalasi listrik yang memenuhi ketentuan dan persyaratan yang berlaku. a Keamanan sistem tenaga listrik ditentukan oleh sistem pengaman (protection system) yang baik, benar, andal atau tepat sesuai dengan kebutuhan sistem yang ada. a Pengertian/ definisi :  Proteksi : perlindungan/ pengaman.  Sistem tenaga listrik : suatu sistem yang terdiri dari dari beberapa sub sistem, yaitu : pembangkitan (pembangkit tenaga listrik), penyaluran (transmisi), pendistribusian (distribusi) dan instalasi pemanfaatan.  Proteksi sistem tenaga listrik : perlindungan/ pengaman pembangkitan (pembangkit tenaga listrik), penyaluran (transmisi), pendistribusian (distribusi) dan instalasi pemanfaatan.

1.1. LATAR BELAKANG DAN PENGERTIAN UMUM/DEFINISI


a Dua fungsi utama proteksi, adalah :  Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal lainnya pada bagian sistem yang diamankannya.  Melepaskan bagian sistem yang terganggu, sehingga bagian sistem lainnya yang tidak mengalami gangguan dapat terus beroperasi. a Contoh komponen (alat) proteksi yang paling sederhana, adalah Pengaman Lebur (Fuse). Jika dalam memilih Fuse, tepat sesuai kebutuhan, maka kedua fungsi tersebut di atas dapat dipenuhi. a Untuk pengaman sistem yang lebih kompleks, diperlukan komponen (alat) pengaman yang lebih lengkap (terdiri dari berbagai jenis alat pengaman), misalnya :  Relay pengaman, berfungsi sebagai elemen perasa yang mendeteksi adanya gangguan.  Pemutus Tenaga (PMT), berfungsi untuk pemutus arus dalam rangkaian listrik, untuk melepas bagian sistem yang terganggu.  Trafo arus dan/ atau trafo tegangan, berfungsi untuk meneruskan arus dan/ atau tegangan pada sirkit tenaga (sirkit primer) ke sirkit rele (sirkit sekunder).  Battery (Accu), berfungsi sebagai sumber tenaga untuk men-trip PMT atau catu daya untuk rele (static relay) dan rele bantu. 2

a Sistem tenaga listrik terdiri dari seksi-seksi (sub sistem), yang satu dengan yang lainnya dapat dihubungkan dan diputuskan dengan menggunakan alat pemutus tenaga (PMT). a Masing-masing seksi (sub sistem) diamankan ole rele pengaman dan setiap rele mempunyai kasawan pengamanan, yang berupa bagian dari sistem. Jika terjadi gangguan di dalamnnya, rele akan mendeteksi dan dengan bantuan PMT melepaskan seksi yang terganggu dari bagian sistem lainnya. a Gambar kawasan pengamanan (zone of protection) :

Lanjutan 1.3.
a a a a a a a Differential Relay, berfungsi sebagai pengaman utama Generator pada pembangkit tenaga listrik, dan lain-lain. Distance Relay, berfungsi sebagai pengaman utama pada penyaluran (transmisi), dan lain-lain. Differential Relay, berfungsi sebagai pengaman utama Trafo, dan lainlain. Over Current Relay Trafo sisi 150 KV, sebagai pengaman cadangan lokal Trafo pengaman cadangan jauh Bus B. Over Current Relay dan Ground Fault Relay Trafo sisi 20 KV pengaman utama Bus B1 pengaman cadangan jauh saluran BC. Over Current Relay dan Ground Fault Relay pengaman utama saluran BC pengaman cadangan jauh saluran CD. Over Current Relay dan Ground Fault Relay di C pengaman utama saluran CD pengaman jauh seksi berikutnya.

1.4. PENGAMAN UTAMA DAN PENGAMAN CADANGAN


a Pada saat sistem tenaga listrik beroperasi dan mengalami gangguan, ada kemungkinan komponen (alat) proteksi gagal bekerja. a Untuk mengantisipasi timbulnya kemungkinan tersebut, disamping sistem tenaga listrik harus dipasang pengaman utama, maka juga dilengkapi pengaman cadangan. a Pengaman cadangan diharapkan akan bekerja, apabila pengaman utama gagal bekerja. Oleh karenanya pengaman cadangan selalu disertai dengan waktu tunda (time delay), untuk memberi kesempatan pada pengaman utama bekerja lebih dahulu. a Jenis pengaman cadangan : 3 Pengaman cadangan lokal (local back up). 3 Pengaman cadangan jauh (remote back up). a Letak (penempatan) : 3 Pengaman cadangan lokal terletak di tempat yang sama dengan pengaman utamanya. 3 Pengaman cadangan jauh terletak di seksi sebelah hulunya. 5

1.5. KRITERIA SISTEM PROTEKSI


a Kepekaan (sensitivity) :  Peralatan proteksi (rele) harus cukup peka dan mampu mendeteksi gangguan di kawasan pengamannya.  Meskipun gangguan yang terjadi hanya memberikan rangsangan yang sangat minim, peralatan pengaman (rele) harus mampu mendeteksi secara baik. a Keandalan (reliability) :  Dependability : Peralatan proteksi (rele) harus memiliki tingkat kepastian bekerja (dependability) yang tinggi. Peralatan proteksi (pengaman) harus memiliki keandalan tinggi (dapat mendeteksi dan melepaskan bagian yang terganggu), tidak boleh gagal bekerja.  Security : Peralatan proteksi (pengaman) harus memiliki tingkat kepastian untuk tidak salah kerja atau tingkat security (keamanannya) harus tinggi. Yang dimasksud salah kerja adalah kerja yang semestinya tidak kerja, misal : karena lokasi gangguan di luar kawasan pengamannya atau sama sekali tidak ada gangguan. Salah kerja bisa mengakibatkan terjadinya pemadaman, yang semestinya tidak perlu terjadi. 6

Lanjutan 1.5.
a Selektifitas (selectivity) : Peralatan proteksi (pengaman) harus cukup selektif dalam mengamankan sistem. Dapat memisahkan bagian sistem yang terganggu sekecil mungkin, yaitu hanya sub sistem yang terganggu saja yang memang menjadi kawasan pengaman utamanya. Rele harus mampu membedakan, apakah gangguan terletak di kawasan pengaman utamanya, dimana rele harus bekerja cepat, atau terletak di sub sistem berikutnya, dimana rele harus bekerja dengan waktu tunda atau tidak bekerja sama sekali. a Kecepatan (speed) : Peralatan proteksi (pengaman) harus mampu memisahkan sub sistem yang mengalami gangguan secepat mungkin. Untuk menciptakan selektifitas yang baik, ada kemungkinan suatu pengaman terpaksa diberi waktu tunda (time delay), tetapi waktu tunda tersebut harus secepat mungkin. Dengan tingkat kecepatan yang baik, maka terjadinya kerusakan/ kerugian, dapat diperkecil. 7

BAB II PENGAMAN GENERATOR

2.1. SKEMA GENERATOR


a GENERATOR KECIL (sistem isolated)
Daya: 500 s/d 1000 kVA tegangan 600 volt (maksimum)

3 1- 51V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 3 1-51G, backup ground time overcurrent relay a GENERATOR SEDANG (sistem isolated/ paralel)
Daya: 500 s/d 12 500 kVA tegangan 600 volt (maksimum)

3 3 - 51V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 3 1 -51G, backup ground time overcurrent relay 3 1 - 87, differential relay 3 1 - 32, reserve power relay untuk pengendalian protection 3 1 40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan medan

Lanjutan 2.1.

3 3 - 51V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 3 1 - 51G, backup ground time overcurrent relay 3 1 - 87, differential relay 3 1 - 32, reserve power relay untuk peng endalian protection 3 1 3 1 40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan medan 46, Negative phase sequence over current relay untuk protection kondisi unbalanced

Lanjutan 2.1.
3 3 - 51V, backup overcurrent relay, pengendalian tegangan atau kontrol tegangan 3 1 -51G, backup ground time overcurrent relay 3 1 - 87, differential relay 3 1 87G, ground differential relay reserve power relay untuk peng endalian protection 3 1 - 32, 3 1 3 1

40, impedance relay, untuk pengaman kehilangan medan 46, Negative phase sequence over current relay untuk protection kondisi unbalanced. 49, temp relay untuk monitor belitan temp stator 64F, generator field relay, hanya untuk mesin yg mempunyai medan supply slip rings 60, voltage balance relay

3 1 3 1

3 1

10

2.2. PENGAMAN HUBUNG SINGKAT

BUS GEN. CB GEN. OCR MCCB CT

Beban

a Relai ini mengamankan generator dari beban lebih atau gangguan hubung singkat. a PENGAMAN : OCR (51) -- untuk generator sedang dan besar
MCCB - - untuk generator kecil

11

2.3. PENGAMAN TEGANGAN KURANG

BUS GEN. CB GEN. UVR PT

Beban

a PENYEBAB:  Generator mengalami beban lebih

 AVR generator mengalami kerusakan  Gangguan hubung singkat di sistem


a AKIBAT: Dapat merusak belitan rotor a PENGAMAN : UNDER VOLTAGE RELAY (27)

12

2.4. PENGAMAN TEGANGAN LEBIH (OVER LOAD)


BUS GEN. CB GEN. OVR PT

Beban

a PENYEBAB:
Lepas nya beban (Ppemb > P beban)

a AKIBAT:
 Generator mengalami kapasitif.  AVR generator mengalami kerusakan bila berlanjut, merusak instalasi alat bantu di generator bisa rusak.  Frekwensi naik > 50 Hz.

a PENGAMAN : DEVICE NUMBER OVER VOLTAGE RELAY : 59 13

2.5. PENGAMAN STATOR KE TANAH


BUS GEN. TRF Rn CT GEN. CB

Beban

OCR 51N

a PENYEBAB:
Terjadi kebocoran isolasi di stator, sehingga terjadi gangguan hubung Singkat fasa ketanah antara stator dan tanah

a AKIBAT:
Kerusakan pada belitan stator

a PENGAMAN: PENGAMAN ARUS LEBIH (51N)

14

2.6. PENGAMAN DAYA (BALIK) PENGGERAK MULA


BUS GEN. CT PT

SISTEM
GEN.

32

40

a PENYEBAB: PRIME-MOVER DARI SALAH SATU GENERATOR RUSAK , MENGAKIBATKAN GENERATOR TIDAK BERPUTAR. a AKIBAT: ADA PASOKAN LISTRIK DARI GENERATOR LAIN ATAU SISTEM SEHINGGA GENERATOR MENJADI MOTOR. a PENGAMAN -- REVERSE POWER (32)

15

2.7. PENGAMAN HILANG MEDAN (LOSS OF EXCITATION)


BUS GEN. CT PT

SISTEM
GEN.

32

40

a PENYEBAB: Hilangnya eksitasi a AKIBAT: 3 Daya reaktif balik dari sistem masuk ke generator, atau generator menyerap var sistem 3 Memanaskan ujung belitan generator a PENGAMAN -LOSS OF EXCITATION (40)

16

2.8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR


GEN. CB

26

RTD

a PENYEBAB: 3 pembebanan melebihi kapasitas generator 3 kerusakan sistem pendingin a AKIBAT: 3 belitan generator bisa panas 3 bisa merusak konduktor stator dan isolasi antara belitan ke inti a PENGAMAN -- PENGAMAN TEMPERATUR (26) 17

2.9. PENGAMAN OVER SPEED


BUS GEN. MESIN. CB GEN. TRANSDUCER SPEED SENSOR

a PENYEBAB: 3 gangguan pada sistem sehingga lepas beban 3 governor tidak mampu kembalikan put. normal a AKIBAT: 3 over speed 3 bisa terjadi vibrasi balancing pada put. tertentu

3 bisa rusakkan bearing dan shaft 3 frekwensi naik a PENGAMAN : UNDER SPEED (81 U) OVER SPEED (81- O) 18

2.10. PENGAMAN DIFFERENSIAL GENERATOR


GEN. CB

SET

DIFERENSIAL GENERATOR

a PENYEBAB: GANGGUAN PADA BELITAN GENERATOR a AKIBAT: KERUSAKAN ISOLASI BELITAN GENERATOR a PENGAMAN: DIFFRENTIAL RELAY (87 G).

19

2.11. PENGAMAN BEBEAN LEBIH (OVER LOAD RELAY)

BUS GEN. CB GEN. OLR CT

BEBAN

a PENYEBAB: Arus beban melebihi nominal dan bertahan lama a AKIBAT: Memanaskan belitan generator. merusak konduktor dan isolasi belitan a PENGAMAN : DEVICE NUMBER OVER LOAD RELAY : 49

20

2.8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR


GEN. CB

NEG.SEQ FILTER

OCR

a PENYEBAB:
KETIDAK SEIMBANGAN ARUS FASA BEBAN

a AKIBAT:
MEMANAS KAN ROTOR GENERATOR BILA BERTAHAN LAMA

a PENGAMAN :

NEGATIVE SEQUENCE RELAY ( 46)

21

BAB III PENGAMAN TRANSFORMATOR TENAGA

3.1. JENIS PENGAMAN


a Trafo tenaga diamankan dari berbagai macam gangguan, diantaranya dengan peralatan proteksi (sesuai SPLN 52-1:1983) Bagian Satu, C) :         Relai Buchollz Relai Jansen Relai tangki tanah Relai suhu Relai diffrential Relai beban lebih Relai gangguan tanah terbatas Rele arus hubung tanah

22

3.2. RELAY BUCHHOLZ


KE CONSERVATOR TRIP PELAMPUNG KRAN

1 2

TUAS TRIP ALARM TUAS ALARM

TANGKI TRAFO

a Relai buchholz dipasang pada pipa dari maintank ke konservator ataupun dari
OLTC ke konservator tergantung design trafonya apakah di kedua pipa tersebut dipasang relai bucholz.

a Gunanya: untuk mengamankan trafo dari gangguan internal trafo yang menimbulkan
gas dimana gas tersebut timbul akibat adanya hubung singkat di dalam trafo atau akibat busur di dalam trafo.

a Cara kerja: yaitu gas yang timbul di dalam trafo akan mengalir melalui pipa dan
besarnya tekanan gas ini akan mengerjakan relai dalam 2 tahap yaitu:
 Mengerjakan alarm (Bucholz 1st) pada kontak bagian atas 1.  Mengerjakan perintah trip ke PMT pada kontak bagian bawah 2.

23

Lanjutan 3.2.

a Analisa gas yang terkumpul di dalam relai Bucholz  H2 dan C2H2 menunjukkan adanya busur api pada minyak antara bagian-bagian konstruksi.  H2, C2H2 dan CH4 menunjukkan adanya busur api sehingga isolasi phenol terurai, misalnya terjadi gangguan pada sadapan.  H2, C2H4 dan C2H2 menunjukkan adanya pemanasan pada sambungan inti. 3 H2, C2H, CO2 dan C3H4 menunjukkan adanya pemanasan setempat pada lilitan inti.

24

3.3. RELAY JANSEN

a Relai Jansen adalah relai untuk mengamankan transformator dari gangguan di dalam tap changer yang menimbulkan gas. Dipasang pada pipa yang menuju conservator. a Cara Kerja Sama seperti relai bucholz tetapi hanya mempunyai satu kontak untuk tripping.
25

3.4. RELAY SUDDEN PRESSURE

a Relai Sudden Pressure. Relai Pressure untuk tangki utama Trafo bekerja apabila di dalam tangki Trafo terjadi kenaikan tekanan udara akibat terjadinya gangguan di dalam Trafo. a Tipe Membran Plat tipis yang didisain sedemikian rupa yang akan pecah bila menerima tekanan melebihi disainnya. Membran ini hanya sekali pakai sehingga bila pecah harus diganti baru.
Indikator trip

a Pressure Relief Valve Suatu katup yang ditekan oleh sebuah pegas yang didisain sedemikian rupa sehingga apabila terjadi tekanan di dalam transformator melebihi tekanan pegas maka akan membuka dan membuang tekanan keluar bersama-sama sebagian minyak.

Reset Mekanis

Katup akan menutup kembali apabila tekanan di dalam transformator turun atau lebih kecil dari tekanan pegas. 26

3.5. RELAY HV/ LV WINDING TEMPERATURE


a Relai HV/LV Winding Temperature bekerja
apabila Suhu kumparan Trafo melebihi seting dari pada relai HV/LV Winding, besarnya kenaikan suhu adalah sebanding dengan faktor pembebanan dan suhu udara luar Trafo.

a Urutan kerja relai suhu kumparan / winding ini dibagi 2 tahap:


 Mengerjakan alarm (Winding Temperature Alarm)  Mengerjakan perintah trip ke PMT (Winding Temperature Trip)

a Relai HV/LV Oil Temperature bekerja apabila suhu minyak Trafo melebihi
seting dari pada relai HV/LV oil. Besarnya kenaikan suhu adalah sebanding dengan faktor pembebanan dan suhu udara luar Trafo.

a Urutan kerja relai suhu minyak / oil ini dibagi 2 tahap:


 Mengerjakan alarm (Oil Temperature Alarm).  Mengerjakan perintah trip ke PMT (Oil Temperature Trip).

27

3.6. PENGAMAN PANJAT TRAFO

28

3.7. RELAY ARUS LEBIH (OVER CURRENT RELAY)

indikator

a Relai ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat antar fasa didalam maupun diluar daerah pengaman transformator. a Diharapkan Relai ini mempunyai sifat komplementer dengan Relai beban lebih. Relai ini berfungsi pula sebagai pengaman cadangan bagi bagian instalasi lainnya. 29

3.8. RELAY TANGKI TANAH


a Berfungsi untuk mengamankan trafo terhadap hubung singkat antara fasa dengan tangki trafo dan titik netral trafo yang ditanahkan.

F51G

a Relai 51 G yang terpasang, mendeteksi arus gangguan dari tangki trafo ketanah, kalau terjadi kebocoran isolasi dari belitan tarafo ke tangki, arus yang mengalir ke tanah akan dideteksi relai arus lebih melalui CT. Relai akan mentripkan PMT di kedua sisi (TT dan TM). Jadi arus gangguan kembali kesistem melalui pembumian trafo.
30

3.9. RESTRICTED EARTH FAULT (REF)


a Relai gangguan tanah terbatas atau Restricted Earth Fault (REF) untuk mengamankan transformator bila ada gangguan satu satu fasa ke tanah di dekat titik netral transformator yang tidak dirasakan oleh rele differensial.

87N

87N

31

3.10. PENGAMAN DIFFERENSIAL


a PRINSIPNYA : membandingkan arus yang masuk ke peralatan dengan arus yang keluar dari peralatan tersebut

a Fungsi: untuk mengamankan transformator terhadap gangguan hubung singkat yang terjadi didalam daerah pengaman transformator.

IIN

PERALATAN

IOUT

a Cara Kerja: Membandingkan antara arus yang masuk dengan arus yang keluar 32

Lanjutan 3.10.
a DIFFERENSIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO (lanjutan)
IP CTP TRAFO TENAGA IS CTS

BEBAN
iS DIFF. RY iP

DOT POLARITY

 DALAM KEADAAN NORMAL

ARAH IP DAN IS SEPERTI PADA GAMBAR

 DISISI SEKUNDER MASING-MASING CT, ARUS KELUAR DARI TERMINAL DOT, SEHINGGA ARAH ARUSNYA :  KARENA IP SAMA BESAR IS TAPI ARAH BERLAWANAN MAKA DIFFERENSIAL RELAI TIDAK DILALIRI ARUS 33

Lanjutan 3.10. a DIFFERENSIAL SEBAGAI PENGAMAN TRAFO (lanjutan)


IP CTP TRAFO TENAGA CTS

BEBAN

DOT POLARITY

DIFF. RY iP

3 DALAM KEADAAN GANGGUAN

ARAH IP SEPERTI PADA GAMBAR DAN HANYA IP

3 DISISI SEKUNDER CTP, ARUS iP KELUAR DARI


TERMINAL DOT, DAN MENGERJAKAN DIFF RY

3 PERHATIKAN :

TERMINAL SEKUNDER CTP DAN CTS TERHUBUNG KE DIFF. RY DI FASA YANG BERLAWANAN ATAU BEDA SUDUT 180o 34

3.11. BAGAN SATU GARIS PENGAMAN TRANSFORMATOR


BUS I 150 kV BUS 2 150 kV PMS BUS 1 PMS BUS 2

Trip

PMT 150kV
Meter OCR & EF

CT 200/5-5-5A

TRAFO 20 MVA 150 / 20 kV Z = 12,4 5

DIFFRENSIAL NGR 40 ohm CT CT 300A/12 kV 1000/5 300/5A 10 Sec REF EF

CT 1000/5-5-5A Trip PMT 20kV

OCR & EF Meter

PT BUS 20 kV
Trip PMT 20kV
OCR & EF

20kV/110V

KETERANGAN : OCR & EF : Over Current Relay & Earth Fault DIFF REF Meter : Diffrencial Relay : Restricted Earth Fault : Alat Ukur Amper, kWh, kVarh, MW, MVar dll.

V3 CT

V3

Meter

PENYULANG 20 kV

35

BAB IV CURRENT TRANSFORMER & POTENTIAL TRANSFORMER

4.1. TRAFO INSTRUMEN (INTRUMENT TRANSFORMER)


a Adalah trafo yang mana dipergunakan bersama dengan peralatan lain seperti: relai proteksi, alat ukur atau rangkaian kontrol, yang dihubungkan ke arus bolak balik Trafo instrumen: current transformers dan voltage transformers. a PERALATAN PENGUKURAN LISTRIK       kWh meter kVAr meter Ampere meter Volt meter Watt meter CosN meter : : : : : : untuk mengukur untuk mengukur untuk mengukur untuk mengukur untuk mengukur untuk mengukur pemakaian energi listrik pemakaian daya reaktif arus tegangan pemakaian daya aktif power factor

a PERALATAN PROTEKSI     Over Current Relay Ground Fault Relay Differential Relay Distance Relay 36

4.2. TRAFO ARUS

a DEMI KEAMANAN & KETELITIAN, TRAFO ARUS UNTUK :  PENGUKURAN HARUS PUNYA DAERAH ARUS HARUS JENUH BESAR, UNTUK a PROTEKSI HARUS PUNYA KETELITIAN / ERROR KECIL PADA DAERAH ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT BESAR TIDAK JENUH PADA ARUS GANGGUAN YANG BESAR, UNTUK KEANDALAN ALAT PROTEKSI KETELITIAN TINGGI PADA PENGUKURAN BEBAN NOMINAL PADA ARUS GANGGUAN YANG KEAMANAN ALAT UKUR

37

Lanjutan 4.2.
a RANGKAIAN EKIVALEN CT
IP
P1/K P2/L

S1/k

IS

S2/l

 P1/K masuknya arus primer & P2/L keluaran arus primer  S1/k masuknya arus sekunder dari primer dan S2/l keluaran arus sekunder  Pembumian : pada S2/l -- sudut IP dan IS = 00 pada S1/k -- sudut IP dan IS = 1800 38

4.3. KESALAHAN CURRENT TRANSFORMER


a Kesalahan arus

Perbedaan arus yang masuk disisi primer dengan arus disisi sekunder I % = [(Kn Is - Ip)/Ip] x 100%
a Kesalahan fasa

Akibat pergeseran fasa antara arus sisi primer dengan arus sisi sekunder
a Composite Error

Ic = 100/ Ip 100/T (Knis

ip)2 dt

is dan ip merupakan nilai arus sesaat sisi sekunder dan sisi primer.

39

4.4. SPESIFIKASI CLASS CT


Sesuai IEC 60044-1 spesifikasi class untuk CT:
Kelas ketelitian +/- % kesalahan ratio arus pada % dari arus pengenal 5 0,1 0,2 0,5 1,0 0,4 0,75 1,5 3,0 20 0,2 0,35 0,75 1,5 100 0,1 0,2 0,5 1,0 120 0,1 0,2 0,5 1,0 +/- % pergeseran fase pada % dari arus pengenal , menit (centiradians) 5 15 30 90 180 20 8 15 45 90 100 5 10 30 60 120 5 10 30 60

Kelas ketelitian 1 0,2S 0,5S 0,75 1,5

+/- % kesalahan ratio arus pada % dari arus pengenal 5 0,35 0,75 20 0,2 0,5 100 0,2 0,5 120 0,2 0,5

+/- % pergeseran fase pada % dari arus pengenal , menit (centiradians) 1 30 90 5 15 45 20 10 30 100 10 30 120 10 30

Kelas ketelitian

+/- % kesalahan ratio arus pada % dari arus pengenal 50 100 3 5

3 5

3 5

40

4.5. CLASS TRAFO UNTUK PENGUKURAN


TRAFO ARUS MASING MASING CLASS TRAFO ARUS UNTUK PENGUKURAN Untuk kebutuhan industri Untuk kWh meter di pelanggan Untuk memperkecil kesalahan Untuk kebutuhan laboratorium Untuk kebutuhan instrument : CL2 or CL1 : CL0.5 : CL0.2S : CL0.1 : CL3 or CL5
2,5 VA; 10 VA; 30 VA 5 VA ; 15 VA 7,5 VA ; 20 VA 41

Akurasi burden pengenal:

4.6. KURVA MAGNETISASI Kurva maknetisasi CT

CT Metering

ES
Kurva CT untuk proteksi

Knee point
Kurva CT untuk pengukuran

CT Proteksi IeXct

42

4.7. BEBERAPA KONSTRUKSI CT


a Sisi primer batang a Sisi primer lilitan

43

Lanjutan 4.7.
Inti besi a Trafo arus dengan inti besi

a Trafo arus tanpa inti besi Rogowski coil

44

Lanjutan 4.7.

a Type lingkaran/Wound primary

Conventional Dead Tank CT

45

Lanjutan 4.7.
a Type batang /Bar primary

Inverted CT

46

Lanjutan 4.7.
Teriminal primer 1 belitan
Pola (mould) Pola (mould)

Resin

Resin

Belitan sekunder Untuk pengukuran Teriminal sekunder

Belitan sekunder Untuk Proteksi

Belitan sekunder Untuk pengukuran Teriminal sekunder

Belitan sekunder Untuk Proteksi

P1(C1)

P2 (C2)

Gambar 8: dua belitan sekunder 1S1 1S2 2S1 2S2 3S1 3S2 4S1 4S2

4 Teriminal sekunder

BILA PRIMER 2 BELITAN -- DIPILIH PADA LOWER RATIO 47

4.8. TRAFO TEGANGAN

a Trafo tegangan: Instrumen trafo yang dipergunakan untuk memperkecil tegangan tinggi ke tegangan rendah , dipergunakan untuk pengukuran atau proteksi
Accuracy classes sesuai IEC 60044-2
Range Class Burden (%) 25 25 25 25 25 25 25 100 100 100 100 100 100 100 Voltage (%) 80 - 120 80 - 120 80 - 120 80 - 120 80 - 120 5-Vf 5-Vf Limit of Errors Ratio Phase (%) displacement (min) 0,1 5 0,2 10 0,5 20 1,0 40 3 3,0 120 6,0 240 Application

0,1 0,2 0,5 1,0 3,0 3P 6P

laboratory Precision and revenue metering standard revenue metering industrial grade meters intruments Protection Protection

48

Lanjutan 4.8.
a Rangkaian ekivalen
R S T
Primer 20.000/3 Sekunder 100/3

Tegangan pengenal primer : kV (150 kV, 20 kV atau 150 kV/3 , 20 kV/3) Tegangan pengenal sekunder: volt (110 V , 110 V atau 110 V/3 , 100 V/3) a Untuk pengukuran tegangan jatuh disisi sekunder e 0,05 % s/d 0,1 % x tegangan pengenal sekunder PT a Tipe trafo tegangan:  Inductive voltage transformers  Capacitive voltage transformers 49

4.9. KLASIFIKASI TRAFO TEGANGAN

a Jenis INDUKTIF (PT) Terdiri dari belitan Primer dan belitan sekunder, Belitan primer akan menginduksikannya ke belitan sekunder melalui core. a Jenis KAPASITIF (CVT) Terdiri dari rangkaian kondensor yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi dari trafo pada tegangan menengah yang menginduksikan tegangan ke belitan sekunder melalui media capasitor.

50

4.10. JENIS INDUKTIF TRAFO TEGANGAN


a Keterangan gambar:
7 6

1. Kertas/Isolasi Minyak Mineral/Quartz filling. 2. Belitan Primer: vernis ganda-isolasi kawat tembaga, tahan pada suhu tinggi. 3. Inti: bukan orientasi listrik baja memperkecil resiko resonansi besi 4. Belitan Sekunder

5 1

2 3

5. Isolator Keramik 6. Dehydrating Breather 7. Terminal Primer 8. Terminal Sekunder 51

4.11. JENIS KAPASITIF TRAFO TEGANGAN


1 1). HV.T adalah terminal tegangan tinggi 2) kapasitor C1 & C2 pembagi tegangan (capacitive voltage divider) yang berfungsi sebagai pembagi tegangan tinggi untuk diubah oleh trafo tegangan menjadi tegangan pengukuran yang lebih rendah 3). L0 adalah induktor penyesuai tegangan (medium voltage choke) yang berfungsi untuk mengatur/menyesuaikan supaya tidak terjadi pergeseran fasa antara tegangan masukan (vi) dengan tegangan keluaran (vo) pada frekuensi dasar. 4) Belitan primer 4 5) Isolator keramik 7) Terminal sekunder

52

4.12. KESALAHAN TRAFO TEGANGAN

a Kesalahan rasio trafo tegangan Kesalahan besaran tegangan karena perbedaan rasio name plate dengan rasio sebenarnya dinyatakan dalam % = 100 (Kn Vs - Vp)/Vp

a Composite Error Ic = 100/ Vp 100/T (Knvs vp)2 dt

vs dan vp merupakan nilai tegangan sesaat sisi sekunder dan sisi primer.

53

BAB V SISTEM PEMBUMIAN PERALATAN & SISTEM

5.1. PENGERTIAN UMUM


a Pembumian sistem adalah hubungan secara Elektris antara sistem dengan tanah melalui transformator yang mempunyai belitan Y.

a Kegunaan: (pada sistem 3 fasa)  Pengaman Sistem dari gangguan tanah  Pengaman Isolasi Peralatan Instalasi akibat tegangan lebih sewaktu gangguan fasa-tanah

a Pembumian Peralatan adalah hubungan antara peralatan listrik dengan tanah/bumi  Kegunaan: Sebagai pengaman bagi manusia dan peralatan instalasi jika terjadi kebocoran listrik pada peralatan.

54

5.2. MACAM / JENIS PEMBUMIAN SISTEM

a Pentanahan melalui tahanan (resistance grounding). a Pentanahan melalui reaktor (reactor grounding). a Pentanahan langsung (effective grounding). a Pentanahan melalui reaktor yang impedansinya dapat berubah-ubah (resonant grounding) atau pentanahan dengan kumparan Petersen (Petersen Coil).

55

5.3. PEMBUMIAN NETRAL LANGSUNG (SOLID GROUNDED)

a Netral Sistem dari transformator 3 fasa dengan hubungan Y yang dihubungkan langsung dengan tanah melalui elektroda cu. a Tahanan pembumian harus rendah 0,5 3 ohm.

Transformator tenaga

Netral ditanahkan langsung

56

Lanjutan 5.3.
a Pemasangannya: Pada transformator tenaga yang dipasok dari sistem tegangan menengah (GI) atau PLTD kecil. Keuntungan :  Tegangan lebih pada phasa-phasa yang tidak terganggu relatif kecil.  Kerja pemutus daya untuk melokalisir lokasi gangguan dapat dipermudah, sehingga letak gangguan cepat diketahui.  Sederhana dan murah dari segi pemasangan Kerugian :  Setiap gangguan phasa ke tanah selalu mengakibatkan terputusnya daya.  Arus gangguan ke tanah besar, sehingga akan dapat menimbulkan kerusakan pada peralatan listrik yang dilaluinya.
57

Lanjutan 5.3.

ZL

XT IGF
a Arus gangguan tanah dihitung dengan memasukkan Reaktansi XT dan Impedansi ZL a Arus gangguan tanah dipakai untuk penyetelan Relai Arus Lebih gangguan tanah.
58

Lanjutan 5.3. a Pembebanan pada transformator tenaga di GI atau PLTD yang memasok kebeban:  Bisa single phase (Transformator 1 fasa)  Bisa three phase (Transformator 3 fasa)  Beban tidak seimbang, kawat netral dialiri a arus beban

59

5.4. PEMBUMIAN NETRAL MELALUI TAHANAN a Netral Sistem dari transformator 3 fasa dengan
hubungan Y yang melalui tahanan dihubungkan dengan tanah

a Guna : Membatasi besar arus gangguan tanah

tetapi relai gangguan tanah masih kerja baik

Transformator tenaga

Netral ditanahkan Melalui Tahanan Tahanan

60

Lanjutan 5.4. a Pemasangannya : Pada transformator tenaga yang dipasok pada sistem tegangan 70 atau 150 kV (GI) atau pada sistem PLTD kecil a Tahanan pembumian (netral grounding resistance) yang terpasang di GI atau sistem PLTD :  NGR dengan tahanan 12 ohm.  NGR dengan tahanan 40 ohm.  NGR dengan tahanan 500 ohm. a Catatan: Nilai tahanan perlu dihitung yang didasarkan pada besarnya arus gangguan 1 fasa ketanah
61

Lanjutan 5.4. a Contoh NGR yang terpasang di Gardu Induk

40 ohm

 NGR (Neutral Grounding Resistance)


Adalah tahanan yang dipasang antara titik neutral trafo dengan tanah dimana berfungsi untuk memperkecil arus gangguan tanah yang terjadi sehinggadiperlukan proteksi yang praktis dan tidak terlalu mahal karena karakteristik rele dipengaruhi oleh sistem pentanahan titik neutral. 62

Lanjutan 5.4.

ZL

XT Rn IGF

a Arus gangguan tanah dihitung dengan memasukkan Tahanan 3RN, Reaktansi XT dan Impedansi ZL a Arus gangguan tanah dipakai untuk penyetelan Relai Arus Lebih gangguan tanah.
63

Lanjutan 5.4.

a Keuntungan :  Besar arus gangguan tanah dapat diperkecil  Bahaya gradient voltage lebih kecil karena arus gangguan tanah kecil.  Mengurangi kerusakan peralatan listrik akibat arus gangguan yang melaluinya. a Kerugian :  Timbulnya rugi-rugi daya pada tahanan pentanahan selama terjadinya gangguan fasa ke tanah.  Karena arus gangguan ke tanah relatif kecil, kepekaan relai pengaman menjadi berkurang.

64

5.5. PEMBUMIAN NETRAL MENGAMBANG (FLOATING) a Titik Netral Transformator hubungan Y tidak dihubungkan ke tanah  Untuk sistem kecil, arus gangguantanah tidak membuat kejutan power a Guna : pada pembangkit  Untuk sistem kecil, arus gangguantanah temporer bisa self clearing

Transformator tenaga

Netral tidak ditanahkan


65

Lanjutan 5.5. ZL XT

ICe
a Saat terjadi Arus gangguan tanah timbul:

IGF

 Arus kapasitif jaringan  Tidak tergantung lokasi gangguan, besarnya tetap  Karenanya Relai gangguan tanah tidak selektif  Arus Kapasitif gangguan tanah besar ? Arcing
66

Lanjutan 5.5. a Gangguan Fasa - tanah

 Tegangan Fasa sehat naik 3 kali.  Gang. Permanen, Tegangan sentuh tdk bahaya.  Kawat putus yang tidak menyentuh tanah bahaya
bila disentuh manusia.

 Sistem kecil, gangguan tanah tidak dirasakan


konsumen TR. a Uraian vektor V dan I saat gangguan tanah

 Segitiga tegangan sistem tidak berubah.  Magnitude & sudut tegangan fasa sehat berubah.  Magnitude ICe besar gejala Arcing Ground.
67

Lanjutan 5.5.

a Akibatnya :

Udara yang belum kembali menjadi isolator kembali breakdown karena teg. fasa R yang naik s/d 3xEph

a Kejadian ini berulang pada setiap cycle dari gelombang sinusoidal, dan disebut Arcing Ground a Kenaikan tegangan pada peristiwa Arcing Ground berbahaya bagi isolator diseluruh instalasi. a ICE yang terlalu besar penyebab Arcing Ground harus dihindari agar tidak merusak peralatan
68

Lanjutan 5.5.

a Pembebanan :

 Tidak bisa single phase  Harus three phase (Trafo 3 fasa)  Beban tidak seimbang di TR di TM dialiri
arus urutan negatif.  Pengukuran Beban bisa gunakan meter 3 fasa 3 kawat.

69

5.6. PEMBUMIAN NETRAL MELALUI PETERSON COIL a Netral Sistem dari transformator 3 fasa dengan hubungan Y yang dihubungkan dengan tanah melalui reaktor induktif - Peterson coil a Nilai reaktansi Induktansi disesuaikan dengan nilai reaktansi kapasitansi jaringan  Arus kapasitif gangguan tanah yang besar dikecilkan agar tidak terjadi Arcing Ground yang berbahaya  Arus gangguan tanah temporer menjadi bisa self clearing kembali  Dapat mengkompensir arus kapasitif
70

a Guna :

Lanjutan 5.6.

Transformator tenaga

Netral ditanahkan Melalui Reaktor

a Tegangan Fasa- tanah Kondisi Normal  Masih dapat terjaga seimbang, bila Ce seimbang. Kondisi gangguan tanah  Teg. Netral-tanah naik, teg. Fasa-tanah naik 3.
71

Lanjutan 5.6.

ZL XT IL

ICe

ICe
a Bila terjadi arus gangguan tanah

IL

 Arus kapasitif jaringan dikompensir oleh arus IL

 Tidak tergantung lokasi gangguan, besarnya tetap


 Relai gangguan tanah tidak selektif  Arus gangguan tanah tidak membuat Arcing
72

Lanjutan 5.6.
a Keuntungan : 3 Arus gangguan dapat dibuat kecil sehingga tidak berbahaya bagi mahluk hidup. 3 Kerusakan peralatan sistem dimana arus gangguan mengalir dapat dihindari. 3 Sistem dapat terus beroperasi meskipun terjadi gangguan fasa ke tanah. 3 Gejala busur api dapat dihilangkan.

a Kerugian :
3 Rele gangguan tanah (ground fault relay) sukar dilaksanakan karena arus gangguan tanah relatif kecil. 3 Tidak dapat menghilangkan gangguan fasa ke tanah yang menetap (permanen) pada sistem. 3 Operasi kumparan Petersen harus selalu diawasi karena bila ada perubahan pada sistem, kumparan Petersen harus disetel (tuning) kembali.
73

5.7. GROUNDING EQUIPMENT (PEMBUMIAN PERALATAN)


a Pengertian Pembumian Peralatan

Pembumian peralatan adalah menghubungkan kerangka/ bagian terhadap ground (tanah).

pentanahan dari peralatan

yang listrik

Pembumian ini pada kerja normal tidak dilalui arus.

74

5.8. PEMBUMIAN PERALATAN a Tujuan pembumian peralatan adalah sebagai berikut :  Untuk mencegah terjadinya tegangan kejut listrik yang berbahaya bagi manusia bila pada peralatan listrik terjadi kebocoran listrik.  Untuk memungkinkan timbulnya arus tertentu baik besarnya maupun lamanya dalam keadaan gangguan tanah tanpa menimbulkan kebakaran atau ledakan pada bangunan atau isinya. a Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya pentanahan :  Tahanan jenis tanah.  Panjang elektroda pentanahan.  Luas penampang elektroda pentanahan.
75

Lanjutan 5.8. a Tahanan Jenis Tanah


JENIS TANAH TANAH RAWA TANAH LIAT DAN TANAH LADANG PASIR BASAH KERIKIL BASAH PASIR DAN KERIKIL KERING TANAH BERBATU TAHANAN JENIS TANAH (OHM M) 30 100 200 500 1,000 3,000 R = Tahanan elektroda pentanahan (ohm) V = Tahanan jenis tanah ,ohm-cm besarnya sesuai tabel (karena tabel diatas dalam ohm-meter dirubah dahulu dalam ohm-cm) r = jari-jari elektroda pentanahan ( cm ) L = panjang elektroda pentanahan ( cm )

R!

4.L . ln  1 2.T L r

76

Lanjutan 5.8.

a Sirkulasi arus akibat adanya kebocoran pada peralatan listrik


R

Sekunder trafo gardu distribusi

RL

S T
RN

Netral

Re1
Peralatan Listrik

Re2

77

Lanjutan 5.8.
Titik terjadi gangguan phasa - tanah

Tegangan sentuh Tegangan langkah

Bumi
20 m 20 m

Bentuk tegangan antara tegangan elektroda dan referensi bumi, tegangan elektroda-bumi, teganganlangkah, tegangan sentuh.
78

Lanjutan 5.8. Sistem pembumian peralatan di gardu induk dengan menghubungkan elektroda membujur dan melintang dibawah tanah yang disebut sistem mesh dengan tujuan untuk memperoleh tahanan tanah kecil (< 1 ohm).

79

BAB VI PENGAMAN TRANSMISI

6.1. DISTANCE RELAY

a Relai penghantar yang prinsip kerjanya berdasarkan pengukuran impedansi penghantar. a Relai ini mempunyai ketergantungan terhadap besarnya SIR dan keterbatasan sensitivitas untuk gangguan satu fasa ke tanah. a Relai ini mempunyai beberapa karaktristik seperti mho, quadralateral, reaktans, adaptive mho dll. a Sebagai unit proteksi relai ini dilengkapi dengan pola teleproteksi seperti putt, pott dan blocking. a Jika tidak terdapat teleproteksi maka relai ini berupa step distance saja.

80

6.2. SETTING DISTANCE RELAY

a Dapat menentukan arah letak gangguan


3 Gangguan didepan relai harus bekerja 3 Gangguan dibelakang relai tidak boleh bekerja

a Dapat menentukan letak gangguan


 Gangguan di dalam daerahnya relai harus bekerja 3 Gangguan diluar derahnya relai tidak boleh bekerja

a Beban maksimum tidak boleh masuk jangkauan relai a Dapat membedakan gangguan dan ayunan daya

81

6.3. SETTING RELAY JARAK a Zone 1


Karena adanya kesalahan pengukuran jarak akibat kesalahan CT, PT dan relainya sendiri, tidak mungkin menset relai sampai ujung saluran yang diamankan, yang lazim disebut Zone 1.

Zone 1= 80% ZAB

F 21 Zone - 1

F 21 = 80% x ZAB

82

Lanjutan 6.3. a Zone 2


Untuk mengamankan sisa yang tidak diamankan Zone 1, diaman- kan oleh Zone 2 dengan perlambatan waktu. Zone 2 juga sebagai pengaman rel ujung seksi yang diamankan bila tidak mempunyai proteksi rel. A
Zone 1= 80% ZAB

F 21 Zone - 2

F 21 = 80% x (ZAB + 80% x ZBC)

83

Lanjutan 6.3.
a Zone 3

Sebagai pengamanan cadangan ditambah relai yang lazim disebut Zene 3, dalam hal ini harus dapat menjangkau ujung seksi berikutnya, waktunya diperlambat terhadap Zone 2 seksi berikutnya

Zone 1= 80% ZAB

F 21 Zone - 3

F 21 = 80% x (ZAB + 80% ( ZBC + 80% ZCD )

84

6.4. KARAKTERISTIK DISTANCE RELAY

ZL

a Karakteristik mho

Z1 Z2 Z3 R

ZL

Z3

a Karakteristik Quadrilateral
Z2 R Z1

85

6.5. RELAY DIFFERENTIAL SEBAGAI PENGAMAN SALURAN DISTRIBUSI ATAU TRANSMISI (KAWT PILOT)

a Prinsip kerja pengaman differential arus untuk saluran distribusi dan transmisi mengadapsi diffrential arus, yang membedakan ialah daerah yg diamankan cukup panjang. Daerah pengamanan Saluran distribusi/transmisi CT1 CT2

I1

I2

86

Lanjutan 6.5. a PRINSIP DASAR PROTEKSI RELAI DIFFERENTIAL


3 Relai diferensial arus berdasarkan H. Khirchof, dimana arus yang masuk pada suatu titik, sama dengan arus yang keluar dari titik tersebut. I1 I2 I1 = I2

3 Yang dimaksud titik pada proteksi differential ialah daerah pengamannan, dalam hal ini dibatasi oleh 2 buah trafo arus. Daerah pengamanan I1 CT1 CT2
87

I2

6.6. RELAI DIFFERENTIAL ARUS

a Relai Diffrential arus membandingkan arus yang melalui daerah pengamanan. a Relai ini harus bekerja kalau terjadi gangguan didaerah pengamanan, dan tidak boleh bekerja dalam keadaan normal atau gangguan diluar daerah pengamanan. a Relai ini merupakan unit pengamanan mempunyai selektifitas mutlak. dan

88

Lanjutan 6.6.
I1 PMT

I2 Saluran yg diproteksi
PMT

A
CT1

CT2

F 87

F 87

Gelombang arus yang saling dikirim


89

Lanjutan 6.6. a Diffrential untuk saluran diperlukan :  Sarana komunikasi antara ujung saluran yg lazim disebut kawat pilot, dapat berupa : - Kawat tembaga. - Serat optik - Mikro wave  Relai sejenis disetiap ujung saluran.  Untuk ketiga fase hanya sebuah relai, supaya saluran komunikasi yg cukup sepasang cukup 1 pasang.  Supervisi untuk mengontrol bahwa saluran komunikasi (pilot) baik/tidak terganggu.
90

Lanjutan 6.6.
 Trafo isolasi, karena kemungkinan terjadi induksi tegangan dari saluran yang diamankan (khususnya pilot dengan kawat tembaga)

 Yg membatasi panjang saluran yang diamankan : - Saluran komunikasi dengan kawat dibatasi adanya arus kapasitansi dan resistans kawat. oleh

- Saluran komunikasi dengan serat optik, sampai batas tidak perlu adanya penguat (repeater).

91

Lanjutan 6.6.
a Prinsip operasi yang digunakan.  Circulating current Prinsipnya dalam keadaan normal/tidak ada gangguan arus mengalir melalui CT di kedua ujung, kumparan penahan dan kawat pilot, kumparan kerja tidak dilalui arus.  Opose Voltage Prinsipnya dalam keadaan normal/tidak ada gangguan arus mengalirhanya disetiap CT dan kumparan penahan disetiap sisinya, pada kawat pilot dan kumparan kerja tidak dilalui arus.

92

Lanjutan 6.6. I2
PMT Saluran yg diproteksi PMT

I1

A
CT1
Trafo penjumlah

B
CT2

s2 p
2

p s2
2

id
F 87

id

Trafo penjumlah

s1 p
1

p s1
1

Trafo isolasi

F 87 5 kV untuk JTM 15 kV untuk JTT

93

6.7. CIRCULATING CURRENT CIRCULATING CURRENT.


a Keadaan normal

I1

PMT

Saluran yg diproteksi Kumparan kerja

PMT

I2 B

CT1

i2 id
F 87

CT1

i1

id
F 87

Kawat pilot

i2

Kumparan penahan

a Pada

keadaan normal kawat pilot dilalui arus dan kumparan kerja tidak dilalui arus.
94

6.8. DIRECTIONAL COMPARISON RELAY


a Relai penghantar yang prinsip kerjanya membandingkan arah gangguan, jika kedua relai pada penghantar merasakan gangguan di depannya maka relai akan bekerja. a Cara kerjanya ada yang menggunakan directional impedans, directional current dan superimposed.
A B

u1

DIR

DIR

&

R
Signalling

R channel

&

Directional comparison relay

b
u1

95

6.9. PENGAMAN CADANGAN TRANSMISI DENGAN RELAI ARUS LEBIH

F 51

F 51

a Jangkauan relai sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya pembangkitan.

96

BAB VII PENGAMAN DISTRIBUSI 20 KV

7.1. PENYEBAB GANGGUAN HUBUNG SINGKAT


Pada SUTM
AWAN AWAN

PETIR

RANTING POHON

I (DARI SUMBER)

97

7.2. PENGARUH ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT TERHADAP SISTEM TENAGA LISTRIK
TRAFO DAYA

51 51G 51N

51 51G

3 FASA 1 FASA-TANAH

a TEGANGAN DI BUS 20 KV TURUN a PENGARUH TEGANGAN TURUN DIRASAKAN OLEH SEMUA FEEDER YANG TERSAMBUNG PADA BUS BERSAMA. a SAAT TERJADI GANGGUAN HS BERPENGARUH PADA TRAFO TENAGA DAN GEN a SAAT PMT TERBUKA TEGANGAN NAIK. a GANGGUAN HS 1 FASA KETANAH DAPAT MENAIKAN TEG PADA FASA YANG SEHAT.

98

7.3. HUBUNGAN PARALEL ANTAR PUSAT LISTRIK


V < 20 kV V<20 kV

2 PLTD A 1 3 5

4 PLTD B 6

a SAAT TERJADI GANGGUAN DI SALAH SATU FEEDER,


3 3 3 3 ADA SUMBANGAN ARUS DARI PLTD A DAN PLTD B KETITIK GANGGUAN. RELAI DI 3 DAN 5 AKAN TRIP RELAI DI 1 & 6 AKAN PICK UP JIKA SETELAN RELAI ANTARA KEDUA PUSAT LISTRIK TIDAK SESUAI, AKAN TERJADI BLACK OUT (SELURUH PUSAT LISTRIK PADAM)

99

7.4. GANGGUAN HUBUNG SINGKAT

PLTD A

IF

IF>>

FCO

Gangguan HS

20 kV

a Saat terjadi gangguan hubung singkat dijaringan 20 kV di salah satu feeder,


Yang mempunyai FCO--- FCO trip.

a Saat FCO trip dalam tabung terjadi arcing yang waktunya melebihi waktu setting
Yang dapat tripkan Rele di outgoing.

100

Lanjutan 7.4.
a GANGGUAN YANG TERJADI:
3 GANGGUAN 3 : bisa terjadi pada fasa R , S dan T terhubung singkat

3 GANGGUAN 2 FASA : bisa terjadi antara


fasa R & S, fasa T & S atau R & T terhubung singkat

3 GANGGUAN 2 FASA KE TANAH: bisa terjadi antara


fasa R & S, fasa T & S ke tanah atau fasa R & T ke tanah

3 GANGGUAN 1 FASA KE TANAH: bisa terjadi antara


fasa R ke tanah fasa S - ke tanah atau fasa T - ke tanah

101

7.5. SISTEM PENGAMAN PADA SISTEM DISTRIBUSI

1. Differential Relay Pengaman Utama Gen dll. 2. Differential Relay Pengaman Utama Trafo dll. 3. Over Current Relay Trafo sisi 150 KV Pengaman Cadangan Lokal Trafo Pengaman Cadangan Jauh Bus B. 4. OCR dan GFR Trafo sisi 20 kV Pengaman Utama Bus B1 Pengaman Cadangan JAuh saluran BC. 5. OCR dan GFR di B2 Pengaman Utama saluran BC Pengaman Cadangan Jauh saluran CD. 6. OCR dan GFR di C Pengaman Utama saluran CD Pengaman Cadangan Jauh seksi berikut. 102

7.6. WIRING DIAGRAM OVER CURRENT RELAY & GROUND FAULT RELAY
TRAFO 6,3/20 KV

PMT

CT

Jaringan distribusi

NGR

OCR/GFR

TRAFO 6,3/20 KV

PMT

CT

ON NGR
OCR OCR OCR

RELAY
GFR

103

7.7. CARA KERJA OCR


a PADA SAAT HUBUNG SINGKAT 3 FASA
PMT TRAFO 6,3/20 KV CT
HUBUNG SINGKAT 3 FASA

ON OFF NGR
OCR OCR OCR

GFR

   

Gangguan terjadi pada fasa R,S dan T. Arus gangguan hubung singkat mengalir di jaringan. Karena arus tersebut > dari ratio CT pada sekunder CT mengalir arus. Masuk ke OCR -- OCR memasok arus ke PMT-- PMT trip. 104

Lanjutan 7.7.

PMT TRAFO 6,3/20 KV

CT

R
3Io ON OFF NGR
OCR OCR OCR

HUBUNG SINGKAT 1 FASA

S T

GFR

Gangguan HS terjadi pada fasa T, arus mengalir masuk ke GFR - PMT trip

105

7.8. PERALATAN PENGAMAN PADA JARINGAN 20 kV


a Pengaman Gangguan Antar Fasa (OCR) a Pengaman Gangguan Satu Fasa Ketanah (GFR) a Cara kerja: CT Penyulang Gangguan 3 CT mentransfer besaran primer ke besaran sekunder 3 Rele detektor hanya bekerjadengan arus kecil akurat 3 Perlu sumber Volt DC untuk tripping PMT 3 Karakteristik bisa dipilih Definite, Inverse, Very-Inverse atau Extreemely Inverse. 106

+ -

7.9. RELE ARUS LEBIH SEKUNDER

a Elektromekanis  Sederhana Definite, (instant)


Rele definite hanya menyetel waktu Saat terjadi gangguan hubung singkat arus dari CT masuk ke kumparan Rele.
Setelan waktu

Selenoid yang dililit kumparan akan menjadi magnit dan kontak akan ditarik kebawah. lamanya kontak menyentuh switch tergantung setting waktunya

107

Lanjutan7.9.

 Karakteristik Inverse
Rele inverse menyetel waktu & arus Saat terjadi gangguan hubung singkat arus
*

dari CT masuk ke kumparan Rele Selenoid yang dililit kumparan akan mem bentuk *, fluks terpotong oleh piringan, piringan berputar. Lamanya kontak menyentuh switch tergantung setting waktunya

108

Lanjutan7.9. a Elektrostatik
CT
*

Rect Set timer Comp


C

Kontak Output

Set I (arus)

 Arus gangguan hubung singkat masuk ke CT.  Arus ini di searah kan di Rectifier dan arus searah di teruskan ke comp.  Kapasitor digunakan menambah arus yang masuk coil tripping.

109

7.10. KARAKTERISTIK RELAY


a Karakteristik Relay : - Definite - Invers - Instant t (detik) KARAKTERISTIK TUNDA WAKTU TERTENTU ( DEFINITE TIME )

t SET

I SET

I (ampere)

a Karakteristik definite time: bisa di setting arus besar setting waktu kecil 110

7.11. KARAKTERISTIK KOMBINASI INSTANT DENGAN TUNDA WAKTU INVERSE

t (detik)

I SET

I SET MOMENT

I (ampere)

a Digunakan untuk setting inverse dan moment 111

7.12. KARAKTERISTIK INSTANT = MOMENT


T (detik)

t SET
I SET MOMENT
I (ampere)

a PADA KARAKTERISTIK INSTANT MEMPUNYAI WAKTU


MINIMUM: 40 s/d 80 milisecond DENGAN ARUS YANG BESAR

a Digunakan: untuk back up pada pengaman distribusi 112

7.13. PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT

a JARINGAN RADIAL SINGLE  KOORDINASI DENGAN O.C INVERSE

SUMBER KIT

TRAFO UNIT/ TRAFO DAYA

51 51G 51N

51 51G

51 51G

51 51G

 PERHITUNGAN KOORDINASI SELALU DIMULAI DARI RELAI PALING HILIR, DAN BERGERAK KE HULU

113

Lanjutan7.13.
a UNTUK :

 GANGGUAN HUBUNG SINGKAT 3 FASA  GANGGUAN HUBUNG SINGKAT 2 FASA  GANGGUAN HUBUNG SINGKAT 2 FASA KETANAH  GANGGUAN HUBUNG SINGKAT SATU FASA KETANAH

a RUMUS DASAR YANG DIGUNAKAN ADALAH HUKUM OHM I= V Z


I = ARUS GANGGUAN H.S V = TEGANGAN SUMBER Z = IMPEDANSI DARI SUMBER KETITIK GANGGUAN, IMPEDANSI EKIVALENT

a BIASANYA NILAI IMPEDANSI EKIVALENT INI YANG


MEMBINGUNGKAN PARA PEMULA.

114

Lanjutan7.13.
a DARI KETIGA JENIS GANGGUAN, PERBEDAANNYA ADA PADA
 UNTUK GANGGUAN 3 FASA : IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH IMPEDANSI URUTAN POSITIF NILAI EKIVALEN Z1 TEGANGANNYA ADALAH E FASA  UNTUK GANGGUAN 2 FASA : IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH JUMLAH IMPEDANSI URUTAN POS. + URUTAN NEG. NILAI EKIVALEN Z1 + Z2 : TEGANGANNYA ADALAH E FASA-FASA IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH JUMLAH IMPEDANSI URUTAN POS. + URUTAN NEG. + URUTAN NOL NILAI EKIVALEN Z1 + Z2 * Z0 Z2 + Z0  UNTUK GANGGUAN 1 FASA KETANAH : IMPEDANSI YANG DIGUNAKAN ADALAH JUMLAH IMPEDANSI URUTAN POS. + URUTAN NEG. + URUTAN NOL NILAI EKIVALEN Z1 + Z2 + Z0 TEGANGANNYA ADALAH E FASA

 UNTUK GANGGUAN 2 FASA KETANAH

115

Lanjutan7.13.
a PERHITUNGAN ARUS GANGGUAN :

 GANGGUAN TIGA FASA

: RUMUSNYA : V = Z =

I =

V Z

TEGANGAN FASA - NETRAL IMPEDANSI Z1 ekivalen

 GANGGUAN DUA FASA

: RUMUSNYA :

I =

V Z

V = TEGANGAN FASA - FASA Z = IMPEDANSI ( Z1 + Z2 ) ekivalen

116

2.8. PENGAMAN TEMPERATUR GENERATOR

 GANGGUAN DUA FASA - KETANAH : RUMUSNYA : I = V Z V = Z = TEGANGAN FASA - FASA IMPEDANSI Z1 + Z2 * Z0 ekivalen Z2 + Z0

 GANGGUAN SATU FASA KETANAH : V Z V = 3 x TEGANGAN FASA

RUMUSNYA :

I =

Z = IMPEDANSI ( Z + Z + Z ) eki 1 2 0

117

7.14. SETELAN Tms DAN WAKTU PADA RELAY INVERS


I k fault t x  1 I SET Tms ! 0,14
t! 0,14 v Tms IFAULT I SET 1
k

Faktor k tergantung pada kurva arus waktu, sebagai berikut:  Nama kurva  IEC standard Inverse  IEC very Inverse  IEC Extremely Inverse  IEEE standard Inverse k 0,02 1 2 0.02 0.02 2 2 2

detik

 IEEE Short Inverse  IEEE Very Inverse  EEE inverse  IEEE Extremely Inverse

3t

= Waktu trip (detik).

3 Tms = Time multiple setting. 3 Ifault = Besarnya arus gangguan Hub Singkat (amp) Setelan over current relay (inverse) diambil arus gg hub singkat terbesar. Setelan ground fault relay (inverse) diambil arus gangguan hub singkat terkecil. 3 ISET = Besarnya arus setting sisi primer Setelan over current relay (Invers) diambil 1,05 s/d 1,1 x Ibeban Setelan ground fault relay (inverse) diambil 0,06 s/d 0,12 x arus gg hub singkat terkecil.

118